Home , , , , , , � Obama dan Dilema Kesehatan

Obama dan Dilema Kesehatan











Obama dan Dilema Kesehatan

Suasana sanjungan dan puji puja saat kampanye atau ketika mengucapkan sumpah jabatan presiden, kini suasana itu lenyap menjelang kunjungan Obama ke Indonesia kemarin. Kini Barack Obama menjadi sasaran kecaman. Penentangan kunjungan keluar negeri Presiden Amerika Serikat itu kian meningkat, dalih inilah menjadi salah satu alasan kenapa Obama mengurungkan niat untuk makan nasi goreng, rambutan dan nostalgia di Menteng.

Tahun lalu ketika Obama pertama kali menjejakkan kaki ke Gedung Putih, tumbuh harapan di tengah masyarakat dunia akan kemungkinan terjadinya perubahan dalam kebijakan dalam maupun luar negri Paman Sam. Serasa Opini umum tidak bisa lagi menolerir kepongahan dan kewenang-wenangan Washington, karena itu, keberhasilan Obama memenangi pemilu di AS dengan slogan perubahan diapresiasi secara luas oleh masyarakat internasional. Dunia mengharapkan AS segera mengakhiri perang Irak dan Afganistan, menutup kamp Guantanamo, dan mengendorkan dukungannya kepada rezim Zionis Israel secara membabi-buta.

Setahun lebih telah berlalu dari hari saat Obama mengucapkan sumpah jabatan yang disaksikan secara langsung oleh milyaran pemirsa di seluruh dunia. Namun tak ada perubahan berarti yang terjadi. Obama ternyata tak berbeda dengan George W Bush, presiden koboi asal Texas. Baru beberapa bulan memimpin, Obama mengeluarkan instruksi penambahan jumlah tentara di Afganistan. Gedung Putih saat ini juga tetap solid mendukung Israel, rezim ilegal Zionis yang tak mengenal kemanusiaan.

Dari dalam negeri, presiden yang mempunyai nama lengkap Barack "Hussein" Obama ini, jika gagal memenuhi janji kampanyenya yang menempatkan reformasi layanan kesehatan sebagai agendanya, maka Obama dianggap gagal total. Karena kekhawatiran itulah kenapa Obama menunda kedatangannya ke Indonesia dan Australia, menjelang pemungutan suara untuk menentukan nasib reformasi layanan kesehatan oleh anggota Kongres yang melibatkan parlemen dan House of Representatives (DPR AS) hari ini, Minggu (21/3). Sehari menjelang pemungutan suara, kubu Partai Demokrat sangat optimistis. Namun, kenyataannya, dukungan kepada Obama justru terus menurun. Dengan dipimpin John Boehner, kubu Republik justru semakin menggerogoti dukungan Obama dengan berbagai kampanye.

Sebenarnya, draft reformasi sistem kesehatan dan asuransi di negara ini ‎berubah menjadi konfrontasi serius politik di Negeri Paman Sam. Beberapa ‎waktu lalu, Obama menghendaki para anggota DPR AS dapat meratifikasi draft ‎reformasi sistem kesehatan di Senat sebelum tanggal 18 Maret. Namun ‎DPR dan Senat masih mempermasalahkan isi draft reformasi sistem kesehatan ‎usulan Obama itu. ‎

DPR dan Senat pada faktanya, menyepakati draft reformasi sistem kesehatan, ‎namun kedua lembaga legislatif AS ini berselisih pada beban keuangan draft yang ‎selisihnya bisa mencapai minimal seratus milyar dolar AS. Senator-senator ‎Demokrat meminta rekan mereka di DPR menyepakati pandangan Senat, sehingga ‎penandatanganan draft reformasi sistem kesehatan usulan Obama itu segera ‎dapat ditandatangani.‎

Tidak hanya itu, mereka sebenarnya mengkhawatirkan kemenangan kelompok Republikan di ‎pemilihan senator negara bagian Massachusetts. Sebab, ada kemungkinan Partai ‎Demokrat akan kehilangan angka emas, yakni 60 kursi Senat. Jika kehilangan kursi ‎emas itu, Partai Demokrat akan kesulitan meratifikasi final draft reformasi sistem ‎kesehatan.‎

Meski Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, sudah menjanjikan akan bekerjasama dengan ‎Senat, tapi dukungan yang membutuhkan 216 suara itu, masih belum ‎jelas. Sementara itu, para pemimpin Republikan di DPR menyatakan tidak akan ‎mendukung draft reformasi sistem kesehatan usulan Obama. Dengan demikian, ‎jumlah suara yang ada tidak akan mampu meloloskan usulan draft tersebut.‎

Penundaan kunjungan tiga hari Obama ke kawasan Asia Pasifik menunjukkan ‎bahwa kondisi yang ada belum mendukung ratfikasi final draft reformasi revisi ‎kesehatan. Bila draft itu disepakati, minimal 30 juta dari 40 juta warga AS yang ‎kehilangan asuransi kesehatan, akan mendapat jaminan asuransi. Untuk itu, draft ‎itu mendapat dukungan penuh kalangan masyarakat bawah di Negeri Paman Sam. ‎Akan tetapi, bagi kalangan Republikan, Demokrat konservatif dan kelas menengah atas, ‎menentang kebijakan Obama itu.‎

Bagi AS, masalah kesehatan memang sudah lama menjadi persoalan pelik dan Obama sangat memahami itu. Tingginya biaya layanan kesehatan, banyaknya perusahaan asuransi yang nakal, serta masih banyaknya warga AS yang belum memiliki asuransi menjadi penyebab mengapa layanan kesehatan di sana tergolong sangat buruk. Dengan produk domestik bruto (GDP) mencapai USD14, 441 triliun (sekitar Rp136.800 triliun) atau yang tertinggi di dunia, negara adidaya tersebut justru hanya menempati urutan ke-37 dari 190 negara dengan layanan kesehatan terbaik di dunia. AS bahkan lebih buruk dari Kosta Rika (36) dan hanya setingkat lebih baik dibandingkan Slovenia (38) dan Kuba (39).

Yang lebih memprihatinkan, AS justru menjadi negara dengan pengeluaran terbesar di dunia dalam soal kesehatan. Artinya, warga AS mengeluarkan biaya amat banyak untuk kesehatan mereka, tapi justru mendapatkan manfaat yang teramat sedikit dari dana yang sudah digelontorkan. Fakta-fakta mengecewakan seputar kesehatan warga AS bisa dilihat dari tingginya kematian bayi (nomor 39 di dunia) serta pendeknya harapan hidup di sana (nomor 42 di dunia). Pada 2008, total pengeluaran warga AS untuk layanan kesehatan mereka mencapai USD 2,5 triliun atau 16% dari GDP negara tersebut. Sialnya, krisis finansial global yang mengguncang dunia akhir 2008 lalu membuat biaya kesehatan di sana semakin mahal hingga dua kali lipat.

Lembaga polling Gallup dalam hasil jajak pendapat terbarunya mengumumkan ‎bahwa dukungan kepada Obama menurun hingga 46 persen. Padahal pada tahun ‎‎2009, popularitas Obama mencapai 69 persen. Gallup menilai ketidakpuasan ‎kalangan Republikan, sejumlah pendukung Partai Demokrat dan sejumlah besar ‎pendukung independen program-program sosial Obama sebagai penyebab ‎terpuruknya popularitas Presiden Afro-Amerika ini.‎ Rujukan: [farsnews, irna, iribnews, seputar indonesia]

Berita terkait: Tempointeraktif





Dilema Obama



SAAT anggota Kongres Amerika Serikat memberikan suara untuk Rancangan Undang-Undang (RUU) Reformasi Kesehatan,Minggu (21/3),Presiden Barack Obama berada dalam persimpangan antara sejarah dan noda.
Pertaruhan besar itu bernama RUU Reformasi Kesehatan.Bak sebuah mata pisau, RUU setebal 2.700 halaman tersebut memberi dua kemungkinan besar bagi Obama: sejarah atau noda. Bila presiden ke-46 AS itu bisa meluluskan RUU itu menjadi UU,dia akan tercatat sebagai Presiden AS pertama yang bisa mereformasi sistem kesehatan AS sejak Lyndon B Johnson melakukannya 45 tahun lalu. Obama akan sanggup melewati kerja keras Jimmy Carter atau Bill Clinton yang berjuang memperbaiki sistem kesehatan AS,tapi gagal menaklukkan Kongres. Sebaliknya, bila reformasi sistem layanan kesehatan itu gagal, noda besar bakal terus menggelayuti pemerintahan Obama.

Presiden kulit hitam pertama AS itu akan gagal memenuhi janji kampanyenya yang menempatkan reformasi layanan kesehatan sebagai agenda utama. Kekhawatiran itulah yang justru semakin besar menjelang pemungutan suara untuk menentukan nasib reformasi layanan kesehatan oleh anggota Kongres yang melibatkan parlemen dan House of Representatives (DPR AS) hari ini, Minggu (21/3). Hanya sehari menjelang pemungutan suara, kubu Partai Demokrat memang sangat optimistis.Namun, kenyataannya, dukungan kepada Obama toh justru terus menurun. Dengan dipimpin John Boehner, kubu Republik justru semakin menggerogoti dukungan Obama dengan berbagai kampanye.

“Ini akan menjadi sejarah besar dan saya yakin Kongres akan meluluskannya menjadi UU,” tutur Nancy Pelosi, Juru Bicara DPR AS yang juga pentolan Partai Demokrat. Obama tentu saja menyadari benar besarnya penolakan dari Partai Republik, rakyatnya, bahkan sebagian anggota Partai Demokrat, pengusungnya. Karena itulah dia terus berkeliling AS untuk mempromosikan reformasi yang dia canangkan.Obama bahkan rela menunda rencana kunjungan ke Australia, Guam, dan Indonesia demi berkonsentrasi penuh pada agenda reformasi layanan kesehatan itu. “Saya tahu kebijakan ini memang tidak populis,tapi saya yakin inilah yang harus dilakukan,”paparnya.

Bagi AS, masalah kesehatan memang sudah lama menjadi persoalan pelik dan Obama sangat memahami itu.Tingginya biaya layanan kesehatan, banyaknya perusahaan asuransi yang nakal,serta masih banyaknya warga AS yang belum memiliki asuransi menjadi penyebab mengapa layanan ke-sehatan di sana tergolong sangat buruk. Dengan produk domestik bruto (GDP) mencapai USD14, 441 triliun (sekitar Rp136.800 triliun) atau yang tertinggi di dunia,negara adidaya tersebut justru hanya menempati urutan ke-37 dari 190 negara dengan layanan kesehatan terbaik di dunia.AS bahkan lebih buruk dari Kosta Rika (36) dan hanya setingkat lebih baik dibandingkan Slovenia (38) dan Kuba (39).

Yang lebih memprihatinkan, AS justru menjadi negara dengan pengeluaran terbesar di dunia dalam soal kesehatan.Artinya,warga AS mengeluarkan biaya amat banyak untuk kesehatan mereka,tapi justru mendapatkan manfaat yang teramat sedikit dari dana yang sudah digelontorkan. Fakta-fakta mengecewakan seputar kesehatan warga AS bisa dilihat dari tingginya kematian bayi (nomor 39 di dunia) serta pendeknya harapan hidup di sana (nomor 42 di dunia). Pada 2008, total pengeluaran warga AS untuk layanan kesehatan mereka mencapai USD 2,5 triliun atau 16% dari GDP negara tersebut.Sialnya, krisis finansial global yang mengguncang dunia akhir 2008 lalu membuat biaya kesehatan di sana semakin mahal hingga dua kali lipat.

Mahalnya biaya kesehatan bahkan menjadi penyumbang inflasi terbesar AS. “Fakta-fakta ini menjadi pertanyaan yang memenuhi benak akademisi, pemerintah,dan publik.Sebenarnya ke manakah dana yang sudah kita keluarkan selama ini?” papar Christopher JL Murray,MD, DPhil dari Institute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington,Seattle. Pertanyaan serupa menjadi tema film dokumenter Sicko (2007) karya sutradara kenamaan Michael Moore yang kondang lewat Fahrenheit 9/11.

Dalam dokumenter yang menuai banyak protes tersebut, Moore yang meraih Oscar lewat Bowling for Columbinetersebut menggambarkan dengan jelas bagaimana buruknya sistem layanan kesehatan di AS dari banyaknya warga miskin yang telantar di rumah sakit hingga praktik nakal perusahaan asuransi. Dalam salah satu adegan diperlihatkan dr Linda Pieno yang dibayar salah satu perusahaan asuransi untuk menjadi medical reviewerharus berbohong kepada klien asuransi serta mencari kesalahan sebanyak mungkin agar perusahaan asuransi bisa menggagalkan klaim kliennya. Linda yang depresi karena terus berbohong kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Linda adalah sedikit dari ribuan orang yang membuat jasa asuransi AS seperti hantu dan membunuh klien sendiri.

Dalam setahun terakhir, Obama terus-menerus dikirimi surat pengaduan dari masyarakat yang merasa dirugikan perusahaan asuransi. Mereka meminta agar Obama segera meluluskan UU kesehatan baru agar perusahaan asuransi tidak bisa lagi main mata ataupun bertindak seenaknya.Dalam draf RUU,Obama memang menegaskan pemberian hukuman berat kepada perusahaan asuransi yang mencari berbagai alasan untuk menolak premi. Perusahaan asuransi juga tidak bisa lagi semena- mena menolak calon kliennya hanya berdasarkan catatan kesehatan ataupun jenis penyakitnya. Saat berkampanye, Obama memang pernah berjanji akan menjadi presiden pertama AS yang membereskan berbagai penyelewengan perusahaan asuransi. Sikap tegas Obama ini bisa jadi dilandasi pengalaman pahit masa lalunya.

Ibu Obama, Stanley Ann Dunham, harus berurusan dengan perusahaan asuransi nakal sebelum meninggal karena kanker pada 1995.Menurut Obama,enam bulan sebelum sang ibu meninggal, perusahaan asuransi yang menyokongnya justru mengatakan tidak akan membayar perawatannya di rumah sakit. “Ibu harus berjuang keras dan terus bertengkar lewat telepon dengan perusahaan asuransi untuk mendapatkan haknya,” ucap Obama. Persoalan asuransi di AS diperburuk dengan masih banyaknya warga AS yang belum memiliki asuransi karena mahalnya premi. Diperkirakan masih ada 32 juta warga AS dengan 8,7 juta di antaranya adalah anak-anak yang tidak memiliki asuransi.Kelompok masyarakat menegah ke bawah inilah yang akan menjadi target dari reformasi layanan kesehatan Obama.

Dia ingin semua warga AS memiliki asuransi dengan cara memberi subsidi silang.Warga kelas menengah ke atas akan membayar asuransi lebih mahal guna membantu warga miskin. Strategi ini ditentang kalangan menegah dan atas karena mereka merasa dikorbankan untuk orang lain. Sistem asuransi AS menerapkan pembayaran lewat pemotongan gaji. Artinya, dana asuransi dibiayai perusahaan dan pekerja. Bila premi asuransi naik, otomatis perusahaan harus menaikkan bujet. Sistem ini juga dipakai di Jerman, Prancis,Belanda,dan Jepang, tapi negara Eropa tersebut tidak banyak memiliki masalah,bahkan pelayanan kesehatannya sangat bagus karena transparansi yang begitu tinggi. Reformasi kesehatan AS yang dicanangkan Obama memungkinkan pembentukan asuransi pemerintah bagi mereka yang tidak sanggup membayar premi asuransi swasta. Langkah ini juga diharapkan bisa mendorong transparansi serta semakin murahnya premi swasta.

Namun, strategi tersebut ditentang banyak pihak karena dinilai memberi jalan bagi pemerintah untuk mendominasi urusan kesehatan warga AS yang selama ini lebih banyak digerakkan swasta. Selain masalah asuransi,tingginya konsumsi obat-obatan di AS dan pembaharuan alat-alat ke-sehatan menjadi penyebab lain mengapa biaya kesehatan di sana sangat mahal.Tiap tahun, konsumsi obat-obatan AS naik sekitar 17%. Sayangnya teknologi canggih dan obat mahal belum cukup untuk menekan angka kematian di AS karena sistem kesehatan di sana dinilai kurang bisa mengontrol segi keamanan sehingga sering membahayakan pasien.Tiap tahunnya, angka kesalahan medis di AS diperkirakan mencapai 44.000–98.000.

Untuk menjalankan reformasi layanan kesehatan,kubu Republik memperkirakan AS harus menggelontorkan dana sebesar USD1 triliun selama 10 tahun.Jumlah inilah yang menjadi perdebatan keras di Capitol Hilal, gedung Kongres, karena dinilai terlalu membebani negara. Namun, Demokrat yakin reformasi itu hanya memakan biaya USD940 miliar. Mereka bahkan membeberkan sejumlah bukti bahwa AS bisa memotong defisit hingga USD30 miliar dan USD1 triliun pada dasawarsa berikutnya. Kubu Republik juga mengatakan reformasi layanan kesehatan hanya akan membuat warga AS bangkrut karena mereka ditambahi pajak tambahan untuk menolong kelas bawah.

Untuk mengegolkan RUU tersebut dibutuhkan minimal 216 suara di tingkat senat dan parlemen. Demokrat yang menguasai kongres memiliki 211 suara.Sayangnya,suara mereka terpecah karena kaum konservatif yang tidak menyetujui bantuan kesehatan bagi pelaku aborsi menolak RUU tersebut.Agar tetap sejalan,partai tersebut sepertinya akan mengambil jalan tengah dengan membatasi biaya yang dikeluarkan untuk praktik aborsi. Perdebatan panjang kubu pro dan kontra yang mengiringi perjalanan RUU Reformasi Kesehatan bakal berakhir saat Kongres menentukan suaranya Minggu (21/3).

Jadi, siapakah yang akan menjadi pemenang dalam voting? Apakah Obama akan menciptakan sejarah lagi di AS atau justru menanggung noda dalam pemerintahannya?.[islammuhammadi/mt/Koran SI]

0 comments to "Obama dan Dilema Kesehatan"

Leave a comment