Pemerintah Amerika di bulan-bulan pertama 2010 telah menebar propaganda luas agar Cina menyetujui penerapan sanksi yang lebih berat terhadap Republik Islam Iran. Namun di balik mobilisasi Amerika ini, negara Cina yang bakal menerima dampaknya di masa depan.
Amerika sejak awal tahun 2010 menemui kebuntuan dalam usahanya menghentikan pengayaan uranium Iran dan program nuklir sipil negara ini secara umum. Menyaksikan kenyataan ini lembaga-lembaga diplomasi dan pusat-pusat strategis Amerika dan Barat dalam sebuah gerakan terkoordinasi tidak punya pilihan lain kecuali menerapkan mekanisme penerapan sanksi lebih berat terhadap Iran.
Berdasarkan rencana ini, sanksi yang akan dijatuhkan harus berujung pada lumpuhnya perekonomian Iran. Bila hal ini terjadi, Iran terpaksa menilai kembali program nuklirnya atau menghentikannya sama sekali. Tujuan ini dinyatakan akan diterapkan sedemikian rupa secara cerdas dan hanya menarget sejumlah lembaga tertentu, namun pada hakikatnya, rencana yang ada di atas meja Amerika tidak pernah menyebut ada batasan dalam penerapan sanksi.
Segalanya telah dipersiapkan sedemikian rupa, namun pada kenyataannya rencana ini belum juga diterapkan. Alasannya sederhana. Pelbagai laporan dari sumber-sumber Barat melihat kelemahan rencana ini kembali pada tidak ada kesepakatan mutlak dari kekuatan-kekuatan besar dunia.
Sejatinya, kendala terbesar Barat dalam aksi penerapan sanksi lebih berat terhadap Iran kembali pada penolakan dua rival Barat di Timur; Rusia dan Cina. Kenyataan ini semakin sulit dikarenakan dua negara ini adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang memiliki hak veto.
Lembaga-lembaga riset strategis Barat menilai Cina sebagai kendala utama tidak terciptanya kesepakatan ini. Mereka meyakini bahwa rencana penerapan sanksi lebih berat terhadap Iran punya target utama lain dan itu adalah Cina. Karena bila Beijing sepakat dengan Barat dalam menjatuhkan sanksi terhadap Iran, upaya meraih kesepakatan Rusia sebenarnya lebih mudah.
Kajian lembaga-lembaga riset Amerika terkait Cina menunjukkan masalah utama Cina dengan Iran adalah ekonomi dan bukan strategi. Sekalipun tidak boleh dilupakan betapa masalah ekonomi bagi Iran juga punya imbas pada kepentingan strategis.
Sumber-sumber ini menekankan, kebutuhan besar Cina akan energi untuk menggerakkan mesin-mesin industrinya menyebabkan negara ini sangat berhati-hati dalam menyikapi negara-negara penjamin kebutuhan energinya. Iran bagi Cina adalah negara utama penjamin energinya.
Demi menjadi negara nomor wahid ekonomi dunia, Cina ke depannya telah menetapkan konsep menjauhi konflik sebagai prinsip diplomasinya. Berdasarkan strategi ini, Cina sebisa mungkin berusaha menjauhi konflik dan menekankan jalur diplomasi dalam hubungan internasional, terutama bila sumber-sumber strategisnya terancam. Sikap tegas Cina di hadapan tekanan dan tuntutan Barat hanya dapat didefinisikan dengan cara pandang ini.
Bagi Cina, tidak ada yang lebih penting bagi negaranya selain mempertahankan pertumbuhan ekonomi 8 persen. Oleh karenanya, perdagangan energi dan pasar Iran begitu penting bagi negara ini.
Masalah yang dihadapi Cina dengan cepat dipahami Amerika dan untuk itu Washington segera mengaktifkan sistem diplomasinya guna menepis kecemasan Cina. Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri Amerika saat melawat Arab Saudi dan sejumlah negara Arab meminta mereka membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi Cina. Amerika berusaha menarik negara-negara Arab produsen minyak dan meyakinkan Cina bahwa mereka akan menjamin kebutuhan energinya bila bergabung dengan front anti-Iran.
Pada akhirnya, Arab Saudi mendapat tugas melobi Cina dan berjanji akan menjamin kebutuhan energi Cina dengan harga lebih murah bila Iran memutuskan ekspor minyaknya. Saud Al-Faisal, Menteri Luar Negeri Arab Saudi ditunjuk sebagai penanggung jawab misi ini.
Menurut prediksi para pakar Barat, bila Cina menerima usulan Barat dan Arab Saudi siap menjamin kebutuhan energi Cina, Beijing bakal menerima rencana penerapan sanksi lebih berat terhadap Iran. Namun apakah semudah itu?
Asumsi yang ada ternyata hanya memprediksi transformasi internasional jangka pendek dan hanya fokus pada pemberlakuan sanksi terhadap Iran. Namun belum ada analisa serius mengenai dampak jangka panjang pemberlakuan sanksi ini.
Dampak serius krisis ekonomi global sangat berpengaruh pada posisi Cina dan lompatan ekonominya, secara bertahap, dalam ekonomi dunia sangat mencemaskan para pejabat Amerika yang selama ini selama bertahun-tahun berada di urutan pertama ekonomi dunia.
Bila Republik Islam Iran dengan teknologi nuklirnya menjadi ancaman bagi Amerika dan Barat di Timur Tengah, Cina di masa depan akan menjadi ancaman terbesar ekonomi Amerika. Sekalipun ancaman ini akan terwujud di masa depan, namun ancaman ini sangat serius bagi Amerika dan Barat.
Sedikitnya, dampak dari "Proyek Arab-AS; Minyak untuk Cina" untuk menarik Beijing mengikuti politik Barat dalam menjatuhkan sanksi terhadap Iran, sekalipun secara lahiriah proyek anti-Iran, tapi sejatinya ini adalah proyek menghapus sumber-sumber independen dan terpercaya penjamin energi dari sekeliling Cina. Sebaliknya proyek ini akan menciptakan kebergantungan lebih besar Cina akan sumber-sumber energi yang berada dalam kontrol Amerika atau sekutunya seperti Arab Saudi.
Dalam kondisi yang demikian, Cina telah dibelenggu dan kemampuan manuver politiknya semakin terbatas. Cina menjadi sangat lembah dari sisi jaminan energi.
Berbeda dengan pandangan awal terkait masalah ini. Sejatinya, proyek minyak murah untuk Cina adalah tipu muslihat kuno "biji dan jebakan". Jebakan yang contoh lainnya telah dipersiapkan untuk Rusia. Dengan cara ini Amerika ingin menerapkan strategi "sekali kayuh dua tiga pulau terlampui". Dari satu sisi Gedung Putih ingin mencegah terbentuknya kekuatan independen di Timur Tengah dan di masa depan mencegah munculnya kekuatan baru yang akan menyoal kekuatan Barat.
0 comments to "Embargo Cina : Amerika said..."