Kesetaraan Gender Apakah Harus?
" Barang siapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" ( QS.An-Nahl:97)
Sekarang ini, banyak diributkan tentang kesetaraan gender, kaum sekular telah membuat rancu hakekat maknanya, sehingga langkah-langkah yang diambilnya pun sangat lah tidak efektif . Paradigma mereka harus diluruskan sehingga kita benar-benar dapat mengobati sumber dari masalahnya bukan hanya menambal sulam masalah. Seperti mereka selalu menganggap bahwa keseteraan gender itu seperti yang di slogankan di Perancis ’Egalite’, Gleichberechtigung’ di Jerman, menuntut persamaan hak antara pria dan wanita.
Ironisnya pada saat yang bersamaan mereka masih menggunakan istilah ’ladies first’ and ’be gentlemen’ apabila dalam kendaraan umum ataupun dalam keadaan yang semacamnya. Disatu pihak mereka ingin dianggap bisa mengerjakan segalanya tetapi dipihak lain ingin dibantu dan dianggap lemah. Sungguh membingungkan perempuan atau masyarakat di zaman modern ini. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka mau.
Mereka telah lupa akan anugerah mereka yang sesungguhnya. Ini terjadi karena mereka tidak mengenal ”SANG KHALIK” , yang menciptakannya. Mereka menuntut tetapi tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka harus tuntut, sederhana saja karena mereka tidak mengenal siapa diri mereka. Agama yang suci yang diturunkan pada nabi terakhir yang Agung Muhammad saw membawa kabar gembira kepada para perempuan yang berakal, tentang mulianya dan tingginya kedudukan perempuan di sisi Allah(ayat Qur’an)….
Seorang filsuf Perancis , Rosseau berkeyakinan : ”Memperbaiki masyarakat bukan dimulai dari pemerintah melainkan harus dimulai dari keluarga, maka ini mutlak kewajiban ayah dan ibu ”.
Sedangkan dalam Al-Qur’an sendiri, banyak menekannkan soal pemeliharaan anak sejak usia kandungan dan dini dengan pemberian ASI sampai usia 2 tahun. Ini adalah langkah awal pendidikan anak dan tanggung jawab seorang ibu.
Jelas dalam Islam, bahwa pendidikan anak adalah tugas dari seorang perempuan dan mencari nafkah adalah tugas seorang laki-laki. Ini berarti kedudukan seorang laki-laki dan perempuan itu adalah saling melengkapi satu sama lain dan bukan saling bersaing. Mendidik anak dengan baik untuk menghasilkan suatu generasi yang terbaik tidaklah mudah, ini sangatlah memerlukan skill atau keahlian khusus.
Oleh karena itu tidak benar bahwa perempuan yang dirumah mendidik anaknya dengan baik adalah lebih rendah dari perempuan yang bekerja di kantoran. Tanggung jawab dia bukan hanya kepada keluarganya saja tetapi kepada masyarakat dan Tuhan. Karena masyarakat yang baik itu tercipta dari hasil didikan seorang ibu yang hebat.
Apabila kita kembali kepada Al-Qur’an (se bagai kewajiban umat Islam) dan berusaha memahami bahasa Al-Qur’an, sesungguhnya tidak ada yang berkatian dengan gender. Kata-kata yang khusus terungkap itu hanyalah bersifat maknawi, adapun ada ungkapan yang dengan jelas menunjuk wanita ataupun pria, maka hal itu dalam konteks meminjam bahasa yang digunakan oleh umumnya masyarakat ketika turunnya Al-Qur’an, seperti dalam QS. Ali Imran yang berkaitan dengan kaum mukmin yang berhijrah pada masa permulaan Islam :
”Sesungguhnya AKU tidak menyia-nyiakna amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan.” ( QS. Ali Imran:195 )
Wanita yang berhijarah memperoleh pahala sebagaimana pria. Kandungan ayat tersebut menjelaskan tentang persamaan antar pria dan wanita dalam keutamaan berhijrah. Pada ayat diatas Al-Qur’an menggunakan bentuk-bentuk maskulin yang tidaklah berarti lawan dari feminin- khusus dalam hal ini tidak terikat dengan aturan tata bahasa Arab yang berlaku, jadi jelaslah bahwa kata ’amilin’ dan kata ’minkum’ meski berbentuk maskulin, ia tetap mencakup pria dan wanita.
Apabila para wanita itu benar-benar jujur bertanya pada diri mereka sendiri, sesungguhnya tidak ada yang mereka harus khawatirkan, “just be your self and be a good person” sesuai dengan yang Sang Kholik inginkan, kenal siapa diri mereka dan tahu apa tugas mereka yang sebenarnya, tentu segalanya akan menjadi lebih mudah. Masalahnya dengan keTIADAan ILMU akan ke TUHANan (agama) yang hanya dianggap tahu atau diperlukan suatu waktu saja apabila terjadi musibah, maka mereka mencari sesuatu yang tidak ada pada dirinya dan celakanya mencontoh dan meniru yang SALAH “ala WESTERN’ or else yang semakin membuat mereka JAUH dari “hakikat KEBENARAN” yang sesungguhnya yang sedang mereka cari yaitu menyeterakan diri dengan makhluk Allah ciptaan lainnya atau lawan jenisnya yaitu laki-laki.
Allah menciptakan keduanya dalam wujud lahir yang berbeda, jadi mungkinkah fungsi dan kekuatannya harus sama, seperti misalnya ciptaan Tuhan yang lainnya : buah Apel dan buah Mangga adalah dua buah yang berbeda walaupun keduanya termasuk jenis buah-buahan, masing-masing mempunyai rasa dan kelezatan serta vitamin yang berbeda, dan masing-masing mempunyai keunikan atau keunggulan tersendiri . Contoh lain lagi seperti suatu bangunan rumah, yang terdiri dari berbagai komponen, dengan perpaduan itu akan terbentuk suatu kesatuan yang indah, sebuah rumah yang kokoh. Kita harus percaya, bahwa Allah tidak mungkin salah dalam mencipta makhluk2nya, pasti sudah dengan rencana yang matang dengan ’design’ yang paling sempurna , semuanya adalah untuk pelengkap yang lainya
Kadang apabila kita membaca buku, sebagai seorang wanita , kita tahu bahwa kalimat itu hanya ditujukan pada kaum lelaki, contohnya dalam berperang, atau berjihad, berhamasah & irfan, seolah itu semua untuk kaum pria, karena ada keterangan lagi bahwa , untuk sempurnanya hamasah, harus dapat melupakan harta, anak dan istri.
Nah, sebagai pembaca wanita, timbul pertanyaan, wah berarti perempuan itu memang harus pasrah ditinggalkan suami dan tugasnya sebenarnya hanya mendidik anak dan siap ditinggalkan. Disini, memang perlu diterangkan dan dijelaskan lebih detail lagi hak dan kewajiban seorang perempuan dalam Islam terutama.
Nabi Muhammad saaw pernah ditanya oleh seorang wakil dari perempuan suku Arab, yang bertanya tentang jihad, mengapa hanya diwajibkan untuk kaum pria dan kaum perempuan itu merasa tidak diperlakukan adil, karena mereka pun ingin mendapat pahala jihad yang memang begitu tingginya pahala tersebut disisi Allah SWT dan puncak kenikmatan adalah seorang syuhada.
Rasul yang Mulia berkata:
”jihad terbesar untuk kaum perempuan adalah melayani suaminya dengan baik, keluar rumah harus seizin suami dan menjadi pendidik untuk anak-anaknya”.
Terdengar sangat mudah dan gampang dan tidak berbobot, tapi memang hanya itulah tugas seorang perempuan, apabila dapat melakasanakannya dengan sangat baik, maka Allah SWT pun akan meridhainya, karena ridha Allah SWT ada pada ridha suaminya.
sumber:http://emarachman.blogspot.com/2008/11/kesetaraan-gender-apakah-harus.html
Home � Islam dan Wanita � Lelaki lebih tinggi dari wanita???
Lelaki lebih tinggi dari wanita???
Posted by cinta Islam on 5:39 PM // 0 comments
0 comments to "Lelaki lebih tinggi dari wanita???"