di 6 bulan kerja Presiden Jokowi ternyata banyak sekali tantangan yang
datang dari berbagai sektor. Mulai dari beragam kebijakan, hingga
naiknya harga BBM yang berimbas kepada naiknya harga kebutuhan pokok.
Walau banyak sekali yang menghujat dan menyesal telah memilih mantan
Walikota Solo dan mantan Gubernur Jakarta itu, namun tak sedikit yang
yang masih optimis akan kinerja sang Presiden.
Tak sedikit pula yang menjuluki Presiden Jokowi yang katanya
‘plonga-plongo’ seolah tak tau hal yang dialami oleh negara ini. Apabila
dibalik, berapa banyak diantara kita yang mengerti secara persis
masalah negara ini?
Taukah kamu, Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ itu ternyata telah
menuntaskan berbagai hal yang kebanyakan kita sebagai masyarakat lupa
bahkan nggak tau..
Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ inilah yang lalu meminta hak
kedaulatan udara RI bagian timur agar segera dikembalikan setelah
puluhan tahun dipegang otoritasnya oleh Singapura. Kalau tidak kembali,
perang!
Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ ini jugalah yang membuka ratusan
hektar lahan hutan untuk membuat rumah bagi pengungsi letusan gunung
sinabung yang telah diterlantarkan pemerintahan sebelumnya.
Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ inilah yang memberikan statement
keras agar PT. FREEPORT harus segera membangun smelter di Papua. Kalau
tidak, kontrak Freeport akan segera dicabut. Dengan adanya smelther,
maka Freeport tidak punya alasan untuk membawa hasil mentahan ke
negaranya, dan harus diolah di Indonesia.
Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ ini juga menjadi yang pertama
berani mengkritik dengan keras BANK DUNIA, ADB, dan IMF dan menyerukan
semua negara untuk tidak mempunyai ketergantungan dengan 3 lembaga
keuangan Amerika ini, dan cukup membuat Amerika gemetar.
Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ inilah tak pernah sekalipun
menjelek-jelekan dan menghina-dina orang lain bahkan selalu membalas
cacian dengan senyuman.
Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ inilah dikagumi ratusan pemimpin dunia namun di negerinya sendiri dicibir dan dihujat!
Presiden yang katanya ‘plonga-plongo’ inilah setiap hari dihujat jutaan
caci maki haters sementara ia sibuk bekerja dari pagi sampai pagi lagi
tanpa punya niat mengkriminalisasikan haters.
Intinya, kita sebagai rakyat harus sedikit optimislah. Mungkin dibalik semua ini ada hikmahnya..
Sumber : http://sekilas7.blogspot.com/2015/08/nih-lihat-hasil-kerja-nyata-presiden.html
PERNAHKAN Para TERORIS semacam ISIS, Al qaeda dll MENYERANG ZIONIS ISRAEL cs ????????? Kerajaan Arab Saudi cs BERANINYA hanya sama negara miskin seperti YAMAN, tetapi ketika Zionis Israel MENZALIMI Palestina, Hanya DIAM..Dasar PENGECUT !!!! Palestina yg Sunni (HAMAS) dibantu Syi'ah (HIZBULLAH) menghadapi zionis israel, Kerajaan Arab SAUDI yg WAHABI SALAFI TAKFIRI ZIONIS menzalimi YAMAN yang Sunni, Yamanpun DIBANTU Republik Islam Iran yg SYI'AH INDAHNYA
Sunni dan SYi'ah yg saling tolong menolong, tapi WAHABI SALAFI TAKFIRI
Kerajaan Arab Saudi kerjanya hanya menghamburkan uang HAJI dan UMROH
kaum muslim seluruh dunia, miskin prestasi, tidak ada yg layak
dibanggakan.... BANGSA PENGECUT hanya diikuti para PENGECUT yg bisanya
cuma ketawa, Mengadudomba dan menebarkan KEBENCIAN = TERORIS.. !!!!
DAZZAL menginginkan ISLAM Sunni dan Islam Syi'ah berkelahi dan akhirnya SALAFI WAHABI TAKFIRI PEmenangnya (Maunya sih ^_^) Sunni punya Ibunda Khadijah Syi'ah punya BUnda Fatimah Sedangkan WAHABI SALAFI TAKFIRI punya Bunda HINDUN pemakan Hati Sayidina Hamzah as syahid paman Nabi MUhammad SAW
Sunni punya HAMAS untuk serang ZIONIS ISRAEL Syi'ah punya HIZBULLAH untuk serang Zionis Israel Sedangkan
WAHABI SALAFI TAKFIRI punya TERORIS ISIS, AL QAEDA dan TEroris lainnya
yg berbaju agama ISLAM tp sebenarnya DAZZAL as SYAITHON.... dan Tidak
PERNAH BERANI menyerang Zionis Israel cs (Karena Tercipta sebagai Antek
Zionis cs !!!!!)
PEMBENCI Syi'ah hingga Sunni di PASTIKAN adalah TERORIS PENCINTA WAHABI SALAFI TAKFIRI penebar KEBENCIAN !!!!!! by Facebooker Mei 2015
Washington, LiputanIslam.com –
Juru bicara Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pentagon,
Kolonel Steve Warren menyatakan pihaknya terus memantau pergerakan kapal
kargo “Shahed Iran” yang dinyatakan oleh pemerintah Iran semata-mata
membawa bantuan kemanusiaan untuk korban perang Yaman.
Sebagaimana dilaporkan Reuters, hal itu dinyatakan Warran
dalam jumpa pers Selasa (19/5). Dia menambahkan bahwa dua kapal perang
Iran “telah ditautkan” dengan kapal kargo itu saat melintas di kawasan
di mana kapal-kapal perang Iran menjalankan operasi kontra-pembajakan.
“Sementara ini kami tidak terlalu khawatir,” kata Warren.
Dia juga mengatakan bahwa lokasi kapal “sedang dipantau pada setiap langkah perjalanannya.”
Sebelumnya, dua aktivis asing yang berada di atas kapal kargo Shahed
Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kapal ini tidak dikawal oleh kapal
perang Iran.
“Ini semata-mata misi kemanusiaan. Tak ada kapal yang menyertai kami,
apalagi kapal-kapal perang Iran,“ kata Christoph Horstel, aktivis
politik Jerman yang berada di atas kapal kargo Iran.
“Sejauh saya memandang cakrawala, tidak ada kapal sama sekali, dan
selama perjalanan tidak pernah ada kapal perang,” kata Horstel yang
pernah bekerja untuk TV ARD Jerman. Menurutnya, hanya ada pesawat terbang tak dikenal yang tiga kali mengitari kapal itu pada Senin lalu (18/5).
Berbeda dengan pernyataan Horstel, wartawan Alalam yang juga
berada di dalam kapal Minggu lalu melaporkan bahwa kapal itu segera
disambut dan diiringi oleh kapal perang Iran ketika memasuki Teluk Aden
di perairan Yaman. (Baca: Diiringi Kapal Perang, Kapal Bantuan Iran Masuki Teluk Aden, Peringatan AS Tak Digubris)
Laporan serupa dinyatakan oleh wartawan lembaga pemberitaan Iran lainnya, Tasnim,
yang juga berada di atas kapal itu. Disebutkan bahwa kapten kapal Iran
Shahid menyatakan kapalnya mulai dikawal oleh dua kapal perang iran.
Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Masoud Jazayeri
pekan lalu mengingatkan Arab Saudi dan AS bahwa serangan dalam bentuk
apapun terhadap kapal Iran Shahed dapat menyulut perang yang “kobaran
apinya tak akan dapat dikendalikan oleh AS dan Saudi.” (Baca: Jenderal
Iran: Perang Besar Berkobar Jika Kapal Bantuan Kemanusiaan Iran Diserang)
Kapal Iran Shahed yang dinyatakan memuat 2500 ton bantuan kemanusiaan
berupa beras, tepung gandum, ikan kaleng, tenda, selimut dan
obat-obatan itu dijadwalkan merapat ke pelabuhan Hudayda, Yaman, pada
hari Kamis besok (21/5). Pelayaran kapal ini terus mendapat sorotan
internasional karena menjadi salah satu cara Iran untuk menunjukkan
ketidak takutannya kepada AS, apalagi Arab Saudi. (mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/pentagon-mengaku-pantau-saat-demi-saat-kapal-bantuan-iran-untuk-yaman/)
Baghdad, LiputanIslam.com –
Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan menyatakan negaranya siap
memberikan dukungan militer lebih optimal kepada Irak dalam perang
melawan teroris ISIS. Sebagaimana dilaporkan Anatolia, hal itu dia nyatakan dalam kunjungannya ke Baghdad, ibu kota Irak, Senin (18/5), untuk jangka waktu yang tak diumumkan.
Dalam siaran pers kantor Perdana Menteri Irak Haider Abadi disebutkan
bahwa dalam pertemuan Abadi dengan Dehghan telah dibahas tema penguatan
kerjasama kedua negara di bidang keamanan dan militer, perang melawan
kelompok teroris ISIS, dan berbagai isu regional lain.
Abadi menegaskan pentingnya bantuan semua negara kepada Irak,
khususnya negara-negara regional, “karena gerombolan DAISH (ISIS) sudah
menjadi ancaman bagi semua negara.” Dia juga mengapresiasi besarnya
dukungan Iran selama ini kepada Irak.
Di pihak lain, Hossein Dehghan menyatakan negaranya mendukung penuh
rakyat dan pemerintah Irak dalam perang melawan ISIS serta kesiapan Iran
memberikan dukungan lebih besar di berbagai bidang.
Dehghan juga mengadakan pertemuan dengan sejawatnya di Irak, Khaled
al-Obeidi, dan membahas kerjasama militer kedua negara dan perkembangan
situasi keamanan Irak.
Dalam statemennya, Obeidi memberikan laporan singkat mengenai operasi
yang sedang berlangsung melawan ISIS serta menyatakan apresiasinya atas
dukungan Iran kepada Irak.
Iran selama ini gigih memberikan dukungan senjata serta mengirim para
penasehat militernya ke Irak untuk operasi kontra teroris. Namun
demikian, Iran menolak terlibat dalam koalisi anti ISIS yang pimpin oleh
Amerika Serikat (AS). Iran malah menuding AS tidak serius memerangi
ISIS.
Menteri Pertahanan Iran berkunjung ke Baghdad ketika dalam beberapa
hari terakhir ini tentara Irak terdesak hebat di Anbar hingga ibu kota
provinsi ini, Ramadi, jatuh ke tangan ISIS. AFP dalam laporannya Senin kemarin menyebutkan bahwa
jatuhnya Ramadi ke tangan ISIS merupakan pukulan telak bagi kubu perang
anti ISIS yang dipimpin AS serta menimbulkan pertanyaan tersendiri
mengenai strategi perang Washington dan kemampuan militer sekutu Gedung
Putih di Irak.
Menurut AFP, pasukan keamanan Irak di Anbar terdesak oleh
ISIS padahal koalisi pimpinan AS mengklaim telah melancarkan 160 kali
serangan udara dalam satu bulan lalu serta memberikan dukungan senjata
dan pelatihan militer bagi pasukan pemerintah dan kelompok-kelompok suku
di Irak selama satu tahun terakhir.
(mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/iran-siap-berikan-dukungan-militer-tambahan-untuk-irak/)
Baghdad, LiputanIslam.com
— Setidaknya ada 60.000 pejuang Shiah di luar tentara reguler Irak yang
menjaga keamanan kota Baghdad. Demikian pernyataan Komite Dewan
Provinsi Baghdad menyebutkan, Selasa (19/5).
Pengumuman itu dikeluarkan menanggapi ancaman yang dikeluarkan
kelompok ISIS setelah kelompok itu merebut kota Ramadi, Provinsi Anbar.
Demikian seperti dilaporkan Press TV, mengutip kantor berita Kurdi Rudaw.
Pemimpin ISIS Ibrahim al-Samarrai alias Abu Bakr al-Baghdadi, hari
Senin, mengeluarkan ancaman akan menyerang Baghdad dan Karbala. Ancaman
itu dikeluarkan setelah anggota-anggotanya berhasil merebut kota Ramadi.
Sementara itu untuk merebut kembali kota Ramadi dari kelompok ISIS,
sebanyak 3.000 pejuang relawan Shiah telah dikerahkan ke dekat kota itu.
Pengiriman tersebut menyusul seruan Perdana Menteri Haider al-Abadi
untuk mengusir ISIS dari ibukota provinsi yang mayoritas warganya
penganut Sunni itu.
Pada hari Senin (18/5), Dewan Provinsi Anbar mengeluarkan pernyataan
bahwa para pejuang Shiah dari Provinsi Babil telah dikerahkan ke
pangkalan militer Al-Habaniyah, 30 km sebelah timur Ramadi.
Pejuang-pejuang Shiah kini menjadi tulang punggung pertahanan Irak
setelah tentara reguler menunjukkan performa yang buruk. Selain gagal
menghadang invasi ISIS di Mosul hingga Tikrit tahun lalu, tentara
reguler kembali menunjukkan performa buruknya dengan gagal
mempertahankan Ramadi dari serangan ISIS. Para pejuang Shiah pulalah
yang berhasil merebut kembali kota Tikrit dari pendudukan ISIS belum
lama berselang.
Hari Senin, PBB menyebutkan bahwa serangan ISIS ke Ramadi telah
memaksa lebih dari 25.000 warga kota itu untuk mengungsi keluar kota
dengan tujuan utama Baghdad.
Sementara itu dikabarkan juga bahwa ISIS telah membebaskan 400 anggotanya yang ditahan di penjara kota Ramadi.(ca/http://liputanislam.com/berita/60-000-pejuang-shiah-menjaga-kota-baghdad/)
TelAviv, LiputanIslam.com –
Radio Israel mengungkapkan bahwa sebuah pertemuan antara delegasi
Israel dan para delegasi dari beberapa negara Arab yang tidak menjalin
hubungan diplomatik dengan Israel belum lama ini telah berlangsung di
Yordania dan dihadiri pula oleh para diplomat Amerika Serikat (AS) dan
Eropa.
Sebagaimana diberitakan berbagai laman berita yang berbasis di Timur
Tengah, radio Israel tidak menyebutkan level delegasi itu maupun nama
negara-negara Arab tersebut serta kapan pertemuan itu berlangsung.
“Telah diketahui bahwa para delegasi negara-negara Arab yang tidak
menjalin hubungan diplomatik dengan Israel belakangan ini telah
mengadakan pertemuan dengan delegasi Israel di Yordania, dan hadir pula
dalam pertemuan itu para diplomat Uni Eropa dan AS,” lapor
Radio Israel, sebagaimana dikutip Alalam dan Akhbarak, Selasa (19/5).
Belum ada komentar apapun dari pemerintah Israel, Yordania dan AS terkait laporan radio Israel tersebut.
Radio Israel menyebutkan, “Sebagian delegasi Arab mengatakan bahwa
negara-negara Arab harus siap menerima realitas keamanan di mana
pengaruh AS menurun di kawasan.”
Radio ini menambahkan, “Para delegasi Arab menunjukkan hasratnya
untuk memotivasi kerjasama keamanan negara-negara Sunni Arab dengan
Israel, namun kebekuan politik antara Israel dan Palestina tidak
memungkinkan kerjasama demikian.”
Media Israel dari waktu ke waktu selalu mengungkapkan adanya
pertemuan-pertemuan antara para pejabat Arab dan Israel di ibu kota
negara-negara Eropa maupun Arab, tetapi juga selalu menyembunyikan
nama-nama negara Arab yang terlibat di dalamnya.
Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen
ketika dia berkunjung ke Israel Selasa pekan lalu, Perdana Menteri
Israel Benjamin Netanyahu mengaku telah menjalin kesepakatan damai
dengan dua negara jirannya, Mesir dan Yordania. Dia juga kembali
menyebut Iran sebagai ancaman terbesar bagi Israel.
(mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/radio-israel-ungkap-pertemuan-rahasia-israel-dengan-beberapa-negara-arab/)
London, LiputanIslam.com –
Koran Inggris Daily Telegraph menilai Ramadi, ibu kota provinsi Anbar,
Irak, tidak akan bisa dibebaskan oleh pasukan Irak dari cengkraman
kelompok teroris takfiri negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tanpa
bantuan Iran.
Sebagaimana dikutip Fars News Selasa (19/5), laporan yang
ditulis oleh Richard Spencer itu juga menyebutkan bahwa sebagian besar
pasukan yang dikerahkan untuk menjaga keamanan Ramadi adalah pasukan
Irak yang dilatih oleh Amerika Serikat (AS), tetapi sekarang pemerintah
Irak lebih mengandalkan pasukan relawan al-Hasyd al-Sakbi yang dilatih
Iran.
“Ketidak hadiran al-Hasyd al-Sakbi selama ini di Ramadi adalah
sesuatu yang sudah diperhitungkan dan terjadi akibat tekanan AS,” tulis
Spencer.
Menurutnya, AS sekarang harus membenahi skala prioritasnya, seiring
dengan program pemerintah Irak dan relawan untuk memulai operasi
pembebasan Ramadi.
“Tak syak lagi bahwa sekarang jet-jet AS telah berubah menjadi pasukan udara Iran,” klaim Spencer.
Di bagian akhir tulisannya dia menyebutkan bahwa sekarang “Pemerintah Irak maupun AS sama-sama memerlukan mereka (Iran).”
Sementara itu, pakar keamanan dan strategi regional Timur Tengah
Mohammad Mohyi menuding AS justru bersekongkol supaya Ramadi jatuh ke
tangan ISIS.
“Pasukan koalisi pimpinan AS sebenarnya bisa mencegah jatuhnya Ramadi
ke tangan ISIS. Namun mereka sengaja tidak melakukan tindakan yang
semestinya untuk itu,” katanya dalam wawancara dengan Baghdad Times, Selasa (19/5).
Dia menilai pasukan koalisi tidak serius memerangi ISIS, karena
seandainya serius mereka pasti dapat melakukan pengendalian ketat
melalui zona udara Irak dan berperan besar dalam penumpasan ISIS.
“Lebih dari 2000 petempur masuk ke Irak dari wilayah Suriah tanpa ada
tindakan apapun dari pasukan udara koalisi untuk mencegah kedatangan
mereka,” keluhnya.
Dia menambahkan bahwa jatuhnya Ramadi ke tangan ISIS telah membuat AS
dan beberapa faksi politik Irak menjadi sasaran tuduhan bermain mata
untuk menjatuhkan Ramadi ke tangan ISIS.
“Dengan jatuhnya Ramadi, AS bermaksud menekan pemerintah Irak supaya
menjalankan agenda-agenda disintegrasi Irak yang kemungkinan obyek
pertamanya adalah wilayah-wilayah yang berpenduduk Sunni,” paparnya.
Seperti diketahui, Ramadi jatuh ke tangan ISIS sejak beberapa hari
lalu. Hal ini mendorong Perdana Menteri Irak Haider Abadi untuk
meloloskan desakan banyak pihak, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat
Provinsi Anbar, supaya relawan al-Hasyd al-Sakbi yang selama ini sukses
membebaskan berbagai kawasan Irak dari tangan ISIS dibiarkan masuk ke
Anbar. Sekitar 3000 relawan itu belum lama ini dikabarkan sudah masuk ke
wilayah Anbar untuk membantu tentara Irak dan pasukan adat Sunni Anbar
menumpas ISIS. (mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/daily-telegraph-tanpa-bantuan-iran-ramadi-tidak-dapat-dibebaskan/)
LiputanIslam.com
— Republik Islam Iran yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah masih
saja menjadi bulan-bulanan kaum takfiri di seluruh dunia. Fitnah,
propaganda, dan penyesatan informasi dilakukan secara masif dan
berulang-ulang di berbagai media maupun mimbar. Meski demikian, tidak
semua orang bisa dipengaruhi ataupun dikelabui, apalagi yang sudah
pernah melihat langsung kondisi kehidupan masyarakat di negeri Mullah
tersebut.
Hal itu pula yang dituturkan oleh seorang hafiz Al-Qur’an asal
Nigeria, Mukhtar Muhammad Barnumi Mahmud, yang menjadi peserta MTQ
Internasional ke-32 yang berlangsung di Teheran. Sebagaimana dirilis
oleh Kantor Berita Abna, 18 Mei 2015, ia mengaku mendapatkan penyambutan yang baik.
“Sejak kedatangan saya ke negara ini untuk mengikuti musabaqah ini
saya mendapatkan sambutan dan pelayanan yang luar biasa dari para
panitia, sementara dari awal saya tidak membayangkan akan mendapatkan
pelayanan seistimewa ini.”
Mahmud, ketika ditanya pengalamannya mengikuti MTQ menyatakan, “Tahun
2007 saya ikut MTQ di Malaysia dan tahun 2009 saya tercatat sebagai
peserta di musabaqah tafsir Al-Qur’an di Arab Saudi, dan saya mendapat
peringkat ketiga pada waktu itu.”
“Dibandingkan penyelenggaraan MTQ di negara lain, saya menilai yang
diadakan di Iran ini lebih baik dalam segala hal. Meskipun di
negara-negara penyelenggara lainnya memiliki keistimewaan masing-masing
namun penyambutan dan penyelenggaraan MTQ di Iran ini sangat memberikan
kesan mendalam bagi saya, terutama sebelumnya sebelum diutus untuk
mengikuti MTQ ini ada sedikit kekhawatiran dalam diri saya mengenai Iran
karena saya banyak mendapat informasi yang negatif mengenai Iran. Namun
hari ini saya malah tertarik kembali diutus lagi untuk mengikuti
cabang-cabang lomba Qur’ani lainnya yang diadakan Iran secara
internasional.” lanjutnya sambil tersenyum.
Muslim Nigeria yang mengaku bermazhab Maliki ini lebih lanjut
menambahkan, “Imam Malik ra pernah berkata bahwa apa saja yang bisa
menjadi penyebab hidayah bagi seseorang maka lakukanlah, terutama dalam
menyebarkan pesan-pesan Al-Qur’an bagi umat manusia di dunia. Inilah
yang mendorong saya untuk aktif dalam kegiatan Qur’ani seperti ini.”
“Pengalaman saya sebagai peserta MTQ, sebelumnya saya mengikuti MTQ
di daerah saya dalam cabang hafalan Qur’an, kemudian secara bertahap
saya mengikuti MTQ tingkat provinsi kemudian tingkat nasional. Dianggap
bisa mewakili negara, sayapun kemudian menjadi delegasi Nigeria untuk
mengikuti MTQ internasional di Malaysia, Arab Saudi, Emirat dan
selanjutnya di Iran ini,” tambahnya.
“Yang istimewa di Nigeria negara kami, adalah orang-orang kaya sangat
mendukung aktivitas menghafal Al-Qur’an. Mereka memberikan bantuan dana
pada siapapun yang hendak menghafalkan al-Qur’an termasuk membiayai
pendidikannya. Sayang, aturan pemerintah Nigeria sangat membatasi
rakyatnya untuk bisa bebas menuntut ilmu ke luar negeri khususnya
ilmu-ilmu agama,” jelasnya.
Di bagian akhir pembicaraannya, Muhammad Barnumi mengatakan,
“Musuh-musuh Islam demi mempertahankan eksistensi dan kepentingannya
sangat tidak rela jika umat Islam bersatu, karena itu mereka gencar
melakukan propaganda agar umat Islam disejumlah negara muslim membenci
dan memusuhi negara Iran, karena negara Iran-lah yang paling getol
menggalakkan upaya persatuan umat Islam.”
“Bahkan bagian dari propaganda mereka menyebutkan, bahwa rakyat Iran
itu bukan Muslim dan tidak memiliki hubungan apapun dengan Islam. Namun
dengan mendatangi Iran secara langsung, dan membayangkan seberapa besar
dana yang digunakan Iran untuk menyelenggarakan MTQ tingkat
internasional ini dan itu berlangsung setiap tahunnya, maka saya katakan
bahwa propaganda tersebut tidak benar. Rakyat Iran adalah juga Muslim,
dan persatuan Islam bagi mereka sangat penting.”
“Para muballigh takfiri mengatakan kepada kami bahwa perempuan Iran
itu bebas keluar rumah dan mau melakukan apa saja tanpa larangan dan
aturan, namun saya melihat dengan kepala sendiri di Iran, sangat berbeda
dengan apa yang mereka sampaikan, sangat jauh dengan realitas apa yang
telah mereka propagandakan. Tidak ada satupun perempuan Iran yang saya
lihat tampil bebas, semuanya mengenakan jilbab yang memenuhi hukum
syar’i. Justru inilah yang paling menguatkan saya untuk merubah
pandangan saya mengenai Iran dan penganut Islam Syiah.” tutupnya.
(ba/http://liputanislam.com/tabayun/kesaksian-hafiz-al-quran-asal-nigeria-tentang-iran/)
LiputanIslam.com — Republik Islam Iran kembali
menyelenggarakan MTQ Internasional ke-32 di Teheran, yang diikuti oleh
ratusan peserta dari 85 negara, termasuk Indonesia.
Indonesia diwakili oleh Jalaluddin Rubai, juara MTQ nasional hafalan
Al-Qur’an tahun 2014 dan H. Ja’far Hasibuan qari asal Medan, juara
pertama MTQ nasional tilawah Al-Qur’an.
Prof. Dr. Aqil Munawar, Mantan Menteri Agama dan spesialis Ulumul
Quran dan hadis juga diundang untuk menjadi juri dalam MTQ yang
berlangsung di Iran ini.
Disela-sela acara juga ada agenda “Mengenal Mushaf Al-Qur’an Cetakan
Iran”, dari Indonesia diikuti oleh Bapak Mukhlis Muhammad Hanafi, Ketua
Komite Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran dari Kementerian Agama
Indonesia. Dalam acara ini, diberikan kesempatan kepada para pakar
Al-Qur’an dari negara-negara muslim untuk mengenali dan mengkritisi
mushaf Al-Qur’an cetakan Iran, menyusul fitnah yang masih terus gencar
bergulir, yang menuduh bahwa Iran memiliki Al-Qur’an yang berbeda. (ba/http://liputanislam.com/multimedia/foto-mtq-internasional-ke-32-di-republik-islam-iran/)
Sanaa, LiputanIslam.com –
Kelompok Ansarullah (Houthi) diperkirakan akan melancarkan serangan
terhadap Angkatan Laut (AL) Arab Saudi sebagai reaksi atas blokade laut.
Sebuah sumber yang tak disebutkan namanya kepada laman berita analisis al-Waght
Senin kemarin (18/5) mengatakan, “Tentara Arab Saudi dari laut telah
memblokir rakyat Yaman sehingga ada kemungkinan Ansarullah akan
menyerang AL Saudi.”
Sekitar dua pekan lalu Ansarullah berhasil melancarkan serangan laut
dan dapat menawan salah satu perwira AL Saudi di kawasan sekitar pantai
Aden.
Menurut al-Waght, Saudi bermaksud memblokir perairan Yaman,
terutama di kawasan utara, untuk menekan rakyat Yaman yang sebagian
besar kebutuhan pokoknya dipenuhi dari luar. Karena itu, tindakan Saudi
tersebut dapat menyulut perang laut antara Ansarullah dan Saudi yang
bisa jadi akan menjalar hingga ke Selat Bab al-Mandeb.
Sementara itu, Senin sore kemarin rakyat Yaman kembali menggelar
unjuk rasa akbar di Sanaa, ibu kota Yaman, dengan tema “Pemecahan
Blokade” dalam rangka mengutuk serangan dan blokade Saudi dan
pelanggarannya terhadap perjanjian gencatan senjata yang berlangsung
lima hari dan berakhir sejak Minggu malam (17/5). TV al-Mayadeen menyebutkan bahwa unjuk rasa itu adalah yang
terbesar selama Saudi dan sekutunya melancarkan serangan udara ke Yaman
sejak 26 Maret lalu.
Redaktur media online Rai al-Youm Abdel Bari Atwan dalam
editorial terbarunya menilai perkembangan situasi di Yaman menunjukkan
bahwa rakyat Yaman tak kenal kata menyerah di depan koalisi yang
mengagresi negara mereka.
“Menyerah adalah kata yang tidak memiliki tempat dalam kamus bangsa Yaman,” tulisnya.
Saudi dan beberapa negara sekutunya melancarkan serangan udara ke
Yaman dengan tujuan membasmi milisi Ansarullah yang telah menggerakkan
revolusi terhadap pemerintahan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi.
Namun demikian, hingga kini belum ada tanda-tanda milisi itu melemah
akibat serangan udara koalisi, sementara Hadi yang didukung Saudi juga
masih berstatus pelarian dan bersembunyi di Riyadh setelah sebelumnya
sempat bertahan di kota Aden di bagian selatan Yaman.
Serangan Saudi dan sekutunya ke Yaman telah menewaskan sedikitnya 1500 orang dan melukai ribuan lainnya. (mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/ansarullah-diperkirakan-akan-menyerang-al-saudi/)
Pasukan Israel Bentrok dengan Warga Palestina di Timur al-Qudsal-Quds
Pemuda Palestina, di tangan tentara Zionis Israel.jpg
Islam
Times - Bentrokan pecah antara pasukan Zionis dan warga Palestina di
Timur al-Quds (Yerusalem) dalam yang disebut Israel sebagai Hari
Yerusalem.
Kekerasan
pecah dekat gerbang Damaskus di Kota Tua al-Quds pada Minggu (17/5)
ketika kelompok garis keras Israel berbaris memperingati ulang tahun
ke-48 pendudukan rezim di Timur al-Quds.
Konfrontasi membuat dua petugas Israel terluka. Sementara dua warga Palestina ditahan oleh pasukan Israel.
Sementara itu, direktur Masjid al-Aqsa mengatakan Mesjid diserbu oleh 160 lebih warga Israel menjelang pawai.
Israel
mencoba mengubah demografi al-Quds dalam beberapa dekade terakhir
dengan membangun pemukiman ilegal, merusak situs sejarah dan mengusir
penduduk Palestina.
Lebih dari setengah juta warga Israel tinggal
di 120 pemukiman ilegal yang dibangun sejak pendudukan Israel di
wilayah Palestina, Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur al-Quds pada
tahun 1967.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461469/]
Pejabat AS: Arab Saudi Akan Beli Senjata Nuklir dari Pakistan
DF-3A, rudal balistik jarangkauan menengah Saudi Arabia.jpg
Islam
Times - Arab Saudi membuat "keputusan strategis" dengan membeli senjata
nuklir “siap-pakai” dari Pakistan, kata seorang pejabat AS.
Koran Sunday Times melaporkan dengan mengutip pernyataan seorang mantan pejabat pertahanan AS pada Minggu (17/5).
Dalam
tiga dekade terakhir Arab Saudi sudah membiayai sejumlah besar program
nuklir Islamabad dan menyediakan miliaran dolar dari subsidi minyak.
Mantan
Menteri Luar Negeri Inggris Lord David Owen mengatakan kontrak
pembelian senjata nuklir akan berjalan mengingat hubungan dekat kedua
negara.Pada Maret lalu, Arab Saudi menjadi importir senjata
terbesar di dunia. Menurut Global Defense Trade Report (Laporan
Perdagangan Pertahanan Global), Arab Saudi menghabiskan US $ 6,4 milyar
untuk membeli senjata pada tahun 2014.
Di banding tahun sebelumnya, impor senjata Saudi melonjak sebesar 54 persen.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461461/]
Arab Saudi Cari Delapan Algojo Baru
Algojo Saudi Arabia dengan pedangnya.jpg
Islam Times - Arab Saudi tengah mencari delapan algojo baru yang akan melaksanakan hukuman mati.
Portal
kerajaan memasang iklan yang menerima "fungsionaris agama" tanpa
kualifikasi khusus untuk "melaksanakan hukuman mati", Sputnik melaporkan
pada Senin (18/5).
Menurut iklan, selain melakukan hukuman mati
-- biasanya dengan memenggal kepala -- mereka juga akan melakukan
amputasi orang-orang yang dinyatakan bersalah.
Pada Minggu
(17/5), Arab Saudi memenggal warga Pakistan karena perdagangan narkoba.
Ini menjadikan jumlah eksekusi di kerajaan sejak awal tahun ini menjadi
84.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah besar warga negara
dan pekerja asing telah dipenggal di kerajaan. Hal ini memicu protes
organisasi hak asasi manusia.
Amnesty International mengatakan Arab Saudi memiliki tingkat eksekusi tertinggi di dunia.
Ulama Muslim juga mengecam Riyadh karena mendakwa dan mengeksekusi tersangka tanpa memberi kesempatan untuk membela diri.
Di
Saudi, pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan
perdagangan narkoba diganjar hukuman
mati.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461686/]
Saudi Arabia Sewa Ahli Israel untuk Mengawasi Perang Melawan Yaman
Al Saudi Israeli.jpg
IslamTimes
- Kementerian pertahanan Saudi telah mempekerjakan sejumlah ahli
militer Israel untuk mengawasi dan memberikan nasihat kepada pasukan
koalisi dalam perang melawan Yaman, sumber yang dekat dengan monarki
Saudi mengungkapkan pada hari Selasa (19/4/15). "Para
ahli Zionis mengawasi langsung operasi koalisi yang dipimpin Arab Saudi
melawan Yaman selain melakukan koordinasi intelijen dan militer antara
kedua belah pihak," kata sumber FNA, Selasa (19/5). Mereka juga
mengungkapkan bahwa delegasi lain dari Israel telah melakukan perjalanan
ke Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir untuk mengawasi pembangunan
sebuah situs kementerian pertahanan. "Situs militer terletak 20km barat-laut Hay al-Yasmin di Riyadh," kata sumber itu. Dalam
sambutannya yang relevan pada hari Kamis (14/5), Kepala Dewan Tinggi
Revolusi Yaman Mohammad Al-Houthi menggarisbawahi bahwa serangan rezim
Saudi di Yaman itu dimaksudkan untuk menyelamatkan Israel, dan
mengatakan bahwa agresi Al Saud berlangsung dibawah perintah Tel Aviv
dan Washington. "Arab Saudi menyerang kami karena kami telah
menjadi penyebab keprihatinan bagi Israel dan itu dimaksudkan untuk
menenangkan kekhawatiran Israel ...," kata al-Houthi. Dia
menegaskan bahwa agresi yang dipimpin Saudi melawan Yaman berlangsung
dibawah perintah langsung dari Amerika Serikat dan Israel. Arab
Saudi meluncurkan serangan pengeboman terhadap Yaman pada 26 Maret dalam
upaya untuk memulihkan kekuatan untuk buronan Presiden Mansour Hadi,
sekutu setia Riyadh. Hadi mengundurkan diri pada bulan Januari
dan menolak untuk mempertimbangkan kembali keputusan-nya meskipun adanya
seruan dari revolusioner gerakan Ansarullah Houthi. Meskipun
klaim Riyadh bahwa dia membom posisi para pejuang Ansarullah,
pesawat-pesawat tempur Arab Saudi meratakan daerah pemukiman dan
infrastruktur sipil. Serangan Monarki sejauh ini telah merenggut
nyawa sedikitnya 3.815 warga sipil, sebagian besar wanita dan anak-anak,
menurut penghitungan independen FNA ini.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461865/]
Diam-diam Diplomat Arab Temui Para Pejabat Israel di Yordania
IslamTimes
- Para diplomat dari negara Arab tertentu yang tidak memiliki hubungan
diplomatik terbuka dengan rezim Tel Aviv telah melakukan pertemuan
rahasia dengan para pejabat Israel di Yordania.
IslamTimes
- Para diplomat dari negara Arab tertentu yang tidak memiliki hubungan
diplomatik terbuka dengan rezim Tel Aviv telah melakukan pertemuan
rahasia dengan para pejabat Israel di Yordania.
Laporan, yang
diterbitkan pada hari Selasa (19/5/15) oleh situs Arab dan stasiun radio
Israel, Voice of Israel, tidak menyebutkan kebangsaan para diplomat
Arab yang dikatakan telah hadir pada pertemuan tersebut, kantor berita
berbahasa Arab Ma'an melaporkan. Dalam pertemuan, perwakilan Arab
menyatakan berminat untuk bekerja sama dengan Israel terkait masalah
"keamanan" di Timur Tengah. Laporan itu menambahkan bahwa delegasi dari Uni Eropa (UE) serta Amerika Serikat juga hadir dalam pertemuan rahasia itu. Selain
itu, beberapa diplomat Arab mengatakan negara-negara di Timur Tengah
harus mempersiapkan "realitas baru" di wilayah tersebut. Mesir dan Yordania adalah dua negara Arab yang memiliki hubungan dekat dengan Israel. Pada
tanggal 15 April 2014, Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman
mengatakan Tel Aviv melakukan pembicaraan rahasia dengan beberapa negara
Arab, termasuk Arab Saudi dan Kuwait, dalam upaya untuk menciptakan
hubungan diplomatik untuk bersatu melawan Iran. " Kami melakukan
kointak dan pembicaraan secara tertutup dan rahasia, tapi dalam satu
tahun atau 18 bulan hal itu tidak akan lagi menjadi rahasia, itu akan
dilakukan secara terbuka," kata Lieberman, sebagaimana yang dikutip
koran berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth. Surat kabar itu juga
mengutip menteri Israel mengatakan bahwa kesepakatan "perdamaian" baru
antara Israel dan negara-negara Arab akan ditandatangani tahun 2019. Arab
Saudi dan Kuwait, dengan tegas membantah adanya pembicaraan tersebut
dengan Tel Aviv.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461871/]
Arab Saudi Abaikan Panggilan Dunia untuk Hentikan Perang di Yaman
IslamTimes-
Laporan media pada hari Selasa (19/5/15) mengatakan bahwa sedikitnya
empat orang tewas dan enam orang lainnya menderita luka-luka dalam
serangan udara Saudi di provinsi Ibb barat daya Yaman.
Arab
Saudi terus melakukan serangan militer terhadap Yaman meskipun dunia
Internasional memanggil untuk menghentikan agresi terhadap negara miskin
itu. Laporan media pada hari Selasa (19/5/15) mengatakan bahwa
sedikitnya empat orang tewas dan enam orang lainnya menderita luka-luka
dalam serangan udara Saudi di provinsi Ibb barat daya Yaman. Jet tempur Saudi juga menghantam daerah al-Seifi dan Beit al-Ahmer yang terletak di sebelah selatan ibukota, Sana'a. Laporan juga mengatakan bahwa pesawat tempur Saudi melancarkan serangan di provinsi Sa'ada Yaman barat. Riyadh juga meluncurkan beberapa serangan udara di pangkalan militer Yaman di kota Ta'izz Yaman selatan. Hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban menyusul serangan di Sanhan, Ta'izz dan Sa'ada. Pada
hari Senin, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyerukan perpanjangan
jeda kemanusiaan, satu panggilan yang ditolak oleh Arab Saudi.(IT/TGM/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461876/)
Houthi: Iran Harus Berpartisipasi Dalam Pembicaraan Yaman
IslamTimes-
Ansarullah, dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (18/5/15),
bersikeras menyatakan Teheran harus berpartisipasi dalam pembicaraan
itu, Ismail Ould Cheikh Ahmed, utusan perdamaian PBB baru untuk Yaman,
sedang mempersiapkan pembicaraan terkait perang Saudi terhadap Yaman di
Jenewa, Swiss, pada 28 Mei.
Gerakan
Houthi Ansarullah Yaman telah menyerukan kehadiran Iran dalam
perundingan perdamaian yang ditengahi PBB yang bertujuan untuk
mengakhiri agresi Saudi terhadap negara Arab miskin itu. Ansarullah,
dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (18/5/15), bersikeras
menyatakan Teheran harus berpartisipasi dalam pembicaraan itu, Ismail
Ould Cheikh Ahmed, utusan perdamaian PBB baru untuk Yaman, sedang
mempersiapkan pembicaraan terkait perang Saudi terhadap Yaman di Jenewa,
Swiss, pada 28 Mei. Pada hari Senin, Hamza al-Houthi, anggota
dari jabatan politik Huthi ', menyerukan kepada semua kelompok saingan
Yaman untuk mengambil bagian dalam pembicaraan damai Jenewa yang akan
datang. Houthi menekankan bahwa partisipasi semua pihak dalam pembicaraan tersebut adalah satu keharusan." Gerakan
Ansarullah, sebelumnya mengecam pembicaraan terkait perang di Yaman
baru-baru ini di Arab Saudi, mengatakan ia hanya akan terlibat dalam
dialog di Yaman atau negara netral. Kelompok ini mengatakan negosiasi
terakhir tidak mewakili tuntutan warga Yaman.(IT/TGM/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461882/)
PBB: Setangah Juta Warga Yaman Terpaksa Mengungsi
IslamTimes-
Seorang juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR),
Adrian Edwards, kepada wartawan di Jenewa mengatakan bahwa diperkirakan
545.000 orang telah mengungsi.
Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan lebih dari setengah juta warga di Yaman
telah mengungsi sejak Arab Saudi memulai agresi militer terhadap negara
itu pada akhir Maret. Seorang juru bicara Komisaris Tinggi PBB
untuk Pengungsi (UNHCR), Adrian Edwards, kepada wartawan di Jenewa
mengatakan bahwa diperkirakan 545.000 orang telah mengungsi. Pejabat
PBB mengatakan bahwa masuknya bantuan selama lima hari gencatan senjata
telah menunjukkan kesulitan besar bagi ribuan warga sipil yang
mengungsi akibat konflik yang melanda negara itu." Tim bantuan
menyatakan bahwa populasi Yaman mengalami trauma, takut, marah dan warga
terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, "kata Edwards. Mengutip
pejabat kesehatan Yaman, PBB mengatakan bahwa, laporan pada 15 Mei,
menyatkaan bahwa 1.850 orang tewas dan 7.394 terluka dalam kekerasan di
Yaman. Program Pangan Dunia juga telah mengeluh menyatakan bahwa
gencatan senjata itu "tidak cukup lama untuk mencapai semua daerah yang
membutuhkan bantuan.(IT/TGM/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461889/)
Pasukan Irak Berhasil Ambil Alih 30 Persen Ramadi
IslamTimes- Presiden Dewan Provinsi Anbar, Sabah Karhoot, membuat pengumuman dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (19/5/15).
Pasukan
keamanan Irak berhasil mengendalikan sebanyak 30 persen kota Ramadi di
provinsi Anbar, Irak barat, kata seorang pejabat senior di provinsi
bergolak itu, yang menghadapi serangan teroris Takfiri ISIS. Presiden Dewan Provinsi Anbar, Sabah Karhoot, membuat pengumuman dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (19/5/15). Daerah-daerah
yang di bawah kendali pemerintah adalah al-Sajariyah, al-Sufiyah dan
daerah dekat al-Mallab, yang mewakili 30 persen dari kota Ramadi,"
tambahnya.
Militan takfiri ISIS baru-baru ini mengambil alih sebagian wilayah di Ramadi.
Pasukan
Mobilisasi populer telah dikerahkan ke kota itu untuk melawan Takfiris.
pasukan relawan Syiah, salah satu kelompok relawan yang telah bergabung
dengan tentara Irak yang dikirim ke Anbar setelah Perdana Menteri Irak
Haider al-Abadi meminta mereka untuk bergabung dengan perang dan
mengusir militan Takfiri dari Ramadi.(IT/TGM/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461885/)
Jepang Hapus Nama Israel dari Buku Panduan Pariwisata
Boikot Zionis Israel.jpg
Islam
Times - Dalam sebuah langkah terbaru, Jepang menerbitkan panduan
pariwisata berjudul Selamat Datang di Palestina, Persimpangan Peradaban
dengan tidak mencantumkan kata Israel dan nama-nama tempat berbahasa
Ibrani di dalamnya.
Pemerintah
Jepang menerbitkan buku panduan pariwisata daerah Palestina yang tanpa
menyebut nama Israel, situs berita berbahasa Arab, Palestine Today
melaporkan. Laporan mengatakan nama-nama Ibrani dari kota-kota Palestina juga diganti dengan nama Arab mereka. Channel 7 Israel melaporkan langkah terbaru pemerintah Jepang itu.
Jepang adalah negara ketiga setelah Spanyol dan Jerman yang menerbitkan buku panduan pariwisata di wilayah Palestina. Banyak asosiasi Muslim di seluruh dunia mengapresiasi secara tulus tindakan pemerintah Jepang yang berani itu. Palestina
adalah sebuah negara kecil dengan sejarah dan budaya yang kaya dan
beragam, penuh sejarah, arkeologi, warisan agama. Palestina adalah rumah
bagi tiga agama monoteistik dan tempat kelahiran Yesus Kristus, begitu
bunyi sebagian kalimat di dalam buku. Palestina diakui oleh PBB
sebagai negara pada tahun 2012. Sektor pariwisata merupakan salah satu
sektor ekonomi utama di Palestina, tambah buku.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461929/]
Iran Segera Pamerkan Rudal Perisai S-300 Versi Lokal
Rudal Iran, hasil swasembada Iran.jpg
Islam
Times - Seorang legislator senior Iran mengumumkan negaranya segera
memamerkan dan menguji sistem pertahanan rudal S-300 Rusia versi lokal
dalam sebuah latihan militer.
"Sistem
(rudal pertahanan) S-300 buatan Iran akan diresmikan oleh Kementerian
Pertahanan dan Angkatan Bersenjata serta diuji segera di depan mata
semua orang," kata Ketua Komite Keamanan Parlemen Mohammad Reza Mohseni
Sani pada Selasa (19/5). Dia juga menyinggung janji Rusia untuk memberi sistem pertahanan udara S-300 pada Iran dan berharap hal itu segera terlaksana. Akhir
bulan lalu, Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Hossein Dehqan
mengumumkan negaranya akan menguji versi lokal sistem pertahanan rudal
canggih S-300 Rusia --bernama Bavar (Kepercayaan) 373 -- sebelum
pertengahan Maret 2016. "... Kami berharap dapat menguji model
produksi S-300 pada akhir tahun ini,"
katanya.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461930/]
Iran Prihatin Vonis Hukuman Mati di Mesir
Mohamed Morsi - Egypt's ousted president.jpg
Islam
Times - Iran menyatakan keprihatinan mendalam dan menyesali hukuman
mati yang dijatuhkan di Mesir terhadap Presiden Mohamed Mursi dan
seratus lebih pendukungnya.
Pada
Selasa (19/5), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Marziyeh Afkham
memperingatkan bahwa putusan pengadilan tersebut hanya akan
memprovokasi metode pengambilalihan kekuatan lewat kekerasan dan
eliminasi. Dia juga mengatakan vonis tersebut merusak reputasi
Mesir. "Kami percaya bahwa masalah-masalah dan perbedaan tertentu bisa
diselesaikan melalui perundingan nasional dan konsensus politik antara
aliran politik dan sosial yang berdasarkan tujuan mulia revolusi rakyat
Mesir," kata Afkham. Pengadilan Mesir pada Minggu (17/5)
menjatuhkan hukuman mati untuk Mursi dan 106 pendukung Ikhwanul Muslimin
sehubungan aksi pelarian massal dari penjara pada 2011. Keputusan akhir
akan diumumkan pada 2 Juni mendatang. PBB dan Amerika Serikat
juga menyatakan keprihatinan mendalam atas hukuman mati tersebut.
Sementara Turki memperingatkan munculnya gejolak di Timur Tengah jika
hukuman dilaksanakan. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan
akan memantau proses banding untuk hukuman mati
tersebut.[IT/r/http://www.islamtimes.org/id/doc/news/461928/id/doc/news/461147/]
LiputanIslam.com — Untuk menemukan pernyataan bahwa Iran bersahabat dengan Israel, rasanya lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan. Lalu biasanya untuk membuktikan pernyataan tersebut, ‘para analis’ menggunakan teori konspirasi. Mungkin sesekali, ada baiknya kita tidak hanya mempertanyakan Iran, namun mempertanyakan negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah dan sikapnya terhadap Israel. Kali ini, kami akan mempertanyakan hubungan Arab Saudi dengan Israel.
Apakah Arab Saudi bersahabat dengan Israel?Dalam artikel ini, team Liputan Islam tidak akan menggunakan teori konspirasi yang untuk membuktikannya membutuhkan banyak waktu dan analisis yang mendalam. Hal yang lain mudah untuk dicek-ricek adalah data-data, dan karenanya, melalui data-data ini para pembaca bisa menyimpulkan sendiri, apakah Arab Saudi bekerja sama dengan Israel.
*****
Kelompok G4S Amankan Ibadah Haji
Situs rahasia Arab telah mengungkapkan bahwa Arab Saudi telah menggunakan jasa dari perusahaan keamanan Inggris, G4S Inggris, untuk memberikan bantuan untuk menjaga keamanan pada pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Dilaporkan laman Middle East Monitor, Selasa, 24 September 2013, situs ini juga mengungkapkan bahwa operasi G4S di Arab Saudi saat ini dikelola oleh seorang mantan petugas keamanan Saudi, Khalid Baghdadi.
Perusahaan yang mulai bekerja pada pemerintah Saudi sejak tahun 2010 ini menyandang nama Almajal G4S. Informasi keterlibatan G4S di Arab diperoleh dari majalah internal G4S yang diterbitkan di London. Sebuah artikel di majalah ini menyebutkan, perusahaan G4S cabang London akan mengelola pengaturan keamanan yang berkaitan dengan ibadah haji di Mekah.
G4S merupakan salah satu perusahaan keamanan terkemuka di dunia. Kelompok ini diduga membantu keamanan pasukan Israel. Jasa kelompok G4S digunakan di pusat-pusat penahanan Israel. Mereka diduga memberikan perlakuan kejam, termasuk penyiksaan kepada para tahanan. Dalam beberapa kasus, penyiksaan ini berujung pada kematian di dalam penjara-penjara Israel.
Data yang diperoleh, Arab Saudi menggunakan G4S untuk mengamankan jemaah haji di Mekkah. Sedangkan Israel, juga menggunakan G4S untuk di pusat-pusat penahanan Israel, yang sering menyiksa tahanan Palestina.
That this House condemns G4S for providing services to Israeli prisons to which Palestinian prisoners are illegally transferred in serious violation of the Fourth Geneva Convention and also, in the case of child prisoners, the United Nations Convention on the Rights of the Child; further condemns G4S for being associated with treatment of Palestinian prisoners, including children, who are routinely subjected to violence and inhumane treatment at G4S-serviced prisons in Israel and Palestine; and urges the Government not to renew any contracts with G4S while it continues to support Israel in its breach of human rights, UN resolutions, international law and the Geneva Convention.
Campaigns director of the Palestine Solidarity Campaign, Sarah Colborne told MEMO: “G4S has made itself an international target due to its role in facilitating serial human rights abuses. It provides services to Israeli prisons where Palestinians are transferred in violation of the Geneva Convention and in which torture is widespread. Palestinians have called on the international community to boycott G4S and we have a responsibly to heed that call.”
Meanwhile the chair of Friends of Al Aqsa, Ismail Patel said, “We have posted an open letter to the Saudi Ambassador to the UK raising our concerns about the use of G4S during the Hajj season. This is the most spiritual journey which most Muslims will undertake in their lives and it is unacceptable for Saudi to allow a company which is complicit in Israel’s occupation and subjugation of the Palestinian people, to manage the security of pilgrims,” stated Ismail Patel, Chair of FOA.”
Dari kutipan tersebut, dinyatakan bahwa beberapa pihak yang peduli Palestina mengutuk keberadaan G4S atas perlakuannya terhadap Palestina. Namun anehnya, Arab Saudi tetap mempergunakan G4S, bahkan khusus untuk Arab Saudi, G4S ini dikelola oleh mantan petugas keamanan Saudi, yaitu Khalid Baghdadi.
Hal ini menimbulkan pertanyaan baru. Jika G4S memperlakukan Palestina secara tidak manusiawi, maka seharusnya Arab Saudi dan seluruh umat muslim akan mengutuk, memusuhi dan bila perlu menuntut secara hukum atas tindakan sewenang-wenang mereka. Namun mengapa Arab Saudi justru memakai jasa keamanan G4S, dan bahkan salah satu pengelolanya adalah mantan dari petugas keamanan Saudi? Dengan melihat data ini, maka ke arah manakah Arab Saudi berpihak, kepada Palestina ataukah kepada Israel? Dengan siapakah Arab Saudi bersahabat, dengan Palestina atau Israel? (ba/http://liputanislam.com/tabayun/arab-saudi-bersahabat-dengan-israel/)
LiputanIslam.com — Untuk menemukan pernyataan bahwa Iran bersahabat dengan Israel, rasanya lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan. Lalu biasanya untuk membuktikan pernyataan tersebut, ‘para analis’ menggunakan teori konspirasi. Mungkin sesekali, ada baiknya kita tidak hanya mempertanyakan Iran, namun mempertanyakan negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah dan sikapnya terhadap Israel. Kali ini, Liputan Islam (LI)akan mempertanyakan hubungan Arab Saudi dengan Israel.
Apakah Arab Saudi bersahabat dengan Israel?
Dalam artikel ini, LI tidak akan menggunakan teori konspirasi yang untuk membuktikannya membutuhkan banyak waktu dan analisis yang mendalam. Hal yang mudah untuk dicek-ricek adalah data-data, dan karenanya, melalui data-data ini para pembaca bisa menyimpulkan sendiri, apakah Arab Saudi bekerja sama dengan Israel.
Ulama kerajaan Arab Saudi berfatwa: “Haram demo anti Israel dan dukung Palestina.”
Sumber Foto: http://bondett.wordpress.com
Lagi, fatwa heboh ulama kerajaan Arab Saudi, disaat manusia yang punya nurani dan rasa kemanusiaan baik dibelahan dunia Islam maupun Barat menangis dan prihatin atas tragedi kemanusian di Gaza, serta memprotes tindakan biadab Israel yang membantai penduduk sipil Palestina dari anak-anak sampai orang dewasa, tiba-tiba seorang ulama Wahabi asal Saudi Arabia yaitu Sheikh Saleh al-Lahidan -lihat foto diatas- (Ketua Majlis Tinggi Urusan Hukum – رئيس المجلس الأعلى للقضاء ) mengeluarkan fatwa aneh, yakni haram demo dukung Palestina dan anti Israel serta menentang kebiadabannya di Gaza.
Al-Lahidan dalam fatwanya mengatakan bahwa demo menentang kebiadaban Israel dan unjuk rasa membela bangsa Palestina yang tertindas adalah bentuk perbuatan anarkis, merusak di bumi Allah (fasad), tidak ada kebaikannya dan perbuatan yang melalaikan manusia dari mengingat Allah SWT. Oleh karenanya diharamkan secara mutlak. ( http://bondett.wordpress.com/2009/01/30/ulama-wahabi-berfatwa-haram-demo-anti-israel-dan-dukung-palestina/
Fatwa ini menunjukkan, bahwa ulama yang bernaung di dalam kekuasaan Arab Saudi dimanfaatkan untuk mengecilkan suara-suara dukungan terhadap Palestina, khususnya di kalangan umat muslim. Bagi yang berpikir dengan jernih, tentunya akan bisa menjawab pertanyaan, fatwa tersebut berpihak pada Israel atau Palestina? Arab Saudi lebih peduli kepada Israel atau Palestina? Boleh-boleh saja mengaku tidak punya hubungan diplomatik antara Arab Saudi dengan Israel, tetapi realitanya berkata lain. Kebijakan Arab Saudi lebih cenderung menguntungkan Israel.
Selain fatwa haram demo untu Palestina, sebelumnya ulama Arab Saudi Sheikh Muqbil bin Hadi yang juga pernah berfatwa bahwa gerakan perlawanan Islam HAMAS adalah gerakan jihad yang menyimpang. Apakah menurutnya, Sheikh Ahmad Yasin yang telah menghabiskan hidupnya demi memperjuangkan Palestina adalah tokoh yang menyimpang? ( http://www.inilah-salafi-takfiri.com/salafi-takfiri/fatwa-heboh-wahabi-atas-pembantaian-di-palestina#sthash.hhqDdlBi.dpuf ). Dengan keluarnya fatwa seperti ini, siapakah yang diuntungkan? Palestina, atau Israel? (ba/http://liputanislam.com/tabayun/arab-saudi-bersahabat-dengan-israel-2/)
Sumber foto: screenshoot Youtube, klik untuk memperbesar
LiputanIslam.com — Untuk menemukan pernyataan bahwa Iran bersahabat dengan Israel, rasanya lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan. Lalu biasanya untuk membuktikan pernyataan tersebut, ‘para analis’ menggunakan teori konspirasi. Mungkin sesekali, ada baiknya kita tidak hanya mempertanyakan Iran, namun mempertanyakan negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah dan sikapnya terhadap Israel. Kali ini, kami akan mempertanyakan hubungan Arab Saudi dengan Israel.
Apakah Arab Saudi bersahabat dengan Israel? Dalam artikel ini, Liputan Islam tidak akan menggunakan teori konspirasi yang untuk membuktikannya membutuhkan banyak waktu dan analisis yang mendalam. Hal yang lain mudah untuk dicek-ricek adalah data-data, dan karenanya, melalui data-data ini para pembaca bisa menyimpulkan sendiri, apakah Arab Saudi bekerja sama dengan Israel.
Bagian pertama ulasan mengenai hubungan Arab Saudi dengan Israel bisa dibaca di :
Saudi Beli Senjata Israel untuk Disuplai kepada Teroris di Suriah
Radio Israel melaporkan bahwa Arab Saudi menandatangani kesepakatan 50 juta dolar dengan militer rezim Zionis untuk memasok militan di Suriah dengan peralatan militer Israel. Menurut laporan Press TV pada tanggal 27 Juli 2013, Arab Saudi memesan senjata dalam jenis rudal anti-tank, kendaraan militer, peralatan artileri, dan perangkat night vision. Disebutkan, senjata-senjata Israel tersebut akan digunakan untuk mempertahankan kontrol atas kota Aleppo dan sekitarnya.
The Daily Telegraph juga melaporkan pada bulan sebelumnya, Arab Saudi telah memberikan para militan Takfiri dengan berbagai senjata, sebagaimana yang pernah diakui oleh para militant bahwa mreka menerima batch pertama dari persenjataan berat dari Arab Saudi di utara kota Aleppo.
Di Homs, sebelumnya juga ditemukan persenjataan milik Israel, bisa disaksikan di: https://www.youtube.com/watch?v=Jv87JAoAyZI
Sementara hubungan baik antara Arab Saudi dengan Israel, diakui oleh Netanyahu sendiri. Menurutnya, Israel dan Arab Saudi memiliki kepentingan bersama di berbagai bidang seperti ekonomi, politik dan lainnya. Rekaman wawancara bisa disaksikan di: https://www.youtube.com/watch?v=kvJMJcVb3ZA#t=17
Jadi dengan fakta-fakta tersebut, semoga para pembaca bisa menjawab pertanyaan, “Apakah Arab Saudi bersahabat dengan Israel?” (ba/http://liputanislam.com/tabayun/arab-saudi-bersahabat-dengan-israel-3/)
LiputanIslam.com — Jauh sebelum Arab Saudi dan sekutunya menggempur Yaman, dengan meminta bantuan Israel, Liputan Islam telah merilis artikel yang mengungkap beberapa peristiwa yang menunjukkan adanya hubungan mesra antara Arab Saudi dan Israel. Mulai dari diturunkannya G4S untuk mengawal pelaksanaan ibadah haji, fatwa kontroversial terkait krisis di Palestina, hingga pengakuan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Artikel sebelumnya, bisa disimak dalam tautan-tautan ini:
Dan dunia tersentak, ketika muncul laporan bahwa pesawat tempur Israel telah mengambil bagian dalam serangan udara untuk menggempur pejuang revolusioner Ansarullah di Yaman.
”Ini adalah untuk pertama kalinya bahwa Zionis sedang melakukan operasi bersama koalisi Arab,” tulis Sekretaris Jenderal Partai Al-Haq Yaman, Hassan Zayd di halaman Facebook-nya, seperti dikutipGlobal Research, pada Minggu (29/3/2015).
Dia mencatat bahwa Netanyahu, telah mengeluarkan perintah langsung untuk Angkatan Udara Israel agar mengirim pesawat jet tempur untuk bergabung dengan koalisi Arab guna melakukan serangan udara di Yaman.
Bergabungnya Israel dengan koalisi negara-negara Arab telah diangkat oleh media-media nasional, seperti Sindonews dan Merdeka, yang menimbulkan berbagai pro dan kontra.
Mengapa mereka menolak kenyataan ini ?
Selama ini, Arab Saudi merupakan negara yang dianggap sebagai representasi Islam. Islam lahir di negara itu, dan dua kota suci ummat Islam, Mekkah dan Madinah juga terletak di Arab Saudi. Negara ini juga memberlakukan berbagai aturan yang dianggap berlandaskan atas Islam, seperti aturan berpakaian ataupun hukuman mati. Tentu saja, banyak juga aturan kontroversial yang menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Namun secara keseluruhan, Arab Saudi paling diidentikkan dengan Islam. Sementara itu, Israel selalu identik dengan ‘musuh Islam’ lantaran kebiadabannya dalam memperlakukan rakyat Palestina selama puluhan tahun.
Sehingga, pihak yang meyakini bahwa Arab Saudi adalah ‘representasi Islam’ dan Israel adalah ‘musuh Islam’, mereka cenderung tidak percaya bahwa kedua negara ini bekerjasama dan menyebut hal ini sebagai fitnah. Dari pantauan Liputan Islam, pihak yang menyangkal kerjasama kedua negara ini bahkan menuduh Merdeka.com sebagai salah satu media Syiah. Namun dari penelusuran LI, diketahui bahwa Merdeka.com didirikan oleh Steve Christian.
Namun kini, salah satu bukti kerjasama Arab Saudi dan Israel pun muncul ke permukaan. Perhatikan video berikut ini:
Minggu, 5 April 2015, Whatsupic mempublikasi sebuah audio yang diyakini sebagai rekaman suara Abu Omar al–Jabouri – penasehat kepala Raja Salman. Ia menyesalkan ketidakmampuan pilot Saudi untuk menghancurkan sistem pertahanan udara Yaman peninggalan Uni Sovyet yang sudah ‘uzur’. Lantas, al-Jabouri menyarankan agar meminta bantuan kepada Angkatan Udara Israel (IAF) yang memiliki jet tempur F-16 jet untuk memborbadir Yaman.
“… UAE mengirim 30 jet tempur, Kuwait dan Bahrain keduanya berpartisipasi dengan 15 jet, sementara Qatar mengambil bagian dengan 10 pesawat dan tentu saja, Yordania mengirim beberapa pesawat tapi kita tidak memiliki pilot … dan di sini kita harus berhadapan dengan sistem pertahanan udara Yaman dan untuk itu, pesawat F-16 memiliki kemampuan lebih…”
“Arab Saudi tidak memiliki pesawat F-16, dan karena masalah serius yang kita hadapi, maka sebaiknya menggunakan jet F-16 milik Israel karena mereka tahu bagaimana cara menangani Syiah. Namun masalahnya, tidak ada port udara di Arab Saudi yang bisa menjadi tempat mendarat jet Israel. Karenanya, kita garus menggunakan landasan di Bahrain, dan Amerika Serikat (AS) telah berjanji untuk membantu,” tambah al-Jabouri.(ba/http://liputanislam.com/tabayun/arab-saudi-bersahabat-dengan-israel-4/)
Dihasilkannya kesepakatan dalam putaran perundingan nuklir Iran di Lausanne, Swiss (2/4/2015) telah menempatkan posisi Iran di atas angin. Di meja yang sama, para negosiator muslim dari Iran berunding dengan enam kekuatan besar dunia, mempertahankan hak mereka untuk memanfaatkan energi nuklir dengan tujuan damai. Iran, sebuah negara mayoritas muslim berpenduduk 70 juta jiwa, mampu membuat negara-negara superpower berunding alot selama 18 bulan. Iran mampu bertahan mengatakan “tidak” di hadapan tekanan besar mereka yang ingin menghentikan perkembangan sains dan teknologinya yang sedemikian pesat.
Tak heran bila Presiden Rouhani berpidato, “Hari ini adalah hari yang akan lestari dalam ingatan sejarah bangsa Iran, hari yang menurut saya adalah penghargaan dan apresiasi bagi bangsa Iran yang besar. Dengan solid dan resistensinya rakyat Iran telah menjejakkan satu lagi langkah di jalur peraihan cita-cita tinggi nasionalnya.”
Para petinggi Iran, termasuk Pemimpin spritualnya, Ayatullah Ali Khamenei, telah menegaskan berkali-kali bahwa program nuklirnya untuk tujuan-tujuan non-militer. Lebih dari itu, ditegaskan pula bahwa dalam pandangan agama Islam, hukum pengembangan dan pembuatan senjata nuklir itu haram, sehingga tidak mungkin Republik Islam Iran (RII) membuat senjata nuklir.
Sejak tahun 1979, tepatnya sejak berhasilnya revolusi Islam menggulingkan rezim Syah Pahlevi yang bersekutu erat dengan AS, Iran telah diembargo oleh Amerika sampai saat ini. Artinya embargo telah berlangsung selama tiga puluh enam tahun. Namun, apa yang terjadi? Harus diakui oleh dunia internasional bahwa RII menjadi negara yang kuat dari sisi militer non-nuklir dan maju dengan pesat dalam bidang sains dan teknologi.
Di antaranya, RII sejak tahun 2007 hingga kini berhasil menempati posisi tinggi di bidang teknologi nano di kawasan Timur Tengah. Ketua Dewan Pengembangan Nanoteknologi Iran, Saeed Sarkar mengungkapkan peningkatan ekspor RII di bidang teknologi nano ke luar negeri. Dia mengatakan, volume ekspor RII di bidang teknologi nano meningkat tajam, dan akan mencapai nilai miliaran dolar di masa mendatang.
Pada tahun 2005, RII menempati peringkat ke-35 di bidang produksi ilmu pengetahuan untuk kategori teknologi nano di dunia.Tapi kemudian posisi tersebut terus diperbaiki. Posisi RII di bidang teknologi nano terus melesat di peringkat 31 di tahun 2006. Kemudian, di tahun 2010, Iran bertengger di posisi ke-10, dan akhirnya kini menempati posisi 7.
Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.
Laporan yang ditulis Eric Archambault itu menyebutkan, “Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami pekirakan sebelumnya. Eropa mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan.”
Eric juga mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklir dan tentang fisika partikel.
“Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedokteran dan pengembangan pertanian,” tulisnya.
Sebelum itu, RII juga menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan hewan ternak transgenik, seperti domba dan kambing. RII juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berhasil mengembangkan teknologi dan perangkat untuk mengkloning hewan ternak yang bisa digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedokteran dan untuk memproduksi zat antibodi manusia untuk menangkal penyakit. Anak domba bernama Royana dan dua sapi bernama Bonyana dan Tamina adalah hewa-hewan hasil kloning pertama di Iran.
Di bidang antariksa , RII berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisma hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian.
Semua kemajuan yang diraih Iran inilah yang menjadi ganjalan besar dalam perundingan Iran vs Kelompok 5+1. Iran mendesakkan perjanjian bahwa pihaknya akan memberikan izin pengawasan langsung atas proyek nuklirnya, dengan imbalan, semua embargo atas Iran dicabut. Barat melihat, dalam kondisi diembargo saja, Iran sudah mampu mencapai kemajuan sains dan teknologi yang pesat. Apalagi jika embargo itu dicabut? Namun, bila Barat melanjutkan embargo, Iran tetap akan meneruskan pengembangan nuklirnya. Dengan kata lain, diembargo atau tidak diembargo, Iran akan terus maju dengan teknologi nuklir damainya.
Pada akhirnya, perundingan di Swiss menghasilkan keputusan bahwa Barat berjanji akan membatalkan seluruh embargo terhadap Iran, asal Iran juga ‘memperlambat’ proses pengayaan uraniumnya. Ini menunjukkan bahwa Barat sudah kehilangan akal, mencari cara untuk menekan Iran. Yang ditakutkan Barat adalah jika RII dibiarkan mengembangkan program nuklirnya, RII akan mandiri dalam pemenuhan kebutuhan energinya sehingga akan menjadi kekuatan baru di dunia dan sekaligus dapat mengubah peta kekuatan superpower dunia.
Lalu, bagaimana bila Barat ingkar janji? Tak masalah. Mau diembargo atau tidak, Iran akan jalan terus meraih berbagai kemajuan. Inilah untungnya jadi negara mandiri.
*penulis adalah alumnus Hauzah Ilmiyah Qom dan magister UIN Sunan Gunung Jati Bandung
LiputanIslam.com—Selain jatuhnya korban jiwa atas serangan jet tempur pasukan koalisi Arab, hal yang tak kalah mengkhawatirkan lainnya adalah munculnya propaganda atau manipulasi informasi terkait konflik Yaman.
Sebagaimana Suriah, kini Yaman juga digempur. Bedanya, jika pasukan Arab dan Barat dulu menyokong pasukan pemberontak untuk memerangi pemerintah yang Suriah yang sah, tidak demikian halnya dengan Yaman. Mereka menggempur Yaman untuk melumpuhkan kelompok Syiah Houti yang mereka sebut sebagai ‘pemberontak’ atau ‘ekstremis’. (Baca: Mewaspadai Narasi Krisis Yaman Versi Barat)
Dan Al-Arabiya pun mulai melancarkan propagandanya. Mengunggah sebuah foto di akun Twitternya, media milik Arab Saudi ini mengklaim bahwa pasukan Arab Saudi berhasil menghancurkan kelompok Syiah Houti yang tengah melakukan konvoy militer.
“Al Arabiya exclusive: Saudi Arabia’s Operation Decisive Storm destroys a Houthi military convoy in Saada [Yemen],” tulis Al-Arabiya, dalam bahasa Arab, 30 Maret 2015.
Foto asli adalah Perang Teluk
Namun sayangnya propaganda ini tidak berhasil. Tak lama berselang, netizen pun mengenali bahwa foto yang diunggah ini merupakan foto Perang Teluk I yang terjadi pada tahun 1991.
“Menurut informasi dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang mengunggah gambar ini dalam domain publik, menunjukkan bahwa gambar diambil oleh fotografer militer pada 4 Maret 1991 selama Operation Desert Storm. Foto menunjukkan kendaraan militer Irak yang hancur oleh pasukan koalisi,” jelas France 24, 31 Maret 2015.
Melawan Lupa: Suriah Hancur Akibat Propaganda
Tak bosan-bosannya Liputan Islam menyampaikan, bahwa hancurnya Suriah saat ini tak lepas dari peran media-media Barat dan media takfiri radikal yang tak kenal lelah menyebarkan propaganda terhadap Suriah. Bermodal foto dan video palsu, mereka menggalang dana dan simpati masyarakat. Seruan jihad pun semarak dikumandangkan di berbagai seminar, majelis, maupun media. Tak heran jika akhirnya ratusan Warga Negara Indonesia yang telah tercuci otaknya, ikut mengangkat senjata di Suriah, bergabung dengan kelompok-kelompok teroris dari berbagai faksi.
Berikut ini, adalah contoh propaganda atas Suriah dengan menggunakan foto palsu:
Sebuah foto yang menampilkan anak sedang tidur diantara dua kuburan orang tuanya yang populer di Facebook dan Twitter ternyata adalah sebuah foto rekayasa dari sebuah proyek seni. Oleh berbagai media, foto ini disebut sebagai seorang anak di Suriah kedua orang tuanya menjadi korban perang.
Contoh propaganda atas Suriah
Dua kuburan itu ternyata hanyalah tumpukan batu, anak yang dilaporkan sebagai anak yatim itu ternyata bukan anak yatim, melainkan keponakan dari sang fotografer, dan foto itu sendiri sebenarnya diambil di Saudi Arabia.
Harald Doornbos, yang mewawancarai fotografer dari foto tersebut, mengungkapkan bahwa Abdul Aziz al Otaibi sangat terkejut melihat foto karyanya bisa dipelintir, bahwa dia sudah menjelaskan bahwa kuburan-kuburan itu palsu ketika dia mempostingnya di Facebook.
“Lihat, fotoku tidak ada bubungannya dengan kejadian di Suriah. Saya sangat terkejut bagaimana orang memelintir foto karya saya. Saya mencintai fotografi,” lanjutnya.
“Setiap seniman mempunyai gagasan di kepalanya. Jadi saya mewujudkan gagasan saya dalam sebuah proyek dimana saya hendak menunjukkan bagaimana cinta seorang anak tidak dapat digantikan. Cinta ini tidak bisa digantikan dengan apapun atau siapapun, bahkan ketika kedua orang tuanya telah meninggal.
“Saya sangat terganggu dengan kejadian ini. Tidak adil menggunakan foto karya saya di luar konteknya dan menggunakannya untuk kepentingan propaganda,” tegasnya. (ba/http://liputanislam.com/tabayun/beritakan-konflik-yaman-al-arabiya-gunakan-foto-palsu/)
LiputanIslam.com — Sejak dua hari terakhir, linimasa dihebohkan oleh surat terbuka kepada Ustadz Arifin Ilham yang ditulis oleh Dina Y Sulaiman, seorang pengamat Timur Tengah yang juga merupakan kandidat doktor Hubungan Internasional Universitas Padjajaran.
Dina, melalui blog pribadinya Kajian Timur Tengah, mengungkapkan kegundahan hatinya atas seruan jihad Ustadz Arifin terhadap Syiah, yang dinilai, bisa memicu konflik horizontal dan membawa Indonesia seperti Libya dan Suriah. Seperti diketahui, kedua negara tersebut telah hancur lebur akibat perang yang tak berkesudahan.
Surat terbuka ini disambut positif oleh netizen, dari pantauanLiputan Islam, terakhir kali sudah dibagikan lebih dari 17.000 kali di media sosial. Ada juga media-media lain yang mempublikasi ulang, seperti: Republika Online,Inilah.com, dan Muslimedianews. Namun sayangnya, surat yang telah dipublikasi di Republika ataupun Muslimedianews, telah dihapus.
Surat Terbuka yang dimuat di Republika online, dan telah dihapus
Surat Dina di Republika sebelum dihapus
Saat di klik, seperti ini tampilan di Republika saat ini
Surat ini dipublikasi juga oleh Muslimedianews (MMN) dan Inilah.com, tetapi oleh MMN, artikel tersebut juga dihapus.
Bagi sebuah media online, banyaknya kunjungan pembaca merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Berbagai artikel, dengan judul yang bombastis kerap dipakai demi menarik pembaca. Hal ini bisa dimengerti, karena tingginya traffic akan berpengaruh pada pendapatan iklan.
Maka, jika ditimbang dari sudut pandang bisnis, artikel surat terbuka untuk Ustadz Arifin Ilham tersebut tentulah menguntungkan, karena menduduki peringkat teratas dari Top Lima Terpopuler, alias paling banyak dikunjungi. Tapi, mengapa artikel itu dihapus? Mungkinkah, ada pihak yang meminta Republika untuk menghapus surat terbuka tersebut? Jika ada, lalu siapa?
Wajah Republika, Media Islam Indonesia
Sebagai salah satu media ‘Islam’ di Indonesia, Republika memberikan ruang khusus yang diisi dengan berbagai Kajian Islam. Sudah berlalu cukup lama, Republika memberikan kolom khusus bagi 3 ulama kondang, salah satunya adalah KH Athian Ali Dai.
Athian Ali menempati kolom khusus di Republika
Athian Ali, merupakan Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang sepak terjangnya dalam gerakan anti-Syiah memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menyerukan bahaya Syiah – yang menurutnya – merupakan sebuah aliran yang diciptakan untuk kepentingan Yahudi. Masjid al-Fajr, Bandung, sering digunakan sebagai tempat diselenggarakannya seminar ataupun deklarasi anti-Syiah. Di lokasi ini pula, seorang wartawan dari organisasi Ahlul Bait Indonesia, pernah dihajar beramai-ramai seusai meliput acara deklarasi.
Dari sekian banyak ulama-ulama termasyur di Indonesia, sebut saja; Prof Dr Quraish Shihab, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin, Habib Luthfi bin Yahya, dll, ternyata Republika memilih memberikan kolom khusus untuk Athian Ali – yang begitu anti terhadap Syiah – sementara Republika sendiri mengetahui — Syiah merupakan mazhab yang sah di dalam Islam.
Siapa yang menyatakan bahwa Syiah adalah Islam? Perhatikan artikel-artikel Republika yang telah di screenshoot sebagai berikut:
Sekarang kita bahas tentang isi dari surat terbuka tersebut. Dina, yang juga telah menulis buku Prahara Suriah, menyebut bahwa konflik Suriah sesungguhnya bukanlah konflik sekterian, melainkan lebih disebabkan karena kepentingan ekonomi, dan geopolitik. Pihak pemberontak Suriah – yang mengklaim sedang berjihad, sebenarnya tengah dimanfaatkan oleh aliansi Barat, Arab, dan Israel untuk menumbangkan Bashar al-Assad yang ‘keras kepala’. Dan, bagaimana posisi Republikadalam menghadapi konflik Suriah?
Dalam artikel pada poin 1, Republika, menyebut Front al-Nusra sebagai kelompok pemberontak, yang menghancurkan Masdid Imam Nawawi. Namun oleh media ‘Islam’ seperti Arrahmah.com, Front Al-Nusra dianggap sebagai Mujahidin.
Kali ini, Republika menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) melatih pemberontak Suriah. Pemberontak di sini adalah kelompok yang oleh AS dan sekutunya, disebut sebagai ‘moderat’.
Dalam artikel pada poin 5, Republika mengungkapkan bahwa kelompok pemberontak dari Front Al-Nusra dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) telah saling bentrok satu sama lain. Ulasan lengkapnya, telah ditulis di sini.
Jika melihat isi artikel Republika terkait konflik Suriah, maka mudah untuk dipahami mengapa pada awalnya, Republika mempublikasi ulang surat terbuka Dina. Kondisi Suriah yang hancur setelah pemberontakan, keberadaan militan radikal yang membantai tanpa pandang bulu, yang menghancurkan makam para wali maupun masjid, dan sekaligus fakta bahwa mereka disokong oleh AS dan sekutunya, bisa dibilang telah sesuai dengan data-data yang diungkapkan oleh Dina.
Tetapi, mengapa artikel tersebut dihapus?
Hanya Republika yang mengetahui jawaban pastinya, dan kita, hanya bisa menerka-nerka. Jika ingin mencoba menerka, ini sangat mungkin berkaitan dengan adanya kolom khusus (dan artinya ada kerjasama) tokoh Anti-Syiah di Indonesia, KH. Athian Ali. Tentunya, sebuah kerjasama terbentuk atas dasar kesepakatan-kesepakatan tertentu. Akibatnya, di satu sisi, ada kebenaran yang ingin disampaikan, namun di sisi lain, ada sebuah ‘kerjasama’ yang harus tetap dijaga. Di sinilah, pembaca harus memahami dan memaklumi kegalauan Republika — sehingga mau tak mau — media itu memilih untuk menghapus sebuah artikel terpopuler. (ba/http://liputanislam.com/tabayun/surat-terbuka-untuk-ustadz-arifin-ilham-dan-kegalauan-republika/)
LiputanIslam.com — Netanyahu tiba di Dataran Tinggi Golan, mengenakan jaket hitam tebal dan menghampiri para “Mujahidin” yang tengah berbaring lemah. Dengan senyum penuh arti, Perdana Menteri itu mengulurkan tangan dan menyalami para pemberontak yang telah tiga tahun lamanya berperang di Suriah untuk menumbangkan Presiden Suriah Bashar al Assad.
Berita ini pun menyebar luas dan sampai kepada pimpinan oposisi Suriah yang bermarkas di Turki. Muhammad Badie, tokoh oposisi Suriah mengatakan, bahwa oposisi Suriah berterima kasih kepada Netanyahu atas kunjungannya pada 18 Februari ke sebuah rumah sakit darurat di wilayah Golan, tempat dimana para pemberontak Suriah yang terluka dirawat. Hal tersebut disampaikan Badie kepada Israel Radio, Sabtu (22/2). Badie juga menuturkan, dirinya dan teman-temannya berterima kasih kepada pemimpin negeri Yahudi itu karena menyampaikan dukungan secara terbuka bagi para militan Suriah yang terluka. Apakah Israel merupakan sahabat bagi bangsa Arab Suriah?
Mari Melawan Lupa
Ketika Israel mendadak begitu baik kepada bangsa Arab, seharusnya kita mengingat kembali ucapan Rabbi Yaacov Perrin, tanggal 27 Februari 1994 di New York Times — tentang bagaimana Yahudi memandang Arab (catatan: Yahudi yang dimaksud di sini adalah Yahudi Zionis yang menjajah Palestina). Saat itu Perrin berucap, “Satu juta orang Arab tidak sebanding dengan kuku seorang Yahudi.”
Jika demikian halnya, berapa juta orang Arab yang sebanding dengan jari orang Yahudi? Berapa juta orang Arab yang sebanding dengan tangan orang Yahudi? Berapa juta orang Arab yang sebanding dengan badan orang Yahudi? Berapa juta orang Arab yang sebanding dengan kepala orang Yahudi? Serendah itukah bangsa Arab di hadapan bangsa Yahudi? Tentu tidak, bagi kelompok Yahudi penentang Zionisme seperti Yahudi Naturei Karta, namun jawabannya berubah menjadi iya untuk Yahudi seperti Ariel Sharon, Netanyahu dan para pengikutnya.
Meski dimuat di sebuah media terkemuka dan disebarkan ke seluruh dunia yang bisa diakses dengan sangat mudah, tidak lantas menjadikan orang orang Arab ataupun kaum muslimin lantas menyadari siapakah musuh mereka yang sesungguhnya. Sampai hari ini, umat Nabi Muhammad Saw di seluruh dunia lebih memilih bertikai satu sama lain.
Darimanakah Kutipan Tersebut Berasal?
Konon kutipan “Satu juta orang Arab tidak sebanding dengan kukunya orang Yahudi,” berasal dari Midrash Ulangan dalam bahasa Ibrani. Pada bagian yang menceritakan kematian Musa as, disebutkan “God informs Moses that He can either pardon the Israelites for having made the Golden Calf or permit Moses to enter the Promised Land, but not both, whereupon Moses immediately responds, “Let Moses and a thousand like him be destroyed but let not the fingernail of a single Israelite be harmed.”
Terjemahan bebas: Allah memberitahu Musa bahwa Dia bisa mengampuni orang Israel karena telah membuat lembu emas – atau (pilihan kedua) – mengizinkan Musa untuk memasuki tanah yang dijanjikan , tetapi tidak (mengabulkan ) keduanya, dimana Musa segera menjawab, “Biarlah Musa dan seribu (orang) seperti dia dihancurkan, tapi janganlah sampai menghancurkan kuku dari seorang bangsa Israel.
Kejadian itu kemudian ditafsirkan oleh Yahudi Zionis sebagaimana yang diungkapkan Rabbi Perrin, sehingga perlakuan tidak manusiwi Israel kepada bangsa Arab Palestina bisa diartikan sebagai implementasi Israel atas tafsir kitab sucinya. Saat mereka memborbadir anak-anak Palestina yang tak berdosa, atau ketika menembaki petani-petani Palestina di sekitar perbatasan, mungkin bagi mereka hal itu hanyalah sedang memotong kuku!
Terkait sandaran dalil mereka ke Midrash Ulangan ini, seorang Rabbi Yahudi lainnya yang bernama Alan W. Miller memberikan tanggapan: “Dalam angan-angan Zionis yaitu orang-orang sinting dari ultra –orthodox, mendistorsi nilai-nilai mulia kemanusiaan saja tidak cukup. Mereka juga dengan sangat kejam mendistorsi teks-teks kitab suci sehingga keluar dari makna yang sesungguhnya.”
Untuk mengetahui siapakah orang Yahudi Zionis ini yang sebenarnya, Rabbi Allan lebih jauh mengungkapkan, “Mulai saja dengan asumsi awal bahwa Iblis dapat mengutip Alkitab untuk mencapai tujuannya.”
Kemiripan Pola Pikir Yahudi dan Takfiri
Orang-orang yang disebut orang sinting oleh Rabbi Alan mungkin akan mengingatkan kita sekelompok kaum di dalam tubuh Islam yang memiliki kemiripan dan cara yang hampir sama dalam mendapatkan tujuannya. Mereka gemar menafsirkan teks-teks Kitab Suci dengan penalarannya sendiri tanpa ilmu yang memadai sebagaimana para ulama-ulama terdahulu. Hanya berbekal Al-Qur’an terjemahan, mereka sanggup mengkafirkan sesama muslim lainnya. Kelompok ini juga sangat gemar memotong teks, memalsu kitab-kitab klasik, memodifikasi kitab-kitab agar sesuai dengan kepentingan kelompoknya.
Merekalah kelompok Takfiri yang kini tengah berperang di Suriah. Dalam petualangannya, mereka terbagi menjadi pecahan kelompok sesuai ideologinya masing-masing. FSA, Al Nusra dan ISIS adalah kelompok jihadis yang didukung oleh negara-negara asing, termasuk Israel baik secara diam-diam ataupun terang-terangan. Akibatnya, Suriah hancur dan merengut nyawa 140.000 rakyatnya. Jutaan lainnya mengungsi dan hidup menyedihkan.
Ketika Badie berterimakasih kepada Netanyahu, apakah dia sama sekali tidak mengetahui bahwa dia dan sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang Arab lainnya, “hanya” sama dengan kuku-kukunya seorang Yahudi? Biarlah Badie yang menjawabnya, namun kita harus menyadari bahwa di dalam percaturan politik dan kekuasaan, biasanya selalu berlaku atas dasar kepentingan.
Sayangnya, Badie tidak sendiri. Masih ada begitu banyak Badie-Badie lainnya yang akan selalu berangkulan dengan Israel, untuk menganiaya Palestina, Suriah dan negeri-negeri muslim lainnya.
Referensi: The New York Times: From Orthodox Jewish Education to Hebron; Scripture Distorted.
Aden, LiputanIslam.com – Milisi Ansarullah (al-Houthi) dilaporkan berhasil merebut beberapa lokasi baru dari tangan pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi di kota Aden di bagian selatan negara ini. Mereka meringsek masuk ke distrik Mualla dan Qalwa’a di Aden, Minggu (5/4/2015).
Press TV melaporkan, pejabat lokal yang meminta namanya tidak disebutkan membenarkan bahwa para petempur Ansarullah sudah berada di distrik Mualla dan merebut markas pemerintahan provinsi dari tangan milisi pro-Hadi.
Para petempur Ansarullah juga menjadikan stasiun televisi milik loyalis Hadi di Hadi sebagai sasaran serangan untuk memaksanya agar menghentikan siaran.
Pejabat pemerintahan pelarian Yaman mengatakan kepada AFP bahwa milisi Ansarullah menembakkan peluru-peluru mortir ke sekitar bangunan stasiun TV tersebut hingga menyebabkan kerusakan, namun tidak menjatuhkan korban.
Dalam dua pekan terakhir ini milisi Ansarullah di Yaman terlibat pertempuran sengit melawan kelompok teroris al-Qaeda serta pasukan dan milisi pendukung Mansur Hadi yang dibantu serangan udara Saudi dan sekutunya sejak 26 Maret lalu. (mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/di-tengah-serangan-udara-saudi-cs-al-houthi-malah-rebut-lokasi-lokasi-baru-di-aden/)
Teheran, LiputanIslam.com – Wakil Menteri Luar Negeri Iran Urusan Arab dan Afrika, Hossein Amir Abdollahian mendesak pemerintah Arab Saudi supaya segera menghentikan serangannya ke Yaman dengan memetik pelajaran dari sejarah intervensi militer Amerika Serikat (AS) di kawasan.
“Musuh-musuh dunia Islam telah membuat Arab Saudi terlibat perang terhadap Yaman dengan tujuan menjadikan Arab Saudi sebagai Libya kedua, dan melemahkah negara-negara Islam,” ungkap Abdollahian, sebagaimana dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA, Minggu (6/4/2015).
Dia mengingatkan bahwa tragedi kemanusiaan sedang terjadi Yaman. “Blokade terhadap Yaman dan tidak diperbolehkannnya pengiriman bantuan kemanusiaan PBB ke sana sama sekali tidak bisa dibenarkan,” tuturnya.
Dia juga mengingatkan serangan Saudi Yaman hanya akan menyebabkan menjamurnya terorisme dan kehancuran kekuatan umat Islam yang pada gilirannya akan menguatkan posisi rezim Zionis Israel di Timur Tengah.
“Membantu perkembangan terorisme dan Zionisme di Yaman dan kawasan bertolak belakang dengan keamanan Haramaian (Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah) di Arab Saudi, dan Teheran akan terus aktif berusaha menghentikan secepatnya serangan militer itu dan berkonsentrasi pada jalur diplomatik dan bantuan kemanusiaan,” katanya.
Amir Hussain Abdollahian juga menegaskan bahwa negara-negara yang ikut terlibat dalam serangan militer ke Yaman akan tercatat sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kacaunya keamanan negara mereka sendiri dan keamanan kolektif Timur Tengah.
Seperti diketahui, Saudi dan beberapa negara Arab sekutunya melancarkan serangan udara ke Yaman sejak 26 Maret lalu dengan dalih demi memulihkan kekuasaan presiden yang mereka anggap sah, Abd Rabbuh Mansur Hadi yang melarikan diri ke Arab Saudi.
Dalam serangan itu mereka juga tidak dilaporkan tidak memperkenankan masuknya bantuan kemanusiaan ke Yaman serta menolak permintaan PBB supaya diberlakukan gencatan senjata 2 jam/hari demi penyaluran bantuan kemanusiaan dan menyelamatkan serta mengevakuasi warga sipil yang menjadi korban serangan udara. (mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/iran-imbau-saudi-memetik-pelajaran-dari-sejarah-intervensi-militer-as-di-timteng/)
Cirebon, LiputanIslam.com – Hingga hari ini, acara-acara yang bermuatan hate speech dan kental isu SARA masih marak dilakukan oleh sekelompok oknum di berbagai kota, termasuk Cirebon. Sabtu, 4 April 2015, bertempat di kota Cirebon, digelar acara yang bertajuk ‘Diskusi Ilmiah Memperkuat Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dari Noda Kesesatan’ di Islamic Center Masjid Raya At Taqwa, Cirebon. Hanya saja, menurut media online Kiblat.co.id, sesi deklarasi anti-Syiah ini akhirnya dibatalkan.
“Massa dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mendesak panitia untuk membatalkan acara tersebut,” demikian keterangan Kiblat.co.id.
“Sedianya di akhir acara itu akan dilakukan Deklarasi Anti Syiah oleh seluruh elemen umat Islam di Cirebon, namun akhirnya batal dilakukan,” tambahnya.
Menurut keterangan dari Muslimedianews, yang bersumber dari Cirebon Publisher, Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Cirebon dari berbagai elemen seperti PCNU Kota dan Kabupaten, Cirebon, PC GP Ansor Kota dan Kabupaten Cirebon, Satkorcab Banser Kota dan Kabupaten Cirebon, IPNU Kota dan Kabupaten Cirebon, Muslimat NU Kota dan Kabupaten Cirebon, Fatayat NU Kota dan Kabupaten Cirebon, IPPNU Kota dan Kabupaten Cirebon, dan PMII Cirebon, juga bersiap menempuh jalur hukum atas pencatutan logo NU.
“Kami akan melakukan tindakan hukum kepada panitia karena telah merugikan Nahdlatul Ulama secara hukum dan etika,” ujar KH. Yusuf, SE, MM selaku Katib Suriyah PCNU Kota Cirebon.
“Pencantuman logo Nahdlatul Ulama dalam acara “Deklarasi Cirebon Menolak Syiah” atau “Diskusi Ilmiah Memperkuat Ahlusunnah Waljamaah dari Noda Kesesatan” adalah tindakan pencatutan yang illegal, karena tanpa kordinasi dan persetujuan Pengurus NU di semua tingkatan.”
Yusuf menambahkan,Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Cirebon sangat menentang upaya provokasi yang dengan mudah menyesatkan kelompok lain. Selain mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat Cirebon yang berbeda-beda, juga mengancam kebhinekaan masyarakat yang sudah hidup damai dalam keragaman.
”Maka dari itu sikap intoleran ini sangat mengancam keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai macam perbedaan suku, ras, agama dan golongan,” tambahnya.
Pihaknya juga menghimbau kepada ummat Islam, khususnya warga NU, dan seluruh element lapisan masyarakat, agar tidak mudah terprovokasi terhadap upaya adu domba dan penyesatan kelompok tertentu.
“Masyarakat agar lebih jeli dan perlu waspada skenario besar konflik kelompok tertentu dari Timur Tengah yang hendak ditarik ke Indonesia yang akan mengganggu stabilitas sosial dan politik nasional. Pada akhirnya, Indonesia akan menjadi medan baru perang saudara antar ummat Islam sendiri,” tegasnya.
Pihaknya juga meminta kepada aparat yang berwenang untuk mengantisipasi dan mengimbau untuk menghentikan acara tersebut karena dikhawatirkan akan menjadi legitimasi kelompok tertentu untuk melakukan tindak kekerasan atas nama agama. (ba/http://liputanislam.com/indonesiana/nu-cirebon-turun-tangan-sesi-deklarasi-anti-syiah-batal/)
London, LiputanIslam.com – Jurnalis terkemuka Arab Abdel Bari Atwan dalam komentarnya mengenai perkembangan negosiasi nuklir Iran mengapreasiasi ketangguhan Teheran dalam bertahan di depan tekananan negara-negara Barat.
Pemimpin redaksi media online Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, ini menilai kesepakatan awal yang telah dicapai negara Republik Islam itu dengan enam negara terkemuka dunia yang disebut P5+1 seharusnya menjadi momen bagi negara-negara Arab untuk bangkit dari kondisinya selama ini dan mengikuti jejak ketangguhan Iran.
“Kesepakatan Amerika Serikat dengan Iran bisa jadi merupakan kekalahan bagi sebagian negara Arab dan sekaligus satu sinyalemen baru bahwa pengaruh Iran akan terus menanjak. Namun demikian, kesepakatan itu juga merupakan pertanda buruk bagi masa depan Israel, dan merupakan salah satu poin positif yang paling spektakuler,” tulis Atwan dalam editorialnya untuk Rai al-Youm, Sabtu (4/4/2015).
Jurnalis kelahiran Palestina ini melanjutkan, “Poin positif lainnya ialah bahwa seandainya di dunia Arab sekarang ini terdapat para pemimpin sejati, maka yang tersimpulkan ialah keharusan mereka menjadikan kesepakatan itu sebagai titik tolak untuk kebangkitan Arab di segala bidang; membangun tatanan Arab, belajar dari kepiawaian Iran dalam berunding dengan lisan yang tajam dan cara negara ini dalam memainkan kartu As-nya di dalam berinteraksi dengan negara-negara, dan konsistensinya dalam pengambilan keputusan yang independen.”
Atwan mengingatkan, “13 tahun Iran bertahan dengan sangat solid di meja perundingan dengan enam negara besar, tidak takut terhadap armada perang dan kapal-kapal induk, sementara perunding Arab (Anwar Sadat) tak mampu bertahan dua minggu di Camp David, dan Palestina empat bulan di Oslo. Di sinilah letak perbedaannya.”
Di bagian akhir editorialnya dia menyatakan bahwa yang dikehendaki sekarang bagi dunia Arab ialah kebangkitan yang sejati dan terjauh dari kepalsuan.
“Yaitu kebangkitan sains, militer, kebudayaan dan politik di bawah komando para ksatria dalam pengertiannya yang hakiki, yang pantang membebek, yang percaya diri, dan yang bermartabat kebangsaan. Sayangnya, kami tidak melihat tanda-tanda adanya orang-orang demikian, setidaknya dalam waktu sekarang ini. Silakan koreksi kami jika kami keliru,” pungkas Atwan.
Seperti diketahui, Kamis lalu (2/4/2015) Iran dan enam negara besar dunia yang tergabung dalam P5+1 telah mencapai kesepakatan kerangka kerja di bidang nuklir Iran setelah kedua pihak melakukan pembicaraan secara maraton selama delapan hari di Laussane, Swiss, dengan tujuan mengatasi kecurigaan berbagai negara, terutama negara-negara Barat, terhadap program nuklir Iran. (mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/abdel-bari-atwan-di-dunia-arab-belum-ada-pemimpin-ksatria-seperti-di-iran/)
London, LiputanIslam.com – Para pemimpin negara-negara Arab pesisir selatan Teluk Persia menyatakan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama bahwa yang menjadi persoalan bagi mereka bukanlah program nuklir Iran, melainkan “kecenderungan ekspansif Iran di kawasan.”
Sebagaimana dilaporkan koran al-Arab yang bermarkas di London, Inggris, Minggu (5/4/2015), sumber-sumber diplomatik mengatakan bahwa hal tersebut dikemukakan para pemimpin Arab Teluk ketika dihubungi via telefon oleh Obama tak lama setelah terjalin perjanjian kerangka kerja di bidang nuklir antara Iran dan negara-negara besar dunia yang tergabung dalam P5+1 di Laussane, Swiss, Kamis pekan lalu (2/4/2015).
Disebutkan bahwa respon para pemimpin Arab Teluk terhadap Obama ialah bahwa kerisauan mereka terhadap Iran berbeda dengan kerisauan negara-negara Barat.
“Kekuatiran mereka bukan terhadap program nuklir Iran, melainkan terhadap rencana-rencana ekspansionistik Iran di kawasan serta upayanya membangkitkan konflik sektarian yang menjadi ancaman bagi keamanan dan stabilitas Teluk dan semua kawasan,” ungkap sumber-sumber tersebut.
Al-Arab menyebutkan bahwa sebagian pengamat berpendapat bahwa kesempatan Obama sangat kecil untuk dapat memfinalkan kesepakatan awal yang sudah dicapai tersebut. Mereka juga menilai Obama gagal meyakinkan sekutu-sekutu Arabnya, terutama negara-negara Teluk, terkait perjanjian yang akan menghapus semua sanksi Barat dan Dewan Keamanan PBB terhadap Iran tersebut.
Obama Jumat lalu (3/4/2015) menghubungi raja Bahraiin, raja Arab Saudi, putera mahkota Abu Dhabi, Emir Kuwait dan Emir Qatar untuk memberitahu mereka perihal kesepakatan awal yang telah dicapai antara Iran dan negara-negara yang tergabung dalam P5+1, yaitu AS, Inggris, Perancis, Rusia, Tiongkok (lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB) serta Jerman. (mm/http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/negara-negara-arab-teluk-masalahnya-bukan-nuklir-melainkan-ekspansionisme-iran/)
Teheran, LiputanIslam.com — Juru bicara dari Iran’s Parliament (Majelis Iran), Ali Larijani , mengatakan bahwa Republik Islam Iran mendukung digelarnya negosiasi/ dialog antara semua pihak yang terlibat dalam krisis Yaman. Menurut Iran, dialog nasional adalah satu-satunya jalan keluar untuk mengakhiri konflik.
Dalam pembicaraannya melalui telepon dengan Ketua Majelis Nasional Pakistan Sardar Ayaz Sadiq, Larijani menyesalkan serangan udara yang dilakukan oleh Arab Saudi dan sekutunya, yang telah mengakibatkan tewasnya ratusan warga Yaman dan hancurnya insfratruktur negara. (Baca: Lembaga HAM Yaman: Jumlah Korban Tewas Warga Sipil Yaman 857 Orang)
“Agresi militer tersebut, terlepas dari tujuannya, merupakan pukulan bagi umat Islam dan mendatangkan manfaat rezim Zionis (Israel) dan negara-negara adidaya lainnya. Negara-negara yang agresif ini harus menjelaskan mengapa mereka menggunakan fasilitas mereka untuk menggempur sebuah negara Muslim,” ucapnya, seperti dilansir Press TV, 5 April 2015.
Larijani juga menyebut Yaman sebagai bangsa yang berani, yang telah membekukan penyusup asing yang berusaha masuk ke negaranya. Ia menilai, perlawanan yang dilakukan rakyat Yaman akan menjadikan para agresor ini menyesal.
Dia juga meminta negara-negara yang menggempur Yaman ini mengambil pelajaran dari tindakan militer yang dilakukan oleh Uni Sovyet dan Amerika Serikat di Afghanistan, yang berujung pada kegagalan.
Menanggapi pernyataan Larijani, Sardar Sadiq mengungkapkan bahwa pihaknya tidak memiliki niat untuk terlibat dalam krisis Yaman, dan berupaya untuk turut berpartisipasi dalam perdamaian Yaman, yang sejalan dengan kepentingan dunia Muslim.
Seperti diketahui, serangan militer yang dilakukan Arab Saudi dan sekutunya atas Yaman mulai dilakukan pada tanggal 26 Maret, tanpa adanya mandat dari PBB, untuk mengembalikan kekuasaan mantan Presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, dan menumpas gerakan revolusioner Ansarullah. (ba/http://liputanislam.com/internasional/iran-serukan-dialog-nasional-untuk-akhiri-konflik-yaman/)
Berdiri Diantara Dua Blok : Pengorbanan Soekarno Untuk Indonesia
ISLAMTOLERAN.COM- uni soviet juga dalang dari jatuhnya bung karno. jangan terus terusan menuduh pak harto dan CIA saja yang dikatakan dalang di balik jatuhnya bung karno.
I. Pendahuluan
Mungkin tidak banyak orang yang tahu tentang apa yang melatar belakangi kebijakan politik Soekarno yang di kenal berani frontal dalam menentukan nasib rakyat Irian Barat melalui Trikora yang kemudian di lanjutkan dengan Dwikora sebagai upaya Indonesia mendongkel Inggris dari tanah persekutuan melayu (Malaysia).
Seperti yang kita ketahui, Trikora dan Dwikora adalah perjuangan politik Indonesia yang di lakukan lewat sebuah konfrontasi total dengan pengerahan kekuatan militer keperbatasan sebagai jawaban Indonesia atas kebuntuan politik yang dialaminya. Konfrontasi ini bersifat tertutup karena sebelumnya Indonesia tidak pernah mengumumkan pengerahan militer secara terbuka seperti layaknya perang konvensional pada umumnya.
Tidak sedikit dunia Internasional sering di buat tercengang dengan setiap langkah Indonesia di bawah pimpinan Soekarno dimana dalam memperjuangkan suatu kebijakan poltik selalu di ikuti dengan pengerahan militer. Apalagi yang dihadapinya rata – rata adalah Negara yang tergabung dalam NATO dan SEATO di bawah kendali Amerika Serikat (AS).
Lantas apa yang membuat Soekarno sangat berani membawa Indonesia berhadapan dengan Negara koalisi yang sudah pasti jauh lebih kuat daripada Indonesia ?
Dalam sebuah diskusi non formal penulis pernah mendapatkan jawaban yang beraneka macam dari para pesertanya, tapi tidak ada satupun jawaban yang dapat melegakan hati penulis sehingga penulis perlu melakukan suatu kajian tersendiri tentang perihal yang melatar belakangi keberanian Soekarno membawa bangsa Indonesia berhadapan dengan negara koalisi yang jauh lebih modern saat itu.
Karena setting dari kajian ini menyangkut peristiwa Trikora dan Dwikora maka tidak ada salahnya bila penulis mencoba mengawalinya dari tahun 1949 dimana waktu itu Indonesia sedang berunding dengan Belanda membahas status Republik Indonesia dan Irian Barat di Den Haag Belanda melalui Konferensi Meja Bundar (KMB).
II. Konferensi Meja Bundar (KMB)
Konferensi Meja Bundara atau yang disingkat KMB di gelar oleh Pemerintah Indonesia dengan Pemerintahan Belanda pada tanggal 23 Agustus sampai dengan 2 November tahun 1949, KMB di gelar dikarenakan adanya tekanan dunia internasional terkait usaha Belanda meredam kemerdekaan Indonesia lewat jalan kekerasan. Sebelumnya kedua negara sudah pernah melakukan beberapa kali pertemuan seperti Perundingan Linggarjati (1946), Perjanjian Renville (1947 – 1948) dan Perjanjian Roem – Van Roijem (1949) namun Belanda terus mengingkarinya, hingga akhirnya keduanya kembali duduk di meja perundingan di Den Haag Belanda dalam sebuah Konferensi Meja Bundar (KMB). Dalam KMB ini Belanda setuju dengan di bentuknya Republik Indonesia Serikat yang mencakup seluruh wilayah bekas jajahan Hindia Belanda kecuali Irian Barat. Belanda menganggap secara antropologi Irian barat tidak memiliki kesamaan suku dan ras dengan Indonesia sehingga bagaimanapun juga Irian Barat harus tetap menjadi milik Belanda. Pendapat Belanda ini kemudian mendapat tentangan keras dari Indonesia dimana sejak di proklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia berhak atas seluruh wilayah bekas jajahan Belanda dari Sabang sampai Meraoke.
Perundingan di Den Haag Belanda berjalan alot, hingga akhirnya tanggal 2 November 1949 keduanya sepakat dengan menghasilkan 4 point perjanjian :
1. Belanda Mengakui disahkannya Republik Indonesia Serikat (RIS)
2. Belanda mengakui seluruh wilayah kedaulatan RIS kecuali Irian Barat yang akan di bahas kembali setelah 1 tahun berikutnya.
3. Di bentuknya persekutuan Indonesia – Belanda yang di sebut Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai kepala negaranya.
4. Pengambil alihan seluruh hutang Hindia Belanda oleh RIS
Tapi setelah lewat 1 tahun sesuai dengan kesepakatan KMB ternyata Belanda masih tidak ingin menyerahkan Irian Barat kepada RIS. Tanggal 24 Maret 1950 kembali diselenggarakan Konferensi Tingkat Menteri Uni Indonesia – Belanda. Dalam konferensi ini diputuskan untuk membentuk suatu komisi yang beranggotakan wakil – wakil dari Indonesia dan Belanda untuk menyelidiki permasalahan Irian Barat. Namun dalam komisi ini ternyata tetap saja tidak menghasilkan penyelesaian sama sekali terkait status Irian Barat. Kemudian tahun 1952 dan 1954 juga demikian tidak adanya titik temu antara Belanda dengan Indonesia.
Gagal lewat hubungan Bilateral kemudian Indonesia membawa permasalah Irian Barat ke PBB untuk diselesaikan secara Regional, bahkan termasuk mencari dukungan negara – negara Asia – Afrika. Akan tetapi semua itu tidak membuahkan hasil sama sekali bagi Indonesia. Sebaliknya, selama Indonesia memperjuangkan status Irian Barat, Belanda secara militer diam – diam meningkatkan kekuatannya termasuk mendatangkan kapal Induk Kareel Doorman ke Irian Barat. Sikap Belanda yang dianggap keras kepala ini akhirnya memancing kemarahan Soekarno dan melakukan tekanan politik lewat kekuatan militer. Bukan itu saja, dengan penerbitan UU No 86 tahun 1958 Soekarno juga melakukan tekanan lewat ekonomi yaitu menasionalisasi seluruh asset Belanda yang ada di Indonesia. Sikap Soekarno terkait sikap Belanda ini di kemukakan dengan tegas pada pidatonya tanggal 17 Agustus 1958.
“Jika Belanda tetap membandel dalam persoalan Irian Barat tamatlah riwayat semua modal Belanda dan konco – konconya, imperialis tentu akan geger, marah oleh keputusan kita ini dan kegegeran mereka itupun harus kita layani di dunia Internasional”
Indonesia perlu bersikap keras kepada Belanda karena permasalahan Irian Barat bagi Soekarno sudah dianggap deadlock sehingga harus menempuh “jalan lain”. Tentang jalan lain yang di kemukakan oleh Soekarno telah membuat dunia Internasional melakukan banyak spekulasi terkait rencana Soekarno menyelesaikan Irian Barat termasuk Belanda yang secara diam – diam juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan Indonesia. Namun dikarenakan perekonomian Indonesia yang saat itu masih tidak stabil serta belum dimilikinya militer yang memadai maka Belanda menganggapnya sebagai “gertakan” biasa.
Demi meyakinkan Belanda dan dunia internasional tentang jalan lain yang di maksud Indonesia pada tanggal 23 September 1960 Indonesia mengirimkan sebuah tim kecil untuk melakukan misi militer dalam rangka mencari dan melakukan pembelian senjata guna memperkuat Angkatan Perang Indonesia. Sebenarnya dalam kurun waktu 1958 dan 1959 Indonesia sudah melakukan berbagai pembelian senjata dari Polandia, Cekoslovakia, Yugoslavia, AS sampai dengan Eropa Barat namun beberapa negara yang tergabung dalam NATO menghentikan proses pembelian tersebut karena adanya pemberontakan PRRI/Permesta di Indonesia. Dengan adanya penghentian penjualan senjata oleh NATO maka dengan terpaksa Indonesia mengalihkan pembeliannya ke Blok Timur.
III. Perjanjian Indonesia – Uni Soviet
Selama ini kita tahu sekitar tahun 60’an Indonesia pernah mendapat kiriman persenjataan dari blok timur seperti kapal selam, kapal penjelajah, pesawat bomber, pesawat tempur sampai dengan pesawat angkut. Tapi dari sekian banyaknya kiriman senjata sangat sedikit di ketahui oleh publik tentang bagaimana proses yang terjadi antara Indonesia – Uni Soviet waktu itu. Kalau hanya lewat lobi tanpa ada deal tentu mustahil bagi Uni Soviet mengirimkan begitu banyak persenjataan strategisnya kepada Indonesia apalagi Indonesia pernah memiliki track record buruk dimata Uni Soviet tahun 1948 dimana partai komunis pada waktu itu di tumpas habis oleh Indonesia di bawah pimpinan Soekarno saat hendak mendirikan Negara Republik Soviet Indonesia (RSI).
Deal antara Indonesia – Uni Soviet inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal partai komunis di Indonesia dapat berkembang pesat di bawah Soekarno dan membuka gerbang konfrontasi ke dua antara Indonesia – Inggris di tanah persekutuan melayu (Malaysia) yang dikenal Dwikora. Berikut deal yang terjadi antara Indonesia – Uni Soviet :
1. Indonesia harus memberikan perlindungan, kebebasan serta tidak menghalang – halangi perkembangan Partai Komunis di Indonesia yaitu PKI.
2. Indonesia harus memprakarsai pengusiran inggris dan sekutunya yang di personifikasikan sebagai Nekolim dari wilayah Malaysia dan singapura.
(Keterangan diatas didapat dari percakapan Mayjen (purn) Samsudin dengan Alm. Jenderal (purn) M. Panggabean)
Awalnya Soekarno merasa berat dengan adanya dua syarat yang di ajukan pihak Uni Soviet, namun Irian Barat bagaimanapun juga harus di rebut dari Belanda. Setelah melewati pertimbangan yang matang, Soekarno mensetujui persyaratan yang di berikan oleh pihak Moskow untuk turut membesarkan partai komunis di Indonesia sekaligus membantu penyebaran komunis di kawasan Asia Tenggara. Sungguh dilematis memang bagi seorang Soekarno yang nasionalis sejati. Tentu masih ingat Soekarno ketika PKI berupaya menggulingkan dirinya pada tahun 1948 di Madiun yang dipimpin oleh Muso, selain itu PKI juga musuh bagi AD yang dianggapnya berkhianat saat bangsa Indonesia tengah menghadapi Agresi Belanda ke II hingga menyebabkan pergolakan politik yang hebat pada masa itu dengan jatuhnya korban yang tidak sedikit di rakyat.
Kemudian terkait upaya yang akan memprakarsai pengusiran Inggris dan sekutunya di wilayah Malaysia dan Singapura tentu saja akan menyeret Indonesia yang masih belum sembuh dari kejatuhan ekonominya akan berdampak sangat menyakitkan bagi bangsa Indonesia secara luas. Tapi kembali lagi, Soekarno adalah Soekarno yang tidak ingin dianggap sebagai “macan ompong” yang artinya teriak tanpa tindakan tentu mustahil di lakukan oleh seorang Soekarno yang memiliki harga diri tinggi serta menjunjung tinggi kewibawaan Indonesia di tangannya.
Setelah ada kesepakatan, maka sepanjang tahun 1961 – 1962 Uni Soviet mengirim semua persenjataan pesanan Indonesia secara bertahap dengan segala kemudahannya melalui pembayaran kredit lunak jangka panjang termasuk melatih seluruh personel yang akan mengawaki persenjataan dari Uni Soviet.
Tentang adanya pandangan Soekarno yang katanya komunis, Presiden AS JF. Kennedy sebagai kawan dekatnya memiliki pendapat lain setelah pertemuannya di AS pada tahun 1961. Menurut JF. Kennedy melalui Departemen Luar Negerinya mengakui bahwa Soekarno lebih nasionalis dari pada komunis dan itu sudah di buktikannya melalui pembersihan komunis (PKI) yang dilakukan oleh Soekarno di tahun 1948. Menurutnya lagi, Soekarno bersikap demikian juga di karenakan adanya ketergantungannya dengan negara komunis (Uni Soviet) yang memasok senjata bagi keperluan militer Indonesia.
IV. Tri Komando Rakyat (TRIKORA)
Trikora di serukan oleh Soekarno pada suatu rapat raksasa 19 Desember 1961 di alun – alun Jogjakarta, tanggal tersebut sengaja di ambil karena bertepatan dengan 13 tahun penyerbuan Belanda pada kota Yogyakarta untuk merespon tindakan Belanda yang dianggapnya keras kepala. Berikut adalah isi lengkap dari Trikora :
“Komando Rakyat. Kami presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, dalam rangka politik konfrontasi dengan Belanda untuk membebaskan Irian Barat, telah memberikan instruksi kepada Angkatan Bersenjata untuk pada setiap waktu yang kami akan tetapkan menjalankan tugas kewajiban membebaskan Irian Barat Tanah Air Indonesia dari belenggu kolonialisme Belanda.
Oleh karena Belanda masih tetap bersedia melanjutkan kolonialisme di tanah air kita Irian Barat, dengan memecah belah bangsa dan tanah air Indonesia, maka kami perintahkan rakyat Indonesia juga yang berada di daerah Irian Barat, untuk melaksanakan Tri Komando sebagai berikut :
1. Gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua buatan Belanda Kolonial.
2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.”
Sebagai tindak lanjut dari pidato Soekarno, Angkatan Perang Indonesia segera menggelar berbagai latihan dan operasi yang di persiapkan untuk melakukan kegiatan infiltrasi dan penerjunan di jantung pertahanan Belanda di Irian Barat. Melihat meningkatknya kegiatan militer yang di lakukan oleh Indonesia, telah mengundang keprihatinan tersendiri bagi AS yang tidak ingin kedua “sekutu”nya terlibat dalam aksi militer. Selain itu AS melihat Belanda juga tidak siap menghadapi agresifitas militer Indonesia yang terus melakukan penyerangan dan infiltrasi di kantong – kantong pertahanan Belanda di Irian Barat. Melalui foto – foto surveillance yang didapat dari pesawat mata – mata U2 Dragon Lady AS mencoba meyakinkan Belanda untuk tidak berkonfrontasi dengan Indonesia.
Tanggal 15 Agustus 1962 dalam sebuah perundingan yang difasilitasi oleh AS atau lebih tepatnya di New York yang kemudian dikenal dengan sebutan New York Agreement, Belanda bersedia menyerahkan kembali Irian Barat kepada Indonesia dengan mediasi PBB. Setelah melalui berbagai proses akhirnya pada tanggal 1 Mei 1963, wilayah Irian Barat secara resmi dinyatakan kembali sepenuhnya kepada Indonesia.
Dengan kembalinya wilayah Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia maka kemenangan sudah berhasil di peroleh Indonesia dalam memperjuangkan wilayahnya dari pendudukan Belanda. Selain itu, Angkatan Perang Republik Indonesia juga telah berhasil menobatkan diri sebagai kekuatan militer terkuat di belahan Asia Tenggara.
V. Dwi Komando Rakyat (Dwikora)
Pasukan Gurkha di deploy dari helikopter untuk membantu Inggris di Malaya
Dua tahun setelah kembalinya Irian Barat ke Indonesia 1962, pada tahun 1964 Indonesia kembali melakukan konfrontasinya yang kedua. Kali ini Indonesia bersikap keras kepada Inggris yang hendak membentuk negara Federasi Malaysia yang meliputi Sabah, Sarawak, Brunei dan Singapura. Inggris membentuk negara Federasi Malaysia di karenakan adanya politik Indonesia yang sangat di pengaruhi oleh komunis (PKI), adanya dominasi warga cina di Singapura yang di curigai oleh Inggris akan bergabung dengan negara komunis serta gencarnya dukungan Indonesia di Kalimantan utara yang di dominasi komunis melakukan pemberontakan terhadap Brunei dan tanah persekutuan melayu yang berada di bawah kendali Inggris. Tujuan daripada Inggris menyatukan wilayah tersebut di bawah satu administrasi terpusat yaitu Malaysia di harapkan mampu memotong pengaruh komunis dan tidak membahayakan wilayah jajahannya. Sedangkan di mata Indonesia di bawah Soekarno langkah tersebut adalah suatu tindakan yang dapat mengancam revolusi Indonesia di masa yang akan datang (merasa terkepung).
Indonesia sadar, bahwa dengan mengusili pembentukan negara Federasi Malaysia akan membawanya berurusan dengan tiga negara sekaligus yaitu Inggris, New Zealand dan Australia yang secara militer gabungan ketiganya bukanlah tandingan bagi Indonesia yang pada waktu itu sedang di landa krisis ekonomi yang hebat. Akan tetapi bagi Indonesia sikap ini perlu diambil karena Indonesia merasa harus “balas budi” kepada kawan timurnya yang sudah bersedia memberikan bantuan senjata kepada Indonesia pada saat menghadapi Belanda di Irian Barat. Selain itu, kebijakan politik Indonesia juga di pengaruhi oleh dominasi partai komunis yang duduk di Kabinet Dwikora dimana partai tersebut juga memiliki link up dengan Uni Soviet dan Cina.
Meski Indonesia sudah pernah ikut meratifikasi Gerakan Non Blok (GNB) pada tahun 1955 di Bandung, pada kenyataannya Indonesia melibatkan negara ketiga saat terjadi perebutan Irian Barat dengan Belanda. Langkah ini terpaksa diambil karena pada waktu melawan Belanda, Indonesia kesulitan mengungguli militer Belanda yang di perkuat kapal induk Karel Doorman. Langkah ini juga pernah di tempuh oleh Kuba dimana sebagai anggota GNB, Kuba juga diam – diam bersekutu dengan Uni Soviet.
Kembali lagi ke pokok permasalahan Malaysia, kuatnya pengaruh partai komunis di Kabinet Dwikora telah mendorong Soekarno untuk melakukan konfrontasi total kepada Malaysia. Situasi semakin memanas ketika rakyat Malaysia yang tidak suka dengan politik Indonesia menyerbu KBRI di Malaysia dan merobek foto Soekarno selain itu juga menyuruh Perdana Menteri Tanah Persekutuan Melayu Tengku Abdul Rahman untuk menginjak Burung Garuda. Tidak terima dirinya dan bangsa Indonesia di hina Soekarno menyerukan “GANYANG MALAYSIA”.
Pada tanggal 3 Mei 1964 di hadapan para sukarelawan Sukarno kemudian menyampaikan isi dari Dwi Komando Rakyat (Dwikora).
“Perhebat ketahanan revolusi Indonesia, dan bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Sarawak, Brunei untuk membubarkan Negara Boneka Malaysia”
Kemudian tujuh belas hari setelah di kumandangkannya Dwikora, tanggal 20 Mei 1964 Brigade Sukarelawan Tempur Dwikora di bentuk oleh Sukarno di bawah pimpinan Kolonel Sabirin Muchtar.
AL dan AU mendukung penuh keputusan Soekarno selaku Panglima Besar Revolusi Indonesia kecuali AD yang melihat keputusan tersebut berpotensi menghancurkan Indonesia sendiri akibat dilanda krisis ekonomi serta masih banyaknya persenjataan AD yang tidak ada spare partnya. Meski tidak sepaham dengan keputusan tersebut, AD tetap mengirim pasukan khususnya yaitu RPKAD.
Selama dalam konfrontasi, kedua Negara tidak jarang kerap terlibat bentrokan bersenjata di perbatasan. Berhubung yang di libatkan di garis depan bukan pasukan asli Malaysia otomatis yang menjadi lawan bagi para gerilyawan adalah pasukan khusus dari Inggris, Australia, New Zealand dan Nepal.
Konfrontasi Indonesia – Malaysia tidak pernah di umumkan secara resmi oleh Sukarno sehingga yang terlibat di dalamnya mayoritas adalah gerilyawan yang terdiri dari para sukarelawan dan prajurit “tidak resmi” yang disusupkanuntuk melakukan aksi sabotase, infiltrasi dan Raid. Selama dalam konfrontasi tidak sedikit gerilyawan Indonesia yang terbunuh dan tertangkap oleh pasukan commontwealth. Begitu juga dengan pihak Inggris yang sering mengalami kerugian personil ketika berhadapan langsung dengan prajurit KKO AL, RPKAD dan PGT yang menyamar sebagai gerilyawan mendukung pemberontakan rakyat Kalimantan Utara, seperti peristiwa kalabakan dimana Peleton X dari KKO AL berhasil menewaskan 8 prajurit Inggris termasuk perwiranya dan melukai 38 prajurit lainnya, kemudian penyergapan pos mapu yang di lakukan oleh RPKAD yang berhasil menewaskan beberapa pasukan Inggris termasuk seorang dari SAS. Secara kualitas tentu kemampuan pasukan Indonesia tidak perlu diragukan mengingat pengalamannya yang sudah terbiasa menghadapi berbagai konflik meski dalam keterbatasan. Namun tiadanya dukungan alutsista secara langsung dilapangan tentunya mempersulit manuver pasukan gerilya.
Dalam konfrontasi tertutup ini militer Indonesia tidak dapat mengerahkan unit – unit tempurnya secara total karena belum adanya pernyataan perang oleh Soekarno yang di nyatakan secara resmi. Sehingga penggunaan unit – unit tempur hanya sebatas pada patroli dan pengawasan perbatasan saja. Beda dengan Malaysia yang di bantu Negara commontwealth lainnya di mana secara teratur mereka terus menerus melakukan tembakan howitzer ke sepanjang perbatasan Kalimantan timur dan barat.
VI. G30S/PKI dan Berakhirnya Konfrontasi
Upaya untuk menghentikan konfrontasi sebenarnya sudah di mulai sejak bulan januari tahun 1964 di Tokyo namun hasilnya tidak memuaskan. Kemudian bulan juli 1965 upaya tersebut kembali di lakukan di Hotel Amarin Bangkok. Para pimpinan ABRI sepakat konfrontasi harus segera di hentikan demi keselamatan Negara dari bahaya agresi, sehingga upaya mencari kontak ke PM Persekutuan Tanah Melayu Tengku Abdul Rahman perlu dilakukan melalui para pengusaha besar yang biasa melaksanakan hubungan dagang antara Jakarta – Kuala lumpur – Singapura – Bangkok dan Hongkong antara lain Yerri Sumendap, Jan Walandauw, Daan Mogot, Welly Pesik dan orang – orang Indonesia yang ada di Malaysia. Upaya penghentian konfrontasi tersebut di kendalikan langsung oleh Mayjen Soeharto melalui Letkol Ali Murtopo di bantu oleh sejumlah perwira antara lain : Mayor L.B Moerdani, Letkol A. Rachman Ramli dan Letkol Soegeng Djarot.
Saat sejumlah pimpinan ABRI sedang berusaha menghentikan konfrontasi khususnya AD, terjadilah G30S yang dilakukan oleh PKI dengan menculik dan membunuh para petinggi AD untuk mengambil alih kekuasaan dan mengganti Ideologi Negara menjadi komunis. Akibat adanya pemberontakan PKI di Jakarta membuat komunikasi dengan Malaysia terhenti sementara karena seluruh perhatian Angkatan Perang Republik Indonesia di pusatkan pada tindakan penumpasan unsur G30S/PKI. Setelah berhasil di tumpas, pada tanggal 27 Mei 1966 hubungan dengan Malaysia kembali di lanjutkan dan ditingkatkan. Kemudian tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1966 terjadilah perundingan Bangkok yang di pimpin oleh Menteri Utama Bidang Luar Negeri Adam Malik dimana dari hasil perundingan tersebut disepakati adanya penghentian konfrontasi dan di tariknya kekuatan militer kedua belah pihak dari perbatasan secara berangsur – angsur.
VII. Perang Dingin Menyeret Indonesia Ke Dalam Konflik Berkepanjagan
Seperti yang kita ketahui bahwasannya di antara tahun 1947 – 1991 dunia sedang dilanda perang dingin yang melibatkan Uni Soviet dengan Blok Timurnya dan AS dengan Blok Baratnya. Selama dalam kondisi perang dingin kedua Negara Adi Kuasa saling berebut pengaruh lewat ideologi, psikologi, industri, teknologi, kompetisi sampai dengan perlombaan senjata dan tidak jarang saling mengintip kekuatan lawannya masing – masing.
Di Asia Tenggara (Asteng), perang dingin telah membuat Vietnam terpecah menjadi dua yaitu vietnam utara (komunis) dan Vietnam selatan (liberal). Vitenam utara di dukung oleh Uni Soviet dan RRC sedangkan Vietnam selatan di dukung AS, Korea selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina. Kedua Vietnam berperang pada tahun 1957 karena adanya perbedaan dalam membentuk sistem pemerintahan. Dan pada tahun 1979 perang tersebut berakhir setelah Vietnam utara berhasil mengalahkan Vietnam selatan dan menjadikan Vietnam sebagai negara komunis.
Selain Vietnam, Indonesia juga mengalami dampak yang sama imbas dari perseteruan blok timur dan barat yaitu munculnya peristiwa G30S/PKI dan Konfrontasi dengan Malaysia. Di Indonesia PKI yang komunis berusaha mengulingkan pemerintahan yang sah kemudian merubah ideologi Pancasila menjadi komunis, selain itu PKI juga mendorong Indonesia membuka konfrontasi total dengan Malaysia untuk membantu Uni Soviet mengkomuniskan dunia dengan mengusir Inggris dan sekutunya dari tanah persekutuan melayu.
VIII. Bukti Keterlibatan Dua Blok di Indonesia
Jejak keterlibatan dua blok di Indonesia sejak orde lama sampai dengan orde baru dapat kita lihat dari adanya deal – deal hingga munculnya pemberontakan yang disokong oleh keduanya.
AS dengan blok baratnya :
1. Mendukung pemberontakan PRRI/Permesta pada tahun 1957, yang kemudian tanggal 18 Mei 1957 salah satu “tentara bayarannya” bernama Allen Lawrence Pope pesawatnya (B-29) tertembak jatuh oleh kapal perang Indonesia di perairan Ambon.
2. Usaha dan percobaan pembunuhan atas Soekarno yang kemudian dikenal sebagai “Peristiwa Cikini” tahun 1957, mengakibatkan 45 karyawannya luka dan 9 orang meninggal.
3. Dukungan senjata dari AS untuk militer Indonesia tanggal 19 agustus 1958.
Sedangkan Uni Soviet dengan blok timurnya :
1. Melakukan dukungan lewat KGB yang kemudian meminta seorang agen Cekoslovakia membuat dokumen Gilchrist sebagai alat disinformasi (penyesatan informasi) yang akan menyudutkan AD lewat isu “Army local friends”
2. Mendukung 100.000 pucuk senjata jenis Chung lewat RRC untuk mempersenjatai angkatan kelima PKI yang terdiri dari buruh dan tani.
3. Menyediakan ribuan tentara regular dari RRC yang siap di mobilisasi ke Indonesia dan menyiapkan sekuadron udara untuk membantu Indonesia menghadapi operasi CIA di Riau dimana AS tengah menyiapkan Armada ke-7 untuk menginvasi Indonesia.
4. Memudahkan proses pembelian senjata untuk memperkuat militer Indonesia melawan Belanda di Irian Barat dengan syarat Indonesia bersedia membesarkan Partai Komunis di Indonesia dan membantu pemberontakan rakyat Kalimantan Utara yang seideologi (komunis).
IX. Kesimpulan
Keberanian Soekarno membawa Indonesia berhadapan dengan negara – negara yang tergabung dalam NATO dan SEATO dimana negara adi daya AS memberikan dukungan penuh patut kita acungi jempol. Namun seperti yang kita ketahui diatas Soekarno tidak sendiri karena ada Uni Soviet dan sekutunya yang mendukung penuh aksi tersebut.
Meskipun Indonesia pada tahun 1955 telah tergabung dalam GNB pada kenyataannya sekitar tahun 1960 Indonesia secara tidak langsung telah memihak pada salah satu blok. Dari keterlibatan blok timur ini kemudian berlanjut pada lahirnya konfrontasi kedua yang di kenal Dwikora pada tahun 1964 – 1966 sesuai dengan deal yang sudah di sepakati antara Indonesia dan Uni Soviet saat memperjuangkan Irian Barat (Trikora).
Jadi, pada intinya ganyang Malaysia yang digagas oleh Soekarno tidak murni dari ide sang maestro melainkan juga adanya dorongan pihak lain dalam hal ini adalah partai komunis Indonesia dan Uni Soviet dengan blok timurnya yang ingin mengkomuniskan dunia dengan memanfaatkan “kebuntuan” Indonesia saat menghadapi Belanda di Irian Barat. Hal ini dapat kita lihat dari dibentuknya 1 Brigade Sukarelawan oleh Soekarno untuk membantu perjuangan rakyat Kalimantan utara yang komunis menentang pemerintahan Inggris di persekutuan tanah melayu (Malaysia) serta usaha Soekarno yang mati – matian melindungi partai komunis di Indonesia. Ini adalah bukti yang tak terbantahkan dimana perang dingin yang terjadi antara tahun 1941 – 1991 telah memberikan dampak / pengaruh yang luar biasa bagi kelangsungan bangsa Indonesia khususnya dalam kebijakan politik Indonesia yang di kenal keras dan revolusioner.
Sejak meletusnya G30S/PKI, semua kebijakan politik Indonesia seketika itu berubah dan berbalik menghancurkan kekuasaan partai komunis itu sendiri. Dan tanggal 1 Juni 1966, disepakati adanya penghentian konfrontasi dengan Malaysia melalui perundingan yang kemudian di sebut sebagai Bangkok Agreement. Tahun 1967, Soeharto didaulat menjadi Presiden RI ke-2 oleh MPRS.
X. Pendapat Penulis Tentang Soekarno
Soekarno saat berpidato
Di mata penulis Soekarno adalah seorang bapak bangsa yang berjiwa besar serta seorang nasionalis sejati. Selama penulis membuat tulisan ini, penulis dapat meraskan seperti apa situasi serta kegundahan seorang Soekarno pada waktu itu khususnya saat dihadapkan pada pilihan yang amat sulit ketika memperjuangkan Irian Barat. Di satu sisi, Soekarno harus mengembalikan Irian Barat ke wilayah Indonesia dalam satu kedaulatan yang utuh. Namun disisi lain Soekarno dengan terpaksa harus menerima tawaran Uni Soviet untuk memperkuat partai komunis yang sudah jelas – jelas pernah berusaha meruntuhkan kekuasaannya melalui pemberontakan Madiun tahun 1948. Dan yang paling berat adalah membawa Indonesia berhadapan dengan Negara commontwealth di Malaysia dimana seperti yang kita ketahui saat itu kondisi Indonesia sedang dalam tidak fit serta tidak memungkinkan untuk menang namun langkah tersebut harus tetap diambil sebagai bukti bahwa Indonesia konsisten dengan keputusannya.
Mungkin disinilah tidak semua orang tahu apa yang ada di benak Soekarno pada waktu itu. Demi memegang teguh komitmen kepada kawan timurnya, Soekarno secara terbuka membela mati – matian partai komunis meski di hujat sebagian rakyatnya dan berusaha menyeimbangkannya dengan AD yang tentu saja adalah musuh bagi partai komunis tersebut, hingga akhirnya Soekarno tenggelam karena tidak mampu memikul keduanya.
Suatu pilihan yang pahit tapi harus tetap di telan agar Indonesia tetap berada di atas kejayaannya dan hidup sebagai bangsa yang benar – benar berdaulat penuh atas wilayahnya.
“Saya yang memperjuangkan Negara kesatuan dari muda sampai tua, kok sampai pecah persatuan. Kalau harus tenggelam biarlah saya yang tenggelam” Bung Karno.
Dalam acara ini Tv one menghadirkan narasumber yang tidak asing lagi bagi kita yaitu mantan caleg gagal PKS Bernama "Mustofa Nahra"
Dalam acara Tersebut , caleg gagal PKS mustofa nahra ini mengatakan bahwa islamtoleran.com adalah website yang sangat berbahaya sekali ,tidak bijak & dianggap mengadu domba antar ummat
Entah ummat yang mana yang telah di adu domba oleh islamtoleran, Saya pun sebagai pemilik islamtoleran.com juga tidak faham dengan ocehan caleg gagal PKS " Mustofa Nahra " Tersebut, dimana letak mengadu dombanya dan umat mana yang kami adu domba?
Menurut mustofa nahra Dalam acara " Apa Penyebab Situs Islam Di Blokir TVOne - 4 April 2015" ia pernah menelpon pemilik islamtoleran.com lalu menanyakan siapa yang mendanai website islamtoleran.com ?
Mustofa nahra lalu mengatakan bahwa dari hasil perbincangan dengan pemilik web islamtoleran.com akhirnya diketahui bahwa donator Website islamtoleran.com berasal dari semua pemeluk agama.
Padahal saya sebagai pemilik islamtoleran.com sama sekali tak pernah telponan dengan si caleg gagal PKS ini hahhaha lucu sekali kan ini orang?
Kalau Begitu ,Lalu dengan siapakah mustofa nahwa telponan? ya mungkin saja dengan jin Ifrit peliharaan dia kali hahhaha
Seorang Facebooker Bernama Riyadi Pudji Surjono Ikut Menanggapi Tuduhan " Mustofa nahra " yang menyatakan bahwa portal berita islamtoleran.com sebagai website berbahaya, Tidak Bijak dan Pengadu Domba ,
"Kayaknya kebalik sih, justru postingan islamtoleran.com cenderung global, tidak memihak... Apa karena "tidak memihak" itu kah yang dianggap "menyebar kebencian" ???
Kerusuhan etnis pun dari semua etnis pernah diposting, kerusuhan nuansa agama pun dari semua pihak di posting, ketika situs2 bermasalah menebar berbagai kebencian, malah disini (islamtoleran.com) posting sumber2 berita terpercaya menepis hoax 2 bernuansakan kebencian yg beredar, dan lain2 berita "tidak memihak" pernah diposting.
Nah apa karena "tidak memihak" itukah trus dianggap menebar kebencian?
Sekiranya mau membandingkan, coba bandingkan dengan postingan ustad "Felix siauw", dimana negara butuh tokoh pendamai, dia malah posting provokasi, diwaktu negara butuh tokoh untuk meredam "jilboobs" dia malah jadi juri kontes foto selfie, diwaktu negara butuh tokoh nasionalis, dia malah posting tidak perlu bela negara." ujar Riyadi Pudji Surjono
Ocehan caleg gagal PKS " mustofa nahra" yang menyinggung soal website islamtoleran.com dalam acara TV One tersebut bisa anda buka di link You Tube berikut ini pada menit ke 29:50 >>>> https://www.youtube.com/watch?v=vE5ZDsMYJRg
Inilah Sosok Ridwan Abdul Hayyie, Anak Abu Jibriel Yang Tewas Perang di Suriah Bersama ISIS
Ridwan Abdul Hayyie (kiri)
ISLAMTOLERAN.COM- Putra ke-6 Abu Muhammad Jibriel, Ridwan Abdul Hayyie, tewas dalam pertempuran melawan tentara Syi’ah Nushairiyah pimpinan Bashar Asad, di Suriah, kemarin.
Dilansir Arrahmah.com, Ridwan lahir pada 16 Juni 1993. Setahun setelah menamatkan pelajarannya di Pesantren Tahfidzul Quran Isykarima, Karangpandan, Solo, Jawa Tengah, ia pergi ke Suriah sebagai relawan kemanusiaan Majelis Mujahidin.
Bersama sembilan orang temannya, pada pertengahan Juli 2014, Ridwan menginjakkan kaki di Suriah. Selama di sana, hari-hari dilalui bersama pengungsi di Idlib dan bertempur melawan pasukan Presiden Bashar Al-Asad.
Kamis 26 Maret, dalam pertempuran dengan tentara Bashar Asad di Provinsi Idlib, Suriah Timur, warga negara Indonesia itu berada di garis terdepan. Setelah dihujani tembakan tank, ia akhirnya tewas.
Ridwan dan adiknya sempat berkomunikasi melalui media sosial Facebook setengah bulan lalu.
“Kapankah perang berkobar lagi?” tanya adiknya. “Perang tak perlu diundang, akan datang pada saatnya. Seperti kematian, tak pernah diundang, dia akan datang saat takdir Allah menentukan,” jawab Ridwan melalui Facebook-nya.(metrotvnews.com)