Home , , � The Road to Khorasan: Sepotong Kisah di Gerbong Kereta Delijan

The Road to Khorasan: Sepotong Kisah di Gerbong Kereta Delijan

Oleh: Afifah Ahmad
Kereta senja delijan bergerak perlahan meninggalkan kesibukan Tehran. Gedung-gedung menjulang segera berlalu dari pandanganku, berganti deretan rumah-rumah sederhana di pinggiran kota.

Rel kereta merentang panjang tanpa batas di depan sana. Liukan gerbong-gerbong kereta itu seakan berlomba dengan sang surya yang pelan-pelan mulai menepi ke ujung cakrawala. Ah...rasanya tak ada yang bisa menggantikan indahnya berkereta di senja hari.

Sebuah suasana indah yang bertahun lalu selalu kunikmati, saat mendapati diri terguncang di sepanjang pantai utara Jawa, antara Yogya dan Jakarta. Jalanan panjang, sepotong senja juga anak-anak telanjang kaki yang berlarian mengejar kereta. Para penumpang melambaikan tangannya dari balik kaca jendela yang pecah retak, maklum kereta kelas rakyat memang selalu tak terawat. Bangku-bangku tua juga pintu yang berdenyit seperti bicara tentang ketuaan, tapi wajah-wajah sumringah pedagang asongan sedikit mengelabuhi tubuh kereta yang renta.

Adalah aku selalu memilih duduk di samping jendela, membagi pandangan pada sinar pudar mentari yang timbul tenggelam dari balik rimbun pepohonan atau menyimak kericuhan dalam gerbong, keduanya sama menyenangkan. Gerbong rakyat ini selalu hidup oleh penumpang yang berebut tempat duduk, pedagang asongan juga suara bayi yang menangis kegerahan di antara lampu remang, kala senja telah sempurna berpulang. Puluhan jenis teman seperjalanan pernah kutemui dari mulai sesama mahasiswa, kakek renta, remaja sampai ibu menyusui.

Potret bertahun lalu itu masih saja terasa segar hingga hari ini, saat punggungku bersandar pada sebuah kursi empuk kereta yang melaju ke arah selatan Iran. Kereta yang unik dan elegan dengan pembagian ruang-ruang privasi, tempat tidur lipat, jendela yang bertirai sepadan dengan warna dasar karpet, meja kecil dan layar tv. Ada sebersit kerinduan pada suara sumbang pengamen dan kericuhan dalam gerbong, rasanya ini terlalu hening untukku. Untungnya, masih tersisa keindahan lain, sang raja hari yang membulat di ujung Barat akan segera berpulang. Sesaat aku tersihir oleh bias cahaya keemasan, sebelum akhirnya langit memekat, menyisakkan kelap-kelip lampu dari kejauhan.

"Befarmaid dokhtarjoon..!"
Seorang bapak sepuh menyilahkan teh yang baru saja dibuatnya.
"Kheili mamnun, zahmat keshidi"
Kuraih secangkir teh panas di atas meja.

Agha Mehrabi, begitu ia mengenalkan namanya, teman seperjalanan yang terselip sendiri di kamar kereta kami, ruang 4 gerbong 12.

Gerbong kereta jarak jauh di Iran memang didesain menyerupai kamar-kamar mini, setiap kamar diisi empat penumpang. Sebenarnya, kami memesan empat tiket, namun ternyata tiket anak tidak dihitung dengan tempat duduk hingga menyisakan satu kursi yang kini diisi oleh Agha Mekharabi.

Lelaki yang berusia tujuh puluhan ini, ternyata teman seperjalanan yang menyenangkan. Di antara deru mesin kereta, kami saling berbagi cerita. Kerinduanku berkereta rakyat sedikit terobati oleh kehangatan kisah-kisah bapak penggemar sejarah ini. Bahkan, ia tahu banyak tentang geografi Indonesia, tentang Soekarno atau tentang Obama yang anak menteng. Tak heran kalau melihat keuletannya dalam membaca, sepanjang jalan kulihat mata tuanya terus mengintai aksara-aksara pada buku.

Yang lebih mengagumkan, rasa empatinya begitu besar saat ia berkata: "Kaki saya memang agak sakit, tapi lebih baik saya yang tidur di ranjang atas, karena anda punya balita." Bukan main bahagianya hatiku saat menerima tawaran itu. Tak terbayangkan kalau aku yang berada di ranjang tingkat, sementara harus turun naik mengantar Mehdi ke kamar mandi. Malam itu, untuk pertama kalinya kunikmati perjalanan panjang dengan nyaman hingga tak terasa pagi hampir menjelang. Petugas kereta memberikan informasi, kereta akan segera berhenti untuk menunaikan shalat subuh.

Inilah salah satu keistimewaan berkereta jarak jauh di Iran. Jika waktu shalat tiba, kereta akan berhenti di stasiun yang memiliki kapasitas mushalla dan tempat wudhu memadai. Petugas memberikan informasi pada setiap kamar-kamar, walaupun tidak ada paksaan setiap penumpang untuk turun. Ada juga yang tetap dalam kereta dan menjalankan shalat di dalam gerbong. Waktu yang disediakan memang tidak banyak hingga penumpang harus benar-benar mengefektifkannya. Biasanya, aku mencuri start dengan memanfaatkan kamar mandi, saat kereta berhenti bisa segera kulangkahkan kaki menuju mushalla.
***
Ditemani pagi yang cerah, kunikmati sepotong roti tradisional bersama mentega dan keju berukuran mini, juga secangkir teh hangat, masih di sini, di atas gerbong kereta Dilijan.

Perlahan kereta mulai mendekati provinsi Khorasan, matahari yang sore tadi berpulang kini telah kembali sempurna menerangi semesta.

Di luar sana, gunung-gunung terjal berjajar sepanjang jalan, sesekali kereta meliuk di antara kebun-kebun gandum yang telah mengering atau desa-desa terpencil yang terbuat dari tanah-tanah liat, sebuah potret unik yang jarang kutemukan.

Di depan sana terlihat stasiun pemberhentian, laju kereta mulai melambat sebelum akhirnya terhenti. Mataku menangkap sebuah plang yang menunjukkan nama tempat ini "Nishabour" Ah....nama tempat ini terasa begitu akrab, banyak tokoh dan penyair muslim lahir dan dimakamkan di tempat ini seperti Khayyam dan Athar. Tempat peristirahatan dua seniman besar ini dibangun indah dan sepanjang tahun ramai dikunjungi para pelancong lokal maupun manca negara. Nishabour juga menyimpan tempat bersejarah yang hingga kini selalu dikenang tidak hanya oleh penduduk Khorasan juga seluruh masyarakat Iran yang dikenal dengan nama Ghadamgah.

Kenangan empat tahun ke belakang segera berlompatan, saat pertama kali singgah di Ghadamgah, sebuah lembah di selatan lereng gunung Binaloud, 24 km dari Nishabour dan 100 km dari Mashhad. Selama bertahun-tahun, Ghadamgah telah menarik perhatian wisatawan juga para peziarah dari berbagai pelosok dunia. Ghadamgah sendiri berasal dari dua kata Ghadam, yang artinya langkah kaki. Gah, tempat pemberhentian. Sehingga Ghadamgah dimaknai sebagi sebuah tempat pemberhentian musafir suci.

Cerita Ghadamgah kembali kepada Imam Reza as saat singgah dalam perjalanan dari Madinah. Di sana juga bisa ditemukan jejak kaki, yang diperkirakan milik Imam Ridha as. Terdapat juga mata air yang mengalir jernih, konon saat Imam berhenti untuk berwudlu, tiba-tiba ditemukan mata air.

Kubah bangunan Ghadamgah dari kejauhan nampak seperti permata pyrus dalam sebuah bidang hijau. Taman di Ghadamgah memiliki tiga teras. Teras pertama berbentuk persegi berupa bundaran yang berukuran 100 m x 100 m, dengan dua bangunan tua di tengahnya.

Tempat ini begitu damai, dinaungi pepohonan rindang, dengan mata air jernih mengalir bening. Bagian taman ini seperti dirancang untuk memfokuskan dan mengarahkan pikiran ke dunia lainnya.

Kombinasi air ini begitu memukau, seperti sebuah saluran irigasi pada sistem alam, ada yang terbendung dalam sebuah kolam, mengalir bagai air terjun ke dataran rendah, ada juga yang mengalir tenang memanjang seperti anak sungai.

Sistem pengairan dalam kebun ini menghadiahkan kesejukan di musim panas serta menyuguhkan suara gemercik yang menenangkan sepanjang hari.

Lebih menggetarkan lagi, saat menyaksikan jejak dua telapak kaki yang diabadikan di dalam sebuah zarih. Sungguh luar biasa penghargaan yang diberikan penduduk setempat pada pemilik jejak ini.

Dalam sebuah film digambarkan bagaimana penyambutan warga Nishabour saat kedatangan Imam Ridha, lautan manusia berbondong-bondong memenuhi sudut-sudut kota itu.

Dan ribuan tahun setelah berlalunya peristiwa tersebut, anak manusia dari berbagai negara dan benua masih memberikan penghormatan yang sama, seperti kebanyakan para penumpang kereta ini datang untuk berziarah pada pemilik jejak suci.
***
Kereta kembali melaju, kota Mashhad telah menanti di depan sana. Perjalanan meniti Khorasan, selalu saja menghadiahkan kenangan indah, seperti juga pengalamanku kali ini. Menikmati kenyamanan kereta bersama kisah-kisah menyenangkan Pak Mehrabi, pun sepotong kenangan yang tertinggal di Nishabour, tempat para pecinta pernah dan akan selalu bertemu.
Mashhad, 12 April 2009.(irib/23/6/2011)

0 comments to "The Road to Khorasan: Sepotong Kisah di Gerbong Kereta Delijan"

Leave a comment