Home , , , , � Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997

Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997

sampulamuk-banjarmsn.jpg

“Banjarmasin kerusuhan!” itulah informasi ringkas dan tegas yang saya terima pada tanggal yang sama dengan hari ini, 14 tahun lalu, 23 Mei 1997. Saat itu saya masih berada di Malang, kota yang dingin. Komunikasi pendek yang belanjut dengan pertanyaan ringkas, bagaimana informasi terkait keluarga, apakah mereka baik-baik saja.

23 Mei 1997, Banjarmasin, ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, rusuh. Bertepatan dengan hari terakhir kampanye terakhir pemilu sebuah partai politik. Berita singkat yang sanggup membuat saya kehilangan konsentrasi.

Sehabis mandi, pikiran masih kosong, jauh menerawang, membayangkan apa yang terjadi. Satu hal yang saya ingat pasti adalah, lotion yang biasa digunakan untuk kulit, saya usapkan ke rambut di kepala, saya rasa itu minyak rambut. kejadian kecil yang membuat saya kaget sendiri dan terpaksa mandi lagi, keramas lagi.

Saya sendiri merasa, bahwa saya tidak pantas untuk menulis banyak tentang hal itu, karena saya berada jauh dari Kalimatan Selatan waktu itu. Sekalipun banyak informasi dan analisis yang dilakukan dan dikumpulkan.

Emosi yang ada merupakan adalah hasil ikatan batin yang begitu kuat dengan tanah ini, tanah Banjar. Tanah di mana leluhur kami turut mengisi denyut hidupnya, dan sayapun ingin begitu, akan begitu dan harus begitu.

Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997, atau biasa disebut Peristiwa Jumat Kelabu mungkin sampai saat ini tak lagi kelabu, tapi sudah menjadi kelam. Kelam dalam kenangan pahit, kelam tertanam dalam kuburan massal, kelam tenggelam dalam sejarah itu sendiri.
Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997
Saya, yang sedari dulu sampai saat ini masih tetap tak percaya, bahwa Urang Banjar dapat membuat rusuh karena alasan politik, tetaplah masih berada dalam kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Entah kapan semua akan terbuka, menjelaskan siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Saya bingung, sama seperti halnya kuburan massal yang mungkin tak bernisan, bingung dalam kelam, tentang sebuah sejarah kelam. Walau hanya satu hal yang dapat dipastikan, bahwa jika saja nafsu dapat dipenjara, maka pastilah penjara sudah penuh tak terkira.

dan… apa kabarmu, sejarah?

Banjarbaru, 23 Mei 2011
mengenang Banjarmasin, 23 Mei 1997
~ dalam bingung ~

sumber:http://mwahyunz.com/2011/05/kerusuhan-banjarmasin-23-mei-1997/

Kubur Dalam-dalam Kerusuhan Jumat Kelabu

example2
dok bpost
Tragedi memilukan Jumat Kelabu di Banjarmasin, 23 Mei 1997.

BANJARMASIN - Tak terasa 14 tahun sudah tragedi memilukan Jumat Kelabu, 23 Mei 1997 berlalu. Di Kota Banjarmasin terjadi kerusuhan massal yang menewaskan ratusan warga disebuah pusat perbelanjaan di Jalan Pangeran Antasari

Tidak itu saja kerusuhan yang terjadi saat kampanye partai politik pada pemilihan umum saat itu juga menghancurakan puluhan bangunan-bangunan di pusat kota.

Kenangan pahit warga Banjarmasin hingga sekarang belum tersapu dari ingatan dan masih melekat kuat. Sebagian warga masih trauma dengan peritiwa Jumat Kelabu yang sempat membuat Kota Banjarmasin lumpuh total saat itu.

Iman, warga kelayan yang saat terjadi peritiwa kerusuhan masih berusia belasan tahun, ia pun sempat mendengar keributan di sana sini dan membuat dirinya takut keluar rumah saat itu.

Hari ini tepat 23 Mei 2011, namun tak terlihat satu instansi pun mengenangnya peristiwa 14 tahun silam tersebut. Mungkin hanya dijadikan sebuah kenangan abadi yang berusaha untuk dikubur dalam-dalam

(apunk/bpost online)

Sumber: apunk/bpost online/red: Didik Trio Marsidi/Banjarmasinpost.co.id - Senin, 23 Mei 2011 | 09:09 Wita


Tragedi Jumat Kelabu Jadi Tugas PKn Murid SMP
Sabtu, 23 Mei 2009 | 06:56 Wita

BANJARMASIN, SABTU - Lembaran kliping peristiwa 23 Mei 1997 tersusun rapi di Perpustakaan SMPN 24 Banjarmasin. Foto-foto jenazah korban, amuk massa, gedung yang dibakar ketika itu, didokumentasikan dalam potongan koran.

Kliping yang dibuat murid kelas VII itu, awalnya adalah tugas yang harus dikumpulkan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah dan Pendidikan Pewarganegaraan (PKn).

Menurut Wahyulina, guru PKn, Tragedi 23 Mei merupakan peristiwa penting dan sangat besar yang pernah terjadi di Kota Banjarmasin.

"Tragedi itu sangat menyedihkan hingga membuat warga Banjarmasin trauma. Begitu pentingnya peristiwa tersebut, ibu Siti Masitah, guru Sejarah SMPN 24, yang kini almarhum, menyuruh siswa kelas VII membuat kliping itu," katanya.

Kliping-kliping itu, kata dia, ditempel di majalah dinding (mading) sekolah tiap 23 Mei. Hal tersebut agar para murid mengetahui apa yang pernah terjadi di kotanya pada sat itu.

Selain kliping mengenai peristiwa 23 Mei, di perpustakaan SMPN 24 terdapat kliping aksi terorisme, seperti pemboman di Bali. "Tugas seperti ini sengaja kita berikan agar murid peka terhadap kejadian sosial dan aksi pelanggaran HAM," ujar Wahyulina.

Menurut dia, tak sedikit murid yang mengunjungi perpustakaan sekolah itu memilih membaca kliping tentang Tragedi 23 Mei. "Mereka sangat antusias, mungkin karena peristiwanya berkaitan dengan daerah mereka," ujarnya.

Dua siswi SMPN 24, Dina Rosida dan Melinda Putri Utama, mengaku senang membaca kliping berisi tentang kerusuhan di Kota Banjarmasin itu.

"Waktu melihat dan membaca kliping itu, kami bisa mengetahui kejadian-kejadian apa saja yang terjadi di Banjarmasin," ujar Dina, siswi kelas VII B.

Apalagi, menurut Dina dan Melinda, waktu itu mereka masih kecil. "Usia saya waktu itu baru satu tahun," kata Melinda.

Kilas Balik Jumat Itu...

23 Mei 1997 usai salat Jumat, menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi rakyat Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin. Pada saat itu, 12 tahun yang lalu, merupakan hari terakhir kampanye Pemilu 1997, yang diikuti tiga kontestan --Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Putaran terakhir kampanye adalah Golkar yang dipusatkan di Banjarmasin, tepatnya di Lapangan Kamboja (eks kuburan Nasrani), Jalan H Anang Adenansi.

Belum lagi kampanye digelar, ba'da Jumat ratusan orang yang entah dari mana asalnya turun ke jalan menuju Lapangan Kamboja. Ratusan simpatisan Golkar yang telah bersiap mengikuti kampanye, berhamburan melihat kehadiran massa yang sepertinya tak bersahabat.

Dari situlah tragedi bermula dan terus meluas hingga memunculkan kesan terjadi kerusuhan berbau SARA. Bahkan seakan-akan ditujukan kepada etnis tertentu.

"Suasana sangat mengerikan. Massa bahkan mulai membawa senjata tajam seperti celurit dan parang," ujar Iin, Rabu (20/5). Iin merupakan anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Hippindo yang membantu memadamkan kebakaran akibat aksi massa.

Pria berkacamata itu menuturkan, massa makin brutal. Penjarahan pertokoan kemudian diiringi pembakaran gedung, plasa, swalayan, tempat ibadah, bahkan merembet ke permukiman penduduk.

Selain itu, lebih 100 korban meninggal dunia. Sebagian besar terjebak dalam toko yang terbakar. Di samping itu, tercatat puluhan orang hilang tak jelas rimbanya hingga sekarang, apakah meninggal ataukah masih hidup.

(kk)

Objek yang Dibakar
-------------------
* Kantor DPD Golkar Kalsel : Jl Lambung Mangkurat
* Gereja HKBP : Jl Pangeran Samudera
* Swalayan Sarikaya : Jl RE Martadinata
* Banjarmasin Theatre : Jl RE Martadinata
* Junjung Buih Plaza : Jl Lambung Mangkurat
(sekarang Hotel Arum)
* Mitra Plaza : Jl Pangeran Antasari
* Permukiman penduduk : Jl Kertak Baru

sumber:http://banjarmasin.tribunnews.com/index.php/printnews/artikel/12866

Wawancara Asmara Nababan :
"Tak Semua Korban Itu Perusuh"


Asmara NababanKerusuhan di Banjarmasin 23 Mei 1997 lalu bisa jadi merupakan kerusuhan dengan korban terbesar sepanjang sejarah pemilu. Karena membawa korban lebih sekitar 120 orang dan sempat membumihanguskan kota seribu sungai. itu.

Peristiwa itu juga nyaris memakan korban juru kampanye nasional Golkar Saadilah Mursjid yang juga Menteri Sekretaris Kabinet dan Ketua Majelis Ulama Indonesia K.H. Hasan Basri. Karena Hotel Kalimantan yang menjadi tempat menginap pejabat tinggi dari Jakarta itu diamuk massa dan dibakar.

Apa kata tim pencari fakta Komisi Nasional Hak Asasi Nasional seputar kerusuhan terbesar dalam sejarah pemilu itu? Asmara Nababan, anggota Komnas HAM, yang turun langsung ke Banjarmasin pada tanggal 30 Mei 1997 mengatakan,"Ada iri hati terhadap Golkar yang dihadiri menteri dan Ketua MUI."

Kapolri Letnan Jenderal Dibyo Widodo mengatakan ratusan korban yang terbakar di Mitra Plaza, Banjarmasin adalah para penjarah. Benarkah begitu? Berikut wawancara Edy Budiyarso dari TEMPO Interaktif dengan Asmara Nababan, Senin 9 Juni 1997, di kantornya di kawasan Mampang Jakarta. Berikut petikannya:


Apa yang menjadi pemicu kerusuhan Banjarmasin?

Ada penyebab yang sifatnya laten dan sebab yang langsung memicu kejadian. Yang menjadi pemicu sudah bergeraknya peserta kampanye Golkar sebelum salat Jum'at selesai. Ini dilaporkan oleh beberapa saksi mata. Di depan masjid di Jalan Pangeran Samudra, ada tiga orang bersepeda motor pemuda yang menggunakan atribut Golkar melarikan motornya dengan kencang pada saat sebagian besar masyarakat Banjarmasin sedang melakukan sholat Jum,at.

Hal ini sudah dibantah oleh Golkar dalam pernyataan resminya yang menyatakan bahwa kampanye baru dimulai setelah selesai salat Jum'at. Dan itu memicu kemarahan umat yang terganggu salatnya. Terjadilah "clash" antara umat dengan Satgas Golkar yang pada akhirnya berkembang menjadi massa yang besar yang sudah tidak jelas lagi siapa dan berapa jumlahnya.

Massa yang beringas sebagian ada yang menggunakan atribut PPP. Banyak juga yang mengacung-acungkan senjata tajam seperti golok, celurit, dan mereka sangat agresif. Ada salah satu korban wanita yang luka bacok karena dia tidak sempat melepas kaos Golkarnya. Tetapi ada juga pengemudi becak asal Madura yang tidak mau bergabung dengan massa malah mau menyelamatkan diri, akhirnya dibacok juga oleh massa. Yang rusak kebanyakan adalah kantor pemerintah, kantor Golkar, mal, hotel, perkantoran dan gereja.

Apa yang dimaksud dengan penyebab laten dalam kerusuhan Banjarmasin itu?

Pertama, meningkatnya pendukung antara PPP dan Golkar selama berkampanye sebelumnya. Mereka sudah punya rasa permusuhan. Apalagi adanya penilaian bahwa Golkar itu lebih baik fasilitasnya, sehingga menimbulkan iri hati pendukung OPP lain. Juga banyaknya pejabat pemerintah pusat yang berkampanye di sana, padahal tidak satupun pejabat pusat yang berkampanye untuk PPP, ini menimbulkan rasa iri. Beberapa saksi juga mengatakan, kedatangan Ketua Majelis Ulama K.H Hasan Basri itu pilih kasih, karena hanya mau berdoa untuk Golkar. Kenapa tidak berdoa juga untuk PPP dan PDI.

Kami memang mendapatkan keterangan dari Golkar, yang menyatakan bahwa kedatangan Ketua MUI di Banjarmasin itu karena undangan Golkar. Tetapi bagaimanapun juga telah muncul kecemburuan.

Apakah Komnas HAM menemukan adanya pihak ketiga di belakang kerusuhan Banjarmasin?

Kami tidak terlalu mengkhususkan ke arah sana, kami lebih banyak terfokus pada pelanggaran hak asasi manusia. Sejauh pemantauan kami di lapangan, kami memang tidak menemukan adanya pihak-pihak yang secara khusus merencanakan atau membuat peristiwa itu.

Jadi Komnas HAM berkesimpulan peristiwa itu terjadi karena spontanitas massa terhadap kampanye Golkar?

Bisa seperti itu. Tetapi kenapa dalam waktu yang singkat massa bisa berkumpul dalam jumlah yang besar. Jawabannya, di Banjarmasin itu 'kan banyak masjid, jadi bisa saja massa yang besar itu datang dari masjid-masjid dan bercampur dengan massa yang lain. Banjarmasin 'kan dikenal sebagai kota seribu masjid, selain julukan kota seribu sungai. Karena banyaknya massa ini, massa menjadi sulit dikendalikan, baik oleh aparat keamanan maupun oleh fungsionaris wilayah PPP. Bahkan ada anggota PPP yang berusaha meredam massa, malah ia menjadi sasaran massa sampai terluka.

Konon setelah kejadian itu banyak warga Banjarmasin yang tutup mulut, apakah ini tidak merepotkan tugas Komnas HAM?

Tidak, kami masih tetap bisa mendapatkan informasi dari masyarakat bawah maupun dari pejabat daerah. Kami tidak tahu kalau masyarakat Banjarmasin itu tutup mulut, karena kami masih bisa berdialog terbuka dengan wakil-wakil mahasiswa dan dosen di kampus Universitas Lambung Mangkurat. Selain itu, kami juga bertemu dengan ketiga OPP di sana secara terpisah, termasuk dengan PDI. Walapun PDI tidak tersangkut secara langsung dalam peristiwa itu, di lapangan banyak ditemukan spanduk Mega-Bintang.

Kapolri menyimpulkan bahwa semua korban yang terbakar di plaza Mitra Banjarmasin adalah para penjarah. Apa kesimpulan Komnas setelah melakukan investigasi kesana?

Komnas HAM tidak sepakat dengan pernyataan itu. Kalau memang ada perusuh, mungkin-mungkin saja. Karena memang ditemukan senjata-senjata tajam di samping tubuh korban, tetapi banyak saksi kami yang mengatakan bahwa korban terbakar itu karena kecelakaan. Seperti Komnas menjumpai dua korban dalam satu keluarga. Dari orang tua korban itu kami mendapatkan informasi bahwa yang pertama hilang adalah anak yang masih kecil berusia sembilan tahun. Lantas diminta kakak si kecil itu untuk mencari, yang terjadi malah dua-duanya tidak kembali. Menurut saksi mata, korban saat itu masuk ke dalam salah satu toko yang sedang terbakar. Bukankah kejadian seperti ini bisa terjadi dalam beberapa kasus. Oleh karena itu, kami tidak bisa mengatakan semua korban itu perusuh atau penjarah. Apalagi dari beberapa korban yang masih bisa diotopsi, ada korban yang masih belum disunat. Jadi ada juga korban yang masih anak-anak.

Apakah Komnas menemukan pelanggaran hak asasi yang dilakukan oleh aparat di sana?

Keadaan di sana membuat adanya penangkapan yang tidak bisa disertai dengan surat penangkapan. Selain itu ada juga pemukulan terhadap para tersangka. Dari sini kami menyampaikan kepada kepolisian dan Kodam VI/Tanjungpura agar menindak tegas aparatnya yang masih melanggar KUHAP. Kalau kasus penembakan oleh aparat, kami tidak menemukan. Selain pelanggaran oleh aparat, pelanggaran terbesar dilakukan oleh masyarakat sendiri: membuat rasa takut, kerusakan harta benda, hak perlindungan diri, hak untuk ibadah. Termasuk pelanggaran dengan mengganggu orang lain yang sedang salat Jum'at.

Apakah memang benar aparat tidak bisa mengatasi keadaan karena jumlahnya terbatas?

Ya. Dan kalaupun ada aparat dalam jumlah yang banyak, itu juga tidak mungkin bisa mengamankan situasi dengan cepat, karena jumlah massa sangat besar. Apalagi kalau sampai aparat menembak, bisa jadi emosi massa menjadi lebih besar, aparat keamanan di sana cuma bisa mundur. Baru setelah ada bantuan dari Jakarta dan Balikpapan yang dilengkapi dengan panser, aparat baru mampu mendorong massa untuk bubar.

Apakah ada rekomendasi Komnas untuk pelaksanaan kampanye mendatang, mengingat kampanye pemilu telah menjadi pemicu kerusuhan?

Untuk pemilu secara keseluruhan Komnas akan melakukan evaluasi. Untuk kerusuhan kampanye sendiri, Komnas mengusulkan agar pendidikan politik juga melibatkan tokoh-tokoh informal, karena ketika di lapangan yang paling besar pengaruhnya adalah tokoh-tokoh informal, seperti buruh yang memiliki pengaruh diantara teman-temannya. Bukan tokoh formal seperti tokoh partai atau alim ulama.

Dengan kata lain Komnas mengusulkan agar konsep massa mengambang ditiadakan?

Secara eksplisit belum kami katakan. Tetapi kami mengarah kesana.

Apakah Komnas menemukan indikasi adanya usaha mendiskreditkan PPP dalam kasus ini?

Kami sulit menyimpulkan keadaan itu memang dimaksudkan untuk memojokan PPP. Karena hasil perolehan suara PPP setelah pemilu itu juga seperti yang mereka targetkan. Karena setelah pemungutan suara, kami menanyakan apakah PPP turun suaranya, lantas DPW PPP Banjarmasin menyatakan tidak ada penurunan suara.

Apa kira-kira yang bisa ditarik dari peritiswa kerusuhan di Banjarmasin itu?

Kerusuhan-kerusuhan ini seharusnya menjadi instropeksi dari birokrasi kita agar lebih berorientasi kepada masyarakat. Karena ada kejengkelan-kejengkelan yang akumulatif dari masyarakat terhadap birokrasi. Celakanya pemerintah seringkali tidak memperhatikan hal itu. Bukankah cukup bukti bahwa rakyat lebih percaya kepada gosip daripada dengan keterangan resmi pemerintah seperti Gubernur, Pangdam, Walikota.
sumber:http://www.tempo.co.id/ang/min/02/15/nas4.htm


Wiki: Kerusuhan Banjarmasin Mei 1997

Kerusuhan Banjarmasin Mei 1997 terjadi pada 23 Mei 1997 hari terakhir kampanye Pemilu untuk anggota legislatif tahun 1997. Di kota yang sangat islami, Banjarmasin, pendukung PPP merasa ditindas oleh partai penguasa Golkar. Setelah sholat Jumat, ribuan orang menyerang pendukung Golkar yang akan berkampanye.

Kekerasan berdarah ini membunuh beberapa pendukung kampanye Golkar, serta menyerang berbagai kepentingan usaha di Banjarmasin termasuk Kristen dan Tionghoa.

Sebuah gereja HKBP yang terbuat dari kayu dibakar massa, yang letaknya sekitar 300 m dari masjid Noor, mengakibatkan sejumlah rumah pribumi di belakang gereja HKBP ikut terbakar, bangunan lainnya dirusak seperti gereja Katedral dan dua gereja Katolik, beberapa sekolah Katolik dan sebuah rumah panti jompo. Delapan pusat belanja, cabang Bank Lippo, toko-toko milik tionghoa, serta tujuh gereja lainnya, sebuah vihara Budha, dua hotel, 21 mobil, 130 rumah, dan 4 gedung milik pemerintah hancur atau dibakar.[1][2][3][4]

Setidaknya 137 orang terbunuh, terbanyak di lantai dua pusat belanja Mitra Plaza yang sebelumnya dipenuhi para penjarah yang tidak mau menyerah pada polisi.[5]

Daftar Isi:
1. Ketertutupan informasi
2. Referensi
3. Pranala luar

1. Ketertutupan informasi

Pada masa tersebut banyak kejadian di daerah yang tidak terberitakan di daerah lainnya di Indonesia karena masih belum terbukanya informasi. Penyebaran informasi umumnya diperoleh dari berita asing baik media cetak maupun media elektronik asing. Informasi lebih terbuka baru diperoleh dalam media nasional beberapa waktu kemudian.[6]

2. Referensi

  1. (Inggris) The Nations:Violent was the breeze before the storm, June 2, 1997 page A-8 diakses 5 April 2011
  2. (Inggris) The New York Times:In Indonesia, A Deadly End To a Campaign, by Seth Midans, May 26, 1997 edition diakses 5 April 2011
  3. (Inggris) UNHCR:Chronology for Chinese in Indonesia, published 2004 diakses 5 April 2011
  4. (Inggris) The Independent:As Indonesia holds an election, a small town in Borneo burns, by Richard Lloyd Parry, 25 May 1997 edition diakses 5 April 2011
  5. (Inggris) CNN:130 looters die in fire during Indonesian riot, May 25, 1997 edition diakses pada 5 April 2011
  6. Kecurangan dan perlawanan rakyat dalam pemilihan umum 1997, Oleh Yayasan Obor Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Politik dan Kewilayahan (Indonesia)

3. Pranala luar

sumber:http://wapedia.mobi/id/Kerusuhan_Banjarmasin_Mei_1997

10 Tahun Amuk “Jumat Kelabu” dan Munir

sampulamuk-banjarmsn.jpg

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 23 Mei 1997, sebuah kerusuhan sosial melanda Banjarmasin. Kerusuhan yang berawal dari kampanye putaran terakhir Pemilu 1997 itu, telah mengakibatkan –menurut data resmi–, 123 orang tewas, 1 gereja musnah dan 10 rusak berat, 151 rumah, 144 buah toko, 3 pusat perbelanjaan dan hiburan, 3 pasar swalayan, 5 bank, 4 kantor pemerintah, 1 sarana hiburan, 3 sekolah, 1 rumah jompo, 1 apotik, 36 mobil, dan 34 sepeda motor musnah terbakar. Media setempat dan nasional menamai peristiwa itu sebagai peristiwa “Jumat Kelabu,” karena kebetulan terjadi pada hari Jumat.

Beberapa hari setelah peristiwa itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Jakarta, yang ketika itu dipimpin oleh Bambang Widjojanto, meminta seorang relawan untuk membantu mereka melakukan investigasi. Sebagai orang Banjar yang sedang di rantau, saya menangkap tawaran itu. Demikianlah, bersama Andi Achdian dan Munir (alm.) dari Jakarta dan saya dari Yogyakarta, kami terbang ke Banjarmasin. Selain membantu menyelidiki kemungkinan ada pelanggaran HAM baik dalam maupun sesudah peristiwa itu, saya bersama Andi Achdian juga menelusuri latar belakang sosial yang mengalasi peristiwa itu. Sebagian laporan kami kemudian diolah menjadi buku dan terbit dengan judul, Amuk Banjarmasin (YLBHI, 1997). Kami bukan satu-satunya yang melakukan investigasi saat itu. Setidaknya, masih ada Komnas HAM yang dipimpin Baharuddin Lopa (alm.) dan juga sebuah kelompok yang menamakan Lembaga Pengkaji Pengembangan Potensi Pembangunan Banjar (LP4R) yang juga melakukan invenstigasi.

TerlupakanDari jumlah korban jiwa dan kerugian fisik, peristiwa “Jumat Kelabu” adalah yang terbesar di Indonesia waktu itu. Sebelumnya, beberapa wilayah sudah digoncang oleh kerusuhan yang bernuansa SARA seperti di Purwakarta (31 Oktober-2 November 1995), Pekalongan (24 November 1995), Peristiwa 27 Juli 1996 (Jakarta), Situbondo (10 Oktober 1996), Tasikmalaya (26 Desember 1996), Sanggau Ledo (30 Desember-2 Januari 1997), Tanah Abang (28 Januari 1997), dan Rengasdengklok (31 Januari 1997).

Namun, peristiwa Jumat Kelabu yang sempat menarik perhatian nasional dan internasional ini segera terlupakan dan seperti dianggap tidak ada saja. Ini karena, Pertama, peristiwa itu dianggap sebagai musibah biasa saja. Masih kuatnya represi membuat sebagian besar saksi mata tidak berani buka mulut, bahkan untuk melaporkan anggota keluarga yang hilang pun mereka takut. Lebih-lebih waktu itu ada stigma yang kuat bahwa mereka yang terlibat dalam peristiwa itu adalah “para perusuh.” Demikianlah, peristiwa itu di benak masyarakat seperti ingin segera dilupakan dan jadi berbahaya untuk diingat.

Kedua, setahun setelah peristiwa itu, dan rupanya inilah ujung dari berbagai rentetan kerusuhan di berbagai kota di Indonesia itu, terjadi reformasi yang memakjulkan rezim Soeharto. Peristiwa reformasi ini, yang skala dan dampaknya memang lebih besar, akhirnya menutup habis ingatan akan peristiwa kerusuhan sosial yang terjadi di berbagai daerah, termasuk peristiwa “Jumat Kelabu.” Fokus perhatian kemudian beralih ke pentas nasional.

Bagaimanapun juga peristiwa itu harus tetap jadi pelajaran. Meledaknya Banjarmasin sebagai situs kerusuhan tentu juga didukung oleh keadaan sosial yang tidak kondusif. Bagaimana mungkin dalam waktu yang sedemikian singkat terjadi kerusuhan yang demikian masif, dengan seratus lebih korban, jika akar-akar kerusuhan yang bersifal sosial-politik, tidak mendukungnya. Jadi, jika akar-akar kerusuhan sosial ini tidak diperbaiki, bukan tidak mungkin suatu saat kerusuhan yang kurang lebih sama akan terulang. Ini terutama di saat-saat transisi dan peralihan kekuasaan politik, ketika keadaan keamanan tidak stabil dan ekonomi demikian sulit.

Terkenang MunirMelakukan investigasi sebuah kerusuhan bagaimanapun tidaklah mudah, termasuk terhadap peristiwa “Jumat Kelabu” ini. Selain masyarakat masih takut dan trauma, kontrol keamanan juga waktu itu masih kuat. Kami sempat berpindah-pindah tempat karena terus dikuntit. Kantor sebuah LSM tempat saya menginap bahkan sempat dengan halus ‘mengusir’ saya karena takut dan tidak mau dikait-kaitkan jika ada penangkapan atau pun interograsi terhadap kegiatan kami. Di hotel tempat kami menginap, resepsionis selalu memberitahukan bahwa ada ‘orang’ yang menanyainya tentang kami dan kegiatan kami.

Dalam kaitan inilah saya ingin mengenang Munir, aktivis HAM yang mati diracun dalam perjalanannya ke Belanda. Munir juga ditugaskan ke Banjarmasin untuk menyelidiki peristiwa itu dan bersamanya saya sempat keluar masuk kampung dan bertemu beberapa mahasiswa dan akademisi di Banjarmasin untuk melakukan wawancara. Waktu itu Munir belum terkenal dan belum lagi memimpin Kontras, lembaga yang memberi advokasi pada orang hilang.

Munir bertubuh ceking, pendek, dan berwajah Arab. Dengan agak bercanda saya bilang kepadanya waktu itu, kalau mau enak dan lancar investigasinya, mengaku saja sebagai ‘habib’ karena saya katakan orang Banjar umumnya sangat menghormati mereka yang dianggap sebagai keturunan nabi. Ia tersenyum, dan menjawab bahwa ia telah mencicipi kemudahan itu ketika melakukan investigasi peristiwa Nipah, Sampang, Madura, karena para kiai mengiranya habib.

Menurut saya waktu itu Munir orangnya sangat berhati-hati, dan bahkan cenderung takut. Beberapa kali ia mengusulkan pindah tempat dan meminta untuk mencari tempat yang aman untuk bertemu sejumlah mahasiswa yang berjanji akan memberikan banyak informasi. Termasuk ketika kami harus bubar ketika berbincang di pelataran masjid Sabilal Muhtadin, karena ia merasa ada ‘orang’ yang mencurigakan di sekitar kami.

Saya jadi heran ketika dua tahun, setelah reformasi, nama Munir mencuat secara nasional sebagai tokoh muda yang berada di garis depan, melalui institusi Kontras, yang mempertanyakan sejumlah orang dan aktivis yang hilang. Bagaimana orang yang saya kira penakut itu begitu punya nyali dan keberanian? Setelah lama melihat kiprah dan konsistensinya, akhirnya saya bisa mengerti bahwa seorang pejuang itu bukan sama sekali tidak punya rasa takut. Bagaimanapun, sebagai manusia, ia juga tetap memiliki rasa takut. Tetapi rasa takut itu tidaklah membuatnya mundur dan menyerah. Yang pertama-tama harus dilakukannya adalah mengelola dan akhirnya menaklukkan rasa takutnya sendiri. Di titik inilah rasa takut itu menjelma menjadi sebuah keberanian besar. Seorang pejuang, seorang pemberani, adalah orang yang bebas dari rasa takut.

Beberapa bulan setelah peristiwa di Banjarmasin itu, saya tidak sempat lagi bertemu Munir dan hanya sempat sekali dua berkomunikasi lewat telpon. Menghilangnya peristiwa ‘Jumat Kelabu’ dalam ingatan menghilangkan juga hubungan kami. Munir jadi aktivis yang sibuk dan terkenal.

Saya lupa persisnya, ketika suatu kali ia datang ke Yogyakarta untuk sebuah seminar, jauh sebelum ia meninggal, saya menyempatkan menemuinya. Saya mengingatkannya bahwa kami pernah bertemu dan bekerjasama di Banjarmasin. Rupanya ia masih ingat dan dengan hangat menerima salamku. “Wah, mestinya peristiwa Banjarmasin itu tetap harus diusut dan dipertanyakan!” Demikian kurang lebih sebagian kalimat yang ia ucapkan dalam pertemuan kami yang sangat singkat itu.

Saya tidak tahu, apa yang ia maksud dengan ‘diusut dan dipertanyakan’ itu? Apakah ia bercanda atau serius dengan pernyataannya itu? Tapi apapun juga, setidaknya kita bisa belajar sungguh-sungguh dan mengambil hikmah dari peristiwa 10 tahun lalu itu!

sumber:http://haisa.wordpress.com/2007/05/23/10-tahun-amuk-jumat-kelabu-dan-munir/

Bulan Mei

ADA banyak peristiwa penting terjadi pada bulan Mei di samping Hari Pendidikan Nasional (2/5) dan Kebangkitan Nasional (20/5).

Pertama, 23 Mei 1997, ketika Banjarmasin berubah jadi ‘neraka politik’ yang lukanya hingga kini belum tersembuhkan; Kedua, 12 Mei 1998 – ketika aparat menembak mati empat Mahasisiwa Trisakti; Ketiga, 13 Mei 1998 ketika kerusuhan meledak dan berbelok jadi kerusuhan rasial paling memalukan;

Keempat, 20 Mei 1998 – demonstrasi mencapai puncaknya dan dua juta manusia larut dalam demo damai di Yogya, begitu juga di kota-kota lain, sementara ribuan mahasiswa menduduki MPR. Kelima, 21 Mei 1998 – Soeharto mundur dan Habibie naik, dan … begitulah, regulasi pers dilonggarkan sehingga media cetak bermunculan bak kecambah.

Tiap memasuki bulan Mei, saya selalu teringat kerusuhan di Banjarmasin. Saban kali mengantar anak bungsu saya main bombom car di sebelah Mitra Palaza, atau sekadar melintas di depan bangunan itu, saya selalu terusik. Kadang bahkan menggigil membayangkan horor politik itu, tiga tahun silam. Ya, 23 Mei 1977. Warga Banjar, dan siapa pun, yang punya rasa kemanusiaan, tentu tak akan melupakan tragedi itu.

Bayangkan, 70-an orang bersitumpuk, bergelung di satu sudut. masing-masing berusaha menyelamatkan nyawanya yang cuma seutas tipis itu, sementara api berkobar hebat dalam bangunan yang sesungguhnya dirancang bukan untuk tungku, tapi dibangun tanpa fasilitas penyelamatan darurat yang memadai.

Saya seakan mendengar pekikan, rintihan, lenguhan ketakberdayaan dari orang-orang yang tak saya kenal tapi saya yakin mereka adalah saudara saya sebangsa. Dinding-dinding masif yang kini telah dibangun lagi itu, seolah masih menyimpan gaung kepedihan mereka saat diperangkap dalam tungku raksasa yang dinyalakan tangan-tangan iblis kekuasaan.

“Hampir sebagian besar tubuh korban ditemukan telah hangus menjadi arang sehingga yang tertinggal hanya tulang-tulang, itu pun dalam kondisi yang agak rapuh. Beberapa korban, terutama yang berada pada tumpukan paling bawah, ditemukan masih utuh beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian perut dan pantat,” demikian berita yang dikirim rekan-rekan Banjarmasin Post. Ketika itu saya bertugas di Bernas.

Lebih dari 130 orang tewas dalam amuk massa yang mencabik Banjarmasin dan menorehkan luka sosial yang sangat dalam itu. Sudah tiga tahun berlalu. Luka itu masih menganga dan kadang terasa perih ketika mengingat upaya-upaya penuntasannya yang tak juga begitu jelas seluruhnya. Tentang siapa yang sesungguhnya bertanggungjawab, tentang bagaimana hak-hak para korban dan para keluarganya diperjuangkan dan dikembalikan, semua serba tak jelas seolah memang sengaja diserahkan kepada waktu.

Sebagian besar mayat, tak bisa dikenali. Jasad-jasad yang sebelumnya berakal budi, bertatakrama, bercita-cita, berkeluarga, dan sebagainya ini, saat oitu berubah jadi onggokan-onggokan hangus atau setengah hangus yang cuma ditandai dengan nomor.

“Jenazah moro 81 sudah diambil. Juga jenazah nomor 45. Jenazah nomor 48 ditemukan dalam keadaan masih mengenakan kaos berbulu, jins biru muda, sabuk hitam, celana dalam merek Bontek…” dan seterusnya. Kerusuhan, telah mempersamakan mahluk berakal budi itu dengan benda-benda yang hangus bersamanya. Ia tak lagi berbeda dengan sabuk, bahkan dengan kolor merek Bontek.

Memasuki Bulan Mei, dengan sendiri melontarkan kembali ingatan pada 23 Mei. Mengundang kembali kepedihan sekaligus membangkitkan kemarahan menyaksikan betapa ambisi politik bisa menghalalkan segala cara termasuk membumihangus bangsa sendiri, mengorbankan rakyat yang lapar dan tak mengerti hukum sehingga mudah saja digebah untuk masuk ke pertokokan dan ‘menikmati’ sesaat –sebelum tewas terpanggang– barang-barang yang selama ini hanya ada dalam mimpi mereka.

Di alam nyata, mereka tak mampu, sebab harta dan kekayaan buminya telah habis dijarah dan disedot lewat tentakel-tentakel gurita kolusi, korupsi dan nepotisme yang berpusat di satu tangan.

Memang, ada celah-celah romantika di tengah Tragedi Mei Banjarmasin. Tak seluruhnya drama itu dihiasi dengan darah dan bau gosong daging hangus. Di sela-sela lain, satu dua orang menikmati suasana baru yang tercipta dari situasi tanpa kendali.

“Kalau nggak rusuh, mungkin saya nggak sempat merasakan romantika kencan di sela-sela situasi rusuh,” kata seorang rekan asal Barabai yang sempat terperangkap dalam situasi chaos. Ia terkekeh ketika menceritakan kembali kisah itu dua tahun kemudian.

Saya yakin, sukacita macam itu hanya muncul sebagai serpihan yang terpental dari situasi yang demikian kacau dan tak menentu. Situasi yang menjalarkan kepedihan dan keganjilan, mengapa mesti Banjarmasin? Persis seperti saat warga Tasikmalaya melolong-lolong karena kotanya dirusuh dan harta mereka dijarahi.

Persis pula seperti yang dialami warga Kupang ketika digilas amuk massa yang sama dengan yang terjadi di Ketapang. Lalau, bagaimana pula lepedihan saudara-saudara kita di Sambas, ketika kepala-kepala orang bergelindingan di pematang dan di selokan tanpa ada yang bisa meratapi? Demikian pula saudara-saudara kita di Solo. Begitu adanya rekan-rekan kita di Ambon, dan Aceh yang bhakn hingga kini mereka masih dikoyak-koyak amuk kebencian antarsesama.

Ini memang penggalan terburuk dari sejarah kita bersatu dalam sebuah keluarga besar bernama bangsa. Kita tidak tahu persis, apa yang menyebabkan –bahkan hingga kini– orang demikian mudah kalap dan meluapkan amarah serta kebencian dengan cara (kalau perlu) menghabisi ‘lawan’ hingga punah.

Pertanyaan-pertanyaan macam itu pula lah yang terasa yang menyeruak dari sela-sela gedung Plaza Mitra yang kini sudah kukuh kembali berdiri, bahkan kaca-kacanya sudah diganti beton, pejal dan kokoh sehingga tak mungkin dipecah –seperti kaca– jika terjadi keadaan darurat seperti dalam kerusuhan.

Memang siapa sih yang ingin rusuh. Meski pada kenyataannya, selalu saja ada orang yang memang mendambakan situasi seperti itu agar perbuatannya bisa tersebunyi. Itu sebabnya, Glodok kembali terbakar 13 Mei lalu. Siapa mau? Tak seorang pun. Tapi toh, tetap terjadi.

Kepedihan Mei tak hanya dialami warga Banjarmasin. Tahun berikutinya, pada bulan Mei pula kerusuhan yang mencabik-cabik rasa kemanusiaan manusia waras, meledak di Jakarta, mengkocarkacirkan saudara-saudara kita ke lembah mengerikan dalam sebuah horor keji yang bahkan dalam dunia binatang paling buas pun tak dikenal. Penjarahan, pemerkosaan, berlangsung dalam sebuah pesta pora kemarahan iblis tanpa hati nurani.

Begitu mahalkah harga yang harus dibayar untuk sebuah keruntuhan rezim lalim tanpa hati? Jika memang risiko itu yang harus terjadi, mengapa justru orang-orang yang tak ada urusan dengan politik dan kekuasaan yang selalu jadi korban paling menderita? Memang, 21 Mei 1998 Seoharto jatuh dan rezim berganti. Tapi tampaknya belum ada perubahan signifikan yang bisa memberi harapan besar kepada rakyat banyak.

Kita justru sedang terkaget-kaget menghirup atmosfir baru dari sebuah iklim demokrasi. Banyak di antara kita, entah itu ilmuwan, seniman, para pengamat, kaum politisi, para birokrat dan kalangan tentara, seperti sedang kehilangan orientasi.

Bingung harus berbuat apa, sehingga akhirnya cuma saling baku lempar komentar, saling caci dan saling tuding bahwa pihak lain paling salah dan dirinya paling benar. Kalau perlu, paksa pihak lain menerima kebenaran versi dirinya dengan cara pengerahan massa, pendudukan, atau ancaman-ancaman. Beres.

Astaga! Saya ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.***

sumber:https://curahbebas.wordpress.com/tag/banjarmasin/



RASANYA lebih dari lima kali saya menonton film Men In Black (MIB). Pertama sekitar akhir 1997 atau 1998 awal. Nebeng nonton di rumah teman menggunakan perangkat yang popular saat itu, yakni laser disc.
Masa itu film-film produksi Hollywood tak bisa ditonton di bioskop. Maklum, pasca kerusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin, bioskop jaringan Cinema 21 turut musnah. Jadi, kalau mau menonton, medianya laser disc atau VHS (Video Home System).
Mungkin tidak hanya saya menonton film yang meraih pendapatan 587 juta Dolar ini, lebih dari sekali. Mudah-mudahan pesan dari film ini bisa pula ditangkap.
Pertama kali nonton film science fiction produksi 1997 ini, yang bisa saya tangkap mungkin sama seperti penikmat film lain. Semua penikmat film pasti tahu, jika film bertema seperti ini
diproduksi Hollywood, dijamin special effect-nya luar biasa.
Baru-baru ini saja ketika film ini diputar bergantian di stasiun TV tanah air, ada satu adegan yang menggelitik tertangkap indera penglihatan saya.
Ada adegan ketika Agen J diperankan aktor kondang Will Smith memerotes aksi Agen K (Tommy Lee Jones) yang menghilangkan ingatan Dr Laurel Weaver (Linda Fiorentino), saksi mata yang mengetahui keberadaan makhluk luar angkasa menggunakan alat khusus berbentuk pulpen.
Setting film ini memang berlatar manusia hidup berdampingan dengan makhluk luar angkasa di bumi, meskipun manusia sendiri tak menyadarinya.
Dialog agen J dan K pada adegan ini sangat menarik. Agen J bertanya kenapa tiap saksi mata harus dihilangkang ingatannya. Padahal, mereka membantu penyelidikan agen MIB untuk mengetahui keberadaan Aliens Bug (makhluk luar angkasa yang jahat).
Lantas apa jawaban Agen K? kurang lebih seperti ini,"Seorang manusia mungkin pintar, tapi seratus, seribu atau lebih adalah bodoh. Seribu tahun lalu manusia percaya bumi bulat. Lima ratus tahun lalu manusia percaya bumi adalah datar. Bukankah itu sebuah kebodohan?"
Apa yang dikatakan Agen K itu memang benar. Pada 330 Sebelum Masehi, ilmuan Yunani Aristoteles sudah berteori bumi adalah bulat. Ribuan tahun teori tentang bumi berkembang. Pada abad pertengahan, penguasa di Eropa lebih percaya bumi adalaah datar. Ilmuan Italia, Galileo Galilei (1564-1642) terpaksa menerima hukuman dari penguasa karena meyakini bumi adalah bulat.
Manusia dalam jumlah banyak adalah kumpulan pemikiran yang berbeda. Sangat susah untuk menyamakan persepsi massa jadi satu visi yang seragam. Massa juga sangat mudah terpengaruh, terlecut oleh isu lalu tiba-tiba bisa bertindak anarkis. Apa yang dibilang filsuf Inggris Thomas Hobes (1588-1679) bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya (Homo Homini Lupus) terjadi di negeri ini.
Banjarmasin pernah merasakannya ketika kota ini hancur oleh kerusuhan 23 Mei 1997 saat masa kampanye. Untuk kembali bangkit sangatlah sulit. Hari itu adalah kelam tapi bisa jadi pelajaran berharga bahwa anarkis adalah menyakitkan.
sumber:http://royannaimi.multiply.com/journal

Sejarah

  • 1526 : "Banjarmasih", yang artinya perkampungan "Oloh Masih" (orang Melayu), dipimpin kepala kampung berasal dariSumatera yang bergelar Patih Masih.
  • 1526-1550 : Masa pemerintahan Pangeran Samudera (Raja I) di Banjarmasin. Setelah mendapat dukungan Kesultanan Demak untuk lepas dari Kerajaan Negara Daha.
  • 24 September 1526/6 Zulhijjah 932 H : Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal ini dijadikan Hari Jadi Kota Banjarmasin, sekarang 480 tahun.
  • 1550-1570 : Masa pemerintahan Sultan Rahmatullah (Raja II) di Banjarmasin
  • 1570-1620 : Masa pemerintahan Sultan Hidayatullah (Raja III) di Banjarmasin
  • 1520-1620 : Masa pemerintahan Sultan Musta'inbillah (Raja IV) di Banjarmasin hingga 1612.
  • 1596 : Belanda merampas 2 jung lada dari Banjarmasin yang berdagang di Kesultanan Banten.
  • 7 Juli 1607 : Ekspedisi Belanda dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin.
  • 1612 : Belanda menembak hancur Banjar Lama (kampung Keraton) di Kuin, sehingga ibukota kerajaan dipindahkan dari Banjarmasin ke Martapura.
  • 1734-1759 : Masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I di Martapura.
  • 10 Sya'ban 1159 H : Renovasi dan pembuatan Lawang Agung Masjid Sultan Suriansyah oleh Kiai Demang Astungkara di masapemerintahan Sultan Tamjidillah I.
  • 27 Rajab 1296 H : Pembuatan mimbar Masjid Sultan Suriansyah oleh Haji Muhammad Ali an-Najri.
  • 15 Muharram 1251 H/1825 : Undang Undang Sultan Adam/UUSA 1825.
  • 1857-1859 : Pemerintahan Sultan Tamjidillah yang ditetapkan Belanda menjadi raja Banjar menggantikan Sultan Adam.
  • 1859 : Sultan Tamjidillah diasingkan ke Bogor, Pangeran Mangkubumi Hidayat diasingkan ke Cianjur.
  • 1860 : Wilayah Kerajaan Banjar dijadikan Afdeeling Bandjermasin dan Afdeeling Oloe Soengai
  • 1900 : Soeara Borneo, didirikan di Banjarmasin, menggunakan bahasa Melayu.
  • 1901 : Pewarta Borneo, terbit menggunakan bahasa Melayu. Berdirinya perkumpulan sosial Seri Budiman.
  • 1904 : Budi Sempurna, perkumpulan sosial yang didirikan Kiai Mohammad Zamzam.
  • 1906 : Sinar Borneo, terbit menggunakan bahasa Melayu. Berdirinya perkumpulan Indra Buana.
  • 1907 : Pengharapan terbit menggunakan bahasa Melayu.
  • 1916 : Al Madrasatul Arabiah dan Al Waliah berdiri di Seberang Mesjid, Banjarmasin Tengah.
  • 1918 : Banjarmasin, ibukota Residentie Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo mendapat Gemeente-Raad.
  • 1 Juli 1919 : Deean gemeente mulai berlaku beranggotakan 7 orang Eropa, 4 Bumiputra dan 2 Timur Asing.
  • 1923 : Nasional Borneo Kongres I. Dunia Isteri, organisasi wanita Sarekat Islam dipimpin Ny. Masiah.
  • 1924 : Nasional Borneo Kongres II
  • 1926 : Surat kabar Bintang Borneo(bahasa Melayu-China) dan Borneo Post (bahasa Belanda) dengan W. Schmid sebagai redakturnya.
  • 1927 : Soeara Borneo, didirikan oleh Hausman Baboe, bercorak nasional serta memuat berita-berita nasional.
  • 1929 : Persatuan Putera Borneo, merupakan cabang dari Persatuan Pemuda Borneo Surabaya di Banjarmasin yang dipengaruhi nasionalisme PNI Soekarno.
  • 1930 : Bendahara Borneo, nama suatu usaha Studi Fonds di Banjarmasin yang anggotanya dari kaum pegawai.
  • 4 April 1935 : Gereja Dayak Evangelis berdiri di Banjarmasin
  • 1938 : Otonomi kota Banjarmasin ditingkatkan dengan Stads Gemeente Banjarmasin.
  • 1942 : R. Mulder, walikota Banjarmasin dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
  • Februari 1942 :Borneo Shimbun, nama surat kabar yang diterbitkan Jepang untuk Kalimantan Selatan.
  • 1945-1957 : Banjarmasin sebagai ibukota provinsi Kalimantan dengan gubernur Ir. H. Pangeran Muhammad Noor.
  • 9 November 1945 : Pertempuran di Banjarmasin
  • 10 Nopember 1991 : Peresmian Museum Wasaka oleh Gubernur Kalsel Ir. H. Muhammad Said
  • 23 Mei 1997 : Peristiwa Jumat Kelabu/Jumat Membara, kampanye pemilu yang berakhir kerusuhan bernuansa SARA (partai)
  • 2005 : Terpilihnya H. Ahmad Yudhi Wahyuni Usman sebagai walikota untuk masa jabatan 2005-2009
  • 200 : Terpilihnya H.Muhiddin sebagai walikota Banjarmasin



sumber:http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=142544172454963


0 comments to "Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997"

Leave a comment