Home , , , � ‘Perang’ Dagang Dua Adidaya

‘Perang’ Dagang Dua Adidaya

‘Perang’ Dua Adidaya Itu Terus Berkobar

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Timothy Geithner mengklaim bahwa Cina setuju untuk meningkatkan nilai tukar mata uangnya, Yuan. Dalam sebuah wawancara televisi hari Ahad lalu di Beijing, Geithner mengatakan bahwa dirinya yakin Cina akan komitmen dengan kesepakatan untuk menaikkan nilai tukar mata uangnya. Pernyataan itu diungkap Menteri Keuangan AS di saat dua hari lalu, di sela-sela sidang para Menteri Keuangan Kelompok G20 di Korea Selatan. Sementara Cina menyatakan menolak penentuan jadwal waktu bagi perbaikan nilai tukar mata uang dunia. Sikap itu dinilai banyak banyak kalangan sebagai bentuk keputusan Beijing untuk menaikkan nilai tukar Yuan secara bertahap.

Sidang G20 sendiri sebenarnya sudah menyepakati untuk tidak menurunkan nilai tukar mata uangnya masing-masing. Kesepakatan itu tidak meniscayakan kenaikan nilai tukar Yuan terhadap USD. Tahun lalu, Cina pernah menjanjikan kenaikan nilai tukar Yuan. Setelah setahun, nilai Yuan memang naik, namun dengan selisih yang sangat kecil dan sama sekali tak mempengaruhi nilai ekspor Cina.

Tahun 2009, Cina menduduki peringkat pertama di dunia dengan ekspor tertinggi yang mencapai nilai 1200 miliar USD Cina. Nilai ekspor setinggi itu telah melampaui Jerman. Selisih neraca pedagangan negara dengan jumlah populasi 1,3 miliar jiwa itu setiap tahunnya mencapai 250 miliar USD. Cadangan devisa Cina juga mengagumkan dengan mengukir angka spektakuler 2,422 trilyun USD yang sekaligus mendudukkannya sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar. Padahal, AS hanya menempati urutan ketujuh belas dunia dengan cadangan devisa sebesar 130 miliar USD dan bahkan berada di bawah Brazil, Aljazair dan Thailand.

Dalam perang ekonomi antara dua kutub kekuatan dunia, AS memang tertinggal jauh di belakang Cina. Tak heran jika AS menyalahkan Cina lantaran keengganan Beijing menaikkan nilai tukar mata uangnya. Cara itu, menurut AS, adalah trik Cina untuk meraih keuntungan dalam perdagangan kedua negara. Saat ini, setengah dari neraca defisit perdagangan AS terkait dengan hubungan dagangnya dengan Cina. Masih menurut AS, Beijing sengaja menahan kenaikan nilai tukar Yuan sehingga membuat barang-barang Cina yang murah membanjiri pasaran Amerika. Tahun 2009, nilai ekspor AS ke Cina hanya sebesar 70 milair USD sementara nilai ekspor Cina ke negara itu mencapai 366 miliar USD.

Tentunnya Cina tak tinggal diam menjadi sasaran tuduhan itu. Beijing menyatakan bahwa ketimpangan neraca perdagangan AS disebabkan oleh tradisi orang Amerika yang hobi belanja sementara harga barang-barang produk lokal cukup mahal. Kalah dalam perang dagang ini, AS mengancam hendak memberlakukan sanksi perdagangan atas negara itu. Cina pun balas menggertak dan menyatakan siap melakukan tindakan balas jika sanksi benar-benar dijatuhkan oleh AS. Yang jelas, dalam banyak hal AS sangat bergantung kepada Cina. Apalagi lebih dari 800 miliar USD obligasi AS ada di tangan Cina. (IRIB/AHF/SL/25/10/2010)

1 comments to "‘Perang’ Dagang Dua Adidaya"

Leave a comment