Home , , , , , , � Walikota Solo : Joko Widodo Solo kota AMAN --> Amerika datang "Bom Meledak"...gak aneh!!!!!Papua hingga matinya mahasiswa

Walikota Solo : Joko Widodo Solo kota AMAN --> Amerika datang "Bom Meledak"...gak aneh!!!!!Papua hingga matinya mahasiswa


Solo: Laboratorium Spionase Kedutaan Amerika Serikat?

Islam Times- Lima bulan setelahnya, saat kutipan ‘wonderful, amazing ‘Scot masih terpajang di website pemerintah Surakarta, pada pagi hari 25 September 2011, sebuah bom meledak di sebuah gereja di jantung kota Solo. Teror menghantam ulu hati parwisata kota, memaksa Jokowi memberi perhatian besar pada apa yang sebelumnya telah digadang-gadang sebagai fakta ‘besar’ dan ‘penting’ oleh polisi dan Kedutaan Amerika: terorisme!.

Photo; Solopos

Photo; Solopos

Pengantar Redaksi: Tulisan berseri ini adalah upaya lanjutan Islam Times menggali khasanah WikiLeaks, ‘tambang emas’ kawat rahasia Kedutaan Amerika Serikat yang muncul tanpa sensor di Internet sejak awal September. Di edisi ini, kami memotret ketertarikan misterius kedutaan atas Solo, kota kecil di Jawa Tengah, yang di hari-hari ini masih berduka lepas Teror Bom Gereja, 25 September 2011.

Islam Times- Semua orang suka pada pihak yang menang dan begitu pula Kedutaan Amerika Serikat pada Joko “Jokowi” Widodo, walikota Solo yang berhasil mengangkat martabat wilayahnya dengan dedikasi, kemandirian, dan kebersahajaan yang langka, dan sebab itu dia lalu jadi buah bibir orang banyak. Tapi pemeriksaan Islam Times atas gulungan telegram di WikiLeaks menunjukkan kalau ketertarikan diplomat Amerika pada Jokowi dan Solo lebih dari sekadar urusan batik, pasar, dan wayang, seperti yang kerap diungkap para diplomat dan oleh media yang rajin mengutip mereka. Inilah kisah sebuah kota yang, di tangan Kedutaan Amerika, seolah menjelma menjadi sebuah laboratorium besar spionase. Inilah kisah jarum halus infiltrasi berselimut “penguatan hubungan”, “dukungan demokrasi” dan “asistensi perang melawan teror”.

Dari pemeriksaan sepekan lebih, Islam Times menemukan ada enam telegram, bermarka SECRET dan CONFIDENTIAL, yang secara khusus bercerita tentang kegiatan ‘ekstra-kurikuler’ pihak kedutaan di Solo periode April 2006-Desember 2009. Lima di antaranya berisi catatan perjalanan para perwira politik kedutaan. Satu sisanya adalah laporan kunjungan Duta Besar Amerika Serikat, Cameron R. Hume, pada Mei 2009. (Teks lengkap keenam telegram berikut belasan telegram lainnya bertema “terorisme” dan “Abu Bakar Basyir” kami lampirkan utuh di akhir berita.)

Secara umum, keenam telegram mengungkap dua pola ‘keterpesonaan besar’ Kedutaan Amerika pada Solo: pada sosok Jokowi dan pemerintahannya, dan pada apa yang mereka gambarkan sebagai kelompok ‘radikal’ dan ‘ekstrimis’. Telegram juga mengungkap sulaman rumit infiltrasi Kedutaan sekaitan upaya mereka memupuk citra kalau Amerika bersama Jokowi, senyampang upaya mereka membiayai dan mengobarkan api perang melawan terorisme di Solo dan Jawa Tengah – sebuah proyek berdarah-darah yang meminjam tenaga polisi Indonesia dan, pada hakikatnya, menikam upaya Jokowi menjadikan Solo sebagai kota kawasan wisata ideal. Sejumlah telegram lainnya mengisyaratkan kalau Kedutaan Amerika, di samping membiayai Detasemen 88 dan seluruh unit kladestinnya, juga pasang kaki dan mata di sejumlah organisasi yang notabene mereka cap sebagai ‘teroris’.

Soal pribadi Jokowi, telegram catatan perjalanan Duta Besar Amerika Serikat, Cameron R. Hume, nampaknya yang paling mewakili ‘pandangan’ Kedutaan Amerika. Teks telegram, bermiripan dalam susunan kata dan kalimatnya dengan telegram para perwira politik senior kedutaan di tahun-tahun sebelumnya, sebuah isyarat adanya pemantauan konstan pada Jokowi dan seluruh kinerjanya.

Bertajuk “Good Governance Antidote To Radicalism In Solo, Central Java”, telegram dikawatkan dari Jakarta pada 1 Mei 2009 oleh perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak. Tujuannya: Kantor Kementrian Luar Negeri di Washington, pos pengamatan Amerika untuk wilayah ASEAN, dan sejumlah markas intelijen Amerika, termasuk Dinas Intelijen Amerika, CIA:

1. (C) RANGKUMAN. Pada 2001, kalangan radikal Muslim pembuat onar di jalan-jalan Kota Solo, Jawa Tengah, mengancam “mensweeping” semua turis asing dari hotel-hotel. Duta Besar belum lama ini melenggang di jalan yang sama, merasakan kehangatan dan penyambutan kota. Sekalipun kantong-kantong radikalisme masih menggelayut di pinggiran kota, ekstrimisme secara umum nyaris telah jadi barang langka. Pembeda datang dari seorang walikota yang sangat populer, terpilih empat tahun lalu, yang berhasil membuktikan kalau tata pemerintahan yang baik adalah kunci perubahan sebuah masyarakat yang sakit menjadi masyakarat yang sehat. AKHIR RANGKUMAN.

2. “(C) Duta Besar menghabiskan akhir pekan di Solo pada 25-26 April untuk mengetahui kenapa Walikota Joko Widodo bisa jadi salah satu pimpinan lokal yang paling sering dibicarakan orang di Indonesia. Saat Joko terpilih empat tahun lalu, Solo adalah belantara korupsi dan ketakbecusan. Lepas 9/11, kalangan militan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) kerap menyantroni hotel-hotel tempat persinggahan turis dan mengancam “mensweeping” seluruh warga asing dari Solo. Warga paling tenar Solo adalah Abu Bakar Basyir, tokoh spritual Jemaah Islamiyah (JI), kelompok yang bertanggungjawab pada Bom Bali 2002, sekaligus pemilik Pesantren Ngruki di pinggiran Solo. MMI dan sekondannya membuat kalangan turis asing menjauh dan mereka juga memajaki warga-warga lokal, sementara walikota tak berbuat apa-apa untuk mencegah. Solo lalu terkenal di dunia internasional sebagai salah satu “sarang jejaring teroris” dan membusuk sebab itu.

3. (SBU) Pada 2005, seorang pedagang funitur sukses, “Jokowi”, pemenang pertama pemilihan demokratis walikota Solo, memperkenalkan kepemimpinan yang bersahaja dan bisa bekerja untuk memerintah kawasan budaya kuno berpenduduk 550.000 orang. Joko sendiri yang mengantar Duta Besar berjalan-jalan memperlihatkan pencapaian-pencapaiannya: mengubah kawasan kumuh menjadi kawasan hijau; menempatkan pemukim kawasan kumuh ke kompleks perumahan; memindahkan kawanan kaki lima ke pasar-pasar yang ramai. Joko memperlihatkan ke Duta Besar sebuah potret bagaimana sebuah kawasan kumuh dibulldozer, orang-orang bentrok dengan polisi, lalu bilang, “tapi foto-foto ini dari kota yang lain, bukan Solo.”

3. (SBU) Alih-alih menggunakan kekuatan, Joko menggelar pertemuan masyarakat untuk membujuk para pedagang kaki lima dan pemukim di kawasan kumuh untuk bersedia pindah. Dia membiarkan orang memilih sendiri lokasinya dan menggelar sebuah perayaan untuk merayakan kepindahan mereka itu. Dia telah memindahkan 16.000 pedagang kaki lima ke pasar-pasar tradisional yang tersentralisasi, menyediakan lahan, bangunan dan infrastruktur. Pasar onderdil motor yang baru di Solo adalah yang terbesar di Indonesia, dengan penjualan meningkat empat kali lipat, sebab pasar ini nyaman dan tertata untuk konsumen. Pasar besar yang baru juga menunjukkan geliat bisnis, bebas rente, bangunan modern. Saat Joko berjalan-jalan di pasar-pasar itu, para pedagang menyapanya dengan ramah, dan tak takut untuk mengkomplain secara terbuka.”

4. (SBU) Kurang dari empat tahun, dia telah merelokasi 68% para penghuni gubuk liar ke pemukiman baru, dari kawasan yang rentan banjir di pinggir-pinggir sungai ke perkampungan nyaman, dimana setiap keluarga tinggal di rumah sendiri yang pembangunannya dimodali oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah memberi sedikit subsidi, menyediakan sumur kampung, fasilitas sanitasi, dan bimbingan. Dia memindahkan kios-kios makanan ke sebuah jalan di pusat kota yang kemudian menjadi pusat jajan setiap malam. Dia jadi pioner penyedia toilet biogas, fasilitas mandi dan memasak di kawasan paling miskin; pasar barang-barang antik, batik dan pasar tradisional lainnya yang tersentral dengan bangunan menarik; pendidikan dan kesehatan gratis untuk kalangan miskin; dan perpustakaan anak-anak/pusat komunitas dengan komputer gratis. Dua ibu rumah tangga di sebuah perkampungan miskin bilang kalau pusat komunitas memberi harapan baru bagi anak-anak mereka, dan mereka berterima kasih pada Walikota Joko untuk semua itu. Di mana-mana, orang bilang mereka cinta sang walikota.

5. (SBU) Gaya Joko berkebalikan dengan banyak pemimpin lokal Indonesia yang duduk arogan di singgasananya dan marah jika orang mengeluhkan sesuatu. Joko bilang dia menghabiskan hampir semua waktunya dengan masyarakat sekadar agar bisa mendengar langsung keluhan dan keperluan mereka. Dia bilang dia punya staf yang cekatan mengurus dokumen. Joko bilang ke Duta Besar kalau filosofinya adalah jika kota bisa membantu orang-orang miskin memenuhi kebutuhan dasar mereka, maka mereka hanya perlu mencemaskan bagaimana bisa mendapat pekerjaan.

6. (SBU) Kebijakan ramah investasi Joko juga membantu mencipta lapangan kerja – dengan tingkat pengangguran kota hanya empat persen (angka nasional sekitar 10%), menjadikan Solo masuk dalam lima besar daftar kota ramah investasi, sebuah perbaikan dari urutan 200 sebelum dia menjadi walikota. Dia membangun layanan perizinan satu pintu, “One-Stop Shop”, untuk investor, berdasar pengalamannya di bisnis furnitur. Tekstil, furnitur dan perdagangan marak dengan lima hotel baru sedang dibangun. Pada April 2009, kajian sebuah lembaga Inggris ihwal iklim investasi di Solo melaporkan kalau hampir semua pebisnis bilang kalau pengurusan izin usaha di Solo ‘bersahabat’. Guna memerangi korupsi dan ketakbecusan, Joko kerap bertandang ke kantor-kantor pemerintahan tanpa bewara dan membagi-bagikan nomer telepon selulernya agar orang bisa menelpon langsung. Dia juga punya reputasi diri yang bersih, cukup dengan kekayaan yang dia peroleh selama berbisnis.

7. (SBU) Saat ditanya bagaimana Solo bisa menyediakan semua layanan itu, di saat kota-kota yang lebih kaya bahkan tak bisa menambah jalan berlubang, dia bilang kalau anggaran kota kecil lebih dari cukup untuk berbuat apa saja, sepanjang anggaran dibelanjakan dengan bijak dan tak dicolong.

8. (SBU)Warisan budaya Solo juga berkembang pesat. Dia melabeli Solo sebagai “Kota Pertunjukan Seni” sebab kualitas tari dan teater. Saat Solo menjadi tuan rumah World Heritage Cities Conference tahun lalu, Walikota mengizinkan sebuah kelompok tari menggelar tarian yang seronok, sekadar untuk melihat apakah kelompok radikal bakal meraung. Tak ada respon. Dia tahu kalau seni perlu kebebasan untuk menggeliat dan sebab itu dia ingin menguji kedalaman air.

9. (C) Pendekatan Joko pada radikalisme cukup sederhana: usir kemiskinan, sediakan layanan publik yang baik, ciptakan lapangan kerja dan dengarkan suara orang. Saat pertama kali jadi walikota, Joko menggelar banyak pertemuan dengan tokoh-tokoh radikal, termasuk bos JI Abu Bakar Bashir, untuk meyakinkan mereka agar tak mengganggu Solo. Banyak dari kelompok radikal itu, banyak yang sebenarnya hanya preman, diberi kesempatan kerja sebagai petugas keamanan. Dia menggelar pertemuan mingguan dengan semua perwakilan kelompok radikal.

10. (C) Salah satu alasan kenapa walikota bisa berdialog dengan kalangan radikal mungkin bisa dijelaskan oleh budaya sinkretik yang diyakini bahkan Muslimin Indonesia paling konservatif, yang kepercayaan Islamnya berdasar pada adonan mistisisme Hinduisme dan Budhaisme selama berabad-abad. Duta Besar mengamati kosmologi kompleks ini bekerja saat dia berkunjung ke candi Sukuh di pebukitan di luar Solo. Juru kunci candi bilang ke Duta Besar kalau semua orang besar yang sementara memimpin atau berharap bisa memimpin Indonesia datang ke tempat itu untuk berdoa. Kalangan Muslim itu termasuk: bekas presiden Suharto, Abdurrahman Wahid dan Megawati (yang tidur di candi itu belum lama ini); kandidat presiden Akbar Tandjung yang berkunjung beberapa hari sebelum Duta berkunjung; dan pimpinan JI Bashir yang telah dua kali datang ke candi itu, sebuah fakta yang bisa merusak reputasi fundamentalismenya jika diketahui orang banyak.

11. (C) Kunjungan duta besar diliput oleh semua media lokal dan sejumlah media nasional. Berita-berita mengabarkan kalau Duta nyaman dan mendapat disambut di Solo dan juga seputar masa depan kerjasama Solo dan Amerika. Beberapa hari kemudian, Joko menggelar pertemuan mingguan dengan kelompok-kelompok radikal. Mereka sama sekali tak menyinggung ihwal kunjungan Duta Besar, tapi justru meminta agar peredaran minuman beralkohol dikurangi. Joko dengan halus bilang ke mereka kalau itu bisa merusak turisme.

12. (C) Joko menyambut saran-saran Duta tentang bagaimana memperbaiki citra Solo, yang masih berselimut reputasi sebelumnya. Duta bilang dia telah mengatur kunjungan delegasi National War College pada Mei dan walikota menyambutnya. Ada pula rencana mengirim delegasi wartawan Amerika dan Duta telah meminta media internasional untuk menurunkan berita tentang Solo. Kunjungan Delegasi yang dipimpinan walikota sedang dipersiapkan akhir tahun ini, untuk mengeksplorasi perencanaan kota, pertukaran budaya, pemahaman lintar agama dan sebagainya.

13. (C) Solo berbeda dengan kebanyakan kota di Indonesia – dimana masyarakatnya yang toleran dan pekerja keras mendambakan pemerintah yang bisa memberi mereka kesempatan untuk mencari nafkah dan hidup sesuai keinginan mereka. Mereka telah memilih seorang walikota yang mewakili keingin mereka, dan kalangan radikal mundur teratur.

* * *

Bait-bait manis dalam telegram Hume mungkin menggoda orang untuk berpikiran kalau Kedutaan Amerika adalah soulmate Solo, belahan jiwa, yang mau berkorban apa saja demi nyala demokrasi dan kemakmuran penduduk kota dan sukses pemerintahan Jokowi. Tapi dari penelisikan, analisa dan membandingkannya dengan telegram lain bertema “terrorisme”, Islam Times mendapati adanya kekecewaan besar Kedutaan Amerika pada Jokowi – yang berhasil mereka sembunyikan via sesi foto tiap kunjungan diplomat Amerika ke Solo – dan mungkin sebab itulah mereka merasa perlu menembuskan semua telegram tentang Jokowi dan Solo ke markas CIA, monster haus darah intelijen Amerika yang, di antara semua kebejatannya dalam setengah abad terakhir, ikut bermain di balik amuk massa, pembantaian orang-orang Komunis di Indonesia, termasuk di Solo, pada tahun 1965.

Jokowi: Mimpi Buruk Kedutaan Amerika Serikat

Jokowi, seperti terungkap dalam telegram, masuk bursa walikota Solo dan menang, lewat pintu PDI-Perjuangan; partai yang kerap menggusung ide Sukarno yang anti-Amerika dan cenderung ‘merangkul’ semua pihak yang berseberangan, dari Islam hingga Komunis. Bila rentetan cerita dalam telegram jadi rujukan, ada kesan kuat kalau Kedutaan Amerika gagal mengantisipasi kemunculan dan keberhasilan kerjanya dalam tempo cepat – dan ini kemudian berkembang menjadi mimpi buruk.

Untuk satu hal, tak ada keterangan di WikiLeaks sejauh ini yang memuat cerita kalau Jokowi pernah meminta uang atau bantuan apapun dari pihak Kedutaan Amerika. Pun tak ada telegram yang merekam kalau dia pernah membuka ‘kelemahannya’ ke pihak Kedutaan. Ini berkebalikan dengan sejumlah kepala daerah, di Papua misalnya, yang, dalam telegram yang lain, terang-terangan menanti bantuan USAID, lengan pendanaan-cum-intelijen Kedutaan Amerika. Ini juga kontras dengan tak terhitung kalangan perwira polisi Indonesia yang membagi banyak informasi sensitif negara dan meminta ini dan itu, bahkan hingga alat pandu digital (GPS) yang harganya tak seberapa, dari pihak Kedutaan Amerika.

Telegram juga menampilkan Jokowi sebagai pemimpin lokal paripurna, yang mumpuni dalam karakter dan bisa berbuat banyak hal – tanpa dukungan Kedutaan Amerika. Telegram menggambarkan dia bisa memperkenalkan demokrasi dan tata pemerintahan yang baik dan bersih, bisa menambal jalan berlubang dan memperbaiki hampir semua fasilitas publik dengan dana tak yang seberapa besar – sesuatu yang kerap gagal dicapai banyak kepala daerah dan institusi negara yang banyak makan uang Amerika dalam 45 tahun terakhir.

Di sisi lain, telegram juga menggambarkan kalau Jokowi bisa mencapai sesuatu yang baru berhasil dicapai pihak Kedutaan Amerika, via proyek kontra terorisme rahasia bersama polisi Indonesia, setelah menimbulkan histeria publik, iklim ketakutan, kecemasan, salak senapan dan kucuran darah. Telegram misalnya menggambarkan Jokowi sebagai sosok yang mendorong pendekatan inklusif, merangkul semua pihak yang berseberangan di Solo. Alih-alih misalnya mengadopsi pendekatan bumi hangus atas kalangan radikal – seperti yang dilakukan Detasemen 88 binaan Kedutaan Amerika, dia justru memperkerjakan kalangan ‘pembuat onar’ di Solo, mengajak mereka berbicara, berbagi peran dalam perbaikan kota. Dia juga menolak membeli histeria terorisme yang kerap jadi dagangan diplomat Amerika, bilang kalau populasi kelompok garis keras di daerahnya telah lebih dari tiga persen. Lebih dari itu, dia juga menolak mengukus bara perpecahan dalam masyarakat atas nama kasus terorisme. Yang terakhir tercermin dari keinginannya agar masyarakat Solo merelakan penguburan jenasah ‘teroris’ yang dibunuh oleh polisi Indonesia di kampung halaman mereka sendiri.

Sampai di sini, Kedutaan Amerika dan Jokowi adalah dua pihak yang berdiri di dua rel yang saling memutus. Sukses Jokowi di satu sisi adalah kiamat kecil bagi gerak maju infiltrasi kedutaan di sisi lain.

Tentu saja ada kemungkinan lain: Amerika punya saham di balik kesuksesan Jokowi, ikut sumbang uang dan saran, dan semua itu tak tercatat dalam kawat diplomatik ke Washington dan CIA. Tapi ini kecil kemungkinannya bila mengingat di banyak telegram lain, diplomat Amerika justru seolah membanggakan siapa pejabat, sipil, polisi, militer atau bahkan personel intelijen negara, yang berhasil mereka rangkul, yang mereka perhatikan kenaikan karirnya dan mereka biayai jalan-jalannya ke Amerika dan Eropa.

Jokowi ‘bersih’ dari semua itu, setidaknya dari 3.059 lembar telegram seputar Indonesia di situs WikiLeaks sejauh ini.

* * *

Pada 12 Mei 2011, dua tahun setelah Hume melenggang di jalan-jalan kota Solo, Duta Besar Amerika Serikat yang menggantikannya, Scot Alan Marciel, bertandang ke Solo, jalan-jalan ke pasar kota, bertemu langsung masyarakat dengan Jokowi di sisinya. (Scot sebelumnya adalah Duta Amerika untuk Kawasan ASEAN, salah satu pembaca ‘rutin’ enam telegram seputar Jokowi dan Solo yang dikawatkan periode 2006-2009).

Bila laporan media lokal jadi rujukan, ada kesan kuat kalau tak ada perubahan mendasar dalam hubungan Kedutaan Amerika dan Jokowi: mesra di depan publik, dengan Jokowi masih terlihat sebagai tuan rumah yang bangga dengan pencapaian kotanya, yang mandiri dengan semua kerjanya, dan Amerika ‘hanyalah’ tamu, pendukung asing yang tak pernah ‘bosan’ menumpang kereta kesuksesannya.

Website pemerintah kota Surakarta Surakarta melaporkan kunjungan itu dalam satu paragraf berita berikut: “Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scott Marciel datang ke Kota Solo Kamis 12/5. Dengan pengawalan super ketat Dubes Amerika tersebut didampingi Walikota Solo Jokowi/Joko Widodo mengunjungi Pondok Pesantren Al-Muayyad. Rombongan disambut dengan lantunan salawat dan musik rebana. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayad KH Abdul Rozak menyambut kedatangan kunjungan tersebut . Kunjungan selanjutnya dilanjutkan ke Pasar Gading Solo, di pasar tersebut Dubes AS langsung menuju salah satu kios milik NY.Pawiro (80) dan membeli 1 kg cabai dan 3 kg jeruk pecel dengan uang Rp 110.000. Dubes AS dan istri heran dengan adanya pasar tradisional yang sangat bersih dan rapi sehingga berkali kali terucap kata “ Wonderful, amazing”.”

Lima bulan setelahnya, saat kutipan ‘wonderful, amazing ‘Scot masih terpajang di website pemerintah Surakarta, pada pagi hari 25 September 2011, sebuah bom meledak di sebuah gereja di jantung kota Solo. Teror menghantam ulu hati parwisata kota, memaksa Jokowi memberi perhatian besar pada apa yang sebelumnya telah digadang-gadang sebagai fakta ‘besar’ dan ‘penting’ oleh polisi dan Kedutaan Amerika: terorisme!.

Solo berduka. Tapi bagi Kedutaan Amerika, tragedi itu tak ubahnya sebuah ‘pesta besar’. Teror Solo adalah ajang kembalinya orang-orang peliharaan mereka ke panggung nasional. Di media lepas kejadian, yang berbicara dan mendominasi wacana adalah sosok seperti Nasir Abbas, Sydney Jones dan para petinggi polisi yang telah bertahun-tahun memadu kasih dengan diplomat cum intelijen Kedutaan. Di lapangan, personel Detasemen 88 yang berdandan ala pasukan SWAT Amerika, hadir di lokasi kejadian dengan senjata, kacamata, yang pembeliannya dimodali Kedutaan Amerika.

Teror Solo adalah nampaknya telah memastikan kalau proyek kontra terorisme Kedutaan Amerika di Indonesia tak pernah mati dalam. Selamat datang di laboratorium modern spionase Kedutaan Amerika Serikat. *** (Islam Times/K-014)

Akuntabilitas Seimbang; Antara Freeport Papua dan Pangkalan Amerika di Australia
Islam Times- Dunia globalisasi dengan proyek westernisasinya terlah gagal memberikan kehidupan yang tanpa diskriminatif. Globalisasi adalah wadah yang digunakan oleh kapitalisme untuk lebih melebarkan sayapnya, memperluas hegemoninya.
Photo; Dok, Islam Times
Photo; Dok, Islam Times

Apakah dengan alasan akuntabilitas, Amerika memberi jaminan dan penjelasan ketika penempatan 2.500 pasukan marinirnya di Darwin? Beranikah pemegang tampuk kekuasaan bangsa Indonesia minta kejelasan dan pertanggungjawaban Amerika dan Australia menyangkut ini? Sejauh mana jaminan dan fungsionalitas pasukan “preman” dunia itu?

Dunia globalisasi dengan proyek westernisasinya terlah gagal memberikan kehidupan yang tanpa diskriminatif. Globalisasi adalah wadah yang digunakan oleh kapitalisme untuk lebih melebarkan sayapnya, memperluas hegemoninya. Ekspansinya ke berbagai Negara di dunia terlebih Negara dunia ketiga telah menimbulkan ketidak puasan, protes, pemberontakan, diskriminasi, bahkan genosida.

Amerika sebagai biang dari kekacauan dunia, terus berupaya memperlebar hegemoninya dan berusaha menguasai semua sumber daya alam diberbagai dunia dengan segala macam cara. Penempatan ribuan bahkan puluhan ribu tentaranya diberbagai belahan dunia dan berdirinya pangkalan-pangkalan militer yang bisa mencakup semua benua dengan jalur-jalur strategis bisnis adalah bentuk nyata ekspansi mereka.

Alasan penempatan 2500 personil pasukan AS di Australia, yang disampaikan oleh Obama, dipertegas pula oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel dan diamini oleh Presiden SBY. katanya tidak terkait dengan indonesia. Obama menjamin tidak bertujuan mengganggu negara-negara tetangga, hanya pasukan reaksi cepat yang menanggulangi bencana. Padahal sebelumnya Obama sendiri menegaskan, bahwa AS bertekad mempertahankan posisi kekuatan militer di kawasan Pasifik.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengemukakan hal serupa, bahkan Laksamana Agus mempertegas, pengadaan pangkalan marinir tersebut tidak terkait kondisi keamanan di Papua, tidak ada keinginan untuk mengontrol Freeport. ujarnya mengutip penjelasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden AS Barack Obama, dan Perdana Menteri Australia Julia Gillard. Namun sebenarnya bisa dipastikan, kebijakan luar negeri AS itu selalu bertujuan untuk melanggengkan hegemoninya di dunia dan kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.

Indonesia adalah bangsa yang berdaulat, bangsa yang memiliki harga diri. Maka semestinya pemerintah dan bangsa Indonesia mengetahui dengan pasti tujuan penempatan pangkalan militer AS di Darwin yang hanya 820 km dari Papua. Inilah bentuk akuntabilitas seimbang sebagaimana yang disampaikan Obama. Jika Amerika meminta akuntabilitas terkait Freeport di Papua kenapa kita tidak meminta akuntabilitas yang sama dengan pangkalan militer mereka di Darwin, Australia. Itu pun jika kita merasa sebagai bangsa yang merdeka, berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan bangsa mana pun dan bukannya bangsa budak yang selalu tunduk.

Banyak para pengamat yang menyayangkan sikap pemerintah indonesia. Pengamat hukum internasional Welem Wetan Songa berpendapat, Amerika Serikat dan Australia seharusnya melibatkan Indonesia dalam perundingan pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin. Ini penting karena dampak dari keberadaan pangkalan militer di Darwin dalam jangka panjang akan dirasakan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia.

Dia mengatakan, Indonesia pernah memiliki pengalaman pahit ketika Pemerintah Australia membangun pangkalan militer di Kupang pada sekitar tahun 1940. Keberadaan pangkalan militer Australia itu telah menimbulkan kerusakan-kerusakan dan masalah sosial tetapi sejauh ini tidak ada perhatian dari Pemerintah Australia untuk membuka diri soal ganti rugi.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana meminta supaya Pemerintah Indonesia tidak meremehkan penempatan pasukan AS. Ia juga menyayangkan pernyataan yang mengatakan bahwa keberadaan pasukan AS tidak terkait dengan Papua. Utamanya bila melihat dinamika yang ada di Papua saat ini dan konsekuensinya di masa mendatang. Karena penilaian seperti ini terlalu dini dan kurang memperhatikan konstelasi kepentingan baik ekonomi dan politik AS di Indonesia.

Ketua DPR, Marzuki Alie meminta supaya bangsa Indonesia hati-hati dengan pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin karena bisa menganggu negara-negara di kawasan Asia Tenggara (Asean), khususnya Indonesia. Menurutnya, sangat tidak tepat jika alasannya untuk membantu Indonesia dan negara-negara Asean dalam menghadapi bencana.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin. Ia mengatakan kalau penempatan pasukan cadangan AS akan dapat menimbulkan ketegangan baru di kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia. Mantan perwira TNI itu menambahkan, bila memang pasukan cadangan AS itu untuk membantu Indonesia menghadapi bencana, kenapa diperlengkapi dengan persenjataan canggih. Pasukan reaksi cepat yang dilengkapi persenjataan canggih, pasti untuk kepentingan, termasuk menekan agar PT Freeport tak diganggu.

Maka mestinya pemerintah mempertanyakan dan minta jaminan agar negara-negara ASEAN jangan terpengaruh. Disamping itu Harus dibuktikan bahwa mereka ditempatkan di Darwin bukan untuk mengantisipasi Papua. [Islam Times/sa]

Menyoal Deal dan Kesepakatan PT Freeport dengan Buruh

Islam Times- Kemudian, bukankah deal itu terjadi hanya antara perusahaan dan serikat buruh?. Lalu bagaimana antara perusahaan dan warga lokal (pribumi) yang juga nasibnya lebih menderita? Apa konsekwensi dari deal itu? Adakah jaminan buat warga pribumi disana?
Menyoal Deal dan Kesepakatan PT Freeport dengan Buruh


Pada Rabu, 14 Desember 2011 koran-koran mainstream tanah air hampir serempak menurunkan berita “gembira”, karena PT Freeport akan segera beroperasi kembali di Timika, Papua setelah terjadi deal dan kesepakatan antara Serikat Pekerja dan Manajemen Freeport. Koran Kompas misalnya menurunkan laporannya berjudul “PKB Freeport Disepakati”, sementara Detik Finance memberi judul “Serikat Pekerja dan Manajemen Freeport Berdamai

Benar bahwa kesepakatan bersama antara PUK SPSI yang diwakili oleh Sudiro (ketua SPSI) dan PT Freeport Indonesia diwakili Armando Mahler yang disaksikan langsung oleh Tim Pemerintah dan Richard Adkerson -The Big Boss, super CEO Freeport dan salah satu eksekutif terkaya dunia, saat ini ada di Jakarta- ikut menyaksikan langsung penandatanganan kesepakatan itu. Kesepakatan dan deal itu berlangsung di kantor PT Freeport Indonesia Plaza 89 -poin-poin yang disepakati nanti akan di sampaikan di Timika.

Tentu kita senang, semoga kesepakatan yang dicapai ini menjadi yang terbaik bagi kita semua dari sudut pandang kemanusiaan dan bagi karyawan dan buruh yang mogok kerja.

Namun, dalam gempita gembira buruh Freeport dan PT Freeport yang telah “berkorban” besar dan “deal besar” dengan buruh yang mogok itu, ada pertanyaan yang masih menggelantung. Apa kira-kira konsekuensi dari deal dan kesepakatan itu? Adakah pengorbanan ini isyarat baik bagi Republik ini? Atau deal ini justru menutup pintu RENEGOISASI Indonesia dan PT Freeport yang semestinya memberikan faedah yang lebih besar bagi jutaan bangsa Indonesia, dan tak lagi sekadar bagi 9000 buruh yang mogok?

Kemudian, bukankah deal itu terjadi hanya antara perusahaan dan serikat buruh?. Lalu bagaimana antara perusahaan dan warga lokal (pribumi) yang juga nasibnya lebih menderita? Apa konsekwensi dari deal itu? Adakah jaminan buat warga pribumi disana?

Selain menyoal nasib pribumi yang tak jelas nasibnya, juga menyoal bagaimana nasib belasan pekerja yang tempias karena peluru polisi dan penembak misterius dalam 3 bulan pemogokan ini? Kira-kira siapa yang bakal menuntut keadilan atas darah-darah mereka? Apa tanggung jawab dan pembelaan SPSI atas rekan-rekan mereka yang mati?

Kita malah berprasangka baik, jika yang disebut-sebut deal besar ini semua, tak lebih dari sebuah ilusi dan fatamorgana. Sebab sedari awal semestinya yang berpusat dan menjadi perhatian besar pada Freeport adalah soal RENEGOSIASI kontrak. [Islam Times/on/K-014]


Jangan Anggap Remeh Aksi Sondang Hutagalung

Islam Times- Sejarah bakal mencatat kalau rejim sekarang ini adalah bukti kesekian kebangkrutan pandangan dunia materialistik dan jumawa kaum penguasa; pandangan yang selalu gagal memotret dan memahami kalau di setiap jiwa manusia, ada fitrah suci karunia Tuhan Yang Tinggi.
Photo; Rakyat Merdeka
Photo; Rakyat Merdeka

Hari-hari ini, orang-orang di lingkaran dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih percaya – dan ingin orang banyak percaya – kalau Indonesia kebal dari revolusi ala Timur Tengah. Tak ada alasan untuk cemas, tak ada dalil untuk gelisah. Karenya, orang-orang penting itu selalu sibuk berkampanye kalau rejim Susilo Bambang Yudhoyono telah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat, memangkas angka-angka kemiskinan meskipun di sudut-sudut kolong jembatan yang pengap, banyak anak-anak sebangsa telah mati karena kelaparan dan ratusan bahkan ribuan terbaring lemas berbalut kulit.

Merujuk pada kondisi politik terakhir pasca aksi Sondang Hutagalung, Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam menyesalkan aksi mahasiswa Universitas Bung Karno yang olehnya dianggap keliru. “Pemuda berjuang harus berani hidup, bukan berani mati,” kata Dipo. Kompas.

Tak kalah dari Seskab, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha juga cukup latah mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut bersedih.

Dipo tak cukup dalil untuk menyesalkan aksi Sondang, sebab sebagaimana yang diakuinya sendiri, ia belum mengetahui motivasi apa dan mengapa Sondang Hutagalung nekat menjadi “martir”. Pun Presiden tak cukup alasan sekedar bersedih, sebab selama ini pemerintah terlalu buta tuli untuk menampung kedalaman dan kelembutan jiwa dan aspirasi orang sebangsa.

Barangkali orang-orang di lingkaran dekat presiden mungkin juga lupa, atau pura-pura lupa, kalau revolusi Timur Tengah punya semua yang dibanggakan Jakarta selama ini– jika tak lebih baik.

Bukankah negara-negara Timur Tengah adalah pasar gedung-gedung pencakar langit, orang-orang pintar, cantik, berdasi dan super kaya? Bukankah di sana ada kota-kota yang eksotik, sungai-sungai dan gurun yang menghanyutkan, bursa saham yang angkanya melonjak-lonjak, ada pembangunan dan investasi, dan aneka statistik kemajuan yang selalu sedap di telinga? Tidakkah pula stabilitas politik dan kemapanan ekonomi dan politik sokongan Amerika dan Barat disana menjelma sebelum berganti dengan ledakan kemarahan dan frustasi orang banyak? Sebuah revolusi yang kedatangannya menertawakan kepandaian semua lembaga intelejen dunia, dari CIA hingga Mossad!?

Dalam beberapa bulan terakhir, koran, teve dan majalah di Jakarta – dan media-media Barat tempat media Jakarta berkiblat – umumnya mewartakan Revolusi Timur Tengah dengan sudut pandang yang murah dan mudah ditebak. Rakyat disana marah karena lapar dan banyak pengangguran, polisi main tembak, terjadi kerusuhan, penjarahan, dan pembunuhan. Mereka bilang revolusi bikin ekonomi jungkir balik, hidup susah dan kecemasan di mana-mana.

Tapi Revolusi Timur Tengah bukan kulit ari yang mudah dicubit lalu dikelupas.

Ia melibatkan berjuta jiwa manusia dan sebab itu terlalu tinggi, kompleks dan mulia untuk terjaring hitung-hitungan rendah duniawi para penguasa dan media pro penguasa. Ia spontan dan murni, tanpa tokoh di depan, tanpa partai yang menjaring, tanpa aba-aba dan perintah yang nyaring. Ia menggelinding begitu saja di jalan-jalan, bersama jutaan orang yang hangus hatinya pada penguasa didikan Amerika dan Barat, pada jenderal dan ekonom-ekonomnya, dan pada Amerika dan Eropa dan Israel yang berpuluh-puluh tahun menyanggah pilar-pilar kediktatoran pemimpin kaum berigal.

Ia juga membawa kesejukan demokrasi, tanpa teror dan pembunuhan massal, tanpa bom dan jet tempur layaknya demokrasi yang dipaksakan Amerika via invasi dan pendudukan atas Irak dan Afghanistan dalam satu dekade terakhir. Ia kebal dari bayang-bayang seram mesin-mesin pembunuh rezim penguasa, dari polisi rahasia hingga gas air mata mematikan bantuan Amerika dan Eropah. Ia juga dewasa sebab tak lagi memberi tempat pada jargon-jargon sumbang “demokrasi”, “stabilitas”, “dialog”, “HAM”, dan “reformasi” yang didengung-dengungkan duo Barack Obama dan Hillary Clinton dan dipancarluaskan oleh CNN, Fox News dan teve-teve pro Pentagon sebangsanya.

Kini, hari-hari ini di Jakarta, ada jutaan orang yang ingin melihat kursi kekuasaan presiden segera terjungkal. Jika dulunya mahasiswa yang mendominasi demonstrasi anti-Soeharto, sekarang pasca aksi Sondang Hutagalung, nampak semua lapisan masyarakat akan hadir dan saling menjaga dan meruwat.

Revolusi Timur Tengah adalah mimpi buruk setiap rezim yang tak populer di seluruh penjuru dunia.

Disana, mereka telah menunjukkan kalau Islam dan Kristen bisa bergandengan tangan, petani dari dusun-dusun yang jauh bisa berbaur, berbanjar dan berpolitik bersama barisan dokter, perawat dan jaksa, buruh bangunan, tukang ledeng, pandai besi, pedagang, mahasiswa dan pelajar. Bahkan bocah-bocah SD.

Kini, di Jakarta, rakyat akan membawa bukti kasat mata kalau orang kecil bisa melawan, menuntut hak. Kalau raksasa, bahkan yang kaki-kakinya dikuatkan Amerika dan Israel sekalipun, bisa terguncang dan limbung.

Mereka hanyalah rakyat yang kebutuhannya kecil dan sepele, yang bakal diam jika perutnya kenyang, jika bisa mengkredit motor, mobil dan rumah, jika anaknya bisa sekolah dan berobat gratis. Mereka adalah orang-orang kecil yang seluruh hidupnya, bahkan tujuh turunannya, bisa dipadatkan dalam satu dua digit statistik inflasi, nilai tukar, pertumbuhan ekonomi dan sesukunya. Mereka adalah orang-orang yang keinginannya selalu bisa ditawar murah. Namun harga dirinya tak bisa bisa dikail dan ditenggelamkan dengan senjata dan gas air mata.

Sejarah bakal mencatat kalau rejim sekarang ini adalah bukti kesekian kebangkrutan pandangan dunia materialistik dan jumawa kaum penguasa; pandangan yang selalu gagal memotret dan memahami kalau di setiap jiwa manusia, ada fitrah suci karunia Tuhan Yang Tinggi.

Fitrah yang dengannya setiap orang, tak peduli dia Jawa atau China, dia Papua atau Bugis, Dayak atau Batak cenderung dan selalu mendambakan kebaikan, pada pengorbanan, pada keberanian, kemajuan, kemakmuran, kehormatan diri, pada seluruh sifat baik dan mulia. Fitrah yang dengannya setiap orang juga otomatis tak pernah sudi menanggung kehinaan, penindasan, teror dan eksploitasi, apapun bentuknya.

Hai Jakarta! Ini jiwa manusia Bung!. Bukan angka-angka yang bisa dinolkan begitu saja. [Islam Times/on/K-014]

2 comments to "Walikota Solo : Joko Widodo Solo kota AMAN --> Amerika datang "Bom Meledak"...gak aneh!!!!!Papua hingga matinya mahasiswa"

  1. Riko Deny says:

    soal renegosiasi PTFI dan Pemerintah, bukan urusan Pekerja, bahkan sebenarnya JALAN LEBAR telah di tunjukkan oleh Pekerja melalui PUK SPSI....hanya saja entah kenapa tidak di gunakan....yaaa...entahlah...ada apa sebenarnya....kalau yang cuman ngomong dari luar dan gak pernah ke Timika dan lihat langsung...PERCUMA Bung...sama saja Omong Kosonk...

  2. Riko Deny says:

    Yang tau soal PTFI atau apa saja yang di hasilkannya...yaaa...jangan tanya orang lain...tanya sama Pekerjanya...mana ada PENGUSAHA yang mau ngomong jujur soal berapa keuntungan yang di dapat dari usahanya...hehehehehe....

Leave a comment