Home , , , � Ibnu Sina / Avicenna Mausoleum / Buali Sina , dan Tahukah Anda? Husain adalah nama kecil Ibnu Sina

Ibnu Sina / Avicenna Mausoleum / Buali Sina , dan Tahukah Anda? Husain adalah nama kecil Ibnu Sina























Melacak Jejak Matahari Timur: Sebuah Kontemplasi di Avicenna Mausoleum
Oleh:Afifah Ahmad

Siang itu langit Hamadan terlihat benderang, sesekali awan-awan tipis melintas di antara langit biru yang membentang. Kutatap lekat ujung runcing menara Avicenna yang menjulang ke angkasa, seakan ingin menembus batas biru. Arsitektur bangunan ini memang terbilang unik, diilhami oleh Gombad-e Kabud, bangunan berseni tinggi pada masa kejayaan Islam. Konon, menara setinggi 28,5 meter dengan 12 tiang ini, dibangun dalam rangka memperingati 1000 tahun kelahiran Ibnu Sina.

Ah..siapa yang tak mengenal nama besar Ibnu Sina, Avicenna atau di Iran lebih dikenal dengan sebutan Buali Sina. Kecemerlangannya telah mewarnai abad keemasan Islam. Bagi dunia Islam, Ibnu Sina seumpama Aristoteles bagi Yunani, Goethe di Jerman, atau Leonardo da Vinci dalam renaisans. Sumbangsih pengetahuannya merentang dari filsafat ketuhanan, kedokteran dan farmasi hingga seni. Menurutku, ia layak mendapat tempat istimewa dan menara ini nampaknya pas sebagai hadiah kecil atas jasa-jasanya.

Di bagian bawah menara inilah, Ibnu Sina beristirahat untuk selamanya. Batu marmer dari pegunungan Alvand yang bertuliskan puisi-puisi karyanya, menutup jasadnya yang telah terbaring lebih dari seribu tahun lalu. Seluruh dinding ruangan ini dipenuhi pigura-pigura cokelat muda berisi tanaman obat-obatan yang sudah dikeringkan, di sampingnya tertulis nama serta khasiat tanaman tersebut. Sedangkan di setiap sudut ruangan ini, terdapat lemari kaca yang memuat toples-toples kecil berisi biji-bijian serta rempah berkhasiat.

Tampaknya, berbagai koleksi ini mengambil sumber dari buku The Canon of Medicine yang memang banyak memuat khasiat tumbuhan tradisional. Menyelami ruangan ini, sama sekali tak ada kesan seram dan menakutkan, bahkan aku merasa sedang berada di sebuah galeri obat tradisional, asri, bersih dan benderang.

Dua ruangan lain saling bersebelahan, salah satunya memajang berbagai peralatan sederhana yang pada masa Ibnu Sina digunakan sebagai alat bedah. Tak henti kuucap syukur pada Sang Pencipta ilmu dan cinta yang menitipkan pada manusia akal untuk mencari dan hati untuk berbagi, lewat benda sederhana itu berapa banyak manusia yang telah terangkat deritanya.
Selamanya, ketinggian pengetahuan memang harus bersanding dengan kedalaman cinta. Jika tidak, ia hanya akan menuai bencana bagi sesama. Satu hal lagi yang menarik di bilik ini, sebuah lukisan besar Ibnu Sina yang terpasang menghadap pintu masuk. Penempatan photo ini terasa pas. Bagaimana tidak, setiap pengunjung yang memijakkan kaki pertamanya di ruangan ini, akan merasa sedang disambut oleh seorang tokoh baik hati nan bijak. Putra saya yang berusia empat tahun saja ikut terpana memandangnya. Ah..rasanya aku ingin berbincang sesaat dengannya, kalau saja waktu tak mendesak-desak mengajakku meng-akrabi bilik lainnya.

Sebuah ruangan lain dengan rak buku besar dan beberapa bangku kayu berplitur coklat muda, begitu memukau mataku. Di sinilah, berbagai manuskrip dan dokumentasi tertulis Ibnu Sina disimpan dengan baik, bahkan ada yang masih dalam bentuk tulisan tangan.

Buku-buku karya tokoh ternama yang mengulas hidup, kiprah serta pemikiran Ibnu Sina juga turut diabadikan di tempat ini. Misalnya, buku Syahr-al Asbab Tib karya Samarqandi atau Syahr al-Qanun karya Ibnu Nafis. Sebuah rasa haru menyeruak saat memirsa lembaran demi lembaran, buku dan berbagai dokumentasi lain. Selama bertahun-tahun tulisan ini terus dikenang, diapresiasi, dikritisi hingga menginspirasi lahirnya karya-karya baru.

Tak ingin kulewatkan bilik ini begitu saja, kududuk di atas bangku kayu, sementara bola mataku masih mengitari ruangan. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia datang dan pergi silih berganti menjenguk warisan Islam ini. Dan akupun datang dari negeri jauh di Tenggara Asia. Akankah aku pulang hanya dengan segenggam cerita kejayaan Islam? Cukupkah sejarah itu hanya jadi kenangan indah? Ah....aku tak ingin sekedar beromantisme sejarah...! Karena, sejatinya sejarah ibarat cermin untuk menilik diri dan laku hidup.

Di sini, di ruang asri yang pernah menjadi saksi sejarah perjalanan Ibnu Sina, ingin kutelisik kembali riwayat hidupnya untuk kupetik bulir-bulir hikmah yang berserakan.

Belajar itu Butuh Dukungan!

Tak ada yang menyangkal kecerdasan Ibnu Sina. Di usia belasan tahun ia sudah mulai membaca buku terjemahan Metafisika milik Aristoteles. Di masa kanak-kanak, ia sering mengajukan pertanyaan ‘tak wajar' pada gurunya. Suatu hari di kelas logika, saat gurunya sedang menjelaskan pengertian jins (genus) "Jins adalah sesuatu yang memiliki berbagai anwa' (species)" Ibnu sina langsung interupsi dan menyatakan keberatannya, "Bagaimana pengertian jins bisa dipahami, kalau istilah nau sendiri belum dimengerti. Bukankah fungsi pengertian itu untuk menjelaskan sesuatu yang samar?" Dan tidak sedikit kisah yang mengangkat kecerdasan Ibnu Sina.

Tapi, menurutku tak akan ada nama besar Ibnu Sina tanpa dukungan luar biasa dari Abdullah, sang ayah. Abdullah sangat tanggap dengan potensi yang dimiliki putranya. Ia pun berhijrah memboyong keluarga dari dusun kelahirnya ke kota Bukhara, demi mencari tempat belajar kondusif bagi Husain, nama kecil Ibnu Sina. Tak henti, ia mencari guru yang mumpuni sampai akhirnya bertemu Mahmud Massah, penjual sayur yang jago matematika. Ia juga rela bersusah payah ‘merayu' Abu Abdullah Natli untuk tinggal di rumahnya dan berbagi ilmu dengan putranya.

Aku yakin, di penjuru negeriku sana tak sedikit orang cerdas dan gemilang, namun seringkali dibenturkan pada kondisi ekonomi. Keagungan potensi mereka sering kali berakhir dan mengulang elegi Lintang dalam cerita Laskar Pelangi. Harus ada ‘tangan-tangan' Tuhan yang menggantikan ayah lahiriah, karena tak semua anak seberuntung Husain kecil. Barangkali banyak yang sudah memulai, tapi tetap saja proporsinya belum berimbang. Ah.... seandainya saja setiap kita menyisihkan puluhan ribu rupiah saja perbulan khusus untuk dana ini. Kita bisa membayangkan, ini akan menjadi angka yang signifikan untuk membiayai kuliah seorang mahasiswa berprestasi. Yang jelas kusadari, dukungan materil saja belum cukup, tapi setidaknya bisa menjadi pintu pembuka.

Belajar dari Banyak Situasi

Keputusan Ibnu Sina untuk bertualang dan meninggalkan tanah kelahiran, awalnya dipicu oleh sikap mencari kemerdekaan, karena tak ingin menjadi ‘abdi dalem' seorang raja despotik yang setiap saat menyengsarakan rakyat negerinya sendiri.

Ia berkelana dari satu tempat ke tempat lain, merasakan langsung badai pasir mematikan saat tersesat di gurun gersang, menjumpai banyak orang dengan beragam karakter. Di Iran sendiri, ia pernah singgah di kota Gorgan, Ray, Hamadan dan terakhir meninggal saat dalam perjalanan menuju Isfahan. Tak hanya Ibnu Sina, hampir semua ilmuwan saat itu melakukan perjalanan intelektual ke berbagai pelosok negeri.

Tak disangkal, perjumpaan dengan berbagai situasi sosial, politik dan budaya akan melahirkan ‘benturan' tersendiri dalam pembentukan karakter juga pola pikir seseorang. Tapi, lagi-lagi masalahnya adalah soal kelangkaan ‘ongkos'. Karena itu, kupikir perjalanan fisik bukanlah harga mati, yang terpenting adalah sebuah kesiapan untuk belajar dari banyak situasi yang berbeda, bisa lewat orang di sekitar atau melalui buku dan pemikiran yang berbeda.

Dokumentasi....oh Dokumentasi!

Saat kulihat buku The Canon of Medicine yang masih bersampul kulit warna hitam di area perpustakaan ini, sebuah monolog segera meluncur tak terbendung: "Ya, catatan inilah penghubung ilmu antargenerasi...!" Melalui tulisan-tulisan ini, pemikiran Ibnu Sina mengilhami berbagai temuan baru, jauh setelah kepergiannya.

Konon, buku ini masih diajarkan di beberapa fakultas Kedokteran di Eropa seperti Perancis dan Belgia sampai tahun 1650 M, dan hingga abad ke 16 buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa latin sebanyak 20 kali.

Sekarang ini, banyak pikiran-pikiran gemilang para tokoh yang belum terdokumentasikan dengan baik, atau buku-buku menarik bahasa asing yang belum diterjemahkan. Persoalan utamanya adalah buku-buku ‘berat' seperti ini, seringkali tergusur dari percaturan pasar buku yang maha ‘seram.' Tampaknya, perlu terus dikembangkan kerja sosial yang bertujuan ‘membidani' kelahiran buku-buku semacam ini.

Logika dan Filsafat, Perlukah?

Jika menilik perjalanan para ilmuwan klasik, di samping bidang khusus yang mereka kuasai, diperkuat juga dengan ilmu logika dan filsafat. Ibnu Sina sendiri, mulai belajar logika sejak kanak-kanak dan dilanjutkan dengan mengenal dasar-dasar filsafat. Menurut pendapatku pribadi, dua dasar ilmu ini akan memperkokoh pondasi ilmu-ilmu selanjutnya yang kita minati baik ilmu hukum, jurnalisme, kedokteran bahkan seni. Tapi, tidak juga terlalu lama ‘bermesraan' dengan keduanya, kecuali bagi mereka yang memang sejak awal ingin ‘tinggal' lama di dalamnya.

Sementara yang kutahu selama ini, ilmu logika hanya menyusup ‘malu-malu' di pelajaran matematika sekolah menengah pertama dan lanjutan. Sedang filsafat baru diselipkan di semester awal perkuliahan, itupun lebih berupa pengantar sejarah filsafat ketimbang dasar-dasar filsafat yang diperlukan. Bahkan, bagi sebagian kalangan, filsafat seumpama ‘musuh' yang boleh dipelajari sekedar untuk mencari titik kelemahan. Tak jarang juga yang menyebut filsafat sebagai ‘monster'. Ah....siapapun boleh berpendapat, tapi lihatlah sekali lagi, bukankah para ilmuwan muslim kita juga berangkat dari logika dan dasar-dasar filsafat?

Catatan terakhir dan yang tak kalah penting adalah integrasi ilmu, bahwa ilmu apapun yang dipelajari tak lepas dari aspek moralitas yang ada di dalamnya. Catatan ini akan sangat panjang, mungkin di lain waktu bisa kita lanjutkan. Hari sudah mulai mendung, banyak tempat yang belum kukitari, sampai bertemu lagi di catatan berikutnya.

Hamadan, Pertengahan Musim Gugur 2010 (IRIB/18/11/2010)

2 comments to "Ibnu Sina / Avicenna Mausoleum / Buali Sina , dan Tahukah Anda? Husain adalah nama kecil Ibnu Sina"

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

  2. Suka tidak Suka... Islam sekarang terbagi 3, yaitu Islam ala wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi pendukung teroris isis sang penebar kebencian sesama ummat manusia dan ummat islam (BENCI MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR), Islam Sunni yang diwakili Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia yang dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Indonesia (CINTA MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR), kemudian Islam Syi'ah yang diwakili Islam Syi'ah 12 Imam / Mazhab Jakfari yang dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Islam Iran (CINTA MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR)..... Jadi PILIH yang MANA ???? pilih pendukung teroris atau pendukung perdamaian seperti Republik Indonesia dan Republik Islam Iran ...?????!!!!

Leave a comment