Dinas Intelijen Negara Islam Tangkap Empat Teroris Afiliasi Inggris
Ayatollah Khamenei, Rabu (3/11) dalam pertemuannya dengan ribuan pelajar, menilai 13 Aban (Hari pendudukan Kedutaan Besar AS di Tehran) sebagai simbol kerakusan AS, ketergantungan rezim despotik dan iman yang berlandaskan pada kearifan dan keberanian generasi muda revolusioner.
Rahbar menyebut pidato para pemimpin AS ibarat serigala berbulu domba. Ditambahkannya, "AS tidak pernah ingin menjalin hubungan baik dengan negara-negara lain, tapi ingin membangun hubungan berbentuk tuan dan budak serta menjarah kepentingan bangsa-bangsa lain. Jika tidak ada yang menghalanginya, maka mereka bahkan bisa menginjak-injak kemuliaan sebuah bangsa."
Menurut Rahbar, aksi berani mahasiswa menduduki Kedutaan Besar AS pada November 1979 sebagai simbol keberanian generasi muda revolusioner. Ditegaskannya, aksi itu telah menggoyahkan kedigdayaan AS dan membuat negara itu tertunduk.
Masih menurut Rahbar, kegagalan skenario kerusuhan pasca pemilu merupakan contoh lain partisipasi aktif dan sadar para pemuda Iran. Ditegaskannya, fitnah tahun lalu dapat digagalkan berkat partisipasi dan kesigapan generasi muda. (IRIB/RM/SL/3/11/2010)Sekelompok mahasiswa Iran kemarin (Kamis,4/11) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kedutaan Besar Inggris di Tehran.
Mereka menuntut permintaan maaf London menyusul statemen terbaru Kepala M16, John Sawers terkait operasi intelijen yang dipimpin Inggris di Iran.
"Usir Duta Besar Inggris," dan "Tutup Kedutaan Besar British," teriak para mahasiswa Iran di Tehran.
Aksi unjuk rasa ini juga menandai ulang tahun ke 31 pengambilalihan kedutaan besar AS di Tehran.
Pada tanggal 28 Oktober lalu, Kepala Intelijen Inggris (MI6), menuding Iran mengejar program nuklir militer.
"Menghentikan senjata nuklir tidak dapat diatasi murni dengan diplomasi konvensional. Kita perlu melakukan operasi intelijen untuk membuat sejumlah negara seperti Iran lebih sulit mengembangkan senjata nuklir," kata John Sawers dalam pidato publiknya.
Tudingan ini mengemuka hampir sebulan setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menegaskan kembali dalam laporan terbarunya bahwa semua bahan nuklir Iran berada di bawah pengawasan badan tersebut.
Pada November 1979 silam, mahasiswa Iran mengambilalih Kedutaan Besar AS di Tehran.
Iran menemukan dokumen yang membuktikan bahwa kedutaan AS terlibat dalam kegiatan spionase dan rencana menggulingkan Republik Islam Iran.
Iran telah berulang kali membantah tuduhan AS dan sekutunya bahwa Tehran mengejar program nuklir militer.
Tehran berulangkali menegaskan status sipil program nuklir Iran dan berada dalam kerangka Non-Proliferasi Nuklir (NPT). (IRIB/PressTV/PH/5/11/2010)
Menjelang sidang Dewan HAM yang membahas kondisi HAM di AS di Jenewa, Deplu Iran berencana merilis laporan pelanggaran HAM oleh negara adidaya yang mengklaim sebagai pembela HAM di dunia. Demikian dilaporkan pusat penerangan Deplu Iran seperti dikutip Fars News Kamis (4/11).
Dalam laporan ini ditegaskan bahwa AS yang mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia belum berniat menutup penjara Guantanamo dan Abu Ghraib meski ada tekanan dari komunitas internasional, PBB dan janji Presiden Barack Obama.
Laporan ini menambahkan, AS hingga saat ini belum juga bersedia bergabung dengan konvenan internasional hak ekonomi, sosial dan budaya yang menjadi bagian utama dari HAM. Komite hak anak-anak di PBB juga menyatakan bahwa AS adalah negara produsen dan penyebar kejahatan anak-anak di dunia. Dua negara dunia saat ini belum menandatangani konvensi perlindungan anak dan salah satunya adalah AS.
Dalam laporan ini disebutkan, sejak tahun 2001 hingga kini tercatat 334 orang tewas akibat siksaan polisi AS dan hal ini patut untuk disesalkan. (IRIB/Fars/MF/AHF/4/11/2010)Laporan itu membeberkan kasus-kasus pelanggaran HAM oleh AS seperti berlanjutnya kondisi tidak manusiawi di penjara-penjara kontroversial Guantanamo dan Abu Ghraib. Sebelumnya Iran juga menyampaikan kekhawatiran serius terkait kondisi HAM di negara-negara Barat terutama AS. Iran akan memaparkan pandangannya dalam pertemuan mendatang Universal Periodic Review (UPR) atau tinjauan periodik terkait pelanggaran HAM di AS.
Kasus pelanggaran HAM di AS bukan masalah baru, namun telah menyita banyak perhatian karena masalah ini untuk pertama kalinya akan dibahas dalam pertemuan Dewan HAM PBB. Pasca peristiwa 11 September, AS dengan alasan memerangi terorisme telah menyimpangkan realita terorisme, mensahkan dan menerapkan undang-undang yang bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM. Washington secara luas melanggar hak dan kebebasan prinsipil manusia.
AS kerap menuding negara-negara lain melakukan pelanggaran HAM, tapi negara itu sendiri hingga kini menolak keanggotaan di kebanyakan konvensi terkait HAM. Di antara konvensi itu adalah Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights/ICESCR), Konvensi Hak Anak-anak (Convention on The Right of Children/CRC), Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women), dan Konvensi Pelarangan Penggunaan, Penyimpanan, Produksi dan Pengiriman ranjau Anti-Personil.
Negara pemuja HAM itu juga melakukan sejumlah pelanggaran terang-terangan seperti eksekusi terhadap residivis yang mengalami gangguan jiwa, eksekusi terhadap terpidana di bawah usia 18 tahun, penjatuhan hukuman atas dasar etnis, dan panahanan warga dalam waktu yang lama tanpa proses persidangan.
Kasus lain yang melibatkan AS adalah pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa 1949, protokol-protokol soal Afghanistan dan Irak, dan serangan rutin terhadap warga sipil. Di dalam negeri, warga sipil dan para imigran juga menghadapi aksi kekerasan dan perilaku diskriminatif, meningkatnya tindakan kriminal, dan melemahnya landasan sistem keluarga. Dalam kasus pemilu, AS kerap mengabaikan hak-hak kelompok minoritas dan mengurangi partisipasi politik warga.
Sebenarnya, AS dan beberapa negara Barat di satu sisi menuding pihak lain tidak melindungi hak asasi manusia. Namun di sisi lain, mereka menutupi kondisi buruk HAM di negaranya.
Pertemuan Universal Periodic Review (UPR) pada 5 November ini merupakan kesempatan baik untuk membongkar berbagai kasus pelanggaran HAM yang dilakukan AS. (IRIB/RM/MF/4/11/2010)Dalam proses penangkapan tersebut disita berbagai dokumen dan senjata dari tangan para teroris.
Para teroris itu mengaku dijanjikan imbalan 20.000 USD untuk setiap pembunuhan, namun mereka hanya menerima 8.000 USD setelah menyelesaikan misi teror.
Mereka juga mengaku mendapatkan perintah dari kota Sulaimaniya di Irak dari komandan mereka Jalil Fattahi yang sekarang tinggal di Inggris.
Fattahi adalah salah satu komandan kelompok teroris Komala yang telah melancarkan sejumlah teror di wilayah barat Iran sejak kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1979.
Para teroris tersebut adalah Bakhtiar Majid, Hajeer Ebrahimi, Loqman Moradi dan Zanyar Moradi.
Menurut keempat teroris itu, Fattahi yang juga digugat melakukan sejumlah teror di Iran, menyampaikan instruksi dari Sulaimaniya dan menyuplai senjata beserta uang tunai melalui perbatasan Iran-Irak.
Berita penangkapan ini muncul setelah Kepala Dinas Intelijen Inggris (MI6), John Sawers, pada tanggal 28 Oktober mengumumkan bahwa pihaknya sedang melancarkan kegiatan spionase di Iran untuk menghentikan aktivitas nuklir Tehran.
Kementerian Intelijen Iran juga menegaskan bahwa Inggris tidak hanya melancarkan aksi spionase di Iran melainkan juga mendanai dan mendukung kelompok teroris anti Republik Islam. (IRIB/MZ/SL/4/11/2010)
Lembaga Pasukan Relawan Mustadzafin yang dikenal dengan istilah Basij dapat disebut sebagai instansi terpenting setelah Revolusi Republik Islam Iran. Instansi itu dibentuk atas perintah Pendiri Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra. Basij mempunyai peran penting dalam 30 tahun terakhir.
Dalam pertemuannya dengan kalangan Basij di Qom, Rahbar memuji instansi ini dan mengatakan, "Kalian adalah buah manis dan sukses dari pohon yang baik dan suci (Revolusi Islam) yang ditanam Imam Khomeini dengan tangannya sendiri." Seraya menyinggung kokohnya keimanan para anggota Basij, kontribusi dan langkah konstruktif pada tahun-tahun Pertahanan Suci dan periode pasca perang, Rahbar mengatakan, "Makna Basij adalah penggabungan keimanan dan perbuatan. Perbuatan di sini adalah amal jihad yang bukan bertendensi pribadi. Menurut Islam, keimanan berbeda dengan perbuatan. Keimanan sempurna dan sesungguhnya adalah keimanan yang dibarengi dengan jihad di medan amal."
Rahbar dalam pertemuannya dengan masyarakat Qom, khususnya para pemuda kota ini, menekankan pengenalan musuh dan kesadaran atas konspirasi musuh. Beliau juga menyebut perang urat syaraf media Barat terhadap Republik Islam Iran dan umat Islam sebagai hal yang penting. Dikatakannya, "Front musuh untuk Iran dan Revolusi Islam mempunyai rencana jangka panjang. Untuk itu, kita juga harus mempunyai jangka panjang... Salah satu agenda utama para musuh adalah propaganda. Dengan berbagai cara propaganda ini, mereka berupaya menyebarkan hal-hal yang kontroversif dan bohong untuk menjungkirbalikkan suasana masyarakat. Hal ini harus diperhatikan..."
Masih menjelaskan cara propaganda Barat, Ayatollah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyebut pencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, sebagai salah satu metode propaganda Barat. Dikatakannya, "Kebatilan di hadapan manusia tidak selalu tampil telanjang hingga manusia mengenalnya sebagai kebatilan. Kebatilan senantiasa berpakaian dengan kebenaran atau sebagian kebenaran ketika tampil di kancah."
Rahbar seraya menyinggung hadis Imam Ali as, mengatakan, "Jika kebatilan dan kebenaran secara transparan tampil di kancah, tidak akan ada percekcokan. Sebab, semua pihak menyenangi kebenaran dan semua orang tidak menyukai kebatilan... Akan tetapi kebenaran dicampuradukkan dengan kebatilan sehingga kebatilan tidak tampil dengan jelas. Untuk itu, banyak yang terjebak dalam kekeliruan. Dalam hal ini, semua pihak harus bersikap waspada." Lebih lanjut Rahbar menegaskan, "Di dunia, para musuh menekankan masalah ini bahwa fakta terkait masyarakat dan pemerintah Republik Islam Iran harus diputarbalikkan. Fasilitas propaganda sedemikian beragam, bahkan para musuh senantiasa sibuk memutarbalikkan fakta dengan berbagai propaganda."
Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam kunjungannya ke kota Qom juga menekankan pentingnya hati nurani dalam mengenal musuh dan konspirasinya. Mengenai hati nurani, Rahbar mengatakan, "Hati nurani berfungsi sebagai penerang, penentu kiblat atau kompas. Jika berjalan di padang pasir tanpa kompas, seseorang bisa sampai tujuan secara kebetulan. Akan tetapi ini adalah kemungkinan kecil. Tanpa kompas, seseorang bisa jadi terjebak dalam kebingungan dan dihadapkan pada berbagai kendala. Kompas sangat dibutuhkan, terlebih dalam kondisi berhadapan dengan musuh. Jika tidak ada kompas, anda tiba-tiba akan berada di tengah kepungan musuh. Saat itu, anda tidak dapat berbuat apa-apa."
Dengan demikian, Rahbar berpandangan bahwa umat Islam harus mempunyai senjata hati nurani untuk mengenal kebenaran. Dikatakannya, "Seperti yang dikatakan oleh Imam Ali as, la yu'rafu al haqqu bi al rijal. Artinya, kebenaran tidak diketahui dengan sosok." Rahbar menambahkan, "Sosok terhormat dan diterima tidak dapat menjadi tolok ukur kebenaran. Bahkan sejumlah sahabat Rasulullah Saw yang juga sosok terhormat, terjebak dalam kekeliruan. Untuk itu, kebenaran itu sendiri harus dikenali, dan jalan yang benar harus diidentifikasi sehingga kebenaran dan kebatilan dapat dibedakan."
Lebih lanjut Rahbar menekankan hati nurani, khususnya dalam menyikapi berbagai problema. Ketika mengulas masalah hati nurani, Rahbar mengatakan, "Hati nurani yang dibutuhkan dalam menyikapi berbagai peristiwa, adalah refleksi akan berbagai peristiwa yang dialami dan dihadapinya. Dengan kata lain, seseorang tidak seharusnya menyikapi peristiwa dengan sudut pandang dangkal dan awam. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as mengistilahkannya dengan i'tibar atau memetik pelajaran. Beliau as berkata, "Rahimallahu imra'an tafakkara fa'tabarra". Artinya, Allah Swt merahmati seseorang yang berfikir, dan kemudian mengambil pelajaran. Imam Ali melanjutkannya, "Wa'tabarra fa absara". Artinya, seseorang akan menemukan hati nurani setelah mengambil pelajaran." Rahbar juga mengatakan, seorang mukmin harus mendengar pernyataan orang lain. Akan tetapi mukmin juga harus berpikir sebelum menolak dan menerima pernyataan orang lain. Sebab, banyak pernyataan seperti propaganda Barat yang mengandung kebatilan dan kekeliruan tapi dibungkus dengan kebenaran.
Dalam kunjungannya ke Qom, Rahbar juga melakukan pertemuan dengan para pelajar luar negeri. Pertemuan itu juga mempunyai suasana tersendiri. Ribuan pelajar luar negeri yang berdomisili di kota Qom, berkumpul mendengarkan pidato Rahbar. Ayatollah al-Udzma Ali Khamenei mengatakan, "Ketahuilah, para pelajar agama luar negeri bukan asing di negara Islam Iran. Kalian bahkan bukan tamu. Kalian adalah pemilik rumah...Kami ucapkan selamat kepada para pelajar yang melakukan perjalanan jauh ke negara ini. Kami berkewajiban mengenalkan semua ilmu Islam suci dan Ahlul Bait as yang kita miliki, kepada kalian."
Lebih lanjut Rahbar menyebut propaganda Barat yang mengesankan penyebaran Revolusi Islam dengan cara ekstrim dan kekerasan, sebagai hal yang tak dapat diterima. Dikatakannya, "Sekitar seratus negara berkumpul di tempat ini untuk mengenal ajaran suci Islam. Tujuan kami bukan mengekspor revolusi dalam kemasan politik, ke negara ini dan itu. Revolusi bukanlah alat politik untuk diekspor, dan juga bukan alat militer dan keamanan.... Republik Islam Iran adalah masalah melahirkan kembali ajaran tinggi Islam sehingga ummat Islam merasa mempunyai identitas Islam dan mengenal ajaran-ajaran agama suci ini yang menjadi penyelamat manusia."
Dalam kesempatan itu, Rahbar seraya menyinggung peran para pelajar agama luar negeri di hauzah ilmiah Qom, mengatakan, "Kalian adalah khazanah Islam dan aset besar bagi Islam. Untuk itu, belajarlah dengan baik dan kembalilah ke tengah masyarakat kalian pada waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan kebenaran dengan senjata kesabaran, akhlak, rendah hati dan kasih sayang... Tujuan keberadaan kalian di sini bukan tujuan politik, tapi tujuan ilmiah dan pendidikan. Ini adalah hal yang jelas sekali. Ilmu punya banyak peminat di manapun."
Menurut Rahbar, ajaran Ahlul Bait as akan diterima oleh masyarakat bila disampaikan dengan benar dan baik. Seraya mengutip kata mutiara yang disampaikan oleh Imam Ali Ridha as, Rahbar mengatakan, "Untuk menyebarkan ajaran Ahlul Bait tidak diperlukan untuk mengetuk pintu rumah ke rumah, dan juga tidak diperlukan untuk menyerang sana-sini. Cukup bagi kita untuk menuntut ajaran Ahlul Bait dengan baik dan menyebarkannya dengan orang lain. Ajaran-ajaran ketauhidan, humanisme dan ajaran-ajaran komprehensif ini atas berbagai masalah kehidupan manusia, pada dasarnya mempunyai daya tarik. Semua ajaran itu akan menarik hati manusia."
Kantor Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran di akhir kunjungan sepuluh hari Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei ke kota suci Qom menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada seluruh kalangan rakyat Qom yang mukmin dan peka hatinya atas sikap heroik yang ditunjukkan. Rasa terima kasih setulus-tulusnya juga disampaikan kepada para marji, ulama dan pelajar agama yang sabar dan peka hatinya. Kantor Rahbar menyatakan harapannya semoga segala bimbingan Rahbar dalam pelbagai pertemuannya selama kunjungan ini menjadi babak baru dalam sejarah penuh kebanggaan kota Qom.
Kantor Rahbar menyebut Qom sebagai ‘pengibar bendera kebangkitan Islam, pelopor Revolusi, pendamping dan penolong tak kenal lelah Islam. Disebutkannya, semua ini adalah hakikat murni yang kembali membuat mata dunia terbelalak menyaksikannya. Qom adalah ‘pusat, sumber dan fondasi abadi' Revolusi Islam.
Statement Kantor Rahbar itu juga menyebutkan, pemandangan penuh keagungan yang tidak dapat digambarkan dari sambutan pelbagai kalangan masyarakat dengan keikhlasan, ketulusan dan kesadaran kota jihad dan ijtihad atas kedatangan Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dan kasih sayang dan cinta yang ditunjukkan para marji yang mulia, ulama dan guru-guru besar hauzah, mampu menghidupkan hakikat penuh keakraban ini di benak baik teman maupun musuh. Disebutkan pula, Semua ini membuktikan adanya ikatan yang tak terpisahkan antara bangsa dan Wilayatul Faqih yang telah menjadi fondasi dan keagungan yang semakin bertambah dari hari ke hari yang dianugerahkan Allah Swt kepada Iran berkat ‘keimanan, kepekaan hati dan istiqamah nasional'.(irib/2/11/2010)
Cina Investasi Besar-Besaran di Proyek Metro Kota Islam
IRNA (4/11) melaporkan, lima pesawat akan dikerahkan untuk mengusir awan mendung di kota Guangju, tempat berlangsungnya Asia Games 2010. Menurut keterangan pejabat prakiraan cuaca setempat, hal itu dilakukan agar seluruh partai olahraga Asia Games tidak terganggu karena hujan.
Kawasan selatan Cina merupakan kawasan kerap hujan dan lembaga prakiraan cuaca juga akan menggunakan roket agar mencegah hujan pada pembukaan Asia Games.
Tidak hanya itu, selama pertandingan berlangsung, dua satelit prakiraan cuaca, 16 stasiun radar, dan lebih dari delapan ribu markas prakiraan cuaca, akan dikerahkan untuk memantau cuaca.
Asia Games 2010 akan digelar tanggal 12 November hingga 27 November mendatang.(IRIB/MZ/SL/4/11/2010)
Cina Investasi Besar-Besaran di Proyek Metro Tehran.
Kepada Fars kemarin (2/10) Pour-Zarandi mengatakan bahwa dana dari Cina ini akan dikucurkan dalam tiga hingga empat tahun mendatang.
Pejabat Iran itu juga menegaskan bahwa Juni lalu, pemerintah juga telah mengucurkan dana untuk membeli 60 gerbong dan 28 lokomotif untuk proyek metro Tehran.
China juga berinvestasi dalam proyek jalan tol Sadr-Niyayesh dan juga berencana untuk bekerja sama dalam proyek jalan tol Emam Ali.
Tehran saat ini menghadapi kendala besar memburuknya polusi udara dan kemacetan lalu lintas yang meluas. Sejumlah ahli dan pakar perencanaan kota telah menyerukan tindakan segera pemerintah untuk memperluas sistem kereta bawah tanah Tehran .
Saat ini metro Tehran baru memiliki empat jalur operasional, sementara dua jalur lainnya masih dalam tahap konstruksi. Ini adalah salah satu metro terbesar di Timur Tengah dan termasuk yang paling bersih di dunia. (IRIB/MZ/PH/3/11/2010)Seni tertinggi adalah karya-karya yang mengekspresikan dimensi-dimensi spiritual, merefleksikan prinsip-prinsip Tauhid, sehingga ia mampu mengingatkan dan menuntun manusia untuk kembali kepada Tuhan. (Hossein Nasr)
Desiran kuat angin musim gugur dan gemulai daun-daun kemuning menghantarku menapaki jalan kecil menuju gerbang museum film Tehran di ujung utara Vali-e Asr, tidak jauh dari Tajrish Square. Bangunan yang terkenal dengan nama Bagh-e Ferdows itu, berdiri megah dikitari halaman yang luas. Rumput hijau, pepohonan rindang, kolam mungil dan lampu-lampu hias klasik melengkapi keasrian taman di sekitarnya. Kubayangkan bila malam tiba, lampu-lampu redup berjajar itu akan terlihat bak kunang-kunang berbaris, berkedap-kedip indah.
Tidak jauh dari tangga menuju ruang utama, berdiri sebuah patung manusia. Kepalanya dililit sorban, sebagai ciri khas ilmuwan klasik Persia. Patung yang sedang menggenggam bola kristal bening itu, ternyata Abu Ali Hasan ibn al-Haitham yang juga dikenal dengan Alhazen. Ia seorang saintis muslim abad ke 11 yang menyumbangkan ilmunya di bidang matematika, astronomi juga optis. Bukunya yang cukup monumental adalah al-Manazer (Book of Optics), mendedah dasar-dasar optis yang disajikan dalam tujuh artikel.
Ia sendiri pernah menciptakan pinhole camera, sebuah kamera berbentuk bilik gelam yang diterangi berkas cahaya di salah satu sisinya. Bagi mereka yang menggemari dunia fotografi, tampaknya perlu berterima kasih pada al-Haitham melalui penemuannya ini. Barangkali, patung ini juga dibuat untuk membangkitkan optimisme di kalangan para seniman sinematografi muda muslim, setidaknya energi itu yang kurasakan saat kembali menelisik biografi sang tokoh.
Kutinggal sejenak al-Haitham yang masih termangu menatap bola kristalnya, perlahan kunaiki tangga menuju ruang utama museum. Dua penjaga menyambutku dengan senyum, ah...senyum itu begitu berharga buatku. Senyum yang tak mudah kudapat di sini dari pelayan toko, restoran, hotel bahkan dari seorang kasir bank sekalipun. Tak kusangka, senyum itu rupanya membuatku makin bersemangat untuk mengitari setiap sudut ruangan museum.
The blue exhibition, adalah bilik pertama yang kumasuki. Ruangan yang serba biru ini, bisa dibilang sebagai ruang pembuka yang menyuguhkan sejarah pendirian museum, foto para pendiri juga pionir perfilman Iran seperti Ebrahim Khan Akkas Bashi, sinematografer pertama Iran. Berbagai equipment dan instrumen pembuat film sejak dinasti Qajar juga bisa dijumpai di ruangan ini. Menurut keterangan, sampai kini ada sekitar 350 koleksi perlengkapan film yang dimiliki museum Tehran.
Sebenarnya, tidak ada yang terlalu istimewa dengan berbagai koleksi instrumen yang ditampilkan, karena setiap museum film pastinya akan menyajikan hal yang serupa. Menurutku, yang justru menarik adalah kenyataan bahwa museum film ini digagas setelah Revolusi Islam, sekitar tahun 1994 dan dipindahkan ke Bagh-e Ferdows sejak tahun 2002. Revolusi yang oleh sebagian orang dianggap telah memasung ekspresi berkesenian, faktanya malah memberikan sarana pemantik bagi bertumbuhnya nilai-nilai seni. Apalagi, museum ini juga dilengkapi dengan perpustakaan, teater film dan replika asli dark room, sebagai sarana bagi para seniman muda untuk mencerapi karya-karya pendahulunya.
Dari bilik serba biru, pandanganku segera tertuju pada ruang besar yang letaknya di bagian tengah, central exhibition. Saat melangkah ke pintu masuk, kulihat dua sosok lelaki duduk di bangku terpisah, seorang di antaranya mengenakan kemeja putih dipadu dengan rompi krem sambil membawa bundel kertas. Dugaanku mereka adalah pemandu untuk ruangan dalam museum.
"Salam Agha" Sapaku pada lelaki berkecamata itu
Senyap... tidak ada jawaban
"Salam, khubi?" Kali ini dengan sedikit membungkukkan badan, meniru gaya orang Persia
Tetap hening...lelaki itu tak bergeming
Aku pun memberanikan diri tersenyum, lelaki itu tetap mengunci rapat mulutnya.
"Apa yang salah denganku?" Gumamku penuh kecewa
"Padahal aku tak akan merepotkanmu, hanya sekedar ingin mengambil gambar di belakangmu"
Seseorang menepuk punggungku dari belakang, aku terkesiap. Oh..ternyata suamiku.
"Kenapa lelaki ini dingin sekali ya?" Bisikku pelan pada suami
"Ya..iyalah biar ditinju, gak akan bergeming?"
"Maksud ayah?" Mataku menatapnya tajam
"Coba kamu dekati, itu hanya patung"
"Oh..my God! Masa sih?"
Bersama keherananku, lampu ruangan pun menyala terang. Di ruangan ini, lampu memang didesain redup dan sesekali terlihat benderang. Kudekati patung itu masih dengan sisa keraguan, kutelisik wajahnya yang memang tampak pucat tersorot cahaya lampu. Di sudut lain, patung lelaki dengan setelan jas gelap dan rambut memutih tengah duduk termenung. Kini, aku punya keberanian penuh untuk membidikkan kamera ke arah mereka, tanpa harus susah payah meminta ijin.
Ternyata, dua lelaki tadi adalah para sineas film yang banyak berjasa bagi perfilman Iran. Ali Hatami, nama patung berkaca mata itu, seorang produser sekaligus penulis skenario yang paling terkemuka di jamannya, sementara patung lainnya adalah Ezzatollah Entezami, seorang aktor kawakan. Di ruangan tengah ini, selain terpajang karya dan dokumentasi dua tokoh tadi, juga menjadi ruang khusus bagi para pekerja film lainnya seperti Aboelfazl Jalili, Sohrab Shahid Sales, juga sutradara perempuan kenamaan, Rakhsan Bani Etemad. Nama terakhir ini, paling familiar di telingaku, karena cukup mendapat ulasan dari media lokal Iran sendiri. Terutama karena kiprahnya menggarap film-film bertema perempuan seperti Narges, The May Lady dan The Blue-Veiled yang berhasil menggondol penghargaan di festival film Locarno.
Sejujurmya, diam-diam aku menaruh simpati pada beberapa film garapan sutradara Iran. Di tengah arus perfilman yang hampir semuanya berpusara pada model Holywood, film-fil Iran bisa menampilkan warna dan karakteristiknya sendiri. Menariknya lagi, kesuksesan ini dihasilkan, justru di tengah aturan sensor yang super ketat, misalnya lembaga sensor Iran tidak mengijinkan adegan kontak fisik langsung antara lawan jenis. Padahal, tidak sedikit juga film Iran yang bertema percintaan. Ini memang bukan hal yang mudah, para pekerja film dituntut ‘cerdas' mengkondisikan situasi saat pengambilan gambar. Dan ternyata, aturan ketat ini justru menjadi celah terbukanya kran kreativitas.
Bandingkan saja dua film yang sama-sama memperoleh penghargaan Internasional. Misalnya, film "Spring, Summer, Fall, Winter....and Spring" garapan KIM Ki-duk yang menyabet penghargaan festival film Toronto, sebenarnya mengusung pesan yang dalam tentang perjalanan manusia memerangi nafsu dunia. Sayangnya, pesan itu terkelabuhi oleh adegan yang sangat tidak pantas dalam batasan kesopanan umum sekalipun, apalagi norma agama, tentu dengan kaca mataku sebagai seorang Timur. Bandingkan dengan beberapa karya sutradara Iran yang juga memenangkan ajang perhelatan film Internasional, sebut saja The Test of Cherry besutan Kiarostami yang berhasil mengantongi palm emas di festival Cannes 97 atau The Song of Sparrows garapan Majid Majidi yang sukses menghantarkan pemain utamanya, Reza Najie meraih penghargaan di ajang film Berlin 2008. Berbagai film tersebut tetap bisa meraih apresiasi masyarakat dunia tanpa harus menyisakan ‘ruang kotor' Bahkan, pada karya-karya Majid Majidi warna humanis dan religiusnya malah terlihat lebih kental.
Menurutku pribadi, beginilah seharusnya karya seni dilahirkan untuk memenuhi dahaga spiritual, tidak sekedar pemuas dimensi material. Seperti pernah ditegaskan Nasr, bahwa seni tertinggi adalah karya-karya yang mengekspresikan dimensi-dimensi spiritual, merefleksikan prinsip-prinsip tauhid, sehingga ia mampu mengingatkan dan menuntun manusia untuk kembali kepada Tuhan. Inilah yang akhirnya membedakan antara seni relegius dengan seni-seni lainnya.
Ah....sayangnya! Hari ini, waktu seperti melompat begitu cepat. Banyak ruang yang masih belum tersisir tapi senja mulai menampakkan dirinya. Mungkin, suatu hari aku akan kembali, menikmati secangkir teh pahit Ghilan di kedai museum ini, sambil membincang lebih jauh tentang model berkesenian yang humanis dan religius atau mendedah karya-karya sutradara favoritku, Majid Majidi. "Alhazen..! semoga kau tak jera mengundangku ke tempat ini, karena aku begitu terinspirasi olehmu dan setiap sudut museum Bagh-e Ferdows ini".
Tehran, Jumat, 29 Oktober 2010 (irib/1/11/2010)
Oleh :Afifah Ahmad
"Perbedaan struktur fisik memungkinkan laki-laki berbuat semena-mena terhadap perempuan. Karena itu perlu diciptakan suatu undang-undang yang menjamin keselamatan perempuan terhadap kemungkinan tindakan semena-mena dari kaum laki-laki ini,"
(Sayyid Ali Khamanei, 18 Sep 96, Azarbaijan Barat)
***
"Befarmaid khanomha....jadidtarin bazy-e sargarm. Faghat hizar ponsad toman"
Suara lengking milik seorang perempuan muda itu beradu dengan derit metro yang melaju cepat di atas rel bawah tanah menuju terminal Sadeqieh. Sosok itu, kian mendekat sambil terus menjajakan dagangannya berupa mainan anak. Dipanggulnya ransel hitam besar dan tas plastik sambil sesekali memperagakan mainan gangsing. Kutelisik wajah putihnya yang berbalut kerudung hitam dan kaca mata mungil, postur tubuhnya pun tinggi semampai, nampak pas dengan atasan selutut bermotif bola-bola kecil gelap. Sama sekali tak terlihat gurat kemiskinan di wajahnya.
Kalau di negeri antah berantah sana, mungkin ia sudah dilirik banyak produser sinetron untuk memeriahkan kisah-kisah picisan mereka. Tapi, kelebihan fisik yang dimiliknya tak bisa menjanjikan banyak hal di sini, paling mujur adalah pujian dari penumpang asing sepertiku. Kenyataannya, ia tetap harus berjuang mengikuti irama keras metropolis. Kupikir, usahanya ini cukup menjanjikan. Terbukti, baru dua tiga stasiun dilalui, dagangannya sudah ditaksir banyak penumpang. Uang seribu limaratus toman pun satu demi satu menggelontor dari kantong-kantong pembeli, termasuk dari kantong bajuku. Rupanya, kotak panjang berjalan itu telah menyediakan rejeki menjanjikan bagi para perempuan berani, terutama dengan tersedianya gerbong khusus perempuan.
Yah, seperti yang kujumpai di metro line 2, Jum'at siang, 14 September 2010 lalu. Selain nona cantik tadi, masih ada beragam tipe perempuan dengan aneka jenis dagangannya hilir mudik di sepanjang gerbong khusus perempuan. Kulihat para penumpang pun tak merasa terganggu, bahkan sebagian turut menikmati dengan melihat-lihat dagangannya, tak sedikit juga yang akhirnya melakukan transaksi. Sejauh ini, aku tak pernah melihat para petugas yang melarang para pedagang yang mengadu nasib di atas metro, entah bila kondisinya sudah mulai crowded.
Tapi sebenarnya, ada hal yang jauh lebih mendasar dan urgen soal pemisahan gerbong ini ketimbang masalah jualan. Kupikir siapapun akan sependapat, pemisahan transportasi perempuan dan laki-laki akan sangat berpihak dan melindungi posisi perempuan. Seperti hari itu, terminal metro sedang dijejali para suporter bola Persepolis dan Esteqlal, dua tim favorit ibu kota yang akan berlaga di stadion Azadi Tehran, persis jalur arah tujuanku. Tapi, untunglah ada gerbong khusus perempuan, yang menyelamatkanku dari desakan badan-badan besar para suporter itu.
Di tengah kenyamanan yang kurasakan sembari melihat para penjual yang menjajakan dagangannya, hati kecilku mulai bermonolog, membincang betapa bahagianya para perempuan yang sudah bisa menikmati hak persamaan menggunakan transportasi publik secara layak. Sejujurnya, ada banyak hal ketidaknyamanan yang pernah kualami di negeri Persia ini seperti jasa internet, pelayanan bank dan lainnya. Tapi soal transportasi publik, terutama sistem pemisahan ini, perlu kuacungkan jempol setinggi-tingginya.
Tidak hanya metro, beberapa angkutan umum seperti BRT atau busway dan bus-bus kota lainnya sudah menggunakan sistem terpisah, hanya taksi (baca: angkot) saja yang pengaturannya belum jelas. Biasanya, untuk bus kota, tempat duduk perempuan berada di bagian belakang. Sebaliknya, penumpang perempuan busway menempati kursi bagian depan. Sedangkan kereta bawah tanah metro, menyediakan dua gerbong khusus perempuan di bagian paling depan dan paling belakang. Dari beberapa kota yang pernah aku kunjungi, semuanya menerapkan aturan pemisahan penumpang laki-laki dan perempuan.
Untuk bus antarkota, aturan ini tetap berlaku. Tapi, lebih kepada penentuan teman sebangku. Sebelum keberangkatan, kondektur akan disibukkan mencari tempat bagi para penumpang single. Kalau ternyata bus hanya tersisa satu bangku, kondektur tetap akan menunggu penumpang sesama jenis kelamin dan terpaksa ‘mengusir' penumpang lainnya, kecuali ada pasangan keluarga yang mau bertukar tempat duduk. Karena, bagi mereka yang membawa keluarga atau pasangannya, bebas saja memilih tempat duduk yang masih kosong.
Catatan menarik lainnya yang kujumpai dalam sistem transportasi di Iran adalah pemisahan kamar-kamar dalam gerbong kereta api jarak jauh. Ukuran kamar dan fasilitasnya, biasanya tergantung pada harga yang ditawarkan pihak perusahaan kereta api. Namun pembagian kamar ini sendiri, bagiku adalah sebentuk hadiah kenyamanan bagi kaum perempuan. Mereka yang pergi rombongan sesama perempuan atau keluarga yang menyewa satu kamar, bisa dengan leluasa melepas jilbab di dalam ruangan. Karena seluruh kamar tertutup tirai. Petugas pemeriksa tiket atau pengantar makanan, biasanya akan mengetuk terlebih dahulu.
Sayangnya, hak kenyamanan dalam angkutan umum seperti ini, belum dapat dinikmati oleh banyak perempuan di berbagai belahan dunia lain, pun di negeriku yang mayoritas penduduknya muslim. Bahkan, berbagai kasus kekerasaan seks di atas angkutan umum dan tindakan kriminal lainnya mewarnai kehidupan keseharian kaum perempuan kita, seperti kasus yang pernah dilansir detikcom beberapa waktu lalu:
"Korban pelecehan, Foni (31), mengaku mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari Anton saat antre tiket di terminal busway Blok M, Sabtu (5/6) ...... Foni pun berteriak di Halte Dukuh Atas, selanjutnya Anton dibawa ke Polres Jaksel oleh dua petugas bus. Saran Polisi, Foni membatalkan membuat laporan karena kurangnya saksi. Sementara Anton hanya diminta polisi untuk membuat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi."
Perih hatiku, mengingat berita-berita yang mewartakan maraknya tindakan pelecehan seksual di busway. Sebenarnya, ini bukanlah isu baru, setidaknya bagiku dan para pelanggan transportasi publik lain. Kebetulan, Foni adalah seorang perempuan yang berani membela hak-haknya. Faktanya, ada banyak deretan daftar kasus semacam ini, yang lebih sering tak terungkap dan berlalu begitu saja meninggalkan kecemasan mendalam bagi kaum perempuan. Bayangkan, kalau kejadian tersebut menimpa perempuan di atas bus dengan jarak tempuh jauh! Sebuah penderitaan, tentunya.
Belum lagi, tindakan kejahatan lain seperti pencopetan, menjadi bagian yang tak kalah meresahkan para perempuan pengguna jasa angkutan umum. Aku sendiri pernah memergoki kasus pencopetan di jalur 10 Yogjakarta pada seorang ibu yang akan membesuk saudaranya persis depan rumah sakit Bethesda. Sebuah peristiwa yang akan terus terekam dalam memori. Masih terbayang wajah pedih dan pilu ibu tengah baya itu, di antara mata merah pencopet. Sayangnya, teriakanku terkalahkan oleh suara deru mesin dan pencopet pun segera menghilang di antara desakan penumpang.
Memang, di tengah corat marit kondisi transportasi publik kita, perempuanlah yang kerap menuai dampak negatifnya. Kebutuhan adanya pemisahan tempat duduk perempuan dan laki-laki agaknya sudah mulai mendesak. Aku tak bermaksud membandingkan dua negeri yang berbeda. Kutahu masing-masing punya persoalan yang tak sama terkait jumlah populasi, ketersediaan angkutan umum dan mungkin banyak hal lain lagi. Tapi kiranya, bukan hal yang mustahil untuk menerapkan secara keseluruhan sistem pemisahan.
Apalagi, sinyal ke arah sana sebenarnya mulai menunujukkan ke titik yang lebih baik, misalnya dengan dioperasikannya gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) khusus perempuan yang diluncurkan oleh PT KAI Commuter Jabodtabek (PT KCJ) pada 19 Agustus 2010 lalu. Namun, kupikir upaya ini masih perlu terus dikembangakan di kota-kota lain. Selain itu, yang terpenting lagi adalah pengaturan sistem pemisahan pada busway dan bus-bus kota yang menjadi angkutan keseharian masyarakat. Perjuangan untuk meramahkan transportasi di negeri kita, tampaknya masih merentang jalan panjang.
***
Suara hentakan rem, seketika menyadarkanku dari lamunan panjang. Di luar tertulis sebuah plang Isghah Sadeqieh, akhir pemberhentian metro line 2. Sambil menuruni anak tangga menuju pintu keluar, sekali lagi kulirik perempuan muda yang kini sudah melompat ke gerbong lain, hatiku terus dipenuhi kegundahan, semoga keramahan transportasi juga akan segera dinikmati oleh para perempuan di mananapun.
Tehran, awal Musim Gugur 2010 (irib/23/10/2010)Negeri Ditimpa Bencana, DPR Asyik Tamasya!!!! HIKS...!!!!!
Dengan kostum rok mini yang terbuat dari untaian tali plastik dan penutup bagian dada setengah dari potongan plastik kresek hitam, mereka melenggak lenggok bak penari perut dengan iringan musik.
"Kami melakukan aksi tari perut untuk mengungkapkan bahwa Indonesia sedang berduka, tapi anggota Dewan yang sudah kami pilih dan seharusnya menyuarakan aspirasi kami, ternyata asyik ke luar negeri untuk studi banding dan melihat tari perut," kata orator aksi tersebut.
Mengapa tari perut? Mereka merujuk beredarnya informasi bahwa dalam kunjungan kerja studi etika Badan Kehormatan DPR ke Yunani beberapa waktu lalu, para anggota Dewan mampir ke Turki.
"Informasinya, di sana mereka minta disuguhkan pertunjukan tari perut. Terlepas benar atau tidak, ini adalah bentuk kekecewaan masyarakat karena segala kritik kami atas studi banding ke luar negeri tidak diperhatikan anggota DPR," kata Koordinator Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti.
Aksi itu cukup memancing perhatian para pengguna jalan. Beberapa pengendara sepeda motor memperlambat laju kendaraannya untuk sedikit melongok aksi yang memancing senyum tersebut.
Sebagaiaman diungkap harian Kompas, rombongan Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat, yang pada 23 Oktober lalu berangkat studi banding ke Yunani yang kononya untuk belajar etika, ternyata juga mampir ke Turki. Di Turki, mereka sempat rekreasi, antara lain ke Dolmabahce Palace
di Istanbul.
Chairuman Harahap, anggota Badan Kehormatan (BK) DPR dari Fraksi Partai Golkar, membenarkan, rombongannya sempat mampir ke Turki. "Kami menggunakan maskapai Turkish Airlines. Dengan demikian, saat perjalanan pulang, dari Yunani transit dahulu di Turki dan kemudian baru terbang ke Jakarta," tutur Chairuman saat dihubungi Kompas, Rabu (3/11/2010).
Chairuman mengaku tidak ingat tanggal keberangkatan dari Yunani ke Turki dan kemudian berangkat dari Turki ke Jakarta. Dia hanya menuturkan menginap satu malam di Turki dan tiba di Jakarta pada Sabtu, 30 Oktober.
"Pesawat yang membawa kami dari Yunani, sudah malam saat mendarat di Turki. Untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta, kami harus menginap karena baru pada malam hari berikutnya pesawat berangkat ke Jakarta," ujar Chairuman.
Penelusuran Kompas di situs web Turkish Airlines, ada tiga penerbangan dari Yunani ke Turki. Penerbangan itu, antara lain, berangkat pukul 07.45 dan tiba pukul 09.00 serta berangkat pukul 10.30 dan tiba pukul 11.45. Penerbangan paling malam dari Yunani ke Turki berangkat pukul 19.30 dan tiba pukul 20.45.
Penerbangan dari Turki ke Jakarta berangkat pukul 23.30 dan tiba di Jakarta pada pukul 17.50 hari berikutnya. Penerbangan dari Turki ke Jakarta dilayani setiap hari Senin, Selasa, Kamis, Jumat, dan Minggu. Jika rombongan BK DPR tiba di Jakarta pada Sabtu (30/10/2010) malam, berarti mereka berangkat dari Turki pada Jumat (29/10/2010).
Jika rombongan BK DPR menginap satu malam di Turki, berarti mereka mendarat di Turki dari Yunani pada Kamis (28/10/2010), paling lambat sekitar pukul 20.45. Jika malam itu ingin melanjutkan penerbangan ke Jakarta, sebenarnya masih dimungkinkan karena pesawat baru terbang pukul 23.30 atau hampir tiga jam kemudian.
Chairuman tidak menjelaskan secara detail aktivitas rombongan BK DPR selama di Turki. Namun,Kompas mendapatkan foto, mereka antara lain sedang rekreasi di Dolmabahce Palace. Dolmabahce merupakan istana terakhir Kesultanan Turki Usmani dan letaknya langsung berhadapan dengan Selat Bosporus.
Selain Chairuman Harahap, anggota BK yang pergi ke Yunani adalah Nudirman Munir dari Fraksi Partai Golkar yang merupakan ketua rombongan, Salim Mengga dan Darizal Basir (Fraksi Partai Demokrat), Anshory Siregar (Fraksi PKS), Abdul Rozak Rais (Fraksi PAN), Usman Djafar (Fraksi PPP), dan Ali Maschan Moesa (Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa).
Ketua BK DPR, Gayus Lumbuun, berjanji akan menindak tegas anggotanya jika terbukti melanggar kode etik saat berkunjung ke luar negeri baru-baru ini. "Saya menunggu pengaduan. Setelah itu, kami meminta agar fraksi menarik sementara anggota yang diduga melanggar," ujar Gayus.
"DPR keterlaluan. Dengan tetap melanjutkan kunjungan kerja ke luar negeri, mereka sudah tidak lagi peduli kepada rakyat yang menderita akibat bencana," kata Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia, Sebastian Salang. (Kompas/irib/4/11/2010)
Negeri Ditimpa Bencana, DPR Asyik Tamasya
Bencana alam ini memakan jumlah korban yang tak sedikit, Wasior 101 orang tewas. Merapi 35 orang meninggal. Sedangkan, di Mentawai hingga Jumat kemarin, lebih dari 400 orang tewas akibat petaka selama 15 menit tersebut.
Ironisnya, di tengah rentetan bencana yang mengharubiru, kabar tak sedap malah datang dari gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Wakil rakyat justru susul menyusul terbang ke luar negeri.
Sebagaimana diungkap laman Vivanews.com, setidaknya ada lima rombongan DPR yang berangkat ke mancanegara. Salah satunya dari Komisi II yang juga membidangi pemerintahan. Komisi II akan berangkat ke India dan China untuk studi banding tentang kependudukan.
"Rencananya, rombongan ke China dan India berangkat pada 1 (November 2010)," kata Ketua Komisi II Chairuman Harahap.
Komisi II yang terbang ke China dan India terbagi dalam dua rombongan. Mereka akan mempelajari tentang sistem administrasi kependudukan di dua negara padat penduduk itu. Menurut jadwal di Sekretariat Jenderal DPR, keberangkatan ke China pada 1 November, sedangkan ke India pada 9 November 2010 ini.
Selain Komisi II, Komisi V juga terbang ke Italia. Agenda utama mereka dalam rangka penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Rumah Susun. Anggota Komisi V yang terbang ke Italia yakni empat orang dari Fraksi Demokrat: Rustanto Wahid, Usmawarni Peter, Sutarip Tulis Widodo dan Zulkifli Anwar. Tiga orang dari Fraksi Golkar: Riswan Tony, Eko Sarjono Putro, dan Roem Kono. Dua dari Fraksi PDIP: Irfansyah dan Sadar Estuati. Dua orang dari Fraksi PAN: Yasti Soepredjo Mokoagow dan Ahmad Bakri. Serta masing-masing satu orang dari Chairul Anwar (FPKS), Epyardi Asda (F-PPP), Imam Nachrowi (F-KB), dan Gunadi Ibrahim (F-Gerindra).
Selanjutnya, Komisi XI, khususnya Panitia Khusus Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rombongan ini akan terbang ke empat negara, Inggris, Perancis, Jepang, dan Korea. Studi banding ini akan menghabiskan dana sekitar Rp1,7 miliar. Ketua Pansus OJK, Nusron Wahid, mengatakan, dana sebesar itu diperuntukkan bagi 30 anggota Pansus OJK.
"Tim akan dibagi dua kelompok, yakni 15 orang ke Jerman dan 15 orang ke Korsel," kata Nusron. Perjalanan dinas itu akan berlangsung sejak 30 Oktober hingga 6 November 2010. Masing-masing anggota Pansus diperkirakan menghabiskan dana antara Rp50-60 juta.
Rombongan berikutnya: rombongan dari Badan Kehormatan (BK) DPR yang akan belajar tentang kode etik ke Yunani. Tujuan di atas kertas, untuk menyempurnakan tata tertib dan kode etik anggota dewan. Namun, Ketua BK dari F-PDIP Gayus Lumbuun dan Tri Tamtomo menolak untuk ikut. Mereka menilai kunjungan kerja ini tidak perlu dan bisa dilakukan dengan mencari informasi di dunia maya.
Terakhir, rombongan Badan Legislasi (Baleg) DPR yang akan ke Belanda. Di negeri Kincir Angin ini, DPR ingin mempelajari soal badan bantuan hukum bagi rakyat miskin. Keperluannya, untuk pembahasan RUU Badan Hukum.
Biaya semua kunjungan itu, jauh melampaui harga sebuah menara early warning system di wilayah bencana. Di pasar Tiku, Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat, berdiri tegak sebuah menara sirene, yang akan secara otomatis menjerit bila ada gempa di lautan yang menimbulkan tsunami.
Sejumlah wilayah di Sumbar memiliki menara seperti ini. Tapi karena harganya mahal, alat penting ini malah tak dibangun di episentrum gempa besar, Kepulauan Mentawai. Warga di kepulauan ini harus puas dengan mengandalkan lonceng gereja yang tak terdengar saat hujan deras, seperti yang terjadi 25 Oktober lalu.
Mereka yang Membatalkan
Kritik pedas dari masyarakat dengan kunjungan wakil rakyat ke luar negeri membuat kuping sejumlah anggota DPR panas. Beberapa diantaranya pun mendengar aspirasi rakyat dan membatalkan perjalanan.
Pertama yang membatalkan rencana ke luar negeri adalah Komisi II DPR akhirnya menunda kunjungan ke China pada 1 November 2010. Sementara, kunjungan yang ke India yang dijadwalkan 8 November 2010 belum ada perubahan.
"Yang ke India belum diputuskan karena berangkatnya tanggal 8 November 2010," kata Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap.
Menurut dia, pembatalan itu untuk menunjukkan empati pada korban bencana. Apalagi, Indonesia sedang mengalami rentetan bencana alam. Mulai dari banjir bandang Wasior sampai yang terakhir, Merapi.
Kemudian, Baleg DPR juga ikut membatalkan kunjungannya ke Belanda yang semula untuk kepentingan pembahasan RUU. Ketua Baleg Ignatius Mulyono menjelaskan rencana ini menjadi tidak pasti karena sampai sekarang belum ada jawaban dari Belanda soal permintaan kunjungan anggota DPR ini. Rencana semula, kunjungan Baleg akan dilakukan 8 November mendatang.
Faktor kedua, kata Ignatius, DPR juga ingin memberi perhatian kritik masyarakat soal kondisi negara yang terus dilanda bencana alam. "Soal lain, kami akan melakukan penghematan," kata dia. (Vivanews.com/irib/30/10/2010)Orang yang berpikiran sehat hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi yang akan melakukan studi banding itu bukanlah anggota biasa DPR, melainkan anggota Badan Kehormatan lembaga tinggi itu. Kenapa pula sampai harus ke Yunani? Seandainya saja mereka pergi ke sana 2.500 tahun silam, mungkin akan bertemu dengan Socrates. Lalu, sang filsuf akan mengajari mereka soal moral dan filosofi politik. Tapi, pada 2010 ini, siapa yang akan mereka temui di sana untuk belajar etika dan disiplin?
Wakil Ketua Badan Kehormatan, Nudirman Munir, mengatakan mereka akan menemui badan kehormatan parlemen Yunani untuk menimba pengalaman agar tak menjadi katak dalam tempurung. Masalahnya, apakah studi banding seperti ini berguna? Bukankah DPR telah memiliki kode etik dan tata tertib? Kalaupun parlemen Yunani punya pengalaman menarik dalam mendisiplinkan anggotanya, belum tentu hal itu bisa diterapkan di Indonesia.
Yang mendesak untuk dilakukan oleh anggota Badan Kehormatan justru menegakkan kode etik dan tata tertib Dewan. Banyak politikus Senayan yang membolos tapi dibiarkan saja. Tak sedikit pula anggota Dewan yang terjerat masalah suap namun tak diberi sanksi apa pun, dengan dalih proses hukum belum selesai. Padahal masalah etika sungguh berbeda dengan penegakan hukum.
Tindakan tegas terhadap mereka bisa dilakukan oleh anggota Badan Kehormatan tanpa harus belajar jauh-jauh ke Eropa. Studi banding dengan biaya Rp 2,2 miliar itu malah menjadi contoh yang buruk bagi anggota DPR lainnya. Tidaklah mungkin Badan Kehormatan menganjurkan politikus Senayan berdisiplin dan menghemat anggaran negara jika mereka juga melakukan hal yang sama.
Masyarakat bahkan sudah hafal jawaban para anggota DPR yang dikritik ketika mengadakan studi banding. Mereka selalu berdalih bahwa kegiatan ini telanjur dianggarkan. Padahal pembatalan bukan perkara besar. Mereka bisa saja mengembalikan uang itu ke Kementerian Keuangan. Lagi pula belajar etika ke luar negeri tidaklah termasuk janji-janji yang sering dilontarkan para calon anggota legislatif dalam masa kampanye dulu. Bukankah mereka sering berjanji, antara lain, akan menyerap aspirasi masyarakat, lalu memperjuangkannya menjadi kebijakan pemerintah?
Jika benar-benar ingin memahami etika politik, politikus Senayan mestinya mendengarkan pandangan masyarakat bahwa studi banding bukanlah kegiatan yang pantas dilakukan DPR. Lawatan ke luar negeri itu hanya menghambur-hamburkan anggaran negara, yang seharusnya bisa dialokasikan untuk proyek yang berguna bagi rakyat. Mereka seolah ingin belajar etika tapi dengan cara menabrak etika. (Tempointeraktif/irib/20/10/2010)Tindakan ini, menurut Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, seolah mengabaikan kritik masyarakat terhadap wacana studi banding DPR yang dianggap merupakan pemborosan. Intinya, masyarakat mempertanyakan tingginya biaya, rendahnya capaian, dan tidak efektifnya pelaksanaan studi banding dalam proses perancangan dan pembahasan undang-undang.
Sebagaimana dilansir laman Vivanews.com, Sesungguhnya studi banding tidaklah selalu berupa kegiatan kunjungan kerja ke luar negeri sebagaimana dipraktekkan oleh DPR selama ini. DPR, kata PSHK, seharusnya memprioritaskan metode studi banding dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada, misalnya dengan melakukan kajian via internet ataupun metode lain.
Model lain seperti diskusi videokonferensi dengan pihak yang kompeten di negara terkait atau mengundang para ahli berbicara di depan anggota DPR. Pembahasan rancangan undang-undang yang merupakan kerja bersama antara DPR dan Pemerintah ini juga dapat memanfaatkan jalur diplomatik yang ada, untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan.
Melalui internet, PSHK mencoba melakukan studi ringkas atas isu krusial dalam Rancangan Undang-undang Keimigrasian. "Kami mencoba untuk melakukan studi ringkas atas konsep "izin tinggal tetap" yang menjadi salah satu agenda studi banding yang dilakukan DPR," kata PSHK dalam rilis ke VIVAnews.
Biaya studi banding via internet ini, kata PSHK, hanya menelan dana Rp17.000 yang meliputi biaya akses internet dan kebutuhan teknis lainnya. Biaya ini hanya sebesar satu per seratus ribu (1/100000) dari biaya studi banding ke luar negeri yang bisa menghabiskan biaya hingga Rp1,7 miliar per sekali kunjungan ke sebuah negara. Dengan biaya yang jauh lebih murah, PSHK berhasil mendapatkan perbandingan mengenai topik izin tinggal tetap di 15 negara Eropa.
Hasil temuan PSHK didasarkan pada hasil penelitian Prof. Kees Groenendijk (Universitas Nijmegen Belanda) tentang implementasi konsep "denizenship" (warga negara asing pemegang izin tinggal tetap) di 15 negara Eropa, termasuk Inggris dan informasi dari situs internet yang memuat segala hal mengenai peraturan keimigrasian di Inggris.
"Hasil studi ringkas ini telah kami sampaikan kepada Tim Perumus pada 21 September 2010. Kami berharap contoh studi banding ringkas yang kami lakukan ini bisa memberikan gambaran sederhana pelaksanaan studi banding yang efektif dan efisien," kata PSHK.
Hasil "studi banding" ini, membuat PSHK mengharapkan DPR merombak metode studi banding dengan lebih mengutamakan penggunaan berbagai teknologi informasi yang tersedia. Studi banding dalam bentuk kunjungan ke luar negeri sebaiknya dijadikan alternatif terakhir.
"DPR harus memaksimalkan fasilitas dan infrastruktur yang tersedia antara lain perpustakaan DPR, jaringan database, dan jalur diplomatik sebelum memutuskan melakukan studi banding ke luar negeri. Kalaupun diperlukan adanya kunjungan, maka kami mendorong agar kunjungan kerja ini dilakukan oleh perwakilan tim pendukung/staf ahli, sehingga tidak perlu dilakukan oleh rombongan anggota DPR yang memakan biaya besar."
Kemudian, yang tak kalah penting, DPR mempublikasikan hasil temuan studi banding sebagai bentuk pertanggungjawaban DPR.
Selasa kemarin, sepuluh anggota Panitia Kerja Rancangan Undang-undang Keimigrasian terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju London, Inggris. Tim ini dipimpin politisi Golkar yang juga Wakil Ketua Komisi III, Aziz Syamsuddin.
Tim yang dipimpin Aziz dijadwalkan tiba di Bandara Heathrow, London, pada pukul 07.20, Rabu 22 September. Mereka menginap di Hotel Marriott di London. Lalu pada Rabu malam waktu setempat, mereka bertemu Kedutaan dan masyarakat Indonesia.
Pertemuan dengan Kementerian Hukum Inggris dijadwalkan pada Kamis 23 September, kemudian dilanjutkan pertemuan dengan Kementerian Dalam Negeri pada hari yang sama. Kemudian, Jumat, bertemu UK Border Agency.
Barulah Sabtu, tim DPR kembali terbang ke Indonesia melalui Abu Dhabi.
Selain Aziz, tim ini beranggotakan Edi Sadeli, Himatul Aliyah Setiawaty, Setya Novanto, I Gusti Ketut Adhiputra, Adang Daradjatun, Yahdil Harahap, Ahmad Yani, Ahmad Kurdi Moekri, Desmon Junaidi Mahesa, Novianti dan Sumardi Tutu Killi Laba.(republika/irib/22/9/2010)
Iran-Saudi Akur, Israel Berang..!!!???!!!...
Sebagaimana dilaporkan televisi IRINN, koran Haaretz dalam laporannya menyinggung wawancara ketua Pusat Riset Strategis Arab Saudi dengan televisi Al Jazeera. Ditambahkannya, pejabat Saudi itu secara jelas menyatakan bahwa musuh Arab Saudi bukan Iran, tapi rezim Zionis Israel.
"Meski AS berupaya mengesankan bahwa target kontrak penjualan senjata senilai 60 miliar dolar kepada Arab Saudi adalah Iran, tapi para pejabat Saudi tidak meyakini demikian dan bahkan menyatakan kalau mereka tidak bermusuhan dengan Iran," tambahnya.
Menyinggung pembicaraan telepon Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dengan Raja Abdullah bin Abdul Azid dari Saudi pekan lalu serta rencana kunjungan salah seorang pejabat tinggi Iran ke Riyadh, Haarezt menegaskan, kepentingan bersama Iran dan Arab Saudi di wilayah Lebanon dan Irak, telah mendekatkan kembali kedua negara itu.
Seraya memaparkan bahwa Riyadh telah melakukan investasi besar untuk Iyad Allawi dan kubu al-Iraqiya, Haaretz menambahkan, Arab Saudi tidak ingin apa yang dilakukan selama ini di Irak menjadi sia-sia, karena itu mereka terpaksa bekerjasama dengan Iran mengingat kandidat perdana menteri baru Irak, Nouri al-Maliki punya hubungan dekat dengan Iran. Di samping itu, Iran juga ingin melalui kerjasama dengan Arab Saudi, dapat memelihara stabilitas di Lebanon.
Haaretz menyatakan kegusarannya atas kedekatan Tehran dan Riyadh karena adanya "kepentingan bersama." Ditambahkannya, AS jangan terlalu berharap pada perselisihan Iran dan Arab Saudi dalam mencapai ambisi-ambisinya. (IRIB/RM/SL/30/10/2010)Koran al-Akhbar terbitan Lebanon hari ini (4/11) memuat sebuah artikel yang ditulis oleh Ili Shalhub, seorang penulis terkemuka Lebanon. Ia menuding Arab Saudi berada di balik peningkatan instabilitas di Irak, khususnya pengeboman yang terjadi Rabu di 16 wilayah di Baghdad. Aksi teror yang merenggut nyawa 198 orang dan mencederai 320 lainnya.
Dalam artikel berjudul, "Baghdad Terbakar, Riyadh Melakukan Barter Berkas Politik dengan Masalah Keamanan" itu, Shalhub menulis, "Pagi, Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki, menolak usulan Arab Saudi soal pembentukan pemerintahan mendatang dan sore harinya, berbagai wilayah di Baghdad hangus akibat aksi pengeboman. Ratusan orang tewas dan cedera di saat krisis pembentukan pemerintahan Irak nyaris berakhir."
Menurut Shalhub, secara mendadak dan tanpa pendahuluan, keamanan Baghdad tiba-tiba kecau-balau. Aksi pengeboman bak petir yang menyambar berbagai target.
Muncul berbagai pertanyaan, namun dua pertanyaan yang paling penting. Pertama berkaitan dengan masa aksi teror tersebut, menigngat hanya beberapa jam terjadi setelah Aliansi Nasional dan Koalisi Kurdistan melalui al-Maliki, menolak prakarsa Arab Saudi. Pertanyaan kedua berkaitan dengan volume serangan teror itu. Baghdad tiba-tiba menjadi ajang puluhan ledakan masif secara serentak yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Penulis Lebanon itu menjelaskan, "Operasi teror kali ini membuktikan kekompakan tingkat tinggi dan eskalasi kemampuan oknum-oknumnya untuk merusak program keamanan Irak yang telah diupayakan selama bertahun-tahun oleh para pejabat Irak."
Mengutip keterangan sumber-sumber terdekat al-Maliki, Shalhub menulis, "Saudi berupaya dengan cara apapun untuk menancapkan pengaruhnya di Irak. Ketika Riyadh mengemukakan prakarsanya, tujuannya bukan untuk menyukseskan pembentukan pemerintahan Irak. Melainkan dalam rangka mendiktekan kepada para pejabat Irak bahwa setiap kesepakatan di negara ini harus dengan persetujuan Arab Saudi." (IRIB/MZ/SL/4/11/2010)
Sebagaimana dilaporkan kantor berita Irak, Kamis (4/11), Zebari menyatakan, Irak mampu mencari solusi konstitusional dan demokratis untuk keluar dari krisis yang ada. Ditambahkannya, "Karena itu, sahabat kami dari negara-negara Arab terutama pemerintah Arab Saudi perlu memahami masalah ini dan cukup membantu memelihara persatuan dan stabilitas Irak dengan mendorong kelompok-kelompok politik di negara ini untuk berpartisipasi dalam proses politik."
Sebelumnya di tengah upaya kelompok-kelompok politik Irak untuk segera mencapai kesepakatan terkait pembentukan pemerintahan baru di negara itu, Raja Arab Saudi Abdullah Bin Abdull Aziz meminta partai-partai Irak untuk menggelar sebuah pertemuan di Riyadh.
Dalam pesannya kepada seluruh kelompok politik Irak, Raja Saudi meminta mereka untuk membahas proses pembentukan pemerintahan baru Irak di Riyadh di bawah pengawasan Liga Arab.
"Kami nyatakan kesiapan penuh kami untuk membantu Anda dan mendukung resolusi apapun yang Anda capai nanti guna memulihkan keamanan dan perdamaian di bumi Mesopotamia," kata Raja Saudi dalam sebuah pernyataannya.
Namun para politisi Irak menyatakan keraguannya tentang ketulusan dan niat baik Riyadh untuk membantu Baghdad. Selama ini, Saudi dituduh mendanai kelompok ekstrim dan militan untuk melancarkan operasi teror di Irak. (IRIB/RM/MF/4/11/2010)Para siswi SD Pakistan
Sumber pejabat lokal kepada Press TV mengatakan, para milisi militan meledakkan sebuah sekolah dasar putri yang dikelola pemerintah lokal di kota Tehsil Safi di Mohmand Agency hari ini (3/11) .
Ledakan itu menghancurkan tiga ruangan di sekolah tersebut namun tidak ada korban. Milisi Taliban juga menghancurkan SD putri lain di daerah yang sama kemarin (2/11).
Milisi Taliban menentang pendidikan bagi kaum perempuan dan aksi-aksi ini telah mengakibatkan 40.000 siswi tidak dapat mengenyam pendidikan sekolah di Lembah Swat. Di wilayah tersebut, milisi Taliban memiliki pengaruh sangat kuat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Taliban telah menghancurkan banyak sekolah, terutama di Lembah Swat. (IRIB/MZ/SL/3/11/2010)
Abdolmalek Rigi saat ditangkap
Padahal pada masa hidup dan aktivitas gembong Jundullah, Abdolmalek Rigi, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat terbukti memberikan bantuan informasi dan dana besar kepadanya.
Kini tiba-tiba Amerika Serikat menambahkan Jundullah ke dalam daftar kelompok teroris setelah jaringan teroris itu berhasil dibredel oleh Iran.
"Jundullah telah terlibat dalam berbagai serangan mematikan terhadap para pejabat dan warga sipil Iran, terutama di provinsi Sistan-Baluchestan Iran," tegas Departemen Luar Negeri AS Rabu (3/11).
Dalam statemennya itu, Kementerian Luar Negeri Amerika menambahkan, "Jundullah menggunakan berbagai taktik teroris, termasuk pemboman bunuh diri, penyergapan, penculikan dan pembunuhan berencana."
Jundullah, yang beroperasi di-Sistan-Baluchestan, Iran dan di Propinsi Baluchestan, Pakistan, telah melancarkan sejumlah serangan terhadap para pejabat dan warga sipil Iran.
Gembong Jundullah, Abdolmalek Rigi, berhasil dibekuk oleh pasukan intelijen Iran pada Februari 2010 dan dieksekusi Juni lalu atas 79 tindak kriminal, termasuk pembunuhan, perampokan bersenjata, operasi pengeboman dan serangan bersenjata terhadap warga sipil dan aparat Iran.
Dalam proses interogasi, Rigi memaparkan perincian dialognya dengan perwakilan AS yang menawarkan dukungan keuangan dan senjata sebagai imbalan dari aksinya menebar instabilitas di Iran.
Pada tahun 2007, ABC News Amerika melaporkan bahwa Jundullah "telah secara terselubung didorong dan dibimbing para pejabat Amerika" untuk mengacaukan kondisi di Iran. (IRIB/MZ/SL/4/11/2010)
Aparat Afghan Rebut Khogyani dari Kontrol Taliban
Pemerintah Afghanistan mengerahkan aparat keamanan untuk merebut kembali kota Khogyani di Propinsi Ghazni Afghanistan timur dari tangan Taliban.
"Pagi tadi (1/11) pasukan keamanan kita (polisi, militer dan intelijen) dikerahkan dan merebut kembali kontrol wilayah tersebut," kata Gubernur Propinsi Ghazni, Musa Khan Akbarzada.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa pejabat Afghanistan tengah menyelidiki kemungkinan jatuhnya korban di pihak pejabat lokal dan sekelompok satuan polisi kecil ditempatkan bersiaga di kota Khogyani.
Taliban terus melancarkan perlawanan terhadap pemerintahan Presiden Afganistan Hamid Karzai, meski telah dikerahkan lebih dari 150.000 pasukan asing (mayoritasnya militer AS) untuk menumpas Taliban. (IRIB/MZ/SL/1/11/2010)
Taliban Ambil Alih Kontrol Kota Khogyani
Tentara Amerika dan pasukan Afghanistan berpatroli di kota Khogyani
Press TV melaporkan, Taliban telah mengambil alih kontrol kota Khogyani dari pemerintah setempat. Demikian dikemukakan Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban.
"Kami terlibat kontak senjata dengan beberapa aparat polisi sebelum serangan dilancarkan," kata Mujahid hari ini (1/11).
Menurut Mujahid, milisi Taliban merampas seluruh senjata dan amunisi dari markas polisi lokal dan membakar gedung tersebut. Selain itu, 16 perwira polisi Taliban bergabung dengan Taliban pasca serangan tersebut.
Para pejabat Afghanistan menyatakan kehilangan kontak dengan kota Khogyani. Sementara tiga kota lainnya di Propinsi Ghazni telah jatuh ke tangan milisi Taliban. (IRIB/MZ/SL/1/11/2010)
Lagi, Iran Ungkap Kedok di Balik 11 September
"Meski 11 September adalah suatu realitas yang terjadi, namun kejadian-kejadian berikutnya jauh lebih penting dari peristiwa itu," tambahnya seperti dilaporkan IRNA kemarin (Senin,25/10).
"Pendudukan Afghanistan dan kemudian Irak dengan dalih memerangi terorisme merupakan salah satu peristiwa yang menyebabkan ratusan ribu orang tewas. Infrastruktur negara-negara itu hancur dan produksi narkotika meningkat tajam di Afghanistan," tegas Samareh Hashemi.
Ia menjelaskan bahwa Barat bercokol di Timur Tengah dalam rangka untuk mendapatkan kontrol atas cadangan energi di kawsan strategis ini dan mengawasi Iran yang mereka anggap sebagai ancaman serius.
Menurutnya, pendudukan itu tidak hanya menyengsarakan bangsa di kawasan, tapi juga mendapat penentangan dari masyarakat Barat sendiri. Ditegaskannya, "Barat punya front bersama untuk melawan bangsa-bangsa Muslim, karena itu kita perlu bersatu melawan mereka atau kita akan ditempatkan ke posisi yang lebih rendah." (IRIB/RM/PH/26/10/2010)Jika Amerika Keledai, Australia Harus Jadi Ekornya
| Menurut laporan The Australian, Bob Katter Selasa pekan lalu (26/10) menyatakan bahwa situasi di Pakistan saat ini meningkatkan kemungkinan invasi Amerika Serikat yang harus didukung Australia. Berbicara di forum debat soal Afghanistan, Katter mengatakan bahwa kondisi keamanan di Pakistan sangat kronis. "Mengingat Pakistan menghadapi eskalasi ancaman dari kelompok milisi radikal, maka invasi militer AS tak terhindarkan," kata Katter. "Setelah mengatakan semua itu, tidak ada keraguan dalam benak saya bahwa jika Amerika masuk (menyerang) dan mereka meminta kita untuk masuk, maka kita benar-benar harus masuk," tambahnya. "Ini bukan sesuatu yang membahagiakan bagi Australia." "Apakah kita untuk ikut seperti ekor pada keledai? Ya benar sekali," tutur Katter seraya menegaskan bahwa Australia harus mengekor setiap kebijakan Amerika Serikat. (IRIB/MZ/SL/30/11/2010) |
| |
Festival Internasional Film Pendidikan ke-40 di negara Islam
Dalam kehidupan mesin seperti saat ini, depresi dan gangguan jiwa kian merebak. Seni adalah salah satu cara untuk menghadapi gangguan-gangguan itu. Tak dapat dipungkiri, pendidikan dapat diserap lebih mudah melalui seni. Bahkan seni mampu mengemas pesan-pesan pendidikan dengan cara yang menyenangkan tanpa adanya rasa membosankan.
Nasehat secara langsung terkadang membosankan seseorang. Terlebih anak-anak seringkali menonjolkan reaksi negatif atas nasehat secara langsung. Penulis asal Iran, Rajab Ali Mazloumi menulis, "Anak nakal hanya bisa dikendalikan dengan olah raga dan seni. Sebab, olah raga dan seni tidak mengandung pesan etika secara langsung. Jalan terbaik pendidikan dan bimbingan adalah olah raga dan seni."
Dari sisi lain, seni melembutkan spirit seseorang bahkan mengokohkan daya inovasinya. Jika seni dapat merapat pada kebutuhan-kebutuhan dasar anak, maka dapat membantu menjelaskan perasaannya. Selain itu, daya inovasi anak akan berkembang pesat melalui seni.
Estetika
Estetika dapat disebut sebagai hal yang penting dalam mendidik dan mengembangkan keterampilan otak anak yang tentunya dapat meningkatkan laju pendidikan dan aspek-aspek kehidupan nyata. Pendidikan yang berlandaskan estetika merupakan langkah untuk mengenalkan keindahan bagi anak-anak.
Langkah pertama estetika bagi anak-anak adalah kasih sayang kepada ibu yang kemudian dapat berkembang secara bertahap ke teman-teman dan sekitarnya. Bahkan kecenderungan positif bisa berkembang pada perasaan mencintai hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai contoh, anak yang dibesarkan berlandaskan estetika cenderung menikmati pelangi setelah hujan. Akan tetapi anak-anak biasa hanya melihat pelangi sebagai bagian fenomena alam sederhana. Dengan demikian, pendidikan sangat berpengaruh pada sudut pandang anak-anak dalam melihat sekitarnya. Ketika memahami keindahan alam dengan baik dan sangat menyenanginya, seorang anak akan selalu tertarik pada keindahan, suara dan warna alam yang sangat beragam.
Salah satu hasil penting pendidikan adalah kecenderungan pada seni menggambar dan memahat. Keterampilan semacam ini yang merupakan bagian dari seni estetika, selain dapat mengembangkan inovasi anak, juga dapat menciptakan kesadaran yang tentunya berpengaruh pada peradaban dan kebudayaan manusia.
Pendidikan dan Media
Anak-anak sekarang selalu menonton televisi dan bioskop dengan penuh rasa gejolak. Melalui media, anak menyerap tradisi dan gaya berinteraksi dengan sekitarnya. Dengan penjelasan lain, sinema dan film di dunia sekarang ini dapat dikatakan sebagai pemegang kendali di bidang pendidikan. Film dapat mengendalikan perasaan manusia dan masyarakat. Pada awal abad ke 20, sejumlah film dengan fasilitas proyektor ditayangkan di sekolah-sekolah. Setelah itu, dunia sinema berubah menjadi fasilitas penting untuk pertukaran informasi, pendidikan dan hiburan.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, industri perangkat lunak dan berbagai perangkat penayangan merambah ke dunia pendidikan, bahkan menjadi alat efektif untuk mendidik anak-anak. Para produser dan seniman juga berkiprah di dunia pendidikan dengan membuat film-film yang bertujuan mendidik anak-anak. Saat ini, teknologi pendidikan berkembang pesat bahkan berubah menjadi bagian penting dalam pendidikan.
Di Iran terdapat perhatian besar pada seni, khususnya film, untuk mendongkrak tingkat pendidikan para pelajar. Mengingat pentingnya film sebagai media pendidikan, Kantor Teknologi Pendidikan Departemen Pendidikan Republik Islam Iran bertanggung jawab penuh atas produksi film-flim pendidikan dan pelaksanaan festival film pendidikan.
Film pendidikan dapat disebut sebagai film yang mampu menyampaikan pesan pendidikan kepada para pemirsa. Melalui film, muatan pendidikan dan inovasi dapat tersampaikan kepada para pelajar dan pendidik. Film-film pendidikan biasanya dibuat oleh para pembuat film yang profesional dan ideologis.
Festival Pendidikan di Tehran
Departemen Pendidikan Republik Islam Iran setiap tahunnya, menggelar Festival Internasional Film Pendidikan. Untuk pertama kalinya, festival digelar pada tahun 1963. Setelah terhenti beberapa tahun, festival itu mulai digelar kembali sejak tahun 1985.
Tahun ini, Iran menggelar Festival Internasional Pendidikan ke-40 di Tehran dan kota-kota besar lainnya yang dimulai dari tanggal 29 Oktober 2010. Festival ini bahkan bisa dikatakan sebagai festival terlama di Iran. Berdasarkan informasi panitia penyelenggara, festival bergengsi ini menampilkan 279 film agama dan pendidikan. Disebutkan pula, film sebanyak itu diproduksi dari 53 negara yang kemudian akan ditayangkan di 13 bioskop Tehran dan kota-kota besar lainnya.
Film-film yang ditayangkan dalam konferensi ini mengambil berbagai topik seperti tekad ganda, kerja ganda, perkembangan ilmu dan keterampilan, kebudayaan dan peradaban Iran-Islam, budaya internasional, olahraga, serta pertolongan dan penyelamatan. Film-film dengan topik "Teluk Yang Selamanya Bernama Persia" ditayangkan secara khusus di Festival Internasional Film Pendidikan ke 40 di Tehran.
Pengadaan 20 training pendidikan, penayangan karya guru pembuat film dan pengenalan karya-karya pelajar adalah di antara agenda festival tahun ini. Festival ini berakhir dengan pengenalan karya-karya pilihan. (IRIB/AR/RM/3/11/2010)
Merapi sampai ke Jogja..!!!!!...
Staf Khusus Presiden Bidang Penanganan Bencana dan Sosial, Andi Arief, Kamis (4/11) mengatakan radius aman diperluas menjadi 20 kilometer.
Ini merupakan perluasan kedua radius aman bagi Merapi. Awalnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menetapkan area aman mencapai batas 10 kilometer. Selanjutnya diperluas lagi menjadi 15 kilometer karena letusan dan luncuran awan panas yang besar dibanding letusan pertama pada 26 Oktober lalu.
Peningkatan aktivitas Merapi terjadi menjelang tengah malam atau dini hari Jumat. Peningkatan aktivitas Merapi ditandai dengan adanya suara gemuruh menggelegar yang tidak kunjung berhenti.
Suara gemuruh itu dibenarkan Said, mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga yang berada di Jalan kaliurang km 5,7 DIY.
Saat dihubungi Radio Melayu IRIB pukul 3.00 WIB, Said mengungkapkan adanya hujan batu yang menguyur Yogyakarta.
Setelah suara gemuruh yang tiada henti dan guyuran hujan deras, lereng Merapi kini dihujani krikil.
Batu berukuran kecil itu menghujam seputar lereng Merapi setelah sebelumnya terdengar gemuruh kencang. Hujan krikil terjadi sekitar pukul 00.45 WIB, Jumat dini hari.
Gemuruh menggelegar itu membuat panik warga Yogyakarta yang tumpah ruah di jalan-jalan utama seperti Kaliurang, Ring Road Utara dan Gejayan.
Jumat dini hari, lalu lintas tiga jalan sangat cukup padat. Kepadatan terlihat terutama oleh sepeda motor, mobil, dan truk.
Mobil truk terlihat turun dari kawasan Kaliurang atas menuju Ring Road Utara. Warga yang panik akibat gemuruh keras itu langsung memadati jalan dan berusaha untuk mencari tempat yang aman.
Dilaporkan hujan pasir halus cukup deras mengguyur wilayah Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Di sebagian wilayah Kabupaten Sleman listrik padam sejak pukul 00.50 WIB.
Sebelumnya, saat dentuman keras terjadi sempat terlihat bola api merah di pucuk Merapi.
Sementara itu, BPPTK meminta masyarakat tidak panik dan dan terpengaruh dengan isu yang beredar mengatasnamakan instansi tertentu mengenai aktivitas Gunung Merapi dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat yang selalu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
BPPTK juga memastikan tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awanpanas dan lahar) yang berhulu di Gunung Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Baratlaut dalam jarak 15 km dari puncak Gunung Merapi meliputi, Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Senowo.(IRIB/Antara/Vivanews/PH/5/11/2010)
Terdengar Dentuman Keras di Sleman, Tanah Bergetar
Dalam pengamatan Republika di daerah Pakem, Sleman, warga umumnya merasakan getaran gempa beberapa saat. "Tadi sempat goyang. Seperti gempa. Guncangan terjadi sekitar lima detik," kata Andika, penjaga warnet di daerah Pakem.
Kondisi makin mencekan, karena Merapi digutur hujan. Warga mengkhawatirkan bunyi dentuman berasal dari letusan Merapi.
Hingga kini suasana di sekitar Merapi masih diguyur hujan deras. Belum bisa dipastikan aktifitas Merapi karena kondisi tertutup kabut dan awan pekat. Dari siaran radio yang diterima Republika dilaporkan, aliran sungai di Kali Gendol volumenya makin meningkat. Warga yang tunggal di sekitar bantaran kali diimbau untuk segera mengungsi. (Republika/irib/4/11/2010)Ketinggian asap dari puncak gunung teraktif di Indonesia itu diperkirakan mencapai empat kilometer. Hujan abu cenderung mengarah ke Kabupaten Magelang.
Tadi malam juga terlihat lontaran batu pijar sehingga semua petugas pos pengamatan Gunung Merapi ditarik mengingat bahaya yang terjadi. Batas terjauh luncuran awan pada hari Rabu adalah sekitar sembilan kilometer ke arah Kali Gendol.
Petugas di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memperluas radius aman dari 10 kilometer menjadi 15 kilometer bagi penduduk terhadap ancaman bahaya awan panas erupsi Gunung Merapi.
Perluasan radius aman tersebut cukup signifikan mengingat jauhnya jarak luncur yang bisa dicapai awan panas. Pada erupsi eksplosif 26 Oktober 2010, jarak luncur terjauh yang bisa dicapai oleh awan panas mencapai 7,5 km dengan durasi sekitar 33 menit.
Menyusul seriusnya bencana alam yang terjadi di nusantara, Yayasan Dana Mustadhafin menyalurkan bantuan kemanusian untuk korban bencana Gunung Merapi Jawa Tengah dan Pulau Mentawai Sumatra Barat . Semua pihak yang berkeinginan menyisihkan bantuan dananya untuk korban bencana, dapat mengirimkan ke rekening BCA 3753024111 atas nama YayasanDana Mustadhafin. (IRIB/Kompas/ AR/4/11/2010)
F-PAN DPR mendorong DPR menggunakan hak interpelasi kepada pemerintah, terkait penjualan saham PT Krakatau Stel (PT KS) yang dinilai terlalu murah. Pemerintah diminta untuk memberikan penjelaskan semua hal yang terkait dengan penetapan harga saham tersebut.
Hal ini dikatakan Sekretaris F-PAN Teguh Juwarno di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/11). Menurut Teguh, penjelasan dari pemerintah itu penting dilakukan agar permasalahan itu tidak menjadi berlarut-larut.
Jika pemerintah tidak mampu memberikan penjelasan secara tuntas, maka wajar jangan salahkan DPR jika mengajukan hak interpelasi. Kami akan mendorong harus ada hak mempertanyakan, dan itu akan dipakai. Kami sudah sampaikan ke teman-teman di komisi VI harus mengambil inisiatif itu sesuai konstitusi, tegas dia.
Menurut dia, banyak pengamat maupun pelaku pasar modal yang mempertanyakan rendahnya harga saham KS yang jauh di bawah harga pasar dunia. Terutama untuk kategori perusahaan-perusahaan baja. Apalagi ada indikasi kepentingan parpol yang mengincar rente di balik proses IPO KS. "Ini menjadi pertanyaan besar yang mesti dicari tahu, siapa prime investor yang keberatan kalau harganya dinaikkan," tegasnya
Hak interpelasi adalah hak anggota DPR untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban kepada pemerintah mengenai kebijakannya dalam suatu bidang. Hak ini diatur secara legal dalam konstitusi.
Dia menjelaskan, sudah banyak pengamat maupun pelaku pasar modal yang mempertanyakan mengapa penetapan harga saham dari PT KS jauh di bawah pasaran dunia, khususnya terkait dengan baja.
Ini menjadi pertanyaan besar yang mesti dicari tahu, siapa Prime Investor yang merasa keberatan kalau harganya dinaikkan, telisik Teguh
Dikatakan dia, Ketua Umum Partainya, Hatta Rajasa, yang juga menjabat Menko Perekonomian, telah memerintahkan kepada Menneg BUMN untuk membuka kembali dokumen keputusan penetapan harga saham PT KS. Kita ingin penetapan itu berdasarkan pada nilai kelayakan pada saham tersebut, kata dia.
Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie menyarankan kepada komisi VI dan komisi XI untuk memanggil Direksi PT KS dan juga Menneg BUMN, Mustafa Abubakar, selaku pelaku pengawasan. "Saya sarankan komisi terkait silakan pangil direksi KS dan juga Menneg BUMN yang mengawasi right issue Kratakau Steel", ucap dia.
Dia menjelaskan, persetujuan DPR terkait dengan harga saham itu harus sesuai dengan prosedural. Agar memenuhi peraturan dan perundangan yang berlaku. Right issue itu prosesnya ke DPR, diputuskan oleh pimpinan setelah konsultasi dengan Komisi XI dan Komisi VI. Jadi, sifatnya DPR hanya prosedural untuk memenuhi peraturan dan perudang-undangan, jelas Marzuki.
Adapun Ketua DPP Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin mengatakan, rencana proses penawaran saham perdana (IPO) PT KS perlu terus dimonitor dan diawasi. Menurut dia, hal itu bukan karena didasari prasangka buruk, tetapi lebih kepada prinsip kehati-hatian.
Mengingat perusahaan tersebut tergolong blue chip. Harga penawaran saham yang terkesan rendah, maka perlu adanya penjelasan mengapa demikian, ujar dia.
Menurut Didi, DPR perlu membentuk panitia kerja atau bahkan pansus untuk melihat berbagai aspek mengenai layak tidaknya perusahaan itu dijual. Dirinya berharap, agar tidak ada hal-hal yang merugikan dan akal-akalan dalam proses penawaran saham KS itu. (JPNN, Harian Pelita/irib/4/11/2010)