BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bukan hanya travel agent penjualan tiket pesawat maupun maskapai penerbangan saja yang panen. Produsen kain khas Kalsel sasirangan juga mengaku kebanjiran pembeli.
Pasalnya, banyak pembeli yang berasal dari luar daerah yang berkunjung ke Banjarmasin dan langsung mencari oleh-oleh khas Banjarmasin. Ternyata kain sasirangan menjadi pilihan utama untuk buah tangan.
"Sejak beberapa hari ini, semakin banyak yang datang berlibur dari luar daerah termasuk dari luar pulau sehingga penjualan kain sasirangan ikut meningkat," kata Hj Eva salah satu produsen kain sasirangan Kayuh Baimbai via ponselnya, Minggu (4/7/2010).
Perharinya, dia mengaku ada puluhan potong kain sasirangan yang terjual dengan harga termurah Rp 50 ribu dan yang termahal Rp 2 juta perpotongnya.
"Sebelum liburan kemarin memang sempat sepi, alhamdulillah bisa tertutupi di saat liburan ini karena terjadi peningkatan penjualan hingga sepuluh persen," kata Hj Eva.
Tyson sang petinju dunia itupun menangis ....
BANJARMASINPOST.CO.ID, MADINAH - Walau pukulan Mike Tyson sering menjungkalkan petinju hebat, tapi hatinya luluh ketika bersimpuh di Masjid Nabawi di Madinah. Si leher beton ini pun tak mampu menahan air matanya bercucuran saat masuk ke dalam Masjid Nabi.
Mike Tyson pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Nabawi Madinah semenjak masuk Islam, kemarin saat ia menjalani umrah, 4 Juli 2010. Ia mengaku mendapat pengalaman spiritual mendalam.
Entah sedang merenungi apa, mantan petinju kelas berat sejati ini tak mampu menahan tangis saat masuk ke dalam masjid yang dibangun di zaman Nabi Muhammad SAW ini.
Dia mengatakan senang punya fans yang mencintainya di Arab Saudi. Tapi, Ia berharap mereka memberi waktu agar bisa sendiri untuk menikmati momen spiritual di Tanah Suci.
"Saya tidak kuasa menahan air mata ketika mengetahui berada di salah satu taman surga," ujarnya ketika mengunjungi Masjid Nabawi seperti dikutip arabnews.com.
Mantan narapidana pemerkosa ratu kecantikan ini melakukan umrah di Mekah, Ahad 4 Juli 2010. Tyson hadir di Arab Saudi untuk kali pertama pada Jumat 2 Juli 2010. Tyson kelahiran 1966 ini pun memanfaatkan waktu untuk melakukan perjalanan dan ziarah tempat tempat penting di Arab Saudi, dan tak lupa melaksanakan shalat di Masjid Nabawi.
Senin (5/7) kemarin Tyson tinggal di hotel dekat Masjid Nabawi dan mendapat sambutan luar biasa dari fans. Dia mendapat pengawalan ketat saat melakukan shalat Zhuhur. Ia tak henti hentinya menceritakan pengalaman spiritual luar biasa dalam perjalanan ke Tanah Suci ini.
Tyson memeluk Islam ketika masih dalam penjara pertengahan 1990 kemudian berguru kepada ustad dalam penjara Indiana tersebut. Saat ini Tyson memiliki nama Islam yaitu Malik Abdul Aziz. Ia pun bergegas mengenakan pakaian ihram untuk melakukan umrah di Mekah.
Ulama Syiah Wafat, Al-Azhar Mesir Berduka, namun Televisi BBC London menggiring opini bahwa Allamah Fadlullah bertolak belakang dengan Iran
Tehran (IRIB News)-Hanya beberapa jam setelah Ayatullah Sayid Muhammad Hussein Fadlullah meninggal, televisi BBC berusaha mati-matian untuk meyakinkan publik bahwa ada friksi antara Allamah Fadlullah dengan Iran. BBC berusaha mengesankan adanya perselisihan ini di benak umat Islam, padahal dukungan terus-menerus Allamah Fadlullah atas Iran dan muqawama menjadi teori politik-agama paling penting bagi Syiah Lebanon.
BBC memuat laporan hari Ahad (04/7) dari wartawannya di Beirut dan menulis, Sayid Muhammad Hussein Fadlullah membantah hubungannya dengan Hizbullah. Namun berkat kehadiran sejumlah murid-muridnya di tingkat atas dan menengah gerakan muqawama Lebanon ini, ada wacana yang menyebutkan hubungannya dengan Hizbullah.
Pernyataan BBC ini tanpa memperhatikan betapa situs marji syiah Lebanon dalam masalah hubungan beliau dengan Hizbullah menurunkan tulisan dengan judul "Peran Ayatullah Fadlullah dalam Pembentukan Muqawama".
Sekaitan dengan masalah disebutkan bahwa posisi dan peran kepemimpinan Fadlullah di Hizbullah menyebabkan beliau pernah sekali diculik dan empat kali diteror. Ditambahkan, keberadaan sejumlah murid Fadlullah di tingkat atas dan kepemimpinan Hizbullah lebih dikenal dengan sebutan Rijal Fadlullah (tokoh-tokoh Fadlullah).
Di sisi lain, Sayid Hasan Nasrullah, Sekjen Hizbullah beberapa saat setelah pengumuman meninggalnya Ayatullah Sayid Muhammad Hussein Fadlullah menyebut beliau sebagai "Ayah Muqawama".
Sayid Hasan Nasrullah kemudian menyebutkan kenangannya ketika masih kecil ikut shalat di belakang Ayatullah Hussein Fadlullah. Dikatakannya, "Kami banyak belajar dari pidato-pidato beliau. Kami banyak mendapat petunjuk dari ucapannya. Buat kami perilaku dan akhlak beliau merupakan tauladan. Allamah Fadlullah adalah penuntun yang bijak, tempat pelarian yang kokoh dan pendukung yang kuat dalam perjuangan dan jihad."
Fatwa Allamah Fadlullah
Di bagian lain dari laporan BBC, Allamah Fadlullah di tahun-tahun terakhir diperkenalkan sebagai ulama moderat terkait masalah sosial, khususnya wanita.
Ungkapan itu merupakan upaya BBC menggiring opini bahwa Allamah Fadlullah memiliki sejumlah fatwa khusus, tanpa menyebutkan secara transparan apa saja fatwa beliau terkait masalah ini. Karena semua tahu betapa perbedaan pandangan ijtihad bagi seorang marji merupakan hal yang wajar dalam wacana fiqih Syiah.
Di tingkat hauzah hal ini sendiri merupakan hal yang jamak terjadi. Belum lagi ada sejumlah fatwa yang dinisbatkan kepada beliau yang dikemudian hari dibantah oleh beliau sendiri atau kantornya dan sebagian lainnya mengalami perubahan.
Hubungan dengan Iran
Namun yang paling menggelikan dari laporan BBC berbahasa Persia yang menyebutkan, Sayid Hussein Fadlullah memiliki hubungan dengan para pemimpin Iran. Tapi hubungan ini setidak-tidaknya dalam beberapa tahun terakhir tidak terlalu hangat. Ayatullah Hussein Fadlullah sebagai ulama Syiah terbesar Lebanon berkali-kali mengeluarkan pernyataan yang mengkritik Iran dan Hizbullah!
Pernyataan provokatif BBC ini disampaikan tanpa memperhatikan kandungan 18 kali khutbah Jumat yang disampaikan sebelum Allamah Fadlullah berpulang ke rahmat Allah di Masjid Hasanain. Masalah dukungan beliau terhadap Iran dan masalah nuklir Iran menjadi tema sentral isi khutbahnya. Di samping itu, tidak ada satu delegasi Iran yang melawat Lebanon tanpa disambut hangat oleh beliau.
Dalam pertemuannya dengan Duta Besar baru Iran untuk Lebanon, Ayatullah Sayid Hussein Fadlullah meminta masyarakat Iran agar berpegang teguh dengan kepemimpinan Islam dan melanjutkan cara dialog dalam menghadapi pihak-pihak lain dengan senantiasa berpedoman pada hak legal nasional.
Marji Syiah Lebanon ini juga menyinggung pentingnya Deklarasi Segi Tiga Tehran antara Iran, Brazil dan Turki di bidang pertukaran bahan bakar nuklir untuk reaktor riset Tehran. Beliau mengatakan, "Amerika dan Zionis Israel begitu terpukul dengan adanya deklarasi ini. Karena mereka berpikiran bahwa politik Iran dikelola oleh pribadi-pribadi yang tidak memiliki pengalaman. Namun tiba-tiba mereka harus menghadapi kenyataan bahwa para politikus Iran merupakan tokoh-tokoh profesional."
Selain itu, hubungan hangat dan timbal balik ini juga dapat dibaca dengan mudah dari pernyataan bela sungkawa para pejabat tinggi Republik Islam Iran mulai dari Presiden Mahmoud Ahmadinejad, Ali Larijani, Ketua Parlemen Iran, Menlu Manouchehr Mottaki hingga Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara Ali Akbar Hashemi Rafsanjani.(IRIB/SL/PH/5/7/2010)
Jenazah Allamah Fadlullah akan Dikebumikan Hari Selasa
Beirut (IRIB News)-Hassan al-Khasyin, Direktur Hauzah Ilmiah Allamah Sayid Hussein Fadlullah, marji Syiah Lebanon mengatakan, "Jenazah Ulama Syiah ini akan dikebumikan di masjid Hasanain di Dahiya, selatan Beirut sesuai dengan wasiat beliau."
Hassan al-Khasyin kemarin (ahad,04/7) kepada televisi Alalam mengatakan, "Prosesi pemakaman Allamah Fadlullah akan dilakukan hari Selasa (06/7) setelah shalat Zuhur dari depan rumah beliau.Setelah diarak ke jalan-jalan di sekitar selatan Lebanon jenazah, beliau akan dibawa ke arah Masjid Bir al-Abed dan setelah itu akan dikebumikan di masjid Hasanain."
Ditambahkannya, "Dengan mencermati kesederhanaan alim rabbani ini, prosesi pemakamannya juga akan diselenggarakan secara sederhana dan tidak ada acara resmi." "Kami menyambut setiap ungkapan bela sungkawa dari seluruh masyarakat, pejabat, ulama, tokoh politik, cendikiawan dan media," tambah Hassan al-Khasyin.
Sekaitan dengan wasiat Allamah Fadlullah, Hassan al-Khasyin menyatakan, "Allamah Fadlullah meninggal dunia dalam kondisi memikirkan masalah yang dihadapi umat Arab dan Islam. Di akhir ucapannya sebelum meninggal beliau mengatakan, "Selama rezim Zionis Israel belum tumbang, saya tidak akan pernah tenang."(IRIB/SL/PH/5/7/2010)
Biografi Ayatullah Sayyid Hussein Fadlullah

Allamah Hussein Fadlullah melewati masa kecil dan pendidikannya di bawah bimbingan ayahnya, Sayyid Abdurrauf Fadlullah, marji Syiah masa itu. Hussein Fadlullah kecil ikut sekolah tradisional masa itu dan mempelajari bagaimana membaca, menulis dan qiraah al-Quran. Namun pendidikan keras yang diterapkan oleh sekolah itu yang dikelola oleh seorang tua membuat Hussein Fadlullah tidak betah belajar di sana. Dengan segera ayahnya mencarikan sebuah pusat pendidikan bernama Muntada an-Nasyr yang menggunakan metode pendidikan baru.
Hussein Fadlullah langsung duduk di kelas tiga dan ketika duduk di kelas empat ia meninggalkan sekolah dan memulai pendidikan agamanya di usia 9 tahun. Berbarengan dengan pendidikan agamanya, Hussein Fadlullah mulai memperhatikan perkembangan yang terjadi di masanya. Hussein Fadlullah mengikuti perkembangan yang ada lewat membaca majalan-majalah Mesir. Lebanon dan tidak lupa majalah Irak.
Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah mempelajari sejumlah pelajaran seperti nahwu, sharf, ma'ani, bayan hingga logika dan ushul fiqih pada ayahnya. Pada masa itu ia tidak berguru pada orang lain. Ketika pelajarannya sampai pada buku Kifayah al-Ushul jilid kedua, Sayyid Hussein Fadlullah akhirnya berguru pada seorang ulama bernama Mojtaba Lankarani, ulama dari Iran.
Setelah menyelesaikan buku Kifayah al-Ushul, Sayyid Hussein Fadlullah mengikuti kuliah tingkat tinggi (bahts kharij) pada sejumlah marji antara lain, Sayyid Abul Qasin Khu'i, Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi dan Syeikh Hussein al-Hilli. Di samping mempelajari mata-mata kuliah fiqih dan ushul fiqih, Hussein Fadlullah juga mempelajari sebagian dari buku al-Asfar al-Arba'ah, buku filsafat yang lebih dikenal dengan al-Hikmah al-Muta'aliyah karya Mulla Shadr pada gurunya Badkubeh. Sayyid Hussein Fadlullah juga sempat belajar pada Sayyid Muhammad Baqir Shadr selama lima tahun. Gurunya Sayyid Khu'i menasihatinya agar menyeriusi pelajarannya bersama Syahid Shadr.
Pada tahun 1952, di usia 17 tahun untuk pertama kalinya Hussein Fadlullah menuju Lebanon untuk menengok keluarganya di sana. Perjalanannya bersamaan dengan peringatah hari ke-40 meninggalnya Sayyid Muhsin Amin al-‘Amili. Hussein Fadlullah kemudian membacakan kasidah memuji ketokohan dan kepribadian Sayyid Muhsin al-‘Amili.
Dalam kasidah yang dibacakannya, Sayyid Hussein Fadlullah banyak menyinggung masalah politik, termasuk persatuan dan kebangkitan Islam serta mencela imigrasi para pemuda dan imperialisme Perancis.
Surat-surat kabar Lebanon waktu itu menilai kasidah yang diucapkan Sayyid Hussein Fadlullah sangat provokatif.
Pada tahun 1966, sejumlah pendiri organisasi keagamaan Usrah al-Taakkhi yang terletak di pinggiran timur kota Beirut mengajak Sayyid Hussein Fadlullah untuk tinggal di sana. Hussein Fadlullah menerima tawaran itu dan pada tahun itu juga beliau memastikan untuk tinggal selamanya di sana.
Allamah Sayyid Hussein Fadlullah sejak masa mudanya tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama tapi juga mengkaji masalah-masalah yang berada di luar itu. Dengan mendalami sastra membaca majalah-majalah seperti Al-Katib Taha Hussein, beliau secara perlahan mengasah kemampuan menciptakan dan melantunkan syair. Beliau juga menulis tiga buku syair.
Pada tahun 2001, Allamah Fadlullah menerbitkan Jamatul Ulama Najaf, sebuah majalah Kebudayaan-Islam, bersama-sama dengan Sayyid Muhammad Baqir Shadr dan Syeikh Muhammad Mahdi Shamshuddin. Di tahun kedua, kolom utama majalah tersebut bernama Kalimatuna (Ucapan kami). Sebelumnya, artikel utama itu bernama Risalatuna (Risalah kami) dan ditulis oleh Sayyid Muhammad Baqir Shadr.
Allamah Fadlullah melanjutkan aktivitas penulisan artikel dan buku hingga enam tahun. Di Irak beliau berperan urgen dalam pembentukan gerakan Syiah bersama Sayyid Muhammad Baqir Sadr. Hasil dari perjuangan kedua tokoh tersebut, akhirnya lahirlah gerakan Syiah Irak bernama Hizbud Dakwah Islamiyah.
Sekembalinya ke Lebanon pada tahun 1966, beliau mulai beraktivitas secara meluas di bidang ilmiah, budaya, dan sosial, yang hingga kini meski telah 45 tahun berlalu, dampak dan pengaruhnya masih dapat disaksikan.
Dengan mengadakan berbagai pengajian, pelajaran tafsir al-Quran, agama, dan akhlak, beliau mampu menciptakan perubahan hingga ke beberapa generasi di Lebanon. Bahkan di satu kesempatan, beliau pernah mengatakan, "Saya bangga karena ikut menggembleng sebagian besar pejuang dan pegiat agama."
Pembentukan sebuah pondok pesantren bernama al-Ma'had al-Shar'i al-Islami dengan tujuan mendidik para pelajar agama, merupakan di antara upaya sosial-budaya beliau. Selain al-Ma'had al-Shar'i yang terletak di Beirut, Allamah Fadlullah juga mendirikan hauzah akhwat di Beirut, Tyer dan al-Murtadha di Damaskus yang disebut Sayyidah Zainab.
Sayyid Hussein Fadlullah hingga kini melahirkan lebih dari 70 karya yang bila dikumpulkan menjadi lebih dari seratus jilid. Sebagian buku-buku beliau hasil transkrim pidato dan sebagian lainnya merupakan catatan-catatan pelajaran fiqih dan ushul fiqih tingkat tinggi yang ditulis oleh murid-muridnya.
Aktivitas Sosial
Selain kegiatan ilmiah, budaya dan politiknya di Lebanon Suriah, Sayyid Hussein Fadlullah juga punya aktivitas sosial yang cukup luas. Beliau mengayomi anak-anak yatim, syuhada, cacat dan fakir miskin. Beliau mendirikan yayasan sosil bernama Komunitas al-Mirats al-Khairiyah sekaligus menjadi pemimpinnya. Dengan bantuan para donator dari negara-negara Arab Teluk Persia dan Lebanon, Allamah Sayyid Hussein Fadlullah mendirikan sejumlah pusat dan yayasan sosial yang modern untuk mendidik anak-anak yatim, khususnya anak-anak para syahid dan anak-anak miskin. Allamah Fadlullah mendirikan rumah sakit, poliklinik dan masjid-masjid.
Di pusat-pusat yayasan sosial ini, Ayatullah Fadlullah memberikan tempat tinggal bagi mereka yang membutuhkan dan mereka melanjutkan pendidikannya di kawasan ini.(IRIB/SL/MZ/4/7/2010)
Ulama Syiah Wafat, Al-Azhar Mesir Berduka

Sebagaimana dilaporkan televisi Al Alam, Universitas al-Azhar Mesir, Senin (5/7) dalam sebuah keterangannya menyatakan, "Allamah Fadlullah memiliki pemikiran cemerlang, berpikir melampaui batas perbedaan-perbedaan mazhab dan selalu berupaya mendekatkan satu sama lain tidak hanya umat Islam, tapi juga pemeluk berbagai agama."
Allamah Fadlullah dilahirkan di kota Najaf, Irak dan punya hubungan dekat dengan ulama besar Irak, Syahid Muhammad Baqir Shadr. Bersama Syahid Baqir Shadr, Allamah memainkan peran penting dalam membentuk gerakan Islam di Irak.
Selama menetap di Lebanon, Allamah Fadlullah aktif berdakwah dan terlibat dalam kegiatan politik dan sosial.
Prosesi pemakaman Allamah Fadlullah dilakukan hari ini (Selasa,6/7) setelah shalat Zuhur dari depan rumah beliau. Setelah diarak ke jalan-jalan di sekitar selatan Lebanon, jenazah beliau akan dibawa ke arah Masjid Bir al-Abed dan setelah itu akan dikebumikan di masjid Hasanain. (IRIB/RM/SL/6/7/2010)
Kondisi Marji Syiah di Lebanon, Ayatullah Mohammad Hosein Fadlullah sangat kritis akibat penyakit yang beliau derita. Saat ini dilaporkan Marji' besar tersebut berada dalam keadaan koma. Menurut laporan wartawan IRNA dari Beirut mengutip sumber-sumber Lebanon, kondisi fisik Ayatullah Fadlullah yang sebelumnya menderita sakit di bagian hati, saat dirawat di sebuah rumah sakit di Beirut Selatan pada Kamis (2/7) tiba-tiba koma.
Sayyid Ali dan Jakfar, putra Ayatullah Fadlullah yang biasanya menggantikan sang ayah untuk memimpin shalat Jum'at, kemarin absen dan digantikan oleh Sheikh Hosein al-Khasnh. (IRIB/IRNA/MF/3/7/2010)

Sebelumnya, beliau dirawat di rumah sakit dan dikabarkan dalam kondisi kritis. Sumber rumah sakit bahkan menyatakan bahwa beliau dalam kondisi koma. (IRIB/MZ/4/7/2010)
Iran Kirim Delegasi untuk Pemakaman Allamah Fadlullah

Termasuk di antara anggota delegasi tersebut adalah Ayatullah Ahmad Jannati, Sekeretaris Dewan Garda Revolusi, yang akan mewakili Rahbar, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dan Masoud Zaribafan, Wakil Presiden Iran sekaligus Ketua Lembaga Syahid dan Urusan Veteran yang akan mewakili Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Juga Alaouddin Bourujerdi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, serta beberapa pejabat tinggi Iran lainnya.
Delegasi ini terbang ke Damaskus Senin malam (5/7/2010) bersama dengan para peziarah makam Sayyidah Zainab sa dan Sayyidah Ruqayyah sa di Suriah. Di bandar udara Damaskus, mereka disambut Sayyid Ahmad Mousavi, Duta Besar Iran untuk Suriah.
Jenazah Allamah Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah menurut rencana akan dikebumikan hari ini (6/7/2010) di masjid al-Hasanain, Beirut. Acara pemakaman beliau akan dihadiri para pejabat Lebanon dan dari negara-negara Arab dan Islam lainnya. (Ap/IRNA/MZ/6/7/2010)
Exclusive Foto-foto Pemakaman Istri Imam Khomeini

23/3/2009
Istri almarhum pemimpin Revolusi Islam meninggal dunia dan pemakaman dihadiri oleh ribuan peziarah baik masyarakat maupun pejabat. Tokoh pemerintahan maupun petinggi militer ikut mengantarkan jenazah, Khadijah Tsaqafi, istri dari pemimpin Revolusi Islam, Imam Khomeini.
Jenazah dibawa dari rumah di daerah Jamaran dan dimakamkan disamping makam Imam Khomeini. Khadijah Tsaqafi, yang dijuluki Ibu Revolusi Islam, meninggal pada usia 93 tahun pada Sabtu pagi setelah menderita sakit berkepanjangan.
Pemimpin Spiritual Iran, Ayatullah Khamenei menyatakan duka cita mendalam, khususnya kepada saudara dan cucu almarhumah, Hasan Khomeini. Rahbar mengatakan bahwa almarhumah berasal dari keluarga ulama yang telah mendukung perjuangan Pemimpin Revolusi Islam sepanjang hidupnya. Khadijah menikah dengan Pemimpin Revolusi Islam pada tahun 1931.



sumber:http://ejajufri.wordpress.com/2009/03/23/foto-pemakaman-istri-imam-khomeini/
Muktamar Satu Abad Muhammadiyah
Arus Politik di Tubuh Muhammadiyah

Terkait hal ini, M Alfan Alfian dalam opininya di kompasiana hari ini (Sabtu,3/7) mencoba menelisik arus politik di tubuh ormas Islam terbesar kedua di Indonesia itu. Otokritik yang dilancarkan sejumlah tokoh Muhammadiyah mewakili suatu arus utama yang menolak ormas ini terlibat terlalu jauh dalam politik praktis. Penilaian demikian tampaknya lebih dialamatkan pada elite Muhammadiyah yang secara langsung atau tidak suka bermanuver politik.
Yang lebih banyak disorot adalah sikap politik Muhammadiyah dalam merespons soal-soal politik-praktis. Berbagai pihak akan melihat, merasakan, dan memberi penilaian atas ke manakah kecenderungan politik Muhammadiyah dari sikap politik elite-elite utamanya. Organisasinya boleh jadi selalu berlabel independen, tetapi subyektivitas politik elitnya, sering terasa menonjol.
Arus pendapat lain, sebagaimana terekam dari diskusi hubungan Muhammadiyah dan politik di Universitas Muhammadiyah Jakarta belum lama ini justru sebaliknya, Muhammadiyah memfasilitasi kader-kader strategisnya yang terjun dalam politik praktis. Konsekuensinya, tidak menjadi soal ketika pengurus teras partai politik merangkap pengurus penting Muhammadiyah, asal aturannya jelas.
Dengan begitu, Muhammadiyah menjadi terminal pengelolaan sumberdaya politiknya secara berkualitas.Yang penting, sikap-sikap Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, tidak membelok ke arah politik praktis.
Ketika elemen bangsa membahas politik, muhammadiyah tumbuh dalam suasana sosial politik yang terus berjalan secara dinamis. Pada masa organisasi ini didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, 1912, gelora politik anti-kolonial sangat terasa. Bersama yang lain Muhammadiyah turut merespons semangat perlawanan anti-kolonial itu, tetapi tidak dengan pendekatan politik-praktis, melainkan politik-kultural.
Politik nilai
Sejak dulu, Muhammadiyah lebih dikenal organisasi Islam yang melakukan gerakan transformasi kultural, dengan berbagai jenis unit aktivitas amal usaha. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah yang bercorak pembaharu, memiliki keprihatinan yang tinggi terhadap permasalahan sosial-masyarakat atau umat yang masih banyak berposisi terpinggir (kaum mustadh’afin).
Politik Muhammadiyah adalah politik nilai, khususnya nilai membela kepentingan kaum terpinggir, nilai kesejahteraan, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Tentu menjadi beban berat para kadernya untuk mengemban dan mengaktualisasikan nilai-nilai itu.
Arus politik memang kuat sekali pada era reformasi ini. Para tokoh Muhammadiyah sendiri, selama ini telah melakukan beberapa eksperimentasi (ijtihad) politik dengan mendirikan dan mengembangkan partai politik. Yang menonjol adalah berdiri dan eksisnya Partai Amanat Nasional (PAN) yang dimotori oleh M Amien Rais.
PAN termasuk salah satu partai yang lolos ketentuan parliamentary threshold di DPR. Berbeda dengan PAN, eksperimentasi Partai Matahari Bangsa (PMB) yang dibidani oleh kalangan muda Muhammadiyah, masih belum berhasil dalam kontestasi demokrasi elektoral.
Corak pilihan politik kader Muhammadiyah memang plural. Pilihan mereka tidak hanya tertuju ke partai Islam, baik yang bersimbol atau berbasis massa Muslim, tetapi juga pada partai-partai tengah yang bercorak catch-all. Pluralitas pilihan politik kader Muhammadiyah tersebut sangat terkait dengan corak Muhammadiyah sendiri yang rasional-moderat. Soliditas politiknya, tampak tak serekat jamaah NU yang bernaung di bawah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), walaupun partai tersebut elitnya terpecah-pecah.
Modernitas gerakan Muhammadiyah, lebih mengemuka pada wilayah state of mind, bukan pada tradisionalitas patronase kultural atau politik. Inilah yang menyebabkan “fatwa politik” petinggi Muhammadiyah, tidak mudah untuk begitu saja ditaati.
Akhirnya, semoga Muhammadiyah, tepatnya elit-elitnya, dapat dengan baik dan proporsional dalam membawa jati diri Muhammadiyah, untuk tidak ikut larut dalam ingar-bingar politik-praktis yang konfliktual.(Apress/kompasiana/PH/3/7/2010)
Bikin / perbaiki pesawat di kala embargo, membuat negara mampu melaksanankannya

"Meski industri penerbangan Iran diembargo, namun para tim ahli dalam negeri mampu memperbaiki dan merenovasi pesawat Mig-29 dan kemampuan ini akan meningkatkan independensi Angkatan Udara Iran," jelas Sayyid Alawi.
Ditegaskannya pula bahwa gerakan produksi onderdil pesawat tempur sudah lama dimulai oleh tim teknisi Angkatan Udra Iran. Dalam hal ini, Sayyid Alawi memaparkan bahwa tim ahli Iran sudah lama menguasai seluk-beluk reparasi pesawat produksi Barat. Namun mereka menghadapi kendala dalam mereparasi pesawat dari negara-negara Timur. "Alhamdulillah sekarang masalah itu dapat diselesaikan," tutur Sayyid Alawi.
Sebuah pesawat Mig-29 yang telah selama 10 tahun terpuruk di sebuah pangkalan udara kota Tabriz, akhirnya dapat direparasi secara sempurna dan terbang dengan disaksikan kamera-kamera televisi.
Sayyid Alawi meyakinkan bahwa kini tim ahli dalam negeri mampu mereparasi semua jenis pesawat jenis fighter yang ada.
Di akhir pernyataannya, Sayyid Alawi menjelaskan, "Menyusul embargo industri penerbangan, pembelian komponen dan onderdil pesawat tempur terkadang lebih mahal dari membeli pesawat." Oleh karena itu, keberhasilan para tim ahli Iran ini sangat berarti bagi negara. (IRIB/MZ/PH/4/7/2010)Israel dan Iran harus hilang dari peta dunia..???!!!...Kenapa???

Pemerintah Arab Saudi hari ini (Sabtu 3/7/2010) membantah laporan harian Le Figaro terbitan Perancis, yang mengutip pernyataan Raja Abdullah kepada Menteri Pertahanan Perancis bahwa "ada dua negara yang tidak pantas eksis di kawasan, Israel dan Iran".
Seorang pejabat Saudi kepada media-media afiliasi pemerintah mengatakan, "Ini tidak benar sama sekali." Bahkan pejabat Saudi ini menyatakan heran mengapa koran Perancis itu tidak melakukan verifikasi terlebih dahulu soal perinciannya.
Menurut laporan Le Figaro, Raja Abdullah melontarkan pernyataan itu dalam pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Perancis Herve Morin pada 5 Juni lalu, hanya beberapa hari setelah Israel melancarkan serangan brutal terhadap kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza Freedom Flotilla.
Pernyataan Raja Abdullah itu menurut Le Figaro telah dikonfirmasikan kepada para pejabat militer dan diplomatik yang hadir dalam pertemuan itu.
Pernyataan ini merupakan lanjutan dari krisis sebulan lalu setelah Arab Saudi membantah laporan Times bahwa Riyadh mengizinkan Israel menggunakan wilayah udara Saudi untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Laporan tersebut segera dibantah oleh Riyadh.
Di sisi lain, pekan ini Raja Abdullah bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Media-media Barat mengklaim bahwa pertemuan tersebut memfokuskan pada dua masalah penting yaitu pembentukan front baru anti-nuklir Iran dan juga penyelesaian krisis Palestina. (IRIB/MZ/SL/3/7/2010)
Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Marji Syiah di Lebanon, Ayatullah Husein Fadhlullah kepada keluarga dan umat Islam. Seperti dilaporkan IRNA, Ahmadinejad dalam pesannya yang ditujukan kepada sejawatnya dari Lebanon, Michel Sleiman menyatakan, tak diragukan lagi pengabdian dan jasa Ayatullah Fadlullah selama hidupnya yang berusaha keras mempersatukan rakyat Lebanon akan tercatat dalam sejarah negara ini.
Kepada keluarga Ayatullah Fadhlullah, Ahmadinejad mengarapkan mereka diberi kesabaran dan keteguhan. Ia menekankan, tak bisa dipungkiri meninggalnya Ayatullah Fadhlullah membuat kita semua kehilangan. (IRIB/IRNA/MF/5/7/2010)Biografi Ayatullah Sayyid Hussein Fadlullah

Allamah Hussein Fadlullah melewati masa kecil dan pendidikannya di bawah bimbingan ayahnya, Sayyid Abdurrauf Fadlullah, marji Syiah masa itu. Hussein Fadlullah kecil ikut sekolah tradisional masa itu dan mempelajari bagaimana membaca, menulis dan qiraah al-Quran. Namun pendidikan keras yang diterapkan oleh sekolah itu yang dikelola oleh seorang tua membuat Hussein Fadlullah tidak betah belajar di sana. Dengan segera ayahnya mencarikan sebuah pusat pendidikan bernama Muntada an-Nasyr yang menggunakan metode pendidikan baru.
Hussein Fadlullah langsung duduk di kelas tiga dan ketika duduk di kelas empat ia meninggalkan sekolah dan memulai pendidikan agamanya di usia 9 tahun. Berbarengan dengan pendidikan agamanya, Hussein Fadlullah mulai memperhatikan perkembangan yang terjadi di masanya. Hussein Fadlullah mengikuti perkembangan yang ada lewat membaca majalan-majalah Mesir. Lebanon dan tidak lupa majalah Irak.
Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah mempelajari sejumlah pelajaran seperti nahwu, sharf, ma'ani, bayan hingga logika dan ushul fiqih pada ayahnya. Pada masa itu ia tidak berguru pada orang lain. Ketika pelajarannya sampai pada buku Kifayah al-Ushul jilid kedua, Sayyid Hussein Fadlullah akhirnya berguru pada seorang ulama bernama Mojtaba Lankarani, ulama dari Iran.
Setelah menyelesaikan buku Kifayah al-Ushul, Sayyid Hussein Fadlullah mengikuti kuliah tingkat tinggi (bahts kharij) pada sejumlah marji antara lain, Sayyid Abul Qasin Khu'i, Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi dan Syeikh Hussein al-Hilli. Di samping mempelajari mata-mata kuliah fiqih dan ushul fiqih, Hussein Fadlullah juga mempelajari sebagian dari buku al-Asfar al-Arba'ah, buku filsafat yang lebih dikenal dengan al-Hikmah al-Muta'aliyah karya Mulla Shadr pada gurunya Badkubeh. Sayyid Hussein Fadlullah juga sempat belajar pada Sayyid Muhammad Baqir Shadr selama lima tahun. Gurunya Sayyid Khu'i menasihatinya agar menyeriusi pelajarannya bersama Syahid Shadr.
Pada tahun 1952, di usia 17 tahun untuk pertama kalinya Hussein Fadlullah menuju Lebanon untuk menengok keluarganya di sana. Perjalanannya bersamaan dengan peringatah hari ke-40 meninggalnya Sayyid Muhsin Amin al-‘Amili. Hussein Fadlullah kemudian membacakan kasidah memuji ketokohan dan kepribadian Sayyid Muhsin al-‘Amili.
Dalam kasidah yang dibacakannya, Sayyid Hussein Fadlullah banyak menyinggung masalah politik, termasuk persatuan dan kebangkitan Islam serta mencela imigrasi para pemuda dan imperialisme Perancis.
Surat-surat kabar Lebanon waktu itu menilai kasidah yang diucapkan Sayyid Hussein Fadlullah sangat provokatif.
Pada tahun 1966, sejumlah pendiri organisasi keagamaan Usrah al-Taakkhi yang terletak di pinggiran timur kota Beirut mengajak Sayyid Hussein Fadlullah untuk tinggal di sana. Hussein Fadlullah menerima tawaran itu dan pada tahun itu juga beliau memastikan untuk tinggal selamanya di sana.
Allamah Sayyid Hussein Fadlullah sejak masa mudanya tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama tapi juga mengkaji masalah-masalah yang berada di luar itu. Dengan mendalami sastra membaca majalah-majalah seperti Al-Katib Taha Hussein, beliau secara perlahan mengasah kemampuan menciptakan dan melantunkan syair. Beliau juga menulis tiga buku syair.
Pada tahun 2001, Allamah Fadlullah menerbitkan Jamatul Ulama Najaf, sebuah majalah Kebudayaan-Islam, bersama-sama dengan Sayyid Muhammad Baqir Shadr dan Syeikh Muhammad Mahdi Shamshuddin. Di tahun kedua, kolom utama majalah tersebut bernama Kalimatuna (Ucapan kami). Sebelumnya, artikel utama itu bernama Risalatuna (Risalah kami) dan ditulis oleh Sayyid Muhammad Baqir Shadr.
Allamah Fadlullah melanjutkan aktivitas penulisan artikel dan buku hingga enam tahun. Di Irak beliau berperan urgen dalam pembentukan gerakan Syiah bersama Sayyid Muhammad Baqir Sadr. Hasil dari perjuangan kedua tokoh tersebut, akhirnya lahirlah gerakan Syiah Irak bernama Hizbud Dakwah Islamiyah.
Sekembalinya ke Lebanon pada tahun 1966, beliau mulai beraktivitas secara meluas di bidang ilmiah, budaya, dan sosial, yang hingga kini meski telah 45 tahun berlalu, dampak dan pengaruhnya masih dapat disaksikan.
Dengan mengadakan berbagai pengajian, pelajaran tafsir al-Quran, agama, dan akhlak, beliau mampu menciptakan perubahan hingga ke beberapa generasi di Lebanon. Bahkan di satu kesempatan, beliau pernah mengatakan, "Saya bangga karena ikut menggembleng sebagian besar pejuang dan pegiat agama."
Pembentukan sebuah pondok pesantren bernama al-Ma'had al-Shar'i al-Islami dengan tujuan mendidik para pelajar agama, merupakan di antara upaya sosial-budaya beliau. Selain al-Ma'had al-Shar'i yang terletak di Beirut, Allamah Fadlullah juga mendirikan hauzah akhwat di Beirut, Tyer dan al-Murtadha di Damaskus yang disebut Sayyidah Zainab.
Sayyid Hussein Fadlullah hingga kini melahirkan lebih dari 70 karya yang bila dikumpulkan menjadi lebih dari seratus jilid. Sebagian buku-buku beliau hasil transkrim pidato dan sebagian lainnya merupakan catatan-catatan pelajaran fiqih dan ushul fiqih tingkat tinggi yang ditulis oleh murid-muridnya.
Aktivitas Sosial
Selain kegiatan ilmiah, budaya dan politiknya di Lebanon Suriah, Sayyid Hussein Fadlullah juga punya aktivitas sosial yang cukup luas. Beliau mengayomi anak-anak yatim, syuhada, cacat dan fakir miskin. Beliau mendirikan yayasan sosil bernama Komunitas al-Mirats al-Khairiyah sekaligus menjadi pemimpinnya. Dengan bantuan para donator dari negara-negara Arab Teluk Persia dan Lebanon, Allamah Sayyid Hussein Fadlullah mendirikan sejumlah pusat dan yayasan sosial yang modern untuk mendidik anak-anak yatim, khususnya anak-anak para syahid dan anak-anak miskin. Allamah Fadlullah mendirikan rumah sakit, poliklinik dan masjid-masjid.
Di pusat-pusat yayasan sosial ini, Ayatullah Fadlullah memberikan tempat tinggal bagi mereka yang membutuhkan dan mereka melanjutkan pendidikannya di kawasan ini.(IRIB/SL/MZ/4/7/2010)
Amru bin Ash sang Khalifah Mesir yang menjadi penentu Kemenangan Muawiyah dengan cara menaruh Quran diujung tombak

Masjid Amr bin Ash adalah Masjid pertama di Mesir dan di Afrika pada umumnya, dibangun pada tahun 21 H/642 M, oleh salah satu pejuang Islam bernama Amr bin Ash. Masjid ini dibangun kira-kira satu tahun setelah Amr bin Ash membuka Mesir dan membangun kota Fusthat sebagai ibu kota Islam pertama di Mesir pada 1 Muharram 20 H./8 November 641 M.
Seperti umumnya masjid-masid kuno lainnya di mesir, bangunan masjid Amr berbentuk segi empat. Bagian tengahnya dibiarkan terbuka tanpa atap. Mirip Masjidil Haram di Mekkah. Struktur bangunannya pun cukup sederhana namun terlihat kokoh dan elegan. (sumber: http://i2b-ibrims.blogspot.com/)
Semalam, di Twitter, saya membaca kata-kata kutipan dari Elie Wiesel. Konon dia adalah salah seorang korban holocaust Yahudi. Dia mengatakan, “What hurts the victim most is not the cruelty of the oppressor, but the silence of the bystander.” Apa yang paling menyakiti korban bukanlah kekejaman penindas, tapi diamnya orang yang berada di sampingnya. Saya langsung ingat tentang Palestina, Mesir dan khususnya note milik Sayid Abuthalib Al Muhdar.
Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, khalifah bertanya kepada gubernur Mesir kala itu, Amru bin Ash. “Kaifa Mashr yâ ‘Amr?”
Amru bin Ash, sebelum masuk Islam, pernah menjadi utusan kaum kafir Quraisy untuk menghasut para sahabat Nabi saw. yang berhijrah ke negeri Ethiopia. Setelah masuk Islam, dalam peristiwa tahkim, ia memainkan peran penting dalam menjatuhkan Ali dan menaikkan Muawiah sebagai khalifah dengan cara menaruh Quran diujung tombak.(Pidato Setelah Tahkim) Makam dan masjidnya kini berada di Mesir.
Pertanyaan Khalifah Umar, dijawab oleh Amru dengan jawaban yang selalu diingat sepanjang sejarah tentang orang Mesir. “Ardhuhâ dzahab, nisâuhâ lu’ab, wa rijâluhâ ‘abîdun liman ghalab….” Negaranya emas [subur karena berada di kedua sisi dari sungai Nil], wanita-wanitanya mainan, dan lelakinya hanya tunduk pada yang menang [tidak ada yang punya loyalitas].
Masih ingatkah kita pada sindiran yang dibuat tentang kezaliman orang-orang Arab yang hanya berdiam diri ketika Zionis Israel membantai orang-orang Palestina di Gaza? Di bawah ini ceritanya:
Tiga lelaki sedang bertanding untuk menentukan siapakah orang paling jahat di muka bumi. Lelaki pertama menyerang seorang wanita sampai giginya patah, hidung dan kupingnya berdarah, dan masih saja dipukuli sampai wanita tersebut pingsan. Lalu, dia berkata pada yang lain, “Akulah manusia paling jahat!”
Kemudian, pria kedua maju dan memperkosa wanita yang pingsan tadi dan terus menyiksanya sampai dia hampir mati. Lalu dia berkata, “Tidak ada yang lebih jahat daripada aku!”
Pria ketiga, yang dari tadi diam, maju ke depan, dan dengan dingin tersenyum dan berkata, “Akulah yang paling jahat, karena aku hanya duduk dan menonton, sedangkan wanita ini adalah saudaraku!!”
Wanita itu adalah Palestina. Lelaki pertama adalah Israel. Lelaki kedua adalah Amerika dan Barat. Lelaki ketiga adalah dunia Arab dan Islam yang duduk diam dan menonton. Malah ada sebagian masyarakat dari dunia Islam yang mendukung Israel!

Ehud Olmert (Israel) dan Husni Mubarak (Mesir)
Sekarang ini Zionis Israel sedang merampas tanah orang Palestina untuk membangun “Buffer Zone” dan sudah sekian puluh [bahkan ribu] orang pemuda dan warga sipil Gaza yang mati tertembak atau terbunuh secara sadis.
Makin sempurnalah keterisoliran orang-orang Gaza dari dunia luar. Satu-satunya jalan adalah melewati terowongan yang mereka bangun menembus ke wilayah Mesir. Apakah Mesir menerima mereka (orang-orang) Gaza ini sebagai saudara sesama bangsa Arab? Apakah mereka di terima secara baik-baik untuk mendapat bantuan berupa makanan, minuman, obat-obatan?
Setelah Mesir, marilah kita berdiri di depan kaca; kita, Anda dan saya, sebagai umat muslim. Ya, kita tentu bisa dan wajib berdoa. Tapi pada saat yang sama kita terpancing oleh musuh Islam untuk terus saling “berbantah-bantahan” sesama umat muslim. Kita melupakan Palestina dan terlalu asyik saling klaim kebenaran antar-mazhab. Kita melawan mazhab A dan menuduhnya melakukan bidah dan sesat, sementara Palestina melawan musuh yang jelas.
Kita masih juga sentimen dengan mazhab lain dan menganggap pembelaan terhadap Palestina hanyalah omong kosong. Kita kritik orang-orang yang demo di depan kedutaan Mesir dan Amerika dan menganggapnya sebagai sia-sia, sedangkan kita menonton televisi di sofa empuk. Kita juga teriakkan anti-Israel tapi masih menikmati konsumsi McDonald’s, Coca-Cola, Starbucks dan tidak berusaha mengurangi konsumsi produk yang jelas mendukung Israel.
Saya menggunakan kata “kita” karena memang Anda dan saya masih terus memperbaiki diri; kita adalah satu kesatuan umat yang Rasulullah saw. telah peringatkan, “Wa man lam yahtamma bi amril muslimîna, fa laisa minhum. Barang siapa yang tidak ikut memperhatikan permasalahan kaum muslimin maka dia bukan dari golongan itu (muslimin).”
“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.” ~ Martin Luther King, Jr.
Catatan: Thanks to Sayid Abuthalib Al Muhdar for his great note. Tulisan ini di-posting juga sebagai “janji” kita bahwa Piala Dunia tidak akan alihkan isu Palestina.
sumber:http://ejajufri.wordpress.com/
Artikel Terkait:
Sasirangan Banjar laku keras di musim liburan kali ini....
Perkebunan sawit membuang limbah ke sungai yang mengalir di Banua Banjar..???!!!...
BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Direktur Eksekutif Save Our Borneo (SOB), Nordin meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap perusahaan perkebunan sawit yang nakal. Salah satunya adalah tindakan merusak lingkungan dengan cara membuang limbah sawit ke sungai.
Nordin, Minggu (4/7/2010) menyebutkan, ada sejumlah perkebunan sawit di Kabupaten Seruyan, Kalteng diduga kuat membuang limbah ke sungai yang mengalir ke Danau Sembuluh. Pihaknya yang turun ke lapangan bersama Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalteng pertengahan Juni lalu melihat sendiri ada perusahaan yang membuat saluran pembuangan limbah yang langsung digelontorkan ke sungai.
Anggota Dewan Nasional Walhi Pusat ini mengaku miris karena belum ada tindakan dari aparat maupun pemerintah daerah, padahal sungai sangat penting bagi masyarakat.
Belum lagi masalah pembabatan pohon di sepadan sungai yang kemudian dijadikan kebun sawit, padahal itu jelas menyalahi aturan namun terkesan dibiarkan. Menurutnya, itu hanya salah satu gambaran kecil pelanggaran yang dilakukan perkebunan sawit di Kalteng.


