Pornografi Dalam Alkitab
Artikel ini saya tulis untuk menanggapi dua artikel yang di posting di blog Saudari Suryaningsih beberapa hari sebelum ini.
Dalam hal ini, tujuan saya bukan ingin menjustifikasi apalagi melecehkan tulisan-tulisan tersebut. Karena pada intinya, saya tetap menghargai perbedaan dan pandangan masing-masing. Akan tetapi, saya berharap bahwa seseorang yang ingin melakukan kajian lintas iman, maka sekiranya dia juga bisa menghargai perbedaan-perbedaan yang ada, serta menjaga atmosfir pembahasan itu seramah mungkin. Dan yang terpenting dari semua adalah menguasai medan pembahasan.
Adalah wajar bila ada seorang Muslim/Muslimah ingin mengangkat topik mesianisme yang ada di dalam Hebrew Canonical Bible—atau yang lebih akrab disapa oleh umat Kristiani sebagai Perjanjian Lama, sebagaimana umat Kristiani pun sering mengangkat topik ini dalam kajian mesianisme mereka terhadap figur Yesus Kristus. Tapi seorang pengkaji tema-tema ini mestilah memahami seluruh persoalan yang akan di bahas. Paling tidak, sebelum dia menukilkan suatu ayat dan mengaitkannya dengan topik-topik tertentu.
Sebagai Muslim, saya kecewa bila ada seorang Muslim/Muslimah yang disebabkan semangatnya, tapi pada akhirnya malah berakhir dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw telah dinubuatkan di dalam Alkitab Ibrahimik yang porno.
Kisah Porno dan Nubuat Nabi Muhammad Di Dalam Kitab Kejadian
Di dalam melakukan analisa, Saudari Suryanisngsih telah menyebutkan tentang adanya kisah-kisah porno di dalam Kitab Kejadian. Namun, saya tidak tahu mengapa Saudari Suryanisngsih menyebut Kitab Kejadian sebagai Kitab Injil? Perlu dicamkan bahwa orang yang hendak menganalisa Alkitab dan mengemukakan ayat-ayatnya, apalagi berupaya menafsirkan ayat-ayat mesianisme, maka saya rasa ada baiknya bila yang bersangkutan memahami dikotomi tentang Alkitab dan konteks penafsiran ayat-ayat mesianistik. Adapun kisah-kisah “porno” itu adalah sebagai berikut:
Pertama, hubungan Seks Antara Ayah dan Dua Orang Anak Perempuannya: Malam-malam kedua anak perempuan Nabi Lot menggoda ayah mereka yang mabuk dan mendapatkan anak darinya.(Injil – Kejadian 19: 30-36)
Kedua, Anak laki-laki Berhubungan Dengan Ibunya: Ruben anak laki-laki tertua dari Yakub, pada saat ayahnya tidak ada, berhubungan seksual dengan istri ayahnya dan Israel (nama lain Yakub) mendengarnya. Adegan ini dilaporkan kepadanya, tetapi dia tidak memarahi atau memukul anaknya atas kelakuan tersebut. Tuhan juga tidak memberikan sebuah kata celaan pun kepadanya.(Injil-Kejadian 35: 22).
Ketiga, Yehuda Melakukan Perzinahan Dengan Menantu Perempuannya: Dia dengan segera menjadi hamil dan memberikan anak haram yang kembar yang kemudian menjadi nenek moyang Yesus Kristus. Ini berarti Tuhan memberi penghargaan kepada Yehuda dan keturunannya.(Injil -Kejadian 38: 15-30).
Setelah menjelaskan beberapa kisah yang bernuansa pornografi di dalam Kitab Kejadian, lalu Saudari Suryaningsih menyebutkan tentang adanya beberapa nubuat Nabi Muhammad di dalam Alkitab (Kitab Kejadian). Adapun nubuat-nubuat itu adalah sebagai berikut:
Pertama, “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.” (Kejadian 17:20)
Kedua, “Bangunlah, angkatlah anak itu (Ismail), dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” (Kejadian 21:18)
Ketiga, “Allah menyertai anak itu (Ismail), sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun (Paran) dan menjadi seorang pemanah.” (Kejadian 21:20)
Selanjutnya Saudari Suryaningsih juga menambahkan:
Nabi Muhammad pun telah mengisyaratkan dalam haditsnya bahwa nenek moyangnya adalah seorang pemanah. Dan dalam hal ini telah terjadi pada kabilah Aslam beberapa orang dari mereka yang memanah dengan busur, maka nabi Muhammad berkata kepada mereka:
“Panah lah wahai keturunan Ismail, sesungguhnya bapak kamu (Ismail) adalah seorang pemanah.” (Bukhori kitab al Jihad wa Sair, Ibnu Majah dalam kitab Al Jihad).
Kisah Porno dan Nubuat Nabi Muhammad Di Kitab Kidung Agung
Dalam analisanya yang kedua, Saudari Suryaningsih telah mengemukakan kembali seputar kisah-kisah porno yang ada di dalam Kitab Kidung Agung. Adapun beberapa kisah yang mengandung pornografi itu adalah sebagai berikut:
Pertama, “Berkata wanita tersebut: “Rajaku sedang berbaring di dipannya …” ‘Kekasihku mempunyai penciuman dari Myrrh sewaktu dia berbaring pada buah dadaku.” ( Injil – Kidung Agung 1: 12-13).
Kedua, “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. “… ketika saya menemuinya … Kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia kerumah ibuku, ke kamar di mana aku lahir.”(Injil – Kidung Agung 3: 1-4)
Ketiga, “Lihatlah, cantik engkau, manisku bibirmu bagaikan seutas pita kirmizi … buah dadamu seperti anak rusa … Lingkar pahamu seperti permata … … Saya berkata, ‘Saya akan memanjat pohon palem … Oh, buah dadamu seperti sekelompok anggur’. “ (Injil – Kidung Agung 4: 1-7)
Setelah itu, Saudari Suryaningsih telah mengangkat kembali topik nubuat mesianisme yang dikontekstualisasikan dengan figur Nabi Muhammad. Adapun nubuat-nubuat Nabi Muhammad di dalam Kitab Kidung Agung yang sudah di stempel porno oleh Saudari Suryaningsih itu adalah sebagai berikut:
Pertama, “His mouth is most sweet: yea, he is altogether lovely . This is my beloved and this is my friend, O daughters of Jerusalem.” (KJV-Kidung Agung 5:16)
“hikwō mamətaqqîm wək_ullwō maaămadîm zeh dwōdî wəzeh rē‘î bənwōt yərûšālāim.” (Bahasa Ibrani)
“Perkataannya sungguh sangat manis. Ia adalah Muhammadim . Inilah kekasihku dan sahabatku. Wahai putra-puteri Yerusalem.” (Terjemahan)
Lafadz Ibrani pada kitab Kidung Agung sangat jelas mencantumkan nama Muhammad dengan menambahkan kata “dim” yang artinya “yang agung”.
maaămadîm dalam Bible berbahasa inggris diterjemahkan dengan kata “lovely “, sedangkan bahasa Arab melafalkan maaămadîm menjadi MUHAMMADIM.
Akan tetapi pendeta/pastur Arab Kristen yang tidak mau untuk menerima kebenaran kata “muhammadim” adalah nabi “Muhammad Yang Agung”. Mereka mengatakan bahwa muhammadim artinya seseorang yang memiliki karakteristik terpuji (bahasa Arab : hamidah). Dan ternyata para pendeta Arab Kristen cepat bertindak dengan mengedit Bible dan mengubah Machmadim menjadi Habiibii seperti yang dapat anda saksikan di Bible berbahasa Arab terkini.
Benarkah “muhammadim” hanyalah sifat dan sama sekali bukan nama orang ?
Sekarang pembaca perhatikan.
Kidung Agung 5:10,16
10. My beloved white and ruddy, the chiefest among ten thousand .
16. His mouth (is) most sweet: yea, he (is) altogether lovely (Machmadim). This (is) my beloved .Sangatlah jelas “my beloved” yakni MACHMADIM atau MUHAMMADIM (Muhammad Yang Agung) adalah pemimpin 10.000 orang.
Nabi Muhammad Yang Agung adalah pemimpin 10.000 pasukan dalam penaklukkan kota Mekkah di Paran.
Kesimpulan
Perlu diketahui bahwa seluruh ayat yang Saudari Suryaningsih paparkan itu sama sekali bukan berasal dari Injil-nya umat Kristen, tapi Tanakh-nya umat Yahudi.
Memang betul bahwa saat ini umat Kristen telah melengkapi Alkitab Perjanjian Baru mereka dengan Perjanjian Lama, yang mana salah satu tujuannya adalah untuk dijadikan rujukan dan bukti atas kegenapan figur mesianisme Yahudi pada diri Yesus Kristus.
Jadi, kalau kita kurang memahami dikotomi dan sejarah Alkitab (baik soal Perjanjian Lama atau Baru), maka saya berharap agar saudara-saudaraku umat Muslim jangan langsung terjun bebas ke arena yang tidak mereka kuasai metode pengkajiannya.
Sebab, efek yang ditimbulkan bukan malah meyakinkan seorang pembaca, tapi sebaliknya, ia malah semakin membuat mereka heran! Alasannya, selama hampir 2000 tahun lebih, para pengkaji mesianologi Ibrahimik (baik yang beragama Yahudi, Kristen maupun Islam) mengetahui mana yang disebut Kitab Injil kanonik dan mana yang disebut kitab Taurat (Torah), kitab Nabi-nabi (Nevi’im) dan kitab-kitab (Ketuvim). Sedangkan menyebut Kitab Tanakh Yahudi seperti Kejadian, Kidung Agung dan lainnya sebagai Injil, ini menurut saya sudah kebablasan!
Sekali lagi saya berharap kepada Saudara-saudaraku Muslimin bahwa bila seandainya anda berminat kepada kajian mesianologi Alkitab, maka pelajarilah tema-tema itu secara mendetil, atau diskusikan hal tersebut dengan para kristolog Muslim, Yahudi atau Kristen dan jangan langsung melakukan justifikasi-justifikasi yang menurut saya kurang tepat sasaran.
Di samping itu, kajian mesianologi atau kristologi Islam, seharusnya lebih diarahkan bagi kemaslahatan pendidikan umat Muslim, terutama dalam rangka memahami hubungan Al-Qur’an dengan Alkitab, dan juga untuk membangun atmosfir persaudaraan antar sesama penganut ajaran Ibrahimik. Sebagaimana hal ini juga senantiasa dilakukan oleh umat Kristen, terutama dalam rangka memahami hubungan Tanakh Yahudi (Perjanjian Lama) dengan Injil kanon (Perjanjian Baru).
Saya hargai upaya Saudari Suryaningsih yang penuh semangat, sehingga sangat berkeinginan untuk memunculkan kajian-kajian mesianisme yang ada di dalam Kitab-kitab Ibrahimik sebelum Al-Qur’an. Terutama yang terkait dengan figur Nabi Islam, yaitu Muhammad saw. Akan tetapi, saya juga berharap agar proses penyampaian pendapat itu tidak mesti dengan cara menyakiti perasaan saudara-saudara kita yang beragama Kristen.
Semoga metode pengkajian kristologi secara konvensional itu bisa ditukar melalui metode analisa rasional, netral dan independen. Kajian krsitologi bukanlah kajian pembahasan tentang ajaran Kristen saja. Mesianologi atau kristologi adalah suatu ilmu yang membahas tentang nubuat-nubuat kemesiahan di dalam rumpun agama Ibrahimik, khususnya yang mengakar dari Yudaisme.
Tema-tema paradoks seperti yang dikemukakan oleh Saudari Suryaningsih ini, misalnya, bisa-bisa menambah gap antara umat Muslim dan Kristen yang semestinya tidak perlu terjadi.
Banyak metode lain yang bisa digunakan untuk mengkaji topik mesianisme Ibrahimik, seperti membangun pararelitas, kesamaan, kecintaan yang mungkin bisa diangkat dari persepsi Al-Qur’an maupun Bibel.
Islam memang memiliki pendekatan yang berbeda dengan umat Kristen di dalam mempersepsikan pribadi Sang Mesiah di dalam Tanakh Yahudi, sebagaimana Kristen pun memiliki persepsi yang berbeda tentang topik serupa dengan umat Yahudi.
Akan tetapi, perbedaan itu tidak mesti dipertajam dengan mengemukakan ayat yang dinilai sebagai porno di dalam Tanakh Yahudi, lalu celakanya … ayat-ayat itu dibilang sebagai kitab Injil. Kemudian di saat yang sama, ingin mengemukakan bahwa Nabi Muhammad saw telah dinubuatkan di dalam kitab-kitab tersebut.
Pada intinya, perbedaan itu adalah hal wajar, tapi janganlah hal itu ditujukan untuk saling melecehkan apalagi bermusuhan.
Relasi artikel: Muslim Kok Belajar Alkitab?!
Salam damai dalam kecintaan kita kepada Kristus ![]()
sumber:http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/11/27/pornografi-di-dalam-alkitab/
0 comments to "Pornografi Dalam Alkitab"