Home , , , , , , , , , , , , , , , , , , , � REVOLUSI Bahrain TENGGELAM berita Suriah MELEDAK di MEDIA INDONESIA : Khalifah Umar bin Khatab ra. berkata kepada Ali bin Abi Thalib kwh. “Aku heran kepadamu wahai Ali, karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’ dan menjawabnya langsung, bahkan tanpa berfikir sejenakpun”. Lalu Imam Ali kwh menunjukkan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab ra. seraya berkata,”Wahai Umar, berapakah ini?”. Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab,”Lima!”. Imam Ali kwh lantas menimpali, ”Ketahuilah wahai Umar! Sesungguhnya bagiku semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi”

REVOLUSI Bahrain TENGGELAM berita Suriah MELEDAK di MEDIA INDONESIA : Khalifah Umar bin Khatab ra. berkata kepada Ali bin Abi Thalib kwh. “Aku heran kepadamu wahai Ali, karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’ dan menjawabnya langsung, bahkan tanpa berfikir sejenakpun”. Lalu Imam Ali kwh menunjukkan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab ra. seraya berkata,”Wahai Umar, berapakah ini?”. Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab,”Lima!”. Imam Ali kwh lantas menimpali, ”Ketahuilah wahai Umar! Sesungguhnya bagiku semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi”








Andai Revolusi Arab seperti Iran



Oleh: M Syukur Hasbi

Berkat bantuan Allah Ta'ala, perlawanan rakyat di beberapa negara Arab dan Afrika Utara berhasil menumbangkan para rezim penguasa zalim yang sudah berkuasa selama bertahun-tahun. Atas keberhasilan itu kita patut bersyukur dan terus berdoa agar mereka bisa mengisi revolusi dan membentuk pemerintahan yang adil dan merakyat berdasarkan Islam.

Keinginan rakyat mengisi revolusi dan pemerintahan yang Islami setidaknya bisa dilihat dari yel-yel teriakan Allahu Akbar saat melakukan demonstrasi. Mereka juga menjadikan hari Jum'at sebagai hari-hari puncak demontrasi dan melakukan shalat Jum'at di pusat-pusat kota. Meski korban jiwa syuhada terus betumbangan, karena sikap pantang mundurnya akhirnya rakyat berhasil menjatuhkan rezim penguasa di negerinya.

Dimulai dari tumbangnya diktator Tunisia, Zine el-Abidine Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun. Kemarahan rakyat kepada penguasa sebenarnya sudah lama terpendam, namun api itu terpecik yang dipicu oleh pembakaran diri seorang pemuda Tunisia, Mohamed Bouazizi. Aksi itu membakar kemarahan rakyat sehingga berhasil melengserkan Zien el-Abidine Ben Ali.

Revolusi Tunisia kemudian berjalar ke Mesir,dimana ribuan rakyat berkumpul di Bundaran Tahrir dan di sejumlah kota lainnya guna berdemonstrasi besar-besaran. Meski penguasa saat itu gencar memadamkan revolusi, namun semangat dan perjuangan rakyat akhirnya berhasil menumbangkan diktator negeri fira'un tersebut setelah berkuasa lebih dari 33 tahun.

Berikutnya revolusi merambah ke Libya, Afrika Utara yang berhasil menumbangkan diktator Muammar Gaddafi dan membunuhnya dengan cara mengganaskan lewat tangan rakyatnya sendiri. Berbeda dengan revolusi di negara lain, tumbangnya Gaddafi tidak lepas dari campur tangannya militer asing, Perancis, Amerika, dan Inggris. Dengan bantuan itu, rakyat Libya memang berhasil menjatuhkan rezim dalam waktu relatif singkat. Namun mereka akan dihadapi oleh politik balas budi asing yang tak lain adalah menginginkan minyak Libya.

Tak ketinggalan, tsunami revolusi rakyat juga menyapu diktator Yaman, Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun. Kini, gerakan revolusi untuk menjatuhkan rezim Ali Khalifah juga masih terus berlangsung di negara Bahrain, termasuk Arab Saudi. Meski setiap hari darah para syuhada demontran terus ditumpahkan atau ditangkap, mereka terus dengan berani meneriakkan slogan Allahu Akbar dan "Hai'at minna az-dzillah," (jauhlah kehinaan dari kami)

Sayangya, media-media informasi bangsa kita tidak menempatkan perlawanan rakyat Bahrain yang telah menewaskan ratusan orang itu sebagai pemberitaan yang adil. Sedikit sekali media Indonesia yang mengangkat informasi perlawanan rakyat Bahrain tersebut. Kondisi itu berbeda jauh dengan semangat media kita dalam mengangkat konflik Suriah.

Media massa cetak maupun elektronik Indonesia hampir selalu memberikan informasi keliru kepada pembaca dengan menyamakan konflik Suriah dengan konflik negara Arab lainnya. Padahal, pemerintahan Suriah tidak seburuk yang digambarkan media dan mayoritas warganya mendukung pemerintahan Bashar Assad.  Salah satu penyebabnya adalah, media-media kita sudah ‘keenakan' membeli berita dari media-media barat yang notabenenya tidak adil melihat revolusi Islam di Timur Tengah. Media di negeri kita lebih mengandalkan berita media asing dari pada mengirimkan wartawannya sendiri ke negara-negara konflik untuk melakukan investigasi adil.

Walaupun telah berhasil menjatuhkan rezim-rezim penguasanya, perjuangan rakyat hingga kini terlihat belum selesai. Malah, perjuangan menjatuhkan rezim tidak lebih sulit dari mengisi revolusi itu sendiri. Sejumlah negara Arab maupun Afrika Utara disebutkan masih terus berkecamuk konflik internal akibat perang suku atau protes agar anasir-anasir mantan rezim penguasa tidak sampai masuk kembali ke pemerintahan baru.

Di Libya misalnya, selelah rakyat berhasil menumbangkan rezim Gaddafi, mereka kini disebutkan sedang dilanda konflik antar suku. Ada suku semasa rezim berkuasa terzalimi ingin lebih terlibat dalam pemerintahan, ada juga suku yang dinilai lebih banyak berjuang saat revolusi ingin terlibat lebih dalam pemerintahan. Apalagi dalam konflik itu sering berakhir dengan kontak senjata karena  rakyat masih memiliki senjata api yang digunakan saat perang menjatuhkan rezim.

Berbeda dengan Libya, konflik internal di Mesir adalah perlawanan rakyat agar para anasir atau pendukung rezim Husni Mubarak tidak kembali menguasai pemerintahan. Konflik itu kian mengkerucut setelah hasil pemilu beberapa waktu lalu memenangkan dua calon presiden untuk maju ke pemilihan putaran setelahnya. Dimana salah satu calonnya, Ahmad Shafiq, merupakan perdana menteri terakhir era rezim diktator Hosni Mubarak.

Harus diakui bahwa revolusi di negara-negara Arab dan Afrika Utara itu memiliki perbedaan dengan revolusi Republik Islam Iran. Kejatuhan rezim Syah Reza Fahlavi Iran memang dilakukan dilakukan oleh perjuangan rakyat, namun yang berperan penting dalam revolusi tersebut adalah titah pemimpim agama tertinggi, Ayatullah Imam Khumaini. Kepemimpinan agama yang didengar rakyat inilah yang tidak dimiliki oleh negara-negara Arab dalam menjatuhkan rezim.

Keterikatan Imam Khomeini di mata rakyat Iran tidak hanya sebatas pimpinan revolusi dan ulama, tapi juga sebagai ulama marja' taklid fiqih bagi rakyatnya. Rezim Shah saat itu memang beberapa kali memenjarakan Imam Khomeini, namun rezim tidak berani membunuhnya seperti ulama-ulama sebelumnya karena ditakutkan perlawanan rakyat kian memuncak.  Akhirnya, Khomeini diasingkan ke luar negeri seperti ke Irak, Turki hingga ke Perancis.

Meski di luar negeri, Khomeini tetap memberi instruksi-instruksi politiknya kepada rakyat. Apalagi suara perlawanan Imam Khomeini itu tepat pada saat-saat dimana raja hidup dalam kelimpahan harta, sedang rakyat hidup dalam kemiskinan dan kebodohan. Sehingga upaya rakyat di dalam negeri yang terus melakukan demonstrasi berhasil menjatuhnya rezim yang ditandai kaburnya Shah ke luar negeri.

Menurut salah satu guru saya di Isfahan, Hassan Qorbani, Iran untuk menjatuhkan rezim, membutuhkan waktu 15 tahun sebelum revolusi. Dalam kurun waktu tersebut, puluhan ulama dan para pengkritik penguasa dilenyapkan dengan cara disiksa dan dibunuh.

Selain itu, Iran juga telah mengalami ujian perang tak seimbang dengan Irak selama delapan tahun. Dalam perang yang biasa disebut pertahanan suci (Defa Moghaddas) tersebut, Hassan Qorbani mengatakan, "Iran saat itu tidak hanya berperang melawan Irak semata, tapi melawan negara-negara Arab hingga Amerika yang membantu dana dan senjata bahaya dalam melawan Iran yang baru selesai revolusi."

Dengan demikian, negara-negara Arab serta negara-negara lainnya yang baru selesai meraih revolusi agar bisa mengambil pelajaran dari revolusi Iran. Karena sebenarnya yang paling ditakuti musuh seperti Amerika, Inggris dan Inggris adalah menjalarnya revolusi Iran ke negara-negara lain. (IRIB Indonesia)

*) Pelajar Jami'atul Mustafa Al'Alamiyah, Isfahan – Iran






Harta Kekayaan Imam Khomeini Pasca Wafat



Sebagai seorang Rahbar atau Pemimpin Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra boleh dikata sifaf dan sikapnya yang sederhana tidak berubah dari muda hingga masa tuanya. Padahal, beliau sebagai pemimpin salah satu negara terbesar dan terkaya di Timur Tengah dan memiliki jutaan pendukung, namun beliau tetap merendah dan tawadu.            

Dengan transparan beliau berkata, "Bagi saya lebih baik saya disebut sebagai pengabdi daripada disebut sebagai Rahbar. Yang ada adalah pengabdian bukan kepemimpinan."

Di seluruh masa kehidupannya, beliau sangat mencintai rakyat Iran, begitu pula sebaliknya rakyat Iran sangat mencintai dan menaati beliau.

Terkait hubungannya dengan rakyat Iran, Imam Khomeini berkata, "Saya bersaudara dengan rakyat Iran dan menganggap diri saya sebagai pengabdi dan tentara mereka."

Imam senantiasa mematuhi aturan dan undang-undang. Baik ketika beliau masih menjadi seorang guru atau mujtahid yang mengajar di hauzah ilmiah Qom maupun ketika menjadi Pemimpin rakyat Iran pasca Revolusi dan negara dibawah pengawasan dan perintah beliau.

Imam Khomeini sangat menaati dan menghormati undang-undang. Dikatakannya, "Di dalam ada satu hal yang menghukumi yaitu undang-undang. Di zamannya Rasulullah Saw juga ada undang-undang yang menghukumi dan Rasulullah sebagai pelaksananya.

Di dalam undang-undang Republik Islam Iran disebutkan, harta kekayaan Rahbar dan para pejabat negara harus diperiksa sebelum dan sesudah mereka menjabat, supaya jangan sampai mereka menyalahgunakan kesempatan yang dipegangnya untuk kepentingan pribadi yang akhirnya kemudian menjadi kaya. Sebagai Pemimpin Revolusi Islam Iran, di awal dibentuknya pemerintahan, beliau mengumumkan harta kekayaannya dan daftar harta kekayaannya diserahkan kepada Mahkamah Agung.

Pasca wafatnya Imam Khomeini, anaknya menulis surat kepada pengadilan bahwa kini Imam Khomeini telah meninggal dunia, secara praktis beliau sudah tidak menjadi Rahbar lagi. Silahkan datang dan memeriksa harta kekayaan beliau berdasarkan undang-undang.          
Berdasarkan undang-undang pengadilan memulai pemeriksaannya terkait harta kekayaan Imam Khomeini.

Hasil dari pemeriksaan itu adalah selama Imam Khomeini menjabat sebagai Rahbar harta kekayaan beliau tidak bertambah bahkan atas permintaan beliau sebagian dari harta warisannya di Khomein yang didapatkan dari ayahnya telah diberikan kepada fakir miskin dan bukan lagi milik beliau.

Barang-barang milik pribadi Imam Khomeini antara lain; al-Quran, tasbih, sajadah shalat, amamah (sorban), pakaian ruhaniwan, gunting kuku, kacamata, sisir dan beberapa buku. Sementara perabot rumah adalah milik istri beliau dan beliau tidak punya apa-apa.

Uang yang ada di bank atas nama Imam Khomeini pada dasarnya milik rakyat dan harus dipergunakan untuk keperluan rakyat dan tidak untuk keluarga beliau. (IRIB Indonesia / Jahan / ENH)

Sumber: http://www.jahannews.com/vdcfmvd01w6d0va.igiw.html

Daftar kekayaan Para Sahabat Nabi

Kekayaan Umar bin Khattab ra
• Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)
• Cash flow per bulan dari properti = 70.000 x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan.
• Simpanan = hutang dalam bentuk cash

Kekayaan Utsman bin ‘Affan ra
• Simpanan uang = 151 ribu dinar plus seribu dirham
• Mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar
• Beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (Rp 240 M)

Kekayaan Zubair bin Awwam ra
• 50 ribu dinar
• 1000 ekor kuda perang
• 1000 orang budak

Kekayaan Amr bin Al-Ash ra
• 300 ribu dinar

Kekayaan Abdurrahman bin Auf ra
• Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!
• Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar (40 ribu dinar)
sumber:http://propertysyariah.blogspot.com/






Orang-orang yang Menyebabkan Orang Lain Memusuhi Agama



FarsNews (13/6) dalam laporannya menulis,  dalam keseharian kita sering menyaksikan keberadaan orang-orang yang menjadi sebab sebagian yang lain membenci dan menjauhi agama. Masing-masing dari kita tentunya pernah bertemu dengan orang-orang yang mengaku beragama akan tetapi perilaku mereka tidak sesuai dengan perkataannya.

Efek sosial pertama yang ditimbulkan oleh ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan orang-orang ini adalah munculnya kesan kebencian dan permusuhan terhadap agama dan keberagamaan di dalam benak masyarakat umum, di dalam benak orang-orang awam. Efek yang lain adalah terciptanya kondisi yang mendukung para oportunis untuk memanfaatkannya dan menampilkan agama seperti apa yang dilakukan orang-orang tersebut.

Seorang reformer harus memperbaiki dirinya terlebih dahulu

Dengan memperhatikan pendahuluan di atas, setiap pembaharu sebelum memperbaiki masyarakatnya harus memperbaiki dirinya terlebih dahulu, karena perilaku seorang pembaharu itu sendiri  adalah sarana pendidikan terbesar dan faktor paling berpengaruh untuk menarik perhatian masyarakat.

Perkataan tanpa amal perbuatan selain membuat ide-ide reformasi di tingkat lapisan masyarakat menjadi tidak bermakna, dalam pandangan Quran surat As Shaaf ayat 2 dan 3 dikategorikan sebagai dosa.

Dapat difahami bahwa melaksanakan ajaran-ajaran Islam sangat penting dan melebihi dari sekedar propaganda, karena Islam yang hanya di mulut saja, merasa cukup dengan tampilan luar agama dan perilaku yang bertentangan dengan perkataan adalah sebab-sebab yang menjadikan masyarakat membenci dan memusuhi agama.

Nilai sebuah perkataan adalah kesesuaiannya dengan tindakan

Kapan saja seseorang mengamalkan pandangan atau aturan yang sebelumnya ia jelaskan sendiri, pada dasarnya itu menunjukkan keimanan, kepercayaan dan keyakinannya atas apa yang sudah ia katakan.

Untuk menarik perhatian masyarakat kepada sebuah pandangan dan membuatnya pandangan tersebut bernilai, orang yang mengungkapkan pandangan itu harus mengamalkannya terlebih dahulu sebelum pendengarnya.

Imam Shadiq as berkata bahwa orang yang amal perbuatannya tidak sesuai dengan perkataannya, yaitu amal perbuatannya bertentangan dengan perkataannya bukan seorang alim.

Kunci kesuksesan para Nabi

Sarana terbesar yang digunakan para Nabi untuk mempengaruhi masyarakat dan memperoleh keperceyaan mereka adalah mengamalkan apa-apa yang dikatakannya, karena teguh memegang apa yang sudah dikatakannya menunjukkan kejujuran, sebaliknya keragu-raguan, ambivalensi dan perbuatan yang bertentangan dengan perkataan menunjukkan ketidakjujuran. (Disarikan dari tafsir surat As Shaaf) (IRIB Indonesia / HS)

Pengkhianatan Arab Saudi Kepada Kaum Muslimin

Waktu jugalah yang akan menjawab apa sebenarnya di balik kemungkinan kesepakatan rahasia antara pengkhianat dan munafik umat Islam dengan Rezim Zionis Israel.


Pengkhianatan Arab Saudi Kepada Kaum Muslimin
Apakah bungkamnya para pejabat Arab Saudi di saat militer Israel melakukan kebiadabannya bagian dari kesepakatan rahasia Arab Saudi dan Israel dalam masalah proyek jembatan dari pulau Tiran? Terlebih lagi setelah sejumlah pakar menyebut-nyebut adanya sumber minyak di pulau Tiran dan Sanafir.

Negara-negara Arab hingga kini tetap anteng menjalankan propaganda strategi asing terkait kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke pulau Abu Musa, Iran, Teluk Persia. Indikasi tersebut jelas, sebab para pemimpin berigal Arab tetap bungkam dan menggerendel mulutnya mengenai pendudukan Israel atas kepulauan Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi.

Sementara terkait tiga pulau milik Iran, enam negara Teluk Arab akan bertemu di ibu kota Saudi, Riyadh, membahas kepemilikan ketiga pulau yang diklaim oleh Uni Emirat Arab (UEA), kata Gulf News Jumat, 13/04/12.

Para menteri luar negeri dari anggota Dewan Kerja sama Teluk (GCC), yaitu Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, UAE dan Oman, akan bertemu pada Rabu ini, 18/04/12 untuk pertemuan darurat guna menentukan strategi bersama berkaitan dengan Iran.

Menurut laporan itu, Sekretaris Jenderal GCC Abdul Latif Al Zayani mengecam perjalanan Ahmadinejad itu sebagai “pelanggaran yang jelas atas kedaulatan UEA” dan “tidak sejalan dengan kebijakan GCC menjaga hubungan bertetangga baik dengan Iran.”

Hebatnya mereka. Soal kepulauan milik Iran, mereka kompak menyudutkan Iran, namun ironisnya Arab Saudi dan para pemimpin Arab berigal, tidak pernah mempermasalahkan dua pulau; Tiran dan Sanafir yang sampai saat ini tetap diduduki oleh Rezim Zionis Israel.

Secara historis, pasukan Israel menduduki kedua pulau tersebut sejak tahun 1967 tetapi raja Saudi tidak pernah mempersoalkan atau bersuara merebut kembali kedua wilayah yang diduduki oleh Israel tersebut.

Dua pulau tersebut awalnya oleh Saudi Arabia disewakan kepada Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, untuk keperluan logistik dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dengan pasukan Israel. Namun, pulau-pulau tersebut malah dicaplok tentara Tel Aviv sejak Mesir mengalami kekalahan.

Anehnya, Uni Emirat Arab tanpa memiliki bukti kuat ngotot dan mengklaim tiga pulau Abu Musa, Tunb Kecil dan Tunb Besar sebagai miliknya. Bahkan Uni Emirat Arab memanfaatkan isu Arabisme dan propaganda internasional untuk mengusik ketiga pulau ini.

Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir

Pelabuhan Elat yang terletak di Teluk Aqabah sangat strategis bagi Rezim Zionis Israel, karena sebagian besar aktivitas ekspor dan impor rezim Zionis melalui pelabuhan ini. Pelabuhan Elat menjadi penghubung Israel dengan pesisir timur dan selatan Afrika dan negara-negara selatan dan barat daya Asia.

Pelabuhan ini dihubungkan dengan pelabuhan Asqalan pesisir timur Laut Mediterania lewat jalur pipa minyak dan jalur darat. Dengan memiliki pelabuhan ini, Israel sudah tidak lagi membutuhkan Terusan Suez, dan kenyataannya menunjukkan strategis pelabuhan Elat bagi rezim penjajah ini.

Namun apakah satu-satunya jalur hubungan Israel dengan laut melalui Selat Tiran?

Selat Tiran adalah pulau yang menghubungkan Teluk Aqabah dengan Laut Merah. Mulut Selat Aqabah adalah pulau Tiran dan Sanafir. Mantan Duta Besar Rezim Zionis Israel untuk Amerika Ishaq Rabin pernah mengatakan, “Pulau Tiran dan Sanafir sangat strategis. Pertikaian tiga orang bersenjata saja mampu menutup selat ini.”

Sebegitu strategisnya selat ini hingga banyak pengamat menilai salah satu pemicu perang Arab-Israel tahun 1967 adalah sikap Mesir menutup selat ini bagi armada laut Israel.

Kronologi Sejarah Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir

Mesir pada tahun 1949 menutup Terusan Suez untuk kapal-kapal Rezim Zionis Israel. Sikap Mesir ini secara otomatis mengangkat posisi Pelabuhan Elat menjadi sangat strategis bagi Israel. Karena dengan ditutupnya Terusan Suez tanpa memiliki pelabuhan tersebut, itu berarti kapal-kapal dagang rezim Israel setelah melakukan transaksi untuk kembali ke asaknya, harus memutari Afrika Selatan terlebih dahulu.

Pada tanggal 13 September 1955, Mesir mengeluarkan peraturan bagi kapal-kapal yang ingin melewati Teluk Aqabah harus mendapat izin negaranya. Sebaliknya, Israel melihat kendala dalam upayanya untuk mengakses laut bebas.

Saat Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir menasionalisasikan Terusan Suez, negara-negara Perancis, Inggris dan Rezim Zionis Israel menyerang Mesir. Hasil dari perang ini adalah terealisasinya keinginan Rezim Zionis Israel dengan dibukanya kembali Selat Tiran dan ditempatkannya pasukan internasional di Teluk Aqabah dan Gurun Sina.

Pulau Sanafir untuk pertama kalinya diduduki Rezim Zionis Israel dalam perang tahun 1956 selama 10 bulan. Sebelum perang tahun 1967 Mesir menyewa pulau ini dari Arab Saudi dengan tujuan menutup Selat Tiran untuk armada kapal Israel. Namun setelah perang pulau ini menjadi jajahan Israel.

Sebelum terjadi perang, Mesir menuntut penarikan pasukan penjaga perdamaian PBB dari garis gencatan senjata dengan Israel. Pasukan perdamaian PBB pada tanggal 23 Mei 1967 menarik pasukannya dari sana. Mesir tetap menutup Selat Tiran bagi armada kapal Rezim Zionis Israel.

Pendudukan ilegal Pelabuhan Elat di kawasan Umm Al-Rashrash oleh Rezim Zionis Israel setelah gencatan senjata tahun 1949, Luas Teluk Aqabah lebih banyak dimiliki oleh Mesir dan keyakinan negara ini bahwa Selat Tiran bukan kawasan bebas menjadi alasan Mesir untuk menutup selat ini.

Langkah yang dilakukan Mesir menunjukkan negara ini telah siap untuk melakukan perang paling menentukan dengan Rezim Zionis Israel. Namun Rezim Zionis Israel mendahului Mesir dengan lampu hijau yang diberikan Amerika, pagi hari tanggal 5 Juni 1967 membombardir 9 bandar udara Mesir selama 3 jam dan setiap kalinya selama 10 menit.

Pasukan darat rezim ini siang hari itu juga menyerang perbatasan Mesir dan kemudian merangsek maju mendekati terusan Suez. Sore hari kedua perang (6 Juni), Panglima Tertinggi Militer Mesir Abdul Hakim Amir memerintahkan pasukannya segera mundur dari Gurun Sina. Menyusul perintah ini, Mesir pada tanggal 7 Juni menerima dihentikannya perang dan menginformasikannya kepada Sekjen PBB, sementara militer Israel pada tanggal 8 Juni tengah berusaha untuk menduduki Gurun Sina secara keseluruhan.

Ada sejumlah capaian penting Rezim Zionis Israel setelah berakhirnya perang ke-3 tahun 1967 antara Arab dan Israel. Hasil-hasil itu sebagaimana berikut:

1.      Rezim Zionis Israel tetap menguasai dan menduduki daerah-daerah seperti Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza, Gurun Sina milik Mesir, Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi;

2.      Sekitar 330 ribu warga Palestina menjadi pengungsi;

3.      Rezim Zionis Israel menguasai sumber air Sungai Jordan dan Selat Tiran dan Teluk Aqabah terbuka bagi armada kapal rezim ini;

4.      Rezim Zionis Israel berhasil menciptakan garis pertahanan baru yang strategis untuk menghadapi serangan asing;

5.      Sejumlah daerah telah diduduki Rezim Zionis Israel. Setelah ini tujuan Arab hanya berusaha untuk mengembalikan tanah-tanah yang telah diduduki baik tahun 1948 atau 1967;

6.      Kekuatan militer Mesir, Yordania dan Suriah telah hancur;

7.      Ketidakmampuan para pemimpin Arab, ketidakkompakan dan ketidakseriusan mereka untuk membebaskan Palestina semakin tampak jelas;

8.      Perlawanan Palestina muncul dan dari hari ke hari semakin menguat. Menyusul ketidakmampuan dunia Arab, bangsa Palestina menemukan jati dirinya dan berusaha dengan melakukan berbagai inovasi untuk membebaskan tanah airnya.

Perang tahun 1967 bukan akhir dari perseteruan Arab-Israel. Karena pada tahun 1973 perang kembali terjadi yang menjadi pendahuluan terjadinya Perjanjian memalukan Camp David yang ditandatangani oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Menachem Begin pada tanggal 17 September 1978. Dalam perundingan itu tidak disebutkan mengenai pulau-pulau milik Arab Saudi dan kawasan Umm Ar-Rashrash milik Mesir sebelum perang 1967 yang diduduki Rezim Zionis Israel.

Pengkhiatan Arab Saudi atas Cita-Cita Palestina dan Umat Islam

Mencermati kronologi pendudukan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi oleh Rezim Zionis Israel dan bungkam pemerintah Arab Saudi atas kenyataan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Apakah mungkin ada kesepakatan rahasia antara pemerintah Arab Saudi dan Rezim Zionis Israel?

Perlu diketahui bahwa satu tahun setengah sebelum terjadinya perang Gaza, Arab Saudi menyakan akan membangun jembatan yang menghubungkan kedua negara ini dari Ra’s Al-Sheikh Hamid, Arab Saudi hingga Sharm Al-Sheikh, Mesir. Pernyataan ini kontan direaksi keras oleh Rezim Zionis Israel. Kerasnya pernyataan Israel ini dapat ditelusuri dalam tulisan yang dimuat dalam Situs Debka bahwa pembangunan jembatan itu dapat memicu perang besar di Timur Tengah. Alasan perang tahun 1967 antara Arab dan Israel dibesar-besarkan agar para pejabat Arab Saudi segera menarik kembali keputusannya itu.

Jembatan dengan panjang 50 kilometer itu diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar 3 miliar dolar dan direncanakan akan selesai selama tiga tahun. Hampir dua tahun dari pengumuman rencana dan peletakan batu pertama dilakukan, namun sampai kini tidak ada informasi baru mengenai kemajuan proyek ini.

Agresi brutal militer Rezim Zionis Israel dan bungkamnya Arab Saudi menyaksikan kebiadaban rezim ini membuat opini umum dunia bertanya-tanya. Apakah bungkamnya pejabat Arab Saudi dan para pemimpin Arab berigal saat militer Israel melakukan kebiadaban terhadap bangsa tertindas Palestina adalah bagian dari kesepakatan rahasia Arab Saudi dan Israel dalam masalah proyek jembatan pulau Tiran?

Terlebih lagi setelah sejumlah pakar menyebut-nyebut adanya sumber minyak di pulau Tiran dan Sanafir.

Waktu jugalah yang akan menjawab apa sebenarnya di balik kemungkinan kesepakatan rahasia antara pengkhianat dan munafik umat Islam dengan Rezim Zionis Israel.

Saat menulis surat kepada Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengatakan; “Para pengkhianat Arab juga harus tahu bahwa nasib mereka tidak akan lebih baik dari orang-orang Yahudi dalam perang Ahzab”, sambil menyebut ayat ke-26 surat Al-Ahzab yang berbunyi, “Dan dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” Wallahu a’lam.

[Islam Times/on/SL]

http://www.islamtimes.org/vdcfemdy1w6dtca.,8iw.html

Pesta Seks, Narkoba, dan Rock N Roll 

Diam-diam Hadir di Jeddah

“Di belakang fasad konservatisme Wahabi, kehidupan malam bawah tanah bagi pemuda elit Jeddah berkembang dan berdenyut.”


Pesta Seks, Narkoba, dan Rock N Roll Diam-diam Hadir di Jeddah
Menurut Kantor Berita ABNA,  Godaan duniawi kini tersedia di Jeddah, Arab Saudi. Alkohol, narkoba, dan seks kini tersedia, tetapi tegas di balik pintu tertutup.

Demikian bunyi bocoran lain Wikileaks. Informasi ini dikirimkan tahun lalu dari konsulat jenderal Amerika Serikat di Jeddah. Di Arab Saudi, alkohol dilarang dan hubungan lawan jenis diatur secara ketat.

“Di belakang fasad konservatisme Wahabi, kehidupan malam bawah tanah bagi pemuda elit Jeddah  berkembang dan berdenyut,” tulis laporan itu.

Sebagai bukti, Konsul Jenderal Martin Quinn mengacu pada pesta Halloween tahun lalu. Laporan yang kemudian dihapus berbunyi: “Bersama dengan lebih dari 150 Saudi muda (laki-laki dan perempuan sebagian besar berusia  20-an dan awal 30-an tahun), ConGenOffs menerima undangan ke pesta Halloween bawah tanah di kediaman Pangeran XXXX di Jeddah pada XXXX.”

“Adegan mirip sebuah klub malam di manapun di luar kerajaan: alkohol berlimpah, pasangan muda menari, seorang DJ ada di balik turntable, dan semua orang mengenakan kostum,” katanya.

Aparat kepolisian “menjaga” pesta ini agar tak terendus polisi agama. “Ada ribuan pangeran di Arab Saudi hadir di pesta ini.”

Adapun rincian pesta, kabel Wikileaks melanjutkan: “Mereka menyewa bartender asal Filipina khusus untuk meramu koktail menggunakan sadiqi, sejenis minuman keras buatan lokal …. dari obrolan yang terdengar,  sejumlah  tamu adalah perempuan pekerja.”

Kabel melanjutkan dengan membuat garis bewah bahwa ada pasar gelap minuman keras mahal – bahkan untuk pangeran. Se botol vodka Smirnoff dijual setara dengan  400 dolar AS. “Selain itu, meskipun tidak menyaksikan langsung  dalam pesta kokain itu,  menggunakan ganja adalah umum dalam lingkaran sosial dan telah dilihat pada kesempatan lain,” tambahnya.

Konsul Jenderal menarik kesimpulan yang menarik pada akhir pengiriman. “Ini fenomena yang relatif baru di Jeddah … Hal ini tidak biasa di Jeddah untuk rumah pribadi  mewah  basement-nya dimanfaatkan untuk bar, diskotik, pusat hiburan, dan klub.”
Sumber: Republika
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/02/12/163886-pesta-seks-narkoba-dan-rock-n-roll-diam-diam-hadir-di-jeddah


ALANGKAH INDAH ARGUMENTASINYA!

Imam Ali kwh merupakan pribadi hasil didikan Rasul akhirul zaman, disamping pribadi-pribadi lain, yang telah berhasil Beliau saw didik pula. Fatimah az-Zahra, Imam Hasan al-Mutjtaba, Imam Husein as-Syahid adalah figur-figur yang pernah mengeyam pendidikan di akademi kenabian. Mereka adalah siswa-siswi alumni akademi kenabian.

Taufik Nur Rohman*

ALANGKAH INDAH ARGUMENTASINYA!Ada sebuah kearifan filosofis yang berbunyi, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Lewat kearifan ini hendak digambarkan betapa strategis posisi orang tua dalam pembentukan kepribadian anak, di mana pola pikir, pola tutur, dan pola laku orang tua akan ditiru anak. Berbagai pola meniru ini merupakan akibat langsung yang diterima anak karena keluarga memang merupakan wahana sosialisasi pertama dan utama bagi setiap individu. Dari sebab itu, mutu didikan, mutu asuhan dan mutu sentuhan-sentuhan psikologis lainnya akan memberikan lahan yang subur bagi anak sehingga ia pun merasa nyaman dan memungkinkan dirinya untuk mengaktualisasikan potensi-potensi kemanusiaan secara optimal.
Sejumlah penelitian psikologi membuktikan, anak yang dibesarkan dalam keluarga bahagia, dalam arti yang luas, akan memiliki tingkat intellegensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang kurang mampu memberikan rasa bahagia bagi anak.

Imam Ali kwh adalah contoh dari sedikit orang yang telah diasuh dalam suasana keluarga kenabian yang penuh dengan kenyamanan dan kebahagiaan spiritual ini sehingga semua potensi kemanusiaan yang beliau miliki mampu terejawantahkan secara utuh.

Bila sejenak kita buka kembali sekelumit lembaran sejarah, bisa diketahui beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang dilingkupi oleh kampiun-kampiun spiritual. Ayahandanya, Abu Thalib, sebagai misal. Beliau adalah sosok masyarakat qurays yang cukup terpandang dan disegani. Beliau jugalah yang telah berkesempatan mengasuh Nabi Muhammad saw sepeninggal kakek Nabi saw, Abdul Muthalib. Jadi mulai dari sini sudah bisa kita lacak, sejak usia anak, Imam Ali kwh sudah tinggal serumah dengan Beliau saw yang pada saat itu berposisi seperti seorang kakak terhadap adiknya. Tentang keberanian Abu Thalib, tidak perlu kita ulangi panjang lebar. Beliaulah yang berani pasang badan saat Nabi saw mulai menyampaikan dakwah Islam secara terbuka demi menghalau cecunguk-cecunguk jahiliyah yang merintangi dakwah Beliau saw.

Bagi sebagian umat Islam yang sudah mencapai level “makrifat sejarah”, pembelaan yang dilakukan Abu Thalib di atas, merupakan bukti keyakinan beliau pada kebenaran Islam, sekaligus bukti keislaman beliau. Tapi bagi sebagian lain, yang belum menyentuh level “makrifat sejarah” serta masih bersuara sumbang, pembelaan Abu Thalib terhadap Islam, merupakan bukti, yang satu saat nanti, Insya Allah, akan mereka mengerti.

Tak berselang lama kemudian, setelah Rasulullah saw membangun mahligai rumah tangga sendiri bersama Siti Khodijah al-Kubra, disebabkan kesulitan ekonomi yang dialami Abu Thalib, Imam Ali kwh diambil dan diasuh langsung oleh Beliau saw. Dan mulai saat itulah, Imam Ali kwh diasuh oleh seorang, yang diabadikan di dalam Al-Quran suci sebagai orang yang tidak pernah berbicara berdasarkan hawa nafsunya melainkan wahyu semata-mata.

Sekarang bisa Anda fikirkan dan Anda rasakan, kira-kira bagaimana keadaan seseorang yang diasuh oleh dua orang ahli surga, Rasulullah saw dan Khodijah. Tak satupun orang waktu itu yang memperoleh posisi seperti Beliau kwh. Imam Ali kwh saat itu berada dalam ruang keluarga kenabian yang steril dari hal-hal yang bisa mencemari atau menutupi kesucian fitrahnya. Beliau kwh tumbuh kembang di bawah naungan pandangan dunia atau paradigma tauhid. Dari sebab itu, Imam Ali kwh, berhak menyandang gelar Karramallahu Wajhah. Artinya, semoga Allah swt memuliakan wajahnya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dikarenakan sejak lahir hingga wafat wajah (hatinya) tidak pernah tunduk terhadap berhala meski sesaatpun. Perut Beliau kwh juga tidak pernah terselinap barang haram, pendengarannya pun tidak pernah menerima perkataan sia-sia dalam ruang steril tersebut.

Marilah kita simak kesaksian Imam Ali kwh sendiri yang pernah berkisah tentang kehidupan yang dijalaninya bersama Rasulullah saw. “Dan telah kalian ketahui tempatku di sisi Rasulullah saw, dengan kekerabatanku yang amat dekat dan kedudukanku yang khusus. Beliau saw meletakkan aku dipangkuannya ketika aku masih seorang bocah. Didekapnya aku ke dadanya, dipeluknya dipembaringannya, disentuhkannya aku dengan tubuhnya, diciumkannya aku dengan harum aromanya. Beliau kwh kemudian meneruskan,”Aku pun mengikutinya kemana Beliau saw pergi, bagai anak onta mengikuti ibunya. Tiap hari Beliau saw mengajariku tambahan pengetahuan dari akhlaknya, dan memerintahkan agar aku mencontohnya. Dihari-hari tertentu, setiap tahunnya, Beliau saw menyingkir menyendiri di Gua Hira, dan aku melihatnya sementara tak seorangpun melihatnya selain aku. Pada saat itu, tak ada satupun rumah tangga yang terikat dalam Islam selain Rasulullah saw dan Khadijah serta aku yang ke tiga setelah keduanya. Dan akupun menyaksikan sinar wahyu dan kerasulan, menghirup pula semerbaknya kenabian (Nahjul Balaghah: terbt. Mizan).

Demikianlah Imam Ali kwh tumbuh kembang dalam suasana keluarga Islam yang ideal. Pola didik, pola tutur dan pola laku yang ditampilkan oleh Sang Penerima Wahyu saw telah diserap seutuhnya oleh generasi penerus Beliau saw ini. Setiap goresan kehangatan yang diukir ke dada Imam Ali kwh lewat akhlak suci Beliau saw ini akan terlihat dampaknya dikemudian hari. Beliau kwh, muncul menjadi figur dengan struktur spiritual mirip, kalau ada yang keberatan bila dikatakan serupa, dengan Sang Utusan saw! Dengan posisi spiritual seperti ini, Beliau saw pun bersabda,”Wahai Ali, kedudukanmu di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada nabi sesudahku”. Dalam kesempatan lain Beliau saw menuturkan pula ,”Aku adalah kota ilmu, dan Ali pintunya. Maka barangsiapa ingin mendapat ilmu, hendaknya ia melewati pintunya”.

Lewat hadist yang pertama, dengan logika sederhana saja, bisalah disimpulkan bahwa bangunan spiritual antara Rasulullah saw dan Imam Ali kwh tersebut berada dalam satu ayunan langkah kaki. Orang melayu bertutur arif, bak pinang dibelah dua. Maka tak mengherankan bila Beliau kwh sering dipilih Rasulullah saw untuk mewakilinya dalam berbagai misi, termasuk pula ditunjuk menjadi panglima perang diberbagai peperangan. Sedangkan lewat hadist yang kedua, masih dengan logika yang sederhana tentunya, yang dimaksud dengan kota ilmu adalah Al-Quran suci itu sendiri sehingga untuk bisa memahami dan memaknai Al-Quran suci pasca kenabian, normalnya harus lewat Sang Pintu Ilmu, dan tidak(normal?)lewat pintu-pintu yang lain.

Kesaksian Ibn Abil Hadid berikut ini menarik pula untuk disimak. Ia menuturkan, berkali-kali Umar bin Khatab ra. berkata kepada Ali bin Abi Thalib kwh. “Aku heran kepadamu wahai Ali, karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’ dan menjawabnya langsung, bahkan tanpa berfikir sejenakpun”. Lalu Imam Ali kwh menunjukkan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab ra. seraya berkata,”Wahai Umar, berapakah ini?”. Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab,”Lima!”. Imam Ali kwh lantas menimpali, ”Ketahuilah wahai Umar! Sesungguhnya bagiku semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi”.

Lewat kesaksian di atas terbuktikan, ketangkasan intellektual yang dimiliki Imam Ali kwh, telah menyebabkan Beliau kwh mampu menangkap persoalan dengan cermat kemudian menyajikan penyelesaiannya secara akurat, dan logikanya pun terlihat selalu terjaga.

Kepiawaian Imam Ali kwh dalam menjawab pertanyaan yang disampaikan kepadanya tidak berhenti sampai di situ. Untuk lebih mengenali kehandalan Beliau kwh dalam menjawab dan menyelesaikan persoalan , kita tengok sebentar penggalan episode kehidupannya setelah Rasulullah wafat, yang telah direkam oleh sejarah.

Dikisahkan, ada serombongan utusan dari negeri Romawi ke Madinah. Diantara mereka terdapat seorang pastor Nasrani. Pastor itu datang ke masjid Rasulullah saw sambil membawa kantung yang berisi emas dan perak lalu berkata,”Aku dari negeri Romawi. Aku datang membawa kantung berisi emas dan perak. Aku ingin bertanya kepada penjaga umat ini tentang beberapa masalah. Jika dia dapat menjawab maka aku akan masuk Islam dan mentaati perintahnya. Dan ini hartaku dihadapan kalian aku berikan. Tetapi jika dia tidak bisa menjawabnya maka aku akan kembali dan tidak akan masuk Islam”. Kemudian pastor itu mulai melontarkan pertanyaan pada salah seorang sahabat Nabi saw. “Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah, dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”, demikianlah pertanyaan sang Pastor.

Singkat cerita, tidak ada satu sahabatpun yang hadir di situ mampu menjawabnya. Bahkan ada riwayat yang mengatakan, ada seorang sahabat yang marah dan mau membunuh pastor tersebut, sesaat setelah mendengar pertanyaannya. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan ini, Salman Al-Farisi ra. yang juga hadir di sana, bangun dan pergi menjumpai Imam Ali kwh yang tengah duduk bersama al-Hasan dan al-Husein di tengah rumah. Salman menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Imam Ali kwh. Lalu, Imam Ali bangun dan pergi bersama al-Hasan dan al-Husein sehingga sampai di masjid. Lalu Imam Ali kwh masuk dan duduk.

Kemudian pastor itu menghadap Imam Ali kwh dan memulai berdialog. ”Wahai lelaki, siapa namamu?”. Imam Ali kwh menjawab,”Namaku dikalangan Yahudi adalah Ilyan dan dikalangan Nasrani adalah Iliya. Sedangkan menurut ayahku adalah Ali dan menurut ibuku adalah Haidar”. Pastor bertanya lagi,”Apa hubunganmu dengan Nabimu?”. Beliau kwh menjawab,” Dia adalah saudaraku, mertuaku dan putra pamanku”.

Pastor kemudian berkata,”Kamu adalah temanku demi Tuhannya Isa. Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”

Dengan rendah hati dan penuh wibawa Sang Pintu Ilmu segera menjawab, ”Wahai saudara Nasrani, adapun pertanyaanmu tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah adalah istri dan anak. Tentang sesuatu yang tidak ada pada Allah adalah kedhaliman. Adapun tentang sesuatu yang tidak Allah ketahui adalah sekutu dan kawan. Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.

Mendengar jawaban tersebut, orang Nasrani saat itu juga berkata,”Ulurkan tanganmu, aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”. Lalu, pastor itu bangun dan menyerahkan seluruh hartanya kepada Imam Ali kwh, kemudian kembali ke kaumnya dalam keadaan Muslim. Para sahabat bersorak senang, Abu Bakar ra. berkata,”Wahai penyingkap kesedihan, wahai Ali engkau adalah pelega kegelisahan”.

Dalam kesempatan yang berbeda datang lagi seorang menemui Imam Ali kwh, dan menyatakan akan masuk Islam bila bisa menjawab pertanyaan yang disampaikan. Orang tersebut bertanya,”Sebutkan lima makhluk hidup yang tidak berbapak dan tidak beribu. Sebutkan tempat di dunia ini yang disucikan oleh Islam tapi justru tidak boleh dipakai sebagai tempat sholat. Terakhir, sebutkan tempat di dunia ini yang pernah sekali saja tertimpa sinar matahari secara langsung, sesudah itu tak pernah lagi”.

Imam Ali kwh menjawab,”Lima makhluk hidup yang tidak berbapak dan tidak beribu ialah Adam, hawa, ular dari tongkat Nabi Musa, domba Nabi Ibrahim pemberian Allah sebagai ganti Nabi Ismail, dan ontanya Nabi Shaleh yang muncul dari bukit. Sedangkan tempat yang dianggap suci oleh Islam tapi tidak boleh dipakai sebagai tempat sholat adalah bagian atas (atap) Ka’bah. Adapun tempat yang hanya sekali tertimpa matahari secara langsung adalah laut merah yang dibelah Nabi Musa. Saat dibelah, dasar laut tersebut tertimpa sinar matahari, tak lama kemudian tertutup lagi”.

Bahkan ada pertanyaan agak aneh yang disampaikan ke Imam Ali kwh. “Wahai Ali, sebutkan suatu bilangan yang bila dibagi angka satu sampai sepuluh tidak menghasilkan angka pecahan?”. Beliau kwh segera menjawab,”Jumlah hari dalam satu bulan (30) dikalikan jumlah hari dalam satu minggu (7), lalu kalikan jumlah bulan dalam satu tahun (12). Kami persilakan Anda buktikan sendiri hasilnya, Pembaca Budiman.

Bila dicermati jawaban-jawaban Beliau kwh di atas, tak ada satu pun yang lemah logikanya. Ditangan Imam Ali kwh, aneka pertanyaan yang rumit dan terdengar asing di telinga, terasa ringan dan pada akhirnya akan terurai. Para penanya di atas, setelah puas dengan jawaban yang diterima, segera masuk Islam. Mereka menerima Islam dan mengakui kewilayahan Imam Ali kwh setelah melakukan Fit and proper test dan kalah dalam duel logika melawan menantu Nabi saw ini. Sikap mental mereka pantas kita tiru yaitu, egonya tunduk terhadap kebenaran setelah akalnya membuktikan sendiri adanya kebenaran. Mereka masuk Islam karena argumentasi, bukan persuasi. Mereka menerima Islam karena melakukan gerak ikhtiari, bukan mewarisi. Lalu, bagaimana dengan kita sendiri, Pembaca Budiman?

Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan yang sempat direkam sejarah, tapi tidak mungkin kita muat semuanya di sini. Kami persilakan Pembaca Budiman berikhtiar menemukannya sendiri.

Namun, sekarang ada baiknya juga kalau kita intip sejenak jawaban Imam Ali kwh atas berbagai pertanyaan yang menunjukkan kesucian akhlak Beliau kwh.

Suatu hari ada seseorang memaki dan menghina Imam Ali kwh. Anehnya, keesokan harinya, karena ada keperluan penting, orang tersebut tanpa rasa malu menemui Imam Ali kwh. Dan dengan lapang dada Beliau kwh bersedia membantu dan menyelesaikan kesusahan orang tersebut. Para sahabat Imam Ali kwh dengan heran bertanya,”Mengapa Anda membantunya?”. Imam Ali kwh menjawab, “Aku malu bila kebodohannya dapat mengalahkan kesabaranku, dan kesalahannya mengatasi maafku, serta permintaannya mengungguli kedermawananku. Oleh karena itulah aku kabulkan permintaannya”.

Seorang penjual daging menawarkan dagingnya kepada Imam Ali kwh,”Wahai Ali, belilah daging dariku, kualitasnya sangat baik!”. Imam Ali kwh menjawab,”Aku tidak punya uang”. Penjual daging itu nyelutuk lagi,”Engkau bisa membayarnya nanti, aku tidak tergesa-gesa dengan uangnya”. Imam Ali lantas menyahut,”akupun tidak tergesa-gesa untuk makan daging”.

Dikisahkan juga, suatu saat Imam Ali didatangi seorang lelaki, kemudian lelaki tersebut membaca syair yang isinya puja dan puji untuk Imam Ali kwh, tetapi ia berlebihan dalam memuji. Bahkan dalam hatinya, ia mencela Imam Ali kwh. Mengetahui kebusukan hati orang itu, Beliau kwh berkata,”Aku lebih kecil dari apa yang engkau puji dengan lisanmu, dan lebih baik dari apa yang kau pikirkan”.

“Alangkah indah argumentasinya!”. Demikian kira-kira suara yang terdengar dari lubuk hati kita sesaat setelah mendengar jawaban Imam Ali kwh di atas. Bila dirasa-rasakan bahasa jawabannya sungguh berbeda dengan peristiwa bahasa sehari-hari. Ada sesuatu yang lain di sana. Kita seolah diterpa oleh suatu kekuatan dibalik setiap jawaban yang diberikan. Sengketa antara sisi spiritual dan sisi intellektual yang sering terjadi pada kebanyakan kita, tak terlihat di sana. Bahkan keduanya terlihat harmonis. Selanjutnya, bila ditimang-timang lebih dalam lagi, Beliau kwh, juga tidak pernah tidak dapat menemukan kata-kata untuk menampakkan cahaya kebenaran yang sebelumnya seakan tak terjangkau oleh bahasa kita. Akibatnya bisa diperoleh, bukan sekedar kelezatan kognitif saja tentunya, tapi sekaligus pencerahan rohani bagi para pemerhati sekalian.

Sungguh fasih lidah Beliau kwh. Imam Ali kwh tidak pernah mengalami slip of the tongue alias keseleo lidah, bahkan sepatah kata saja, dari apa yang diucapkannya. Emosinya pun tidak pernah teraduk-aduk. Kesadarannya selalu dalam kendali nalarnya. Pandangan-pandangannya terhadap soal-soal ketuhanan dan kemanusiaan senantiasa berkelit-kelindan membangun sebuah pandangan dunia tauhid yang menyeluruh dan harmonis. Lebih dari itu, Beliau kwh tidak hanya membatasi diri pada pewacanaan-pewacanaan saja, tetapi selalu berupaya menawarkan alternatif praktis, berikut berbagai implementasi yang realistis dalam kehidupan keseharian umat.

Imam Ali kwh merupakan pribadi hasil didikan Rasul akhirul zaman, disamping pribadi-pribadi lain, yang telah berhasil Beliau saw didik pula. Fatimah az-Zahra, Imam Hasan al-Mutjtaba, Imam Husein as-Syahid adalah figur-figur yang pernah mengeyam pendidikan di akademi kenabian. Mereka adalah siswa-siswi alumni akademi kenabian. Posisi dan prestasi spiritual mereka saling berhimpitan dan sememikat satu dengan lainnya. Semua ilmu telah terhimpun di dada mereka, tak ada sedikitpun yang tercecer. “Kekasihku Rasulullah saw mengajariku seribu macam ilmu. Dan dari setiap ilmu itu terpancar seribu cabang ilmu,”demikian yang sering Beliau kwh sampaikan pada kita. Dan, kepada merekalah kita sampaikan shalawat disetiap sholat kita. Allahumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad. Ya Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Pada orbit yang lain, Al-Quran sendiri mendokumentasikan dan mengibaratkan Nabi saw dan keluarganya sebagai pohon yang diberkati. Akarnya kuat, batangnya kokoh, daunnya rindang dan buahnya lezat melimpah. Akan tercium aroma kesucian bagi siapa saja yang berusaha mendekati pohon tersebut.

Namun seribu sayang. Wilayah persoalan ini, belum banyak disentuh oleh umat Islam. Mustika ajaran, dari mereka yang telah memperoleh didikan wahyu, belum juga diapresiasi, dijadikan kiblat kemudian diteladani oleh umat Islam sendiri. Keluarga Rasulullah saw masih dilihat dengan sebelah mata, bahkan sebagian besar umat Islam malah lebih senang memperhatikan orang-orang yang hanya sekedar “numpang belajar” di akademi kenabian. Lebih parah lagi, mereka yang hidupnya sekian ratus tahun dari akademi kenabian dan sama sekali tidak ditemukan adanya rantai penghubung yang jelas antara mereka dengan Para Siswa-Siswi alumni akademi kenabian seringkali justru dijadikan rujukan. Aneh, bukan? Padahal kita akan dibawa pada cahaya-cahaya kebenaran yang tak terelakkan bila ajaran-ajaran Nabi saw yang dibawa oleh keluarga Nabi saw, didalami dan dihayati untuk kemudian diamalkan. Buah-buah hikmah keimamahan keluarga Nabi saw beserta kebenaran ajarannya, yang jatuh tak jauh dari pohon kenabian, belum sepenuhnya digapai oleh umat Islam. Entah sampai kapan, kita tak tahu. Maka sebaiknya, renungkanlah.

*Pengurus Daerah Surakarta, Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)

Hidup Persatuan ISLAM, silahkan mampir  kesini http://banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/2012/05/warning-risalah-amman-warga-banua.html#axzz1y0bCdy6v




0 comments to "REVOLUSI Bahrain TENGGELAM berita Suriah MELEDAK di MEDIA INDONESIA : Khalifah Umar bin Khatab ra. berkata kepada Ali bin Abi Thalib kwh. “Aku heran kepadamu wahai Ali, karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’ dan menjawabnya langsung, bahkan tanpa berfikir sejenakpun”. Lalu Imam Ali kwh menunjukkan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab ra. seraya berkata,”Wahai Umar, berapakah ini?”. Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab,”Lima!”. Imam Ali kwh lantas menimpali, ”Ketahuilah wahai Umar! Sesungguhnya bagiku semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi”"

Leave a comment