BANJARMASIN - Inilah satu-satunya ibadah sunat yang paling istimewa di
Bulan Muharam yaitu Puasa Asyura yang juga dikenal sebagai puasa 10 Muharam.
Puasa sunah ini, menurut Ustad Riza, mengutip riwayat Aisyah ketika
masih di Mekkah Rasulullah pernah melaksanakannya sebagai kewajiban.
Namun setelah hijrah di Madinah dan mendapat perintah dari Allah untuk
puasa Ramadan sebagai ibadah wajib, maka Rasul kemudian menjadikan Puasa
Asyura sebagai sunat.
“Sabda Rasulullah bahwa Puasa Asyura keutamaannya adalah menghapus dosa-dosa setahun lalu,” ujar Ustad Riza kepada Bpost Online.
Puasa ini juga, menurut ulama di Banjarmasin ini, selain pernah
dijalankan Rasulullah sebagai kewajiban sebelum disunahkan, juga sempat
mendapat catatan.
Menurut Ustad Riza, catatannya begini, ketika berpuasa Asyura sebagai
sunat, Rasulullah mendapat kabar bahwa pada setiap 10 Muharam
orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika itu juga mentradisikan untuk
berpuasa.
Lalu Rasulullah mangatakan tahun depan Puasa Asyura dikawal dengan
puasa sehari sebelumnya yaitu 9 Muharam agar menjadi pembeda dengan
puasa orang Yahudi dan Nasrani.
“Hanya saja tahun depan itu Rasulullah wafat sehingga tidak sempat
menjalankan puasa 9 Muharam sebagai pendamping Puasa Asyura,” ujar ulama
ini.
Sumber: http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/10/23/puasa-asyura-istimewa-sempat-diwajibkan-sebelum-jadi-puasa-sunat?utm_source=twitterfeed&utm_medium=facebook
Bima Arya: Potret Pragmatisme Politik Berbuah Intoleransi
Bogor
kembali tercoreng oleh aksi yang menodai prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
Setelah kasus GKI Yasmin, Walikota Bogor, Bima Arya, dalam surat edaran
yang ditandatanganinya melarang peringatan Asyura Muslim Syiah di Bogor.
Tindakan Bima
Arya ini jelas melanggar konstitusi dan Pancasila. Padahal tadinya Bima
Arya adalah sosok muda yang naik dengan mengusung isu pro toleransi.
Apa yang sebenarnya terjadi? Berikut wawancara ABI Press dengan Direktur Eksekutif ICRP, Muhammad Monib, sejawat Bima Arya saat di Universitas Paramadina.
Bagaimana sebenarnya Bima Arya dulu?
“Dia
kan dosen di Paramadina. Jadi ya bayangan saya orang-orang yang masuk
di Paramadina, seperti Cak Nur. Ideologinya sama, cara pandangnya sama,
apresiasi terhadap kebhinekaan, terhadap keindonesiaan. Ya isu-isu yang
biasa kita garap itu.”
“Waktu itu
saya sebagai penanggungjawab Kajian Islam. Ada kawan wartawan senior
dari Kompas, yang bertanya apakah ada tokoh muda yang bagus. Kita jawab
ada, Bima Arya ini. Awalnya ada harapan besar. Tapi dalam perjalanan
kemudian kecewa juga. Padahal dia juga yang merekomendasikan Bima ke
tokoh-tokoh PAN.”
Darimana pertama kali mendengar info Bima Arya melarang peringatan Asyura?
“Waktu
mendengar pertama kali saya baca di medsos. Langsung kemudian saya buat
SMS, ke nomor dia yang saya masih punya. Tapi mungkin ada sistem yang
menolak SMS itu. Akhirnya saya kirim via WA. Tapi sebelum di WA itu saya
lempar di Facebook dulu. Makanya di Facebook saya katakan belum ada
respon. Jawabannya: Mas Monib yang baik, dia mau minta dialog.”
“Nah, menarik
nih. Saya respon. Tapi kemudian tiba-tiba Bang Suaedy, Direktur
Eksekutif Abdurrahman Centre nelpon saya. Dia bilang, Mas Monib saya
baca (status) Facebook Anda. Capek berharap, katanya.”
“Kemudian di
grup WA Aliansi dan Advokasi RUU Kebebasan Beragama, Guntur Romli masuk,
termasuk temen-temen dalam peserta forum Bandung mengatakan, Bima
memang berubah. Bener mas, saya pernah ikut dalam satu forum, jadi ajang
itu alih-alih membicarakan solusi terhadap GKI Yasmin, justru dia
curhat. Kenapa dia ambil keputusan yang sangat tidak kita harapkan dan
bener-bener melanggar konstitusi.”
Apakah berlanjut diskusi dengan Bima itu?
“Nah, hampir
seluruh perbincangan di WA itu mengatakan percuma bicara dengan Bima.
Tapi kemudian saya katakan, bagaimana kalau poinnya sama untuk
menyatakan keberatan kita, kenapa tidak ditweet aja? Saya bahkan
mengatakan ditweet langsung agar ketemu dia di Paramadina, karena Bima
ngajar di Paramadina, atau di lain kota. Saya katakan, saya mau menunggu
keputusan temen-temen. Tapi hampir seluruh perbincangan itu mengatakan,
percuma. Tapi saya masih pertahankan. Karena bagi saya dialog tetaplah
cara baik menyampaikan cara pandang.”
“Akhirnya
karena kebanyakan diskusi di aliansi mengatakan percuma saja, akhirnya
saya di sini tidak memblow-up untuk pertemuan dengan Bima ini.”
Apa sebenarnya yang membuat Bima berubah seperti itu?
“Nah, dalam
perjalanan kemudian, beberapa informasi masuk. Pertama, istri dia itu
memang kecenderungan Wahabi. Bahkan ada temen kelasnya di SMA, sekalipun
tidak sampai level cadar, tapi ya jilbab syar’i yang dekat. Dekat
seperti kelompok-kelompok itu. Kakak dari istrinya itu juga agak seleb,
artis, ya seperti itu juga cara pandangnya.”
“Jadi Bima ini
secara sosial, keluarga, ideologinya memang nampaknya dikepung cara
pandang keagamaan yang intoleran. Ini analisis dari sosial dan
keluarga.”
“Dari sisi
lain adalah, karena dia sedang disibukkan oleh Kejaksaan terkait dengan
prosedur pembebasan lahan di kawasan Jambu Dua. Jadi mungkin dia
berharap, dengan memainkan isu-isu SARA, dia akan mendapat dukungan
politik di Bogor, terutama dari Majelis Ulama dan dari kelompok-kelompok
radikal itu.”
“Saya juga
baru baca itu kemarahan pak Abdillah Toha. Saya rasa dari beberapa
kumpulan informasi beberapa politisi senior itu menguatkan pada dasarnya
Bima karena minus prestasi ini, dan dia nampaknya masih berharap bisa
bertahan, maka yang paling memungkinkan ya jual beli kebijakan politik,
berharap popularitas dia, dukungan terhadap dia masih ada.”
Jadi aksi intoleransi melarang perayaan Asyura di Bogor ini lebih didasari oleh kepentingan politik pragmatis belaka?
“Ya, saya gak
tahu kalau diukur kira-kira dari rating politik itu berapa persen
kekuatannya kelompok-kelompok keras ini yang darinya Bima berharap bisa
dapat suara melalui isu GKI Yasmin, dan dengan menghantam Asyura.
Padahal secara umum, Asyura ini hanya disentimeni oleh kelompok-kelompok
Wahabi. Bagi NU, Asyura itu kan sudah tradisi umum. Di Jawa apalagi.
Sudah mendarah daging, sudah akrab di masyarakat Asyura itu.
Nyanyi-nyanyian, shalawatan itu kan sudah biasa.”
“Apalagi
tersebar info, Athian Ali ketemu orang Saudi dan ada kucuran 50 Milyar
itu. Jadi bagi saya akhirnya memang, apa yang berkembang itu bisa
kemudian kita cari ujungnya, ia (Bima) ingin menyelamatkan masa depan
politiknya.”
Jadi untuk
menyelamatkan masa depan politiknya, Bima Arya menggunakan isu anti
Asyura agar meraih dukungan kelompok intoleran ini?
“Saya lebih
melihat pragmatisme politik Bima Arya, karena dia memang dalam
perjalanannya, tak ada prestasi yang bisa dibanggakan, saya yakin
dukungan pada dia juga sangat rendah. Popularitas dia juga hampir bisa
dikatakan tak ada yang bisa dikatakan untuk mendongkrak. Jadi memainkan
isu-isu itu menurut saya dia berharap itu akan terjadi gelombang balik
gitu.”
“Kalau di
Jakarta, terbukti Ahok tidak mempan isu ini. Nah, kenapa Bima Arya di
Bogor masih menggunakan isu itu? Menurut saya ini menunjukkan memang
sudah begitu suramnya, begitu lemahnya politik dia. Atau memang Bima
sebagai berlatar belakang ilmu politik, melihat Bogor masih
memungkinkan.”
“Paling tidak
saya menduga Bima masih melihat bisa memainkan isu seperti itu di Bogor.
Karena misalnya, dukungan terhadap upaya melarang peringatan Asyura itu
didapat dari tokoh-tokoh di sana, yang berada pada posisi strategis di
Majelis Ulama. kemudian Basnas Bogor, Annas, kemudian beberapa ormas
radikal.”
Apa
ini sama dengan kasus di Sampang, ketika Bupati Sampang menggunakan isu
sektarian Sunni-Syiah untuk mendulang suara saat Pilkada, tapi ternyata
gagal?
“Nah, itu yang
tadi. Jangan-jangan Bima itu secara politik tak ada lagi harapan, lalu
apa yang dimainkan selain itu? Kalau mengkomparasi dengan Sampang, yang
memainkan itu di Pilkada, dan Bima melakukan itu, jadi itu artinya Bima
sudah gelap, kehilangan harapan. Sudah kehilangan inspirasi untuk hal
yang lebih penting atau krusial untuk dimainkan. Yang ada adalah
memainkan isu SARA, yang kemudian dibakar-bakar oleh beberapa
tokoh-tokoh yang ada, yang anti keberagaman. Mungkin sepragmatis itu
cara pandang politik dia dalam kondisi terjepit itu.”
Bagaimana
perasaan Anda sebagai orang yang dulu dekat, bahkan ikut berharap Bima
Arya bisa berkiprah melindungi kebhinekaan bangsa?
“Tentu ini
sangat mengecewakan. Tapi nasi sudah jadi bubur. Jadi susah. Dia
berangkat dulu dengan memposisikan diri sebagai tokoh muda yang punya
harapan. Saat itu yang publik maksud tentu adalah inspiring leader,
visioner, menghargai perbedaan, pluralis. Bayangan kami, bayangan
temen-temen secara umum, dari Paramadina, Maarif Institute, kan bisa
bikin pemerintah yang inklusif, mengayomi, dan menegakkan konstitusi.
Tetapi Bima dalam perjalanannya nampaknya benar-benar mematahkan itu.
Dia mengingkari dan mengkhianati hal itu.”
Sekarang
nasi memang sudah menjadi bubur, untuk ke depannya pelajaran apa yang
bisa diambil agar kita tidak terjebak di lubang yang sama?
“Ya,
kawan-kawan juga dalam diskusi ada juga analisis dari Aliansi, ada
sumbangsih kesalahan kita juga. Kesalahan kita dengan tidak mendampingi
dari awal. Perbedaannya mungkin ya, di kelompok-kelompok model kita ini
agak berat untuk kemudian memanfaatkan secara pragmatis temen-temen yang
menjadi tokoh atau pembuat kebijakan. Jadi tidak kemudian
memanfaatkannya untuk kepentingan pragmatis.”
“Kedua,
militansi itu yang saya sadari, hampir di temen-temen bahwa hal itu
kurang. Misalnya begini. Kita dukung Jokowi. Jelas itu dulu kita
berjibaku. Tapi kemudian karena kita tidak ikut serta mengawal, malah
ada orang lain yang mendekati Jokowi. Ketika kita menyesali terhadap
kondisi terhadap berbagai hal ini, sudah terlambat. Ini juga kesalahan
kita. Karena kita ini kalau temen sudah jadi, kita tidak mendampinginya,
tidak berada di dekatnya. Tidak memberi inspirasi dan ngasih input. Itu
yang saya duga, karena kawan-kawan kita itu tidak pragmatis, karena ada
idealisme yang dipegang.”
“Pelajaran
terberat ini, yang sering kita diskusikan ini adalah memang kita kurang
militan. Ini bahasa saya. Ke depannya yang harus jadi catatan adalah
militansi pada gerakan, pada edukasi publik. Kedua hal ini yang
nampaknya harus dikedepankan. Juga militansi untuk mempertahankan, untuk
membangun. Untuk masuk pada decision maker yang nampaknya ktia biarkan saja sendirian ketika pada tingkat tertentu sudah berhasil.” (Muhammad/Yudhi/http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/bima-arya-potret-pragmatisme-politik-berbuah-intoleransi/)
Video : Tausyiah 10 Muharram 1437 H
10 Muharram adalah hari bersejarah bagi umat Islam, pada hari itu
adalah tanggal merah, merah sebab syahidnya cucu Rasulullah saw, Husein
bin Ali. Pada acara dzikir 10 Muharram 1437H, di Indonesia Convention
Exhibition (ICE), BSD city, Tanggerang (24/10), Ustaz Rusli Malik
memberikan tausyiahnya untuk dapat mengambil semangat perjuagan dari
Imam Husein, dalam berjuang untuk membela kebenaran, keadilan, kaum
lemah, rakyat jelatan walupun harus ditebus dengan nyawanya.
Ustaz Rusli Malik juga berpesan untuk tidak menghina simbol-simbol
yang disucikan oleh agama lain ataupun mahzab lain di dalam Islam.
Silahkan klik di
https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=HN-ZWYhYENw
10 Muharram adalah hari bersejarah bagi umat Islam, pada hari itu adalah
tanggal merah, merah sebab syahidnya cucu Rasulullah saw, Husein bin
Ali. Pada acara Dzikir 10 muharram 1437H, di Indonesia Convention
Exhibition (ICE), BSD city, Tanggerang (24/10), Ustaz Rusli Malik
memberikan tausyiahnya untuk dapat mengambil semangat perjuagan dari
Imam Husein, dalam berjuang untuk membela kebenaran, keadilan, kaum
lemah, rakyat jelatan walupun harus ditebus dengan nyawanya.
Ustaz
Rusli Malik juga berpesan untuk tidak menghina simbol-simbol yang
disucikan oleh agama lain ataupun mahzab lain di dalam Islam.
Mainsource: http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/video-tausyiah-10-muharram-1437-h/
Tragedi Karbala dan Peringatan Asyura Dalam Manuskrip Kuno Nusantara
Peringatan
Asyura di beberapa tempat sempat dipermasalahkan sebagian orang yang
menganggapnya sebagai ritual khusus milik Muslim Syiah. Lebih parah
lagi, ada yang mengklaim Asyura sebagai tradisi impor asal Iran pasca
Revolusi Islam 1979.Namun
fakta berkata lain. Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia,
berjudul Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah, sejenis manuskrip dengan nomor
panggil ML 446, yang terletak di lantai 5B, bercerita tentang bagaimana
pada 10 Muharam atau Hari Asyura, cucu Nabi, Imam Husein telah syahid.Tragedi Karbala Dalam Hikayat MelayuHikayat
setebal kurang lebih 4 cm, lebar 17,5 cm, panjang 25,6 cm dan
diperkirakan berumur sekitar 4 abad ini masih terawat rapi. Meski tampak
lusuh namun isinya masih tetap dapat dibaca. Dengan menggunakan huruf
Arab pegon dan bahasa Melayu, Hikayat dari abad ke 13-15 M ini menjadi
bukti nyata bahwa peringatan Asyura dan kisah tentang kesyahidan Imam
Husein telah ada di negeri kita sejak awal masuknya Islam ke Nusantara.Saat berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (23/10), melihat dan membaca langsung Hikayat tersebut, Tim ABI Press mendapati kisah kesyahidan Imam Husein ketika 10 Muharam terdapat di halaman 186 baris ke enam hingga halaman 187. Tertulis di sana bahwa pasukan Yazid lah yang telah membantai Imam Husein di padang Karbala.“Amir
Husein di padang Karbala dikerubungi oleh segala kaum munafik. seperti
orang memetik kembang, kepalanya pun diperceraikan daripada badannya.”Sementara
di halaman 190 Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah itu dikisahkan saat Imam
Husein tiba di padang Karbala dengan paparan sebagai berikut:“Diceritakan
Amir Husein pun bertanya, hai tolongku apa nama padang ini? Maka kata
segala sahabatnya,junjunganku padang inilah padang Karbala. Maka kata
Amir Husein, wah inilah padang tempat kematianku itu, karena sabda
Rasulullah saw, bahwa kematian Husein itu kepada padang Karbala, maka
kata Amir Husein, qolu innalillahi wa inna ilaihi roji’un.“Peringatan Asyura Dalam Hikayat MelayuBukan
hanya cerita tentang Imam Husein yang syahid di padang Karbala saja,
Hikayat ini pun menjelaskan tentang acara peringatan 10 Muharam atau
Asyura pada masa itu di berbagai daerah di Nusantara yang dalam
pelaksanaannya terbagi menjadi dua jenis.Peringatan
pertama yang lebih bersahaja dilakukan di sejumlah wilayah di Nusantara
seperti di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi Selatan dan Aceh. Di Jawa dan
Madura peringatan 10 Muharram atau Asyura disebut dengan Hari Suro atau
Asuro. Sementara di Aceh, Asyura disebut dengan hari Hasan dan Husin,
yang pada malam harinya diadakan pengajian atau majlis dengan
mendengarkan pembacaan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah yang menceritakan
tentang tragedi Karbala.Peringatan
yang kedua adalah peringatan yang lebih mirip dengan di Iran atau
India. Bentuk perayaan seperti ini dapat dijumpai di Sumatera Barat dan
Bengkulu yang dimulai sejak abad ke-18 M, ketika Inggris menguasai
Bengkulu dan membawa banyak warga Muslim Syiah dari daratan India.Perayaan
yang dilakukan dengan arak-arakan Tabut, melambangkan kesyahidan Imam
Husein dengan diiringi rombongan musik yang melambangkan pasukan Imam
Husein (Barkel 1975).Maka
Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah adalah salah satu fakta bahwa
peringatan Asyura atau peringatan kesyahidan Imam Husein pada 10 Muharam
telah lama ada bersamaan dengan masuknya Islam di Nusantara pada
sekitar abad ke 13-15 M dan telah melekat, mendarah daging dengan Islam
Nusantara.Tapi,
jika ternyata masih ada sebagian kelompok Islam di Nusantara yang
berusaha untuk menyangkalnya, mungkinkah mereka tidak membaca sejarah?
(Lutfi/Yudhi/http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/tragedi-karbala-dan-peringatan-asyura-dalam-manuskrip-kuno-nusantara/)
Aparat Harus Tegas Atasi Intoleransi
Kasus intoleransi bernuansa SARA
bertubi-tubi menghantam Bumi Pertiwi. Belum hilang dari ingatan kita
kasus pembakaran masjid di Tolikara, belum lama ini di Singkil, gereja
dibakar. Mencoba
mengurai kasus Singkil ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
mengadakan diskusi “Memahami Singkil, Demografi Politik dan Relasi
Etnisitas dan Agama” di kantor pusat LIPI Jakarta, Senin (26/10).Pendeta
Penrad Siagian dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dalam
presentasinya mengungkapkan, di Aceh, penyerangan gereja terus berulang.“Tindakan
diskriminatif dan intoleran terhadap gereja telah terjadi
bertahun-tahun. Dari tahun 1961, 1968, 1979, 2012, sampai 2015 kemarin,”
keluh Penrad.Menurut
Penrad, aktor kekerasan ini tak hanya masyarakat intoleran seperti FPI
dan APPI. Tapi juga aparat negara, Pemda Kab. Aceh Singkil, Muspida
Plus, Kapolda, Pangdam dan Satpol PP. Penrad
meminta agar pemerintah bertanggungjawab. Apalagi vibrasi dari kasus
Singkil berpengaruh luas ke berbagai daerah lainnya di Indonesia.Sementara
Dr. Fadjri Alihar, Peneliti Pusat Kependudukan LIPI yang juga warga
asli Singkil menyebutkan bahwa sebenarnya masyarakat Singkil sangat
toleran. “Masyarakat
Singkil kan ‘heterogen’. Bisa dikatakan mayoritas saat ini pendatang di
samping suku asli orang Singkil. Jadi dalam hubungan dan kohesi-kohesi
ini memang ada gesekan. Tapi secara umum, kerukunan antar umat beragama
dan antar suku ini sangat signifikan di sini. kira-kira 95%,” ujar
Fadjri.“Bagi
masyarakat di level bawah, mereka beraktivitas biasa, dagang biasa,
yang diisukan ada sweeping ternyata tidak ada juga,” tambahnya. Hal
senada diungkapkan oleh Anna Martyna Sinamo dari Ikatan Keluarga Pakpak
Dairi yang menyebutkan, kerusuhan ini terjadi karena ada pihak luar
yang ingin mengambil sumber daya alam di Singkil.Fadjri
menekankan, aparat pemerintah harus tegas menjaga keharmonisan di
Singkil agar jangan sampai terpengaruh kelompok intoleran.
(Muhammad/Yudhi/http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/aparat-harus-tegas-atasi-intoleransi/)
Asyura Semarang
Di tengah siang terik bersuhu kurang
lebih 39 derajat, ribuan orang dari berbagai daerah di wilayah Jawa
Tengah, bahkan ada beberapa rombongan dari Jawa Timur dan Jawa Barat
berduyun-duyun hadir dalam peringatan tragedi Karbala yang untuk
kesekian kalinya diadakan di Kota Semarang, tepatnya di Gedung Pertemuan
Kompleks PRPP Semarang.Meski
berkembang intimidasi dan tekanan dari kelompok intoleran yang setiap
tahun kerap menghalang-halangi peringatan duka terhadap cucu Rasulullah
saw, acara tetap berlangsung tertib, aman dan lancar. Bahkan setiap
tahun peserta yang hadir selalu meningkat jumlahnya. Area dalam gedung
yang luas, ditambah karpet yang digelar di halaman, tetap saja tak cukup
menampung keseluruhan pengunjung. Banyak di antara mereka yang dalam
posisi berdiri, tetap seksama dan khusyuk mengikuti acara hingga usai.Dengan
suara khas, lantang dan penuh ghirah, Ustaz Thoha Al Musawa
menyampaikan hikmah di balik peristiwa Karbala. Bahwa kesyahidan Imam
Husein memberikan arti tersendiri bagi kalangan berakal sehat yang mau
berpikir. Acara
Haul Sayidina Husein bin Ali as yang diselenggarakan oleh para pencinta
cucu Rasulullah saw pada tanggal 10 Muharram 1437 H dan bertepatan
dengan hari Jumat (23/10) itu dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan
Indonesia Raya. Dalam
sambutannya, Sayid Jafar Shodiq Assegaf selaku Ketua Panitia
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak khususnya Gubernur Jawa
Tengah, Kapolda Jateng, dan Kepala Kantor Depag Jateng atas izin dan
dukungan bagi terselenggaranya acara tersebut. Menurut
Jafar Shodiq Assegaf, haul ini dimaksudkan sebagai ungkapan duka cita
kepada Baginda Rasulullah saw dengan harapan semoga mendapatkan syafaat
dari beliau saw. Untuk itu Jafar Shodiq Assegaf memimpin seluruh
pencinta yang hadir dengan meneriakkan yel-yel “labbayka ya Husein” yang
bermakna “kami datang memenuhi seruanmu wahai Husein”.Ustaz
Thoha Musawa sebagai pembicara menjelaskan bahwa para pencinta Sayidina
Husein as, yang disebut Syiah 12 Imam, yang meyakini Sayidina Husein
sebagai Imam ke 4, adalah para penegak kebenaran. Barangsiapa yang atas
nama Syiah menghina agama atau mazhab lain, menjelek-jelekkan kesucian
simbol mereka, maka sesungguhnya ia bukanlah dari Syiah 12 Imam. Hal ini
telah dimaklumi pula oleh semua pihak khususnya oleh pihak pemerintah
Republik Indonesia. Menurut
Ustaz Thoha Musawa, fitnah secara sengaja telah dilancarkan untuk
memperburuk citra Syiah, akan tetapi hal ini tidak akan berhasil. Meski
demikian, para Syiah 12 Imam tetap perlu menjaga diri mereka dari
memperparah fitnah sebagaimana dimaksud.Tempat
syahidnya Sayidina Husein as, yakni Karbala, jelas Ustaz Thoha Musawa,
memang adanya di Iraq. Akan tetapi pada hakikatnya Karbala ada di setiap
tempat dimana kebenaran dan kemuliaan dijunjung tinggi. Oleh karena itu
Karbala bukan hanya sekali saja melainkan setiap hari adalah Karbala.Satu
hal yang ditekankan oleh Ustaz Thoha Musawa adalah bahwa Muslimin
berbeda pendapat mengenai siapa Ahlulbait as, akan tetapi semua sepakat
bahwa Sayidina Husein as adalah salah satu dari Ahlulbait as. Terkait
dengan itu, mencintai Ahlulbait as adalah wajib bagi setiap Muslim
menurut Alquran. Karenanya, mencintai Sayidina Husein as pun adalah
wajib bagi setiap Muslim.Acara
yang berlangsung khidmat ini diakhiri doa bagi semua elemen bangsa dan
negara yang dipimpin oleh Habib Ali Alathas, sebelum kemudian
ditutup dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri. (Arif/Yudhi/http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/asyura-semarang/)