Tekhnologi Kapan menentukan waktu memiliki anak dan kapan saat menopause tiba....

Dr Ramezani Tehrani, seorang profesor ilmu kesehatan Universitas Shahid Beheshti Teheran, yang memimpin penelitian menyatakan, "Jika model kita divalidasi, lalu perempuan berusia 20-an bisa melakukan tes darah dan kami dapat menyediakan perkiraan yang baik bagi mereka tentang waktu datangnya menopouse, sehingga mereka bisa lebih gampang merencanakan untuk mempunyai anak dan seterusnya."
Dalam uji coba itu, ilmuwan Iran mengambil sampel darah dari 266 perempuan berusia 20 hingga 40 dan mengukur jumlah hormon anti-mullerian, atau AMH, dalam tubuh mereka.
Pengujian jumlah AMH pada wanita memberitahu dokter berapa banyak telur yang tertinggal dalam ovarium. Dua sampel darah diambil pada enam tahun berikutnya dan pemeriksaan fisik juga dilakukan.
Berdasarkan jumlah AMH, ilmuwan menggunakan model matematis untuk memperkirakan kapan perempuan akan masuk ke menopause. Prediksi para peneliti adalah akurat dalam waktu empat bulan. Studi ini dimulai pada tahun 1998 dan terus diperbarui hingga saat ini.(IRIB/IRNA/PH/2/6/2010)Wakil Rakyat yang ada di Banjarmasin atau di Jakarta ...sama aja ...hanya manis dikala kampanye..setelah terpilih..selalu menyusahkan rakyat kecil..

Oleh: Latifika Sumanti
Mahasiswi S1 Fisika FKIP Unlam
SEBAGIAN masyarakat pasti menyesal telah memilih anggota legislatif yang kini duduk di DPR. Betapa tidak? Mereka yang mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang akan menyalurkan aspirasi masyarakat (setidaknya itu mereka ucapkan ketika kampanye) kini seakan lupa kacang akan kulitnya.
Badan anggaran DPR RI akan memangkas anggaran subsidi listrik dari Rp 56 triliun menjadi Rp 55 triliun. Itu artinya kenaikan tarif dasar listrik sebesar 10 persen akan kembali menyekat kerongkongan rakyat kecil.
Kenaikan tarif listrik itu disebabkan naiknya harga minyak dunia. Pemerintah kini sedang ancang-ancang untuk menetapkan harga baru BBM. Bisa dibayangkan, makin jauh harapan kesejahteraan itu. Negeri kaya dengan sumber daya melimpah, kini sedang kehilangan potensinya yang luar biasa.
Perampokan hasil alam berdalih penambangan oleh asing (Freeport, Exxon Mobil, Newmont dan lainnya), berkedok penebangan hutan industri oleh koorporasi tak bertanggung jawab menjadikan Indonesia kerampokan di negeri sendiri.
Pengurangan subsidi listrik tidak hanya berdampak pada naiknya tarif listrik, tapi merambah ke harga sembako. Alhasil, masyarakat yang terjepit karena lapangan kerja yang makin sempit akan makin menjerit mendapati kenyataan hidup yang tidak memihaknya.
Pengurangan dan pencabutan subsidi adalah bagian dari kebijakan ekonomi kapitalis. Bangsa ini sudah terlanjur terjerat kapitalis dunia lewat jalan pemberian utang yang berbunga.
Pelunasan utang itu memakan waktu puluhan tahun dan selama itu pula kapilalis asing mengintervensi kebijakan dalam negeri Indonesia.
Padahal jika mau berdikari, Indonesia pasti bisa. Kekayaan hutan dan tambang mineral pun seakan melengkapi harta karun bangsa ini. Sudahlah cukup alam yang luar biasa itu menjadi bekal untuk menghidupi rakyat.
Di dalam syariah Islam, pengelolaan sumber daya alam yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan jumlahnya melimpah, tidak akan pernah diberikan kepada swasta, individu apalagi asing. Pengelolaan itu diberikan kepada negara sepenuhnya dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat seutuhnya.
Bisa dibayangkan, kekayaan melimpah tadi dikelola negara dan hasilnya untuk rakyat. Tidak akan terdengar lagi harga sembako yang terus meroket, kita tidak akan merasakan lagi ‘setruman’ listrik yang menyengat. Hanya dengan syariah dan di dalam negara yang mau menerapkannya kita bisa seperti itu. Indonesia mau? (*)
Haul Sayidah Zainab Al-Kubra

Pada tanggal 15 Rajab tahun 62 Hijriah, Sayyidah Zainab Al-Kubra as, cucu Rasulullah saww, meninggal dunia setelah melalui penderitaan luar biasa. Beliau lahir pada tahun 6 Hijriah dan dibesarkan di bawah bimbingan Imam Ali a.s. dan Fahimah Az-Zahra, putri Rasulullah. Pada tahun 61 Hijriah, beliau mendampingi kakaknya, Imam Husain a s di Karbala. Sayidah Zainab termasuk saksi kunci peristiwa Karbala. Tanpa peran beliau, kisah tragedi Karbala dan pembantaian Imam Husein as tidak akan terungkap. (IRIB/AR/LV/28/6/2010)

Tanggal 15 Rajab tahun 62 Hijriah, Sayyidah Zainab s.a, cucu rasulullah SAWW, setelah melalui penderitaan hidup yang amat besar, meninggal dunia. Beliau lahir pada tahun 6 Hijriah dan dibesarkan dengan ajaran Ilahi oleh orangtuanya, yaitu Imam Ali a.s. dan Fahimah Az-zahra, putri Rasulullah. Pada tahun 61 Hijriah, beliau mendampingi kakaknya, Imam Husain a.s. yang dikejar-kejar oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Sampai akhirnya, rombongan Imam Husain yang terdiri dari 72 orang, termasuk anak-anak dan perempuan, tiba di padang Karbala dan bertempur melawan pasukan Yazid yang berjumlah ribuan orang itu. Setelah Imam Husain gugur syahid, Sayyidah Zainab berperan sebagai penyampai pesan perjuangan abadi Imam Husain kepada umat manusia.
Wahabi mau menghancurkan persaudaraan Sunni dan Syi'ah di Banjarmasin.....yang ketawa antek Zionis...???!!!....
Dalam Session I yang diisi oleh Ust. farid Okbah,MA dari Jakarta, materinya penuh dengan Kebencian atau provokatif yang lebih banyak menampilkan VCD berjudul Hakikat Syiah ( yang tidak diperjual belikan / Gratis ) dengan kaloborasi buku-buku diantaranya ''Mengapa Saya Keluar dari Syi'ah''.( yang dikatakan bohong oleh para pengikut Syi'ah)
Untuk Session III yang seharusnya di isi Prof.DR.H.A.Khairuddin M.Ag seorang Dosen IAIN terpaksa batal, karena beliau berhalangan hadir dan digantikan Dosen Fakultas Ushuluddin & Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin DR.Hadariansyah,AB,MA. Dimana beliau lebih terkesan bersikap netral, karena mungkin beliau lebih memahami sejarah Syi'ah , Wahabi dan Sunni.
Sempat terjadi pertanyaan dari peserta seminar yang kelihatannya seorang pengikut Wahabi yang menegaskan bahwa belum pernah menemukan perbedaan tentang Rukun Islam, dimana menurut pernyataan pemapar Session III DR.Hadariansyah,AB,MA, Imam Muslim menyatakan 5 Rukun Islam sedang kan Imam Bukhari menyatakan ada 6 Rukun Islam.
Dan intinya walaupun Seminar tersebut kurang cukup memuaskan penggemar Wahabi, namun Seminar berikutnya bahkan bertajuk Tablik Akbar akan dilaksanakan atau Roadshow di berbagai kota di Kalimantan Selatan, seperti kota Barabai yang mempunyai basis besar Partai PKS ( yang tanda petik banyak berfahamkan Wahabi---walaupun banyak kader PKS yang akhirnya membantahnya ), kemudian kota Pelaihari, kota Tanah Bumbu dan Kotabaru.
Berbeda dengan perhimpunan Al Irsyad yang mengadakan Seminar Faham Syi'ah pada tanggal 26 Juni 2010 / 13 Rajab 1431 H tersebut, komunitas pencinta ahlulbait dan kaum Syi'ah yang tersebar di Babirik-Amuntai, Pelaihari, Kotabaru, Tanah Bumbu,, Rantau, Martapura, Kandangan, Barabai, Tanifah-Aluh aluh, Tamban , Banjarbaru dan Banjarmasin tumpah ruah di Banjarmasin untuk mengadakan milad atau Hari Kelahiran Imam 'Ali bin Abi Thalib, yang lahir tanggal 13 Rajab di dalam Ka'bah dimana beliau merupakan sosok yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya dan di cintai kaum Sunni dan Syi'ah.
Demikian pernyataan Habib Abdullah al Habsy asal Martapura dimana beliau menyatakan pesan Rahbar / pemimpin Spritual Islam Syi'ah Istna asariyah terbesar saat ini yaitu Sayid 'Ali Khamene'i bahwa ummat Islam saat ini harus bersatu dan jangan mau terpecah belah hanya karena perbedaan Mazhab / Aliran , karena hanya menguntungkan musuh Islam.
Habib Abdullah al Habsy asal Martapura pun menyatakan bahwa provokasi yang dilaksanakan oleh antek-antek Zionis yang melaksanakan seminar untuk menghujat Syi'ah harus disikapi dengan hati yang sabar dan tawwakal kepada Allah, karena Wahabi Zionis sekarang terpojok didunia, di Indonesia penyebar Faham Teroris adalah Wahabi, di Arab Saudi pun ulama-ulama Wahabi yang membuka diri untuk berdialog walaupun jumlahnya sangat sedikit, menentang cara-cara provokasi yang menyebabkan perpecahan ummat Islam, Osamah bin Laden pun ternyata didanai oleh antek-antek Wahabi Zionis Arab Saudi.
Kalau memang seminar tersebut untuk mengenal Syi'ah, maka seharusnya mengundang orang-orang Syi'ah atau ulama-ulama Syi'ah yang ada di Banjarmasin atau Indonesia, sehingga dapat memahami Syi'ah yang sebenarnya dari sisi yang lain. Bahkan menurut beliau lagi acara Seminar tersebut terkesan tertutup dan disusun secara sistematis ini hanya dibuat agar Kalangan Nahdiyin atau ulama-ulama Ahlusunnah/ Sunni berbenturan dengan Syi'ah, sehingga Faham Wahabi dapat masuk dengan tidak disadari.
Dimana kita tahu bersama , disukai atau tidak Faham Syi'ah dan Faham Sunni atau Ahlusunnah sangat berbeda dengan Faham Wahabi, diantaranya Sunni dan Syi'ah mempunyai keyakinan yang sama tentang Ibadah Tawassul. Ziarah Kubur, Talqin, Haulan dan lain sebagainya sedangkan Faham Wahabi menyatakan hal tersebut Bid'ah. Sampai-sampai Rektor Al-Azhar Tolak Proposal Wahabi:syiah dan ahlusunah telah menjadi dua sayap Islam dan tidak pernah terjadi peperangan di antara mereka..!!! atau silakan baca http://banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/
Sedangkan Habib Ali As Segaf yang merupakan Tokoh Syiah di Banjarbaru menyatakan Wahabi melakukan ''Trik'' Ahlusunnah Versus Syi'ah atau Politik Adu Domba, jadi tetaplah bergandengan tangan dengan Ahlusunnah, ajarkan anak untuk selalu membaca Buku-buku Islam sehingga mereka menjadi pengikut Ahlulbait atau Syi'ah bukan hanya karena Tahu, tetapi juga karena memahami atau Faham. Untuk referensi ujar beliau silahkan baca buku Antologi Islam, Syi'ah ditolak Syi'ah dicari atau buku Mazhab Pencinta Keluarga Rasul.
Senada dengan Habib Abdullah al Habsy asal Martapura dan Habib Ali As Segaf dari Banjarbaru, sekretaris Yayasan Amanah Syahadah Banjarmasin Wahyudinnoor Arifin, SH menambahkan kegiatan Seminar tersebut provokatif dan hanya memecah belah Ummat Islam . Karena sekarang baik Sunni dan Syi'ah sudah bergandengan tangan , sedangkan yang berfahamkan Wahabi merasa iri dan ingin merusak persaudaraan mereka.
Oleh karena itu apakah Roadshow selanjutnya provokasi corong Wahabi Zionis akan berhasil memecah belah Ummat Islam di Banua Kita..???..!!!!....
Tentu kita tidak mengharapkan perpecahan itu terjadi , karena contoh negara Iraq yang dulunya didominasi Mazhab Syi'ah namun dipimpin orang bermazhab Sunni yaitu Saddam Husein, mereka hidup damai satu sama lain, bahkan sampai kejenjang perkawinan tidak ada masalah, walaupun ada juga kesalahan-kesalahan Saddam. Namun semenjak Amerika menduduki dan memakai corong Wahabi Zionis untuk meprovokasi negara tersebut, Iraq sekarang seperti negara dalam bara ketakutan, karena Horor Sunni VS Syi'ah selalu di semburkan, padahal kaum Wahabi Zionis lah provokatornya.
Namun syukurlah sekarang Pemilu di Iraq sekarang kondusif, dimana perwakilan Syi'ah dan Sunni bersatu untuk menghadapi Zionis Wahabi dan antek-antek Amerika.
Semoga di Banua kita Kalimantan Selatan tidak cepat terprovokasi oleh segelintir orang-orang yang mengaku Wahabi yang condong kepada tingkah laku Zionis sang pemecah belah.
Hidup Sunni dan Syi'ah : Selama masih banyak Persamaan mengapa harus menggali perbedaan yang secuil...Hidup ISLAM..... ( team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com )

Syiah dan Ilmu Hadis
Sebenarnya saya agak malas dan sedih saat diminta oleh Bang Haidar Bagir untuk menanggapi perbincangan soal Sunnah-Syiah di sebuah milis Islam ketika dunia masih fokus mengecam agresi Israel atas misi kemanusiaan ke Gaza. Tapi, apa boleh buat, saya juga cemas melihat kesempitan pandangan dan kemiskinan data sebagian saudara Muslim saya terhadap isu-isu seperti ini. Jadi, saya berusaha menanggapi diskusi ini dengan perasaan nano-nano, campur baur tak karuan. Saya mohon maaf bila tulisan saya akhirnya juga terasa aneh: campuran dari beragam rasa yang tak jelas.
Sebelum terlalu jauh, mari kita ingat beberapa fakta ini:
1. Syiah adalah mazhab Islam terbesar kedua setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
2. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh jumlah sangat signifikan penduduk negara-negara Timur Tengah (untuk tidak mengatakan mayoritas penduduk Teluk), tempat asal Islam.
3. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh mayoritas dua bangsa pemilik tradisi keilmuan paling kuat dan paling kaya di dunia Islam: Iran (90%) dan Irak (68%).
Kedua bangsa yang kemudian menjadi Muslim Syiah ini bisa dibilang adalah pemilik dua khazanah kultural pra Islam (Persia dan Akkadia, Asyuria & Babilonia di wilayah Mesopotamia) yang berkontribusi paling besar terhadap kemajuan umat manusia. Intinya, Persia + Babilonia memiliki “tradisi ilmiah” di atas kebanyakan penduduk Muslim lain–tanpa mengurangi rasa hormat kepada bangsa lain, karena saya sendiri bukan tergolong dari kedua bangsa tersebut.
Ada baiknya kita bertanya: Mungkinkah kedua bangsa pemilik tradisi ilmiah hebat dan kaya itu telah sampai pada tafsir agama yang lebih baik dari kita?
4. Mari kita lihat kembali data populasi Syiah berikut ini: Iran (90%), Iraq (65%–menurut sensus rezim Saddam yang berat sebelah dan tak menunjukkan fakta sebenarnya), Azerbaijan (85%), Lebanon (35-40%), Kuwait (35%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah), Turkey (25%), Saudi Arabia (10-15%–menurut sensus rezim Wahabi yang mengkafirkan Syiah), Yaman (40%), Uni Emirat Arab (15-20 % –menurut sensus rezim tribal Al-Nahiyan yang anti Iran) dan Bahrain (80%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah).
Nah, setelah melihat beberapa fakta di atas, marilah kita kembali ke topik hadis Syiah. Berikut saya berikan beberapa tanggapan umum—tanpa merujuk pada poin-poin yang ditulis sebelumnya karena saya takkan terlibat perdebatan:
1. Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. Karena faktor itulah kita-kitab hadis Syiah ditulis dan dikodifikasikan dalam beberapa periode yang berbeda. Tapi itu tidak berarti bahwa kitab hadis Syiah baru ada di abad ke7 seperti diklaim sebagian orang. Jumlah hadis Syiah juga lebih banyak daripada hadis Sunni. Saya tak pernah hitung berapa persis jumlah surplusnya, tapi yg jelas ada defisit hadis dalam mazhab Sunni
Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta. Tapi saya lagi2 tak tertarik untuk lari2an ke topik lain.
Kekayaan Sunnah dalam mazhab Syiah ini beberapa ratus tahun lalu memunculkan dampak negatif berupa fenomena pola pikir Akhbari. Kaum Akhbari percaya bahwa sunnah 14 Ma’shum sudah mencakupi semua sisi kehidupan manusia, sehingga tak perlu ada ijtihad dan sebagainya. Tapi itu juga isu lain lagi.
2. Setiap mujtahid dalam Syiah tidak menyandarkan keabsahan hadis pada si pengumpul hadis, namun mereka harus melakukan verifikasi, investigasi dan riset hadis sendiri untuk menilai kredibilitas perawi dan kebasahan matan hadis yang diriwayatkannya. Untuk itulah, mujtahid dalam mazhab Syiah harus menguasai metode verifikasi hadis dengan handal. Bahkan, banyak di antara mujtahid yang juga sekaligus adalah muhaddits. Misalnya, Ayatullah Khoei yang beberapa saat sebelum meninggal dunia sempat mengarang buku rijal sebanyak 24 jilid besar. Kalo ada yang mau lihat buku itu, bisa download di sini: http://www.shiatc.com/Lib_List/t5.xml
3. Karena poin 2 di atas, kalangan Syiah tak mengenal adanya kitab shahih. Pengumpul hadis tak pernah mengklaim hadisnya shahih. Dia hanya mengumpulkan dan menyerahkan penilaian pada masing-masing pakar, terutama yang ingin berijtihad. Allamah Majlisi sampai berhasil menuliskan hadis Syiah dalam 120 jilid.
Di bawah, saya copas satu bab penuh dari karya Allamah Hasan Shadr berkenaan dengan kepeloporan Syiah dalam bidang Hadis.
Bab Kedua
Kepeloporan Syi’ah
dalam Ilmu-ilmu Hadis
Sebelum memasuki serangkaian pasal dari bab ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengenal alasan kepeloporan kaum Syi’ah dalam ilmu-ilmu hadis. Di sini, saya hendak menyatakan bahwa di antara para sahabat dan para tabi’in terdapat perselisihan besar tentang penulisan ilmu. Banyak dari mereka enggan melakukan penulisan dan penyusunan ilmu, meski ada sebagian dari mereka yang melakukannya, di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib a.s. dan putra beliau yang pertama; Hasan Al-Mujtaba a.s .
Sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi, bahwa Nabi saw. telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar, dan Al-Hakam ibn ‘Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad Al-Baqir, yaitu ketika di antara mereka berdua terjadi perselisihan pen-dapat tentang suatu masalah, lalu Imam Al-Baqir a.s. mengeluarkan kitab itu dan menjelaskannya lalu menga-takan kepada Al-Hakam: “Ini adalah tulisan tangan Ali ibn Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah, dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah saw.” Maka, kaum Syi’ah mengetahui bagai-mana penyusunan ilmu itu sebegitu rapihnya. Lalu, mereka segera menapaki langkah imam pertama mereka.
Sementara itu, terdapat sekelompok dari selain Syi’ah yang justru melarang penyusunan ilmu ke dalam sebuah kitab, sehingga mereka tertinggal. Al-Jahidz As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi mengatakan: “Karya-karya yang mun-cul pada jaman sahabat dan kaum tabi’in belum tersusun secara rapih, mengingat hafalan mereka yang kuat, selain juga sebelum itu mereka melarang upaya penulisan ilmu-ilmu, sebagaimana yang disinyalir di dalam Shahih Muslim, lantaran kekuatiran mereka terhadap pencampuradukan hadis dengan ayat-ayat Al-Quran. Di samping itu juga karena sebagian besar dari mereka tidak mampu menulis.”
Saya katakan bahwa hal ini terjadi pada selain sahabat dan tabi’in besar Syi’ah. Adapun sahabat dan tabi’in dari Syi’ah, mereka sudah merumuskan ilmu dan menyusunnya, sebagaimana usaha ini telah dimulai oleh Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.
Pasal Pertama
Tentang Orang Pertama yang Mengumpulkan Hadis
dan Menyusunnya ke dalam Bab-bab
Di antara orang Syi’ah yang pertama kali melakukan proses pengumpulan dan penyusunan itu ialah Abu Rafi’e; budak Rasulullah saw. An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifisy Syi’ah, mengatakan: “Dan Abu Rafi’e budak Rasulullah saw. mempunyai kitab As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya”. Lalu ia menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab; mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah. Kemudian dia menyatakan bahwa Abu Rafi’e telah menjadi Muslim secara lebih dahulu di Mekkah lalu hijrah ke Madinah dan ikut serta bersama Nabi saw. dalam banyak peperangan, dan setelah wafat beliau, ia menjadi pengikut setia Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.
Abu Rafi’e tergolong sebagai orang Syi’ah yang saleh, dan turut terjun di dalam peperangan bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga dipercayai sebagai pemegang kunci Baitul Mal di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib di Kufah.
Abu Rafi’e meninggal pada tahun 35 H., sesuai dengan kesaksian Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, di mana ia telah membenarkan tahun wafatnya di awal kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib a.s. Atas dasar ini, menurut ijma’ para ulama, tidak ada orang yang lebih dahulu dari Abu Rafi’e dalam upaya mengumpulkan hadis dan menyusunnya secara bab perbab. Karena, nama-nama yang disebutkan mengenai penghimpun hadis, semuanya muncul di pertengahan abad kedua.
Sebagaimana yang dicatat di dalam At-Tadrib oleh As-Suyuthi dan dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, bahwa orang pertama yang mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis berdasarkan perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah Ibnu Syahab Az-Zuhri. Segera Ibnu Syahab memulai tugasnya di awal abad kedua Hijriyah, lantaran Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 98 H. atau 99 H., dan meninggal pada tahun 101 H. Di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, kami secara khusus memberikan catatan-catatan kritis terhadap apa yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Asqolani.
Pasal Kedua
Tentang Orang Pertama dari Kaum Sahabat yang
Syi’ah yang Mengumpulkan Hadis dalam
Satu Bab dan Satu Judul
Mereka adalah Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Rasyiduddin ibn Syarhasub di dalam kitab Ma’alim Ulamau Syi’ah, telah memberikan kesaksiannya atas hal ini. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, guru besar Syi’ah, dan Syeikh Abu Abbas An-Najasyi di dalam kitab-kitab mereka, yaitu Asma Mushannifis Syi’ah, ketika mengulas ihwal Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari. Mereka melacak dan mampu menemukan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab Salman dan kitab Abu Dzar. Kitab Salman adalah kitab hadis Al-Jatsliq dan kitab Abu Dzar adalah sebuah surat khotbah yang di dalamnya menjelaskan pelbagai perkara dan peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw.
Sayyid Al-Khunsari di dalam kitab Ar-Raudhah fi Ahwalil ‘Ulama’ wa As-Sadat, menerangkan sebuah kitab yang dinukil dari kitab Az-Zinah karya Abu Hatim di juz ketiga; bahwa kata ‘syi’ah’ pada masa Rasulullah saw. adalah nama untuk empat sahabat, yaitu Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad Ibnul Aswad Al-Kindi dan Ammar ibn Yasir. Demikian ini telah disebutkan juga di dalam kitab Kasyful Dzunun dan kitab Az-Zinah karya Abu Hatim Sahal ibn Muhammad As-Sajastani yang wafat pada tahun 205 H.
Pasal Ketiga
Tentang Orang Pertama yang Menyusun Kata-kata
Hikmah dari Para Tokoh Tabi’in Syi’ah
Para tokoh tabi’in Syi’ah itu melakukan penyusunan di satu masa, hanya saja saya tidak tahu mana di antara mereka yang melakukan hal ini lebih dahulu. Di antara mereka ialah Ali ibn Abi Rafi’e; sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s sekaligus sebagai sekretaris dan pemegang kunci Baitul Mal.
An-Najasyi di dalam Asma Mushannifisy Syi’ah, pada bab nama-nama generasi pertama Syi’ah yang mengarang kitab, mengatakan: “Ali ibn Abu Rafi’e adalah seorang tabi’in dari Syi’ah yang soleh yang bersahabat dekat dengan Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga sekretaris beliau dan menghafal banyak hal dan menyusun sebuah kitab yang menghimpun pelbagai bab Fiqih, seperti Wudhu, Shalat, dan bab-bab hukum lainnya. Lalu ia menyambungkan sanadnya sampai ke Ali ibn Abi Thalib a.s.
Dan saudara Ali ibn Abu Rafi’e bernama Ubaidillah ibn Abu Radfi’e adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang kitab Kitabul Qodho Amiril Mu’minin dan kitab Tasmiyatu Man Syahida ma’a Amiril Mu’minin Al-Jamala wash Shiffin wan Nahrawan minal Shohabah (kitab yang mencatat nama-nama para sahabat yang ikut bertempur bersama Imam Ali a.s. di perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, pent.). Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan di At-Taqrib karya Ibnu Hajar, bahwa Ubaidillah adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib dan perawi yang terpercaya.
Selain dua bersaudara di atas, adalah Ashbagh ibn Nubatah Al-Majasyi’ie. Ia sahabat khusus Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan berumur panjang hingga masih hidup setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib. Ashbagh telah meriwayatkan surat Ali ibn Abi Thalib tentang pelantikan Malik Al-Asytar sebagai gubernur Mesir. An-Najasyi berkata: “Surat itu adalah surat yang amat masyhur, juga sebagai wasiat Imam Ali ibn Abi Thalib kepada putranya yang bernama Muhammad ibn Hanafiyah.” Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menambahkan dalam Al-Fehrest, bahwa Ashbagh ibn Nubatah juga mempunyai kitab Maqtalul Husein ibn Ali, yang darinya Ad-Dauri telah meriwayatkan.
Lalu di antara mereka ialah Sulaim ibn Qois Al-Hilali Abu Shadiq, sahabat dekat Ali ibn Abi Thalib. Ia menulis kitab yang sangat bagus. Di dalamnya ia meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali ibn Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad, Ammar ibn Yasir, dan sekelompok dari sahabat besar Nabi saw.
Syeikh Imam Abu Abdillah An-Nu’mani, yang perihal dirinya telah diulas pada pasal tokoh-tokoh tafsir terdahulu, di dalam kitab Al-Ghaibah, tepatnya setelah menukil sebuah hadis dari kitab Sulaim ibn Qois, mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan perawi kaum Syi’ah tentang bahwa kitab Sulaim ibn Qois adalah salah satu kitab induk yang banyak dinukil hadis dan riwayatnya oleh para ulama dan perawi hadis Ahlul Bait. Dan kitab itu merupakan kitab rujukan kaum Syi’ah.” Sulaim ibn Qois wafat di awal pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf di kota Kufah.
Lalu di antara mereka ialah Maitsam ibn Yahya Abu Soleh At-Tammar. Ia adalah salah satu sahabat dekat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan pemegang rahasia-rahasia beliau. Maitsam menulis kitab yang bagus mengenai hadis. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Syeikh Abu Amr Al-Kisyi dan Ath-Thabari di dalam Bisyarotul Musthafa, banyak menukil hadis dari kitab Maitsam ini. Maitsam wafat di Kufah karena dibunuh oleh Ubaidillah ibn Ziyad lantaran kesyi’ahannya.
Lalu di antara mereka ialah Muhammad ibn Qois Al-Bajali. Ia mengarang sebuah kitab yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Para tokoh tabi’in Syi’ah telah menyebutkan kitab tersebut. Mereka juga banyak meriwayatkan hadis-hadis darinya. Adapun Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest dari Ubaid ibn Muhammad ibn Qois mengatakan: “Saya mengajukan kitab ini kepada Abu Ja’far Imam Muhammad Al-Baqir a.s., lalu beliau berkata: ‘Kitab ini adalah perkataan Ali ibn Abi Thalib a.s.’. Dan di awal-awal kitab itu, diriwayatkan bahwa jika seseorang hendak melakukan shalat, katakanlah di awal shalatnya… Begitu selanjutnya hingga akhir kitab.”
Ya’la ibn Murroh mempunyai satu naskah kitab itu yang diriwayat-kannya dari Ali ibn Abi Thalib a.s. An-Najasyi di dalam Al-Fehrest telah membawakan sanad kesaksian atas keberadaan naskah tersebut dari Ya’la.
Lalu di antara mereka ialah Ibnul Hurr Al-Ja’fi. Ia seorang tabi’in Kufah dan penyair Persia. Ia memiliki sebuah naskah hadis yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Al-Ja’fi wafat di masa kekuasaan Al-Mukhtar. An-Najasyi telah menempatkannya dalam jajaran pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah.
Lalu di antara mereka ialah Tabi’ah ibn Sami’ie. Ia menulis sebuah kitab tentang bab zakat. An-Najasyi menyebutkan nama ini di generasi pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah. Ia termasuk dari kaum tabi’in.
Lalu Harts ibn Abdillah Al-A’war, dari kota Hamadan. Ia termasuk sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s. Harts meri-wayatkan pelbagai permasalahan yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. kepada seorang Yahudi, kemudian Ammar ibn Abil Miqdad meriwayatkannya dari Abi Ishaq As-Sami’ie yang ia sendiri meriwayatkannya dari Harts Al-A’war, dan yang terakhir ini meriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Fehrest karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi. Harts wafat pada masa kekuasaan Ibnu Zubeir.
Namun, Syeikh Rasyiduddin Ibn Syahrasyub di awal kitabnya, Ma’alimul ‘Ulama’, membawakan sebuah daftar kitab mengenai jawaban yang disampaikan oleh Al-Ghazzali, bahwa kitab pertama yang dikarang di dalam Islam ialah kitab Ibnu Juraij tentang hadis dan tafsir huruf-huruf dari Mujahid dan ‘Atha’ di Mekkah, lalu kitab Mu’ammar ibn Rafi’e Ash-Shan’ani di Yaman, lalu kitab Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, lalu kitab Al-Jami’e karya Sufyan Ats-Tsauri.
Kemudian Ibnu Syahrasyub mengatakan: “Namun yang benar ialah bahwa orang pertama yang mengarang kitab di bidang ini dalam Islam ialah Amiril Mukiminin Ali ibn Abi Thalib lalu Salman Al-Farisi, lalu Abu Dzar Al-Ghifari, lalu Ashbagh ibn Nubatah, lalu Ubaidillah ibn Abu Ra’fi’e, lalu Shohifah Kamilah Sajjadiyyah dari Imam Ali Zainal Abidin a.s.”
Syeikh An-Najasyi menyatakan bahwa generasi pertama adalah para pengarang, sebagaimana telah disebutkan, tanpa menerangkan siapa yang lebih dahulu, juga tidak menjelaskan urutan-urutan mereka. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan nama-nama mereka tanpa menerangkan urutan yang tegas. Mungkin Ibnu Syahrasyub telah menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan.
Sebuah catatan di akhir pasal ini ialah bahwa Al-Jahidz Adz-Dzahabi tatkala menyinggung riwayat hidup Aban ibn Taghlab, memberikan kesaksian bahwa mazhab Syi’ah di kalangan tabi’in dan generasi setelah tabi’in amat berkembang dan dikenal dengan ketaatan, warak dan kejujuran. Lalu mengatakan: “Jika ucapan-ucapan mereka itu ditolak, maka akan banyak hadis-hadis Nabi saw. yang tercampakkan. Ini sebuah konsekuensi yang jelas keliru dan merugikan.”
Saya katakan, renungkanlah kesaksian Al-Jahidz ini, dan ketahuilah kemuliaan pada kepeloporan nama-nama mereka yang telah kami bawakan di sini dan nama-nama yang akan kami sebutkan setelah ini, yaitu dari kaum tabi’in Syi’ah dan generasi Syi’ah setelah mereka.
Pasal Keempat
Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis
di Pertengahan Abad Kedua
Dari kaum Syi’ah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taghlab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.
Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Nabi saw. Jabir mengatakan: “Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Nabi saw. dari jalur Ahlul Bait a.s.”
Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A’yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu’min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Abdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja’ Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Ab-dullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah singgung kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta’sisusy Sy’ah li Fununil Islam.
Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab yang masih utuh dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s.
Pasal Kelima
Tentang Orang Pertama dari Kaum
Syi’ah yang Menyusun Kitab Hadis Setelah
Pertengahan Abad Kedua
Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Ushul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi dalam kitabnya, A’lamul Wara’, mengatakan: “Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan, bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh besar yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syi’ah dengan nama Al-Ushul. Kemudian, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh para sahabat putra beliau; Imam Al-Kadzim a.s.”
Abul Abbas Ahmad ibn ‘Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa ‘an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Bahkan, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing dalam bab ‘Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq’ dari kitabnya; Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam a.s.
Pasal Keenam
Tentang Jumlah Kitab yang Dikarang oleh
Orang Syi’ah tentang Hadis dari Jalur Ahlul Bait,
Sejak Masa Imam Ali bin Abi Thalib Sampai Masa
Imam Hasan Al-Askari a.s.
Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melampaui angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail, dan ia menyatakan jumlah tersebut secara tegas pada bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, yaitu Wasailusy Syi’ah ila Ahkamisy Syari’ah. Tentang semua ini, saya juga telah membawakan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi dalam kitab saya yang berjudul Nihayatud Dirayah fi Ushuli Ilmil Hadis.
Pasal Ketujuh
Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar’ie Kaum Syi’ah
Ketahuilah bahwa tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang pertama ialah Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat sebanyak 16099 hadis beserta sanad-sanadnya.
Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis menge-nai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.
Ketiga adalah Muhammad ibn Al-Hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah.
Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah ‘anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syi’ah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majelisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.
Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupa-kan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berke-naan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usainya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu.
Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-‘Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syeikhusy Syuyukh (guru para guru). Ia menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi’ah ila Tahshil Ahadits Asy-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab Fiqih.
Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syi’ah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad Al-‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus-Khurasan (sebuah propinsi di bagian barat Iran)
Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nurie telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi’ah, dan menyu-sunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi’ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasailusy Syi’ah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syeikh An-Nurie ini meru-pakan kitab hadis Syi’ah yang paling besar, di mana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.
Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulam-ulama besar hadis Syi’ah. Di antaranya ialah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.
Selain Al-‘Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Athhar yang disusun Syeikh Qosim ibn Muham-mad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Ia hidup semasa dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi’ah sebagaimana telah dising-gung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.
Selain itu adalah kitab Jami’ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Ahmad ibn Abu Jami’ Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-‘Amili. Ia menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad keepuluh Hijriyah.
Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Asy-Syifa fi Hadis Alil Mushtafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syeikh Muhammad Ar-Ridha, putra seorang ahli fiqih; Syeikh Abdullatif At-Tabrizi. Ia telah menuntaskan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.
Selain itu adalah kitab Jami’ul Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah ibn Sayyid Muhammad Ar-Ridha Asy-Syubbari Al-Kadzimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syi’ah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Al-Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayyid Muhammad Ar-Ridha wafat di Kadzimain pada tahun 1242 H.
Pasal Kedelapan
Kepeloporan Kaum Syi’ah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membaginya ke Beberapa Cabang Utama
Orang pertama yang memulai perintisan dan penggagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakim yang lahir di Naysabur (Khurasan-Iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Ia wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Ma’rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membagi ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang.
Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu Dirayah, dan mengatakan: “Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah.”
Sementara itu, Al-Jahidz As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahwa orang pertama yang menyu-sun macam-macam ilmu Hadis dan membaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenal sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Ia wafat pada tahun 643 H.
Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang baru saja kami bawakan. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syi’ah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syi’ah. Syeikh As-Sam’ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas kesyi’ahan Al-Hakim.
Bahkan dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Ia berkata: ‘Ia adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang Syi’ah yang penyimpang’”. Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: “Lalu Ibnu Thahir berkata: ‘Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syi’ah yang fanatik dalam taqiyah-nya, namun ia menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Ia berseberangan dengan Muawiyah dan sanak keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak bisa diterima pendiriannya ini.’”
Pada hemat saya, ulama-ulama kami, Syi’ah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi’ah. Di dalam Ma’alimul Ulama di bab ‘Al-Kuna’, ia menukil dari Ibnu Syarasyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syi’ah, dan ia memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlul Bait serta sebuah kitab khusus tentang keutamaan-keutamaan Imam Ar-Ridha a.s. Mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya khusus berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.
Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara rinci dalam kitabnya; Riyadul ‘Ulama, di bagian pertama yang secara khusus membahas Syi’ah Imamiyah. Begitu juga, Afandi menyebutkan nama-nya dan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya di bab ‘Al-Alqob’ dan di bab ‘Al-Kuna’. Di dalam kitab itu, ia menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Ushul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: “Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlul Bait yang tidak termaktub di dalam Shahih Al-Bukhari, seperti hadis ‘Ath-Thoirul Masywi’ dan hadis ‘Man Kuntu Maulahu.’”
Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul Fadhail. Dialah peletak istilah-istilah hadis Syi’ah Imamiyah berkenaan dengan pembagian hadis kepada empat macam; shahih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibnu Tawus wafat pada tahun 673 H.
Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Ia mengarang kitab Syarh Ushul Dirayatul Hadis. Ia juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah.
Dan di antara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdul Shomad Al-Haritsi Al-Hamadani; pengarang kitab Wushulul Akhyar ila Ushulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-‘Amili; pengarang kitab Muqod-dimatul Muntaqo dan Ushul Ilmil Hadis, dan Syeikh Bahauddin Al-‘Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. Saya telah menyarahi kitab terakhir ini dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dan dicetak di India sampai menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pen-didikan agama.
Pasal Kesembilan
Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Rijal
dan Riwayat Hidup Para Perawi
Ketahuilah bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja’far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh fiqih Syi’ah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana ia mengatakan: “Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-‘Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.”
Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Ia mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H.
As-Suyuthi dalam Al-Awail mengatakan: “Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu’bah.” Jelas, bahwa Syu’bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, karena yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu’bah, terdapat sahabat Imam Al-Jawad a.s. yang bernama Abu Ja’far Al-Yaqthini. Ia menulis Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Al-Fehrest dan Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest.
Saya bubuhkan di sini, bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlul Bait, yaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Bahkan, ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Al-Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Kitab itu juga memuat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta’dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi), sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal.
Lalu, Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi yang mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot. Abu Ja’far wafat pada tahun 274 H.
Lalu, Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syi’ah. Ia mengarang kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H.
Lalu, Syeikh Abu Ja’far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma’rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Ia wafat pada tahun 381 H.
Lalu, Syeikh Abu Bakar Al-Ji’ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ia merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah. Al-Ji’ani mengarang kitab Asy-Syi’ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahwa kitab itu dikarang dalam ukuran besar.
Lalu, Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan wafat pada tahun 274 H.
Lalu, Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Ia mengarang kitab Ma’ri-fatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah. Ia wafat pada tahun pada abad ketiga Hijriyah.
Lalu, Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal; pengarang kitab Ar-Rijal. Ia berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.
Lalu, Sayyid Abu Ya’la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-Hasan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa ‘an Ja’far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: “Kitab ini bagus, dan At-Tal’akbari meriwayatkan sertifikat pengakuan dan pengesahan darinya”. Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syi’ah abad ketiga Hijriyah.
Lalu, Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab bagus yang berjudul Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.
Lalu, Al-Musta’thof Isa ibn Mehran; pengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syi’ah, demikian dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest.
Berikutnya, di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya mereka masih menjadi rujukan dalam upaya menilai kualitas pribadi para perawi (Al-jarah wa Ta’dil).
Perlu dibubuhkan di sini, bahwa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu’jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyah.
June 4, 2010, 4:23 am/sumber:http://musakazhim.wordpress.com/
Liburan telah tiba....adakah liburan bagi anak-anak Gaza..???...

Langkah itu sengaja dilakukan Hamas dalam rangka mengurangi tekanan blokade terhadap anak-anak dan remaja.
Ketua Komisi Kamp Musim Panas Departemen Olahraga dan Pemuda Palestina di Gaza, Jamal Al-Aqili, dalam wawancaranya dengan Televisi Al-Alam, Sabtu malam (26/6/2010) mengkonfirmasikan kondisi parah yang dialami para pelajar, menyusul aksi blokade rezim Zionis Israel terhadap Jalur Gaza. Ia juga mengatakan, "Rezim Zionis Israel juga menghalangi masuknya bantuan untuk anak-anak. Anak-anak di Gaza benar-benar tertekan akibat brutalitas Israel yang menggugurkan anggota keluarga dan kerabat mereka. Untuk itu, Hamas berinisiatif membuat kamp liburan musim panas menghibur anak-anak Gaza."
Al-Aqili menambahkan, "Kamp-kamp itu selain menyediakan fasilitas yang dapat menghibur anak-anak, juga menfasilitasi mereka untuk menuntut ilmu dan membangun kepercayaan diri." (IRIB/AR/LV/27/6/2010)Israel Menyerah..!!!!...

Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu didesak oleh para purnawirawan jenderal militer rezim Zionis untuk menuruti tuntutan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) demi membebaskan Gilad Shalit, tentara Zionis yang ditangkap oleh gerakan muqawama Palestina. Koran Asharq Alawsat melaporkan, 72 persen warga Israel menyetujui pemenuhan syarat bagi pembebasan Gilad Shalit dari Hamas. Bahkan jika tuntutan yang diminta Hamas sangat berat sekali pun.
Di saat yang sama, para purnawirawan militer Israel juga berpendapat bahwa militer Zionis yang mengirim Shalit untuk berperang maka mereka juga harus menjamin keselamatannya. Dengan cara seperti ini, para personil militer Israel mengetahui bahwa para panglima dan pejabat tinggi Tel Aviv sangat memperhatikan keselamatan mereka.
Dalam hal ini, mantan menteri peperangan dan kepala staf gabungan Israel, Shaol Mofaz, menuding militer Israel gagal dalam perang membebaskan Shalit. Menurutnya, pihak yang kalah harus membayar mahal kegagalannya, dan militer Israel harus bertanggung jawab atas keselamatan Shalit.
Emir Perets, mantan menteri peperangan Israel juga mengatakan, "Sejak hari pertama penahanan Shalit saya sudah mengatakan bahwa kita harus segera menandatangani kesepakatan dengan Hamas. Jika waktu itu pemerintahan Olmert mendengarkan saya, tentu harga yang harus dibayar lebih ringan daripada yang harus dikeluarkan sekarang."
Di lain pihak, mantan ketua dinas rahasia Israel (Mossad), Dany Yatum juga menegakan bahwa pengalaman panjang dirinya dengan lembaga-lembaga "teroris" Palestina menunjukkan bahwa lebih baik untuk menyerah di hadapan persyaratan Hamas sekarang daripada diulur-ulur. Bahkan menurutnya, militer Zionis harus melakukannya sekarang meski ini berarti pengakuan kekalahan.
Sebelumnya, rezim Zionis Israel selalu mengulur-ulur waktu dalam proses pertukaran tawanan dengan Hamas. (IRIB/MZ/PH/27/6/2010)
Militer AS-Israel Bicarakan Nuklir Iran
Seorang perwira tinggi militer Amerika Serikat tiba di Tel Aviv untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Israel terkait kerjasama militer kedua pihak.
Kepala Staf Gabungan Militer AS, Laksamana Mike Mullen melakukan kunjungan mendadak ke Israel pada hari Ahad (27/6/2010) dalam perjalanan pulang dari pertemuan di Afghanistan dan Pakistan.
Ia dijadwalkan bertemu Menteri Peperangan Israel Ehud Barak dan para pejabat pertahanan dan juga akan berunding dengan militer Israel selama kunjungan singkatnya ini.
"Ini adalah kunjungan yang sangat singkat, Mullen akan bertemu dengan Menteri Peperangan Ehud Barak dan Kepala Staf Militer Israel Gabi Ashkenazi serta beberapa pejabat departemen pertahanan Israel," kata jurubicara kedutaan Besar AS di Tel Aviv seperti dilansir AFP.
Seorang jurubicara militer Israel mengatakan pertemuan itu akan memfokuskan pada masalah kerjasama militer kedua pihak dan tantangan yang mereka hadapi.
Mereka juga akan membahas masalah penurunan hubungan antara Israel dan Turki menyusul serangan Tel Aviv terhadap konvoi bantuan kemanusiaan Gaza di perairan internasional pada 31 Mei lalu.
Menurut koran Jerusalem Post, para pejabat Israel mengatakan bahwa kedua pemimpin militer akan membicarakan program nuklir Iran dan situasi di Suriah dan Lebanon. (IRIB/RM/SL/27/6/2010)
Netanyahu, Pasien Yang Kalahkan Dokter Pribadinya
Psikiater Israel melakukan aksi bunuh diri dan meninggalkan sebuah catatan yang menyatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai penyebab kematiannya.
Sebagaimana dilaporkan Fars mengutip situs kantor berita Al Jazeera yang ditulis oleh Michael K. Smith disebutkan, "Moshe Yatom, seorang psikiater terkemuka Israel yang berhasil menyembuhkan berbagai jenis penyakit mental sepanjang karirnya, ditemukan tewas di rumahnya di Tel Aviv pada tanggal 13 Juni 2010, dan sepertinya ia tewas setelah menembakkan peluru ke arahnya sendiri. Sebuah catatan bunuh diri di sisinya menjelaskan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang telah menjadi pasiennya selama sembilan tahun lalu, "telah mengakhiri hidupku."
Dalam catatannya itu, Yatom menulis, ""Saya tidak tahan lagi. Perampokan adalah keselamatan, Apartheid adalah kebebasan, aktivis perdamaian adalah teroris, pembunuh adalah pembela diri, pembajakan adalah legalitas, bangsa Palestina adalah warga Yordania, aneksasi adalah pembebasan, tak ada akhir atas kontradiksi-kontradiksi ini. Freud berjanji bahwa rasionalitas akan memerintah dalam nafsu insting, tapi ia belum pernah bertemu Benjamin Netanyahu. Orang ini (Netanyahu) akan mengatakan bahwa Gandhi telah menemukan senjata roti kalung."
Berdasarkan laporan ini, para psikiater dengan tendensi manusia, memproses kebenaran untuk menghindari konfrontasi emosional dengan masalah-masalah yang rumit, namun Yatom sepertinya tertegun dengan apa yang disebutnya "Air terjun kebohongan." Air terjun ini memancar dari pasien Yatom yang paling terkemuka (Netanyahu).
Buku harian Yatom merinci disintegrasi kepribadian psikiater Israel ini selama berkali-kali yang sebelumnya tidak pernah goyah dan akhirnya kehilangan stabilitas di bawah arus justifikasi rasionalisasi Netanyahu.
"Aku benar-benar terkejut," kata Yossi Bechor, tetangga Yatom. "Moshe adalah seorang yang punya kepribadian sempurna, dan sebelum ia memulai mengobati Netanyahu, Moshe telah menyembuhkan beberapa pasien penderita skizofrenia. Ia sama sekali tidak menyinggung bahwa Netanyahu berbeda dengan pasien-pasien lain."
Laporan ini menambahkan, Namun sepertinya kasus itu berbeda dengan kasus pasien-pasien lain. Yatom semakin tertekan karena tidak berhasil mendorong Netanyahu untuk memahami realita. Dan akhirnya ia mengalami beberapa kali pingsan saat ia berusaha untuk memahami pikiran-pikiran Netanyahu, yang disebutnya dalam satu catatan harian sebagai "Lubang hitam kontradiksi."
Pingsan pertama Yatom terjadi ketika Netanyahu menyatakan bahwa serangan 11 September ke Washington dan New York adalah baik. Pingsan kedua terjadi dalam sebuah pertemuan ketika Netanyahu bersikeras bahwa Iran dan Nazi Jerman adalah identik. Dan yang ketiga terjadi setelah Perdana Menteri Israel ini menyebut program nuklir Iran sebagai sebuah "kamar gas yang terbang," dan menyatakan bahwa semua orang Yahudi di seluruh dunia tinggal secara permanen di kamar gas di Auschwitz.
Upaya Yatom untuk menenangkan gangguan jiwa Netanyahu itu sangat melelahkan secara emosional dan upaya ini berakhir dengan kegagalan.
"Alasan Netanyahu selalu sama," keluh Yatom dalam catatan lainnya. Netanyahu berkata, "Orang-orang Yahudi berada di ambang kehancuran di tangan orang-orang non-Yahudi ( Goyim) yang rasis dan satu-satunya cara atas masalah ini adalah melaksanakan sebuah pembantaian terakhir."
Menurut laporan ini, Yatom rupanya tengah berusaha menjadikan catatan-catatan hariannya tentang Netayahu sebagai sebuah buku. Beberapa bab dari sebuah naskah yang belum selesai ini diberi judul "Psikotik pada Steroid," dan ditemukan di ruang kerjanya.
Kutipan-kutipan di bawah ini berhubungan dengan pandangan dan pikiran Netanyahu.
Senin, 8 Maret
"Netanyahu datang untuk menghadiri pertemuan sesi siang pukul: 15:00. Pada pukul 16:00, Natanyahu menolak untuk meninggalkan rumah saya dan mengaku bahwah rumah saya adalah miliknya. Lalu dia mengurung saya di ruang bawah tanah sepanjang malam, kemudian ia berpesta bersama rekan-rekannya di lantai atas. Ketika saya mencoba melarikan diri, dia menyebut saya seorang teroris dan memborgol saya. Aku meminta maaf kepadanya, tapi dia mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak bisa memberikan maaf kepada seseorang yang bahkan tidak ada wujudnya."
Michael K. Smith adalah penulis buku "Portraits of Empire" dan " The Madness of King George," dari penerbit Common Courage. (IRIB/Fars/RM/MF/21/6/2010)Ban: Seluruh Anggota PBB Wajib Tandatangani NPT

Sekjen PBB menandaskan, "Hingga kini masih tersisa banyak PR dan kita harus membahasnnya dalam konferensi Washington dan pertemuan bulan depan para anggota NPT di Markas Besar PBB."
Menyinggung program pelucutan senjata nuklir di Timur Tengah, Ban mengatakan, rencana itu hingga kini belum berhasil karena berbagai alasan dan salah satu alasan penting adalah kedudukan politik proses perdamaian Timur Tengah.(irib/13/4/2010)Fong kong alias palsu...???!!!....
BANJARMASINPOST.CO.ID, TORONTO - Presiden AS Barack Obama menegaskan keinginannya untuk tetap berkunjung ke Indonesia meski dua kali membatalkan rencana lawatannya karena sejumlah masalah dalam negeri yang harus diselesaikannya. Namun, kali ini ia tidak menjanjikan kapan akan ke Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Obama saat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah acara sarapan pagi bersama yang berlangsung di salah satu ruangan pertemuan bilateral Metro Toronto Convention Center (MTCC), Toronto, Minggu (27/6/2010) pagi waktu setempat.
Obama yang memulai pertemuan dengan mengucapkan "good morning-selamat pagi" menyatakan bahwa Presiden Yudhoyono merupakan tokoh penting dan berpengaruh khususnya dalam penanganan perubahan iklim. Ia kemudian mengatakan bahwa telah dua kali membatalkan kunjungannya ke Indonesia karena masalah dalam negeri dan berjanji akan datang ke negara tempat ia pernah melewatkan masa kecilnya.
Presiden Yudhoyono saat bertemu Obama didampingi oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menlu Marty Natalegawa, dan staf khusus presiden bidang luar negeri Dino Pati Djalal. Media massa hanya meliputi awal pertemuan kedua pemimpin selama tiga menit selanjutnya kedua pemimpin negara melanjutkan pembicaraan mereka secara tertutup. Pertemuan dimulai pada pukul 08.20 waktu Toronto atau pukul 19.20 WIB jelang pembukaan pertemuan G-20 Summit.
(kompas.com,Banjarmasinpost.co.id - Senin, 28 Juni 2010 )
BANJARMASINPOST.CO.ID, BLOEMFONTEIN - Fong Kong, frase itu amat populer di Afrika Selatan (Afsel), terutama selama Piala Dunia 2010. Bahkan, kini makin menjamur. Fong kong adalah frase yang digunakan warga Afsel untuk menyebut barang palsu atau tiruan, atau orang yang suka bohong.
Frase ini mulai populer pada 2000, seiring masuknya banyak barang tiruan. Selama Piala Dunia, banyak barang tiruan yang dijual luas. Dari baju tim peserta, kacamata, topi, sampai vuvuzela. Kebanyakan barang palsu itu buatan China.
"Sekarang banyak barang tiruan. Kami menyebutnya fong kong," jelas Chris Mullins, warga Eesterust.
Banyak barang brand-brand terkenal yang ditiru. Bahkan, kaus ofisial tim peserta Piala Dunia 2010 dijual di pasaran bebas. Di pasar Bruma, Johannesburg, pengunjung sering ditawari pedagang.
"Tuan, Anda mau kaus resmi Piala Dunia? Murah, cuma 300 rand," begitu pedagang menawarkan dagangan. Begitu dicek memang ada label seperti kaus resmi. Tapi, sebenarnya barang itu fong kong alias palsu. Apalagi, harganya tak rasional. Sebab, kaus resmi bisa mencapai 1000 rand dan hanya dijual di official fan shop atau toko besar.
Piala Dunia memang mendatangkan banyak rezeki, termasuk buat para peniru alias produsen fong kong.
(kompas.com,Banjarmasinpost.co.id - Senin, 28 Juni 2010)
Indonesia bikin satelit baru..!!!....Rezim Mesir harus diganti....kenapa..???...

Sebagaimana dikutip Antara, Dr. Rika menambahkan, "Saat ini Lapan sedang mempersiapkan dengan matang rencana peluncuran roket pengorbit satelit. Tapi mungkin baru akan meluncurkan satelit "nano" dengan berat di bawah 10 kilogram".
Menurut Rika Andiarti , satelit "nano" ini dapat difungsikan untuk pemantauan suhu udara maupun kelembabab udara dan -data kecil atau sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan satelit. Ia menjelaskan, "Ke depan kami targetkan mampu mengorbitkan satelit berukuran besar seperti yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi dan lainnya".
Ia mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan berbagai persiapan uji coba peluncuran roket pengorbit satelit. Dr.Rikan menambahkan,"Lima tahun ke depan kami harus sudah mampu memproduksi roket peluncur satelit berukuran besar, sehingga Indonesia tidak lagi meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit".
Jamin keamanan
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Djamasri menambahkan, dengan mengorbitkan sendiri satelit maka keamanan negara akan lebih terjamin.
Dijelaskannya, "Saat ini Indonesia masih meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit, dan ini sangat rawan karena muatan roket dan satelit bisa disusupi kepentingan negara pengorbit satelit".
Profesor Djamasri mengatakan, teknologi kedirgantaraan khusunya tentang roket sangat bermanfaat dan bisa untuk berbagai kepentingan seperti mitgasi bencana. Teknologi kedirgantaraan juga sangat mendukung untuk kepentingan pertahanan Indonesia .
Ia menegaskan, "Jika dari Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul kita mampu membuat roket dengan daya luncur antara 3.000 hingga 5.000 kilometer maka pertahanan akan semakin kokoh dan negara lain tidak akan seenaknya".
Watak Politik Muhammadiyah
Menjelang digelarnya Muktamar Muhammadiyah ke-46 awal Juli nanti, ada baiknya jika kita simak bersama tulisan Edy M. Ya'kub, dalam artikelnya yang diangkat situs kantor berita Antara mengenai sepak terjang politik Muhammadiyah.
Dalam artikelnya itu, Edy mencatat Muhammadiyah merupakan persyarikatan yang tidak pernah terlibat langsung dengan politik praktis.Tidak seperti halnya dengan Nahdlatul Ulama (NU). NU pernah menjadi partai politik yakni Partai NU (1955), maka Muhammadiyah tidak pernah mengalaminya, kecuali empat model "pernikahan" dengan parpol.
Persyarikatan yang didirikan di kampung Kauman, Yogyakarta pada 18 November 1912 atau bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriah itu pernah melakukan "pernikahan resmi" dengan parpol ketika menjadi anggota istimewa dari Masyumi.
Namun, gerakan Islam modernis yang didirikan KH Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis itu juga pernah melakukan "pernikahan siri" dengan parpol ketika pendirian Parmusi (Tanwir Ponorogo).
Selain itu, Muhammadiyah pernah melakukan "nikah mut`ah (kontrak)" ketika sebagian pengurusnya terlibat dalam pendirian PAN, tapi akhirnya ditinggalkan parpol bentukan Amien Rais itu.
Model paling akhir justru bukan "pernikahan", melainkan "perceraian" organisasi pemurnian dan pembaruan Islam itu dengan parpol sebagaimana dirumuskan dalam Tanwir Denpasar (2001).
"Relasi Muhammadiyah dengan parpol itu sebenarnya sudah cukup jelas, karena Muhammadiyah secara historis tidak boleh berpolitik praktis," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsudin, di Surabaya (16/3/2010).
Setelah menjadi pembicara utama dalam seminar pramuktamar di Gedung PW Muhammadiyah Jatim, ia mengatakan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah itu mencakup seluruh bidang kehidupan, termasuk politik.
"Tapi, politik dan partai politik itu berbeda. Sejak sidang tanwir di Denpasar pada tahun 2001, Muhammadiyah bertekad mengintensifkan politik kebangsaan, sehingga Muhammadiyah tetap terlibat dalam politik," katanya.
Sedari Sidang Tanwir Denpasar itu, Muhammadiyah sudah memutuskan tidak ada hubungan struktural dan afiliasi dengan parpol mana pun.
"Masalahnya, memang terletak pada penerapan terkait era sekarang yang bersifat multipartai. Ada yang berharap netralitas Muhammadiyah itu pasif, tapi kita sudah sepakat dengan netralitas aktif," katanya.
Dalam netralitas aktif itu, katanya, Muhammadiyah akan ke mana-mana, sehingga keterlibatan warga Muhammadiyah dalam politik praktis akan ada di PAN, PMB, PPP, Golkar, PDIP, Partai Demokrat, dan sebagainya.
"Jadi, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam tidak mungkin untuk tidak berpolitik, karena Islam juga mengatur segala aspek kehidupan, termasuk politik, tapi khusus politik praktis akan ke mana-mana," katanya.
Amar makruf nahi munkar
Secara historis, politik yang melekat pada Muhammadiyah adalah politik kebangsaan yang sering disebut dengan politik "amar makruf nahi munkar" (mengajak ke kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Bahkan, para pemimpin terdahulu di Muhammadiyah sangat aktif berpolitik seperti KH Ahmad Dahlan di Budi Utomo atau KH Mas Mansur dalam BPUPKI. Din Syamsudin menuturkan, "Artinya, Muhammadiyah itu tidak segan-segan menjadi pengeritik paling depan jika pemerintah bertindak salah, tapi Muhammadiyah juga akan menjadi pendukung terdepan jika pemerintah memang benar," kata.
Oleh karena itu, katanya, Muktamar Satu Abad di Yogyakarta akan menjadi pertaruhan gerakan penjaga "perjalanan" sejarah bangsa itu dalam memberikan sumbangsih untuk bangsa dan negara.
Pandangan senada diungkapkan Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh (LAZIS) PP Muhammadiyah, Hajriyanto Y. Tohari, yang juga salah seorang politikus Muhammadiyah.Ia menyatakan, "Secara organisasional, Muhammadiyah memang menyatakan dirinya sebagai tidak memiliki afiliasi politik dengan partai politik mana pun, tidak berpolitik praktis, dan membebaskan warganya untuk memilih dalam pemilihan umum atau pilkada".
Masalah itu sudah selesai dan sudah berjalan bertahun-tahun, sehingga tidak ada seorang pun warga atau aktivis Muhammadiyah yang menyatakan keinginan untuk mengubahnya dalam Muktamar ke-46 di Yogyakarta pada 3-8 Juli 2010. Ketua LAZIS PP Muhammadiyah itu menjelaskan, "Parpol itu sangat penting dan strategis, termasuk untuk menegakkan dakwah Islam melalui tangan negara, tapi wilayah yang penting itu sengaja tidak dipilih oleh Muhammadiyah yang sejak kelahirannya telah memosisikan diri sebagai gerakan Islam nonpolitik".
Hal itu, katanya, karena Muhammadiyah menyadari bahwa persentuhan dengan dunia politik itu cukup rumit.
"Sekali melibatkan diri dalam pergumulan politik kekuasaan, ketika itu pula centang-perenang dan konflik di dalam maupun keluar akan terjadi, yang pada akhirnya membuat gerakan Islam ini kehilangan kepribadian," katanya.
Namun, katanya, Muhammadiyah tidak boleh alergi dengan politik atau kekuasaan. Ia mengingatkan, "Yang perlu dijaga hanyalah bagaimana agar kita tidak terjebak oleh isu-isu politik praktis yang tidak menguntungkan. Berpikir strategis dalam rangka menatap masa depan".
Agaknya, watak persyarikatan Muhammadiyah dalam relasi dengan politik adalah "amar makruf nahi munkar" yakni tidak berpolitik praktis, tapi berperan kritis dalam perpolitikan nasional.(irib/27/6/2010)
Shibani , Sabtu malam (26/6/2010) menegaskan, "Program pengiriman kapal bantuan Gaza oleh instansi pemerintah dan lembaga-lembaga sipil tetap masuk dalam agenda kerja." Dikatakannya, kapal pengangkut bantuan ke Gaza akan bergerak menuju Gaza setelah adanya koordinasi dengan para pejabat Mesir.
Dalam kesempatan itu, Shibani menyebut berlanjutnya pengiriman kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza sebagai langkah yang bisa terus menciptakan opini umum anti-Zionis Israel. Dengan pengiriman intensif ke Gaza, Rezim Zionis Israel benar-benar terpojok.
Sejak Januari tahun 2007, Rezim Zionis Israel memblokade Jalur Gaza dengan tujuan menggulingkan pemerintah Hamas. Semua kebutuhan utama seperti bahan makanan, bahan bakar dan obat-obatan dilarang masuk ke wilayah yang jumlah penduduknya mencapai 1,5 juta warga. (IRIB/AR/LV/27/6/2010)

George Ishaq, salah seorang tokoh gerakan al-Kifayah Mesir mengenai demonstrasi hari Jum'at lalu di kota Iskandariah kepada televisi al-Alam mengatakan, "Kami akan terus mengupayakan penghentian aksi penyiksaan dalam struktur pemerintahan Mesir. Demonstrasi yang digelar untuk mengecam pembunuhan Khaled Said oleh polisi lewat penyiksaan, diikuti oleh seluruh kelompok oposisi."
Seperti diberitakan, belum lama ini polisi Mesir menangkap dan menyiksa Khaled Said, pemuda berusia 20 tahun yang memasang rekaman film di internet tentang maraknya perdagangan narkotika di kalangan polisi Mesir. Khaled meninggal setelah disiksa. (IRIB/AHF/27/6/2010)
Hosseini menjelaskan, penghapusan hambatan perdagangan dan penurunan tarif dagang antar negara Islam dapat membantu memudahkan proses perdagangan luar negeri negara-negara Islam. Selain itu Iran mengusulkan sosialisasi model finansial dan perekonomian Islam yang bersumber pada ajaran syariat.
Menurutnya, kapasitas dan pengalaman model perekonomian Islam yang terbukti berhasil bisa menjadi peluang untuk mengenalkan sistem perbankan Islam sebagai model yang sukses di dunia perbankan, dan hal ini perlu menjadi bagian dari kinerja Bank Pembangunan Islam.
Menteri Perekonomian Iran lebih lanjut menyampaikan beberapa hal mengenai pemberian pinjaman dan bantuan keuangan untuk negara-negara anggota yang terkena krisis, kerjasama perdagangan bursa antara negara-negara Islam, tukar pengalaman antara negara anggota, dan pembentukan sebuah Dana Moneter Islam yang menyertakan negara-negara Muslim. (IRIB/AHF/27/6/2010)