Home � Gempa Garut Ingatkan 30 Tahun Lalu

Gempa Garut Ingatkan 30 Tahun Lalu



Beberapa warga korban gempa yang menempati pengungsian di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengaku teringat dengan peristiwa serupa 30 tahun silam. Demikian dilaporkan Kantor Berita Antara, hari ini (Ahad, 6/9)

Darma (55), ketika ditemui di lokasi pengungsian di Cikelet, Garut, Minggu pagi, mengatakan,"Tiga puluh tahun lalu Garut juga dilanda gempa bumi yang cukup dahsyat, menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang sangat banyak."

Sedikit-dikitnya 1.291 kepala keluarga (KK) atau 13.350 jiwa korban gempa bumi, kini ditampung di lokasi pengungsian itu. Selain Darma, beberapa yang lain juga mengaku teringat kembali dengan peristiwa yang muncul 30 tahun silam tersebut.

Berdasarkan catatan, 22 Nopember 1979 sekitar pukul 23.00 WIB, Kabupaten Garut diterjang gempa tektonik berkekuatan 5,8 pada Skala Richter (SR). Darma mengatakan, bencana alam pada 1979 berdampak lebih parah dengan menelan kerugian yang lebih besar dibandingkan tragedi 2 September lalu.





Sementara upaya penanggulangan dampak 1979 tak sebaik saat ini, lanjut dia, waktu itu kondisi sarana penampungan para pengungsi lebih memprihatinkan.
Tidak hanya itu, kenang dia, pada 1982 masyarakat Garut kembali dikejutkan dengan letetusnya Gunung Galunggung yang lokasinya di kabupaten tetangga, Tasikmalaya. Gempa vulkanik dan hujan abu yang dipancarkan gunung tersebut, begitu dirasakan oleh masyarakat Garut.

Ungkapan senada juga disampaikan Soban Syuban(53), pegawai Setda Garut yang mengatakan, kendati berkekuatan 5,8 SR, dampak gempa 1979 jauh lebih parah dibandingkan 2 September lalu.

Sementara kondisi para pengungsi bencana gempa 2009, memasuki hari kelima tampak semakin gelisah dan kadang emosional. Pada menit-menit menjelang makan sahur atau berbuka puasa Ramadhan, misalnya, tidak sedikit pengungsi yang tampak "kukulutus" (bersungut-sungut) dengan mimik wajah tegang.

Kenyataan tersebut diduga akibat sebagian pengungsi yang mulai dihinggapi rasa jenuh dengan suasana yang mereka hadapi. Beberapa camat di wilayah Garut Selatan, termasuk Camat Pameungpeuk, Jujun Juhana, mengakui bahwa tidak sedikit pengungsi di daerahnya yang kini mulai jenuh tinggal di lokasi penampungan sementara.

Mengenai menu utama mereka selama ini, Camat Jujun mengatakan antara lain berupa ikan kaleng sarden, mie instan serta air kemasan gelas. Pada buka puasa mereka menikmati menu tambahan berupa tahu dan tempe. Dikatakannya, "Menghadapi kondisi para pengungsi diperlukan kesabaran tinggi dengan memaklumi kondisi psikologis mereka yang kerap muncul sikap temperamental."

Sementara pemandangan di luar arena pengungsian, tampak tidak sedikit kalangan anak para pengungsi dengan bertelanjang dada meminta sumbangan dana di jalanan, dengan menyediakan kotak amal.


Sebelumnya, Koran Kompas melaporkan, data dari Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana (PB) Provinsi Jawa Barat hingga pukul 12.00 WIB menyatakan, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi Tasikmalaya mencapai 70 orang.

Petugas piket harian Satkorlak PB Provinsi Jawa Barat, Rano Harjaya, Sabtu."Dari data yang ada sampai jam 12.00 WIB tadi, jumlah korban tewas mencapai 70 orang, luka-luka 966 orang dan yang dinyatakan hilang 32 orang."

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut, korban meninggal, luka-luka dan hilang paling banyak terdapat di Desa Pamoyanan Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur. Dikatakannya pula, "Dari data tersebut, korban meninggal, luka dan hilang itu paling banyak dari Kecamatan Cibinong, Cianjur." Ia menambahkan, jumlah total rumah warga yang rusak akibat goncangan gempa bumi 7,3 skala richter di Jawa Barat mencapai 5.000 rumah lebih. Menurutnya, jumlah total rumah yang rusak akibat gempa di Jabar mencapai 148.469 rumah, meliputi 5.412 rumah rusak total, 43.239 rumah rusak parah dan 99.818 rusak ringan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, dr Ahmad Kustijadi M Epi, mengatakan, untuk Kabupaten Bandung sendiri jumlah total warganya yang dinyatakan meninggal dunia mencapai 14 orang. Dikatakannya,"Sampai tadi siang, data kami masih 14 orang, 12 orang meninggal karena gempa dan dua orang lagi meninggal karena faktor lain selain terkena gempa."

Menurut Ahmad, jumlah korban tewas terbanyak berasal dari Kecamatan Pangalengan, yakni sebanyak 10 orang. Sementara sisanya berasal dari Kecamatan Kertasari sebanyak satu korban, Kecamatan Cimaung satu orang, dan Kecamatan Banjaran dua orang.

Sedangkan jumlah korban luka berat dan ringan karena gempa bumi di Kabupaten Bandung mencapai ribuan orang. Ahmad menambahkan, "Untuk korban luka berat dan ringan ada ribuan dan jumlah bangunan rusak berat, sedang dan ringan mencapai lebih dari 10 ribu unit, termasuk sarana pendidikan, sarana ibadah, perkantoran, serta fasilitas umum atau sosial." (berbagai sumber)

Tags:

0 comments to "Gempa Garut Ingatkan 30 Tahun Lalu"

Leave a comment