Oleh: Ahmad Juhaidi
Isra Mikraj membawa cerita yang menarik. Cerita tentang bouraq yang berkepala manusia, tubuh bersayap. Deskripsi azab yang akan diterima manusia jika ingkar, dan kisah tawar-menawar jumlah rakaat salat dengan Tuhan merupakan cerita favorit saya.
Cerita itu ada yang bersumber dari Alquran dan Hadis, serta ‘bumbu-bumbu’ belaka. Akan tetapi, pada prinsipnya semua ceramah agama menceritakan dan mengingatkan tentang kebesaran Allah SWT yang ‘menjalankan’ Nabi SAW dari Makkah ke Palestina dan ‘langit’, tidak lebih satu malam. Bahkan, konon tempat duduk beliau masih hangat ketika kembali ke Makkah.
Wajar, ketika itu umat Islam langsung terbelah menjadi dua kelompok: yang memercayai kebenarannya dan yang langsung mengingkarinya. Kelompo pertama, meyakini itu merupakan bukti kebesaran Tuhan. Sebaliknya yang ingkar, menganggap perjalanan itu melewati dan di luar jangkauan (beyond) pikiran mereka.
Persoalan tidak masuk akalnya ajaran agama, merupakan sumber perdebatan yang menarik diperbincangkan. Dalam kajian filsafat banyak ditemukan argumen yang mendukung kebenaran Tuhan (baca: ajaran agama). Meskipun banyak ajaran Tuhan (baca: agama) tidak bisa didekati dengan akal, filsafat tampil menjadi pembela dengan pendekatan akal budi manusia.
Penjelasan filosofis persoalan ketidakrasionalan Isra Mikraj, ketika itu, salah satunya dapat dilihat dari pemikiran William James. Dia tidak hendak menegaskan argumen keberadaan Tuhan, karena baginya pertanyaan yang terpenting bukanlah ‘Apakah Tuhan ada?’, tapi ‘Apakah saya beriman kepada Tuhan?’
Kita meyakini Tuhan bukan karena secara rasional atau empiris ia bisa dibuktikan, tapi karena kita merasakan keberadaannya. Problem manusia berhadapan dengan Tuhan bukanlah problem ontologis, tapi problem epistemologis.
Pandangan James tentang keterbatasan akal pikiran dalam membuktikan keberadaan Tuhan, tentu saja dipengaruhi sangat kuat oleh Immanuel Kant, filsuf Jerman yang menguraikan hubungan agama dan akal dalam traktatnya yang terkenal Religion Within the Limits of Reason Alone. Dalam karya itu yang juga dijelaskannya dalam dua karya pentingnya yang lain The Critique of Pure Reason dan Prolegomena to Any Future Metaphysics, Kant menutup seluruh diskusi tentang keberadaan Tuhan dengan menyatakan bahwa akal pikiran manusia punya keterbatasan.
Bertolak dari hal itu, Isra Mikraj tidak atau belum bisa dijangkau akal manusia karena akal manusia mempunyai batas. Akal manusia tidak mungkin sampai pada pengetahuan fundamental tentang struktur realitas (pengetahuan metafisika). Hal itu karena manusia tak dapat mengetahui sesuatu di luar pengalaman sensorisnya.
Kant memperkenalkan dua istilah yang sangat terkenal, yakni phenomena dan noumena. Phenomena adalah segala sesuatu yang tampak, dan bisa kita persepsi dengan indera kita. Noumena adalah realitas yang tak bisa dipersepsi. Dalam bahasa Jerman, ia disebut ding an sich atau sesuatu dalam dirinya sendiri. Noumena adalah realitas yang tak diketahui, tak bisa digambarkan, dan tak bisa dicapai. Pengetahuan kita tentang Tuhan dan persoalan metafisika lainnya masuk ke dalam wilayah noumena yang tak tersentuh itu. (Kant, 1982)
Filsuf fideis seperti Blaise Pascal (1623-1662), Soren Kierkegaard (1813-1855), dan Ludwig Wittgenstein (1889-1951) menganggap bahwa keberagamaan seseorang bukan didasarkan pada pengetahuan terhadap fakta objektif. Tetapi, pada ‘lompatan iman’ (leap of faith) yang dibentuk dari rangkaian pengalaman hidupnya.
Bagi Kierkegaard, iman memiliki kepastian absolut yang berdiri sendiri. Karenanya, seorang yang beriman tak memerlukan penjelasan rasional mengapa dia memilih jalan itu. Dalam bukunya Concluding Unscientific Postscript, Kierkegaard memberikan tiga argumen mengapa akal dan iman tak mesti saling bertemu dalam urusan beragama. (Asyaukanie, 2005).
Pertama, argumen kira-kira (approximation argument). Argumen yang menyatakan bahwa setiap argumen metafisis tak ada yang memberikan bukti secara benar-benar pasti. Seberapa pun canggihnya sebuah argumen, selalu ada kemungkinan penyalahtafsiran bukti atau kesalahan ketika melakukan analisis terhadap bukti itu. Sementara itu, iman membutuhkan kepastian absolut. Namun, jika kepastian absolut tak bisa dicapai lewat argumen rasional, maka iman juga tak bisa dicapai dengan cara itu. Kesimpulannya, iman haruslah melampaui semua bukti rasional.
Kedua, argumen penundaan (postponement argument). Argumen yang berangkat dari asumsi bahwa sains adalah sebuah kebenaran sementara, di mana selalu ada kemungkinan bahwa data baru akan menggugurkan penemuan lama. Jika kita menyerahkan keyakinan kepada penemuan sains, artinya kita harus menunggu hingga waktu tak tentu sampai semua data terkumpul. Tentu saja bukan hanya karena semua data sulit dikumpulkan, tapi umur kita terbatas. Jika kita mau mencapai kepastian absolut, maka sains jelas tak bisa memberikannya.
Ketiga, argumen hasrat (passion argument). Argumen yang menekankan pentingnya komitmen keimanan seseorang. Iman menjadi bermakna karena ia membutuhkan kepercayaan. Iman menjadi kehilangan ruhnya dan tak menarik lagi, ketika ia memiliki bukti yang dapat dijangkau inderawi manusia. Makin tidak bisa dibuktikan, iman menjadi makin sangat berharga.
Bertolak dari itulah, Isra Mikraj sebagai salah satu ajaran Tuhan yang tertuang dalam Alquran sebenarnya dapat diyakini dengan pendekatan filsafat. Terlepas dari segala perdebatan tentang cerita yang mengiringinya, misalnya tawar-menawar rakaat salat per hari, bouraq dan lainnya, tentu saja perjalanan Isra Mikraj harus diimani dengan cara kita masing-masing.
Mahasiswa Program Doktor (S-3) UPI/IKIP Bandung asal Kalsel
0 comments to "Benarkah nabi menawar perintah Allah?????"