Home , , , , , , , , , , , , , , , , , , � Bakar Al-Quran!!!, terus minta maaf, misinya "adu domba", hingga negara ISLAM saling serang antar negara ISLAM : "Devide et Empera"

Bakar Al-Quran!!!, terus minta maaf, misinya "adu domba", hingga negara ISLAM saling serang antar negara ISLAM : "Devide et Empera"




Siapkan Drone Cerdas Baru, Iran Produksi Mesin Turbofan UAV




Seorang pejabat militer senior Iran mengumumkan bahwa negara ini sedang memproduksi mesin turbofan kecil yang digunakan dalam berbagai jenis Unmanned Aerial Vehicles (UAV).

"Kini, kita sedang membuat mesin turbofan untuk berbagai UAV," kata Brigadir Jenderal Abdolkarim Banitarafi, Jumat (24/2).

"Tehran juga mengambil langkah besar untuk membuat turbofan besar," tegasnya.

Deputi Kepala Industri Penerbangan Angkatan Bersenjata Iran (IAIO) mengatakan keberhasilan produksi mesin turbofan merupakan langkah signifikan ke arah produksi drone pintar.

Iran meluncurkan mesin turbofan pertama di sebuah pameran yang menampilkan kemampuan pertahanan Republik Islam.

Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi mengumumkan bahwa Republik Islam tengah menjalankan sejumlah proyek rancang bangun pesawat siluman canggih baru, dan pesawat tempur.

Dia mencatat bahwa Iran membuat langkah besar dalam industri penerbangan melalui desain dan produksi jet tempur Saeqeh, yang telah bergabung dalam armada angkatan udara negara itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran berhasil mengukir prestasi besar di bidang pertahanan dan meraih kemandirian di bidang perangkat keras militer penting dan sistem pertahanan.

Iran berulangkali meyakinkan negara-negara lain, terutama tetangga regional bahwa doktrin pertahanannya semata-mata didasarkan pada pencegahan, dan kekuatan militer Tehran tidak menimbulkan ancaman bagi pihak lain.(IRIB Indonesia/PH)






Rakyat Bahrain Bersatu Tolak Rezim Al Khalifa



Puluhan ribu rakyat Bahrain menggelar unjuk rasa akbar di dekat ibukota Manama. Mereka menuntut diakhirinya pemerintahan despotik dinasti Al Khalifa yang telah berkuasa selama puluhan tahun. Aksi protes damai yang berlangsung Jumat (24/2) itu diorganisir kubu oposisi utama pemerintah Bahrain, al-Wefaq.

Aksi terbaru ini terjadi dua hari setelah ribuan rakyat Bahrain berkumpul di luar markas besar PBB di Manama untuk menuntut pembebasan segera para pemimpin oposisi.

Rakyat Bahrain menggelar aksi demonstrasi menentang rezim Al Khalifa sejak Februari 2011. Puluhan tewas dan ratusan terluka akibat tindakan keras penguasa Bahrain terhadap demonstran damai.

Aksi brutal pasukan rezim Manama yang dibantu tentara Saudi dalam memberangus protes damai tidak menyurutkan tekad rakyat Bahrain melanjutkan protes mereka hingga tuntutannya terpenuhi.

Puluhan orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap maupun dipecat dari pekerjaan mereka sejak awal perlawanan rakyat meletus pada Februari lalu.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Navi Pillay mendesak pemerintah Bahrain segera mengambil langkah-langkah membangun kepercayaan. Dia juga menyerukan pembebasan tanpa syarat bagi orang-orang yang dihukum di pengadilan militer atau masih menunggu persidangan terkait hak dasar mereka berekspresi dan berkumpul. Sementara itu, Masyarakat Hak Asasi Manusia Bahrain mendesak kementerian dalam negeri segera menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia terhadap pengunjuk rasa anti-rezim di penjara.(IRIB Indonesia/PH)





Rezim Riyadh Tingkatkan Represi terhadap Rakyat Saudi




Pasukan keamanan Saudi menembaki demonstran anti pemerintah di kota Qatif yang menyebabkan sedikitnya tiga pengunjuk rasa terluka.

Saksi mata mengungkapkan tentara rezim Riyadh menyerang demonstran pada hari Jumat (24/2) untuk membubarkan konsentrasi massa menentang brutalitas penguasa Saudi.

Pengunjuk rasa mengecam tindakan keras Riyadh terhadap demonstrasi damai dan menuntut pembebasan segera para tahanan politik.

Mereka juga menyampaikan solidaritas terhadap aksi demonstrasi anti-rezim di Bahrain, di mana pasukan Saudi membantu pemerintah Manama memadamkan protes damai.Demonstrasi menentang rezim Al Saud juga terjadi di Pulau Tarut.

Rakyat Saudi menggelar demonstrasi damai di provinsi timur, terutama di kota Qatif dan Awamiyah sejak Februari tahun lalu. Mereka menuntut reformasi, kebebasan berekspresi dan pembebasan tahanan politik.

Para pengunjuk rasa juga mendesak diakhirinya diskriminasi ekonomi dan agama terhadap warga di wilayah kaya minyak itu. Sejumlah demonstran tewas, dan puluhan aktivis ditangkap sejak awal protes meletus di daerah tersebut.

Pada hari Kamis, demonstrasi terjadi meluas di berbagai provinsi menyusul aksi penembakan yang dilakukan tentara rezim Riyadh terhadap demonstran sepekan sebelumnya.

Pasukan keamanan Saudi membubarkan demonstrasi secara brutal dan menangkap sejumlah demonstran. Riyadh meningkatkan cara-cara kekerasan terhadap para demonstran sejak awal 2012.

Sebuah komite HAM Arab Saudi baru-baru ini merilis laporan mengenai jumlah tahanan politik di negara itu yang mencapai 4.663 orang, dengan 20 persen dari mereka adalah perempuan.

Pemerintah Saudi menolak laporan tersebut. Namun, organisasi HAM independen menyatakan lebih dari 30.000 tahanan politik saat ini ditahan di penjara-penjara di seluruh negeri.
Para aktivis Saudi menjelaskan jumlah tahanan politik di penjara Riyadh bahkan telah melebihi kapasitasnya yang dibuat hanya untuk menampung 7.000 orang.(IRIB Indonesia/PH)






Sekjen Hizbullah: Sejumlah Negara Arab Blokir Solusi Damai di Suriah !



Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayyed Hassan Nasrullah menyebut beberapa negara Arab sebagai pemicu masalah dalam negeri Suriah dengan memblokir solusi politik di negara itu.

"Sejumlah negara Arab mempersenjatai dan mendanai kelompok teroris untuk melawan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mencegah oposisi memasuki perundingan damai dengan Damaskus," kata Nasrullah Jumat (24/2).

Sekjen Hizbullah juga menuduh negara-negara mengirimkan milisi ke Suriah guna memperkeruh kerusuhan internal di negara Arab itu.
 
Hizbullah menilai AS dan negara Barat lainnya mengadopsi pendekatan standar ganda terhadap gerakan protes rakyat di kawasan Timur Tengah.

"AS dan sekutunya menggambarkan dialog sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri protes di Bahrain, namun mereka justru menentang solusi politik dan mendukung kekerasan di Suriah," tegasnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa AS dan Israel menghendaki kehancuran Timur Tengah dengan menebar perusuh dan menyulut kekacauan di kawasan tersebut.

Nasrullah berulang kali menegaskan bahwa AS dan sekutunya menentang reformasi di Suriah dan mereka berusaha menyulut perang saudara di negara Arab itu.(IRIB Indonesia/PH)






Soltanieh: Iran Kooperatif dengan IAEA



Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kembali menyatakan kesiapan Tehran untuk melanjutkan negosiasi kerjasama dengan badan nuklir itu.

"Kami bersikap terbuka dan kooperatif," kata Ali Asghar Soltanieh seperti dilansir Press TV Jumat (24/2).

Pada tanggal 21 Februari, sebuah delegasi tingkat tinggi IAEA mengunjungi Tehran guna membahas kerjasama lebih lanjut mengenai program nuklir Iran.

Kunjungan tersebut diawali dengan perjalanan lain ke Iran oleh tim pemeriksa IAEA pada tanggal 29 Januari. Kedua tim dipimpin oleh Wakil Direktur Jenderal IAEA Nackaerts Herman.

Menurut Soltanieh, lebih dari empat ribu inspektor internasional diterjunkan untuk meninjau reaktor Iran, namun tidak ditemukan adanya penyimpangan program nuklir Iran ke arah tujuan militer sebagaimana ditudingkan Barat selama ini.

Iran menyatakan kesiapannya melanjutkan perundingan nuklir berdasarkan komitmen bersama.

Amerika Serikat, Israel dan beberapa sekutunya menuduh Tehran mengejar tujuan militer dalam program nuklirnya, dan menggunakan dalih ini untuk mendorong PBB menjatuhkan sanksi putaran empat dan serangkaian sanksi sepihak lainnya terhadap Iran.

Sebagai penandatangan traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran berhak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.(IRIB Indonesia/PH)






Putri Imad Mughniyeh: Ayah Saya Sangat Mencintai Iran




Fatimah Mughniyeh, putri syahid Imad Mughniyeh yang gugur diteror anasir rezim Zionis Israel, mengatakan, "Syahid Imad Mughniyeh selalu merasakan kemuliaan dan kebesaran ketika berada di Iran."

Hawzah News (24/2) melaporkan, Fatimah Mughniyeh mengemukakannya di Tehran pada hari kedua pelaksanaan Seminar Internasional Peringatan Para Syuhada Dunia Islam. "Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian rakyat Iran dan panitia seminar ini, dan saya menyampaikan salam sejahtera kepada Imam Khamenei."

Fatimah Mughniyeh mengatakan, "Setiap kali saya datang ke Iran, saya merasakan kemuliaan dan kebesaran. Hal yang sama juga dirasakan oleh ayah saya ketika berkunjung ke Iran. Dia sangat mencintai negeri ini." (IRIB Indonesia/MZ)






Sayid Nasrullah: Pemikiran Israel Ada di Balik Pembakaran Al-Quran


Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah menyebut pemikiran Islam mendalangi aksi di balik berbagai peristiwa dunia, termasuk pembakaran al-Quran oleh tentara Amerika Serikat di Afghanistan.

IKNA (24/2) melaporkan, Sayid Nasrullah dalam khutbahnya menyinggung pernyataan terbaru Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu soal serangan ke Lebanon dan penghancuran negara tersebut mengatakan, "Saya tidak tahu apakah Netanyahu benar-benar mengatakannya atau tidak, akan tetapi pernyataan tersebut memang identik dengan pemikiran Islam yang selalu mengancam akan menghancurkan pihak lain."

Menyinggung berlanjutnya serangan Israel terhadap nilai-nilai sakral Islam dan bangsa-bangsa Arab, Sayid Nasrullah mengatakan, "Kini musuh [Zionis] terus merampas wilayah-wilayah Palestina, membantai rakyat di bumi Palestina, dan menangkap ribuan warga, sementara pada saat yang sama juga menyerang nilai-nilai suci yang diyakini umat Kristen dan Islam. Dan ini semua adalah pemikiran Israel."

Berbicara soal aksi keji pembakaran al-Quran di Afghanistan oleh tentara Amerika Serikat, Sayid Nasrullah mengatakan, "Ketika warga Afghanistan memprotes aksi pembakaran al-Quran tersebut, mereka ditembaki dan diserang. Serangan terhadap masyarakat, dan penghinaan terhadap para nabi adalah perilaku kaum Yahudi, dan al-Quran menyebutkan soal bagaimana mereka membunuh para nabi mereka sendiri. Serangan terhadap nilai-nilai suci dan menyeret dunia ke dalam jurang perselisihan agama, adalah bentuk pemikiran Israel." (IRIB Indonesia/MZ)






Nahjul Balaghah Mengandung Undang-Undang Kehidupan Manusia




Hujjatul Islam Sayid Davoud Afzali, Seorang peneliti Nahjul Balaghah menyatakan, "Nahjul Balaghah bukan sebuah buku, melainkan sebuah undang-undang untuk kehidupan manusia dan setiap orang harus menimba maarif dari Nahjul Balaghah sebesar kemampuan yang dimilikinya."

Dalam wawancaranya dengan Fars News (24/2), Afzali mengatakan, "Maarif Nahjul Balaghah itu pada tahap pertama harus diterapkan pada diri sendiri, keluarga, lingkungan pendidikan, perkantoran, dan militer."

Maarif dalam Nahjul Balaghah harus diamalkan, dan menurut Afzali, jika hanya ditelaah saja dan dilewatkan begitu saja, maka tidak akan ada hasil yang dapat diambil.

Hujjatul Islam Afzali menjawab pertanyaan soal bagaimana kita dapat mengamalkan Nahjul Balaghah dalam kehidupan modern ini, ia mengatakan, "Maarif dan poin-poin yang disebutkan oleh Imam Ali as, pertama harus dikemukakan berdasarkan tuntutan, dan dengan demikian seluruh maarif dalam kitab sangat berharga ini dapat diterapkan."

"Kita dapat mengetengahkan maarif dalam kitab berharga ini dalam pembahasan psikologi-sosial yakni dari sisi sosilogi dan interaksi Imam Ali as terhadap individu, keluarga, sekitar, sahabat, murid, dan masyarakat." (IRIB Indonesia/MZ)




FBI Merangkul Warga Muslim untuk Melawan Ekstrimisme



Menyusuul kontroversi soal spionase terhadap warga Muslim, kini Polisi Federal Amerika (FBI) berupaya menjalin hubungan dengan masyarakat Muslim dan meminta bantuan mereka dalam melawan ekstrimisme. 

Mehr News (24/2) melaporkan, seorang pejabat FBI Lindsay Godwin mengatakan, "FBI mengetahui pentingnya memiliki hubungan yang kuat dengan seluruh kelompok masyarakat. Interaksi dengan perwakilan dari masyarakat Islam akan menimbulkan pemahaman yang lebih baik dari perspektif mereka mengenai ekstrimisme dengan demikian kami dapat menggalang dukungan dari mereka dalam memberantas ekstrimisme."

Di lain pihak, para tokoh Muslim Amerika Serikat membenarkan pendekatan FBI untuk meminta bantuan dalam program pemberantasan ekstrimisme.

FBI menjalin hubungan dengan warga Muslim dan membagikan buku panduan kecil yang mengandung informasi mengenai kinerja FBI.

Diperkirakan warga Muslim Amerika Serikat mencapai enam hingga delapan juta orang. (IRIB Indonesia/MZ)




Syeikhul Usara: Saya Siap Berkorban Demi Wilayatul Faqih




Syeikh Abdul Karim Ubaid yang telah lama mendekam di penjara rezim Zionis Israel dan mendapat julukan "Syeikhul Usara" mengatakan, "Jika diperlukan, saya siap untuk mengorbankan nyawa di jalanwilayatul faqih, dan sudah seharusnya para pemuda Iran mendukung penuh wilayatul faqih di masa-masa genting dan bersejarah sekarang ini."

Hawzah News (24/2) melaporkan, Syeikhul Usara mengatakan, "Imam Khomeini dengan menciptakan gerakan Islam dan kemenangan Revolusi Islam, beliau bukan hanya memikirkan rakyat Iran, melainkan juga memikirkan nasib seluruh kaum yang tertindas."

Menurutnya, "Berkah Revolusi Islam Iran, bukan hanya dinikmati oleh rakyat Iran, melainkan dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia khusunya Lebanon dan Palestina. Dan Imam Khomeini sesungguhnya telah memberikan bimbingan bagi muqawama dalam menghadapi rezim Zionis Israel."

Syeikhul Usara yang kini menjabat sebagai Deputi Dewan Sosial Hizbullah Lebanon mengatakan, "Jalan dan tugas Imam Khomeini dilanjutkan oleh Imam Khamenei dan sekarang, para musuh kemanusiaan menentang Republik Islam, akan tetapi Revolusi Iran telah membuyarkan seluruh rencana mereka dan kini Republik Islam berhasil menggapai kemajuan di bidang ilmiah, teknologi, dan indsutri."

Kemenangan Revolusi Islam Iran dan perlawanannya dalam menghadapi setiap tekanan, telah memberikan kekuatan dan semangat kepada kaum tertindas. Selain itu, kemenangan Revolusi Islam juga seperti tercapainya harapan yang sebelum tidak pernah tercapai. (IRIB Indonesia/MZ)





Ayatullah Shirazi: Dunia Barat Memerlukan Pencerahan Para Faqih Islam




Ayatullah Makarim Shirazi menyampaikan pesan tertulis untuk Lembaga Fiqih dan Hukum Hauzah Ilmiah Qom, atas dimulainya aktivitas lembaga tersebut.

Hawzah News (24/2) melaporkan, Ayatullah Shirazi mengatakan bahwa dunia materialis Barat membutuhkan pencerahan para faqih dunia Islam. Berikut ini pesan beliau:

Bismillahirahmanirrahim
Assalamualaikum

Sebelum segala sesuatu, pembentukan lembaga yang beraktivitas dalam program-program ilmiah dan riset ini sangat penting dan kepada Anda para pendiri lembaga ini, saya mengucapkan selamat dan saya berharap kalian dapat mencapai tujuan-tujuan tinggi.  

Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada agama di dunia ini yang memiliki tatanan fiqih dan hukum yang teratur dan komprehensif yang mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, baik itu secara materi atau maknawi, seperti yang dimiliki Islam dan jika ini diinformasikan dengan benar dan luas, maka pasti para pencinta Islam di dunia akan semakin meningkat yang ini akan membuka jalan bagi terwujudnya Islam yang global.

Khususnya, mengingat selalu ada mekanisme jelas dan teratur sesuai prinsip dan hukum-hukum kontemporer untuk seluruh tuntutan di setiap masa dan setiap tempat, yang selalu diperbarui oleh fiqih dan hukum Islam, serta dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai kesulitan hidup masyarakat beragama, maka akan semakin banyak pula jumlah para pecinta dan pendukung Islam.

Jelas bahwa dunia materialis Barat yang memandang segala sesuatu melalui jendela kehidupan materi, akan memiliki masalah dengan hukum dan fiqih Islam. Akan tetapi masalah ini, secara gradual akan diselesaikan melalui pencerahan para cendikiawan dan faqih kontemporer dan kalian. Mereka akan menerima jawaban yang meyakinkan dari kalian.

Meski demikian saya mengetahui bahwa kalian akan menghadapi jalan terjal khususnya ketika kalian menghadapi kelompok-kelompok kestrim, akan tetapi dengan manajemen, telaah mendalam, kesabaran, keberanian, dan tawakkal kepada Allah Swt, serta keikhlasan, kalian akan dapat melewati seluruh tantangan.

Saya mendoakan keberhasilan kalian semua dari Allah Swt.

Wassalamualaikum
(IRIB Indonesia/MZ)




Mimpi AS, Arab Saudi dan Qatar Gulingkan Bashar Assad



Tunisia Jum'at (24/2) menjadi tuan rumah konferensi anti Suriah. Konferensi ini bertajuk "Sahabat Suriah". Hadir di konferensi tersebut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, perwakilan negara Eropa dan para menlu Liga Arab. Sementara  Rusia, Cina dan Lebanon menyatakan menolak hadir di pertemuan ini. Uniknya Qatar bersedia menanggung seluruh biaya konferensi ini dan para staf kedutaan besar Doha di Tunisia menjadi penyeleggara pertemuan tersebut. Adapun Tunisia sendiri hanya bertindak mengamankan jalannya konferensi anti Damaskus ini.

Konferensi seperti ini belum pernah terjadi dalam sejarah. Biasanya tuan rumah menjadi koordinator konferensi yang digelar di negara mereka. poin penting lainnya, konferensi yang mengusung slogan "Sahabat Suriah" ini digelar untuk melegalisasikan pengiriman senjata dan bantuan militer kepada kubu anti pemerintah Bashar Assad. Undangan terhadap Dewan Nasional Suriah (kubu anti Assad) juga mengindikasikan mimpi-mimpin indah pihak anti Assad baik itu Barat maupun Arab untuk menggulingkan pemerintahan pro muqawama di kawasan ini.

Konferensi ini mengagendakan mekanisme untuk melengserkan Bashar Assad. Konferensi di Tunisia ini menindaklanjuti konferensi yang digelar di Kairo, Mesir baru-baru ini. Di Kairo, negara-negara anggota Liga Arab atas inisiatif Arab Saudi dan Qatar menyusun prakarsa di antaranya adalah butir yang mengupayakan komunikasi dengan kubu anti Suriah dan upaya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Damaskus. Kini mereka kian bernafsu melaksankan ambisi busuknya merongrong pemerintahan Damaskus.

Hillary Clinton beberapa hari lalu sercara tersirat membenarkan hal ini dan menyatakan, konferensi "Sahabat Suriah" akan digelar dan sponsori Liga Arab. Konferensi ini mengupayakan pembentukan gerakan internasional memerangi Bashar Assad dan melemahkan pemerintahannya. Di beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat dengan memanfaatkan iklim yang ada saat ini di Suriah secara transparan mengambil kebijakan anti Assad. Untuk mensukseskan ambisinya ini, Washington memanfaatkan sekutu Arabnya, Liga Arab dan bahkan Dewan Keamanan PBB untuk menekan Bashar Assad. Selain menjatuhkan sanksi terhadap Damaskus, Washington juga aktif mengintervensi urusan internal Suriah.

Langkah-langkah lain AS memusuhi Suriah adalah melakukan kumunikasi dengan kubu anti Bashar Assad, mendukung kelompok teroris baik dari segi finansial maupun persenjataan serta mengobarkan kerusuhan di Suriah. Arab Saudi dan Qatar juga saling berlomba menjatuhkan Assad. Petualangan AS di Suriah tak lebih untuk menjaga kepentingannya dan Rezim Zionis Israel.

Mengingat hal ini, maka konferensi di Tunisia yang diklaim sebagai pertemuan Sahabat Suriah tak lebih merupakan upaya untuk merusak kepentingan nasional Damaskus dan tempat berkumpulnya musuh-musuh bangsa Suriah. Khususnya peserta konferensi Tunisia ini akan mengambil keputusan untuk menggunakan opsi militer dan kekerasan jika Assad bersikeras menolak tuntutan mereka. (IRIB Indonesia/MF)







Pangkalan Manas dan Ancaman Serangan ke Iran



Rusia sepertinya kian mengkhawatirkan eskalasi aktivitas militer Amerika Serikat di pangkalan militer Manas, Kyrgyzstan. Kekhawatiran ini diungkapkan Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Lukashevich. Menurut Lukashevich berlanjutnya aktivitas militer AS di Manas adalah mengincar sumber daya alam yang kaya di Asia Tengah. Saat jumpa pers, Lukashevich kepada wartawan mengatakan, statemen petingi Amerika Serikat soal opsi militer untuk menyelesaikan sejumlah masalah di kawasan bagi negara Asia Tengah sangat mengkhawatirkan. Ia juga menilai kemungkinan pemanfaatan pangkalan Manas untuk menyerang sejumlah negara melanggar kesepakatan antara AS dan Kyrgyzstan. Kesepakatan antara kedua negara ini terkait Manas hanya sebatas pusat transportasi bagi militer AS.

Tak diragukan lagi bahwa sikap AS yang betah di kawasan Asia Tengah dimaksudkan untuk menjaga perimbangan politik, keamanan dan militer di kawasan ini. Dengan berdalih mensuplai kebutuhan logistik pasukannya di Afghanistan, AS berusaha untuk tetap menguasai kawasan Asia Tengah. Selain itu, Washington memiliki agenda lain berupa aksi teror serta serangan militer terhadap negara tetangga Kyrgyzstan. Kondisi ini membuat petinggi Kyrgyzstan khawatir. Aksi protes warga di depan Kedutaan Besar AS di Bishkek di samping pernyataan resmi para anggota parlemen yang ditujukan kepada AS untuk segera mengosongkan pangkalan militer Manas menjadi pertimbangan atas kondisi ini.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Gennady Gatilov kembali menekankan bahwa segala bentuk aksi petualangan terhadap Iran akan menimbulkan dampak yang sangat tragis bagi hubungan internasional. Gatilov dalam konferensi persnya di Moskow menyatakan, "Segala bentuk skenario militer anti-Iran akan berdampak sangat tragis bagi hubungan internasional dan oleh karena itu saya berharap Israel dapat memahami dampak dari aksi-aksi seperti itu." Sebelumnya juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengklaim bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan menggunakan pangkalan militernya di Manas, Kyrgyzstan untuk menyerang Iran.

Pernyataan Gatilov itu mengemuka setelah Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dalam wawancaranya dengan CNN menilai aksi militer Israel anti-Iran dalam kondisi seperti saat ini, sebagai tindakan gila. Pada saat yang sama, Senator John McCain, juga mengkonfirmasikan perseteruan antara para pejabat Amerika Serikat dan Israel mengenai mekanisme tindakan terhadap Iran dan mengatakan, "Jelas bahwa Israel dan Amerika Serikat bersitegang soal Iran."

Di sisi lain, pernyataan Presiden Kyrgyzstan, Almazbek Atambayev terkait pangkalan militer Manas patut dikaji. Atambayev menandaskan, keberadaan pangkalan militer di Kyrgyzstan adalah hal yang tidak mungkin meski Washington memberi uang sewa sekitar 150 juta dolar. Dalam pertemuannya dengan Deputi Menteri Luar Negeri AS, Robert Blake mengingatkan bahwa pangkalan militer di bandara udara sipil sangat berbahaya. Ia menekankan, militer AS harus segera meninggalkan negaranya hingga tahun 2014, atau kepengurusan pangkalan ini harus dikerjakan secara kolektif dengan melibatkan Rusia atau negara lain serta hanya menjadi pusat logisitik. (IRIB Indonesia/MF)





Ayatollah Khatami: Partisipasi Pemilu, Jawaban Telak Kepada Musuh



Khatib shalat Jumat Tehran mengatakan, musuh mengerahakan segala kemampuannya untuk mencegah rakyat Iran berpartisipasi dalam pemilu parlemen. Namun dengan kemurahan Allah Swt, pemilu parlemen periode ke-9 akan lebih meriah dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

Fars News pada Jumat (24/2) melaporkan, Ayatollah Sayyid Ahmad Khatami, imam shalat Jumat Tehran hari ini, pada khutbah kedua menyinggung gerakan penistaan terhadap kesucian al-Quran oleh militer Amerika Serikat. Beliau mengatakan, menurut laporan, pasukan AS mengumpulkan sejumlah al-Quran dari penjara tahanan muslim Afghanistan dan membakarnya. Aksi itu adalah kejahatan yang mengerikan dan telah membakar hati semua umat Islam di dunia.

Ayatollah Khatami menambahkan, meski Presiden AS Barack Obama dan kepala pangkalan militer Amerika di Bagram meminta maaf atas peristiwa itu, namun harus dikatakan bahwa permintaan maaf itu hanyalah kepura-puraan dan dunia harus tahu bahwa pemerintah Washington adalah anti-Islam. Aksi itu bukan tak sengaja atau akibat kekeliruan, tapi merupakan tindakan yang disengaja, sebab mereka membenci umat Islam.

Khatib shalat Jumat Tehran menilai reaksi umat Islam Afghanistan terhadap aksi keji itu sebagai sikap yang membanggakan.

"Reaksi umat Islam Afghanistan terhadap aksi penistaan itu sangat membanggakan dan bukti nyata keberanian mereka," tandasnya.

Lebih lanjut, Ayatollah Khatami mengatakan, yang menyedihkan adalah para pemimpin negara-negara Islam yang mengaku sebagai khadimul Haramain al-Sharifain justru membantai umat Islam di Bahrain dan bersahabat dengan orang-orang yang melakukan aksi pembakaran al-Quran ini.

Di bagian lain khutbahnya, khatib shalat Jumat Tehran menilai langkah Republik Islam Iran menghentikan ekspor minyak ke sejumlah negara Eropa yang arogan sebagai kebijakan yang tepat.

"Negara-negara Eropa menuntut sanksi minyak Iran dengan tujuan menciptakan krisis di negara ini. Namun, justru mereka yang mengalaminya, dan kian hari kita menyaksikan harga minyak semakin melangit," lanjutnya.

Ayatollah Khatami menambahkan, para pengamat meyakini harga minyak akan terus melambung tinggi dan dapat dikatakan bahwa sumur yang mereka buat untuk kita, justru mereka yang terjatuh ke dalamnya.

Terkait pemilu parlemen, Ayatollah Khatami mengatakan, musuh mengerahkan semua kemampuannya, termasuk dengan propaganda media untuk mencegah partisipasi rakyat Iran dalam pemilu parlemen. Namun dengan kemurahan Allah Swt, pemilu parlemen pada periode ke-9 ini akan lebih meriah dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Partisipasi rakyat dalam pemilu adalah kewajiban rasional dan syariat.  Wajib secara rasional, sebab penguatan pemerintahan Islam dan kemurniannya berada dalam lingkup partisipasi rakyat dalam pemilu. Surat al-Nur ayat 62 dan an-Nisa ayat 58 menjelaskan hal itu. (IRIB Indonesia/RA/MF)






Suriah, Target Baru Rezim Despotik Arab




Arab Saudi yang pemerintahannya jelas berbentuk kerajaan dan despotik serta terkenal di dunia sebagai rezim paling despotik di dunia. Hal ini dapat disaksikan dari kondisi rakyat negara ini yangtidak memiliki hak-haknya meskipun hak yang paling dasar sekalipun. Di saat seperti ini, Riyadh mengklaim tengah mengupayakan demokrasi di Suriah. Di aksi anti Damaskusnya, Riyadh bahkan tak segan-segan mendukung kubu anti Damaskus serta mengancam akan menyerang Suriah.

Sementara itu, pasca 11 bulan krisis di Suriah kinerja kubu anti Suriah baik di tingkat regional maupun trans-regional serta sejumlah kubu internal menunjukkan bahwa mereka tidak memperjuangkan demokrasi di Damaskus. Ketika Bashar Assad, Presiden Suriah meningkatkan upaya reformasi politik di pemerintahannya, ulah kubu anti Assad yang berusaha untuk menggulingkan pemerintahan Damaskus juga semakin hebat. Assad baru-baru ini mengumumkan bahwa proses reformasi dan amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) sampai pada tahap akhir dan rakyat negara ini memiliki hak untuk menyampaikan aspirasinya di referendum yang akan digelar 26 Februari mendatang.

Berdasarkan UUD baru Suriah, Partai Baath seperti yang diinginkan kubu oposisi posisinya sebagai pemimpin rakyat dihapus dan kedaulatan kini berada di tangan rakyat. Di UU ini, sistem pemerintahan adalah Republik dan dari berbagai kubu serta bebas. Pemerintahan akan dipilih melalui pemilu yang bebas. Berdasarkan undang-undang baru, Mahkamah Agung akan menjadi lembaga independen. Sementara itu, setelah gagal meratifikasi resolusi anti Suriah di Dewan Keamanan PBB kerena penentangan Rusia dan Cina, Arab Saudi dan Qatar yang getol memusuhi Assad menyerahkan draf resolusi baru anti Damaskus ke Majelis Umum PBB.

Draf resolusi baru yang diusulkan Arab Saudi dan Qatar meminta Bashar Assad mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya ke wakilnya di masa transisi pemerintahan. Usulan lainnya adalah pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Suriah. Hal ini lebih banyak sebagai persiapan bagi Riyadh dan Doha untuk melakukan intervensi militer di Suriah. Untuk memuluskan ambisinya ini, Arab Saudi dan Qatar melakukan banyak lobi termasuk mendekati Rusia. Lawatan Menlu Uni Emirat Arab juga dalam rangka mensukseskan prakarsa Riyadh. Namun, Menlu Rusia, Sergei Lavrov menentang prakarsa yang digagas rezim pro Amerika Serikat.

Namun poin penting yang patut diperhitungkan adalah Arab Saudi saat siap menyerang Suriah, dari dalam mereka dilanda gelombang protes warga menentang rezim despotik al-Saud. Polisi Arab Saudi hingga saat ini terkesan buas menumpas aksi damai para demonstran. Puluhan orang dilaporkan tewas atau cidera akibat brutalitas pasukan keamanan rezim Riyadh. Sejumlah lainnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa proses hukum. Sementara itu, Barat yang menyaksikan hal ini dan mengklaim pendukung demokrasi lebih memilih bungkam terhadap brutalitas pasukan keamanan Arab Saudi.

Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab tidak memiliki indikasi sebagai pemerintahan yang demokrasi. Rakyat di negara ini tidak memiliki hak-hak legalnya. Dalam kondisi seperti ini, Arab Saudi dengan dukungan AS mengklaim menegakkan demokrasi di Suriah. Riyadh pun tak malu mengintervensi urusan internal Damaskus demi mensukseskan ambisinya.

Sementara itu, kelompok teroris Al Qaeda kembali memainkan perannya sebagai alat justifikasi imperialisme dan intervensi Amerika di negara-negara lain dan kali ini giliran Suriah. Amerika sejak tahun 2001 hingga sekarang dengan alasan ancaman Al Qaeda telah berhasil menduduki Afghanistan dan Irak serta mengintervensi dan mengagresi Pakistan, Yaman dan Somalia. Tapi dalam skenario yang terburu-buru, tampaknya ada upaya koordinasi Al Qaeda dengan Amerika di Suriah setelah tertutup  semua jalur diplomasi dan rahasia untuk menumbangkan Bashar Assad, Presiden Suriah.

Anwar al-Awlaki, mantan pemimpin Al Qaeda Yaman menurut media-media Amerika sendiri merupakan tokoh didikan AS. Surat kabar Washington Times mengutip seorang mantan pejabat intelijen AS menulis, al-Awlaki pernah ikut dalam acara makan malam di Pentagon dan beberapa waktu setelah itu ia menyiapkan jalan bagi intervensi Amerika di Yaman dengan alasan bahaya Al Qaeda. Tapi di Suriah, kinerja antara Al Qaeda dan Pentagon atau Ayman al-Zawahiri dan Barack Obama sedemikian dekatnya, sehingga tidak tampak bedanya. Sebelum ini para pejabat Suriah berkali-kali berbicara tentang kelompok-kelompok bersenjata yang menyerang tentara Suriah, khususnya yang berada di perbatasan.

Pasca kegagalan upaya Amerika, Barat dan Arab menggolkan resolusi anti-Suriah di Dewan Keamanan PBB akibat membentur tembok tebal Cina dan Rusia, Amerika tidak punya pilihan lain untuk memunculkan permainan lamanya yang berusaha disembunyikan secara terang-terangan. Media-media Arab seperti koran Alkhaleej, milik Uni Emirat Arab dalam laporannya menulis, Washington dalam sebuah kontrak tidak tertulis, selain berusaha menutup mata dari pemindahan banyak senjata dari Irak ke Suriah mulai mempersenjatai para penentang Bashar Assad. John McCain, Senator dari kubu Republik secara transparan berbicara tentang pentingnya mempersenjatai kelompok-kelompok bersenjata di Suriah. Sekaitan dengan hal ini, Dubes AS di Suriah Robert Ford yang telah meninggalkan negara ini, tapi tetap menjabat, di laman Facebooknya mengklaim ia telah melanjutkan kerjan sebagai dubes AS di Suriah dan berusaha melakukan pengalihan kekuasaan di Suriah secara damai.

Albinaa, harian Lebanon dalam laporannya mengungkap manuver duta besar Amerika di Suriah. Surat kabar ini menulis, setelah Robert Ford meninggalkan Suriah, dari Washington ia pergi ke Paris dan di sana ia bertemu dengan dua tokoh oposisi pemerintah Bashar Assad; Burhan Ghalioun dan Basma Qadmani. Menurut laporan Albinaa, Robert Ford bertemu dengan dua tokoh oposisi Suriah ini dengan agenda agar mereka merusak infrastruktur Suriah, khususnya di Damaskus, sehingga kepentingan vital pemerintah Suriah tidak dapat bekerja dan dengan sendirinya tingkat ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah semakin tinggi.

Sementara dari sisi lain, Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifah Al Thani kepada media menjelaskan, kegagalan upaya diplomatik memberi kesempatan tentara Arab dikirim ke Suriah. Surat kabar Haaretz, Israel mengutip sumber-sumber diplomatik Arab mengkonfirmasikan kesiapan sebagian negara, terutama Qatar dan Arab Saudi untuk membiayai dan mempersenjatai pasukan "Pembebasan Suriah". Koran ini menambahkan bahwa tentara itu akan mendapatkan senjata selundupan lewat Irak, Turki dan Lebanon atau dari gudang-gudang senjata tentara Suriah.

Dalam kondisi yang demikian, Pemimpin Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri mulai memasuki permainan Amerika di Suriah dan dalam sebuah pesan kepada umat Islam sedunia ia meminta agar mereka membantu rakyat Suriah demi melengserkan pemerintahan Bashar Assad. Baru-baru ini dalam sebuah pesan lewat video berdurasi 8 menit ia mengumumkan dukungannya atas apa yang dinamakannya "Intifada" rakyat Suriah. Ia mengatakan, "Hendaknya singa Syam segera menuju jihad!"

Bersamaan dengan diumumkannya berita ini oleh kantor-kantor berita Barat dari SITE Institute (Search for International Terrorist Entities), AFP dalam sebuah laporan terpisah dengan judul "Mujahidin Sunni sedang berjihad di Suriah" menganalisa tema-tema yang dimuat di situs-situs yang berafiliasi kepada Al Qaeda dan berita-berita terbaru aktivitas kelompok teroris ini di Suriah bersama kelompok-kelompok bersenjata lainnya di sana. AFP menulis bahwa satu dari forum anggota jihad bernama "Singa Syam kembali ke sarangnya" (ungkapan yang dipakai Ayman al-Zawahiri kepada pendukungnya) telah menyinggung perpindahan para pejuang Al Qaeda dari Irak ke Suriah.

Sebelum publikasi berita ini, Adnan al-Asadi, seorang pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Irak dalam sebuah wawancaranya dengan AFP mengatakan, "Kelompok-kelompok dari Irak telah memasuki Suriah." Sekaitan dengan hal ini, sebuah sumber intelijen Suriah di Damaskus kepada AFP mengatakan, sekitar 400 mujahidin Irak telah memasuki Suriah. Pertanyaannya, apa yang menjadi alasan utama al-Zawahiri dan Al Qaeda, khususnya cabang Irak memasuki atmosfer penuh ketegangan di Suriah saat ini? Kedua, apa analisa intelijen dari pemindahan pasukan Al Qaeda dari Irak ke Suriah?(IRIB Indonesia)







Oposisi Suriah Akui Barat dan Arab Persenjatai Pemberontak




Oposisi Suriah mengakui bahwa negara-negara asing, termasuk Barat dan sejumlah negara Arab mempersenjatai mereka dalam melawan pemerintah Presiden Bashar al-Assad.

Berbicara di sebuah konferensi internasional mengenai kerusuhan Suriah di Tunisia, pemimpin oposisi Suriah Jumat (24/2) mengatakan beberapa negara menyuplai senjata bagi kelompok pemberontak Suriah yang diselundupkan ke negara itu.

Dia juga mengkritik kekuatan asing karena mengabaikan penyelundupan senjata yang bertujuan memicu kekacauan di Suriah.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud bin Faisal bin Abdul-Aziz Al dalam konferensi "sahabat Suriah" secara terbuka mendukung aksi mempersenjatai pemberontak melawan Assad.

Sebelumnya, Washington menyatakan akan mempertimbangkan bantuan militer kepada kelompok-kelompok oposisi bersenjata melawan pemerintah Damaskus.

Capres AS pro-Israel AS dari Partai Republik, Mitt Romney dan Newt Gingrich, juga menyerukan supaya mempersenjatai pemeberontak dengan bantuan Turki dan Arab Saudi.

Konferensi pro-oposisi Damaskus, "Sahabat Suriah" diselenggarakan oleh sejumlah negara Barat dan Liga Arabdan  dimulai di Tunisia pada Jumat (24/2) untuk membahas kerusuhan Suriah.

Rusia, Cina dan Lebanon tidak mendukung konferensi tersebut, dan menilainya sebagai keberpihakan yang terlalu nyata. Pemimpin partai oposisi Suriah, Front Rakyat untuk Perubahan dan Pembebasan juga mengecam konferensi tersebut.

Sementara itu, ratusan pendukung Assad berkumpul di luar konferensi untuk mengecam pertemuan tersebut.

Suriah mengalami kerusuhan sejak pertengahan Maret 2011 yang telah menewaskan dan melukai warga sipil, dan lebih dari 2.000 pasukan keamanan.

Pemerintah Damaskus menyalahkan penjahat, menyabot, dan kelompok teroris bersenjata sebagai penyulut kerusuhan yang sedang diplot dari luar negeri.(IRIB Indonesia/PH)





Obama Secara Resmi Meminta Maaf Atas Pembakaran Al-Quran di Afghanistan




Presiden Amerika Serikat Barack Obama secara resmi meminta maaf atas aksi keji pasukannya dalam membakar al-Quran di Afghanistan yang telah melukai perasaan umat Islam.

Mehr News (23/2) mengutip laporan Associated Press menyebutkan, berbagai sumber di Kantor Kepresidenan Afghanistan menyatakan, Obama melayangkan surat kepada sejawatnya asal Afghanistan Hamid Karzai dan secara resmi meminta maaf atas aksi tentara Amerika dalam membakar al-Quran.

Terungkapnya kasus pembakaran al-Quran oleh pasukan Amerika Serikat di pangkalan udara Bagram itu memaksa seluruh warga Afghanistan di berbagai wilayah menggelar demonstrasi. Seraya menyerukan slogan-slogan anti-Amerika Serikat, mereka menuntut pra pelaku aksi keji itu ditindak.

Sebelum demonstrasi massif warga Afghanistan, Jenderal John Allan, Panglima ISAF, telah meminta maaf atas penistaan al-Quran oleh tentara Amerika Serikat. Namun para ulama Afghanistan menyatakan bahwa permintaan maaf saja tidak cukup karena para pelaku penistaan tersebut harud dihukum.(IRIB Indonesia/MZ)





Hizbullah: Militer AS Belum Cukup Setelah Menistakan Al-Quran



Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) mengecam penumpasan berdarah para demonstran yang memprotes pembakaran al-Quran oleh tentara Amerika Serikat. Hizbullah juga mengharapkan solidaritas seluruh umat Islam dengan warga Muslim Afghanistan.

Rasa News (23/2) melaporkan, Hizbullah sebelum merilis statemen itu juga mengecam pembakaran al-Quran oleh pasukan Amerika Serikat di pangkalan udara Bagram, Afghanistan.

Dalam pernyatannya Hizbullah menegaskan, "Pasukan Amerika Serikat masih belum merasa cukup setelah mereka menginjak-injak perasaan dan menghina umat Islam, melalui pembakaran al-Quran itu, karena mereka juga menembaki para demosntran yang memprotes aksi penistaan tersebut."

Menurut Hizbullah, penumpasan berdarah para warga Muslim Afghanistan oleh tentara Amerika Serikat itu membuktikan kebohongan klaim Amerika Serikat dalam membela demokrasi dan kebebasan. Hizbullah mengingkatkan kembali bahwa Amerika Serikat mengklaim kehadiran pasukannya di Afghanistan adalah demi menegakkan demokrasi. (IRIB Indonesia/MZ)




Tanpa Pendekatan, Transformasi Terkini Dunia Islam Tidak Akan Efektif




Direktur Utama Pusat Riset Dewan Tinggi Forum Pendekatan Antarmazhab Islam, Hujjatul Islam Ahmad Moballeghi, "Jika dunia Islam yang saat ini sedang melakukan re-definisi dan dalam proses kelahiran kembali, tidak dibarengi dengan pendekatan, maka akan tercipta kondisi yang tidak efektif dan hubungan yang tidak akan membuahkan hasil, oleh karena itu, kita memerlukan sebuah pendekatan nyata dalam interaksi antara Syiah dan Sunni."

Seraya menekankan pentingnya posisi Hauzah Ilmiah Qom dan al-Azhar Kairo di dunia Islam, Moballeghi menegaskan, "Keduanya adalah simbol dua kubu besar ilmiah dunia Islam dan jika keduanya bersama dalam sebuah aktivitas yang searah, maka akan keduanya akan mampu mengarahkan umat Islam ke jalan yang ditempuh oleh kedua lembaga ilmiah tersebut."

Pada hakikatnya Hauzah Ilmiah Qom menurut Moballeghi merupakan basis penting dalam dunia ilmiah Syiah dan dapat dikategorikan sebagai simbol dari kubu Syiah, sementara al-Azhar juga memiliki pengaruh yang luar biasa di dunia Islam ditambah dengan cara pandang dan fatwa al-Azhar berbeda dengan berbagai lembaga Ahlussunah lainnya. Al-Azhbar lebih dipercayai oleh kubu Sunni."

Moballeghi menjelaskan, "Pengalaman membuktikan bahwa Hauzah Ilmiah Qom dan al-Azhar pernah bersatu dalam membentuk Lembaga Pendekatan Antarmazhab Islam. Keduanya sepakat untuk menciptakan jalur pendekatan guna memberantas fanatisme dan membuka pintu dialog." (IRIB Indonesia/MZ)


Pernyataan Sikap Majma Jahani Ahlul Bait atas 

Penghinaan Al-Qur'an di Afghanistan

Dalam penjelasan resminya, Majma Jahani Ahlul Bait meminta segera kepada pemerintah Aghanistan untuk menuntut militer AS keluar dari wilayahnya sebagaimana tuntutan warganya yang menyebut AS sebagai penjajah dan perusak stabilitas dalam Negara mereka.


Pernyataan Sikap Majma Jahani Ahlul Bait atas Penghinaan Al-QurMenurut Kantor Berita ABNA, tindakan anti-Islam tentara AS di Afghanistan yang telah melakukan pembakaran secara sengaja buku-buku Islam termasuk beberapa kitab Al-Qur'an, mendapat pengecaman dari kaum muslimin seluruh dunia, termasuk Majma Jahani Ahlul Bait as.
Dalam penjelasan resminya, Majma Jahani Ahlul Bait meminta segera kepada pemerintah Aghanistan untuk menuntut militer AS keluar dari wilayahnya sebagaimana tuntutan warganya yang menyebut AS sebagai penjajah dan perusak stabilitas dalam Negara mereka..

Berikut nukilan lengkap pernyataan Majma Jahani Ahlul Bait as mengenai tindakan anti Islam militer AS di Aghanistan:

بسم الله الرحمن الرحیم
ولَقَد صَرَّفْنَا فِي هَذَا القُرآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزيدُهُم إلاَّ نُفُورا (سوره مبارکه اسراء ـ آیه 41)


"Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)." (Qs. Al-Isra': 41)

Umat Islam saat ini mencapai puncak kesadaran yang memicu kebangkitan Islam di beberapa Negara muslim yang telah menggulingkan rezim Syaitani satu demi satu. Musuh akhirnya tersentak dan sadar bahwa kesadaran umat Islam akan menjadi momok menakutkan bagi mereka.
Keberadaan militer Amerika Serikat di Afghanistan bukan hanya memicu ketidak amanan nasional di Negara itu, mereka bukan hanya membunuh dan menzalimi warga namun juga telah melakukan penghinaan yang luar biasa terhadap umat Islam seluruh dunia dengan melakukan pembakaran beberapa buku-buku agama termasuk kitab yang sangat dimuliakan umat Islam, Al-Quranul Karim. Penghinaan dan pelecehan tersebut memicu kemarahan umat Islam bukan hanya di Afghanistan namun juga di seluruh dunia termasuk penganut agama-agama lain.

Berkaitan dengan peristiwa menyakitkan tersebut, Majma Jahani Ahlul Bait as sebagai sebuah lembaga internasional yang beranggotakan ratusan cendekiawan muslim dari berbagai Negara menyatakan perlu menegaskan sikap. Pernyataan dan sikap Majma Jahani Ahlul Bait as sebagai berikut:

1. Penghinaan terhadap simbol-simbol suci sebuah agama dan budaya adalah tindakan biadab yang tidak dapat ditoleransi. Tindakan tersebut adalah penghinaan terhadap semua umat manusia yang mendambakan perdamaian dan kebebasan. Orang-orang berakal yang mencintai ilmu pengetahuan, pengikut sejati agama-agama dunia dan mazhab akan melakukan sikap yang sama yakni mengecam dan mengutuk tindakan tersebut.

2. Peristiwa tersebut terjadi ketika Negara-negara arogan dunia sedang memperkuat pangkalan militer dan memperbanyak tentara mereka. Sangat disayangkan, dengan menghina simbol kesucian umat Islam mereka telah menyakiti hati satu milyar lebih umat manusia, terlebih lagi mereka menganggap tindakan tersebut hal yang biasa saja.

3. Al-Quran yang mulia adalah kitab suci yang memuat firman-firman Allah SWT, mengandung nilai yang sangat agung, merupakan pusaka warisan Nabi yang mengajak umat manusia kepada keimanan, persaudaraan, perdamaian, dialog, akhlak mulia, pembelaan terhadap mereka yang ditindas, pengajaran ilmu, kemajuan, ibadah kepada Allah, pembinaan peribadi, ketaqwaan, kesabaran serta kebencian terhadap pengrusakan dan kejahatan. Oleh karena itu, apakah akal dan hati nurani dapat menerima penghinaan terhadap kitab yang mempunyai ciri-ciri dan pengetahuan tersebut? Tidakkah semua agama-agama Ilahi menerima dan mengakui keberadaan Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi ?

4.Sebagaimana warga kota Kabul dan beberapa wilayah Afghanistan lainnya yang telah menunjukkan keberanian dan ketegasannya dengan melakukan penyerangan ke tempat pangkalan militer AS demi menunjukkan bahwa mereka tidak dapat menerima aksi penghinaan atas Al-Quran, maka masyarakat Islam di seluruh dunia juga menunjukkan aksi yang sama jika seandainya tindakan yang menyakitkan hati kaum muslimin tersebut kembali terjadi.

5. Para pejabat negara Afghanistan juga turut bertanggungjawab atas terjadinya penghinaan kitab suci umat Islam tersebut sebab mereka memiliki kemampuan untuk melakukan pencegahan dan penghalangan aksi anti agama tersebut terjadi berulang. Tidak diragukan lagi bahwa langkah paling penting untuk mencegah penghinaan tersebut adalah berusaha mengeluarkan tentara penjajah dari negara tersebut; sebagaimana yang telah berhasil dilakukan oleh pemerintah Irak disamping mengambil tanggungjawab menjaga keamanan negara mereka.

6. Kami juga berharap masyarakat internasional seperti Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), UNESCO, OIC serta negara-negara Islam mengambil langkah pencegahan peristiwa tersebut terjadi kembali dengan membuat undang-undang. Sebab tidak diragukan lagi, penghinaan terhadap simbol suci agama tertentu akan memperlebar jurang ketegangan antar penganut agama, muslim dengan yang bukan muslim.

7 . Terakhir, kami menegaskan fakta penting ini bahwa jika kaum muslimin benar-benar bersatu, pihak musuh dan rezim adidaya tidak memiliki pilihan lain selain mengalah.


وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَن آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ؛ رَبَّنَا أَفرِغْ عَلَيْنَا صَبراً وَتَوَفَّنَا مُسلِمين. الاعراف ـ 126
Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (Qs. Al-A'raf: 126)

23 Februari 2012

Majma Jahani Ahlul Bait as

















0 comments to "Bakar Al-Quran!!!, terus minta maaf, misinya "adu domba", hingga negara ISLAM saling serang antar negara ISLAM : "Devide et Empera""

Leave a comment