Ahmadinejad, Atasi Krisis dengan Berhemat
Hari ini saya memeriksa rekening pembayaran listrik untuk dua bulan terakhir (karena pembayaran listrik di sini setiap dua bulan sekali), saya hampir tak percaya melihat angka yang tertulis di rekening hanya sebesar 21. 928 rial (sekitar 21. ribu rupiahan). Berarti setiap bulan saya hanya mengeluarkan sekitar 10 ribu rupiah. Padahal, saya merasa pemakaian listrik dua bulan ini cukup besar, karena hampir tiap hari saya menggunakan microwave, belum lagi dua atau tiga kali sehari bervacuum cleaner ria. Awalnya saya merasa hepi, karena anggaran untuk shopping bisa bertambah.
Tapi, hati saya kembali menciut waktu tahu angka pemakain sebenarnya sebesar 204.854 rial (sekitar Rp. 200 ribu). Di bawahnya tertulis subsidi negara: 182.917 rial. Dari dulu, saya memang tahu kalau listrik d Iran termasuk yang disubsidi, tapi jujur saja baru tahu kalau jumlah subsidinya ternyata sangat besar. Berarti selama ini, masyarakat Iran hanya membayar sekitar 10-20% dari harga real energi listrik. Saya langsung melongo, pantas saja pendapatan devisa minyak dan gas Iran yang berlimpah itu, banyak juga tersedot untuk sektor ini.
Tentu saja, kondisi ini akan sangat membebani negara, terutama di saat krisis ekonomi semacam ini. Alokasi dana yang jumlahnya cukup signifikan itu, bisa sangat berguna untuk memperbaiki berbagai infra struktur dan sarana umum seperti jalan, kesehatan, penelitian, pendidikan dan pembangunan sejumlah lapangan kerja. Pada sisi lain, kebutaan atau sikap masa bodoh pada harga real energi, akan mengakibatkan masyarakat lengah dari pola hidup berhemat.
Dan yang lebih mengerikan lagi, model subsidi semacam ini, ternyata tidak sejalan dengan tujuan pemerataan sosial. Karena, justru yang diuntungkan adalah orang-orang kaya yang menerima lima kali lipat subsidi dari pemerintah, seperti disebutkan Daud Ja’fari, mantan menteri ekonomi kabinet 9.
Sebeneranya, beberapa kekhawatiran ini jauh hari sebelumnya sudah ditangkap oleh Ahmadinejad. Sejak lama, ia mengusulkan “subsidi tepat guna” dengan cara menjual secara real energi listrik. Sebagai konpensasinya, dilakukan subsidi dalam bentuk nominal kepada masyarakat menengah ke bawah melalui rekening bank masing-masing, dengan asumsi semua masyarakat Iran memiliki rekening di bank. Saat krisis dahulu, Indonesia juga pernah melakukan hal yang sama, hanya saja kendalanya pada saat pembagian uang di lapangan.
Kembali pada soal gagasan “subsidi tepat guna” yang digulirkan Ahmadinejad. Awalnya banyak pihak yang tidak setuju dan beranggapan ide ini hanya akan menambah krisis. Tapi, akhirnya setelah melalui proses balak-balik rapat kabinet dan anggota dewan, ide ini mulai dibahas secara serius di majelis dan rencananya musim panas mendatang sudah bisa direalisasikan.
Reaksi kontra sebagian masyarakat juga bermunculan. Tapi bagi Ahmadinejad, yang seringkali menengok langsung daerah-daerah terpencil di Iran, ketimpangan masyarakat jauh lebih menyesakkannya dari pada hanya menuruti sebagian warga perkotaan yang merasa “kenyamanan” hidupnya terusik.
Selama kepemimpinan Ahmadinejad memang terasa ajakan untuk “hemat energi” digelar di mana-mana mulai dari spanduk, koran, radio apalagi tv. Awalnya saya pikir jangan-jangan produksi gas Iran mulai seret. Tapi, ternyata Ahmadinejad punya mimpi tersendiri untuk membagi penghasilan sumber daya alamnya itu pada kaum papa di sudut-sudut terpencil dan juga untuk anak cucu bangsanya kelak.
Yah…walaupun saya bukan warga negaranya Ahmadinejad, tapi izinkan saya untuk setuju dengan pendapatnya, karena kecondongan pada kaum tertindas adalah isu semua bangsa, bahkan umat manusia.
sumber : http://bundahakim.wordpress.com/
0 comments to "Krisis nggak soal...kapan Indonesia ???"