Home , , , , , , , , , , � Mengapa Koran Banjarmasin Post "seolah" memberitakan tentang Yaman adalah "Konflik Syi'ah dan Sunni"...!!!????? Maukah Islam terpecah belah???

Mengapa Koran Banjarmasin Post "seolah" memberitakan tentang Yaman adalah "Konflik Syi'ah dan Sunni"...!!!????? Maukah Islam terpecah belah???

Team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com- Banjarmasin- Dalam dua hari ini (tanggal 2 dan 3 Desember 2011, Koran terbesar di kalimantan yaitu Banjarmasin Post telah menurunkan berita yang "berkesan" telah terjadi "konflik yang amat besar (parah)" antara Syiah dan Sunni di negara Yaman, alangkah adilnya kalau yang memberitakan maksudnya wartawannya jangan hanya copypaste, tapi kalau perlu wartawannya harus datang ke Yaman, sehingga sumber beritanya lebih berkesan "adil" dan "berimbang", sehingga tidak ada kesan Sunni dan Syiah yang merupakan mazhab terbesar selain Wahabi yang "salafi" diadu domba, semoga Persatuan Islam dapat terwujud..InsyaAllah...Hidup Islam..Hidup Perdamaian...(KNY/MFF/AR/R)

Yaman: Perang Obama Selanjutnya?

Semua seperti kebetulan. Kebetulan, sepekan sebelum Natal, AS mengebom beberapa lokasi di Yaman yang dicurigai sebagai sarang Al Qaida. Kebetulan juga, di awal Desember, saat mengumumkan penambahan 30.000 pasukan AS ke Afghan, Obama sudah menyebut-nyebut Yaman, “Where al Qaeda and its allies attempt to establish a foothold — whether in Somalia or Yemen or elsewhere — they must be confronted by growing pressure and strong partnerships.”

Selama tahun 2009 pun, AS sudah menggelontorkan dana 70 million dollar untuk membantu pemerintah Yaman memberantas terorisme.

Lalu, kebetulan pula, di malam Natal seorang pemuda Nigeria yang latar belakangnya dengan sangat mudah dilacak bahwa dia punya kecederungan radikal dan konon punya link dg Al Qaida di Yemen, bisa lolos pemeriksaan di bandara, lalu melenggang naik Northwest 253 menuju Detroit. (Padahal, sudah umum diketahui, orang-orang dengan nama Islami pasti mengalami pemeriksaan jauh lebih ketat di bandara-bandara di negara Barat-bahkan cenderung berupa pelecehan-, dibanding orang dengan mana ‘biasa’). Kebetulan pula, dia membawa bahan peledak dan kebetulan, ada penumpang lain yang memergokinya. Gagallah upaya peledakan pesawat dengan 300 penumpang itu.

(Pertanyaan: owalaaa… pada kemana ya, para petugas FBI-CIA yang canggih seperti di film2 itu?).

Lalu, Al Qaida, entah dari mana, mengirimkan pesan lewat internet mengakui bahwa upaya peledakan Northwest 253 didalangi oleh mereka. Dan sudah bisa ditebak cerita selanjutkan: para politisi dan media AS beramai-ramai berteriak bahwa Yaman adalah sarang teroris. Obama pun mengeluarkan heroiknya, “Kami akan terus menggunakan semua elemen kekuatan nasional untuk melucuti dan mengalahkan kekerasan kaum ekstrimis yang mengancam kita, tak peduli apa mereka dari Afghanistan, Pakistan, Yemen, atau Somalia, atau dimanapun mereka merencanakan upaya penyerangan terhadap tanah air AS.

Pemerintahan Obama pun mengumumkan akan menaikkan dana bantuan pemberantasan terorisme kepada pemerintah Yaman 3 kali lipat pada tahun 2010 ini (3×70 million dollar!)

Pertanyaan besarnya:

1. Mengapa semua ‘kebetulan’ itu bisa terjadi? Mengapa Obama sedemikian ngotot ingin melanjutkan perang? Benarkah demi melindungi rakyat AS? Mengapa bukan pengamanan bandara saja yang masih bolong-bolong itu diperkuat? Lalu, menyumbang 4 x 70 Million dollar ke Yaman, di saat perekomian AS masih sangat kacau akibat krisis global, tidakkah itu justru merugikan rakyat AS sendiri?

2. Apa apa sebenarnya di Yaman? Mengapa pemerintah Yaman tenang-tenang saja ada tentara asing membunuhi 120 warganya? Siapa sebenarnya yang jadi sasaran perang melawan terorisme di Yaman?

Berikut ini jawaban untuk pertanyaan pertama (jawaban untuk pertanyaan kedua, insya Allah saya tulis lain waktu).

a. Kebetulan yang selalu berulang

Tahun 1898, secara misterius, kapal USS Maine tenggelam di perairan Kuba, publik AS marah dan meletuslah “Spanish-American War”. Hasilnya, kemenangan ada di pihak AS; hegemoni Spanyol di negara-negara Amerika Selatan bisa dienyahkan dan AS lah yang menjadi dominan di sana.

Tahun 1941, Jepang menyerang Pearl Harbour dan menewaskan lebih dari 2000 personil militer AS. Publik AS marah, dan tentara AS pun mendapat justifikasi untuk melibatkan diri di PD II. Kelak kemudian diketahui bahwa Washington sebenarnya sudah tahu ada rencana penyerangan itu, namun tetap diam demi kepentingan yang lebih besar. Pasca PD II, AS pun meraih posisi sebagai kekuatan superpower dunia.

Tahun 1964, bentrokan di Teluk Tonkin memberi justifikasi bagi Presiden Lyndon Johnson untuk memberangkatkan pasukan perangnya di Vietnam.

Yang paling mutakhir adalah tahun 2001. Orang-orang yang latar belakangnya sudah diketahui ada link dengan Al Qaida diizinkan masuk AS, ikut pelatihan pilot, dan akhirnya menerbangkan pesawat yang kemudian menabrakkan diri ke Menara WTC. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, mengapa pesawat itu bisa lolos dari radar; sistem pertahanan udara AS sedemikian canggihnya, sehingga bila ada pesawat yang keluar jalur, dalam sekejap squad khusus akan terbang mengejar dan menembaknya. Tapi, kemana semua sistem pertahanan canggih itu?

Tragedi 9/11 memberi justifikasi dan dukungan publik bagi dilancarkannya Perang Melawan Terorisme yang dimulai pada era Bush. Era Obama, isu terorisme tetap dipakai untuk melanjutkan pendudukan Irak, mengekskalasi perang di Afghanistan, lalu memperluasnya ke perbatasan Pakistan, dan kini rencananya, ke Yaman.

b. Perang memang merugikan RAKYAT AS, tapi menguntungkan kaum elit

Ya, ya, ya, rakyat AS memang sedang mengalami krisis ekonomi. Pengangguran meningkat tinggi. Orang-orang banyak kehilangan rumah karena tak sanggup bayar cicilan. Biaya kesehatan meroket tinggi sementara subsidi semakin dikurangi. Tapi itu kan RAKYAT?

Sementara, pengambil keputusan perang bukanlah RAKYAT. Mereka adalah pemilik saham di perusahaan-perusahaan minyak, senjata, bahkan perusahaan keamanan privat. Perang adalah industri dan tambang uang. Dan, mesin-mesin perang pun kembali disiapkan. Pabrik-pabrik senjata tak perlu lagi khawatir kekurangan pembeli. Industriawan minyak akan berpesta karena perang akan menaikkan harga minyak. Perang masih akan terus berlangsung lama.

Seperti kata senator Yahudi pro Zionis AS, Joe Lieberman, “Iraq was yesterday’s war, Afghanistan is today’s war. If we don’t act preemptively, Yemen will be tomorrow’s war.”

mainsource:http://dinasulaeman.wordpress.com/2010/01/09/yaman-perang-obama-selanjutnya/

Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (2)

Di Yaman, setiap satu dari tiga orang memiliki senapan. Senapan, granat, atau bahkan ranjau dijual bebas di pasar. Tapi, “kebetulan” mereka orang Arab dan orang Arab sudah sejak lama distereotipkan dengan kekerasan. Karena itu, orang Arab yang memegang senapan dipandang berbahaya dan identik dengan teroris. Lebih parah lagi, Yemen disebut-sebut sebagai failed state (negara gagal) dan failed state sering dinyatakan sebagai ‘tempat berlindung yang aman (safe haven) bagi berkembangnya terorisme’. Karena itulah, tuduhan bahwa Al Qaida sedang bersarang di Yaman sangat mudah diterima oleh opini publik.

Padahal, senapan dan senjata memang budaya Yaman sejak lama, mungkin sama seperti budaya orang Jawa (zaman dulu) pegang keris atau suku Aborigin yang membawa boomerang kemana-mana. Itu budaya mereka, seperti kata Prof Ahmed al Kibsi pada BBC, “Just as you have your tie, the Yemeni will carry his gun.” Di balik kesukaan orang Yaman membawa senjata, jurnalis Inggris Patrick Cockburn melihat orang Arab Yaman dengan cara berbeda, “The Yemenis are exceptionally hospitable.. Yemenis are intelligent, humorous, sociable and democratic, infinitely preferable as company to the arrogant and ignorant playboys of the Arab oil states in the rest of the Arabian Peninsula.”

Di balik keramahan orang Yaman seperti yang diceritakan Cockburn, mereka sesungguhnya hidup dalam kondisi perekonomian yang buruk. Cadangan minyak dan air mereka semakin berkurang, data dari PBB menyebutkan bahwa 45% dari 22 juta rakyatnya hidup di dengan penghasilan di bawah 2 dollar sehari.

Secara umum, sesungguhnya Yaman belum bisa dikategorikan failed state tapi mungkin memang bisa tergolong ‘weak state’ (negara lemah). Sorensen menyebutkan ciri-ciri weak state sbb: komunitas lokal lebih dominan daripada komunitas nasional, loyalitas yang lemah kepada negara, dan tingkat legitimasi pemerintah sangat rendah; pemerintahan yang tidak efisien dan korup, aturan yang berlaku lebih berupa kekerasan daripada aturan hukum, serta tidak adanya monopoli pada penggunaan kekerasan secara legitimate (di negara ‘normal’ hanya negara yang berhak menggunakan kekerasan, misalnya militer atau polisi; tapi di weak state, semua orang boleh memegang senjata).

Seluruh ciri-ciri weak state yang disebutkan oleh Sorensen ada pada Yaman. Seperti ditulis Cockburn, “The strength of the central government in the capital, Sanaa, is limited and it generally avoids direct confrontations with tribal confederations, tribes, clans and powerful families.”

Failed states (dengan indikator antara lain: sangat miskin, pemerintahnya tidak lagi punya kedaulatan dan tak mampu lagi memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya) disebut-sebut sebagai tempat yang subur (inkubator) bagi berkembangnya terorisme dan dijadikan justifikasi bagi intervensi militer AS. AS berdalih bahwa intervensi militer di negara-negara gagal itu bertujuan untuk demokratisasi dan melindungi dunia dari ancaman terorisme. Negara-negara gagal yang pernah/sedang diserbu AS: Lebanon tahun 1982, Somalia pada awal 1990-an, Irak sejak 2003, Afganistan sejak 2001.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dieksplorasi dari pendefinisian failed state: apakah standarnya, apakah memang benar failed states adalah inkubator bagi terorisme, apa benar Al Qaida kini bersarang di Yaman karena Yaman adalahfailed state, dll. Tapi artikel ini hanya dimaksudkan untuk menjawab: Apa yang dicari AS di Yaman? Data menunjukkan bahwa Yaman sedemikian miskinnya sehingga hampir jadi failed state, lalu apa yang membuat AS mau menggelontorkan dana ratusan juta dollar untuk Perang Melawan Terorisme di Yaman?

….biar ga capek bacanya, bersambung ke bagian 3 ya..:)

mainsource:http://dinasulaeman.wordpress.com/2010/01/15/yaman-perang-obama-selanjutnya-2/

Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (3)

Sebelum menjawab, sebaiknya melihat ke peta dulu:

Sumber peta: www.nystromnet.comSumber peta: www.nystromnet.com

Yaman berbatasan dengan Arab Saudi di utara, Laut Merah di Barat, Teluk Aden dan Laut Arab di selatan, di seberang Teluk Aden ada Somalia, Jibouti. Di sebelah Jibouti berderet Eritrea, Sudan, dan Mesir. Dengan demikian, semua negara itu (Arab Saudi, Mesir, Somalia, Jibouti, Eritrea, Sudan, dan Yaman saling berhadapan dengan Selat Mandab (Bab el Mandab) yang super-strategis. Tanker-tanker minyak dari Teluk Persia harus lewat ke Selat Mandab, baru kemudian melewati Kanal Suez, dan menuju Mediterania.

William Engdahl dari Global Research menganalisis bahwa jika AS punya alasan yang diterima opini publik internasional untuk memiliterisasi Selat Mandab, AS akan punya kartu truf di hadapan Uni Eropa dan China bila mereka ‘berani’ di hadapan AS. Suplai energi China dan Eropa sangat bergantung dari Selat Mandab. Bahkan Selat Mandab bisa dipakai AS untuk menekan Arab Saudi agar tetap melakukan transaksi dalam dollar Amerika (sebagaimana pernah diberitakan media, Arab Saudi dan beberapa negara –termasuk Iran-pernah melontarkan keinginan untuk melakukan transaksi tidak dengan dollar). Engdahl juga menyebutkan adanya informasi dari Washington bahwa ada sumber minyak yang luar biasa besar di Yaman, yang sama sekali belum dieksplorasi.

Engdahl kemudian menyoroti kasus bajak laut Somalia yang membuat kacau di Selat Mandab selama dua tahun terakhir. Pertanyaannya: bagaimana mungkin bajak laut dari negara gagal ranking satu sampai punya senjata dan logistik yang canggih sampai-sampai dalam dua tahun terakhir mampu membajak 80 kapal dari berbagai negara? Bahkan pembajak Somalia itu memakai gaya-gaya penjahat di negara maju: menelpon langsung kantor koran Times di Inggris, memberitahukan bahwa mereka sudah membajak.

Merajalelanya perompak Somalia di Selat Mandab memberi alasan kepada AS untuk menaruh kapal perangnya di sana. Pemerintah Mesir, Sudan, Jibouti, Eritrea, Somalia, Arab Saudi, sudah terkooptasi oleh AS sehingga diperkirakan tidak akan memberikan reaksi negatif bagi militerisasi AS di Selat Mandab. Kini, masih ada satu negara di sekeliling Selat Mandab yang masih perlu ditaklukkan: Yaman.

Pemerintah Yaman memang pro-AS, tapi masalahnya, Presiden Ali Abdullah Saleh tidak cukup kuat untuk mengontrol negaranya. Republik Yaman baru terbentuk pada tahun 1990 dengan menyatukan Yaman Utara dan Yaman Selatan. Perang saudara di Yaman sudah lama berlangsung dan pemerintah Yaman tak mampu mengontrolnya (baca lagi karakter weak states di bagian 2). Karena itu, strategi yang selama ini dipakai AS di Irak akan diulangi lagi: agar AS bisa menguasai Yaman (minimalnya, mengatur pemerintah Yaman agar sesuai dengan kehendak AS), Yaman harus disibukkan dengan konflik internal. AS akan mendukung satu kelompok dalam melemahkan kelompok yang lain.

Kali ini, kelompok yang dijadikan kambing hitam lebih dari satu: di Yaman Utara ada gerakan Houthi yang dipimpin Husein Al-Houthi (bermazhab Syiah Zaidiyah), di Yaman selatan ada Southern Movement Coalition yang dipimpin Al Fadhli (yang bermazhab Sunni Salafi). Kedua kelompok ini selama bertahun-tahun telah beroposisi pada Presiden Saleh yang mereka anggap despotik.

Untuk memberangus Houthi, isu Syiah dan Iran dihembus-hembuskan (catatan: bahkan media-media Islam Indonesia macam Sabili dan era Muslim ikut berpartisipasi dalam isu ini). Houthi dituduh ingin melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Saleh (yang Sunni) dan mendapatkan bantuan Iran untuk mendirikan negara Syiah. Bahkan, Arab Saudi dan AS ikut ‘membantu’ pemerintah Yaman dengan membombardir wilayah Yaman utara pada pertengahan Desember 2009. Ratusan suku Houthi tewas.

Sedangkan untuk membungkan perlawanan kaum Sunni di Yaman Selatan, tak lain tak bukan: isu terorisme dihembuskan. Tiba-tiba saja, Al Qaida buka ‘cabang’ di Yaman, lalu ada agennya yang membawa bahan peledak di pesawat AS. AS pun menggelontorkan dana ratusan juta dollar untuk membantu Presiden Saleh memberantas terorisme (baca bagian 1). Jauh-jauh hari, Al Fadhli, pemimpin gerakan Koalisi Selatan yang beraliran Salafi dalam wawancaranya Al-Sharq al-Awsat (14/5/ 2009) membantah keras keterkaitannya dengan Al Qaida. Namun, ‘kebetulan’ pula, pada hari yang sama—melalui internet—Al Wahasyhi, pimpinan Al Qaida’cabang Yaman’ menyatakan dukungannya pada perjuangan Al Fadhli.

Menyikapi isu keterkaitan Iran-Houthi: menurut saya, itu terlalu dibuat-buat dan hanya ingin mendistorsi opini publik. Iran dan Houthi sama-sama Syiah, tapi beda mazhab. Houthi yang Zaidiyah tidak akan pernah mau berpatron pada Iran yang beraliran “12 Imam”.

Menyikapi isu merebaknya Al Qaida di Yaman dengan alasan bahwa Yaman adalah ‘negara gagal’, saya kutip saja kalimat parodik dari BBC, “And in this weapon-happy country, militants do not need al-Qaeda basic training camps as everyone here already knows how to use the weapons of guerrilla warfare.”

Copyright: Dina Y. Sulaeman. Please honor the copyright

mainsource:http://dinasulaeman.wordpress.com/2010/01/15/yaman-perang-obama-selanjutnya-3/

Dalam Tiga Bulan Teroris Al-Qaida Kocar-Kacir Di Yaman!

Sebanyak 90 prajurit Yaman di sebuah pangkalan militer yang terkepung dan 30 pemimpin Al-Qaida tewas di kota Zinjibar, Yaman selatan, dalam waktu tiga bulan, kata kantor berita Saba mengutip pernyataan wakil presiden, Minggu.

Para analis khawatir bahwa Yaman akan runtuh akibat pemberontakan Syiah di wilayah utara…

Wakil Presiden Abdrabuh Mansur Hadi mengatakan kepada sejumlah diplomat Eropa, ke-90 prajurit itu semuanya berasal dari Brigade Mesin 25 yang terkepung sejak militan menguasai kota itu pada Mei, kata Saba di situs beritanya, lapor AFP.Hadi mengatakan, lebih dari 600 prajurit dari brigade yang sama terluka.

Saba mengutip Hadi yang mengatakan, 30 pemimpin lokal Al-Qaida tewas dalam kurun waktu sama, yang membuat Zinjibar, ibu kota provinsi Abyan, Yaman selatan, menjadi “pemakaman bagi jaringan teroris Al-Qaida”.

Pemerintah mengumumkan, Sabtu, militer telah “membebaskan” Zinjibar, yang dikuasai kelompok militan yang diyakini terkait dengan Al-Qaida pada Mei.

Namun, Minggu, seorang pejabat militer yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan, militer hanya menguasai lagi bagian-bagian utara dan timur dari kota itu.

Sejak akhir Mei, gerilyawan menguasai sejumlah kota di provinsi Abyan, dengan memanfaatkan kondisi pemerintah pusat yang melemah akibat gelombang protes menentang kekuasaan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Pasukan keamanan Yaman selama beberapa pekan ini memerangi kelompok orang bersenjata yang dituduh sebagai anggota Al-Qaida di Abyan, Yaman selatan, khususnya di ibu kota provinsi itu, Zinjibar, yang sebagian besar dikuasai oleh militan sejak Mei.

Kekerasan menewaskan lebih dari 150 prajurit sejak militan bersenjata yang menamakan diri “Pengikut Sharia” menguasai sebagian besar Zinjibar, ibu kota provinsi Abyan, pada 29 Mei.

Para pejabat keamanan mengatakan bahwa militan itu adalah Al-Qaida, namun oposisi politik menuduh pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh mengada-ada tentang ancaman jihad dengan tujuan menangkal tekanan Barat terhadap kekuasaannya yang telah berlangsung 33 tahun.

Pertempuran di Abyan itu berlangsung ketika protes massal yang menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh memasuki bulan ketujuh, yang melumpuhkan sejumlah kota dan mendorong negara itu ke dalam ketidakpastian politik.

Saleh berada di sebuah rumah sakit di Arab Saudi sejak Juni setelah ia cedera dalam serangan bom terhadap istananya di Sanaa, namun ia menolak menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden.

Demonstrasi di Yaman sejak akhir Januari yang menuntut pengunduran diri Saleh telah menewaskan lebih dari 300 orang.

Dengan jumlah kematian yang terus meningkat, Saleh, sekutu lama Washington dalam perang melawan Al-Qaeda, kehilangan dukungan AS.

Pemerintah AS mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara, menurut sebuah laporan di New York Times.

Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan ia harus meninggalkan kursi presiden, kata laporan itu.

Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaeda akan menimbulkan “ancaman nyata” bagi AS.

Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.

Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.

Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaida di Semenanjung Arab (AQAP).

Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al-Qaida memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut.

Yaman menjadi sorotan dunia ketika sayap regional Al-Qaida AQAP menyatakan mendalangi serangan bom gagal terhadap pesawat penumpang AS pada Hari Natal.

AQAP menyatakan pada akhir Desember 2009, mereka memberi tersangka warga Nigeria “alat yang secara teknis canggih” dan mengatakan kepada orang-orang AS bahwa serangan lebih lanjut akan dilakukan.

Para analis khawatir bahwa Yaman akan runtuh akibat pemberontakan Syiah di wilayah utara, gerakan separatis di wilayah selatan dan serangan-serangan Al-Qaida. Negara miskin itu berbatasan dengan Arab Saudi, negara pengekspor minyak terbesar dunia.

Selain separatisme, Yaman juga dilanda penculikan warga asing dalam beberapa tahun ini. (Sumber)

mainsource:http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2011/09/12/dalam-tiga-bulan-teroris-al-qaida-kocar-kacir-di-yaman/


Takfiriyah Ingin Kobarkan Perang Mazhab di Yaman

Juru bicara gerakan al-Houthi Yaman menilai bentrokan yang terjadi di wilayah Saada sebagai konspirasi Dewan Kerjasama dan menyatakan bahwa kelompok Takfiriyah ingin memicu pertikaian di wilayah tersebut.

Mohammad Abdul Salam Sabtu petang (3/12) kepada televisi al-Alam seraya menyinggung konspirasi asing guna menciptakan fitnah mazhab di Yaman, mengatakan, "Sebenarnya, masalah di wilayah Saada telah usai. Walaupun sebelumnya sebagian media berupaya membalikkan fakta sikap al-Houthi yang selalu menuntut perdamaian dan persatuan."

Seraya menegaskan bahwa saat ini tidak ada pertikaian di wilayah Saada, Jubir al-Houthi itu menandaskan, "Gubernur Saada telah mengirim pesan kepada Sayid Abdul Malik al-Houthi dan memintanya untuk mengakhiri semua masalah serta menghentikan pusat-pusat pemeriksaan, sehingga kembali dalam kondisi semula."

"Saat ini wilayah kami sepenuhnya bebas. Pasukan kami tidak melakukan blokade tanpa alasan dan klaim bahwa wilayah ini diblokade, sepenuhnya tidak benar," tegasnya.

Di bagian lain pernyataannya, Mohammad Abdul Salam menegaskan bahwa pasukan al-Houthi mencegah kelompok Takfiriyah menyelundupkan senjata ke Saada. Kelompok tersebut berusaha memuluskan tujuan-tujuan asing dan menciptakan perang antarmazhab di Yaman.

"Media-media propaganda berupaya membalikkan fakta sikap dan pandangan al-Houthi tentang revolusi. Padahal kita selalu menuntut persatuan nasional," tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Jubir al-Houthi menegaskan bahwa fitnah ini bertujuan menggagalkan revolusi rakyat Yaman dan mewujudkan usulan Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) di Yaman. Padahal mayoritas rakyat negara ini menentang usulan tersebut. (IRIB Indonesia/RA)

1 comments to "Mengapa Koran Banjarmasin Post "seolah" memberitakan tentang Yaman adalah "Konflik Syi'ah dan Sunni"...!!!????? Maukah Islam terpecah belah???"

  1. Anonymous says:

    wajar lah.. kalau tahu siapa dibalik Bpo*t dan Kom*as, pasti paham kenapa seakan-akan Islam itu sudah pecah... :D

Leave a comment