Home , , , � Arab Saudi Menyerah

Arab Saudi Menyerah

Saat pengumuman pengunduran diri 11 menteri Lebanon


Arab Saudi Menyerah Memediasi Krisis Lebanon

Arab Saudi secara resmi menyerah dan meninggalkan mediasi perundingan terkait membentuk pemerintahan baru Lebanon, pasca pengunduran diri masif para menteri dari Hizbullah dan aliansinya.

Lebanon berada dalam kebuntuan politik setelah pemerintahan perdana menteri Saad Hariri, bubar pekan lalu pasca pengunduran diri 11 menteri Hizbullah dan partai-partai afiliasinya. Pengunduran diri itu terjadi menyangkut masalah kasus teror mendiang Rafiq Hariri, mantan perdana menteri Lebanon, yang ditangani oleh Pengadilan Khusus untuk Lebanon (STL).

Hariri dan lebih dari 20 orang lainnya tewas 14 Februari 2005, akibat ledakan bom di pusat kota Beirut. STL yang didukung penuh oleh Amerika Serikat itu dibentuk dua tahun untuk menyelidiki aksi teror tersebut.

Sebelumnya, tersebar laporan bahwa pengadilan internasional itu akan merilis gugatan terhadap sejumlah anggota Hizbullah yang dituduh terlibat dalam kasus teror Hariri.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah, secara tegas menolak tuduhan tersebut. Bahkan sebelumnya ia telah membeberkan bukti-bukti terkait keterlibatan rezim Zionis Israel dalam teror Hariri. Menurut Nasrullah, tuduhan STL itu sangat berbahaya dan merupakan bagian dari program anti-muqawama di Lebanon. (IRIB/MZ/SL/19/1/2011)

Akhirnya STL Serahkan Gugatan Teror Hariri Kepada Hakim

Jaksa STL, Daniel Bellemare

Pengadilan Khusus Lebanon (STL) merilis statemen yang menyatakan bahwa jaksa pengadilan ini telah mengeluarkan gugatan terkait para terduga kasus teror mantan perdana menteri Lebanon, Rafiq Hariri.

Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA) mengutip keterangan koran Al-Bayan terbitan Uni Emirat Arab melaporkan, STL menyatakan bahwa Sekretaris STL, Herman von Hebel mengatakan, "Jaksa umum kasus teror Hariri telah mengeluarkan gugatan terhadap para tersangka beserta bukti-buktinya kepada Hakim STL, Daniel Fransen."

Dalam statemen itu disebutkan pula bahwa, dokumen terkait teror Rafiq Hariri telah diserahkan kepada Kantor Arsip STL. Isi dari statemen tersebut untuk saat ini tidak akan dipublikasikan dan tanggung jawab pelaksanaannya telah diserahkan kepada Hakim Fransen.

Dengan demikian, Fransen memiliki kesempatan beberapa pekan untuk membahas segala aspek dalam gugatan tersebut sebelum mengeluarkan keputusan final.

Jaksa Agung STL, Daniel Bellemare, dalam hal ini mengatakan, "Gugatan tersebut merupakan tahap awal penindaklanjutan STL dan dalam hal ini kami akan tetap melanjutkan tugas kami."

Di lain pihak, Sekjen PBB, Ban Ki-moon, menyatakan dukungan penuhnya terhadap STL dan meminta semua kelompok Lebanon untuk tidak mencampuri kerja pengadilan internasional itu.

Ditambahkannya bahwa aktivitas pengadilan internasional independen itu tidak boleh diintervensi, dan sebelum perilisan keputusan pengadilan, tidak boleh ada prasangka apapun terkait kasus ini. Menurutnya, pengadilan internasional ini dibentuk atas permintaan pemerintah Lebanon dan juga telah disetujui oleh Dewan Keamanan PBB.

Adapun Gedung Putih juga ikut merilis statemen bahwa Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyambut baik penyerahan gugatan kasus teror Hariri itu kepada Hakim STL. Langkah ini dinilai sebagai upaya kongkret dalam mengakhiri aksi pengelakan hukum para pelaku teror, juga merupakan upaya perwujudan keadilan bagi bangsa Lebanon. (IRIB/MZ/SL/18/1/2011)

Larijani: IIPU Harus Bela Muqawama dan Persatuan Lebanon

Ketua parlemen Republik Islam Iran Ali Larijani menekankan bahwa Uni Antarparlemen Islam (IIPU) harus membela gerakan perjuangan muqawama dan persatuan Lebanon.

Berbicara dalam sidang darurat IIPU di Abu Dhabi, Larijani menyinggung pengadilan internasional teror Rafik Hariri mengatakan, IIPU bertanggung jawab untuk membela muqamawa Lebanon dalam menghadapi konspirasi bersama AS dan Rezim Zionis Israel. IIPU juga harus mendukung persatuan nasional Lebanon yang hakiki.

Menyinggung perkembangan di Palestina Ali Larijani menegaskan keharusan mendukung Palestina dan mengingatkan negara-negara anggota IIPU untuk tidak tertipu dengan slogan damai yang disuarakan AS dan Israel. Larijani juga mendesak diakhirinya blokade atas Gaza.

Ketua Parlemen Iran mengangkat pula soal pendudukan AS dan sekutunya di Afghanistan dan Irak seraya menandaskan, dengan alasan perang melawan teror mereka menyerang, menduduki dan menghancurkan Afghanistan. Sementara Irak mengalami nasib yang sama dengan alasan karena Irak menyimpan senjata pembunuh massal. Irak hancur dan ratusan ribu warga tewas akibat klaim itu. (IRIB/AHF/20/1/2011)

0 comments to "Arab Saudi Menyerah"

Leave a comment