| Mental Perang Dingin AS Belum Juga Luntur | | | |
| | |
| Setelah mengancam bakal menempatkan sistem anti-rudalnya di Romania, Amerika Serikat kini menebar ancaman baru dengan menempatkan sistem anti-rudalnya di Bulgaria. Romania dan Bulgaria merupakan opsi lain AS untuk menempatkan perisai rudalnya di Eropa Timur setelah Ceko dan Polandia. Keempat negara itu tak begitu jauh dengan perbatasan Rusia. Karena itu Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov segera mereaksi langkah provokatif Washington tersebut dan meminta Gedung Putih untuk segera memberikan keterangan lengkap mengenai masalah ini. Sembari menyinggung penurunan kemampuan pertahanan nuklir Rusia jika sistem anti-rudal AS itu ditempatkan, Lavrov menilai bahwa langkah AS tersebut bisa menggagalkan perundingan Moskow-Washington soal penetapan kesepatan baru pengurangan senjata strategis sebagai ganti Perjanjian START. Moskow berkali-kali menegaskan bahwa Selama ini, doktrin pertahanan AS telah menjadikan kekuatan nuklir Rusia sebagai target serangannya. Yang jelas, dengan penempatan sistem anti-rudalnya di Eropa Timur, AS bermaksud untuk mengungguli kekuatan nuklir Rusia. Dukungan Washington terhadap Georgia dalam konflik di Kaukasus pada Agustus 2008, makin memperkuat kecurigaan Moskow terhadap ambisi nuklir AS di kawasan Eropa Timur dan Kaukasus. Georgia sendiri telah lama menyatakan kesiapannya untuk menjadi basis penempatan sistem anti-rudal AS. Para analis militer meyakini, ambisi AS menempatkan perisai rudalnya di Eropa Timur tak lain untuk memperkokoh kekuatan militernya di kawasan Eropa Timur dan Laut Hitam. Selain itu, upaya itu ditujukan juga untuk memperlemah manuver militer Rusia di kawasan strategis Laut Hitam sebagai jalur penghubung energi dari Rusia ke Eropa. Tentu saja, Moskow pun tak ingin kecolongan. Rusia membalas balik manuver AS dengan rencananya untuk menempatkan rudal canggihnya Eskander di wilayah otonomi Pridnestrovie, Moldovia. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Presiden Pridnestrovie, Igor Smirnov. Kalaupun AS juga menempatkan sistem anti-rudalnya di Georgia, Rusia pun siap mengusung rudal Eskander di Abkhzia dan Ossetia Selatan. Tak ayal, ambisi AS untuk menempatkan perisai rudalnya di Eropa Timur niscaya menyulut perlombaan senjata baru. Dan korban terbesar justru situasi keamanan di benua Eropa. Konflik perisai rudal ini sejatinya merupakan sisa-sisa konflik blok Timur dan Barat dan merupakan bukti bahwa AS masih bermental seperti di saat era Perang Dingin dulu. |
| Rusia Bangun Pangkalan Militer di Abkhazia | | | |
| | |
Presiden Rusia Dimitry Medvedev dan sejawatnya dari Abkhazia, Sergei Bagapsh kemarin (Rabu,17/2) di Moskow menandatangani perjanjian pembangunan pangkalan militer Rusia di wilayah Abkhazia. Sebagaimana dilaporkan Press TV, Sergei Bagapsh bertemu Medvedev pada hari pertama kunjungannya ke Moskow. Pangkalan militer tersebut akan menjaga keamanan dan membela kedaulatan Abkhazia dari serangan kelompok-kelompok teroris internasional. Medvedev dalam konferensi persnya, mengatakan, "Perjanjian itu ditandatangani sebagai bentuk kerja sama kami dengan Abkhazia." Saat ini, Rusia berdasarkan pakta militer tahun 2009, menempatkan 1.700 tentaranya di utara Abkhazia. Keputusan Rusia membangun pangkalan militer di Abkhazia mendapat kritikan keras dari Georgia. Mereaksi kritikan para pejabat Georgia, Medvedev menandaskan, "Cepat atau lambat, kami akan memulai kembali hubungan dengan Georgia, ini masalah yang tidak bisa dielakkan, namun saya secara pribadi tidak akan bertransaksi dengan presiden baru Georgia." Saat ini Rusia, Nikaragua dan Venezuela secara resmi mengakui kemerdekaan Abkhazia |
| Akankah AS Gagal di Afghanistan??? | | | |

Presiden Rusia Dimitry Medvedev dan sejawatnya dari Abkhazia, Sergei Bagapsh kemarin (Rabu,17/2) di Moskow menandatangani perjanjian pembangunan pangkalan militer Rusia di wilayah Abkhazia. Sebagaimana dilaporkan Press TV, Sergei Bagapsh bertemu Medvedev pada hari pertama kunjungannya ke Moskow. 

0 comments to "Perang Dingin"