Home , � Bom Lagi...Islam lagi yang SALAH ???!!!!!

Bom Lagi...Islam lagi yang SALAH ???!!!!!




























Bom Meledak di Masjid Mapolresta Cirebon


Sebuah bom rakitan meledak di sebuah masjid di kompleks Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, usai sholat Jumat siang ini.

Menurut laporan Kantor Berita Antara, bom yang ledakannya terdengar hingga radius 500 meter itu mengakibatkan belasan orang orang terluka, lima diantaranya luka berat.Sementara ini belum bisa dipastikan mengenai adanya korban jiwa.Para korban sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat, sementara polisi masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.

Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo mengungkapkan bahwa orang yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon Jumat siang diperkirakan berusia antara 20 hingga 25 tahun. Kapolri ketika berada di Mapolresta Cirebon Jumat sore juga menegaskan kembali bahwa berdasarkan luka pada jenazah orang yang diduga pelaku itu, kemungkinan besar bom dililitkan pada perut pelakunya.

Jasad orang yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri, sekitar pukul 16.24 WIB, telah dibawa ke Rumah Sakit Polri dr Soekanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Timur mengatakan bahwa Polri masih melakukan penyelidikan dan pengembangan terkait kasus ledakan bom di Masjid Al Dzikro Mapolresta Cirebon. Pihaknya masih belum tahu jenis bom yang digunakan pelaku dan pihaknya masih terus melakukan langkah-langkah pengembangan selanjutnya.

Kapolri menambahkan, kejadian ledakan bom tersebut merupakan yang pertama di Cirebon dan berharap tidak akan terulang kembali. Ia juga meminta jajaran kepolisian dan masyarakat Cirebon untuk meningkatkan kewaspadaan dan keamanan.

Sedangkan dari 26 korban ledakan yang sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Pelabuhan, 21 orang masih dirawat dan lima orang sudah diperbolehkan pulang. Korban lainnya yakni Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco menjalani operasi di RS Pertamina. (IRIB/Antara/15/4/2011)

Indonesia dan Bom Bunuh Diri

jenazah pelaku bom

Peristiwa ledakan bom yang terjadi di Masjid Polres Cirebon, Jumat (15/4/2011) menewaskan seorang pria yang diduga sebagai pelaku peledakan bom. Sekitar 27 orang yang menjadi korban akibat ledakan tersebut masih menjalani perawatan di rumah sakit, satu di antaranya Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco.

Reaksi keras pun bermunculan dari para tokoh agama juga para pejabat pemerintah. Menteri Agama Suryadharma Ali mengutuk tindakan bom bunuh diri itu. Semuanya mengutuk. Apalagi sasarannya kali ini adalah masjid. Tak hanya itu, kejadian ini sekaligus juga membuat cemas masyarakat karena berhasilnya teroris menyusup ke dalam markas polisi.

Media Indonesia dalam rubrik editorialnya menulis masalah ini. Bom kali ini berbeda karena dilakukan dengan cara bunuh diri dan dengan pola yang berbeda dengan menyerang sebelumnya yang menyerang fasilitas yang berkaitan dengan kepentingan Amerika.

Bom sebelumnya sarat dengan kebencian terhadap Amerika yang dianggap gemar menyerang dan menduduki negara-negara Islam.

Bom bunuh diri kali ini sebaliknya, malah dilakukan di masjid, ketika umat Islam hendak salat Jumat. Inilah pertama kali terjadi di negeri ini bom diledakkan di masjid, bahkan di masjid di lingkungan kantor kepolisian.

Mengapa masjid yang dijadikan sasaran? Apakah itu cara untuk mengaburkan motif bahwa pelakunya bukan dari kalangan Islam ekstrem? Mengapa pula yang dipilih kantor kepolisian? Apakah polisi tengah menjadi sasaran terorisme setelah polisi berhasil menumpas berbagai pentolan teroris?

Yang pasti, rasa aman masyarakat terusik. Jika kantor polisi saja tidak aman dari serangan bom bunuh diri, bagaimana dengan keamanan ruang-ruang publik lainnya? Jika polisi yang dibekali dengan keterampilan menjaga keamanan saja tidak aman dari serangan terorisme, bagaimana dengan masyarakat umum?

Oleh karena itu, aparat keamanan harus dapat mengungkap kasus ini sebagai langkah awal bagi pemulihan rasa aman masyarakat.

Akan tetapi, menangkap dan menghukum mati para pelaku bom ternyata tidak cukup untuk menghancurkan terorisme. Buktinya, teroris baru terus lahir.

Kita harus menggali akar bom bunuh diri di Indonesia. Apalagi, sebagian pelaku bom bunuh diri dan tersangka teroris adalah anak-anak muda. Dani Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott pada 2009, misalnya, masih berusia 19 tahun. Begitu pula pelaku bom bunuh diri di Polresta Cirebon diperkirakan masih berusia 20 tahun.

Kita sering kali berkesimpulan pencucian otak dengan doktrin-doktrin agama menjadi penyebab anak-anak muda itu menjadi teroris, bahkan rela mati dengan melakukan bom bunuh diri. Pertanyaannya, mengapa mereka begitu gampang direkrut dan diindoktrinasi?

Kemiskinan, keterbatasan pendidikan, ketiadaan pekerjaan, dan frustrasi sosial sepertinya menjadi penyebab utama mereka begitu mudah diindoktrinasi untuk menjadi teroris. Semua persoalan sosial itu menjadi habitat subur bersemainya terorisme.

Para pelaku bom bunuh diri umumnya memang berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah.

Dari sudut pandang ini, selain terus melakukan tindakan represif oleh kepolisian, pertumbuhan terorisme hanya dapat dimandulkan dengan memperbaiki keadaan ekonomi rakyat. (IRIB/AHF/MediaIndonesia/16/4/2011)

Bom Cirebon dan Tudingan yang Mengarah ke Islam

Ahad siang Kapolda Jawa Barat Irjen Polisi Suparni Parto yang berkunjung di RS Pelabuhan Cirebon, mengungkapkan, 90 persen pelaku bom bunuh diri di Masjid Ad Dzikro Mapolresta Cirebon, Jumat (15/4) mengarah pada MS (Mochamad Syarif).

Muchamad Syarif yang dimaksud adalah orang yang saat ini tercatat sebagai warga Desa Panjalin Kidul, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Majalengka. Republika melaporkan, "Sembilan puluh persen penyidikan yang kami lakukan pelaku bom bunuh diri di Cirebon mengarah ke MS, hanya tinggal menunggu hasil tes DNA," kata Kapolda. Sementara data yang tercatat dari salinan kartu keluarga yang ada ditangan seorang kepala rukun tetangga, yaitu Syarif, lahir di Cirebon, 20 Agustus 1979 dan sebelum menikah Agustus 2010.

Syarif tercatat pernah bertempat tinggal di RT03/RW06 Astana Garib Utara, Pekalipan, Kota Cirebon. Dia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Abdul Gafur (60) dan Sri Mulat (56).

Warga setempat meyakini pelaku sesuai, ciri-ciri yang dirilis Polri yakni, ras mongoloid, golongan darah O, umur antara 25 dan 35 tahun, tinggi 181 cm, berat 70 kg, dan kulit kuning langsat.

Menurut Kapolda, angka 90 persen juga dikuatkan oleh keyakinan sejumlah warga di Cirebon setelah melihat foto pelaku diliris Mabes Polri, serta keterangan dari keluarga dan istri pelaku di Majalengka yang menguatkan dugaan menghilangnya Syarif selama dua minggu merupakan bentuk persiapan dirinya menjadi seorang martir.

Sikap ketertutupan pelaku, sikap yang terkadang emosional dan kengototan pelaku untuk menghilangkan kemungkaran seperti mabuk-mabukan dengan cara apa pun, membuat semua menduga dialah sosok yang berani mengambil risiko yang dianggap sebagai jalan yang benar.

Belum 100 persen jawaban Polri tentang identitas pelaku memang wajar karena secara hukum hanya hasil forensik seperti Kecocokan DNA yang menjadi acuan pengusutan secara hukum, selain data sidik jari pelaku yang sudah dikantongi polisi dan pengakuan sebagian keluarga tentang ciri-ciri pelaku.

Sementara itu, Sesepuh Kasultanan Kanoman, Pangeran Raja Mochamad Saladin, membenarkan bahwa Muhammad Syarif (31) yang merupakan terduga pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di Markas Polisi Resor Kota Cirebon masih kerabat Keraton Kanoman.

Kepada wartawan di Cirebon, Minggu (17/4/2011) malam, Saladin mengatakan bahwa Muhammad Syarif (MS) merupakan putra dari Ratu Srimulat (56) yang memang kerabat Keraton Kanoman.

Dia mengakui, kendati salah satu kerabatnya diduga terlibat aksi bom bunuh diri yang melukai sekitar 30 orang, pihak Keraton Kanoman menyerahkan persoalan tersebut sepenuhnya kepada aparat kepolisian.

Menurut dia, semua dampak persoalan hukum seluruh kerabat keraton yang dilakukan secara pribadi merupakan tanggung jawab personel.

Kecurigaan ke Arah Islam

Kompas memberitakan, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hadid, Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, membantah bahwa terduga pelaku bom bunuh diri di masjid area Mapolresta Cirebon pernah menjadi santri di tempat tersebut.

"Kami menolak pesantren kami dikaitkan dengan pelaku bom bunuh diri di masjid Polresta Cirebon. Kami sudah melakukan cek silang data dan ternyata tidak ada santri maupun mantan santri yang identitasnya sama dengan MS (terduga pelaku)," kata pengasuh pondok itu, Ustaz Yusuf Sutisna, saat dihubungi pada Minggu (17/4/2011).

Yusuf mengakui, pesantrennya memang kerap kali dikaitkan dengan peristiwa pengeboman. Itu mulai terjadi sejak diketahui bahwa salah seorang pelaku Bom Bali II, Salik Firdaus, sempat menjadi santri selama dua bulan sebelum beraksi.

"Bukan kali ini saja pesantren kami dikait-kaitkan dengan aksi pengeboman. Perlu kami tegaskan bahwa lembaga kami adalah tempat menimba ilmu, bukan untuk cetak teroris," ungkap Yusuf.

Bukan hanya Ponpes Nurul Hadid yang berbicara soal tersangka bom Cirebon. Pihak Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, dekat Kota Solo, Jawa Tengah, juga angkat suara. Pengasuh Pondok Pesantren Ngruki menyatakan masih menelusuri apakah Muhammad Syarif yang merupakan terduga pelaku bom bunuh diri di masjid area Mapolres Cirebon pernah menjadi santri di pondok tersebut.

"Dari foto yang beredar di media massa, saya tak mengenal dia. Namun untuk memastikan apakah yang bersangkutan pernah di sini, kami akan melakukan cek silang data," kata Abdul Rohim Ba'asyir, putra pengasuh pondok itu, Abu Bakar Ba'asyir, saat dihubungi pada Minggu (17/4/2011).

Meski disebut-sebut pernah mengenyam pendidikan di pesantren Solo, menurut Abdul Rohim, belum tentu Syarif belajar di Al Mukmin. Menurutnya, di Solo terdapat banyak pondok pesantren.

Abdul Rohim juga mengaku tidak bisa memastikan apakah Syarif masuk dalam Jamaah Anshorut Tauhid Cirebon (JAT Cirebon). "JAT Cirebon saat ini ada sedikit permasalahan. Kami masih kesulitan untuk menghubungi mereka. Yang jelas kami belum bisa memastikan apakah Syarif itu anggota JAT Cirebon atau bukan," terangnya.

Sejak awal terjadinya pengeboman bunuh diri di Cirebon Jumat lalu, sudah ada kecurigaan yang bakal mengarahkan peristiwa itu kepada kelompok-kelompok Islam dan kalangan pesantren yang tentunya ditambah dengan embel-embel ‘ekstrim'. Tak heran jika kelompok seperti Front Pembebasan Islam (FPI) dan Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) mereaksinya dengan keras bahkan menilainya sebagai upaya untuk merusak dan menjatuhkan citra Islam.

Jika mengarahnya tudingan seperti itu terjadi di negara seperti Amerika Serikat yang notabene memang memusuhi Islam, bisa dimaklumi. Tapi mengapa justeru hal itu terjadi di negara seperti Indonesia yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Memang tak ada yang memungkiri jika di tengah umat Islam ada kelompok radikal yang ‘buta' syariat sehingga menggunakan cara-cara kekerasan dan teror dengan anggapan sebagai cara sah untuk menegakkan hukum Allah. Tapi jika tudingan dibuat tanpa alasan dan sebelum semua sisi masalah terungkap, jelas hal itu patut dicurigai. (IRIB/Republika/Kompas/AHF/18/4/2011)

Said Aqil Siradj: Yayasan Yang Didanai Arab Perlu Dipantau Setiap Saat


SAID AQIL SIRADJ

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menilai bom bunuh diri di Masjid Polresta Cirebon merupakan tindakan biadab.

“Saya atas nama Ketua Umum PBNU yang merupakan kelahi­ran Cirebon, ikut mengecam dan mengutuk tindakan biadab ter­sebut,” tegasnya kepada Rak­yat Merdeka, di Jakarta.

Sebelumnya diberitakan, Ju­mat (15/4) Polresta Cirebon di­kejutkan dengan bom bunuh diri yang dilakukan seorang pria berpakaian serba hitam di dalam masjid.

Bom tersebut dilakukan ketika para jamaah melaksanakan sholat Jumat.

Said Aqil Siradj selanjutnya mengatakan, kinerja aparat ke­polisian, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Nasional Pe­nanggulangan Terorisme (BNPT) hendaknya ditingkatkan. Sebab, ancaman teror bom ini meru­pa­kan hal yang perlu diwaspadai semua pihak.

“Saya kira, yayasan Islam yang didanai oleh Arab yang tiap hari melakukan teror teologi perlu di­pantau setiap saat,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Bagaimana Anda melihat ke­jadian bom di Cirebon?

Tindakan ini benar-benar me­nampar Islam, menampar polisi, dan menampar negara. Sebab, kejadian ini bersinggungan de­ngan simbol Islam dan simbol negara. Sebab, kejadiannya di Masjid Polresta Cirebon.

Apa Anda kaget bom dile­dak­­kan di Masjid?

Ini adalah tindakan jahiliyah yang secara jelas bertentangan dengan Islam. Sebenarnya tinda­kan teror itu bisa dilakukan di mana saja. Bisa di pasar, masjid, sedang sholat, atau sedang nyanyi. Tapi bila di masjid dan yang sedang sholat itu lebih biadab lagi. Namun kami tidak kaget dan tidak heran, karena sejak dulu teror sudah dilakukan di masjid.

Kenapa Anda bilang begitu?

Sayidina Umar bin Khattab dibunuh ketika menjadi imam sholat subuh oleh seorang majusi yang pura-pura ikut sholat. Kemudian Sayidina Ali bin Abi Thalib dibunuh ketika baru keluar dari rumahnya yang hendak mau menjadi imam sholat subuh di Kufah tahun 40.

Siapa kira-kira otak bom ini?

Saya tidak akan menunjuk siapa pelakunya. Tapi yang jelas mereka sedang menunjukkan diri bahwa mereka masih ada, kuat, eksis, punya dana, punya sistem, dan masih punya jaringan.

Apakah ini kelanjutan dari teror bom buku?

Sebelumnya teror-teror yang terjadi mengenai simbol Ame­rika. Sedangkan sekarang sudah di masjid, dan terlebih di kantor polisi. Ini merupakan kejadian luar biasa. Kita harus mening­kat­kan kewaspadaan, intelijen harus lebih canggih lagi agar lebih me­ningkatkan kinerjanya.

Apa yang perlu dilakukan ke depan?

Setiap lembaga, seperti BNPT, Polri dan BIN masing-masing harus meningkatkan kinerjanya agar teror ini tidak terjadi lagi. Selain itu, masyarakat harus lebih waspada.

Bagaimana dengan program deradikalisasi?

Program dera­di­ka­li­sasi seha­rus­nya jangan ha­nya di­semi­nar­kan saja. Jangan di­bincangkan saja, te­tapi harus se­gera disam­pai­kan ke­pada ma­sya­rakat agar ideologi ra­di­kal tidak berkem­bang. Dalam hal ini BNPT harus bekerja keras di samping BIN dan secara ke­selu­ruhan adalah polisi.

Apa program deradikalisasi se­jauh ini sudah efektif?

Saya melihatnya belum efektif karena tidak ada kinerja yang jelas. Sementara bom meledak terus. Sedangkan upaya tindakan pen­cegahannya kurang nyata.

Menteri Agama berharap agar masyarakat tidak terpan­cing de­ngan bom ini, bagai­mana di NU?

Kalau orang NU tidak akan ter­pan­cing, tetapi saya mengharap­kan kita bisa meningkatkan ke­waspadaan dan setiap warga masyarakat yang bisa mengetahui indikasi adanya fenomena keke­rasan segera melaporkan kepada aparat dan segera melakukan tindakan. [RM]
mainsource:http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=24509

Tags: ,

0 comments to "Bom Lagi...Islam lagi yang SALAH ???!!!!!"

Leave a comment