Home , , , , , , , , , , � Merry Christmas / Met Natal : Oh Bunda Maria dan Bunda Fathimah...!!!!!

Merry Christmas / Met Natal : Oh Bunda Maria dan Bunda Fathimah...!!!!!


Semoga Hari Natal (Peringatan Kelahiran Isa al-Masih) dapat menjadi titik temu para penganut agama ibrahimik dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraann (Dikutip dari Pernyataan resmi Hezbollah Lebanon dalam menyambut Natal 2011)

Beberapa tahun yang lalu saya menyaksikan film Saint Mary. Film produksi Iran ini mencoba untuk menampilkan sosok suci ibunda Yesus dari sudut pandang Alquran dan riwayat lain. Islammemposisikan Bunda Maria dan keluarganya dalam tempat tinggi, sebagaimana dicerminkan dalam Alquran yang memiliki dua surah bernama Keluarga Imran (Joachim) dan Mariam.
Memperhatikan kisah dalam kehidupan Bunda Maria mengingatkan saya dengan sosok wanita suci lain dalam Islam, Fatimah putri Muhammad saw. Dua wanita suci ini hidup dalam kondisi sosial yang hampir serupa. Kedudukannya di mata Tuhan juga tinggi, sehingga dua wanita ini dimuliakan dan diperlakukan secara khusus.

Kedudukan Wanita

Pada tahun 16 SM, penduduk Yerusalem menantikan kelahiran putra Imran yang diharapkan sebagai penolong Bani Israil, Almasih. Istri Imran yang bernama Hannah (Saint Anne) juga berharap anak yang dilahirkan adalah laki-laki agar kelak dapat menggantikan suaminya sebagai pelayan Baitulmakdis.
Harapan seperti itu muncul karena pada masa itu hanya anak lelaki yang boleh bertugas di rumahAllah, karena tempat suci itu tidak boleh didatangi oleh seseorang yang haid atau nifas. Wanita pada zaman itu menjadi makhluk kelas dua dalam mengabdi kepada Tuhan.¹ Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Hannah sudah bernazar dan menyiapkan sebuah nama yang sebelumnya tidak pernah ada.

Sumber: parvizpourhosseini.com
Dalam bahasa Ibrani, Mariam berarti seorang wanita yang tekun beribadah dan menjadi pelayan Allah Swt. Melalui Mariam, Allah hendak menegaskan bahwa dalam pandangan-Nya, wanita dan pria itu sama dan tidak ada beda untuk meraih kedekatan dengan Tuhan. Mariam pun akhirnya diasuh oleh Nabi Zakaria (Zechariah).
Masa ketika wanita tidak diharapkan juga terjadi di masa Nabi Muhammad saw. Ketika putra nabi wafat, Ash bin Wail berkata kepada pemuka Quraisy, “Sungguh Muhammad tidak punya keturunan lagi dan tidak punya anak yang akan menjadi penerusnya!” Allah Swt. menjawab cemoohan itu dengan memberi nabi nikmat yang besar. Nikmat yang besar itu adalah dengan lahirnya Fatimah, dan beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa kelahirannya adalah sebab turunnya surah Al-Kautsar:²
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang besar. Maka salatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah (hewan korban). Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus (keturunannya).
Anggapan bahwa hanya laki-laki yang menjadi penerus keturunan telah dibuktikan keliru oleh Keluarga Imran dan Keluarga Muhammad. Yesus yang lahir dari Bunda Maria tetaplah keturunan Ibrahim (Abraham). Begitu juga dengan Hasan dan Husain yang lahir dari Bunda Fatimah tetaplah keturunan Muhammad saw.

Hidangan dari Tuhan

Tidak hanya Yesus yang mampu menyembuhkan orang yang sakit. Bunda Maria pun sering dimintai pertolongan untuk menyembuhkan orang sakit. Beliau juga menampung orang-orang yang kelaparan. Beliau rela memberikan roti untuk makannya kepada orang yang lapar dan membutuhkan kesembuhan darinya. Sampai akhirnya Bunda Maria menahan lapar dan pingsan. Kemudian Tuhan menurunkan hidangan dari langit. (Lihat: Âli ‘Imrân ayat 37)
Rumah Fatimah pun selalu mengutamakan orang-orang yang membutuhkan. Sudah tiga hari berlalu, tetapi tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakan. Saat Ali, suaminya, memasuki rumah, ia menjumpai Rasulullah sedang duduk dan Fatimah mendirikan salat. Di antara mereka berdua, ada sesuatu yang tertutup. Setelah salat, Fatimah membuka penutup tersebut dan terlihat mangkuk besar yang penuh roti dan daging. Ali bertanya, “Wahai Fatimah, dari mana makanan ini?” Fatimah berkata, “Dari Allah, sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki.”
Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku ceritakan hal yang serupa dengan ini?” Mereka menjawab, “Baiklah.” Rasullah melanjutkan, “Wahai Ali, engkau bagaikan Nabi Zakaria yang setiap kali mendatangi Mariam melihat Mariam sedang beribadah di mihrabnya dan di dekatnya telah tersedia makanan, kemudian berkata, ‘Wahai Mariam, dari mana datangnya makanan ini?’ Mariam menjawab, ‘Dari Allah, sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki.’ Saat itu makanan tersebut cukup untuk satu bulan…”³

Komunikasi dengan Malaikat

Beberapa orang yang menganggap Fatimah hanya sebagai manusia biasa dan putri dari seorang nabi, merasa heran tentang riwayat yang menyebutkan bahwa Fatimah dikunjungi dan berkomunikasi dengan malaikat. Alquran telah membuktikan bahwa Bunda Maria dan Sarah istri Ibrahim a.s. mampu berkomunikasi dengan malaikat. Sementara Fatimah sendiri, telah Rasulullah saw. katakan sebagai pemimpin wanita ahli surga, pemimpin wanita mukmin, pemimpin wanita alam semesta. Maka potensi yang dimiliki dan kedudukannya di mata Tuhan berada di atas wanita lain.
Kaum perempuan penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid,Fatimah binti Muhammad, Mariam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun.
sumber:ejajufri.wordpress.com/24/12/2011

Hadiah Natal dari Imam Khomeini

Penulis dan pemikir Lebanon, Dr. Hasan Az-Zain menulis, “Imam Khomeini mewakili peristiwa besar dalam sejarah. Nama Khomeini identik dengan pergerakan Islam dan sesuatu yang bersih dan abadi. Tidak mungkin memisahkan gagasan Imam Khomeini dan pergerakan yang dihasilkan dari pandangannya tentang apa yang terjadi di seluruh dunia Islam dan lainnya. Ide dan jalan Imam itu hidup dan menghidupkan.”
Imam Khomeini memiliki karakteristik yang begitu mulia, yang dengan itulah ia menghasilkan gelombang pasang surut revolusi Islam dan mengembalikan kepada masyarakat semangat kebenaran, keadilan, kebebasan, persaudaraan, pengorbanan diri dan membela kebajikan.
Bahkan non-muslim terkesan dengan kepribadian dinamis Imam Khomeini. Dokter asal Prancis, Dr. Louie, yang masih remaja pada akhir tahun 1978, bercerita ketika Imam menjadikan sebuah desa di Paris, Neauphle lè Château, sebagai tempat tinggal sementaranya sebelum kepulangannya yang bersejarah ke Tehran dari pengasingan:
Suatu hari dalam perjalanan menuju ke rumah dari sekolah, aku melihat keramaian orang-orang di gang yang mengarah ke tempat tinggalku. Ada beberapa wartawan dengan kamera menggantung di dada mereka. Mereka mengintai ke dalam taman dari atas pintu gerbang taman dari kayu hijau. Aku berusaha masuk ke dalam kerumunan; semakinku masuk semakin sulit aku mencari tahu.
Aku bertanya ke wartawan apa yang terjadi. Dia mengatakan beberapa peristiwa penting akan terjadi. Dia bertanya apakah aku tinggal di desa itu.
“Ya, rumah kami ada di sana,” aku menunjuk rumah.
“Desa kamu akan segera menjadi desa paling terkenal di dunia,” kata wartawan itu.
“Aku tidak mengerti maksudmu. Peristiwa penting apa yang akan terjadi di desa kami sehingga begitu penting?” tanyaku.
“Kamu pernah dengar nama Ayatullah Khomeini?” tanyanya.
Nama itu tidak asing bagiku. Aku telah mendengar nama itu beberapa kali sebelumnya dari radio dan televisi serta foto di surat kabar. “Maksudmu pemimpin agama Iran?” tanyaku pada wartawan.
“Tepat. Dia sudah tiba di desa ini. Dia akan menjadi tetanggamu,” katanya.
Wartawan itu melanjutkan bahwa ia dan rekannya sedang menunggu izin dari Ayatullah Khomeini untuk wawancara. Saya semakin penasaran untuk melihat pribadi besar ini. Setiap pertemuan bisa menjadi bahan pembicaraanku di depan teman-teman kelas.
“Akankah mereka mengizinkanku masuk jika aku menunggu?” tanyaku.
“Saya tidak tahu,” jawabnya, “kamu harus tanya orang yang berdiri di samping pintu taman.”
Aku segera meninggalkannya dan bertanya kepada orang yang bertugas apakah aku punya kesempatan untuk bertemu dengan Ayatullah Khomeini.
“Kami tinggal beberapa langkah dari sini. Bisakah aku mengunjungi Ayatullah Khomeini?” tanyaku.
“Apa yang kamu ketahui tentangnya?” dia bertanya padaku.
“Aku tahu Ayatullah Khomeini adalah pemimpin agama Iran. Koran memuat foto-fotonya setiap hari.”
Pria itu berpikir sejenak dan bertanya apakah ada orang lain selainku yang ingin bertemu Ayatullah Khomeini. Aku menunjuk wartawan itu dan berkata, “Mereka juga ingin. Aku berjanji untuk melihatnya beberapa detik dan tetap tertib.”
Beberapa detik kemudian pintu gerbang taman terbuka lebar untukku. Ayatullah Khomeini adalah orang tua dengan sinar yang memakai jubah keagamaan dan serban hitam di kepalanya. Aura spiritual mengalir darinya. Aku berpikir sejenak bahwa Al-Masih (Yesus) ada di hadapanku.
Satu jam berlalu sejak aku masuk dan aku tidak membayangkan betapa cepatnya waktu berlalu. Aku kembali ke rumah dan memberi tahu ibu. Aku bertanya, “Apakah kedatangannya ke desa kita membuat masalah?
“Saya pikir tidak, tapi ayahmu sedang mencari ketenangan dan tidak akan ada ketenangan lagi di sini,” jawabnya.
Ibu benar. Hari itu ayah kembali ke rumah dari pekerjaannya. Ia marah sambil melepas mantelnya, duduk di sofa dan mengeluh, “Tahun ini saya terus dibuntuti kegagalan. Di satu sisi perusahaan menghadapi kebangkrutan dan di sisi lain, desa kita kehilangan kedamaiannya.”
Ibuku menghiburnya dengan berkata, “Jangan khawatir, koran menulis kalau Ayatullah Khomeini akan pergi dalam beberapa hari lagi ke Iran, jadi tempat ini akan menjadi damai kembali.”
Beberapa hari sebelum Natal, aku mulai tidak semangat dengan pekerjaan rumah. Imam Khomeini terus menguasai pikiranku. Aku mengatakan kepada ayah kalau ia ingin melihat seseorang, yang mengilhami perasaan yang sama seperti Yesus (salam baginya), maka ia harus datang dan mendengar Ayatullah Khomeini.
Berbeda dengan harapanku, ayah memutuskan untuk mengadu kepada polisi. Aku kehilangan kesabaran dan bertanya mengapa ia menolak untuk melihat Ayatullah Khomeini.
“Dia sama seperti penceramah agama lainnya. Dia pasti hanya akan memberikan nasihat,” kata ayah.
“Ayah selalu menasihati aku untuk tidak berburuk sangka. Saya pikir ayah orang yang rasional… dia akan berpidato pada hari ini. Ayo kita pergi mendengarkannya, setidaknya demi putramu. Ayah bisa pergi kalau tidak puas,” kataku pada ayah.
“Kapan kita harus pergi?” tanya ayah.
“Kurang dari setengah jam lagi. Dia terbiasa dengan tepat waktu,” kataku dengan empati.
Ketepatan waktu Ayatullah Khomeini sangat mengesankan saya. Dia datang tepat waktu dan duduk di tempat biasa di mana dia bertemu wartawan. Semua berdiri sebagai tanda penghormatan kepada ayatullah agung ini. Dia duduk di bawah pohon rindang dan mulai berbicara dengan tenang dengan suara yang lembut. Penerjemah bersiap menyampaikan pidatonya ke dalam bahasa Perancis.
Beberapa menit kemudian, aku melihat wajah ayah. Dia mendengar dengan seksama. Ada sinar dari air matanya dan tampak jelas ia sangat terkesan oleh Ayatullah Khomeini. Aku bernapas lega. Di hari lain, kami juga mendengarkan Ayatullah Khomeini dan ayah tidak lagi marah.
Di malam kelahiran Yesus, kami sedang duduk untuk merayakannya, ketika tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ayah menuju pintu dan aku mengikutinya. Seseorang dengan buket kembang dan sekotak permen, berkata, “Ini hadiah dari Ayatullah Khomeini. Dia mengucapkan selamat kepada kalian di hari kelahiran Yesus (salam baginya) dan menyampaikan maaf dengan hormat kalau mengganggu perayaan Natal dan kehadirannya mengganggu desa.”
Ayah menerima bunga dan kotak permen itu. “Sampaikan terima kasih kepadanya.” Ayah berdiri kagum pada semua cinta dan kasih sayang yang diberikan. Dia masuk ke ruangannya tanpa berkata apa-apa lagi. Beberapa menit kemudian aku mendengarnya menangis.
Ibu bertanya apa yang terjadi. Aku bergegas menujunya untuk menjelaskan. “Tahun ini Al-Masih memberi kita hadiah; bunga dan permen.”
Inilah pelajaran praktis dari marjak (ulama rujukan agama) masa itu bagi kita semua tentang bagaimana seharusnya kita berperilaku selama musim liburan ketika lebih dari separuh dunia merayakan kelahiran Nabi Isa alaihisalam. Apakah kita hanya mengatakan “perayaan ini bukan buat saya, tidak ada hubungannya dengan saya” atau “saya tidak tertarik” dan sebagainya, atau kita menggunakan kesempatan ini untuk kerja tablig (dakwah) dan menggambarkan kepada dunia betapa indahnya Allah Swt. menjelaskan sucinya kelahiran Nabi Isa a.s. dan kedudukan spiritual ibunya, Sayidah Mariam a.s., dalam Alquran?
Disebutkan bahwa peristiwa ini tidak hanya menginspirasi Dr. Louie tapi juga banyak lainnya di Perancis, untuk mencari tahu dan meneliti Islam dan khususnya Syiah.
Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010
Sumber:
  • The Council of European Jamaats
  • Muslim Herald
Catatan: Video seorang tawanan asal Amerika Serikat yang berterima kasih kepada Imam Khomeini karena mengizinkan tawanan untuk merayakan Natal, lihat di sini.


Hizbullah Mengucapkan Selamat Atas Kelahiran Isa Al Masih

Kelahiran Isa Al Masih mempertegas titik temu agama-agama langit, dukungan terhadap penegakan keadilan, pembelaan terhadap kaum tertindas dan perlawanan terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan."


Hizbullah Mengucapkan Selamat Atas Kelahiran Isa Al Masih
Menurut Kantor Berita ABNA, Hizbullah Lebanon dalam penyampaian resminya mengucapkan selamat atas kelahiran Isa Al Masih as kepada seluruh warga Lebanon khususnya umat Kristiani di Negara tersebut. Hizbullah berharap dalam peringatan Natal tahun ini dan penyambutan tahun baru Miladiyah 2012 hubungan persaudaraan dan persahabatan antar semua penganut agama dan keseluruhan warga Lebanon menjadi lebih erat dan kuat.
Dalam penyampaian resmi Hizbullah tersebut disampaikan, "Kelahiran Isa Al Masih mempertegas titik temu agama-agama langit, dukungan terhadap penegakan keadilan, pembelaan terhadap kaum tertindas dan perlawanan terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan."
Hizbullah juga menegaskan, "Bukti kuat adanya permusuhan terhadap agama-agama, adalah penodaan Baitulehm, tempat suci kelahiran Nabi Isa as. Saat ini Baitul Muqaddas dan seluruh negeri Palestina yang dihargai dan disucikan pengikut agama-agama langit selama ratusan tahun dinodai oleh kekejian rezim Zionis dengan darah-darah anak Palestina."  

Isa, Firman Tuhan Penegak Keadilan




Allah menurunkan rahmatnya ketika Bunda Maryam melahirkan Nabi Isa. Beliau datang ke muka bumi untuk memberantas kebodohan, khurafat, menumbuhkan persaudaraan dan menegakkan kebenaran. Nabi Isa datang untuk menebarkan rahmat dan keadilan bagi umat manusia. Hari itu, kami segenap kerabat kerja Radio Melayu Suara Republik Islam Iran mengucapkan selamat kepada seluruh umat Kristiani yang sedang merayakan hari kelahiran Nabi Isa as.

Salah satu mukjizat Nabi Isa adalah bisa berbicara ketika masih bayi. Terkait hal ini,  dalam surat Maryam ayat 30-33, Allah berfirman, "Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali"

Mayoritas penduduk yang memeluk agama Kristen saat ini tidak lagi bergembira merayakan hari Natal, karena negara mereka dilanda krisis ekonomi dan politik. Mereka tidak bisa lagi saling mengirim hadiah. Pada saat yang sama rakyat Amerika Serikat dan negara-negara Eropa bangkit melawan diskriminasi para penguasa Barat yang dikuasai korporasi Kapitalis global.

Sebagian rakyat negara-negara Barat kehilangan rumahnya, dan mereka memprotes sistem Kapitalisme yang zalim dalam kondisi cuaca yang dingin menusuk tulang. Kini di AS yang mengklaim sebagai pengusung demokrasi dan pembela hak asasi manusia, orang-orang Kristen berunjuk rasa menuntut keadilan yang diinjak-injak oleh penguasa mereka sendiri.

Nabi Isa lahir dari rahim Bunda Maryam yang suci. Allah swt menerima seluruh persembahan ibadah hamba suci-Nya itu. Maryam berada dalam asuhan Nabi Zakaria. Bunda Maryam sejak kecil dikenal taat beribadah. Sejak usia sembilan tahun, hari dan malamnya diisi dengan ibadah kepada Allah swt. Mengenai hal ini, al-Quran dalam surat Maryam ayat 37 menjelaskan, "Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." Ya,wanita mulia inilah yang melahirkan manusia besar Nabi Isa as.

Kisah kehamilan Sayidah Maryam hingga lahirnya Nabi Isa tanpa kehadiran seorang laki-lakipun merupakan mukjizat wanita agung itu dan putranya Isa. Al-Quran menjelaskan kisah ini dalam surat Maryam  ayat 16 hingga 19, "Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami [901] kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. [901]. Maksudnya: Jibril a.s. Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa".
Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci."

Selain ayat tersebut, al-Quran menjelaskan kehidupan Sayidah Maryam dan putranya. Kitab samawi ini menegaskan bahwa Isa bukan putra Tuhan, tapi manusia dan hamba Allah.

Nabi Isa sebagaimana para nabi ilahi lainnya diutus oleh Tuhan untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Beliau adalah Nabi dan rasul Allah yang menyerukan Tauhid kepada umat manusia. Isa juga diutus untuk menyebarkan keadilan dan perdamaian di muka bumi. Nabi Allah ini menentang segala bentuk penindasan dan kezaliman. Beliau senantiasa menentang segala bentuk kezaliman dan ketidakadilan yang berbeda dengan klaim kaum Gereja bahwa Nabi Isa tidak pernah bangkit melawan kezaliman.

Salah satu keutamaan Nabi Isa adalah perlawanan beliau menghadapi berbagai penyimpangan yang dilakukan kaum Yahudi dan Rabinya. Pada periode kehidupan Nabi Isa, para Rabi Yahudi dengan berbagai cara berupaya menghalangi penyebaran ajaran Nabi Isa. Mereka mengkhawatirkan revolusi besar yang dilakukan Isa menyebabkan kekuasaan mereka tumbang. Untuk itu, mereka melancarkan berbagai konspirasi untuk memberangus perjuangan Nabi Isa dan pengikutnya.

Nabi Isa berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menyampaikan ajaran ilahi kepada umat manusia. Keindahan suara beliau dan ketulusan hatinya menyebabkan masyarakat berduyun-duyun mengikutinya. Nabi Isa juga dianugerahi oleh Allah berbagai mukjizat antara lain bisa menghidupkan orang yang mati, mengobati penyakit kritis yang sebelumnya tidak bisa diobati, serta menciptakan burung dari tanah liat.

Nabi Isa memiliki pengikut setia bernama Hawariyun. Mereka berjumlah 12 orang. Hawariyun adalah manusia-manusia suci yang bertauhid dan berakhlak mulia. Mereka berperan besar dalam menyebarkan ajaran Nabi Isa kepada masyarakat.
Ketika Hawariyun merasakan lapar dan menyampaikan hal itu kepada nabi Isa, berkat kekuasaan Allah swt, tiba-tiba dari balik batu muncul roti. Ketika mereka haus, Nabi Isa memukulkan tangannya ke tanah, seketika air memancar dan mereka meminum air itu.

Suatu hari para sahabat setia itu bertanya kepada Nabi Isa, "Wahai Nabi Allah, siapa yang paling baik di antara kami? ketika kami menghendaki roti, engkau memenuhinya, dan ketika kami haus engkau memenuhi dahaga kami. Nabi Isa berkata, "Orang yang lebih baik dari kalian adalah orang yang bekerja keras untuk memenuhi kehidupannya." Setelah mendengar perkataan Nabi Isa ini mereka bekerja membanting tulang dengan mencuci pakaian orang lain, dan memperoleh upah dari pekerjaan itu.

Mengenai akhir kehidupan Nabi Isa, al-Quran dengan baik membantah klaim kaum Yahudi yang menyebut Nabi Isa mati disalib. Kaum Kristen juga berkeyakinan seperti Yahudi bahwa Nabi Isa mati disalib, dan setelah tiga hari beliau diangkat ke langit. Al-Quran dengan terang menyatakan bahwa Allah swt mengangkat
Nabi Isa dan beliau masih hidup hingga kini. Bersama Imam Mahdi beliau akan dibangkitkan kembali ke dunia untuk menegakkan keadilan dan kebenaran serta menebarkan rahmat di muka bumi. Salam bagimu wahai Nabi Allah, Isa al-Masih, putera Maryam yang suci.(IRIB Indonesia)

0 comments to "Merry Christmas / Met Natal : Oh Bunda Maria dan Bunda Fathimah...!!!!!"

Leave a comment