Home , , , � Amru bin Ash sang Khalifah Mesir yang menjadi penentu Kemenangan Muawiyah dengan cara menaruh Quran diujung tombak

Amru bin Ash sang Khalifah Mesir yang menjadi penentu Kemenangan Muawiyah dengan cara menaruh Quran diujung tombak



Masjid Amr bin Ash adalah Masjid pertama di Mesir dan di Afrika pada umumnya, dibangun pada tahun 21 H/642 M, oleh salah satu pejuang Islam bernama Amr bin Ash. Masjid ini dibangun kira-kira satu tahun setelah Amr bin Ash membuka Mesir dan membangun kota Fusthat sebagai ibu kota Islam pertama di Mesir pada 1 Muharram 20 H./8 November 641 M.

Seperti umumnya masjid-masid kuno lainnya di mesir, bangunan masjid Amr berbentuk segi empat. Bagian tengahnya dibiarkan terbuka tanpa atap. Mirip Masjidil Haram di Mekkah. Struktur bangunannya pun cukup sederhana namun terlihat kokoh dan elegan. (sumber: http://i2b-ibrims.blogspot.com/)

Masalah Palestina, Siapa yang Paling Jahat?

Semalam, di Twitter, saya membaca kata-kata kutipan dari Elie Wiesel. Konon dia adalah salah seorang korban holocaust Yahudi. Dia mengatakan, “What hurts the victim most is not the cruelty of the oppressor, but the silence of the bystander.” Apa yang paling menyakiti korban bukanlah kekejaman penindas, tapi diamnya orang yang berada di sampingnya. Saya langsung ingat tentang Palestina, Mesir dan khususnya note milik Sayid Abuthalib Al Muhdar.

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, khalifah bertanya kepada gubernur Mesir kala itu, Amru bin Ash. “Kaifa Mashr yâ ‘Amr?”

Amru bin Ash, sebelum masuk Islam, pernah menjadi utusan kaum kafir Quraisy untuk menghasut para sahabat Nabi saw. yang berhijrah ke negeri Ethiopia. Setelah masuk Islam, dalam peristiwa tahkim, ia memainkan peran penting dalam menjatuhkan Ali dan menaikkan Muawiah sebagai khalifah dengan cara menaruh Quran diujung tombak.(Pidato Setelah Tahkim) Makam dan masjidnya kini berada di Mesir.

Pertanyaan Khalifah Umar, dijawab oleh Amru dengan jawaban yang selalu diingat sepanjang sejarah tentang orang Mesir. “Ardhuhâ dzahab, nisâuhâ lu’ab, wa rijâluhâ ‘abîdun liman ghalab….” Negaranya emas [subur karena berada di kedua sisi dari sungai Nil], wanita-wanitanya mainan, dan lelakinya hanya tunduk pada yang menang [tidak ada yang punya loyalitas].

Masih ingatkah kita pada sindiran yang dibuat tentang kezaliman orang-orang Arab yang hanya berdiam diri ketika Zionis Israel membantai orang-orang Palestina di Gaza? Di bawah ini ceritanya:

Tiga lelaki sedang bertanding untuk menentukan siapakah orang paling jahat di muka bumi. Lelaki pertama menyerang seorang wanita sampai giginya patah, hidung dan kupingnya berdarah, dan masih saja dipukuli sampai wanita tersebut pingsan. Lalu, dia berkata pada yang lain, “Akulah manusia paling jahat!”

Kemudian, pria kedua maju dan memperkosa wanita yang pingsan tadi dan terus menyiksanya sampai dia hampir mati. Lalu dia berkata, “Tidak ada yang lebih jahat daripada aku!”

Pria ketiga, yang dari tadi diam, maju ke depan, dan dengan dingin tersenyum dan berkata, “Akulah yang paling jahat, karena aku hanya duduk dan menonton, sedangkan wanita ini adalah saudaraku!!”

Wanita itu adalah Palestina. Lelaki pertama adalah Israel. Lelaki kedua adalah Amerika dan Barat. Lelaki ketiga adalah dunia Arab dan Islam yang duduk diam dan menonton. Malah ada sebagian masyarakat dari dunia Islam yang mendukung Israel!

Ehud Olmert (Israel) dan Husni Mubarak (Mesir)

Sekarang ini Zionis Israel sedang merampas tanah orang Palestina untuk membangun “Buffer Zone” dan sudah sekian puluh [bahkan ribu] orang pemuda dan warga sipil Gaza yang mati tertembak atau terbunuh secara sadis.

Makin sempurnalah keterisoliran orang-orang Gaza dari dunia luar. Satu-satunya jalan adalah melewati terowongan yang mereka bangun menembus ke wilayah Mesir. Apakah Mesir menerima mereka (orang-orang) Gaza ini sebagai saudara sesama bangsa Arab? Apakah mereka di terima secara baik-baik untuk mendapat bantuan berupa makanan, minuman, obat-obatan?

Setelah Mesir, marilah kita berdiri di depan kaca; kita, Anda dan saya, sebagai umat muslim. Ya, kita tentu bisa dan wajib berdoa. Tapi pada saat yang sama kita terpancing oleh musuh Islam untuk terus saling “berbantah-bantahan” sesama umat muslim. Kita melupakan Palestina dan terlalu asyik saling klaim kebenaran antar-mazhab. Kita melawan mazhab A dan menuduhnya melakukan bidah dan sesat, sementara Palestina melawan musuh yang jelas.

Kita masih juga sentimen dengan mazhab lain dan menganggap pembelaan terhadap Palestina hanyalah omong kosong. Kita kritik orang-orang yang demo di depan kedutaan Mesir dan Amerika dan menganggapnya sebagai sia-sia, sedangkan kita menonton televisi di sofa empuk. Kita juga teriakkan anti-Israel tapi masih menikmati konsumsi McDonald’s, Coca-Cola, Starbucks dan tidak berusaha mengurangi konsumsi produk yang jelas mendukung Israel.

Saya menggunakan kata “kita” karena memang Anda dan saya masih terus memperbaiki diri; kita adalah satu kesatuan umat yang Rasulullah saw. telah peringatkan, Wa man lam yahtamma bi amril muslimîna, fa laisa minhum. Barang siapa yang tidak ikut memperhatikan permasalahan kaum muslimin maka dia bukan dari golongan itu (muslimin).”

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.” ~ Martin Luther King, Jr.

Catatan: Thanks to Sayid Abuthalib Al Muhdar for his great note. Tulisan ini di-posting juga sebagai “janji” kita bahwa Piala Dunia tidak akan alihkan isu Palestina.

sumber:http://ejajufri.wordpress.com/

Artikel Terkait:

1 comments to "Amru bin Ash sang Khalifah Mesir yang menjadi penentu Kemenangan Muawiyah dengan cara menaruh Quran diujung tombak"

  1. Ningrat says:

    Luar biasa...baru tau kalau ada sejarah yang bilang ada Al Qur'an di jadikan alat untuk berkhianat....makasih atas infonya....

Leave a comment