| Rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat ke Indonesia ternyata mengundang banyak reaksi. Mulai dari pro dan kontra. Pemimpin negara adidaya berkulit hitam pertama ini memang punya sejarah yang unik. Ia pernah tinggal di Indonesia di saat masih kanak-kanak. Dengan demikian sebagian orang menganggap Obama juga milik Indonesia. Apalagi tempat Obama sekolah, pihak SDN 01 Menteng merasa paling berhak untuk menempatkan patung masa kecil presiden AS ini di depan gedungnya. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan dunia Islam. Menurutnya, "Kita dapat menciptakan dialog saat kunjungan Obama. Saya yakin dengan dialog dapat membangun hubungan yang lebih baik, khususnya dengan dunia Islam." Oleh karena itu, katanya, kedatangan Barack Obama ke Indonesia pada 20-22 Maret mendatang merupakan hal positif dan tidak perlu dipermasalahkan dan tidak perlu ditolak. Dengan demikian masyarakat luas, khususnya Islam, hendaknya menyambut dan menerimanya sebagai tamu. Ia berdalil bahwa, berdasarkan ajaran Islam, menyambut dan menerima kedatangan tamu adalah hal yang baik. Untuk itu, Obama sudah seharusnya disambut dan diterima seperti kunjungan presiden dari negara lainnya. Selain itu, ia juga meyakini niat Obama untuk berkunjung ke Indonesia merupakan bagian dari kampanye pada waktu pemilihan presiden AS yang ingin membangun hubungan baik dengan dunia Islam, yang antara lain diwujudkan dengan berkunjung ke Indonesia. Ia menyayangkan sikap beberapa organisasi masyarakat yang menolak kedatangan Obama ke Indonesia. Namun penolakan yang dilakukan dengan unjuk rasa merupakan bagian dari hak demokrasi warga, karena sangat disayangkan jika niat baik harus ditolak. Tak hanya Muhammadiyah yang menyatakan siap menerima kunjungan Obama, bahkan NU pun bersikap serupa. Seperti diberitakan Jawa Pos, dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, sepakat tidak mempermasalahkan rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama ke Indonesia, dalam waktu dekat. Bahkan, Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi juga berharap kelompok umat Islam lain menerima kedatangan pimpinan tertinggi negeri Paman Sam itu. Muzadi mengatakan, "Sebaiknya, jangan ada kaum muslimin Indonesia yang menolak kedatangan Obama." Menurut dia, selain bertentangan dengan etika diplomasi internasional, penolakan itu bertentangan dengan etika Islam. Di dalam Islam, kata dia, sama sekali tidak ada aturan yang memberikan alasan menolak tamu. Apalagi, dalam kapasitas diplomasi internasional. Ditegaskannya, "Perlu diingat, Rasulullah sendiri berhubungan diplomatik dengan agama lain, termasuk Yahudi." Selain itu, tambah dia, Obama telah menunjukkan kemauan baik hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam, sekalipun hasilnya belum maksimal, sebenarnya mulai terasa. Meski demikian, Hasyim tetap mengingatkan bahwa pemerintah dalam pembicaraan diplomatik dua negara nanti, jangan terkesan berada di bawah Amerika Serikat. Misalnya, dalam hal terorisme. "Jangan sampai, sekali-sekali, gerakan pemberantasan terorisme untuk menyenangkan Amerika saja." Sikap dua organisasi massa Islam ini mungkin wajar-wajar saja, namun yang perlu kita ingat terlepas dari agama yang kita anut bahwa AS yang mengaku sebagai polisi dunia ini telah melakukan tindakan semena-mena. Mereka tak peduli dengan penderitaan dan kepentingan pihak lain, yang penting adalah kepentingannya aman. Sekali lagi, isu terorisme jangan sampai membuat kita takut kepada AS. Jika kita telusuri lebih dalam isu terorisme adalah strategi Washington untuk memaksakan kehendaknya di negara lain. Jangan kita tertipu dengan penilaian AS bahwa negara kita menjadi sarang teroris. Yang benar adalah teroris muncul dan timbul dari AS sendiri. Kini telah banyak bukti yang menunjukkan keterlibatan Dinas Intelejen AS (CIA) dalam berbagai aksi teror di dunia. berbagai kelompok teroris mengaku mendapat pelatihan dan dana dari CIA. Maka umat Islam dunia khususnya Indonesia jangan takut dengan gertakan AS yang menilai negara kita masih rawan teroris. Jaringan Alqaeda dan Taliban di Afghanistan dan Pakistan di sebut-sebut sebagai teroris terbesar dunia. AS pun dengan giat memerangi kelompok ini. Di sisi lain kita telah menyaksikan kehadiran militer AS di Afghanistan lebih dari lima tahun, namun hingga saat ini negara adidaya ini tak mampu menumpas habis milisi tersebut. Apakah kita akan percaya bahwa dengan kemampuan militer tercanggih di dunia, AS tidak mampu menghancurkan Taliban. Sepertinya hal ini memang di sengaja AS untuk mengulur waktu dan menjustifikasi kehadiran militernya di Kabul. Jika tidak demikian untuk apa AS berlama-lama berada di Afghanistan dan menghabiskan anggaran jutaan dolar serta menyumbangkan nyawa prajuritnya ? Jika kita perhatikan kondisi Afghanistan berbeda dengan Irak. Irak adalah negara kaya minyak dan pantas AS betah di sana karena mereka dapat mengeruk kekayaan negara tersebut. Namun di Afghanistan, apa yang AS dapat di sana, kecuali korban jiwa di pihak militernya yang kian hari terus bertambah. AS berusaha mencitrakan Islam sama dengan teroris. Di mana-mana AS terus menebarkan Islamphobia, khususnya pasca tragedi 11 September 2001. Peristiwa akal-akalan ini menjadi alasan kuat Presiden AS saat itu, George W. Bush untuk menginvansi Irak dan Afghanistan. Aksi mereka ini malah lebih ganas dari peristiwa 11 September. Korban yang ditimbulkan dari pihak warga sipil pun menumpuk. Dan yang pasti ulah Washington itu telah membuat kondisi Baghdad dan Kabul terus dirundung aksi teror. Sebelumnya Obama juga sempat mengumandangkan janjinya untuk mendekati umat Islam. Hal ini disampaikannya saat mengunjungi Mesir. Namun, apakah hal ini benar-benar tulus dari Obama. Di AS sendiri kita menyaksikan diskriminasi terhadap kaum minoritas, terutama pemeluk Islam. Bahkan polisi AS sudah berani tangkap imam shalat di sebuah masjid di negara ini. Tindakan ini bukan hanya bertentangan dengan niat Obama untuk mendekati umat Islam. Lantas Indonsia sendiri sebagai negara terbesar yang berpenduduk muslim di dunia tidak memiliki peran yang signifikan di tingkat internasional. Jika kita diharuskan menilai yang lebih pantas, maka masih banyak negara muslim di dunia yang lebih layak di kunjungi Obama. Arab Saudi misalnya, jika Obama ingin menarik dukungan umat Islam sepantasnya dia mengunjungi negara pusat Islam ini. Permusuhan AS dengan Islam adalah permusuhan abadi. AS melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingannya di dunia. Karena ajaran murni Islam tidak mengizinkan perbuatan semena-mena. Sikap AS yang memposisikan dirinya sebagai polisi dunia tentu mendapat penentangan dari Islam. Kini sudah menjadi tugas kita sebagai bangsa Indonesia untuk menyikapi lebih waspada atas kunjungan Obama kali ini. Karena pasti kunjungan ini mengdung tujuan tertentu. Jangan sampai kita dirugikan terus oleh AS. Jadilah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Kita harus mendukung pemerintah kita ke arah ini. Semoga kita lebih waspad dan mawas diri. |
0 comments to "Obama dan teman sekelasnya di Indonesia"