Home , , , � Masa Sih Albert Einstein Seorang Syiah?

Masa Sih Albert Einstein Seorang Syiah?




Kantor berita Iran IRIB (24/9) baru-baru ini melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. IRIB mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.

Berdasarkan laporan situs mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis punya muatan seperti ini tidak bakal di mazhab lain. Hanya mazhab Syiah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas. Sayangnya, kebanyakan ilmuannya tidak mengetahui hal itu.

Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan mikraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.

Salah satu hadis yang menjadi sandarannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syiah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”.

E = M.C² >> M = E : C²

Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah al-Uzma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Sumber: eramuslim dan “Bagaimana Sebuah Hadis Membuat Einstein Terkesima?”

Catatan: Semua kembali kepada pembaca! Saya coba cari link dari situs luar ternyata susah. Dari sebuah situs forum diskusi, seperti biasa muncul teori konspirasi di mana para ilmuwan Eropa berusaha menutupinya. Saya juga coba cek daftar publikasi milik Einstein tapi enggak nemu judul “Die Erklarung”, yang ada salah satunya adalah “Erklärung der Perihelbewegung des Merkur aus der allgemeinen Relativitätstheorie” (Explanation of the Perihelion Motion of Mercury from the General Theory of Relativity).

Saya tidak terlalu peduli dengan kebenaran berita ini. Tapi ada satu hal yang bisa kita cermati. Kita, umat muslim, harus kembali untuk mempelajari sumber-sumber asli agama ini, mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, politik, dan sebagainya. Bukankah umat muslim pernah merasakan era keemasan saat Eropa masih dalam kegelapan? Entahlah… tapi yang pasti, saya menemukan gambar “ayatullah” Einstein :lol:


Komentar :

  1. Informasi baru bagi sy, terlepaas benar atw salah yg jelas Einstein adalah ilmuwan genius ….

    dedekusn

    25 September, 2010 pada 23:52


  2. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

    ada enggak filenya?

    ali akbar

    26 September, 2010 pada 06:09


    • Kalau tulisan tangan ada, tapi ana enggak tau mana yg berhubungan dng hal ini

      Ali Reza

      26 September, 2010 pada 08:57


  3. Tiga tahun lalu saya baca artikel itu. Saya pun terinspirasi untuk melakukan sesuatu. Dg sedikit perubahan dlm konsep gerak, saya temukan suatu rumus yg dpt jelaskan mengapa HAJAR SAKHRAH dpt terapung. Kebetulah di Rajab pd syahadah Imam Musa Kazhim as, sehingga saya beri nama SIMETRI II KAZHIMI.

    Waktu berlalu, saya temukan dr ayat 2.261 dan 8.41 dlm bentuk yg aksiomatik, bhw 1/2 x NAFQAH = 1 Tahun Hijriyah x KHUMS, rumus yg lbh umum dan berlaku utk smw hukum fisika.

    Cukup alasan utk menyebut simetri (symmetry), dan bukan sekedar postulat spt Einstein.

    Segera stlh itu, muncullah SIMETRI I KAZHIMI, “setiap kerangka simetri memiliki bulan”. Istilah “kerangka simetri” menggantikan kerangka inersia Einstein yg hayali. Dg munculnya bulan, maka sebuah ungkapan indah pun muncul, PURNAMA KAZHIMI SINGKIRKAN GERHANA LORENTZ. Dan cita2 Einstein ttg Unified Field Theory (teori medan terpadu) pun terbentuk

    abdullah al-musawi

    26 September, 2010 pada 06:58


    • Cerdas! Tapi saya belum paham :(

      Ali Reza

      26 September, 2010 pada 09:01


  4. saya baru tau Gan…
    wah hebat…
    :D

    jaya subagja

    26 September, 2010 pada 15:27


  5. Gara2 artikel ini anak2 Keluarga Cinta pd demam Einstein:-)

    Tp tiba2 saya jd teringat konsep Alam Semesta Statik, nama dr Einstein tp beda dlm representasi. Lalu buru2 saya buat artikel singkat ttg BUMI DIHAMPARKAN (lihat note di akun fb FISIKA EKONOMI KHUMS).

    Yg dr Einstein adl sifat KOVARIAN waktu dr benda jatuh bebas, waktu positif (maju) dan waktu negatif (mundur) itu sama, sesuai postulat pertama relativitas khusus.

    Scr PSIKOSIMETRI, bumi dibentangkan adl dibentangkan pd permukaan gravitasi tetap. Ini pengalaman psikologis yg dpt jd hipotesa.

    Dapatkah hipotesa itu dibuktikan?

    Ya! Yaitu terbukti ditemukan gerak pergeseran bumi sama dg kecepatan bumi mengelilingi matahari skitar 30.000 m/det.

    Jangan bingung lg atuh:-)

    Jangan lupa baca noteku ya

    abdullah al-musawi

    27 September, 2010 pada 02:30


    • Mungkin ini memang bukan bidang saya :D Ada istilah-istilah yg saya sudah lupa artinya. Tapi menarik sekali note-nya; menarik karena bahasanya mudah dipahami awam seperti saya. Terima kasih ;)

      Ali Reza

      27 September, 2010 pada 09:05


  6. ga mungkin! haha.. einsten kan Jewish..?

    nadiafriza

    27 September, 2010 pada 23:49


    • Menurut saya Jewish itu (bukan Judaism) bangsa, jadi bukan penghalang untuk menjadi Kristen, Budha, atau bahkan muslim

      Ali Reza

      28 September, 2010 pada 07:20


      • Entahlah, membingungkan… :|

        Asop

        22 Oktober, 2010 pada 18:27


  7. Terlepas dari benar dan tidaknya berita ini, saya hanya berharap hal ini segera terbuka dengan jelas. Yang ditakutkan adalah pengkultusan seorang albert enstrein yang bisa saja menjadi awal skenario baru untuk menjatuhkan pola pikir Islam sebenarnya.
    Jika benar berita ini, berarti kita pernah memiliki seorang ilmuwan hebat, tetapi jika salah biarlah dia mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah. Sisi menarik dari berita ini bisa saja memicu generasi muda dan baru untuk lebih bersemangat dalam mempelajari ilmu-ilmu alam dan semesta. Hingga tergentuk generasi muda yang hebat dari berbagai sisi, baik dari sisi keilmuan alam dan semesta maupun dari sisi Islam.
    Mudah-mudahan ini adalah pertanda baik bagi kebangkitan Islam…

    Hendriono

    28 September, 2010 pada 02:38


  8. Ttg pengkultusan Einstein, ada hadits, “Yang kenal hal2 besar akan remehkan hal2 kecil.”

    Einstein termasuk hal2 kecil. Banyak sekali ulama yg jauh lebih cerdas drpd Einstein. Maaf, scr pribadi saya koq tdk merasi kurang cerdas dr Einstein ya.

    Yg dibicarakan ini kan semacam benang merah pemikiran fisika. Bacalah, fahamilah, dan kuasailah.

    Afwan

    abdullah al-musawi

    28 September, 2010 pada 11:23


  9. This is the wonderful thing i spend long time to find

    it.

    Cheap Silver Jewlry

    28 September, 2010 pada 21:57


  10. hallo, bro… can u appreciate that? Btw are u a physican? Actually i’d like to introduce u the magic number, that is 12

    abdullah al-musawi

    28 September, 2010 pada 23:43


  11. teori yang menarik …… intinya adalah umat islam hendaknya mencari ilmu, memperdalam ilmu, jangan berantam melulu :D

    r10

    29 September, 2010 pada 12:37


  12. Salam ‘alaykum.
    Hendaknya berhati-hati dgn berita yg belum bisa dibuktikan. Janganlah sampai berita tdk andal dikuat-kuatkan, yg ujungnya justru jadi bahan tertawaan pihak lain karena ternyata cuma hoax. Kalau hoax dibela dgn gigih, itu hanya membuat orang lain makin ragu; apakah pemahaman Agama (/Mazhab) Anda tidak dicampuri hoax? Inna al-zhanna laa yughnii min al-haqqi syay-aan.

    Mungkin menarik jika saya sampaikan bhw di Internet ada yg menuduh bhw Einstein melalukan plagiat, salah satunya ttg dilatasi waktu, yg merupakan bagian dari teori khusus relativitasnya. Saya pernah heran juga bhw fisikawan Lorentz mengemukakan transformasi Lorentz-nya sebelum Enstein menerbitkan teori khusus relativitas. Nah, tuduhan di Internet itu menyebut bhw Einstein memang memplagiat dari Lorentz utk konsep dilatasi waktu.
    Silakan investigasi bagi ahli2 yg berminat :-)

    Badari

    29 September, 2010 pada 13:44


    • Alaikumsalam. Penjelasan untuk paragraf kedua Anda ada di paragraf pertama komentar Anda sendiri. Funny :lol:

      Ali Reza

      29 September, 2010 pada 14:22


  13. semoga kita bisa membumikan konsep-konsep dari islam, tidak hanya terus berada pada tahap labelisasi ayat atau hadits saja

    Gwann

    29 September, 2010 pada 14:37


  14. memang banyak sekali wacana yang selalu berusaha menghubungkan statement2 dan kepercayaan einstein dengan spiritualitasnya. Quote2nya sering menyebut mengenai Tuhan dan Alam Semesta . tapi religious ? apalagi Islam? mungkin tidak buru2 dan mutlak kita percayain.

    dari wiki disebutkan bahwa walaupun didesak berbagai kalangan mengenai ke-religious-an Eisntein, ia tetap menjawab :

    It was, of course, a lie what you read about my religious convictions, a lie ”
    which is being systematically repeated. I do not believe in a personal God and I have never denied this but have expressed it clearly. If something is in me which can be called religious then it is the unbounded admiration for the structure of the world so far as our science can reveal it.
    —Albert Einstein[116]

    afifah shb

    29 September, 2010 pada 15:31


    • Meskipun ada kemungkinan pernyataannya di atas dilontarkan sebelum melakukan surat-menyurat, misal Sekali lagi ini bukan pembelaan artikel, tapi selalu ada kemungkinan. Terima kasih, Kak Viva :)

      Ali Reza

      29 September, 2010 pada 16:41


  15. Bagi saya surat menyurat hanyalah petunjuk belaka. Tidak signifikan skranya tdk ada, tp alhamdulillah klo ada. Yaitu petunjuk bhw tdk ada ilmu fisika dlm bukhari muslim tp dlm almajlisi.

    Saya peroleh konsep gerak thurfah al-’ain dlm riwayat2 almajlisi dan dr saya temukan apa yg saya sbt dg PURNAMA KAZHIMI HEMPASKAN GERHANA LORENTZ itu.

    Masalah transformasi Lorentz adl pemahaman yg keliru ttg ruang dan waktu. Saya temukan ini. Dan saya temukan jg mengapa massa tdk muncul dlm persamaan2 Maxwell. Dan saya temukan jg bhw persamaan2 Maxwell adl penipuan, sesuatu pd zamannya dsbt karya seni.

    Saya temukan bhw monopol itu tdk ada, smwnya adl dipol. Bedanya, dipol magnet itu di ruang spasial, dan dipol listrik itu di ruang temporal

    abdullah al-musawi

    29 September, 2010 pada 23:48


  16. bahasan menarik oom, apapun itu pilihan individu. Yg miris udah berhaji/umrah berkali-kali tapi tetep juga korupsi

    berwisata

    5 Oktober, 2010 pada 18:40


  17. Ya,saya senang menyaksikan umat kita (yang berbahas di sini) mencari arti ketuhanan melalui ilmu.Nabi bersabda:

    “Barangsiapa yang kepinginan dunia,maka carilah dengan ilmu.
    Barangsiapa yang kepinginan akhirat,maka carilah dengan ilmu.
    Dan siapa yang menghendaki keduanya,carilah dengan ilmu”

    -riwayahul Bukhari wal Muslim

    Salam

    yassin_pencaribaraka

    10 Oktober, 2010 pada 07:47


  18. Kenapa ilmuan eropa selalu berkonspirasi dan menutup-nutupi jika itu merupakan fakta?

    Lucky dc

    12 Oktober, 2010 pada 05:25


  19. Menarik sbg bahan pelajaran.

    Fahri

    13 Oktober, 2010 pada 07:25


  20. rasanya point yang saya tangkap justru ‘mengapa Einstein berwilayah pada akhirnya’? Ada apa dengan Syiah dan 12 imamnya.. Tidak mudah untuk seorang yang telah mengucapkan” It’s a lie … [so forth and so on]” pada akhirnya mengakui sesuatu yang bisa sangat bersifat mind altering, bahkan ‘heart’ altering.

    Subhanallah.

    Shalawat.

    angke

    15 Oktober, 2010 pada 17:39


sumber:http://ejajufri.wordpress.com/2010/09/25/masa-sih-albert-einstein-seorang-syiah/#more-4730


Takbir Allahu Akbar yang Dilecehkan


Sewaktu di Madinah, Dr. Ali Syariati mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar sekalipun dari mulut seorang Syiah yang bodoh. Ali Syariati mendengar seorang ulama yang mengatakan, “Orang-orang Syiah jika mereka telah melaksanakan salat, mereka akan menepuk-nepuk pahanya sebanyak tiga kali dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu berkata khanal Amin (Jibril telah berkhianat)…”

Mungkin, melalui ‘ulama’ seperti inilah ada orang (bodoh) yang bilang bahwa salah satu kemiripan antara Syiah dengan Yahudi [atau Kristen seperti yang dilakukan orang ini] adalah selesai salat mereka memukul paha. Melalui ‘ulama’ seperti ini juga ada seseorang yang setelah melihat saudaranya yang Syi’i salat, lalu berkata, “Syiah kalau salat mukul-mukul paha ya?” Melalui ‘ulama’ semacam ini juga ada orang Kuwait yang tanya ke saya di chat room, “Kenapa selesai salat, orang Syiah memukul-mukul paha?”

Padahal sesungguhnya yang dilakukan oleh orang-orang Syiah adalah selalu mengangkat tangan setiap takbir (Allâhu Akbar) termasuk takbir tiga kali setelah salam. Di saat takbir terakhir itulah ada beberapa muslim Syiah yang juga menengok ke kanan dan kiri—sama seperti saudara Ahlussunah yang menengok ketika mengucapkan salam. Karena menurut beberapa riwayat (seperti di dalam Musnad Ahmad), Nabi itu selalu mengangkat tangannya ketika takbir. وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرفع يديه في كل تكبيرة من الصلاة

Mengenai hakikat dan rahasia dari mengangkat tangan ketika salat, Imam Khomeini mengutip riwayat dari Imam Ali Ar-Ridha as (dalam Syarh Al-Arba’în Haditsan), “Diangkatnya kedua tangan dalam takbir untuk memperagakan ketundukan, kerendahan, dan kekhusyukan. Allah menginginkan agar saat mengingat-Nya, seorang hamba bersikap tunduk, merendah, dan khusyuk. Selain itu, mengangkat kedua tangan juga berperan memantapkan dan memusatkan hati.”

Imam Khomeini dalam salah satu karyanya yang monumental, Sirr ash-Shalâh: Mi’râj as-Sâlikîn wa Shalâh al-‘Ârifîn, juga mencoba menafsirkan makna tiga takbir penutup dalam salat. Takbir pertama adalah bukti bahwa sâlik (pesuluk, orang yang melakukan perjalanan spiritual) telah menyaksikan kemunculan Dzât di hadirat nama dan sifat. Takbir kedua, sâlik telah menyaksikan tajallî nama-nama di kehadiran entitas dan tajallî Dzât. Takbir ketiga sâlik menyaksikan sekaligus tajallî dzât, nama, dan af’âl pada cermin entitas luar. Wallahualam.

Catatan: Fanatisme membutakan segalanya!

sumber:http://ejajufri.wordpress.com/2010/03/26/takbir-allahu-akbar-kok-dilecehkan/#more-2885


Foto Pertemuan Syekh Tijani dengan Baqir al-Shadr Membahas Masalah Syiah


Penyebutan Nama Imam Ali dalam Azan

Kutanyakan kepada Sayid Shadr tentang Imam Ali, kenapa namanya diucapkan dalam azan dengan sebutan waliullâh. Beliau menjawab, “Amirul Mukminin Ali as. adalah di antara hamba Allah yang dipilih oleh-Nya untuk meneruskan tanggung jawab mengemban risalah setelah para nabi-Nya. Mereka adalah para wasi (pengemban wasiat—eja.) Nabi. Setiap nabi memiliki wasi, dan wasi Nabi Muhammad saw. adalah Ali bin Abi Thalib. Kami mengutamakannya atas semua sahabat karena Allah dan rasul-Nya mengutamakannya. Dan kami mempunyai dalil akli dan nakli, Alquran dan sunah dalam hal ini. Dalil-dalil ini tidak dapat diragukan kebenarannya, lantaran bersifat mutawatir dan sahih dalam jalur sanad kami, dan hatta dalam jalur sanad ahlusunah waljamaah. Para ulama kami telah menulis berbagai buku tentang hal ini.

Ketika pemerintahan Bani Umayyah coba menghapuskan kebenaran ini dan memerangi Amirulmukminin Ali dan anak-anaknya serta membunuh mereka bahkan mencaci dan melaknatnya di atas mimbar-mimbar kaum muslimin serta memaksa mereka untuk berbuat serupa, melihat ini maka Syiah Ali dan para pengikutnya, semoga Allah meridai mereka, tetap mengikrarkan bahwa beliau adalah waliullah, karena seorang muslim yang sejati dilarang mencaci waliullah. Hal ini dilakukan sebagai bantahan mereka terhadap penguasa yang zalim saat itu hingga kemuliaan yang sebenarnya dapat dikembalikan kepada Allah, rasul-Nya dan orang-orang mukminin saja; dan biarlah ia wujud sebagai bukti sejarah kepada segenap kaum muslimin yang datang berikutnya, agar mereka tahu tentang kebenaran Ali dan kebatilan musuh-musuhnya.”

“Para fukaha kami mengatakan bahwa syahadat kepada wilayah Ali di saat azan adalah sunah semata-mata, dan dengan niat bahwa ia bukan bagian dari azan atau ikamah. Apabila seorang muazin menganggap bahwa itu adalah bagian dari azan dan ikamah maka azannya dianggap tidak sah. Dan hal-hal sunah dalam ibadah dan muamalat banyak sekali jumlahnya. Seorang muslim akan diberi ganjaran jika melakukannya dan tidak akan berdosa apabila meninggalkannya. Sebagai contoh, dalam suatu hadis disebutkan bahwa usai mengucapkan syahadat kepada Allah dan Muhammad dalam azan, disunahkan juga bersyahadat (bersaksi) bahwa surga itu adalah benar; neraka itu adalah benar; dan Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya.”

Kukatakan bahwa para ulama kami mengajarkan bahwa Sayidina Abu Bakar al-Shiddiq adalah khalifah yang paling utama, kemudian Sayidina Umar al-Faruq, Sayidina Utsman baru kemudian Sayidina Ali, semoga Allah meridai mereka semua. Sayid diam sejenak. Kemudian berkata: “Mereka boleh berkata apa saja tetapi jauh sekali untuk bisa membuktikannya secara valid. Di samping ia bertentangan dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab mereka yang sahih dan muktabar. Di sana tertulis bahwa manusia yang paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Utsman. Tidak ada kata-kata Ali sama sekali. Justru Ali dijadikan sebagai manusia awam semata-mata. Namun para ahli sejarah juga menyebutnya lantaran menyebut-nyebut para khulafa rasyidin saja.”

Tanah Turbah

Aku tanyakan juga tentang tanah yang digunakan untuk sujud, atau yang biasa disebut dengan Turbah Husainiyah. Beliau menjawab: “Pertama-tama wajib diketahui bahwa kami bukan sujud kepada tanah, seperti yang disangka oleh mereka yang benci pada Syiah, tapi kami sujud di atas tanah. Sujud hanya untuk Allah semata-mata. Apa yang terbukti secara dalil bagi kami dan juga di sisi ahlusunah bahwa yang utama adalah sujud di atas tanah atau di atas sesuatu yang tumbuh dari tanah, tapi bukan sejenis dari bahan makanan. Selain dari itu tidak sah sujud di atasnya. Dahulunya Rasulullah saw. duduk di atas tanah dan menjadikan sebongkah tanah sebagai tempat sujudnya. Beliau juga mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya demikian juga sehingga mereka sujud di atasnya, dan di atas batu-batu kecil. Baginda melarang mereka sujud di atas ujung bajunya. Hal ini diketahui sangat lumrah sekali di sisi kami.”

“Imam Zainal Abidin Ali bin Husain a.s. mengambil tanah dari kuburan ayahnya Abu Abdillah Husain al-Syahîd sebagai turbahnya. Ini karena tanahnya bersih dan suci dan telah disiram oleh darah Sayid Syuhada (penghulu para syahid). Para Syiahnya meneruskan kebiasaan ini sehingga ke hari ini. Kami tidak mengatakan bahwa sujud di atas selainnya bermakna tidak sah. Sujud akan sah di atas sebarang tanah atau sebarang batu yang suci, sebagaimana ia juga akan sah sujud di atas tikar atau tempat ambal yang dibuat dari pelepah kurma dan sejenisnya.”

Peringatan Asyura

Kutanyakan lagi tentang peringatan Sayidina Husain as,, kenapa Syiah menangis dan memukul-mukul dada sehingga berdarah? Bukankah ini haram di dalam Islam. Nabi juga telah bersabda, “Bukan dari golongan kami mereka yang memukul-mukul pipi dan mengoyak-ngoyak baju serta melakukan seperti perbuatan jahiliah.”

Sayid menjawab, “Hadis itu memang sahih, tapi ia tidak dapat diterapkan untuk peringatan Abu Abdillah Al-Husain. Mereka yang menyeru pada perjuangan Husain dan mengikut jejaknya, perbuatan ini bukan sejenis perbuatan jahiliah. Lalu di dalam mazhab Syiah ada manusia yang beragam, ada yang alim dan ada juga yang jahil. Kesemua mereka mempunyai rasa emosi. Jika di dalam mengingat kesyahidan Husain dan apa yang terjadi kepada keluarganya serta para sahabatnya—yang dibunuh atau yang ditawan—lalu perasaan emosinya menguasai mereka, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Karena niat mereka adalah fi sabilillah semata-mata. Dan Allah memberikan ganjaran kepada hamba-hamba-Nya sekadar niatnya masing-masing.

Seminggu yang lalu saya membaca suatu kenyataan resmi dari pemerintahan Mesir sempena kematian Gamal Abdul Nasir. Dikatakan bahwa mereka telah mencatat delapan kasus bunuh diri karena mendengar kematian Gamal Abdul Nasir. Ada yang menerjunkan diri dari atas bangunan yang bertingkat; ada yang menerjunkan diri ke bawah rel kereta api dan sebagainya. Adapun mereka yang terluka jumlahnya cukup banyak. Ini saya sebutkan sebagai contoh bagaimana emosi manusia kadang-kadang bisa menguasai manusia itu sendiri.

Jika manusia muslim sampai membunuh diri lantaran kematian Gamal Abdul Nasir, padahal dia mati secara wajar, maka tidak ada hak bagi kita untuk menghukumi bahwa ahlusunah adalah salah. Dan tidak ada hak bagi ahlusunah juga menghukumi saudara-saudara mereka dari syiah salah lantaran menangisi Sayyid al-Syuhada Al-Husain. Mereka meratapi penderitaan Husain sampai sekarang. Rasulullah sendiri pernah menangis untuk Husain, dan Jibril juga menangis karena tangisnya Rasulullah.”

Bangunan Masjid dengan Emas

Makam Abu Hanifah

“Kenapa Syiah menghiasi kuburan wali-wali mereka dengan emas dan perak sementara ia haram di dalam Islam?” Tanyaku lagi. “Ini tidak hanya ada di dalam syiah dan juga tidak haram. Lihatlah masjid-masjid saudara kami dari golongan ahlusunah, di Irak, Mesir, Turki atau negara-negara Islam yang lain. Rata-rata dihiasi dengan emas dan perak. Begitu juga dengan masjid Rasulullah saw. di Madinah al-Munawarah dan Baitulharam di Mekah yang setiap tahun dipakaikan dengan perhiasan emas yang baru dengan perbelanjaan berjuta-juta. Ini tidak hanya ada pada mazhab Syiah saja.”

Tabaruk

“Ulama-ulama Saudi berkata bahwa mengusap tangan di atas kubur, minta doa dari orang-orang yang saleh serta mengambil berkat dari mereka semua itu adalah syirik kepada Allah. Bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?”

“Jika mengusap tangan di atas kubur dan menyebut nama-nama penghuninya dengan niat bahwa mereka memberi manfaat atau mendatangkan mudarat (kerugian), maka tak diragukan lagi ia berbuat syirik. Orang-orang muslim adalah orang yang muwahhid (bertauhid) dan mengetahui bahwa Allah sajalah yang memberi manfaat atau mudarat. Mereka menyeru para wali dan imam as. semata-mata sebagai wasilah atau perantara mereka kepada Allah Swt. Ini tidak syirik. Kaum muslimin, suni dan Syiah, sepakat dalam hal ini sejak zaman Rasul sehingga sekarang. Melainkan Wahabi atau ulama-ulama Saudi seperti yang Anda sebutkan. Mereka telah melanggar ijmak kaum muslimin dengan mazhab mereka yang baru muncul di abad ini. Mereka telah memfitnah kaum muslimin dengan akidah mereka ini, mengkafirkan mereka dan bahkan menghalalkan darah mereka. Para jemaah haji Baitullah Haram dipukul lantaran mereka berkata: Assalamu Alaika Ya Rasulullah. Tidak diperkenankan siapapun untuk menyentuh kuburan suci Nabi Muhammad saw. Mereka telah berdiskusi dengan ulama kami beberapa kali, tapi mereka tetap sombong untuk menerima kebenaran.”

Syarafuddin Al-Musawi

“Sayid Syarafuddin, seorang di antara ulama Syiah ketika pergi haji ke Baitulharam di zaman raja Abdul Aziz al-Saud, adalah di antara ulama ke istana raja untuk merayakan Hari Raya Iduladha bersama raja. Ketika tiba gilirannya untuk bersalaman dengan raja, dihadiahkannya kepada raja sebuah mushaf Alquran yang bersampul kulit binatang. Raja menerima hadiah mushaf tersebut lalu diciumnya dan diletakkannya di atas dahi sebagai tanda penghormatan dan pentakziman. Sayid Syarafuddin kemudian berkata ketika itu: “Wahai Raja, kenapa Anda mencium kulit dan mengagungkannya. Bukankah ia hanya berupa kulit kambing, tidak lebih?” “Yang kumaksudkan adalah pentakziman kepada Alquran yang ada di dalamnya, bukan kepada kulit ini,” jawab Raja.

Sayid Syarafuddin berkata: “Anda bijak, wahai raja. Begitulah juga ketika kami mencium pintu-pintu kuburan nabi atau dinding-dindingnya. Kami tahu bahwa itu semua adalah besi yang tidak memberi sembarang manfaat atau mudarat. Kami bermaksud mencium orang yang ada di balik besi dan kayu-kayu itu. Kami bermaksud mentakzimkan Rasulullah saw., sebagaimana Anda bermaksud mentakzimkan Alquran dengan mencium kulit kambing yang membungkus Alquran ini.”

“Para hadirin mengucapkan takbir sebagai tanda kagum atas sayid ini. Mereka berkata: anda benar, anda benar. Akhirnya raja terpaksa mengizinkan para jemaah haji untuk melakukan tabaruk (mengambil berkat) dari peninggalan-peningalan Nabi saw. sehingga datang raja berikutnya dan kemudian dilarang kembali.”

“Perkara yang sebenarnya bukan karena mereka takut kaum muslimin akan syirik kepada Allah. Tetapi disana ada motivasi politik untuk menguasai kaum muslimin dan memperkuat kerajaan mereka. Sejarah adalah sebaik-baik bukti atas apa yang mereka lakukan terhadap umat Muhammad saw. “

Aku tanya juga tentang tarikat-tarikat Sufi. Jawabnya singkat, “Ada yang positif dan ada juga yang negatif. Yang positif seperti membina diri dan mendidiknya untuk sederhana di dalam hidup dan bersikap zuhud atas kenikmatan-kenikmatan dunia serta melatih diri untuk berangkat tinggi ke alam ruh yang suci. Sementara yang negatif seperti menyendiri dan lari dari realitas kehidupan, terbatas hanya berzikir kepada Allah secara lafzi dan sebagainya. Islam seperti yang diketahui mengabsahkan yang positif dan membuang jauh-jauh yang negatif. Kita layak mengatakan bahwa semua prinsip Islam adalah positif.”

sumber:http://ejajufri.wordpress.com/2010/04/15/foto-pertemuan-syekh-tijani-dengan-baqir-ash-shadr-membahas-masalah-syiah/2/

0 comments to "Masa Sih Albert Einstein Seorang Syiah?"

Leave a comment