Home , , , , , , , , , , , , � SERANG negara Islam...Fitnah mereka..dan pecah belah mereka sesama ISLAM

SERANG negara Islam...Fitnah mereka..dan pecah belah mereka sesama ISLAM


"Selat Hormuz Ditutup, Iran Akan Saya Serang"

Aulia Akbar
Selasa, 24 Januari 2012 11:57 wib
 0  20 0
Foto : Mitt Romney (Getty)
Foto : Mitt Romney (Getty)
TAMPA - Bakal calon kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Mitt Romney mengatakan, dirinya akan melancarkan operasi militer bila Iran menutup Selat Hormuz.

"Penting bagi militer kita untuk menjaga keamanan di laut lepas. Penutupan Selat Hormuz akan menciptakan peperangan," ujar Romney, seperti dikutip AFP, Selasa (24/1/2012).

"Kita akan tunjukkan ke Iran bahwa menutup Selat Hormuz sama halnya dengan aksi teror yang akan menjustifikasi penggunaan sebuah kekuatan militer. AS akan selalu menjaga agar perairan itu tetap terbuka," tegasnya.

Pada saat berkampanye di Tampa, Florida, Romney juga menilai, Angkatan Laut AS tampak melemah dan jumlahnya tidak sebesar pada tahun 1917 silam.

Saat ini, mantan Gubernur Massachusetts itu pun masih bersaing untuk mengalahkan Newt Gingrich yang juga berasal dari kubu Partai Republik. Gingrich terbukti menang di South Carolina dan mendapatkan 40 persen suara. Di South Carolina, Romney yang selalu tampak unggul di beberapa Negara Bagian AS hanya berhasil meraih 28 persen suara.

Meski demikian, tim kampanye Romney menilai, kemenangan yang diraih oleh Gingrich bukanlah hal yang aneh, karena South Carolina adalah daerah yang dipenuhi oleh simpatisan kelompok konservatif.

Meski demikian, Romney tampaknya masih menjadi salah satu bakal calon kandidat presiden yang kuat. Miliuner itu pun didukung oleh mantan rivalnya di pemilihan Presiden AS 2008, John McCain.(AUL)
 

Kapal Induk AS Masuki Selat Hormuz Tanpa Insiden

Khairisa Ferida
Senin, 23 Januari 2012 09:42 wib
 3  26 0
Foto Kapal Induk AS memasuki Selat Hormuz (Reuters)
Foto Kapal Induk AS memasuki Selat Hormuz (Reuters)
WASHINGTON - Sebuah kapal induk milik Amerika Serikat (AS) berlayar melintasi Selat Hormuz dan masuk ke wilayah perairan Teluk Persia tanpa insiden pada Minggu kemarin.

Hal ini terjadi setelah sehari sebelumnya Iran mengancam akan mengambil langkah tegas jika kapal AS kembali memasuki jalur strategis di kawasan itu.

"Kapal induk USS Abraham Lincoln menyelesaikan misinya melewati Selat Hormuz tanpa menimbulkan insiden," ujar juru bicara Armada AS Letnan Rebecca Rebarich seperti dikutip Reuters, Senin, (23/1/2012).

Kapal induk USS Abraham Lincoln yang menggantikan USS John C. Stennis merupakan kapal induk AS pertama yang memasuki kawasan Selat Hormuz sejak akhir Desember lalu dimana ketegangan di kawasan ini terus meningkat.

Sebelumnya Iran telah mengeluarkan ancaman akan melakukan tindakan tegas terkait keberadaan kapal induk USS John C. Stennis di kawasan Selat Hormuz.

"Saya tekankan kepada AS untuk tidak kembali ke Teluk Persia. Kami tidak terbiasa memberikan peringatan lebih dari sekali," ujar Panglima Militer Iran Ataollah Salehi.

Ancaman Iran telah menyebabkan ketegangan di kawasan itu meningkat dan menimbulkan ketakutan terkait stabilitas harga minyak dunia.

Beberapa pekan lalu, Iran melontarkan ancaman akan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur strategi bagi migas dunia jika AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Menanggapi ancaman itu Washington tidak tinggal diam, pihaknya menegaskan, akan melakukan berbagai upaya untuk menjaga agar perairan di Selat Hormuz tetap terbuka.

Pernyataan lebih lunak muncul dari Wakil Komandan Garda Revolusi Hossein Salami terkait kembali armada militer AS di kawasan Selat Hormuz.

"Kapal perang AS telah berada di Teluk Persia dan kawasan Timur Tengah selama bertahun-tahun dan pengiriman kapal induk bukanlah masalah baru. Kami menafsirkan ini sebagai bagian dari kehadiran permanen mereka," ujar Hossein Salami.

Para penjabat Pentagon menolak memberikan komentar terkait pernyataan Salami. Namun Pentagon menegaskan AS akan terus menghadirkan armadanya di kawasan itu sebagai komitmen untuk menjaga keamanan di kawasan dan memastikan keamanan jalur perdagangan internasional.

Ketegangan AS dan Iran telah mengalami peningkatan beberapa pekan terakhir. Hal itu terjadi akibat sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh AS terhadap Iran.

Menyusul tindakan AS, Uni Eropa juga tengah mempertimbangkan menjatuhkan sanksi untuk melakukan embargo terhadap minyak Iran dan membekukan aset dari bank sentral Iran.

Jika sanksi terakhir tidak mampu membuat Iran menghentikan proyek nuklirnya, maka AS tengah mempersiapkan sanksi baru yang menargetkan lembaga keuangan asing yang melakukan bisnis dengan bank sentral Iran.(rhs)
 

Ayatullah Ali Khamenei Dituduh Lakukan Kejahatan Kemanusiaan

Fajar Nugraha
Rabu, 25 Januari 2012 07:30 wib
 0  0 0
Ayatullah Ali Khameni (Foto: Reuters)
Ayatullah Ali Khameni (Foto: Reuters)
WASHINGTON - Reza Pahlevi yang kini menjadi lambang terakhir dari Shah Iran, menyerahkan laporan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menuduh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khameni melakukan kejahatan kemanusiaan.

Laporan terhadap Ayatullah Ali Khamenei itu dilayangkannya setelah pemimpin tertinggi Iran itu dianggap menekan rakyat, usai terjadinya kerusuhan pascapemilu pada Juni 2009 silam.

Menurut Putra Mahkota Dinasti Shah Iran ini, laporan kepada DK PBB itu disertai dengan bukti agar DK PBB bersedia menangani masalah ini secepatnya. Dirinya pun mendesak agar tuduhan tersebut diajukan kepada Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda.

"Selama tiga puluh tahun terakhir dia yang menyebut dirinya sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Iran, mengimplementasikan kebijakan kekerasan kepada etnis minoritas dan pemeluk agama minoritas," jelas Reza Pahlevo seperti dikutip PR Newswire, Rabu (25/1/2012).

"Hari ini saya mendesak kepala negara dari anggota DK PBB, untuk mengajukan kejahatan ini kepada Pengadilan Kriminal Internasional sesuai dengan Ayat 13 (b) dari Statuta Roma demi mengajukan penyelidikan penuh atas kejahatan yang dilakukan pemimpin Iran terhadap warga sipil," imbuhnya.

Reza Pahlevi menambahkan bahwa rakyat Iran sudah terlalu lama menderita. Dirinya menilai rakyat amat membutuhkan dukungan dan bantuan dari dunia internasional.

"Saya mendesak dunia untuk mengambil tindakan terhadap Iran, khususnya kepada negara anggota DK PBB untuk segera mengambil tindakan atas laporan ini," ungkapnya.

Putra Mahkota yang saat ini tinggal di Amerika Serikat (AS) itu berniat untuk segera menyertakan dokumentasi yang mendukung aksi kekerasan terhadap warga Iran.
(faj)
 

Iran Tantang Embargo Minyak Uni Eropa

Fajar Nugraha
Selasa, 24 Januari 2012 16:38 wib
 1  16 0
Presiden Mahmoud Ahmadinejad inspeksi fasilitas nuklir (Foto: AFP)
Presiden Mahmoud Ahmadinejad inspeksi fasilitas nuklir (Foto: AFP)
TEHERAN - Sanksi embargo minyak yang diterapkn Uni Eropa kepada Iran, ditentang oleh negara tersebut. Iran bahkan mengancam akan melancarkan serangan Amerika Serikat (AS), yang mereka anggap sebagai otak pemberian sanksi itu.

Menurut Kepala Intelijen Iran Heidar Moslehi mengatakan, "ekonomi dunia sangat beragam jadi sanksi seperti apapun tidak akan efektif". 

"Sanksi akan membawa keuntungan bagi kami, karena ekonomi Iran tidak akan tergantung dengan negara manapun," jelas Moslehi seperti dikutip IRNA, Selasa (24/1/2012).

Sementara Pemerintah Negeri Paramullah itu menuduh Eropa tengah memicu perang psikologi dengan pihaknya. Namun, Iran sepertinya akan dirudung masalah baru setelah Presiden AS Barack Obama memastikan pihaknya akan menerapkan sanksi atas nuklir program yang dianggapnya mengancam.

Menanggapi ancaman tersebut, Iran pun mengancam menyerang kepentingan AS yang ada di seluruh dunia. Serangan ini akan mereka lakukan bila Washington menggunakan kekerasan dalam membuka blokade di Selat Hormuz. Iran memang sebelumnya mengancam untuk menutup Selat Hormuz sebelumnya.

"Bila ada gangguan yang terjadi atas penjualan minyak Iran, Selat Hormuz sudah pasti akan ditutup," ungkap Wakil Kepala Urusan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Mohammad Kossari.

"Jika AS terus berupaya membuka kembali Selat Hormuz, setelah ditutup, maka Iran akan membuat dunia menjadi tempat yang paling tidak aman untuk Amerika," tambah Kossari, menyusul ketegasan AS yang bersumpah akan menggunakan kekuatan laut mereka untuk tetap menjaga selat itu.

Obama pun mendukung embargo dari UE terhadap Iran. Menurutnya embargo itu memperkuat komitmen dunia internasional untuk melawan ancaman serius dari program nuklir Iran.

"Amerika Serikat akan terus memberikan sanksi guna meningkatkan tekanan bagi Iran," tegas Obama.

AS sebelumnya sudah menerapkan sanksi kepada Iran pada 31 Desember lalu. Sanksi itu termasuk pelarangan penjualan minyak Iran dan melemahkan kinerja bank sentral. 

Senin 23 Januari kemarin, AS pun sudah memberikan sanksi kepada bank terbesar ketiga Iran Bank Tejarat, yang dianggap membantu program nuklir Negeri Presiden Mahmoud Ahmadinejad itu.
(faj)
 

Undang Salman Rushdie, Panitia Pameran Buku Diancam mati

Aulia Akbar
Selasa, 24 Januari 2012 17:01 wib
 0  2 0
Foto : Salman Rushdie (amazonaws)
Foto : Salman Rushdie (amazonaws)
JAIPUR - Direktur dari Festival Literatur Jaipur, India, mendapatkan ancaman mati ketika sebelum novelis Salman Rushdie berpidato di acara tersebut. Penulis buku "Ayat-Ayat Setan" itu dikabarkan akan berbicara lewat video di festival tersebut.

Ketidakhadiran Rushdie dalam festival tersebut dikarenakan banyaknya ancaman pembunuhan terhadapnya. Banyak warga India yang memprotes kehadiran Rushdie di festival itu, meski demikian beberapa orang penulis menuding Pemerintah India melakukan penekanan terhadap Rushdie.

Direktur dari festival tersebut, William Dalrymple langsung mendapatkan ancaman mati. Meski demikian, Dalrymple menolak untuk berkomentar lebih lanjut terkait ancaman yang diterimanya.

Undangan yang diberikan oleh Festival Literatur Jaipur terhadap Rushdie cukup menuai kecaman dari masyarakat India. Hal itu disebabkan karena buku "Ayat-Ayat Setan" yang ditulis oleh Rushdie menjadi buku terlarang di India. Demikian seperti diberitakan Reuters, Selasa (24/1/2012).

Menurut jadwal, Rushdie akan berbicara di festival tersebut pada pukul 15.45 waktu setempat. Penyelenggara pun berharap acaranya akan berjalar dengan lancar dan aman.

Rushdie yang berusia 64 tahun itu adalah seorang asal Iran yang melarikan diri ke Inggris bertahun-tahun, menghindari mendiang Pemimpin Spiritual Iran Ayatullah Khomeini. Pada 1989 silam, Khomeini mengeluarkan fatwa yang memerintahkan umat muslim untuk membunuhnya karena buku karangan Rushdie menghina Islam.

Meski Pemerintah Iran tidak mendukung fatwa yang digagas oleh Khomeini, keberadaan Rushdie di Iran dinilai masih sangat berbahaya. Banyak kelompok garis keras Iran yang memprotes keberadaan Rushdie di negaranya.(AUL)
 

Iran Ancam Bikin Warga AS Tidak Aman

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 24/01/2012 12:10 WIB
Browser anda tidak mendukung iFrame
Selat Hormuz (AFP)
Jakarta - Pemerintah Iran mengutuk keputusan Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi embargo impor minyak Iran. Iran pun kembali mengulang ancamannya untuk menutup Selat Hormuz.

Bahkan sejumlah anggota parlemen Iran mengancam bahwa Irang mungkin saja menyerang target-target AS di seluruh dunia jika Washington mengerahkan kekuatan militernya untuk menghalang-halangi penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Iran.

"Jika ada gangguan yang terjadi menyangkut perdagangan minyak Iran, Selat Hormuz pastinya akan ditutup," cetus Mohammad Kossari, wakil kepala komite urusan luar negeri dan keamanan nasional parlemen Iran seperti dilansir Reuters, Selasa (24/1/2012).

Hal itu dilontarkan anggota parlemen Iran tersebut menyusul dikerahkannya kembali kapal-kapal perang AS, Prancis dan Inggris ke perairan Teluk.

"Jika Amerika mencoba mencari petualangan setelah penutupan Selat Hormuz, Iran akan membuat dunia tidak aman bagi warga Amerika dalam waktu secepat mungkin," tandas Kossari.

Sanksi embargo yang diterapkan Uni Eropa itu disambut oleh AS dan Israel. Presiden AS Barack Obama mengatakan, sanksi tersebut menekankan kekuatan komitmen komunitas internasional dalam menghadapi ancaman serius yang ditimbulkan dari program nuklir Iran.

Obama bahkan mencetuskan, akan ada sanksi-sanksi baru untuk lebih menekan Iran agar menghentikan program nuklirnya. "AS akan terus menerapkan sanksi-sanksi baru untuk meningkatkan tekanan pada Iran," tegas Obama.

Pemerintah AS menerapkan sanksinya atas perdagangan minyak dan bank sentral Iran pada 31 Desember lalu.

(ita/nrl)
 

Hizbullah Bantah Terlibat Kerusuhan di Suriah

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Juru bicara senior gerakan perlawanan Islam Lebanon, Hizbullah membantah tuduhan yang menyebut gerakan Islam itu terlibat dalam kerusuhan di Suriah.

"Ini adalah tuduhan yang menggelikan dan konyol," kata Hussein Rahal Selasa (24/1).

Kepala Biro Informasi Hizbullah itu dalam sebuah wawancara dengan Press TV mengungkapkan bahwa tuduhan baru terhadap Hizbullah merupakan bentuk manuver politik dan sektarian sebagai bagian dari plot untuk menciptakan hasutan di wilayah tersebut.

Selama beberapa bulan terakhir, pihak oposisi pemerintah Suriah berulangkali menuduh Hizbullah terlibat dalam kegiatan terhadap kelompok oposisi Suriah selama kerusuhan di negara Arab itu.

Suriah mengalami kerusuhan sejak pertengahan Maret 2011. Menurut data PBB, sebanyak 5.000 orang tewas di negara ini selama sembilan bulan terakhir.

Barat dan oposisi menuduh pemerintah Suriah bertanggung jawab terhadap pembunuhan yang terjadi, namun Damaskus menyebut kelompok teroris bersenjata yang mendapat dukungan asing dan dikoordinasi dari luar sebagai dalang kerusuhan yang meletus pada pertengahan Maret 2011.

Selama beberapa pekan terakhir, rakyat Suriah berulangkali mengungkapkan solidaritas mereka terhadap pemerintahan Presiden Assad.(IRIB Indonesia/PH)
 

Lagi, Korban Berjatuhan di Saudi

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Sejumlah pengunjuk rasa cidera akibat serangan pasukan keamanan Arab Saudi dalam sebuah demonstrasi damai di wilayah timur. Pada hari Selasa (24/1), petugas keamanan Saudi menembaki demonstran di Qatif yang memprotes rezim Al Saud.

Dilaporkan, beberapa orang yang terluka dalam kondisi kritis. Sembilan orang pengunjuk rasa juga ditangkap dalam demonstrasi anti-rezim di wilayah timur negara Arab itu.

Sehari sebelumnya, pasukan keamanan Saudi menahan Zaher Al-Zaher, seorang aktivis sosial, di kota Awamiyah. Pasukan rezim juga membunuh Essam Mohamed Abu Abdellah, dan melukai tiga lainnya di Awamiyah pada 12 Januari lalu. Pria berusia 22 tahun itu tewas akibat terjangan peluru tentara Saudi.

Sejak Februari 2011, pengunjuk rasa Saudi, terutama di wilayah kaya minyak di dareh timur secara teratur berunjuk rasa menyerukan pembebasan semua tahanan politik, kebebasan berekspresi dan berkumpul, dan mengakhiri diskriminasi yang meluas. Namun, demonstrasi damai berubah menjadi aksi protes terhadap rezim monarki Al Saud, terutama sejak November 2011, ketika pasukan keamanan Saudi menewaskan lima pengunjuk rasa dan melukai banyak orang lain di provinsi timur.

Khatib Shalat Jumat, Sheikh Nimr al-Nimr juga menyerukan rezim Saud untuk menghentikan pertumpahan darah. Pemimpin Syiah kota Awamiyah itu memprediksi bahwa rezim Saudi akan digulingkan jika gagal mengakhiri tindakan keras terhadap rakyatnya sendiri.

Gelombang kecaman datang dari lembaga internasional. Badan Amnesti Internasional Jum'at malam (13/1) merilis statemen mendesak pembentukan tim independen terkait kematian seorang demonstran Arab Saudi di kota al-Awamiyah, timur Arab Saudi.

Amnesti Internasional yang bermarkas di London menekankan petinggi Saudi harus memulai penyidikan secara independen terhadap kematian seorang pemuda Kamis malam dalam aksi demonstrasi di wilayah negara ini.(IRIB Indonesia/PH)
 

Embargo Uni Eropa terhadap Iran, Perang Psikologis Tekan Tehran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Seorang anggota parlemen Iran menyatakan embargo Uni Eropa terhadap sektor ekspor minyak mentah  Iran hanyalah perang media, dan Arab Saudi tidak dapat memenuhi hilangnya minyak Iran di pasar global.

"Arab Saudi tidak dapat mengubah jumlah produksi minyak dalam jangka pendek. Sebab Riyadh merupakan salah satu anggota OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) yang harus mengikuti kebijakan organisasi, "kata Hassan Shabanpour pada hari Senin (24/1).

Menteri luar negeri Uni Eropa mencapai kesepakatan pada hari Senin (23/1) untuk menjatuhkan sanksi terhadap impor minyak Iran, dan membekukan aset Bank Sentral Iran.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton mengatakan sanksi ditujukan untuk menekan Iran supaya kembali ke meja perundingan mengenai program nuklirnya.

Uni Eropa juga menerapkan larangan penjualan emas, berlian, dan logam mulia lainnya ke Iran.

Statemen anggota parlemen Iran ini mengemuka sebagai reaksi atas pernyataan menteri perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi yang mengatakan Riyadh mampu meningkatkan produksi minyaknya untuk mencegah melonjaknya harga harga dunia setelah Uni Eropa menyetujui memberlakukan embargo terhadap minyak Iran.

Shabanpour juga memperingatkan jika masalah ini mengganggu proses ekspor minyak Iran, maka semua negara-negara regional akan terjerat, karena mereka tidak akan dapat mengekspor minyaknya dalam suasana tenang dan aman.

"Saat ini Uni Eropa mencari alasan untuk melaksanakan perang psikologis terhadap Iran,"pungkasnya.(IRIB Indonesia/PH)
 

Cina Pamerkan Kegagalan Embargo Barat atas Minyak Iran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Di saat Uni Eropa baru saja menjatuhkan embargo terhadap ekspor minyak Iran, Cina justru menunjukkan kegagalan sanksi Barat terhadap industri strategis Tehran itu dengan mengirimkan setidaknya dua supertanker untuk mengapalkan minyak dari negara itu.

Clarkson Research Services Ltd, sebuah unit shipbroker terbesar di dunia mengumumkan dua supertanker telah dipesan untuk membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Pulau Khark, Iran menuju Cina.

Qi Lian San, pengangkut minyak mentah besar itu berlabuh dekat Singapura dipesan untuk memuat 270.000 ton minyak mentah dari Pulau Khark pada 3-5 Februari menuju China, kata Clarkson.

Perusahaan minyak China, Zhuhai Zhenrong Co juga memesan sebuah kapal tak dikenal milik perusahaan tanker national Iran untuk mengangkut 265.000 ton minyak mentah di Pulau Khark pada 29 Januari, dan berlayar ke kota pelabuhan Cina, Ningbo.

Bloomberg melaporkan, dua kapal lainnya, Davar dan Hoda bergerak dari terminal minyak Iran menuju Cina.

Kapal pelacak data menunjukkan Davar berlayar ke Ningbo setelah meninggalkan terminal Soroush Iran pada 11 Januari, dan Hoda berlabuh di Shui Dong. Kedua tanker nasional Iran itu memiliki kapasitas angkut yang sangat besar.

Data Bea Cukai juga menunjukkan bahwa Cina mengimpor 2,4 juta metrik ton minyak mentah dari Iran pada bulan lalu.

Pada hari Senin (23/1), menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels sepakat untuk mengembargo minyak Iran yang melibatkan larangan langsung terhadap semua kontrak minyak baru dengan Tehran.

Awal bulan ini, wakil menteri luar negeri Cina mengatakan Beijing menentang tekanan sanksi terhadap Iran.(IRIB Indonesia/PH)
 

Dolar Terpuruk, India Bayar Minyak Iran dengan Emas

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
India sepakat untuk meninggalkan dolar AS sebagai mata uang transaksi internasional dengan Iran. New Delhi akan membayar impor minyak mentah dari Iran dalam bentuk emas.

Situs berita DEBKAfile melaporkan Cina juga akan mengikuti langkah New Delhi tersebut. India dan Cina memasok sekitar satu juta barel per hari (bph), atau 40 persen dari total ekspor minyak Iran sebesar 2,5 juta barel per hari, dan keduanya memiliki cadangan besar emas.

Kebijakan India ini datang menyusul keputusan Uni Eropa menjatuhkan sanksi  baru terhadap Iran. Minyak Iran menyumbang lebih dari sepertiga total impor minyak Yunani, 15 persen  kebutuhan minyak mentah Spanyol, dan lebih dari 12 persen pasokan minyak mentah Italia.

Menteri luar negeri Uni Eropa mencapai kesepakatan pada hari Senin (23/1) untuk menjatuhkan sanksi terhadap impor minyak Iran, dan membekukan aset Bank Sentral Iran.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton mengatakan sanksi ditujukan untuk menekan Iran supaya kembali ke meja perundingan mengenai program nuklirnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague menyebut embargo  Uni Eropa kali ini  sebagai rangkaian sanksi  yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menlu Jerman Guido Westerwelle, mengungkapkan penerapan sanksi adalah tindakan penting yang harus diambil untuk menjamin keamanan di dunia.

Menyikapi keputusan baru Uni Eropa terhadap Iran, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menolak sanksi sepihak terhadap Tehran, dan menilai sanksi akan  tidak akan membantu penyelesaian masalah.

Tehran memperingatkan bahwa embargo akan memiliki konsekuensi negatif seperti kenaikan harga minyak dunia.

Analis politik Jerman Christoph R. Horstel kepada Russia Today Selasa (24/1) mengatakan di tengah krisis ekonomi global embargo impor minyak Iran bisa menjadi bumerang bagi Uni Eropa, sementara Iran akan mengatasi masalah dengan caranya sendiri bahkan di bawah tekanan embargo.

"Semua pelanggan setia minyak Iran akan terus membeli minyak dari Tehran, dan mereka akan menemukan jalannya sendiri, yakinlah," kata Horstel. "Ini adalah sinyal yang saya dapatkan dari Tehran," tegasnya.

Para ahli ekonomi menilai kesepakatan baru India dan Iran meninggalkan dolar maupun euro, dan mengalihkannya dengan emas akan mendorong meroketnya harga emas, dan sebaliknya menekan nilai dolar di pasar dunia. (IRIB Indonesia/PH)

Penistaan Kerjasama Suriah di Sidang Liga Arab

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Sekjen Liga Arab, Nabil al-Arabi dalam sidang khusus para menteri luar negeri negara-negara anggota yang berlangsung Ahad malam (22/1) di Kairo, menyepelekan seluruh upaya pemerintah Suriah untuk mengontrol kondisi di dalam negeri. Al-Arabi juga memperpanjang masa tugas delegasi pengawas Liga Arab di Suriah. Namun al-Arabi menuntut pemerintah Damaskus bekerjasama lebih luas dengan Liga Arab. Sekjen Liga Arab itu juga menyatakan akan mendukung aktivitas delegasi Arab di Suriah dari sisi materi, politik, dan media.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Suriah, Jihad Maqdisi sebelumnya menyatakan, Damaskus tidak akan keberatan jika Liga Arab memperpanjang masa tugas delegasinya di Suriah.

Delegasi Liga Arab telah lebih dari satu bulan beraktivitas di Suriah berdasarkan protokol usulan lembaga tersebut yang juga ditandatangani oleh para anggota parlemen Suriah. Para anggota tim Liga Arab itu dikirim ke berbagai kota di Suriah untuk meninjau dan menyusun laporan soal kondisi di negara yang tengah dilanda krisis itu dan hasilnya akan diserahkan kepada Liga Arab.

Di lain pihak, televisi satelit Arab dan BBC menyatakan, para menteri luar negeri Arab dalam sidang Liga Arab di Kairo, Mesir, merilis resolusi yang menuntut pembentukan pemerintahan nasional bersatu serta pelaksanaan pilpres dan parlemen di Suriah. Para menlu Liga Arab juga mendesak pemerintah Suriah untuk membebaskan para tahanan dan menarik mundur pasukan militernya dari seluruh kota.

Penekanan Liga Arab mengenai pembebasan para tahanan yang terlibat dalam krisis di Suriah itu mengemuka di saat sebelumnya Presiden Bashar Assad dalam beberapa hari terakhir telah memberikan grasi kepada lebih dari 5.000 orang yang ditangkap karena melakukan tindak kejahatan termasuk upaya menyulut fitnah atau konflik etnis dan agama. Para pengamat menilai kebijakan Assad itu merupakan jaminan kuat bagi itikad baik pemerintah Suriah dalam upayanya menyelesaikan krisis di negara ini. Dalam hal ini, Ketua Tim Delegasi Liga Arab, Muhammad al-Daabi, dalam laporannya pada sidang Komisi Kementerian Khusus Penindaklanjutan Kondisi Suriah di Kairo mengatakan, mengapresiasi kerjasama pemerintah Suriah dengan tim Liga Arab.

Dalam kondisi saat ini, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal, Ahad malam (22/1) menuntut penarikan tim delegasi Liga Arab dari Suriah. Pejabat Saudi itu mengklaim bahwa pemerintah Damaskus sama sekali tidak melaksanakan poin-poin yang telah ditetapkan Liga Arab dalam menyelesaikan krisis Suriah. Pernyataan al-Faisal itu kontras dengan berbagai statemen tim delegasi Liga Arab yang mengapresiasi kerjasama dan upaya pemerintah Damaskus dalam menyelesaikan krisis. (IRIB Indonesia/MZ/NA)

Ketulusan AS Meredam Serangan Israel ke Iran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Selama berbulan-bulan, Israel dan sekutu mereka di Amerika Serikat telah menabuh genderang perang terhadap Iran. Namun, resistensi nyata atas perang yang ditunjukkan oleh Presiden Barack Obama telah membuat lunak retorika rezim Zionis. Menteri Peperangan Israel Ehud Barak belum lama ini menyatakan bahwa serangan terhadap Iran masih sangat jauh, dan kami belum membuat keputusan untuk melakukan hal itu."

Ketika ditanya apakah "terlalu jauh" itu berarti memakan waktu berbulan-bulan, Barak menjawab: "Saya tidak ingin memberikan estimasi. Ini tentu tidak mendesak. Saya tidak ingin meresponnya bahwa seolah-olah itu akan terjadi besok. Dunia harus berterima kasih atas nikmat kecil ini."

Bahkan yang lebih menarik adalah ungkapan Haaretz. Harian Israel ini menyoroti perubahan yang sama penting dalam sikap Tel Aviv tentang Tehran. Menurut penilaian intelijen yang akan disajikan kepada Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Martin Dempsey, Israel "yakin" Iran sendiri belum memutuskan apakah akan membuat bom nuklir.

Sementara itu, sebuah aliansi gabungan Yahudi ekstrim Israel dan neokonservatif Amerika Serikat menyatakan keyakinan bahwa mereka akan menang di Washington dan juga di Tel Aviv dalam mendorong perang dengan Iran. Namun, aliansi ini menghadapi kendala dan tidak semulus ketika mereka berkoalisi untuk mendorong invasi AS ke Irak pada tahun 2003. Kali ini, Gedung Putih dan elemen kunci lain dari aparat keamanan nasional AS mati-matian menentang menyerang Iran atau memprovokasi serangan ke Iran.

Presiden Barack Obama belum lama ini mengirimkan surat kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei melalui tiga saluran yang berbeda. Surat itu dilaporkan seruan untuk pembicaraan antara kedua pihak dalam rangka menyelesaikan apa yang disebut kebuntuan nuklir Iran. Meski demikian, agenda AS terhadap Iran sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh Israel. AS adalah badan yang tidak dapat dipisahkan dari kepala yaitu Israel.

Perang di wilayah Timur Tengah, terutama jika dilancarkan atas Iran yang memiliki pengaruh kuat, akan menarik AS lebih dekat dengan tujuan akhirnya, yaitu hegemoni global. Dengan Timur Tengah dalam kekacauan, AS akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengatur strategi, menikmati kebijakan ekspansionis, dan memainkan peran polisi Timur Tengah.

Taktik tersebut mungkin hanya tipu muslihat baru untuk sementara mengurangi kekhawatiran internasional atas ketegangan di kawasan.

Di pihak lain, kekuatan militer Iran juga jangan dianggap remeh, karena Republik Islam telah menjadi kekuatan terunggul di kawasan dengan pengalaman panjang ketika menghadapi invasi sepihak Saddam Hussein. Iran juga mencapai kemajuan pesat di bidang industri rudal. Sebut saja rudal-rudal seperti Shahab, Sejjil, Saqeb, Sayyad, Fateh, Zelzal, dan masih banyak lagi barisan rudal-rudal produksi dalam negeri, baik tipe jarak pendek, menengah, maupun jarak jauh.

Serangan ke Iran akan berdampak buruk bagi perekonomian AS dan Eropa yang sedang diambang kebangkrutan global. Dan yang lebih menakutkan, Iran akan menyerang balik Israel dengan kekuatan penuh dengan menargetkan semua pangkalan militer AS dan Israel di kawasan dan perang akan menjalar ke luar Timur Tengah. (IRIB Indonesia/RM/NA)

Syiah dan Tuduhan Tahrif al-Quran: Tanggapan atas Artikel Era Muslim “Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat”

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Oleh : Muhammad Anis*)

Setelah membaca tanggapan Bung Fahmi Salim yang berjudul "Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat" yang dimuat Eramuslim, pada Sabtu (21/1), saya melihat meskipun ia mengkritik tulisan Bung Haidar Bagir di Republika, namun ia menyampaikannya dengan cukup santun. Tetapi, saat berbicara tentang Syiah, tampak sekali bahwa ia terlalu "pede" dengan hanya bermodalkan kutipan-kutipan dari satu atau dua buku bacaan.

Tulisannya tersebut menggambarkan betapa tidak mengertinya ia tentang mazhab Syiah. Pun menunjukkan betapa sempit dan terkungkungnya pengetahuannya hanya pada pandangan kelompoknya sendiri, dan kurangnya kemauannya untuk belajar tentang pandangan mazhab lain secara proporsional. Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, "Untuk berbicara, orang harus lebih dahulu mendengar. Maka, belajarlah berbicara dengan mendengar."

Karenanya, sebelum berkomentar dan menilai mazhab Syiah, semestinyalah ia belajar atau minimal mendengar terlebih dahulu dengan baik tentang mazhab ini dari sumbernya secara adil. Karena, sebagaimana kata Ibn Hajar al-Haitsami, "Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran."

Tahrif Al-Qur'an

Isu tahrif (distorsi) Al-Qur'an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.

Mengenai pernyataan Adnan al-Bahrani yang dikutip Bung Fahmi, semakin memperlihatkan kepedeannya dengan hanya membaca buku kutipan. Padahal, kalau ia mau, buku ini dengan mudah bisa diperoleh di internet. Buku Adnan tersebut berjudul asli "Masyariq asy-Syamus ad-Duriyah fi Ahaqiyah Madzhab al-Akhbariyah". Di dalamnya, Adnan mengatakan bahwa persoalan tahrif tersebut merupakan "konsensus firqah al-muhiqah dan sesuatu yang asasi dalam mazhab mereka" (hal. 126). Sayangnya, kata "firqah al-muhiqah" kemudian diartikan sebagai Syiah secara umum. Padahal, jelas maksud Adnan hanya sebagian, yaitu merujuk kepada kaum Syiah Akhbariyah, sebagaimana yang tertera gamblang dalam judul bukunya. Selain itu, pada halaman berikutnya, Adnan mengatakan bahwa ulama-ulama Syiah seperti al-Murtadha, ash-Shaduq, dan sebagainya menentang isu tahrif tersebut. Ini menunjukkan bahwa Adnan tidak memaksudkan pernyataannya itu untuk Syiah secara umum.

Mengenai an-Nuri dalam kitabnya "Fashlul Khitab" itu, lagi-lagi Bung Fahmi kepedean dengan hanya mengutip tulisan Ahmad Sa'ad Al-Ghamidi. Berikut saya kutipkan pernyataan murid an-Nuri, Syaikh Agha Buzurg Tahrani, yang menuturkan bahwa an-Nuri berkata, "Saya telah keliru memberi judul buku tersebut. Semestinya saya beri judul: Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab. Karena, dalam buku ini saya telah membuktikan bahwa Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang tidak mengandung tahrif, baik penambahan maupun pengurangan, sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Al-Quran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang meyakinkan. Saya telah lalai untuk menjelaskan dengan tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut, sehingga banyak kritik dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan, karena kelalaian tersebut, penegasannya menjadi sebaliknya. Saya hanya memberi isyarat tentang tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab, yang penting adalah keyakinan bahwa tidak ada ayat lain selain yang terdapat dalam Al-Quran di tangan kita…." [Syaikh Rasul Ja'fariyan, "Ukdzubah Tahrif al-Qur'an Baina asy-Syiah wa as-Sunnah", hal. 137]

Mengenai riwayat-riwayat lainnya, sebagian mesti dipahami sebagai tahrif maknawi (distorsi kontekstual), bukan tahrif lughawi (distorsi tekstual). Hal ini tampak pada riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir, "Di antara ulah mereka yang suka membuang Al-Qur'an adalah membiarkan huruf-hurufnya, tetapi mengubah hukum-hukumnya…" [Al-Kulaini, "Al-Kafi", jil. 8, hal. 53]

Namun demikian, bila ada riwayat yang mengindikasikan tahrif lughawi, maka hal ini telah dibantah oleh jumhur ulama Syiah. Sayid Muhsin al-Amin mengatakan tentang tahrif yang dinisbatkan pada Syiah, "Itu adalah bohong dan dusta. Para ulama Syiah dan para muhadis mereka menyatakan yang sebaliknya." [Sayid Muhsin al-Amin, "A'yan asy-Syi'ah", jil. 1, hal. 46 dan 51]

Bahkan hal ini ditegaskan pula oleh seorang ulama besar Ahlusunah, Rahmatullah al-Hindi, "Sesungguhnya Al-Qur'an al-Majid, di kalangan jumhur Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Apabila ada di antara mereka yang mengatakan adanya tahrif pada Al-Qur'an, maka yang demikian itu telah mereka tolak dan tidak mereka terima." [Rahmatullah al-Hindi, "Izh-harul Haq", jil. 2, hal. 128]

Saya senang mendengar bahwa isu tahrif di kalangan Ahlusunah, seperti riwayat Ibnu Majah tersebut, telah dibantah oleh Bung Fahmi. Untuk itu, saya juga menunggu argumen bantahan lanjutan untuk riwayat-riwayat Ahlusunah berikut:

1.  Khudzaifah berkata, "Pada masa Nabi, Saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Qur'an yang ada saat ini." [Suyuthi, "Durr al-Mantsur", jil. 5, hal. 180]

2. Ibn Mas'ud telah membuang surat Mu'awidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur'an. [Al-Haitsami, "Majma' az-Zawa'id", jil. 7, hal 149; Suyuthi, "Al-Itqan", jil. 1, hal. 79]

3. Umar bin Khattab berkata, "Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri." [Shahih Bukhari, bab Syahadah ‘Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, "Al-Itqan", jil. 2, hal. 25 dan 26;  Asy-Syaukani, "Nailul Authar", jil. 5, hal. 105; "Tafsir Ibnu Katsir", jil. 3, hal. 260]

Laknat Bani Umayah Terhadap Ali bin Abi Thalib Sekali lagi, Bung Fahmi terlalu pede dengan hanya mengutip tulisan Shallabi. Mengenai Al-Madaini yang kata Shallabi dinilai tak bisa dipercaya oleh hampir semua pakar dan imam hadis Ahlusunah, adz-Dzahabi dalam kitabnya "Siyar A'lami Nubala" justru berkata sebaliknya, "Ia memiliki pengetahuan yang menakjubkan tentang sejarah, peperangan, nasab, dan peristiwa-peristiwa di tanah Arab. Ia jujur (shadiq) dalam menyampaikannya. Ia seorang alim dalam isu seputar penaklukan (futuh), peperangan (maghazi), dan syair. Ia seorang yang jujur (shadiq) dalam hal itu." Saya rasa Bung Fahmi tentu tahu bahwa Adz-Dzahabi adalah salah seorang imam rijal hadis Ahlusunah kenamaan. Namun demikian, saya juga ingin menambahkan riwayat tentang pelaknatan Ali tersebut dari sumber-sumber yang lain, di antaranya:

1. Suyuthi berkata, "Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah." [Ibn Abil Hadid al-Mu'tazili, "Syarh Nahjul Balaghah", jil. 1, hal. 356].

2. Ibn Abdu Rabbih berkata, "Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, ‘Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi, Allah dan Rasul-Nya mencintainya.' Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu." [Ibn Abdu Rabbih, "Al-‘Iqdu al-Farid", jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

3. Yaqut al-Hamawi berkata, "Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid." [Yaqut al-Hamawi, "Mu'jam al-Buldan", jil. 1, hal. 191]

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan kepada Bung Fahmi bahwa persatuan itu bukan dibentuk dengan cara memaksa untuk sama. Ini namanya hegemoni dan sewenang-wenang. Persatuan dan persaudaraan hanya bisa terwujud melalui sikap toleran terhadap perbedaan. Selain itu, negeri ini juga bukan negara agama, sehingga tidak semestinya diklaim sebagai milik mazhab tertentu. Wallahu a'lam. (IRIB Indonesia/PH)

*) Kandidat Doktor Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sanksi dan Teror, Cara Barat Menghentikan Iran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis Israel serta rezim-rezim boneka mereka di Timur Tengah, selain memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Republik Islam Iran, juga mengagendakan operasi teror terhadap para ilmuwan negara itu. Dalam aksi terbarunya, Barat meneror ilmuwan nuklir Iran, Mostafa Ahmadi Roshan di utara Tehran. Dalam dua tahun lalu, Ahmadi Roshan termasuk ilmuwan nuklir keempat Iran yang menjadi korban agen-agen Dinas Intelijen Pusat AS (CIA), Mossad Israel, dan MI6 Inggris. Eksekusi terhadap Mostafa Roshan hampir mirip dengan operasi-operasi sebelumnya. Kemiripan itu cukup sebagai bukti atas keterlibatan CIA, Mossad, dan MI6 untuk menghentikan program nuklir damai Iran.

Pernyataan beragam para pejabat Washington, London, dan Tel Aviv di media-media Barat selama ini, mengindikasikan skenario mereka untuk menghentikan program nuklir damai Republik Islam dengan meneror para ilmuwan negara itu. Menyangkut hal ini, tiga tahun lalu harian Inggris, Daily Telegraph menulis, "Israel sedang menyusun agenda untuk meneror para ilmuwan nuklir Iran sebagai bagian dari perang tidak langsung dan terselubung terhadap program nuklir Tehran."

Analis koran New York Times, Seymour Hersh juga membongkar sebuah dokumen, di mana menurut perintah eksekutif tahun 2005, pemerintahan George W. Bush menginstruksikan CIA untuk menciptakan ketidakamanan di Iran. Dokumen ini menunjukkan bahwa anggaran setara dengan 500 juta dolar telah dialokasikan untuk kelompok-kelompok separatis Iran. NBC News dalam sebuah laporan juga menyebutkan upaya-upaya yang berhubungan dengan instabilisasi Iran, termasuk propaganda media, investasi dalam kegiatan teror, dan menciptakan ketidakamanan di perbatasan Iran.

Sebuah dokumen lain tentang peran kotor negara-negara Barat tertuang dalam pernyataan John Sawers, ketua Dinas Intelijen Inggris (MI6). Dia mengatakan, "Kita membutuhkan operasi intelijen dan pengumpulan informasi untuk menutup jalur negara-negara seperti Iran mencapai senjata nuklir." Terkait hal ini, koran Daily Telegraph menulis, "Kerjasama MI6 dan Mossad untuk meneror dan menculik para ilmuwan Iran telah menjadi sebuah kebijakan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir."

Rencana teror para ilmuwan Iran ini bahkan disampaikan dalam debat kandidat presiden di kubu Republik. Newt Gingrich, mantan Ketua DPR AS menyatakan bila dirinya menjadi Presiden Amerika, maka ia akan melakukan operasi rahasia di Iran guna mencegah negara itu membuat bom nuklir. Gingrich begitu menggebu-gebu menyampaikan kebenciannya terhadap Iran dan mengatakan bahwa satu dari operasi rahasia di Iran itu adalah meneror para ilmuwan .

Jurnalis terkenal AS, James Risen dalam sebuah pernyataan mengatakan, CIA dan Mossad telah melakukan kerjasama untuk menggelar operasi destruktif terhadap kemajuan program nuklir Iran. Isu "menghapus ilmuwan" Republik Islam Iran diagendakan oleh pejabat Washington atas usulan para pakar intelijen Amerika Serikat. Sejalan dengan itu, lembaga Stanford (Perusahaan swasta urusan intelijen di AS dan punya hubungan dekat dengan Gedung Putih) dalam sebuah analisa tentang teror para ilmuwan Iran, menyatakan, "Strategi kami adalah menghapus individu-individu penting akademisi Iran."

Pada akhir tahun 2010, New York Time merilis sebuah laporan rahasia yang menunjukkan bahwa AS adalah tersangka utama dalam kasus teror terhadap ilmuwan Iran. Sebuah dokumen yang diterbitkan New York Time menyebutkan bahwa dalam tulisan tangan David Petraeus, Panglima Militer AS di Timur Tengah saat itu dan Direktur CIA sekarang, tertulis, "Pasukan elit, Regu Delta menerima perintah untuk melakukan penyusupan ke Iran dan bekerjasama dengan kelompok-kelompok pembangkang di negara itu untuk mengindentifikasi target."

Dalam dokumen itu, Petraeus menegaskan bahwa operasi rahasia dan militer AS di Iran harus diperkuat dan unit-unit khusus militer perlu dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Timesonline dalam wawancara dengan juru bicara Gedung Putih, menulis, "Para komandan militer dengan sendirinya dapat memimpin operasi intelijen jika sasaran sudah teridentifikasi." Semua dokumen itu memperlihatkan intervensi langsung Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis Israel dalam meneror para ilmuwan nuklir Iran.

Seorang pakar politik, Finian Cunningham kepada Global Research, mengatakan, "Amerika Serikat bersama dengan MI6, Mossad dan teroris lokal telah mendalangi kampanye subversi teroris di Iran dengan tujuan menggulingkan Republik Islam. Ini adalah alasan yang sesungguhnya bagi konfrontasi ketimbang kegiatan nuklir Iran. Pada akhirnya, para eksekutor harus mendapat izin dari AS, karena tidak ada kelompok yang berani melaksanakan teror profil tinggi tanpa izin dari Washington."

Teror terhadap ilmuwan nuklir Iran dilakukan tepat pada saat Amerika Serikat meningkatkan upayanya dan lobi politik di tingkat internasional untuk mempersempit isolasi ekonomi Iran. Sanksi atas Bank Sentral Iran dan embargo sektor minyak negara itu, termasuk kebijakan-kebijakan Washington untuk memberi tekanan ekonomi kepada Tehran dan menghentikan mereka. Akan tetapi menariknya, situs pengayaan uranium Fordo justru memulai aktivitasnya dengan pamasangan sentrifugal di tengah sanksi Barat.

Para pakar nuklir cukup mengetahui bahwa pengoperasian sebuah situs pengayaan uranium membutuhkan teknologi tinggi. Para ilmuwan Iran tanpa bantuan sains dan industri asing, telah mendemonstrasikan kemampuan mereka dalam mengoperasi sebuah situs nuklir baru setelah reaktor Natanz. Fasilitas Fordo dapat memperkaya uranium sampai 20 persen dan jika diperlukan, juga dapat menghasilkan 3,5 persen dan bahkan empat persen uranium yang diperkaya.

Pada 21 Agustus 2011, Iran telah mulai mentransfer sentrifugal fasilitas nuklir Natanz ke situs Fordo. Fasilitas nuklir Fordo, situs kedua Iran untuk memperkaya uranium, terletak di Provinsi Qom, 160 kilometer (100 mil) selatan Tehran. Perlu diketahui bahwa selama beberapa tahun terakhir, Barat menggunakan berbagai metode dan taktik, mulai dari sabotase melalui virus komputer dan sinyal khusus, yang dapat mengganggu kegiatan fasilitas nuklir, hingga rencana untuk menghancurkan dan merusak situs-situs nuklir Iran, tetapi semua upaya mereka telah diidentifikasi dan digagalkan oleh para pakar Iran.

Sejarah 33 tahun Republik Islam Iran menunjukkan bahwa negara ini semakin agresif memacu pertumbuhan dan kemajuan ekonomi dan kemanusiaan jika menghadapi tekanan ekonomi, politik, dan ancaman militer oleh musuh-musuhnya. Sepanjang tiga dekade lalu, AS telah memberlakukan 33 jenis sanksi terhadap Iran dan yang terakhir adalah usaha untuk mengembargo ekspor minyak. Washington sedang berupaya menekan habis-habisan pemerintah Tehran untuk menciptakan ketidapuasan di tengah warga Iran dan memisahkan mereka dengan pemimpinnya.

Namun, seluruh aksi AS sepanjang tiga dekade lalu berujung pada kegagalan. Persatuan dan kesatuan antara rakyat Iran dan pemimpin mereka semakin kokoh dan harmonis. Menurut laporan lembaga dan yayasan internasional, statistik penerbitan makalah ilmiah Iran di buletin dan majalah terkenal dunia, meningkat beberapa kali lipat selama masa sanksi. Semua usaha desktruktif Barat tidak akan menghentikan langkah Iran untuk mencapai kemajuan teknologi dan sains.(IRIB Indonesia)
 

Krisis Ekonomi dan Pudarnya Keutuhan Uni Eropa

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
2012, tampaknya akan menjadi tahun sulit bagi negara-negara Uni Eropa terutama Zona Euro yang sedang dilanda krisis ekonomi. Belum genap sebulan, pada pertengahan Januari ini, lembaga pemeringkat dunia menurunkan ranking kredit sejumlah negara Eropa. Pasalnya, baru-baru ini lembaga Standard and Poor's (S&P) menurunkan peringkat kredit sembilan negara zona euro. Perancis dan Austria harus turun dari triple A. Sementara peringkat kredit Jerman tidak berubah.

S&P dalam siaran persnya menyatakan bahwa penurunan rating ini terutama didorong oleh penilaian mengenai inisiatif kebijakan yang telah diambil oleh pembuat kebijakan Eropa dalam beberapa pekan terakhir yang tidak cukup untuk sepenuhnya mengatasi tekanan sistemik yang sedang berlangsung di zona euro.
Lembaga pemeringkat ini menurunkan rating utang jangka panjang untuk Siprus, Italia, Portugal dan Spanyol sebesar dua level, dan memangkas rating Austria, Perancis, Malta, Slowakia dan Slovenia sebesar satu level.

Krisis utang terburuk di Zona Euro telah memaksa pemerintah Eropa mengadopsi langkah-langkah penghematan ketat dan reformasi ekonomi. Kini muncul kekhawatiran bahwa penundaan lebih lanjut dalam mengatasi krisis utang zona euro bisa menyeret terjadinya resesi ekonomi yang melanda tidak hanya Eropa, tetapi juga seluruh dunia.

Sebelumnya, S&P dan Moody's and Fitch dalam berbagai laporannya di penghujung tahun 2011 menyinggung anjloknya rating kredit negara-negara Zona Euro. Pada Rabu, (22/12) rating kredit Hongaria diturunkan oleh Standar & Poor ke tingkat "sampah". S & P menyebut tingkat utang Hongaria merupakan yang tertinggi di Uni Eropa. Pertumbuhan ekonomi yang rendah dianggap sebagai alasan untuk jangka panjang dan jangka pendek termasuk rendahnya nilai mata uang negara itu membuat mereka terjungkal di peringkat BB+.

Kementerian Ekonomi Hongaria menyesalkan downgrade peringkat rating yang dialami negaranya. Mereka menyebut Hongaria telah menjadi kambing hitam dari krisis euro dan menjadi korban tidak langsung dari "serangan keuangan" kepada Uni Eropa. Dalam pernyataannya kepada media, kementerian itu mengatakan downgrade  itu tidak didasarkan pada analisis keadaan ekonomi dan keuangan terkini Hungaria. Tapi, dipaksa oleh tekanan dari pelaku pasar yang kepentingannya adalah menguatkan dolar dan melemahkan euro.

Kini setiap negara di zona Euro mulai saling menyalahkan antarsesama mereka.
Lembaga pemeringkat Fitch Rating mengumumkan bahwa perekonomian
bermasalah Italia menimbulkan ancaman terbesar bagi krisis keuangan Eropa. Menurut David Riley, analis utama Fitch Rating untuk Amerika Serikat mengatakan, Italia berada di urutan terdepan krisis utang Eropa, mengingat program pinjaman raksasa negara itu dapat menyebabkan situasi berbahaya.

Lembaga pemeringkat ini juga menyatakan rating kredit Italia mungkin akan menurun pada akhir Januari. Negara ekonomi zona euro terbesar ketiga itu mungkin harus meninggalkan blok euro tahun ini. Riley juga memperingatkan bahwa 17 negara zona euro harus meningkatkan pendapatannya sebesar 2 triliun euro pada tahun 2012  demi mengatasi krisis ekonomi mereka masing-masing.

Naiknya Yield obligasi menjadi momok yang menakutkan. Menjelang akhir tahun 2011, Imbal hasil obligasi negara Eropa kembali melonjak sebagai efek dari peringatan lembaga pemeringkat rating S&P. Rating kredit 15 negara divonis dalam pengamatan negatif. Hanya dua negara yang steril dari observasi S&P, yakni Siprus dan Yunani. Kedua negara sudah berada dalam daftar rekomendasi negatif, sedangkan Yunani bahkan telah menerima predikat rating CC atau berisiko tinggi default.

Sementara itu, Perdana Menteri Italia Mario Monti memperingatkan bahwa negara itu bisa ambruk seperti Yunani tanpa langkah-langkah penghematan baru. Dikatakannya, paket pengetatan yang disahkan oleh Senat akan membantu memecahkan krisis utang zona euro. Utang Italia yang diumumkan sekitar 1,9 triliun euro, setara dengan 120 persen dari Produk Domestik Bruto negara itu. Pemerintah Roma menyatakan akan memenuhi target penyeimbangan anggaran hingga tahun 2013, tetapi memperingatkan perekonomian Italia akan tergelincir kembali ke dalam resesi tahun 2012.

Sementara itu Jerman dan Perancis berusaha keras mencari solusi menangani krisis Euro. Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan pembentukan kesatuan fiskal Eropa, dan mengatakan tidak ada cara lain untuk menyelesaikan krisis utang Zona Euro. Ia menandaskan,"Krisis utang Eropa tidak akan berakhir dalam tabuhan gendang. Itu butuh proses dan proses ini akan memakan waktu bertahun-tahun." Merkel telah mencoba membujuk Uni Eropa dan mitra Zona Euro untuk menegosiasikan perubahan perjanjian Uni Eropa guna menegakkan disiplin anggaran dan kontrol utang di Zona Euro. Menurutnya, masa depan Euro tidak dapat dipisahkan dari kesatuan Eropa.

Pemerintah Jerman menegaskan perubahan untuk membangun kekuatan guna memveto anggaran nasional di Zona Euro yang melanggar aturan bersama dan menghukum negara pelanggar aturan itu. Dia menolak tuduhan bahwa Jerman sedang mencari mitra untuk mendominasi Eropa dan menilainya sebagai tudingan yang aneh. Ditambahkannya, kesatuan fiskal Eropa dan sanksi otomatis diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan di pasar.
musik

Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi dalam laporannya kepada anggota parlemen Eropa memperingatkan kebangkrutan bank-bank besar Eropa di tahun 2012. Draghi menyebut stabilitas ekonomi Zona Euro dalam bahaya yang mengancam kelanggengan ekonomi Zona Euro yang semakin memburuk.

Tanpa tedeng aling-aling, Draghi memperingatkan terjadinya perpecahan di tubuh zona Eropa. Dalam sebuah wawancaranya sejak menjabat sebagai gubernur ECB pada 1 November 2011, Draghi mengatakan bahwa negara-negara yang sedang berjuang mengatasi krisis utangnya dengan menghentikan keanggotaannya di Uni Eropa akan menghadap masalah yang lebih besar. Sementara untuk negara-negara anggota yang masih bertahan, tutur Draghi, peraturan Uni Eropa mungkin telah dilanggar. Gubernur ECB itu menegaskan, negara-negara yang telah meninggalkan keanggotaannya dan melakukan devaluasi mata uang mereka akan menimbulkan inflasi yang tinggi dan gagal untuk lari dari reformasi struktural yang mungkin masih akan diterapkan.

Zona Euro semakin ditinggalkan anggota Uni Eropa. Dua anggota Uni Eropa Republik Ceko dan Hungaria tidak berencana untuk mengadopsi euro dalam waktu dekat. Padahal Republik Ceko punya kemampuan meraih dana dari pasar dan sektor perbankannyapun bermodal kuat dan dilindungi oleh simpanan domestik yang besar.

Ketika dahulu negara-negara Eropa berbondong-bondong minta diakui sebagai bagian dari zona euro, kini para anggotanya pun berpikir untuk meninggalkan euro dan kembali memperkokoh mata uangnya sendiri. Seperti kata Perdana Menteri Republik Ceko, Petr Nečas, "Kami setuju bergabung dengan zona euro, tapi bukan persatuan utang." Dan memburuk perekonomian Zona euro meruntuhkan solidaritas Uni Eropa yang pernah digadang-gadang sebagai blok ekonomi dan politik terkuat di dunia. Pekik  yang kini bergema di Eropa adalah menyelamatkan perekonomian negara masing-masing.(IRIB Indonesia/PH)

Manuver Velayat 90, Tampilkan Kekuatan Iran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Manuver Akbar pasukan Angkatan Laut Republik Islam Iran dengan sandi "Velayat 90" yang digelar di wilayah strategis Teluk Persia, Selat Hormuz dan laut Oman telah berakhir. Namun hingga kini, refleksi di lingkaran politik dan berita dunia terus berlanjut.

Latihan pasukan AL Iran telah menunjukkan kepada dunia tentang kekuatan pencegahan dan pertahanan negara ini. Manuver tersebut selain menampilkan kekuatan pertahanan dan pencegahan, juga membawa pesan serius kepada musuh-musuh Iran yang tengah meningkatkan ancaman-ancaman anti-Tehran selama beberapa bulan terakhir ini.

Manuver Velayat 90 digelar selama 10 hari. Latihan itu dimulai pada tanggal 24 Desember 2011 di wilayah yang luasnya dua juta kilometer persegi, dari timur Selat Hormuz dan laut Oman hingga ufuk 10 derajat utara dan Teluk Aden. Latihan ini mencakup operasi dan intelijen.

Keistimewaan manuver Velayat 90 adalah luasnya wilayah operasi latihan. Hal ini menunjukkan kemampuan perangkat lunak dan keras militer Iran dan keberhasilan negara ini dalam mengembangkan senjata-senjata canggih guna mempertahankan kedaulatan dan semua wilayahnya.

Selama latihan, Iran telah menampilkan kekuatan dan kemampuannya dengan mengerahkan berbagai jenis kapal selam dengan kelas yang berbeda, kapal perusak, kapal peluncur rudal, kapal logistik, kapal pengintai, helikopter, pesawat tanpa awak, dan rudal-rudal pesisir yang mempunyai jarak jelajah yang berbeda.

Dalam manuver tersebut, AL Iran juga menggelar operasi tambang secara meluas guna mencegah infiltrasi musuh terhadap instalasi pesisir, kolam-kelam kecil militer untuk tempat pertahanan dan dermaga serta mencegah keluar masuknya unit-unit kapal perang musuh.

Selain itu, pasukan AL Iran juga berhasil menggelar operasi patroli dan pengintaian dengan menggunakan berbagai jenis UAV yang berbasis di laut dan pesisir. Operasi dan pengintaian ini dilakukan di wilayah yang lebih luas dari wilayah latihan, khususnya di ufuk 20 derajat utara dan di atas kapal-kapal perang musuh fiktif.

Manuver Velayat 90 digelar dalam empat tahap, operasi tempur permukaan dan bawah laut, anti-bawah laut, anti-udara dan latihan pertahanan udara terhadap serangan rudal.  Salah satu tahap penting dalam manuver ini adalah latihan penutupan Selat Hormuz jika ada hal yang membahayakan kepentingan-kepentingan dan kedaulatan Iran.

Pembagian luas dari unit-unit pasukan AL Iran di permukaan laut, bawah laut dan udara merupakan taktik penyebaran yang telah dilakukan dalam latihan ini, sehingga pasukan AL Iran mampu menutup segala kemungkinan keluar masuknya kapal musuh dari Selat Hormuz.

Laksamana Habibollah Sayyari, Komandan AL Iran di akhir latihan, mengatakan, "Keberhasilan manuver Angkatan Laut Iran kembali membuktikan kepada dunia bahwa para ahli Iran memiliki kemampuan tinggi dalam swasembada kemampuan pertahanannya, dan bahkan Iran mampu mencapai tahap eksploitas berbagai jenis senjata pertahanan dan militer meskipun dalam kondisi diembargo.

Berkaitan transformasi terakhir dan manuver Velayat 90, media-media Barat menyoroti uji coba rudal jarak jauh Iran dan menyebutnya sebagai perang kekuatan antara Iran dan Amerika Serikat.
Di akhir manuver, Ataullah Salehi, Komandan Angkatan Bersenjata Iran dalam jumpa persnya, seraya menyinggung keluarnya kapal induk AS dari Selat Hormuz pada saat latihan digelar, mengatakan, "Kami mengingatkan kepada kapal induk AS untuk tidak kembali lagi ke Selat Hormuz, sebab kehadiran kapal tersebut merupakan ancaman bagi kita."

Jenderal Jafari, Komandan Pasukan Garda Revolusi Republik Islam Iran dalam menyikapi ancaman musuh, menyatakan, "Iran untuk melakukan strategi pertahanannya tidak perlu meminta izin dari negara manapun." Ditambahkannya, ayat 1 pasal 16 Konvensi Jenewa 1958 tentang hukum kelautan, menyebutkan bahwa negara pesisir dapat mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah lalu lintas yang merugikan negara tersebut.

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Firuzabadi saat berkunjung ke wilayah manuver Velayat 90, seraya menyinggung penampilan kembali kekuatan AL Iran dalam waktu dekat ini, dia mengatakan, "Manuver merupakan salah satu agenda pasukan militer yang akan digelar setiap tahun untuk melatih kesiapan pasukan. Dalam waktu dekat ini kita akan menyaksikan kemampuan AL Iran."

Dia juga menyinggung tujuan manuver akbar Velayat 90 dan menambahkan, "Bangsa Iran dalam teknologi militer dan kemajuan ilmu mengalami pertumbuhan bulanan. Di setiap latihan yang digelar, militer Iran selalu menampilkan senjata canggih dan sesui dengan doktrin militer Iran yaitu pertahanan dan pencegahan." Selain itu, Firuzabadi menegaskan, bangsa Iran tidak bisa diancam siapapun dan setiap orang yang berniat mengancam bangsa ini maka dia harus membayar mahal atas ancamannya tersebut.

Para pejabat politik dan militer Iran telah berulang kali mengisyaratkan bahwa Iran memiliki mayoritas perbatasan pesisir dengan Teluk Persia dan laut Oman dan negara ini  bukan ancaman bagi negara pesisir, tetapi justru yang menjamin keamanan jalur strategis Teluk Persia ini. Kekuatan dan kemampuan militer Iran memiliki unsur pertahanan dan pencegahan. Jika negara-negara Barat ingin mengancam kepentingan-kepentingan ekonomi dan keamanan Iran dengan ancaman militer dan sanksi, maka Iran pun akan membalas dengan ancaman pula. Sikap ini adalah hak bagi setiap negara di dunia yaitu ketika diancam maka akan mereaksi dengan hal sama.

Amerika Serikat dan sekutunya serta sejumlah negara Arab yang berafiliasi dengan kebijakan-kebijakan hegemoni AS tengah memulai fase baru ancaman mereka terhadap Iran. Dengan menyebarkan kebohongan soal program nuklir sipil Iran dan memprovokasi dengan cara menyebarkan Iranphobia, mereka berupaya memaksa bangsa Iran untuk mengundurkan diri dari hak-haknya di perjanjian-perjanjian internasional, termasuk perjanjian Non-Ploriferasi Nuklir (NPT).
Musuh-musuh Iran berusaha memojokkan negara ini dengan berbagai cara, di antaranya dengan menyebarkan isu bahwa Iran tengah mengembangkan program nuklirnya untuk tujuan militer. Namun sebenarnya ada tujuan yang di kejar oleh AS dan sekutunya di Eropa serta Timur Tengah yaitu untuk menutupi kekalahan mereka akibat adanya kebangkitan rakyat anti-despotik yang telah sampai pada puncaknya.

Akibat adanya kebangkitan rakyat di Timur Tengah dan Afrika Utara, Amerika dan rezim Zionis Israel kehilangan satu persatu sekutunya di kawasan. Keselarasan langkah sejumlah rezim otoriter di Teluk Persia dengan kebijakan Amerika dalam mengancam dan menekan Iran, sebenarnya merupakan upaya untuk melindungi rezim-rezim ini. Mereka membayangkan dengan mengembargo ekonomi Iran, khususnya sanksi terhadap minyak, akan mampu meraih ambisi-ambisi mereka. Padahal selama 33 tahun dari umur Republik Islam Iran, negara ini selalu menghadapi berbagai macam embargo dan sanksi ekonomi dan bahkan ancaman militer.

Ancaman-ancaman musuh tidak mengganggu keinginan dan perlawanan bangsa Iran untuk tetap bertahan dalam menghadapi ambisi-ambisi hegemoni Amerika dan rezim-rezim sekutunya. Bahkan sebaliknya, dalam kondisi saat ini bangsa Iran justru menggapai kemajuan yang signifikan. Keberhasilan Iran di sebagian sektor hanya dimiliki oleh sejumlah negara di dunia. Kemampuan dalam pengayaan uranium hingga mengeksploitasinya di reaktor nuklir, hanyalah satu dari sekian banyak keberhasilan Iran.

Manuver Velayat 90 Angkatan Laut Republik Islam Iran di perairan Teluk Persia dan Selat Hormuz juga termasuk keberhasilan negara ini dalam memproduksi senjata-senjata canggih supaya musuh-musuh Tehran memahami bahwa bangsa Iran dalam kondisi kesiapan penuh untuk membela kepentingan dan keamanan negaranya. (IRIB Indonesia/RA/NA)

Dilarang Berziarah Ke Kuburan Saddam, Wahabi Kebakaran Jenggot

Disebutkan oleh media setempat, sejak beberapa hari yang lain kuburan Saddam di desa Al 'Aujah ditutup untuk umum oleh pemerintah setempat dan mencegah para pengunjung untuk merengsek masuk ke dalam bangunan yang didalamnya terdapat kuburan mantan Presiden Irak tersebut, yang kemudian mendapat kecaman dari kelompok Wahabi.

Dilarang Berziarah Ke Kuburan Saddam, Wahabi Kebakaran JenggotMenurut Kantor Berita ABNA, media cetak yang terbit di Arab Saudi, "Sahifah al Madinah" dan "Ar Riyadh" dalam terbitan terbarunya mengecam pelarangan berziarah ke kuburuan Saddam Husain mantan diktator Irak. Pemerintah Irak sebelumnya telah mengeluarkan pelarangan berkunjung dan berziarah ke kuburan Saddam Husain, yang sebelumnya masih terbuka dan banyak dikunjungi oleh pendukung Saddam dari berbagai Negara termasuk dari kelompok Wahabi dari Arab Saudi. Begitu pemerintah Irak melakukan pelarangan, kecaman keras mengalir deras dari pendukung Saddam di Arab Saudi. Sementara pada saat yang sama mereka mengutuk umat Islam yang berziarah ke pemakaman Baqi dan makam-makam keturunan Rasulullah saww dengan menyebut berziarah kemakam-makam suci tersebut sebagai amalan kemusyrikan.

Disebutkan oleh media setempat, sejak beberapa hari yang lain kuburan Saddam di desa Al 'Aujah ditutup untuk umum oleh pemerintah setempat dan mencegah para pengunjung untuk merengsek masuk ke dalam bangunan yang didalamnya terdapat kuburan mantan Presiden Irak tersebut, yang kemudian mendapat kecaman dari kelompok Wahabi.

Perlu untuk diingatkan. Kelompok Wahabi pernah melakukan pelarangan mutlak kepada kaum muslimin sedunia untuk tidak berziarah ke pemakaman Baqi, namun karena tidak mendapat respek pada tahun 1925 mereka melakukan perusakan besar-besaran terhadap pemamakan Baqi. 
 
Mendukung Pemerintahan Iran, Imam Shalat Jum'at Sunni Dibunuh
Kelompok anti revolusi di Iran bertekad melakukan aksi teror kepada tokoh-tokoh Sunni yang mendukung revolusi Islam Iran. Imam Jum'at Sunni dibunuh setelah menyampaikan ceramah dukungannnya terhadap revolusi Islam Iran dan menganggap bahwa mengkritik Al Sa'ud dan Al Khalifah adalah kewajiban para ulama Ahlusunnah di Iran.

Mendukung Pemerintahan Iran, Imam Shalat JumMenurut Kantor Berita ABNA, Mawlavi Jhanggi Zahi terbunuh dalam sebuah aksi teror oleh kelompok anti revolusi di kota Rasak, bagian selatan Sistan dan Balucistan sore Jum'at (18/1) lalu. Pelaku dengan mengendarai sepeda motor bersama pemboncengnya melepaskan tembakan yang diarahkan ke imam Sunni tersebut.
Mawlavi Jhanggi Zahi sebelum ini menyatakan dukungannya atas hukuman gantung sampai mati terhadap pimpinan kelompok teroris selatan Iran dalam sebuah wawancara saluran Sidaye Sima. Setelah itu beliau menerima ancaman bunuh dari anggota kelompok teroris Rigi.
'Abdul Rauf Rigi, saudara Abdul malik Rigi yang merupakan penasehat dan pendiri kelompk teroris Wahabi tersebut berkali-kali telah menyampaikan secara terbuka darah Mawlavi Jhanggi Zahi ini halal untuk tumpahkan karena dukungannya terhadap orang-orang kafir Syiah.
Setahun yang lalu beberapa anggota kelompok teroris tersebut (yang digelari oleh wara setempat Laskar Syaitan) melakukan penyerangan ke dalam rumah Mawlavi Jhanggi Zahi dan sempat menyandera anak-anak dan isteri beliau. Namun percobaan pembunuhan agamawan Sunni tersebut gagal.
Mawlavi Mustafa Jhanggi Zahi adalah imam shalat Ahlusunnah kota Rasak, selatan Sistan dan Balucistan telah ditembak mati oleh dua pengendara motor ketika dalam perjalanan pulang ke rumahnya setelah menunaikan shalat Jum'at.
Mawlavi Jhanggi Zahi mengakui sudah beberapa kali menerima ancaman bunuh dari kelompk-kelompok Wahabi supaya keluar dari wilayah Sistan dan Balucistan. Namun beliau menganggap mati syahid di jalan revolusi Islam adalah sebuah kebanggaan buat dirinya. Beliau juga tidak segan-segan membongkar kesesatan firqah Wahabi dan siapa saja dalang dibalik aksi-aksi teror di wilayah Sistan dan Balucistan yang berupaya merusak persatuan Sunni-Syiah di wilayah tersebut.
Sebelum ini anak lelaki beliau pernah diculik oleh teroris Wahabi, namun beliau masih tetap mempertahankan dukungannya terhadap revolusi Islam.
Ucapan-ucapan Mawlavi Jhanggi Zahi tidak hanya dalam membongkar kedok wahabi dan kelompok teroris Rigi, malah sepanjang setahun yang lalu beliau menganggap bahwa mengkritik Al Sa'ud dan Al Khalifah adalah kewajiban para ulama Ahlusunnah di Iran.

Pihak musuh sekarang ini mulai mengambil langkah membunuh pendukung-pendukung sistem Republik Islam Iran. Kelompok-kelompok anti revolusi di seluruh Iran mulai putus asa karena segala upayanya termasuk aksi pembunuhan tidak membuahkan hasil apapun, bahkan semakin memperat persatuan dan kesatuan rakyat Iran di bawah pimpinan Wilayatul Faqih. Kelompok anti revolusi baru-baru ini juga berhasil membunuh pakar nuklir Iran di Teheran dan dua anggota kesatuan militer di Kharram Abad.
 
Berpaling dari Mazhab Ahlul Bait Penyebab Kekalahan Umat Islam
"Karenanya tidak ada pilihan lain bagi umat Islam selain berpegang teguh terhadap wasiat Nabiullah Muhammad saww. Antara Al-Qur'an dan Ahlul Bait tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah mata air kecemerlangan, sumber ilmu dan rujukan umat. Berpaling dari keduanya atau salah satunya adalah penyebab kesesatan. Musuh-musuh akan sangat mudah menguasai dan menjajah mereka yang berpaling dari wasiat Nabi dan menyelisihi jalan Ahlul Bait."

Berpaling dari Mazhab Ahlul Bait Penyebab Kekalahan Umat IslamMenurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Husain Nuri Hamadani, hari Senin (23/1) dalam pertemuannya dengan berbagai lapisan masyarakat Qom mengenang hari-hari duka di sepuluh hari terakhir bulan Safar menyatakan, "Untuk menjaga keutuhan dan persatuan umat Islam sepeninggalnya, Nabi Muhammad saww menjelang wafatnya telah memberikan wasit yang harus dipegang teguh oleh kaum muslimin."

Beliaupun kemudian lebih lanjut mengatakan bahwa penyebab utama kemunduran umat Islam saat ini, dan betapa mudahnya musuh-musuh Islam memporak-porandakan barisan umat Islam karena umat Islam saat ini tidak berpegang teguh pada wasiat Nabi saww itu. "Nabi Muhammad saww menjelang wafatnya berkali-kali memperingatkan umatnya agar jangan sampai meninggalkan Al-Qur'an dan Itrah (keturunan)nya atau memisahkan antara keduanya satu sama lain, karena berpegang pada keduanyalah sumber keselamatan dan bagi mereka yang berpegang teguh pada keduanya, tidak akan tersesat selama-lamanya. Namun sayangnya, sepeninggal Nabi wasiat tersebut diabaikan dan keluarga Nabi disingkirkan yang akhirnya menimbulkan prahara yang tak berkesudahan dalam dunia Islam." tegasnya.

Hadhrat Ayatullah Nuri Hamadani kemudian menambahkan, "Berabad-abad lamanya umat Islam dibawah penguasaan raja-raja yang zalim. Namun revolusi Islam Iran dengan kepemimpinan Imam Khomeini ra mampu membangkitkan semangat keislaman dan menggulingkan rezim dan menggantikannya dengan sistem Islam."

"Suatu hal yang patut disyukuri, semangat kebangkitan umat Islam di Iran akhirnya menjalar juga ke Negara-negara muslim lainnya. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran dan ketakutan Negara-negara Barat. Sebab ketika umat Islam kembali kepada jalur yang sebenarnya, maka umat Islam akan menjadi kuat dan jaya dan sulit untuk bisa ditaklukkan." Tambahnya.

Dipenghujung ceramahnya Ayatullah Nuri Hamadani menyampaikan pesan dan harapannya, "Karenanya tidak ada pilihan lain bagi umat Islam selain berpegang teguh terhadap wasiat Nabiullah Muhammad saww. Antara Al-Qur'an dan Ahlul Bait tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah mata air kecemerlangan, sumber ilmu dan rujukan umat. Berpaling dari keduanya atau salah satunya adalah penyebab kesesatan. Musuh-musuh akan sangat mudah menguasai dan menjajah mereka yang berpaling dari wasiat Nabi dan menyelisihi jalan Ahlul Bait."
  
Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur'annya Satu
"Tidak perlu lagi ada dikotomi Sunni dan Syiah, kesemuanya bersaudara, sama-sama umat Islam, Al-Qur'an kita satu. Anda sendiri melihatnya, di negeri ini, saya hanyalah salah seorang diantara ribuan hafiz yang ada. Apa yang kami hafal, baca dan kaji sama dengan Al-Qur'an yang dicetak di Negara anda. Anda juga tengah berada di dalam masjid yang sebentar lagi dipenuhi orang-orang untuk shalat Jum'at berjamaah, yang pada hari yang sama juga dilakukan oleh umat Islam di negeri anda."

Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur"Silahkan buka tas saudara, kami periksa."

Sejak awal, memang saya agak ragu kalau bertemunya masjid, apalagi di hari Jum'at. Tidak sebagaimana di Indonesia, penjagaan dan pengawalan bagi para jama'ah shalat Jum'at di beberapa kota besar di Iran super ketat. Sebelum memasuki masjid, para jama'ah harus bersedia di periksa dan digeledah barang bawaannya. Bukan tanpa alasan mereka melakukannya. Iran dipenuhi dengan cerita dan kisah-kisah tragis mengenai ulama-ulama dan cendekiawan mereka yang harus meregang nyawa oleh serangan kelompok anti revolusi yang bahkan tidak segan-segan melakukannya di masjid sekalipun. Cerita terakhir dipenghujung tahun 2010 mengenai Dr Majid Shahriari, salah seorang pakar nuklir Iran yang menjadi korban peledakan bom. Mobil yang dikendarainya meledak setelah sebelumnya diberi bahan peledak oleh kelompok anti revolusi Islam. Karenanya, sampai hari ini pengawalan dan penjagaan ketat bagi orang-orang penting Iran masih terus dilakukan. Termasuk menjamin diantara jama'ah shalat tidak ada yang membawa sesuatu yang membahayakan, terutama bagi Khatib Jum'at yang memang termasuk deretan ulama-ulama besar.

Tidak menemukan sesuatu yang asing dari tas punggungku yang cuman berisi mushaf saku, charge HP, dua buku pelajaran dan kertas-kertas kosong, mereka beralih memeriksa tubuhku. Mujtaba yang telah diperiksa lebih dulu sebab hanya membawa mushaf saku dan satu buku pelajarannya, hanya tersenyum melihatku digeledah.

"HP bisa dibawa masuk, tapi mohon untuk dimatikan."

Saya bernafas lega. Saya sempat khawatir kalau HPku disita dan terlarang masuk areal masjid.

"Maaf, memang di Iran seperti ini, untuk shalat Jum'at harus digeledah dulu." Mujtaba menjelaskan.

"Iya saya tahu." Jawabku sambil membenahi isi tas yang telah diobrak abrik. Saya sudah berkali-kali mengalaminya. Bahkan untuk memasuki kampus sendiri harus digeledah, ketika kampus kedatangan tamu penting, pejabat penting kenegaraan atau ulama besar. Bagi warga Iran, shalat Jum'at bukan sekedar ibadah ritual tiap pekan, namun juga semacam pertemuan politik karena para khatib selalu mengobarkan semangat perjuangan Islam dalam khutbah-khutbah Jum'atnya. Mungkin karena itulah shalat Jum'at sangat sensitif dan rawan sabotase. Penjagaan diperketat jangan sampai ada diantara jama'ah yang membawa bahan peledak.

Masjid besar yang berada satu areal dengan kompleks pemakaman Sayyidah Fatimah Maksumah ini meskipun baru jam 10 pagi namun telah cukup berisi banyak jama'ah. Memang untuk bisa mendapat tempat di shaf-shaf terdepan, harus datang lebih awal. Sebab di Iran, pelaksanaan shalat Jum'at di pusatkan di satu masjid untuk satu kota besar. Jadi wajar, jika setiap shalat Jum'at, jama'ah meluber sampai ke jalan-jalan sebab kapasitas masjid tidak mampu menampung jama'ah yang jumlahnya sampai puluhan ribu orang. Sambil menunggu, jama'ah yang sudah ada biasanya mengaji, membaca buku, mengulang pelajaran sekolah atau sekedar mengobrol.

Untuk kepentingan wawancara ini, sayapun mencari tempat di sudut masjid yang masih kosong. Saya janjian dengan Mujtaba dua hari sebelumnya. Karena tidak ada pilihan hari lain, sebab esoknya, di kampusku telah memasuki musim ujian. Juga sangat tidak memungkinkan melakukan wawancara ke rumahnya, masyarakat Iran mentradisikan keluar rumah di malam Jum'at dan hari Jum'at. Jadi meskipun merupakan hari libur, namun hari Jum'at bagi masyarakat Iran adalah hari yang penuh aktivitas dari malam hingga keesokan harinya. Malam Jum'at mereka isi dengan pembacaan do'a dan zikir bersama di masjid-masjid, keesokan harinya, sekitar pukul 07.30 pagi mereka kembali berbondong-bondong ke masjid buat membaca do'a Nudbah berjama'ah. Sekitar pukul 10 pagi, secara serentak mereka menuju ke Haram Sayyidah Maksumah untuk persiapan shalat Jum'at berjama'ah. Menariknya, kaum perempuan Iran juga turut melaksanakan shalat Jum'at.

"Boleh dimulai wawancaranya?", kataku memecah keheningan setelah Mujtaba menuliskan biodatanya di kertas kosong yang saya berikan.
"Silahkan"

"Oh iya, tidak apa saya aktifkan HP? wawancara ini harus saya rekam."
"Iya tak apa, asal jangan sampai ketahuan petugas masjid." Matanya memandang sekitar. Tampak beberapa petugas berkeliaran, mewaspadai siapa saja yang dilihatnya.

HP saya letakkan di sisi tas, agar tidak mudah kelihatan.
"Mujtaba, kamu hafal berapa juz Al-Qur'an?"
"Saya hafal 30 juz."
"Menurutmu, Al-Qur'an itu bagusnya di hafal atau dipelajari?"
"Menurutku dua-duanya. Al-Qur'an harus dipelajari dan dihafal."
"Tetapi bukankah dalam Al-Qur'an tidak ada perintah buat menghafalnya?"
"Setahu saya memang tidak ada. Namun perintah untuk senantiasa membaca dan mentadabburinya ada. Dan menurut saya, cara untuk bisa senantiasa membaca dan mentadabburinya adalah dengan menghafalnya. Orang yang menghafal Al-Qur'an bisa membacanya kapan dan dimana saja dan pentadabburan atasnya bisa lebih mudah dilakukan dibanding yang tidak menghafal."

"Kamu sejak kapan menghafal seluruh Al-Qur'an?"
"Saya menghafal keseluruhan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan tahun ini."

"Kapan kamu memulainya?"

"Saya memulainya sejak awal memasuki SD, sewaktu berumur 6 tahun. Namun karena tidak memiliki jadwal yang teratur dan metode yang tersistematis, sampai kelas 2 SMP saya menghafal tidak sampai 15 juz. Baru setelah menjelang naik kelas 3 saya tertarik dengan program kelas khusus Jamiatul Qur'an, yaitu program hafal 30 juz Al-Qur'an dalam setahun. Sayapun mendaftar dan dinyatakan lulus untuk mengikutinya. Karenanya dalam setahun itu, saya terpaksa harus meninggalkan sekolah dan total berkosentrasi dengan program Jamiatul Qur'an tersebut. Alhamdulillah, setahun itu, meskipun belum menghafal total seluruh Al-Qur'an, namun setidaknya saya bisa melanjutkan sendiri sisanya yang tinggal sedikit. Berkat taufik dari Allah Azza wa Jalla, pelajaran yang saya tinggalkan selama setahun bisa saya susul dalam 2 pekan. Sehingga tetap bisa mengikuti ujian akhir. Setelah itu, memanfaatkan liburan musim panas, saya melanjutkan hafalan, dan berhasil menghafal keseluruhan Al-Qur'an, pada bulan Ramadhan tahun ini."

"Jadi sekarang kamu kelas berapa?"
"Saya telah menyelesaikan SMP dan tahun ini kelas pertama saya di Madrasah Rusyd."

"Apa itu SMA?"
"Iya, bisa dibilang setingkat SMA, tapi bukan SMA, melainkan Hauzah Ilmiyah dibawah bimbingan Ayatullah Mizbah Yazdi."

Saya mengangguk. Kubiarkan dia menghela nafas sejenak. Seorang petugas masjid berlalu di belakang kami.
"Soal lainnya, apa kedua orangtuamu juga penghafal Al-Qur'an?"
"Bukan. Keduanya memang tidak menghafal Al-Qur'an, namun banyak berperan dalam proses penghafalan saya."

"Apakah menghafal Al-Qur'an keinginan kamu sendiri, atau saran orang tua?"

"Benar-benar murni keinginan saya sendiri, yang Alhamdulillah kedua orangtua saya mendukungnya. Sebelum kami sekeluarga ke Qom, di kota kami sering diselenggarakan musabaqah hafiz Al-Qur'an. Bukan hanya hafiz dari Iran, namun juga dari beberapa negara lainnya, seperti Tajakistan. Namun saya ragu dan lupa, apa waktu itu ada hafiz yang berasal dari Indonesia atau tidak. Yang pasti, saya begitu tertarik melihat para hafiz tersebut melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an lewat hafalannya tanpa harus membaca mushaf. Setiap ada penyelenggaraan musabaqah hafiz Al-Qur'an bisa dipastikan saya selalu menontonnya, dan saya pun bertekad ingin seperti mereka."
"Sampai akhirnya, dalam sebuah majelis Al-Qur'an pada malam Milad Imam Hasan Mujtaba, saya bertemu Ayatullah Hadi Syirazi, salah seorang ulama besar yang menjadi imam Jum'at Syiraz dan wakil Rahbar di Syiraz. Saya menyampaikan keinginan kuat saya kepada beliau untuk juga bisa menghafal Al-Qur'an. Beliaupun menyarankan agar saya belajar di Hauzah Ilmiyah Qom dan menghafal Al-Qur'an di kota tersebut. Tahun itu juga, saya bersama ibu saya untuk pertama kalinya ke kota Qom, dan bertemu dengan Sayyid Husain Thabathabai. Beliaupun mengajak saya untuk belajar di Jamiatul Qur'an. Saat-saat itu benar-benar sangat membahagiakan saya. Tanpa membuang waktu, tahun itu juga saya ikut program menghafal 30 juz Al-Qur'an dalam setahun." Lanjutnya.

"Terus ayah kamu bagaimana?"
"Ayah saya seorang guru. Karena saya ikut di Jamiatul Qur'an di Qom, beliapun akhirnya mengurus kepindahan ke Qom, dan akhirnya kami sekeluarga sekarang menetap di kota ini."

"Pekerjaan ibu kamu apa?"
"Ibu saya sebelumnya juga guru, bahkan kepala sekolah di sebuah sekolah khusus perempuan. Namun beliau memutuskan sepenuhnya menemani saya selama mengikuti program penghafalan Al-Qur'an. Di rumah beliau selalu membantu saya dalam pengecekan hafalan."

"Jadi sekarang ibu kamu tidak bekerja lagi?"
"Iya, beliau sepenuhnya ibu rumah tangga."

"Setiap hari libur, apa saja yang kamu kerjakan?"
"Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti, sebab aktivitas saya setiap libur selalu bermacam-macam. Terkadang sekedar mengecek hafalan, atau mencoba menghafal do'a-do'a ziarah Jamiatul Kabir ataupun saya ikut kursus kaligrafi dan sebagainya. Yang pastinya, saya selalu berusaha hari liburpun saya melakukan yang bermanfaat dan positif."

"Terus, cara dan metode kamu menghafal Al-Qur'an seperti apa?"
"Seperti tadi, sayapun tidak punya jawaban khusus. Setiap orang punya caranya masing-masing, ada yang sekali baca bisa langsung hafal, sementara saya butuh 5-6 kali membacanya baru bisa menghafalnya. Metode yang saya gunakan dalam program setahun menghafal Al-Qur'an adalah metode klasik, sebagaimana yang umumnya orang tahu. Membaca berulang-ulang beberapa baris ayat Al-Qur'an, kemudian menghafalnya, dan baru pindah ke ayat selanjutnya setelah ayat sebelumnya telah benar-benar dihafal. Sebenarnya tidak ada yang lebih istimewa atau sesuatu yang baru yang diajarkan di Jamiatul Qur'an, namun setelah bergabung disana kita lebih berkosentrasi dan termotivasi untuk menghafal Al-Qur'an karena pengajar dan teman-teman di sana kesemuanya hafiz Al-Qur'an."

"Kalau cara kamu agar hafalanmu tidak hilang?"
"Saya juga tidak punya tekhnik khusus, sekedar rajin-rajin mengulang dan mengecek hafalan. Kalau di sekolah dan asrama saya mengeceknya lewat bantuan teman saya, Jahandi. Kalau di rumah, dibantu oleh ayah atau ibu."

Percakapan kami terhenti, beberapa pemuda, tampaknya siswa sekolah, duduk bergerombol tidak jauh dari kami. Mereka masing-masing membawa buku di tangan. Sesaat kemudian, mereka sudah asyik mendiskusikan pelajaran mereka.

"Mujtaba…." saya kembali bertanya, "Menurut kamu berbuat baik kepada kedua orangtua itu kewajiban atau bukan?"
"Iya kewajiban, banyak ayat dalam Al-Qur'an yang memuat perintah Allah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua."

"Bisa kamu tunjukkan dalam surah apa saja?"
"Misalnya dalam surah al Isra ayat 23, Allah SWT berfirman, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya." Dengan satu ayat ini saja telah menunjukkan betapa pentingnya berbuat baik kepada kedua orangtua. Allah sampai menempatkan perintah berbuat baik di urutan kedua setelah perintah hanya melakukan penyembahan kepada-Nya."

"Bisa kamu tunjukkan surah yang lain, kata kamu tadi banyak?"
"Letaknya saja ya. Kalau tidak salah, perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam Al-Qur’an kurang lebih berulang sebanyak 13 kali. Seperti dalam surah Al-Baqarah ayat 83, 180 dan 215."

Setelah berpikir sejenak, ia melanjutkan, "Juga dalam An-Nisa ayat 36, An Naml ayat 10, An-Na’am ayat 151, Al Ahkaf ayat 15, awal-awal surah Al Ankabut kalau tidak salah ayat 8, dalam surah Luqman ayat 14, Ibrahim ayat 41,dalam surah Nuh ayat 28 dan surah Isra’ ayat 23 dan 24."

"Atau saya perlu membacakan bunyinya juga?" tanyanya seketika.
"Tidak perlu, itu sudah cukup."

"Apa kamu mengetahui tafsirnya juga?", kembali saya yang bertanya.
"Belum, setahun kemarin, hanya murni menghafal. Untuk mempelajari tafsirnya butuh belajar 3-5 tahun."

"Nanti kamu mau ambil bidang keilmuan apa?"
"Sampai sekarang saya belum memutuskan, sekarang masih belajar pelajaran-pelajaran dasar ilmu-ilmu hauzah. Nanti insya Allah bakal ketahuan sendiri bidang keilmuan mana yang saya minati."

"Apa kamu tidak berminat menjadi ulama besar kelak, pakar tafsir Al-Qur'an misalnya?"
"Bagi saya tidak penting mau jadi apa kelak, ulamapun bukan sesuatu yang istimewa, yang terpenting adalah kita berkhidmat kepada masyarakat."

Saya takjub mendengar jawabannya.

"Selanjutnya saya bertanya, selain Nabi Muhammad saww, diantara Anbiyah as lainnya, Nabi mana yang paling kamu kagumi riwayat dan kisah hidupnya."
"Menurut saya semua kisah Nabi itu menakjubkan."
"Iya, pilih salah satu, setidaknya yang paling berkesan menurutmu."
"Nabi Ibrahim as."
"Alasannya?"
"Ketulusan dan ketabahan Nabi Ibrahim as benar-benar sangat menakjubkan. Sampai Allah swt sendiri mengakui dan memberi maqam keimamahan kepada Nabi Ibrahim as. Bayangkan, putra yang dinanti-nantikannya baru di dapatkannya di usia yang sedemikian lanjut, namun setelah dididik dan dibesarkan, Allah malah memerintahkan untuk menyembelihnya. Kalau kita dalam posisi beliau, apa kita mau melakukannya?"

Saya hanya tersenyum. "Dalam surah mana kisah tersebut disebutkan?"

"Pada surah As-Saffat, sekitar halaman 449-450, saya lupa ayat keberapa. Salamun 'alaa Ibrahim, salam sejahtera bagi Ibrahim."
"Sekarang saya beralih kepada persoalan politik. Apa kamu tahu, mengapa Iran begitu membenci Amerika Serikat dan Israel?. Dalam setiap demonstrasi, masyarakat Iran tidak pernah lupa untuk menyebut, marg bar Amrika, marg bar Israel (kebinasaan buat Amerika, kebinasan buat Israel), apa alasannya?"

"Oh itu…" ia sedikit tertawa, "Bebinid, misalnya seperti ini, kamu punya rumah, kemudian ada tamu orang asing yang datang ke rumahmu. Tetapi ia datang dengan penuh kecongkakan, ia mengatur dan melarangmu untuk berbicara di rumahmu sendiri. Ia menguasai barang-barangmu, memintamu untuk menyerahkan ilmu dan apapun yang engkau ketahui, ia membuang apa-apa yang kamu sukai dari rumahmu dan memasukkan barang-barang yang tidak kamu sukai, kira-kira apa yang kamu lakukan?. Bagi orang yang berakal sehat, ia pasti berkata, siapa kamu? Laknat atasmu? Dan mengusir tamu yang tidak tahu diuntung itu. Seperti itu pula yang dilakukan warga Iran kepada Amerika Serikat yang sebelum revolusi telah menginjak-injak martabat dan harga diri masyarakat Iran dengan penjajahan politik, ekonomi dan budaya. Karenanya, kami begitu membenci Amerika. Kami membenci pemerintahnya dan sistem kezaliman yang berlaku di sana yang juga diterapkannya kepada Negara-negara miskin. Kami tidak membenci masyarakatnya, karena kami tahu diantara mereka juga ada orang baik, bahkan misalnya di Chicago, di New York banyak warganya yang muslim."

"Kamu banyak tahu juga tentang Amerika?"
Ia tersipu, "Iya, sebelum menyukai ataupun membenci sesuatu, kita harus mengenalnya lebih dulu." Katanya berfilsafat.

"Kalau Israel?"
"Tidak ada kata-kata yang baik buat Israel. Mereka zalim dan membunuhi rakyat Palestina yang tidak berdosa. Bahkan Imam Khomeini ra sendiri bilang, rezim zionis Israel harus terhapus dari peta dunia."

"Terus mengenai kebencian kepada orang-orang kafir dan zalim, dalam surah mana Al-Qur'an berbicara tentangnya?"
"Diantaranya surah An-Nisa', halaman 101 ayat 144, bismillah, yaayyuhal lazina amanu la tattakhidzuul kaafiriina auliyaa a minduunil mu'minin… dan beberapa ayat lain..ehm…" sambil berfikir.

"Tidak usah, sudah cukup." Saya memotong.


Keluarga yang Berhijrah demi Ilmu


Tanggal 6 Murdad 1375 HS menurut kalender Persia atau 28 Juli 1996, 14 tahun yang lalu di kota kecil Darab di Provinsi Fars, sekitar 444 mil bagian selatan Qom ia dilahirkan. Terlahir di tengah keluarga yang mencintai ilmu dan pendidikan, Mujtaba Karsenash tumbuh menjadi anak yang cerdas dan gemar membaca. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai guru di sekolah umum, ayahnya bernama Ali Asghar dan ibunya bernama Zahra Bigum. Sejak kecil, Iapun gemar turut serta dalam majelis-majelis ilmu ataupun penyelenggaraan perlombaan-perlombaan pendidikan. Perlombaan yang diminatinya adalah musabaqah Hafiz Al-Qur'an. Ia sampai merasa perlu bersama keluargany ke kota Shiraz, ibu kota Provinsi Fars, sekitar 189 mil dari kota kelahirannya sekedar untuk menjadi penonton musabaqah tersebut. Awal masuk sekolah dasar, iapun bertekad untuk bisa menghafal Al-Qur'an. Iapun mencoba menghafal sedikit demi sedikit dengan caranya sendiri. Menurut pengakuannya, menghafal tidak hanya butuh semangat namun juga konsentrasi dan jadwal yang teratur. Sampai ia duduk di kelas 2 SMP, sampai separuh Al-Qur'anpun tidak di hafalnya. Hingga akhirnya, waktu itu kotanya mendapat kunjungan istimewa dari Wakil Rahbar untuk Shiraz, Ayatullah Hadi Shirazy. Sebagaimana kebiasaannya mengikuti majelis-majelis ilmu, iapun bertemu dengan Ayatullah Hadi, dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi hafiz Al-Qur'an. Ayatullah Hadipun menyarankan buat ia belajar ke kota Qom, sebab Qom lebih kondusif untuk menjadi pelajar agama, terutama buat menghafal Al-Qur'an. Beruntung, kedua orangtuanya mendukung ia untuk belajar ke Qom. Bahkan ayahnyapun berkat bantuan Ayatullah Hadi dapat dengan mudah mengurus kepindahan tugasnya mengajar ke Qom. Hanya saja, ibu Mujtaba harus rela meninggalkan pekerjaannya dan tugasnya sebagai kepala sekolah di sekolah khusus perempuan, sebab memutuskan untuk sepenuhnya menemani anaknya untuk meraih apa yang diimpikannya sejak kecil. Berkat tekadnya yang kuat, dukungan dan bantuan sepenuhnya kedua orangtuanya, Mujtaba dalam setahun sesuai dengan target program yang dia ikuti, berhasil menghafal keseluruhan ayat Al-Qur'an. Bukan sekedar menghafal, iapun fasih menyebutkan letak ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur'an, nama surah, nomor ayat dan nomor halamannya. Bahkan menerjemahkan Al-Qur'an yang berbahasa Arab ke bahasa ibunya, bahasa Persia.

"Terus, adik kamu apa hafiz Qur'an juga?", dalam kertas biografi yang saya minta ia isi, ia menuliskan, hanya punya seorang saudara, seorang adik laki-laki.
"Sekarang juga ia sedang sibuk menghafal, setahu saya sudah hafal 10 juz."

"Usianya berapa tahun? Namanya?"
"Namanya Murtadha, umurnya 8 tahun. Sejak tahun lalu, ia juga masuk Jamiatul Qur'an."

"Bagaimana hubungan kamu dengannya, apa kamu sering bertengkar?"
"Hubungan kami baik, hanya saja karena di Hauzah Ilmiyah saya harus tinggal di asrama jadi jarang bermain bersama lagi. Bertengkar pernah, tapi tidak selalu."

"Apa yang kau lakukan jika adikmu melakukan kesalahan, atau curang dalam bermain, apa kamu memukulnya?"
"Saya sudah lupa apa pernah memukulnya atau tidak. Tapi meskipun marah, saya berusaha untuk menasehati saja, bukan memukulinya."

"Apakah aktivitasmu mengulang-ulang hafalanmu setiap hari, tidak mengganggu pelajaranmu di Hauzah?"
"Mengapa harus saling menganggu? Menurut saya, pelajaran Hauzah adalah penjabaran dan penguraian dari ayat-ayat Al-Qur'an, sehingga antara saya mengecek hafalan dengan pelajaran hauzah saling bersinergi. Kita belajar Sharaf, belajar Nahwu justru memperkuat hafalan, belajar aqidah, fiqh, mantiq dan sebagainya membuat kita semakin mudah memahami Al-Qur'an."

Saya hanya mengangguk membenarkan.

"Sekarang, jika saya membaca satu ayat, apa kamu bisa memberitahu letaknya dimana?", tanyaku berikutnya, sambil membuka mushaf sakuku.
"Insya Allah…"

Setelah membaca ta'awudz, saya baca ayat-ayat suci yang tertulis di mushaf yang berada di genggamanku.
"Itu surah al Ahzab ayat 31 halaman 422." Jawabnya mantap. Saya mengangguk membenarkan. "Bisa kamu artikan?"
Dengan bahasa Persia, ia berkata (yang artinya) "Dan barang siapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan RasulNya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami sediakan rezeki yang mulia baginya."

"Kalau awal halaman 135?"
"Surah Al-An'am ayat 60, durust guftam (benar yang saya katakan)?"
"Iya, coba kamu baca?"

Ia pun melantunkan ayat yang saya maksud dengan bacaan yang fasih dan lancar.

"Oh iya Mujtaba, apa yang kamu kenal dengan Indonesia?" tanyaku sambil menutup mushaf.
"Sayang sekali saya tidak begitu banyak tahu, kecuali Indonesia itu ibukotanya Jakarta, dan Negara dengan penduduk muslim terbesar."
Saya cuman tersenyum. "Kalau Malaysia?"
"Saya prihatin dengan yang terjadi baru-baru di Malaysia. Mengapa Syiah harus dimusuhi dan dibenci?." Ternyata Mujtaba juga tahu, umat Syiah Malaysia yang mengadakan majelis duka Asyura pada 10 Muharram lalu digerebek dan dibubarkan secara sepihak. Media-media Malaysia secara besar-besaran menurunkan berita mengenai peristiwa tersebut sambil menyudutkan Syiah sebagai ajaran sesat dan dinyatakan sebagai aliran di luar Islam. "Perlu saudara-saudara Ahlus Sunnah mengetahui, bahwa kita bersaudara dalam iman, Al-Qur'an yang saya hafal dan baca adalah Al-Qur'an yang sama."

Bacaan ta'awudz dengan pembesar suara terdengar seketika ke seantero masjid, dilanjutkan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Saya lirik jam besar di dinding tengah masjid, jarum jam telah mendekati angka 11. Memang tidak lama lagi, waktu shalat Jum'at akan dimulai. Saya merasa sudah cukup, saatnya mengakhiri wawancara.

"Pertanyaan terakhir, Mujtaba apa pesanmu buat teman-teman di Indonesia?"

"Yang saya tahu Indonesia negara multi etnis, agama yang dipeluk penduduknya beragam, karenanya pesan saya jagalah persatuan yang ada, khususnya sesama umat Islam. Harus kita terima, sulit menyatukan mazhab-mazhab yang ada dalam Islam. Karena itu kebutuhan kita saat ini bukan penyatuan, melainkan persatuan. Kelemahan bukan karena kita berbeda, tetapi merasa benar sendiri dan tidak menerima yang lainlah yang melemahkan. Tidak perlu lagi ada dikotomi Sunni dan Syiah, kesemuanya bersaudara, sama-sama umat Islam, Al-Qur'an kita satu. Anda sendiri melihatnya, di negeri ini, saya hanyalah salah seorang diantara ribuan hafiz yang ada. Apa yang kami hafal, baca dan kaji sama dengan Al-Qur'an yang dicetak di Negara anda. Anda juga tengah berada di dalam masjid yang sebentar lagi dipenuhi orang-orang untuk shalat Jum'at berjamaah, yang pada hari yang sama juga dilakukan oleh umat Islam di negeri anda."
Saya hanya mengangguk membenarkan. Saya tiba-tiba merasa kecil di hadapannya. Kalau bukan berhadapan langsung, sulit dipercaya, kata-kata yang bijak dan sangat dewasa ini keluar dari mulut seorang pemuda 14 tahun. Tampak ia masih mau melanjutkan pesannya, tapi alat perekam telah saya matikan. "Tak apa ya, jika saya potret?" HPku beralih fungsi menjadi kamera.
"Iya, tapi jangan sampai ketahuan."

Dengan hati-hati saya memotretnya. Hanya tiga kali pengambilan gambar. Saya khawatir jika petugas sampai harus menyita HP karena tidak mematuhi aturan mereka.

"Mujtaba, saya benar-benar berterimakasih atas waktu yang kamu luangkan untuk wawancara ini."
"Iya, sama-sama." Kujabat erat tangannya.
Kubenahi tasku. "Apa anda tidak ingin bersama duduk di shaff depan?" tanyanya.
"Oh, maaf, saya harus keluar dulu, masih ada waktu sejam. Saya ingin membeli sesuatu. Saya khawatir tokonya tutup sehabis Jum'atan." Ia mengangguk maklum.

Kujabat erat tangannya untuk kedua kalinya. Sekali lagi kuucapkan terimakasih.

Kutinggalkan masjid yang telah hampir dipenuhi jama'ah. Pesannya tadi masih juga terngiang, pasti ia mengucapkan pesan itu karena pengaruh pertanyaanku sebelumnya mengenai Malaysia. Iya, di era informasi yang seakan dunia bisa dilipat-lipat ini, sangat mengherankan, masih juga ada yang berkeyakinan bahwa Iran dengan warganya yang mayoritas Syiah mempunyai Al-Qur'an yang berbeda, bahwa mereka tidak menunaikan shalat Jum'at dan propaganda-propaganda negatif lainnya. Dari menara masjid yang menjulang tinggi, masih terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan, "Afalam yasiiruu fil ardi fatakuna lahum quluubun ya'qiluna bihaa…Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami…." (Qs. Al-Hajj: 46)

**********

Wawancara ini setelah mengalami pengeditan seperlunya dimuat dalam buku "Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik" terbitan Pustaka Iiman termasuk wawancara dengan Muhammad Husein Tabatabai (Doktor Cilik) setelah berusia 20 tahun dan dua hafiz cilik Iran lainnya.


Semoga bermanfaat;

Ismail Amin, Mahasiswa Program Studi Ulumul Qur'an, Mostafa Internationa University Republik Islam Iran

Syiah dan Tuduhan Tahrif al-Quran
Isu tahrif (distorsi) Al-Qur'an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.
"Muhammad Anis

Syiah dan Tuduhan Tahrif al-QuranSetelah membaca tanggapan Bung Fahmi Salim di Eramuslim, saya melihat meskipun ia mengkritik tulisan Bung Haidar Bagir di Republika, namun ia menyampaikannya dengan cukup santun. Tetapi, saat berbicara tentang Syiah, tampak sekali bahwa ia terlalu pede dengan hanya bermodalkan kutipan-kutipan dari satu atau dua buku bacaan.

Tulisannya tersebut menggambarkan betapa tidak mengertinya ia tentang mazhab Syiah. Pun menunjukkan betapa sempit dan terkungkungnya pengetahuannya hanya pada pandangan kelompoknya sendiri, dan kurangnya kemauannya untuk belajar tentang pandangan mazhab lain secara proporsional. Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, "Untuk berbicara, orang harus lebih dahulu mendengar. Maka, belajarlah berbicara dengan mendengar".

Karenanya, sebelum berkomentar dan menilai mazhab Syiah, semestinyalah ia belajar atau minimal mendengar terlebih dahulu dengan baik tentang mazhab ini dari sumbernya secara adil. Karena, sebagaimana kata Ibn Hajar al-Haitsami, "Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran."

Tahrif Al-Qur'an

Isu tahrif (distorsi) Al-Qur'an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.

Mengenai pernyataan Adnan al-Bahrani yang dikutip Bung Fahmi, semakin memperlihatkan kepedeannya dengan hanya membaca buku kutipan. Padahal, kalau ia mau, buku ini dengan mudah bisa diperoleh di internet. Buku Adnan tersebut berjudul asli 'Masyariq asy-Syamus ad-Duriyah fi Ahaqiyah Madzhab al-Akhbariyah'. Di dalamnya, Adnan mengatakan bahwa persoalan tahrif tersebut merupakan "konsensus firqah al-muhiqah dan sesuatu yang asasi dalam mazhab mereka" (hal. 126). Sayangnya, kata 'firqah al-muhiqah' kemudian diartikan sebagai Syiah secara umum. Padahal, jelas maksud Adnan hanya sebagian, yaitu merujuk kepada kaum Syiah Akhbariyah, sebagaimana yang tertera gamblang dalam judul bukunya. Selain itu, pada halaman berikutnya, Adnan mengatakan bahwa ulama-ulama Syiah seperti al-Murtadha, ash-Shaduq, dan sebagainya menentang isu tahrif tersebut. Ini menunjukkan bahwa Adnan tidak memaksudkan pernyataannya itu untuk Syiah secara umum.

Mengenai an-Nuri dalam kitabnya 'Fashlul Khitab' itu, lagi-lagi Bung Fahmi kepedean dengan hanya mengutip tulisan Ahmad Sa'ad Al-Ghamidi. Berikut saya kutipkan pernyataan murid an-Nuri, Syaikh Agha Buzurg Tahrani, yang menuturkan bahwa an-Nuri berkata, "Saya telah keliru memberi judul buku tersebut. Semestinya saya beri judul: Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab. Karena, dalam buku ini saya telah membuktikan bahwa Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang tidak mengandung tahrif, baik penambahan maupun pengurangan, sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Al-Quran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang meyakinkan. Saya telah lalai untuk menjelaskan dengan tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut, sehingga banyak kritik dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan, karena kelalaian tersebut, penegasannya menjadi sebaliknya. Saya hanya memberi isyarat tentang tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab, yang penting adalah keyakinan bahwa tidak ada ayat lain selain yang terdapat dalam Al-Quran di tangan kita".[Syaikh Rasul Ja'fariyan, "Ukdzubah Tahrif al-Qur'an Baina asy-Syiah wa as-Sunnah", hal. 137]

Mengenai riwayat-riwayat lainnya, sebagian mesti dipahami sebagai tahrif maknawi (distorsi kontekstual), bukan tahrif lughawi (distorsi tekstual). Hal ini tampak pada riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir, "Di antara ulah mereka yang suka membuang Al-Qur'an adalah membiarkan huruf-hurufnya, tetapi mengubah hukum-hukumnya."[Al-Kulaini, Al-Kafi, jil. 8, hal. 53]

Namun demikian, bila ada riwayat yang mengindikasikan tahrif lughawi, maka hal ini telah dibantah oleh jumhur ulama Syiah. Sayid Muhsin al-Amin mengatakan tentang tahrif yang dinisbatkan pada Syiah, "Itu adalah bohong dan dusta. Para ulama Syiah dan para muhadis mereka menyatakan yang sebaliknya." [Sayid Muhsin al-Amin, yan asy-Syi'ah, jil. 1, hal. 46 dan 51]

Bahkan hal ini ditegaskan pula oleh seorang ulama besar Ahlusunah, Rahmatullah al-Hindi, "Sesungguhnya Al-Qur'an al-Majid, di kalangan jumhur Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Apabila ada di antara mereka yang mengatakan adanya tahrif pada Al-Qur'an, maka yang demikian itu telah mereka tolak dan tidak mereka terima." [Rahmatullah al-Hindi, Izh-harul Haq, jil. 2, hal. 128]

Saya senang mendengar bahwa isu tahrif di kalangan Ahlusunah, seperti riwayat Ibnu Majah tersebut, telah dibantah oleh Bung Fahmi. Untuk itu, saya juga menunggu argumen bantahan lanjutan untuk riwayat-riwayat Ahlusunah berikut:
1. Khudzaifah berkata, "Pada masa Nabi, Saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Qur'an yang ada saat ini."[Suyuthi, Durr al-Mantsur, jil. 5, hal. 180]

2. Ibn Mas'ud telah membuang surat Muawidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur'an. [Al-Haitsami, Majma az-Zawa'id, jil. 7, hal 149; Suyuthi, Al-Itqan, jil. 1, hal. 79]

3. Umar bin Khattab berkata, "Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri." [Shahih Bukhari, bab Syahadah Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, Al-Itqan, jil. 2, hal. 25 dan 26; Asy-Syaukani, Nailul Authar, jil. 5, hal. 105; Tafsir Ibnu Katsir, jil. 3, hal. 260]

Laknat Bani Umayah Terhadap Ali bin Abi Thalib Sekali lagi, Bung Fahmi terlalu pede dengan hanya mengutip tulisan Shallabi. Mengenai Al-Madaini yang kata Shallabi dinilai tak bisa dipercaya oleh hampir semua pakar dan imam hadis Ahlusunah, adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A'lami Nubala justru berkata sebaliknya, "Ia memiliki pengetahuan yang menakjubkan tentang sejarah, peperangan, nasab, dan peristiwa-peristiwa di tanah Arab. Ia jujur (shadiq) dalam menyampaikannya. Ia seorang alim dalam isu seputar penaklukan (futuh), peperangan (maghazi), dan syair. Ia seorang yang jujur (shadiq) dalam hal itu."

Saya rasa Bung Fahmi tentu tahu bahwa Adz-Dzahabi adalah salah seorang imam rijal hadis Ahlusunah kenamaan. Namun demikian, saya juga ingin menambahkan riwayat tentang pelaknatan Ali tersebut dari sumber-sumber yang lain, di antaranya:

1. Suyuthi berkata, "Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah." [Ibn Abil Hadid al-Mu'tazili, Syarh Nahjul Balaghah, jil. 1, hal. 356].

2. Ibn Abdu Rabbih berkata, "Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, "Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi, Allah dan Rasul-Nya mencintainya." Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu. [Ibn Abdu Rabbih, Al-Iqdu al-Farid, jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

3. Yaqut al-Hamawi berkata, "Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid." [Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, jil. 1, hal. 191]

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan kepada Bung Fahmi bahwa persatuan itu bukan dibentuk dengan cara memaksa untuk sama. Ini namanya hegemoni dan sewenang-wenang. Persatuan dan persaudaraan hanya bisa terwujud melalui sikap toleran terhadap perbedaan. Selain itu, negeri ini juga bukan negara agama, sehingga tidak semestinya diklaim sebagai milik mazhab tertentu. Wallahu a'lam.

*Kandidat Doktor Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lebih dari Dua Juta Warga Iran bernama Muhammad
Muhammad adalah nama yang paling digemari di Iran, lebih dari 2 juta penduduknya yang menggunakannya.

Lebih dari Dua Juta Warga Iran bernama MuhammadMenurut Kantor Berita ABNA, dari data kependudukan resmi warga Negara Iran sampai saat ini tercatat 2.541.770 yang bernama Muhammad diseluruh wilayah Iran, ini bisa menjadi bukti kecintaan warga Iran kepada nabi Muhammad saww. Selain itu laqab (gelar) Nabi Muhammad saww juga menjadi nama yang popular di tengah-tengah masyarakat Iran. Diantara gelar nabi yang paling sering digunakan seperti Mustafa tercatat 402.816 nama, Amin 198.491 dan Yasin ada 72.622 orang.

Nama popular lainnya adalah Ridha yang merupakan kunya Imam Ali bin Musa as lebih dari satu juta warga Iran yang menggunakannya, tepatnya 1.023.484. Selain itu nama-nama Imam Ahlul Bait lainnya seperti Ali, Hasan, Husain dan Jawad tetap menjadi nama favorit dikalangan warga Iran.
 

Kewibawaan Bangsa di Mata Pemimpin Revolusi Islam Iran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Iran sejak dahulu kala dikenal memiliki kekayaan budaya dan peradaban yang tinggi. Namun dalam perjalanannya, lembaran sejarah memperlihatkan ketidaklayakan sejumlah raja yang terjadi terutama dalam dua abad terakhir yang menyebabkan Iran bergantung kepada kekuatan asing seperti Inggris dan AS.

Kemenangan Revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomeini mengembalikan kewibawaan bangsa Iran. Dukungan besar rakyat terhadap Revolusi Islam  yang berhasil menggulingkan sistem monarki despotik telah menorehkan lembaran baru bagi masa depan bangsa Iran, sekaligus menjadi babak baru sejarah politik dunia.   
Di bawah bendera revolusi Islam, Iran berhasil mencapai kemajuan dengan berpijak pada kemandirian dan kewibawaan bangsa. Selama lebih dari tiga dekade, Iran berhasil mematahkan konspirasi musuh yang terus-menerus menjegal kemajuan negara itu dari berbagai sisi.

Terkait kewibawaan bangsa, Pemimpin Besar Revolusi Islam Senin (9/1) pagi dalam pertemuan dengan ribuan ulama, pelajar agama dan berbagai lapisan masyarakat Qom menilai keteguhan para pejabat negara dalam memegang prinsip dan partisipasi rakyat secara sadar di tengah medan sebagai dua faktor penting yang menggagalkan semua konspirasi musuh dan semakin memperkuat pemerintahan Islam ini.

Dalam pertemuan yang digelar untuk mengenang kebangkitan warga kota Qom pada tanggal 19 Dey 1356 HS (9 Januari 1978) melawan rezim despotik, Pahlevi, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengatakan, kebangkitan rakyat Qom ibarat percikan yang memantik gelora di tengah kondisi yang mencekik zaman rezim Syah.

Rahbar mengatakan, "Kebangkitan ini disusul dengan kebangkitan-kebangkitan lain yang silih berganti dengan menggunakan momentum peringatan empat puluh hari setiap peristiwa. Kebangkitan 19 Dey adalah pembuka jalan bagi kemenangan revolusi Islam, resistensi bangsa Iran, runtuhnya wibawa keropos Amerika dan Rezim Zionis, keteladanan bangsa Iran, serta lahirnya gerakan kebangkitan Islam dan rangkaian peristiwa penting dan menentukan di kawasan."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyinggung dua hal yaitu kesabaran dan kearifan sebagai unsur penting yang membantu bangsa Iran meraih berbagai keberhasilannya.

Beliau menyeru untuk memperkuat dua unsur ini dalam menghadapi arogansi dan ambisi musuh. Menurut beliau, kegigihan para pejabat pemerintahan Islam dalam mempertahankan prinsip dan partisipasi rakyat secara aktif di tengah medan adalah dua faktor penting yang menggagalkan semua konspirasi dan tipudaya musuh.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menjelaskan upaya luas dan besar-besaran yang dilakukan kubu arogan dunia pimpinan AS dan Zionis untuk melemahkan dua faktor tersebut, seraya mengatakan, "Apapun yang mereka lakukan, dua faktor ini tetap ada dan dengan izin Allah akan selalu ada."

Rahbar juga menyinggung berbagai cara yang dilakukan kekuatan hegemonik Barat untuk menggoyahkan keteguhan para pejabat pemerintahan Islam dan menebar pesimisme di tengah rakyat. Beliau mengatakan, "Para petinggi Barat berulang kali menyatakan bahwa sanksi dan tekanan terhadap Iran sengaja dibuat untuk mengeluarkan rakyat dari medan dan memaksa para pejabat pemerintahan Islam di Iran untuk meninjau ulang prinsip mereka. Tapi apa yang dilakukan Barat tidak akan pernah membuahkan hasil. Sebab, orang-orang licik itu menduga bahwa Iran saat ini berada dalam kondisi yang mirip ketika peristiwa Syi'ib Abu Thalib terjadi. Padahal kondisi yang ada saat ini lebih mirip dengan kondisi Perang Badr dan Khaibar."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menandaskan, "Ketika rakyat Iran, dengan membanggakan, sukses meraih banyak prestasi sementara prestasi-prestasi lainnya sudah nampak di depan mata, kubu arogansi menakut-nakuti rakyat dan para pejabat Iran lewat sanksi dengan maksud untuk mengguncang mental mereka atau menjauhkan rakyat dari medan. Padahal, rakyat Iran dengan arif telah memilih jalannya yang penuh kebanggaan ini dan untuknya, bangsa ini telah banyak berjuang dan mempersembahkan darah orang-orang yang paling mereka kasihi."

Beliau menegaskan bahwa laju perjalanan bangsa Iran menuju puncak sukses tak akan pernah berhenti. Ditambahkannya, "Upaya merusak tekad dan semangat rakyat dan pejabat pemerintahan Islam dilakukan musuh justru ketika kekuatan dan kemampuan Republik Islam saat ini tidak bisa dibandingkan dengan kondisi 20 atau 30 tahun yang lalu, sementara kedigdayaan luar kubu arogansi sudah jauh berbeda dengan kondisi masa lalu dan terus melemah."

Terkait masalah pemilihan umum parlemen yang tak lama lagi akan digelar di Iran, Rahbar membeberkan skenario musuh yang sejak lama sudah menyiapkan anasirnya di dalam negeri untuk meminimalkan partisipasi rakyat dalam ajang pemilihan anggota legislatif. "Berkat inayah Allah, partisipasi rakyat pada pemilu ini akan membuat musuh gigit jari," tegas beliau.

Lebih lanjut beliau mengimbau semua pihak untuk ikut menyukseskan jalannya pemilu. Menurut Rahbar, dalam setiap pemilu ketidakpuasan sebagian kalangan adalah fenomena yang wajar terjadi.

Ayatullah al-Udzma Khamenei mengingatkan bahwa pemilu legislatif adalah momentum yang sangat penting dan menentukan bagi Iran. Ditegaskannya, Karena itulah, kubu arogansi seperti Amerika, Inggris, Zionis dan lainnya berusaha keras untuk merusak pemilu ini dengan tujuan menebar kekecewaan di tengah rakyat."

Beliau mengimbau para calon legislatif untuk mengedepankan niat mengabdi kepada rakyat dan negara bukan untuk meraih kepentingan pribadi atau tujuan-tujuan buruk lainnya, bersaing secara sehat, dan tidak menggunakan dana negara untuk kampanye. Kepada masyarakat umum, beliau menyeru untuk selektif dalam memilih anggota parlemen. Imbauan lainnya beliau tujukan kepada badan penyelenggara pemilu dan pengawas untuk menjaga suara rakyat sebagai amanat yang ada di tangan mereka. (IRIB Indonesia/PH)
 

 


 
 
 

0 comments to "SERANG negara Islam...Fitnah mereka..dan pecah belah mereka sesama ISLAM"

Leave a comment