Home , , , , , � Imam Khomeini dan Imam Khamenei Bicara tentang Mesir

Imam Khomeini dan Imam Khamenei Bicara tentang Mesir




Rahbar Akan Sampaikan Khutbah Jumat Pekan Ini

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei akan menjadi Imam Jumat pada pekan ini, tepatnya pada tanggal 4 Februari 2011 yang bersamaan dengan hari kesyahidan Imam Ali Ar-Ridho as, Imam Kedelapan Ahlul Bait as.

Hujjatul Islam wal Muslimin, Sayid Reza Taqavi yang juga Ketua Dewan Kebijakan Para Imam Jumat ketika dihubungi via telepon dengan wartawan Farsnews menagtakan, "Shalat Jumat pekan ini akan dipimpin langsung oleh Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei."

Di tengah gejolak dan perkembangan terbaru di Timur Tengah, pernyataan dan pandangan dalam pidato Jumat dinanti-nantikan. Akan tetapi dari satu sisi, para musuh Islam tentunya mengkhawatirkan pidato Rahbar yang bisa jadi akan kian membangkitkan semangat Islam di Timur Tengah yang tengah bergejolak. (IRIB/Farsnews/AR/2/2/2011)

32 Tahun Resistensi Iran

Imam Khomeini

Salah satu variabel Revolusi Islam Iran adalah resistensi bangsa Iran menghadapi tekanan musuh di berbagai bidang. Kemenangan revolusi Islam menciptakan kondisi baru di Iran dan membentangkan nasib bangsa Iran di jalur baru. Gerakan baru ini menandai gerakan nasional yang berpijak pada keyakinan religius yang menyebar ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Pada masa kini tanda kemajuan Iran terlihat di bidang sains dan teknologi nuklir.

Di tengah tekanan sanksi ekonomi, teknis, teknologi dan berbagai pembatasan lainnya yang dilakukan Barat terhadap Tehran, Iran berhasil mencapai keberhasilan luar biasa di bidang sains. Kemajuan ini menyebabkan Amerika dan sejumlah negara Barat menyulut perang urat syaraf dengan menyeret masalah nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB yang berbuntut keluarnya resolusi anti Iran.

Selama tahun 2003 hingga 2005, AS meningkatkan tekanannya terhadap Tehran, meski Iran menunjukkan itikad baiknya dengan menjalin kerjasama dengan IAEA. Tidak hanya itu, Washington juga menekan IAEA dan mempolitisasi organisasi nuklir internasional ini demi mewujudkan ambisinya menekan Iran. Permusuhan Gedung Putih terhadap Tehran meningkat hingga antek-antek AS dan rezim Zionis melakukan dua aksi teror yang menyebabkan syahidnya dua pakar nuklir Iran, Massoud Ali Mohammadi dan Majid Shahriari.

Teror ini menunjukkan bahwa musuh bangsa Iran terus melakukan berbagai gerakan yang bertujuan menjegal program nuklir Iran. Aksi ini sebagaimana diakui koran Zionis, Haaretz, dirancang oleh Meir Degan, Mantan Kepala Dinas Intelejen Israel (Mossad). Pengakuan pelaku teror dan berbagai bukti yang diperoleh dinas intelijen Iran menunjukkan keterlibatan Mossad dan aksi teror anti Iran dengan melibatkan kamp-kamp Zionis di sejumlah negara Eropa dan negara tetangga dalam mengarahkan operasi teror di Iran.

Berbagai bentuk tekanan Barat terhadap Iran terus berlanjut hingga akhirnya munculnya koalisi politik baru menghadapi Iran dalam bentuk kelompok 5+1 yang terdiri dari lima anggota Dewan Keamanan ditambah Jerman. Hingga kini Washington terus menekan Tehran dan berupaya memperalat Dewan Keamanan dan organisasi internasional untuk mewujudkan ambisinya menjegal kemajuan Iran.

Para pejabat tinggi Amerika Serikat dengan berbagai dugaan kelirunya mengira bisa mengucilkan Iran dan memaksa Tehran bertekuk lutut dengan meningkatkan sanksi dan tekanan lainnya. Namun bertentangan dengan dugaan para pejabat Gedung Putih, bangsa Iran tetap melangkah melanjutkan jalannya mencapai kemajuan di berbagai bidang. Di tengah tekanan sanksi anti Iran, peningkatan ekspor nonminyak Iran selama enam tahun terakhir meningkat 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sanksi justru menjadi peluang bagi pengembangan dan pembangunan ekonomi Iran.

Jelas saja, embargo ekonomi anti Iran tentu merupakan tindakan yang tidak adil dan ilegal. Meski ditekan dari berbagai sisi, bangsa Iran yang berpegang teguh pada kemampuan kemandirian bangsanya mampu menangkal dan melumpuhkan sanksi tersebut.Tidak hanya itu, Iran juga berhasil melakukan terobosan besar selama tiga dekade.

Sanksi dan kebijakan tidak logis yang terus-menerus dipaksakan Amerika serikat dan sejumlah negara anggota Uni Eropa terhadap Iran menunjukan terjadinya imperialisme di abad 21. Cara-cara seperti ini biasa dilakukan oleh adi daya global seperti Amerika Serikat untuk menguasai dunia. Sejatinya adi daya global membentuk aliansi militer seperti NATO, dengan melakukan monopoli sains dan teknologi menentang kemajuan bangsa lain dengan membatasi ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu sensitif dan teknologi tinggi seperti nuklir. Namun sejarah membuktikan bahwa pecundang utama kebijakan ini adalah mereka sendiri. Senjata makan tuan.

Kegagalan kebijakan unilateral dan tidak logis AS dan sejumlah negara Eropa termasuk Inggris dan Perancis menghadapi tekad kuat bangsa Iran menunjukkan dengan jelas bahwa kebijakan sanksi tidak lagi efektif dan menyebabkan mereka kehilangan peluang menjalin kerjasama dengan Tehran. Sebaliknya sanksi dan berbagai tekanan asing ini justru membuat bangsa Iran semakin kokoh dan mandiri di berbagai bidang.

Sejatinya bangsa Iran dengan bersandar pada kemandirian dan kekuatan generasi muda selama tiga dekade terus melangkah maju. Pengalaman ini menunjukkan bahwa rakyat dan pemerintah Iran mampu melumpuhkan dampak negatif sanksi selama lebih dari tiga dekade.

Bangsa Iran selama 32 tahun berhasil mencapai kemajuan signifikan di berbagai bidang dan sukses melewati ujian ilahi. Kini bangsa Iran dengan tekad kuat dan kewaspadaan yang tinggi serta persatuan yang kokoh melanjutkan langkahnya demi mencapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan.

Jelas kiranya sebagaimana ditegaskan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei bahwa proyek utama musuh bangsa Iran termasuk fitnah tahun lalu adalah menggulingkan Republik Islam dan memadamkan panji-panji Islam dari masyarakat Iran, serta mengubah bentuk pemerintahan Islam. Tampaknya mereka lupa bahwa bangsa Iran berhasil menangkal konspirasi ini dengan meningkatkan kewaspadaan, memahami situasi dan kondisi serta terjun di arena melumpuhkan konspirasi musuh.

Para politisi AS sejak setengah abad lalu melakukan berbagai intervensi dan konspirasi terhadap Iran. Pasca kemenangan revolusi Islam, Washington melakukan konspirasi dalam berbagai bentuk untuk menjegal kemajuan Iran.

Tidak diragukan lagi pecundang sepak terjang ini adalah AS. Realitas global menunjukkan bahwa kebijakan AS bukan hanya gagal menekan Iran dan menyingkirkan Tehran dari arena global. Sebagaimana diungkapkan Rahbar, Amerika membentur jalan buntu. Realitas dan fenomena ini menunjukkan bahwa gerakan besar revolusi Iran selama 32 tahun lalu berdampak besar dan permanen bagi kewibawaan pemerintahan Islam dalam menjaga agama dan revolusi.(IRIB/PH/SL/1/2/2011)


Imam Khomeini dan Imam Khamenei Bicara tentang Mesir


“Saya berharap negara lain memberikan perhatian; mengikuti bangsa Iran. Mesir, janganlah merasa puas dengan pemerintahan penindas kalian yang mengatakan akan menghancurkan siapapun yang menggunakan nama Islam. Ketahuilah bahwa Islam dalam bahaya di Mesir. Wajib bagi pria dan wanita Mesir untuk bangkit dan menghancurkan pemerintahan ini yang mengumumkan perang terhadap Islam.” (Shahifah-i Imam, j. 15, h. 318)

“Presiden kedua yang dipaksakan pada negara (Husni Mubarak) ini mengira bahwa dia akan memerintah di Mesir seperti pendahulunya (Anwar Sadat). Sebelum menjadi presiden, dia mengumumkan solidaritasnya dengan Israel dan Amerika. Dia mengabaikan bahwa rakyat telah melemparkan pendahulunya ke neraka; rakyat akan melakukan hal yang sama kepadanya. Mesir harus tahu bahwa kalau mereka bangkit sebagaimana Iran bangkit maka mereka akan berhasil. Bangsa Mesir tidak perlu takut dengan darurat militer; abaikan hal itu sebagaimana Iran melawan dan turun ke jalan. Ulama Mesir harus bangkit dan membela Islam.” (Shahifah-i Imam, j. 15, h. 285)

Rakyat Mesir Tak Akan Diam Menyaksikan Pengkhianatan Rezim

Amerika Serikat (AS) telah melakukan kesalahan. Dengan mengumpulkan sejumlah negara Arab di meja perundingan yang menghinakan ini, AS sudah melakukan sesuatu yang membuat rezim-rezim tersebut semakin dibenci rakyatnya. Mungkinlah rakyat di negara-negara Arab itu rela para pemimpin mereka menyerahkan negeri Palestina ke tangan orang lain? Dengan tindakan ini, AS semakin memperlebar jurang pemisah antara pemimpin dan rakyat di dunia Arab apalagi jika perundingan ini sampai menghasilkan penandatanganan perjanjian damai. Tindakan ini hanya akan membuat amarah bangsa Arab semakin memuncak. Rakyat Mesir akan semakin marah. Orang Mesir yang malang itu pergi ke Amerika untuk mengadukan Iran kepada pihak yang justeru menyimpan dendam yang teramat dalam terhadap Iran.

Apa hubungan kita dengan bentrokan yang melibatkan warga Mesir? Kita akan senang dengan bangkitnya umat Islam di manapun juga. Di mana saja umat Islam bangkit mengepalkan tangan di hadapan musuh, kita akan menyambutnya dengan senang hati. Kita akan bersedih hati dan akan merasa bertanggung jawab jika ada umat Islam yang menjadi sasaran serangan di mana saja. Tapi kita tidak akan terjun dan terlibat. Kita akan menyadarkan bangsa [muslim] seperti bangsa Mesir akan tugas dan tanggung jawabnya. Mereka sendiripun tahu apa yang menjadi kewajiban mereka. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Rakyat Mesir sudah benar dalam memahami kondisi. Para pemuda Mesir sudah benar dalam perjuangannya yang gigih melawan rezim yang telah berkhianat kepada Islam, Palestina dan negara-negara Islam. Pergolakan ini tidak ada kaitannya dengan kita. Mereka (musuh-musuh Islam) salah dalam hal ini. Mereka tidak bisa mengerti kekuatan dan pengaruh Islam.

(Cuplikan pidato Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan para pengurus dan pejabat haji, 28 April 1993)

Umat Islam, Umat Yang Mulia

Di Afrika, Asia, dan Timur Tengah ada berapa banyak negara Islam dengan rezim-rezimnya yang silih berganti sementara umat Islam di sana masih tetap terkucil dan tersisihkan. Irak misalnya. Dulu negara itu dikuasai oleh rezim kerajaan. Setelah rezim kerajaan tumbang datang satu rezim baru dengan beberapa penguasa yang silih berganti. Sampai akhirnya orang-orang partai Baath berkuasa. Dalam semua masa pergantian rezim dan penguasa itu, hanya umat Islamlah yang tertinggal dan tidak mendapat tempat. Padahal, mayoritas rakyat di sana beragama Islam. Namun dalam transformasi di negeri itu mereka tidak berlibat sama sekali. Atau misalnya juga Mesir. Di sana memang ada kelompok bernama Ikhwanul Muslimin. Di negara itu terjadi perubahan besar yang menumbangkan rezim kerajaan. Dengan tumbangnya kekuasaan monarki, berdiri sistem republik dan revolusioner dengan tokohnya yang terkenal Gamal Abdel Nasser. Sepeninggal Gamal Abdel Nasser, kekuasaan jatuh ke tangan orang lain. Dalam seluruh proses ini -tentunya sampai menjelang kemenangan revolusi Islam [di Iran]- kubu-kubu Islam berada di pinggir halaman. Tidak ada unsur kubu Islam yang bermain di tengah medan. Padahal dalam gerakan revolusi awal rakyat Mesir anasir muslim memainkan peran yang besar. Akan tetapi ketika pemerintahan sudah berdiri, kubu muslim disisihkan. Sebagian dijebloskan ke dalam penjara, sebagian dibunuh dan sebagian disingkirkan dari medan. Di sini kubu Islam juga tidak memainkan peran.

(Cuplikan dari khutbah Jumat Ayatullah Khamenei tanggal 3 Ramadhan 1415 H, 3 Februari 1995)

Persis dengan Pekikan Lantang Bangsa Iran

Di Mesir sekelompok pemuda muslim dan warga muslim bangkit memekikkan slogan-slogan Islam, padahal antara mereka dan bangsa kita tidak ada hubungan insani yang semestinya terjalin. Tapi slogan-slogan yang mereka pekikkan sedemikian mirip dengan slogan kita sampai-sampai presidennya yang buruk dan keji itu mengatakan bahwa gerakan ini diprovokasi oleh Iran. Padahal, apa hubungan kita dengan mereka? Mereka adalah bangsa muslim. [Sebagai muslim] mereka meneriakkan slogan Alquran. Mereka sendirilah yang merasa berkewajiban menyuarakan sesuatu di jalan Allah dan bergerak. Persis seperti bangsa Iran yang di masa rezim tagut yang meneriakkan slogan-slogan anti Amerika, anti-arogansi dan anti kediktatoran dunia, dan sampai sekarang pekikan itu masih berlanjut.

(Cuplikan pidato Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan para komandan Basij seluruh negeri, 17 November 1992)

Bagi Kubu Arogan, Sunni dan Syiah Sama Saja

Bagi dia (musuh) yang memang memusuhi Islam itu sendiri, dalam permusuhan ini tak ada perbedaan antara Syiah dan suni. Kita menyaksikan sendiri bagaimana kubu arogan mengintimidasi kaum revolusioner suni di Palestina dan Mesir. Mereka bukan dari kelompok Muslim Syiah 12 Imam, tapi saudara-saudara kita dari kalangan ahlusunah. Kalian melihat sendiri bagaimana tekanan yang mereka alami. Di mata kubu istikbar, (perbedaan mazhab) tidak ada bedanya. Musuh membenci Islam, cabang-cabangnya dan para pengikutnya dalam segala bentuk. Kini musuh berdiri mengambil posisi seakan berada di satu pihak tertentu dari kelompok-kelompok mazhab untuk melawan mazhab lain dan mengeluarkan dana untuk misi ini. Kita harus bersikap cerdas.

(Cuplikan pidato Ayatullah Khameneni dalam pertemuan dengan para rohaniwan, 26 Desember 1989)

Sumber:

  • ABNA.ir
  • Khamenei.ir
main source :http://ejajufri.wordpress.com/2011/01/31/imam-khomeini-dan-imam-khamenei-bicara-tentang-mesir/

0 comments to "Imam Khomeini dan Imam Khamenei Bicara tentang Mesir"

Leave a comment