Sang Animator “The Avengers” ternyata anak INDONESIA..wowwww!!!!!!
Ronny Gani: Sang Animator “The Avengers”
JUNI 2, 2012
Hulk, si raksasa berwarna hijau mengamuk di tengah kota. Iron Man, manusia berbaju besi dengan peralatan yang super canggih, terbang membelah awan menghancurkan musuh. Ada juga Captain America dengan perisai mautnya, Hawkeye dengan panahnya, Black Widow, dan Thor dengan palu supernya yang terlibat dalam pertempuran sengit dengan makhluk luar angkasa yang ingin menghancurkan dan menguasai bumi. Semuanya terlihat begitu hidup dan nyata dalam film The Avengers.
Film besutan sutradara Josh Whedon ini merajai box office dunia sejak dua pekan kemunculannya di bioskop. Adalah tugas para animator membuat gambar tokoh komik Marvel tersebut menjadi hidup dan salah satunya adalah Ronny Gani (29), animator asal Indonesia yang ikut bergabung dalam karya garapan perusahaan animasi Industrial Light and Magic.
Selama kurang dari 6 bulan, Ronny dan rekan-rekannya berkutat di depan layar komputer. Adegan demi adegan dibuat dan dipoles berulang-ulang hingga mendekati sempurna. “Tidur jam 3 pagi itu hal biasa untuk pekerjaan seperti ini,” katanya.
Selama kurang dari 6 bulan, Ronny dan rekan-rekannya berkutat di depan layar komputer. Adegan demi adegan dibuat dan dipoles berulang-ulang hingga mendekati sempurna. “Tidur jam 3 pagi itu hal biasa untuk pekerjaan seperti ini,” katanya.
Perjuangan Ronny dan kawan-kawannya membuahkan hasil. The Avengers meraup untung hingga 1 miliar dolar. Tentu bukan pencapaian biasa bagi lulusan Arsitektur Universitas Indonesia angkatan 2001 ini. Terlebih, ia adalah satu-satunya animator asal Indonesia yang bekerja di perusahaan yang telah membuat Star Wars, Back to The Future, Jurassic Park,Eragon, Avatar, dan banyak lagi.
Padahal, bisa dibilang, Ronny nyemplung di dunia animasi tanpa niat panjang. Dulunya, ia sebatas menyenangi film-film kartun. Kuliah pun dia mengambil Jurusan Arsitektur yang juga sempat ditentang oleh orang tuanya. Namun, di tahun terakhir kuliah, ia berpikir telah salah masuk jurusan.
Meski demikian, ia tidak menyesal dan menganggap waktu kuliahnya sebagai hal yang sia-sia. Ia bahkan merasa beruntung bisa menyadari potensinya ketimbang harus terus melakukan hal yang tidak ia suka. “Saya enggak bisa kick ass di arsitek dan saya harus menemukan cara lain dari situ,” katanya.
Tak lama setelah lulus, ia bertemu dengan temannya yang bekerja sebagai animator 3D (tiga dimensi). Ia pun kepincut dengan profesi itu. “Dan ternyata setelah saya jalani, saya bisa,”katanya. Latar belakang pendidikan arsitektur pun cukup membantunya.
Ronny pun langsung bekerja keras. Ia mempelajari teknik menggambar di komputer, yang memang belum pernah dijalani penyuka panjat dinding ini. Semua cara dijalaninya, dari membaca buku, mengikuti pelatihan dan seminar, hingga bertanya kepada teman.
Padahal dulunya, penyuka gaya gambar realis ini bahkan mengaku sempat gaptek (gagap teknologi). “Awal kuliah kan ada ilmu dasar komputer, tapi saya enggak tahu bagaimana menyalakannya,” katanya sembari tertawa lepas.
Namun kini, ia piawai dengan segala pernik komputer. Teman-temannya pun kaget. “Gila lu, dulu gaptek sekarang jadi animator,” ujar Ronny menirukan ucapan teman-temannya.
Ia sempat bekerja di studio lokal. Namun tak lama kemudian, ia berhasil bergabung dengan salah satu anak perusahaan Lucasfilm yang juga induk dari Industrial Light and Magic, yaitu Lucasfilm Animation. “Studio lokal menjadi batu loncatan saya, tujuan saya memang ingin ke Lucasfilm,” ujar Ronny.
Tiga tahun kemudian, ia ditransfer ke Industrial Light and Magic. Perlahan, ia merangkak naik. Dari yang awalnya mengerjakan serial TV, kini Ronny dipercaya mengerjakan film layar lebar. “Itu loncatan lumayan gede dan saya juga selalu menantang diri saya dengan terus bekerja keras,” ucapnya. November tahun lalu, dia pun mulai terlibat dalam penggarapan The Avengers.
Ronny memang telah sukses. Kini, pria yang selalu mengusahakan pulang ke Jakarta tiga kali setahun ini memiliki mimpi untuk mendirikan sekolah animasi. “Juga pengin mengajak animator Indonesia lainnya untuk membuat karya bareng yang bisa dipertontonkan ke masyarakat internasional,” ujarnya.
Sumber: koran.tempo.co
Hemat Energi dan Pemborosan Pemerintah atau Hidup yang Polos-polos Saja....
Tekad Baru: Hidup yang Polos-polos Saja
Oleh : Dahlan Iskan, Menteri BUMN
Saya tidak menyangka persoalan seperti utang negara, impor garam, dan sulitnya swasembada gula sudah menjadi bisik-bisik tetangga di desa. Padahal desa ini berada di lereng Gunung Ciremai nun di Kabupaten Kuningan, Jabar. Saya beruntung Jumat malam lalu bisa bermalam di Desa Bunigeulis dan berdialog dengan ratusan penduduk setempat.
Mengapa penduduk desa sampai gelisah dan pusing memikirkan utang negara? Bahkan impor garam? Ternyata ada virus yang menjalar cepat: virus informasi setengah matang. Mereka hanya tahu sepotong tentang utang negara: jumlahnya yang meningkat.
Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya, baik mana Anda punya utang Rp8 juta tapi kekayaan Anda Rp10 juta, dengan punya utang Rp20 juta tapi kekayaan Anda Rp100 juta. Benar bahwa utang itu meningkat. Tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah yang tidak pernah sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai, mungkin juga sengaja disembunyikan.
Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya seorang humoris. Dengan nada bergurau dia menjawab, lebih baik kekayaannya meningkat tapi tidak punya utang! Ini mah mirip khotbah Jumat yang pernah saya dengar: semua orang itu inginnya serba enak. Waktu kecil dimanja, waktu remaja foya-foya, waktu muda kaya raya, waktu tua sehat bahagia, waktu meninggal masuk surga!
Dari dialog di desa malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat dengan penularan pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis, keluh-kesah, dan sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya mengingat hope adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa.
Di sini hope menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme cukup hanya dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedang membangun hope harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan. Masyarakat yang ada dalam "kuldesak" yang terlalu lama hanya akan membuat virus anti kemajuan merajalela.
Serbuan virus hopeless dari kota inilah yang kini harus dilawan di desa-desa dengan bukti nyata. Karena itu Bulog, Sang Hyang Sri, Pertani, Pupuk Indonesia, PT Garam, pabrik-pabrik gula, Perhutani, dan banyak BUMN lainnya, tahun ini harus bekerja all-out di lapangan.
Bulog, dengan pasukan semutnya, ternyata bisa. Dalam lima bulan ini saja Bulog sudah berhasil menghimpun beras 2 juta ton! Prestasi yang sangat membanggakan. Kerja lima bulan ini sudah sama dengan hasil pengadaan beras selama dua tahun (2010/2011).
Memang melelahkan, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Memang harus muter terus -saya lihat sampai-sampai Dirut Bulog Sutarto Alimoeso kini ganti sepatu kets- tapi dengan hasil yang begitu nyata akan menambah kepercayaan diri kita.
Memulai kerja keras memang sangat berat. Tapi kalau sudah terbiasa bekerja keras, semua pekerjaan akan menjadi mudah.
Dalam dua minggu ini saya juga sudah keliling 14 pabrik gula di tiga propinsi. Sudah pula tampak perubahan: bukan saja pocong-pocong sudah bermetamorfosis menjadi ‘Ayu-ayu Azhari', tapi gigitannya pun sudah berotot. Semua pabrik gula sudah mampu meningkatkan rendemen awal. Semua pabrik gula juga sudah berani memberi jaminan rendemen minimal kepada petani.
Hebatnya lagi semua pabrik gula juga sudah berani memberikan uang jaminan kepada petani tebu. Selama ini petani tebu terjerat oleh pedagang gula. Ini bukan salah si pedagang, tapi karena pabrik gula sendiri yang tidak berdaya: baru bisa membayar sebulan setelah petani menyerahkan tebunya.
Sebaliknya pabrik-pabrik gula kini juga sudah berani menerapkan prinsip BSM kepada petani tebu: bersih, segar, manis. Tebu yang dikirim ke pabrik haruslah tebu yang bersih. Bukan tercampur dengan pucuk-pucuknya, tanah-tanahnya, dan anakan-anakannya. Tebu itu juga tebu yang segar, yang fresh from the field.
Dan yang paling penting, tebu yang dikirim ke pabrik adalah tebu yang sudah cukup manisnya. Jangan menebang tebu sebelum dipastikan (diperiksa dengan alat pengukur) bahwa tebu tersebut sudah matang kadar gulanya.
Saya melihat semangat yang tinggi di semua manajer dan karyawan pabrik gula yang sudah saya kunjungi. Juga semangat untuk "polos-polos saja". Semula dahi saya mengkerut ketika mendengar istilah "polos-polos saja" itu. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Ternyata itulah tekad baru untuk tidak mempermainkan angka. Angka rendemen, angka timbangan, angka pupuk, angka tanam, angka angkutan, dan angka-angka yang menggoda lainnya.
Saya paham, membiasakan diri untuk "polos-polos saja" juga sangat berat awalnya. Tapi kalau sudah terbiasa, hidup ini akan dimudahkan jalannya.
Sang Hyang Sri, Pertani, dan Pupuk Indonesia (Pupuk Sriwijaya, Petrokimia Gresik, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Kujang), juga bisa menjadi motor besar untuk menggerakkan hope di seantero desa: mendekatkan benih unggul, pupuk, dan pembasmi hama ke desa-desa. Puluhan ribu kios harus di bangun. Di mana-mana.
Jangan sampai petani kesulitan cari pupuk yang akhirnya mendapat pupuk palsu. Sulit cari benih unggul yang akhirnya menanam padi seadanya. Program mendekatkan benih-pupuk ke desa-desa memang akan memakan waktu tapi harus istiqamah jalannya.
Garam pun sebenarnya juga penuh dengan hope. Terutama untuk garam yang dimakan manusia. (Sebagian besar garam diperlukan oleh pabrik kertas!). Sebetulnya, kalau hanya untuk manusia Indonesia keperluan garamnya tidak banyak: 1,4 juta ton per tahun. Kita lebih menyukai yang manis-manis daripada yang asin-asin.
Saya berterima kasih bahwa Menteri Perindustrian, Bapak MS Hidayat, menemukan cara baru: membranisasi ladang garam. Begitu pentingnya program membranisasi ini sehingga saya usul ke Pak Hidayat penyertaan modal negara (PMN) untuk berbagai industri dikurangi saja. Lebih baik dikonsentrasikan untuk menolong jutaan petani garam di seluruh Indonesia. Triliunan rupiah PMN untuk Merpati, misalnya, hasilnya begitu-begitu saja. Merpati harus dicarikan jalan sendiri. Jalan korporasi. Bukan jalan subsidi.
Kalau dari sekitar 20.000 hektar ladang garam di seluruh Indonesia bisa diberikan membran 10 persennya saja, hasilnya bisa mencapai 1,7 juta ton/tahun. Sudah melebihi keperluan garam untuk manusia Indonesia.
Tapi membeli membran untuk 2.000 ha ladang garam memang memerlukan biaya besar. Tiap hektar memakan dana Rp 20 juta. Tapi angka itu tidak ada artinya dibanding dengan PMN untuk bidang lain. Padahal angka itu begitu besar artinya bagi petani garam. Belum lagi bagi harga diri bangsa yang selalu dihina dengan kalimat: garam pun harus impor!
Sambil menunggu PMN saya akan minta bank-bank BUMN untuk menghitung. Mungkinkah skema kredit dilakukan untuk membranisasi itu. Menurut hitungan Dirut PT Garam, payback membran ini hanya dua tahun. Berarti petani garam bisa mengembalikan kredit itu dalam dua tahun. Apalagi kalau diizinkan menggunakan dana KPBL BUMN untuk membayarkan bunganya. Agar petani garam tidak dibebani bunga.
Membran adalah sejenis plastik yang dihamparkan di tambak garam. Dengan dihampari membran, keuntungannya dobel: proses pembuatan garamnya lebih cepat (air lautnya lebih panas sehingga lebih cepat menguap), dan semua garamnya menjadi garam kelas satu.
Tanpa membran, lapisan garam yang paling bawah pasti tercampur tanah dan lumpur. Ini membuat sekian persen garam menjadi garam kelas tiga. Sulit dijual. Murah pula harganya. Di Madura saja kini ada 350.000 ton garam jenis ini. Menumpuk. Tidak ada yang beli. Isunya pun negatif: BUMN tidak mau beli garam rakyat.
.
Membran adalah hope baru bagi petani garam. Ini juga belum banyak diketahui.
Selesai shalat Jumat di sebuah masjid di pinggir jalan di Cirebon minggu lalu, ketika mulai mengenakan sepatu DI-19, saya didatangi camat dan kuwu setempat. Sambil melirik DI-19, Pak Camat mengemukakan bahwa di depan masjid itu ada asset BUMN yang sudah puluhan tahun menganggur. Itulah bangunan milik PT Garam yang sudah lama ditinggalkan.
Padahal ada sekitar 1000 petani garam di kawasan dekat masjid itu sampai ke Indramayu. PT Garam sebagai BUMN tidak pernah melakukan pembelian garam rakyat. Kepada Pak Camat saya berjanji untuk menelusurinya. Saya juga bertanya: apakah sudah ada petani garam yang menggunakan membran. Ternyata belum. Bahkan kata membran pun baru sekali itu dia dengar.
Sambil mengemudikan mobil ke pabrik gula Jatitujuh, saya hubungi Dirut PT Garam. Benar. Tidak ada pembelian itu. Bahkan sudah sejak 1992. Tapi PT Garam yang baru mulai tahun ini bisa bernafas, sudah bisa memberikan hope. Tahun ini PT Garam bisa membeli garam rakyat di Cirebon-Indramayu sebanyak 15.000 ton. Indikasi harganya pun sudah bisa disebut: antara Rp700 sampai Rp720 per kilogram, tergantung kualitasnyana. Ini sudah lebih baik dari harga tahun lalu yang Rp620 per kilogram.
Untuk garam, kawasan Cirebon-Indramayu memang tidak sebagus Madura. Di Indramayu petani hanya bisa membuat garam sekitar empat bulan dalam setahun. Bulan ini saat Madura sudah bisa menghasilkan garam, Indramayu masih hujan. Tentu di atas langit masih ada langit. Sebagus-bagus Madura, masih lebih bagus lagi Kupang, NTT. Di sana garam bisa dibuat selama sembilan bulan dalam setahun!
Hanya saja belum ada ladang garamnya. PT Garam baru akan ke sana setelah nafasnya genap. Mungkin tahun depan.
Hope memang tidak membuat perut terasa kenyang. Tapi hope-lah yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup!(IRIB Indonesia/Antara)
Mengapa penduduk desa sampai gelisah dan pusing memikirkan utang negara? Bahkan impor garam? Ternyata ada virus yang menjalar cepat: virus informasi setengah matang. Mereka hanya tahu sepotong tentang utang negara: jumlahnya yang meningkat.
Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya, baik mana Anda punya utang Rp8 juta tapi kekayaan Anda Rp10 juta, dengan punya utang Rp20 juta tapi kekayaan Anda Rp100 juta. Benar bahwa utang itu meningkat. Tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah yang tidak pernah sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai, mungkin juga sengaja disembunyikan.
Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya seorang humoris. Dengan nada bergurau dia menjawab, lebih baik kekayaannya meningkat tapi tidak punya utang! Ini mah mirip khotbah Jumat yang pernah saya dengar: semua orang itu inginnya serba enak. Waktu kecil dimanja, waktu remaja foya-foya, waktu muda kaya raya, waktu tua sehat bahagia, waktu meninggal masuk surga!
Dari dialog di desa malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat dengan penularan pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis, keluh-kesah, dan sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya mengingat hope adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa.
Di sini hope menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme cukup hanya dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedang membangun hope harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan. Masyarakat yang ada dalam "kuldesak" yang terlalu lama hanya akan membuat virus anti kemajuan merajalela.
Serbuan virus hopeless dari kota inilah yang kini harus dilawan di desa-desa dengan bukti nyata. Karena itu Bulog, Sang Hyang Sri, Pertani, Pupuk Indonesia, PT Garam, pabrik-pabrik gula, Perhutani, dan banyak BUMN lainnya, tahun ini harus bekerja all-out di lapangan.
Bulog, dengan pasukan semutnya, ternyata bisa. Dalam lima bulan ini saja Bulog sudah berhasil menghimpun beras 2 juta ton! Prestasi yang sangat membanggakan. Kerja lima bulan ini sudah sama dengan hasil pengadaan beras selama dua tahun (2010/2011).
Memang melelahkan, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Memang harus muter terus -saya lihat sampai-sampai Dirut Bulog Sutarto Alimoeso kini ganti sepatu kets- tapi dengan hasil yang begitu nyata akan menambah kepercayaan diri kita.
Memulai kerja keras memang sangat berat. Tapi kalau sudah terbiasa bekerja keras, semua pekerjaan akan menjadi mudah.
Dalam dua minggu ini saya juga sudah keliling 14 pabrik gula di tiga propinsi. Sudah pula tampak perubahan: bukan saja pocong-pocong sudah bermetamorfosis menjadi ‘Ayu-ayu Azhari', tapi gigitannya pun sudah berotot. Semua pabrik gula sudah mampu meningkatkan rendemen awal. Semua pabrik gula juga sudah berani memberi jaminan rendemen minimal kepada petani.
Hebatnya lagi semua pabrik gula juga sudah berani memberikan uang jaminan kepada petani tebu. Selama ini petani tebu terjerat oleh pedagang gula. Ini bukan salah si pedagang, tapi karena pabrik gula sendiri yang tidak berdaya: baru bisa membayar sebulan setelah petani menyerahkan tebunya.
Sebaliknya pabrik-pabrik gula kini juga sudah berani menerapkan prinsip BSM kepada petani tebu: bersih, segar, manis. Tebu yang dikirim ke pabrik haruslah tebu yang bersih. Bukan tercampur dengan pucuk-pucuknya, tanah-tanahnya, dan anakan-anakannya. Tebu itu juga tebu yang segar, yang fresh from the field.
Dan yang paling penting, tebu yang dikirim ke pabrik adalah tebu yang sudah cukup manisnya. Jangan menebang tebu sebelum dipastikan (diperiksa dengan alat pengukur) bahwa tebu tersebut sudah matang kadar gulanya.
Saya melihat semangat yang tinggi di semua manajer dan karyawan pabrik gula yang sudah saya kunjungi. Juga semangat untuk "polos-polos saja". Semula dahi saya mengkerut ketika mendengar istilah "polos-polos saja" itu. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Ternyata itulah tekad baru untuk tidak mempermainkan angka. Angka rendemen, angka timbangan, angka pupuk, angka tanam, angka angkutan, dan angka-angka yang menggoda lainnya.
Saya paham, membiasakan diri untuk "polos-polos saja" juga sangat berat awalnya. Tapi kalau sudah terbiasa, hidup ini akan dimudahkan jalannya.
Sang Hyang Sri, Pertani, dan Pupuk Indonesia (Pupuk Sriwijaya, Petrokimia Gresik, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Kujang), juga bisa menjadi motor besar untuk menggerakkan hope di seantero desa: mendekatkan benih unggul, pupuk, dan pembasmi hama ke desa-desa. Puluhan ribu kios harus di bangun. Di mana-mana.
Jangan sampai petani kesulitan cari pupuk yang akhirnya mendapat pupuk palsu. Sulit cari benih unggul yang akhirnya menanam padi seadanya. Program mendekatkan benih-pupuk ke desa-desa memang akan memakan waktu tapi harus istiqamah jalannya.
Garam pun sebenarnya juga penuh dengan hope. Terutama untuk garam yang dimakan manusia. (Sebagian besar garam diperlukan oleh pabrik kertas!). Sebetulnya, kalau hanya untuk manusia Indonesia keperluan garamnya tidak banyak: 1,4 juta ton per tahun. Kita lebih menyukai yang manis-manis daripada yang asin-asin.
Saya berterima kasih bahwa Menteri Perindustrian, Bapak MS Hidayat, menemukan cara baru: membranisasi ladang garam. Begitu pentingnya program membranisasi ini sehingga saya usul ke Pak Hidayat penyertaan modal negara (PMN) untuk berbagai industri dikurangi saja. Lebih baik dikonsentrasikan untuk menolong jutaan petani garam di seluruh Indonesia. Triliunan rupiah PMN untuk Merpati, misalnya, hasilnya begitu-begitu saja. Merpati harus dicarikan jalan sendiri. Jalan korporasi. Bukan jalan subsidi.
Kalau dari sekitar 20.000 hektar ladang garam di seluruh Indonesia bisa diberikan membran 10 persennya saja, hasilnya bisa mencapai 1,7 juta ton/tahun. Sudah melebihi keperluan garam untuk manusia Indonesia.
Tapi membeli membran untuk 2.000 ha ladang garam memang memerlukan biaya besar. Tiap hektar memakan dana Rp 20 juta. Tapi angka itu tidak ada artinya dibanding dengan PMN untuk bidang lain. Padahal angka itu begitu besar artinya bagi petani garam. Belum lagi bagi harga diri bangsa yang selalu dihina dengan kalimat: garam pun harus impor!
Sambil menunggu PMN saya akan minta bank-bank BUMN untuk menghitung. Mungkinkah skema kredit dilakukan untuk membranisasi itu. Menurut hitungan Dirut PT Garam, payback membran ini hanya dua tahun. Berarti petani garam bisa mengembalikan kredit itu dalam dua tahun. Apalagi kalau diizinkan menggunakan dana KPBL BUMN untuk membayarkan bunganya. Agar petani garam tidak dibebani bunga.
Membran adalah sejenis plastik yang dihamparkan di tambak garam. Dengan dihampari membran, keuntungannya dobel: proses pembuatan garamnya lebih cepat (air lautnya lebih panas sehingga lebih cepat menguap), dan semua garamnya menjadi garam kelas satu.
Tanpa membran, lapisan garam yang paling bawah pasti tercampur tanah dan lumpur. Ini membuat sekian persen garam menjadi garam kelas tiga. Sulit dijual. Murah pula harganya. Di Madura saja kini ada 350.000 ton garam jenis ini. Menumpuk. Tidak ada yang beli. Isunya pun negatif: BUMN tidak mau beli garam rakyat.
.
Membran adalah hope baru bagi petani garam. Ini juga belum banyak diketahui.
Selesai shalat Jumat di sebuah masjid di pinggir jalan di Cirebon minggu lalu, ketika mulai mengenakan sepatu DI-19, saya didatangi camat dan kuwu setempat. Sambil melirik DI-19, Pak Camat mengemukakan bahwa di depan masjid itu ada asset BUMN yang sudah puluhan tahun menganggur. Itulah bangunan milik PT Garam yang sudah lama ditinggalkan.
Padahal ada sekitar 1000 petani garam di kawasan dekat masjid itu sampai ke Indramayu. PT Garam sebagai BUMN tidak pernah melakukan pembelian garam rakyat. Kepada Pak Camat saya berjanji untuk menelusurinya. Saya juga bertanya: apakah sudah ada petani garam yang menggunakan membran. Ternyata belum. Bahkan kata membran pun baru sekali itu dia dengar.
Sambil mengemudikan mobil ke pabrik gula Jatitujuh, saya hubungi Dirut PT Garam. Benar. Tidak ada pembelian itu. Bahkan sudah sejak 1992. Tapi PT Garam yang baru mulai tahun ini bisa bernafas, sudah bisa memberikan hope. Tahun ini PT Garam bisa membeli garam rakyat di Cirebon-Indramayu sebanyak 15.000 ton. Indikasi harganya pun sudah bisa disebut: antara Rp700 sampai Rp720 per kilogram, tergantung kualitasnyana. Ini sudah lebih baik dari harga tahun lalu yang Rp620 per kilogram.
Untuk garam, kawasan Cirebon-Indramayu memang tidak sebagus Madura. Di Indramayu petani hanya bisa membuat garam sekitar empat bulan dalam setahun. Bulan ini saat Madura sudah bisa menghasilkan garam, Indramayu masih hujan. Tentu di atas langit masih ada langit. Sebagus-bagus Madura, masih lebih bagus lagi Kupang, NTT. Di sana garam bisa dibuat selama sembilan bulan dalam setahun!
Hanya saja belum ada ladang garamnya. PT Garam baru akan ke sana setelah nafasnya genap. Mungkin tahun depan.
Hope memang tidak membuat perut terasa kenyang. Tapi hope-lah yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup!(IRIB Indonesia/Antara)
Hemat Energi dan Pemborosan Pemerintah
Selasa (29/5) malam, di Istana Negara Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan dimulainya gerakan nasional penghematan energi, baik bahan bakar minyak maupun listrik, mulai Juni ini.
Ada lima langkah penghematan. Pertama, mengendalikan sistem distribusi di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kedua, melarang kendaraan pemerintah, BUMN, dan BUMD memakai BBM bersubsidi. Ketiga, melarang BBM bersubsidi untuk kendaraan perkebunan dan pertambangan. Keempat, konversi BBM ke bahan bakar gas untuk transportasi. Dan kelima, penghematan penggunaan listrik dan air di kantor-kantor pemerintah, BUMN, BUMD, dan penerangan jalan.
Penghematan energi memang langkah yang wajib dilakukan. Sebab, beban anggaran subsidi terus membengkak dari waktu ke waktu, apalagi setelah pemerintah gagal menaikkan harga BBM bersubsidi.
Anggaran subsidi energi untuk tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp225 triliun bisa membengkak di atas Rp300 triliun dengan terus meningkatnya konsumsi BBM. Bahkan kuota yang ditetapkan APBN Perubahan 2012 sebesar 40 juta kiloliter hanya cukup sampai hari kesepuluh Oktober mendatang.
Bukan kali ini saja Presiden menyerukan perlunya penghematan energi. Pada 2005, ia bahkan telah mengeluarkan Inpres Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi. Hasilnya? Pemborosan terus saja terjadi.
Instruksi Presiden itu dianggap angin lalu saja karena miskin teladan. Kini, Yudhoyono kembali menegaskan agar para pejabat pusat maupun daerah memberikan contoh nyata dalam gerakan penghematan energi.
Sebenarnya banyak contoh yang bisa ditunjukkan. Dan mestinya itu dimulai dari Yudhoyono sendiri. Misalnya saja, mengurangi jumlah kendaraan yang mengiringi pejabat tinggi di jalan raya. Bukankah sebaiknya hal itu dimulai dengan mengurangi jumlah kendaraan yang mengiringi Presiden? Begitu juga ketika Presiden datang ke daerah, kendaraan yang menyambut perlu ada pembatasan.
Selain itu, gerakan penghematan energi haruslah ditempatkan dalam konteks yang lebih besar, yakni penghematan anggaran. Pembangunan kantor dan rumah dinas yang mewah, misalnya, jelas pemborosan. Pengadaan mobil-mobil mewah bagi pejabat pemerintah maupun lembaga-lembaga negara yang umumnya di atas 2000 cc dan kerap menggunakan
premium juga pemborosan dan karena itu layak segera dihentikan.
Masih banyak langkah penghematan lain yang bisa dilakukan. Celakanya, keteladanan yang ditunjukkan pejabat hanya sesaat. Cuma heboh ketika ada instruksi Presiden, tapi kemudian lenyap tak berbekas.
Karena itu, selain perlu dibarengi dengan pemberian sanksi, keteladanan yang dicontohkan pejabat mestinya konsisten dan berkesinambungan hingga menciptakan budaya dalam keseharian. Dan itu, tidak bisa lain, haruslah dimulai dari pimpinan tertinggi di negeri ini. Tanpa itu, gencarnya seruan penghematan energi ibarat berperang dengan peluru kosong karena bermodal omong kosong.
Sementara itu, dari 2.285 desa atau pekon di Lampung, 660 desa di antaranya atau 30 persennya belum mendapatkan aliran listrik, terutama dari PT PLN. Menurut Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung Prihantono GZ, sekitar 30 persen desa di Provinsi Lampung yang belum mendapat aliran listrik, selain kondisi geografis, faktor dana merupakan kendala bagi pemerintah untuk mensuplai kebutuhan listrik di pedesaan.
Karena itu, kata Prihantono, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung dengan program listrik pedesaan menargetkan mengurangi desa yang belum tersentuh aliran listrik. Caranya dengan membangun pembangkit listrik baru.
"Tugas bersama semua pihak untuk meningkatkan kapasitas kelistrikan di daerah Lampung ini, sehingga bisa mengejar ketertinggalannya," ujarnya, di Bandarlampung, ketika dihubungi, Minggu (3/6).
Prihantono mengemukakan, setelah program listrik perdesaan yang didukung dana APBN berjalan secara nasional, saat ini rasio elektrifikasi di pedesaan di Indonesia telah mengalami peningkatan, pada tahun 2010 masih mencapai 67,2 persen, meningkat menjadi 72,95 persen pada 2011.
Di Lampung, rasio elektrifikasi baru mencapai 53,9 persen, berarti masih berada di bawah kondisi rata-rata elektrifikasi secara nasional yang kini telah mencapai rata-rata 65 persen. Ke depan, menurut dia, daerah Lampung perlu mengejar ketertinggalan itu dengan meningkatkan rasio elektrifikasinya paling tidak mencapai rata-rata rasio nasional itu.
Ketersediaan daya listrik di Lampung saat ini mencapai 330 megawatt (MW) dari kebutuhan daya listrik pada beban puncak yang diperlukan mencapai 490 MW, sehingga terdapat kekurangan (defisit) daya listrik sebesar 160 MW atau 32,6 persen. Kekurangan daya listrik itu selama ini masih dipasok oleh jaringan interkoneksi listrik Sumbagsel.
Kondisi tersebut, menurut Prihantono, menjadikan daerah Lampung masih mengalami pemadaman aliran listrik secara bergiliran, meskipun sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Karena itu, diupayakan penambahan pembangkit listrik baru di Lampung, antara lain PLTU Tarahan dan pembangkit listrik panas bumi di Ulubelu, sehingga ditargetkan pada tahun 2012 ini akan mengalami kelebihan daya listrik (surplus).
Di sisi lain, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengatakan pemadaman listrik bergilir di kawasan itu murni karena kerusakan mesin pada pembangkit listrik Panaran.
"Pemadaman listrik murni karena Panaran bukan karena masalah supply gas," kata Ahmad, di Batam, Minggu (3/6).
Ia mengatakan Pemerintah Kota Batam belum pernah menerima surat pemberitahuan pengurangan pasokan bahan bakar gas untuk PLTG PT Pelayanan Listrik Nasional Batam. Memang, kata Wali Kota, pemerintah daerah sudah mengirimkan surat ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk meminta tidak mengurangi pasokan gas ke perusahaan listrik swasta itu.
"Surat itu berisi permintaan supaya bila ada pemeliharaan pipa, jangan sampai dikurangi," kata dia.
Kepala Dinas Penjualan Gas, PGN Batam, Afdal, juga membantah PGN mengurangi pasokan gas untuk anak perusahaan PLN (Persero). Menurut dia, pemadaman listrik di Batam disebabkan rusaknya mesin pembangkit milik PLN Batam, bukan karena pengurangan pasokan gas.
"PLN jangan menimpakan kesalahan kepada kami, karena hal itu merupakan pemutarbalikan fakta namanya," kata dia.
Menurut dia, memang benar ada pemeliharaan alat di sumber gas, tetapi bukan pipa PGN yang menyalurkan gas ke PLN Batam. Pemeliharaan itu, kata dia, memang membuat produksi gas dari sumur tersebut berkurang, tapi tidak untuk pasokan ke PLN Batam.
"Berkurang untuk industri, tapi untuk PLN Batam tetap normal, 40 bbtud," kata dia.
Sebelumnya, pada Kamis (31/5), Manajer Senior Komunikasi PT Pelayanan Listrik Nasional Batam Agus Subekti mengatakan PLN Batam terpaksa melakukan pemadaman listrik bergilir karena penghentian pasokan gas dari PGN akibat pemeliharaan pipa gas dari sumber di Grisik.
Agus mengatakan, akibat rencana pemeliharaan pipa itu, PLN defisit daya lebih dari 40 megawatt lagi. Padahal saat ini, PLN sudah kekurangan daya sekitar 20 megawatt. Akibatnya, pemadaman akan lebih parah dari satu hingga dua jam per hari menjadi empat jam per hari.
"Dengan begitu, PLN defisit daya sekitar 70 megawatt," kata dia. (IRIB Indonesia/micom)
Pengakuan Saksi Mata Pembantaian di Al-Houla - Suriah (Zionisme dan Antek-anteknya kembali adu Mazhab didalam ISLAM..!!!!!)
Presiden Assad: Suriah Menjadi Target Konspirasi Asing
Presiden Suriah Bashar al-Assad memperingatkan bahwa Suriah telah menjadi target dari konspirasi asing.
Saat berpidato di parlemen baru di Damaskus pada Ahad (3/6), Presiden Assad mengatakan, Suriah menghadapi perang nyata dari luar.
"Kami tidak menghadapi masalah politik, tetapi sebuah proyek untuk menghancurkan negara ini," tegasnya.
Lebih lanjut Presiden Suriah menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan segala upaya untuk mengakhiri kerusuhan selama berbulan-bulan dan mengimplementasikan reformasi yang dijanjikan.
Presiden Assad menegaskan bahwa reformasi telah berhasil menangkis bagian dari serangan regional dan internasional terhadap negara ini.
Di bagian lain pidatonya, Assad mengkritik partai-partai oposisi yang memboikot pemilihan parlemen pada 7 Mei lalu dan mengatakan bahwa sebenarnya mereka memboikot masyarakat, bukan pemerintah.
Presiden Suriah juga menyerukan dialog nasional untuk mengakhiri kekerasan dan mengundang semua pihak guna mengesampingkan perbedaan mereka demi kepentingan negara. (IRIB Indonesia/RA)
Inilah Pengakuan Saksi Mata Pembantaian di
Al-Houla
|
"Kelompok bersenjata membakar rumah dan membunuh anggota keluarga karena mereka setia kepada pemerintah Suriah. Mereka juga memperkosa perempuan dan membunuh anak-anak, " kata saksi, yang dimuat di Global Research (1/6).
Menurut laporan tersebut, saksi itu diidentifikasi sebagai al-Khosam, seorang petugas keamanan Suriah yang ditempatkan di al-Houla.
Pada tanggal 25 Mei, bentrokan pecah antara pasukan Suriah dan kelompok bersenjata di kota al-Houla, terletak sekitar 32 kilometer barat laut ibukota Provinsi Homs.
Kepala misi pemantau PBB di Suriah, Mayor Jenderal Robert Mood dalam sebuah jumpa pers melalui konferensi video dari Damaskus ke pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada 27 Mei, mengatakan, pemantau PBB di al-Houla melaporkan bahwa 108 orang tewas, termasuk 49 anak-anak dan 34 wanita.
Sementara itu, saksi lain mengatakan bahwa kelompok bersenjata menggunakan para wanita dan anak-anak sebagai perisai untuk terus menembaki pasukan Suriah.
"Sejumlah perempuan tersebut ditembak di kepala," kata seorang tentara Suriah yang terluka dalam bentrokan.
Pada tanggal 31 Mei, Brigadir Jenderal Qassim Jamal Suleiman, kepala komite investigasi yang dibentuk oleh pemerintah Suriah, mengatakan, hasil penyelidikan atas pembantaian al-Houla menunjukkan bahwa kelompok bersenjata anti-pemerintah Damaskus melakukan pembunuhan supaya memberikan ruang kepada pihak asing untuk mengintervensi Suriah.
Lebih lanjut, Suleiman mengatakan, para korban adalah keluarga yang menolak untuk menentang pemerintah Suriah dan hal itu bertentangan dengan kelompok bersenjata.
Di pihak lain, Rupert Colville, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada 29 Mei, mengatakan bahwa mayoritas dari pembunuhan di al-Houla adalah eksekusi warga sipil, perempuan dan anak-anak. (http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=319529)
Sekjen Hizbullah Serukan Pembebasan Korban
Penculikan
|
Gerombolan bersenjata anti-pemerintah Suriah menculik 13 peziarah Lebanon di kota Aleppo saat mereka kembali ke Lebanon dari ziarah di Iran.
Pasca penculikan, sebuah kelompok bersenjata Suriah mengaku bertanggungjawab atas penculikan itu dan menuntut Sekjen Hizbullah meminta maaf atas dukungannya terhadap pemerintah Suriah sebelum mereka melepaskan para korban. Mereka bahkan meminta Sayid Nasrullah mengutuk pemerintah Damaskus atas pembantaian di al-Houla.
Televisi al-Alam pada Rabu (30/5) melaporkan, jaringan televisi al-Jadeed Lebanon merilis laporan bahwa para penculik kepada mediator mengatakan, saat ini "bola berada di pihak Hizbullah".
Berdasarkan laporan jaringan tersebut, penculik tidak bersedia berunding dan sebelum Hizbullah dengan jelas mengutuk pemerintah Suriah terkait pembunuhan di al-Houla, mereka tidak akan bersedia bernegosiasi dengan mediator.
Terkait hal itu, Sekjen Hizbullah mengatakan, "Memiliki masalah dengan Hizbullah atau Gerakan Amal atas pandangan politik tentang apa yang terjadi di Suriah adalah satu hal, tetapi menyandera orang yang tidak bersalah adalah ketidakadilan."
"Jika Anda memiliki masalah dengan saya, maka ada beberapa sarana dan cara untuk menyelesaikannya, jikaingin diselesaikan lewat dialog, mari berdialog, jika lewat perang, mari kita perang. Bukan dengan menyandera orang-orang yang tidak bersalah." tegasnya.
Di bagian lain pidatonya, Sayid Nasrullah juga menegaskan kembali dukungannya bagi pemerintah Suriah dan mengatakan bahwa dialog dan reformasi adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan krisis di negara itu.(http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=319257)
Dalam Semalam Mereka Memenggal Kepala 50
Warga Syiah
|
Ia menyatakan adanya peran negara-negara Arab untuk mengajak dunia internasional terlibat dalam urusan dalam negeri Suriah, "Perang sesungguhnya yang terjadi di Damsyik adalah perang Suriah melawan dunia, yang dengan pertolongan Allah SWT kebenaranlah yang akan menang. Semoga rakyat Suriah bisa bersabar dan tegar menghadapi permainan politik tingkat tinggi ini."
Al Husaini menyebutkan tujuan asli dari turut campurnya negara-negara Arab dan Barat dalam masalah Suriah adalah menggulingkan pemerintahan Bashar Asad sekaligus memutus hubungan Suriah dengan Iran dan Lebanon yang selama ini dikenal ketiga negara tersebut sebagai negara anti Israel dan menjadi batu sandungan bagi Israel dan Barat untuk menguasai sepenuhnya Palestina. "Kalau memang benar bahwa rezim Bashar Asad yang melakukan pembantaian atas rakyatnya sendiri, tentu sudah lama rakyat Suriah akan bangkit melawan melalui aksi-aksi demonstarsi dan unjuk rasa menuntut Asad turun. Namun fakta yang terlihat adalah aksi dukungan rakyat Suriah atas kepemimpinan Bashar Asad bahkan dalam referendum Bashar Asad tetap mendapat dukungan rakyatnya. Karenanya hanya satu kemungkinan, pelaku pembantaian adalah pihak oposisi yang mendapat sokongan dari Barat dan Arab yang menginginkan dunia menuntut Asad untuk turun dari jabatannya." Tegasnya.
Dia pun menyebutkan bahwa perjalanan Kofi Anan ke Suriah dan melakukan pertemuan dengan Presiden Suria Bashar Asad akan membuat pihak musuh semakin pesimis sebab delegasi PBB tersebut tidak menemukan bukti rezim Bashar Asad bersalah dalam hal tersebut. Dia menyebutkan ketidakamanan dan konflik di Suriah merupakan hasil dari konspirasi sebagian negara-negara Arab dan Barat. "Dengan adanya dukungan rakyat Suriah atas Bashar Asad menunjukkan usaha negara-negara Arab, Emirat, Qatar, Saudi dan negara-negara Barat tidak akan menemukan hasilnya."
"Dunia tidak bisa menutup mata atas tragedi yang terjadi di pemukiman Syiah 'Al Fau'ah' yang dalam semalam kelompok teroris memenggal 50 kepala warga sipil Syiah. Di Suriah bukan hanya warga Sunni yang mereka jadikan target pembunuhan untuk menimbulkan fitnah sektarian, juga warga Syiah. Ini menunjukkan tujuan mereka murni buat menimbulkan makar." Tutupnya. (http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=319527)
Mencari Motif di Hawla
"It is time to act. It is time to give the Syrian opposition the weapons in order to defend themselves. The situation in Syria will not get better until the rest of the world at least gives the arms to the Syrian rebels."
(Senator AS, McCain dan Liberman, di Kuala Lumpur, 30 Mei 2012)
Tragedi Hawla (Houla Massacre) seolah menggiring rezim Bashar Assad ke ujung tanduk. Melalui mesin-mesin propagandanya, Barat menggiring opini publik untuk menghujat rezim Assad. Assad digambarkan sebagai pemimpin brutal yang tega membunuhi rakyatnya sendiri, bahkan termasuk wanita dan anak-anak. Menyusul kejadian di Hawla, Barat pun segera menarik dubes-dubes mereka dari Turki. Tapi ini tidak aneh. Toh kejadian serupa sudah terjadi berkali-kali. Masih belum hilang dari ingatan betapa negara-negara Barat melemparkan berbagai tuduhan secara masif terhadap Irak, Afghan, Iran, atau Libya. Kecuali di Iran, tujuan Barat tercapai dengan tumbangnya Saddam, rezim Taliban, dan Qaddafi.
Namun, situasi terasa ‘aneh' khusus untuk Syria karena dua front yang semula seolah bertentangan, kini justru bergandengan tangan: Israel dan Barat yang anti-Islam fundamentalis dengan kelompok-kelompok Islam puritan, yaitu rezim monarkhi Arab Saudi, Qatar, kelompok-kelompok Al Qaida yang semula beroperasi di Libya, dan bahkan Ikhwanul Muslimin Mesir. Mereka kini berada di front yang sama melawan satu front lain yang selama ini dipuji-puji Barat, yaitu front Islam sekuler. Tujuan mereka serupa: menggulingkan Assad.
Indikasi nyata dari keberpihakan IM Mesir kepada front AS-Israel adalah ketika jubir IM, Mahmoud Ghozlan, menyuarakan seruan yang persis sama dengan Israel, AS, dan Inggris: kirim pasukan internasional ke Syria! Orkestra seruan pengiriman humanitarian intervention ke Syria kini telah menggema ke seluruh dunia, merasuk hingga ke facebook dan blog, menggalang petisi masyarakat internasional.
Jika ditelusuri lebih jauh, pernyataan IM itu tidak muncul tiba-tiba saja. Sejak jauh-jauh hari, IM memang terlibat dalam membiayai dan mendukung tentara oposisi Syria (Free Syrian Army) yang berbasis di Turki, bersama-sama dengan Arab Saudi dan Qatar(Reuters, 6/5/12). Keterlibatan IM pun dimediasi oleh tokoh Arab lainnya, yaitu faksi Hariri di Lebanon (yang selama ini memang anti-Syria). Seymour Hersh menulis, Walid Jumblatt, tokoh dari faksi Hariri, pada tahun 2007 bertemu dengan Wapres AS saat itu, Cheney, di Washington. Jumblatt menyarankan kepada Cheney bahwa jika AS ingin menguasai Syria, yang perlu diajak bekerja sama untuk itu adalah Ikhwanul Muslimin. Dalam artikelnya itu Hersh memaparkan lebih lanjut bahwa skenario AS, Saudi, Qatar, dengan memanfaatkan IM, untuk membentuk kelompok oposisi di Syria (termasuk membiayai dan mempersenjatainya, dan mengirim pasukan bantuan) sudah dimulai sejak 2007. Hersh adalah jurnalis yang sering berhasil mengorek informasi dari dalam Gedung Putih. Dia pula yang dulu membongkar operasi rahasia Gedung Putih untuk menggulingkan rezim Teheran dengan menggelontorkan dana sebesar 400 juta dollar.
Debkafile (14/82011) juga melaporkan bahwa NATO tengah merekrut ribuan sukarelawan muslim dari negara-negara Timur Tengah untuk ikut bertempur bersama pemberontak Syria. Turki akan menjadi tuan rumah dari para ‘pejuang' ini, melatihnya, dan menyusupkannya ke Syria.
Kembali ke tragedi Hawla, mungkin banyak pihak masih ‘tertipu' oleh propaganda yang menuduh rezim Assad pelakunya. Untuk menganalisis sebuah peristiwa, kita tidak bisa berhenti pada fakta yang disodorkan oleh media. Apalagi media mainstream yang dimiliki oleh orang-orang Zionis, dan sudah terbukti berkali-kali melakukan kebohongan demi menggolkan agenda AS, Israel dan sekutunya. Contoh nyatanya, betapa dulu media mainstream dengan gencar menyebarluaskan informasi bahwa di Irak ada senjata pembunuh massal. Opini dunia digiring untuk menyetujui serangan AS ke Irak. Bertahun-tahun kemudian akhirnya terbukti bahwa semua itu bohong belaka, tidak ada senjata pembunuh massal yang dituduhkan itu.
Ketika dipusingkan oleh berita simpang siur, kita sebenarnya punya alat untuk mendeteksi mana berita yang benar, mana berita yang bohong, yaitu: akal dan logika. Gunakan akal dan logika untuk menelusuri berbagai motif pihak-pihak yang bertikai, dan kesimpulan bisa diambil dengan mudah. Motif sangat penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.
Jadi mari kita cari motifnya. Siapapun pelaku pembantaian Hawla, apa motifnya? Siapa yang diuntungkan?
1. Kalau benar Assad adalah pembunuh sadis yang tega membunuhi rakyatnya sendiri, tentulah yang dibunuhnya adalah orang-orang yang anti dengan pemerintahannya. Kasus serupa terjadi di Irak, dulu Saddam Husein tega membunuh penduduk Syiah di kota Dujail tahun 1982, yang dicurigai Saddam hendak berusaha melakukan kudeta. Tapi, anehnya, korban tragedi Hawla adalah orang-orang Alawi (salah satu sekte Syiah) yang justru pro-Assad. Buat apa Assad melakukan hal itu? Dari sisi ini, sulit dicari motif Assad untuk melakukan pembantaian Hawla, kecuali bila kita mau menerima asumsi bahwa Assad adalah pemimpin yang gila.
2. Hanya sehari sebelum tragedi Hawla, justru Sekjen PBB menyurati DK PBB, menginformasikan bahwa aksi-aksi teror yang melanda Syria dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris yang mapan, dengan indikasi bahwa bom-bom yang digunakan sangat canggih. Ketika Sekjen PBB sudah ‘berpihak' padanya, buat apa Assad melakukan aksi yang semakin memperburuk citranya?
3. Korban di Hawla dibunuh dengan cara-cara non-militer: ditusuk, digorok, ditembak dari jarak dekat. Ini cara-cara khas pembunuhan yang dilakukan oleh teroris Al Qaida di Afghanistan (contoh, kejadian pembunuhan massal di desa Mazhar Sharif yang Syiah). Bila benar militer Syria yang melakukan, tentulah ‘gaya' pembunuhannya tidak demikian. Inilah yang dikatakan oleh Jubri Menlu Syria, "This is not the hallmark of the heroic Syrian army."
Lagi-lagi perlu dicatat, Syria adalah sebuah negara sekuler, dan selama ini berhubungan dekat dengan Barat; dan militernya dilatih dengan gaya militer Barat, bukan ala teroris gurun pasir seperti kelompok Al Qaida.
4. Selama ini Barat menentang rezim-rezim yang dianggapnya fundamentalis dan mendukung rezim-rezim sekuler. Misalnya, Barat menentang Iran dan Hezbollah Lebanon. Dengan alasan bahwa Taliban adalah fundamentalis yang keji, rezim Taliban ditumbangkan dan orang-orang Al Qaida dikejar-kejar dengan operasi militer tingkat tinggi selama lebih dari 10 tahun. Lalu, mengapa kini rezim Assad yang jelas-jelas sekuler juga dianggap perlu digulingkan?
Rezim Assad didukung oleh Partai Ba'ath yang didirikan tahun 1910 di Damascus oleh tokoh Kristen, Michel Alfaq. Assad memang seorang Alawi, namun bila dilihat dari gaya hidupnya, itu hanya ‘mazhab turunan' semata. Pandangan hidup dan politik Assad sebenarnya sejalan dengan konsep Barat soal sekularisme. Seharusnya, Assad didukung oleh Barat. Namun, karena Assad berkeras tidak mau berdamai dengan Israel, seorang sekuler macam Assad pun disamakan dengan fundamentalis. Isu Sunni-Syiah, tiba-tiba mengemuka di negeri Arab yang sekuler ini.
Karena itu, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa bukan agama dan mazhab yang jadi poin bagi AS. AS tidak peduli siapa yang memerintah, mau fundamentalis, mau sekuler, yang penting mau tunduk kepada kemauan AS. Dan yang bodoh tentu saja rezim-rezim dan organisasi-organisasi Islam yang mau dibiayai Barat untuk maju ke medan perang, membunuhi saudara-saudara sesama muslim dengan menggunakan sentimen mazhab.
Kembali pada motif. Kita tidak bisa menemukan motif yang meyakinkan, jika Assad pelaku pembantaian Hawla. Tapi, motif itu dengan mudah kita temukan, jika pelakunya adalah tentara pemberontak Syria (yang sebagiannya bukan orang Syria, tetapi pasukan impor, seperti sudah saya singgung di atas) dengan backing AS-Israel. Motif pemberontak Syria dengan melihat indikasi kekejaman cara-cara pembunuhan yang dilakukan, adalah sentimen mazhab (kebencian Wahabi kepada Syiah) yang sebenarnya juga hasil rekayasa AS-Israel. Juga, jelas, mereka menginginkan kekuasaan jika Assad terguling.
Sementara motif AS-Israel lebih jelas lagi. Mengapa mereka begitu ingin ‘membela' rakyat Syria yang konon diperintah secara diktator oleh Assad, tapi mengabaikan penderitaan bangsa Palestina yang selama 64 tahun dijajah dan ditindas Israel? Pastinya, mereka bukan membela rakyat Syria. Mereka ingin menguasai negeri-negeri kaya minyak, sehingga rezim-rezim ‘pembangkang' harus disingkirkan. Motif Barat dalam mendukung aksi pembunuhan massal di Hawla, jelas Prof. Chossudovsky dalam analisisnya di Global Research, adalah demi menggalang dukungan internasional untuk pengiriman pasukan perang ke Syria (di bawah bendera ‘humanitarian intervention').
Dan setelah Syria ditaklukkan, menurut Ali Wasif dari the Society for International Reforms and Research, modus konflik serupa akan kembali dilancarkan AS dan sekutunya di kawasan lain di Timur Tengah. Hal senada juga dikemukakan Dr. Kiyul Chung dari the 4th Media (Beijing). Menurutnya, bila Syria jatuh, konflik akan menyebar ke berbagai negara, tidak hanya di Timur Tengah dan Afrika. Dr. Chung menulis, "Para gangster abad 21 ini tidak akan berhenti setelah Libya, Syria, dan Iran. Mereka akan mencari target-target lainnya, terutama kawasan kaya minyak."
Tak heran bila analis politik Tony Cartalucci memperingatkan dunia Arab agar tidak tertipu frasa ‘musuhnya musuh adalah teman kita', karena ‘musuh' yang ada adalah hasil pengkondisian dari para arsitek perang (AS dan sekutunya). Menurut Cartalucci, Sunni dan Syiah, bahkan seluruh umat manusia dari berbagai agama dan ras, sesungguhnya memiliki satu musuh yang sama, yaitu imperialisme Anglo-Amerika (Barat). Barat-lah yang selama berabad-abad telah melakukan kejahatan yang sama: memecah-belah, mengadu-domba antara etnis, agama, dan mazhab, lalu menghancurkan dan menaklukkan bangsa-bangsa di dunia.
Dan kita, bangsa Indonesia, perlu mengambil pelajaran dari sini. Imperialisme Anglo-America yang saat ini tengah mengobok-obok Syria dan dunia Arab, juga memandang Indonesia sebagai salah satu target untuk dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil agar kekayaan alamnya semakin mudah dieksploitasi. Bangsa ini perlu melatih kecerdasan berpikir. Kemampuan melihat mana yang kawan, mana lawan; mana propaganda jahat, mana berita jujur, sangat menentukan nasib kita di masa yang akan datang. (IRIB Indonesia)
*magister Hubungan Internasional Unpad; Research Associate Global Future Institute
Semangat jiwa muda, Indonesia bisa…