Home , , � Perkuat Aksi Spionase, Amerika nambah duit anggarannya!!!!

Perkuat Aksi Spionase, Amerika nambah duit anggarannya!!!!

80 Miliar Dolar, Dana Baru AS Perkuat Aksi Spionase

Washington, IRIBNews--Amerika Serikat (AS) tahun ini telah merogoh koceknya lebih dari 80 miliar USD untuk membiayai aksi spionase.

Pemerintah AS tahun ini secara resmi menganggarkan dana sebesar 80 miliar USD untuk memperbaiki sistem spionasenya. Demikian dilaporkan IRNA dari New York. Bujet dinas rahasia AS ini untuk pertama kalinya dirilis Kamis (28/10/2010) dan dari jumlah tersebut 27 miliar dialokasikan khusus ke sektor pengumpulan informasi dan data militer AS.

Steven Aftergood, pengamat di Federation of American Scientists mengatakan, angka tersebut paling realistis dari yang kami miliki selama ini. Kantor dinas keamaan nasional AS terkait hal ini menyatakan, alokasi bujet untuk memanej intelijen nasional sebesar 58,1 miliar dolar yang mencakup anggaran belanja bagi CIA dan 16 dinas keamanan lainnya. (IRIB/IRNA/MF/28/10/2010)

Jepang, Medan Tempur Baru Medvedev-Obama

Moskow, IRIBNEws--Presiden Rusia, Dmitry Medvedev dijadwalkan akan bertemu dengan sejawatnya dari Amerika, Barack Obama di sela-sela KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik. (APEC). Demikian dilaporkan Kantor penerangan Kremlin dan dilaporkan IRNA dari Moskow.

Kremlin juga melaporkan bahwa kedua pemimpin negara dalam KTT yang akan digelar 13-14 November di Yokohama, Jepang akan membicarakan berbagai masalah bilateral. Medvedev dan Obama juga diprediksikan menghadiri sidang G-20 di Korea Selatan pada 11 dan 12 November.

Rusia dan AS saat ini telibat friksi soal Strategic Arms Reduction Treaty (START II), meski perjanjian ini telah ditandatangani kedua pemimpin negara namun mayoritas anggota Senat Amerika menolak meratifikasi perjanjian ini.

Merujuk pada friksi di Senat AS, sumber-sumber pemberitaan Rusia mengkonfirmasikan kemungkinan gagalnya proses rafifikasi perjanjian START II. "Perjanjian ini sudah pasti gagalnya," demikian ditegaskan media Rusia.

Masih menurut media Rusia, perjanjian START II menjadi penghalang upaya AS untuk menempatkan sistem anti rudalnya di Eropa dan hal inilah yang tidak dapat diterima oleh senator Amerika.

Di sisi lain, sejumlah elit politik dan pengamat militer Rusia juga menolak perjanjian START II dan menyebutnya sebagai ancaman bagi keamanan Moskow. Berdasarkan perjanjian yang menggantikan START I, kedua pihak harus mengurangi hulu ledak nuklirnya menjadi 1550 dan dari jumlah tersebut kurang dari 700 hulu ledak yang akltif.

Disebutkan bahwa AS menyimpan 9.500 hulu ledak nuklir di instalasi nuklirnya dan Rusia memiliki 13.000 hulu ledak nuklir. Di antara hulu ledak ini AS mengaktifkan 2.500 hulu ledak nuklirnya sedangakan Rusia sekitar 5.000 buah. (IRIB/IRNA/MF/29/10/2010)

Bom Kembali Guncang Irak

Serangan bom bunuh diri terjadi di Baghdad yang menewaskan 25 orang dan menciderai 70 lainnya.

Kantor berita AFP melaporkan, serangan bom itu terjadi Jumat malam di sebuah warung kopi, timur laut Baghdad. Hingga berita ini dilaporkan belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sebelumnya sumber pemberitaan melaporkan tewasnya seorang perwira tinggi departemen dalam negeri Irak, Abdul Razak Abdul Wahab.

Kantor berita Fars melaporkan, insiden ini terjadi di jalur lintasan mobil yang mengangkut pejabat tinggi Irak itu.

Pejabat tinggi dan petugas keamanan Irak serta rakyat negara ini menjadi sasaran kelompok teroris selama pendudukan Negeri Kisah Seribu Satu Malam ini.(IRIB/PH/30/10/2010)

Lobi Lagi, Irak Belum Punya Pemerintahan

Panggung politik di Irak saat ini sedang diramaikan oleh bursa lobi antar kubu politik untuk membentuk pemerintahan baru. Setelah pertemuan kubu-kubu politik di Baghdad Rabu lalu, rencananya Ahad nanti akan digelar pertemuan yang lain dengan menghadirkan empat kekuatan politik utama yang memenangi pemilu di negara itu. Pertemuan tersebut bakal membicarakan hal-hal penting terkait pembagian jatah kursi di pemerintahan, penentuan ketua parlemen, presiden dan perdana menteri. Pertemuan Ahad nanti dinilai oleh kalangan pemerhati politik sebagai pertemuan yang sangat penting.

Yang pasti, keempat aliansi besar Irak, yaitu Aliansi Negara Hukum, Aliansi Nasional, Aliansi Kurdi dan List Al-Iraqiyah sama-sama menekankan pembentukan pemerintahan nasional bersatu. Mereka juga sepakat bahwa lobi antar faksi politik harus terus dilakukan untuk membulatkan suara dan keputusan sehingga pemerintahan baru bisa secepatnya terbentuk.

Pemilu sudah berlalu delapan bulan, namun sampai saat ini pemerintahan belum juga terbentuk. Itu terjadi karena muncul friksi tajam antara kubu-kubu politik, dan sebagian pihak menyampaikan tuntutan yang sangat berlebihan. Kini, titik terang sudah mulai terlihat setelah Masoud Barazani, pimpinan Partai Demokratik Kurdistan ikut menengahi dan keempat aliansi besar Irak bersedia duduk di satu meja. Diharapkan upaya yang sedang dilakukan saat ini bisa membuahkan hasil maksimal seperti yang dinanti-nantikan rakyat Irak.

Kondisi di Irak memang meniscayakan semua pihak yang peduli untuk mengedepankan kemufakatan atas hukum dan aturan. Karena itulah, kubu-kubu politik di negara itu khususnya Aliansi Kurdi dan kubu Syiah sedang berusaha sekuat tenaga untuk membentuk kemufakatan di antara faksi-faksi politik, terlebih mengenai pembagian kekuasaan di pemerintahan nanti. Diharapkan semua pihak bersedia bergabung dalam pemerintahan baru sehingga tercapailah ide membentuk pemerintahan nasional bersatu.

DI lapangan, lobi terus dijalankan dan para tokoh penting Irak sedang berusaha bersama membentuk pemerintahan yang baru. Di parlemen, Ketua Parlemen Sementara Fouad Masumi sudah mengumumkan untuk menggelar sidang parlemen rutin tanggal 1 November. Hal itu dilakukan setelah Mahkamah Tinggi Irak mengeluarkan keputusan yang mengharuskan parlemen menjalankan tugas legislasinya. (IRIB/AHF/29/10/2010)

Kebohongan, Mesin Perang AS

Mantan Senator AS, Mike Gravel menyebut kebohongan para pemimpin AS sebagai penyebab utama pecahnya perang di Vietnam, Afghanistan dan Irak.

Mike Gravel kepada Press TV, Rabu (27/10) seraya menilai sama penyebab perang di Vietnam, Afghanistan dan Irak, mengatakan, seluruh perang ini dimulai karena kebohongan para pemimpin AS. Ditegaskannya, mereka harus bertanggung jawab atas terbunuhnya ribuan warga AS.

Terkait masalah ini, Gravel meminta Mantan Presiden George W. Bush diseret ke pengadilan atas tuduhan berbohong kepada rakyatnya dan menginvasi Irak.

Seraya menolak klaim Jenderal David Petraeus, Panglima Pasukan AS dan NATO di Afghanistan tentang dicapainya keberhasilan di negara itu, Gravel menandaskan, hal seperti ini sama sekali tidak akan pernah terjadi.

Ia meyakini bahwa lebih dari 60 persen dokumen yang dikategorikan sebagai dokumen rahasia oleh Angkatan Bersenjata AS, tidak semestinya masuk dalam ketegori ini.

Gravel juga menilai aksi Julian Assange, pendiri situs WikiLeaks sama dengan langkah Daniel Ellsberg ketika ia mempublikasikan dokumen rahasia militer AS dalam Perang Vietnam.
Pada dekade 1960 atau ketika Perang Dingin memuncak, Daniel Ellsberg dianggap sebagai salah seorang arsitek perang AS. Namun begitu meletusnya Perang Vietnam, Ellsberg mempublikasikan sekitar tujuh ribu dokumen rahasia Pentagon di koran-koran. Dokumen itu mengungkap kebohongan para pejabat AS tentang perang di Vietnam. (IRIB/RM/PH/28/10/2010)


Masalah Besar Bayangi Tentara AS

Kepala Staf Gabungan Militer AS Laksamana Mike Mullen mengatakan, perang Irak dan Afghanistan akan berdampak jangka panjang bagi tentara AS. Ditambahkannya, AS akan menderita berkepanjangan akibat dampak perang itu.

Mullen, Rabu (27/10) memperingatkan biaya fantastis hampir satu dekade perang di Irak dan Afghanistan.

"Saya percaya apa yang bisa kita saksikan sekarang ini benar-benar hanyalah puncak gunung es dengan konsekuensi untuk militer, sistem perawatan kesehatan veteran, tingkat pengangguran nasional, dan bahkan tunawisma," kata Mullen.

Mullen juga menambahkan bahwa pasukan yang kembali dari medan perang akan mengalami tekanan mental termasuk depresi, kecemasan dan trauma.

"Bagi banyak orang, itu hanya permulaan. Mereka menghadapi luka fisik dan mental, kecemasan dan depresi, dinamika keluarga yang berubah serta tantangan yang luar biasa akibat rasa trauma," tegasnya.


Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan peningkatan angka bunuh diri dan masalah kesehatan mental di kalangan tentara. Ditambahkannya, tentara harus siap secara psikologis untuk menghadapi trauma tempur dan meminta bantuan dalam menghadapi masalah ini.

"Kita perlu mengajarkan keterampilan kebugaran psikologis kepada prajurit sebagaimana kita mengajarkan mereka untuk berbaris, memakai seragam, atau senjata api," ujar Mullen.

Sebuah laporan yang dirilis pada Agustus lalu menyatakan bahwa lebih dari 1.100 anggota angkatan bersenjata AS bunuh diri mulain tahun 2005 hingga 2009. (IRIB/RM/PH/28/10/2010)

Diam-diam Kunjungi Israel, Paspor Sembilan Politisi Irak Dicabut

Pemerintah Irak mencabut paspor sembilan elit politik negara ini gara-gara mereka berkunjung ke Israel.

Seorang pejabat pemerintah Irak hari ini (Rabu 27/10) dalam wawancaranya dengan Koran al-Arab cetakan Qatar menyatakan bahwa kesembilan politikus tersebut adalah tokoh terkenal Irak yang selama tahun 2010 melakukan kunjungan ke Israel dan melakukan pertemuan dengan petinggi rezim ilegal Tel Aviv.

Pejabat ini menambahkan, sejumlah elit politik Irak dalam beberapa pekan terakhir melawat sejumlah negara dan menyampaikan pandangan mereka terkait pembentukan pemerintahan baru di Irak. Namun ternyata dalam paspor sembilan orang tercantum stempel bandara udara Tel Aviv.

Nama kesembilan politikus ini tidak diungkap. Namun sejumlah informasi menyebutkan bahwa di antara mereka terdapat anggota dari List al-Iraqia pimpinan Iyad Allawi. (IRIB/MF/SL/27/10/2010)

Dasar Amrik! Sudah Terbongkar, Masih Saja Salahkan Iran

Menyusul dibeberkannya dokumen rahasia kejahatan perang Amerika Serikat di Irak di laman Wikileaks, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Navi Pillay menginginkan digelarnya penyelidikan soal dokumen tersebut. Seperti diketahui, untuk kesekian kalinya situs Wikileaks kembali menjadi sorotan dunia setelah beberapa waktu lalu mempublikasikan sekitar 400 ribu laporan rahasia tentara AS soal Perang Irak sejak tahun 2004 hingga 2009.

Navi Pillay dalam pernyataannya menjelaskan, dokumen tersebut mengandung banyak informasi mengenai beragam persoalan termasuk bagaimana pembantaian yang dilakukan oleh para tentara AS terhadap warga sipil Irak di pos-pos pemeriksaan dan operasi militer. Komisaris tinggi Hak Asasi Manusia PBB itu menambahkan, "Laporan-laporan itu semakin meningkatkan kecemasan mengenai pelanggaran HAM di Irak yang disertai dengan rangkaian eksekusi hukuman mati di padang pasir dan penyiksaan para tahanan".

Dokumen yang dirilis situs Wikileaks itu juga membongkar informasi yang dimiliki militer AS mengenai kekejaman tentara Irak terhadap para tahanannya. Poin inilah yang juga menjadi perhatian khusus Navi Pillay.

Ironisnya, beberapa media-media Barat berusaha menutup-nutupi kasus kejahatan perang AS di Irak itu dengan membesar-besarkan dugaan intervensi Iran dan Irak. Padahal isu tersebut hanya disinggung sedikit saja dalam dokumen rahasia yang dibocorkan Wikileaks. Informasi menyangkut campur tangan Iran di Irak yang ditudingkan Wikileaks itu tak kurang hanya satu persen dari 400 ribu dokumen rahasia yang membongkar kebengisan tentara AS di Irak. Itupun hanya sebatas dugaan dan prasangka sejumlah tentara AS mengenai pengaruh Iran di Irak.

Tak ayal permainan politik dan perang propaganda yang dimainkan media-media besar Barat itu merupakan upaya nyata untuk menyembunyikan kejahatan AS yang telah ditelanjangi terang-terangan oleh para aktivis Wikileaks.

Juli lalu, saat Wikileaks memampang 700 ribu dokumen rahasia yang membongkar kejahatan perang AS di Afghanistan, Pemerintah AS menyebut perilisan dokumen rahasia itu bisa mengancam kebijakan AS di kawasan. Namun kini, puak-puak di balik situs Wikileaks mencoba memberi peluang manuver kepada Washington. AS diberi peluang untuk memanfaatkan isu lain yang sedikit disinggung dalam 400 ribu dokumen rahasia perang Irak seperti dugaan intervensi Tehran di Baghdad dan ketidakpedulian pemerintah Irak terhadap tindakan tentaranya yang berlaku semena-mena terhadap para tahanan.

Namun demikian, di mata masyarakat Irak apa yang diungkapkan Wikileaks mengenai kejahatan perang AS di Irak sejatinya bukanlah rahasia lagi. Sebab mereka setiap hari dengan mata kepala sendiri menyaksikan secara langsung kebiadaban dan brutalitas tentara AS di Irak. Tanpa perlu melakukan penyelidikan pun dan hanya dengan mendatangi rumah warga Irak kita akan mengetahui dengan mudah bagaimana kekejian yang dilakukan militer AS di Negeri Kisah 1001 Malam ini. (IRIB/LV/NA/27/10/2010)

0 comments to "Perkuat Aksi Spionase, Amerika nambah duit anggarannya!!!!"

Leave a comment