Home , , , , , � Mau Sunni, Mau Syi'ah yang penting bukan Khawarij Abad ini, yang terbiasa meng Kafirkan orang tanpa sentuhan Akhlak !!!

Mau Sunni, Mau Syi'ah yang penting bukan Khawarij Abad ini, yang terbiasa meng Kafirkan orang tanpa sentuhan Akhlak !!!

Bukankah Rasul diutus untuk Menyempurnakan Akhlak Manusia ???!!!!!
25 Juli 2010 jam 9:08

Oleh : Abu Husein
Sejarah Bukan Tuhan . Sejarah bukan kitab suci.

Membongkarnya, karena itu bukan sesuatu yang tabu apalagi diharamkan. Sudah sejak dulu kala, sejarah tergantung dari siapa yang menuliskannya. Selama penulisnya bukan Tuhan atau orang suci seperti Nabi, maka sejarah terbuka untuk di kritik, dibongkar habis, atau malah dihapus sama sekali. Apalagi penulisnya seorang penguasa tiran.

Demikian juga dengan sejarah di dunia Islam. Mengingat sejarah hanyalah konstruksi ingatan, dokumen, dan monumen, maka belum tentu, bahkan mustahil, akan sama persis dengan faktanya di masa lampau. Nah tulisan ini agaknya berupaya mempreteli sejarah Islam versi mayoritas yang cenderung diposisikan sebagai untouchtable narration dan membuka ruang yang luas untuk penelitian selanjutnya sebagai beban dan amanah ilmiah yang harus dijaga dan berkesinambungan oleh setiap generasi yang tercerahkan.
Sebagian para penulis menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Isa dan anak keturunannya dikenal sebagai orang-orang yang sangat berjasa di dalam menyebarkan madzhab syafi’i di Hadramaut dan Asia (Ensiklopedia Britanica). Artinya hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua puluh tahun, Imam Ahmad bin Isa telah berhasil merubah Hadramaut menjadi pusat penyebaran madzhab Syafi’i. Sebab, beliau tiba di Hadramaut pada tahun 320 H dan wafat pada tahun 345 H.

Adapun alasan tentang ke Sunni-an Imam Al-Muhajir dengan dasar pemikiran bahwa Imam Al-Muhajirlah yang menyebarkan mazhab Syafi’i ke Hadramaut, merupakan suatu yang dibantah oleh Sayid Abdullah Bilfagih dalam Risalah-nya (Manuskrip) yang dibri nama Bahtsun fi Al-Tarikh Al-Mu’ashir li Al-Hayah Al-Tsaqafiyah wa Al-Madzhabiyyah bi Hadhramaut Qubaila wa Mundzu Qudum Al-Muhajir. Dia mengatakan bahwa sebelum kedatangan Imam Muhajir sudah ada mazhab Syafi’i di Hadramaut. Pandangan ini juga dikuatkan oleh Ba’wazir dan Sayid Alwi bin Thohir Al-Haddad dalam Janiyy Al-Syamarikh, sebagaimana yang dikutip oleh As-Syahtri.

Seikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani menyebutkan :

Umat Islam di seluruh dunia dan pada setiap zaman sepakat bahwa para sadah Al Abi Alawi merupakan Ahlil Bayt Nabi yang nasabnya paling benar dan otentik, serta ilmu, amal, kemuliaan dan adabnya paling tinggi. Mereka semua berakidah Ahlussunnah dan bermadzhab Imam kita, yaitu Imam Syafi’i. Semoga Allah meridhai beliau, mereka, dan kita semua.

Pernyataan ini didukung oleh As-Syilli dalam kitabnya Al-Masyra’ur Rawi :

Setelah sampai di Hadramaut, beliau (Imam Ahmad bin Isa) menunjukan bahwa dirinya mengikuti Imam Syafi’i r.a, yaitu dengan menyebarluaskan madzhab beliau.

Betapapun juga dalam kenyataannya, daerah Hadramout waktu itu sebagian besar dikuasai oleh mazhab kaum Khawarij dari kelompok Abadhiyah yang sangat tegar dan ekstrem dalam menerapkan hukum-hukum sya’riat berdasarkan pendapat mereka sendiri tentunya—di samping sangat membenci Imam Ali bin Abi Thalib, keluarga serta para pengikutnya. Kemudian mereka secara lahir menganut mazhab Syafi’i, dalam kamus Al-Munjid edisi lama, ada kata Hadramout ditulis begini : “Sukkanuha Syi’iyuna Syafi’ina” penduduknya adalah orang-orang Syi’i yang bermazhab Syafi’i, dan kitab Al-Munjid itu merekam mereka. Dari Hadramout inilah menyebar para penyebar Islam yang pertama, khususnya kaum Alawi, orang-orang keturunan Sayid. Mereka datang dari berbagai keluarga ke Indonesia dan menyebarkan Islam. Itulah sebabnya kaum Alawiyyin di sana, lambat laun sepakat mengikuti aliran Ahlussunah wal jama’ah, dalam hal ini mazhab Syafi’i, dipilihnya mazhab Syafi’i, karena dianggap amat dekat dengan mazhab Ahlul Bait, mengingat bahwa sikap seperti ini dapat memperlancar penyiaran ajaran Islam sepenuhnya serta mengurangi kebencian para pembenci Ahlul Bait kepada mereka. Meskipun demikian mereka tidak sepenuhnya sejalan dengan mazhab Syafi’i seperti dalam masalah hukum fiqih, contohnya dengan transaksi-transaksi kerjasama dan lain sebagainya. Adakalanya dalam satu masalah mereka bersesuaian dengan mazhab Syi’ah sementara mereka bertentangan dengan mazhab Syafi’i. Sudah barang tentu mereka tidak bertaklid buta kepada Syafi’i mengingat Imam Ahmad bin Isa sendiri adalah seorang yang terkenal luas ilmunya, memiliki kemampuan melakukan istimbath langsung dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw yang kedua-duanya juga merupakan dasar dan landasan pemikiran Imam Syafi’i ra.

Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Al-Muhajir adalah seorang Sunni bermazhab Syafi’i, walaupun bukan penyebar pertama mazhab Syafi’i. Tetapi pendapat tersebut dibantah oleh beberapa sumber sejarah lainnya, seperti yang ditulis oleh Mufti Hadramout Allamah Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf dalam kitabnya Nasim Hajir dan Sayid Saleh bin Ali al-Hamid dalam kitabnya Tarikh Hadramout, bahwa Al-Imam al-Muhajir mengikuti mazhab para leluhurnya, para Imam dari kalangan Ahlul Bait seperti Imam Ja’far ash-Shadiq, Imam Muhammad al-Bagir, Imam Ali Zein al-Abidin, Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan pendapat ini pula beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir menganut mazhab Syi’ah Imamiyyah.

Di kalangan para pengkaji sejarah Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir terjadi polemik pemikiran tentang madzhab Imam Al-Muhajir, apakah dia seorang sunni atau seorang syi’i. Mereka mendasarkan akan kesunnian Imam Al-Muhajir lebih banyak pada mazhab yang dianut keturunan mereka pasca Imam Al-Muhajir. Begitu juga dengan tokoh-tokoh yang datang selanjutnya dari keturunan Imam Al-Muhajir, seperti Al-Faqih Al-Muqaddam dan Syaikh Abdurrahman Assegaf. Muhammad bin Ahmad As-Syathri dalam kitabnya Adwar Al-Tarikh Al-Hadrami berusaha memberikan konklusi dalam polemik mazhab Imam Al-Muhajir dengan mengatakan : “Yang jelas, mazhab Al-Muhajir adalah madzhab Imam Syafi’i al-Sunni, sebagaimana yang dijelaskan pada beberapa sumber. Juga telah dimaklumi bahwa meskipun dia mengikuti mazhab Syafi’i dia tidak mengikutinya dengan buta. Status Imam Al-Muhajir sangat jauh dari sikap seperti ini. Bagaimana dia harus bertaklid buta kepada Imam Syafi’i, sedangkan dihadapannya ada al-Qur’an dan Hadist, yang menjadi sumber primer madzhab Syafi’i. Demikian juga akidah Islamnya sebagaimana akidah moyangnya, seperti al-Bagir dan Zain al-Abidin karena tidak pertentangan antara akidah Ahl Byat yang lama dan Ahl Sunnah, kecuali dalam masalah-masalah terntentu.

Pendapat Al-Syathri di atas masih menyimpan misteri tentang kejelasan mazhab Imam Muhajir. Satu sisi melihat bahwa Imam Muhajir adalah seorang Tokoh yang bermazhab Syafi’i, tetapi dia bukan muqallid buta. Akan tetapi dalam masalah akidah, dia tetap berpegang teguh kepada ajarang para salafnya yang notabene dalam sejarah Islam sebagai tokoh-tokoh yang berseberangan dengan tokoh-tokoh sunni pada masanya, seperti Imam Al-Asy’ari atau Al- Maturidi, atau tokoh-tokoh sunni lainnya. Tentang masalah tokoh-tokoh yang disebut dalam pendapat Al-Syathri sangat jelas ke-Syi’ah-annya, dan buku-buku sejarah lama telah membuktikannya. Jadi, konklusi yang dibuat oleh As-Syathri lebih bersifat mendamaikan dua pendapat yang bersimpangan jalan, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Bukti-bukti warna pemikiranyang terjadi pada abad ke 5 H dan seterusnya pada sejarah perkembangan kelompok Ba’alawi bisa dijadikan suatu dasar pemikiran dalam menentukan mazhab Imam Al-Muhajir, karena :

1. Tidak dapat menyingkap secara jelas masalah yang dikaji, dan kurun waktu sekitar dua abad itu menyimpan berbagai perkembangan, baik itu keberlangsungan tradisi atau perubahan-perubahan yang terjadi oleh berbagai faktor yang ada pada masyarakat.

2. Masih adanya bukti-bukti yang primer yang menyatakan bahwa Imam Al-Muhajir sebagai perawi yang tsiqah (terpercaya) hadis-hadis di kalangan Syi’ah Imamiyah, dan ini juga merupakan indikasi kuat ke-Syi’ahan Imam Ahmad al-Muhajir.

3. Data-data sejarah yang menyatakan terhalangnya para tokoh Alawiyyin, dari Imam Al-Muhajir (318 H, awal tahun Hijrah Al-Muhajir ke Hadramaut) hingga Syaikh Ali bin Alawi Khala Qasam (w.527 H), dan saudaranya Syaikh Salim, dengan alasan-alasan terjadi perbedaan mazhab, serta dalam perkembangan sejarah, diterimanya paham Al-Quthbaniyyah pada abad ke 6 oleh kalangan tokoh-tokoh Tarim Hadramaut pada waktu itu juga merupakan suatu indikasi yang menyatakan tentang ke tidak jelasan ke-Sunnian Al-Muhajir.

4. Sesuai dengan perkembangan sejarah, akhirnya terjadi kesepakatan dengan diambilnya mazhab Syafi’i dan sebagian besar pandangan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari oleh kelompok Ba’alawi, dan juga sebagian besar para tokoh di kota Tarim sepakat untuk menerima pendapat, tentang Al-Quthbaniyyah (derajat tertinggi dari struktur ke walian), yang merupakan ajaran kaum salaf Ba’alawi. Menurut Mufti Hadramaut, Sayyid Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf, istilah dan ajaran tentang A-Quthbaniyyah itu sendiri berasal dari ajaran Syi’ah Imamiyyah. Setelah itu mereka dapat menetap di kota Tarim. Bawazir dalam tulisannya mengatakan : “Maka sebenarnya kaum Alawiyyin yang berada di kota Tarim sepakat dengan para tokoh setempat dalam mengikuti mazhab Syafi’i dan sebagian pandangan dari Al-Asy’ari. Sebaliknya, kebanyakan para tokoh setempat di kota Tarim sepakat untuk membenarkan pandangan al-Quthbaniyyah, pandangan mazhab (Syi’ah) Imamiyyah itu sendiri. Bila tidak, maka itu sangat mirip dengan pandangan mazhab tersebut (Syi’ah Imamiyah). Satu sama lain saling mengambil dan memberi. Hal tersebut terjadi mungkin karena suatu tujuan (yang disengaja) atau karena kontak sosial di antara mereka. Oleh karena itu, dalam hal ini tidak ada istilah menang dan kalah.

Tokoh tokoh yang meyakini bahwa Imam Ahmad Al Muhajir bermazhab Syiah Imamiyah adalah :

1. Al Imam Abdurrahman bin Ubaidillah As Seqaf ( dalam Kitab Nasim Hajir, yang beliau tulis secara khusus membuktikan masalah itu).
2. Habib Allamah Shaleh Al Hamid
3. Habib Allamah Sayid Abdullah Thahir Al Hadad (saudara kandung Habib Alawi bin Thahir al Hadad, Mufti Johor, seta lainnya.

Demikian nama-nama tersebut diatas dikutip oleh Habib Muhammad bin Ahmad As Syatiri (Adwar Tarikh Hadramaut; 1/56, dan Habib Shaleh Al Hamid dalam Tarikh Hadramaut; 1/323-325)

Al Habib Abdullah bin Thahir Al Hadad berkata :
“Sesungguhnya jiwa ini cenderung mengatakan bahwa (Imam) Al Muhajir bermazhab Syiah Imamiyah.

Al Habib Allamah Aburrahman bin Ubaidillah As Seqaf menegaskan bahwa Al Muhajir tidak mebrmazhab Syafi’i dan tidak beraliran Asy’ari (Tarikh Hadramaut; 1/325)

Sebab itu sebagaimana dikatakan Al Habib Ali bin Abi Bakr As Sakran ketika menyebut kondisi Bani Alawi, bahwa; paling rendahnya mereka dan yang muqashshir; teledor dalam urusan agamanya adalah syarif/sayyid Sunni.

Imam Ali bin Ja’far Al Uradhi Bermazhab Syiah Imamiyah

Diantara bukti untuk memperkuat ucapan Habib Ali bin Abi Bakr As Sakran adalah argument yang diakui seluruh Sadah/Alawiyin bahwa Imam Ahmad Al Muhajir ta’adaba bi abihi, berguru dan berteladan kepada ayahnya Isa an Naqib, dan ayahnya berguru dan berteladan kepada Muhammad ar Rumi, dan beliau berguru dan berteladan kepada ayahnya, yaitu Sayyiduna wa Maulana Ali al Uraidhi, putra Imam Ja’far Shadiq.

Sementra itu Imam Ali al Uraidhi bermazhab Syiah Imamiyah, sebab terbukti bahwa beliau yang dikaruniai oleh Allah SWT umur panjang hingga zaman putra saudaranya yaitu Imam Ali Ar Ridha bin Musa Al Kadzim (Imam Ke-8 Syiah Imamiyah) dan Imam Muhammad al Jawad putra Imam Ali ar Ridha (Imam ke-9 Syiah Imamiyah). Al Uraidhi menegaskan kepercayaan beliau kepada kepemimpinan/ Imamah Ali Ar Ridha dan kemudian Imam Muhammad al Jawad, kendati Imam Ali Ridha adalah keponakannya.

Demikian juga Al Uradihi mengimani kepemimpinan Imam Muhammad al Jawad yang nota bene cucu keponakannya.

Dan ketika ditegur oleh sebagian orang tentang sikap ideologinya yang Syiah itu beliau menjawab :
“Apa yang harus saya lakukan, jika jenggot putih ini (seraya memegang jenggotnya yang telah memutih) tidak dipandang Allah layak menjadi imam, sementara anak muda ini yang dilihat pantas menduduki jabatan imam, apakah saya akan menentangnya..?!”

Demikian telah diriwayatkan oleh sejarawan dari berbagai kalangan termasuk Habaib sendiri, seperti Allamah Syilli dalam Asra ar Rawi’, Allamah Habib Shaleh Al Hamid dalam Tarikh Hadramaut.

Dan sikap ini, dalam hemat para Habaib kita, seperti al Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As Seqaf dan Habib Shaleh Al Hamid adalah bukti kuat Ke-Syiah-an Jadduna al Imam Al Uraidhi.

Al Imam Al Habib Syeikh bin Abdullah Al Aidrus menegaskan dalam kitab al Iqdu an Nabawi, bahwa Imam Ali bin Ja’far al Uraidhi adalah bermazhab Syiah Imamiyah Demikian juga al Habib Shaleh al Hamid menegaskannya (Tarikh Hadramaut;1/324)

Berkata al ‘Ârif billah Syeikh asy Sya’râni:

إنَّ مِنَ النوادر شريفٌ سُّنِّيٌ

“Termasuk sesuatu yang ganjil/langka seorang Sayyid Sunni.”

(Târîkh hadhramaut; Habib Shaleh al Hamid al Alawi,1/323. penerbit Maktaabaah al Irsyâd. Jeddah-Arab Saudi.)

Mazhab Kaum Alawiyyin Pasca Imam Ahmad Al-Muhajir

Pada perkembangannya, telah banyak faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai pada perkembangan sejarah keturunan Imam Muhajir, hingga mereka harus melakukan penyesuaian dalam kehidupan komunalnya dengan mengikuti mazhab Syafi’i karena madzhab ini dianggap paling dekat dengan madzhab Ahl Bayt. Akan tetapi, dalam waktu yang bersamaan mereka tetap mengikuti ajaran Imam Ja’far Shodiq, AL-Bagir, Zein al-Abidin, dan seterusnya.

FANATISME MAZHAB AKAR SEGALA BENCANA

Sejarah telah menceritakan kefanatikan masing-masing kelompok terhadap madrasah fikih mereka, dan juga berbagai pertengkaran dan perselisihan yang terjadi diantara mereka, hingga sampai tingkatan dimana sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain, juga terlihat peran penguasa didalam hal ini, dapat disaksikan di dalam syair-syair mereka :
” Telah tumbuh Mazhab Nu’man menjadi sebaik-baiknya mazhab
laksana bulan bercahaya sebaik-baik bintang mazhab-mazhab ahli fikih telah menyusut
mana mungkin gunung-gunung kokoh menenun sarang laba-laba”

Seorang penyair bermazhab Safi’i berkata:

“Perumpamaan mazhab Syafi’i dikalangan ulama adalah laksana bulan purnama diantara bintang-bintang di langit
Katakan pada orang yang membandingkannya dengan Nu’man karena kebodohan
apakah mungkin cahaya dapat dibandingkan dengan kegelapan”

Seorang penyair bermazhab Maliki mengatakan:

“Jika mereka menyebutkan kitab-kitab ilmu, maka datangkan apakah dapat sebanding dengan kitab al-Muwaththa karya Malik. Dengan berpegang kepadanya tangan kekuasaan menjadi mendapat petunjuk barangsiapa yang menyimpang darinya dia akan celaka “

Seorang penyair bermazhab Hambali berkata:

” Aku telah menyelidiki syarat-syarat ulama seluruhnya,
selama aku hidup maupun sesudah mati.
Wasiatku kepada seluruh manusia,
hendaklah mereka bermazhab Hanbali “

Muhammad bin Abdul Baqi, wafat tahun 535 H yang bermazhab Hanbali, mengambarkan keadaan menyembunyikan mazhab yang terjadi kala itu didalam sebuah syairnya,
“Jagalah lidahmu, sedapat mungkin jangan sampai menceritakan yang tiga, yaitu umur, harta dan mazhab.
Karena atas yang tiga akan dikenakan yang tiga,
yaitu dikafirkan, dihasudi dan dituduh sebagai pembohong”

Demikianlah, setiap orang dari mereka sangat fanatik terhadap Imamnya, amat bangga dengan mazhabnya dan mengingkari mazhab-mazhab yang lainnya.
Hingga ada yang mengatakan “Barang siapa yang menjadi Hanafi maka diberi hadiah, dan barangsiapa yang menjadi Sayfi’i akan dihukum” (Ad-din al-Kahlish, jld 3, hal 355)

KURUN HIDUP PARA IMAM MAZHAB

IMAM ABU HANIFAH, Lahir tahun 80 H , pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan, Meninggal tahun 150 H.
IMAM MALIK , Lahir tahun 93 H Meninggal tahun 179 H
IMAM SYAFI’I, Lahir tahun 150 H Meninggal tahun 204 H
IMAM AHMAD BIN HANBAL, Lahir 164 H Meninggal tahun 241 H

Masa para Imam 4 mazhab (Hanafi, Malik, Safi’i dan Hanbali) bersamaan dengan para Imam Ahlilbait as :

Imam Hanafi (80 H s/d 150 H) dan Imam Malik (93 H s/d 179 H) sezaman dengan Imam Ja’far as-Sodiq (83 H s/d 148 H) dan Imam Musa al-Kadhim (128 H s/d 183 H).

Imam Syafi’i (150 H s/d 204 H) dan Imam Hanbali (164 H s/d 241 H) sezaman dengan Imam Ali ar-Ridha (148 H s/d 203 H) dan Imam Muhammad al-Jawad (195 H s/d 220 H).

Timbul pertanyaan sbb :

Mengapa posisi kepemimpinan / ke-Imam-an tidak dipundak Imam Ahlilbait ?
Mengapa lebih dikenal serta diutamakan Imam 4 mazhab ketimbang Imam Ahlilbait ?
Mengapa Imam 4 mazhab berdiam diri tidak melakukan pembelaan secara nyata Imam Ahlilbait dibunuh dizamannya ?

Ahmad Amin berkata, ” Penguasa mempunyai peranan yang besar di dalam memenangkan mazhab-mazhab ( Hanafi, Malik, Safi’i dan Hanbali ). Biasanya, jika sebuah pemerintahan yang kuat mendukung sebuah mazhab maka orang-orang akan mengikuti mazhab tersebut. Mazhab tersebut akan terus berkuasa sampai lenyapnya pemerintahan yang mendukungnya ” ( Dzahr al-Islam, jld 4, hal 96 )
Apakah masih mungkin ber- argumentasi tentang wajibnya mengikuti mazhab yang empat ?
Apakah memang ada dalil yang mengatakan bahwa mazhab hanya terbatas pada mazhab yang empat ?
Jika di sana tidak ada dalil yang menunjukan tentang wajibnya berpegang kepada mereka, apakah itu berarti Allah dan Rasul-Nya telah lalai akan masalah ini, dan tidak menjelaskan kepada mereka tentang dari mana seharusnya mereka mengambil agama mereka dan syariat hukum mereka ?
Mahasuci Allah dari membiarkan makhluk-Nya dengan tanpa menjelaskan kepada mereka tentang hukum-hukum dan jalan yang akan menyelamatkan mereka.
Allah swt telah menjelaskan melalui lidah Rasulullah saaw dan telah menegakkan hujjah akan wajibnya mengikuti ‘ Itrah Rasulullah saw( Ahlilbait ), ” Sesungguhnya Zat yang Mahatahu telah memberitahukan Aku bahwa keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya menemuiku di Telaga “

Komentar :

"Imam Al-Muhajir Bermazhab Syi’ah Imamiyah" (3)

  1. Syafiq Ashalaibiyyah said:

    NT berbohong ucapan Al Habib Ali bin Abi Bakr As Sakran terusannya adalah”Sayyid Sunni yang tdk mengafdhalkan Abu Bakar RA”….

  2. Satu Islam said:

    Imam Ali bin Ja’far Al Uradhi Bermazhab Syiah Imamiyah

    Diantara bukti untuk memperkuat ucapan Habib Ali bin Abi Bakr As Sakran adalah argument yang diakui seluruh Sadah/Alawiyin bahwa Imam Ahmad Al Muhajir ta’adaba bi abihi, berguru dan berteladan kepada ayahnya Isa an Naqib, dan ayahnya berguru dan berteladan kepada Muhammad ar Rumi, dan beliau berguru dan berteladan kepada ayahnya, yaitu Sayyiduna wa Maulana Ali al Uraidhi, putra Imam Ja’far Shadiq.

    Sementra itu Imam Ali al Uraidhi bermazhab Syiah Imamiyah, sebab terbukti bahwa beliau yang dikaruniai oleh Allah SWT umur panjang hingga zaman putra saudaranya yaitu Imam Ali Ar Ridha bin Musa Al Kadzim (Imam Ke-8 Syiah Imamiyah) dan Imam Muhammad al Jawad putra Imam Ali ar Ridha (Imam ke-9 Syiah Imamiyah). Al Uraidhi menegaskan kepercayaan beliau kepada kepemimpinan/ Imamah Ali Ar Ridha dan kemudian Imam Muhammad al Jawad, kendati Imam Ali Ridha adalah keponakannya.

    Demikian juga Al Uradihi mengimani kepemimpinan Imam Muhammad al Jawad yang nota bene cucu keponakannya.

  3. Satu Islam said:

    Syafiq Ashalaibiyyah@ bisakah antum copykan lafadh sebenarnya di dalam kitab itu yg berbahasa Arab?

mainsource:http://satuislam.wordpress.com/2010/08/05/imam-ahmad-bin-isa-al-muhajir-bermazhab-syiah-imamiyah/

Komentar Lainnya :


    • Haidar Abdullah Shahab
      Kebanyakan kalangan syiah hanya berargumen dgn sejarah bukan dgn alqur'an atau hadist shga ada istilah dlm kitab syiah bahwa alqur'an syiah 17000ayat dan nanti akan dtg bersama imam mahdi ra,dlm hadist pun mrka tidak memiliki dasar sanad yg... kuat kpd para aimmah dan itupula diakui oleh para ulama syiah sendiri,dan anehnya mrka berusaha memonjokkan hadist2 ahlusunnah dgn logika pembenaran bukan kebenaran shga yg muncul adalah kejahilan dan pemutarbalikan fakta keontentikan sebuah riwayat berdasarkan musalsal sanad yg mu'tamad bukan perasaan dan pembenaran.Lihat Selengkapnya
      Selasa pukul 21:25
    • Tulus Setia Haidar Abdullah Shahab Kenapa kamu tidak pernah sanggup jawab pertanyaan saya tapi tidak mau terus terang dan hanya bisa menghindar ? Tunjukkan bahwa ajaran yang kamu anut ada asal usulnya bukan malah menghindar.
      Rabu pukul 8:22
    • Tulus Setia
      Haidar Abdullah Shahab..untuk mengamati secara seksama agar tahu hakikat aqidah asy'ariyah tidak bertentangan dengan aqidah leluhur alawiyin, setidak-tidaknya dibutuhkan Dua kitab rujukan Aqidah dari kedua golongan. Apabila kitab aqidah ya...ng ada hanya karya abul hasan asy'ari dan para alawiyin yg ada skrng mengikuti aqidah asy'ari dan tidak memiliki kitab Tauhid sendiri ajaran datuk-datuknya. artinya yang ada hanya satu yaitu aqidah ajaran asy'ari/tidak ada pilihan. Bagaimana saya dapat mengamati secara seksama jika yang ada dihadapan saya hanya satu ? (kecuali Ustad beri saya judul kitab khusus tentang Tauhid yang memuat riwayat2 dari leluhur Habib Abdullah Al-Haddad atau ditulis oleh leluhur Habib Abdullah Al-Haddad, sbb hanya dgn begitu saya akan dapat mengamati secara seksama, ada perbedaan atau tidak).Lihat Selengkapnya
      Rabu pukul 8:24
    • Haidar Abdullah Shahab
      ‎@tulus alias pencerah

      Telah menulis al imam abdullah bin alwi alhaddad dlm kitabnya "adda'wah attammah"hal 130 dgn judul: "menahan diri dari mengkorek korek terlalu mendalam terhadap apa yg terjadi tentang perselisihan diantara para saha...bat"

      Sangat dianjurkan untuk bisa menahan diri dan tidak terlibat secara lisan secara mendalam dlm permasalahan atas apa yg telah berlaku diantara para sahabat dlm pertikaian dan fitnah yg terjadi,diantara kejadian itu yg dianjurkan kita untuk tidak terlalu terlibat didalamnya secara mendalam dan perlu menahan diri secara lisan darinya adalah:

      1. peristiwa terbunuhnya secara syahid kholifah sy utsman ibn affan ra

      2.peristiwa perselisihan antara amirul mu'minin al imam ali bin abi tholib kw dgn sahabat tholhah, zubayr,sy aisyah (ummul mu'minin) ra pada peristiwa perang jamal

      3.demikian juga perselisihan antara amirul mu'minin al imam ali bin abi tholib kw dgn muawiyah bin abi sufyan dan amr ibn ash ra dlm perang shiffin.

      Hendaknya seorang mu'min yg peduli terhadap agamanya memiliki hati yg penuh kasih sayang dan cinta terhadap para sahabat nabi saw serta mampu untuk menilai semua permasalahan tersebut kpd kejernihan hati dan fikiran serta membawanya kpd hal yg pantas dan di ta'wil dgn sangkaan yg baik demi menjaga kedudukan mereka selama mereka berkhidmat kpd nabi saw karena mereka adalah udul,pemegang amanah dan berbuat kebajikan dlm maslahat penyebaran ajaran agama nabi saw.

      Maka sungguh akan menyesal disaat terbuka hijab kelak bagi mereka yg merendahkan martabat mereka tanpa didasari dgn ilmu dan pengetahuan yg dalam dgn tuduhan yg tidak benar dan diliputi dgn prasangka dan hawa nafsu terhadap kedudukan mereka. (adda'wah attammah hal 130 al habib abdullah bin alwi al haddad shohib rotib ra)

      Adapun assayyid al allamah abubakar bin abdurahman bin syahab sbgaimana nukilan tulisan sbgian pengikut syiah di indonesia yg mengatas namakan beliau sbgai seorang syiah(dgn membenci para sahabat nabi saw),maka hal itu terbantahkan sbagaimana tulisan2 dan syair2 beliau yg banyak memuji para sahabat nabi saw dan diam serta menahan diri beliau atas apa yg terjadi diantara para sahabat nabi merupakan bukti bahwa beliau berada dlm jalan leluhurnya (thoriqoh alawiyah)adapun tuduhan dari kelompok syiah(istna asyariyah)beliau bermadhab syiah(istna asyariyah) secara dalil tidak bisa dibuktikan baik dlm masa hidup beliau,beliau adalah orang yg mu'tadil dlm segala permasalahan dan itupun tertulis secara jelas dlm karangan dan syair2 beliau,diantara syair beliau:

      "agama kami berlandaskan cinta ahlulbayt rasul saw yg dgnya akan terhapus dosa2"

      "begitu pula cinta kami kpd dua orang yg bersanding dgn rasul saw(abu bakar dan umar ra) yg memiliki kedudukan yg sangat mulia dan agung"

      "dgn berkah keduanya ALLAH telah memadamkan api fitnah dan kesesatan hendaknya menjadi renungan bagi mrka yg memiliki bashiroh(pandangan mata hati yg bersih)"

      "begitu pula ustman yg kita tahu keutamaanya dgn kedermawanan atas apa yg dia miliki maka mendapat kemudahan"

      "terlebih utama kabar gembira untuk mereka bahwa syurga sebagai tempat kediaman abadi bagi mereka"

      (rosfatu shody hal 110 karya al habib abubakar bin abdurahman bin syahab)

      Merupakan Sebuah kewajiban yg kokoh bagi semua orang mu'min secara umum dan atas keluarga duriyah ahlulbayt secara khusus untuk mengagungkan dan menghormati para sahabat nabi saw,karena mereka adalah ibarat bintang-bintang petunjuk dan orang- orang pembawa dan pengemban riwayat dan penulisan dari apa yg telah disampaikan oleh nabi saw. Telah dijelaskan dalam alqur'an dan hadist nabi saw tentang keutamaan mereka secara nyata, sebagaimana telah disabdakan nabi saw:

      "bahwa ALLAH telah memilihkan untukku di alam semesta ini sahabat-sahabat yg terbaik dibanding nabi2 dan rasul2 sebelumku"

      Sabda nabi saw yg lain: "ALLAH,ALLAH (peringatan keras) jagalah kehormatan para sahabatku,jangan kalian jadikan mereka sbagai bidikan mangsa sepeninggalku,siapa yg mencintai mereka maka aku cinta padanya,dan barang siapa yg membenci mereka,maka akupun benci kpd orang yg membenci mereka,siapa yg menganggu mereka maka dia telah menganggu aku,dan barang siapa menganggu aku maka dia telah menganggu ALLAH dan dikhawatikan akan dicabut iman dari dadanya(mati dlm keadaan su'ul khotimah)"

      Sabda nabi saw: "Sahabat-sahabatku ibarat bintang- bintang di langit jika kalian ikuti mereka niscaya hidayah akan kalian dapatkan"

      Sabda nabi saw: "janganlah kalian caci sahabat- sahabatku,demi nyawaku yg ada di gengamanya,jika kalian menginfaqkan sebesar gunung uhud berupa emas tidak akan bisa menandingi kedudukan mereka bahkan separuhnya pun dari kedudukan mereka tidak mampu untuk kalian raih"

      Paling afdhol diantara para sahabat nabi saw

      1.sy abubakar ashiddiq ra 2.sy umar ibn khottob ra 3.sy ustman ibn affan ra 4.sy ali bin abi tholib kw

      Ada diantara kalangan ahlusunnah yg mendahulukan sy ali kw atas sy utsman ra,ada juga yg tidak berkomentar(mauquf) dlm melebihkan diantara mereka satu sama lain(karena semuanya memiliki kemulyaan tersendiri diantaranya adalah pendapat imam malik ra) radyallahu anhum ajmain.

      Sebagaimana pula apa yg dilantunkan dari sebuah syair dari pengarang kitab zubad:

      "sepeninggal nabi saw adalah asiddiq yg paling afdhol(abubakar ra),berikutnya adalah al faruq (umar ra),begitu pula ustman selanjutnya ali kw dan enam yg tersisa (dijanjikan masuk surga)di ikuti berikutnya adalah peserta perang badar"

      Wallahu a'lam

      (dinukil dari kitab al abniyah al fikriyah al jamiah li tsawabit athoriqoh al alawiyah al husainiyah al mutafarri'ah min hadramaut ila majmu' bilad al islamiyah karya "al allamah "assayid al habib abi bakar adany bin ali bin abi bakar almashur al alawi al hadromi assafii al husaini" hal 41-45).
      Lihat Selengkapnya
      Rabu pukul 11:20 · 2 orang2 orang menyukai ini.
    • Ahmad Jacky Pencari Kebenaran Allahumma sholi 'Ala Sayiddina Muhammad Wa 'ala Aali Sayiddina Muhammad
      Rabu pukul 11:52
    • Tulus Setia Haidar Abdullah Shahab Yang saya tanya itu apa ? coba baca lagi??? Saya tanya tentang Tauhid bukan sahabat, sekali lagi Tauhid bukan sahabat. Yang terpenting dalam agama itu TAUHID bukan SAHABAT. Buktikan dari leluhurmu atau leluhur orang2 Tarim yang faham tentang TAUHID.
      Rabu pukul 12:50
    • Tulus Setia Haidar Abdullah Shahab Yang saya tanya Apakah orang2 yang selama ini kamu banggakan mengerti Tauhid atau tidak, jika mengerti mana karya mereka ? Saya tanya tentang Allah swt bukan Umar bin Khottob.
      Rabu pukul 12:52
    • Tulus Setia
      Haidar Abdullah Shahab Kalau tidak ada satupun dari mereka yang memiliki karya tentang Tauhid dan semua pada menjadi Buntut Asy'ari, untuk apa dibanggakan ??? Apa yg dapat dibanggakan dari orang yang tidak mengerti tentang Allah swt ??? .......Artinya bahwa mereka mengikuti Aqidah Datuk-datuk mereka hingga Rasul saw hanya penipuan dan kebohongan sebab nyatanya mereka mengikuti Asy'ari yang bukan dari keturunan Rasul saw.Lihat Selengkapnya
      Rabu pukul 12:55
    • Neng Bentank اللهم صلي على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم
      Rabu pukul 17:57
    • Haidar Abdullah Shahab
      ‎@tulus alias pencerah inilah akibat anda kurang mendengar dan membaca ttg kehidupan para salaf alawiyin,khususnya dimasa al imam muhajir ke bawah sampai al faqih al muqoddam mrka tidak membukukan karya2 mereka bukan karena sebab lain dika...renakan sifat tawadlu mereka dan enggan dari ketenaran thoriqoh mereka adalah al "khumul"menjauhi ketenaran dan ilmu mereka bersifat talaqy( dari ayah ke anak secara sambung menyambung dan dilakukan dgn tindakan dan amal)hingga datang masa al imam al ghozali dgn ihya'nya maka menjadi kesepakatan sebagai rujukan jalan mereka yg jelas bagi mereka2 yg jalan dibawahnyan,saya sarankan anda bisa faham apalagi dlm kitab ihya jelas2 memuat ttg tauhid fiqih dan tasawwuf.skrg coba sebutkan kitab tauhid karya al imam ja'far shodiq versi syiah secara sanad dan matan atau jangan2 sekedar catut nama.Lihat Selengkapnya
      Rabu pukul 19:42 · 2 orangMemuat...
    • Haidar Abdullah Shahab Lha wong orang ajam persia kok mau menipu ahlulbayt dgn mencatut nama mereka.balas dendam nih yeee
      Rabu pukul 19:44 · 1 orangMemuat...
    • Haidar Abdullah Shahab
      ‎@tulus alias pencerah inilah akibat anda kurang mendengar dan membaca ttg kehidupan para salaf alawiyin,khususnya dimasa al imam muhajir ke bawah sampai al faqih al muqoddam mrka tidak membukukan karya2 mereka bukan karena sebab lain dika...renakan sifat tawadlu mereka dan enggan dari ketenaran thoriqoh mereka adalah al "khumul"menjauhi ketenaran dan ilmu mereka bersifat talaqy( dari ayah ke anak secara sambung menyambung dan dilakukan dgn tindakan dan amal)hingga datang masa al imam al ghozali dgn ihya'nya maka menjadi kesepakatan sebagai rujukan jalan mereka yg jelas bagi mereka2 yg jalan dibawahnyan,saya sarankan anda bisa faham apalagi dlm kitab ihya jelas2 memuat ttg tauhid fiqih dan tasawwuf.skrg coba sebutkan kitab tauhid karya al imam ja'far shodiq versi syiah secara sanad dan matan atau jangan2 sekedar catut nama.Lihat Selengkapnya
      Rabu pukul 19:45 · 1 orangMemuat...
    • Haidar Abdullah Shahab Ditunggu kitab karya imam ja'far shodiq versi syiah itsna asyariyah,ana pingin tahu kitab beliau bukan akhu'i,al majlisy,al kulainy pengarang dongeng itu.faham
      Rabu pukul 19:51 · 2 orangMemuat...
    • Mercusuar Kalbu Ternyata tulus tidak lulus dan tidak bercerah hati lagi.kwkwkw
      Rabu pukul 20:17
    • Tulus Setia
      Haidar Abdullah Shahab Saya bukan tidak tahu, bahkan saya sangat faham kalau kamu lagi kebingungan, sebab orang-orang yang kamu jadikan symbol dan kebanggaan ternyata kelebihan mereka hanya dicerita dan tidak lebih dari itu. Mereka tidak m...enulis Tauhid, tapi mengapa harus mengikuti Asy'ari ? Jika mereka ilmunya seperti yang kamu ceritakan dari hasil Talaqy, mengapa bukan Asy'ari yang mengikuti mereka ? Cukup aneh. Juga mereka tidak punya karya Fiqh, masa tidak punya karya Fiqh juga karena Tawadhu' ? Apakah Ghazali dan Syafie tidak Tawadhu' ??? Kalau bicara Tafsir Al-Qur'an, sampai sekarang mereka tidak ada yang menulis Tafsir surat terpendek dalam Al-Qur'an, sebab menulis Tauhid, Fiqh dan Tafsir Al-Qur'an dibutuhkan Ilmu bukan cerita....Haidar, Apa kamu tidak tahu bahwa Ghazali itu orang persia, dan orang persia itu yang menjadi panutan orang2 yang kamu banggakan, artinya orang2 yang kamu banggakan levelnya dibawah orang persia tersebut. Dan untuk membuktikan kebohonganmu bahwa Ilmu orang2 yg kamu banggakn dari Talaqy, mengapa mereka belajar kepada Ba Marwan, Ba Jubair, Ba Isa, Ba Fadzl, Ba Jrei, Al-Khatib dll...itu bukti nyata bahwa mereka tidak mengikuti ajaran datuk-datuknya. Sedangkan ajaran Khumul dan sejenisnya, itu tidak ada hubungannya dengan Islam, sebab itu ajaran para dukun dari maroko, diantara nama yang populer adalah Abu Madyan..Ajaran itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama Islam dan itu juga bukti mereka mengImport ajaran dan keyakinan dari Maroko dan Persia...Jauh dari yang diajarkan oleh Datuk2 mereka. Soal Tariqat Ba-Alwi, itu hanya hasil hayalan saja, sebab Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas ketika ditanya tentang Tariqat Ba-Alwi, Beliau jawab bahwa itu hasil Merger antara Ghazaliyah dan Syadziliyah, artinya hanya pengakuan saja sedangkan pada hakekatnya tidak ada Tariqat Ba-Alwi/Alawiyah. Saya harap kamu dapat buktikan bahwa orang2 yang kamu bangga-banggakan punya karya di Tauhid, kalau tidak ada coba masalah Fiqh dan kalau tidak ada sedangkan Tariqat juga hasil Merger, maka lebih baik kamu diam dan tidak ada untungnya kamu menyerang syiah, sebab jika kamu tidak berhenti hasilnya saya akan luangkan waktu untuk membongkar kitab2 cerita khayal yang mereka tulis dan itu semua hanya untuk mengimbangi Fitnah yang kamu sebarkan, itu pilihan dari saya dan untuk selebihnya kamu yang berhak memilih, diteruskan atau tidak, saya hanya menunggu reaksi.Lihat Selengkapnya
      Kemarin jam 8:45
    • Haidar Abdullah Shahab
      ‎@tulus selama saya masih hidup saya akan habiskan umur saya untuk membela ajaran nabi saw dan para salafusholeh,jangankan ancaman dari orang kayak nt yg mau bongkar tuduhan lucu dongeng yg nt katakan,silahkan, karena yg anda hadapi adalah ...orang2 kekasih ALLAH,tugas saya hanya membela,urusan tindakan jika diusik para auliya'maka itu saya serahkan kpd yg mencintai mereka yaitu ROBBUL ALAMIN,mgkn nt ada nyali mau berperang dgn ALLAH?gak lama deh nt siap2 aja?sprti ka'bah yg akan dihancurkan oleh abrahah,maka jawaban abdul mutholib: yg memiliki ka'bah adalah ALLAH jadi urusanya saya kembalikan kpd ALLAH.mau jadi abrahah nt?Lihat Selengkapnya
      23 jam yang lalu · 2 orangMemuat...
    • Dayana Arina karya imam jakfar sodiq imam baqir tentang tauhid ada gak yaa?? namanya kitab apa pak??apa beliau gak ngerti tauhid yaa??hduuuuh jdi bingung niii...............uda lah gak usah ribut & ancam mengancam,,,ketemuan darat aja,,dialoq sntum & ilmiah,,biar mnfaat..pengecut pasti tdk berani......ayoo kalian pasti bisa,,buktikan klian punya ilmu,,
      19 jam yang lalu
    • Haidar Abdullah Shahab nama asli si tulus/pencerah aja masih taqiyah mana brani ktmu darat.biasa startegi yg dilakukan gol pengecut syiah "hit and run".
      19 jam yang lalu · 3 orangMemuat...
    • Dayana Arina macak ciii bib??,,saya yqin beliau berani kok..smga benar yg saya yaqini,,hehehehe,,ayo dong pak tulus tunjukan ketulusan bapak,,biar kita dpat ilmu nii,,pa lgi bpak pencerah ,,pasti berani ah,,yuuk kita buktiin,,salam untuk para ustad2
      19 jam yang lalu
    • Abidinsyah Said maaf punya kitab tauhid, tapi mencintai sayyidina Ali, dengan memukul2 diri, bukankan perbuatan zolim menyakiti diri sendiri, Maaf punya kitab FIQH, ko ada nikah mu'tah, Setau saya para leluhur BaAlawi memang bukan pencetak buku, tapi lebih kepada menjaga ahlak, yg di contohkan Imam AlMuhajjir. sedangkan AlFakih seseorang yg mempuyai ilmu fikih, yang tinggi dizamannya, AlMuqaddam kedudukan kewalianya yang tinggi....
      19 jam yang lalu
    • Hasan Alatas Masya Allah ni syi'ah kagak puas2nye ni ngaku2in aslaf.....sekalian aje tu smua sahabat nt bilang syi'ah semua nanggung amat kl ngomong...Syyidina Abu bkr,Umar,sm Usman itu bilang aje mereka smua syi'ah biar pada puas nt pade...iye em syi'ah is the best SMUA SYI"AH TRUS LO MAU APA?
      17 jam yang lalu · 1 orangMemuat...
    • Dayana Arina eeeeh blum ada yg muncul tooh..kpan ketemuan daratnya??..pak tulus bang hedar om pencerah ayo dong,,,,,,,,,,,piiiiiiiiiiiissssssssss
      14 jam yang lalu
    • Fahmi Syahab Mari lewat mihrab masjid kita serukan: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا dan إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
      12 jam yang lalu
    • Sayyid Syafiq Ashalaibiyyah Ahsan ketemuan langsung....Haidar Abdullah Shahab sudah berani menunjukan akun asli dan menantang bertemu itu merupakan keteguhan prinsip dalam membela akidah..bagaimana dengan pak tulus?
      2 jam yang lalu · 1 orangMemuat...
    • Sayyid Syafiq Ashalaibiyyah Ana akan coba sedikit koreksi ucapan pak tulus..Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad mempunyai karya tulis bung jangan sembarang omong nt.
      2 jam yang lalu
    • Pencerah Hati Ana hanya melihat fakta saja bahwa sebagian kaum alawiyyin yg sektarian sangat gigih dalam upaya2 memecah-belah umat dengan dalil menjaga kemurnian akidah aswaja, seolah-olah Islam hanya made in Hadramaut selainnya diragukan bahkan tertolak sementara Islam sebagai Rahmatan lil Alamin berubah menjadi Islam yg sektarian, gemar perpecahan umat, menina-bobokan awam dengan cerita2 keramat dlsb bahkan cenderung rasis.
      47 menit yang lalu
    • Pencerah Hati Menyambut Muktamar Nasional Rabithah ALawiyah 27-29 mendatang RA memiliki setumpuk PR yg harus segera diselesaikan agar generasi ALawiyyin mendatang menjadi generasi teladan yg cinta persatuan khususnya Fatwa eksplisit tentang Sunnah dan Syi'ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam.
      45 menit yang lalu

0 comments to "Mau Sunni, Mau Syi'ah yang penting bukan Khawarij Abad ini, yang terbiasa meng Kafirkan orang tanpa sentuhan Akhlak !!!"

Leave a comment