Seorang ulama Iran yang berhaluan keras, Jumat mendesak pengadilan melawan tekanan Barat untuk membebaskan para tersangka yang ditahan setelah sengketa pemilihan presiden Juni negara itu. Demikian Situs Koran Republika memberitakan pernyataan Ayatollah Ahmad Khatami, salah satu Imam Jumat di Tehran, yang mengutip laporan radio pemerintah.
Situs Koran Republika dalam pemberitaannya menyebut Khatami sebagai seorang ulama Iran yang berhaluan keras. Istilah semacam ini memang santer diberitakan media-media asing untuk merendahkan urgensi yang disampaikan ulama tersebut. Dengan istilah "ulama yang berhaluan keras" dikesankan bahwa pernyataan ulama yang bersangkutan itu tidak berlandaskan sikap obyektif. Namun sangat disayangkann, koran muslim seperti Republika terbawa dengan istilah tendensius Barat dalam menyudutkan negara-negara independen seperti Iran.
Situs Koran Republika mengutip pernyataan ulama senior Ahmad Khatami kepada para jamaah di Universitas Teheran, menyebutkan, "Rakyat Iran mengharapkan pengadilan menjatuhkan hukuman berat dan tidak tunduk pada tekanan Barat (untuk membebaskan para tahanan yang punya hubungan dengan Barat)." Pernyataaan itu sendiri pada dasarnya, merupakan sebuah tuntutan yang sah-sah saja, bahkan pernyataan yang semestinya disampaikan oleh para tokoh dan politisi Iran, menyusul pernyataan transparan para tersangka dalam pengadilan.
Belum lama ini, Seorang warga Perancis, Clotilde Reiss, yang ditahan karena terlibat dalam kerusuhan terakhir di Tehran, mengakui keterlibatannya dengan mengirim laporan, foto dan rekaman video kerusuhan ke Kedutaan Perancis. Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita IRNA, Clotide Reiss dituding melakukan aksi anti-keamanan dan stabilitas nasional dan menggelar aksi anti-keamanan melalui keterlibatannya dalam demonstrasi ilegal dan kerusuhan pada tanggal 15 dan 16 Juni di Tehran, serta mengumpulkan data dan informasi untuk dikirim ke pihak-pihak luar. Dikatakannya, "Saya ikut serta dalam aksi unjuk rasa di Tehran pada tanggal 15 dan 16 Juni, serta mengambil gambar dan foto. Saya akui bahwa keikutsertaannya dalam demonstrasi tersebut adalah tindakan keliru. Saya tidak sepatutnya ikut serta dalam demontrasi serta mengambil foto dan gambar."
Dalam pengadilan tersebut, pengamat senior Kedutaan Besar Inggris di Tehran, Mir Mohammad Hossein Rasam menyinggung aktivitasnya selama lima tahun di Kedutaan Inggris, mengatakan, tugas utamanya adalah mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan Inggris melalui tim khususnya dan penghubung kedutaan di Tehran dan kota-kota lainya. Ia juga mengakui bahwa lembaga swadaya masyarakat (LSM) dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mengumpulkan data dan informasi yang kemudian diserahkan ke Kedutaan Inggris di Tehran. Dikatakannya, sekitar 300 ribu pound dianggarkan setiap tahunnya untuk membantu lembaga-lembaga masyarakat Iran. Rasam juga mengabarkan keterlibatan Sekretaris Pertama Politik Kedubes Inggris, Alex di sejumlah pos tim sukses pemilu dan keikutsertaannya Sekretaris Ketiga Kedubes Inggris, Dominik dalam demonstrasi ilegal di Tehran.
Lebih lanjut Situs Koran Republika melaporkan, Iran mengadili mereka yang ditangkap setelah pemilihan presiden 12 Juni, termasuk seorang wanita Prancis dan para karyawan kedutaan-kedutaan besar Inggris dan Prancis, dalam satu tindakan yang bertujuan melumpuhkan oposisi dan mengakhiri protes-protes. Dalam pemberitaan Situs Koran Republika itu disebutkan bahwa penangkapan dan pengadilan antek-antek asing untuk melumpuhkan oposisi. Padahal aktivitas mereka dalam berbagai pengakuannya di pengadilan terbukti menciptakan instabilitas di Iran dengan memaanfaatkan perselisihan pasca pemilu presiden. Bahkan hingga kini, satupun tokoh dari kelompok oposisi tidak pernah memberikan pembelaan terhadap antek-antek asing tersebut. Ini membuktikan bahwa kelompok oposisi sendiri merasa dirugikan dengan intervensi asing.
Sikap intervensif pihak asing juga disikapi secara tegas oleh pemerintah Iran. Belum lama ini, Jubir Kementerian Luar Negeri Iran, Hassan Qashqavi, menegaskan, "Pengakuan para terdakwa yang berafiliasi dengan Kedutaan Besar Inggris dan Perancis di pengadilan Tehran membuktikan intervensi asing terhadap masalah dalam negeri Iran. Dan Tehran akan menindak tegas segala bentuk intervensi."
Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita IRNA, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Republik Islam Iran, Alauddin Baourujerdi, juga mengatakan, sikap Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang anti-Iran menunjukkan bahwa Washington masih belum mengetahui dengan baik masyarakat Iran pasca 30 tahun Revolusi Islam. Menyinggung peran Inggris dalam instabilitas pasca pilpres di Iran, Bourujerdi menandaskan, Inggris yang terkenal piawai dalam masalah intervensi, yang juga sekaligus mitra AS, belum mengubah sikap konfrontatifnya terhadap Iran.
Masih mengenai Iran, Situs Koran Kompas kemarin melaporkan, pemimpin oposisi Iran yang kalah dalam pemilihan Presiden Juni lalu mengatakan sejumlah pendemo yang ditahan setelah aksi demonstrasi menentang hasil pemilu bulan lalu disiksa hingga mati di penjara.Klaim ini disampaikan Mehdi Karroubi hanya beberapa hari setelah dia mengatakan sejumlah tahanan lainnya baik laki-laki maupun perempuan diperkosa di tahanan.
Hingga kini, pemberitaan yang ramai dibicarakan di koran-koran Iran masih berkutat pada masalah pelecehan seksual berdasarkan pernyataan Karoubi. Namun tidak ada pemberitaaan yang menyebutkan pernyataan baru Karoubi tentang penyiksaan para tahanan hingga mati.
Mengenai pernyataan-pernyataan Karoubi, Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional di Parlemen Iran, Alaudien Bourojerdi dalam pembicaraannya dengan Jaksa Tehran, Mortazavi, mengatakan, "Surat Karoubi dapat melemahkan pemerintahan." Mortazavi dalam kesempatan tersebut menjelaskan, "Saya menghubungi Karoubi mengenai surat tersebut. Ia menyatakan bahwa tudingan yang disampaikannya dalam surat tersebut berdasarkan pada pengaduan-pengaduan via telepon kepada kantornya." Mendengar penjelasan Mortazavi tersebut, Boroujerdi mengatakan, jika hal itu adalah landasan pernyataan Karoubi, maka hal itu sangatlah lemah. Setipa orang bisa menghubungi lembaga tertentu dengan mennyampaikan pengaduan berdasarkan pada klaim masing-masing."
Menyikapi para tokoh yang mudah mengeluarkan pernyataan tanpa landasan akurat dan hanya berdasarkan klaim sepihak, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Sayid Ayatollah Al-Udzma Ali Khamenei di depan para pegawai dan pejabat Kantor Rahbar di Tehran, ketika menjelaskan poin-poin penting mengenai perkembangan terbaru di Iran dan sikap para tokoh dalam mereaksi perkembangan terakhir, menyebut hati nurani sebagai kebutuhan utama masyarakat saat ini.
Ayatollah Al-Udzma menekankan, "Berbagai bencana yang terjadi pada bangsa ini bermuara pada tidak adanya hati nurani." Seraya menyinggung peristiwa di awal kemunculan Islam pada pemerintah Rasulullah Saww dan masa sulit Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib as, Rahbar menjelaskan bahwa salah satu di antara pekerjaan penting para tokoh adalah memberikan penjelasan. Para tokoh harus menjelaskan realita tanpa adanya sikap fanatis dan tendensius terhadap kepentingan kelompok tertentu.
Lebih lanjut Rahbar menjelaskan peran penting para tokoh dalam menjelaskan realita, dan mengatakan,"Peran para tokoh selain mempunyai hati nurani pada diri mereka, juga menanamkan pada orang lain. Namun sangat disayangkan, sejumlah tokoh berbicara tanpa landasan hati nurani, bahkan pernyataan mereka menguntungkan musuh. (irib.ir)
Home � Politik � Pemberitaan Republika dan Kompas ditanggapi!!!
Pemberitaan Republika dan Kompas ditanggapi!!!
Posted by cinta Islam on 4:42 PM // 0 comments
0 comments to "Pemberitaan Republika dan Kompas ditanggapi!!!"