Home , , � Dokumen Aljazeera dan Gempa Menakutkan

Dokumen Aljazeera dan Gempa Menakutkan




Abdul Bari Athwan

Yang paling berbahaya dari dokumen dinas perundingan di Otoritas Palestina yang berhasil diperoleh TV Aljazeera bukan hanya pada tingkat konsesi “menakutkan” yang mereka lakukan atas Al-Quds, pemukiman di sana dan masjid Al-Aqsha, tapi juga karena ada segelintir perunding Palestina yang diberi wewenang merundingkan dan menegoisasi dengan mengatas namakan 10 juta warga Palestina di dalam dan luar negeri tanpa adanya referensi hukum, pengawasan atau pertanggungjawaban.

Para perunding Palestina, terutama Dr. Shaib Ureqat tidak cukup menerima keberadaan pemukiman-pemukiman yahudi yang mengelilingi Al-Quds, kecuali pemukiman Jabal Abu Ghunaim, bahkan mereka memberikan konsesi (menyerahkan) wilayah Palestina yang kini sudah dikuasai Israel yang disebut sebagai “perkampungan yahudi”, sebagian perkampungan Armani, tembok Al-Barraq (tembok ratapan Israel), dan menerima begitu saja hak Israel atas kampung Al-Jarrah. Bahkan, para perunding itu berani mengusulkan “kreatif” membentuk komite segitiga (terdiri atas Mesir, Saudi dan Jordania) plus Amerika dan Israel serta Otoritas Palestina dan menunda pembahasan tentang kedaulatan (terhadap Al-Quds).

Rakyat Palestina tidak pernah memberikan “wewenang perwakilan perundingan” kepada segelintir perunding itu untuk menentukan nasib mereka atau untuk memberikan konsesi dari prinsip-prinsip dasar nasional Palestina atas nama mereka. Presiden demisioner Mahmud Abbas sudah habis masa jabatannya sejak lama. Rakyat Palestina juga tidak pernah mewakilkannya kepada komite pelaksa PLO yang dijubiri oleh Yaser Abdu Rabbih, juga Majlis Nasional Palestina dan Dewan Perwakilan Rakyat bentukan mereka.

Tzepi Livni sebagai wakil rakyat Israel di Knesset menolak mutlak pembicaraan soal Al-Quds dan mengatakan dirinya tidak memiliki wewenang merundingkan. Sementara Ureqat mengklaim dirinya sebagai perunding dan mengajukan sejumlah konsesi dari seluruh perkampungan Palestina di Al-Quds, mengusulkan pembentukan komite, menerima pertukaran tanah. Selalu para perunding itu awalnya menolak kemudian menerima apa yang pernah mereka tolak.

Apa yang diungkap dari dokumen sekarang ini hanya merupakan gunung es. Sebelum ini perunding Palestina memberikan konsesi dari hak kembali pengungsi Palestina, padahal itu adalah hak dasar yang menjadi sumber konflik Arab – Israel. Bukan hanya itu, perunding Palestina juga mengakui “Israel sebagai negara yahudi” beberapa tahun lalu. “Kami sama sekali dan selamanya tidak mengingkari hak Israel dalam mendefinisikan dirinya, jika kalian ingin menamakan negara kalian negara yahudi Israel. Kami tidak intervensi urusan kalian, kami akui negara kalian seperti yang kalian inginkan.” Tegas Dr. Ureqat yang didukung Yaser Abdu Rabbih saat itu.

Tidak menolak penamaan Israel sebagai negara yahudi alias mengakuinya berarti telah mencabut legalitas eksistensi 1,2 juta warga Arab Palestina dan memberikan kesempatan kepada Israel untuk mengusir mereka secara diskrimintif dengan cara yang seperti Israel mengusir 1 juta warga Palestina pada tahun 1948.

***

Definisi hak kembali pengungsi Palestina, seperti yang tertera dalam dokumen resmi draft perundingan adalah kembalinya 100 ribu pengungsi selama 10 tahun seperti yang diminta oleh perunding Palestina dengan kompensasi “ngototnya” Ehud Olmert untuk menerima kembalinya 5000 pengungsi Palestina saja selama lima tahun dengan syarat “melemahkan” dan standar “kejam”.

Kita tidak heran sebab Yaser Abdu Rabbih adalah anggota komite pelaksana dan elit Palestina yang pertama kali melepaskan hak kembali pengungsi secara resmi seperti yang ditegaskan dalam dokumen Jenewa yang terkenal itu.

Meski pejabat-pejabat Otoritas Palestina menyatakan tidak ada bukti atas dokumen yang diungkap Aljazeera, namun bangsa Palestina adalah pihak pertama yang melihat langsung bukti riil dokumen itu.

Israel sudah pasti menolak konsensi dari perunding Palestina. Sebab Israel ingin semuanya, bukan sebagian. Bagi mereka, Palestina harus tinggal di gurun tandus dan minum air-air di Gaza.

***

Yang amat menyedihkan, adalah dokumen yang akan diungkap kemudian tentang koordinasi keamanan, laporan Goldstone dan persahabatan dekat antara Israel dan “oknum” Palestina, dimana mereka menyetujui agresi Israel ke Jalur Gaza, keterlibatan mereka dalam membunuh pejuang-pejuang Palestina dari Brigade Syuhada Al-Aqsha , sayap militer Fatah sendiri. Kami memprediksi presiden demisioner Mahmud Abbas mengambil langkah langsung terhadap pejabat yang menyelundupkan dan membocorkan dokumen-dokumen itu. Sayangnya itu tidak terjadi. Ia hanya memutuskan untuk membentuk Komite pembahas masalah ini.

Merespon dokumen Aljazeera ini tidak harus dengan umpatan dan tudingan sebagai penghinat, apalagi terhadap pihak yang melakukan kerjasama dan koordinasi keamanan dengan Israel. Sebaliknya hal itu harus direspon dengan sikap berpegang teguh dengan prinsip dasar nasional Palestina dan mengakui secara resmi kegagalan pilihan perundingan dengan Israel dalam memecahkan masalah Palestina selanjutnya mengikuti langkah presiden Yaser Arafat yang meledakkan Intifadhah dan melakukan koordinasi keamanan secara intens dengan gerakan Hamas dan bukan dengan musuh Israel. (bsyr)

Al-Quds Arabi London

sumber:[ 26/01/2011 - 04:49 ]/http://www.infopalestina.com/ms/default.aspx?xyz=U6Qq7k%2bcOd87MDI46m9rUxJEpMO%2bi1s7nwQ5b3guQDrrzCIJZkuOJ7RfZjvWvvRofVWfTUjYfqT5qVc8P7D0fSxSVu00Vm2Gqetlaz%2bel%2f7Y19nanFpeKBVdhOHaCMyFiHi%2f1c%2feC0g%3d

0 comments to "Dokumen Aljazeera dan Gempa Menakutkan"

Leave a comment