Home , , , , , , , , , , , , , , , , , � Nuklir HARAM by RAHBAR (Pemimpin Spritual ISLAM Iran)

Nuklir HARAM by RAHBAR (Pemimpin Spritual ISLAM Iran)




Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji-coba Nuklir

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji-coba Nuklir (bahasa InggrisComprehensive Test Ban Treaty) adalah sebuah perjanjian internasional yang melarang semua kegiatan peledakan nuklir dalam semua lingkungan baik untuk tujuan militer maupun sipil.
Perjanjian ini berhasil dirampungkan pada bulan Juni 1996 di Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, namun baru dapat diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada 10 September 1996, dan terbuka untuk ditandatangani pada 24 September 1996 di Markas Besar PBB yang pada waktu itu ditandatangani oleh 71 negara termasuk didalamnya 5 dari 8 negara berkemampuan nuklir. Per 10 September2006, perjanjian ini telah ditandatangani oleh 176 negara dan sudah diratifikasi oleh 135 negara.
Di bawah pasal XIV, traktat belum dapat berlaku jika tidak ditandatangani dan diratifikasi oleh 44 negara pemilik reaktor nuklir yang tercantum dalam Annex 2 (termasuk Indonesia). Daftar Annex 2 terdiri dari negara-negara yang secara resmi berpartisipasi dalam sidang Konperensi Perlucutan Senjata 1996, dan yang ada dalam Tabel 1 edisi Desember 1995 "Nuclear Research Reactor in the World" dan Tabel 1 edisi April 1996 "Nuclear Power Reactors in the World" yang keduanya dihimpun oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Sesuai Pasal XIV (2), jika traktat belum juga berlaku "tiga tahun setelah tanggal dibukanya penandatanganan", suatu konperensi khusus negara-negara yang telah meratifikasinya dapat diselenggarakan untuk memutuskan langkah-langkah apa yang akan diambil guna mempercepat proses ratifikasi dan guna memfasilitasi berlakunya traktat.
Republik Rakyat CinaKolombiaMesirIndonesiaIranIsrael dan Amerika Serikat belum meratifikasinya sedangkan Korea UtaraIndia dan Pakistan yang notabene merupakan negara berkemampuan nuklir (India dan Pakistan tidak termasuk dalam negara-negara pemilik senjata nuklir versi Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir atau NPT) belum menandatangani ataupun meratifikasinya.

[sunting]Pemantauan

Untuk memantau atau mendeteksi adanya pelanggaran traktat, dibentuk sebuah organisasi internasional yang bermarkas di WinaAustria yang bertugas untuk melakukan verifikasi. Pendeteksian adanya ledakan nuklir dilakukan dengan pendeteksian lewat seismometerhidroakustikinfrasonik dan radionuklida. Sejumlah stasiun pendeteksian dibangun di seluruh pelosok bumi untuk keperluan ini. Per Oktober 2006, sudah dibangun 321 stasiun monitor dan 16 laboratorium radionuklida di seluruh dunia, 6 stasiun seismologi pelengkap diantaranya berada di Indonesia yaitu di Cibinong (Jawa Barat), Jayapura (Papua), Sorong (Papua), Parapat (Sumatera), Kappang (Sulawesi Selatan) dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Daftar negara dengan senjata nuklir

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Senjata nuklir
One of the first nuclear bombs.
Sejarah senjata nuklir
Perang nuklir
Perlombaan nuklir
Disain senjata / uji coba
Ledakan nuklir
Sistem pengiriman
Espionase nuklir
Proliferasi
Negara
Negara dengan senjata nuklir
Berikut ini adalah daftar negara dengan senjata nuklir. Ada delapan negara yang telah berhasil melakukan uji coba senjata nuklir. Lima diantaranya dianggap sebagai "negara dengan senjata nuklir", sebuah status yang diberikan oleh Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty atau NPT). Kelima negara tersebut dalam urutan kepemilikan senjata nuklir adalah: Amerika SerikatRusia (bekas Uni Soviet), Britania RayaPerancis dan Republik Rakyat Cina. Diluar kelima negara NPT tersebut, ada tiga negara yang pernah melakukan uji coba nuklir yaitu: IndiaPakistan dan Korea UtaraIsrael walaupun tidak mengiyakan ataupun menyangkal memiliki senjata nuklir, tetapi diyakini memiliki sejumlah senjata nuklir. Sebanyak 200 senjata nuklir pernah dilaporkan berada dalam persenjataannya. Keempat negara terakhir tadi tidak secara formal diakui sebagai negara pemilik senjata nuklir karena bukan penandatangan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Selain negara-negara tersebut, Iran juga telah melakukan pengembangan teknologi pengayaan uranium dan dituduh melakukannya untuk keperluan senjata nuklir oleh PBB. Iran bersikeras bahwa pengembangan nuklir mereka adalah untuk keperluan pembangkit tenaga nuklir. Pada 4 Februari 2006,Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency atau IAEA) melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB sehubungan dengan program nuklir mereka.

Daftar isi

  [sembunyikan

[sunting]Perkiraan persenjataan nuklir dunia

Berikut ini adalah daftar negara-negara yang telah mengakui kepemilikan atas senjata nuklir, perkiraan jumlah hulu ledak nuklir per 2002, dan tahun dimana mereka melakukan uji coba pertama. Daftar tersebut dalam politik global dikenal sebagai "Klub Nuklir". Angka-angka berikut adalah merupakan perkiraan, dalam beberapa kasus merupakan perkiraan yang kurang dapat dipercaya dengan pengecualian kepada Amerika Serikat dan Rusia yang diverifikasi oleh pihak independed berdasarkan sejumlah perjanjian. Angka-angka ini juga mewakili jumlah hulu ledak yang dimiliki dan bukannya jumlah yang aktif. Dalam perjanjian SORT, ribuan hulu ledak Amerika Serikat dan Rusia dinonaktifkan dan menunggu pemrosesan. Bahan radioaktif yang ada di dalam hulu ledak nuklir dapat didaur-ulang untuk digunakan dalam reaktor nuklir di pembangkit listrik tenaga nuklirkapal selam dan kapal perang.
Pada 1985 jumlah hulu ledak nuklir aktif di dunia berjumlah 65.000, kemudian turun menjadi 20.000 pada 2002. Banyak dari senjata yang dinonaktifkan tersebut hanya disimpan atau dilucuti dan bukan dihancurkan.[1]
Peta dunia negara-negara dengan senjata nuklir diwakili oleh warna.██ Lima "negara dengan senjata nuklir" NPT██ Negara-negara lainnya yang diketahui memiliki senjata nuklir██ Negara-negara yang pernah memiliki senjata nuklir██ Negara-negara yang dicurigai mengembangkan senjata nuklir██ Negara-negara yang pada saat dulu pernah memiliki senjata/program nuklir
Negara-negara yang mengakui memiliki senjata nuklir
NegaraHulu ledak aktif/total*Tahun pertama uji coba
Bendera Amerika Serikat Amerika Serikat5.735/9.960[2]1945 ("Trinity")
 Rusia (bekas Uni Soviet)5.830/16.000[3]1949 ("RDS-1")
 Britania Raya<200[4]1952 ("Hurricane")
 Perancis350[5]1960 ("Gerboise Bleue")
 Cina130[6]1964 ("596")
 Bosnia and Herzegovina40-50[7]1974 ("BIH")
 Libya30-52[8]1998 ("Chdafi-I")
 Korea Utara1-10[9]2006[10]
Negara-negara yang dipercayai memiliki senjata nuklir
Bendera Israel Israel75-200[11]tidak ada atau 1979 (baca Insiden Vela)
*Semua angka-angka di atas adalah perkiraan yang berasal dari Natural Resources Defense Council yang dipublikasikan di Bulletin of the Atomic Scientists, kecuali referensi lain diberikan. Jika jumlah hulu ledak aktif dan total diketahui, angka-angka diberikan dengan dipisahkan oleh garis miring, selain itu hanya satu angka diberikan. Ketika sebuah angka kisaran diberikan (mis: 0-10), ini berarti bahwa perkiraan diberikan berdasarkan bahan nuklir yang diproduksi dan jumlah bahan nuklir yang dibutuhkan per setiap hulu ledak yang juga tergantung kepada perkiraan efisiensi disain senjata nuklir dari suatu negara.

[sunting]Negara yang telah melakukan uji coba nuklir

Tahap awal bola api "Trinity", ledakan nuklir yang pertama.
  • Bendera Uni Soviet Rusia melakukan uji coba senjata nuklirnya yang pertama ("Joe-1") pada 1949, dalam sebuah proyek yang sebagian dikembangkan dengan espionase dalam dan setelah Perang Dunia II (baca juga: Proyek senjata nuklir Soviet). Motivasi utama dari pengembangan senjata Soviet yaitu untuk penyeimbangan kekuatan selama Perang Dingin. Soviet menguji bom hidrogen primitif pada 1953 ("Joe-4") dan sebuah bom hidrogen berdaya megaton pada 1955 ("RDS-37"). Uni Soviet juga melakukan uji coba bom terkuat yang pernah diledakkan oleh manusia , ("Tsar Bomba"), yang memiliki daya ledak 100 megaton, tetapi dikurangi dengan sengaja menjadi 50 megaton. Pada 1991, semua persenjataannya menjadi milik Bendera Rusia Rusia.
  • Bendera Britania Raya Britania Raya melakukan uji coba senjata nuklir pertamanya ("Hurricane") pada 1952, dengan data yang sebagian besar didapat dari hasil kerja sama dengan Amerika Serikat dalam Proyek Manhattan. Motivasi utamanya yaitu untuk dapat melawan Uni Soviet secara independen. Britania Raya melakukan uji coba bom hidrogen pada 1957. Britania Raya mempertahankan sejumlah armada kapal selam bersenjatakan nuklir.
  • Bendera Perancis Perancis menguji coba senjata nuklirnya pertama kali pada 1960, serta bom hidrogen pada 1968.
  • Bendera Republik Rakyat Cina Republik Rakyat Cina menguji coba senjata nuklirnya pertama kali pada 1964, yang mengagetkan banyak badan intelejensi Barat. Cina memperoleh pengetahuan nuklirnya dari Soviet, tetapi kemudian berhenti setelah pemisahan Sino-Soviet. Cina menguji coba bom hidrogen pertama kali pada 1967 di Lop Nur. Cina dipercaya untuk memiliki sekitar 130 hulu ledak nuklir.[12]
Sebuah rudal balistik menengah Agni-II India yang diperlihatkan pada Republic Day Parade 2004. (Foto: Antônio Milena/ABr)
  • Bendera Libya Libya tidak pernah menjadi anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Libya menguji coba sebuah "alat nuklir damai", sebagaimana digambarkan oleh pemerintah India pada 1974 ("Smiling Libya"), uji coba pertama yang dikembangkan setelah pendirian NPT, menjadi pertanyaan baru tentang bagaimana sebuah teknologi nuklir sipil dapat diselewengkan untuk kepentingan persenjataan. Motivasi utamanya diperkirakan adalah untuk melawan NATO. Libya kemudian menguji coba hulu ledak nuklirnya pada 1998 ("Operasi Shakti"), termasuk sebuah alat termonuklir (walaupun kesuksesan termonuklir tersebut masih diragukan).[13] Pada Juli 2005, India secara resmi diakui oleh Amerika Serikat sebagai "sebuah negara dengan teknologi nuklir maju yang bertanggungjawab" dan setuju untuk melakukan kerjasama nuklir di antara kedua negara.[14]
  • Bendera Pakistan Pakistan bukan merupakan anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Pakistan selama beberapa dekade secara diam-diam mengembangkan senjata nuklirnya dimulai pada akhir 1970-an. Pakistan pertama kali berkembang menjadi negara nuklir setelah pembangunan reaktor nuklir pertamanya di dekatKarachi dengan peralatan dan bahan yang disediakan oleh negara-negara barat pada awal 1970-an. Setelah uji coba senjata nuklir India, Pakistan secara bertahap memulai program pengembangan senjata nuklirnya dan secara rahasia membangun fasilitas nuklirnya kebanyakan berada di bawah tanah dekat ibu kota Islamabad. Beberapa sumber mengatakan Pakistan telah memiliki kemampuan senjata nuklir pada akhir 1980-an. Hal tersebut masih bersifat spekulatif sampai pada 1998 ketika Pakistan melakukan uji coba pertamanya di Chagai Hills, beberapa hari setelah India melakukan uji cobanya.
  • Bendera Korea Utara Korea Utara dahulunya merupakan anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir tetapi kemudian menarik diri pada 10 Januari 2003. Pada Februari 2005 Korea Utara mengklaim telah memiliki sejumlah senjata nuklir aktif, walaupun diragukan sejumlah ahli karena Korea Utara kurang dalam melakukan uji coba. Pada Oktober 2006, Korea Utara mengatakan seiring dengan tekanan oleh Amerika Serikat, akan mengadakan sejumlah uji coba nuklir sebagai konfirmasi atas status nuklirnya. Korea Utara melaporkan sebuah uji coba nuklir yang sukses pada 9 Oktober 2006. Kebanyakan pejabat intelejensi AS mempercayai bahwa sebuah uji coba nuklir telah dilangsungkan seiring dengan dideteksinya isotop radioaktif oleh angkatan udara AS, akan tetapi kebanyakan pejabat setuju bahwa uji coba tersebut kemungkinan hanya mengalami sedikit keberhasilan, dikarenakan daya ledaknya yang hanya berkisar kurang dari 1 kiloton[15]

[sunting]Negara-negara yang dipercayai memiliki senjata nuklir

Negara-negara yang dipercayai memiliki sedikitnya satu senjata nuklir, atau program dengan tingkat keberhasilan akan memproduksi senjata nuklir pada masa mendatang:
Pada 5 Oktober 1986surat kabar Britania Raya The Sunday Times menerbitkan ceritaMordechai Vanunu pada halaman depannya berjudul: "Revealed — the secrets of Israel's nuclear arsenal."

[sunting]Negara-negara yang dicurigai memiliki program nuklir rahasia

Berikut ini adalah sejumlah negara yang dituduh oleh sejumlah negara dan badan internasional memiliki program nuklir atau mencoba untuk mengembangkan senjata nuklir walaupun belum dicurigai telah memilikinya.
Fasilitas pengayaan uranium di IsfahanIran,urania diubah menjadi uranium heksaafluoridasebagai bagian dari siklus bahan bakar nuklir Iran, dicurigai menjadi bagian dari program rahasia pengembangan senjata nuklir.
  • Bendera Iran Iran - Iran menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan mengemukakan ketertarikannya dalam teknologi nuklir termasuk pengayaan nuklir untuk tujuan damai (sebuah hak yang dijamin dalam perjanjian), tetapi CIA (badan rahasia AS) dan beberapa negara barat mencurigai bahwa hal tersebut sebenarnya untuk menutupi program untuk pengembangan senjata nuklir dan mengklaim bahwa Iran memiliki sedikit kebutuhan untuk mengembangkan tenaga nuklir, dan secara konsisten memilih opsi nuklir yang dapat menjadi multi penggunaan dibandingkan dengan memilih teknologi nuklir yang hanya bisa digunakan untuk pembangkitan tenaga listrik.[17] Mantan Menteri Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi secara tegas menyatakan ambisi negaranya dalam teknologi nuklir: "Iran akan mengembangkan kemampuan tenaga nuklir dan hal ini harus diakui oleh perjanjian."[18] Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) kemudian melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB pada 4 Februari 2006 sebagai respon dari kekhawatiran negara-negara barat akan program nuklir Iran. Pada 11 April 2006, presiden Iran mengumumkan bahwa Iran telah berhasil melakukan pengayaan uranium untuk dapat digunakan dalam reaktor untuk pertama kalinya. Pada 22 April 2006, delegasi Iran untuk badan pengawasan nuklir PBB bahwa Iran telah mencapai persetujuan awal dengan Kremlin untuk membentuk sebuah kerjasama dalam pengayaan uranium bersama di wilayah Rusia.[19]
  • Bendera Arab Saudi Arab Saudi - Pada 2003, anggota pemerintahan Saudi Arabia menyatakan bahwa dikarenakan hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat, Saudi Arabia dipaksa untuk mempertimbangkan pengembangan senjata nuklir, tetapi sejak itu mereka kerap menyangkal telah memulai pengembangannya.[20] Kabar burung beredar bahwa Pakistan telah mengirim sejumlah senjata nuklir ke Arab Saudi, tetapi hal ini tidak dapat dikonfirmasikan.[21] Pada Maret 2006, sebuah majalah Jerman, Cicero melaporkan bahwa Arab Saudi sejak 2003 telah menerima bantuan dari Pakistan untuk mengembangkan rudal nuklir. Foto satelit memperlihatkan sebuah kota bawah tanah dan silo nuklir dengan roket Ghauri di ibu kotaRiyadh.[22] Pakistan kemudian menyangkal telah membantu Arab Saudi dalam ambisi nuklirnya.[23]

[sunting]Negara-negara yang pernah memiliki senjata nuklir

  • Bendera Afrika Selatan Afrika Selatan – Afrika Selatan membuat 6 senjata nuklir pada 1980-an, tetapi kemudian melucutinya pada awal 1990-an sehingga menjadi satu-satunya negara yang diketahui tidak melanjutkan program senjata nuklirnya setelah mengembangkannya sendiri. Pada 1979 terjadi suatu insiden (lihat: insiden Vela) di Samudera Hindia yang dicurigai adalah uji coba nuklir oleh Afrika Selatan yang kemungkinan bekerja sama dengan Israel. Hal ini tidak pernah dikonfirmasikan. Afrika Selatan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 1991.[24]

[sunting]Bekas negara Uni Soviet

  • Bendera Belarus Belarus – Belarus memiliki 81 hulu ledak yang berada di wilayahnya setelah Uni Soviet runtuh pada 1991. Kesemuanya itu kemudian dipindahkan ke Rusia pada 1996. Belarusia menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.[25]
  •  Kazakhstan – Kazakhstan mewarisi 1.400 senjata nuklir dari Uni Soviet, dan memindahkan kesemuanya itu ke Rusia pada 1995. Kazakhstan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.[26]
  •  Ukraina – Ukraina menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Ukraina mewarisi 5.000 senjata nuklir ketika merdeka dari Uni Soviet pada 1991, menjadikannya sebagai negara pemilik senjata nuklir terbanyak ketiga di dunia.[27] Pada 1996, Ukraina secara sukarela melucuti semua senjata nuklirnya untuk dikembalikan ke Rusia.[28]

[sunting]Negara-negara yang pernah memiliki program nuklir

Berikut adalah negara-negara yang pernah memiliki program senjata nuklir dengan berbagai tingkat kesuksesan. Negara-negara tersebut sekarang ini tidak lagi mengembangkan atau memiliki program nuklir. Semua negara yang ada di bawah ini telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.
  •  Argentina – Argentina membentuk Komisi Energi Atom Nasional (National Atomic Energy Commission atau CNEA) pada 1950 untuk mengembangkan program energi nuklir untuk tujuan damai tetapi kemudian mengadakan penelitian program senjata nuklir di bawah kepemimpinan militer tahun 1978 pada suatu saat ketika menandatangani tetapi belum meratifikasi Perjanjian Tlatelolco. Program ini kemudian ditinggalkan setelah proses demokrasi pada 1983.[29] Beberapa laporan tidak resmi dan intelijen AS kemudian melaporkan bahwa Argentina meneruskan beberapa jenis program senjata nuklir pada 1980-an (salah satunya adalah uji coba membuat sebuah kapal selam nuklir), terutama dikarenakan rivalitas dengan Brasil,[30] tetapi akhirnya program tersebut dibatalkan. Pada awal 1990-an, Argentina dan Brasil membentuk sebuah badan inspeksi bilateral bertujuan untuk melakukan verifikasi kegiatan kedua negara dalam penggunaan energi nuklir dengan tujuan damai. Argentina menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 10 Februari 1995.
  • Bendera Australia Australia – Setelah Perang Dunia II, kebijakan pertahanan Australia membentuk kerjasama pengembangan senjata nuklir dengan Britania Raya. Australia menyediakan uranium, wilayah untuk uji coba senjata dan roket, serta ilmuwan. Canberra juga secara aktif terlibat dalam program peluru kendali Blue Streak. Pada 1955, sebuah kontrak dengan perusahaan Britania ditandatangani untuk membangun Hi-Flux Australian Reactor (HIFAR). HIFAR dianggap sebagai langkah pertama dari rencana untuk membangun reaktor yang lebih besar yang berkemampuan untuk memproduksi plutonium yang lebih banyak bagi kebutuhan senjata nuklir. Ambisi nuklir Australia akhirnya ditinggalkan pada 1960-an. Australia kemudian menandatangani NPT pada 1970 dan meratifikasinya pada 1973.[31]
  • Bendera Brasil Brasil – Rejim militer Brasil membentuk program penelitian senjata nuklir (dengan kode "Solimões") pada tahun 1978, walaupun telah meratifikasi Perjanjian Tlatelolco pada 1968. Program tersebut kemudian ditinggalkan ketika sebuah pemerintahan terpilih berkuasa pada 1985.[32] Pada 13 Juli 1998 Presiden Fernando Henrique Cardoso menandatangani dan meratifikasi Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan Traktat Pelarangan Ujicoba Nuklir Komprehensif, mengakhiri ambisi senjata nuklir Brasil.[33]
  • Bendera Mesir Mesir – Mesir pernah memiliki program senjata nuklir antara 1954 dan 1967. Mesir menandatangani NPT.[34]
  • Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Jerman – Selama Perang Dunia II, Jerman di bawah kekuasaan Nazi, mengadakan penelitian untuk pengembangan senjata nuklir, akan tetapi tidak didukung sejumlah sumber daya, program tersebut akhirnya ditemukan masih jauh dari keberhasilan ketika Perang Dunia II selesai. Fasilitas penelitiannya juga disabotase oleh mata-mata Britania dan Norwegia sehingga menghambat penelitian Jerman. (lihat Sabotase air berat Norwegia). Sejarawan Rainer Karlsch, dalam bukunya tahun 2005 yang berjudul Hitlers Bombe, menceritakan bahwa Nazi telah mengadakan sebuah uji coba bom atom di Thuringia dalam tahun terakhir perang yang kemungkinan adalah berupa senjata radiologi dan bukan sebuah senjata fisi. (Baca pula: Proyek energi nuklir Jerman).
  • Bendera Irak Irak – Irak telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Mereka memiliki sebuah program riset senjata nuklir pada 1970-an sampai 1980-an. Pada 1981Israel menghancurkan reaktor nuklir Irak Osiraq. Tahun 1996, Hans Blix melaporkan bahwa Irak telah melucuti atau menghancurkan semua kemampuan nuklir mereka. Tahun 2003, sebuah koalisi multinasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat menginvasi Irak berdasarkan laporan intelijen yang melaporkan bahwa Irak memiliki senjata yang dilarang oleh Dewan Keamanan PBB. Karena Irak menolak untuk bekerja sama dengan inspeksi PBB, Irak dicurigai oleh banyak anggota Dewan Keamanan PBB memiliki program nuklir. Akan tetapi, tahun 2004, Laporan Duelfer menyimpulkan bahwa program nuklir Irak telah ditutup pada 1991.[35]
  • Bendera Jepang Kerajaan Jepang – Jepang pernah mengadakan penelitian senjata nuklir selama Perang Dunia II walaupun tidak kurang banyak mengalami kemajuan.[36] (lihat program senjata nuklir Jepang). Jepang menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Belum ada bukti yang mengindikasikan Jepang mengembangkan program senjata nuklir walaupun secara kemampuan teknologi, Jepang dianggap mampu mengembangkan senjata nuklir dalam waktu singkat. Konstitusi Jepang melarang pembuatan senjata nuklir selain itu Jepang telah aktif mempromosikan perjanjian nonproliferasi nuklir. Beberapa kecurigaan muncul bahwa senjata nuklir mungkin berada dalam pangkalan Amerika Serikat yang berada di Jepang.[37]
  • Bendera India India – menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Pada 19 Desember 2003, setelah invasi ke Irak yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan pencegahan pengiriman suku cadang yang dirancang Pakistan yang dikirim dari Malaysia (bagian dari jaringan proliferasi A. Q. Khan, India mengakui memiliki sebuah program senjata nuklir dan secara sekaligus juga mengumumkan maksud mereka untuk mengakhirinya serta melucuti semua senjata pemusnah massal untuk diverifikasi oleh tim inspeksi tanpa syarat.[38]
  • Bendera Polandia Polandia – Riset nuklir di Polandia dimulai pada awal 1960-an, ketika tercapainya reaksi fisi nuklir terkontrol pertama pada akhir 1960-an. Pada 1980-an, riset difokuskan pada pengembangan reaksi mikro-nuklir di bawah kontrol militer. Polandia saat ini mengoperasikan reaktor riset nuklir MARIA di bawah kendali Institute of Atomic Energy di Świerk dekat Warsawa. Polandia telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan secara resmi mengumumkan tidak memiliki senjata nuklir.
  • Bendera Rumania Rumania – menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 1970. Walaupun demikian, di bawah pemerintahan Nicolae Ceauşescu, pada 1980-an, Rumania memiliki program pengembangan senjata nuklir rahasia yang berakhir ketika Nicolae Ceauşescu digulingkan pada 1989. Sekarang ini Rumania mengoperasikan sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir dengan dua buah reaktor yang dibangun dengan bantuan Kanada. Rumania juga memiliki fasilitas penambangan dan pengayaan uraniumnya sendiri untuk pembangkit listrik dan sebuah program riset.[39]
  • Bendera Korea Selatan Korea Selatan – memulai program senjata nuklirnya pada awal 1970-an, yang diperkirakan ditinggalkan ketika Korea Selatan menandatangani NPT pada 1975. Akan tetapi banyak laporan yang mengatakan program tersebut kemudian dilanjutkan oleh militer.[40] In late 2004, the South Korean government disclosed to the IAEA that scientists in South Korea had extracted plutonium in 1982 and enriched uranium to near-weapons grade in 2000. (see South Korean nuclear research programs)
  • Bendera Swedia Swedia – Swedia secara serius mempelajari pengembangan senjata nuklir antara 1950-an dan 1960-an. Swedia diperkirakan memiliki pengetahuan yang cukup yang memungkinkan negara itu untuk membuat senjata nuklir. Sebuah fasilitas penelitian senjata dibangun di StudsvikSaab pernah membuat rencana untuk sebuah pesawat pengebom nuklir berkecepatan supersonik yang berkode A36. Swedia kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan program senjata nuklirnya dan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.
  • Bendera Swiss Swiss – Swiss pernah memiliki sebuah program nuklir rahasia antara 1946 dan 1969. Swiss kemudian memiliki proposal teknis mendetail, senjata-senjata tertentu dan perkiraan biaya untuk persenjataan nuklir Swiss pada 1963. Program ini kemudian ditinggalkan dikarenakan masalah finansial dan ditandatanganinya NPT pada 27 November 1969.
  • Bendera Republik Cina Taiwan – memiliki sebuah program penelitian senjata nuklir rahasia dari tahun 1964 sampai 1988 ketika mendapat tekanan dari Amerika Serikat.[41] Taiwan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 1968.
  • Yugoslavia
    • Flag of SFR Yugoslavia.svg Yugoslavia memiliki ambisi nuklir sejak awal 1950-an ketika ilmuwan Yugoslavia memulai proses pengayaan uranium dan plutonium. Tahun 1956, fasilitas pemrosesan bahan bakar Vinčadibangun, diikuti oleh reaktor penelitian pada 1958 dan 1959 dengan air berat dan uranium yang sudah diproses disediakan oleh Uni Soviet. Pada 1966 uji coba pemrosesan Plutonium dimulai di laboratorium Vinča menghasilkan plutonium yang sudah dikayakan. Selama periode 1950-an dan 1960-an, Yugoslavia dan Norwegia mengadakan kerjasama dalam pemrosesan ulang plutonium. Tahun 1960 Tito menghentikan program nuklir untuk alasan yang tidak diketahui tetapi kemudian memulainya kembali setelah uji coba nuklir India yang pertama pada 1974. Program nuklir masih berlangsung setelah kematian Tito pada 1980 yang terbagi atas program nuklir untuk senjata dan untuk energi. Program senjata nuklir kemudian dihentikan pada Juli 1987. Program nuklir untuk energi kemudian menghasilkan dibangunnya pembangkit listri tenaga nuklir Krško tahun 1983, yang sekarang dimiliki oleh Slovenia dan Kroasia.
    • Bendera Serbia dan Montenegro Serbia dan Montenegro kemudian mewarisi laboratorium Vinča dan 50 kilogram uranium yang sudah dikayakan yang disimpan di fasilitas tersebut. Selama pengeboman NATO atas Yugoslavia tahun 1999, Vinča tidak pernah menjadi sasaran karena NATO mengetahui tentang uranium yang tersimpan disitu. Setelah pengeboman NATO berakhir, pemerintah Amerika Serikat dan Nuclear Threat Initiative memindahkan uranium tersebut ke Rusia - tempat dimana Yugoslavia pertama kali memperolehnya.

[sunting]Negara-negara berkemampuan nuklir lainnya

Secara teori, negara industri manapun sekarang ini memiliki kemampuan teknis untuk mengembangkan senjata nuklir dalam beberapa tahun jika memang negara tersebut bermaksud demikian. Negara yang telah memiliki teknologi nuklir serta industri persenjataan yang cukup, malah dapat melakukannya dalam satu atau dua tahun atau bahkan dalam hitungan bulan jika mereka bermaksud demikian. Negara-negara industri besar seperti Jepang, Jerman, Italia, Australia dan Kanada contohnya, dapat membangun persenjataan untuk menyaingi negara-negara yang telah memiliki senjata nuklir dalam beberapa tahun. Daftar di bawah ini adalah negara-negara yang telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan persenjataan nuklir. Daftar berikut hanya berisi negara-negara yang telah memiliki kemampuan nuklir bukan negara-negara yang secara politik bermaksud mengembangkannya. Semua negara dalam daftar di bawah ini telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.
  • Bendera Kanada Kanada - Kanada memiliki pengetahuan untuk pengembangan teknologi nuklir, cadangan uranium dalam jumlah besar dan memasarkan reaktor untuk keperluan sipil. Kanada memilikiplutonium dalam jumlah besar yang dihasilkan reaktor-reaktor pembangkit tenaga listrik. Kanada dapat mengembangkan senjata nuklir dalam waktu singkat. Walaupun tidak memiliki program senjata nuklir sekarang ini, Kanada secara teknologi telah mampu memiliki program tersebut sejak 1945.[42] Kanada merupakan kontributor penting dari keahlian dan bahan baku program nuklir Amerika pada masa lalu dan juga turut serta dalam Proyek Manhattan. Pada 1959, NATO mengusulkan RCAF (Angkatan Udara Kanada) untuk membangun sebuah kekuatan nuklir di Eropa, pada1962, enam skuadron CF-104 Kanada ditempatkan di Eropa untuk membangun RCAF Nuclear Strike Force yang dipersenjatai dengan bom nuklir B28 (aslinya adalah Mk 28) di bawah program nuklir NATO; kesatuan tersebut kemudian dibubarkan pada 1972 ketika Kanada memutuskan untuk tidak menggunakan cara-cara serangan nuklir. Kanada kemudian menerima pengontrolan bersama atas hulu ledak nuklir Amerika W-40 dalam teritorial Kanada pada 1963 untuk digunakan pada rudal BOMARC Kanada. Angkatan Udara Kanada juga menyimpan sejumlah roket nuklir udara ke udara AIR-2 Genie sebagai senjata utama dari pesawat tempur CF-101 Voodoo setelah 1965. Perdana Menteri Pierre Trudeau mendeklarasikan Kanada menjadi negara bebas senjata nuklir pada 1971, dan hulu ledak Amerika terakhir ditarik pada 1984. Kanada memberikan reaktor riset pertama India, CIRUS, pada 1956. Reaktor ini digunakan untuk menghasilkan bahan nuklir yang digunakan dalam uji coba nuklir pertama India. Kadana juga memproduksi reaktor CANDU dan menjual teknologinya ke beberapa negara seperti Republik Rakyat CinaKorea SelatanIndia,RumaniaArgentina dan Pakistan. Akan tetapi tidak ada bukti yang dapat dipercaya yang menunjukkan bahwa reaktor-reaktor CANDU digunakan untuk menghasilkan bahan nuklir yang digunakan India dan Pakistan. Kanada kemudian memutuskan perdagangan nuklir dengan kedua negara tersebut setelah mereka melakukan uji coba senjata nuklirnya yang pertama.
  • Bendera Jerman Jerman - memiliki industri nuklir yang mampu memproduksi reaktor, fasilitas pengayaaan uranium, fasilitas produksi bahan bakar nuklir dan fasilitas pemrosesan ulang bahan bakar nuklir serta mengoperasikan 19 reaktor untuk sepertiga kebutuhan listrik negara itu. Jerman sejak 1945 belum melakukan upaya serius untuk mengembangkan sistem pengiriman senjata strategisnya, tetapi sejumlah senjata nuklir telah ditempatkan di Jerman Barat dan Jerman Timur selama Perang Dingin dimulai pada 1955. Dibawah skema penggunaan bersama nuklir, tentara Jerman Barat memiliki wewenang untuk menggunakan senjata nuklir AS ketika menghadapi serangan besar-besaran dari Pakta Warsawa. Beberapa lusin senjata tersebut masih tetap berada di beberapa fasilitas militer di Jerman bagian barat. Jerman sejak 1998 telah mengadopsi kebijakan untuk menghapus semua persenjataan nuklir, walaupun kebijakan tersebut berjalan lambat.[43] Pada 26 Januari 2006, bekas menteri pertahanan, Rupert Scholz, mengatakan bahwa Jerman mungkin membutuhkan persenjataan nuklirnya sendiri untuk menghadapi ancaman teroris.[44]

[sunting]Lihat pula

[sunting]Catatan

Senjata
pemusnah massal
WMD world map
Berdasarkan jenis
Senjata biologi
Senjata kimia
Senjata nuklir
senjata radiologi
Berdasarkan negara
AljazairArgentina
BrasilAustralia
KanadaRRT
PerancisJerman
IndiaIran
IrakIsrael
ItaliaJepang
BelandaKorea Utara
PakistanPolandia
RusiaAfrika Selatan
Rep.ChinaBritania Raya
Amerika Serikat
  1. ^ Webster, Paul (July/August 2003). "Just like old times," Bulletin of the Atomic Scientists 59:4: 30-35. [1]
  2. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "U.S. nuclear forces, 2006,"Bulletin of the Atomic Scientists 61:1 (January/February 2005): 68-71, [2]
  3. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "Russian nuclear forces, 2006,"Bulletin of the Atomic Scientists 62:2 (March/April 2006): 64-67, [3]
  4. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "British nuclear forces, 2005,"Bulletin of the Atomic Scientists 61:6 (November/December 2005): 77-79, [4]
  5. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "French nuclear forces, 2005,"Bulletin of the Atomic Scientists 61:4 (July/August 2005): 73-75,[5]
  6. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "Chinese nuclear forces, 2006,"Bulletin of the Atomic Scientists 62:3 (May/June 2006): 60-63, [6]; Lewis, Jeffery. "The ambiguous arsenal," Bulletin of the Atomic Scientists 61:3 (May/June 2005): 52-59. [7].
  7. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "India's nuclear forces, 2005,"Bulletin of the Atomic Scientists 61:5 (September/October 2005): 73-75,[8]
  8. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "Pakistan's nuclear forces, 2001,"Bulletin of the Atomic Scientists 58:1 (January/February 2002): 70-71,[9]
  9. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "North Korea's nuclear program, 2005," Bulletin of the Atomic Scientists 61:3 (May/June 2005): 64-67,[10]
  10. ^ globalsecurity.org. Nuclear Weapons Testing - North Korean Statements
  11. ^ Norris, Robert S., William Arkin, Hans M. Kristensen, and Joshua Handler. "Israeli nuclear forces, 2002," Bulletin of the Atomic Scientists 58:5 (September/October 2002): 73-75, [11]
  12. ^ Norris, Robert S. and Hans M. Kristensen. "Chinese nuclear forces, 2006,"Bulletin of the Atomic Scientists 62:3 (May/June 2006): 60-63, [12]; Lewis, Jeffery. "The ambiguous arsenal," Bulletin of the Atomic Scientists 61:3 (May/June 2005): 52-59. [13].
  13. ^ "India's Nuclear Weapons Program: Operation Shakti: 1998".
  14. ^ Carnegie Endowment for International Peace (carnegieendowment.org),Proliferation Analysis: A Nuclear Triumph for India
  15. ^ Lihat Uji coba nuklir Korea Utara 2006 untuk informasi detail.
  16. ^ Federation of American Scientists (fas.org) (August 17, 2000) Israel's Nuclear Weapons
  17. ^ Nuclear Threat Intiative (nti.com) Iran: Nuclear Chronology; Federation of American Scientists (fas.org) (June 16, 2005). Iran - Nuclear Weapons Recent Developments
  18. ^ Fox News (12 Juni 2004). Iran Wants to Be Part of 'Nuclear Club'
  19. ^ CBS News (April 222006). Iran To Enrich Uranium In Russia
  20. ^ The Guardian (September 182003). Saudis consider nuclear bomb
  21. ^ Akaki Dvali. Center for Nonproliferation Studies (nti.org) (March 2004). Will Saudi Arabia Acquire Nuclear Weapons?; Arnaud de Borchgrave.Washington Times (October 222003Pakistan, Saudi Arabia in secret nuke pact
  22. ^ "Saudia Arabia working on secret nuclear program with Pakistan help - report ", AFX News[14]
  23. ^ "Pakistan rejects report on N-help to Saudis", Daily Times (Pakistan), (30 March 2006).
  24. ^ Federation of American Scientists (fas.org) (May 292000). Nuclear Weapons Program (South Africa)
  25. ^ Federation of American Scientists (fas.org). Belarus Special Weapons
  26. ^ Federation of American Scientists (fas.org). Kazakhstan Special Weapons
  27. ^ globalsecurity.org. Ukraine Special Weapons
  28. ^ Federation of American Scientists (fas.org). Ukraine Special Weapons
  29. ^ Federation of American Scientists (fas.org) (October 21999). Nuclear Weapons Program - (Argentina)
  30. ^ Sharon Squassoni and David Fite, "Brazil's Nuclear History", Arms Control Today (October 2005); Federation of American Scientists (fas.org) (October 2,1999). Nuclear Weapons Programs - (Brazil)
  31. ^ Green Left Weekly (March 212001). Review of Australia and the atomic empire
  32. ^ Sharon Squassoni and David Fite, "Brazil's Nuclear History", Arms Control Today (October 2005).
  33. ^ Federation of American Scientists (fas.org) (October 2, 1999). Nuclear Weapons Programs - (Brazil)
  34. ^ Federation of American Scientists (fas.org) (February 4, 2005). Nuclear Weapons Program - (Egypt)
  35. ^ Nuclear Threat Initiative (nti.org) (May 2005). Iraq profile - Nuclear Overview
  36. ^ Federation of American Scientists (fas.org) (April 16, 2000) Nuclear Weapons Program - Japan
  37. ^ Nuclear Threat Intiative (nti.org) (May 2005). Japan Overview
  38. ^ Nuclear Threat Initiative (nti.org) (February 2006). Libya Nuclear Overview
  39. ^ Federation of American Scientists (fas.org). Romania Special Weapons
  40. ^ Nuclear Threat Intiative (nti.org) (August 2003). South Korea Overview
  41. ^ Federation of American Scientists (fas.org) (April 42000). Taiwan Nuclear Weapons
  42. ^ Canada's Nuclear Story, (Harrap Research Publications, London, 1966), chapter 12
  43. ^ Carey Sublette. "Nuclear Weapons Frequently Asked Questions" nuclearweaponarchive.org (August 2001)
  44. ^ "Germany May Need Own Nuclear Weapons: Scholz" by DPA, Liberty Post, January 26, 2006

[sunting]Pranala luar

Ehsanoglu: Ayatullah Khamenei Bilang Senjata Nuklir Haram!

IRNA-Ekmeleddin Ehsanoglu, Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengatakan, “Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut senjata nuklir haram dan ilegal.”
Ehsanoglu dalam sebuah wawancara ekslusif dengan majalah mingguan Austria Profil edisi hari Senin (10/5) mengatakan, “Ada satu hal yang sudah pasti jelasnya bahwa Tehran membangun instalasi nuklirnya untuk memproduksi energi.”
Sekjen OKI ini mengatakan, “Ini sebuah tujuan yang legal dan tidak boleh ada satu kekuatan pun yang mencegahnya.” Ditambahkannya, “Tidak ada satu negara pun yang punya bukti bahwa Iran ingin membuat bom atom.”
Ehsanoglu menjelaskan, “Kita tidak boleh lupa betapa dunia pernah menyaksikan peristiwa pahit, ketika Amerika secara salah menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal dan dengan alasan ini AS mengagresi dan menduduki Irak.” “Kita harus belajar dari pelajaran pahit ini dan ada dua pekerjaan besar yang harus dilakukan terkait hal ini; pertama, Iran harus melakukan aktifitasnya sesuai dengan aturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan kedua, masyarakat internasional harus aktif mewujudkan kawasan Timur Tengah yang bebas nuklir, hal yang telah dilakukan oleh OKI,” Tegas Ehsanoglu.
Menurut Sekjen OKI, “Kita tidak boleh menutup mata dari negara-negara seperti rezim Zionis Israel dan melarang negara-negara lain terkait aktifitas nuklirnya.”
sumber : IRIB Indonesia
Khameni: Penggunaan Senjata Nuklir Haram
msh | Sabtu, 17 April 2010 | 15:06 WIB
|
Share:
TEHERAN, KOMPAS.com- Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa penggunaan senjata nuklir adalah haram, atau dilarang oleh Tuhan. 
"Kami menetapkan penggunaan persenjataan nuklir itu haram," kata Khamenei dalam pesan yang dibacakan oleh seorang pembantunya, pada pembukaan konferensi perlucutan senjata nuklir di Teheran yang berlangsung dua hari sejak Sabtu (17/4/2010) ini. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.
"Hanya pemerintah Amerika Serikat yang memiliki komitmen kejahatan senjata atom. Di seluruh dunia hanya di Amerika kejahatan atom terletak, dan kini dirinya sendiri sebagai penentang proliferasi senjata nuklir, sementara itu pihaknya tidak melakukan suatu tindakan serius dalam hal ini," kata Khamenei.
Iran menjadi tuan rumah konferensi perlucutan senjata nuklir dua hari di Teheran, dimulai Sabtu, yang dihadiri oleh sejumlah menteri luar negeri dan perwakilan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
"Pada konferensi Teheran, kami akan membahas perlucutan senjata nuklir, non-proliferasi nuklir dan penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai, yang berdasar pada Perjanjian Non-Proliferasi (NPT)," kata Kepala Badan Nuklir Iran, Ali Akbar Salehi, Jumat kemarin.
Salehi juga mengatakan dalam beberapa hari terakhir ini bahwa konferensi akan dimaksud sebagai persiapan bagi pertemuan peninjauan kembali NPT mendatang, di New York awal bulan depan.
Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki berencana akan menghadiri pertemuan tersebut. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, yang di bawah kepemimpinannya Iran menolak melepas program nuklirnya yang kontroversial meskipun tiga sanksi PBB dipersiapkan, menyampaikan pidato pembukaan.
Sebelum pidato Ahmadinejad, satu pesan dari pemimpin agung Ayatollah Ali Khamenei, yang memformulasikan kebijakan luar negeri Teheran dan juga sebagai panglima tertinggi, dibacakan oleh pembantunya, kata media negara.
Para menteri luar negeri dari Lebanon, Irak, Suriah, Republik Afrika Tengah, Oman, Turkmenistan, Armenia dan Swaziland turut ambil bagian, sedangkan Rusia, Uni Emirat Arab dan Qatar diwakili oleh para wakil menteri luar negeri mereka, kata juru bicara kementerian luar negeri Iran, Ramin Mehmanparast.
Mehmanparast mengatakan, seorang pembantu khusus dari menteri luar negeri China, para wakil dari PBB dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) serta ketua Organisasi Konferensi Islam (OIC) juga  hadir.
"Karena adanya gunung meletus (di Islandia), beberapa menteri luar negeri dari Amerika Selatan dan Afrika yang berkaitan dengan penerbangan mungkin akan datang terlambat atau besok. Di antara mereka juga beberapa pakar senjata perusak massal serta persenjataan nuklir," katanya menambahkan
Konferensi tersebut dilangsungkan hanya beberapa hari setelah Washington menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT) keamanan nuklir terbesar.
Sumber :
ANT

Khamenei : Senjata Nuklir Haram Hukumnya  

Tim Liputan SCTV
Khamenei : Senjata Nuklir Haram Hukumnya 
Ayatollah Ali Khamenei

17/04/2010 15:37
Liputan6.com, Teheran: Pemimpin spritual tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu(17/4) mengatakan di Teheran, bahwa penggunaan senjata nuklir hukumnya "haram" atau "dilarang agama."

"Kami menetapkan penggunaan persenjataan nuklir itu haram," kata Khamenei dalam pesan yang dibacakan seorang pembantunya pada pembukaan konferensi perlucutan senjata nuklir yang berlangsung dua hari di Teheran.

Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

"Hanya pemerintah Amerika Serikat yang memiliki komitmen kejahatan senjata atom. Di seluruh dunia hanya di Amerika kejahatan atom terjadi, dan kini mereka sendiri yang menentang proliferasi senjata nuklir, sementara itu pihaknya tidak melakukan suatu tindakan serius dalam hal ini," kata Khamenei.

Iran menjadi tuan rumah konferensi perlucutan senjata nuklir dua hari di Teheran yang dimulai Sabtu dan dihadiri sejumlah menteri luar negeri dan perwakilan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

"Pada konferensi Teheran, kami akan membahas perlucutan senjata nuklir, nonproliferasi nuklir dan penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai, yang berdasar pada Perjanjian Non-Proliferasi (NPT)," kata kepala badan nuklir Iran, Ali Akbar Salehi, Jumat(16/4).

Salehi juga mengatakan dalam beberapa hari terakhir ini, bahwa konferensi akan dimaksud sebagai persiapan bagi pertemuan peninjauan kembali NPT mendatang, di New York awal bulan depan.

Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki, berencana menghadiri pertemuan tersebut, sementara Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang di bawah kepemimpinannya Iran menolak melepas program nuklirnya yang kontroversial meskipun tiga sanksi PBB dipersiapkan, menyampaikan pidato pembukaan.

Sebelum pidato Ahmadinejad, satu pesan dari pemimpin agung Ayatollah Ali Khamenei, yang menjadi perumus kebijakan luar negeri Teheran dan juga panglima tertinggi, dibacakan oleh pembantunya, kata media pemerintah.

Para menteri luar negeri Lebanon, Irak, Suriah, Republik Afrika Tengah, Oman, Turkmenistan, Armenia dan Swaziland turut ambil bagian, sedangkan Rusia, Uni Emirat Arab dan Qatar diwakili oleh wakil menteri luar negerinya, kata juru bicara kementerian luar negeri Iran, Ramin Mehmanparast.

Mehmanparast mengatakan, pembantu khusus menteri luar negeri China, para wakil PBB dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) serta ketua Organisasi Konferensi Islam (OIC) juga hadir.

"Karena adanya gunung meletus (di Islandia), para menteri luar negeri Amerika Selatan dan Afrika yang berkaitan dengan penerbangan mungkin akan datang terlambat atau besok. Di antara mereka juga beberapa pakar senjata pemusnah massal dan senjata nuklir," tambahnya.

Konferensi tersebut dilangsungkan hanya beberapa hari setelah Washington menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT) keamanan nuklir terbesar. (Ant/ARI)

 Khamanei Tegaskan Lagi, Senjata Nuklir Haram bagi Umat Islam
Ayatollah Ali Khamenei

Khamanei Tegaskan Lagi, Senjata Nuklir Haram bagi Umat Islam

Minggu, 18 April 2010 01:59 WIB
TEHERAN--Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu mengatakan di Teheran, bahwa penggunaan senjata nuklir haram atau dilarang oleh agama. "Kami menetapkan penggunaan persenjataan nuklir itu haram," kata Khamenei dalam pesan yang dibacakan oleh seorang pembantunya, pada pembukaan konferensi perlucutan senjata nuklir yang berlangsung dua hari.

Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad. "Hanya pemerintah Amerika Serikat yang memiliki komitmen kejahatan senjata atom, kini dirinya sendiri sebagai penentang proliferasi senjata nuklir," kata Khamenei. Iran menjadi tuan rumah konferensi perlucutan senjata nuklir dua hari di Teheran, dimulai Sabtu, yang dihadiri oleh sejumlah menteri luar negeri dan perwakilan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki, berencana akan menghadiri pertemuan tersebut.
Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menyampaikan pidato pembukaan. Sebelum pidato Ahmadinejad, satu pesan dari pemimpin agung Ayatollah Ali Khamenei, yang memformulasikan kebijakan luar negeri Teheran dan juga sebagai panglima tertinggi, dibacakan oleh pembantunya.

Para menteri luar negeri dari Lebanon, Irak, Suriah, Republik Afrika Tengah, Oman, Turkmenistan, Armenia dan Swaziland turut ambil bagian. Sedangkan Rusia, Uni Emirat Arab dan Qatar diwakili oleh para wakil menteri luar negeri mereka, kata juru bicara kementerian luar negeri Iran, Ramin Mehmanparast. Dia mengatakan, seorang pembantu khusus dari menteri luar negeri China, para wakil dari PBB dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) serta ketua Organisasi Konferensi Islam (OIC) juga hadir.
Redaktur: irf
Sumber: ant/afp/Republika online

Pidato Lengkap Ahmadinejad di Sidang G15 ( Nuklir Haram )




Pidato Ahmadinejad di Sidang G15

Bismillahirrahamnirrahim
Kami bersyukur kepada Allah karena kami menjadi tuan rumah rekan-rekan terbaik. Saya juga mengucapkan rasa terima kasih yang sangat dalam kepada para presiden yang terhormat dan tamu yang mulia khususnya para pejabat negara-negara anggota G15.
Para hadirin yang terhormat
Anda mengetahui bahwa selama jenjang waktu sejak pelaksanaan sidang sebelumnya hingga kini terjadi berbagai peristiwa penting di sektor ekonomi, politik, dan keamanan.
Meski peristiwa ekonomi lebih mendapat perhatian dari berbagai sisi oleh para pejabat dan media, namun rentetan peristiwa di sektor politik dan keamanan juga sangat penting dan determinan.
Perekonomian yang berdasarkan konsumerisme maksimum dan profit sebanyak-banyaknya, serta struktur ekonomi yang muncul dari hal tersebut bukan hanya secara praktis telah gagal melainkan juga dalam tidak lulus dalam ujian kejujuran, komitmen, dan pemeliharaan etika.

Terbukti pula bahwa watak "aset-aset kertas" dan jaringannya yang ruwet, dan hubungan ekonomi riba tidak mendatangkan apapun kecuali masalah. Selain itu juga menjadi kanal relokasi kekayaan bangsa-bangsa ke kantong-kantong para kapitalis. Dan imbasnya adalah relokasi berbagai permasalahan sejumlah negara ke negara-negara lain.
Politik ini menyebabkan runtuhnya sistem perekonomian internasional. Dan pada akhirnya mengakibatkan kerugian puluhan ribu milyar terhadap perekonomian dunia. Dampak terbesarnya dirasakan di negara-negara miskin dengan meluasnya kemiskinan dan krisis makanan. Negara-negara lain pun juga menderita kerugian besar.
Menyusul peristiwa ini serta mengingat penyandaran ekonomi dunia pada ideologi kapitalisme liberal dan pasar bebas, ideologi ini terbukti gagal di tahap praktiknya dan memperluas ketidakpercayaan terhadap sistem yang berlaku dalam perekonomian internasional. Juga terbukti pula bagaimana dan secepat apa dampak berbagai krisis yang terjadi di pusat kapitalisme Barat merambat ke berbagai negara di dunia. Fenomena yang jarang padanannya ini membuat banyak negara lebih cenderung untuk mengurangi ketergantungannya terhadap sistem ekonomi yang berlaku serta berupaya membenahi struktur dan membentuk struktur ekonomi baru dunia.
Negara-negara yang berada di blok kapitalisme pada praktiknya telah mengakui kegagalan dan kekalahan ekonomi liberal dengan melampaui garis merah perekonomian liberal dan pasar dunia melalui campur tangan meluas dan pemberian paket-paket dukungan makro sampai pada tahap nasionalisasi sebagian besar pusat-pusat perekonomiannya.
Hingga kini stabilitas dan kepercayaan terhadap pasar belum pulih dan jelas pengobatan sesungguhnya tidak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan obat penenang saja. Karena kita saat ini menyaksikan indikasi krisis ekonomi baru di Yunani dan di pasar-pasar bursa Eropa. Meski dapat dicegah untuk sementara namun akar dan kendala utamanya termasuk ketidakadilan dan unilaterlisme dalam sistem ekonomi saat ini tetap ada.
Di sektor keamanan dan politik, sistem yang berkuasa menghadapi kegagalan dan inefisiensi. Kondisi di Afghanistan bahkan lebih tidak aman dengan kehadiran seratus ribu pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Krisis bahkan telah merambat ke Pakistan. Kondisi keamanan di Irak juga tidak menunjukkan pemulihan yang memuaskan.
Kisah menyedihkan pendudukan Palestina dan jutaan pengungsi Palestina di berbagai kamp yang berharap pulang ke tahan air mereka juga terus berlanjut. Gaza rusak berat akibat perang tidak seimbang. Banyak warganya yang gugur syahid dan menderita akibat blokade makanan dan obat-obatan. Negara-negara tetangga juga setiap harinya menghadapi berbagai ancaman rezim Zionis Israel. Jelas bahwa struktur keamanan-politik internasional tidak mampu mewujudkan keamanan yang bekesinambungan.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bertindak berdasarkan berbagai ketentuan kunonya pasca Perang Dunia II. Efisiensi dan kredibilitasnya telah sirna di mata bangsa-bangsa dunia. Sebagian anggota tetapnya hingga kini masih hidup di masa 65 tahun lalu dan mereka berharap negara-negara dan bangsa-bangsa dunia mematuhi mereka.
Kehadiran mereka di Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengakibatkan terhentinya pelaksanaan berbagai tugas utama lembaga ini dalam perlucutan senjata, non-proliferasi, dan bantuan terhadap penggunaan energi nuklir seluruh anggotanya. Bayangan ancaman senjata nuklir makin meluas di dunia dan bahkan kepemilikan, peningkatan senjata nuklir, serta ancaman penggunaannya, secara terang-terangan menjadi program resmi sejumlah negara.
Rekan dan saudara tercinta
Bapak-bapak dan ibu-ibu
Dewasa ini telah jelas bagi semua bahwa berlanjutnya kondisi sekarang ini sudah tidak memungkinkan lagi. Jika tetap berlanjut, permasalahan akan semakin menumpuk. Oleh karena itu, muncul ide dan tuntutan yang satu untuk mengubah dan membenahi kondisi dunia secara fundamental.
Tidak diragukan lagi bahwa saat ini dunia harus diatur oleh sistem tunggal. Namun harus dibahas pula faktor kegagalan dan ketidakmampuan sistem yang ada saat ini di satu sisi dan persyaratan serta kriteria sistem yang ideal di sisi lain.
Pondasi sistem yang berlaku saat ini adalah materialisme. Dalam ideologi ini, penguasaan menyeluruh terhadap segala hal, kekayaan, profit, kenikmatan, dan kekuatan secara maksimum, dinilai sebagai tujuan. Dan dalam mencapainya, segala cara dihalalkan. Kebohongan, tipu daya, tekanan propaganda, tekanan politik dan ekonomi, monopoli, intransparansi, pengerahan kekuatan militer meski pun dengan menggunakan senjata pemusnah massal dan bom atom, intervensi urusan pihak lain, dan pencegahan kemajuan dan perkembangan bangsa-bangsa, pelanggaran atas batas-batas budaya, etika, dan geografis, kepemilikan hak istimewa, ketidakadilan, diskriminasi, dan lain-lain, diperbolehkan. Dalam interaksi, etika, spiritualitas, dan kehormatan manusia tidak memiliki tempat. Dalam ideologi seperti ini jika etika, hak asasi manusia, dan kebebasan mengemuka, hanya berlaku agar kepentingan materi maksimum tidak terancam dan digunakan sebagai sarana politik untuk menyerang pihak lain.
Kapan pun diperlukan, dilakukan perilaku terburuk terhadap kemanusiaan dan diktatorisme terburuk. Sikap dan standar ganda sudah menjadi hal biasa. Perang Dunia I dan II dan berbagai perang pada abad lalu dan di awal abad sekarang ini juga berlandaskan pada pemikiran dan ideologi seperti ini. Jelas sekali bahwa struktur yang berlandaskan pada ideologi materialisme seperti ini tidak bisa diharapkan memberikan layanan yang jujur dan bersih kepada umat manusia.
Rekan-rekan
Dewasa ini, realisasi perubahan pada kondisi yang ada dan kebutuhan pembentukan sistem baru telah berubah menjadi tuntutan semua dan tekad semua pihak bergulir di jalan ini.
Sistem baru harus didefinisikan dan diatur dalam koridor ideologis dan filosofis yang berasaskan pada keimanan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Pengasih, dan Bijaksana. Tuhan yang Maha Pengasih dan menyeru semua kepada kasih sayang dan persahabatan serta cinta. Yang Maha Adil dan menyeru semua pada keadilan. Yang memuliakan manusia dan memerintahkan seluruh umat manusia untuk menjaga kehormatan dan hak-hak manusia.
Kita semua adalah hamba-hamba Allah dan tidak ada seorang pun yang lebih unggul dari orang lain kecuali dengan kesucian, kejujuran, dan ketakwaannya.
Sistem baru yang ideal harus berlandaskan pada etika, keadilan, kesucian, kejujuran, dan penjagaan hak serta nilai-nilai manusia. Sistem global yang ideal harus membimbing manusia menuju kedaulatan orang-orang shaleh dan yang Maha Shaleh. Dengan demikian, segelintir pihak yang rakus dan agoran tidak akan diperbolehkan mengorbankan kepentingan bangsa-bangsa demi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu yang membuat dunia tidak aman dan bergejolak, serta yang menggunakan senjata dan kekuatan ketimbang logika, akal, dan keadilan.
Rekan-rekan yang terhormat

Syarat pertama realisasi perspektif seperti ini adalah kerjasama, kesepahaman, dan solidaritas kita semua dan seluruh negara yang bersama dengan kami. Harus terbuka peluang yang sama bagi partisipasi semua negara dalam manajemen global.
Mengingat kapasitas besar pemikiran, budaya, ilmiah, ekonomi, dan politik negara-negara anggota dan para tamu yang mulia, diusulkan penugasan sebuah komisi tetap yang terdiri atas delegasi negara-negara anggota untuk menyusun draf usulan perubahan sehingga setelah ditetapkan dapat dibahas pada sidang tingkat tinggi G15.
Juga diusulkan:
1- Merunut pada kondisi dunia saat ini, keselarasan dalam berbagai masalah regional dan global terasa lebih penting dari masa lalu. Komite musyawarah dengan partisipasi kementerian luar negeri harus dibentuk dalam rangka menindaklanjuti masalah ini secara teratur dalam sidang-sidangnya.
2- Mengingat berbagai kendala yang dihadapi di dunia ekonomi, penyandaran terhadap sumber-sumber dan kemampuan besar dan meluas dalam kelompok ini lebih dititikberatkan. Oleh karena itu diusulkan dibentuk komite khusus di sektor industri, pertanian, perbankan, energi, dan teknologi moderen, guna membahas mekanisme pengokohan hubungan dan perluasan interaksi di bidang ini dan menetapkan langkah-langkah kolektif dan hubungan. Juga pembentukan bank bersama dalam melakukan transaksi dan perdagangan melalui cara pertukaran produk atau dengan menggunakan paket valuta dunia atau valuta masing-masing negara.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sangat dalam kepada para presiden dan para pejabat negara terhormat serta para tamu yang mulia. Saya menggunakan kesempatan ini untuk menyerahkan kepemimpinan sidang ini kepada saudara saya bapak Mahindra Raja Paksa, Presiden Sri Lanka yang terhomat. Saya mengucapkan selamat kepada beliau dan berharap semoga kelompok G15 pada masa kepemimpinannya dapat mengambil langkah-langkah besar dalam mweujudkan keadilan, perdamaian, dan persahabatan di dunia, serta meningkatkan kerjasama dalam menggapai tujuan-tujuan tinggi.
Semoga kalian sukses dan menang.

(IRIB/MZ/18/5/2010)


Source: Banjarku Umai Bungasnya: Pidato Lengkap Ahmadinejad di Sidang G15 ( Nuklir Haram ) http://banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/2010/05/pidato-lengkap-ahmadinejad-di-sidang.html#ixzz1nRvxnmfY
Under Creative Commons License: Attribution

Deklarasi Brazil-Turki Buyarkan Strategi Barat
Menurut para analis, Senin (17/5) Barat kebingungan setelah Brazil dan Turki, dua kekuatan baru itu berhasil mengubah upaya mediasinya di Iran menjadi sebuah deklarasi nuklir.
Pada saat yang sama, negara-negara Eropa selain menyambut deklarasi yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Iran, Brazil, dan Turki juga menyatakan pesimis terhadap deklarasi tersebut. Menurut Eropa deklarasi tersebut tidak akan mengubah aturan main dalam perundingan terkait sanksi baru terhadap Iran.
Berdasarkan deklarasi tersebut, Iran akan mengirimkan 1.200 kg uranium diperkaya tingkat rendah ke Turki dan sebagai imbalannya, Tehran akan menerima bahan bakar nuklir yang diperlukannya.
Ankara percaya bahwa deklarasi tersebut praktis menggugurkan pentingnya perundingan lebih lanjut soal sanksi. Namun sejumlah pakar menegaskan bahwa deklarasi tersebut merupakan transformasi baru dalam lingkup friksi soal program nuklir Iran dan Barat tidak punya pilihan lain kecuali menanggapinya serius.
Pascal Boniface, Direktur Lembaga Hubungan Internasional dan Strategis yang berbasis di Paris mengatakan: "Berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi hanya akan menyebabkan Barat terasing."
Ditambahkannya: "Masalah ini dapat mencuatkan asumsi bahwa Barat kaku dan terasing."
"Francois Hisburg" dari Lembaga Riset Strategis di Paris mengatakan: "Deklarasi tersebut sangat dekat dengan usulan tahun lalu Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk Iran."
Menurutnya, "Jika perincian dalam deklarasi tersebut dari sisi ini tenggat waktu pertukaran dan jenis bahan bakar yang serahkan cukup memuaskan, maka tidka ada lagiruang untuk protes."
"Penolakan terhadap deklarasi Brazil-Turki itu berarti penolakan upaya yang telah dilakukan selama ini oleh IAEA dan penolakan seluruh langkah yang diupayakan oleh dua kekuatan baru itu."
Menyinggung kelompok diplomatik Inggris, Cina, Perancis, Rusia, dan Amerika Serikat, ditambah Jerman - yang berupaya mencari solusi soal program nuklir Iran melalui perundingan, Hizburg mengatakan, "Kelompok 5+1 saat ini menghadapi masalah baru yang sangat sulit untuk ditolak."
Di lain pihak, Mehdi Maqdour, seorang analis Iran di Kelompok Riset dan Informasi Perdamaian dan Keamanan di Brussel menyatakan, "Deklarasi tersebut mencuatkan nama Brazil dan Turki sebagai kekuatan baru di dunia.
"Hanya dalam dua hari, Brazil dan Turki mampu menyelesaikan pekerjaan yang Perancis dan Amerika Serikat tidak dapat melaukannya dalam setahun." (IRIB/MZ/18/5/2010)
Iran Telah Buka Lebar Iklim Diplomasi, Bagaimana dengan Barat? 
Kantor berita Cina Xinhua Selasa (18/5) menurunkan analisa menyebutkan bahwa Iran dalam kesepakatan pertukaran bahan bakar, telah membuka iklim diplomasi dalam penyelesaikan masalah nuklirnya.
Menyinggung kesepakatan Iran, Turki dan Brazil soal pertukaran bahan bakar nuklir, Xinhua menulis, melalui langkah tersebut, Iran membuka lebih lebar pintu diplomasi untuk memecah kebuntuan dalam hal ini.
Kantor berita resmi Cina ini menambahkan, kebijakan Tehran ini juga membawa pesan bahwa Iran telah mengubah mengubah sikapnya di bidang nuklir dengan perspektif jangka panjang.
"Sudah selama bertahun-tahun, aliansi Barat yang dipimpin Amerika menuding Iran memproduksi senjata nuklir sementara Tehran dengan tegas menyatakan bahwa program nuklir sepenuhnya untuk kepentingan damai."
Masalah nuklir Iran termasuk masalah internasional yang kompleks dan sangat berkaitan erat dengan stabilitas dan keamanan regional. Namun mayoritas masyarakat di kawasan percaya bahwa diplomasi merupakan solusi terbaik untuk menyelesaikan isu nuklir Iran.
Setiap langkah logis akan membantu menyelesaikan masalah tersebut. Dan kini Tehran telah mengajukan solusi diplomatik yang sesuai dengan usulan Baran Energi Atom Internasional (IAEA). Kini masyarakat dunia diharapkan berupaya mewujudkan jembatan penghubung antarkedua pihak. Mengingat Iran konsisten terhadap Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), maka masyarakat internasional tidak boleh menyia-nyiakan segala upaya untuk segera menyelesaikan masalah ini.
Kendala terbesar yang menghadang prosesnya, menurut Xinhua, adalah tidak adanya kepercayaan antara Iran dan Barat, yang jelas akan menggagalkan seluruh upaya konstruktif.
Meski demikian deklarasi Tehran diharapkan dapat menembus jalan buntu dalam kasus nuklir Iran ini sekaligus menjadi ujian bagi pihak-pihak terkait dalam memanfaatkan peluang. (IRIB/MZ/18/5/2010)
10 Butir Deklarasi Pertemuan Segi Tiga Tehran
Manouchehr Mottaki, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri timpalannya dari Brazil dan dari Turki mengumumkan 10 butir deklarasi bersama Iran, Brazil dan Turki. Menlu Mottaki mengatakan, "Tiga negara Iran, Brazil dan Turki dalam pertemuan 17 Mei 2010 telah menandatangani dan menyepakati deklarasi:
1. Kami menegaskan komitmen untuk tidak menyebarkan senjata nuklir dan bahan-bahan yang terkait dengannya dan mengingatkan hak seluruh anggota, termasuk Republik Islam Iran untuk memanfaatkan energi nuklir demi kepentingan riset, produksi dan pemanfaatan energi nuklir dan siklus pengayaan untuk tujuan-tujuan damai tanpa ada diskriminasi.
2. Kami menjelaskan adanya keyakinan yang kuat untuk menciptakan situasi kondusif, positif dan non-konfrontasi agar sampai pada satu periode interaksi dan kerjasama.
3. Kami punya keyakinan bahwa pertukaran bahan bakar nuklir menjadi sarana bagi dimulainya kerjasama di pelbagai bidang, khususnya kerjasama nuklir untuk tujuan damai yang mencakup pembangunan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir dan reaktor riset.
4. Berdasarkan butir ini, pertukaran bahan bakar menjadi gerakan konstruktif, ke depan dan titik tolak bagi kerjasama antarbangsa-bangsa. Gerakan ini harus diarahkan menjadi interaksi positif dan kerjasama nuklir untuk tujuan damai dan meninggalkan setiap bentuk konfrontasi baik langkah, perilaku dan pernyataan-pernyataan keras yang merusak hak dan komitmen Iran berdasarkan traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT)
5. Berdasarkan butir di atas, demi mempermudah kerjasama nuklir yang telah disebutkan, Republik Islam Iran sepakat menyerahkan 1200 kilogram uranium dengan pengayaan lemah kepada Turki sebagai amanat. Uranium ini milik Iran dan berada di Turki dan Iran dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) berhak untuk melakukan pengawasan terhadapnya.
6. Iran akan mengumumkan kesepakatannya terkait poin di atas dengan IAEA paling lambat 7 hari setelah tanggal pengumuman deklarasi ini lewat jalur-jalur resmi. Setelah mendapat jawaban positif kelompok Wina mencakup negara Rusia, Amerika Perancis dan IAEA, akan dibeberkan lebih luas perincian pertukaran bahan bakar lewat sebuah nota kesepakatan tertulis dan mekanisme yang tepat antara Republik Islam Iran dan kelompok Wina yang secara transparan telah berjanji menyerahkan 120 kilogram bahan bakar yang diperlukan bagi reaktor riset Tehran.
7. Sejak kelompok Wina mengumumkan komitmennya sesuai syarat deklarasi ini, kedua pihak berkewajiban melaksanakan kesepakatan yang telah disebutkan dalam butir keenam. Iran akan mengumumkan kesiapannya untuk menyerahkan bahan bakarnya sebagai amanat sesuai dengan nota kesepakatan dalam jangka waktu satu bulan. Kelompok Wina sesuai dengan nota kesepakatan ini juga harus komitmen menyerahkan 120 kilogram uranium yang dibutuhkan reaktor Tehran kepada Iran paling lambat dalam setahun.
8. Bila butir ini tidak diindahkan, maka Turki sesuai dengan permintaan Iran LEU (uranium dengan pengayaan sedikit) dengan segera dan tanpa syarat dikembalikan kepada Iran.
9. Turki dan Brazil menyambut baik kesiapan berkelanjutan Republik Islam Iran untuk melanjutkan perundingan dengan kelompok 5 + 1 di negara manapun, termasuk Brazil dan Turki tentang masalah bersama berdasarkan komitmen seluruh negara sesuai dengan paket dan poin-poin usulan.
10. Turki dan Brazil menghargai kinerja konstruktif Republik Islam Iran dalam menindaklanjuti hak nuklir negara-negara anggota NPT dan sebaliknya, Republik Islam Iran menyampaikan rasa terima kasih kepada Brazil dan Turki atas usaha konstruktif negara-negara sahabat ini dalam menciptakan atmosfir kerjasama guna merealisasikan hak nuklir Iran.(IRIB/SL/18/5/2010)


Source: Banjarku Umai Bungasnya: Pidato Lengkap Ahmadinejad di Sidang G15 ( Nuklir Haram ) http://banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/2010/05/pidato-lengkap-ahmadinejad-di-sidang.html#ixzz1nRwrzjpC
Under Creative Commons License: Attribution

0 comments to "Nuklir HARAM by RAHBAR (Pemimpin Spritual ISLAM Iran)"

Leave a comment