
Wawancara Duber RI untuk Iran dengn Situs IRIB
IRIB Indonesia: Pak Dubes, sekarang kita akan coba mengulas tujuan
kedua penugasan Bapak di Tehran tentang people to people. Untuk
memperkenalkan Indonesia secara luas kepada rakyat Iran, tentu saja
pihak KBRI Tehran tidak dapat melakukannya sendiri. KBRI Tehran
membutuhkan bantuan dan sosialisasi dari warga Indonesia dari berbagai
kalangan yang tinggal di Iran. Nah, kira-kira apa program dan harapan
Bapak dari warga Indonesia yang ada ini untuk menyukseskan program ini,
yang pada intinya merupakan amanat dari NKRI di pundak seluruh bangsa
Indonesia di manapun saja berada?
Dubes RI: Benar. Seperti yang sudah saya katakan tadi, people to
people contact ini sangat luas mencakup sosial, budaya, pendidikan dan
olahraga semua masuk dalam cakupan people to people contact. Saya
melihat semua itu peluang. Coba sekarang kita melihat bidang pendidikan.
Marilah kita belajar dari negara lain, khususnya negara tetangga kita.
Kalau negara Malaysia bisa mendatangkan 140 ribu turis ke Malaysia,
mengapa kita hanya 20 ribu, atau kurang dari itu? Bila Malaysia mampu
mendatangkan 15 ribu mahasiswa Iran, mengapa kita hanya segelintir?
Padahal Islam kita diakui sebagai Islam yang lebih berwarna, lebih
beragam, lebih moderat dan Islam yang penuh senyum.
Kenyataan ini sebenarnya menjadi tantangan buat kita mengapa mereka berhenti di Malaysia? Pasti ada sesuatu.
Beberapa waktu belakangan ini kami berusaha mencari tahu ketika saya
ke Jakarta. Karena itu saya bertemu juga dengan pelbagai pihak di
Jakarta, khususnya di kalangan pendidikan tinggi, termasuk universitas
Islam kita. Dalam hal ini universitas Islam yang ada di Jakarta.
Sebetulnya kita bisa berbuat banyak juga. Coba perhatikan! Malaysia
memberikan sarana yang lebih lengkap. Sebagai contoh, masalah visa.
Malaysia berani memberikan visa yang multiple entry untuk jangka 10
tahun.
Masalah-masalah pengembangan budaya ini tidak hanya terkait dengan
bidang bersangkutan, tapi terkait dengan bidang-bidang lainnya. Jadi
kitapun harus mulai menyiapkan diri untuk melakukan koordinasi
antarlembaga di Indonesia. Koordinasi ini harus ditingkatkan dan bukan
hanya terfokus pada departemen pendidikan, tapi juga harus terkait
dengan Bappenas. Terkait juga dengan bidang hukum, karena menyangkut
masalah keimigrasian dan sebagainya.
Di bidang pendidikan juga masih bisa dikembangkan. Bila mahasiswa
Indonesia diberi beasiswa dari pemerintah Iran atau kalangan
non-pemerintah, kita juga punya program-program yang bisa dikembangkan
untuk merangkul mahasiswa Iran datang ke Indonesia.
Tapi selama ini rupanya ada persepsi yang salah. Ada berbagai kasus
yang sangat tidak kondusif untuk hubungan ini. Misalnya, masalah di
Madura. Kelompok kecil Syiah yang katanya diserang oleh kelompok yang
lebih besar. Nah, hal-hal yang seperti ini menciptakan persepsi yang
salah dari masyarakat Iran untuk datang ke Indonesia. Padahal yang
terjadi di lapangan adalah bukan pertentangan antara Syiah dan Sunni,
tapi lebih ke masalah-masalah yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan
pemerintah Iran dan Indonesia. Karena itu sebenarnya masalah keluarga
yang kemudian dieksploitir dan dikembangkan sehingga memunculkan
persepsi yang sala
Hal-hal yang seperti ini tidak dapat diselesaikan sendiri oleh KBRI
atau departeman agama, tapi harus menyangkut bidang-bidang lain seperti
departemen dalam negeri, pemerintah daerah dan sebagainya.
Selama persepsi-persepsi yang seperti ini masih ada memang akan
menjadi ekstra sulit bagi kami untuk bisa mengembangkan people to
people. Tapi bagaimanapun juga kita harus memulai langkah ini. Kalau
tidak, kapan lagi akan kita lakukan? Oleh karena itu, ke depannya salah
satu bentuk yang akan kita lakukan, program yang akan dilakukan oleh
KBRI antara lain; memajukan upaya dialog antarkepercayaan dan
antaragama. Buat saya, dialog semacam ini sangat penting. Karena untuk
memberikan keyakinan di masyarakat kedua belah pihak, bahwa namanya
Syiah-Sunni itu bukan satu pertentangan. Bukan sesuatu yang harus
dipertentangkan. Apalagi yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain
untuk dipertentangkan. Justru kalau kita bisa merangkul, saling berjabat
tangan untuk bekerjasama, Islam akan menjadi kekuatan besar. Yang tadi
saya katakan, bukan hanya secara bilateral, tapi di kawasan dan juga di
dunia.
Banyak tantangan, termasuk juga olahraga. Indonesia adalah negara
yang masih jauh tertinggal dalam cabang olahraga. Di lain pihak, Iran
punya cabang olahraga yang dominan seperti bola voli, angkat besi dan
gulat. Ketika saya di Jakarta, saya sudah bertemu dengan ketua KONI yang
baru. Mereka sangat berminat untuk mengembangkan hubungan olahraga ini.
Selama ini badminton sudah jalan. Tapi mengapa hanya badminton? Kita
perlu mengembangkan cabang olahraga yang lain. Langkah ke arah sana
sudah mulai kita lakukan.
Banyak hal yang bisa digarap.
IRIB Indonesia: Pak Dubes, Iran baru-baru ini menyelenggarakan Pekan
Budaya di Indonesia pada 7-13 Maret. Masih dalam kerangka people to
people contact, apakah ada rencana Indonesia akan menyelenggarakan Pekan
Budaya di Iran, apa lagi Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran
telah menawarkan bahwa Tehran siap menjadi tuan rumah bagi Pekan Budaya
Indonesia di Tehran?
Dubes RI: Betul, betul sekali. Minggu lalu ada Iran Week di
Indonesia. Kegiatannya kultur dan kebudayaan mencakup berbagai bidang
termasuk film dan pameran yang dibuka secara resmi di Museum Nasional.
Sebagai informasi, tahun ini kita juga akan mengadakan Pekan Budaya di
Tehran sekitar bulan September. Kita akan mengadakan Indonesian Week dan
dalam kaitan ini, saya sudah bicara dengan departemen pariwisata dan
ekonomi kreatif dan mereka mendukung sepenuhnya acara ini yang akan
diselenggarakan di bulan September nanti. Temanya Indonesian Week dan
kita akan memperkenalkan kebudayaan Indonesia bukan hanya musik, tapi
juga, insya Allah, tari-tarian dan juga kita akan coba seperti yang
dilakukan Iran di Indonesia yaitu mengenalkan film-film Indonesia yang
mulai berprestasi di tingkat internasional
Pekan Budaya ini sudah masuk dalam program kita dan akan dilaksanakan pada bulan September
IRIB Indonesia: Terima kasih atas kesediaan Bapak Dubes
berbincang-bincang dengan kami. Sebagai penutup, karena Iran saat ini
tengah memasuki tahun baru Hijriah Syamsiah yang dikenal dengan tradisi
Nouruz. Mungkin Bapak Dubes punya pesan kepada bangsa Iran, ataukah
punya kesan tersendiri mengenai tradisi Nouruz ini, silahkan
Dubes RI: Tadi pagi ketika saya menyerahkan Credential kepada Bapak
Presiden Mahmoud Ahmadinejad, pesan pertama yang saya ucapkan adalah
ucapan selamat tahun baru buat Presiden Iran, baik dari saya selaku Duta
Besar yang baru dan ucapan yang sama dari Bapak Presiden Indonesia
kepada Presiden Republik Islam Iran. Selamat Tahun Baru.
Harapan kami dan juga harapan Bapak Presiden Indonesia serta harapan
KBRI Tehran, semoga tahun baru buat masyarakat Iran ini dapat menambah
kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyat Iran. Saya percaya bahwa tahun
baru selalu membawa hal-hal yang baru. Mudah-mudahan dengan doa kita
bersama, Iran juga akan menghadapi masa depan baru yang lebih baik dari
yang sebelumnya. Kami bangsa Indonesia sebagaimana yang saya sampaikan
kepada Bapak Mahmoud Ahmadinejad senantiasa akan bekerjasama bersama
rakyat Iran membawa kemakmuran bersama bagi kedua negara. Itulah yang
saya sampaikan kepada beliau dan lewat beliau kepada seluruh rakyat
Iran. (DarutTaqrib/IRIB/adrikna!/http://www.darut-taqrib.org/berita/2012/03/22/bila-syiah-sunni-bersatu-islam-akan-menjadi-kekuatan-besar-di-dunia/)
Boediono Beri Pesan buat Mahasiswa Indonesia di Iran
"Silahkan
adik-adik memanfaatkan dan mengembangkan potensi dengan belajar ke
seluruh dunia, tapi jangan lupakan tanah air. Peliharalah akar kita.
Indonesia membutuhkan kontribusi anda, dalam bidang apapun," kata Wapres
Boediono dalam pesan-pesannya kepada puluhan mahasiswa Indonesia yang
belajar di Iran dalam ramah tamah di Wisma Duta, Tehran.
|
Menurut
Kantor Berita ABNA, Wakil Presiden Boediono menyitir sepenggal lagu
Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki untuk mengingatkan para mahasiswa
Indonesia yang sedang belajar di Iran agar tidak lupa pada tanah airnya.
"Di
sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di
hari tua, sampai akhir menutup mata. Bukan harus selalu di Indonesia.
Dalam dunia yang global saat ini, batas-batas negara sudah semakin
memudar. Silahkan adik-adik memanfaatkan dan mengembangkan potensi
dengan belajar ke seluruh dunia, tapi jangan lupakan tanah air.
Peliharalah akar kita. Indonesia membutuhkan kontribusi anda, dalam
bidang apapun," kata Wapres Boediono dalam pesan-pesannya kepada puluhan
mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran dalam ramah tamah di Wisma
Duta, Tehran.
Bertindak
sebagai tuan rumah jamuan makan malam di Wisma Duta itu adalah Duta
Besar Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit dan istri, Ibu Erly
Wirengjurit. Turut hadir Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan istri,
Ibu Sranya Natalegawa dan Direktur Jenderal Multilateral Hasan Kleib.
Pada malam sebelum pembukaan KTT Gerakan Non Blok ke-16 itu, Wapres
Boediono juga didampingi oleh Ibu Herawati Boediono dan rombongan
terbatas dari Jakarta.
Kunjungan
ke Iran merupakan kunjungan yang pertama kali dilakukan Wapres. Ia
menyampaikan bahwa Iran adalah negara yang penting dalam arena dunia.
"Kita perlu mengerti dengan benar kondisi yang terjadi di Iran, tidak
hanya mendengar dari sumber kedua atau ketiga," ujar Wapres. Hal ini
penting dilakukan agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah yang
tepat bagi kebijakan Pemerintah Indonesia.
Selain
kalangan mahasiswa, turut hadir kaum profesional Indonesia yang bekerja
di Iran dan para pekerja Kedutaan Besar Republik Indonesia di Iran.
Dalam kesempatan itu, Wapres menyampaikan kabar terakhir dari Indonesia
dari tema ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dari segi ekonomi, ia
menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia dalam kondisi baik. "Dalam
situasi yang berat, dimana banyak negara-negara yang mengalami masalah,
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kwartal kedua tahun 2012 cukup baik
bahkan meningkat," ujar Wapres.
Wapres
menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif itu
diperoleh kala sejumlah negara mengalami pertumbuhan ekonomi negatif,
bahkan pada beberapa negara terjadi pelarian uang ke luar negeri,
tingkat pengangguran meningkat. "Beberapa negara kampiun dalam
pertumbuhan ekonomi, seperti Cina, India, dan Brasil mengalami
kemeresotan," ujar Wapres.
Kondisi
perekonomian Indonesia yang baik itu menuai pujian dari dalam dan luar
negeri. Tetapi terkadang kita seringkali mengkritik terlalu keras,
sehingga kadangkala kita melupakan sebuah prestasi. "Kita memerlukan
kritik, tetapi yang dibutuhkan adalah kritik terhadap diri sendiri yang
seimbang. Karena jika kita tidak pernah mengkritik merupakan sesuatu
yang tidak baik, tetapi jika kita mengkritik terlalu keras akan dapat
kehilangan kepercayaan diri," ujar Wapres.
Ke
depannya, kata Wapres, ia optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih
bisa dipertahankan 6 persen. Pertumbuhan penting agar lapangan
pekerjaan tetap terbuka, demikian juga untuk memberi alokasi biaya bagi
program-program pendidikan dan kesehatan, serta mengurangi jumlah orang
miskin. "Kalau tidak punya pertumbuhan, tidak ada kemajuan, kita hanya
berbagi kemiskinan. Program dan proyek di bidang infrastruktur akan
terus dijalankan. Saya cukup iri hati dengan pembangunan jalan di Iran,
karena pembangunan jalan, kereta api dan pelabuhan di tanah air
ketinggalan dibandingkan kebutuhan yang begitu cepat," katanya.
Peningkatan jumlah mobil yang melonjak sampai 30 persen menjadi
indikator pertumbuhan yang tinggi, namun tidak berbanding dengan
pembangunan ruas jalan.
Tak
seperti Iran yang wilayahnya berada pada satu dataran luas, Wapres
menyinggung bahwa salah satu kesulitan Indonesia terletak pada situasi
geografisnya yang sangat menantang dan dengan 75 persen wilayah yang
terdiri dari air. Hubungan laut harus ditingkatkan demi menurunkan biaya
logistik dan selanjutnya mengejar pemerataan pembangunan. "NKRI adalah
satu konsep politik. Tapi itu tidak akan berlanjut bila tidak ada
kesatuan ekonomi. Kalau tidak diatasi, bisa-bisa wilayah kita nyantol ke
pihak luar," kata Wapres.
Selain
memprioritaskan konektivitas, saat ini pemerintah juga berupaya
mengejar nilai tambah dari hasil alam, baik dari pertanian maupun
tambang. Indonesia harus berupaya meningkatkan nilai dari setiap nilai
kekayaan alam yang kita keruk. Indonesia wajib membangun smelter. Minyak
sawit pun semestinya tidak hanya diekspor mentahnya, namun Indonesia
juga harus bisa menciptakan produk turunannya yang nilainya tinggi.
Maka, saat ini pemerintah menggiatkan program hilirisasi dengan
membangun industri hilir dari produk yang dulunya dijual mentah.
Di
bidang politik, Wapres mengingatkan akan tujuan Indonesia membangun
konsolidasi yang sudah diputuskan sebagai sebuah sistem negara kita
yaitu demokrasi. Tanpa perjuangan generasi muda, perubahan dan reformasi
bisa jadi belum terjadi. Dan itu semua terjadi sebelum Mesir atau yang
lainnya mengalami perubahan. Wapres mengutip penilaian banyak pengamat
dari luar negeri bahwa Indonesia punya pengalaman yang sangat berharga
karena berhasil mengatasi saat-saat kritis demokrasi. Setelah masa
kritis berakhir, kini saatnya melakukan konsolidasi demokrasi.
"Prosesnya
secara umum berjalan cukup baik, meski ada resiko di sana-sini. Tapi
dalam masa-masa tranisi itulah yang bisa membuat demokrasi gagal. Resiko
itu antara lain korupsi, yang akan menghancurkan sistem apa pun yang
ada. Maka pemberantasan korupsi adalah prioritas. Hal lain adalah
politik uang. Karena politik itu adalah basisnya mengkompetisikan
kebijakan-kebijakan untuk publik. Kalau hal itu bisa diperjualbelikan,
maka kebijakan publik akan mementingkan yang punya uang. Kemudian
birokrasi. Jangan sampai birokrasi terkooptasi oleh kepentingan yang
sempit atau kepentingan bisnis," kata Wapres.
Maka,
Wapres menekankan, komitmen dari semua pihak untuk kukuh menegakkan dan
mengkonsolidasikan demokrasi adalah tugas dari penegakkan konstitusi,
yakni mewujudkan Indonesia yang berdiri di atas keberagaman.(http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=342555)
–
03/22/2012

Liputan Rofiuddin, wartawan Tempo
Bacaan Kumail jemaah Syiah terdengar berdengung menerobos keheningan
malam dari Masjid Al-Husain, Candi Bangsri, Jepara. Di masjid yang
terletak di tepi sungai itu, para jemaah duduk bersila menghadap kiblat
sembari melantunkan bacaan dengan pengeras suara. Isi bacaan itu memuja
Kumail bin Ziyad Nakha’i, sahabat pilihan Imam Ali.
Di belakang masjid, terdengar pula lantunan pembacaan salawat
Dibaiyyah dan Barzanji, ciri khas warga Nahdlatul Ulama, yang merupakan
penganut Sunni. Suara itu berasal dari Masjid Al-Arif, yang terletak
kurang dari 100 meter dari Masjid Al-Husaini. Suara bacaan ibadah dua
kelompok itu sahut-menyahut pada Kamis malam, 1 Maret lalu. Masjid
Al-Husaini adalah masjid Syiah, sementara Masjid Al-Arif merupakan
masjid Sunni.
Di Desa Candi, penganut Syiah dan Sunni hidup damai berdampingan.
Misalnya, saat pendirian Masjid Al-Husaini, kaum Sunni ikut membantu.
Begitu juga sebaliknya, saat kaum Sunni mendirikan Masjid Al-Arif, kaum
Syi’ah ikut membantu. Komposisi penduduk dukuh ini hampir merata antara
penganut Sunni dan Syiah, yakni sekitar 70 keluarga penganut Syiah dan
70 keluarga Sunni.
Interaksi sosial berlangsung nyaris tanpa gesekan, termasuk soal
peribadatan. Jika ada warga Sunni meninggal, warga Syiah ikut
menyalatkan dengan cara Syiah. Begitu juga sebaliknya. Yang berbeda
imamnya. Jika warga Sunni meninggal, imam salatnya penganut Sunni,
begitu juga sebaliknya. Meski Jepara dikenal sebagai basis Sunni,
terutama Nahdliyin, penganut Syiah tak lagi beribadah secara
taqiyyah (sembunyi-sembunyi). Bahkan di rumah penganut Syiah juga terpampang lukisan tentang Syiah.
Sejarah perkembangan penganut Syiah di Jepara dan Jawa Tengah tak
bisa lepas dari Desa Candi, Jepara. Awalnya, Ustaz Abdul Ghadir Bafaqih
dari Tuban menikah dengan perempuan dari Desa Candi. Pada 1970-an,
memang terjadi revolusi Iran, yang berpengaruh pada perkembangan Syiah,
termasuk di Indonesia. Ghadir juga pernah belajar di Hadramaut, Yaman.
Pada 1974, Ghadir banyak memperoleh kiriman buku dari Kuwait terbitan
Darut Tauhid. Berbekal buku itu, Ghadir banyak bicara soal Syiah.
Puncaknya, Syiah “dideklarasikan” pada 1982. Ghadir mendirikan Pesantren
Al-Khairat.
Ahmad Badawi, generasi pertama murid Ghadir, menyatakan kala itu
Al-Khairat hanya mengajarkan Bahasa Arab, yang bisa menjadi pintu masuk
mempelajari kitab. Selain itu, Ghadir menelorkan beberapa karya, seperti
Haqqul Mubin dan
Muhammadun wa Akhuhu. Kedua karya
itu menjadi rujukan dan sumber ideologi Syiah. Karena pondok itu terus
berkembang, pemberitaan ihwal ajaran Syiah yang dibawa Abdul Ghadir pun
meluas. Masyarakat menanggapinya biasa saja. Namun ada beberapa murid
Abdul Ghadir yang dilaporkan ke Komando Distrik Militer karena dianggap
berbeda.
Miqdad Turkan, murid Ghadir lainnya, mengatakan gurunya adalah
penganut Sunni. Para santrinya juga banyak dari kalangan Sunni, terutama
Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyyah. Belakangan, kata Mihdad, sebagian
santrinya ada yang tetap beraliran Sunni dan ada pula yang beralih ke
Syiah. “Sejak itulah Syiah di Candi berkembang. Santrinya meluas dari
berbagai daerah. Kabar tentang adanya pesantren Syiah pun menyebar,”
kata Miqdad.
Setelah 10 tahun mengelola pesantren itu, Ghadir memasuki usia sepuh.
Dia sering sakit. Pesantren itu mulai berkurang aktivitasnya. Akhirnya
Ghadir wafat pada 17 Agustus 1993. Dia dimakamkan di Kauman, Bangsri.
Setelah itu, kegiatan pesantren mandek. Pesantren pun tutup karena tak
ada yang mengurus. Makam Ghadir terletak berdampingan dengan makam
istrinya. Berdiri di atas bangunan berbentuk panggung joglo seluas dua
kali lapangan bulu tangkis, makam Ghadir selalu ramai dikunjungi
peziarah.
Karena anak-anak Ghadir belum sempat melanjutkan perjuangan Syiah,
pada 1999, murid Ghadir berinisiatif mendirikan Yayasan Islam Darut
Taqrib di Krapyak, Jepara. Mereka tidak ingin melihat ajaran Syiah
tinggal sejarah karena tak ada regenerasi. Selain itu, saat itu banyak
Ahlul Bait–sebutan bagi penganut Syiah–sudah pulang menimba ilmu dari
Qum University, Iran.
Setelah itu, didirikanlah Pondok Pesantren Darut Taqrib untuk
menampung santri yang ingin mempelajari Syiah. Berdiri di atas lahan
seluas kurang dari 1 hektare, bangunan pondok itu terdiri atas masjid,
pendapa, dan kamar santri. Selain membawahi pesantren, penganut Syiah
membentuk berbagai forum seperti Fatimiyyah (pengajian ibu-ibu),
Zainabiyyah (pengajian remaja putri), Forum Ilmiah Remaja Ahlul Bait
(Firab). Di bidang sosial, Syiah juga punya Himpunan Peduli Komunitas
Masyarakat. Pesantren Darut Taqrib merupakan salah satu arena pendidikan
Syiah. “Pendidikan ini adalah salah satu bentuk kaderisasi,” kata
Miqdad, yang juga menjabat Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia.
Kini, Darut Taqrib dihuni sekitar 40 santri. Tak hanya dari Jepara,
santri juga datang dari berbagai provinsi di Indonesia seperti Lampung
dan Jawa Timur. Ada yang hanya
mondok dan ada pula yang sambil bersekolah di sekolah umum. Abdullah, misalnya, ia bersekolah di sekolah menengah kejuruan dan
mondok
untuk mempelajari Syiah. Miqdad menyatakan dana operasional Syiah
berasal dari iuran anggota. “Tak benar jika ada yang menyebut kami dapat
dana dari Timur Tengah,” katanya. (DarutTaqrib/koran Tempo/Adrikna!/http://www.darut-taqrib.org/berita/2012/03/22/kedamaian-sunni-dan-syiah-di-jepara-1/)

Pesantren
Syiah, Darut Taqrib, berdiri di tengah lingkungan Nahdlatul Ulama, yang
merupakan penganut Sunni di Desa Candi Bangsri, Jepara. Meski beberapa
praktek peribadatannya berbeda, warga Syiah dan warga NU hidup damai di
wilayah ini. Menurut Miqdad Turkan, murid Abdul Ghadir Bafaqih, pendiri
aliran Syiah di Jepara, ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum Syiah
dan Sunni di Jepara bisa hidup damai.
Ada faktor hubungan kekerabatan dan pertemanan sejak lama. “Banyak
tokoh kiai di Jepara dan sekitarnya pernah menjadi murid Ghadir,” kata
Miqdad. Karena itu, ketika Abdul Ghadir beralih ke Syiah, muridnya tahu
bahwa Abdul Ghadir memang berbeda sejak awal, sehingga tak menimbulkan
masalah.
Selain itu, para kiai muda di Jepara juga berteman baik sejak di
bangku sekolah. Yang tak kalang penting, kata Miqdad, kaum Syiah di sana
tak pernah bertindak ekstrem atau berambisi mengajak orang Sunni masuk
ke Syiah. “Orang Syiah berkembang secara alamiah dan orang lain melihat
Syiah juga secara alamiah pula,” katanya.
Bagi Miqdad, secara naluriah, orang terus berproses dalam pencarian
akibat ketidakpuasan spiritual. “Silakan diskusi. Selanjutnya Anda jadi
Syiah atau tidak, itu hak anda. Orang yang bijak adalah yang bisa
memahami orang lain tanpa harus mengikuti,” kata Miqdad.
Muhammad Ali, salah satu pengasuh pondok Darut Taqrib, menyatakan
menjadi penganut Syiah secara alamiah setelah banyak membaca buku. “Saat
umur 16 tahun, saya banyak membaca buku tentang Islam dan masyarakat,
serta tentang Islam dan tantangan zaman,” katanya. Setelah itu, dia
mondok di Pekalongan.
Sebelumnya, Ali adalah penganut Sunni tulen. Keluarganya pun pengikut
setia Sunni. Kini, Ali beralih ke Syiah, sedangkan keluarganya masih
ikut Sunni. Keluarga Ali juga tak mempersoalkan pilihan keyakinan
anaknya. “Perbedaaan dalam hal kehidupan adalah sesuatu yang biasa, yang
penting saling menghargai,” katanya.
Miqdad menambahkan, silakan menjadi pengikut Syiah atau Sunni. “Yang penting jangan berhenti belajar dan selalu membela kaum
mustad’afin
(kaum lemah),” ujarnya. Miqdad mencontohkan, penganut Syiah dan Sunni
di Jepara sering melakukan salat berjamaah. Miqdad mengatakan, dalam
salat berjamaah itu, tangan penganut Sunni bersedekap, sedangkan tangan
penganut Syiah tidak demikian. “Tidak ada masalah. Itu hanya perbedaan
yang tak substansial,” katanya.
Miqdad memperkirakan bahwa konflik antara kaum Syiah dan Sunni yang
terjadi di beberapa tempat di Indonesia menunjukan ketidakpahaman mereka
tentang Syiah. Dia menjamin hubungan Syiah-Sunni di Jepara akan tetap
aman. “Kecuali kalau ada provokator dari luar daerah,” kata dia.
Menurut Miqdad, yang menarik perhatian masyarakat lain terhadap Syiah
adalah kisah heroisme beberapa tokoh, misalnya pemimpin Hizbullah
Lebanon, Syekh Hasan Nasrullah; Presiden Iran Mahmoud Ahmadinnejad, dan
pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini.
Selain di Jepara, jemaah Ahlul Bait ada di Semarang. Sekitar 200
penganut Syiah terpencar di seantero Semarang. Berbeda dari sebelumnya,
kini penganut Syiah tak lagi bersembunyi (
taqiyah). Di Kampung
Bulu, Stalan, misalnya, meski hanya ada tiga keluarga penganut Syiah,
mereka sudah secara terbuka menunjukkan keyakinannya sebagai penganut
Syiah.
Pengurus Yayasan Nuruts Tsaqalain, Nurkholishm menyatakan penyebaran
Syiah tak dilakukan melalui doktrinasi. “Salah besar jika ada anggapan
kalau Syiah berkembang di Indonesia karena mobilisasi,” katanya.
Beralihnya seseorang menjadi Syiah lebih didasarkan pada pencarian
kepuasan keilmuan. Salah satunya melalui buku. Pada 2009, buku tentang
Syiah berjumlah sekitar 750 judul.
Pencarian kepuasan ilmu memang menjadi ciri khas penganut Syiah.
Berbagai tema kehidupan juga menjadi bahan diskusi mereka. Namun kini
komunitas Syiah juga mulai berkonsentrasi pada kegiatan sosial. “Dialog
intelektual diminimalkan karena kebutuhan masyarakat luas adalah aksi
nyata,” kata Nurkholis.
Jemaah Syiah di Jepara dan Semarang sering menyalurkan beasiswa,
membedah rumah, melakukan bakti sosial, mendonorkan darah, dan membantu
korban bencana alam. Mereka juga bekerja sama dengan berbagai kelompok
penganut agama lain tanpa mengibarkan atribut apa pun.
Pengajar Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang, Muhksin
Jamil, yang menyusun disertasi tentang Syiah di Jepara, menyatakan
komunitas Syiah Jepara terbangun atas dasar persamaan proses pencarian
kepuasan keilmuan dan peribadatan. Yang tak kalah penting, kata Muhksin,
penganut Syiah tak menutup mata terhadap masalah sosial. “Mereka sering
membela kaum
mustad’afin (kaum lemah) dengan membedah rumah, memberi beasiswa, dan menyalurkan bantuan,” katanya. (DarutTaqrib/Koran Tempo/Adrikna!/http://www.darut-taqrib.org/berita/2012/03/22/kedamaian-sunni-dan-syiah-di-jepara-2/)
Posted on Desember 27, 2010 by syiahali

Prof
Dr M. Ali Aziz (kiri) di depan Masjid Shah dengan desain tanpa atap
yang setelah Revolusi Iran kini diganti namanya menjadi Masjid Khumeini.
(Foto : M. Ali Aziz for Jawa Pos)
Untuk yang ketiga, Prof Dr Moh. Ali Aziz MA, guru besar Fakultas
Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, diundang ke Iran untuk menjadi imam
Tarawih dan narasumber kajian Islam selama Ramadan. Berikut catatan
perjalanannya dari negeri berpaham Syiah itu yang ditulis dari Teheran.
= = = = = = = = = = = = =
“SALOM, salom,” teriak anak berusia sekitar sepuluh tahun sambil
berjalan tergesa-gesa. Kaki kecilnya beringsut di tengah jamaah yang
baru selesai salat Duhur di Masjid Hadharat Qaim, kira-kira 50 meter
dari Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia Teheran, tempat saya
tinggal. Inilah hari pertama Ramadan (11/8) sekaligus salat Duhur
berjamaah pertama pada kunjungan ketiga saya di Teheran.
Masyarakat Iran lebih terbiasa dengan ucapan salom daripada
assalamualaikum seperti di Indonesia. Bocah berhidung mancung dengan
celana panjang dan kaus bergaris itu terlambat datang. Seharusnya dia
bertugas sebagai “remote” salat Duhur. Karena terlambat, dia baru
melaksanakan tugasnya untuk salat Asar yang selalu dikerjakan satu waktu
dengan Duhur (Demikian juga, salat Isya di sana dikerjakan secara
berjamaah pada waktu magrib).
Bocah itu langsung memegang mikrofon. Dia berdiri tiga meter sebelah
kanan imam. “Allahu Akbar,” komando sang bocah kepada jamaah di
belakangnya, segera setelah imam yang mengenakan pakaian kebesaran jubah
cokelat tua dan serban putih memulai salat. Demikian seterusnya untuk
komando rukuk, sujud, iktidal, dan sebagainya.
Pada rakaat kedua salat jamaah itu, saya keliru memahami komando.
Sebelum rukuk, terdengar komando takbir. Saya langsung rukuk sebagaimana
biasa saya lakukan. Ternyata itu komando doa kunut. Baru takbir
berikutnya, komando rukuk.
Dalam perjalanan pulang dengan udara panas yang sampai membuat hidung
keluar darah, saya berkata dalam hati, “Hebat benar, seorang bocah
bisa memberi komando sang syekh.” Yang menarik, meski memberikan
komando, dia tidak ikut salat. Bocah “remote” itu baru salat
“sendirian” setelah salat jamaah usai.
Tidak selalu “remote” salat jamaah adalah anak-anak. Di Masjid Jamik
Imam Shodiq Alaihissalam di Aqdasiyeh Street Teheran, komando salat
diucapkan orang dewasa yang duduk persis di depan imam salat. Dengan
celana dan baju lengan panjang yang disingsingkan sedikit dan tanpa
tutup kepala, dia memberikan komando dengan suara mantap.
Masyarakat Iran tidak biasa menggunakan tutup kepala saat salat di
masjid. Hanya imam yang menggunakan tutup kepala dengan serban hitam
atau putih. Serban hitam sebagai tanda bahwa dia sayyid (keturunan nabi)
dan warna lainnya bukan sayyid.
Saya memang sering terlihat asing bagi jamaah lainnya. Bukan hanya
karena baju dan kulit saya, tapi juga karena cara beribadah saya yang
non-Syiah. Sejak wudu saja, saya sudah dipandang aneh. Bagi penganut
Syiah, membasuh tangan untuk berwudu tidak boleh dengan membasahinya di
bawah pancuran keran, tapi dengan cakupan tangan. Sisa air dari tangan
itu lalu diusapkan sedikit di kepala dan sedikit di kaki. Jadi, tanpa
mengusap telinga dan tanpa membasuh kaki. Dalam buku Amozes Namaz
(petunjuk salat) yang saya beli di Bazar Bozorge (Pasar Besar), ternyata
memang demikian aturan wudu.
Ketika masuk masjid, saya juga asing. Mereka mengambil turbah (tanah
bulat atau persegi empat dari tanah “suci” Karbala, tempat cucu nabi
sekaligus anak Ali bin Abi Thalib meninggal) yang tersedia di rak pintu
masjid untuk alas sujud, sedangkan saya ngeloyor begitu saja. Apalagi
sewaktu berdiri salat, hanya saya yang bersedekap. Jamaah lain
membiarkan tangan lurus ke bawah.
Kekakuan di tengah jamaah itu segera cair setelah Karami, warga Iran
yang lebih dari 15 tahun menjadi staf lokal KBRI, yang mendampingi
saya, menjelaskan kepada jamaah bahwa saya sedang belajar tentang Syiah
dan masyarakat Iran. Paham Syiah memang amat kental bagi masyarakat
Iran. Berkali-kali saya bertemu orang dan ditanya dengan pertanyaan
yang sama: Dari negara mana, penganut Syiah atau tidak, dan ketika saya
menjawab Suni, mereka bertanya pengikut mazhab apa?
Pada Ramadan hari ketiga, saya salat Duhur didampingi Choiruddin,
pelajar Indonesia yang sudah tiga tahun belajar di Iran, di Haram
Muthahar Imam Khumeini (masjid dan makam Imam Khumeini). “Jika ditanya
orang, Pak Ustad sebaiknya menjawab saya pengikut Suni bermazhab Imam
Syafii,” pesan Choiruddin.
Benar kata Choiruddin. Beberapa menit kemudian, dua orang berpakaian
rapi dan berjas menghampiri saya. Mereka mengajukan pertanyaan yang
sama. Dengan bahasa Arab yang lumayan fasih, dua orang itu berbicara
sangat sopan dan toleran terhadap kami yang Suni. Bahkan, keduanya
“orang kampus sekaligus penghafal Alquran” menyebut beberapa kebaikan
Imam Syafii.
Sekalipun ulama Suni, Imam Syafii sangat dicintai penganut Syiah.
Banyak penduduk Iran yang bernama Syafii. “Jika bukan orang kampus, Pak
Ustad pasti diceramahi panjang lebar, yang intinya ajakan untuk
meninggalkan paham nenek moyang yang tidak benar dan mengikuti Syiah,”
kata Choiruddin setelah mengucapkan Khoda hafez (Tuhan menjagamu)
sebagai ucapan perpisahan kepada keduanya.
Hampir semua masjid di Iran yang saya kunjungi dihias dengan
kaligrafi yang sangat indah. Jangankan masjid, tembok-tembok rumah dan
kantor pun berhias kaligrafi. Pada mihrab Masjid Jamik Imam Shodiq
Alaihissalam, misalnya, terdapat kaligrafi surat An-Nur ayat 35,
“Allah adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi…”. Mengapa ayat itu yang
dipilih? Bagi mereka, ayat itu ada kaitannya dengan kedudukan para imam
Syiah. Cahaya Allah hanya bisa terpancar di langit dan bumi melalui
para imam.
Terdapat juga doa dalam kaca dan berlampu yang menggambarkan
penantian akan datangnya Imam Mahdi yang sedang dirindukan sebagai
pemberi solusi semua masalah kehidupan. Sebutan untuk imam yang
dinantikan itu bermacam-macam. Ada kalanya dipanggil Wali Ashr, Imam
Zaman, Shahibuz Zaman, atau Mahdi al Muntadhar.
Setiap usai salawat nabi dengan lagu yang khas, baik sewaktu
mendengar azan maupun selesai salat, mereka selalu menambah dengan doa
wa”ajjil farajahum (wahai Allah percepatkan selesainya semua masalah
umat dengan kehadiran Mahdi al-Muntadhar). Ada juga doa yang terpampang
di tembok, Ya shahibaz Zaman adrikni (Wahai Imam yang ditunggu, beri
saya jalan keluar).
Ada juga kaligrafi yang dipasang di hampir semua toko yang terkenal
dengan sebutan kaligrafi Waiy Yakad. Sebutan itu terkait dengan bunyi
awal ayat yang ada dalam kaligrafi tersebut, yaitu Surat Al-Qalam ayat
51, yang artinya “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar
hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka tatkala mereka
mendengar Alquran”.
Pada Ramadan dua tahun yang lalu, saya sudah membeli kaligrafi itu
karena indah dan sangat populer. Melihat artinya, saya menduga ayat
tersebut untuk penangkal kejahatan. Namun, baru pada kunjungan kali ini
saya menemukan jawabannya bahwa itu adalah kaligrafi “pelaris
dagangan”.
“Masyarakat Iran yang terkenal cerdas ternyata juga menyukai jimat,”
kata saya kepada Buyuk, warga Iran yang bertugas sebagai sopir di KBRI.
Mendengar kelakar saya itu, dia hanya tersenyum.
Dadan Maula, ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran, punya
pandangan menarik tentang fenomena tersebut. “Bahkan, “jimat” yang
banyak beredar di masyarakat Indonesia ada kaitannya dengan budaya dan
keyakinan orang Iran, Pak,” katanya setelah sama-sama mengikuti upacara
memperingati kemerdekaan ke-65 RI di Teheran.
Dia menunjukkan beberapa bukti, antara lain, gambar pedang pada jimat
di Jawa. Gambar itu diduga kuat adalah gambar pedang Sayyidina Ali bin
Abi Thalib yang juga sangat populer di Iran. Kaligrafi berbentuk
kepala singa yang banyak kita jumpai di Indonesia juga sangat mungkin
dari Iran. Sebab, gambar tersebut juga ada di bendera Iran pada zaman
pemerintahan Shah Pahlevi. Orang Iran menyebut gambar itu dengan shir va
khurshid (harimau dan matahari).
Saat berada di pasar dekat masjid, saya ditawari Buyuk yang sudah
lansia itu untuk membeli tasbih zahra untuk oleh-oleh. “Tasbih apa
lagi,” pikir saya. Saya menduga tasbih (alat penghitung zikir) itu
terbuat dari bunga karena zahra dalam bahasa Arab berarti bunga. Setelah
masuk toko, ternyata itu tasbih biasa seperti yang banyak dijumpai di
Indonesia.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa orang Iran menyebut itu dengan
tasbih zahra. Ternyata, karena orang Iran menggunakan tasbih selain
untuk berzikir subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu Akbar, juga untuk
memanggil-manggil imam atau orang suci pujaan mereka. Ya Zahra (gelar
untuk Fatimah, putri Rasulullah, istri Ali bin Abi Thalib) atau Ya
Husein (cucu nabi, putri Fatimah) atau Ya Abal Fadhal (imam atau pejuang
yang terpotong-potong tubuhnya karena membela Imam Husein di Karbala).
Sebelum keluar dari toko, pemilik toko mengangkat tangan saya sambil
mengatakan dengan bahasa Persia, Andunezi khaeli khube. Ba Iran
Israel ra ruswa kunim (Indonesia sangat baik, bersama Iran, kita tumpas
Israel?. “Bale. Mamnun,” jawab saya, yang berarti, ya dan terima
kasih.
Saya tidak tahu dia paham atau tidak terhadap jawaban saya. Tapi,
yang jelas, dia kemudian mengangkat kedua ibu jari tangannya (Jika hanya
mengangkat satu ibu jari, itu berarti penghinaan di Iran). Tapi,
karena sudah menjadi kebiasaan, saya sering keliru memuji orang dengan
satu ibu jari.

Masuk ke Musala Pesaing Masjidilharam
Iran mulai diminati pelajar Indonesia yang ingin studi Islam.
Alumninya kelak bisa menjadi perekat bagi pemahaman yang lebih baik
antara penganut Suni dan Syiah. Berikut lanjutan catatan MOH. ALI AZIZ,
guru besar IAIN Sunan Ampel.
—
SAAT ini jumlah jumlah pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar
Indonesia (IPI) di Iran sekitar 175 orang. Dari jumlah itu, sebagian
besar atau 150 orang memilih belajar ilmu agama di Hauzah Ilmiyah di
Kota Qom.
Hauzah Ilmiyah adalah perguruan tinggi di bawah payung Jamiatul
Musthafa Al Alamiyah. Selain di Qom, lembaga tersebut mempunyai beberapa
perguruan tinggi di Kota Mashad, Isfahan, dan Gorgan (khusus untuk
penganut Sunni). Semula lembaga tersebut bernama Markaz Jahani Ulume
Islami. Pergantian nama ini seiring dengan perubahan menjadi
universitas, seperti perubahan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia.
Yang menarik, para istri (pelajar/mahasiswa) juga wajib ikut kuliah
plus menjadi santri di perguruan tinggi yang sistem pengajarannya
bernuansa pondok pesantren itu. Karena mahasiswa sekaligus juga santri,
belajarnya seharian penuh.
Salah seorang anggota IPI yang kerap mendampingi saya selama di Iran
adalah Choiruddin, pelajar asal Lombok Timur. Dia sedang menyelesaikan
S2 di Universitas Mazahabe Islami di bawah Kementerian Sains dan Ristek
Iran yang berdiri sebelas tahun lalu.
Choiruddin adalah salah seorang di antara tiga mahasiswa yang dikirim
PB NU untuk kuliah di negeri Mullah itu. Tiga mahasiswa itu sebelumnya
kuliah di Qom. Karena tidak kuat dengan tekanan ideologis (karena
berlatar belakang Suni), akhirnya mereka pindah ke universitas di
Teheran melalui perjuangan yang berliku-liku. Di ibu kota Iran mereka
agak leluasa untuk menampakkan jati diri sebagai mahasiswa non-Syiah.
Ada dua jenis beasiswa di Iran, yaitu dari pemerintah melalui
Kementerian Sains-Ristek dan Jamiatul Musthofa Al Alamiyah, lembaga
swasta untuk pusat studi Syiah di Kota Qom. Pelajar menerima beasiswa
dari pemerintah Iran antara 400 ribu-1 juta riyal Iran per bulan (nilai
tukar satu riyal hampir sama dengan rupiah). “Alhamdulillah cukup,
Pak,” kata Dadan, mahasiswa Universitas Internasional Imam Khumaeni di
Qazvin, sekitar 150 kilometer dari Teheran.
Menurut Dadan, beasiswa itu cukup karena biaya asrama ditanggung.
Demikian pula makan di kampus disubsidi sehingga hanya membayar dua ribu
riyal. Padahal, di luar harus 50 ribu sekali makan. Tidak hanya itu,
naik bus hanya membayar 200 riyal (Rp 200) dengan tiket jauh dekat.
“Untuk kami yang di Qom hanya (dapat bea siswa, Red) 500 ribu
riyal,|” kata Abdurrahman, alumnus UIN Alauddin Makasar yang sudah dua
tahun di Qom. “Anak saya ini mendapat jatah satu beasiswa,” katanya
sambil menggendong anaknya yang berusia dua tahun.
Di antara ratusan pelajar Indonesia, ada seorang yang telah
menyelesaikan S3 bidang filsafat dan seorang lagi dalam proses
penyelesaian S3. Yang lebih hebat, ada pelajar Indonesia yang sudah 28
tahun belajar di Qom. Dia sudah berada di jenjang darajatul mujtahid
sehingga beberapa tahap lagi menjadi ayatullah. Bisa jadi, dialah orang
Indonesia pertama yang bergelar ayatullah.
Seorang ayatullah sudah diberi otoritas menjadi mujtahid (pengambil
keputusan hukum Islam). Ia bisa juga memasuki jenjang yang paling atas,
ayatullah udhma yang bisa menjadi rujukan taqlid. Seorang ayatullah
dituntut menguasai satu disiplin ilmu, sedangkan ayatullah udhma
multidisiplin.
Yang menarik, untuk setiap jenjang itu, seseorang harus menghafal
sejumlah kitab standar Syiah dan menyusun karya ilmiah. Di Iran, para
akhund (ulama) itulah yang mengendalikan negara, mulai level lokal
hingga nasional. Sektor swasta maupun negeri. Dengan demikian, tidak ada
satu pun lembaga di negeri itu yang lepas dari kontrol agama.
Ironisnya, saat ini gejala degadrasi kepercayaan kepada tokoh agama
amat sering saya dengar dari beberapa mahasiswa dan sopir taksi di
Teheran. Keluhan itu dipicu oleh, antara lain, naiknya harga
barang-barang kebutuhan pokok, buku, bahkan bensin setelah pencabutan
subsidi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi para akhund apakah para
agamawan bisa membawa Iran lebih sejahtera.
Sebagai negara republik Islam yang menempatkan para agamawan di
tempat yang strategis, Iran memiliki perhatian besar pada agama. Salah
satu even menarik selama Ramadan ini adalah Pameran Alquran
Internasional yang dilaksanakan di Musala Imam Khumeini.
Pameran internasional itu dilaksanakan oleh pemerintah setiap
Ramadan. Meski diadakan di “musala”, menurut saya, itulah musala yang
terbesar di dunia.
Saya tidak tahu persis luasnya, tapi saya perkirakan ratusan hektare.
Saya mengitari dengan sedan sampai berganti tiga nama jalan di jantung
Kota Teheran itu, namun belum juga tuntas. Jangan tanya berapa lama
membangunnya! Sebab, saat ini merupakan tahun ke-20 sejak mulai dibangun
(setelah memindahkan ratusan rumah penduduk), tapi pembangunannya
belum mencapai 40 persen.
Itulah musala yang sering disebut orang dibangun untuk “menandingi”
Masjidilharam di Makkah atau Masjid Nabawi di Madinah. Di dekat musala
ada beberapa hutan buatan dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Di
sepanjang tepi jalan raya ada saluran air dari gunung berdiameter 50 cm
untuk penyiraman dua kali sehari di tanah gersang itu.
Pameran buka pukul 17.00-24.00. Ini jam buka pameran yang wajar bagi
masyarakat Iran karena tidak ada tarawih dan tidak ada tadarus bagi
mereka selama Ramadan.
“Subhanallah,” ucap saya berkali-kali melihat kemegahan musala dan
menyaksikan secara langsung macam-macam kitab Alquran. Desain dan
kaligrafi yang ditampilkan belum pernah saya jumpai di museum Belanda
maupun di Indonesia.
Tidak hanya itu, para wanita anggun berpakaian serbahitam menunggu
beberapa pengunjung di lobi untuk berdiskusi tentang Alquran. Ada ruang
untuk diskusi, bahkan debat terbuka, tentang tafsir, fikih, atau tauhid
yang dipandu oleh akhund.
“Banyak di antara mereka yang berpredikat hujjatul Islam yang setara
dengan profesor,” kata Choiruddin kepada saya sambil menunjuk debat
terbuka yang disiarkan langsung melalui televisi.
Ada satu stan yang semua penjaganya wanita muda dengan laptop di
tangannya. Mereka bukan menjual produk yang terkait dengan Alquran, tapi
memamerkan klasifikasi dan kajian mendalam Alquran terkait dengan
disiplin ilmu biologi, fisika, astronomi, kedokteran, dan sebagainya.
Persis di pintu keluar, saya mendapat suguhan pameran yang tidak
kalah menarik, yaitu patung para nabi, mulai Nabi Adam, Nuh, Ibrahim
yang sedang berjihad melawan kaum pembangkang. Tetapi, tidak ada patung
Nabi Muhammad.
Di tempat itu pula Pameran Buku Internasional diadakan setiap tahun
dengan suasana yang jauh lebih meriah. Setelah mengelilingi tempat
tersebut, baru saya paham mengapa namanya musala (bukan masjid). Mungkin
agar bisa lebih leluasa untuk mengadakan even-even akbar setiap saat.
Yang membuat saya takjub, semua Alquran yang dipamerkan oleh negeri
dengan 97 persen penganut Syiah itu sama persis dengan milik kaum Suni.
Setelah keluar dari tempat pameran, saya bermimpi suatu saat tidak
boleh lagi ada bentrokan antara Suni dan Syiah. Sebaliknya,
masing-masing bisa bersama-sama membangun peradaban dunia dengan nuansa
rahmatan lilalamin.(http://syiahali.wordpress.com/2010/12/27/pengalaman-ulama-suni-indonesia-%E2%80%9Cbelajar%E2%80%9D-di-komunitas-syiah-iran/)
Posted on November 23, 2011 by syiahali
perkembangan syiah makin pesat di indonesia
Propaganda anti syi’ah menyebabkan Syi’ah di Indonesia justru tumbuh pesat
Pertumbuhan Kaum Syi’ah Indonesia Semakin Pesat ! Perkembangan Syi’ah Indonesia kian subur
syiah semakin berkembang
Menurut pusat data lembaga penelitian Syi’ah di Yogyakarta, Rausyan
Fikr, seperti disampaikan dalam makalah yang ditulis oleh Pengurus
wilayah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Yogyakarta, AM
Safwan, pada tahun 2001, terdapat 36 yayasan Syi’ah di Indonesia dengan
43 kelompok pengajian. Sebanyak 21 yayasan/ kelompok pengajian di
tingkat provinsi, dan 33 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat
kabupaten. Kota.
Tidak hanya melalui pengajian, upaya penyebaran paham Syi’ah juga
gencar dilakukan melalui penerbitan buku. Menurut hasil hitungan Rausyan
Fikr, hingga Februari 2001 saja, tidak kurang 373 judul buku mengenai
Syi’ah telah diterbitkan oleh 59 penerbit yang ada di
Indonesia. (Majalah Hidayatullah, Rabi’ul Tsani 1430H/ April 2009,
halaman 29).
BERIKUT DATA-DATA SYIAH DI INDONESIA YANG UNTUK SAAT INI BISA
KAMI HIMPUN DAN INSYA ALLAH DATA INI AKAN SENANTIASA KAMI UPDATE DI
LAIN KESEMPATAN.
YAYASAN
1. Yayasan Fatimah, Condet, Jakarta
2. Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta
3. Yayasan Al-Aqilah
4. Yayasan Ar-Radhiyah
5. Yayasan Mulla Shadra, Bogor
6. Yayasan An-Naqi
7. Yayasan Al-Kurba
8. YAPI, Bangil
9. Yayasan Al-Itrah, Jember
10. Yayasan Rausyan Fikr, Jogya.
11. Yayasan BabIIm, Jember
12. Yayasan Muthahhari, Bandung
13. YPI Al-Jawad, Bandung
14. Yayasan Muhibbin, Probolinggo
15. Yayasan Al-Mahdi, Jakarta Utara
16. Yayasan Madina Ilmu, Bogor
17. Yayasan Insan Cita Prakarsa, Jakarta
18. Yayasan Asshodiq, Jakarta Timur
19. Yayasan Babul Ilmi, Pondok Gede
20. Yayasan Azzahra Cawang
21. Yayasan Al Kadzim
22. Yayasan Al Baro’ah, Tasikmalaya
23. Yayasan 10 Muharrom, Bandung
24. Yayasan As Shodiq, Bandung
25. Yayasan As Salam, Majalengka
26. Yayasan Al Mukarromah, Bandung
27. Yayayasan Al-Mujataba, Purwakarta
28. Yayasan Saifik, Bandung
29. Yayasan Al Ishlah, Cirebon
30. Yayasan Al-Aqilah, Tangerang
31. Yayasan Dar Taqrib, Jepara
32. Yayasan Al Amin, Semarang
33. Yayasan Al Khoirat, Jepara
34. Yayasan Al Wahdah, Solo
35. Yay. Al Mawaddah, Kendal
36. Yay.Al Mujtaba, Wonosobo
37. Yay.Safinatunnajah, Wonosobo
38. Yayasan Al Mahdi, Jember
39. Yay.Al Muhibbiin, Probolinggo
40. Yayasan Attaqi, Pasuruan
41. Yayasan Azzhra, Malang
42. Yayasan Ja’far Asshodiq, Bondowoso
43. Yayasan Al Yasin, Surabaya
44. Yapisma, Malang
45. Yayasan Al Hujjah, Jember
46. Yayasan Al Kautsar, Malang
47. Yayasan AL Hasyimm, Surabaya
48. Yayasan Al Qoim, Probolinggo
49. Yayasan al-Kisa’, Denpasar
50. Yayasan Al Islah, Makasar
51. Yayasan Paradigma, Makasar
52. Yayasan Fikratul Hikmah, Jl Makasar
53. Yayasan Sadra. Makasar
54. Yayasan Pinisi,, Makassar
55. Yayasan LSII, Makasar
56. Yayasan Lentera, Makassar
57. Yayasan Nurtsaqolain, Sulsel
58. Yas Shibtain, Tanjung Pinang Kep Riau
59. Yayasan Al Hakim, Lampung
60. Yayasan Pintu Ilmu, Palembang
61. Yayasan Al Bayan, Palembang
62. Yayasan Ulul Albab, Aceh
63. Yayasan Amali, Medan
64. Yayasan Al Muntadzar, Samarinda
65. Yayasan Arridho, Banjarmasin
MAJLIS TAKLIM
1. MT. Ar-Riyahi
2. Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah
3. Pengajian Al Bathul, Cililitan
4. Pengajian Haurah, Sawangan
5. Majlis Taklim Al Idrus, Purwakarta
6. Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang
7. MT Al Jawad, Tasikmalaya
8. Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo
IKATAN
1. Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI)
2. Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor
3. HPI – Himpunan Pelajar Indonesia-Iran
4. Shaf Muslimin Indonesia, Cawang
5. MMPII, condet
6. FAHMI (Forum Alumni HMI) Depok
7. Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT)
8. Badan KerjaSama Persatuan Pelajar Indonesa Se- Timur Tengah dan Sekitarnya
(BKPPI).
9. Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT)
10. Ahlul Bait Indonesia (ABI)
LEMBAGA
1. Islamic Cultural Center (ICC), Pejaten
2. Tazkia Sejati, Kuningan
3. Al Hadi, Pekalongan
4. Al-Iffah, Jember
5. Lembaga Komunikasi Ahlul Bait (LKAB), wadah alumni qom, di
motori oleh ICC Jakarta yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah
Republik Islam Iran (RII). LKAB membawai Yayasan AI Munthazar, Fathimah
Aqilah, Ar Radiyah, Mulla Sadra, An Naqi, Al Kubra, AI Washilah, MT Ar
Riyahi dan gerakan dakwah Al Husainy.
SEKOLAH ATAU PESANTREN
1. SMA PLUS MUTHAHARI di Bandung dan Jakarta
2. Pendidikan Islam Al-Jawad
3. Icas (Islamic College for Advanced Studies) – Jakarta Cabang London
4. Sekolah Lazuardi dari Pra TK sampai SMP, Jakarta
5. Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok
6. Madrasah Nurul Iman, Sorong
7. Pesantren Al-Hadi Pekalongan
8. Pesantren YAPI, Bangil
PENERBIT BUKU-BUKU SYIAH
Lentera
Pustaka Hidayah
MIZAN
YAPI JAKARTA
YAPI Bangil
Rosdakarya
Al-Hadi
CV Firdaus
Pustaka Firdaus
Risalah Masa
Al-Jawad
Islamic Center Al-Huda
Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks
Mahdi
Ihsan
Al-Baqir
Al-Bayan
As-Sajjad
Basrie Press
Pintu Ilmu
Ulsa Press
Shalahuddin Press
Al-Muntazhar
Mulla Shadra
CAHAYA
PENULIS-PENULIS SYIAH
Husain Ardilla
Alwi Husein, Lc
Muhammad Taqi Misbah
O.Hashem
Jalaluddin Rakhmat
Husein al-Habsyi
Muhsin Labib
Riza Sihbudi
Husein Al-Kaff
Sulaiman Marzuqi Ridwan
Dimitri Mahayana
VCD CERAMAH
Lihat di
http://www.duapusaka.com
MAHASISWA QOM
1. Muhammad Taqi Misbah Yazdi
2. Euis Daryati, Mahasiswi S2 Jurusan Tafsir Al-Quran, Sekolah Tinggi Bintul Huda Qom.
Ketua Fathimiah HPI 2006-2007.
3. Nasir Dimyati, S2 Jurusan Ulumul Quran Universitas Imam Khomeini Qom. Saat ini aktif
di BKPPI.
4. Usman Al-Hadi, Mahasiswa S1 Jurusan Ulumul Quran Univ. Imam Khomeini Qom.
5. Abdurrahman Arfan, S1 Jurusan Ushul Fiqh di Jamiatul Ulum Qom, Republik Islam Iran.
6. M. Turkan, S1 Jurusan Filsafat & Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik
Islam Iran
7. Siti Rabiah Aidiah, Mahasiswi di Jamiah Bintul Huda, Qom, Jurusan Ulumul Quran.
8. Muchtar Luthfi, Ketua Umum Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) di Republik Islam Iran
periode 2006-2007, Sekjen Badan Kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia (BKPPI)
se-Timur Tengah dan Sekitarnya.
9. Herry Supryono, Mahasiswa S1 Fiqh dan Maarif Islamiyah di Madrasah Hujjatiyah Qom,
Republik Islam Iran.
10. Saleh Lapadi, asal Sorong, alumni YAPI Bangil, Sekarang menempuh S2 di Qom Iran,
pimred islat (islam alternatif)
11. Afifah Ahmad, Mahasiswi S1, Jurusan Maarif Islam di Jamiatul Bintul Huda, Qom
Republik Islam Iran
12. Emi Nur Hayati Ma’sum Said, Mahasiswi S2 Jurusan Tarbiyah Islamiyah & Akhlak di
Universitas Jamiah Azzahra, Qom-Iran
13. A. Luqman Vichaksana S1 Jurusan Filsafat & Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom,
Republik Islam Iran
14. Ammar Fauzi Heryadi, mahasiswa Jurusan Filsafat & Irfan di Universitas Imam
Khomeini Qom, Republik Islam Iran.
ALUMNI QOM
1. DR. Abdurrahman Bima, Alumni dari Hawzah Ilmiah Qom, judul desertasi “Pengaruh
Filsafat dalam Konsep Politik Khomeni”.
2. DR. Khalid Al-Walid, Alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, judul desertasi “Pandangan
Eskatologi Mulla Shadra”
3. Muhsin Labib, Alumnus Hauzah Ilmiah Qom, Republik Islam Iran. Kandidat Doktor
Filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ali Ridho Al-Habsy cucu dari Habib Ali Kwitang, tahun 1974.
5. Umar Shahab, tahun 1976
6. Syamsuri Ali
7. Jalaludin Rahmat
8. Ahmad Barakbah
TENTANG QOM
• Tahun 1990 ada 50 orang belajar di Qom
• Tahun 1999 jumlah alumni sudah lebih dari 100 orang
• Tahun 2001, 50 mahasiswa indonesia melanjutkan studi di Qom
• Tahun 2004, 90 mahasiswa Indonesia melanjutkan studi di Qom
MAJALAH / JURNAL
1. Majalah Syi’ar
2. Jurnal Al-Huda
3. Jurnal Al-Hikmah
4. Majalah Al-Musthafa
5. Majalah Al-Hikmah
6. Majalah Al-Mawaddah
7. Majalah Yaum Al-Quds
8. Buletin Al-Tanwir
9. Buletin Al-Jawwad
10. Buletin Al-Ghadir
11. Buletin BabIIm
RADIO / TV
1. IRIB (Radio Iran siaran bahasa Indonesia)
2. Hadi TV, tv satelite (haditv.com)
3. TV Al-Manar, Libanon, dpt diakses sejak April 2008, bekerja sama dengan INDOSAT
4. Myshiatv.com
5. Shiatv.net
WEBSITE
? syiahali.wordpress.com
?
http://abatasya.net
? www.jalal-center.com
? www.fatimah.org
? www.icc-jakarta.org
? www. babilm.4t.com
? http://www.ahl-ul-bait.org
? http://www.islammuhammadi.com/id/
? http://ahmadsamantho.wordpress.com
? www.islamalternatif.net
? ICAS (icas-indonesia.org)
? Islamfeminis.wordpress.com
? http://www.wisdoms4all.com/ind/
? Yapibangil.org
? Alitrah.com
BLOGROLL
? Ahmad Samontho
http://ahmadsamantho.wordpress.com/
? Anak bangsa
http://umfat.wordpress.com/
? blog Ahlul Bait
http://www.aimislam.com/links.html
? Cahaya ISLAM
http://abuaqilah.wordpress.com/
? cinta Rasul
http://cintarasulullah.wordpress.com/
? Eraalquran
http://eraalquran.wordpress.com/
? GENCAR AHLULBAYT NUSANTARA
http://musadiqmarhaban.wordpress.com/
? Haidarrein
http://haidarrein.wordpress.com/
? Hikmah Islam
http://farterh04.wordpress.com
? ICC
http://www.icc-jakarta.com/
? Info syiah
http://infosyiah.wordpress.com/
? ISLAM FEMINIS
http://islamfeminis.wordpress.com/
? Islam syiah
http://islamsyiah.wordpress.com/
? Jakfari
http://jakfari.wordpress.com/
? Lateralbandung
http://lateralbandung.wordpress.com/
? Luthfis
http://luthfis.wordpress.com/
? Luthfullah
http://luthv.wordpress.com/
? Ma’ashshadiqin
http://comein.blogs.friendster.com/
? Madinah Al-hikmah
http://madinah-al-hikmah.net/
? Nargis
http://mashumah.wordpress.com/
? Pak Jalal
http://www.jalal-center.com/
? Ressay
http://ressay.wordpress.com/
? Pelita zaman
http://www.pelitazaman.blogspot.com/
? Sahib Al-Zaman
http://haidaryusuf.wordpress.com/
? Suara keadilam
http://iwans.wordpress.com/
? TASNIM
http://eurekamal.wordpress.com/
? Telaga Hikmah
http://www.telagahikmah.org/id/index.php
? Wahabisme
http://wahabisme.wordpress.com/
? Musa
http://musakazhim.wordpress.com/
? Ahlulbayt
http://keluargaabi.wordpress.com/
? Dsb, masih banyak lagi
RITUAL
1. Peringatan Maulid Nabi
2. Peringatan Idul Ghadir
3. Pelaksanaan ritual Shalat Iedain
4. Pelaksanaan ritual Lailatul Qadr
5. Peringatan Asyura.
6. 7. Majlis Doa Kumail, malam Jumat.
7. Ghadir Khum
KUTIPAN
“”Beliau adalah saudara saya,” kata Ahmadinejad saat SBY berkunjung ke Iran
“Syiah adalah mereka yang wajahnya pucat karena terjaga di malam
hari. Mata mereka suram karena menangisi dosa. Punggung mereka
membungkuk karena banyaknya shalat. Perut mereka tipis karena seringnya
berpuasa. Bibir mereka kering karena melantunkan doa dan pada mereka
terdapat tanda takwa karena Allah.”(Imam Ali bin Abi Thalib)
http://luthfis.wordpress.com
UNIVERSITAS YANG DILINK OLEH AL-SHIA.ORG
1. Institut Seni Indonesia Yogyakarta
2. Politeknik Negeri Jakarta
3. Sekolah Tinggi Informatika & Komputer Indonesia
4. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas
5. STMIK AKAKOM Yogyakarta
6. Universitas Gajah Mada
7. Unibersitas Pembangunan Nasbional “Veteran” Jakarta
8. Universitas Airlangga
9. Brawijaya University
10. Universitas Darma Persada Jakarta
11. Universitas Gunadarma
12. Universitas Islam Indonesia
13. Universitas Muhammadiyah Jakarta
14. Universitas Negri Malang
15. Universitas Negeri Manado
16. Universitas Negeri Semarang
17. Universitas Pendidikan Indonesia
18. Universitas Pertanian Bogor
19. Institut Teknologi Nasional Malang
20. Politeknik Negeri Ujung Pandang
21. Institut Seni Indonesia Yogyakarta
22. STIE Nusantara
23. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
24. Universitas Klabat
25. Universitas Malikussaleh
26. Universitas Negeri Makasar
27. Universitas Sriwijaya
28. UPN Veteran Jawa Timur
BERITA
? Mukhtamar III IJABI 28 Februari – 1 Maret 2008. Tempat: Celebes
Convention Center (CCC), Makassar. Peserta: 1.000 orang ahlul bait
Indonesia, dan tokoh syiah Timur Tengah dan Eropa. Pembicara: Syaikh
Muhammad Salak, wakil Majma’ Ahlul Bait Teheran, Ayatullah DR. Sayyed
Muhammad Musawi, pimpinan ahlul bait London, Dr. Jalaluddin Rachmat
Ketua Dewan Syurah Ijabi Indonesia
? Server Terbesar Syiah Di-Hack
Kelompok hacker yang beridentitas Group_Xp, tadi malam [Kamis, 18, Sep
2008] mengaku telah meng-hacker server Syiah terbesar di dunia melalui
server Al-Baith [ns1.al-shia.com dan ns3.al-shia.com).
Dikatakan, kelompok hacker tersebut meninggalkan pesan berbahasa arab
dan mengaku dari kelompok wahabi Emirat Arab. Selain itu mereka juga
mengaku telah merusak semua situs-situs Syiah yang oleh mereka sebagai
Rafidhah.
ULAMA RUJUKAN DI QOM
Di Qom terdapat 23 ulama yang bisa menjadi rujukan untuk diikuti. Di bawah ini beberapa marja’ yang cukup terkenal di Qom.
1. Ayatullah Sayyid Ali al-Khamenei, 68 tahun. Pemimpin besar (Rahbar) ini adalah pengganti Imam Khomeini
2. Ayatullah Muhammad Imami Kasyani
3. Ayatullah al-Uzhma Syeikh Muhammad Taqi Bahjat Fumani
KERJA SAMA
Universitas Islam Alaudin Makasar dengan Yayasan Ahlul Bait, Iran
tahun 2004 dengan program sisipan (sandwich program) kuliah tamu,
bantuan buku-buku literatur Islam untuk mendukung pengkajian studi Islam
Di antara perguruan Tinggi Islam yang memiliki Iranian Corner, menurut Majalah
Hidayatullah
April 2009 adalah: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas
Muhammadiyah Jakarta (alhamdulillah Iranian Corner di UMJ ini telah
musnah terkena banjir Situ Gintung, red) Universitas Muhammadiyah
Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah
Aktif di Lembaga Iran
Kembali tentang Syi’ah di Indonesia, lebih dari itu, Iran memiliki
lembaga pusat kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic Cultural Center),
berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah
didirikannya Iranian Corner di 12 tempat tersebut, bahkan ada
orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu. Menurut Majalah
Hidayatullah
yang mewawancarai pihak ICC, di antara orang-orang yang mengajar di ICC
itu adalah kakak beradik: Umar Shihab ( salah seorang Ketua MUI
–Majelis Ulama Indonesia Pusat–?) dan Prof Quraish Shihab (mantan rector
IAIN Jakarta dan Menteri Agama zaman Soeharto selama 70 hari, pengarang
tafsir Misbah), Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan O. Hashem
penulis produktif yang meninggal akhir Januari 2009. Begitu juga
sejumlah keturunan
alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.
Di samping itu banyak tokoh Islam Indonesia yang diundang untuk berkunjung ke Iran
TENTANG IJABI ( IKATAN JAMAAH AHLUL BAIT INDONESIA)
Berdiri : 1 Juli 2000 di Bandung
Pendiri : DR. Jalaluddin Rachmat
DR. Dimitri Mahayana dari ITB
DR. Hadi Suwastio
Ketua Dewan Syura : DR. Jalaluddin Rachmat
Ketua Dewan Tanfidziyah : DR. Dimitri Mahayana
Sekretaris umum: Emilia Az
- Mayoritas pengikutnya berpendidikan tinggi serta berasal dari kalangan pribumi
- Melarang pengikutnya nikah mut’ah
(
http://mengintip-dunia.blogspot.com/2007/11/nikah-mutah-antara-kenikmatan-dan.html)
Tahun 2008:
- satu-satunya organisasi legal ahlulbait
- Tersebar di 33 propinsi, 84 cabang, 145 sub-cabang, 125 kantor lokal.
- Jumlah anggota sekitar 2, 5 juta anggota
- Memiliki 10 sekolah gratis dan 1 klinik gratis
TENTANG ISLAMIC CULTURAL CENTER JAKARTA
öAlamat : . Buncit Raya Kav. 35 Pejaten Barat Jakarta 12510
PO.BOX 7335 jkspm 12073 Telp.: 021-7996767 Faks.: 7996777
VISI
Terwujudnya masyarakat islami yang tercerahkan spiritual dan intelektual dengan integritas tinggi dalam membuka cakrawala baru.
Dewan Pendiri
DR. Haidar Bagir
Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat
Umar Shahab, MA
Direktur
Syaikh Mohsen Hakimollahi
MITRA
1. Departemen Agama
2. Majelis Ulama Indonesia
3. Ormas keagamaan
4. Lembaga Swadaya Masyarakat
5. Lembaga Ahlul Bait dalam dan luar negeri
6. Media massa cetak dan elektronik
7. Perguruan tinggi.
TENTANG YAYASAN AL-ITRAH
Tempat : Bangil
Berdiri : 1996
Latar belakang: keikhlasan tekad untuk mengenalkan Ahlulbayt Nabi saw
kepada para pecintanya, serta fenomena fakumnya kajian nonformal yang
membahas ilmu-ilmu Ahlulbayt di kota Bangil
Pengurus
Ketua:Ali Ridho Assegaf
Wakil Ketua:M. Baqir
Sekertaris I:Zaid Alaydrus
Sekertaris II:Husein Al-Haddad
bertambah banyak yg belajar ingin tahu ttg syiah, itu adalah fakta,
anda tidak percaya, lihat lah dari hari ke hari perkembangan yg
berkunjung di acara2 Syiah di Indonesia
Syiah adalah kaum yang mengikuti ajaran kebenaran Nabi Muhammad Saw,
yang diteruskan oleh para Imam yaitu para keturunan yang terjaga
Kesuciannya.. jadi tiada keraguan atas setiap kebenaran yang disampaikan
oleh para Imamah dengan ilmu-ilmunya yang berdasar pada logika.
sebagaimana manusia diciptakan dengan akal, sehingga sebaik-baik manusia
adalah manusia yang mampu menggunakan akal-nya dengan baik dan dapat
berlogika atas kebenaran ajaran-ajaran islam sebenarnya
.
Saya juga berproses, hingga saya menganggap kebenaran sepenuhnya pada
syiah… dimana suatu Imam terakhir akan datang yaitu Imam mahdi, yang
jelas keturunan dari Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali bin Abi thalib –
fatimah Az-Zahra, kemudian Imam Hasan & Imam Husein – Imam Ali
Zainal Abidin – Imam Muhammad Al-Baqir – Imam Ja’far Ash-Shadiq – Imam
Musa Al-Kazim – Imam Ali Al-Ridha – Imam Muhammad Al-Jawad – Imam Ali
Al-Hadi – Imam Hasan Al-Askari – Imam MAHDI a.s.
.
Dimana hal tersebut tidak pernah saya temukan dalam Sunni, sehingga
membuat keraguan dalam diri saya selam bertahun-tahun..saya juga
mempelajari agama-agama islam lainnya bahkan agama-agama lainnya.
Sehingga sampai akhirnya saya bertemu seseorang yang dapat menjelasakan
struktur kebenaran dalam Islam. dan saat ini pun saya masih banyak perlu
belajar dan mengkaji akan setiap kebenaran di muka bumi yang ini..
maka saran saya, jadilah manusia yang terbuka dengan logika positif
terlebih dahulu jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat bila hanya
mengetahui kulitnya saja, tapi kenalilah setiap sesuatu sampai pada
akarnya… baru kalian-kalian simpulkan, apakah hal yang kalian bicarakan
itu baik atau buruk…
.
saya yakin website ini dan website lain yang memiliki warna yang sama,
memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi perkembangan syiah khususnya
di indonesia
saya belum pernah melihat suatu aliran / mazhab agama apapun yg
berani menawarkan kritikan sehebat syiah, dalam islam suny ada istilah ”
apa yg terjadi diantara sahabat kita didak berhak berkomentar” inilah
yg menjadikan orang / pencari kebenaran akan lari dari kebenaran sejati
yg didapat hanya suatu anggapan atau kebenaran semu
yg jauh dari rasionalitas yg dianugrahkan allah swt pada ummatnya. dan
banyak lagi masalah yg dihadapi oleh islam suny yg pada akhirnya akan
membelenggu kemerdekaan berpikir ummat.
.
Dunia ini telah lama disibukkan oleh pertengkaran antara Iran dan
Amerika, dunia islam bergejolak menyikapi apa yang sedang terjadi, kaum
muslimin di berbagai belahan dunia menyuarakan protesnya terhadap
amerika yang punya trek record buruk terhadap kemanusiaan dan di nilai
Negara doyan perang itu, apalagi kini Negara yang sedang di incar adalah
Negara yang di anggap berpotensi menyumbangkan kekuatan bagi kalangan
muslim
.
Tetapi beberapa kalangan menilai bahwa iran bukanlah sebuah Negara
sepertimana yang di anggap, bahkan tak sedikit juga kalangan kaum
muslimin yang menganggap bahwa Iran lebih berbahaya dari Amerika jika
berkuasa dan punya kekuatan. Benarkah demikian? Apa yang alasannya? Iran
dan undang-undang dasarnya Iran adalah sebuah negara yang berdasarkan
ideologi
.
Perjalanan Iran khususnya pasca revolusi khomeini 1979 benar-benar
merupakan praktek dari madzhab Syi’ah yang dianutnya. Ini tercantum
dalam undang-undang dasar negara Iran pasal 12 yang berbunyi:
“Agama resmi negara Iran adalah Islam dengan madzhab ja’fariyah 12 imam. Pasal ini tidak boleh diubah selamanya.”
Nampak jelas negara Iran berdasar atas ideologi sektarian, yaitu
berdasar madzhab ja’fari 12 imam yang tak lain hanyalah nama lain dari
Syi’ah imamiyah. Ini diperkuat lagi dengan pasal 72 yang berbunyi:
“Majlis syura Islami tidak berhak membuat undang-undang yang menyelisihi prinsip-prinsip madzhab resmi negara.”
Hal ini juga tercantum pada pasal 85. Begitu juga pasal 144 berbunyi:
“Tentara republik Islam Iran haruslah berbentuk tentara Islam, yaitu
berdasarkan kepada akidah dan terdiri dari pasukan yang meyakini visi
dan misi revolusi Islam.” Sumpah presiden Iran yang tercantum pada pasal
121 berbunyi sebagai berikut:
“Saya sebagai presiden bersumpah demi Allah yang Maha Tinggi lagi
Maha Kuasa, di depan Al Qur’an dan di depan seluruh rakyat Iran, saya
akan menjaga madzhab resmi negara….”
Selain berdasarkan pada madzhab syi’ah imamiyah, negara Iran adalah
negara kesukuan persia. Bahasa dan tulisan persia dijadikan bahasa resmi
negara. Hal ini termaktub dalam pasal 15.
Maka memahami madzhab Syi’ah adalah kunci untuk memahami sepak terjang dan arah politik negara Iran.
“afala ta’qilun , afala tatafakkaruun” itulah yg diajarkan allah swt
pada ummatNya. sudah menjadi agama fitrah yakni islam dikenal dan
dilaksanakan melalui pikiran yg rasional tidak melalui dktrin2 yg susah
diterima dengan akal. usaha apapun yg dilakukan untuk membendung ajaran
fitrah (syiah) ini tidak akan berhasil. selama orang masih menggunakan
akalnya.
Walaupun tidak semua; tetapi banyak Ulama Sunnah yang rajin
mengakafirkan Kaum Syiah; berdasarkan buruk sangka dan kebohongan2
tentang madhab Ahlul Bait (Syi’ah) yang sengaja dikarang oleh Ulama
Sunni sendiri.
ALLAH akan mengadili semua manusia di hari Qiyammah nanti; dan ALLAH
akan menentukan siapa saja yang sesat dan siapa saja yang tidak sesat;
tetapi Ulama Sunni tertentu telah mendahului ALLAH; sehingga Ulama Sunni
tertentu main hakim sendiri dan mengkafirkan Kaum Syiah.
Kaum Syiah berusaha mencerdaskan ummat Islam dengan cara menerangkan
AlQuran dan Hadith; karena Kaum Syiah tidak suka melihat penyebaran
agama Kristen yang cepat di dalam negara2 muslim.
Ulama Sunni yang tidak bertangung-jawab sengaja mengarang kebohongan2
tentang Kaum Syiah untuk menghancurkan persatuan ummat Islam dari dalam
tubuh ummat Islam sendiri.
di Indonesia, perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah justru menerima dengan welcome
terhadap referensi dari Iran, bahkan Iran telah memiliki 12 Iranian
Corner di perguruan-perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah di
Indonesia.
mereka menerima Iranian Corner di berbagai Universitas Muhammadiyah
itu. Cara berfikirnya model mantan rector UMS Malang, Malik Fajar,
apalagi hanya buku-buku dari Iran
Di antara perguruan Tinggi Islam yang memiliki Iranian Corner, menurut Majalah
Hidayatullah
April 2009 adalah: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas
Muhammadiyah Jakarta (alhamdulillah Iranian Corner di UMJ ini telah
musnah terkena banjir Situ Gintung, red) Universitas Muhammadiyah
Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah
saat sudah kalap, karena melihat kemajuan lawan maka wahabi
ngomongnya sudah srudak sruduk. ilmiahnya gk lagi dipake. ini adalah
sindrom inferior. penyakit ini biasanya dimiliki oleh orang 2 kalah dan
terima!
setahu saya penyakit ini banyak melanda kalangan wahabiah. kerjanya hanya marah2 tapi gak punya karya intelektual.
ingatlah Alqur”an: janganlah suatu kaum menjelek jelekan saudaramu boleh jadi kaum yang dianggap jelek lebih baik dari kamu
.
Tidak kurang dari 7.000-an mahasiswa Indonesia diperkirakan sedang
dan telah belajar ke Iran, sebuah negara yang notabene pusat cuci otak
untuk menjadi pendukung Syiah. Kabar ini dikemukakan oleh salah seorang
anggota DPR Komisi VIII, Ali Maschan Musa, termuat di
http://www.republika.co.id dengan link
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/03/03/167288-ribuan-pemuda-belajar-di-iran-polri-diminta-waspadai-syiah.
Padahal sewaktu kemarin ada evakuasi besar-besaran mahasiswa
Indonesia di Mesir, ternyata jumlah mereka hanya sekitar 4.000-5.000
orang saja. Kalau yang kuliah ke Iran sampai angka 7.000, berarti ini
bukan angka yang main-main.
“Saya tahun 2007 ke Iran dan bertemu dengan beberapa anak-anak
Indonesia di sana yang belajar Syiah. Mereka nanti minta di Indonesia
punya masjid sendiri dan sebagainya,” kata Ali dalam rapat dengan Kepala
Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen (Pol) Ito Sumardi, di ruang
rapat Komisi VIII DPR, Jakarta, Kamis (3/3).
Ini berarti dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan diramaikan
oleh demam paham Syi`ah. Karena dalam hitungan 4-5 tahun ke depan, tentu
mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang secara tegak
lurus bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia yang nota bene
ahli sunnah wal jamaah.
Perkembangan Syiah di Indonesia
Sebenarnya untuk melihat hasil dari `kaderissasi` pemeluk syi`ah di
Indonesia, tidak perlu menunggu beberapa tahun ke depan. Sebab data yang
bisa kita kumpulkan hari ini saja sudah biki kita tercengang dengan
mulut menganga.
Betapa tidak, rupanya kekuatan Syi`ah di negeri kita ini diam-diam
terus bekerja siang malam, tanpa kenal lelah. Hasilnya, ada begitu
banyak agen-agen ajaran syi`ah yang siap merenggut umat Islam Indonesia
untuk menerima dan jatuh ke pelukan ajaran ini.
Iranian Corner di Perguruan Tinggi Islam
Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya Perguruan Tinggi
cukup marak. Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Jogjakarta sebagai
kota pelajar malah punya tiga sekaligus, yaitu Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian
Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah. Di Malang juga ada di
Universitas Muhammadiyah Malang.
Islamic Cultural Center (ICC)
Di Indonesia Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran,
ICC (Islamic Cultural Center), berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten,
Jakarta Selatan. Dari ICC itulah didirikannya Iranian Corner di 12
tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu.
Dii antara tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar
Shihab ( salah seorang Ketua MUI -Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan
Prof Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr Jalaluddin Rakhmat,
Haidar Bagir dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau
habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.
Beasiswa Pelajar ke Iran
Syi’ah merekrut para pemuda untuk diberi bea siswa untuk dibelajarkan
ke Iran. Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang
dibelajarkan di Iran, disamping sudah ada ribuan yang sudah pulang ke
Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan
sebagainya.
Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan
faham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga
pesantren.
Di antaranya Ahmad Baraqbah yang mendirikan Pesantren al-Hadi di
Pekalongan (sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein al-Kaff yang
mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih puluhan yayasan
Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan
Sulawesi.
Yayasan, Pengajian dan Ikatan Penyebar Aqidah Syi`ah
Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 36 yayasan Syi`ah di Indonesia.
Dan tidak kurang dari 43 kelompok pengajian yang intensif menanamkan
aqidah syi`ah sudah berdiri
Sumber: http://syiahali.wordpress.com/2011/11/23/perkembangan-syiah-makin-pesat-di-indonesia/
Gerakan Wahabi Internasional
Syiah Ahlul Bait Diantara Syiah Inggris & Syiah Amerika
Islam
Times- Di samping itu, di bagian atas dari layar penayangan acara itu
tertulis slogan "Allahu Akbar ... Aisyah Fin Nar", dan untuk pertama
kalinya dalam sejarah hal seperti ini terjadi.
Ayatullah Uzma Ali Khamenei mengatakan, Syiah yang dipropagandakan
melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat
tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.
Demikian
pernyataan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khamenei dalam
pertemuan besar dengan para pengurus haji tahun ini.
Menurut
Pemimpin Islamitu, tokoh-tokoh Syiah seperti Imam Khomeini ra senantiasa
menekankan persatuan umat Islam. Karena itu, Syiah yang dipropagandakan
melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat
tidak berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.
Beberapa tahun
terakhir ini muncul berbagai media massa termasuk televisi yang
mengatasnamakan Syiah dengan maksud memecah belah umat Islam.
Media-media tersebut diantaranya adalah;
1. Ahl-e-Bait TV (www.ahl-e-bait.com)
Sengaja
kota suci Qom dipilih sebagai pusat pendirian stasiun ini dan nama suci
Ahli Bait dipilih sebagai namanya. Warga Afganistan bernama Hasan
Allahyari menjadi direktur utamanya. Sejak awal lahirnya, stasiun TV ini
menonjolkan perbedaan antar mazhab Islam dan menekankan kelangsungan
acara duka Fathimiyah yang diberi nama Acara Muhsiniyah, dan
menyelenggarakan acara pesta Idul Zahra yang bersamaan dengan
meninggalnya Khalifah Umar bin Khathab.
Allahyari dalam
pernyataannya menyatakan, stasiun TV ini didukung oleh para marjik
taklid, tapi pernyataan ini ditolak tegas oleh para ulama, bahkan
Ayatullah Qurbanali Muhaqiq Kabuli marjik taklid Afganistan yang tinggal
di Qom dan yang semula mendukung stasiun ini setahun setelah mengetahui
substansinya yang memecah belah umat mengeluarkan pernyataan resmi
tentang pentingnya persatuan umat Islam.
Dalam pernyataan itu
dia menegaskan, "Kepada seluruh pengikut Ahli Bait as dan Syiah,
sesungguhnya kami mohon dengan sangat untuk sama sekali tidak memberikan
bantuan materi dan maknawi kepada stasiun TV parabola Ahl-e-Bait TV.
Menurut kami, pemberian bantuan syar\'i –apa pun namanya- kepada stasiun
ini atau stasiun-stasiun serupa dan acara lain –apa pun namanya- yang
beraktivitas memecah belah umat bukan hanya tidak sah menurut syariat
Islam, bahkan terhitung sebagai perbuatan membantu tindakan dosa dan
melampaui batas".
Pandangan Politik Allahyari
Beberapa pandangan politik Allahyari selaku direkturnya bisa diringkas sebenagio beriktut:
1. Mengobarkan perpecahan antara Syiah dan Sunni.
2. Mendukung slogan "Tidak Gaza tidak pula Libanon" dengan dalih yang harus dibebaskan terlebih dulu adalah Baqi'.
3.
Menjauhkan orang-orang Syiah dari marjik-marjik taklid; menurut
direktur stasiun TV ini, tidak ada satu pun dari marjik taklid Syiah
yang adil. Bahkan berulangkali dia melecehkan Ayatullah Uzma Imam
Khomeini, Ayatullah Uzma Khamenei, Ayatullah Uzma Makarim Syirazi, dan
Ayatullah Uzma Behjat.
4. Menghantam Negara Republik Islam Iran dan menjatuhkan citranya sebagai pendukung Kaum Mustadafin menjadi musuh Ahli Bait!
5. Membanding-bandingkan pemerintah Imam Khomeini ra dengan pemerintahan Dinasti Abbasi.
6. Membela Amerika dengan alasan kebebasan berekspresi yang dijunjung di negeri ini.
Hasan
Allahyari ini sendiri berdomisili di Amerika. Perlu diketahui bahwa di
Amerika ada undang-undang stasiun TV parabola yang isinya apabila sebuah
stasiun TV melakukan pelecehan terhadap hal-hal yang sakral menurut
kelompok mazhab, pemikiran atau sosial tertentu maka stasiun itu
dibubarkan dan surat izinnya dicabut.
Tapi untuk stasiun
Ahl-e-Bait TV pemerintah AS tidak membubarkannya dan tidak juga mencabut
surat izinnya?! Karena stasiun TV ini menentang Republik Islam Iran dan
memecah belah umat Islam?!
Keyakinan Atas Dasar Pemikiran Kelompok Hujatiyah
Keyakinan
dan kata-kata Allahyari cocok sekali dengan pemikiran kelompok
Hujatiyah. Menurutnya, orang-prang Syiah tidak boleh melakukan gerakan
reformasi Islam, kesadaran Islam dan sebagainya-, melainkan mereka hanya
boleh menanti secara pasif sampai kedatangan Imam Mahdi af.
Stasiun
TV ini menyebarluaskan upacara pukul kepala dan badan dengan senjata
tajam untuk memperingati perjuangan Imam Husain as. Padahal, para ulama
Syiah seperti Ayatullah Uzma Ali Khamenei melarangnya.
Target
stasiun TV ini adalah mengarahkan orang-orang Syiah pada pemikiran
Kelompok Hujatiyah yang juga merupakan produk Inggris dan Amerika;
karena itu inti aktivitasnya adalah mencaci maki Ahli Sunnah, bahkan
mengelurkan fatwa hukuman mati untuk orang-orang Sunni. Sekarang pun
kita dapat menyaksikan berbagai pelecehan dan penghinaan dari pihak
Allahyari dan stasiun TV yang diberi nama suci Ahli Bait. Dengan cara
ini dia ingin memecah belah antara saudara muslim Syiah dan Ahli Sunnah.
Stasiun Produk Gedung Putih
Berapa
waktu lalu, Hujatul Islam Nabawi deputi Badan Tablig Hauzah Ilmiah Qom
membeberkan data-data yang membuktikan aktivitas Amerika di balik
Ahl-e-Bait TV, dikatakannya, "Tujuan Stasiun yang mengatasnamakan
pembelaan terhadap Syiah dan penyebaran ajaran Ahli Bait as ini adalah
pencitraan buruk Mazhab Syiah."
Karena sensitivitas yang terus
meningkat terhadap stasiun TV ini, pengadilan istimewa Ruhaniah di Qom
memutuskan hukum penyegelan kantor stasiun TV itu. Keputusan ini
menyebabkan para aktor di balik stasiun ini mencaci maki ulama Islam dan
pula Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khamenei.
Mereka
menyebut sistem pemerintahan Islam Iran sebagai pendukung Ahli Sunnah
dan mengklaimnya sebagai sistem yang hendak melemahkan Mazhab Syiah Ahli
Bait as. Bersamaan dengan itu, tokoh-tokoh Kelompok Hujatiyah menggugat
kebebasan kelompok Ahli Sunnah untuk bertindak di Iran dan menuntut
dukungan terhadap Ahl-e-Bait TV.
2. Salaam TV (http://www.salaamtv.org)
Islam Minus Politik & Politik Minus Islam
Berapa
tahun yang lalu, jarang sekali orang secara serius menyadari bahaya
Islam Amerika yang bersembunyi di balik kedok tablig Syiah dan menyusup
di tengah barisan pengikut Ahli Bait as. Tapi sekarang, tampaknya
jalinan erat antara Stasiun ini dengan gelombang politik dan anti
keamanan, jarang orang yang tidak mengerti bahwa stasiun TV Salaam
bekerja untuk politik emperialis anti Islam. Lebih lagi hari-hari ini
para pendukung sekularisme terjun langsung ke kancah politik dan
menentang keras Republik Islam.
Direktur stasiun TV Salaam
membentuk jaringan atas nama "Kelompok Ruhaniawan Tradisional Iran
Kontemporer" dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan keras yang mendukung
kerusuhan-kerusuhan di Republik Islam Iran.
Pendanaan
Ketika
setiap hari kita mendengar berita baru tentang pembantasan transfer
dana bagi orang-orang Iran di seluruh dunia, tapi stasiun TV Salaam
malah mengumumkan sekian banyak nomor rekening di negara-negara seperti
Amerika, Jerman, Australia, dan Dubai untuk menampung bantuan dana dari
para pemirsanya.
Stasiun TV ini disiarkan melalui Satelit Hotbird
yang tentu saja menuntut biaya sewa yang tinggi. Ditambah lagi dengan
biaya pendirian dan pengelolaannya sehingga mencakup seluruh benua, itu
pun dengan iklan yang sangat terbatas. Karena itu, sudah pasti stasiun
TV Salaam ini memiliki sumber dana yang jauh lebih dari sekedar bantuan
para pemirsa. Dan sampai sekarang, direktur dan administratornya tidak
memberikan penjelasan yang transparan mengenai hal ini.
Bukan hal
yang sulit untuk diketahui bahwa dolar Amerikalah yang mendanai stasiun
TV Salaam dan menggaji pekerjanya. Hal itu diperkuat dengan tidak
diterapkannya undang-undang pembubaran stasiun TV yang memprovokasi
pertikaian antar mazhab dan melecehkan hal-hal yang sakral menurut
mazhab.
Kedok Dakwah
Berapa waktu lalu, kelompok Hujatiyah
yang punya pengaruh pada stasiun TV Salaam mengimbau direkturnya untuk
menambah tingkat akseptabilitas atasiun ini di tengah masyarakat dengan
cara mendapatkan pernyataan dukungan dari marjik-marjik tradisional,
bukan dari marjik-marjik politik. Hal itu karena di tengah masyarakat
terkenal bahwa stasiun TV ini ditentang oleh para marjik. Itulah kenapa
kemudian acara-acara TV ini sering menyebut nama marjik dan ruhaniawan
terkenal.
Berapa tahun terakhir juga kita menyaksikan stasiun ini
senantiasa berusaha keras untuk memperkenalkan aksi pukul kepala dan
badan dengan senjata tajam sebagai salah satu tradisi Islam, dan tentu
saja acara seperti ini didukung oleh musuh-musuh Islam. Di salah satu
acara itu, Muhammad Hidayati Direktur TV Salaam yang sekaligus merupakan
ahli agama di Voice of Amerika mengatakan, "Berdasarkan ayat-ayat
Al-Quran, ternyata aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam ini
mempunyai latar belakang yang kuat di dalam Al-Quran".
Ruhaniawan palsu ini memutarbalikkan ayat Al-Quran berusaha mengatasnamakan aksi itu sebagai ajaran Al-Quran".
Tapi,
begitu dangkal dan salah kaprahnya argumentasi Hidayati sampai-sampai
ahli agama di kandang yang sama tidak tahan untuk diam diri dan tidak
menggugatnya. Ahli agama itu bernama Mahdi Khalaji, ketika itu juga dia
angkat suara menentang celotehan ruhaniawan palsu dari Washington DC itu
seraya mengatakan, "Apa yang dikatakan oleh Hidayati betul-betul salah
kaprah dan merupakan pemalsuan terhadap Al-Quran."
Setelah itu,
acara tetap digiring untuk menyebutkan aksi pukul kepala dan badan
dengan senjata tajam sebagai tradisi tua kelompok Syiah dan faktor
mentalitas keberanian serta pengorbanan, karena itu menurut acara
tersebut aksi ini diperbolehkan oleh pemerintah Amerika untuk
diselenggarakan di sana, sehingga orang-orang Syiah dengan mudah sekali
melakukan aksi itu di jalan raya-jalan raya Amerika.
Sekularisme
Salah
satu kriteria stasiun TV Salaam adalah penekanan terhadap sekularisme
atau pemisahan agama dari politik dan sebaliknya. Di samping itu, ia
juga senantiasa menyoroti dan menjunjung para marjik taklid yang sedikit
banyak bergerak melawan Revolusi Islam Iran. Ditambah lagi dengan
upayanya yang tidak kenal henti untuk mengobarkan perpecahan antar
mazhab dan pelecehan terhadap Ahli Sunnah.
3. Fadak TV ( http://www.fadak.tv/)
Syiah Versi Peleceh Ahli Sunnah
Dalam
hal pecah belah umat untuk merebut kekuasaan, Inggris memang ahlinya.
Salah satu yang dilakukannya adalah mempersiapkan seorang Syiah Dua
Belas Imam dengan paras dan penampilan santri atau kiai yang sangat
menarik, lalu menyediakan Husainiyah untuk dia di London dengan segenap
fasilitas yang dibutuhkan seperti mimbar pidato, bahkan stasiun TV dan
Hauzah Ilmiah yang berfungsi sebagai media penyebarannya atas nama Syiah
Sejati dan musuh pertama Wahabi.
Yasir Yahya Abdullah Alhabib
direktur stasiun TV Fadak lahir pada tahun 1977 jebolan Universitas
Kuwait di jurusan ilmu politik. Masih muda sekali usianya, tiga tahun
setelah mendirikan "'Yayasan Khuddam Al Mahdi" di Kuwait sikap-sikap
radikalnya memaksa pemerintah Kuwait untuk menyegel yayasannya dan
memenjarakan dirinya.
Tingkah laku sembrono pemuda ini ternyata
menarik perhatian Inggris; secepat kilat mereka menjadikan penangkapan
Alhabib sebagai pusat perhatian badan-badan resmi HAM di Inggris dan
Amerika. Aparat Kuwait sendiri pasti terkejut kenapa badan-badan resmi
HAM itu memilih kiai muda ini di antara sekian tahanan di sana, tapi
daripada tambah ruwet persoalannya maka belum genap tiga bulan di
penjara mereka telah membebaskannya.
Kiai muda bebas dari penjara
dan langsung bersahabat dengan pihak-pihak terkait di Inggris. Tak lama
kemudian dia mendapat suaka dan perlindungan dari Inggris dan seketika
itu pula dia pergi ke utara negeri tersebut. Tidak butuh lebih dari dua
tahun tinggal di sana dia sudah berhasil domisili di London dan
mengembangluaskan kegiatannya secara pesat. Terbitlah surat kabar
"shianewspaper", berdirilah Hauzah Ilmiah bernama "Imamain Askariyain",
launchinglah stasiun TV satelit Fadak dan pada tahun 2010 yayasan dia di
London dipindah-kembangkan menjadi Husainiyah Sayidus Syuhada, dan
menyediakan kompleks baru untuk hauzah, kantor, media surat kabar,
situs, dan kantor untuk stasiun TV Fadak.
Ruhaniawan muda inilah
yang sekarang aktif sekali di mimbar-mimbar London berpidato atas nama
Syiah untuk seluruh pemirsa di dunia demi kepentingan imperialisme
modern.
Api Yang Menyasar Sunni dan Membakar Syiah
Supaya
lebih jelas, cukup kiranya tiga tahun kita mundur ke belakang; tepatnya
pada Bulan Ramadan 1431 H, tanggal 17 bulan itu yang merupakan hari
kematian wafatnya Siti Aisyah istri Nabi Saw, kiai muda bayaran Inggris
ini menggelar majelis di Husainiyah dan berpidato di atas mimbar dengan
segala macam caci maki serta kata kotor terhadap istri nabi tersebut.
Setelah
menyebutkan alasan-alasan busuknya untuk membuktikan fitnah kemunafikan
dan kepestaporaan istri nabi itu, dia mengakhiri pidatonya dengan
seruan strategis! seraya berkata, "Perayaan hari kebinasaan Aisyah
adalah keniscayaan agama; karena, hari kebinasaan Aisyah merupakan hari
kemenangan Islam yang agung".
Situs kiai bayaran Inggris ini
dengan penuh bangga melaporkan bahwa stasiun TV Fadak menayangkan
perayaan penuh berkah ini secara penuh. Di samping itu, di bagian atas
dari layar penayangan acara itu tertulis slogan "Allahu Akbar ... Aisyah
Fin Nar", dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hal seperti ini
terjadi. Di sela-sela acara juga dilantunkan kasidah-kasidah kegembiraan
atas apa yang mereka sebut dengan kebinasaan pucuk kekafiran Aisyah dan
rasa syukur atas kenikmatan lepas diri dari istri Nabi Saw ini.
Fatwa Pemadam Fitnah Perpecahan
Sebelumnya,
Alhabib kiai muda bayaran Inggris ini menerbitkan buku yang isinya
tiada lain penghinaan dan pelecehan terhadap Siti Aisyah istri Nabi Saw,
dan saat itu pula ulama dan kaum Syiah mengecam keras buku itu.
Khususnya ulama Syiah di Kuwait dan Saudi Arabia, seperti Syaikh Amri,
Syaikh Husain Ma'tuq, Syaikh Hasan Shaffar, Syaikh Ali Alumuhsin, Syaikh
Abduljalil Samin, Syaikh Namir, dan Sayid Hasyim Salman menunjukkan
sikap dan reaksi keras terhadapnya.
Tindakan kiai muda bayaran
Inggris ini berhasil merusak citra Mazhab Syiah di berbagai penjuru
dunia, bahkan seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdulaziz Alusyaikh
mufti awal Saudi Arabia perbuatan dia telah mencegah perkembangan Mazhab
Syiah di negara-negara Arab dan Islam serta mengembalikan orang-orang
yang cenderung kepada mazhab ini ke jalan yang sebelumnya.
Sikap
kiai muda bayaran Inggris ini juga berhasil mengobarkan kebencian
kelompok Wahabi terhadap kelompok Syiah, sehingga para ulama papan atas
Syiah sendiri kewalahan dalam meredam kebencian itu dan menciptakan
perdamaian. Maka pada akhirnya, para ulama Syiah Saudi Arabia
mengirimkan surat pertanyaan fatwa kepada Pemimpin Revolusi Islam
Ayatullah Uzma Ali Khamenei tentang masalah ini, jawaban fatwa dia
menjadi pemadam fitnah perpecahan yang lebih luas. Dia berfatwa:
"Pelecehan
terhadap simbol-simbol saudara Ahli Sunnah, antara lain tuduhan
terhadap istri Nabi Saw adalah haram. Hal ini juga mencakup istri-istri
semua nabi, khususnya Sayidul Anbiya "Nabi Agung Muhammad Saw"
Fatwa
ini langsung tersebar melalui stasiun TV al-Jazeera, suratkabar Al
Anba' Kuwait, situs Muhith, suratkabar Al Safir Libanon, Al Hayat
London, situs radio-televisi Mesir dan lain-lain.
Syaikh Al
Azhar, Ahmad Thayib di dalam surat pernyataannya bahkan memberikan
reaksi yang positif sekali terhadap fatwa Pemimpin Revolusi Islam ini,
dia mengatakan:
"Dengan pujian dan kerelaan hati saya telah
menerima fatwa penuh berkah Imam Ali Khamenei mengenai pengharaman
terhadap penghinaan atas sahabat Nabi ra atau pelecehan terhadap
istri-istri Rasulullah Saw. Fatwa ini berasal dari pengetahuan yang
benar dan kesadaran yang dalam tentang bahaya apa yang telah dilakukan
oleh ahli fitnah, dan ini menunjukkan keinginan yang sungguh-sungguh
akan persatuan umat Islam. Hal yang membuat fatwa ini menjadi lebih
penting daripada yang lain adalah prihal kemunculan fatwa itu dari salah
seorang ulama besar muslim dan salah satu marjik taklid Syiah yang
paling besar bahkan yang sekaligus merupakan Pemimpin Tertinggi Republik
Islam Iran.
Saya, berdasarkan posisi keilmuan dan mengingat
tanggungjawab syariat yang harus dipikul, menyatakan bahwa upaya demi
persatuan umat Islam adalah wajib, sedangkan perbedaan antara pengikut
mazhab-mazhab Islam harus dibatasi pada tingkat perbedaan pendapat di
antara ulama dan para ahli yang sekiranya tidak sampai membahayakan
persatuan umat Islam. Karena Allah Swt berfirman, "Dan jangan kalian
bertikai niscaya kalian jadi lemah dan kehilangan kekuatan, dan
bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
[IT/Onh/Ass]
Sumber: http://www.taqrib.info/indonesia/ dan http://www.islamtimes.org/vdcjhvethuqeyiz.bnfu.html
Sunni dan Syiah Bersaudara
Iran, Syiah dan Fitnah-fitnah Murahan
Islam
Times- Kesemua tamu itu sunni. Dan sepulangnya mereka menulis
pengalaman mereka selama di Iran dan dimuat dimedia. Tidak ada cerita
sunni dibantai, cerita sahabat-sahabat Nabi dilaknat dimimbar-mimbar,
tidak ada cerita mereka menemukan Al-Qur'an orang Iran yang berbeda,
tidak ada cerita praktik nikah mut'ah yang kebablasan sampai katanya
dimasjid-masjid di Iran disediakan ruangan khusus untuk melakukan
praktik mut'ah.
Qom, makam Sayyidah Ma'sumah
Sejak 2007 saya berada di Iran. Dipertengahan tahun itu saya pertama
kali menginjakkan kaki di kota Qom. Bukan tanpa informasi. Saya justru
mendapat bekal, Iran itu negeri Syiah. Syiah itu sesat bahkan bukan
bagian dari Islam. Mereka punya Al-Qur'an yang berbeda dengan yang
dibaca kaum muslimin dinegeri muslim lain di dunia. Sehari sebelum
berangkat, Ust. Said Abdushshamad tokoh yang getol mengkampanyekan
gerakan anti Syiah di Makassar menemuiku. Sangat kebetulan, saudara
kandung beliau, bertetanggaan dengan rumah ibuku di Makassar.
Mungkin
beliau tahu informasi rencana kepergianku ke Iran dari Puang Tia,
saudara perempuannya itu. Diapun menjejaliku dengan nasehat untuk
waspada terhadap ajaran Syiah. Saya cukup mengiyakan saja. Setiba di
Iran, yang disampaikan hampir semuanya berkebalikan. Saya melihat Iran
negara yang Islami, justru sangat Islami. Tidak ada satupun perempuan
yang bebas keluar rumah tanpa mengenakan jilbab, dan hampir semuanya
berwarna hitam.
Dimanapun aku mampir shalat berjama'ah,
masjid-masjid nyaris penuh. Kompleks Haram dijantung kota Qom, tempat
dimakamkannya Sayyidah Fatimah Maksumah sa adik kandung Imam Ridha as
terbuka 24 jam. Dan peziarah selalu berdatangan tanpa henti. Aktivitas
Islami tidak pernah tidak terlihat dikompleks itu. Ada yang mengaji,
shalat, membentuk kelompok-kelompok kecil untuk membahas masalah agama,
atau sekedar bercengkrama dengan keluarga. Anak-anak kecil bebas lari
berkeliaran.
Setelah berkeluarga, sayapun selalu membawa istri
dan kedua anakku ditempat itu selepas maghrib dan pulang kerumah
menjelang subuh. Yang menarik, dan menurut saya, ini nilai lebihnya
Haram itu, tersedia posko-posko tanya jawab dan diskusi agama. Sebut
saja seperti ruang pengaduan di gereja. Bukan untuk membeli surat
pengampunan dosa. Sama sekali bukan.
Melainkan untuk bertanya
masalah agama: aqidah, akhlak dan fiqh serta konsultasi keluarga. Semua
ada posko khususnya. Termasuk posko khusus mengecek benar tidaknya
bacaan dalam shalat. Yang melayani adalah pakar-pakar Islam dibidangnya.
Saya sering mampir bertanya masalah aqidah. Mereka menjawab semua
pertanyaan yang saya ajukan. Sementara istri betah berlama-lama di posko
fiqh, menanyakan masalah amalan keseharian.
Disepanjang jalan,
terpampang papan-papan reklame yang bertuliskan pesan-pesan Islami dan
baliho-baliho besar gambar Ayatullah plus informasi jadwal pengajiannya
(bukan baliho kampanye politik). Di baliho itu tertulis, hari ini kelas
tafsir, besoknya kelas akhlak, lusanya kelas fiqh di sini dan disitu.
Tidak hanya itu ceramah para Ayatullah itu disiarkan di tivi-tivi secara
langsung bahkan lewat radio.
Esoknya sudah tersedia cd-cd
rekamannya di kios-kios CD, dan selalu laku keras. Warga Iran memang
pendengar yang baik. Mereka betah mendengar ceramah ataupun
pidato-pidato politik berjam-jam. Momentum shalat Jum'at dimanfaatkan
pemerintah Iran untuk menyampaikan pesan-pesan politik. 2-3 jam sebelum
khutbah Jum'at, jama'ah Jum'at dijejali orasi politik satu dua tokoh
aktivis, kebanyakannya menceritakan kondisi dunia Islam, dan selalu
terdengar slogan perlawanan terhadap AS dan Israel.
Di mimbar
Jum'at bahkan ditulis, AS letaknya dibawah kaki kami. Kalau pidatonya
membakar, jama'ah serentak berdiri, mengepalkan tangan sembari
meneriakkan yel-yel dukungan terhadap pemimpin mereka dan kecaman
terhadap AS. Persis situasi demonstrasi di jalan-jalan. Dengan kondisi
seperti itu, sangat ganjil kalau sampai ada yang mengantuk. Bagi yang
sibuk dan tidak sempat membaca Koran tiap hari, cukup mendengarkan
pidato-pidato tersebut, ia akan paham apa yang terjadi selama sepekan
itu. Karena itu, rakyat Iran tidak mudah terpengaruh propaganda murahan
dari media-media asing. Mereka mandiri disegala hal, ekonomi, keamanan,
budaya, sosial dan politik.
Masjid-masjid di Qom, tidak terlalu
besar, tapi lapang dan nyaman bagi jama'ah. Terdapat beberapa kursi,
buat mereka yang kesulitan shalat dengan duduk melantai. Terdapat bantal
sandaran, buat para orangtua lanjut usia untuk menyandarkan tubuhnya
saat mendengarkan ceramah atau sekedar mengaji. Dan dihari-hari
tertentu, sambil dengar ceramah kita bisa menikmati segelas susu dan 1-2
biji kurma yang disediakan gratis pengurus masjid.
Setelah
shalat, remaja masjid akan membagikan Al-Qur'an, hampir disemua masjid
ada program membaca al-Qur'an satu-dua halaman berjama'ah. Dipimpin
qari-qari yang bacaannya sangat merdu. Di Tv ada saluran khusus
menyiarkan program-program Qur'ani. Semua acara serba Qur'ani. Kelas
tafsir, kelas ulumul Qur'an. Bincang-bincang Al-Qur'an menjawab problem
keseharian, termasuk menyiarkan profil-profil para penghafal Al-Qur'an.
Iran
kaya dengan hafiz Al-Qur'an. Mulai dari usia sekolah dasar, remaja
sampai usia dewasa. Saya pernah mewancarai beberapa remaja Iran yang
hafal Al-Qur'an. Mulai dari Ali Amini yang telah menghafal Qur'an di
usia 8 tahun sampai Mujtaba Karsenasi yang menghafal 30 juz al-Qur'an
diusia 15 tahun. Mereka adalah penerus dari Husan Tabatabai, Doktor
Cilik Penghafal Qur'an, yang dikenal sebagai mukjizat abad 20 karena
memiliki penguasaan dan pengetahuan Al-Qur'an yang mengagumkan, sampai
mendapat gelar doctor honoris causa bidang studi Al-Qur'an. Wawancara
saya itu dimuat dalam buku Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik yang
kususun bersama bu Dina Sulaeman dan suaminya, diterbitkan Pustaka Iiman
pertengahan tahun 2011.
Toko-toko buku jumlahnya hampir
berimbang dengan toko kelontong. Di tengah kota, hampir disetiap lorong
ada toko buku. Bukan hanya buku-buku karya ulama Syiah namun juga
kitab-kitab ulama Sunni. Diperpustakaan pun demikian. Meski berbeda,
orang-orang syiah tidak fobia terhadap karya-karya ulama sunni. Hal
yang berbeda dari mereka yang menyebut syiah itu sesat. Bisa jadi bahkan
melihat langsung buku-buku syiah saja mereka tidak pernah.
Mahasiswa
Indonesia di Iran, tidak semuanya Syiah. Ada juga yang Sunni. Mereka
tersebar di Teheran, Ghorghon dan Esfahan. Untuk menepis fitnah, di Iran
warga Sunni dibunuhi, disiksa dan mendapat perlakuan tidak adil dari
pemerintah Iran yang Syiah, saya mewancarai teman asal Indonesia yang
belajar di Universitas agama yang bermazhab Sunni. Namanya Syarif
Hidayatullah dan wawancara itu dimuat di ABNA. Dari lisannya, ia menepis
tudingan dan fitnah tidak bertanggungjawab itu.
Pemerintah Iran
gemar menyelenggarakan event-event internasional. Konferensi
Mahdawiyat, konferensi ulama Islam, konferensi pemuda Islam, konferensi
perempuan Islam, MTQ Internasional dan Pameran kitab Internasional yang
melibatkan banyak negara muslim. Karena itu, banyak tokoh-tokoh nasional
kita yang mengunjungi Iran sebagai delegasi Indonesia dalam event-event
tersebut. Selama di Iran, setidaknya saya sudah bertemu dengan DR. Amin
Rais (tokoh Muhammadiyah), Prof. Quraish Shihab (mantan menteri agama
dan mantan ketua MUI), Dr. Umar Shihab (ketua MUI Pusat) dan Muh. Maftuh
Basyuni (menteri agama kabinet SBY-JK). Tokoh-tokoh nasional itu
mengunjungi langsung kampus saya di Qom.
Berbincang dan membuka
ruang dialog dengan mahasiswa Indonesia di Qom. Tidak ada yang ganjil.
Mereka tidak meminta kami waspada dengan Iran dan Syiahnya. Justru
meminta semua mahasiswa Indonesia belajar serius dan bisa memanfaatkan
ilmunya jika kembali ke tanah air. Dengan adanya event-event
internasional yang melibatkan banyak negara muslim tersebut menyodorkan
fakta yang tidak terbantahkan, Iran diakui keberadaannya sebagai negara
Islam. Terlebih lagi Republik Islam Iran juga memang termasuk dalam
anggota OKI, organisasi internasional yang beranggotakan khusus
negara-negara yang bermayoritas penduduk muslim. Tidak ada satupun
negara yang keberatan dengan penamaan Iran sebagai Republik Islam juga
semakin menguatkan fakta itu.
Hubungan mahasiswa Indonesia di
Qom dengan KBRI di Teheran pun sangat akrab. Berkali-kali pihak KBRI
datang ke Qom mengadakan silaturahmi, buka puasa bersama, atau
silaturahmi pasca lebaran. Mengundang untuk menonton timnas PSSI yang
bertanding di Teheran. Ataupun pada saat 17 Agustus, upacara bendera dan
makan bersama. Saya pernah meraih juara I lomba penulisan karya tulis
ilmiah yang diadakan KBRI Teheran. Dan perlu teman-teman tahu, semua
staff di KBRI Teheran tidak ada yang Syiah, semuanya Sunni.
Kalaupun
memang Sunni mendapat tindakan semena-mena dari pemerintah Iran, bahkan
katanya di Teheran tidak ada masjid Sunni, staff KBRI yang akan lebih
dulu menyampaikan hal itu. Atau minimal kedutaan besar Malaysia, Arab
Saudi, Mesir, dst yang ada di Teheran. Mengapa yang getol menyebarkan
propaganda negatif tentang Iran justru media-media yang tidak satupun
staff atau wartawannya yang pernah ke Iran?. Guru-guru besar UIN Syarif
Hdayatullah Jakarta bahkan sejumlah guru besar UIN Alauddin Makassar
pernah ke Iran.
Seorang Dosen Unismuh Makassar pernah ke Qom,
mengadakan penelitian tesis doktoralnya. Saya yang menemani beliau
berkunjung ke Teheran dan Masyhad. Mengajaknya shalat berjama'ah
dibeberapa masjid-masjid. Ia shalat sambil bersedekap dengan tenang di
tengah-tengah jama'ah Iran yang tidak bersedekap. Saya pernah menyambut
tamu dirumah, ketua umum PB HMI, dan delegasi HMI yang ikut dalam
konferensi perempuan internasional di Teheran.
Kesemua tamu itu
sunni. Dan sepulangnya mereka menulis pengalaman mereka selama di Iran
dan dimuat dimedia. Tidak ada cerita sunni dibantai, cerita
sahabat-sahabat Nabi dilaknat dimimbar-mimbar, tidak ada cerita mereka
menemukan Al-Qur'an orang Iran yang berbeda, tidak ada cerita praktik
nikah mut'ah yang kebablasan sampai katanya dimasjid-masjid di Iran
disediakan ruangan khusus untuk melakukan praktik mut'ah. Yang ada
semangat ukhuwah dan persahabatan yang menakjubkan dari orang-orang Iran
yang mazhabnya beda.
Saya yang sampai saat ini masih berada di
Iran masih sering mendapat kiriman konten-konten yang negatif tentang
Iran dan Syiah, sembari menasehatkan saya tentang bahaya Syiah. Saya
tegaskan, sekalipun pada akhirnya saya tidak memilih Syiah sebagai
mazhabku dalam berIslam, saya tidak akan merusak diri dengan
mengkafirkan sesama muslim.
Yang mengkafirkan orang-orang Syiah
yang juga bersyahadat, shalat, puasa, zakat dan naik haji. Saya tidak
mungkin mau menghina akal sehat dan rasioku dengan lebih mempercayai
mereka dari apa yang saya lihat dan rasakan langsung. Kalau Prof. Amin
Rais, DR. Diin Syamsuddin, KH. Hasyim Mazudi, Habib Rizieq, Muh. Maftuh
Basyuni , guru-guru besar UIN, akdemisi Universitas2 Islam Indonesia
yang dengan hanya beberapa jam di Iran telah berkesimpulan untuk tidak
sampai mengkafirkan Syiah bagaimana dengan saya yang hidup
ditengah-tengah mereka bertahun-tahun, dan melihat langsung
amalan-amalan mereka?.
Sayang, bahkan selama Ramadhan inipun
mereka kelompok takfiri masih juga getol menyebar berita dusta tentang
Iran dan rakyatnya. Kebanyakan yang melakukan itu adalah aktivis dakwah,
aktivis ormas Islam, bahkan katanya akademisi di lembaga penelitian.
Apa ketika saya kembali ke tanah air, dan kembali ditemui oleh KH. Said
Abdushshamad (sekarang sudah Kyai Haji) dan menjelaskan kepada saya
tentang Iran seakan lebih tahu dari saya sendiri yang menetap
bertahun-tahun di Iran dan mengingatkan tentang kesesatan dan kekafiran
Syiah seakan lebih tahu dari saya yang mendengar langsung
ceramah-ceramah Syiah dari Ayatullah di Qom, apa saya akan
mempercayainya karena beliau Kyai Haji, karena beliau ketua umum LPPI
Indonesia Timur dan karena beliau jauh lebih tua dari saya?.
Sangat mengerikan menyerahkan urusan Islam kepada mereka.
Saat bersantai di Kompleks Haram Sayyidah Maksumah.
Sumber: https://m.facebook.com/notes/ismail-amin/iran-syiah-dan-fitnah-fitnah-murahan-itu/10153040916700494 dan http://www.islamtimes.org/vdcawinui49nai1.h8k4.html
Iran-Indonesia Peringati 1000 Tahun Hubungan Budaya
"Tujuan
digelarnya Festival Budaya Iran dan Indonesia adalah untuk mengenalkan
lebih dalam budaya dan kesenian negara Muslim, Indonesia kepada rakyat
Iran, menggagalkan propaganda negatif anti-Islam dan mengenalkan kepada
masyarakat Iran soal hubungan 1000 tahun kedua negara."
|
Menurut
Kantor Berita ABNA, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Mohammad Nuh
dan Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, Ali Jannati, akan
menghadiri Indonesian Cultural Festival yang akan berlangsung di Tehran,
19-25 September 2013. Meskipun Festival akan dimulai pada 19 September
2013, namun Festival yang akan berlangsung di di 3 tempat yaitu Milad
Tower, Andisheh Cultural Center dan Wisma Duta Indonesia baru akan resmi
dibuka oleh kedua menteri pada 22 September 2013.
Festival
yang dimaksudkan untuk mempromosikan hubungan bilateral Indonesia-Iran
khususnya dalam bidang kebudayaan dan pendidikan tersebut
diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran
Republik Islam Iran atas kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Indonesia dengan Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam Iran serta
beberapa lembaga terkait lainnya akan menggelar Festival Budaya bertema,
"1000 Tahun Hubungan Budaya Indonesia-Iran".
Festival
diselenggarakan sebagai momentum memperingati 1 millennium hubungan
Indonesia dan Iran, bumi Nusantara dan tanah Persia.
Meskipun
kedua negara saat itu belum terlahir secara harfiah dan konstitusional,
namun fakta berbicara lebih dari seribu data, masyarakat di tanah
nusantara dan persia telah menjalin kerjasama emosional dan fungsional
sejak 10 abad lalu. Meski fakta menyatakan bahwa hubungan diplomatik
baru berlangsung 60 tahun, namun keeratan hubungan antara masyarakat
kedua negara telah terjalin sejak 1.000 tahun.
Hal
tersebut bukanlah bualan, ditemukannya pusara berbahasa Parsi di
kawasan Barus, Sumatera-Barat-Indonesia, menjadi bukti arkeologis yang
menyuarakannya. "Satu Millennium Persaudaraan Indonesia dan Iran,
Nusantara dan Persia", mungkin demikian ungkapan yang tepat untuk
merefleksikan usia eratnya hubungan kedua negara dan bangsa.
Usia
1.000 tahun diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat bagi kedua
negara dan bangsa untuk dapat merekatkan kembali hubungan emosional
tersebut ke dalam berbagai bentuk kerjasama yang lebih nyata dan relevan
sesuai dengan tuntutan dan tantangan terkini, baik di bidang politik,
ekonomi dan sosial-budaya. Dan momentum itulah yang saat ini oleh KBRI
Tehran dijadikan sebagai dasar untuk menyelenggarakan Festival
Kebudayaan Indonesia, yang dapat dijadikan sebagai titik awal untuk
membuka era baru hubungan kedua negara dan bangsa.
Festival
kebudayaan ini akan menampilkan berbagai pertunjukan kesenian dan hasil
karya seni dan budaya Indonesia yang dapat mengingatkan kembali memori
masyarakat Persia akan budaya nusantara.
Rangkaian
kegiatan antara lain berupa pertunjukan tari Zapin dan tari Indang
serta musik Angklung dan Sape, Promosi dan Workshop tenun dan batik,
Promosi kerajinan tangan, Promosi busana muslim Indonesia (Fashion
Show), Bazaar, Pameran artifak, Festival film (Emak Ingin Naik Haji,
Rindu Kami Padamu, the Mirror Never Lies, Sang Pencerah, Laskar Pelangi
dan Tjoet Nja’ Dhien), dll. Semua kegiatan tersebut terbuka untuk umum
dan tidak dipungut biaya apapun.
Selain
akan dihadiri oleh para pejabat negara, rangkaian kegiatan dalam
Festival ini juga akan dihadiri tidak kurang dari 10.000 orang dari
seluruh Iran. Promosi dan diseminasi informasi mengenai penyelenggaraan
Festival dilakukan secara intensif oleh KBRI baik melalui media cetak
(interview menjelang peringatan HUT RI ke-68 dengan 9 koran terbesar di
Iran, pembuatan suplemen tentang Indonesia di Koran Iran News, media
gathering, dll.), media elektronik (interview dengan IRIB, IRINN, CHN,
TV5, dll.), media sosial (email, facebook), korespondensi dengan
berbagai instansi terkait di pemerintah dan swasta seperti
Indonesia-Iran Friendship Society (IIFS), Iran Chamber of Commerce,
Industries, Mines and Agricultures (ICCIMA) Pusat dan Daerah, Asosiasi
Kerajinan Tangan Iran, berbagai pusat kebudayaan dan universitas di
Iran, dll.
Festival
ini merupakan hasil kerjasama antara KBRI Tehran dengan Kementerian
Pendidikan & Kebudayaan RI, Museum Nasional, Pemprov
Kalimantan-Barat, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Museum Tekstil
Pemprov DKI Jakarta serta Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam
Iran, Islamic Culture and Relation Organisation (ICRO), Universitas
Tehran, Pusat Kebudayaan Andisheh dan Milad Tower.
KBRI
Tehran berharap Festival ini dapat semakin meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman masyarakat Persia tentang keragaman dan kekayaan budaya
Indonesia serta potensi wisata nusantara yang dapat meningkatkan arus
kunjungan wisatawan Iran dan mendorong peningkatan hubungan ekonomi dan
perdagangan kedua negara.
Dian
Wirengjurit, Duta Besar Indonesia untuk Iran dalam acara pembukaan
Festival Budaya ini mengatakan, "Tujuan digelarnya Festival Budaya Iran
dan Indonesia adalah untuk mengenalkan lebih dalam budaya dan kesenian
negara Muslim, Indonesia kepada rakyat Iran, menggagalkan propaganda
negatif anti-Islam dan mengenalkan kepada masyarakat Iran soal hubungan
1000 tahun kedua negara."
Dubes
Indonesia di Tehran menambahkan, "Tehran kota yang sangat cantik,
modern dengan infrastruktur dan fasilitas yang luas untuk warganya.
Tehran menciptakan fasilitas layanan sosial yang banyak bagi warganya
dan ia merupakan kota hijau bagi penghuninya."
Secara
khusus, kegiatan tersebut diharapkan akan menjadi titik awal jalinan
kerjasama ke depan di bidang pendidikan dan kebudayaan, terutama terkait
dengan pendidikan tinggi dan pertukaran budaya serta kerjasama di
bidang kajian dan dokumentasi sejarah seni yang terkait dengan sejarah
hubungan nusantara dan Persia di masa lampau.
Rincian acaranya sebagai berikut :
1. Konferensi Pers,
Tanggal : 17 September 2013
Waktu : 12.30-14.00
Tempat : KBRI Tehran
2. Soft Opening Festival,
Tanggal : 19 September 2013
Waktu : 11.00-13.00
Tempat : Lantai 2 Lobi Milad Tower
3. Inagurasi,
Tanggal : 22 September 2013
Waktu : 17.00-19.30
Tempat : Ruang Utama, Pusat Konferensi Internasional, Milad Tower
4. Kuliah Umum, "1000 Tahun Hubungan Budaya Indonesia-Iran.",
Tanggal : 22 September 2013
Waktu : 11.00-12.00
Tempat : Syeikh Morteza Ansari, Fakultas Hukum dan Ilmu Politik Universitas Tehran, Enghelab Eslami Ave.
5. Peragaan Busana,
Tanggal : 23 September 2013
Waktu : 10.00-12.00
Tempat
: Kediaman Duta Besar Republik Indonesia di Tehran, Nobonyad Square,
Shahid Langari St., Golzar St., Arab St., No. 5.
6. Seminar "1000 Tahun Hubungan Budaya Indonesia-Iran",
Tanggal : 23 September 2013
Waktu : 10.00-12.00
Tempat : Pusat Kebudayaan Andishe
7. Pembukaan Festival Film,
Tanggal : 19 September 2013
Waktu : 17.00-21.00
Tempat : Pusat Kebudayaan Andishe
8. Talk Show Film,
Tanggal : 21 September 2013
Waktu : 17.00-21.00
Tempat : Pusat Kebudayaan Andishe