Home � Keutamaan Malam Laylatul Qadar dan Tanda-Tandanya

Keutamaan Malam Laylatul Qadar dan Tanda-Tandanya



Keutamaan Laylatul Qadar (Malam Al-Qadar)
Malam Al-Qadar adalah malam yang paling utama, malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam turunnya para malaikat dan cahaya Ilahi, malam puncak keutamaan, penganugerahan rahmat dan keberkahan, malam puncak pengampunan semua dosa kecuali dosa-dosa tertentu.

Bahkan dalam hadis-hadis yang shahih disebutkan: Malam Al-Qadar adalah awal tahun sekaligus akhir tahun, malam Al-Qadar adalah malam ditetapkannya takdir manusia dalam satu tahun: rizki dan umur, bahagia dan celaka, baik dan buruk, dan segala yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa malam Al-Qadar terjadi pada malam ke 19, 21, dan malam ke 23.

Rasulullah saw bersabda kepada sahabatnya: “Percayalah kalian tentang malam Al-Qadar, sesungguhnya malam Al-Qadar itu sesudahku untuk Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya.” (Al-Kafi 1: 533)

Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata kepada Ibnu Abbas: “Sesungguhnya malam Al-Qadar itu terjadi setiap tahun. Pada malam Al-Qadar turunlah perkara tahunan, dan dalam perkara itu terdapat perkara para pemimpin sesudah Rasulullah saw.” Ibnu Abbas bertanya: Siapa mereka itu? Imam Ali (as) menjawab: “Aku dan sebelas orang dari keturunanku, para imam yang disebutkan dalam hadis.” (Al-Kafi 1: 532)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) pernah ditanyai tentang: Mengapa malam Al-Qadar disebut lebih baik dari seribu bulan? Beliau menjawab: “Amal baik di dalamnya lebih baik dari amal seribu bulan yang tidak terdapat malam Al-Qadar.” (Al-Faqih 2: 158)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada tanggal 12 Ramadhan, Zabur diturunkan pada tanggal 18 Ramadhan, dan Al-Qur’an diturunkan pada malam Al-Qadar.” (Al-Faqih 2: 159)


Humran bertanya kepada Imam Al-Baqir (sa) tentang firman Allah “Kami turunkan Al-Qur’an pada malam yang penuh berkah” (Ad-Dukhkhan/44: 3). Beliau menjawab: “Ya, malam itu adalah malam Al-Qadar dan terjadi setiap tahun pada bulan Ramadhan, sepuluh malam terakhir; dan Al-Qur’an tidak diturunkan kecuali pada malam Al-Qadar.” Ia bertanya lagi tentang firman Allah: “Pada malam itu diperjelas setiap persoalan yang bijaksana” (Qs. 44: 4). Beliau menjawab: “Pada malam itu, tahun itu hingga tahun berikutnya ditakdirkan setiap sesuatu dari sisi baik dan buruknnya, ketaataan dan kemaksiatan, kelahiran dan ajal atau rizki. Sehingga sesuatu yang ditakdirkan dan ditetapkan pada tahun itu adalah sesuatu yang mahtum (pasti); dan hanya Allah yang memiliki kehendak di dalamnya.” Ia bertanya lagi: Malam Al-Qadar lebih baik dari seribu bulan, apa maksudnya? Beliau menjawab: “Amal shaleh di dalamnya yakni shalat, zakat dan segala kebaikan lebih baik dari seribu bulan yang tidak terdapat malam Al-Qadar. Sekiranya Allah swt tidak melipatgandakan bagi kaum mukminin, niscaya mereka tidak akan mampu mencapainya, tetapi Allah melipatgandakan kebaikan mereka karena kecintaan kepada kami Ahlul bait.” (Al-Wasail 10: 351)

Imam Ash-Shadiq (sa) pernah ditanyai tentang malam Al-Qadar. Beliau berkata: “Malam Al-Qadar adalah malam para malaikat dan malaikat pencatat turun ke langit dunia, lalu mereka mencatat persoalan tahunan dan musibah yang akan menimpa pada manusia dan segala persoalannya. Persoalan itu tergantung di sisi Allah swt, tergantung pada kehendak Allah, Allah mendahulukan apa yang dikehendaki-Nya dan menunda apa yang dikehendaki-Nya, menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dan di sisi-Nya ada Ummul Kitab.” (Al-Wasail 10: 350)

Ishaq bin ‘Ammar berkata: ada sekelompok manusia bertanya kepada Imam Ash-Shadiq (sa): Rizki dibagikan pada malam Nishfu Sya’ban? Imam menjawab: “Tidak, demi Allah tidak demikian, tetapi Rizki itu dibagikan pada malam ke 19, 21 dan 23 Ramadhan. Karena pada malam
ke 19 Allah mempertemukan dua hal, pada malam ke 21 Allah memperjelas setiap persoalan yang bijaksana, dan pada malam 23 Allah mengesahkan apa yang dikehendaki-Nya, malam itu adalah malam Al-Qadar yang oleh Allah Azza wa Jalla dinyatakan lebih baik dari seribu bulan.” Ishaq bertanya: Apa yang dimaksud dengan pertemuan dua hal? Beliau menjawab: “Pada malam itu Allah menghimpun apa yang dikehendaki tentang sesuatu yang didahulukan dan yang ditunda, serta kehendak dan ketetapan-Nya.” Ishaq bertanya lagi: Apa yang dimaksud dengan Allah mengesahkan persoalan pada malam ke 23? Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah swt memperjelas dan memilah-milah persoalan itu pada malam ke 21, pada malam ini masih terdapat bada’ (perubahan), sedangkan pada malam ke 23 Allah swt mengesahkannya sehingga menjadi mahtum (pasti) yaitu Allah swt tidak melakukan perubahan di dalamnya.” (Al-Kafi 4: 158; Al-Bihar jld 94, hlm 19)

Imam Ash-Shadiq (sa) berkata kepada anak-anaknya: “Jika bulan Ramadhan telah datang, maka hendaknya kalian bersungguh-sungguh di dalamnya, karena di dalamnya dibagikan rizki, dan ditentukan rizki dan ajal. Para malaikat Allah ditugaskan untuk mencatat urusan itu, dan di dalamnya terdapat malam Al-Qadar, amal di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Mustadrak 7: 436)

Imam Ash-Shadiq (sa) juga berkata: “Barangsiapa yang menghidupkan malam Al-Qadar, maka azab yang semestinya menimpa padanya akan ditunda pada tahun berikutnya.” (Al-Mustadrak 7: 456)







Tanda-Tanda Malam Al-Qadar
Dan cara mendapatkannya


Muhammad bin Muslim bertanya kepada Imam Al-Baqir (sa) tentang tanda-tanda malam Al-Qadar? Beliau menjawab: “Malam itu harum baunya, jika di musim dingin malam itu terasa panas, jika di musim panas terasa dingin, dan baunya harum.” (Al-Faqih 2: 159)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Malam Al-Qadar terjadi pada setiap tahun, dan harinya seperti malamnya.” (Al-Wasail 10: 359)

Seseorang bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir (sa): Bagaimana cara mengetahui bahwa malam Al-Qadar itu terjadi setiap tahun? Beliau menjawab: “Jika bulan Ramadhan datang, hendaknya kamu membaca surat Ad-Dukhkhan (100 kali) setiap malam, maka pada malam ke 23 kamu akan melihat kebenaran apa yang kamu tanyakan.” (Al-Wasail 10:362)

Rasulullah saw bersabda: “Malam Al-Qadar terjadi pada bulan Ramadhan, maka hendaknya bersungguh-sungguh untuk mendapat-kannya pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir yaitu malam ke 21 atau ke 23 atau ke 25 atau ke 27 atau ke 29 atau malam terakhir dari bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melakukan qiyamul layl pada malam itu, ia diampuni dosa-dosa yang lalu.” (Mustadrak Al-Wasail 7: 476)

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan malam Al-Qadar dengan ibadah dan mengharap ampunan, ia diampuni dosa-dosanya yang lalu.” Rasulullah saw menghidupakan malam itu dan tidak menutupnya. (Al-Wasail 10: 358)

Imam Musa Al-Kazhim (sa) berkata: “Barangsiapa yang mandi sunnah pada malam Al-Qadar dan menghidupkannya hingga terbit fajar, ia akan keluar dari dosa-dosanya.” (Al-Wasail 10: 358)

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Barangsiapa yang menghidupkan malam Al-Qadar, ia akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak bintang di langit, seberat gunung dan seluas samudera.”
(Al-Mustadrak 7: 457)

Rasulullah saw bersabda bahwa nabi Musa (as) berkata: “Ilahi, aku ingin dekat dengan-Mu.” Allah menjawab: “Aku dekat dengan orang yang menghidupkan malam Al-Qadar.” Nabi Musa (as) berkata: “Ilahi, aku ingin kasih sayang-Mu.” Allah swt menjawab: “Kasih sayang-Ku untuk orang yang menyayangi orang-orang miskin pada malam Al-Qadar.”

Nabi Musa (as) berkata: “Ilahi, aku ingin keselamatan dalam melintasi shirat.” Allah swt menjawab: “Keinginan-Mu itu untuk orang yang Besedekah pada malam Al-Qadar.” Nabi Musa (as) berkata: “Ilahi, aku ingin pohon di surga dan buahnya.” Allah swt menjawab: “Keinginanmu itu untuk orang yang bertasbih pada malam Al-Qadar.”

Nabi Musa (as) berkata: “Ilahi, aku ingin keselamatan dari neraka.” Allah swt menjawab: “Keinginanmu itu untuk orang memohon ampun pada malam Al-Qadar.” Selanjutnya Nabi Musa (as) berkata: “Ilahi, aku ingin ridha-Mu.” Allah Azza wa Jalla menjawab: “Keinginanmu itu untuk orang yang melaku-kan shalat dua rakaat pada malam Al-Qadar.” (Al-Mustadrak 7: 456)

Shaleh bin Muhammad pernah mengirim surat kepada Imam Abu Muhammad (sa), yang isinya bertanya tentang mandi sunnah di bulan Ramadhan. Kemudian beliau membalas suratnya: “Jika kamu mampu, hendaknya mandi sunnah pada malam ke 19, ke 21 dan ke 23, maka lakukan. Karena malam-malam itu diharapkan datangnya malam Al-Qadar. Jika kamu tidak mampu menghidupkan malam-malam itu, maka jangan lewatkan untuk menghidupkan malam ke 23 dengan shalat 100 rakaat, pada setiap rakaat setelah Fatihan membaca surat Al-Ikhlash (11 kali).” (Al-Wasail 10: 358)

Dosa yang tidak diampuni
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah membebaskan beribu-ribu manusia dari neraka setiap hari bulan Ramadhan pada saat berbuka. Khusus pada malam Jum’at dan hari Jum’at Allah swt membebaskan beribu-ribu manusia dari neraka setiap jam, yang semestinya mereka itu disiksa. Khusus pada hari terakhir bulan Ramadhan Allah swt membebaskan sejumlah manusia yang dibebaskan sejak awal bulan hingga hari terakhir. Khusus pada malam Al-Qadar Allah Azza wa Jalla memerintahkan malaikat Jibril turun ke bumi bersama para malaikat pencatat…Pada malam ini mereka mengucapkan salam kepada setiap manusia yang menghidupkan malam ini, ibadah, shalat dan berzikir. Para malaikat berja-batan tangan dengan mereka, mengaminkan doa mereka hingga terbit fajar. Ketika terbit fajar Jibril memanggil para malaikat: Wahai para malaikat, mari kita pergi. Para malaikat menjawab: Wahai Jibril, apa yang telah dibuat oleh Allah swt untuk hajat-hajat kaum mukminin dari umat Muhammad saw. Jibril menjawab: “Sungguh Allah swt telah memperhatikan mereka malam ini lalu memaafkan kesalahan mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka kecuali empat orang.” Lalu Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: “Peminum khomer, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang memutuskan silaturrahim, dan orang yang dengki. Ketika malam Idul fitri tiba, malam ini
dinamai malam jawaiz, Allah swt menganugerahkan pahala kepada orang-orang yang beramal baik tanpa perhitungan.” (Al-Mustadrak 7: 429)

Rasulullah saw bersabda: “Allah swt memerintahkan kepada malaikat untuk berseru setiap hari di bulan Ramadhan: “Berbahagialah wahai hamba-hamba-Ku, kalian telah diampuni dosa-dosa kalian yang lalu, dan Aku akan memberi pertolongan kepada sebagian kalian karena sebagian yang lain pada malam Al-Qadar kecuali orang yang berbuka karena mabuk atau dengki kepada saudaranya sesama muslim.” (Al-Mustadrak 7: 475)

Tanda-Tanda orang yang celaka
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ada empat tanda orang yang celaka: kedua mata keras (tak mampu menangis), sangat rakus dalam mencari dunia, dan mengulang-ulang dosa.” (Mustadrak Al-Wasail 11: 366)

Wassalam
http://id.alfusalam.web.id
http://shalatdoa.blogspot.com
http://syamsuri149.wordpress.com



Tags:

0 comments to "Keutamaan Malam Laylatul Qadar dan Tanda-Tandanya"

Leave a comment