Home , , , , , , , , , , , , , , , , , , � Mengapa "AKU" KELUAR dari faham WAHABI...???!!!???

Mengapa "AKU" KELUAR dari faham WAHABI...???!!!???
















Kemiripan Agnotisme Kant dan Islam Radikal



Ironisnya semangat zaman (zeitgeist) Kantian ini  menyuburkan pemahaman kegamaan yang dangkal, superfisial, profan, positivistik dan terobsesi dengan keunggulan kapital dan kekuasaan. Pemahaman model ini cenderung eksklusif, kaku, tidak toleran, gemar konflik, dan tidak segan membunuh. Azyumardi Azra menggolongkan pemahaman seperti ini dengan sebutan, salafi radikal, sebagian lagi menyebut wahabi, atau wahabi salafi takfiri(gemar megkafirkan).

Terdapat persamaan pemikiran antara Kant (nomenalisme) dan agama radikal- fenomalis; diantaranya, menolak metafisika, skeptisis terhadap akal, afinitas yang kuat dengan positifisme dan saintifisme, cenderung pragmatis, kosmologi sekuler dan mencampakan tradisi. Demikian dikatakan Husain Heriyanto dalam makalahnya berjudul "nomenalisme dan fenomenaisme; dua kutub ektrim Kantian yang mengoyak spiritualisme" dalam diskusi yang diselenggarakan jurnal Kanz Philosophia, 26/4 di Sekolah Tinggi Sadra-Jakarta Selatan.

Hipotesa ini bukan sebuah variable dominan akan tetapi cukup gamblang dalam masyarakat modern sekarang. Ide ini muncul saat disela-sela kegiatan heriyanto dalam seminar riset bertemakanIntelectuality dan Spirituality; Islam and Contemporary Issues di Teheran  awal 2012. Diskusi itu seputar implikasi teoritis dan praktis pemikiran filsuf Immanueal Kant terhadap kehidupan  keagamaan modern. Saat itu seorang pemikiran Jerman, Prof. Roland Pietsch mengilustrasikan Kant seperti burung yang tidak bisa terbang. Meski bersayap tapi kedua sayapnya tidak bisa sinkron dan harmonis, bahkan saling meniadakan.  Kedua sayap itu empirisme Hume dan rasionalisme subyek Decartes. Kant gagal mensintesakan empirime dan rasionalism modern. 

Kant berpengaruh besar dalam merintis epistemologi yang berporos pada subyek bahwa pengetahuan merupakan kontruksi mental yang bersifat kategoris terhadap pengalaman inderawi. Teori etika Kant membuang dimensi telos (tujuan) dan misi dalam tindakan moral. Kant mengusung sekularisme dan liberalisme yang mencirikan abad pencerahan.

Bagi Kant Tuhan adalah sesuatu di luar ruang dan waktu, sehingga tidak bisa diketahui (nomenalisme), sesuatu yang tidak bisa diketahui hanya diandaikan ada saja. Pandangan ini meminggirkan agama dan spiritualitas dari wacana ilmiah dan medan publik. Peran Kant dalam mengikis kecerdasan spiritualitas manusia modern ini bekerja secara sistematis dan massif  melalui berbagai aliran yang merespon pemikiranya secara langsung seperti filsafat analitik, materialisme, dekontruksionis-posmodernisme.  Meski berbagai aliran itu tampak berbeda tapi ada ciri umum yaitu hilangnya visi dan komitmen spiritualitas-intelektual.

Ironisnya semangat zaman (zeitgeist) Kantian ini  menyuburkan pemahaman kegamaan yang dangkal, superfisial, profan, positivistik dan terobsesi dengan keunggulan kapital dan kekuasaan. Pemahaman model ini cenderung eksklusif, kaku, tidak toleran, gemar konflik, dan tidak segan membunuh. Azyumardi Azra menggolongkan pemahaman seperti ini dengan sebutan, salafi radikal, sebagian lagi menyebut wahabi, atau wahabi salafi takfiri(gemar megkafirkan).

Terdapat keserupaan dan paralelitas mencolok antara pemikiran Kantian yang bermuara agnotisisme dan salafi radikal, pemikiran Kantian menyarankan sekulerisme dan kebebasan individu  sejalan dengan pemahaman agama yang eklusif dan tidak toleran.

Kant menggelorakan semangat menghentikan usaha pengenalan realitas sebagaimana adanya, karena rasio kita kodratnya tidak bisa melampaui dunia fenomena. Realitas (noumena) itu cukup diyakini saja keberadaanya secara apriori.

Fenomena ini mudah ditemukan dalam konflik suriah,  menurut penuturan Husain Heryanto, banyak video youtube bertebaran, orang berteriak Allah Akabr sambil mengebom masjid, gereja, menggantung ulama, menyembelih orang tak berdosa, dan para pemberontak di Suriah ini banyak pendukungya dari kalangan  mahasiwa UI.   Para mahasiwa inipun akan tega melakukan hal yang sama tinggal menunggu momentum karena pikiranya juga sama, tidak toleran, cenderung eksklusif, kaku, tidak toleran, gemar konflik, dan tidak segan membunuh. (IRIB Indonesia / Muhammad Ma'ruf)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Ziarah Kubur Dalam Pandangan Wahhabi (Bagian Pertama)


Berada di komplek makam Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci adalah bentuk penghormatan umat Islam atas pengorbanan dan jasa agung mereka dalam membimbing umat manusia. Kehadiran dalam bentuk ziarah ini juga bisa dinilai sebagai wujud lain dari baiat dan ikrar setia kepada cita-cita suci mereka. Dalam arti, bahwa orang yang berziarah mengumumkan janji untuk mengikuti jejak yang telah dirintis oleh manusia-manusia suci itu.

Ziarah dalam budaya pemikiran Islam memiliki tempat yang khusus bahkan tergolong sebagai ibadah. Bagi kaum muslimin masalah syafaat, tawassul dan penghormatan kepada macam orang-orang saleh adalah kepercayaan yang sudah diakui kebenarannya. Ziarah sudah dikenal oleh umat Islam sejak dahulu kala. Bahkan para peziarah sudah menyatu dengan budaya mengambil berkah dari makam insan-insan suci. Sebagai contoh, sejak dahulu para peziarah ke tanah suci terbiasa mengambil tanak pekuburan Sayidina Hamzah dan syuhada Uhud untuk dijadikan tasbih.

Khaqani, pujangga besar abad keenam hijriyah dalah salah satu syairnya menyeru orang untuk berziarah ke makam Salman al-Farisi di Madain dan mengambil tanah pekuburannya untuk dijadikan butiran tasbih. Sebab menurutnya, tanah makam ini memiliki nilai maknawiyah yang tinggi. Tidak ada ulama yang memprotes kata-kata Khaqani ini. Mereka malah mengagungkannya dengan menuliskan syair tersebut dengan tinta emas.

Akan tetapi, Ibnu Taimiyyah, pencetus aliran salafi justeru menyebut ziarah ke makam Rasulullah Saw sebagai perbuatan haram. Dia bahkan mengharamkan perjalanan ke Madinah jika diniatkan untuk berziarah ke makam Nabi. Dalam kitab Minjah al-Sunnah, Ibnu Taimiyyah tanpa menyebutkan dalil apapun menyatakan, "Hadis-hadis yang dinisbatkan kepada Rasulullah Saw tentang ziarah semua palsu dan dusta dengan sanadnya yang lemah." Ibnu Taimiyyah menambahkan, "Ziarah ke makam Nabi dan lainnya sama dengan menyeru kepada selain Allah dan pengakuan akan sekutu bagi Allah dalam pekerjaan-Nya, dan perbuatan ini dihukumi haram dan tergolong syirik." Kata-kata itu disampaikan Ibnu Taimiyyah tanpa memikirkan bahwa ziarah bukan pengakuan akan sekutu bagi Allah tapi penghormatan terhadap kedudukan manusia-manusia suci di sisi Allah.

Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan keras menyerang keyakinan kaum Syiah. Mereka menuduh bahwa Syiah meyakini kemuliaan ziarah ke makam para imam lebih dari haji ke Baitullah! Dalam kitab Kasyf Al-Syubuhat, Ibnu Abdil Wahhab menuduh kaum Syiah sebagai orang-orang musyrik karena menghormati makam Nabi dan para imam suci Ahlul Bait as. Hal ini sekaligus membuktikan kedangkalan pemikiran Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikut mereka dalam memahami ajaran agama Islam. Dengan pemahaman yang dangkal dan keliru mereka dengan mudah menuduh kelompok lain dengan tuduhan syirik lalu memaksakan pandangan mereka terhadap orang lain.

Jika menilik ayat-ayat suci al-Quran dan hadis-hadis Nabawi akan kita dapatkan bahwa apa yang mereka katakan tidak berdasar sama sekali. Diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda, "Bersegeralah kalian untuk menziarahi kubur karena ia mengingatkanmu akan akhirat." Di hadis yang lain beliau Saw bersabda, "Ziarahilah kuburan karena di sana kalian akan memperoleh pelajaran."

Dengan berziarah orang akan menyadari kelemahan diri serta tidak kekalnya kekuatan dan kekuasaan materi yang ia miliki. Dengan melihat kubur, seorang Muslim yang cerdas akan cepat menyadari bahwa dia tidak semestinya menyia-nyiakan kehidupan dunia yang fana ini dengan kelalaian. Dia mesti membangun kehidupan akhirat dan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di alam baka nanti.

Jika demikian halnya, tentu berziarah ke makam Nabi dan orang-orang yang saleh akan mendatangkan faedah dan manfaat spiritual yang jauh lebih besar.  Diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis Ahlussunnah bahwa Nabi Saw pernah berziarah ke makam ibunda beliau Aminah binti Wahb. Abu Hurairah berkata, saat berziarah makam ibunya, Nabi Saw terlihat menangis sehingga membuat orang-orang lain ikut menangis. Beliau lalu bersabda, "Ziarahilah kubur, sebab berziarah akan mengingatkan kalian akan kematian." (Sahih Muslim juz: 3 hal: 65) Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda, "Berziarah ke kubur akan melunakkan hati, meneteskan airmata dan mengingatkan akhirat. Maka berziarahlah kalian." (Musnad Ahmad juz: 3 hal: 237)

Menurut salah satu penafsiran, al-Quran al-Karim di surah al-Takatsur menyinggung bahwa berziarah akan menyadarkan orang yang berbangga-bangga dengan kehidupan dunia. Qurthubi saat menafsirkan ayat 1 dan 2 surat ini mengatakan, "Ziarah kubur adalah obat penawar paling mujarab untuk hati yang beku. Sebab ziarah kubur mengingatkan akan kematian dan alam akhirat. Sementara mengingat kematian dan akhirat akan memperpendek angan-angan, melahirkan kezuhudan akan kehidupan dunia dan melemahkan keinginan untuk terus hidup di dunia."

Dari pernyataan Ibnu Taimiyyah terkait ziarah ke makam Rasulullah Saw bisa diambil beberapa kesimpulan. Pertama dia mengatakan bahwa ziarah ke makam para nabi hukumnya haram, bidah dan perbuatan yang tidak benar. Kedua, bepergian dengan niat ziarah ke makam Nabi dan orang-orang saleh adalah safari yang haram. Padahal bepergian yang semestinya dihukumi haram adalah safari yang memang ditujukan untuk melakukan perbuatan haram, bukan untuk berdoa dan mengerjakan amal saleh sebagaimana yang layaknya dilakukan para peziarah.

Kata-kata Ibnu Taimiyyah ini bukan hanya tak beralasan tapi juga menunjukkan kekurangajarannya terhadap pembawa risalah Ilahi. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuturkan, "Sungguh heran jika ada orang yang berusaha membersihkan nama Ibnu Taimiyyah dan menyebutkan bahwa pernyataan seperti ini hanya tudingan semata yang dialamatkan kepadanya lalu berdalih bahwa ‘yang dikatakannya haram adalah bepergian dengan niat ziarah bukan berziarah itu sendiri. Sebab Ibnu Taimiyyah meyakini sunnahnya berziarah ke makam Nabi.' Bagaimana Ibnu Taimiyyah bisa meyakini sunnahnya berziarah ke makam Nabi sementara dia mengharamkan niat ziarah itu dan menyebut perjalanan dengan niat ziarah Nabi sebagai safari maksiat? Bukankah ini kata-kata yang kontradiksi? Bukankah pendapat Ibnu Taimiyyah yang menganggap lemah riwayat-riwayat tentang ziarah Nabi Saw adalah sebaik-baik bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak meyakini sunnahnya ziarah ke makam Nabi Saw? Banyak sekali ulama Ahlussunnah yang memahami fatwa Ibnu Taimiyyah ini sebagai pendapatnya yang mengharamkan ziarah ke makam Rasulullah Saw dan nabi-nabi yang lain."

Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda, "Barang siapa yang berziarah kepadaku setelah kematianku maka dia sama dengan orang yang mengunjungiku saat aku hidup. Dan barang siapa berziarah ke kuburku maka aku akan akan bersaksi untuknya di Hari Kiamat." (Mizan al-I'tidal jus: 3 hal: 348). Dalam riwayat dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi bersabda, "Barang siapa yang beribadah haji lalu berziarah ke makamku maka dia seperti mengunjungiku saat aku hidup." (Sunan Kubra juz: 5 hal: 246). Dari Anas bin Malik diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda, "Barang siapa dengan niat dan khusyuk datang ke Madinah untuk menziarahiku kelak aku akan memberinya syafaat dan bersaksi untuknya." (Syu'ab al-Iman juz: 3 hal: 489)

Dari riwayat-riwayat seperti ini para ulama Ahlussunnah menyatakan sunnah berziarah ke makam Nabi Saw. Diceritakan bahwa seorang sahabat Nabi bernama Bilal bin Rabbah yang bermukim di Syam pergi ke Madinah dengan niat berziarah ke makam Rasulullah Saw. Ibnu Asakir mengatakan, "Bilal pernah bermimpi bertemu Rasulullah Saw dan beliau bersabda kepadanya, "Begitu teganya engkau kepadaku? Belum tibakah saatnya untuk menziarahiku? Saat terjaga dari tidurnya Bilal dirundung kesedihan yang amat sangat. Dia amat ketakutan. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggang kuda dan bertolak ke arah Madinah dan berziarah ke makam Nabi. Di sisi makam Nabi dia menangis sesenggukan sambil meletakkan wajah di makam itu. Mendadak datang Hasan dan Husein, dua cucu kesayangan Nabi. Bilal segera mendekap mereka berdua dan menciumi mereka. Hasan dan Husein lantas berkata kepadanya, ‘Wahai Bilal, kami ingin mendengar kembali suara azan seperti engkau azan di zaman Nabi hidup."

Dengan berbagai dalil yang sudah disebutkan dan masih banyak dalil lainnya serta pendapat para ulama besar dari kelompok Syiah dan Sunni masihkah orang mengikuti kata-kata Ibnu Taimiyyah yang menyebut ziarah ke makam Nabi sebagai perbuatan dosa dan syirik?  Bukankah pendapat yang menyimpang itu sama dengan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah?  (IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Ziarah Kubur Dalam Pandangan Wahhabi (Bagian Kedua, Habis)


Umat Islam sejak dulu selalu menghormati para pemimpin agama. Mereka meyakini bahwa Nabi dan orang-orang saleh sebagai pemberi syafaat. Untuk menghormati manusia-manusia mulia itu, muslimin membangun kubah di atas makam mereka dan menziarahinya. Tak jarang mereka bernazar dan menyembelih kurban untuk shahilin. Bertabarruk juga biasa dilakukan di makam-makam tersebut. Semua itu sebenarnya adalah bentuk pengungkapan rasa cinta dan penghormatan kepada para pemuka agama dan salihin.

Terkadang pengungkapan rasa cinta dan kerinduan itu diluapkan dengan cara mencium nisan atau dinding makam, atau juga dengan melaksanakan shalat dam berdoa di komplek pemakaman itu. Semua itu adalah untuk memperoleh ridha dan pahala dari Allah serta mendekatkan diri kepadaNya. Tidak ada orang yang menyekutukan Allah dalam berziarah. Muslimin meyakini bahwa Nabi dan para wali Allah hidup di alam barzakh sana, mendengar serta melihat mereka. Berkat kedudukan mulia insan-insan suci ini di sisi Allah, mereka berziarah untuk memperoleh doa dan syafaat mereka.

Allamah Amini, dalam kitab "Siratuna wa Sunnatuna" menyatakan, "Jika Madinah Munawwarah disebut sebagai haram Ilahi, dan dalam hadis disebutkan penghargaan yang tinggi untuk Madinah, tanahnya, warganya dan mereka yang dimakamkan di sana, semua itu adalah karena kota ini dinisbatkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan alasan ini, apa saja yang dinisbatkan dan dikaitkan dengan para nabi, washi, wali, shiddiq, syahid dan mukmin akan menemukan nilai dan kemuliaan"

Dengan penjelasan tadi, bisa dikatakan bahwa ziarah bukan mengunjungi batu nisan, onggokan kayu, gundukan kubur, bangunan makan atau kubah yang menutupinya, seperti yang dituduhkan oleh kaum Salafi dan Wahhabi. Tetapi ziarah adalah pengungkapan rasa cinta, kesadaran, spiritualitas, dan kerinduan yang tentunya tidak bisa dikekang dalam kesempitan alam materi. Dengan kata lain, ziarah adalah upaya menjalin kembali dan mengukuhkan keimanan kepada Allah Swt.

Manusia tak akan mudah melupakan orang yang ia dikasihi ketika telah meninggalkannya. Dia akan selalu mengenang dan berziarah ke pusaranya. Menangis dan menggelar acara duka merupakan satu hal yang wajar dilakukan dan sejalan dengan naluri manusia. Imam Bukhari dalam kitab l-Shahih meriwayatkan bahwa Nabi Saw melihat seorang perempuan menangis di satu makam. Kepadanya, Nabi bersabda, "Bersabarlah atas musibahmu karena ditinggal orang yang kau kasihi." Jika ziarah kubur dilarang dalam agama, tentu beliau pasti akan mengatakannya dan tak akan mengizinkan perempuan itu duduk di sisi makam tersebut. Tapi yang dilakukan oleh Nabi adalah menyuruhnya untuk bersabar atas musibah bukan meninggalkan kuburan itu. Nabi juga tidak mengatakan bahwa ziarah kubur haram bagi perempuan seperti fatwa para salafi yang mengharamkan perempuan berziarah kubur.

Selain dari yang sudah dijelaskan, tidak ada dalil akal maupuan hadis yang bisa dijadikan dasr mengharamkan ziarah kubur bagi perempuan. Tentunya, berziarah ke makam Nabi, para imam dan salihin lebih penting, lebih berkesan dan lebih utama. Dalam sebuah riwayat, Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, "Setelah Nabi Saw dimakamkan, Fatimah as mendatangi pusara Nabi dan mengambil segenggam tanah makam itu lalu meletakkannya di wajah dan menangis sambil membacakan dua bait ini,

Siapa yang mencium tanah makam Ahmad sepanjang hidupnya ia tak perlu lagi mencium kesturi yang mahal

Musibah demi musibah menerpaku yang jika menimpa siang hari ia akan berubah menjadi gelap."

Secara logika, menghormati orang yang mulia di sisi Allah adalah perbuatan yang logis dan terpuji. Ziarah adalah salah satu bentuk penghormatan kepada orang yang sudah meninggal dunia. dalam kitab Jami' Al-Sa'adat, Allamah Naraqi menulis demikian;

Ketahuilah bahwa jiwa-jiwa suci Nabi dan para imam setelah kematian .. menguasai alam ini secara penuh. Segala urusan di alam materi (dunia) terlihat nyata oleh arwah-arwah suci ini… Mereka bersuka cita akan segala apa yang dianugerahkan Allah Swt kepada mereka. Mereka mengetahui dan menyaksikan siapa saja yang berziarah dan hadir di sisi makam mereka. Mereka mendengar semua permintaan, tawassul dan kekhusyukan yang memohon syafaat. Hembusan lembut angin dari jiwa-jiwa suci ini menerpa setiap peziarahnya dan cahaya mereka pun ikut menyinarinya. Arwah suci ini memohon kepada Allah untuk mengabulkan hajat, mengampuni dosa, mengurai kesulitan dan mengusir duka dari para peziarah. Inilah rahasia dari penekanan akan sunnahnya berziarah ke makam Nabi dan para imam yang suci as."

Al-Quran al-Karim tak pernah melarang ziarah kubur atau menyebut para peziarah sebagai orang kafir. Bahkan secara tak langsung kitabullah ini mendukung ziarah. Di ayat 84 surat al-Taubah, kepada Nabi-Nya, Allah Swt berfirman, "Dan janganlah sekali-kali engkau menshalati salah seorang dari mereka (orang-orang munafik) yang mati dan jangan pula berdiri di kuburnya (untuk berdoa dan memohonkan ampunan). Sebab mereka telah kafir kepada Allah dan RasulNya dan meninggalkan dunia dalam keadaan fasik."

Ayat suci ini memerintahkan Nabi Saw untuk tidak berdiri di sisi makam orang munafik dan tidak pula memohonkan ampunan Allah untuknya. Sebab, dia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan Nabi Saw biasa berdiri dan berziarah ke makam orang-orang mukmin, memohonkan ampunan dan memanjatkan doa bagi mereka. Anugerah besar ini tidak akan didapat oleh orang-orang munafik. Dengan demikian, secara tidak langsung ayat ini menunjukkan bolehnya berziarah ke kubur.

Ibnu Taimiyyah, pendiri aliran Salafi menyebut ziarah kubur sebagai ibadah terhadap kubur. Dia lalu menyamakannya dengan penyembahan berhala yang dilakukan kaum musyrik di zaman jahiliyyah. Di abad 12 hijriyyah, Muhammad bin Abdil Wahhab dengan bantuan keluarga Saud menyebarkan pemikiran Ibnu Taimiyyah. Dia mengharamkan ziarah kubur dan menghancurkan makam-makam. Dia menyebut para penentangnya sebagai orang kafir yang wajib dibunuh.

Salah seorang ulama di zaman itu yaitu, Sulaiman bin Abdil Wahhab yang juga, saudara Muhammad bin Abdil Wahhab menentang pandangan saudaranya. Dalam bukunya al-Shawaiq al-Ilahiyyah, kepada saudaranya itu, Sulaiman menulis, "Para ulama dari setiap mazhab menyebutkan sejumlah perbuatan dan perkataan yang bisa membuat seorang muslim murtad dan keluar dari Islam. Tapi tak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa bernazar untuk selain Allah atau meminta hajat kepada selain Allah bisa membuatnya murtad. Tidak ada yang menghukumi murtad atas orang yang menyembelih untuk selain Allah, menyentuh kubur atau mengambil tanah dari kubur lalu menjatuhkan vonis mati atasnya... Engkau bertindak sesuai dengan pemikiranmu sendiri dan telah keluar dari ijma' kaum muslimin. … Dengan pendapatmu ini berarti engkau telah memvonis seluruh umat Muhammad dengan kekafiran…"  

Ziarah kubur dilakukan untuk melepaskan diri dari belenggu alam materi memasuki alam spiritual dan kedekatan dengan Allah. Akan tetapi kaum Salafi memperluas lingkup syirik tanpa mengindahkan penghormatan umat kepada para pemimpin agama dan orang-orang saleh. Salafi dan Wahhabi menyebut semua orang yang menghormati kaum salihin dengan cara berziarah ke makam mereka sebagai orang-orang kafir yang halal darahnya.

Ziarah ke makam para pemuka agama merupakan kebanggaan dan ungkapan emosi cinta kaum muslimin. Muhammad bin Muammal, murid Ibnu Khuzaimah, mufassir dan ulama besar madzhab Syafii abad ketiga dan keempat hijrah mengatakan, "Bersama Ibnu Khuzaimah yang merupakan tokoh besar Ahlussunnah dan sejumlah ulama dan tokoh lainnya saya berziarah ke makam Ali bin Musa al-Ridha di Tus. Kami semua terperangah dengan penghormatan besar Ibnu Khuzaimah dan kecintaannya kepada Imam Ridha." (Tahdzib al-Tahdzib juz 7 hal: 339)

Ibnu Habban, ulama besar Sunni dan penulis ilmu rijal mengatakan, "Makam Ali bin Musa al-Ridha di Tus adalah tempat ziarah yang terkenal, dan aku sudah berziarah ke sana beberapa kali. Selama berada di Tus setiap kali menghadapi kesulitan aku berziarah ke makam Ali bin Musa lalu memohon kepada Allah menguraikan kesulitanku. Dan kesulitan itu pun dengan cepat terselesaikan."

Khatib Baghdadi, ulama besar Ahlussunnah lainnya menceritakan bahwa Abu Ali Khallal, ulama Hanbali yang wafat tahun 242 hijriyah berkata, "Setiap kali mengalami kesulitan aku pergi ke makam Musa bin Jakfar (Imam Kazhim as) dan bertawassul kepada beliau. Dengan cara itu kesulitanku selalu terselesaikan." (IRIB Indonesia)

Ulama Ahlu Sunnah dan Aliran Sesat Wahabi


Para ulama dengan menunjukkan reaksinya terhadap ideologi menyimpang Muhammad bin Abdul Wahab telah berhasil mencerahkan pikiran rakyat terhadap ideologi sesat Wahabi. Para ulama dengan usahanya ini juga berhasil menyelamatkan banyak umat Muslim dari bahaya terjatuh dalam kebodohan  Wahabi.

Mayoritas pengikut Wahabi menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari kelompok Ahlu Sunnah (Sunni) dan memiliki akidah yang sama, namun kelompok Wahabi yang menyimpang ini dalam realitanya memiliki keyakinan yang berbeda dengan Sunni. Ulama Ahlu Sunnah di awal kemunculan kelompok  Wahabi gencar menulis kitab yang mempertanyakan keyakinan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab.

Orang pertama yang mengkritik dan menyerang bid'ah yang ditebar Muhammad bin Abdul Wahab adalah Sheikh Sulaiman, yang tak lain saudara dari pendiri aliran Wahabi. Sheikh Sulaiman dalam kitabnya yang berjudul, al-Sawaiq al-Ilahiah fi Mazhab al-Wahabiyah dan Faslul Khitab fi al-Rad Aala Muhammad bin Abdul Wahab mengkritik keras bida'ah dan kesesatan saudaranya. Ia pun menentang habis-habisan ideologi Muhammad bin Abdul Wahab.

Ada dialog yang terkenal antara dua saudara ini dan layak untuk didengar. Sulaiman bertanya kepada Muhammad bin Abdul Wahab, "Wahai Muhammad! Rukun Islam ada berapa?" Saudaranya menjawab, ada lima. Sulaiman berkata, "Namun kamu meyakini rukun Islam ada enam. Rukun keenam adalah kamu menyakini mereka yang tidak mengkuti dirimu adalah kafir! Keyakinan ini dalam ideologimu termasuk rukun Islam keenam."

Mengingat dialog antara dua saudara ini, kita memahami sikap radikal paling mencolok Muhammad bin Abdul Wahab adalah keyakinannya "Yang tidak mengikuti dirinya adalah kafir". Umat Muslim paling banyak dirugikan oleh ideologi sesar Muhammad bin Abdul Wahab ini dan Wahabi ekstrim serta menyimpang sampai saat ini gencar membantai warga Sunni dan Syiah. Padahal dalam ajaran Islam, hubungan antara Tuhan dan makhluk berdasarkan pada rahmat dan kecintaan. Adapun hubungan sesama anggota masyarakat dilandasi oleh rasa persaudaraan.

Ketika Muhammad bin Abdul Wahab masih hidup, bukan saja Sheikh Sulaiman yang menentangnya dan banyak menulis kitab atau surat mempertanyakan kesesatan pendiri aliran Wahabi ini. Bahkan Abdullah bin Abdul Latif Syafii, salah satu ulama Ahlu Sunnah dan guru Muhammad bin Abdul Wahab menulis buku berjudul "Tajrid Saif al-Jihad Li Muddaa al-Ijtihad" yang isinya mengkritik ajaran kaum Wahabi. Sheikh Abdullah bin Ibrahim, ulama Taif dalam bukunya "Tahridh al-Aghbiya Aala al-Istighatsa  bil al-Ambiya wa al-Auliya" menyebut bertawasul kepada pemuka agama bukan bid'ah. Dalam bukunya tersebut, Sheikh Abdullah menjawah syubhah yang dilontarkan kaum Wahabi.

Al-Aqwal al-Mardiyah fi al-Rad Aala al-Wahabiyah yang ditulis oleh Sheikh Atha Dimsyiqi. Sayid Alawi bin Ahmad Haddad mengatakan, "Banyak jawaban dan kritikan yang dilontarkan oleh ulama besar mazhab Ahlu Sunnah mulai dari Mekah, Madinah dan kota-kota lain seperti Ihsa, Basra, Aleppo dan kota lain kepada Muhammad bin Abdul Wahab ."

Selama Muhammad bin Abdul Wahab hidup hingga kematiannya banyak ulama yang menentang ideologi menyimpang pendiri Wahabi ini. Di antara ulama tersebut, Afifuddin Abdullah bin Dawud Hanbali, Ahmad bin Ali Basri Syafii, Sheikh Atha Makki, Sheikh Tahir  Hanafi, Sheikh Mustafa Hamami Misri salah satu ulama al-Azhar yang menulis buku "Ghauts al-Ibad bihi Bayan al-Rashad".

Salah satu ulama dan mufti besar kota Mekah di akhir pemerintahan Utsmani, Sheikh Ahmad Zaini Dahlan terkait akidah sesat Muhammad bin Abdul Wahab menulis, "Ia menyangka ziarah ke kuburan Nabi Saw, dan bertawassul kepada beliau serta para nabi dan ulama serta ziarah kubur mereka untuk mendapat berkah adalah syirik. Ia pun menilai siapa saja yang menisbatkan sesuatu kepada selain Tuhan meski melalui jalur rasio yang diperbolehkan adalah syirik. Misalnya mengatakan, si fulan sembuh berkat obat saya... Muhammad bin Abdul Wahab dalam kata-katanya banyak melakukan falasi untuk menipu kaum awam serta menariknya menjadi pengikut aliran Wahabi."

Meski adanya penentangan luas ulama dan pencerahan yang gencar mereka lakukan, namun sangat disayangkan benih-benih ideologi rapuh ini tumbuh subur berkat dukungan dana dan militer pemerintah al-Saud serta Inggris dan akhirnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Pohon ini hanya membuahkan kekerasan, friksi dan bentrokan antara kaum Muslim.

Wahabi sejak awal terbentuknya telah melakukan pembantaian besar-besaran untuk menguasai Mekah dan Madinah, dua kota yang menjadi pusat Islam. Pengikut aliran Wahabi mengaku dirinya sebagai muslim paling benar. Tak hanya itu, mereka menisbatkan perilaku menyimpang dan kekerasan kepada Nabi Muhammad Saw serta ajaran al-Quran.

Pada awalnya ulama Sunni dengan baik menentang Wahabi, namun selanjutnya secara bertahap mereka lebih memilih bungkam dan membiarkan aliran menyimpang ini berkembang. Salah satu dalih kebungkaman mereka adalah ketakutan mereka terhadap aliran Wahabi dan sayang terhadap jiwa mereka. Dengan bungkamnya ulama dan maraknya propaganda Wahabi serta ancaman yang ditebar pengikut Muhammad bin Abdul Wahab ini, sejumlah pengikut Sunni berbalik menjadi pengikut Wahabi.

Fenomena maraknya pengikut Sunni yang menjadi pengikut Wahabi disebabkan ulama mereka tidak serius seperti pendahulunya dalam memberi pencerahan kepada umatnya terhadap bahaya ideologi Muhammad bin Abdul Wahab. Aliran Wahabi yang mendapat angin dan berkembang pesat di sejumlah negara Islam khususnya Arab Saudi mulai menerapkan kekerasan dan penentangannya terhadap rasio.  Dan para pengikutnya pun dipaksa untuk memusuhi akal sehingga terlelap dalam kejumudan.

Pembantaian muslim Suriah yang juga mencakup anak-anak tak berdosa merupakan contoh nyata dari ideologi sesat dan kejumudan akal Wahabi. Perusakan makam para pemuka agama, menistakan para wanita Suriah, memotong anggota badan penentangnya serta perilaku sadis lainnya menunjukkan fanatisme dan kekerasan yang ditebar pengikut Wahabi.

Kini semua telah menyadari bahwa klaim jihad, tuntutan kebebasan dan bantuan kepada rakyat Suriah semuanya sekedar alasan untuk merusak kehidupan rakyat negara ini. Wahabi ekstrim di Suriah bukannya tidak membantu rakyat negara ini, bahkan mereka malah merusak dan membuat kehidupan rakyat semakin buruk serta aktif membantai warga atau memaksanya mengungsi. Harta warga pun dijarah dan tidak memberi ampun kepada siapa pun termasuk anak-anak dan wanita. Sangat disayangkan ulama Ahlu Sunnah sampai saat ini belum menunjukkan sikap yang tegas terhadap kejahatan anti Islam yang menggunakan nama jihad.

Toleransi dan keras adalah dua sifat Nabi Saw dan ajaran al-Quran. Kedua sifat mulia ini pun menghiasidalam kehidupan politik dan sosial beliau sepanjang hidupnya baik dalam perilaku maupun amal. Keras dan teguh merupakan keharusan untuk menjalankan keadilan dan menjamin keamanan. Toleransi yang tak pada tempatnya malah akan menghilangkan hak manusia. Pengampunan dan kelembutan yang timbul dari kelemahan saat menghadapi kezaliman adalah kehinaan serta bentuk dari sikap menyerah terhadap kezaliman. Hal ini malah membuat pelaku kezaliman semakin leluasa menjalankan aksinya.

Oleh karena itu, menolak toleransi seperti ini. Rasulullah Saw meski disebut sebagai Nabi pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, namun beliau tidak pernah mendiamkan ketidakadilan, kezaliman dan bid'ah. Beliau pun gencar memeranginya. Dalam ajaran Islam berdamai dengan orang zalim dan penumpah darah tidak pernah dibenarkan.

Mengingat ayat 73 surat al-Isra di mana Allah Swt memperingatkan Nabi-Nya soal berlemah lembut dengan orang kafir, kita memahami bahwa dalam pandangan al-Quran muslim dan mukmin tidak diperkenankan menunjukkan kelemahan dalam soal agama. Mereka dianjurkan untuk memerangi ahli bid'ah dan orang kafir dengan sungguh-sungguh. Dewasa ini umat Islam juga seharusnya tidak menunjukkan rasa toleransi terhadap propaganda anti agama musuh dan Wahabi yang menebarkan bid'ah.(IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Tabarruk Dalam Pandangan Wahhabi


Hafidh Wahbah, penulis terkenal Wahhabi mengenai akidah dan kepercayaan aliran yang dianutnya secara umum mengatakan, "Wajib memerangi segala macam bidah dan kemunkaran, khususnya hal-hal yang mengakibatkan syirik seperti ziarah, tawassul, bertabarruk dengan peninggalan para wali, juga shalat di sisi kubur, menerangi makam, membuat tulisan di atasnya, bersumpah dengan nama selain Allah, meminta pertolongan dan kesembuhan dari selain Allah, serta memohon syafaat dari mereka. Semua itu adalah perbuatan syirik."

Ibnu Taimiyyah dalam kitab al-Jami' al-Farid halaman 638 menyatakan, "Mengusap dan mencium kubur walaupun para nabi demikian juga meletakkan tangan di makam Nabi dan mencium kuburnya tidak dibenarkan dan bertentangan dengan tauhid."

Apa yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah maupun oleh penulis Wahhabi tadi tak lebih dari vonis tanpa dalil, atau lebih tepat jika disebut bidah. Sebab, di zaman Nabi Saw dulu, para sahabat bertabarruk dengan benda-benda pribadi milik Rasulullah Saw, dan beliau tidak melarang mereka. Salah satu dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Disebutkan bahwa Urwah bin Mas'ud, menyaksikan para sahabat Nabi Saw berebut air bekas wudhu beliau. Urwah berkata, "Demi Allah tidak ada setetespun air bekas wudhu Nabi yang menetes kecuali diperebutkan oleh para sahabat. Mereka mengusapkan air itu ke wajah dan badan mereka…" (Shahih Bukhari Kitab al-Syuruth, bab Syarth Jihad)

Riwayat lainnya menyebutkan bahwa ketika Nabi Saw mencukur rambut saat melaksanakan ibadah haji, para sahabat mengumpulkan rambut beliau untuk bertabarruk dengannya. Ketika Rasulullah Saw meminum air dari kirbah, para sahabat memotong ujung kirbah tempat Nabi meletakkan mulut beliau untuk bertabarruk dengannya. Riwayat-riwayat itu bisa dijumpai di Shahih Bukhari Kitab al-Jihad dan di bab Sifat Rasul Saw. Jika apa yang dilakukan para sahabat itu tergolong perbuatan syirik, Nabi pasti akan melarang mereka. Nabi pernah melarang sahabat-sahabat beliau mengatakan kata-kata syirik ketika putra beliau meninggal dunia. Para sahabat mengaitkan kematian anak Nabi dengan fenomena gerhana bulan yang kebetulan terjadi di malam itu, dan beliau melarang. Sementara dalam buku-buku hadis Ahlussunnah kita banyak menjumpai hadis-hadis yang menceritakan para sahabat bertabarruk dengan Nabi dan beliau tidak melarang mereka.

Bertabarruk dilakukan oleh orang karena orang yang diambil berkahnya diyakini memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Keyakinan ini selalu disertai dengan keyakinan bahwa semua kebaikan yang didapat dari berkah itu adalah atas izin Allah. Bertabarruk dengan mimbar Rasulullah Saw atau makam beliau dengan mengusap dan menciumnya sudah dilakukan oleh umat Islam sejak zaman Nabi dan sesaat setelah kekasih Allah itu wafat. Said bin Musayyib dan Yahya bin Said adalah tokoh ahli fikih di kota Madinah yang sering bertabarruk dengan makam Nabi.

Al-Quran al-Karim menceritakan sisi lain dari tabarruk yang dilakukan oleh seorang nabi. Ketika Yaqub as kehilangan penglihatannya karena terlalu banyak menangisi perpisahannya dengan Yusuf as, putranya, beliau bertabarruk dengan baju Yusuf. Berkat itu, Allah menyembuhkan matanya dari kebutaan. Jika bertabarruk termasuk perbuatan syirik, mungkinkah al-Quran berdiam diri dan tidak menolak perbuatan Ya'qub itu?

Menganggap bertabarruk sebagai perbuatan syirik merupakan salah satu penyimpangan akidah kaum Salafi dan Wahhabi. Imam Ahmad bin Hanbal tidak mempermasalahkan mencium dan mengusap makam Nabi dan wali Allah untuk bertabarruk. Jika para sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi Saw berkesempatan mengambil berkah dari beliau langsung, umat Islam lainnya yang tidak menyaksikan masa kenabian bertabarruk dengan peninggalan Nabi seperti makam beliau. Bertabarruk dengan mencium dan mengusap makam manusia suci itu adalah salah satu pengungkapan rasa cinta dan penghormatan kepada junjungan kita.

Sebuah tempat dengan sendirinya tidak memiliki keutamaan apapun. Suatu tempat menjadi diberkati karena kehadiran manusia-manusia suci yang melakukan shalat, berdoa dan bermunajat di sana. Artinya,karena amal baik dan ibadah manusia-manusia saleh itulah, suatu tempat bisa mendatangkan berkah sebab disanalah Allah menurunkan rahmat dan inayahnya. Di sana pula para malaikat singgah. Dengan demikian, tempat itu menjadi terberkati. Orang mukmin yang berada di tempat seperti itu akan semakin terkonsentrasi dalam ibadah dan munajat dengan Allah. Di sana, dia merasakan dekat dengan Sang Khaliq untuk memohon ampunan dan memanjatkan doa. Di sanalah dia memperoleh ketenangan jiwa. Berada di sisi makam Nabi atau para wali mengingatkan kita akan perjuangan suci mereka dalam menegakkan agama Allah. Dengan demikian, kita akan terpacu untuk meneladani dan mencontoh keikhlasan mereka.

Di malam Isra' dan Mi'raj, Nabi Saw diberangkatkan oleh Allah ke Masjidul Aqsa. Beliau diperintahkan untuk melaksanakan shalat di Madinah, bukit Thursina dan Bethlehem. Jibril yang menyertai beliau berkata, "Engkau shalat di Madinah Thayyibah karena kota ini akan menjadi tujuan hijrahmu. Shalatmu di Thursina karena di tempat itu Allah berbicara dengan Musa as. Sedangkan shalatmu di Bethlehem karena disanalah tempat kelahiran Isa putra Maryam." (Al-Khashaish al-Kubra juz:1 hal: 154). Dengan penjelasan ini bisa disimpulkan bahwa dalam bertabarruk tak ada perbedaan antara tempat lahir dan tempat pemakaman para nabi. Sebab, tujuannya adalah bertabarruk dengan manusia suci.

Satu hal yang sudah pasti adalah bahwa semua mazhab Islam melarang bersujud ke makam manusia meskipun dia adalah Rasulullah Saw. Sebab sujud adalah bentuk penghormatan paling tinggi dan penghambaan yang hanya layak ditujukan kepada Allah. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip hadis, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Jangan kalian shalat menghadap kubur dan jangan pula duduk di atasnya." Artinya, jangan menjadikan kubur sebagai kiblat untuk shalat atau sujud di atasnya. Sebab dahulu kaum Yahudi dan Nasrani melakukan hal itu dan lambat laun mereka memuja dan menyembah pemilik makam.

Untuk sujud dan melaksanakan shalat di sisi makam Nabi Saw, atau bertabarruk dengannya tidak ada ayat atau hadis yang melarangnya. Bahkan Allah Swt memerintahkan jemaah haji untuk menjadikan tempat pijakan kaki Nabi Ibrahim sebagai tempat untuk melaksanakan shalat. (Q.S. al-Baqarah ayat 125) Shalat di sisi makam wali dan nabi tidak berbeda dengan shalat di sisi maqam Ibrahim. Bedanya, maqam Ibrahim hanya pernah menjadi pijakan kaki beliau sekali atau beberapa kali saja sementara kubur Nabi dan wali adalah tempat yang selamanya mendekap tubuh suci mereka.

Abu Nu'aim dalam Hilyah al-Auliya (juz 3 hal 121) meriwayatkan dari Anas bahwa ketika Fatimah binti Asad (ibunda Imam Ali as) wafat, dan setelah kubur disiapkan untuknya, Nabi Saw menggali kubur itu lebih dalam lagi dan mengeluarkan tanah dengan tangan beliau. Lalu beliau berbaring di dalamnya, kemudian berdoa, ‘Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan. Dia tidak pernah mati. Ya Allah ampunilah ibuku Fatimah bin Asad, sempurnakanlah hujjahnya dan perluaslah tempatnya, demi Nabi-Mu dan rasul-rasul-Mu sebelumku, sungguh Engkau lebih Penyayang dari para penyayang."

Terkadang kita mendengar doa yang mengangkat sumpah kepada Allah dengan kedudukan dan hak orang-orang saleh. Kaum Wahhabi menyebutnya sebagai perbuatan syirik dengan alasan tak ada hak makhluk atas Khaliq. Padahal, hak yang dimaksudkan adalah hak yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. Di ayat 47 surat Rum Allah berfirman, "Dan menolong kaum mukmin adalah hak atas Kami."

Hak yang menjadi pembahasan ini dan yang dijadikan sumpah dalam berdoa kepada Allah adalah hak pemberian Allah kepada orang-orang saleh atas penghambaan dan ibadah mereka yang tulus kepada-Nya. Dan sekali lagi, hak ini bukan milik hamba itu tapi diberi oleh Allah. Dengan demikian tak ada jalan untuk membenarkan pendapat kaum Wahhabi. Sayangnya, meski tak berdalil kaum Wahhabi dan Salafi dengan mudah menuduh orang lain berbuat syirik. Padahal, justeru merekalah yang sudah tenggelam dalam bidah dengan sikap-sikap dan pendapat yang menyimpang dan ditolak oleh kebanyakan umat Islam.(IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Sosok dan Pemikiran Ibnu Taimiyyah (Bagian Pertama)


Membahas faham Wahhabi tak bisa lepas dari pemikiran Ibnu Taimiyyah. Pendiri faham Salafi yang hidup pada abad ketujuh hijriyah itu dalam banyak tulisan dan pidatonya menyebarkan pemikiran-pemikiran yang oleh para ulama dinyatakan menyimpang dan sesat. Dalam banyak kasus, saat ditanya banyak hal, dia memberikan jawaban yang tidak Islami. Para ulama di zaman itu meyakini bahwa Ibnu Taimiyah dan pemikirannya sangat berbahaya bagi umat Islam. Nasehat dan argumentasi ulama kepadanya tidak membuat pendiri faham Salafi ini mengubah pandangan. Dia tetap bersikukuh pada pendiriannya bahwa apa yang dia sampaikan benar dan dia tidak bisa divonis keluar dari Islam.

Taqiyyuddin al-Subki (wafat tahun 756 H), ulama yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyyah, mengatakan, "Dengan kedok mengikuti Kitab dan Sunnah Ibnu Taimiyyah menciptakan serangkaian bidah dalam akidah Islam. Dia telah merusak sendi-sendi Islam. Dia menentang kepercayaan seluruh umat Islam dan menyampaikan pandangan-pandangan yang meniscayakan jisim bagi Allah. Dengan pandangan-pandangan itu dia bahkan sudah keluar dari 73 golongan." (al-Durrah al-Mudhiiah)

Ibnu Taimiyyah mengaku mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Dia adalah sosok yang berpikiran beku dan sangat fanatik dengan pendapatnya. Menolak metode pembahasan akal, logika, dan pendekatan filosofis adalah karakter utama tokoh yang kerap menolak pembahasan logika dengan cara-cara kasar dan tidak ilmiah ini.

Paraulama berpendapat bahwa pandangan-pandangan Ibnu Taimiyyah tentang esensi ketuhanan dan berbagai topik pembahasan agama lainnya sangat lemah dan kekanak-kanakan. Hal itu menunjukkan bahwa dia tidak banyak mengerti ajaran agama Islam. Pendapat para ulama ini cukup beralasan. Sebab, dengan mencampakkan metode logika dan akal, Ibnu Taimiyyah secara praktis terjebak dalam pemikiran materi dan zhahiri. Sehingga, saat membahas tentang tauhid dan ketuhanan, pemikiran yang disampaikannya tidak memiliki landasan yang kokoh. Dia mengenalkan Tuhan sebagai wujud materi yang jasmani. Meski terperangkap dalam khayalan seperti itu, dia tetap mengaku diri sebagai Muslim dan mencerca siapa saja yang berseberangan dengannya bahkan menyebut mereka musyrik.

Karya penulisan Ibnu Taimiyyah sangat banyak dan berjumlah puluhan jilid. Tapi tak ada satupun pemikirannya yang bermanfaat bagi umat Islam. Bahkan sebaliknya, pandangan-pandangannya yang bertentangan dengan agama justeru menyulut gejolak di tengah umat dan melukai perasaan mereka. Beberapa abad kemudian, pemikirannya yang menyimpang menjadi bibit yang melahirkan faham Wahhabi yang sangat berbahaya dan keji. Sejak awal kelahirannya hingga hari ini, kelompok Wahhabi hanya menebar kebencian, perpecahan, teror dan ratusan kejahatan di dunia Islam. Tak heran jika Islam sudah memperingatkan akan bahaya bidah dan menyebutnya sebagai dosa besar atau kabirah. Sebab, bidah dalam agama bisa mengakibatkan bahaya yang sangat besar. Mengenai bidah, Imam Ali as berkata, "Tidak ada yang menimbulkan kehancuran pada agama seperti bidah." Ayat 59 surat Yunus mengecam orang-orang yang menisbatkan kebohongan kepada Allah Swt dan membuat bidah.

Distorsi agama terkadang dilakukan dengan cara menambahkan sesuatu ke dalam agama atau dengan mengurangi apa yang ada padanya. Jika seseorang menisbatkan penambahan atau pengurangan itu kepada Allah atau Nabi-Nya berarti dia telah membuat bidah dalam agama. Sayid Mohsen Amin al-Amili mengenai bidah mengatakan, "Bidah adalah memasukkan sesuatu yang bukan dari agama ke dalam agama, seperti memubahkan sesuatu yang haram, mengharamkan yang mubah, atau mewajibkan yang bukan wajib dan mensunnahkan yang bukan sunnah." Artinya, bidah adalah perbuatan mengada-ada lalu menisbatkannya kepada agama. Orang yang membuat bidah dihukumi keluar dari agama Islam.

Allah Swt yang Maha Penyayang telah menurunkan syariat Islam sebagai aturan hidup umat manusia. Dia Maha Mengetahui apa yang diperlukan manusia dalam kehidupan dan untuk kebaikannya. Aturan yang diturunkannya berupa syariat ini mesti meliputi semua hal yang dibutuhkan manusia. Hal itu disinggung oleh al-Quran diantaranya ayat 40 surat Yusuf,"Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah kecuali kepadaNya. Inilah agama yang kokoh."

Firman Ilahi, Sunnah Nabi Saw dan sirah Ahlul Bait as adalah pelita terang yang memberi petunjuk kepada manusia akan jalan kebenaran. Imam Ali berkata, "Allah Swt telah mengutus para nabi supaya manusia melaksanakan janji mereka kepada-Nya, tidak melupakan anugerah nikmat-Nya, dan mengeluarkan pemikiran yang tersembunyi…" Janji ini adalah fitrah dan naluri jiwa. Dengan kata lain, para nabi diutus untuk mengajak manusia kepada tauhid dan penyembahan Tuhan Yang Esa.

Tauhid memang sering dipaparkan Ibnu Taimiyyah dalam pandangan-pandangannya. Namun tauhid yang dia maksudkan justeru sarat dengan hal-hal menyimpang tentang Allah, ziarah kubur, tawassul, syafaat, tabarruk dan masalah-masalah lainnya. Pandangan yang menyimpang itu dipaparkannya dengan menyebutnya sebagai akidah Islam yang murni. Dengan mencermati berbagai kepercayaan dan pandangan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab kita akan menyimpulkan bahwa kedua tokoh pemikiran menyimpang itu ingin menjauhkan umat Islam dari para wali dan kekasih Allah, khususnya Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Baitnya.  Hal itu tak lain adalah program utama yang ingin dilaksanakan musuh-musuh Islam sejak kemunculan agama ini atau setidaknya semenjak Nabi Saw meninggal dunia.

Padahal, dalam banyak kesempatan Rasulullah Saw mewanti-wanti umatnya untuk berpegangan pada dua pusaka beliau yaitu Kitabullah dan Ahlul Bait. Kedua pusaka itulah yang menjamin keselamatan umat. Bidah yang dibuat oleh kaum Salafi mengingatkan kita kepada ayat 70 surat al-Baqarah yang menyebutkan, "Celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka lalu mengatakan kepada orang-orang bahwa ini turun dari sisi Allah."

Salah satu hal yang menarik adalah bahwa pemikiran Ibnu Taimiyyah yang menyimpang bahkan tak diikuti oleh para pendukungnya sendiri. Misalnya, setelah kematian Ibnu Taimiyyah, mereka melakukan hal-hal yang mereka anggap syirik terhadap diri pemimpin Salafi ini. Ibnu Katsir, ulama mazhab Syafii mengenai apa yang dilakukan para pengikut Salafi terhadap jenazah Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Sebelum jenazah Ibnu Taimiyyah dimandikan, sekelompok orang duduk di sisi jasad itu sambil membaca al-Quran. Mereka menciumnya dan bertabarruk dengannya lalu pergi. Kemudian datang kelompok perempuan dan melakukan hal yang sama… Orang-orang melepaskan serban dan pakaian mereka lalu melemparkannya ke atas keranda Ibnu Taimiyyah untuk bertabarruk. Sebagian orang mengambil air bekas memandikan jenazah itu lalu meminumnya. Sebagian membagi-bagikan air bidara bekas memandikan jenazah di antara mereka." (al-Bidayah wa al-Nihayah)

Orang-orang Wahhabi yang telah membuat banyak bidah dalam agama telah menutup akal. Mereka menolak kemajuan sains yang sebenarnya merupakan kemajuan umat manusia. Alasannya adalah hasil teknologi dan sains hanya menjauhkan manusia dari Allah dan ibadah. Padahal, Islam tidak menolak kemajuan zaman selama tidak bertentangan dengan agama.

Banyak ulama yang menyamakan Wahhabi di zaman ini dengan kaum Khawarij di zaman permulaan Islam. Khawarij pertama kali menunjukkan eksistensinya di masa khilafah Imam Ali as. Mereka menentang Ali dan merasa lebih mukmin dari beliau. Sama dengan Wahhabi, kelompok ini menutup akal dan pemikiran nalar. Akibatnya, mereka salah dalam memahami Islam, al-Quran dan Sunnah. Mereka juga rajin menyematkan label kafir kepada kelompok Muslim yang lain dan merasa berhak atas darah dan harta mereka. Sementara, Islam yang sesungguhnya adalah ajaran yang mengikuti al-Quran dan Sunnah Nabi Saw. Dalam salah satu hadisnya, Rasul Saw bersabda, "Ketahuilah bahwa sebaik-baik sesuatu adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah bidah (yang tidak berasaskan Kitab dan Sunnah), dan setiap bidah adalah kesesatan." (IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Sosok dan Pemikiran Ibnu Taimiyyah (Bagian Kedua)


Sirah dan Sunnah Nabi saw selalu memperlihatkan kepedulian beliau terhadap persatuan dan kekompakan umat Islam. Sebab, persatuan adalah kunci kesuksesan setiap bangsa dan komunitas saat menghadapi kesulitan dan membantu mereka meraih kemajuan dan kesempurnaan. Karena itu, al-Quran al-Karim memuji persatuan dan memperingatkan umat Islam akan bahaya perpecahan. Ayat 103 surat Aali Imran menyebutkan, "Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai." Kitab suci ini mencela masyarakat yang menjauhkan diri dari persatuan berlandaskan Islam. Menurut al-Quran, kelompok masyarakat yang bersikap seperti itu tidak tergolong dalam umat Muhammad Saw. Ayat 159 surat al-An'am menyatakan, "Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka terbagi ke dalam beberapa golongan, maka engkau (wahai Muhammad) tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka."

Rasulullah Saw dalam ucapan dan perilakunya yang mendidik selalu menyerukan persatuan kaum muslimin dengan landasan Islam yang murni. Sejarawan Ibnu Hisyam dalam kitab al-Sirah al-Nabawiyyah menceritakan, ketika hasutan seorang Yahudi berhasil menciptakan pertikaian antara dua suku Muslim dan mereka sudah berhadap-hadapan untuk berperang, Nabi Saw segera mendatangi mereka. Beliau sangat marah dan bersabda, "Takutlah kalian kepada Allah! Takutlah kepada Allah! Apakah kalian akan mengulang tradisi Jahiliyyah di depan mataku? Bukankah Allah yang Maha Besar dengan perantara Islam sudah memberikan hidayah-Nya kepada kalian dan memuliakan kalian? Bukankah Dia telah mencabut akar Jahiliyyah, menyelamatkan kalian dari kekafiran, mendekatkan hati-hati kalian dan menebar kasih sayang di antara kalian?"

Dalam sebuah riwayat, Imam Ali as dalam ungkapan yang indah berkata, "Janganlah kalian berpisah dari jamaah umat Islam. Sebab Tangan Allah bersama jamaah. Hindarilah perpecahan, karena orang yang memisahkan diri dari umat Islam akan menjadi mangsa syaitan seperti domba yang menjadi mangsa serigala ketika berpisah dari kawanannya."

Lahirnya kelompok sesat Wahhabi dan relatif meluasnya kelompok ini pada abad 12 hijriyah di bawah kepemimpinan Muhammad bin Abdul Wahhab, Islam dan umat Islam mendapat pukulan yang berat. Sebab, kelompok yang sesat dan menyesatkan ini dengan mudah mengeluarkan vonis musyrik terhadap umat Islam dengan alasan-alasan yang tidak berdasar. Mereka juga menghalalkan darah, harta dan kehormatan siapa saja yang sudah divonis musyrik. Akibatnya, terjadi pembantaian jiwa dan penjarahan harta besar-besaran yang dilakukan orang-orang Wahhabi terhadap umat Islam di sejumlah negeri. Data sejarah bahkan foto-foto yang memperlihatkan kekejian kelompok ini terhadap umat Islam masih tersimpan rapi.

Tak beda dengan Khawarij di zaman Imam Ali as, kelompok Salafi dan Wahhabi mengaku diri sebagai muslim sejati. Karena itu, mereka menyebut rumah mereka sebagai rumah tauhid sementara rumah umat Islam umumnya sebagai rumah syirik. Kepercayaan dan pemikiran yang menyimpang dan provokatif ini menjadi ancaman besar bagi umat Islam. Padahal, al-Quran al-Karim dalam banyak ayat sucinya melarang umat Islam untuk saling menuduh, mengunggulkan diri di atas orang lain, memecah-belah persatuan, dan bercerai-berai. Dengan kepercayaan dan pemikiran yang mereka miliki, kaum Salafi dan Wahhabi bukan hanya hambatan terbesar bagi umat Islam untuk mewujudkan persatuan tapi juga memarakkan kekerasan di antara umat.

Mungkin tidak salah jika dikatakan bahwa kekerasan yang kita saksikan pada kelompok ini berakar dari fatwa Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam kitab Kasyf al-Syubuhat, Ibnu Abdil Wahhab mengeluarkan fatwa aneh yang memecah-belah umat Islam. Dia menulis demikian,"Mereka yang menjadikan para malaikat, anbiya dan auliya sebagai syafi' dan mendekatkan diri kepada Allah dengan perantara mereka, darah mereka halal dan mereka boleh dibunuh." Fatwa Muhammad bin Abdul Wahhab ini menjadi alasan pasukan Wahhabi yang berada di bawah komando keluarga Saud untuk menyerang umat Islam di sejumlah negeri seperti Madinah, Mekah, Karbala, Thaif dan lainnya. Dalam setiap serangan, mereka melakukan pembantaian dan penjarahan besar-besaran.

Kekerasan yang dilakukan kelompok yang fanatik dan jumud bernama Wahhabi dan Salafi ini masih terjadi di zaman ini. Kelompok-kelompok yang dikenal teroris saat ini seperti Taliban, al-Qaeda, Sepah Sahabah dan kelompok teroris lainnya lahir dari rahim ajaran Wahhabi. Mereka melakukan aksi-aksi teror dan pembunuhan di sejumlah negara seperti Afghanistan, Pakistan, Irak dan negara-negara lainnya. Dunia mengaitkan seluruh aksi kekerasan dan terorisme itu kepada Islam secara keseluruhan. Dengan menuduh umat Islam yang lain sebagai orang-orang musyirk, kaum Wahhabi melakukan pembantaian terhadap mereka dalam bentuk yang sangat keji.

Taliban adalah kelompok teroris Wahhabi yang bermarkas di Afghanistan. Kelompok ini adalah bentukan bersama Amerika, Inggris, Pakistan dan Arab Saudi dengan Mullah Umar sebagai pemimpinnya. Setelah melakukan pembunuhan besar-besaran di Afghanistan, pada tahun 1996 Taliban menguasai ibukota Kabul dan mendirikan pemerintahan baru di negara itu yang berlandaskan ajaran Wahhabi. Aturan dan hukum yang kaku penuh kejumudan mereka terapkan dengan menyebutnya sebagai hukum Islam.

Taliban menutup semua tempat hiburan termasuk sinema dan gedung teater. Warga dipaksa melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Semua pria wajib memelihara dan memanjangkan janggut. Anak perempuan tidak diperkenankan pergi ke sekolah dan perguruan tinggi. Kaum wanita tidak dibenarkan bekerja di luar rumah. Aturan ini membuat kebanyakan rumah sakit kehilangan banyak perawat dan tenaga medis. Siapa saja yang menentang aturan yang berlaku akan dihukum mati, tak peduli apakah dia dari kelompok Muslim Sunni atau Syiah. Taliban telah mencabik-cabik persatuan umat dan menjadi alasan bagi Barat untuk melakukan propaganda buruk terhadap Islam.
 
Kelompok teroris berikutnya adalah Sepah Sahabah yang beraktivitas di Pakistan. Mereka adalah pengikut ajarah Wahhabi yang sangat ekstrim. Misi mereka adalah membunuh orang-orang Syiah, baik laki-laki maupun perempuan bahkan anak-anak kecil, dengan sangat keji. Bagi mereka yang terpenting adalah membuka front permusuhan antara Sunni dan Syiah. Salah satu momen yang paling mereka benci adalah acara berkabung mengenang Imam Husein as. Sepah Sahabat yang mengaku sebagai pengikut sejati agama Islam didukung penuh oleh pemerintah Arab Saudi dan Taliban. Mereka menjalankan aksi-aksi keji di masjid-masjid di Pakistan dan Afghanistan dengan membunuh orang-orang yang sedang melaksanakan shalat berjamaah. Yang menarik terkadang orang-orang Wahhabi juga memperlakukan orang-orang yang seajaran dengan mereka secara keji.

Al Qaeda adalah kelompok teroris yang namanya sudah dikenal di dunia. Jaringan teroris ini dipimpin oleh Osama bin Laden. Banyak bukti yang menunjukkan hubungan dekat Al Qaeda dengan AS dan dinas intelijennya. Meski demikian, AS menuduh Al Qaeda berada di balik serangan teror 11 September 2001. Dengan alasan itu, AS mengerahkan tentara untuk mengagresi Afghanistan dalam perang dan pendudukan berkepanjangan yang telah menelan korban ratusan ribu jiwa. Selain kelompok-kelompok tadi masih ada serangkain nama dengan misi dan identitas yang serupa dengan aktivitasnya yang tersebar di sejumlah negara seperti Irak, Iran, Yaman, Suriah, Somalia dan beberapa negara lain. Pekerjaan mereka adalah menebar teror, meledakkan bom dan membunuh orang. Korban umumnya adalah kaum Muslimin.

Jika kaum Wahhabi dengan mudahnya menuduh kaum Muslimin dengan tuduhan syirik untuk kemudian membunuh mereka, Nabi Saw dalam sabdanya telah menjelaskan batas pemisah antara tauhid dan syirik. Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang bersaksi akan keesaan Allah dan kenabian Muhammad maka darah, harta dan kehormatannya dihormati dan terlindungi."

Hadis tadi menjelaskan bahwa penyaksian atas keesaan Allah dan kenabian Rasulullah Saw sudah cukup mengeluarkan orang dari kelompok kafir ke dalam barisan umat Islam. Shahih Bukhari dalam bab Fadhail Ali meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah menyerahkan panji Islam ke tangan Ali dalam perang Khaibar, kepada beliau Ali bertanya dengan suara lantang, "Ya Rasulullah! Sampai batas mana kami harus memerangi mereka?" Nabi Saw menjawab, "Perangi mereka sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mengucapkan syahadatain maka darah mereka tidak bisa lagi ditumpahkan."

Kekerasan yang dilakukan kelompok Wahhabi telah menimbulkan kesan buruk pada agama Islam di dunia. Padahal, Islam yang sebenarnya menolak kekerasan. Al-Quran di surat Ali Imran ayat 159 kepada Nabi Saw menyatakan, "Maka dengan rahmat Allah engkau berlemah lembut kepada mereka. Dan jika engkau bersikap kasar dan berhati keras maka mereka akan menjauh darimu."

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi bersabda, "Adakah sesuatu selain cinta dalam agama?" (Ushul al-Kafi 8 hal: 80). Cinta kepada Allah, Nabi, salihin dan semua manusia adalah masalah inti yang diajarkan oleh Islam. Wahhabi justeru menampilkan wajah Islam yang lain, yaitu kekerasan. Akibatnya, di dunia muncul anggapan bahwa Islam adalah agama kekerasan dan terror.(IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Sosok dan Pemikiran Ibnu Taimiyyah (Bagian Ketiga)


Pemikiran dan kepercayaan menyimpang yang dianut oleh orang-orang Wahhabi membuat mereka memperlakukan umat Islam dengan perlakuan yang tidak benar. Situs media pemberitaan al-Alam dalam sebuah laporannya membeberkan kejahatan orang-orang Wahhabi dalam berbagai bentuknya seperti ‘penghalalan pembunuhan, ‘pengiriman teroris ke berbagai penjuru dunia', ‘aksi teror di berbagai negara', dan ‘isu fitnah dan perang partisan'. Meski bagi semua orang, kejahatan kaum Wahhabi sudah bukan rahasia lagi rezim Arab Saudi tetap memelihara kelompok ini secara resmi.

Saat ini, Wahhabisme sudah bukan lagi madzhab anutan, tapi alat politik bagi pemerintah Saudi. Pemikiran menyimpang yang dibawa oleh faham ini ditambah kekuatan dan kekayaan berlimpah yang ada di tangan keluarga Saud, sementara ini dipandang sebagai alat penjamin kelanggengan kerajaan Saudi. Jika alat itu teringkirkan, maka keruntuhan kekuasaan keluarga Saud tak bisa dielakkan.

Semenanjung Jazirah Arab saat ini dikuasai oleh keluarga Saud dengan sistem pemerintahan monarkhi absolut. Kekuasaan hanya ada di tangan keluarga Saud. Jabatan pemerintahan juga tak keluar dari tangan orang-orang dari keluarga yang sama. Dengan cara itu, pemerintahan pusat bisa mengontrol semua instansi negara dan seluruh penjuru negeri. Di negara itu, tak ada peluang dan kesempatan bagi aktivitas politik oposisi. Ulama-ulama dan mufti Wahhabi mempunyai pengaruh yang sangat besar di Arab Saudi. Pemilihan Menteri Kehakiman, Menteri Urusan Haji, Agama dan Wakaf serta Sekjen Organisasi Dakwah Islam mesti dilakukan dengan meminta pendapat mereka.

Selain menguasai Mekah dan Madinah, orang-orang Wahhabi juga memegang kendali atas berbagai lembaga penting di Arab Saudi. Lewat lembaga-lembaga itulah mereka getol menyebarkan pemahaman Wahhabi. Diantara lembaga dan organisasi penting itu adalah Rabithah al-Alam al-Islami, Dewan Ulama atau Kibar al-Ulama, dan lembaga Amr bil Maruf wa Nahy ‘anil Munkar. Lembaga Kibar al-Ulama terdiri atas 21 anggota yang kesemuanya menganut faham Wahhabi. Tak hanya menyebarkan ajaran Wahhabi, mereka juga memegang peran kunci dalam masalah politik di negara itu. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kaum Wahhabi menguasai sumur-sumur minyak dan kekayaan besar yang ada di Arab Saudi. Dalam kondisi seperti itu, warga penganut mazhab lain seperti Ahlussunnah dan Syiah tidak memiliki tempat di sana.

Kekayaan besar yang dimililiki pemerintah Arab Saudi digunakan untuk menyebarkan faham ini. Rezim Saudi melarang aktivitas keagamaan kecuali yang dijalankan sesuai dengan ajaran Wahhabi. Mereka menuduh semua orang selain Wahhabi sebagai ahlul bidah dan sesat. Dengan berbekal pandangan ekstrim seperti ini, mereka memperlakukan para penganut mazhab lain dengan kasar dan tanpa perasaan. Umumnya warga yang menganut faham Ahlussunnah atau Syiah tak mendapat pekerjaan yang layak dengan kondisi kesejahteraan yang jauh dibanding warga penganut faham Wahhabi.

Kejumudan berpikir membuat kaum Wahhabi lebih mengedepankan kekerasan dan ekstrimisme dibanding toleransi. Padahal, al-Quran dan Sunnah mengajarkan kepada kita untuk bersikap toleran, ramah dan penuh kasih dengan masyarakat. Ayatullah al-Udzma Makarim Shirazi menceritakan kepergian pertamanya ke Arab Saudi dan mengatakan, "Pertama kali pergi ke tanah suci, saat memasuki kota Madinah saya terkejut menyaksikan sekelompok orang yang dikenal dengan nama ‘petugas amar ma'ruf' yang kesemuanya berjanggut panjang. Mereka berdiri di sekitar makam Nabi Saw dengan cambuk di tangan. Cambuk itu mereka pukulkan ke siapa saja yang mendekati makam Nabi dan hendak menciumnya sambil mengatakan, ‘syirik, makam ini tak lebih dari besi dan kayu."

Ayatullah  Makarim melanjutkan, orang-orang Wahhabi itu tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh umat Islam dengan mencium makam Nabi Saw adalah peluapan rasa cinta mereka kepada beliau, bukan mencium besi dan kayu. Orang-orang Wahhabi sendiri mencium jilid dan kulit luar al-Quran seperti juga mencium Hajar Aswad dan bertabaruk dengannya. Lantas bagaimana mereka menganggap perbuatan orang yang mencium makam Nabi sebagai perbuatan syirik sementara mencium Hajar Aswad bukan syirik. Bukankah ini kontradiksi? Sayangnya ulama Wahhabi hanya bisa bungkam tanpa pernah menjawab pertanyaan ini.

Hijaz adalah negeri tempat turunnya wahyu Ilahi kepada Nabi Muhammad Saw. Di sana terdapat Baitullah, Ka'bah, kiblat umat Islam, dan banyak situs Islam yang menjadi sarana pemersatu umat Islam. Sayangnya, pemerintahan Arab Saudi dan kaum Wahhabi yang menguasai negeri ini lebih mengedepankan perselisihan dan isu perpecahan di tengah kaum Muslimin. Hubungan terselubung antara rezim Saudi dan negara-negara imperialis Barat khususnya Amerika dan Inggris sudah menjadi rahasia umum. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa lahirnya aliran Wahhabi tak lepas kebijakan imperialisme Inggris. Suasana mencekik yang diciptakan rezim Wahhabi di Arab Saudi meredam setiap suara penentangan terhadap Wahhabisme yang mungkin muncul.

Masalah tauhid dan syirik yang dipaparkan oleh orang-orang Wahhabi praktis memasukkan seluruh umat Islam ke dalam kelompok musyrik dan bidah. Mereka melarang tawassul, tabarruk dan harapan akan syafaat. Musim haji dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan faham Wahhabi di tengah jamaah haji yang datang dari berbagai negara. Karena itu, rezim Wahhabi di Arab Saudi menugaskan orang-orangnya untuk mengajarkan faham menyimpang yang mereka anut kepada semua orang yang datang dari berbagai penjuru dunia. Buku-bukupun mereka cetak dan sebarkan dalam jumlah besar.

Wahhabi juga mendirikan sejumlah perguruan tinggi dengan maksud mencetak kader-kader muballigh untuk menyebarkan faham ini. Untuk mendukung program penyebaran Wahhabisme, mereka menggunakan media massa secara luas. Berbekal dana raksasa, mereka mendirikan banyak saluran televisi satelit untuk misi mereka. Salah satu saluran televisi terbesar yang mereka dirikan adalah televisi satelit al-Arabiya. Televisi berorientasi pemberitaan ini mengedepankan penyebaran faham Wahhabi ke seluruh dunia sekaligus menghujat siapa saja yang menentangnya. Republik Islam Iran adalah salah satu target dan sasaran televisi al-Arabiya dalam perang propaganda ini. Pasalnya, Iran adalah negara yang berdiri di barisan terdepan dalam membela muqawamah dan menentang imperialisme.

Pemerintah Arab Saudi juga mengucurkan dana besar-besaran ke seluruh penjuru dunia untuk menyerang mazhab-mazhab lain. Di Arab Saudi ada enam perpustakaan besar Wahhabi. Selain itu ada sekitar 117 penerbit dan percetakan di negara itu yang umumnya mencetak dan menerbitkan buku-buku dan majalah-majalah yang menyebarkan faham Wahhabi atau menghujat ajaran Ahlussunnah dan Syiah, tanpa argumentasi yang kuat dan logis. Para penerbit mendapat dukungan besar dan kucuran dana dari pemerintah Arab Saudi. Buku-buku itu disebarkan ke berbagai penjuru dunia dan dibagikan secara cuma-cuma. Bagi para ulama dan mufti Wahhabi, tak ada yang berhak menafsirkan dan menjelaskan ajaran Islam kecuali mereka. Pemerintah Saudi tidak memberi kebebasan kepada media untuk menerbitkan tulisan dan laporan yang tidak sesuai dengan kebijakan keluarga Saud. Semua berada di bawah pengawasan pemerintah.

Risalah Islam dan ajaran Nabawi  saat ini sedang berada dalam keterasingan di negeri tempat risalah ini diturunkan. Ajaran Ilahi dinistakan oleh orang-orang penganut faham Wahhabi yang menggeser persatuan, kasih sayang, kebebasan, dan kemuliaan  lalu menggantinya dengan perseteruan, kekerasan, keterpasungan, dan ketundukan kepada arogansi dunia. Hijaz yang dulu menjadi poros dunia Islam kini dikuasai oleh keluarga Saud dan kaum Wahhabi yang bersekutu dengan kaum durjana dunia, khususnya Amerika.(IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Sosok dan Pemikiran Ibnu Taimiyyah (Bagian Keempat, Habis)


Sejak lahirnya aliran Wahhabi banyak ulama yang bangkit melawannya dengan menulis berbagai buku yang menjelaskan penyimpangan faham ini, diantaranya Sheikh Jafar Kasyiful Ghitha yang menulis kitab Manhaj al-Rasyad dan Sayid Mohsen Amili yang menulis kitab Kasyful Irtiyab. Buku-buku itu membongkar kejahatan yang dilakukan kelompok Wahhabi dan kesesatan mereka yang berpandangan ekstrim dan tak mengenal logika. Para ulama itu memperingatkan bahwa Wahhabi adalah gerakan penyusupan di tengah umat Islam yang miliki tujuan merusak agama Islam.

Orang-orang Wahhabi dengan bantuan keluarga Saud melakukan berbagai serangan ke sejumlah negeri dan kota-kota Islam serta menjarah harta benda milik umat Islam. Mereka juga tak segan membunuh dan membantai siapa saja yang melawan. Ekstrimisme dan kebrutalan itu masih mereka pertahankan sampai saat ini. Dengan memanfaatkan kekuasaan atas Haramain, Mekah dan Madinah, ditambah kekayaan berlimpah dari penjualan minyak mentah, mereka relatif bisa masuk ke tengah umat Islam. Bagi negara-negara Barat, keberadaan rezim Arab Saudi yang dependen sangat menguntungkan. Lewat Arab Saudi, AS dan sekutu-sekutu Baratnya bisa dengan mudah bermain di dunia Arab. Para pemuka Wahhabi selalu mengklaim bahwa mereka adalah penganut tauhid dan ajaran Nabi Muhammad yang sejati, padahal apa yang mereka lakukan justeru merusak Islam dan menebar permusuhan di tengah umat Muhammad.

Profesor Hamed Algar, dosen Universitas Berkeley California dalam bukunya yang mengulas tentang Wahhabisme menyatakan, "Ada dua hal yang layak diperhatikan. Pertama, dalam sejarah panjang khazanah pemikiran Islam yang kaya tidak ada tempat sama sekali bagi Wahhabisme. Kelompok ini asing dengan logika. Hanya satu hal yang menjadi faktor keberuntungannya yaitu bahwa kelompok ini lahir di Jazirah Arab yang merupakan pusat geografis Dunia Islam. Kedua,  para pendukung ajaran Wahhabi, pada abad 20 memperoleh kekayaan besar lewat minyak. Sebagian kekayaan itu digunakan untuk menyebarkan ajaran Wahhabi di dunia Islam dan di luar dunia Islam. Jika tidak ada dua faktor tadi Wahhabisme sudah pasti sirna dan sejarah hanya menyebutnya sebagai satu aliran kecil yang tak punya pengaruh."

Dengan kekuasaannya atas Jazirah Arab dan kekayaan yang didapat dari hasil penjualan minyak, kaum Wahhabi mendirikan banyak lembaga dan organisasi untuk menyebarkan faham ini. Pemerintah Saudi pun menjadikan program wahabisasi di dunia Islam sebagai salah satu agendanya. Dalam kaitan ini, sejumlah rezim di kawasan mengekor kepada kebijakan Saudi dengan berbagai alasan, yang salah satunya adalah fanatisme Arab.  Sebagian berkiblat ke Saudi karena menganggapnya sebagai saudara yang lebih besar berkat kekayaan, luas wilayah geografis dan faktor kependudukan. Sebagian tunduk kepada Saudi karena bergantung kepada pendapatan minyak negara itu.  Seiring dengan itu, rezim Saudi menggandeng tangan negara-negara Barat terutama AS untuk membantunya memperluas pengaruh di kawasan khususnya terhadap negara-negara tetangganya yang lebih kecil.

Selain menebar pengaruh di sejumlah negara Arab, kaum Wahhabi juga menggunakan dana raksasa yang ada untukmenyebarkan faham Wahhabi dan melebarkan pengaruh di berbagai penjuru Dunia Islam. Misalnya, di Afghanistan dan Pakistan yang sejak beberapa dekade lalu dilanda dilema dan masalah kompleks, kaum Wahhabi menebar pengaruh. Mereka bahkan berhasil menempatkan bidak-bidaknya di dalam kubu politik yang kuat di kedua negara itu. Tak hanya itu, Wahhabi juga membentuk satuan-satuan teror untuk melakukan apa saja yang bisa mendukung program mereka. Banyak ulama Pakistan yang dulunya belajar di Arab Saudi kini membuka sekolah-sekolah untuk mengajarkan faham Wahhabi berkat bantuan dana yang besar dari pemerintah Riyadh. Mereka bahkan memiliki pengaruh yang kuat dalam pemerintahan Pakistan. Banyak pemuda yang mereka rekrut untuk mempelajari faham Wahahbi dan menjadi anggota kelompok-kelompok teror yang menebar permusuhan khususnya terhadap warga Syiah.

Di Afghanistan, orang-orang Wahhabi datang ke sana dengan memanggul senjata. Awalnya mereka mengangkat slogan membela warga Afghan dari tentara Soviet. Mereka melatih warga setempat dan bergabung dengan kelompok mujahidin. Di sela-sela itu mereka menyebarkan faham Wahhabi dengan berbagai cara. Di tengah pengungsi Afghan, mereka membagi-bagikan buku, majalah bahkan cd-cd yang memuat ajaran Wahhabi. Seiring dengan itu, mereka membentuk kelompok Taliban dengan menggunakan kucuran dana yang datang dari Arab Saudi. Para anggota Taliban dilatih militer dan siap terjun ke medan perang atau melakukan serangan teror. Dukungan dana dan militer untuk kelompok ini datang dari pemerintah Pakistan, AS, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Lewat Taliban, secara praktis Saudi terlibat penuh dalam pergulatan di Afghanistan. Antara tahun 1992-1994, Saudi mengucurkan dana bantuan lebih dari 4 miliar USD  untuk Taliban.

Di Mesir, Wahhabi aktif lewat lembaga-lembaga sosial dan amal. Namun keberadaan para ulama al-Azhar dan Ikhwanul Muslimin sedikit banyak bisa menekan aktivitas mereka. Di kawasan Asia kecil dan Kaukasus, mereka membentuk kelompok gerakan bernama Wahhabisme. Mereka aktif di negara-negara bekas Uni Soviet itu dengan mendirikan banyak masjid dan pusat keagamaan. Banyak yang meyakini bahwa gerakan Wahhabisme adalah kepanjangan tangan pemerintah Arab Saudi. Setiap tahunnya Saudi membagi-bagikan ratusan ribu naskah al-Quran yang dicetak dengan cetakan mewah untuk warga Asia tengah.

Para ulama dan pemuka masyarakat di Asia Kecil dan Kaukasus sering menyatakan kekhawatiran mereka akan aktivitas Wahhabi di kawasan ini. Sebab, dengan membesarnya pengaruh Wahhabi, konflik sektarian akan mewarnai negara-negara itu, mengingat faham ini mengedepankan permusuhan daripada kasih sayang dan perdamaian. Kondisi perekonomian negara-negara bekas Uni Soviet yang umumnya terpuruk membuka celah bagi Wahhabi untuk menyebarkan pengaruh di sana. Hal serupa juga terjadi di India.

Di kawasan Balkan yang terdera perang sejak sekade 1990, Arab Saudi berusaha keras menanamkan pengaruh di tengah umat Islam setempat. Apalagi, di sana, umumnya warga tidak terlalu peduli dengan masalah keagamaan. Saudi dan Wahhabi melakukan aktvitas yang luas di banyak negara lain seperti Maladewa, Sri Lanka, Kenya, Ethiopia, Uganda, Ghana, Nigeria, Mali, Senegal, Somalia dan negara-negara lainnya. Tujuan mereka adalah menyebarkan faham Wahhabi dan pengaruh Arab Saudi. Salah satu modus yang digunakan oleh kaum Wahhabi untuk menyebarkan faham mereka adalah dengan menyulut isu perselisihan di antara umat Islam. Dalih yang mereka gunakan adalah mengembalikan Islam kepada ajaran tauhid murni.

Selain kekuatan dana yang berlimpah, rezim Saudi menyebarkan kaki tangannya ke berbagai penjuru dunia untuk mengajarkan faham Wahhabi. Mereka memanfaatkan kemiskinan ekonomi dan budaya umat Islam untuk mempengaruhi mereka supaya menerima ajaran ini. Dalam banyak kasus, orang-orang Wahhabi memberikan sumbangan dana untuk menarik hati orang lain masuk ke dalam aliran sesat ini. Terkadang, mereka memberikan iming-iming belajar di sekolah-sekolah yang mereka dirikan. (IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Ajaran Wahabi Tidak Didukung Argumentasi Syariat dan Logika yang Kuat


Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, rezim Arab Saudi yang memiliki kekayaan berlimpah dari penjualan minyak mentah berusaha menyebarkan faham Wahabisme ke semua tempat. Kebijakan ini dijalankan dengan dana raksasa dan dukungan dari AS dan Barat. Para pendakwah atau yang diistilahkan dengan muballig Wahabi dikirim ke banyak negara dengan membawa pemahaman menyimpang ini. Pemerintah Arab Saudi mendirikan banyak sekolah untuk mencetak para mubaligh Wahabi.

Untuk menyebarkan faham ini, meski berpikiran kaku dalam agama, kaum Wahabi tidak ketinggalan zaman. Mereka menggunakan kemajuan teknologi seperti internet, televisi satelit dan pesan singkat telepon selular. Dengan berbekal dana raksasa, mereka sedikit banyak berhasil merekrut orang di berbagai belahandunia. Tapi semua itu hanya pemandangan luar. Sebab, banyak pakar dan pengamat agama, politik dan sosial yang meyakini bahwa Wahabisme sudah diambang kehancuran.

Di awal kelahirannya, kaum Wahabi yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan pembantaian massal terhadap umat Islam di berbagai negeri dengan alasan syirik dan bidah. Aksi kekerasan dan ekstrimisme memang sejak lama dikenal sebagai ciri khas kaum Salafi. Sekarangpun, ulama Wahabi tak seganmengeluarkan fatwa kafir bagi ulama-ulama Syiah dan Sunni sambil menyematkan serangkaian sebutan negatif seperti dungu dan musyrik kepada mereka. Nampaknya, kaum Wahabi terbiasa untuk tidak menghargai siapapun di luar kelompok mereka. Mereka cenderung tampil congkak menghadapi pemikiran yang tidak sejalan. Imam Ali as menyebut fanatisme buta sebagai sifat setan dengan mengatakan, "Iblis, musuh Allah adalah pemimpin bagi orang-orang yang fanatik buta dan dia adalah pemuka orang-orang yang congkak." (Nahjul Balaghah khotbah ke-192)

Orang-orang Wahabi yang tak mampu berargumentasi logis dalam membela pemikiran dan keyakinannya memilih untuk menghujani para ulama lain dengan berbagai tuduhan dan kata-kata yang melecehkan. Dengan kata lain, ajaran Wahabi yang dibuat oleh Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab sama sekali tak didukung dalil logis. Tak heran jika dalam perdebatan atau diskusi ilmiah dengan para ulama lain mereka terlihat sangat lemah dalam berargumentasi. Saat terjepit senjata yang mereka gunakan adalah melontarkan kata-kata hinaan dan kasar kepada lawan bicara. Dengan cara itu mereka berharap bisa menutupi kelemahan yang ada. Padahal, Islam adalah agama logika yang mendukung nalar dan memerintahkan untuk berpikir. Agama ini juga menyuruh para pengikutnya untuk bersikap santun dan menjaga persatuan di antara mereka, bukan menyulut pertikaian dan memperlakukan orang dengan kasar dan hinaan.

Fanatisme buta dan kebodohan yang selalu ada pada kelompok Wahabi membuat mereka menentang segala bentuk perkembangan yang baru dengan menyebutnya bidah yang haram. Dengan alasan bahwa kita mesti menyelaraskan gaya hidup dengan apa yang ada pada zaman Nabi Saw, mereka menolak segala bentuk kemajuan yang mewarnai peradaban manusia. Misalnya, mereka dulu menyebut sepeda dengan nama ‘kendaraan setan' dan melarang penggunaan telpon. Mereka bahkan pernah memutuskan jaringan kabel telpon yang menghubungkan istana Raja Saudi dengan markas militer.

Saat inipun, rezim Wahabi masih melarang perempuan mengemudi mobil. Di Saudi, dulu ada larangan menggunakan atau berjual beli kamera, khususnya di Mekah dan Madinah. Mulla Umar, pemimpin Taliban yang jugaberaliran Wahabi sampai saat ini menolak difoto karena dia mengharamkan foto. Beberapa tahun lalu, ketika mereka berkuasa di Afghanistan, dibuat aturan yang melarang kaum perempuan bersekolah. Memperingati milad Nabi Saw haram. Dan siapa saja yang melanggar ketentuan ini harus siap disebut kafir.

Yang menjadi pertanyaan, apakah menggunakan sarana teknologi dilarang dalam agama? Para ulama berbagai mazhab Islam memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan pandangan kaum Wahabi. Ulama Islam umumnya tidak melarang penggunaan sarana teknologi dengan benar. Mereka hanya melarang jika sarana itu digunakan untuk menyebarkan kebejatan dan menyebarkan kesesatan di tengah umat. Islam sangat mendukung kemajuan sains dan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan etika dan moral. Nabi Muhammad Saw bahkan mendorong umatnya untuk menimba ilmu bahkan menyuruh mereka belajar dari orang kafir sekalipun. Karena itu, tak jelas apa yang mendasari pendapat ulama Wahabi yang melarang penggunaan sarana  teknologi harus kemajuan manusia.

Tak dipungkiri bahwa berjalannya waktu telah melahirkan banyak perubahan dalam fatwa dan cara pandang kaum Wahabi. Mereka sedikit banyak menggeser fatwa dan pemikiran murni Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka cenderung untuk tidak mengeluarkan fatwa-fatwa yang membuat mereka ditertawakan oleh orang lain. Tak hanya dalam berfatwa, dalam bertindak pun mereka relatif berubah. Jika dulu, kaum Wahabi gemar melakukan penjarahan dan pembantaian, kini mereka relatif berlaku lunak. Cara-cara kasar diganti dengan metode gencar propaganda.

Kaum Salafi sudah sampai kepada bahwa propaganda dan informasi adalah sarana terbaik yang bisa mereka manfaatkan. Tak heran jika saat ini, rezim Saudi mengesankan diri sebagai rezim yang ramah lewat sarana media massa. Sarana inilah yang digunakan untuk menyebarkan faham Wahabi. Meski demikian, di balik wajah yang nampak ramah itu sebenarnya tersembunyi wajah garang yang tak bisa toleran dengan umat Islam. Buktinya, merekalah yang melakukan pembunuhan massal di berbagai negara seperti Irak, Afghanistan dan Pakistan lewat kelompok yang dinamakan Sepah Sahabah,Taliban, Alqaeda dan lainnya.

Salah satu faktor utama yang membuat para ulama Wahabi tidak mengeluarkan fatwa-fatwa menyimpang dan bodoh adalah tekanan yang mereka dapatkan dari rezim Arab Saudi. Sebab, fatwa-fatwa yang bertentangan dengan logika sehat hanya akan menyusahkan rezim. Dunia sudah tidak bisa menerima fatwa-fatwa bodoh yang berseberangan dengan kemajuan teknologi dan sains. Buktinya, di Arab Saudi dengan pemerintahannya yang Wahabi, telepon seluler, mobil, sepeda, kamera sudah tidak lagi masuk dalam kelompok benda-benda haram dan bidah seperti di masa lalu. Bahkan para ulama Wahabi dan pembesar keluarga Saud saat ini justeru menggunakan mobil-mobil mewah buatan Eropa dan Amerika. Meski sekilas perubahan ini menunjukkan adanya kelunakan dalam pemikiran Wahabi, namun sebenarnya justeru menjadi bukti terbaik akan kelemahan pemikiran dan ajaran ini.

Di era informasi ini, rezim Arab Saudi tak bisa lagi mencegah masuknya buku-buku yang membawa pemikiran selain Wahabisme ke negara itu. Rezim ini juga tak lagi bisa menghalangi sampainya informasi Islam yang benar ke telinga warganya. Apalagi, bagi generasi muda Arab Saudi, internet dan parabola merupakan sarana informasi yang tak bisa lepas dari kehidupan mereka. Berkat informasi yang ada, mereka tak bisa menerima penjelasan tak logis tentang Islam yang disampaikan oleh para ulama Wahabi. Perkembangan tersebut semakin menyulitkan para tokoh Wahabi dalam menyebarkan ajaran ini di negara-negara lain yang notabene menganut kebebasan dan keterbukaan yang lebih besar.

Tumpuan harap satu-satunya yang masih tersisa bagi para pemuka Wahabi untuk menyebarkan ajaran mereka adalah kekuatan uang yang terus mengalir dari penjualan minyak. Karena itu, tak salah jika dikatakan bahwa kelangsungan hidup ajaran Wahabi dan kekuasaan rezim Saud di jazirah Arab sangat bergantung kepada ketersediaan uang. Propaganda gencar yang menghabiskan dana yang sangat besar tak mampu menarik minat umat Islam kepada ajaran ini. Sebab, apa yang diajarkan oleh Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhab tidak didukung dengan argumentasi syariat dan logika yang kuat. Dengan kata lain, ajaran Wahabi lebih ringkih dibanding sarang laba-laba.(IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Penghancuran Situs Sejarah Oleh Wahhabi


Sebelum ini telah dibahas secara luas mengenai beberapa akidah Salafi dan Wahhabi yang dangkal dan menyimpang. Kedangkalan mereka dalam berpikir terkadang sangat berbenturan dengan tradisi yang dikenal oleh umumnya umat manusia. Salah satunya terkait dengan tindakan mereka menghancurkan situs-situs yang bernilai sejarah.

Di antara masalah yang dipandang sebagai bidah oleh kaum Salafi dan Wahhabi sehingga dirasa perlu untuk diperangi adalah pembuatan kubah dan masjid di makam para nabi, wali dan shalihin. Masalah ini pertama kali diangkat oleh Ibnu Taimiyyah lalu dilanjutkan oleh muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauzi. Mereka mengharamkan pendirian bangunan di atas makam dan jika ada yang sudah berdiri maka bangunan itu harus dihancurkan. Dalam kitab Zad al-Maad fi Huda Khair al-Ibad, Ibnu Qayyim menulis, "Penghancuran bangunan yang didirikan di atas kubur adalah keharusan yang tidak boleh ditunda meskipun hanya untuk satu hari."

Fatwa tadi diimplementasikan dalam bentuk tindakan oleh aksi orang-orang Wahhabi. Setiap kali menyerang tempat-tempat suci, pasukan Wahhabi selalu melakukan penghancuran situs-situs penting yang dihormati oleh umat Islam. Salah satu tindakan paling biadab yang mereka lakukan adalah penghancuran makam keluarga Nabi dan para sahabat di pemakaman Baqi' Madinah yang terjadi pada tahun 1344 hijriyah (1926 M). Padahal sampai detik ini, tak ada dalil logis dan syar'i yang bisa mereka perlihatkan untuk membenarkan tindakan mereka yang keji dan tidak manusiawi itu.

Memelihara simbol-simbol Islam atau yang lazim disebut dengan syiar-siar Islam adalah perintah Ilahi. Di surat al-Hajj ayat 32, Allah Swt menyeru kaum muslimin untuk menjaga syiar-syiar ini dan berfirman, "Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu muncul dari ketakwaan hati."

Jika Shafa, Marwah, Muzdalifah, Mina dan situs-situs haji lainnya disebut sebagai syiar dan tanda-tanda Ilahi, penghormatan kepada makam para nabi, wali dan shalihin juga merupakan pengamalan dari ajaran Islam demi mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, Nabi Saw, para nabi lainnya dan auliya adalah tanda dan syiar Ilahi yang terbesar. Salah satu cara menghormati dan mengagungkan syiar ini adalah dengan menjaga peninggalan dan makam mereka. Selain itu, penghormatan umat Islam kepada makam Nabi dan auliya menunjukkan kecintaan mereka kepada Islam. Membangun makam manusia-manusia agung dan ilahi adalah salah satucara mengungkapkan rasa cinta dan penghargaan kepada mereka yang berjasa menyebarkan ajaran Allah.

Al-Quran al-Karim memerintahkan umat Islam untuk membalas jasa Nabi Saw yang telah membimbing mereka ke jalan kebenaran dengan cara mencintai beliau dan keluarganya. Ayat 23 surat al-Syura menyebutkan, "Katakanlah aku tidak meminta balasan atas risalahku ini dari kalian kecuali kecintaan kepada keluarga dekatku…" Kini yang menjadi pertanyaan adalah bukankah salah satu cara untuk menunjukkan kecintaan ini adalah dengan memelihara peninggalan dan kenangan dari para kekasih Allah itu, termasuk dengan menjaga tempat jasad mereka dimakamkan?

Dalam masalah mendirikan bangunan di atas makam, tidak ada satupun ayat al-Quran yang melarangnya. Bahkan perbuatan ini secara tidak langsung disinggung dalam al-Quran tanpa ada kecaman atau larangan. Setelah menceritakan kisah Ashhabul Kahf yang tidur di dalam gua selama 309 tahun, Allah Swt menjelaskan adanya perselisihan pendapat di antara masyarakat. Sebagian mengusulkan untuk mendirikan bangunan tempat ibadah atau masjid di atas makam mereka demi menghormati dan mengagungkan manusia-manusia yang saleh ini. Masalah ini disinggung di surat al-Kahf ayat 21. Ketika menceritakan kisah tersebut, al-Quran tidak  menunjukkan penentangan, teguran dan kecaman atas keinginan masyarakat mendirikan bangunan dan masjid di atas makam Ashhabul Kahf.

Jika perbuatan itu haram dan dicela dalam agama, tentunya Allah akan menjelaskan pula di dalam firmanNya yang suci, sama seperti teguran dan peringatan yang Allah berikan terkait perbuatan tidak benar yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani. Misalnya di ayat 27 surat al-Hadid, Allah Swt berfirman,
"Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik."

Mendirikan sebuah bangunan dan kubah di atas makam orang saleh dan hamba Allah yang taat sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu kala, dan kaum Muslimin juga melakukannya sejak abad pertama Islam. Jika orang-orang Syiah mendirikan bangunan dan membuat kubah di atas pusara keluarga suci Nabi, orang-orang Sunni juga melakukan hal yang sama di makam para wali, syuhada dan ulama-ulama mereka. Makam itulah yang kemudian menjadi tujuan mereka untuk berziarah.

Di Najaf, Karbala, Samarra, Kazhimain dan Mashhad, kita menemukan bangunan-bangunan berkubah di atas makam para imam Ahlul Bait yang dibangun oleh orang-orang Syiah. Orang Sunni juga membangun makam Zainab dan Ra'sul Husein di Mesir, makam Abu Hanifah dan Syekh Abdul Qadir Jailani di Baghdad, makam Imam Bukhari di Samarkand dan makam-makam para tokoh dan shahilin lainnya. Semua bangunan itu menunjukkan kecenderungan umat Islam untuk melestarikan ajaran dan nilai-nilai agung agama Islam. Mereka juga memiliki keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berziarah ke makam para kekasih Allah dan bertawassul dengan mereka.

Lain halnya dengan kaum Salafi dan Wahhabi. Mereka lagi-lagi berjalan di arah yang berlawanan dengan kaum muslimin. Berbekal pemahaman agama yang dangkal dan pemikiran yang picik, mereka menghancurkan makam-makam yang diagungkan umat Islam dan melenyapkan situs-situs bernilai sejarah. Makam yang menjadi sasaran tindakan brutal mereka diantaranya adalah makam keluarga Nabi di Baqi' dan makam Sayyidusy Syuhada Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi di Uhud. Perlakuan kaum Wahhabi ini telah melukai perasaan seluruh umat Islam. Untuk membenarkan tindakan itu, Wahhabi membawakan sejumlah hadis yang sanadnya daif atau lemah. Mereka bahkan mengkafirkan siapa saja yang berziarah ke makam para pemimpin Islam dan membangun kubur mereka.

Umat Islam tidak hanya menjaga dan melestarikan kenangan Nabi dan para wali dengan menghormati makam mereka, tetapi juga dengan menjaga peninggalan mereka. Di dalam al-Quran, Allah memerintah kita untuk menjaga dan mengagungkan tempat-tempat yang di dalamnya zikir Allah dan tasbih diucapkan. Jadi, selain masjid, rumah para nabi dan wali juga harus dijaga dan dilestarikan, seperti rumah Nabi Muhammad Saw dan rumah tempat tinggal Imam Ali dan Fatimah as. Sebab disanalah, manusia-manusia suci itu melantunkan ayat-ayat Allah, zikir, munajat dan senandung doa, dan di sanalah tempat lalu lalangnya para malaikat Allah.

Situs-situs bersejarah Islam adalah bukti akan kebenaran risalah kenabian yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Jika bangunan-bangunan bersejarah itu dijaga dengan sebaik-baiknya, umat Islam bisa dengan bangga mengatakan kepada dunia, inilah rumah sederhana tempat Nabi dulu tinggal bersama keluarganya. Sayangnya, kaum Wahhabi tidak lagi menyisakan situs bersejarah itu dan tidak menghormatinya. Padahal, sebelum munculnya aliran Wahhabi, umat Islam berlomba-lomba menjaga dan melestarikan apa saja yang berhubungan dengan Nabi dan para auliya Ilahi. Selain menulis sejarah tentang Nabi, umat ini juga rajin mengumpulkan benda-benda pribadi milik Rasulullah Saw, seperti cincin, terompah, siwak, pedang, baju besi, bahkan sumur yang airnya pernah diminum oleh Nabi Saw. Sayangnya dari kesemua benda yang sangat bernilai itu, hanya sedikit yang masih tersisa.

Dalam hal menjaga peninggalan sejarah, tidak ada satupun kaum di dunia yang memiliki rapor lebih buruk dari kaum Wahhabi. Jika bangsa-bangsa lain di dunia berlomba-lomba mengumpulkan peninggalan bersejarah mereka dan memandangnya sebagai bagian yang tak terpisahkkan dari kebudayaan dan peradabaan mereka, kaum Wahhabi justeru berlomba-lomba melenyapkan warisan sejarah Islam. Padahal, menurut aturan internasional, penghancuran dan pelenyapan peninggalan bersejarah adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan meskipun dilakukan di masa perang. (IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Peralihan Pemikiran Isam Al-Imad dari Tokoh Wahabi Menjadi Syiah (Bagian Pertama)


Dulu saya berguru langsung kepada Bin Baz, Mufti Besar Arab Saudi. Tapi dalam hati aku selalu berpikir, mengapa kecintaan yang tulus kepada Imam Ali, Imam Husein dan semua imam lainnya tetap menggelora di hati sebagian orang dan tak pernah luntur meski sudah berlalu berabad-abad lamanya? Dari sisi lain aku menyaksikan betapa gencarnya majlis-majlis taklim di Arab Saudi mengkritik Imam Ali dan Imam Husein. Aku melihat juga bagaimana mereka mencari pembenaran atas apa yang dilakukan Yazid dan Muawiyah... Aku menyaksikan majlis-majlis yang dengan mudah mengkritik Imam Ali bahkan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas terhadap beliau. Tapi ketika menyaksikan keutamaan Imam Ali –bahkan yang dinukil dalam kitab-kitab mereka sendiri- mereka nampak tidak bisa menerimanya... Melihat itu aku mencela diri sendiri dan aku memaksa diri ini untuk banyak membaca sejarah Ahlul Bait as... Setelah banyak membaca akhirnya aku berkesimpulan bahwa semua yang dilakukan Imam Ali didasari oleh akal dan logika, sementara apa yang dikatakan oleh orang-orang Wahabi tak lebih dari pembenaran buruk tanpa landasan logika."

Pernyataan tadi adalah kata-kata Dr Isam al-Imad yang sebelum ini duduk sebagai mufti Wahabi di Yaman dan tergolong salah satu guru besar Wahabi di kampus-kampus pendidikan tinggi agama di Arab Saudi. Dia dipercaya menjadi Imam Jumat Wahabi di ibukota Yaman, Sanaa. Setelah melakukan studi dan telaah yang cukup luas, Dr Isam akhirnya mengakui ketidakbenaran ajaran Wahabi dan memilih Syiah sebagai mazhabnya yang baru.

Isam Ali Yahya al-Imad, lahir di desa al-Imad, di selatan Yaman. Sejak usia enam tahun dia sudah mulai mempelajari ilmu agama di lembaga pendidikan Wahabi. Pendidikan tinggi ia dapatkan di salah satu perguruan tinggi agama di Arab Saudi dengan mengambil jurusan ilmu Hadis dan al-Quran. Dia tergolong pemuda yang cerdas sehingga berkesempatan berguru kepada para ulama besar Wahabi. Guru utamanya adalah Abdul Aziz bin Baz, Mufti Besar Wahabi di Arab Saudi. Isam belajar tentang akidah kepada Mufti ini. Semua buku akidah yang ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri faham Wahabi, rampung dibaca dan dipelajarinya seperti kitab ‘Tauhid', ‘Kasyf al-Syubuhat fi al-Tauhid', dan ‘Sirah Nabawiyah'. Di kemudian hari, dia mengajarkan kitab-kitab itu di perguruan tinggi Arab Saudi. Di bawah pengaruh ajaran Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Abdul Wahhab, Isam al-Imad juga menentang ajaran Syiah. Dia sempat menulis buku yang menolak Syiah.

Namun dalam perjalanan hidupnya terjadi perubahan jiwa dan pemikiran yang menarik setelah dia mengenal tulisan-tulisan Sayyid Qutub. Sayyid Qutub adalah salah seorang ulama Sunni di Mesir yang amat mengagumi dan mencintai Imam Ali as dan Imam Husein as. Dialah yang menulis kitab ‘Kutub wa Syakhshiyyat' yang dengan panjang lebar menjawab segala tuduhan Ibnu Taimiyyah yang dialamatkan kepada Imam Ali as. Mengenai hal ini, Isam al-Imad mengatakan, "Karena spesialiasiku di bidang ilmu hadis, aku melihat bahwa dari sisi sanad argumentasi Sayyid Qutub sangat benar. Sebelumnya aku tidak tertarik dengan Imam Ali karena aku mengenalnya lewat buku-buku Ibnu Taimiyyah. Tapi setelah membaca buku-buku Sayyid Qutub dan buku Ibnu Aqil al-Sayfi'i, mufti Syafii di Yaman, aku menemukan kecintaan yang mendalam di hati kepada Imam Ali as."

Dr al-Imad melanjutkan, "Kata-kata Syahid Sayyid Qutub benar-benar melahirkan perubahan pemikiran bukan hanya pada diriku tapi juga mengguncang seluruh Arab Saudi... Karena itu, banyak buku yang ditulis di Arab Saudi untuk menyerang Sayyid Qutub."

Dr Isam al-Imad datang ke Iran pada tahun 1989 untuk belajar di pusat pendidikan agama hauzah ilmiah di kota Qom. Dia ingin mengenal ajaran Ahlul Bait secara mendalam. Mengenai pengalamannya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar Syiah, dia menceritakan, "Aku menemukan jawaban atas semua pertanyaanku di buku-buku karya Syeikh Mufid yang ditulis lebih dari seribu tahun lalu. Semua jawaban itu bukan berasal darinya tapi dari kitab suci al-Quran, Sunnah Nabi dan hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Artinya, semua jawaban Syeikh Mufid adalah jawaban dari Ahlul Bait as."

Setelah menerima Syiah sebagai madhabnya Isam al-Imad menulis sejumlah buku yang mengungkap kesesatan ajaran Wahabi. Buku-bukunya sangat menarik dengan penjelasan yang memukau. Salah satu karya al-Imad adalah al-Zilzal yang memuat perdebatannya dengan Syeikh Utsman Khamis, salah seorang ulama Wahabi terkemuka. Sejumlah diskusi dan debat Dr Isam al-Imad sering ditayangkan secara langsung oleh televisi al-Kauthar, al-Alam dan Ahl Bait. Bahkan sebagiannya terbit dalam bentuk buku. 

Isam al-Imad yang juga melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral menyatakan bahwa saat ini banyak ulama di kalangan Wahabi yang menulis artikel dan buku yang mengkritisi ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab. Dia menuturkan, "Pendiri ajaran Wahabi tak banyak menguasai ilmu-ilmu Islam seperti mantiq, ushul dan tata bahasa Arab.. Aku yakin bahwa Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab punya dua masalah besar. Pertama, ilmu yang minim.. Kedua dan yang lebih penting adalah masalah pemikirannya. Dia tak punya aturan yang jelas untuk mengkafirkan seseorang. Akibatnya banyak sekali orang, baik Syiah maupu Sunni, yang ia vonis kafir... Dia dengan mudah memvonis kafir dan membunuh banyak ulama Muslim."

Isam al-Imad menyoal tentang pandangan kaum Wahabi yang menyebut ziarah kubur orang-orang saleh sebagai perbuatan syirik. Dia mengatakan, "Orang-orang mencurahkan pikiran hanya untuk membicarakan soal kubur. Mereka selalu siap untuk menyerang kubur. Padahal sudah sejak lama mereka menghancurkan kuburan-kuburan yang ada di Arab Saudi dan sudah tidak ada lagi kuburan di sana... Aku ingat sewaktu masih menjadi pengikut Wahabi aku selalu lari ketika melewati kuburan. Jika orang-orang Lebanon dan Palestina melakukan serangan mati syahid melawan Israel, kamipun melakukan hal yang sama dengan sasaran kuburan. Artinya, tauhid kaum Wahabi tak lebih dari tauhid kuburan."

Dr Isam menambahkan, "Coba lihat buku tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab tentang Ketuhanan. Pembahasan pertama adalah masalah kubur, ziarah kubur, tawassul dengan kubur dan yang semisalnya.. Tidak ada pembahasan tentang Tuhan. Jika sudah demikian, orang akan mudah menjalin hubungan dengan Amerika. Sebab, masalah agama sudah tidak penting baginya. Pembahasan tentang Allah tidak lagi penting. AS dan Israel bukan lagi ancaman. Ketidakberagamaan juga bukan hal penting. Bahaya paling besar adalah kuburan. Bahaya itu hanya bisa sirna jika kuburan sudah dihancurkan. Jika itu terlaksana, semua perbuatan diperbolehkan. Ini jelas bukan tauhid Islami, tapi tauhid versi Amerika."

Dr Isam mempersoalkan sikap para ulama Wahabi seperti Syeikh al-Madkhali yang sudah menulis sekitar 100 buku berisi kecaman dan laknat terhadap para ulama seperti Sayyid Qutub, Sheikh Muhammad Ghazali, Ayatollah Khui, Sheikh Muhammad Abduh dan lainnya tapi tak pernah sekalipun menulis tentang Marxisme, Budhisme, Bahaisme, dan pemikiran Amerika dan Israel. Isam mengaku tak heran dengan hal itu. Sebab, pemerintah Arab Saudi memang punya kebijakan yang menjamin kepentingan AS dan Zionisme. Fatwa-fatwa yang mengkafirkan umat Islam dibuat demi kebijakan itu. Aksi teror yang dilakukan kaum Salafi Wahabi dengan mengatasnamakan perjuangan Islam justeru menjadikan muslimin sebagai target.

Dr Isam al-Imad menulis buku yang mengkritik faham Wahabi dari dalam. Buku itu menyoal ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab. Buku yang ditulis seorang mantan ulama Wahabi tentu akan membuka hati dan menerangi jiwa ribuan orang Wahabi lainnya. Orang-orang Wahabi mengakui bahwa buku yang ditulis oleh Isam al-Imad dan orang-orang sepertinya punya pengaruh yang besar pada diri pengikut ajaran Wahabi. (IRIB Indonesia)

Menyingkap Hakikat Wahabisme; Peralihan Pemikiran Isam Al-Imad dari Tokoh Wahabi Menjadi Syiah (Bagian Kedua, Habis)


Pada pertemuan sebelumnya kita telah sempat mengenal sebagian pemikiran dari Doktor Isam al-Imad. Ia sebelumnya merupakan mufti besar Wahabi dan setelah melakukan penelitian yang luas akhirnya ia mengubah mazhabnya menjadi Syiah. Al-Imad memiliki spesialisasi di bidang ilmu hadis, rijal, sejarah Islam, mazhab-mazhab Islam dan juga pakar di bidang gerakan-gerakan Islam modern. Ia menilai abad 21 sebagai abad tenggelamnya pemikiran sesat Wahabi. Ia mengatakan, "Poin penting yang harus kita jelaskan adalah saat ini periode Wahabi telah usai dan bahkan sebagian tokoh Wahabi sendiri telah mengakui bahwa abad ini merupakan abad terakhir Wahabi."

Dr. Isam al-Imad melihat masalah utama dan bahaya yang ditimbulkan oleh pemikiran Wahabi adalah aksi kekerasan dan teror. Ia mengatakan, "Menurut saya, bahaya mereka tidak berasal dari konsep pemikiran, tapi akibat fatwa ulama mereka tentang kafirnya Syiah dan darah mereka halal. Mereka meneror para pengikut Syiah dan umat Islam lainnya di seluruh dunia. Sekarang, bila ada muncul seorang pembunuh di sini, maka kita semua merasa bahaya dan kemudian lari dari sini. Karena seorang pembunuh menciptakan kekacauan di tengah masyarakat. Pada dasarnya bahaya mereka kembali pada aksi kekerasan mereka." Sekalipun demikian, Isam al-Imad berpendapat, kita jangan melihat Wahabi sebagai seorang musuh, tapi menganggap mereka sebagai orang yang sakit dan membutuhkan pengobatan.

Ia mengatakan, "Mayoritas Wahabi sesat akibat kebodohan dan kesesatannya tidak muncul dari sikap keras kepala dan permusuhan. Ketika mereka rela mengorbankan dirinya untuk mati, demi merusak kuburan atau meledakkan dirinya, sudah pasti mereka punya dalil. Tapi mereka salah membaca al-Quran dan akibatnya, argumentasinya juga salah. Ini masalah utama mereka. Ketika seluruh lingkungan keluarga, masyarakat dan media mereka dipengaruhi ajaran Wahabi, maka tanpa disadari mereka juga menjadi pengikut ajaran ini. Dan perlahan-lahan mereka mulai mencarikan pembenaran atas keyakinannya lalu berusaha menafsirkan al-Quran sesuai dengan akidahnya yang salah. Artinya, Wahabi pada awalnya membentuk akidahnya lalu menafsirkan al-Quran dengan akidahnya. Setiap ayat yang tidak sesuai dengan keyakinannya, maka mereka akan menafsirkannya, sehingga sesuai dengan akidahnya.

Satu lagi masalah pemikiran Wahabi dalam pandangan Doktor Isam al-Imad adalah pemahaman salah mereka tentang Syiah. Para pengikut Wahabi menilai Syiah itu sama dengan pengikut Ghuluw yang menuhankan Ali. Padahal, Syiah menilai Imam Ali as sebagai hamba Allah dan pengganti Rasulullah Saw. Tapi di sekolah, universitas dan buku-buku Wahabi kebohongan besar ini dipropagandakan secara luas bahwa Syiah itu adalah Ghuluw. Para pengikut Wahabi berusaha menyebarkan kebohongan ini guna merusak citra Syiah dan tujuan utama mereka adalah mencegah penyebaran Syiah dengan cara pembunuhan karakter. Di sini, Isam al-Imad menegaskan bahwa kebanyakan buku yang menentang pemikiran Ghuluw ini ditulis oleh ulama Syiah.

Doktor Isam al-Imad menyebut abad lalu merupakan kejayaan Wahabi. Karena abad ke-20 abad penyebaran materialisme, keluarnya pertolongan gaib dari kehidupan manusia, penafian kehidupan metafisika dan pengingkaran kekuatan gaib dalam kehidupan manusia. Pemikiran Wahabi juga bersandar pada pemikiran materialisme. Wahabi mengingkari urusan spiritual, hal-hal supranatural seperti tawasul, istighatsah, ziarah, kehidupan alam barzakh dan lain-lain. Ia menilai pemikiran Wahabi sangat dekat dengan pemikiran komunis.

Ia mengatakan, "Seorang teman saya pada awalnya punya pemikiran komunis. Setelah itu ia pindah keyakinan menjadi Wahabi dan kemudian berubah Syiah. Saya bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau berpindah keyakinan dari seorang komunis menjadi Wahabi?' Ia menjawab, ‘Wahabi dan Komunisme punya banyak kesamaan. Karena Tuhan dari pengikut Wahabi merupakan Tuhan yang memiliki jasmani dan tidak ada hal gaib tentang Tuhan. Banyak hal yang ada pada Wahabi merupakan hal-hal non gaib. Tentu saja ini sangat dekat dengan Komunisme."

Dengan demikian, perluasan pemikiran Wahabi di abad lalu kembali pada semakin jauhnya manusia dari Allah Swt. Bukan dikarenakan Wahabi memiliki argumentasi rasional yang kuat. Tapi jangan lupa juga bahwa dana luar biasa Arab Saudi juga berperan sangat penting dalam penyebaran pemikiran salah ini. Tapi sekarang, manusia yang hidup di abad 21 mulai kembali kepada Allah Swt. Pada saat yang sama, pemikiran Wahabi juga mulai ditinggalkan orang dan perlahan-lahan mengalami kemunduran.

Doktor Isam al-Imad sejak kecil hidup bersama orang-orang Wahabi dan perlahan-lahan dengan kejeniusannya, tampil menjadi ulama dan tokoh Wahabi. Oleh karenanya, ia sangat mengenal akidah dan kesesatan Wahabi. Saat ini ia berkeyakinan bahwa Wahabi sedang mengalami kemunduran. Sementara semakin meningkatnya aksi teror Wahabi terhadap pengikut Syiah di Irak dan di negara-negara lain karena mereka mulai merasakan dirinya semakin lemah. Sekaitan dengan hal ini ia mengatakan, "Manusia ketika menghadapi saat-saat terakhir hidupnya akan mengambil nafas panjang. Ini bukan bukti bahwa ia akan kembali untuk hidup lebih lanjut. Aktifitas para teroris Wahabi juga demikian, mereka sedang mengambil nafas panjang sebelum kepunahannya."

Isam al-Imad melihat saat saat ini sebagai periode sangat cemerlang. Ia mengatakan, "Sejatinya, saat ini mulai bermunculan kelompok ulama rasional dan pencari kebenaran di pusat-pusat pendidikan Wahabi yang lebih moderat dan bisa berinteraksi dengan pemikiran lain." Pada dasarnya saat ini merupakan periode pemikiran bebas dan ingin tahu. Ia meyakini bahwa perubahan dalam ciri khas periode modern saat ini telah menciptakan perubahan di dalam internal Wahabi dan ini hal yang wajar. Para mahasiswa dan pemuda yang baru memeluk keyakinan Wahabi tidak dapat disamakan dengan mahasiswa Wahabi dahulu dan pemikiran serta pertanyaan yang diajukan oleh mereka juga berbeda jauh. Dalam Wahabi telah muncul kelompok-kelompok baru yang tidak ditemukan di masa kemunculan Wahabi. Mengenal mereka sangat penting dan bermanfaat. Ia sendiri menulis artikel dengan judul "Kelompok-Kelompok Baru Wahabi".

Kini semakin banyak ulama kritis dengan segala keberanian mengritik pemikiran kering dan kaku Wahabi. Seorang dari mereka bernama Abbas Mahmoud Aqqad yang selama hidupnya telah menulis lebih dari 300 buku. Beliau menulis buku berjudul Imam Ali as dan berhasil memunculkan gebrakan baru di dunia Ahli Sunnah. Buku ini memiliki pendahuluan yang kini telah dihapus dari buku aslinya. Ia menulis, "Saya hidup di tengah masyarakat yang senantiasa mengecam Imam Ali as. Ketika ada perbedaan antara Imam Ali as dengan Aisyah, maka Imam Ali as yang dikecam. Ketika ada perselisihan dengan Umar, Imam Ali as juga yang dikecam, begitu juga dengan setiap perselisihan dengan sahabat Nabi Saw, sudah pasti Imam Ali as yang dikecam. Saya bahkan tidak pernah melihat kita menilai Imam Ali as yang benar. Tapi di abad kebebasan ini, kita harus membaca kembali sejarah Imam Ali as dan menjelaskan hakikatnya..."

Beberapa waktu setelah penerbitannya, buku ini dilarang cetak. Tapi ada seorang bernama Abdurrahman Syarqawi, penulis dan pemikir Mesir menulis buku lain dengan judul "Ali Imam al-Muttaqin" yang isinya membela Imam Ali as. Penerbitan buku ini kembali menciptakan gebrakan baru di dunia Ahli Sunnah. Tapi nasib buku ini sama dengan buku tulisan Abbas Mahmoud Aqqad, yaitu dilarang terbit dan penulisnya dijebloskan ke dalam penjara. Banyak ulama yang mengumumkan pengharaman membaca buku ini. Setelah terbitnya buku ini, ada buku lain yang ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid dengan judul "Keturunan Rasulullah di Tanah Karbala". Buku ini juga bernasib sama dengan sebelumnya dilarang terbit dan diharamkan membacanya.

Doktor Isam al-Imad menilai penerbitan buku-buku seperti ini sangat berdampak positif di Arab Saudi. Lewat buku-buku ini banyak orang yang akhirnya mengenal kepribadian Imam Ali as yang memaksa mereka harus membelanya. Sementara rezim Al Saud yang mulai ketakutan akan kemundurannya berusaha keras mencegah kehancuran Wahabi lewat kekayaan yang dimilikinya. Mereka rela mengeluarkan dana besar-besaran untuk melanjutkan kehidupan pemikiran Wahabi yang menjadi penopang akidah rezimnya.

Sekaitan dengan hal ini, Isam al-Imad mengatakan, "Pasca ditemukannya minyak di Arab Saudi, banyak buku yang ditulis untuk membela Muhammad bin Abdul Wahhab. Rezim Al Saud membayar ratusan ribu dolar bagi penulis yang menulis tentangnya, bahkan sebagian dari para penulis ini dijadikan duta besar di negara lain atau memperkenalkannya sebagai seorang pemikir dunia Islam." Pada akhirnya, Isam al-Imad mengingatkan ucapan terakhir Rasulullah Saw dan hidayah terbaik adalah dengan mengamalkan bimbingannya. Ketika di Haji Wada' kepada seluruh umat Islam beliau berkata, "Saya meninggalkan dua pusaka di tengah-tengah kalian; Kitab Allah dan Itrah, keluargaku. Selama kalian berpegangan dengan keduanya, maka kalian tidak akan pernah tersesat dan keduanya tidak akan pernah terpisah." (IRIB Indonesia)

Tren Meninggalkan Agama


Cara pertama ini akan mengantarkan pada skeptisisme pada semua agama, karena banyak perilaku penganut agama tidak mencerminkan konsep agama yang di klaim.  Lahan  metode pertama dipakai oleh kaum orientalis, menjadikan Timur dan Islam sebagai objek kajian, menelaah agama sebagai fenomena sejarah (premis-premis minor). Kaum orientalis ini dibawah bayang paham positifisme dan empirisme
Ketegangan agama dan filsafat di Barat, dalam kontek sejarah filsafat Barat bisa ditemukan dari pernyataan para tokoh seperti Newton; Tuhan Yahudi dan Kristen problem karena ditolak sains. Hegel menganggap Tuhan Yahudi sebagai tiran dan Tuhan Kristen barbar dan lalim. Oleh karenanya menurut Nitche, Tuhan telah mati mirip dengan Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Sigmund Freud, jikapun Tuhan belum mati,  manusia rasional harus membunuh-Nya..
Para filsuf Barat ini menganggap mitos dan simbol adalah unsur pembentuk agama, sumber masalah bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Pengalaman kelam agama di Barat bisa di lacak pada abad pertengahan, bagaimana Paus Innocent III pada tahun 1215 M memerintahkan seluruh oparatur negara untuk mengekusi para ateis.
Pengalaman ketegangan agama dan filsafat di barat ini membayang  tajam dalam trauma di Barat sehingga agama terpisah dari politik. Agama menjadi trauma yang menakutkan. Sementara dalam dunia Islam, agama dan filsaf mempunyai hubungan buruk ketika para ahli fiqih berkuasa sehingga banyak para filsuf Muslim banyak menjadi korban.
Trauma terhadap agama dalam Islam ini hingga sekarang  terjadi tidak hanya membayang di dunia Barat tetapi di dunia Islam. Agama seolah menjadi wacana yang wajib di pisahkan dari politik. Agama diperlakukan seperti mencicipi buah jeruk, rasa manis dan asam, sehingga memeluk agama atau beragama semata urusan pengalaman privat. Inilah cita-cita sekulerisme dan liberalisme, memojokan agama menjadi urusan rasa. Hal ini menjadi semakin kokoh, manakala umat Islam jika mencoba bernostalgia dengan politik atau bercita-cita bernegara maka teror fakta-fakta segera bermunculan, bom bunuh diri, al-Qaida, dan sekarang yang lagi di promosikan terorisme al-Nusra di Suriah dan Irak.
Setidaknya menurut DR. Muhsin Labib, pakar metafisika Islam - Indonesia, dalam diskusi jurnal Kanz Philosohia, 26/4 di ICAS Paramadina-Jakarta Selatan, ada tiga metode cara meyakini agama. Fenomena pertama, memahami agama dengan jalan induksi, memandangan agama dari fakta-fakta sejarah; proses kemunculan, tata cara ibadah, sekte-sekte, perilaku pemeluknya, juga konflik di dalamnnya, dari fakta partikular kemudian merajutnya dan mengambil kesimpulan baru kemudian menentukan pilihan.
Cara pertama ini akan mengantarkan pada skeptisisme pada semua agama, karena banyak perilaku penganut agama tidak mencerminkan konsep agama yang di klaim.  Lahan  metode pertama dipakai oleh kaum orientalis, menjadikan Timur dan Islam sebagai objek kajian, menelaah agama sebagai fenomena sejarah (premis-premis minor). Kaum orientalis ini dibawah bayang paham positifisme dan empirisme.
Produk dari cara ini menghasilkan pola pertanyaan, apakah agama berfungsi untuk menertibkan masyarakat yang kacau menjadi tertib atau menjadikan agama menjadi aturan bagi masyarakat yang sudah tertib? Fakta masyarakat yang tidak beragama cenderung tidak percaya lebih tertib, sedang masyarakat yang menginginkan agama menjadi sistem masyarakat terbukti tidak tertib. Inilah alasan mengapa masyarakat lari dari agama.
Metode kedua, dengan cara deduksi, menghimpun seluruh prinsip umum (premis-premis mayor) lalu menyusun secara sistematis dan serba runut. Proses ini biasanya mencari prinsip paling awal dari tonggak agama,  membuktikan ketuhanan.  Pembuktian ini dengan dua modus, burhan al-limmi(argumen kausal-sebab ke akibat) dan burhan-al-linni- (akibat ke sebab).
Metode ketiga dengan dialog agama, atau menggalakan kegiatan pluralisme agama, memahami hubungan yang terjalin antar agama. Metode ini menganggap bahwa setiap agama mempunyai  efek transformatif, prinsip pemusatan diri akan berganti menjadi prinsip pemusatan realitas (Tuhan).  Metode ini banyak dipakai oleh kaum percaya dengan dialog antar iman.
Jalan buntu akan terjadi menurut Dr. Muhsin, jika agama dipahami sebagai das sein, apa yang terjadi secara konkrit dalam lembar sejarah. Akan tetapi jika dipahami sebagai das sollen, agama sebagai mana mestinya, maka ditemukan banyak alasan rasional untuk tetap menganut agama dengan semestinya. Pandangan yang semestinya ini adalah memahami agama melalui teologi perubahan yang rasionalis, beragama tanpa mengamputasi akal. Belajar agama tanpa membuang filsafat, belajar filsafat tanpa membuang agama. Harus bersusah payah membuka kembali lembaran-lembaran informasi Nabi melalui Ali Bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, Malik bin Nuwairoh at-Tamimi, Abu Dzar, Malik Atsyar dan para sahabat lain yang lenyap nama dan datanya karena terlajut di X-file-kan (dihilangkan). Jalan ini akan mendapatkan pemahaman utuh, dan mampu memisahkan mana teologi fatalis bahwa semua adalah keputusan Tuhan yang bila ditanyakan bisa dianggap kufur, dan mana teologi yang membebaskan, dimana Tuhan yang maha suci dan tak terbatas telah meciptakan sistem alam dengan segala dimensi dan mekanismenya. (IRIB Indonesia / Muhammad Ma'ruf)













0 comments to "Mengapa "AKU" KELUAR dari faham WAHABI...???!!!???"

Leave a comment