Home , , , , , , , , , , , , , , , , , � Dunia (Barat khususnya) seolah menjadi tuli, buta dan bisu, nyaris tak ada berita mengenai kebiadaban terhadap minoritas satu juta Muslim Rohingya di Burma. (Mynmar) & Bahrain

Dunia (Barat khususnya) seolah menjadi tuli, buta dan bisu, nyaris tak ada berita mengenai kebiadaban terhadap minoritas satu juta Muslim Rohingya di Burma. (Mynmar) & Bahrain


Iran Siap Kirim Tim Medis ke MyanmarIran Siap Kirim Tim Medis ke MyanmarIran Siap Kirim Tim Medis ke MyanmarHeadline
Syafiq Basri Assegaff - inilah.com
Oleh: Syafiq Basri Assegaff
web - Jumat, 27 Juli 2012 | 10:36 WIB
Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services

Zohara Khatun masih belum sembuh dari trauma kematian bapaknya. Juni lalu, sang ayah dibantai di Burma bagian barat.
“Di depan mata saya, ayah dibunuh tentara Burma. Seluruh desa kami diluluhlantakkan. Kami semua lari menyelamatkan diri. Saya belum tahu bagaimana nasib ibu saya,” kata Khatun kepada BBC News di pengungsian dekat Teknaf, Banglades tenggara, yang berbatasan dengan Burma (alias Myanmar).
Khatun adalah salah seorang Muslim Rohingya yang berhasil lolos ke Banglades, akibat kerusuhan berdarah yang terjadi di propinsi Rakhine, bagian barat Burma – yang mayoritas penduduknya beragama Budha -- Juni 2012 lalu. Warga minoritas Muslim Rohingya di desa itu diserang kelompok mayoritas. Sekitar 80 orang terbunuh. Ribuan lainnya kabur entah ke mana.
Khatun (30 tahun) tidak sendiri. Rekannya, Sayeda Begum juga bernasib serupa.
“Suami saya dibunuh saat ada kerusuhan. Polisi Burma hanya menembaki umat Muslim, dan tidak pada yang Budha. Sementara tentara hanya duduk menonton dari atas atap, dan tidak berusaha mencegah,” kata Begum.
Sejak kerusuhan Juni itu, ribuan pengungsi mencoba masuk Bangladesh, dengan perahu sepanjang laut Bay of Bengal dan menyeberangi Sungai Naf, yang memisahkan kedua negara. Mereka terapung-apung di air selama enam hari, “Dan saya tak bisa memberi makan anak-anak saya selama berhari-hari,” tambah Khatun sambil menangis tersedu.
Sulit mengetahui secara detail apa yang terjadi. Dunia (Barat khususnya) seolah menjadi tuli, buta dan bisu, nyaris tak ada berita mengenai kebiadaban terhadap minoritas satu juta Muslim Rohingya di Burma. Konon wartawan pun tak mudah mendapat akses ke area itu. Pemerintah Burma menyangkal bahwa tentaranya bertanggungjawab atas pelanggaran HAM tersebut.
Tetapi menurut LSM Inggris, sejak 10 Juni hingga 28 Juni lalu, setidaknya 650 orang Rohingya dibunuh, 1.200 hilang, dan lebih dari 80 ribu terpaksa kabur atau mengungsi entah ke mana, lari demi menghindarkan diri mereka dari kerusuhan, pemerkosaan dan penembakan.
Mayoritas, sekitar 53 juta, penduduk Myanmar beragama Budha , dan sisanya adalah minoritas Kristen (2,9 juta), Muslim (2,27 juta), dan sekitar 300 ribu Hindu. Tetapi kaum Muslim Rohingya yang secara berulang diperlakukan sewenang-wenang selama sejarah Burma.
Kendati begitu, di tengah pelanggaran HAM berat (yang juga diakui oleh Amnesty International) itu -- dan meski PBB menyebutkan bahwa kaum Muslim Rohhingya adalah minoritas paling teraniaya di dunia -- sejauh ini PBB belum bereaksi, dan tidak banyak komunitas internasional yang melakukan tindakan untuk menghentikannya.
Sementara pengamat menganggap pembunuhan itu telah berlangsung secara sistematis dan dilembagakan sepanjang sejarah Burma. Muslim Rohingya -- yang terdiri dari berbagai etnis, India, Banglades, Cina, Arab, Persia dan Burma sendiri – tampaknya selama ini dianggap punya ‘dosa besar’, yakni karena mereka adalah pekerja keras, sehingga banyak yang berhasil dalam perdagangan dan di dunia pendidikan.
Diskriminasi yang paling kentara adalah bahwa, pemerintah Myanmar hingga hari ini menolak mengakui kewarganegaraan orang Rohingya dan mengklasifikasikan mereka sebagai ‘migran ilegal’, meskipun mereka telah tinggal di negeri itu selama beberapa generasi.
Sesungguhnya prosekusi Muslim Rohingya berawal saat Perang Dunia II, ketika tentara Jepang menginvasi Burma, yang ketika itu merupakan koloni Inggris. Dikabarkan bahwa pada 28 Maret 1942, sekitar 5.000 Muslimin dibantai di perkotaan Minbya dan Mrohaung.
Akibatnya mereka bermigrasi ke Banglades dan Malaysia, demi kehidupan yang lebih layak. Saat ini ada sekitar 300 ribu Muslim Rohingya tinggal di Banglades, sekitar 24 ribuan di Malaysia dan sekitar 100 ribu hidup di perbatasan Thailand-Myanmar.
Yang aneh adalah, mengapa berita tragedi Rohingya baru terdengar sekarang? Ke mana media arus utama Barat yang selama ini sangat getol memberitakan pelanggaran HAM di Indonesia, Irak, atau Suriah? Di mana media, yang sangat gencar memberitakan penembakan penonton film Batman?
Kita juga bertanya, ke mana Dalai Lama dan Aung San Suu Kyi? Padahal kita menyaksikan belakangan ini, Suu Kyi sibuk menerima hadiah Nobel -- yang diberikan padanya pada 1991 dan sempat tertunda dua dekade. Kita mendapat kesan pemimpin oposisi Burma itu, seolah tidak peduli pada kekejaman yang menimpa orang-orang Rohingya.
Konon kekejaman itu bermula saat muncul tuduhan (yang tidak terbukti) adanya seorang Muslim yang memperkosa dan membunuh seorang wanita Budha di Rakhine, Mei silam. Tetapi tidak jelas siapa yang bertanggung-jawab, karena tidak ada pengadilan untuk kasus itu.
Yang terang, akibat kejadian itu, pada 4 juni lalu, 10 lelaki muslim dibunuh dalam bus di distrik Taungup oleh massa yang marah. Sesudah itu, kerusuhan makin meruyak. Di mana-mana polisi beraksi bersama massa mayoritas. Mereka menyerbu kaum minoritas Muslimin, dan kekerasan pun bereksalasi ke berbagai wilayah lain. Maka kita pun mendengar tragedi yang dialami Khatun dan Begum, serta ribuan Muslimin tak berdosa lainnya.
Sebagai respon terjadap berbagai kekerasan itu, pemerintah Myanmar menyatakan keadaan darurat di seluruh Rakhine. Bagai kata pepatah ‘buruk muka cermin dibelah,’ pemerintah Myanmar menyatakan, bahwa sikap pemerintah itu adalah reaksi terhadap “kekacauan dan serangan teroris’.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Presiden Thein Sein mengatakan bahwa aksi kekerasan dapat mengancam langkah negaranya menuju demokrasi dan stabilitas.
Walhasil, masa depan Muslim Rohingya tampaknya tetap suram. Mirip nasib bangsa Palestina, kaum Muslim Rohingya memerlukan bantuan kemanusiaan segera dari seluruh dunia. Tidak peduli apakah mereka warga negara Burma atau bukan, mereka adalah manusia yang berhak hidup layak dan menjalankan agamanya sesuai keyakinan mereka.
Maka kita pun berharap bahwa tokoh Budha sekaliber Dalai Lama segera turun tangan dan menekan pemerintah Myanmar agar menghentikan pembantaian orang Rohingya. Tidak ada satu agama pun di dunia yang menyetujui kekerasan terhadap umat Islam Burma, dan bukankah ajaran Budha termasuk agama yang tidak menolerir tindakan serupa itu?
Harapan berikutnya adalah kepada pemerintah RI. Sebagai negara paling berperan di ASEAN, dan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia mesti segera bertindak, jika perlu, dengan ancaman untuk mengeluarkan Myanmar dari ASEAN.
Jangan sampai kita kalah lantang dibandingkan Iran, yang sejak awal terjadinya tragedi itu segera ‘berteriak’ mengecam sikap pasif Barat atas pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap Muslim Rohingya itu.
Tetapi, beranikah pemerintah kita bersikap lebih ‘galak,’ sehingga makin diperhitungkan di dunia internasional?
*) Konsultan komunikasi, dan dosen komunikasi di Universitas Paramadina, Jakarta. Twitter: @sbasria. (http://web.inilah.com/read/detail/1887480/rohingya)

Suu Kyi Tuntut Perlindungan Etnis Minoritas Myanmar

Kamis, 26 Juli 2012, 01:26 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, NAYPYIDAW -- Anggota Parlemen Myanmar dari kubu oposisi, Aung San Suu Kyi, menuntut pemerintah untuk melindungi hak-hak dasar etnis minoritas di negaranya. Perlindungan itu, kata dia harus tercatat dalam bentuk undang-undang kenegaraan.

Tokoh dan Pemimpin Liga Nasional Demokrasi Myanmar ini menyatakan perlunya perlindungan tersebut. Bukan hanya sekedar untuk melindungi bahasa dan budaya etnis itu, tetapi kata dia, lebih untuk untuk mengakhiri tindakan diskriminatif penguasa terhadap etnis minoritas yang masih berlangsung di negara junta militer itu.

Semangat negara demokratis lantang dia, adalah semangat kebersatuan, memiliki hak dan kesempatan yang sama, serta saling mendukung dan menghormati. "Saya mendorong semua anggota parlemen untuk membahas perlunya hukum dan peraturan negara untuk melindungi persamaan hak bagi seluruh etnis," kata Suu Kyi, di hadapan sidang parlemen, Rabu (25/7) seperti dilansir Aljazeera dan BBC.

Pidato pertamanya sejak duduk di parlemen tersebut, juga menyinggung tentang kemiskinan yang kian kronik akibat prilaku diskriminatif terhadap etnis yang marjinal itu. Dia mencontohkan, kemiskinan melonjak di negara-negara bagian yang dijejali dengan etnis dan agama tertentu, seperti di Negara Bagian Chin, Kachin, Shan, dan Negara Bagian Rakhine.

Sebelumnya, kekerasan  komunal telah terjadi di bagian barat Myanmar. Kekerasan itu berujung pada konflik agama yang melibatkan atnis Buddha Rakhine, dan Muslim Rohingya, dan sedikitnya 78 orang dikabarkan tewas.
Atas tragedi itu, Presiden Myanmar Thein Sen mengancam akan mengusir 800 ribu etnis Muslim Rohingya dari Myanmar. Sebab, menurut dia, etnis tersebut bukanlah merupakan warganegara resmi bagi Myanmar, alias pendatang ilegal. Kata dia tidak ada pilihan lain selain melakukan hal itu.
Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Bambang Noroyono 

Muslim Rohingya Dibantai, Mengapa San Suu Kyi Diam?

Posted by KabarNet pada 28/07/2012
Jakarta – Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Prof. Nanat Fatah Natsir mempertanyakan sikap Aung San Suu Kyi yang tidak bersuara terhadap kejadian pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar.
“Dia peraih nobel perdamaian dan sempat mengalami sendiri intimidasi dan penindasan yang dilakukan junta militer. Mengapa sekarang diam saja?” kata Nanat Fatah Natsir saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu (28/7/2012).
Dia menduga sikap diam Suu Kyi terhadap kejadian itu karena adanya agenda politik pemimpin oposisi Myanmar itu yang ingin mencalonkan diri sebagai presiden. Menurut dia, Suu Kyi takut tidak terpilih sebagai presiden bila membela suku Rohingya.
Mantan Rektor UIN Sunan Gunungjati, Bandung, itu mengecam sikap junta militer yang mengusir suku Rohingya dari Myanmar supaya pindah kewarganegaraan ke negara lain. Menurut dia, hal itu bertentangan dengan Piagam PBB dan ASEAN. “Pengusiran dan pembantaian itu melanggar hak hidup suku Rohingya dan hak asasi manusia untuk beragama,” ujarnya.
Karena itu, Nanat Fatah Natsir mendesak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk segera mengambil sikap terhadap kejadian tersebut dengan mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menjatuhkan sanksi kepada Myanmar dan mengusut pembantaian tersebut. “Kalau tidak segera diselesaikan persoalan itu akan menjadi panjang. OKI harus bicara untuk membela Muslim Rohingya,” katanya.
80 Ribu Orang Mengungsi
Sementara itu, akibat penindasan yang menimpa Muslim Rohingya, Myanmar Utara, sekitar 80.000 orang diperkirakan akan mengungsi. Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan kepada wartawan bahwa lebih dari 30.000 Orang-Orang Terlantar Internal (IDPs) telah menerima bantuan organisasi-organisasi darurat dan pemerintah telah mulai membangun tempat penampungan pengungsi di beberapa kamp-kamp. Mahecic juga menyatakan keprihatinan atas tiga anggota staf UNHCR yang telah ditahan di negara bagian Rakhine.
Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Navi Pillay pada Jumat kemarin juga menyatakan keprihatinan serius atas pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung di Myanmar, dan menyerukan penyelidikan cepat dan independen. [KbrNet/Slm]Source: Suara-Islam.COM/http://kabarnet.wordpress.com/2012/07/28/muslim-rohingya-dibantai-mengapa-san-suu-kyi-diam/
Ribuan Warga Republik ISLAM Iran Kecam Genosida di Myanmar

Jamaah shalat Jumat di berbagai kota di Iran usai shalat menggelar demonstrasi mengutuk pembunuhan massal Muslim Rohingya dan meneriakkan slogan-slogan mendukung Muslim di Myanmar. 


 Ribuan Warga Iran Kecam Genosida di MyanmarMenurut Kantor Berita ABNA, Ribuan warga Iran turun ke jalan setelah menunaikan shalat Jumat di Tehran dan kota-kota lainnya untuk mengecam genosida terhadap umat Islam etnis Rohingya di Myanmar.

Jamaah shalat Jumat di berbagai kota di Iran usai shalat menggelar demonstrasi mengutuk pembunuhan massal Muslim Rohingya dan meneriakkan slogan-slogan mendukung Muslim di Myanmar.

Mereka juga mendesak pemerintah Myanmar segera menghentikan aksi kejahatan terhadap Muslim negara itu. Demikian Press TV melaporkan, Jumat (27/7).

Pengunjuk rasa juga mengkritik kelambanan organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) internasional dalam menangani masalah Myanmar dan menyerukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu guna mengakhiri pembantaian tersebut.
Pemerintah Myanmar menolak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga dengan alasan mereka dianggap sebagai imigran ilegal. (http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=332640)

Bungkam terhadap Tragedi Myanmar adalah Pengkhianatan

"Penyerangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah dan tanpa kekuataan untuk membela diri, pembunuhan terhadap warga yang tidak berdosa, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, penjarahan harta milik warga, pembakaran rumah-rumah mereka, pengrusakan tempat ibadah adalah peristiwa yang sangat menyakitkan dan mendatangkan kemarahan bagi mereka yang masih memiliki nurani." 
 

 Bungkam terhadap Tragedi Myanmar adalah PengkhianatanMenurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wa Muslimin DR. Ramadhani dalam khutbah jum'at yang disampaikan di Hamburgh mengatakan, "Saat ini kita kembali menyaksikan tragedi kemanusiaan terjadi. Pembantaian kaum muslimin sebagai penduduk minoritas di Myanmar kembali terjadi. Pemerintah setempat, masyarakat Internasional dan lembaga-lembaga terkait bungkam seribu bahasa menyikapi peristiwa tersebut."
Kemudian beliau melanjutkan, "Penyerangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah dan tanpa kekuataan untuk membela diri, pembunuhan terhadap warga yang tidak berdosa, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, penjarahan harta milik warga, pembakaran rumah-rumah mereka, pengrusakan tempat ibadah adalah peristiwa yang sangat menyakitkan dan mendatangkan kemarahan bagi mereka yang masih memiliki nurani." 

Hujjatul Islam Ramadhani menambahkan, "Semua kejadian tragis tersebut telah berlangsung lama dan sepertinya akan masih terus berlanjut jika tetap terjadi pembiaran dan pembungkaman. Sampai saat ini telah tercatat lebih dari 20 desa, 1.600 rumah dan kurang lebih 72 masjid telah dirusak oleh kelompok Budha ekstrim, akibatnya ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan menjadi pelarian yang terkatung-katung. Belasan ribu orang terbunuh dan luka-luka. Lebih dari 20 orang sampai saat ini tidak ditemukan dan tidak diketahui nasibnya. 5 ribu kaum perempuan telah dirusak kehormatannya. Semua data resmi tersebut sangat menyakitkan hati kita sebagai sesama muslim, dan sebagai sesama umat manusia."

Imam Jum'at Hamburgh tersebut melanjutkan, "Kezaliman yang dialami muslim Myanmar bukan hanya itu. Mereka telah hidup puluhan tahun dalam keadaan fakir dan tanpa perlindungan dari pemerintah. Mereka tidak diakui sebagai warga negara yang memiliki hak-hak. Lebih dari itu, ketertindasan mereka adalah mereka sekuat mungkin berusaha untuk menjaga iman islam mereka. Karena mereka tidak mendapatkan pengakuan sebagai warga negara bahkan disebut sebagai penduduk ilegal sehingga harus meninggalkan perkampungan mereka padahal mereka telah hidup turun temurun ditempat tersebut selama berabad-abad lamanya."

"Apakah yang mereka alami belum cukup untuk membuat komite HAM Internasional untuk memberikan pembelaan? Apa pula alasan Palang Merah Internasional tidak menurunkan bantuan kemanusiaannya? Mengapa sampai saat ini PBB ataupun OKI tidak mengambil tindakan apa-apa? Kita berlindung dari segala musibah dan pengkhianatan ini. Kami muslim Eropa menyatakan duka cita atas musibah dan tragedi yang menimpa kaum muslimin Myanmar dan menyatakan kecaman serta mengutuk keras para pelaku kezaliman tersebut serta kebungkaman pihak-pihak terkait." Tegasnya. (http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=332639)

ICMI pertanyakan sikap Suu Kyi soal Rohingya














Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Prof. Nanat Fatah Natsir mempertanyakan sikap Aung San Suu Kyi yang tidak bersuara terhadap kejadian pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar.

"Dia peraih nobel perdamaian dan sempat mengalami sendiri intimidasi dan penindasan yang dilakukan junta militer. Mengapa sekarang diam saja?" kata Nanat Fatah Natsir saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.

Dia menduga sikap diam Suu Kyi terhadap kejadian itu karena adanya agenda politik pemimpin oposisi Myanmar itu yang ingin mencalonkan diri sebagai presiden. Menurut dia, Suu Kyi takut tidak terpilih sebagai presiden bila membela suku Rohingya.

Mantan rektor UIN Sunan Gunungjati, Bandung itu mengecam sikap junta militer yang mengusir suku Rohingya dari Myanmar supaya pindah kewarganegaraan ke negara lain. Menurut dia, hal itu bertentangan dengan Piagam PBB dan ASEAN.

"Pengusiran dan pembantaian itu melanggar hak hidup suku Rohingya dan hak asasi manusia untuk beragama," ujarnya.

Karena itu, Nanat Fatah Natsir mendesak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk segera mengambil sikap terhadap kejadian tersebut dengan mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) supaya menjatuhkan sanksi kepada Myanmar dan mengusut pembantaian tersebut.

"Kalau tidak segera diselesaikan persoalan itu akan menjadi panjang. OKI harus bicara untuk membela Muslim Rohingya," katanya.

Pemerintah Myanmar menolak mengakui suku Rohingya, yang dikatakan "bukan warga negara asli" karena dikategorikan sebagai "pendatang gelap". Suku Rohingya dikatakan keturunan Muslim Persia, Turki, Benggala dan Pathani, yang masuk ke Myanmar pada Abad VIII.

PBB menyatakan diskriminasi yang berlangsung selama beberapa dasawarsa telah membuat suku Rohingya tidak memiliki negara. Pemerintah Myanmar membatasi gerak mereka serta tak memberi mereka hak atas tanah, pendidikan bahkan layanan masyarakat.

Menurut laporan, hingga 28 Juni lalu 650 orang Muslim Rohingya meninggal selama bentrokan di wilayah Rakhine, Myanmar barat. Tak kurang dari 1.200 orang hilang dan 80.000 orang lagi kehilangan tempat tinggal. (IRIB Indonesia / Antara / SL)

Bahrain dan Saudi Bakar Alquran dan Masjid

Ayatullah Abdullah Jawadi-Amuli menyatakan keprihatinan atas kejahatan yang dilakukan pasukan pendukung Saudiyang  melawan  rakyat Bahraindan menyatakan kedua penguasa Bahrain dan Saudi bukanlah muslim. 
“Laporan pahit yang Anda sampaikan memprihatinkan kami,” Agen Berita Fars mengutip Ayatullah Jawadi-Amuli dalam pertemuannya dengan sejumlah
 ulama Bahrain yang membawa gambar dokumentasi penodaan
 masjid dan Alquran oleh tentara Saudi dan Bahrain.
Setelah kedatangan tentara bayaran Saudi ke Bahrain, video 
& gambar yang muncul menunjukkan tingkat kebrutalan yang 
dilakukan untuk menindak rezim korup. Mereka juga merusak 
sejumlah rumah pendudukan dan tempat suci di sejumlah desa.
“Al-Khalifah dan Al-SaudGaddafi, Zionis, dan pemerintah 
Amerika bukanlah Syiah atau suni. Seseorang yang membakar
 Quran bukanlah muslim, tetapi budak para arogan, Zionis dan
 Amerika Serikat,” ujar Ayatullah Amuli, membantah tuduhan 
bahwa kekerasan dipicu oleh perbedaan sektarian 
“Mereka bahkan bukan Wahabi, karena Wahabi setidaknya 
percaya pada Quran,” tegasnya.
Dia juga menyerukan semangat Islam di kalangan umat muslim
 seluruh dunia tidak hanya dengan doa, sabar, dan tegar, 
tetapi juga mendesak pejabat muslim untuk menyuarakan 
protes mereka dalam pertemuan dengan diplomat dan pejabat Bahrain.
“Kafirnya Al-Khalifa dan Al-Saud sudah jelas, selain 
menghancurkan masjid dan tempat suci, mereka bahkan tidak 
berhenti pada Quran dan membakar (mushaf) kitab Ilahi ini,
” tegas Ayatullah Amuli. Beliau juga menyampaikan rasa 
simpati kepada para keluarga korban bentrok di Bahrain dan 
mendoakan bagi kebebasan mereka yang dipenjara.

Musuh Lama Islam



Di tempat lain, Ayatullah Uzma Muslim Malakuti juga mengutuk pelecehan Quran dan penghancuran masjid di Bahrain. “
Apa yang terjadi di wilayah muslim dengan kepemimpinan 
Amerika Serikat dan sekutu Baratnya adalah hal memalukan 
dalam sejarah kemanusiaan. Dalam kemiskinan dan 
kesengsaraan, sebuah bangsa ingin memiliki kehidupan 
terhormat ketika tiba-tiba diserbu penguasa boneka secara 
brutal.”
“Al-Khalifa dan Raja Saudi menelusuri dengan tepat 
jejak-jejak musuh lama Islam… Rencana Zionis memanfaatkan 
pendeta dengan menyinggung kitab suci satu miliar lebih 
umat Islam. Kalau Zionis menjajah Palestina dengan 
menghancurkan kiblat pertama muslim, sekarang Raja Saudi 
dan Bahrain mengikuti jejak-jejak tuan mereka,” jelas 
Ayatullah Uzma Muslim Malakuti.
Sumber:
  • Press TV
  • ABNA.ir
http://ejajufri.wordpress.com/2011/04/23/bakar-quran-dan-masjid-kerajaan-bahrain-dan-saudi-bukan-muslim/

Pengakuan Tentara AS dari Irak

Saya berusaha keras untuk bangga atas pengabdian 
saya. Tapi yang bisa saya rasakan hanya rasa malu. 
Rasisme tidak bisa lagi menutupi realitas pendudukan. 
Mereka semua adalah orang, mereka adalah manusia. 
Saya merasa terganggu dengan rasa bersalah setiap kali 
melihat orang tua, yang tidak bisa berjalan, yang kami giring 
dengan tandu dan meminta polisi Irak untuk membawanya pergi.
Saya merasa bersalah setiap kali melihat seorang ibu dengan 
putrinya, yang menangis histeris dan berteriak bahwa kami lebih 
buruk dari padaSaddam, ketika kami paksa keluar dari rumahnya. 
Saya merasa bersalah setiap kali melihat wanita muda, yang saya 
tarik lengannya dan seret ke jalanan. Kami diberi tahu bahwa 
kami memerangi teroris. Tapi teroris sebenarnya adalah saya dan pendudukan ini.
Rasisme dalam militer menjadi alat penting untuk membenarkan perusakan dan pendudukan negara lain. Ia sudah lama digunakan 
untuk membenarkan pembunuhan, penindasan, dan penyiksaan 
orang lain. Rasisme adalah senjata penting yang digunakan 
pemerintah ini. Ia senjata yang lebih penting jika dibandingkan 
dengan senapan, tank, bom atau kapal perang. Ia lebih merusak 
dari pada artillery shell, penghancur bungker atau misil Tomahawk.
Meskipun senjata itu dibuat dan dimiliki oleh pemerintah, senjata 
itu tidak akan berbahaya tanpa orang-orang yang ingin menggunakannya. Mereka yang mengirim kami untuk berperang 
tidak harus menarik pemicu atau melemparkan mortir. 
Mereka tidak harus berjuang dalam perang. Mereka hanya 
harus menjual perang. Mereka butuh masyarakat yang bersedia mengirimkan tentara mereka ke dalam bahaya. Mereka butuh 
tentara yang ingin membunuh dan siap dibunuh tanpa bertanya.
Mereka bisa menghabiskan uang jutaan untuk satu bom, 

tapi bom itu hanya menjadi senjata ketika pejabat militer mau mengikuti perintah untuk menggunakannya. Mereka bisa 
mengirimkan setiap tentara terakhir yang ada di muka bumi, 
tapi perang hanya terjadi jika tentara mau berperang. Kelas 
penguasa, para miliader yang mengambil keuntungan dari 
penderitaan manusia hanya peduli tentang memperluas kekayaan 
dan menguasai ekonomi dunia.
Kekuatan mereka hanya terletak pada kemampuan untuk 
meyakinkan kita bahwa perang, pendudukan, dan eksploitasi 
adalah untuk kepentingan kita. Mereka paham bahwa kekayaan 
mereka bergantung pada kemampuan untuk meyakinkan kelas 
pekerja dalam menguasai pasar negara lain. Meyakinkan kita 
bahwa membunuh dan dibunuh didasari oleh kemampuan mereka 
untuk membuat kita berpikir bahwa kita entah bagaimana superior.
Tentara, pelaut, marinir, dan pilot tidak memperoleh apapun dari pendudukan ini. Mayoritas masyarakat yang tinggal di AS tidak mendapatkan apa-apa dari pendudukan ini. Bukan hanya tidak mendapatkan apa-apa, bahkan lebih menderita karenanya. Kita kehilangan anggota tubuh, mengalami trauma, dan menyerahkan nyawa. Keluarga kita harus melihat peti mati terbungkus bendera 
untuk dikuburkan. Jutaan orang di negara ini yang hidup tanpa perlindungan kesehatan, pekerjaan, atau akses pendidikan 
harus melihat bagaimana pemerintah membelanjakan lebih dari 450 juta dolar sehari saat pendudukan.
Orang miskin dan pekerja di negara ini dikirim untuk membunuh 
orang miskin dan pekerja di negara lain untuk membuat orang kaya semakin kaya. Tanpa rasisme, tentara akan menyadari bahwa 
mereka lebih memiliki banyak kesamaan dengan rakyat Irak dari 
pada dengan miliarder yang mengirim kami untuk perang.
Saya mencampakkan keluarga ke jalanan Irak hanya untuk pulang 
dan menemukan keluarga dicampakkan ke jalanan di negara ini 
dengan tragis, dalam krisis penyitaan yang tidak perlu. Kita harus bangun dan sadar bahwa musuh sejati tidak berada di negeri yang jauh, bukan orang-orang yang namanya tidak kita ketahui dan kulturnya tidak kita pahami.
Musuh itu adalah orang-orang yang kita kenal baik dan bisa kita 
kenali. Musuh itu adalah sistem yang mengupahi perang bila itu menguntungkan. Musuh itu adalah para CEO yang memecat kita 
bila itu menguntungkan. Ia adalah perusahaan asuransi yang 
menolak perlindungan kesehatan bila itu menguntungkan. Ia adalah bank yang menyita rumah kita bila itu menguntungkan.
Musuh kita bukan 5.000 mil jauhnya. Mereka ada di rumah kita 
sendiri. Jika kita mengatur dan berjuang dengan saudara dan 
saudari kita, maka kita bisa menghentikan perang ini. Kita bisa menghentikan pemerintah ini dan menjadikan dunia lebih baik.
Catatan: Michael (Mike) Prysner adalah mantan korps marinir AS. 
Di antara tugasnya di Irak adalah pengawasan wilayah, 
penggerebekan rumah, dan interogasi tahanan. Ia kemudian 
menjadi aktivis perdamaian dan sempat ditahan saat protes 
Occupy LA pada bulan November 2011.
http://ejajufri.wordpress.com/2012/02/12/pengakuan-tentara-as-dari-irak/

Maulid Nabi, Poros Persatuan Suni-Syiah

Setelah agenda penting Sabtu ini (11/2) terpaksa batal, sayamenggantinya dengan menghadiri seminar internasional 
di bulan maulid yang diselenggarakan oleh Ikatan Jamaah 
Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dan Majelis Ukhuwah Syiah-Sunni (MUHSIN). Selain dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah, 
acara ini juga dihadiri oleh ikhwan ahlusunah asal Iran. Karena pesan yang disampaikan beberapa pembicara dirasa cukup penting, 
saya akan coba membaginya secara singkat dengan harapan bermanfaat.
Sebagai keynote speaker pertama adalah Dr. Perwira. Mewakili Menkopolhukam yang tidak hadir, Dr. Perwira mengatakan 
bahwa cara menghadapi kemajemukan yang dimiliki oleh 
bangsa Indonesia adalah dengan silaturahmi dan saling 
menghormati. Tidak boleh ada kelompok, baik itu agama atau ras, 
yang merasa lebih tinggi dari kelompok lain. Selain mengatakan bahwa negara menjamin kebebasan, beliau juga mengharapkan kontribusi dari seluruh pihak kepada negara dengan cara meniru sifat yang dimiliki oleh Rasulullah saw.
Duta besar Iran sebagai keynote speech kedua, Dr. Faranzadeh, menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. merupakan poros 
(axis) bagi persatuan umat Islam yang sama-sama mencari 
pengajaran nabi. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam tidak 
akan bisa mendominasi dunia jika masih terjadi perpecahan dalam 
umat Islam. Dr. Faranzadeh juga mengatakan bahwa kebangkitan masyarakat di Timur Tengah dan Barat merupakan fitrah yang 
diberikan Tuhan jika manusia merasa kebebasannya ditekan 
pemimpin zalim.
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka… (QS. Al-Fath: 29)
Sebagai pembicara pertama dalam seminar inti adalah Ayatullah 
Naim Abadi. Beliau adalah wali fakih untuk provinsi Hormozgan 
dengan ibu kota Bandar Abbas. Bandar Abbas merupakan kota 
dengan 30% penduduknya bermazhabkan Syafii dan Hanafi. Beliau mengatakan bahwa maulid merupakan nikmat besar karena banyak bangsa lain yang mengagungkan tokohnya masing-masing, 
sementara Nabi Muhammad saw. merupakan sebaik-baik makhluk.
Menyinggung ukhuwah islamiah, Ayatullah Abadi mengatakan 
bahwa ucapan yang ditujukan untuk perpecahan umat muslim, baik itu berasal dari awam Syiah maupun suni, merupakan ucapan setan. Melalui acara seperti ini, beliau berharap agar mata musuh-musuh 
Islam menjadi buta karena persatuan yang kita lakukan. Karena, sebagaimana yang sahabat Salman r.a. pernah katakan, bahwa 
kita adalah putra-putri Islam.
Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri

teladan yang baik… (Q.S. Al-Ahzab: 21)
Mengutip ayat di atas, Ketua PBNU Prof. Dr. Maidir Harun, 
mengatakan bahwa tradisi yang baik seperti maulid merupakan 
salah satu untuk mengambil suri teladan Rasulullah saw 
sebanyak-banyaknya. Mengutip pendapat Yusuf Al-Qaradhawi mengenai Islam sebagai peradaban masa depan, beliau 
mengatakan bahwa peradaban Islam memiliki perbedaan dengan peradaban lain karena memiliki aspek spiritual yang sakral. 
Barat misalnya, telah menghilangkan aspek sakral dari lembaga pernikahan, sehingga banyak anak yang tidak mengetahui orang tuanya.
Peradaban masa depan tersebut akan terwujud jika umat Islam 
memiliki kunci penting bernama persatuan. Beliau mengatakan 
bahwa ahlusunah dan Syiah memiliki poros akidah yang sama: ketauhidan, kenabian, dan hari akhir. Perpecahan yang terjadi 
hanya dimanfaatkan oleh kepentingan politik.
Tampil sebagai pembicara ketiga adalah Ayatullah Dr. Biazar Syirazi, Rektor Universitas Taqrib. Beliau menceritakan bagaimana nabi lahir dan hidup dalam kondisi lingkungan yang penuh dengan perselisihan dan peperangan. Salah satu tugas beliau adalah mendamaikan 
suku-suku tersebut dengan cara yang digunakan para nabi sebelumnya, yakni membersihkan hati dan jiwa dari sifat hasud.
Pada masa awal, Islam mengenal dua pemikiran yang berasal dari 
dua daerah berbeda. Dari kota Madinah muncul ashabul hadis dan 
dari kota Kufah muncul ashabur ra’yi. Abu Hanifah yang berasal 
dari wilayah Kufah mengutus muridnya ke Madinah untuk 
mempelajari pendapat ahlul Madinah tersebut. Dari mempelajari 
kedua pemikiran itulah muncul kitab fikih muqaranah. Imam Syafii
 yang mempelajari kitab tersebut melahirkan karya penting lainnya dalam khazanah fikih perbandingan, Al-Umm.
Namun sayangnya, sejak abad delapan hijriah, ilmu fikih perbandingan mulai tidak digemari sehingga kolonialisme memanfaatkan dengan mengadu domba umat. Karena itulah, berawal dari Mesir, perlu rasanya didirikan lembaga pendekatan mazhab untuk saling mengenal dan membuka cakrawala pemikiran seluas-luasnya.
Klik www.taqrib.info untuk informasi selengkapnya.
Hadir sebagai pembicara lain adalah pengurus Dewan Masjid Indonesia, H. Daud Poliradja. Sementara KH. Jalaluddin Rakhmat dari IJABI mengutipkan sebuah kisah tentang sahabat nabi, Salman r.a. 
Suatu ketika, sekelompok orang sedang membanggakan kabilahnya masing-masing. Mereka dengan bangga menyebutkan asal dari 
kabilah seperti Aus atau Khazraj. Sampai akhirnya Salman ditanya, “Putra siapa engkau, hai Salman?” Dengan berdiri Salman berkata, 
Anâ ibnul Islâm. Aku putra Islam, Salman Al-Muhammadi.”
http://ejajufri.wordpress.com/2012/02/11/maulid-nabi-poros-persatuan-suni-syiah/


Iran Siap Kirim Tim Medis ke Myanmar
Islam Times- "Basij (relawan) untuk Lembaga Medis siap untuk mengirimkan 
tim darurat dari dokter, perawat dan petugas penyelamat ke Myanmar," 
kata Rayeeszadeh kepada Fars News Agency, Sabtu, 28/07/12.

Iran Siap Kirim Tim Medis ke Myanmar

Kepala Organisasi Basij Iran dari Medical Society Mohammad Rayeeszadeh menyuarakan kesiapan masyarakat untuk mengirimkan tenaga medis, perawat dan pasukan bantuan dan penyelamatan untuk membantu Muslim Myanmar yang kini berada di bawah serangan dan intimidasi mayoritas di negara Asia Tenggara tersebut.

"Basij (relawan) untuk Lembaga Medis siap untuk mengirimkan tim darurat dari dokter, perawat dan petugas penyelamat ke Myanmar," kata Rayeeszadeh kepada Fars News Agency, Sabtu, 28/07/12.

Lebih jauh menyerukan kepada badan pemerintah yang relevan untuk membuka peluang untuk pengiriman tenaga medis Iran ke Myanmar.

Rayeeszadeh mengumumkan bahwa organisasinya sejauh ini telah mengirimkan tim medis ke Somalia, Libanon, Kenya, Somalia dan Irak.

Pemerintah Myanmar sendiri menolak mengakui Rohingya, dam mengklaim mereka adalah pendatang ilegal dan mengklasifikasikan sebagai masyarakat kelas tiga, meskipun Rohingya hidup secara turun temurun disana dan keturunan Muslim dari Persia, Turki, Bengali, dan Pathan, yang bermigrasi ke Burma sejak 8 abad lalu.

Bahkan apa yang disebut pendakwa penegak demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi hanya diam atas kekejaman yang dilakukan pemerintah terhadap Muslim Rohingya.

Presiden Myanmar Thein Sein mengatakan muslim Rohingya harus diusir dari Myanar dan dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola oleh PBB.

PBB mengatakan puluhan tahun diskriminasi meninggalkan bekas mendalam bagi muslim Rohingya tanpa negara, sementara Myanmar menerapkan pembatasan pergerakan mereka dan hak atas tanah, pendidikan dan pelayanan publik.

Sejak Juni lalu, ratusan anggota minoritas muslim Rohingya yang populasinya hampir satu juta orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya mengungsi ke bagian barat negara akibat gelombang kekerasan komunal.

Selama dua tahun terakhir, Muslim Rohingya berusaha menyelamatkan diri dan lari dengan perahu dalam menghadapi penindasan sistematis yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar. [Islam Times/on/Fars News Agency]

2 comments to "Dunia (Barat khususnya) seolah menjadi tuli, buta dan bisu, nyaris tak ada berita mengenai kebiadaban terhadap minoritas satu juta Muslim Rohingya di Burma. (Mynmar) & Bahrain"

  1. Blognya keren.
    Yuk main ke blog aku..
    Ditunggu yah ;-)

  2. Islam selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil dinegara kafir sebagai minoiitas. Mereka dibantai, diusir. Mereka dianggap seperti binatang diberlakukan semena-mena. Negera-negara islam tidak ada yang bangkit untuk menolong mereka. Mereka seperti tuli,bisu dean buta. Tidak ada pembelaan dari mereka.Karena mereka mungkin menganggap islam rohingya tdk sama dengan islamnya lainnya

Leave a comment