Home , , � Fatwa Kontroversial Rabbi Yahudi : Bukan Zionis boleh dibunuh!!!--->>> Belajar Strategi Perang Zionis dan Cara Menghadapinya

Fatwa Kontroversial Rabbi Yahudi : Bukan Zionis boleh dibunuh!!!--->>> Belajar Strategi Perang Zionis dan Cara Menghadapinya

Rabbi Yahudi Keluarkan Fatwa Kontroversial

Seorang rabbi kontroversial Israel membolehkan penggunaan warga Palestina sebagai perisai manusia oleh tentara Zionis, bahkan jika ia termasuk warga sipil.

"Apa pun yang Anda lakukan dibolehkan demi ketangguhan tempur dan wajib menurut Taurat," tegas kepala sekolah Od Yosef Chai Yeshiva, Rabbi Yitzhak Shapira dalam brosur yang dibagikan kepada murid-muridnya. Demikian dilaporkan Haaretz kemarin (Rabu,20/10/2010).

"Berdasarkan ajaran murni Yahudi, nyawa warga Israel lebih utama ketimbang nyawa orang lain, baik ia seorang tentara atau warga sipil. Anda dilarang untuk membahayakan kehidupan Anda sendiri demi musuh bahkan jika ia seorang warga sipil," tukas Shapira, yang tinggal di pemukiman Tepi Barat Yitzhar.

Rabbi Shapira ditangkap pada musim panas lalu karena dalam bukunya The King's Torah, ia mendorong orang-orang Yahudi untuk membunuh non-Yahudi.

Setelah perang 22 hari, tim pencari fakta independen yang ditugaskan oleh Dewan HAM PBB untuk menyelidiki serangan tentara Israel, berkesimpulan bahwa Zionis melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Di antara kejahatan itu adalah penggunaan perisai manusia. (IRIB/RM/SL/21/10/2010)

Alhamdulillah, Bantuan Sampai ke Gaza

Lifeline 5, konvoi bantuan kemanusiaan untuk Gaza yang dikoordinasi oleh lembaga amal Viva Palestina yang berbasis di Inggris, telah menyeberangi Rafah, di perbatasan antara Mesir dan Jalur Gaza.

Kamis (21/10/2010), misi kemanusiaan terdiri atas 150 kendaraan itu memasuki pesisir Gaza untuk menyalurkan bantuan senilai lima juta USD berupa makanan, obat-obatan dan kebutuhan pokok.

Konvoi itu dipimpin oleh mantan anggota parlemen Inggris George Galloway. Lifeline 5 berangkat dari London pada tanggal 18 September, melintasi Perancis, Italia, Yunani, Turki, Suriah dan Mesir menuju Jalur Gaza.

Misi kemansusiaan tersebut tetap berjalan sesuai jadwal meski muncul berbagai ancaman serangan oleh militer Israel seperti yang menimpa para aktivis Freedom Flotilla di atas kapal Mavi Marmara, Mei lalu.

Sebelumnya, Jerusalem Post melaporkan bahwa pasukan Israel telah disiagakan sejak hari Ahad (17/10) menanti kedatangan para aktivis. Namun tidak ada berita mengenai agresi militer Zionis terhadap para aktivis.

Di sisi lain, dibandingkan dengan konvoi bantuan kemanusiaan sebelumnya yang juga dikoordinasi oleh Viva Palestina, kali ini para pejabat Mesir tidak mempersulit masuknya bantuan ke Jalur Gaza.

Januari 2010 lalu, polisi anti huru-hara Mesir terlibat bentrokan dengan para pendukung konvoi Viva Palestina di pelabuhan el-Arish. 55 orang dilaporkan cedera. (IRIB/MZ/22/10/2010)

Belajar Strategi Perang Israel dan Cara Menghadapinya!!! (1)

Substansi rezim Zionis Israel sebagai agresor sudah tidak dapat ditutup-tutupi lagi bagi siapapun. Bahkan sejatinya rezim ini didirikan berdasarkan penjajahan Palestina.

Sepanjang sejarah kita tidak akan menyaksikan sebuah kekuatan penjajah yang tidak menjadi agresor. Dengan kata lain, penjajahan hanya akan terealisasikan dengan agresi dan perang. Artinya, setiap kali ada penjajahan, sebelumnya pasti terjadi perang sebagai pendahuluannya. Pendeknya, penjajahan dan perang punya hubungan kausalitas. Oleh karenanya tidak diperlukan alasan untuk mengatakan bahwa rezim Zionis Israel adalah rezim agresor. Karena ketika rezim ini disebut penjajah berarti ia adalah agresor.

Adapun terkait masalah strategi militer Zionis Israel dalam melakukan perang dan prinsip-prinsip yang diterapkannya secara klasik dapat disimpulkan dalam 7 poin berikut:

1. Perang di daerah musuh
Rezim Zionis Israel sejak pembentukannya punya keyakinan bahwa agresi dan perang harus dimulai di mana medan pertempuran harus ada di kawasan musuh. Alasannya sederhana, karena secara strategi militer, Zionis Israel tidak memiliki luas wilayah yang besar dan dengan sendirinya tidak memiliki kedalaman strategi. Oleh karenanya, Zionis Israel tidak pernah mengizinkan pasukan musuh melewati perbatasannya dan melakukan perang di dalam wilayah Zionis Israel.

2. Kuasai informasi dan intelijen
Rezim Zionis Israel tidak akan memutuskan untuk melakukan agresi bila belum sampai pada kesimpulan bahwa mereka telah menguasai informasi dan intelijen musuh. Agresi yang mereka lakukan, baik itu benar atau salah, kembali pada penguasaan intelijen.

3. Serangan dadakan
Militer Zionis Israel senantiasa melakukan agresinya berdasarkan prinsip serangan mendadak. Ini adalah poin paling penting dalam mengidentifikasi perilaku selanjutnya dalam agresi-agresi selanjutnya. Apakah mereka dapat memulai perang baru dengan dasar serangan dadakan dan membuat musuhnya kecolongan.

4. Cepat dan dalam waktu singkat
Mengingat rezim Zionis Israel tidak mampu melakukan perang luas dan berkepanjangan, baik dari sisi militer dan opini publik Israel sendiri, selama ini mereka melakukan agresi cepat yang membuat musuh kecolongan dengan serangan mematikan terhadap target-target musuh dalam satu pekan. Oleh karenanya, satu pekan pertama perang operasi militer boleh dikata sudah berakhir. Benar, mungkin saja pihak musuh Israel melanjutkan perang dan itu akan berkepanjangan hingga tujuh atau sepuluh pekan. Namun operasi militer Israel sudah harus berhasil dalam pekan pertama.

5. Korban harus minim
Rezim Zionis Israel dalam merencanakan perangnya selalu menekankan satu prinsip ini bahwa dalam perang yang mereka lakukan hendaknya korban yang jatuh di pihak mereka sangat minim. Oleh karenanya, bila mereka merencanakan perang yang kemungkinannya bakal menjatuhkan korban yang banyak, mereka pasti tidak akan memulai serangan itu.

6. Angkatan Darat Penentu Kemenangan
Perang yang ditebar rezim Zionis Israel hingga sebelum perang 33 hari senantiasa bertumpu pada kekuatan angkatan darat sebagai penentu kemenangan perang. Sementara kekuatan angkatan udara hanya memainkan peran sebagai pasukan pendukung.

7. Kuasai lalu berunding gencatan senjata
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, rezim Zionis Israel akan berusaha sebisa mungkin agar di pekan pertama harus telah melakukan serangan mematikan ke target-target penting musuh lalu menduduki sebagian daerah musuh. Bila hal itu telah dilakukan, di pekan kedua Amerika, Barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengintervensi dan memaksa kedua pihak agar melakukan perundingan damai. Sekalipun demikian, mungkin saja pihak yang diserang Israel masih tetap melanjutkan serangan balasannya. Bila hal itu dilakukan rezim Zionis Israel seakan-akan mendapat angin dan pembenaran untuk melakukan serangan balasan. Namun biasanya mereka segera meminta dilakukannya gencatan senjata.

Mencermati kenyataan ini, gencatan senjata dalam kamus strategi perang Israel tidak bermakna perdamaian. Gencatan senjata yang diinginkan Israel berarti mereka telah merealisasikan tujuan-tujuan militernya dan aksi selanjutnya adalah menjajah daerah yang telah dikuasainya. Oleh karena itu, mereka tidak boleh menderita kerugian dan korban yang banyak, tapi dengan gencatan senjata itu mereka sebenarnya telah mengokohkan posisi barunya.

Hal menarik dalam masalah agresi Zionis Israel terkait siapa pengambil keputusan dalam melakukan perang. Ternyata para politikus di Israel yang menjadi pengambil keputusan di Israel dan bukan para komandan militernya. Di sini, para komandan militer hanya memberikan laporan dan analisa mereka kepada kabinet. Pengambilan keputusan memulai perang berada di tangan Perdana Menteri Zionis Israel dan sejumlah menteri khusus. Di Israel sendiri para pengambil keputusan di kabinet disebut ‘Kabinet Kecil Keamanan' yang mencakup Perdana Menteri, Menteri Peperangan, Menteri Dalam Negeri dan beberapa menteri khusus lainnya yang bertugas membahas masalah ini. Keseluruhannya ada tujuh menteri yang ikut dalam sidang istimewa ini. Berbeda dengan sistem di negara-negara lain di mana ada Dewan Keamanan Nasional yang akan mengambil keputusan soal masalah ini, di Israel dewan ini sekalipun ada, tapi boleh dikata tidak memiliki fungsi apa-apa.

Bersambung ... (IRIB/SL/MF/21/10/2010)

0 comments to "Fatwa Kontroversial Rabbi Yahudi : Bukan Zionis boleh dibunuh!!!--->>> Belajar Strategi Perang Zionis dan Cara Menghadapinya"

Leave a comment