Showing posts with label Jepang. Show all posts
Kalau orang bicara yang positif tentang Republik Islam Iran, atau sekedar meluruskan berita, konotasinya langsung ke Sunni-Syiah. Heran. Mengapa kalau orang bicara yang bagus-bagus soal Jepang kok tidak dikatai membela agama Shinto ya? Kalau bicara Positif tentang KOREA, kenapa tidak dibilang membela agama BUDHA / ATHEIS
Menjelang Pilpres Iran beberapa pekan lagi, tiba-tiba di FB muncul link soal Iran, yang merujuk ke sebuah artikel di Kompasiana berjudul provokatifSedang Berada di Negara Islam, Tapi Pak Dahlan Iskan Tidak Bisa Jumatan??
KESEKSIAN IRAN by Dina Sulaeman
Artikel itu mengutip beberapa bagian dari catatan perjalanan Dahlan Iskan ke Iran. Ada 3 poin yang dikutip si Kompasianer: soal sholat Jumat (ceritanya, saat pak DI tiba di Bandara Internasional Imam Khomeini, waktu sholat Jumat sudah tiba. Pak DI pingin Jumatan, tapi tidak ada masjid di bandara yang menyelenggarakan sholat Jumat, karena di Teheran, Jumatan cuma diselenggarakan di Universitas Tehran, sekitar 2 jam dari bandara), soal hijab perempuan Iran (ada yang rambutnya kliatan), dan soal adanya Coca Cola di Iran. Tiga cerita itu dikutip dalam konteks menyindir: kok di negara Islam begitu ya..??
Mungkin berkat link di FB itu pula, hanya dalam sehari (padahal itu artikel lama, 12 September 2012), pembacanya langsung melonjak jadi 6000-an (kemarin saat saya kasih komen di artikel itu, masih 4000-an). Iran sepertinya memang negara seksi, banyak dipuji, banyak dicaci, tapi berita soal Iran terus dicari.
Menanggapi artikel itu, saya memberikan tanggapan berikut:
Salam. Saya pernah tinggal di Iran 8 th (1999-2007), bekerja sebagai jurnalis di IRIB. Perkara sholat Jumat, di Iran memang sholat Jumat dianggap sebagai upaya konsolidasi politik. Jadi, di satu kota, sholat Jumat akan dipusatkan di satu tempat. Artinya, masjid tak mungkin menampung. Di Teheran, shaf sholat Jumat panjangnya berkilo-kilo meter, pusatnya di sebuah halaman luas Universitas Teheran, lalu meluber ke jalanan di sekelilingnya. Khutbah yang disampaikan pun isinya selain masalah akhlak, juga masalah politik terkait isu-isu aktual. [Di Teheran, warga Sunni bisa Jumatan di Pakistan School atau orang Indonesia bisa Jumatan di embassy]Terkait baju, perempuan di Iran apapun agama dan bangsanya (termasuk turis asing yang Iran), wajib berjilbab. Namun, model jilbab yang dipakai akan sesuai dengan kesalehan masing-masing. Ada yang berjilbab dg serius karena menyadari itu kewajiban, ada yang juga yang asal-asalan, yang penting ada kerudung nempel di kepala. Tidak seperti yang diberitakan media Barat :”ada sikap reprsif pemerintah”, yang ditulis pak Dahlan justru bukti bhw pemerintah memang tdk represif. Paling-paling secara berkala diturunkan polisi2 wanita utk menasehati perempuan di jalan2 yg jilbabnya ga bener (tdk ditangkap atau direpresi).Soal Coca-Cola dll minuman itu, memang benar ada. Tapi saya sudah tanya ke org Iran, ada yg bilang itu merek palsu (dibikin2 saja oleh org Iran, kan org Iran tdk mengikatkan diri ke aturan WTO), ada juga yg bilang asli. Wallahu a’lam. Yang jelas, orang Iran itu umumnya sangat sadar politik: yang mereka benci dan tentang adalah politik dan elit AS yang secara politis sudah menzalimi mereka. Tapi, org AS/Barat sebagai individu tetap mrk hormati. Karena itulah saya menemukan org2 AS studi di Iran (salah seorangnya dulu tetangga saya), dan banyak turis-turis bule yg datang ke Iran.Sekalian info deh, saya sudah menuliskan pengalaman saya itu di buku berjudul Journey to Iran.
Lalu, lewat inbox FB, malah ada yang menanggapi komen saya itu, nanya-nanya soal Syiah. Saya jawab,
Saya ini bukan ahli masalah agama, jadi saya tidak bisa komen banyak soal Sunni-Syiah. Tapi, saya penulis dan analis yang consern di politik Timur Tengah, jadi mau tak mau saya mengamati masalah Iran. Apalagi saya lama tinggal di sana, karena itulah saya tahu banyak ttg Iran dan ‘bersuara’ ketika ada pemberitaan yang janggal. Sama saja, orang Indonesia yang tinggal di Jepang, AS, atau Jerman, kan sering juga menulis berbagai hal positif dalam kehidupan di sana.
Begitulah, kalau orang bicara yang positif tentang Iran, atau sekedar meluruskan berita, konotasinya langsung ke Sunni-Syiah. Heran. Mengapa kalau orang bicara yang bagus-bagus soal Jepang kok tidak dikatai membela agama Shinto ya?
Anyway, saya ingin cerita soal pilpres Iran (karena saya mampu mengakses berita berbahasa Persia). Semua orang di Iran berhak untuk mencalonkan diri jadi presiden, asal warga negara asli Iran dan minimalnya 10 tahun terakhir berdomisili di Iran, usianya di atas 18 tahun, dan berpendidikan minimal SMP. Jadi, nggak heran kalau yang daftar itu ratusan orang. Apalagi, nggak pakai duit atau harus ada dukungan parpol. (Tapi kalau mendaftar untuk jadi anggota DPR, minimal harus S2, atau S1 tapi punya pengalaman kerja profesional; kerja di sini konotasinya adalah ‘kerja’ bukan bukan artis kayak di Indonesia yang rame-rama nyaleg). Nah, ini nih foto-foto suasana pendaftaran calon presiden Iran (Mei 2013), sumbernya di sini (berbahasa Persia):

INI GEDUNG TEMPAT PENDAFTARAN CALON PRESIDEN





Lalu, tentu saja, para pendaftar itu akan di-screening oleh KPU-nya Iran (istilahnya: Syura-ye Negahban). Ada ujian tertulis juga lho. Bisa dipastikan yang lolos tentu saja kandidat-kandidat yang sudah lama malang-melintang dalam dunia politik atau profesional Iran.
Nah, setelah lolos screening dan jadi kandidat resmi, barulah mereka berkampanye. Enam stasiun TV di Iran memberikan kesempatan gratis untuk para capres berkampanye. Jadi, capres yang miskin pun tetap bisa kampanye, dan porsi kampanye tiap capres akan sama rata.
Peran Istri Politisi Iran
Biasanya ‘seksi’ berkonotasi dengan perempuan. Tapi saya tidak bermaksud membicarakan itu. Ini hanya menjawab pertanyaan seorang teman: istri-istri presiden Iran itu kok tidak banyak diekspos ya? Sebenarnya sih kalau di koran-koran lokal Iran ya banyak juga. Antara lain inilah istri para kandidat presiden dalam Pilpres Iran 2013; sumbernya dari sini (berbahasa Inggris).

DR HAMIDEH MORAVEJ; ISTRI DARI DR. AREF, (WAPRES IRAN SEKARANG), DIA HADIR DALAM KONFERENSI PERS SUAMINYA YANG MENCALONKAN DIRI SBG PRESIDEN

TAHEREH NAZARI, SEORANG DOKTER, ISTRI DARI DR. MANUCHER MOTTAKI (MANTAN MENLU IRAN); DIA PERNAH MENJABAT SEBAGI DIRJEN URUSAN PEREMPUAN DAN HAM DI KEMENLU IRAN

ZAHRA MOSHIR, ISTRI DR MOHAMMAD QALIBAF. QALIBAF ADALAH WALIKOTA TEHRAN SEKARANG DAN ISTRINYA MENJABAT SEBAGAI DIRJEN URUSAN PEREMPUAN DI KANTOR WALIKOTA TEHRAN. QALIBAF PERNAH DITANYAI MAHASISWA SOAL GAJI ISTRINYA DAN MENJAWAB BAHWA ITU ADALAH KERJA SOSIAL DAN ISTRINYA SAMA SEKALI TIDAK DIGAJI UTK PEKERJAAN ITU.
Alhamdulillah… sebentar lagi insya Allah buku ‘Prahara Suriah’ akan terbit. Ini covernya.
Endorsments:
Layak dibaca siapa saja yang ingin mengetahui lebih jelas, dan bersikap, atas perang brutal di Suriah yang mengaduk emosi. Benarkah sesederhana konflik pemerintah Assad versus oposisi? Tirani versus demokrasi? Sunni versus Syiah? Siapa saja pemain asing yang terlibat? Tak hanya memetakan konflik Suriah lebih jelas dan rinci, Dina Sulaeman juga membongkar propaganda sesat media mainstream (baik di Barat, Dunia Arab, maupun Indonesia) dalam menyajikan “fakta” tentang Suriah.
[Farid Gaban | Jurnalis, pernah meliput Perang Bosnia]
[Farid Gaban | Jurnalis, pernah meliput Perang Bosnia]
“Melalui sajian yang enak dibaca dan mudah dicerna, Dina Y Sulaeman telah mengungkap satu fakta penting: konspirasi internasional menggusur Presiden Bashar Assad. Tidak saja melibatkan Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan sekutunya NATO, namun bahkan melibatkan negara Arab (sesama muslim).”
[Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute]
[Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute]
Dina Y. Sulaeman*
Silangsengkarut informasi terkait kasus korupsi PKS membuat saya menyimpulkan satu hal: kita umumnya memang hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar; bukan mendengar apa yang memang benar. Saya seorang facebooker. Teman facebook saya yang berjumlah 5000 orang, berasal dari berbagai kalangan. Dan ini memberikan keuntungan bagi saya sebagai penulis. Di newsfeed saya terpampang ribuan postingan dari sudut pandang yang sangat beragam. Untuk kasus PKS, para pendukung PKS sejak kemarin memposting link-link berjudul “AF minta maaf kepada PKS” atau “mengapa televisi menghentikan tayangan live setelah AF memberi kesaksian yang menunjukkan ketidakbersalahan LHI”. Sebaliknya, mereka yang kontra, akan memberikan link berita yang tidak disebut-sebut oleh para simpatisan PKS, misalnya rekaman pembicaraan LHI dan AF soal perempuan dan uang. Padahal, rekaman itu diputar dalam sidang yang sama, di hari yang sama. Seorang facebooker bahkan menulis ulang pernyataan-pernyataan elit PKS yang tadinya mengaku tidak kenal AF, akhirnya di persidangan terbukti mereka semua pernah berhubungan dengan AF.
Saya tidak akan fokus pada kasus AF-LHI ini. Yang ingin saya soroti, lagi-lagi, soal bagaimana kita menyikapi informasi. Sepertinya, kita tidak lagi menghiraukan frasa bijak ‘perhatikan apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan’. Betul, kredibilitas sumber memang berpengaruh pada kualitas informasi. Tetapi, ketika sama-sama tidak kredibel, tentu dibutuhkan kecerdasan dan akal. Sungguh tidak logis bila mengatakan Tempo atau Kompas tidak kredibel (karena dianggap terbukti berkali-kali melakukan disinformasi dalam berbagai kasus), tapi di saat yang sama, justru percaya 100% pada informasi ala twitternya TrioMacan atau twitternya entah siapa.
Dan inilah yang terjadi untuk kasus Syria yang saya cermati selama dua tahun terakhir. Saya telah menerima SMS dari seorang aktivis, sebut saja inisial A. A percaya pada analisis saya soal Syria dan mengirim SMS kepada temannya B, sesama aktivis, untuk mendiskusikan hal itu. B menjawab dengan marah:Saudara dibunuh kok ga marah? Foto keliru aja diributin. Bashar al Kalb [kalb=anjing] dibantu anjing pudel syiah bersama temannya yahudi dan orang musyrik dan kafir membantai saudara saya di suriah adalah FAKTA.
Lihatlah: bahkan untuk sesuatu yang terjadi di depan mata, di negeri sendiri, yaitu kasus PKS, kita bersilang pendapat. Informasi bertaburan, saling berlawanan, entah mana yang benar dan salah, dan semua itu membutuhkan kejelian untuk menelaahnya. Lalu, bagaimana kita bisa tahu PASTI apa yang sedang terjadi di Syria, negeri yang jauhnya 8500 kilometer dari kita? Kita merasa sangat tahu siapa itu Assad hanya dari informasi sepotong di internet, hanya dari foto-foto yang bertebaran, yang banyak terbukti ternyata palsu. Lalu kita sebarkan kebencian pada mazhab lain. Bahkan kalaupun Assad benar-benar pemimpin brutal, tak layak bila kita nisbahkan kebencian kita kepada mazhab tertentu. Sama tak layaknya bila gara-gara LHI korupsi (bila terbukti di persidangan) lalu kita membenci dan mengolok-olok semua simpatisan PKS.
Berikut ini beberapa perkembangan terbaru Syria selama bulan Mei 2013, yang menurut saya penting dicermati. Apa gunanya kita mencermati masalah Syria? Karena, sebagian muslim Indonesia merasa sangat ‘terlibat’ dengan Syria. Kita tentu tak mau, bencana yang terjadi di Syria, yang bersumber dari kebencian akut dan tak rasional itu, terjadi pula di Indonesia. Mari kita jaga Indonesia agar tetap damai. Berdebat oke, tapi jangan sampai angkat senjata, meledakkan bom, atau membakar rumah saudara sebangsa yang beda mazhab.
1. Pembongkaran makam Hujr bin Adi
Awal Mei 2013, puluhan orang yang tergabung dalam kelompok-kelompok pemberontak di Syria memorakporandakan kompleks makam Hujr Ibn Adi (salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw) di Adra, dekat ibu kota Damaskus. Mereka juga menggali makam dan membawa jenazahnya (yang dikabarkan masih utuh) ke tempat yang hingga kini masih tak diketahui. Aksi tersebut tentu saja mendapat kecaman keras dari berbagai pihak, baik dari kalangan awam, ulama, maupun sejarawan.
Di Syria memang kita bisa menemukan sangat banyak kuburan sahabat Rasulullah, termasuk Bilal bin Rabah yang terkenal itu. Makam-makam itu diperindah, dirawat, dihormati, dan dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru dunia. Kalau penghormatan pada makam dianggap bid’ah dan melanggar agama; bagaimana bila kita tanya pada diri sendiri: relakah kita bila makam ayah atau kakek kita dibongkar seenaknya oleh orang lain? Atau, akankah bangsa Indonesia diam saja bila seandainya kompleks makam pak Harto dihancurkan, makamnya dibongkar, dan jenazahnya diambil entah untuk tujuan apa? Makam tokoh-tokoh sejarah sejatinya adalah situs sejarah; yang akan menjadi pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya.
2. ‘Mujahidin’ yang memakan jantung mayat
Sebuah video mengerikan diunggah secara online pada tanggal 12 Mei 2013. Dalam video tersebut, terlihat seorang milisi pemberontak yang mengenakan perlengkapan militer, sedang menyayat bagian dada sesosok jenazah, yang disebut sebagai tentara Syria, lalu memasukkan jantung mayat itu ke mulut. Video itu terverifikasi (artinya: tidak bisa lagi dibela dengan menyebut ‘itu fitnah’). Orang di dalam video itu, si pemakan jantung, adalah Abu Sakkar, pendiri kelompok militan Farouq Brigade. Ini mengingatkan kita pada tokoh Hindun yang memakan jantung Hamzah, paman Nabi setelah perang Uhud. Apa sumber dari perilaku keji seperti ini? Tak lain: kebencian.
3. Para ‘mujahidin’ akhirnya saling bentrok
Para ‘mujahidin’ Syria sebenarnya terdiri dari banyak kelompok. Meski semua angkat senjata (dan sebagian menggunakan teknik bom bunuh diri), namun sebenarnya di antara mereka punya banyak perbedaan. Salah satu kelompok milisi yang disebut-sebut sangat kuat adalah Jabhah Al Nusrah (JN). Pada tanggal 7 April 2013 pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, merilis video berisi seruannya agar para mujahidin bersatu untuk berjihad mendirikan sebuah negara Islam. Dua hari kemudian, pemimpin Daulah Al Islamiyah Al Iraqiyah, Syaikh Abu Bakr al-Baghdadi merilis pengumuman penyatuan perjuangan jihad Irak dan Syria dalam membentuk satu pemerintahan Islam yang meliputi wilayah Syria dan Irak. Al-Julani (pemimpin JN) kemudian menjawab pengumuman ini dengan merilis video berisi rekaman suaranya. Antara lain, ia mengatakan tidak diajak berkonsultasi terkait rencana penyatuan perjuangan tersebut. Namun, al-Julani juga tidak secara tegas menentangnya. Ia hanya mengatakan bahwa pengumuman penyatuan itu prematur dan kelompoknya akan terus menggunakan nama JN, namun ia tetap menyatakan kesetiaannya pada Ayman al-Zawahiri.
Pernyataan dari Al Julani ini ternyata menimbulkan ketidakpuasan dari milisi Syria yang pro al-Baghdadi. Akhirnya, pada pertengahan Mei, terjadi pertempuran antara keduanya di Aleppo yang menewaskan lebih dari 300 orang dan banyak lainnya terluka. JN diberitakan juga mengeksekusi 25 anggota pendukung Al Baghdadi.
Sejak lama saya sudah menulis prediksi bahwa kalaupun Assad tumbang, pertempuran tidak akan berhenti karena adanya perbedaan besar di antara para milisi. Kini terbukti, Assad belum tumbang saja, bahkan di antara milisi yang satu ‘perguruan’ pun sudah saling bentrok; apalagi kalau beda ‘perguruan’. Dan jangan dilupakan, sebenarnya ada kelompok-kelompok oposisi Syria yang menentang Assad, menginginkan Assad mundur, tetapi menolak perang dan intervensi asing. Menurut mereka, yang bergabung di bawah payung National Coordination Body, perjuangan melawan Assad seharusnya dilakukan dengan cara-cara demokratis.
*magister Hubungan Internasional Unpad, research associate di Global Future Institute, penulis buku ‘Prahara Suriah’.
*magister Hubungan Internasional Unpad, research associate di Global Future Institute, penulis buku ‘Prahara Suriah’.
AHMADINEJAD DITANGKAP
Sebuah berita yang terdengar aneh soal Iran dirilis Kompas, “Ahmadinejad Ditangkap Pengawal Revolusi”. Sebenarnya sekilas saja, buat yang cukup mengenal kultur politik di Iran, akan segera menangkap berita ini terlalu mengada-ada. Tapi tak apalah, iseng-iseng saya tulis sedikit, sekedar untuk membuktikan bahwa yang disebut ‘penyesatan informasi’ itu memang ada.Semoga saja kita semua bisa semakin kritis membaca berita, untuk isu apapun (bukan cuma soal Iran; ini hanya contoh kasus saja), apalagi kalau isu itu berpotensi memecah-belah kerukunan bangsa Indonesia.
Di paragraph pertama, Kompas menyebut sumbernya ‘The Guardian Express’ yang dikutip pula oleh Jerusalem Post dan Daily Beast (so, you know deh lah). Perlu diketahui, ini media berbeda dengan The Guardian yang terkenal (dari Inggris) itu. Tapi di paragraph selanjutnya, Kompas mengaburkannya dengan menyebut ‘The Guardian’ saat mengutip informasi. Bahkan di akhir tulisan memberikan link ke The Guardian yang di Inggris. Dengan menyebut The Guardian, bobot berita memang terkesan lebih credible, karena pamor The Guardian memang beda dengan The Guardian Express dari AS itu.
Berikut ini beberapa poin berita dari Kompas dan kesalahannya (yang dalam […] dari Kompas):
[Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ditangkap dan ditahan selama tujuh jam pada Senin (29/4/2013) lalu]. Faktanya: Senin 29 April 2013, Ahmadinejad berada di Tabriz , sekitar 800 km dari Tehran.
[Ahmadinejad tengah dalam perjalanan pulang dari pameran buku di Teheran]
Faktanya: pameran buku di Tehran baru dibuka hari Rabu 1 Mei 2013, hari Senin 29 April 2013 belum ada pameran buku.
[ Ahmadinejad diinterogasi selama berjam-jam dalam pertemuan dengan Taeb; Asghar Hejazi, Kepala Intelijen di kantor pemimpin tertinggi]
Fakta: Hossein Taeb bukan Kepala Intelijen Pengawal Revolusi. Yang dimaksud ‘Pengawal Revolusi’ adalah Sepah-e Pasdaran, dan tidak ada ‘lembaga intelijen’ dalam Sepah-e Pasdaran, sehingga tidak ada yang disebut ‘Kantor Intelijen Pengawal Revolusi’. Nama Asghar Hejazi, Kepala Intelijen di kantor pemimpin tertinggi; juga fiktif karena kantor pemimpin tertinggi (yang dimaksud tentunya kantor Leader/Rahbar Iran, yaitu Ayatullah Khamenei) tidak ada struktur kepala intelijennya.
[Ahmadinejad juga telah terlibat dalam perebutan kekuasaan yang sedang berlangsung dengan keluarga Larijani]
Faktanya: Memang ada bersaudara Larijani yang jadi tokoh terkenal di Iran, yaitu Dr. Ali Larijani ketua Parlemen, Ayatullah Sadeg Larijani, ulama yang menjabat Ketua Mahkamah Agung, dan Dr. Javad Larijani yang dikenal sebagai pakar matematika. Tapi mereka tidak membentuk klan, dinasti, apalagi ‘faksi’ seperti disebut Kompas: ‘sebuah faksi yang memegang beberapa kursi kunci kekuasaan di negara Timur Tengah itu.’ Terlalu mengada-ada. Dalam pilpres 2013, Larijani juga tidak ikut nyapres.
Dan, yah ada beberapa hal lain yang dipelintir, tapi terlalu detil kalau saya jelaskan dan ga penting banget buat kita. Intinya, ini bisa masuk kategori hoax. Dan pemberitaan model begini sudah sangat sering menimpa Iran.
Oiya, sumber saya dari mana? Dari temen saya orang Iran. Terserah saja, percaya atau tidak 
By: Dina Y. Sulaeman
FAKTA AL-NAKBA
Nakba Day, atau Al Yaum Al Nakba, atau Hari Malapetaka adalah hari peringatan didirikannya Israel dari sudut pandang bangsa Palestina. Proklamasi pendirian Israel tanggal 14 Mei 1948 bagi orang-orang Zionis merupakan perwujudan dari ‘cita-cita bersejarah kaum Yahudi’. Namun bagi bangsa Palestina, hari itu adalah hari malapetaka, yang menjadi tonggak dari pengusiran ratusan ribu orang Palestina. Pengusiran itu terus berlanjut hingga hari ini, 65 tahun kemudian. Kini diperkirakan lima juta orang Palestina hidup terusir, tersebar ke berbagai wilayah; atau jadi pengungsi namun masih di wilayah Palestina. Banyak di antara mereka masih memegang kunci dan sertifikat rumah-rumah mereka yang kini sudah dihancurkan, atau ditempati orang Israel.
Kronologi Al Nakba
Kronologi tragedi Al Nakba sangatlah panjang dan luas dimensinya, namun dalam buku ini penulis membatasi penulisan kronologi pada gelombang kedatangan imigran Yahudi Zionis, pengusiran bangsa Palestina dari tanah air mereka, serta upaya bangsa Palestina sendiri sejak awal dalam memperjuangkan kemerdekaan. (Bahkan, menariknya, upaya awal perjuangan bangsa Palestina adalah melalui jalur politik; hal ini membuktikan bahwa bangsa Palestina pada saat itu relatif sudah maju dari sisi politik. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ada penduduk asli di kawasan itu dan mereka menolak bila tanah mereka direbut begitu saja oleh orang-orang Zionis. Artinya, klaim Zionis bahwa Palestina adalah ‘tanah tak bertuan yang diperuntukkan bagi bangsa tak bertanah’ adalah salah.)
Era Imperium Utsmani
1516-1917 :
Palestina digabungkan ke dalam Imperium Utsmani dengan ibu kota Istanbul.
1876-1877:
Wakil-wakil Palestina dari Jerusalem terpilih menjadi anggota Parlemen Utsmani di Istanbul, mereka dipilih dalam undang-undang Utsmani (ini menunjukkan adanya sistem pemerintahan yang cukup modern di Palestina, menepis citra bahwa Palestina adalah negeri primitif yang dihuni suku-suku Arab primitif )
1882-1903: Gelombang pertama imigran Zionis datang dari Eropa timur, sebanyak 25.000 orang
1896: Theodor Herzl, seorang penulis Yahudi asal Hongaria menerbitkan bukunya Der Judenstaat yang menyerukan pendirian sebuah negara Yahudi di Palestina, atau di tempat lain.
1896: Jewish Colonization Association (Asosiasi Kolonisasi Yahudi, didirikan 1891 di London) memulai pendanaan dalam mendirikan permukiman Zionis di Palestina.
1904-1914: Gelombang pertama kedua Zionis datang sebanyak 40,000 orang sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 6% dari total penduduk.
1896: Theodor Herzl, seorang penulis Yahudi asal Hongaria menerbitkan bukunya Der Judenstaat yang menyerukan pendirian sebuah negara Yahudi di Palestina, atau di tempat lain.
1896: Jewish Colonization Association (Asosiasi Kolonisasi Yahudi, didirikan 1891 di London) memulai pendanaan dalam mendirikan permukiman Zionis di Palestina.
1904-1914: Gelombang pertama kedua Zionis datang sebanyak 40,000 orang sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 6% dari total penduduk.
1914: Perang Dunia I dimulai.
2 November 1914 :Menlu Inggris, Balfour, mengeluarkan deklarasi Balfour [1] yang berisi dukungan Inggris bagi terbentuknya negara bagi kaum Yahudi di Palestina.
2 November 1914 :Menlu Inggris, Balfour, mengeluarkan deklarasi Balfour [1] yang berisi dukungan Inggris bagi terbentuknya negara bagi kaum Yahudi di Palestina.
September 1918: Palestina diduduki pasukan Sekutu dibawah pimpinan Jenderal Allenby (dari Inggris).
30 October 1918: PD I berakhir.
1919-1923Gelombang ketiga imigran Zionis datang sebanyak lebih dari 35.000 orang sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 12% dengan kepemilikan tanah 3% (dari luas total tanah).
27 Januari-10 Februari 1919: Kongres Nasional Palestina Pertama di Jerusalem mengirimkan memorandum kepada Konferensi Perdamaian Paris menolak Deklarasi Balfour dan menuntut kemerdekaan.
Januari-Juni 1919: Konferensi Damai Paris digelar. Dalam konferensi inilah disepakati bahwa nama “Palestina” digunakan untuk wilayah tertentu yang sudah ditetapkan, yaitu wilayah yang hari ini terdiri dari Israel, Palestina, dan Yordania. [2] Yordania diputuskan untuk menjadi negara tersendiri pada tahun 1946.
Mei 1919: Kongres Nasional Palestina Kedua akan diadakan namun dihalangi oleh pasukan Inggris yang menduduki Palestina saat itu.
Desember 1919: Kongres Nasional Palestina Ketiga digelar di Haifa, memilih Komite Eksekutif yang kemudian memimpin gerakan politik Palestina dari 1920-1935.
Maret 1921: Haganah dibentuk. Haganah adalah organisasi militer bawah tanah Zionis.
Mei-Juni 1921: Kongres Nasional Palestina Kelimat digelar di Jerusalem, memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi Palestina ke London untuk menjelaskan sikap Palestina atas Deklarasi Balfour.
Agustus 1921: Kongres Nasional Palestina Kelima, di Nablus, menyetujui dilakukannya boikot ekonomi terhadap kaum Zionis.
October 1921: Sensus penduduk pertama dilakukan oleh Inggris menunjukkan populasi di Palestina 78% Muslim Arab, 11% Yahudi, 9,6% Kristen Arab.
Mei-Juni 1921: Kongres Nasional Palestina Kelimat digelar di Jerusalem, memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi Palestina ke London untuk menjelaskan sikap Palestina atas Deklarasi Balfour.
Agustus 1921: Kongres Nasional Palestina Kelima, di Nablus, menyetujui dilakukannya boikot ekonomi terhadap kaum Zionis.
October 1921: Sensus penduduk pertama dilakukan oleh Inggris menunjukkan populasi di Palestina 78% Muslim Arab, 11% Yahudi, 9,6% Kristen Arab.
Era Mandat Inggris
29 September 1923: Mandat Inggris untuk Palestina resmi diberlakukan (diputuskan dalam Konferensi Paris). Artinya, Inggris menjadi ‘pemerintah’ di kawasan Palestina (meliputi Israel- Palestina sekarang dan Jordania). Di bawah istilah mandat ini, tugas utama Inggris adalah untuk memfasilitasi implementasi Deklarasi Balfour; yaitu mengusahakan agar imigran Yahudi berada dalam kondisi yang layak dan mendorong dibentuknya permukiman oleh kaum Yahudi di tanah Palestina.
1924-1928:Gelombang keempat imigran Zionis datang sebanyak 67.000 orang, lebih dari 50% datang dari Polandia, sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 16% dengan kepemilikan tanah 4.2% (dari total wilayah) .
1929-1939:Gelombang kelima imigran Zionis datang sebanyak 250.000 orang, sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 30% dengan kepemilikan tanah 5,7% (dari total wilayah) .
November 1935:Syekh Izzuddin Al Qassam, ulama dari kota Haifa, memimpin perjuangan bersenjata pertama bangsa Palestina melawan pasukan Inggris dan Zionis. Beliau gugur syahid tanggal 19 November 1935.
1940-1945:Kedatangan lebih dari 60.000 imigran Zionis, sehingga populasi Zionis menjadi 31% dan kepemilikan tanah menjadi 6.0%.
8 May 1945: Berakhirnya PD I
September 1945: terjadi imigrasi besar-besaran Yahudi secara illegal di bawah kontrol Haganah
18 February 1947:Menlu Inggris, Ernest Bevin, mengumumkan penyerahan masalah Palestina kepada PBB.
26 September 1947Inggris mengumumkan keputusan untuk mengakhiri masa Mandat Inggris
UN Partition Plan
29 November 1947:
PBB mengeluarkan Resolusi 181 berisi rencana pembagian wilayah Palestina (UN Partition Plan), yang mengalokasikan 56.5% wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43% untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.
30 November 1947: Haganah menyerukan orang-orang Yahudi di Palestina usia 17-25 untuk mendaftarkan diri sebagai anggota pasukan.
December 1947: Liga Arab mendirikan Arab Liberation Army (ALA), pasukan sukarela Arab untuk membantu bangsa Palestina menolak pembagian wilayah (yang ditetapkan oleh Resolusi 181 PBB).
2 December 1947: orang-orang Palestina memulai pemogokan memrotes Resolusi 181 PBB.
December 1947: Liga Arab mendirikan Arab Liberation Army (ALA), pasukan sukarela Arab untuk membantu bangsa Palestina menolak pembagian wilayah (yang ditetapkan oleh Resolusi 181 PBB).
2 December 1947: orang-orang Palestina memulai pemogokan memrotes Resolusi 181 PBB.
21 December 1947- akhir Maret 1948Haganah (dan organisasi militan lain, Irgun) menyerang desa-desa di kawasan pantai utara Tel Aviv untuk ‘membersihkan’ wilayah itu. Di antara desa-desa yang ‘dibersihkan’ oleh Haganah adalah desa Balad al Syaikh (kini dinamai Haifa) yang menewaskan 60 penduduk sipil dan desa-desa di dekat Danau al Hula.
14 January 1948Haganah mengikat pembelian senjata dengan Cekoslovakia senilai US $12.280.000. Senjata-senjata itu tiba di Palestina pada bulan Mei 1948.
10 Maret 1948: Plan Dalet Haganah menetapkan Plan Dalet (dalet adalah huruf keempat dalam bahasa Ibrani, setara dengan huruf D dalam bahasa Inggris, sehingga disebut jugaPlan D atau Rencana Dalet).
Rencana ini berisi rangkaian operasi militer yang berkesinambungan untuk menaklukkan kawasan-kawasan yang oleh Resolusi 181 (UN Partition Plan) dijadikan ‘jatah’ wilayah untuk Israel. Desain rencana ini sendiri sudah dipersiapkan sejak Juni 1947 oleh sebuah komite yang dipimpin Ben Gurion. Pada 10 Maret 1948, dua bulan sebelum proklamasi “kemerdekaan” Israel, para pemimpin Zionis berkumpul di Tel Aviv dan menyetujui Rencana Dalet. Melalui rencana ini, lebih dari 13 opreasi militer bawah tanah dilancarkan sebelum pasukan Arab memasuki kawasan yang menjadi ‘jatah’ bagi ‘negara Palestina’. Namun sejak bulan Desember 1947 upaya pembersihan etnis Arab di kawasan Palestina sudah dilakukan oleh Haganah dan organisasi militan Israel lainnya.
Hasil operasi Plan Dalet: total 80% orang Palestina yang tinggal di kawasan ‘jatah’ Israel telah terusir dan hidup di pengungsian hingga kini. Kawasan jatah Israel pun, yang oleh PBB ditetapkan 56,5% kini telah meluas menjadi 77% dan upaya ekspansi terus berlanjut hingga hari ini. [3]
14 Mei 1948: Al NakbaPemerintahan Sementara Israel memproklamasikan berdirinya “Medinat Ysrael”, negara Israel. Pembacaan proklamasi dilakukan di Tel Aviv oleh Davin Ben Gurion, yang saat itu menjabat sebagai Pimpinan Pemerintahan Sementara Israel. Pada hari yang sama, Presiden AS, Harry Truman menyatakan pengakuannya atas negara Israel. Hari ini oleh Israel disebut sebagai “Hari Kemerdekaan” dan oleh bangsa Palestina disebut sebagai “Hari Malapetaka” (Al Nakba).
[Dikutip dari buku Ahmadinejad on Palestine, karya Dina Y. Sulaeman]
[1] Isi teks Deklarasi Balfour: “His Majesty’s Government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country.”, dikutip dari:http://www.jafi.org.il/education/100/maps/mandate.html
Video ini rekaman pidato Mufti Syria, Syekh Ahmad Hassoun, seorang ulama Sunni, pada hari pemakaman anaknya, Sarya. Sarya adalah seorang mahasiswa Hubungan Internasional yang gugur dibunuh teroris pada usia 22 tahun, Oktober 2011. Sarya dan profesornya, Dr. Mohammad al-Omar, sedang dalam perjalanan menuju Ibla University. Dengan suara menahan tangis Syekh Hassoun menyebut-nyebut kebaikan Sarya yang rajin sholat tahajud, puasa sunnah, dan selalu bercita-cita ingin pergi berjihad ke Palestina.
Meskipun ini kejadian ini sudah berlalu hampir 2 tahun, namun karena konflik Syria masih berlanjut, dan ada beberapa poin penting dari pidato Syekh Hassoun, saya rasa penting untuk kita amati bersama. Di antara poin penting dari pidato Syekh Hassoun: apa sebenarnya sikap ulama seperti Syekh Hassoun (dan ulama lain yang berada di kubu yang sama: antiperang; namun malah dituduh sebagai antek pemerintah), seruannya pada para pengguna internet, dan apa solusi yang ditawarkannya dalam mengakhiri konflik ini.
Seruan untuk Pemimpin dan Ulama Arab, serta HAMAS
Seruan untuk Pemimpin dan Ulama Arab, serta HAMAS
“Saya serukan kepada semua ibu para syuhada, semua anak dari para syuhada, semua ayah para syuhada, atas nama semua istri para syuhada, untuk berkata kepada semua orang yang membunuh: Berhentilah kalian. Berhentilah kalian membunuhi anak-anak bangsa ini. Kami tidak mempersiapkan pemuda-pemuda kami untuk dibantai oleh bangsa sendiri. Sesungguhnya kami persiapkan mereka untuk syahid di tanah Palestina. Dengarkanlah wahai para pemimpin Arab! Saya mempersiapkan anak saya untuk syahid di Palestina. Tapi kalian menolak. Kalian menarik duta-duta besar dari tanah kami. Padahal, Amerika, Perancis, Inggris, duta-dutanya masih tetap di tanah kami. Kalian malah tidak membiarkan duta besar kalian tetap di sini untuk
menjalin komunikasi sesama saudara (Arab). Kami menantikan kalian para duta yang mulia untuk datang ke Syria, untuk bertemu dengan rakyat dan pemimpin, dan mendamaikan sesama manusia. Kami tidak mengharapkan kalian mengirimkan fatwa-fatwa.”
menjalin komunikasi sesama saudara (Arab). Kami menantikan kalian para duta yang mulia untuk datang ke Syria, untuk bertemu dengan rakyat dan pemimpin, dan mendamaikan sesama manusia. Kami tidak mengharapkan kalian mengirimkan fatwa-fatwa.”
“Wahai para Ulama. Wahai orang-orang yang mulia. Para syeikh Al Azhar, wahai Syeikh Al Qordhowi, wahai yang berdiri dan berkhutbah dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh 1/3 rakyat Syria. Kini anakku telah kembali kepada Allah…”
“Ya Allah, darah kami akan menjadi saksi di hadapan-Mu, bagi siapa yang berfatwa untuk membunuh kami, bagi siapa yang memotivasi orang-orang untuk membunuh rakyat Syria, bagi siapa yang mengirimkan senjata ke Syria, bagi siapa yang mengirimkan uang [untuk pemberontakan di] Syria …”
“Wahai saudaraku, wahai Abal Walid, wahai Khalid Masy’al! Katakan pada orang-orang Arab, siapa yang merangkulmu di Syria ? Katakan pada HAMAS, siapa yang merangkulmu di Syria ? Katakan pada rakyat Gaza siapa yang menangisi darah kalian di Syria?…”
Posisi Ulama Antiperang
“Dengarkan saudara-saudaraku, partai-partai Islam di dunia. Soal anakku, saya serahkan kepada Allah. Tetapi, saya bersumpah kepada Allah, sesungguhnya telah bersabda Nabi kita tercinta, “Menghancurkan Ka’bah menjadi batu demi batu, lebih ringan dihadapan Allah dibandingkan membunuh atau menumpahkan darah orang mukmin di luar batasan hukum yang ditetapkan Allah (had).” Saya akan bertanya pada 4 pembunuh yang kemarin membunuh anakku dan seorang gurunya. Saya bertanya kepada mereka dan para syaikh mereka, dengan hukum Allah yang mana kalian membunuh anakku? apakah (dia) membunuh salah satu dari kalian? Apakah ayahnya ikut andil membunuh seseorang? Bukankah telah saya katakan dari awal, saya adalah pelayan negeri ini, saya adalah jembatan kasih sayang antara pemimpin dan rakyat. Saya tidak menyukai jabatan ini, tapi saya adalah Mufti dari 23 juta jiwa di negeri ini, sudah saya katakan kepada kalian saya adalah pelayan, saya tidak rela siapa pun dari kalian tersakiti. Saya menangisi semua yang gugur syahid, saya berduka bagi semua anak- anak, saya berduka bagi semua ibu.”
“Dan bagi kalian, yang masih berdemonstrasi di negaraku, akan kucium tangan kalian, akan kucium kening kalian. Tanah air kalian akan menjadi tempat pembantaian kedua. Kalian semualah yang akan dibantai [pertama kali]. Sasarannya bukanlah pemerintah, yang menjadi target bukanlah rezim… Mengapa mereka banyak melakukan pengeboman? Mengapa mereka membunuh rakyat di Serbia ? Mengapa Libya dibom? Mereka bukan [sekedar] menginginkan Sarya dan teman- teman syahidnya. Yang mereka inginkan adalah bangsa Syria berlutut di hadapan Zionis dan AS!”
Seruan kepada ‘Pengguna Internet’
“Wahai para pemilik (pengguna) internet. Hari pertemuan kita adalah di Hari Pengadilan. Saya adukan kalian kepada Allah. Saya adukan kalian kepada Allah. Saya adukan kalian kepada Allah. Tulislah apa yang ingin kalian tulis! Ungkapkan kebencian kalian! Tuliskan kebencian kalian! Kami akan membungkamnya dengan cinta, keimanan, kesabaran, dan perjuangan… Kami akan membungkamnya, dengan keyakinan kami kepada Allah.”
Janji Amnesti dari Syekh Hassoun
“Saudara-saudaraku, wahai para ayah dan ibu, jika kalian melihat anak-anak kalian membawa senjata, katakan kepada mereka, ‘selamatkan negeri ini’! Dan barangsiapa yang meletakkan senjata dan menghentikan peperangan, saya minta kepada Presiden, agar memberikan amnesti (pengampunan) kepada mereka, bahkan kepada mereka yang telah membunuh anak saya! [Saya bersumpah] Demi Syria, demi tanah air, demi negeri saya, demi agama saya!”
Seruan kepada Oposisi
“Bagi Anda, wahai kaum oposisi, inilah Syria, pintunya terbuka… Berhentilah menghina bangsa ini dari luar negeri! Datanglah, dan katakan apa yang ingin kalian katakan di dalam negeri. Kalau sampai ada yang menolak kalian, aku akan berdiri bersama kalian, wahai oposisi! Datanglah dan katakan kebenaran dari kalian. Datanglah dan sampaikan dengan tulus. Kalian ingin kebebasan, kalian ingin keadilan? Mari kita bangun landasannya [kebebasan/keadilan] di Syria…”
Tags:
Arab Saudi
,
Barat
,
Berita
,
Headline News
,
Indonesia
,
IRAN
,
Israel
,
Jepang
,
Sunni dan Syi'ah
,
Tokoh
Penemu Kamera Pertama adalah Seorang Ilmuwan Muslim
Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.
Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura. Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.
Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.
“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.
Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.
Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.
Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).
Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).
Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.
Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya – yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.
Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.
sumber: http://www.terheran.com/2012/03/penemu-kamera-ternyata-orang-muslim.html
Tags:
Arab Saudi
,
Bahrain
,
Barat
,
Berita
,
Breaking News
,
Hukum
,
Indonesia
,
IRAN
,
Israel
,
Jepang
,
Palestina
,
Serba Serbi
,
Sunni dan Syi'ah
,
Suriah
,
UEA
Oh Zainab, kaum muslimin dunia "hampir tidak mengetahui" siapakah engkau, kalau bukan salahsatunya karena perjuangan engkau, mungkin ISLAM yang sesungguhnya hanya akan menjadi "buahbibir"
Ninja Perempuan Negara Islam Perkarakan Reuters
Sekelompok perempuan bela diri Iran mengambil langkah hukum terhadap kantor berita Inggris, Reuters karena mencap mereka sebagai pembunuh, Press TV melaporkan, Rabu (28/3).
Bulan lalu, Reuters menurunkan laporan tentang latihan seni bela diri sejumlah perempuan Iran di sebuah kota dekat Tehran. Kantor berita itu mengklaim bahwa Iran telah melatih lebih dari 3.000 ninja perempuan untuk melawan segala bentuk serangan pasukan asing.
Gadis-gadis Iran, dituduh oleh Reuters menjadi pembunuh dan dianggap berbahaya. Ninja perempuan Iran sekarang mengambil tindakan hukum terhadap Reuters atas pencemaran nama baik.
Para atlet mengatakan, wartawan Reuters bertanya kepada mereka apa yang akan mereka lakukan jika negara mereka diserang. Reuters menjadikan respon patriotik gadis-gadis tersebut sebagai alasan untuk menyebut mereka pembunuh.
"Wartawan Reuters hanya bertanya satu pertanyaan kepada saya dan jawabannya sangat jelas. Saya percaya bahwa siapapun dan dimanapun di dunia akan membela negaranya jika diserang, tapi dia menyimpangkan jawaban itu dan mengesankan kita buruk serta menggambarkan kami sebagai pembunuh di halaman utama laporannya," kata Khatereh Jalilzadeh.
Ninja perempuan lain mengatakan, laporan Reuters pasti dapat menjadi masalah bagi mereka. "Ini bisa membahayakan peluang kami untuk bepergian ke negara lain guna mengikuti turnamen gobal dan kejuaraan internasional, karena Reuters dianggap oleh banyak orang sebagai sumber terpercaya," kata Raheleh Davoudzadeh.
"Pada titik ini, tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kerusakan ... Itulah sebabnya kami mengambil tindakan hukum ... Kami ingin seluruh dunia tahu bahwa Reuters telah berbohong tentang kami," tambahnya.
Akbar Faraji, pendiri Ninjutsu di Iran lebih dari 22 tahun lalu, mengutuk tuduhan media Inggris, mengatakan murid-muridnya akan menindaklanjuti proses hukum hingga selesai.
"Kami telah mengajukan gugatan pencemaran nama baik terhadap Reuters dan kami akan menindaklanjutinya karena ini masalah reputasi," tambahnya.
"Reuters telah memperkenalkan kami sebagai pembunuh ke seluruh dunia. Kebenaran harus terungkap dan semua orang harus tahu bahwa kami hanya sekelompok atlet. Kami diawasi oleh Departemen Olah Raga dan Federasi Seni Bela Diri Iran," pungkas Faraji.
Wartawan Reuters yang melakukan wawancara telah meninggalkan Iran tak lama sebelum pengadilan membuka kasus itu. (IRIB Indonesia/RM)
Oh Zainab! Berikan Kami Setetes Cintamu
Tanggal 5 Jumadil Awal pada tahun keenam hijriah, lahir seorang bayi yang bukan hanya menjadi kebanggaan ayahnya melainkan memberikan makna baru terhadap cinta dan ketabahan. Kelahirannya memikat perhatian dunia. Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as membawa putrinya menghadap Rasulullah Saw, untuk dipilihkan nama, Rasulullah berkata bahwa, "Nama anakku dihadiahkan oleh Allah Swt. Mulai saat ini panggilah dia dengan nama Zainab, karena dia adalah perhiasan bagi sang ayah."
Bayi itu diberi nama Zainab Kubro, untuk membedakannya dari Zainab binti Muhammad. Dia juga disebut sebagai Siddiqah Sughro untuk membedakannya dari sang ibu, Siddiqah Kubro.
Kemuliaan dan keagungan Sayidah Zainab itu membuat hari kelahirannya ditetapkan sebagai Hari Perawat di Republik Islam Iran. Meski penamaan hari tersebut adalah sesuatu yang tidak berarti akan tetapi hal tersebut memberikan kebanggaan tersendiri kepada para perawat dalam memperingati hari kelahiran putri Imam Ali as.
Umat Syiah harus merasa bangga sebagai pengikut imam yang putrinya menjadi penghias wujudnya baik dari sisi perkataan dan perilaku, atau dari sisi kasih sayang, keberanian, kesabaran, dan ketabahan.
Bukan hanya umat Syiah, akan tetapi seluruh umat dunia harus menimba pelajaran dari kecintaan antara Zainab dan saudaranya Imam Husein as. Zainab merasa tenang dengan mendengar nama saudaranya. Ketika menikah Zainab Kubro menentukan persyaratan agar dia tidak dipisahkan dari Husein lebih dari tiga hari.
Pada hakikatnya Zainab yang tidak ingin dipisahkan dari saudaranya untuk tiga hari, bagaimana dia mampu menyaksikan tempat pembunuhan saudaranya di padang Karbala, bagaimana dia mampu meninggalkan badan saudaranya yang telah tercabik-cabik di gurun Nainawa, dan bagaimana pula dia mampu merintih di hadapan kepala saudaranya yang telah terpenggal?
Di mana kita dapat menemukan kakak beradik yang sedemikian mencintai sehingga tidak ingin dipisahkan bahkan oleh ajal? Akan tetapi Imam Husein as bukan sekedar saudara bagi Zainab akan tetapi sebagai pemimpin dan imam, oleh karena itu pula Zainab mengorbankan kehidupan dan anak-anaknya demi Husein as, bahkan dia juga mampu menyampaikan pesan kebenaran dan kemazluman saudaranya kepada seluruh umat manusia, bersama mengiringi para tawanan dari rumah ke rumah dan juga kepala saudaranya yang tertancap di atas tombak sedang melantunkan ayat-ayat al-Quran, serta hadir di istana Ibnu Ziyad dan Yazib bin Muawiyah dan meruntuhkan seluruh pilar-pilar ketaghutan mereka.
Benar! Karbala akan tetap di Karbala tanpa Zainab! Di mana kita dapat menemukan kesetiaan saudara perempuan kepada saudaranya seperti Zainab? Maka marilah kita meneguk setetes kecintaan Zainab kepada saudaranya Imam Husein as, dan menjadikan perjalanan hidupnya sebagai pelajaran dalam cinta terhadap saudara.
Salam sejahtera untukmu wahai Zainab...
Salam sejahtera untukmu di hari kelahiranmu...
Salam sejahtera untukmu di hari kau menutup mata...
Ketika kau meletakkan baju Husein as di dadamu...
Dan salam sejahtera di hari ketika kau menginjakkan kaki bersama Husein di dunia abadi... (IRIB Indonesia/MZ)
Sayidah Zainab Al-Kubra Simbol Keindahan
Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, beliu begitu gembira saat dikabarkan kelahiran cucunya ini dan berkata, "Allah Swt memerintah agar nama anak perempuan ini diberi nama Zainab yang artinya hiasan ayahnya." Rasulullah Saw kemudian menggendong Zainab dan menciumnya lalu berkata, "Saya mewasiatkan kepada kalian semua agar menghormati anak perempuan ini, karena ia mirip Sayidah Khadijah as." Sejarah menjadi bukti bahwa Sayidah Zainab as sama seperti Sayidah Khadijah yang menanggung banyak kesulitan demi memperjuangkan Islam. Dengan kesabaran dan pengorbanannya ia mempersiapkan sarana demi pertumbuhan dan kesempurnaan agama ilahi ini.
Sayidah Zainab as dibesarkan dalam keluarga yang penuh spiritual dan kemuliaan. Karena keluarga ini dihiasi oleh pribadi-pribadi agung seperti Rasulullah Saw, Imam Ali as dan Sayidah Fathimah as. Mereka adalah orang-orang suci dan yang membangun keutamaan manusia. Sayidah Zainab as sejak kecil punya pemahaman yang dalam dan jiwa yang dipenuhi makrifat. Sayidah Zainab as sejak kecil telah menghapal khutbah historis ibunya Sayidah Fathimah as yang penuh dengan pengetahuan Islam, sekaligus sebagai perawi khutbah ini. Setelah dewasa dengan kematangan berpikirnya ia akhirnya dikenal dengan sebutan 'Aqilah yang berarti seorang ilmuwan wanita.
Berbagai kejadian dan peristiwa besar pernah disaksikannya. Sejak kecil Sayidah Zainab as telah kehilangan kakeknya Nabi Muhammad Saw dan tidak berapa lama beliau harus kehilangan ibu tercintanya Sayidah Fathimah as. Setelah itu, tanggung jawab pendidikannya berada di pundak ayahnya Imam Ali as. Dalam didikan ayahnya Imam Ali as, beliau mencapai derajat keilmuan yang tinggi dan keutamaan akhlak.
Semua posisi itu diraihnya ketika mayoritas wanita dimasa itu buta huruf dan tidak punya kesempatan untuk belajar. Sayidah Zainab as setelah menimba ilmu dari ayahnya kemudian mulai menyebarkan agama Islam dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dikuasainya kepada kaum hawa waktu itu. Para wanita berduyun-duyun memintanya untuk diperbolehkan hadir dalam majelis pelajaran dan tafsir al-Quran. Kehadirannya di Madinah dan setelah itu selama tinggal di Kufah berhasil menyampaikan ilmu-ilmu Islam kepada kaum hawa.
Ketika Sayidah Zainab as mencapai usia perkawinan, beliau kemudian menikah dengan Abdullah bin Jakfar saudara misannya. Abdullah dikenal sebagai orang kaya Arab. Namun Sayidah Zainab as menjadi isterinya bukan karena hartanya. Ketinggian derajatnya membuat beliau tidak membatasi dirinya dalam kehidupan lahiriah. Beliau telah belajar untuk tidak pernah mengorbankan hakikat dalam kondisi apa pun. Itulah mengapa Sayidah Zainab as senantiasa bersama saudaranya Imam Husein as demi menghidupkan kembali agama dan spiritual manusia serta berusaha untuk memperbaiki masyarakat.
Sayidah Zainab as sewaktu menikah dengan suaminya Abdullah mensyaratkan untuk bisa tetap bersama saudaranya Imam Husein as. Abdullah menerima syarat tersebut dan menikahi cucu Rasulullah Saw ini. Dengan syarat inilah Sayidah Zainab as dapat mengikuti perjalanan bersejarah Imam Husein as dari kota Madinah hingga Karbala dan bangkit menghadapi Yazid penguasa zalim dan korup.
Kondisi paling tepat untuk mengenal lebih jauh kepribadian Sayidah Zainab as adalah dengan mempelajari sejarah Asyura dan tertawannya keluarga Rasulullah Saw. Kondisi paling genting bagi sejarah Islam terjadi dalam peristiwa Asyura di mana pada waktu itu siapa saja dapat menyaksikan keagungan semangat Sayidah Zainab as. Seorang perempuan yang sulit dicari bandingannya dalam sejarah Islam. Mengingat Allah dan shalat menjadi penenangnya. Cahaya ilahi begitu menerangi hatinya, sehingga segala penderitaan yang dihadapinya menjadi tidak berarti.
Kepribadian hakiki seseorang oleh sains dan ilmu psikologi disebutkan bakal muncul di saat orang tersebut dalam kondisi marah atau sangat emosional. Sayidah Zainab as di puncak kesulitan dan penderitaan setelah syahadah saudara dan orang-orang tercintanya masih tetap tegar berkata dan derajat kesabaran, keberanian, dan tawakkalnya kepada Allah yang telah tertanam dalam dirinya didemonstrasikan dengan indah.
Di hadapan para pemimpin zalim dan haus darah dinasti Umayyah, Sayidah Zainab as berdiri dan tanpa takut mengecam sikap mereka serta membela kebenaran Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw. Beliau menilai Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya sebagai pemenang. Pidatonya yang lugas, fasih dan mematikan di istana Yazid begitu mempengaruhi hadirin yang membuat mereka kembali mengenang ayahnya Imam Ali as.
Dengan tegas Sayidah Zainab as berpidato dengan bersandarkan pada ayat-ayat al-Quran. Kemampuan beliau dalam menjelaskan kebenaran begitu mempesonakan, sehingga pribadi seperti Ibnu Katsir terpengaruh ucapan-ucapan Sayidah Zainab as. Beliau dengan suara lantang dan dalam kondisi menangis berkata, "Ayah dan ibuku menjadi tebusan kalian orang-orang tua terbaik di antara mereka yang lanjut usia, anak-anak kecil terbaik di antara mereka yang masih kecil dan wanita-wanita kalian adalah yang terbaik. Generasi kalian lebih tinggi dan lebih baik dari semua generasi yang ada dan kalian tidak pernah terkalahkan."
Sayidah Zainab as pernah mendengar dari ayahnya Imam Ali as bahwa "Manusia tidak akan pernah mampu mengenal hakikat iman tanpa memiliki tiga hal dalam dirinya; pengetahuan akan agama, kesabaran di tengah kesulitan dan pengelolaan yang baik urusan kehidupannya."
Wanita mulia ini menerima tanggung jawab berat dan sulit, namun kesabarannya seperti permata yang menghiasi jiwanya. Menurut Sayidah Zainab as, ketegaran di jalan kebenaran dan pengorbanan di jalan Allah senantiasa indah dan selamanya bakal dipuji oleh manusia. Demikianlah setelah peristiwa Asyura Sayidah Zainab as kepada orang-orang zalim beliau berkata, "Saya tidak menyaksikan sesuatu kecuali keindahan." (IRIB Indonesia)
Sayidah Zainab, Manifestasi Utuh Perjuangan
Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad Saw sedang berada di perjalanan. Sayidah Fatimah kemudian meminta kepada suaminya Imam Ali as untuk memberi nama putri yang baru lahir itu. Namun Imam Ali as memutuskan untuk menunggu Nabi Muhammad Saw kembali dari perjalanan dan memberinya nama.
Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, beliau begitu gembira saat dikabarkan kelahiran cucunya ini, dan berkata, "Allah Swt memerintah agar nama anak perempuan ini diberi nama Zainab yang artinya hiasan ayahnya." Rasulullah Saw kemudian menggendong Zainab dan menciumnya lalu berkata, "Saya mewasiatkan kepada kalian semua agar menghormati anak perempuan ini, karena ia mirip Sayidah Khadijah as."
Sejarah kemudian menjadi bukti bahwa Sayidah Zainab as sama seperti Sayidah Khadijah yang menanggung banyak kesulitan demi memperjuangkan Islam. Dengan kesabaran dan pengorbanannya ia mempersiapkan sarana demi pertumbuhan dan kesempurnaan agama ilahi ini.
Sayidah Zainab as adalah sosok perempuan yang dijadikan sebagai simbol keberanian dan ketegaran dalam membela kebenaran. Perannya di Asyura menjadi catatan tersendiri dalam sejarah Islam dan kemanusiaan sepanjang masa. Di tengah puncak kepedihan dan ujian berat, Sayidah Zainab tetap tegar.
Rahasia ketegaran itu adalah keimanan kepada Allah Swt. Apalagi Sayidah Zainab lahir di tengah keluarga suci. Pendidikan suci yang didapatkannya dari kakeknya, Rasulullah Saw, ayahnya, Imam Ali as dan ibunya, Sayidah Fatimah az-Zahra as menjadikan Sayidah Zainab sebagai sosok pemberani dan tegar yang namanya selalu dikenang sepanjang sejarah.
Sayidah Zainab as hidup di tengah keluarga manusia-manusia suci. Di masa hidupnya, putri Imam Ali as dan Fatimah Az-Zahra as mendapat kasih sayang melimpah dari kakeknya, Rasulullah Saw. Beliau juga melihat langsung pengorbanan ibunya, Sayidah Fatimah az-Zahra as dalam menciptakan ketenangan, spiritual dan kasih sayang. Sayidah Zainab pada umur empat tahun menyaksikan pengorbanan keluarganya yang harus menahan lapar dan memberikan makanan ke orang-orang yang membutuhkan demi kerelaan Allah Swt. Ketika dewasa, Sayidah Zainab mempunyai peran penting dalam peristiwa Karbala.
Kedudukan mulia Sayidah Zainab hanya dapat diraih melalui makrifat yang mendalam kepada Allah Swt. Beliau adalah murid ayahnya, Imam Ali as. Sayidah Zainab menyaksikan perilaku mulia Imam Ali as dari dekat.
Jika seseorang berkeyakinan bahwa Allah Swt itu Maha Agung, maka segala sesuatu selainnya adalah kecil. Pandangan ketuhanan Sayidah Zainab seperti inilah yang menyebabkannya tidak ada yang lebih besar dari keagungan ilahi.
Ketika Sayidah Zainab as mencapai usia perkawinan, beliau kemudian menikah dengan Abdullah bin Jakfar, saudara sepupunya. Abdullah dikenal sebagai orang kaya Arab. Namun Sayidah Zainab as menjadi istrinya bukan karena hartanya. Ketinggian derajat Sayidah Zainab membuat beliau tidak membatasi dirinya dalam kehidupan lahiriah.
Untuk itu, Sayidah Zainab dalam pernikahannya dengan Abdullah yang kaya raya, mensyaratkan untuk tetap bisa mendampingi Imam Husein as di seluruh perjalanannya. Karena persyaratan ini, Sayidah Zainab as berada di samping Imam Husein as saat terjadi peristiwa Asyura. Beliaupun menjadi pembela dan penyambung misi Imam Husein as di Karbala. Tanpa peran Sayidah Zainab as, misi Karbala sulit tersampaikan kepada umat saat itu. Bahkan kunci kemenangan gerakan Imam Husein as terletak pada Sayidah Zainab as.
Sayidah Zainab mampu menyampaikan pesan-pesan gerakan Imam Husein as dengan bahasa lugas dan jelas. Dengan berbagai statemennya, Sayidah Zainab mampu menciptakan revolusi di Kufah dan Syam. Kecerdasan dan kepiawaian Sayidah Zainab as merupakan faktor keberhasilan misi dan visinya dalam melanjutkan perjuangan Imam Husein as.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Sayidah Zainab as mendapat makrifat dan ilmu langsung dari Allah Swt. Imam Ali Zainal Abidin as dalam satu perkataannya kepada Sayidah Zainab as mengatakan, "Wahai saudari ayahku, engkau adalah seorang alim tanpa pernah belajar dari seorang guru. Engkau telah memiliki pemahaman hakikat."
Ketauhidan selalu menjadi pijakan kehidupan Sayidah Zainab as, dan kemudian menghantarkan beliau sebagai sosok yang pasrah dan rela di hadapan Allah Swt. Tak salah, ketegaran Sayidah Zainab tak pernah surut dalam kondisi apapun.
Pasca Karbala, Ibnu Ziyad, penguasa Kufah saat itu, kepada Sayidah Zainab, mengatakan, "Apa yang kamu saksikan dari perilaku Tuhan kepada saudaramu, Husein?" Sayidah Zainab menjawab, "Saya hanya menyaksikan keindahan semata." Kemudian Sayidah Zainab mengatakan, "Mereka (para syuhada Karbala) adalah manusia-manusia yang Allah Swt mencatat mereka sebagai orang-orang yang gugur syahid. Mereka sekarang ini telah pergi ke tempat yang haqiqi."
Sayidah Zainab dikenal sebagai Aqilah Bani Hasyim karena makrifatnya yang luar biasa. Aqilah itu adalah sebutan untuk cendekia perempuan. Di masa kanak-kanak, Sayidah Zainab mampu menghafal seluruh khutbah monumental Sayidah Fatimah az-Zahra as.
Pencerahan Sayidah Zainab dalam perjalanan dari kota Sham hingga Madinah bukan hanya karena kehilangan saudara-saudaranya di padang Karbala. Akan tetapi gerakan Sayidah Zainab mencerminkan tekad besar putri Imam Ali as dalam menghidupkan kembali nilai-nilai mulia agama yang terlupakan dan posisi keluarga Rasulullah Saw. Sayidah Zainab benar-benar memanfaatkan kehadiran masyarakat yang membludak di sepanjang jalan yang dilewati rombongan Ahlul Bait as. Seruan Sayidah Zainab sa telah terdengar oleh semua pihak. Tidak ada alasan lagi bagi umat saat itu untuk bersikap diam dalam menghadapi kebatilan dan arogansi para penguasa.
Rombongan keluarga Rasulullah Saw juga digiring oleh pasukan musuh Allah Swt di jalan-jalan Kufah, kota yang pernah berada di bawah pimpinan ayahnya, Ali bin Abi Thalib as. Menggiring rombongan Sayidah Zainab di kota Kufah kian mempercepat tercapainya target gerakan pencerahan Sayidah Zainab as. Di kota Kufah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Imam Ali as, keluarga Rasulullah Saw sangat terhormat. Akan tetapi umat saat itu menghancurkan kehormatan keluarga mulia Rasulullah Saw. Sayidah Zainab dengan pidatonya berupaya menyampaikan pencerahan kepada masyarakat yang tidak tahu. Melalui pencerahan Sayidah Zainab as, masyarakat yang jahil atau tidak tahu akan menyadari posisi mulia keluarga Rasulullah Saw. Kondisi saat itu menunjukkan bahwa masyarakat sudah menyimpang jauh dari garis yang ditetapkan Rasulullah Saw.
Peran Sayidah Zainab as merupakan manifestasi utuh amar makruf dannahi munkar. Ketika berhadapan dengan penguasa lalim saat itu, Yazid bin Muawiyah, Sayidah dengan lantang mengatakan, "Wahai Yazid, kekuasaan dan dinasti telah menghilangkan kemanusiaanmu. Kamu adalah penghuni neraka. Laknat atas kamu!!! Kamu telah memerangi ajaran Rasulullah Saw. Ketahuilah, meski sudah mengerahkan semua upayamu, tapi agama tak akan sirna dan akan kekal. Namun kamu akan hancur dan sirna."
Wanita mulia ini menerima tanggung jawab berat dan sulit, namun kesabarannya seperti permata yang menghiasi jiwanya. Bagi Sayidah Zainab as, ketegaran di jalan kebenaran dan pengorbanan di jalan Allah senantiasa indah. Demikianlah setelah peristiwa Asyura, Sayidah Zainab as kepada orang-orang zalim beliau berkata, "Saya tidak menyaksikan sesuatu kecuali keindahan." (IRIB Indonesia)
Sayidah Zainab Refleksi Semangat Syahadah
Tidak boleh lupa, ibunya Sayidah Fathimah az-Zahra as juga mereguk cawan syahadah dalam usia muda akibat membela wilayah dan pemimpin yang ditunjuk oleh Rasulullah Saw.
Benar, Sayidah Zainab as adalah anak perempuan Ali dan Fathimah as. Sudah barang tentu beliau juga mewarisi sifat dan semangat orang tuanya. Sejak masih kecil Sayidah Zainab telah mengenal syahadah. Kenyataan ini membuat beliau semakin dekat dan akrab dengan syahadah dan mati syahid. Hal ini yang mengantarnya mengikuti konvoi syahadah pada bulan Muharram tahun 61 Hq, sekalipun partisipasi beliau tidak mengantarnya mereguk cawan syahadah. Namun beliau dengan gagah berani menunjukkan dirinya siap syahid di jalan Allah di pelbagai tempat dan kondisi.
Pasca syahadah kakaknya Imam Husein as, pasukan Umar bin Saad menjarah tenda Ahlul Bait. Beberapa orang dari mereka tiba di kemah Imam Zainal Abidin as. Saat itu Imam Sajjad as dalam keadaan sakit dan tidak mampu untuk bangkit dari tempat tidurnya. Salah seorang dari mereka berteriak, "Jangan biarkan seorangpun dari mereka yang hidup, baik kecil maupun dewasa!" Yang lain menyahut, "Jangan terburu-buru! Kita harus menyampaikan hal ini kepada Umar bin Saad." Pada waktu itu, Syimr al-Jausyan mengeluarkan pedangnya dan bermaksud membunuh Imam Sajjad as. Hamid bin Muslim berkata, "Subhanallah! Apakah anak-anak juga akan dibunuh? Bukankah ia (Imam Sajjad as) masih anak-anak dan dalam kondisi sakit! Syimr berkata, "Ibn Ziyad mengeluarkan perintah agar kita membunuh seluruh anak Husein."
Sayidah Zainab as yang menyaksikan kejadian itu segera mendekati Imam Sajjad as dan berkata, "Ia tidak akan terbunuh, sehingga saya sebagai pembelanya terbunuh lebih dahulu."
Ucapan Sayidah Zainab itu menyebabkan Umar bin Saad meminta Syimr agar mengurungkan niatnya.
Sekalipun Sayidah Zainab as tidak berhasil mereguk cawan syahadah seperti para syahid yang lain, tapi beliau menggunakan seluruh kapasitas dan energinya untuk melindungi agama Allah. Beliau menghadapi banyak cobaan yang berat. Dapat dikatakan bahwa Sayidah Zainab as merupakan teladan dari para keluarga syuhada Karbala yang hidup waktu itu.
Di sini Sayidah Zainab as mendemonstrasikan keberanian yang diwarisi dari ibunya yang membela wilayah Imam Ali as. Di Karbala Sayidah Zainab as bangkit membela wilayat kakaknya, Imam Husein as, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun bahwa perbuatannya itu bakal mendatangkan bahaya, bahkan syahadah.
Anak Syahid
Sayidah Fathimah az-Zahra as syahid beberapa waktu setelah meninggalnya Rasulullah Saw. Menurut riwayat yang lebih bisa dipercaya beliau waktu itu berusia 18 tahun. Sementara ayahnya syahid pada tahun 40 Hijriah. Pada waktu-waktu itu, Sayidah Zainab as masih membutuhkan kasih sayang ibu dan ayah. Tapi kenyataan membuat beliau tidak dapat merasakan anugerah ilahi ini. Akan tetapi berdasarkan ajaran wahyu dan ilahi, Sayidah Zainab as telah mengenal dengan baik nilai dan posisi tinggi syahid dan semangat syahadah. Oleh karenanya, beliau dapat menanggung segala musibah yang menimpanya.
Saudara Syahid
Sebelum peristiwa Karbala dan pasca syahidnya ayah dan ibunya, saudaranya Imam Hasan as mereguk cawan syahadah pada tahun 50 Hijrah.
Imam Hasan as harus menanggung sakit luar biasa akibat racun yang diberikan kepadanya. Di pertengahan malam, Imam Hasan as tidak mampu lagi menahan sakit yang menderanya. Beliau tahu bahwa hanya Zainab as, adiknya yang mampu meringankan penderitaannya. Beliau pun memanggil adiknya. Sayidah Zainab menuju tempat tidur kakaknya dan menyaksikan kakak tercintanya sedang menahan sakit. Akhirnya, Sayidah Zainab as harus menyaksikan syahadah orang ketiga yang begitu dicintainya. Tapi ini bukan akhir dari segala penderitaannya.
Pasca peristiwa Karbala, Sayidah Zainab as harus kehilangan saudaranya Imam Husein as, Abdullah, Jakfar, Utsman, Abu al-Fadhl al-Abbas bin Ali anak Ummul Banin, Jakfar bin Ali, Utsman bin Ali dan Abu Bakar bin Ali. Mereka semua meraih derajat yang tinggi bernama syahadah.
Di sebagian riwayat disebutkan bahwa ketika Sayidah Zainab berada di sisi jasad saudaranya Imam Husein as, seketika beliau mengingat Allah dan berkata, "Ya Allah! Terimalah sedikit pengorbanan dari kami."
Ungkapan beliau ini menunjukkan pemikiran yang mendalam dari Sayidah Zainab as tentang syahadah. Cara pandang ini yang membuat beliau begitu tegar menghadapi segala bencana dan cobaan yang menimpanya.
Ibu Syahid
Selain menyaksikan syahadah saudara-saudaranya di jalan pembelaan terhadap Islam, Sayidah Zainab juga mengirim anak-anaknya membela saudara-saudaranya di medan perang. Akhirnya setelah berperang dengan gigih, mereka juga akhirnya menyusul paman-pamannya mereguk cawan syahadah.
Dengan membandingkan riwayat yang mengisahkan kesyahidan anak-anak Sayidah Zainab as dan anak-anak saudaranya, terlihat betapa Sayidah Zainab as lebih mencintai Imam Zaman dan anak-anaknya. Hal ini yang membuat beliau tidak ragu mengikuti konvoi Imam Husein as. Itulah mengapa dalam sejarah Islam beliau dikenal dengan sebutan "Syarikah al-Husein" (Pengiring al-Husein).
Hari Asyura, Sayidah Zainab as memakaikan anak-anaknya ‘Aun dan Muhammad dengan pakaian baru. Beliau kemudian membersihkan tubuh anak-anaknya dari debu dan kotoran, lalu memberikan sepasang pedang kepada keduanya yang menunjukkan mereka siap untuk syahid. Kemudian beliau membawa keduanya ke hadapan saudaranya Imam Husein as dan meminta izin agar Imam Husein as membolehkan keduanya pergi ke medan perang. Tapi Imam Husein as tidak mengizinkan keduanya pergi ke medan perang. Sayidah Zainab as memaksa beliau agar mengizinkan keduanya. Akhirnya, Imam Husein as mengizinkan keduanya pergi ke medan perang.
Kedua anak Sayidah Zainab as melangkah dengan tegar menuju medan tempur dan setelah bertarung dengan gagah berani, keduanya akhirnya gugur syahid. Imam Husein as mendekati jasad dua remaja itu dan memeluknya lalu menggendong keduanya ke perkemahan. Para perempuan yang ada keluar menyambut jasad anak-anak Sayidah Zainab as. Biasanya, setiap kali ada yang syahid dan dibawa kembali ke tenda, maka Sayidah Zainab as adalah yang paling pertama menjemputnya. Tapi kali ini beliau tidak terlihat menyongsong jasad kedua anaknya. Beliau tidak keluar dari kemahnya. Sayidah Zainab as tidak keluar khawatir air matanya menetes menyaksikan jasad dua anaknya dan tidak dapat menahan diri. Karena bila sampai hal itu terjadi, beliau lebih mengkhawatirkan pahala yang didapatnya lewat pengorbanan kedua anaknya akan berkurang. Di sisi lain, beliau juga tidak ingin saudaranya Imam Husein as melihatnya dalam kondisi sedih dan merasa malu atau tidak dapat menjawab pandangan matanya. Itulah mengapa Sayidah Zainab as memilih untuk tetap tinggal di dalam kemahnya.
Bibi Syahid
Dalam peristiwa Karbala, banyak dari keluarga Imam Hasan as yang gugur syahid. Anak-anak Imam Husein as seperti Qasim, Abdullah dan Abu Bakar termasuk yang syahid di Karbala. Sementara dari anak saudaranya Imam Husein as adalah Ali Akbar dan Ali Asghar. Mereka semua syahid dengan makrifat akan jalan yang sedang ditempuhnya.
Diriwayatkan pasca syahadah Ali Akbar as, Sayidah Zainab as lebih cepat dari Imam Husein as menghampiri jasad Ali Akbar. Karena beliau tahu betapa cintanya Imam Husein as kepada Ali Akbar. Bila menyaksikan Ali Akbar syahid, kemungkinan beliau akan menjadi sangat sedih. Oleh karenanya, Sayidah Zainab as lebih dahulu mendekati Ali Akbar dan tidak membiarkan saudaranya Imam Husein as merasa sedih seorang diri.
Dengan dasar ini, saat membandingkan riwayat tentang syahadah anak-anak Sayidah Zainab as dan anak-anak saudaranya, terlihat kecintaan beliau lebih besar terhadap saudara dan anak-anak saudaranya.
Musibah yang diderita Sayidah Zainab as dimulai setelah peristiwa Asyura berakhir dan syahadah Imam Husein as. Pada waktu itu beliau begitu tegar menghadapi segala kesulitan dan bertanggung jawab atas rombongan keluarga syuhada Karbala. Siapa saja yang obyektif pasti mengakui kebesaran jiwa Sayidah Zainab dalam menghadapi segala kesulitan dan pada saat yang sama bertanggung jawab atas rombongan yang bersamanya. (IRIB Indonesia)











