Home � Kebijakan haus perang AS...!!!...

Kebijakan haus perang AS...!!!...

Morales: Israel dan Kolombia Jajahan Amerika Serikat

Presiden Bolivia, Evo Morales menyebut Kolombia dan Israel sebagai jajahan Amerika Serikat (AS).

Morales mengkritik kebijakan haus perang AS seraya menandaskan, Kolombia dan Israel adalah jajahan AS dan para petingginya adalah boneka Washington.

Ia menambahkan, AS tengah berusaha melakukan tindakan provokasi dan menyerang Venezuela, Ekuador serta Nikaragua dengan membangun pangkalan militer di Kolombia.

Presiden Bolivia menyatakan, AS juga menerapkan strategi ini di Timur Tengah dan memprovokasi Israel untuk menyerang negara anti imperialisme seperti Republik Islam Iran.

Morales mengingatkan, pemerintah AS berharap Kolombia dapat memainkan peran seperti Israel di kawasan Amerika Selatan. Pernyataan Morales ini dirilis pasca permintaan Departemen Luar Negeri Venezuela kepada Ekuador sebagai ketua periodik Organisasi Negara-Negara Amerika Selatan (UNASUR) segera menggelar sidang darurat menyusul friksi antara Caracas dan Bogata.

Di statemen Deplu Venezuela disebutkan, mengingat adanya pangkalan militer AS di Kolombia maka tudingan petinggi Bogota terhadap Caracas dapat menjadi ancaman dan sangat berbahaya.

Beberapa hari lalu Kolombia memutus hubungannya dengan Venezuela menyusul tudingan Bogota soal kehadiran lebih dari 1.500 milisi pemberontak FARC di wilayah Caracas. (Ap/MF/AHF/24/7/2010)

Perkembangan Gerakan Islam di Negara Sekular

Dewasa ini, Islam dengan jumlah penganut mencapai satu setengah milyar orang merupakan agama terbesar dunia. Tingkat perkembangannya juga relatif sangat pesat dibanding dengan agama lainnya, karena ajaran-ajarannya yang hidup dan kokoh serta dapat menjawab tuntutan masyarakat modern. Kini, pemeluk agama Islam di Barat juga mengalami perkembangan yang pesat meski suasana dan propaganda media di Barat gencar menebar sentimen anti-agama khususnya Islam. Di tengah kondisi ini, gerakan Islam di Turki mempunyai kondisi yang unik. Di satu sisi, negara yang berpenduduk 98 persen muslim itu merupakan pewaris imperium Utsmani. Namun di sisi lain, lebih dari 80 tahun negara ini dikuasai pemerintahan sekular. Sebab itu sangat menarik sekali untuk mengkaji perkembangan gerakan Islam di negara sekular ini. Kemenangan gemilang Partai Islam (Partai Keadilan) dalam pemilu Parlemen terbaru juga menarik diulas.

Satu abad lalu, kota Istanbul merupakan pusat pemerintahan imperium Utsmani, tetapi mengingat jangkauan yang berada di bawah kekuasaannya sangat luas meliputi sebagian besar kawasan di Timur Tengah dan Eropa, kekuatan imperium Utsmani melemah. Apalagi pemerintahan imperium Utsmani harus menghadapi berbagai peperangan dan persaingan khususnya dengan negara-negara Eropa. Pada Perang Dunia Pertama, imperium Utsmani kalah di medan pertempuran menyusul kekalahan sekutunya yaitu Jerman. Kekalahan tersebut, membuat emperium Utsmani terpecah menjadi beberapa negara kecil, dengan demikian berakhirlah masa pemerintahan imperium Utsmani yang telah belangsung selama 623 tahun. Kelompok Nasionalis Westernis di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha, atau yang disebut Ataturk berhasil mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1923 terbentuklah Republik Turki yang beraliran sistem pemerintahan sekular Barat. Ataturk selama hidupnya berusaha menghapus warna Islam dari kehidupan rakyat Turki dengan mengganti tulisan Arab menjadi Latin dan melarang pemakaian jilbab serta menghapus sekolah-sekolah agama.

Pengganti Ataturk berusaha mempertahankan struktur pemerintahan sekular itu khususnya di bidang militer Islam. Oleh sebab itu, mereka langsung beraksi ketika warga maupun sebagian pejabat membela Islam dan tidak memperdulikan sekularisme. Tetapi Mustafa Kemal Pasha dan penerusnya di Turki melakukan kesalahan fatal yang hingga kini membuat mereka menghadapi krisis legalitas.

Kesalahan tersebut adalah membentuk pemerintahan sekular di negara yang ajaran Islam telah menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. Hal ini dilakukan dalam rangka menjiplak sistem yang berlaku di Eropa. Sementara di Eropa sendiri, awal pembentukan pemerintahan sekular adalah dalam rangka menentang kekuasaan gereja yang dinilai menistakan kebebasan berpendapat, keadilan, dan hak asasi manusia. Adapun Islam adalah agama kebebasan, keadilan, persaudaraan, dan perdamaian, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial. Kelompok sekular Turki melanjutkan politk anti Islam ketika sejumlah pemikir Barat mengakui bahwa penghapusan agama dari kehidupan sosia di Barat adalah sebuah kekeliruan yang sangat destruktif. Hal ini dibenarkan dengan fakta kecenderungan beragama yang semakin meningkat di Barat.

Ataturk dan para kroninya tidak memperhatikan bahwa Islam telah menyatu dengan kehidupan masyarakat dan mempengaruhi budaya dan corak kehidupan mereka. Oleh sebab itu, undang-undang supresif pemerintah tidak akan dapat mengubah kepercayaan masyarakat Turki. Pemerintah Turki tidak mengijinkan warganya untuk menjalankan sejumlah kewajiban agama mereka dengan melarang perempuan dan siswi memakai hijab di lingkungan kantor, sekolah, dan universitas. Hal itu dinilai sangat menghambat aktivitas sosial dan studi kaum hawa padahal slogan pemerintah adalah kebebasan dan demokrasi. Contoh lain adala kudeta militer tahun 1960, 1971, dan 1980. Militer sebagai lembaga pelindung pemerintahan warisan Ataturk, menumpas seluruh gerakan Islam. Hal itu menimpa PM Najmuddin Arbekan dari Kelompok Islam yang dikudeta pada tahun 1997 dan dipenjara. Tidak hanya itu, partainya yaitu Partai Kesejahteraan dibubarkan.

Meski demikian, perkembangan gerakan Islam di Turki terus berlanjut meski banyaknya tekanan dari pihak militer, pemerintah, dan partai-partai sekular. Tidak diragukan lagi bahwa elemen penting di balik kenyataan ini adalah kriteria agama Islam yang selaras dengan fitrah manusia yang tidak akan sirna dengan ancaman dan represi. Iman akan senantiasi terjaga di hati setiap mukmin dan suatu saat akan menjadi kenyataan. Adapun unsur eksternal yang mempercepat proses perkembangan gerakan Islam di dunia termasuk Turki adalah Revolusi Islam Iran tahun 1979. Revolusi ini mengangkat kembali nilai-nilai dan citra Islam di dunia. Sejumlah analis berpendapat bahwa kudeta militer yang dilakukan Kepala Staf Militer Turki, Kan'an Oren, pada tahun 1980, adalah dalam rangka membendung gelombang revolusi Iran. Selain itu, kekecewaan warga terhadap partai dan pemerintahan sekular di sektor ekonomi, sosial, dan budaya, serta kebrobrokan para politisi sekular, membuat rakyat cenderung memilih partai-partai berbasis Islam.

Unsur lain yang membangkitan kesadaran Islam di dunia termasuk di Turki adalah propaganda media massa Barat atas Islam. Kenyataannya, politik anti-Islam oleh Amerika dan Barat mengacu pada pengaitan Islam dan muslimin dengan kekerasan dan irasionalisme. Tidak seperti yang mereka harapkan, propaganda tersebut tidak membuat Islam lemah, justeru membangkitkan gelora umat Islam untuk mempertahankan kepercayaan mereka. Terkait hal ini, kelompok Islam Turki tampil aktif, sehingga dalam beberapa tahun ini muslim Turki selalu beraksi ketika terjadi pelecehan terhadap nilai-nilai Islam. Di antaranya demonstrasi masif di Turki dalam mereaksi pemublikasian karikatur biadab yang menistakan kesucian Nabi Muhammad Saw serta protes terhadap kunjungan Paulus ke Turki pada November tahun lalu.

Politik anti-Islam AS, campur tangan Wasington dalam urusan dalam negeri Turki, dukungan atas politik tidak demokratis militer, serta invasi AS ke Irak dan dukungan AS terhadap kejahatan Rezim Zionis terhadap warga Palestina telah membangkitkan kemarahan warga Turki. Berdasarkan hasil jajak pendapat lembaga riset PEW di AS yang dilakukan sebelum pemilihan terbaru di Turki, menunjukkan bahwa warga negara ini termasuk yang paling anti AS.

Kemenangan gemilang partai Islam (Partai Keadilan) dalam pemilu parlemen 22 Juli lalu menunjukkan perkembangan pesat gerakan Islam di negara ini. Dalam empat tahun terakhir, setelah partai ini terbentuk, kecendrungan berjilbab di kalangan perempuan Turki mencapai 60 persen. Meski demikian, para pemimpin Partai Keadilan menyadari bahwa sewaktu-waktu dapat membubarkan mereka sama seperti partai Islam sebelumnya. Tetapi basis sosial yang kuat Partai Keadilan menyulitkan upaya pihak militer. Di samping itu, kinerja Partai Keadilan dan upaya mereka menghapus undang-undang larangan hijab di kantor dan sekolah serta kerjasama Ordughan dengan negara-negara Islam, berhasil mendongkrak popularitas partai-partai berbasis Islam.

Pemilu terbaru Turki dan keberhasilan partai Islam dalam pemilu tersebut menunjukkan bahwa pada setiap pemilu berlangsung bebas dan demokratis di negara-negara Islam, warga tetap akan memilih Islam. Lembaga Riset PEW AS menyebutkan, "Terealisainya proses demokrasi di Timur Tengah sangat merugikan merugikan Barat. Saat ini AS menghadapi kendala besar di negara-negara Islam yang menggelar pemilu". Karena hasilnya akan sama dengan yang terjadi pada pemilu di Turki Irak, Palestina, Mesir dan Lebanon. (Ap/17/7/2010)

Rahasia di Balik Dukungan AS kepada Israel

Mungkin bagi banyak orang merupakan sebuah pertanyaan yang mengusik, yaitu mengapa Amerika Serikat (AS) selalu mendukung Rezim Zionis Israel dalam semua tindakan dan melindunginya dari kecaman lembaga-lembaga internasional? Akibat perlindungan dan dukungan ini, Israel tidak pernah enggan untuk melakukan kejahatan apapun juga khususnya terhadap rakyat Palestina. Lebih dari itu, Israel menjelma menjadi rezim yang tidak pernah mengindahkan satupun aturan internasional.

Dalam 30 tahun terakhir, terlebih setelah Inggris kehilangan kebesarannya di pentas internasional, AS tampil sebagai pelindung dan pengayom kaum Zionis dan rezim Israel. Dukungan itu ditunjukkan dengan mengalirkan bantuan yang semakin hari jumlahnya semakin membesar. Setiap tahunnya, AS menyisihkan milyaran dolar untuk membantu Israel dengan keuangan, persenjataan dan lainnya.

Di tengah masyarakat AS sendiri bantuan mutlak Washington kepada Tel Aviv digugat. Sebagian mempertanyakan apakah AS tidak dapat lepas untuk mengakhiri dukungan mutlak ini ataukah mampu tetapi tak mau? Jawaban pertanyaan ini sangat erat kaitannya dengan kondisi dan posisi kaum Yahudi di tengah masyarakat di AS khususnya mereka yang tergabung dalam organisasi Zionisme internasional.

Dalam membahas masalah ini, ada satu poin yang tak harus dilewatkan begitu saja, yaitu bahwa kebanyakan orang Yahudi Eropa yang hijrah ke AS adalah Yahudi dari kalangan elit, terpelajar dan kaya. Dengan latar belakang yang demikian, masyarakat Yahudi ini dengan cepat merebut posisi-posisi sosial dan politik yang penting di AS. Posisi dan kedudukan mereka semakin hari semakin menguat sehingga berhasil merebut kendali pemerintah dan negara sebesar AS. Artinya, setiap langkah AS disetir oleh kalangan Yahudi yang lazim disebut lobi.

Doktor Fereshteh Nourai, cendekiawan Iran dalam sebuah kajian berjudul, "Sejarah Perkembangan Sosial dan Politik di AS" membenarkan hal tersebut. Dia menambahkan, "Pada zaman itu, banyak orang Eropa yang tertarik untuk berhijrah ke Amerika karena tanahnya yang subur. Kebanyakan mereka memiliki kekayaan yang cukup besar. Ribuan orang dari Eropa dengan berbagai dalih memilih untuk berpindah ke negeri baru ini. Untuk kalangan Yahudi yang merasa dibenci di Eropa, mereka merasa bahwa benua Amerika yang baru ditemukan adalah negeri yang paling tepat untuk berhijrah."

Poin penting dalam pembahasan ini adalah besarnya dorongan untuk berhijrah ke Amerika erat kaitannya dengan kondisi kehidupan kapitalisme di Eropa, terlebih pada abad 17. Dengan lahirnya pemerintahan di benua Amerika, khususnya di bagian utara dan tengah benua itu, kelompok-kelompok agamis pengikut agama Kristen Protestan dan Yahudi berduyun-duyun hijrah ke sana. Mereka berharap, perpindahan ke negeri baru ini akan memberikan keuntungan materi yang lebih besar kepada mereka.

Bagi orang-orang Yahudi, terbukanya pintu untuk hijrah ke Amerika adalah berkah tersendiri. Sebab selama berabad-abad mereka hidup di Eropa di tengah masyarakat yang selalu menganggap kaum Yahudi sebagai orang-orang pembawa sial. Jika terjadi kemalangan dan keburukan masyarakat Eropa selalu menuding orang-orang Yahudi sebagai penyebabnya. Yahudi Eropa umumnya menjalankan aktivitas ekonomi yang tidak sehat. Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan berlimpah. Praktek renten atau riba, juga penimbunan barang-barang kebutuhan pokok bukan hal yang haram bagi mereka. Karenanya, wajar jika bangsa-bangsa Eropa membenci kaum Yahudi.

Hidup di tengah masyarakat dan bangsa yang membenci mereka membuat orang-orang Yahudi terkucilkan. Untuk itu terbukanya jalan ke Amerika, tidak mereka sia-siakan. Penemuan benua baru dimanfaatkan oleh kalangan Yahudi yang kaya dan berpendidikan untuk berhijrah. Dengan latar belakang kekayaan, pendidikan dan kepandaian tersebut, orang-orang Yahudi memperoleh posisi penting dan strategis di negeri yang baru. Lebih dari itu, mereka juga berhasil merebut kendali pemerintahan di sana.

Di bagian lain, kelompok protestan Eropa juga melirik benua baru ini. Dengan berhijrah ke Amerika, para penganut Protestan ini berpikir untuk membentuk struktur sosial kemasyarakatan didasarkan pada pembagian negeri. Struktur ini pualah yang dikemudian hari menjadi dasar pemerintahan dan tatanan politik di Amerika.

Dibanding imigran yang berdatangan ke Amerika dari Jerman, Irlandia, Cheko, Polandia, Italia, Slovakia, Latvia dan lainnya, jumlah imigran Yahudi memang minoritas. Tetapi mereka dengan cepat menduduki pos-pos penting dan strategis. Urat nadi perekonomian di Amerika juga jatuh ke dalam genggaman mereka. Pada tahap berikutnya, mereka lah yang lantas menyusun undang-undang dan hukum di negeri baru ini sesuai dengan kepentingan mereka.

Ketika sistem federasi di Amerika ditetapkan, imigran Yahudi Eropa yang umumnya berpendidikan dan kaya, bergerak cepat untuk menguasai posisi-posisi penting di berbagai negara bagian. Dengan demikian, mereka memiliki pengaruh kunci di negara Amerika Serikat ini. Pengaruh ini sedemikian kuat sehingga meski jumlah Yahudi di sana sangat kecil, tetapi mereka memegang kendali di negara ini.

Munculnya ide Theodor Herzl tentang Zionisme, kaum Yahudi di AS menunjukkan dukungan yang luar biasa. Mereka memanfaatkan pengaruh Yahudi di AS untuk membantu Zionisme. Yahudi AS beberapa kali menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi zionisme dunia. Inggris sebagai negara imperialis besar di zaman itu, ikut memberikan bantuan kepada Zionis. Dengan menipu dan terkadang menekan para pemimpin Arab, Inggris membuka jalan bagi orang-orang Yahudi untuk hijrah ke Palestina.

Selama menjajah Palestina, koloni Inggris sengaja memanfaatkan orang-orang Yahudi ekstrem untuk membantu menumpas gerakan perlawanan rakyat Paletina. Lambat laun, Yahudi Zionis di Palestina semakin kuat dan mereka juga telah memiliki barisan tentara. Tahun 1948, sehari setelah Inggris keluar dari Palestina, orang-orang Zionis mengumumkan berdirinya negara Yahudi di sana yang mereka namakan Israel. Berdirinya rezim ilegal ini juga dibarengi dengan pembantaian massal dan pengusiran rakyat Palestina dari negeri mereka.

Yang jelas, Yahudi sebagai agama tentu tidak menghalalkan praktik-praktik yang dijalankan Zionis. Karena itu bisa dikatakan bahwa Zionisme adalah ide yang didukung oleh orang-orang Yahudi ekstrem yang mengemas kepentingan dunia dengan kedok agama. Yahudi yang memiliki pengaruh kuat di AS, umumnya berasal dari kelompok ekstrem dan Zionis yang ikut membidani kelahiran rezim Israel. Mereka yang lazim disebut lobby Yahudi Zionis adalah kelompok yang sejak kelahiran Amerika Serikat telah memegang kendali di negara itu.

Memperhatikan penjelasan tadi, tak salah jika banyak orang Yahudi yang meyakini Israel bukan negeri yang terpisah dari AS, bahkan lebih dari itu, sistem pemerintahan di Israel tidak dapat dipisahkan dari AS. Dengan kata lain, pemerintah AS tidak dapat melepaskan Rezim Zionis Israel dari dukungannya. Sebab, Konstitusi AS disusun untuk kepentingan kaum Yahudi ekstrem dan Israel adalah negeri orang-orang ekstrem tersebut.(Ap/17/7/2010)

Menengok Iran dari Jendela Palestina

Rahbar merupakan figur mulia di mata pejuang Palestina dan di negara lainnya di kawasan. Rahbar dinilai sebagai sosok pemimpin besar Islam yang berani menghadapi ide pemisahan agama dengan politik di dunia Islam. Sebelumnya, nyaris tidak ada figur pemimpin yang dapat secara penuh memperjuangkan keutuhan nilai-nilai Islami. Karakter Rahbar tidak dapat disamakan dengan pemimpin spiritual agama lain, karena Rahbar dengan adalah sosok yang mampu menerapkan permasalahan agama dan politik dengan baik. Pernyataan Rahbar menunjukkan bahwa dalam mereaksi fenomena yang berkaitan dengan dunia Islam, beliau selalu menekankan masalah persatuan kaum muslimin.

Terkait pengaruh Revolusi Islam Iran dalam transformasi di kawasan, opini Palestina menilainya sebagai salah satu peristiwa paling historis dalam dunia Islam. Revolusi Islam Iran merupakan tunas kebangkitan umat Islam sedunia. Revolusi yang dipimpin oleh Imam Khomeini berhasil meruntuhkan benteng kedigdayaan kaum arogan dan menggemakan kebangkitan Islam ke seantero dunia. Dampak juga dapat disaksikan dalam perjuangan bangsa Palestina melawan pendudukan Rezim Zionis Israel. Sejak saat itu pula rakyat Palestina menjadikan agama Islam sebagai elemen terpenting dalam kehidupan mereka.

Kemenangan Revolusi Islam Iran tidak diperjuangkan dengan menggunakan senjata atau kekuatan militer seperti yang terjadi di negara lain. Melainkan proses keberhasilannya sedemikian rupa sehingga Revolusi Islam Iran dapat dikategorikan sebagai revolusi tanpa pertumpahan darah. Fenomena dan peristiwa yang terjadi menjelang kemenangan Revolusi Islam tidak pernah terjadi sebelumnya di dunia. Rakyat Iran membalas tembakan para tentara Rezim Syah Pahlevi bukan dengan peluru atau lemparan batu, melainkan dengan rangkaian bunga.

Revolusi Islam berhasil membangkitkan semangat perjuangan dan mengembalikan kemuliaan umat Islam. Di mata bangsa Palestina, pasca kemenangan Revolusi Islam, mereka merasa memiliki teman seperjuangan. Apalagi setelah Iran menutup Kedutaan Besar Israel di Teheran dan menggantinya dengan Kedutaan Besar Palestina. Seorang penulis Mesir yang berada dalam satu pesawat dengan Imam Khomeini saat beliau meninggalkan pengasingannya di Perancis menuju Teheran mengatakan, "Saat itu saya menyaksikan Imam Khomeini tengah membaca doa. Kemudian saya menanyakan apa yang tengah dibaca Imam kepada salah seorang pengawal beliau", "Pengawal itu menjawab, beliau sedang membaca surat Al Anfal. Jawaban itu menyadarkan saya bahwa beliau tengah mempersiapkan diri menuju medan pertempuran, karena surat Al Anfal berkaitan erat dengan pertempuran Badr antara kaum muslimin melawan musyrikin Mekkah".

Kemenangan Revolusi Islam Iran tidak terjadi dalam waktu yang singkat melainkan melalui proses hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Revolusi Islam merupakan hasil dari perjuangan bangsa Iran melawan rezim despotik yang berkuasa silih berganti. Hal pertama yang diupayakan adalah kesadaran masyarakat untuk bangkit melawan penindasan dan kesewenang-wenangan. Proses itu juga berlangsung cukup lama berkat upaya para ulama dan cendikiawan Iran.

Proses serupa juga dialami bangsa Palestina dalam menghadapi pendudukan rezim agresor Israel. Perjuangan bangsa Palestina atau yang disebut intifada itu hingga kini telah melalui beberapa tahap. Di antaranya adalah revolusi tahun 1936, intifada pertama tahun 1978, dan intifada kedua pada tahun 2000. Pada tahap intifada pertama, bangsa Palestina menghadapi brutalitas Rezim Zionis Israel dengan menggunakan batu sebagai senjata mereka. Pada intifada kedua, para pejuang Palestina melakukan aksi mati syahid dalam membalas seluruh kejahatan Rezim Zionis. Intifada kedua itu dinilai cukup sukses karena dapat memaksa Israel menarik mundur pasukannya dari Jalur Gaza.

Menurut keterangan para pejabat tinggi gerakan perjuangan Palestina, gelombang intifada ketiga akan dimulai jika kondisi di Palestina sudah sedemikian parah dan cara-cara damai sudah tidak berguna lagi. Saat itu, gerakan perjuangan Palestina akan menyesuaikan strategi perlawanannya dengan kondisi yang ada.

Perlu digaris ditekankan kembali bahwa selama ini tidak ada negara yang memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan bangsa Palestina seperti yang telah dilakukan oleh Iran. Pasca kemenangan Revolusi Islam, Iran seolah menjadi corong perjuangan bangsa Palestina. Bahkan hingga detik ini, selain Iran tak satu pun negara yang secara tegas menyoal legalitas Rezim Zionis Israel di bumi Palestina. Pada setiap kesempatan, para pejabat tinggi Iran selalu menyatakan dukungan penuh pemerintah dan rakyat Iran terhadap bangsa Palestina, serta mengecam brutalitas Israel. Dengan demikian, wajar jika warga Palestina memandang Revolusi Islam dan Rahbar sebagai teladan dalam perjuangan melawan kezaliman Israel.(Ap/17/7/2010)

AS dan Strateginya Menghadapi Kebangkitan Islam

Sejak kemenangan Revolusi Islam Iran dan dimulainya proses kebangkitan Islam, wacana dunia Islam memiliki definisi dan makna baru yang tak lagi terikat dengan batasan geografis. Republik Islam Iran sebagai pusat gejolak dan kebangkitan Islam merupakan markas krisis dan gejolak. Harus diakui bahwa pengaruh terpenting dari Revolusi Islam Iran adalah dampaknya terhadap kebangkitan dunia Islam. Prosesnya tidak hanya terjadi dalam kehidupan spiritual individu saja melainkan menjalar hingga ke sektor politik. Saat ini, agama Islam dijadikan sebagai landasan politik dan bahkan undang-undang negara-negara Islam. Sebab itu, gelombang kebangkitan Islam dalam lembaga dan organisasi perjuangan anti-aroganisme kini memilki format baru.

Sejak empat abad lalu, dunia merupakan ajang pementasan kolonialisme dan imperialisme Barat. Namun Revolusi Islam Iran telah mengilhami setiap bangsa untuk bangkit melawan arogansi Barat khususnya AS. Dukungan para pemimpin Republik Islam Iran terhadap lembaga-lembaga Islam di berbagai negara telah menimbulkan kesulitan bagi para kaum arogan yang merasa kepentingan mereka terancam. Pasca kemenangan Revolusi Islam, AS menyusun strategi baru dan menciptakan medan perang baru dalam menghadapi Iran. Propaganda AS dalam hal ini ditargetkan agar dapat membendung perluasan gelombang kebangkitan Islam di Iran ke berbagai negara lainnya. Strategi pertama adalah dengan menghantam pemerintah Iran dalam rangka menampilkan kegagalan sistem pemerintahan Islam.

Dalam dua dekade terakhir AS gagal dalam membendung derasnya arus kebangkitan dan pertumbuhan gerakan-gerakan islami di berbagai negara. Bahkan kini AS merasa sangat terhimpit bahaya besar yang mengancam kepentingannya. Salah satu contohnya adalah perlawanan para pejuang Hezbollah Lebanon menghadapi agresi Rezim Zionis Israel. Kemenangan Hezbollah serta terusirnya pasukan Israel dari wilayah pendudukan Lebaon merupakan alarm bahaya bagi AS dan sekutunya. Mereka mengkhawatirkan gelombang kebangkitan dan perlawasan Hezbollah itu menyebar ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, AS memilih strategi untuk memperlemah peran organisasi Islam di Lebanon dan lebih menitik-beratkan pada peran pemerintah. Namun peluang keberhasilan strategi tersebut sangat kecil mengingat Hezbollah telah memiliki tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat Lebanon. Tidak hanya itu, Hezbollah juga mendapat dukungan spriritual dan finansial dan warga Lebanon dan terus melangkah maju dalam merealisasikan tujuan-tujuan islaminya.

Terlepas dari masalah tadi, AS sendiri juga telah memperluas jangkauan konfrontasinya dengan dunia Islam dengan menggulirkan prakarsa Timur Tengah Raya dan jargon pemberantasan terorisme. Apalagi AS berniat menindaklajuti politiknya itu secara lebih ekstrim dan agresif. Perlu diingat bahwa agresi ke Irak dan Afghanistan merupakan bagian dari pencegahan kebangkitan Islam. Adapun terkait negara-negara tetangga Iran dan di luar kawasan Timur Tengah, AS dan sekutunya juga tampak lebih cerdik dan terperinci dalam meredam gelombang kebangkitan Islam. Caranya adalah dengan menekan pihak pemerintah untuk lebih mempersempit ruang gerak organisasi islami negara negara yang bersangkutan.

Dalam menghadapi fenomena tersebut, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah negara-negara Islam. Pertama, pemerintah dapat bertindak sebagai pengarah kebangkitan dan perkembangan pemikiran islami. Dalam konteks itu, pemerintah juga harus lihai dalam mengantisipasi setiap penyimpangan yang terjadi guna menjaga persatuan. Pada saat yang sama, pemerintah juga dituntut untuk menyusun program jangka panjang khususnya di bidang budaya dalam rangka membendung propaganda asing. Dewasa ini, organisasi pergerakan kecil yang beraktivitas di dalam negeri dapat mempengaruhi transformasi global. Contoh nyatanya adalah gelombang dan gemuruh perjuangan Hezbollah Lebanon melawan pasukan Israel. Dunia menyaksikan besarnya pengaruh kemenangan Hezbollah terhadap transformasi dunia Islam dan global.

Poin kedua adalah dukungan spiritual dan finansial pemerintah terhadap gerakan-gerakan islami agar aktivitas mereka dapat lebih ditingkatkan dalam menghadapi politik konfrontatif asing. Ketiga, pemerintah diharapkan memberikan penjelasan dan definisi yang tepat terkait terorisme agar tidak dapat diselewengkan untuk menumpas gerakan-gerakan islami. Hal ini dinilai sangat urgen mengingat setiap negara Islam memiliki visi dan strategi yang berbeda-beda di sektor politik, budaya, dan ekonomi. Jika hal ini dapat terwujud, penyelarasan kebijakan antarnegara Islam akan dengan sangat mudah tercapai.

Pada hakikatnya, terciptanya peluang interaksi dan kerjasama konstruktif dalam hubungan budaya, ekonomi, politik, dan keamanan, antarnegara Islam dapat mewujudkan akar interaksi dan hubungan yang erat serta berlandasakan pada nilai-nilai Islami.(Ap/17/7/2010)

Zionisme, Ideologi Rasialis

Zionisme dan organisasi semisalnya yang menjadi cikal bakal kelahiran rezim ilegal Israel di tanah Palestina, adalah sebuah gerakan ideologi rasialis, sementara agama hanya dijadikan sebagai alat untuk mendukung merealisasikan cita-citanya. Karena itu wajar jika kaum Zionis tidak pernah menghargai bangsa Arab khususnya Palestina, termasuk mereka yang beragama Yahudi. Sejak berdiri di negeri Palestina, Rezim Zionis telah melakukan berbagai macam kezaliman terhadap bangsa Palestina.

Zionisme terbentuk dari berbagai pemikiran, ideologi dasar, organisasi politik dan sebuah proyek sosial, dengan mencanangkan dua hal yang menjadi cita-citanya. Yaitu, kembali ke negeri yang dijanjikan dan membangun umat Yahudi. Kaum Zionis sejak sekitar 100 tahun lalu, ketika ide pemikiran Zionisme mulai digulirkan berusaha keras untuk mewujudkannya. Hal terbesar yang telah mereka lakukan adalah mendirikan sebuah rezim pemerintahan di negeri Palestina dengan nama Israel tahun 1948.

Lahirnya rezim ini diawali dengan perang yang menyengsarakan rakyat Palestina. Ratusan ribu warga Palestina tewas, terluka dan terusir dari negeri mereka. Semua itu terjadi didepan mata negara-negara adidaya dan sesuai dengan rencana dan skenario yang telah bersama-sama mereka susun. Berdasarkan skenario tersebut, Zionis harus menjadi yang terkuat di kawasan. Untuk itu, segala sarana baik alat-alat militer maupun pengaruh politik gerional dan global harus diperbantukan untuk Israel. Di saat itulah, rakyat Palestina yang tanpa penolong dipaksa mengungsi keluar dari tanah leluhur mereka.

Kisah keterusiran warga Palestina dari negeri mereka juga berusaha disamarkan oleh kaum Zionis. Dengan mendistorsi fakta sejarah, mereka mengatakan bahwa orang-orang Palestina tersebut meninggalkan negeri ini karena terbujuk oleh ajakan para penguasa Arab dan non Arab yang menawarkan perlindungan di luar Palestina. Dengan kata lain, orang-orang Zionis berusaha mengesankan bahwa negeri Palestina adalah negeri tanpa penghuni, sehingga langkah mendirikan negara bernama Israel di negeri ini dapat dibenarkan.

Para pemimpin Rezim Zionis Israel dan para pemikirnya tidak pernah mengakui adanya bangsa bernama Palestina yang hidup di sana. Sebab jika mengakuinya, rezim ini harus memberikan hak-hak kepada orang-orang Palestina sesuai dengan ketentuan internasional. Jika keberadaan rakyat Palestina diakui, berarti Israel harus pula mengakui gerakan perlawanan yang dilakukan para pejuang bangsa ini dalam rangka merebut kembali hak-hak mereka. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip dasar ideologi zionisme.

Pengkaburan atau lebih tepatnya distorsi fakta sejarah itu ditentang luas oleh para peneliti independen, bahkan dari dalam Israel sendiri. Eylan Babey, dosen di universitas Haifa Israel mengatakan, dukomen dan data sejarah mengenai perang tahun 1948 membuktikan bahwa orang-orang Zionis telah melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Palestina untuk memaksa mereka keluar dari negeri ini. Kisah Palestina adalah kisah derita dan tragedi.

Dalam melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina sejak tahun 1948 hingga kini, Rezim Zionis dibantu oleh lembaga-lembaga khususnya antara lain Organisasi Zionisme Herzl. Organisasi ini dididirikan tahun 1897 oleh Theodor Herzl jurnalis Yahudi keturunan Hongaria yang tinggal di Swiss. Organisasi Zionisme Herzl dikenal sebagai sebuah organisasi rasialis dan ekstrem. Nama Zionisme diambil dari nama gunung Zion tempat berdirinya kota Beitul Maqdis atau Jerussalem.

Zionisme bentukan Herzl mencita-citakan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Palestina dan mendirikan tempat peribadatan Kuil Sulaiman di lokasi tempat Masjidul Aqsha berdiri. Dengan cita-cita tersebut, masyarakat dunia menyematkan label rasisme untuk gerakan Zionisme ini. Apalagi untuk mencapai tujuan dan cita-citanya, Zionisme merasa berhak menggunakan segala cara termasuk cara-cara yang paling tidak manusiawi.

Untuk dapat mencapai cita-cita besar seperti itu, orang-orang Zionis merasa perlu merangkul kekuatan-kekuatan adidaya untuk memperoleh dukungan dan bantuan. Upaya itu dituangkan dalam konferensi Baltimur yang digelar tahun 1942 di Amerika Serikat. AS dipilih sebagai tuan rumah konferensi karena di negara ini, orang-orang Yahudi Zionis memiliki pengaruh dan lobi yang cukup kuat. Lebih dari itu, pada dekade 1940-an, AS telah bersiap-siap untuk memimpin Blok Barat yang kapitalis.

Sejak terbentuk, Organisasi Zionisme Herzl telah menyelenggarakan lima tahap konferensi yang membahas berbagai hal berkenaan dengan gerakan ini. Tahap pertama antara tahun 1897 hingga 1903, tema pembahasan yang diangkat berkenaan dengan masalah keagamaan, kesulitan yang ada dalam mengorganisasi para pemeluk agama Yahudi di seluruh dunia, kajian tentang kondisi Palestina dan pengkaderan.

Tahap kedua antara tahun 1904 hingga tahun 1916 dibahas tentang pragram praktis di Palestina, pengkaderan orang-orang Yahudi dan penyelesaian friksi dan silang pendapat yang ada antara para pemuka dan tokoh politik Zionis. Pada tahap ketiga antara tahun 1917 hingga 1947 pembahasan difokuskan pada masalah perombakan struktur organisasi dan upaya untuk memperluas jaringan sampai ke tingkat internasional.

Tahap keempat antara tahun 1948 sampai 1978 diwarnai dengan masalah perang dengan rakyat Palestina, pembagian negeri ini, pengumuman berdirinya Israel, pengukuhan, pengembangan dan modernisasi program untuk menduduki kota suci Beitul Maqdis atau Jerussalem, serta Judaisasi kota ini. Pada rentang masa tersebut, Rezim Zionis mendatangkan imigran Yahudi dari berbagai negara ke Palestina secara besar-besaran. Antara tahun 1979 hingga saat ini, Zionisme mengagendakan program untuk mengeluarkan Israel dari keterkucilan dan membujuk negara-negara Aran untuk mengakui eksistensinya. Dalam rangka ini Israel berhasil merangkul Mesir lewat Perjanjian Camp David, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) lewat Perjanjian Oslo dan Jordania melalui perjanjian Wadi Arbah. Tidak hanya itu, sejumlah negara Arab juga menjalin kontak dan hubungan terselubung dengan Rezim ini.

Lembaga penting kedua yang mendukung program Zionisme adalah Organisasi Militer Haganah yang didirikan tahun 1921 di kota Beitul Maqdis. Organisasi inilah yang menjadi tulang punggung utama gerakan zionisme setelah membentuk angkatan bersenjata untuk mendukung pembentukan negara Israel. Dengan menjalankan program-program zionisme, barisan tentara ini berkembang dan membesar. Orang-orang Yahudi yang pernah terjun di perang dunia kedua membela Inggris ikut bergabung dalam barisan tentara Haganah. Mereka inilah yang lantas ikut memadamkan api perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan antara tahun 1936-1939.

Di penghujung dekade 1930-an, Haganah berhasil membentuk regu-regu perang di bawah komando salah seorang perwira militer Inggris. Kelompok ini menjalankan misi meneror dan menumpas gerakan perlawanan rakyat Palestina. Organisasi Haganah juga berhasil membentuk lembaga kepolisian Yahudi dengan jumlah personil yang bertugas sebanyak 22 ribu orang.

Lembaga berikutnya adalah Organisasi Samuel yang dibentuk tahun 1922, oleh Herbert Samuel yang dikenal sangat ekstrem. Organisasi Samuel didirikan untuk membentuk pemerintahan di negeri Palestina bersama dengan lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi Zionis lainnya. Berbekal dukungan dan bantuan Inggris, organisasi-organsasi Zionisme dengan getol menyeru kepada orang-orang yahudi di seluruh dunia untuk berimigrasi ke Israel.

Sebagai pemikir utama organisasi, Samuel menyusun struktur pemerintahan di Palestina sesuai dengan ide imperialisme. Semua posisi penting diserahkan kepada orang-orang Yahudi, sementara untuk merekrut pegawai diupayakan jumlah yahudi jauh lebih besar dari warga Palestina. Padahal sampai tahun 1930, prosentase warga Arab masih 93 persen di Palestina. Samuel juga mengumumkan bahasa Ibrani sebagai bahasa resmi setelah Arab dan Inggris.

Skenario lain yang dijalankan oleh Organisasi Samuel adalah memudahkan imigrasi Yahudi dari negara-negara lain ke Palestina. Dengan meninggikan pajak atas tanah perkebunan, warga Palestina yang bekerja sebagai petani ditekan dan dipaksa untuk menjual tanah mereka. Di masa itu, kaum Zionis mulai mengaku sebagai pemilik laut mati serta menguasai sungai Jordan, Yarmuk, Auja dan danau Tabariya. Organisasi Samuel dalam sebuah aksinya memberikan tanah-tanah milik warga Palestina kepada para imigran Yahudi. Selain itu organisasi ini juga menjual bank Ottoman, satu-satunya bank yang seratus persen sahamnya dimiliki oleh warga Palestina.

Dalam banyak kesempatan, Samuel dengan angkuh mengaku diri sebagai juru bicara umat Yahudi sedunia. Organisasi Yahudi Samuel saat ini bekerja dengan aktif melalui tiga komisi yang berkantor di Beitul Maqdis, London dan New York, tujuannya adalah untuk membantu Israel mewujudkan cita-cita zionisme.

Organisasi Irgun adalah nama kelompok milisi bersenjata Zionis yang dianggotai oleh orang-orang Zionis ekstrem. Kelompok ini ikut membantu koloni Inggris menumpas gerakan perlawanan rakyat Palestina. Milisi Irgun terlibat dalam banyak kasus pembantaian warga Palestina termasuk dalam tragedi pembantaian massal di Deir Yassin tahun 1948.

Organisasi pendukung Zionisme berikutnya adalah organisasi Hashumir yang memanggul senjata dan melakukan berbagai aksi terorisme. Kelahiran keompok ini tahun 1907 dibidani oleh para tokoh Zionis termasuk David Ben Gurion. Ada pula kelompok lainnya bernama Organisasi Hairut yang merupakan pecahan dari Irgun. Menakheem Begin yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Rezim Zionis Israel ikut meramaikan aktivitas kelompok bersenjata Zionis ini.

Lembaga kepolisian pemukiman Zionis Hahayel adalah satu lagi lembaga yang membantu tereliasasinya cita-cita Zionisme. Lembaga kepolisian ini dibentuk pada masa koloni Inggris atas negeri Palestina antara perang Dunia Pertama dan Kedua. Satuan polisi yang dianggotai sekitar 20 ribu personil ini, sebenarnya dibentuk agar bisa dimanfaatkan oleh Inggris dalam perang dunia kedua. Inggris mengizinkan Hahayel untuk merekrut 30 ribu tenaga muda untuk ikut bergabung dalam satuan ini.(Ap/17/7/2010)

Dimensi Politik Ibadah Haji

Secara etimologis, haji berarti pergi menuju tempat yang diagungkan. Secara terminologis, haji berarti beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik haji, yaitu perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu dengan cara yang tertentu pula. Haji adalah ibadah wajib bagi setiap muslim yang mampu, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 97, "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."

Haji merupakan panggilan Tuhan supaya ummat Islam menjalankan ibadah haji di waktu yang telah ditentukan dan di tempat yang suci dalam rangka membersihkan diri dan bermunajat dengan Allah. Seseorang yang mendapat kehormatan dari Tuhan untuk menjalankan ibadah haji, juga mengemban banyak tugas dan tanggungjawab. Tugas pertama yang diemban oleh jamaah haji di Makkah adalah mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah atau manasik haji. Di samping itu juga, para jamaah haji juga mempunyai tugas dalam memperhatikan kondisi saudara muslim lainnya. Hal itu membuat umat Islam lebih memerhatikan sisi aspek politik dan sosial dari ibadah haji.

Ibadah haji tahun ini diwarnai dengan kesulitan yang dihadapi oleh tiga negara Islam, yaitu Palestina, Irak, dan Afganistan. Bangsa Palestina sejak enam puluh tahun lalu selalu hidup di bawah agresi dan teror yang dilancarkan Rezim Zionis Israel terhadap tanah air mereka. Hingga saat ini, sejumlah besar warga Palestina berada dalam kondisi terlantar dan mengenaskan di bawah tekanan kaum Zionis. Pada saat yang sama, AS menduduki Irak dan dengan membabi-buta mereka membunuhi dan melukai puluhan ribu warga Irak. Hingga kini, AS tidak juga mengumumkan batas waktu penarikan mundur tentaranya dari Irak. Dengan menduduki Irak, AS mengeruk kekayaan minyak yang melimpah di negara itu. Sementara itu, rakyat muslim Afganistan kini masih harus bergelut dengan kemiskinan dan ketidakberdayaan karena negara mereka terus diduduki oleh AS.

Kondisi menyedihkan juga dialami oleh kaum minoritas muslim yang hidup di negara-negara Barat. Saat ini, ketika Barat mengumandangkan yel-yel pembelaan atas hak-hak asasi manusia dan kebebasan, umat Islam justru mendapatkan tekanan dari pemerintah Barat. Politik permusuhan Barat terhadap Islam telah diberlakukan di sejumlah negara. Kebijakan itu semakin meningkat sejak terjadinya serangan 11 September 2001 di Amerika. Sejumlah negara dan media Barat getol menyuarakan bahwa Islam adalah agama yang mendukung segala bentuk kekerasan. Banyak warga muslim di negara-negara Eropa dan AS yang menjadi korban kebijakan seperti ini.

Pada saat yang sama, beberapa negara Islam lainnya menjadi korban tuduhan tak beralasan pihak Washington. Dengan alasan memberantas terorisme, para politisi Gedung Putih melakukan berbagai menekan negara-negara Islam. Menurut pendapat para politisi fanatik AS, umat Islam adalah teroris dan agama Islam adalah agama yang mengajarkan terorisme pada umatnya. Dengan cara seperti ini, Pemerintah Amerika berusaha menghegemoni negara-negara Islam di dunia.
Serangan berbahaya lain yang dilakukan pemerintah AS dan negara-negara Barat terhadap Islam adalah serangan propaganda media massa. Melalui propaganda media massa, negara-negara Barat tidak hanya mengumbar isu terorisme di negara-negara Islam, bahkan mereka berupaya memasyarakatkan budaya bejat mereka di dunia Islam. Upaya tersebut dapat dirasakan oleh dunia Islam lewat berbagai siaran radio dan televisi, koran, buku, situs-situs, dan bahkan lewat barang-barang produksi Barat. Dewasa ini, berbagai fasilitas dan teknologi satelit mutakhir telah memudahkan masyarakat di negara-negara Islam untuk menangkap program negara-negara Barat yang menyajikan acara-acara kotor dan asusila.

Usaha lain yang dilakukan kekuatan-kekuatan imperialis Barat dalam menekan kaum muslimin adalah melalui program-program pendidikan. Islam adalah agama yang selalu menanamkan semangat memerangi kezaliman kepada umatnya. Semangat anti kezaliman inilah yang menjadi kendala terbesar bagi para politisi Barat untuk menguasai dan merampas sumber-sumber ekonomi negara-negara Islam. Untuk itu, Washington berkali-kali menuntut diadakannya reformasi dalam struktur pendidikan negara-negara Islam. Saat ini Gedung Putih sedang membangun pemancar radio-televisi di Timur Tengah dengan tujuan memperluas budaya amoralitas Barat di kawasan.
Di samping propaganda media massa, Barat, khususnya Amerika, juga melakukan berbagai tekanan politik dan ekonomi terhadap dunia Islam. Berbagai macam konspirasi dilancarkan oleh Barat untuk memaksa dunia Islam berjalan di atas sistem yang mereka namakan dengan tatanan dunia baru. Barat juga memaksa dunia Islam untuk menerima kepemimpinan Amerika atas dunia. Ini semua adalah di antara rencana dan propaganda busuk para politisi Gedung Putih untuk menguasai zona-zona kaya minyak di Timur Tengah.

Mengingat semakin meningkatnya volume tekanan dan ancaman dari pihak Barat dan berbagai masalah internal dunia Islam, umat Islam dituntut mampu menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk mencari solusi, atau paling tidak, membuka kesempatan untuk mengakhiri masalah-masalah tersebut. Jalan terbaik untuk membahas dan menyelesaikan masalah dunia Islam adalah dengan diadakannya perundingan dan dialog di antara semua pihak yang terkait. Ibadah haji yang merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin dari seluruh dunia sebenarnya merupakan sebuah konferensi raksasa yang bisa dijadikan sarana untuk penyelesaian masalah-masalah dunia Islam.

Seseorang yang mendapat taufiq dan kesempatan dari Allah Swt untuk menjalankan ibadah haji sesungguhnya mengemban dua tugas dan tanggungjawab. Tugas pertama adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah atau manasik haji. Tugas kedua adalah meningkatkan solidaritas di antara sesama muslim. Adalah hal yang aneh bila lebih dari dua juta umat Islam berkumpul bersama di kota suci Makkah untuk menjalankan ibadah haji, namun mereka tidak peduli dengan kondisi saudara-saudara mereka sesama muslim. Manasik haji yang berlangsung di tempat dan waktu yang telah ditentukan sesungguhnya merupakan konferensi umat Islam yang terbesar. Haji merupakan kesempatan dan peluang besar untuk membangun kekuatan dunia Islam.

Bagi Barat, dunia Islam adalah ancaman baru setelah runtuhnya pemerintah Uni Soviet. Dewasa ini, umat manusia banyak yang mulai menyadari keunggulan nilai-nilai ajaran Islam di hadapan nilai liberalisme yang selama ini selalu diagung-agungkan Barat. Menurut para pemikir Barat, liberialisme adalah konsep hidup terbaik dan terbukti telah berhasil mengalahkan sistem pemerintahan komunis. Namun, kini mereka dihadapkan pada sebuah agama dan ajaran bernama Islam yang tidak saja kaya dari sisi spiritual dan kemanusiaan, melainkan juga menawarkan keadilan untuk umat Islam bahkan untuk seluruh masyarakat dunia. Ajaran Islam pun dengan mudah mematahkan konsep-konsep liberalisme yang sesungguhnya sangat rapuh itu.

Oleh karena itulah, para penguasa di Barat melakukan berbagai cara untuk melemahkan dunia Islam. Di antara cara yang mereka lakukan adalah memecah belah dunia Islam. Melalui media-media yang mereka kuasa, kekuatan-kekuatan imperialis Barat berusaha menyebarluaskan perpecahan dan perbedaan antar-mazhab. Selain itu, mereka juga mendirikan organisasi-organisasi Islam ekstrim untuk digunakan mencoreng wajah Islam. Contoh paling besar dalam hal ini adalah pendirian Al Qaeda dan Taliban oleh AS. Kelompok ekstrim ini kemudian melakukan teror atas nama Islam dan Barat pun memanfaatkan fenomena ini untuk menyelewengkan wajah Islam di mata dunia.

Ibadah haji memberi kesempatan kepada para jemaah haji untuk saling mengenal antar sesama muslim dan mengetahui masalah dalam negeri setiap negara. Tanpa harus terjebak pada berita-berita miring media massa Barat, para jemaah haji dapat mengetahui secara langsung kenyataan yang terjadi di dunia Islam. Inilah salah satu perintah Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang sedang menunaikan ibadah haji. Allah menyuruh para jemaah haji untuk mendapatkan manfaat yang tak terhingga dari ibadah mereka. Dalam ayat 97 surat al-Maidah, Allah Swt berfirman, "Allah menjadikan Ka'bah Baitul Haram sebagai sarana untuk mensejahterakan masalah masyarakat."

Berbagai perpecahan yang terjadi di antara umat Islam sesungguhnya adalah sebab utama dari kelemahan kaum muslimin. Bila kaum muslimin sedunia menyadari konspirasi jahat musuh-musuh Islam dalam memecah-belah kaum muslim, sudah tentu jalan menuju kemenangan Islam akan terbuka lebar. Dalam kondisi seperti ini, bisa dibayangkan betapa strategisnya ibadah haji. Ibadah haji merupakan saat berkumpulnya jutaan kaum muslimin sedunia pada satu tempat dan satu waktu. Sudah seharusnya konferensi besar umat Islam ini dipakai untuk mempererat persaudaraan dan menjalin perjuangan bersama melawan musuh-musuh Islam.

Berkumpulnya umat Islam di Makkah merupakan kesempatan istimewa bagi para jemaah haji untuk mewujudkan persatuan di hadapan musuh-musuh Islam. Para jemaah haji adalah wakil masyarakat dunia Islam. Dengan seruan persatuan dan kebersamaan, mereka akan mampu membuktikan persatuan dan kekuatan umat Islam di mata dunia. Sikap seperti ini tidak hanya akan menjadi peringatan untuk kekuatan-kekuatan agresor, melainkan juga membawa pesan bagi negara-negara Islam bahwa keagungan dan kemuliaan umat Islam berada dalam kekuatan iman, kebersamaan, wawasan, dan rasa percaya diri masyarakat Islam.

Kebangkitan kesadaran mengenai dimensi politik ibadah haji mulai muncul sejak Republik Islam Iran berdiri. Atas gagasan pemerintah Islam Iran, setiap musim haji, selalu diadakan berbagai khutbah yang menyeru persatuan umat Islam sedunia. Para jemaah haji dari semua negara juga diseru untuk ikut serta dalam demonstrasi akbar yang menyuarakan penentangan kepada kekuatan-kekuatan adidaya dunia yang saat ini sedang menindas dunia Islam.

Demonstrasi untuk menunjukkan kebencian jemaah haji terhadap kezaliman pemerintah Amerika dan Rezim Zionis merupakan langkah untuk mematuhi firman Allah Swt dalam al-Quran surat al-Bara'ah (at-Taubah) ayat 3 yang berbunyi, "Allah dan Rasul-Nya mengumumkan pada hari haji akbar, bahwa Allah Swt dan Rasul-Nya berlepas tangan dari kaum musyrikin".

Berlepas tangan dari kaum musyrikin artinya menentang segala bentuk kezaliman dan penindasan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Sikap berlepas diri ini seharusnya diimplementasikan dalam politik negara-negara Islam sedunia, antara lain, menentang penjajahan yang dilakukan negara-negara imperialis terhadap negara-negara muslim, seperti Palestina, Irak, dan Afganistan, serta menolak segala bentuk dominasi dan hegemoni yang akan merugikan dan menyengsarakan kaum muslimin. Bila dunia Islam bersatu dan kompak, musuh-musuh Islam pasti akan terkalahkan. Persatuan dan kekompakan negara-negara muslim sedunia inilah yang seharusnya digalang melalui ibadah haji.(Ap/17/7/2010)

Bulan Sabit Syiah, Fakta Ataukah Ilusi?

Semua peristiwa itu telah memicu kemarahan umat Islam sedunia terhadap kebijakan dan sepak terjang Gedung Putih. Para petinggi AS bahkan mengakui bahwa AS yang dipimpin Bush Junior semakin dibenci di dunia.

Empat tahun lalu, tepatnya pada bulan Juli dan Agustus 2006, nama Gerakan Hizbullah Lebanon mencuat dan harum karena keberhasilannya menundukkan kedigdayaan militer rezim Zionis Israel. Kemenangan Hizbullah ini sekaligus merusak strategi dan rencana AS di kawasan. Untuk membalas kekalahan ini, AS dan Israel dalam beberapa bulan terakhir gencar melakukan serangan propaganda dalam skala luas dengan mencuatkan isu adanya hilal atau bulan sabit Syiah yang membentang dari Iran lalu Irak, Suriah dan Lebanon. Dikatakan bahwa Syiah telah merebut kendali kekuasaan di negara-negara tersebut dan ini berarti ancaman bagi kaum muslim Sunni dan bangsa Arab secara umum.

Istilah Hilal Syiah pertama kali diucapkan oleh Raja Jordania Abdullah II. Pernyataan tersebut direaksi keras dan negatif oleh banyak negara dan kalangan politik. Menyusul pernyataan Raja Abdullah, beberapa pejabat tinggi dari sejumlah negara Arab dalam banyak kesempatan mengesankan bahwa Syiah adalah kelompok yang berbahaya. Muslim Syiah adalah kelompok yang eksis di banyak negara muslim dan non muslim, sama seperti eksistensi muslim pengikut empat madzhab Ahlussunnah.

Kekhawatiran terhadap Syiah tidak beralasan, mengingat madzhab ini memegang teguh ajaran al-Quran dan Ahlul Bait as, keduanya adalah pusaka yang ditinggalkan Nabi Saw untuk umat Islam. Dalam hadis Nabi yang terkenal beliau Saw bersabda, "Aku tinggalkan untuk kalian dua buah pusaka yang dengan berpegangan dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, al-Quran dan Ahlu Bait-ku. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku kelak di telaga Surga.

Di negara-negara seperti India, Pakistan, Afganistan, dan Kuwait, muslim Syiah meski minoritas, tetapi eksistensi mereka cukup diperhitungkan. Di Iran, Irak, Bahrain, Azerbaijan, dan Lebanon, muslim Syiah menempati posisi mayoritas. Berdasarkan prinsip demokrasi sudah sepatutnya kelompok Syiah memegang kendali kekuasaan jika mereka mayoritas di negara-negara tersebut. Demikian pula halnya dengan kelompok di neara-negara yang mayoritas penduduknya bermadzhab Ahlussunnah. Meski demikian, tidak berarti mayoritas akan mengabaikan hak-hak minoritas dan kepentingan nasional.

Di Iran, setelah kemenangan revolusi Islam tahun 1979, diselenggarakan beberapa kali pemilihan umum yang bebas. Wajar saja bila di Iran mereka yang terpilih kemanyakan bermadzhab Syiah, sebab memang Syiah adalah mayoritas di negara ini. Tetapi kesyiahan mereka bukan berarti ancaman bagi saudara-saudara mereka yang Sunni. Di Iran, kelompok minoritas Sunni memiliki wakil di parlemen serta lembaga-lembaga pemerintahan dan lainnya. Bersama dengan yang lain, mereka ikut berperan memajukan negara ini.

Tahun 2003, menyusul tergulingnya rezim Baath pimpinan Saddam Hossein, rakyat Irak untuk pertama kali menggelar pemilihan umum yang bebas untuk membentuk pemerintahan demokratis. Irak adalah negara dengan mayoritas warga yang muslim Syiah. Karena itu wajar jika dalam pemilu mayoritas kursi parlemen direbut oleh para kandidat dari kubu Syiah, sehingga kemudian mereka pula yang berhak membentuk pemerintahan.

Di Bahrain beberapa waktu lalu, dilangsungkan pemilu. Di negara ini kelompok Syiah juga berhasil merebut banyak kursi. Meski demikian, kekuasaan tetap berada dalam genggaman keluarga Al Khalifah. Di Lebanon, meski warga Syiah telah memberikan pengorbanan yang besar dalam menghadapi agresi Rezim Zionis Israel, namun peran Syiah di pemerintahan masih sangat kecil. Padahal, Syiah adalah mayoritas di negara itu. Di seluruh wilayah Timur Tengah, kaum Syiah hanya memegang kekuasaan di dua negara, yaitu Iran dan Irak.

Selain Iran, Irak, Bahraian dan Lebanon, di seluruh negara Timur Tengah, Syiah tidak menempati posisi mayoritas dan kelompok muslim Sunni memegang kenbdali pemerintahan sejak dahulu sampai kini. Di sejumah negara, kaum Syiah bahkan ditekan dan diperlakukan secara diskriminatif. Karena itu dapat disimpulkan bahwa isu Hilal Syiah yang digembar-gemborkan saat ini, tak lebih dari kamuflase belaka untuk kepentingan politik kekuatan-kekuatan imperialis dunia. Sebab dengan memompa isu ini, mereka berharap bisa mnengadu domba antara muslim Syiah dan Sunni.

Ada satu pertanyaan penting. Mengapa sejumlah negara dan media di negara-negara muslim ikut mengungkapkan isu yang sama? Tak diragukan bahwa eskalasi pertentangan dan perselisihan di tengah umat Islam hanya menguntungkan musuh-musuh mereka, terutama AS dan Rezim Zionis Israel. Jajak pendapat menunjukkan bahwa sejak peristiwa teror 11 September dan penduduka atas Irak, umat Islam di dunia semakin membenci AS. Untuk itu, salah satu cara melemahkan kaum muslimin adalah dengan menebar permusuhan antara Syiah dan Sunni dengan isu picisan, ancaman Hilal Syiah.

Sejak serangan AS ke Afghanistan pada tahun 2001 dan pasca pendudukan Irak, telah dilakukan berbagai jajak pendapat khusus dengan responden muslim. Hasil polling itu menunjukkan bahwa kebencian umat Islam terhadap AS kian meningkat. Dengan demikian, pengalihan perhatian opini umat Islam terhadap Bulan Sabit Syiah dan ancaman infaktualnya terhadap dunia Islam, akan sangat menguntungkan pihak musuh.

Salah satu tujuan di balik propaganda Bulan Sabit Syiah dan gerakan anti-Syiah di Timur Tengah adalah upaya untuk mereduksi dukungan masyarakat regional terhadap organisasi atau gerakan anti-AS dan Rezim Zionis seperti Hizbullah di Lebanon. Di pihak lain, para penguasa negara-negara kawasan yang mengemukakan masalah Bulan Sabit Syiah, berupaya menampilkan sebagai pendukung interes AS di hadapan ancaman umat Syiah. Dalam hal ini, journal Dewan Hubungan Luar Negeri AS menyebutkan poin ini bahwa ketika Raja Jordania Abdullah II berbicara tentang Bulan Sabit Syiah, maksudnya adalah ia akan menjaga seluruh kepentingan AS di kawasan dengan harapan AS juga akan berinvestasi di Jordania.

Tak diragukan lagi bahwa konflik dan perpecahan antara Syiah dan Sunni yang diupayakan AS akan membuka medan konfrontasi antara negara-negara Islam. Kondisi seperti itu adalah yang paling ideal bagi Gedung Putih. Apalagi propaganda tersebut diamini oleh sejumlah media massa Arab dengan menebar isu anti-Republik Islam Iran dengan alasan anti-Syiah. Contohnya, Presiden Mesir, Husni Mobarak, pasca kemenangan Hezbolah Lebanon melawan Rezim Zionis Israel mengatakan, "Orang-orang Syiah di negara-negara Arab lebih loyal terhadap Republik Islam Iran daripada tanah air mereka sendiri". Klaim Mobarak itu ditentang keras warga Syiah Arab dan menilainya sebagai sebuah penghinaan.

Klaim itu jelas sangat infaktual mengingat sejarah membuktikan bahwa mereka sangat loyal terhadap bangsa dan tanah air mereka. Contohnya dapat dilihat dalam perjuangan Hizbullah Lebanon melawan Rezim Zionis Israel atau para pejuang Syiah Irak dalam melawan pasukan Inggris pada awal abad ke 20 lalu. Perhatian warga Syiah Arab terhadap Iran berlandaskan pada ikatan batin saja dan tidak berarti ketidakloyalan mereka terhadap bangsa sendiri.

Para pengamat berpendapat bahwa klaim-klaim infaktual terhadap Republik Islam Iran soal intervensinya di negara dan lembaga Syiah di kawasan, adalah untuk melemahkan peran konstruktif Iran di dunia Islam. Karena Republik Islam Iran dengan independensi dan penentangannya terhadap kebijakan konfrontatif AS, menjadi model sistem pemerintahan Islam di dunia. Bahkan selama ini Iran selalu mengupayakan kekompakan dunia Islam. Ini semua merupakan refleksi dari ajaran Islam yang selalu menekankan persatuan, solidaritas, kekompakan, dan mengindari perpecahan dan konflik. Dukungan Iran terhadap bangsa Palestina, Lebanon, Afghanistan, Bosnia, dan negara Islam lainnya, membuktikan bahwa Republik Islam Iran pendukung seluruh umat Islam baik Syiah maupun Sunni. Republik Islam Iran mendukung penuh persatuan umat Islam di hadapan arogansi AS dan negara-negara Barat lainnya.(Ap/17/7/2010)


Tags:

0 comments to "Kebijakan haus perang AS...!!!..."

Leave a comment