Home , , , , , , , , , , � Syiah & Sunni “dicaci”, Syiah & Sunni “dicari” (Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang , Anda yang selalu mengedepankan perpecahan dalam ummat Islam, maka anda tidak lebih dari seorang antek-antek Zionis dan sekutunya yang menghendaki Islam berpecah-belah)

Syiah & Sunni “dicaci”, Syiah & Sunni “dicari” (Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang , Anda yang selalu mengedepankan perpecahan dalam ummat Islam, maka anda tidak lebih dari seorang antek-antek Zionis dan sekutunya yang menghendaki Islam berpecah-belah)



Syiah & Sunni “dicaci”, Syiah & Sunni “dicari”
(Suka atau tidak suka, senang  atau tidak senang , Anda yang selalu mengedepankan perpecahan dalam ummat Islam, maka anda tidak lebih dari seorang  antek-antek  Zionis dan sekutunya yang menghendaki Islam berpecah-belah)


Mencari  Titik Persamaan                                         
(Tanggapan Balik Tulisan Akhmad Riduan tentang Sunni dan Syiah)
Oleh : Ahmad Barjie B*
                                                            
TERIMAKASIH banyak saya  sampaikan kepada sdr  Akhmad Riduan yang telah menulis di Radar  Banjarmasin edisi Kamis 26 Januari 2012 berjudul : “Aqidah Sunni dan Syiah Berbeda”, sebagai  tanggapan terhadap dua tulisan saya terdahulu. Tulisan Akhmad Riduan sangat berguna sebagai perbandingan , pencerahan dan perluasan wawasan bagi kita bersama. Suatu masalah memang akan lebih baik jika dilihat dari beberapa perspektif.
            Sebelumnya memang saya menurunkan tulisan berjudul : “Syiah dan Sunni Saudara Kandung” (di Banjarmasin Post, 5 January 2012) dan “Benang Merah Sunni dan Syiah” (Radar Banjarmasin, 17 Januari 2012). Sebelum menulis hal tersebut, saya memang tidak begitu banyak membaca literatur tentang Syiah. Diantara yang sempat saya baca adalah buku tebal dan cukup terkenal yaitu “Dialog Sunnah-Syiah”, hasil diskusi antara al Syaikh Salim al Bisri al Maliki, Rektor Universitas al Azhar Mesir (Ulama Sunni), dengan al Sayyid Syarafuddin al Musawi al Amili, salah seorang ulama besar Syiah. Selain itu saya juga mencoba mengakses informasi di internet dan ternyata juga banyak sekali informasi tentang Syiah, baik yang Pro, Kontra maupun Abstein. Terserah kita saja lagi mau memegang yang mana dan ikut kemana.
            Sebagai muslim Indonesia, menurut saya kita sebaiknya juga mengacu kepada pendapat lembaga yang memiliki kompetensi dalam hal ini yaitu MUI, NU dan Muhammadiyah. Ketiga lembaga berwenang ini menyatakan, “Syiah masih satu rumpun dengan Islam lainnya (Sunni, dll), dan bukan Aliran Sesat”. Mungkin saja ada ulama perorangan didalam ketiga Organisasi tersebut yang berpendapat lain, tetapi pendapat yang kita pegang adalah pendapat Formal dan Aklamasi. Tanpa mematikan kreativitas dan pendapat masing-masing pribadi, kita “Umat” perlu menaati Ulama dan Umara yang “diakui”.

Perbedaan Selalu Ada

            Perbedaan dalam memahami ajaran Agama, baik terhadap persoalan Pokok maupun Cabang kelihatannya akan selalu ada. Hal itu sudah terjadi sejak Rasulullah masih hidup dan mungkin sekali akan terus terjadi hingga hari Kiamat.
            Sejumlah perbedaan sebagaimana ditekankan Akhmad Riduan, sebagian memang sudah diketahui oleh Masyarakat Umum. Namun menurut Saya, akan lebih Bijak apabila Perbedaan semacam itu tidak kita munculkan ke permukaan. Kita Khawatir, bila itu dimunculkan akan terjadi Fanatisme, Friksi dan Anarkisme Sosial dan itu sudah mulai terjadi, padahal sama sekali Kontraproduktif.
            Saya tetap pada pendirian, bahwa Sisi Persamaan antara satu dengan lebih Kelompok Internal Agama lebih penting untuk dikemukakan daripada mempertajam perbedaannya. Sepanjang Muslim Syiah masih Bersyahadat Tauhid dan Syahadat Rasul Muhammad Saw, melaksanakan Shalat, Puasa, Berzakat dan juga Berhaji ke dua kota Suci dan masih berpegang  pada Al-qur’an Suci yang ada sekarang, maka sulit untuk mengatakan mereka sudah keluar dari Rumpun Keluarga Besar Islam alias  “Menyimpang”. Arab Saudi hingga kini, tetap mempersilahkan Muslim Syiah berHaji dan Umrah, kebijakan ini juga perlu kita jadikan Referensi. Sekiranya Saudi Menolak, sebagaiman Penolakan terhadap Ahmadiyah Qadiyan, tentu sikap kita akan lain.
            Syiah dalam ajaran Teoritis dan Syiah dalam Terapan Praktis, boleh jaditidak selalu sama, begitu juga Syiah Timur Tengah dan Indonesia. Walau mungkin ada Buku Syiah yang tidak mengakui sebagian sahabat Nabi dan ajaran lain yang agak Ekstrem yang kita sendiri sulit mencernanya, boleh jadi ajaran itu tidak dianut oleh sebagian Muslim Syiah, termasuk di Indonesia.
            Kita lihat Syiah di Indonesia tidak menghina dan menafikan Sahabat Nabi, Tidak mempraktikkan Nikah Muth’ah dan banyak melaksanakan Amalan Ritual yang Relatif sama dengan Sunni. Jadi mereka tidak  bisa digeneralisasi. Apalagi banyak sekali kelompok aliran Syiah yang sudah punah dan tidak ada penganutnya lagi. Syiah yang hidup sekarang, baik yang di Timur Tengah maupun Indonesia, boleh jadi Syiah yang dalam praktiknya sudah makin dekat kepada Sunni.
            Kalaupun terdapat aspek-aspek dan nuansa Akidah ataupun Ibadah yang agak berbeda, biarlah menjadi urusan mereka. Kita perlu menghormati, tapi tidak perlu mengikuti. Saya kurang sependapat dengan pendirian Akhamad Riduan bahwa antara Sunni dan Syiah harus diberi “Garis Tegas”, yaitu Sunni tidak perlu mendakwahi Syiah, begitu juga sebaliknya.
            Kalau tidak boleh saling mengajak kepada Kebenaran, itu namanya sudah “Lakum dinukum waliyadin”, dan surah ini jelas tujuannya untuk “Non Muslim”. Kita tetap perlu saling berdakwah, berdialog dan berinteraksi, siapa tahu mereka mau mengikuti kita dan ada pula sisi baik mereka yang patut kita tiru. Bukankan Qur’an Surah An-Nahl 125 dan Al-Ashar 1-4 menyuruh kita saling berdakwah dengan Hikmah, Nasihat, Berwasiat dalam Kebenaran dan Bertukar Pikiran secara baik dan bijaksana.

Masuk Surga
           
            Surga merupakan hak prerogatif  Allah yang menentukannya. Siapa yang akan memasukinya dan siapa yang diluar, semuanya kita kembalikan kepada Allah. Namun kita menginginkan semua orang akan memasukinya, termasuk dari berbagai Aliran Agama dalam Islam. Kita berharap, “nuansa perbedaan” yang terjadi ditubuh Umat Islam, hanyalah Hasil Ijtihad para Ulamanya saja, karena perbedaan dalam memahami Tafsir Ayat dan Hadits, serta perbedaan Geografis dan Demografis, sehingga hasilnya itu jika Benar akan beroleh 2 Pahala dan jika salah tetap beroleh 1 Pahala. Jadi bukan Perbedaan yang disengaja dengan Menentang Allah dan Rasul-Nya.
            Memang ada Hadis yang menyatakan, Umat Islam itu terbagi dalam banyak kelompok dan hanya 1 yang Selamat (Masuk Surga), yaitu Mengikuti Ajaran Allah, Rasulullah dan Para Sahabat. Orang Sunni mengklaim kelompok yang selamat itu adalah mereka. Tetapi aliran lainpun tidak mau dianggap sebagai Kelompok yang tidak selamat.
            Dalam konteks ini kita perlu pula merujuk hadis lain yang menyatakan, Siapa saja yang Mati dalam keadaan meyakini bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Rasullah, maka ia masuk surga. Kita tentu ingin Hadis yang kedua ini yang menjadi kenyataan nanti di akhirat.
            Optimisme ini sesuai pula dengan peristiwa di Akhir Hayat Rasulullah sebagaimana dikemukakan di dalam Kitab “Dhiyaul Murabba’ fi Syarhi Maulidid Dibai’i”, karya Muhammad Sa’id bin Sayyid Ahmad al Hadrawi. Jelang wafat beliau enggan dicabut ruhnya oleh Malaikat Izrail sebelum tahu nasib ummatnya di akhirat kelak. Lalu Jibril memberi tahu bahwa Umat Islam pengikut Muhammad saw terbagi 3 (tiga) :
Pertama, Masuk Surga Tanpa Hisab
Kedua, Masuk Surga tapi di Hisab dulu, karena ada dosanya yang kemudian diampuni
Ketiga, Dosanya sangat banyak melebihi Pahalanya, sehingga setelah dihisab ia harus masuk neraka dulu, sampai akhirnya masuk surga.
Versi lain, semua masuk surga , meski dosanya besar, sebab semua mendapat ampunan Allah dan mendapat Syafaat Rasulullah.
            Sebagian Ulama merahasiakan hadis ini, karena kalau disampaikan dikhawatirkan umat Islam akan santai dan menganggap sepele beragama serta gemar berbuat dosa. Yang jelas, kalau sampai manusia disiksa di akhirat tentu sangat Pedih, karena siksa dunia saja sudah berat. 1 hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia. Jadi meski semua orang Islam akhirnya Masuk Surga, kita berharap semuanya masuk surga tanpa kecuali. Kita tidak bisa mengklaim diri  kita atau kelompok lain (saja yang masuk surga ..pen). Setelah berusaha selebihnya kita kembalikan kepada Kemurahan dan Ampunan Allah.
            Kita berharap hubungan Intern dan antar Umat beragama di Indonesia dan didunia “Rukun dan Damai”. Sudah lelah kita melihat percekcokan seperti tidak berkesudahan, yang cos sosialnya sangat mahal. Tidak saja harta benda, tapi juga darah, airmata bahkan nyawa. Sudah waktunya para ulama, tokoh dan cendikiawan mengembangkan prinsip Kebersamaan, mencari “Titik Persamaan”, “Memperkecil Perbedaan”, Menaati Aturan main dalam relasi antar agama dan mengarahkan energi agama untuk hal-hal Positif dan Konstruktif.
* Warga Banjarmasin

 (Koran Radar Banjarmasin hal.3 kolom Opini, Jum’at,27/01/2012)
(Re-write by teambanjarkuumaibungasnya.blogspot.com/28/1/2012/KNY/MFF/AR/AR)



Aqidah Sunni dan Syiah Berbeda
(Tanggapan terhadap  Tulisan Ahmad Barjie, berjudul “Benang Merah Sunni-Syiah” dan “Syiah danSunni Saudara Kandung”) beserta komentar pen..ul = penulis ulang dari team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com.
Oleh : Akhmad Riduan*

MELIHAT paparan Ahmad Barjie dimedia pada hari Selasa, 17 Januari(Banjarmasin Post...pen..ul) dan hari Kamis 5 Januari 2011 (padahal 2012...pen..ul) terkait relasi Sunni-Syiah dan  Syiah bukanlah Madzhab Sesat, perlu kiranya rekonstruksi pemahaman yang saya kira merupakan justifikasi terburu-buru sebab tidak bisa mengenal Syiah secara mendalam tanpa menelusuri rekam jejak Syiah secara komprehensif berdasarkan rujukan-rujukan yang valid dari Madzhab Syiah sendiri seperti Al-Kaafi, Al-Istibshor, Man Laa Yarudhuhu Al Faqih dan At Tahzib. Terlebih dengan kelaziman Taqiyah (berbohong, padahal sangat berbeda antara pengertian “berbohong” dan “taqiyah”..pen..ul) dikalangan penganut Syiah sehingga umat Islam akan mudah tertutup mata bilamana melihat identitas Syiah yang terpecah kedalam 12 sekte (padahal dalam mazhab dan agama apapun terdapat aliran-aliran dan sekte-sekte...pen..ul), namun yang paling populer adalah Syiah Imamiyah dengan pusatnya di Iran.
            Semakin melenakan ketika umat Islam disodorkan beberapa alasan yang nampaknya menyimpan “Kebenaran”, namun hakikatnya tidak (biasa...penghakiman sepihak...pen..ul).
Pertama, Syi’ah adalah Muslim, bahkan “Muslim yang Sempurna”, karena hanya Syi’ah yang “membela” hak-hak Imamah Ahlulbait.
Kedua, Syi’ah sekarang punya minyak (padahal dari dulu punya minyak...pen..ul) dan Nuklir (kalau ada tenaga listrik murah, kenapa cari yang mahal, nuklir Republik Islam Iran di embargo, nuklir Israel tidak...aneh ^_^...pen..ul).
Ketiga, Syi’ah paling berani melawan Amerika Serikat dan Israel. (Kalau mau “jujur”, begitulah kenyataannya...pen..ul).
Jika dicermati ketiga alasan tersebut “sangat tidak relevan” dengan kenyataan yang ada. Sunni tidak akan secara sempit menuduh Syiah sebagai aliran sesat  tanpa kajian komprehensif yang panjang (bagaimana ya kalau yang dituduh sesat juga melakukan kajian komprehensif yang panjang....penghakiman sepihak lagi ^_^..hem....pen..ul). Ringkasnya kaum Syiah bukanlah Pembela Ahlulbait yang benar karena kultusnya yang berlebihan terhadap Ahlulbait ternyata telah mencederai aqidah yang paling prinsip (ushul) bukan cabang (furu’) sebagaimana yang diyakini oleh Bapak Ahmad Barjie dalam beberapa hal diantaranya :
            Pertama, kaum Syiah meyakini Imam Ali dan 11 keturunannya Ma’shum seperti Nabi dan kata-kata Para Imam seperti sabda Rasul, sehingga kepadanya mereka lekatkan kata ‘Alaihissalam bukan Radhiallohu’anhu. Sementara kaum Sunni tidak berkeyakinan demikian karena sifat Ma’shum hanya melekat pada diri Nabi dan Rasul. Imam Ja’far Shadiq RA yang diyakini oleh kaum Syiah sebagai salah satu Imam Ma’shum justru berkata “barang siapa mengira bahwa aku adalah Imam Ma’shum yang wajib di taati, aku benar-benar tak ada sangkut paut  dengannya” (Siyar ‘Alam An-Nubala:259)(Kitab sandaran Syi’ah selain Al-Qur’an Suci, dipastikan ulama Syi’ah belum tentu semua “Mutawatir”, artinya selain kitab Al-Qur’an,  kitab yang lain diperlukan “koreksi”....pen..ul) Kaum Sunni sangat menghormati Imam Ja’far Shadiq RA dan mematuhi perkataan-perkataan beliau namun tidak seperti kaum Syi’ah yang mengkultuskannya secara berlebihan. (kembali saudara Akhmad Riduan memberikan penghakiman sepihak...pen..ul..ck..ck..ck)
            Kedua, Madzhab Syiah memurtadkan para Sahabat Rasul karena dinilai tidak memilih Ali setelah Nabi, padahal Sayyidina Ali sendiri yang membaiat ketiga khalifah pendahulunya. Madzhab Syiah meyakini semua sahabat Nabi yang berjumlah 114 ribu telah murtad/k'afir terkecuali Miqdad, Abu Dzar Al-Ghifari, Salman Al-Farisi, ‘Ammar (Al Kaafi juz 8:245). (Kitab sandaran Syi’ah selain Al-Qur’an Suci, dipastikan ulama Syi’ah belum tentu semua “Mutawatir”, artinya selain kitab Al-Qur’an,  kitab yang lain diperlukan “koreksi”....pen..ul). Kemudian lihat juga misalnya pencelaan Al-Khomeini terhadap sahabat-sahabat Nabi (Kasyful Asror:155) serta ungkapan Bagir Majlisi yang secara khusus mengkafirkan Umar (Jalaaul Uyuun:45). (Kitab sandaran Syi’ah selain Al-Qur’an Suci, dipastikan ulama Syi’ah belum tentu semua “Mutawatir”, artinya selain kitab Al-Qur’an,  kitab yang lain diperlukan “koreksi”....lihat fatwa pemimpin besar Spiritual Republik Islam Iran/ Rahbar Sayid ‘Ali Khamene’i yang mengedepankan “Persatuan Islam, baik Sunni dan Syi’ah serta beliau melarang penghujatan terhadap simbol-simbol pemimpin Islam yang diyakini madzhab Sunni baik itu sahabat maupun istri-istri nabi.. pen..ul)
Sebaliknya kaum Sunni Wajib Hukumnya menghormati Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib (walaupun sebenarnya di zaman bani Ummayah, dimimbar-mimbar Islam nama Ali bin Abi Tholib selama ±90 tahun “dilaknat” dimimbar-mimbar mesjid....pen..ul)  dan para sahabat Nabi lainnya karena
Mereka diridhoi Allah SWT (QS.Al-Fath:29). Rasulullah SAW juga melarang mencela sahabat sebagaimana yang diriwayatkan, misalnya oleh Al-Baihaqi atau At-Thabrani serta At-Thurmudzi. Apalagi dalam hadis lain Rasulullah menyatakan  nama 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Nah, bagaimana bisa Nabi menyatakan demikian sementara sementara Kaum Syiah sebaliknya, malah menyatakan murtad/kafir. Siapakah yang keliru disini, sementara Nabi memiliki sifat kenabian yakni Shiddiq. Bahkan Imam Jafar Shodiq RA yang oleh kaum Syiah diakui sebagai Imam menegaskan “barang siapa mengira bahwa aku berlepas diri Abu Bakar dan Umar aku berlepas diri daripadanya” (Siyar An-Nubala:259). (Kitab sandaran Syi’ah selain Al-Qur’an Suci, dipastikan ulama Syi’ah belum tentu semua “Mutawatir”, artinya selain kitab Al-Qur’an,  kitab yang lain diperlukan “koreksi”....lihat fatwa pemimpin besar Spiritual Republik Islam Iran/ Rahbar Sayid ‘Ali Khamene’i yang mengedepankan “Persatuan Islam, baik Sunni dan Syi’ah serta beliau melarang penghujatan terhadap simbol-simbol pemimpin Islam yang diyakini madzhab Sunni baik itu sahabat maupun istri-istri nabi.. pen..ul)
            Ketiga, Kaum Syiah meyakini adanya Tahrif terhadap Al-Qur’an atau Al-Qur’an yang ada saat ini telah mengalami perubahan dan nanti diakhir zaman akan muncul Imam Mahdi yang menyimpan Al-Qur’an tulisan tangan Sayyidina Ali. Jadi kaum Syiah menggunakan Al-Qur’an yang ada saat ini, yakni Muhaf Usmani yang terdiri atas 6666 ayat hanya sebagai  bentuk “Taqiyah”, sebab mereka meyakini  adanya Muhaf Fatimah yang terdiri dari 17.000 ayat (Al-Kaafi, juz 1:239) (Kitab sandaran Syi’ah selain Al-Qur’an Suci, dipastikan ulama Syi’ah belum tentu semua “Mutawatir”, artinya selain kitab Al-Qur’an,  kitab yang lain diperlukan “koreksi”....lihat fatwa pemimpin besar Spiritual Republik Islam Iran/ Rahbar Sayid ‘Ali Khamene’i yang mengedepankan “Persatuan Islam, baik Sunni dan Syi’ah serta beliau melarang penghujatan terhadap simbol-simbol pemimpin Islam yang diyakini madzhab Sunni baik itu sahabat maupun istri-istri nabi. Untuk masalah tahrif “hanya berbeda penafsiran” yang jelas Al-Qur’an di Indonesia dan Al-Qur’an di Republik Islam Iran serta seluruh dunia sama saja  .. pen..ul) Keyakinan ini bertentangan dengan keyakinan kaum Sunni yang meyakini bahwa Allah SWT menjamin keaslian Al-Qur’an (QS. Al-Hijr:9).
            Keempat, kaum Syiah melakukan praktek Nikah Mut’ah, sementara kaum Sunni melarangnya sebab dampak negatifnya luar biasa besar karena terkesan melegalkan perzinahan secara massal. Hal inilah yang membuat Sayid Husein Musawi keluar dari Syiah setelah sebelumnya menjadi “Penasihat Pribadi Ayatullah Khomeini” (perlu cross check dibuku Demi Allah Junjunglah Kebenaran oleh Syaikh Ali Al-Muhsin dengan judul asli “Lillah Walilhaqiqah” terbitan Baytul Muhibbin PRESS 2010) ...Jawaban atas Buku Mengapa Saya Keluar dari Syiah atau judul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”) disamping kewajiban yang dibebankan pada para penganut Syiah untuk memberikan Khumus atau seperlima penghasilan kepada para Imam yang ditentang oleh  Sayyid Husein Musawi. Sayang sekali beliau dibunuh secara keji tidak lama setelah beliau menyatakan keluar dari Syiah. (perlu cross check dibuku Demi Allah Junjunglah Kebenaran oleh Syaikh Ali Al-Muhsin dengan judul asli “Lillah Walilhaqiqah” terbitan Baytul Muhibbin PRESS 2010) ...Jawaban atas Buku Mengapa Saya Keluar dari Syiah atau judul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”...jangan hanya selalu melakukan penghakiman sepihak ya akhi Akhmad Riduan, karena kata-kata atau kalimat yang tanpa cross check bisa menimbulkan salah arti...tapi untunglah buhan  kami bubuhan Banjar selalu berfikir dewasa dan arif menghadapi perbedaan, bubuhan tasauf tinggi nang kada basambahyangan ja hidup aja di Banjar, asal kada mangganggu urang, apalagi buhan Syiah nang Sembahyang jua..pikir positif ja ^_^  ...pen..ul)  
           
            Beberapa hal  di atas  hanyalah  merupakan sebagian dari keseluruhan  kandungan fundamental akidah Syiah yang perlu dipahami secara benar. K.H.Hasyim Asyari sendiri dalam halaman 9 Qanun Asasi  Li Jamiah Nahdatul Ulama (NU) menulis “madzhab yang paling benar dan cocok untuk diikuti di akhir zaman ini hanya 4 madzhab yakni Syafii, Maliki, Hanafi dan Hambali. Selain 4 madzhab tersebut saat ini sedang berkembang  madzhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah, tapi keduanya adalah ahli bid’ah, tidak boleh mengikuti mereka dan tidak boleh berpegangan  dengan kata-kata mereka”.(Berbeda pendapat para  ulama/tokoh agama yang satu dengan lainnya ..sah-sah saja, karena menurut Pemimpin Majelis Taklim Al Mukhlisin Banjarmasin dalam statemennya dalam kehidupan kita akan menemui 3 karakter manusia, yaitu orang yang benar-benar tulus mencintai kita, orang yang pura-pura mencintai kita dan yang terakhir orang yang memusuhi kita.....jadi sah saja berpendapat tapi jangan memaksa orang untuk mengikuti... bukankah di Kitab Al-Qur’an Surah  Al Baqarah disebutkan La iqraha fiddin / tidak ada paksaan dalam beragama???....pen..ul)
Saya kira Bapak Ahmad Barjie juga secara sepotong-sepotong mengutip pernyataan Imam Syafii RA yang secara lengkap sebenarnya adalah “Jikalau orang-orang mencaci maki aku dikarenakan aku memuliakan Ali maka saksikanlah bahwa aku seorang Rafidhi (Syiah). Jikalau orang-orang mencaci maki aku dikarenakan aku memuliakan Abu Bakar maka saksikanlah bahwa aku seorang Nashibi (Pencinta Abu Bakar) sebab aku memuliakan keduanya, apabila tidak demikian  maka lebih baik aku terkubur dibawah gundukan pasir”.
Pernyataan ini lebih merupakan penyaksian Imam Syafii RA bahwa mencintai Ahlulbait dan Sahabat-sahabat Nabi tanpa kecuali, bukan karena beliau membela akidah Syiah.
            Berikutnya Bapak Ahmad Barjie dengan merujuk  beberapa sejarawan terkesan “memaksakan” argumen bahwa Islam di Indonesia dibawa oleh pendakwah Syiah padahal realitas sejarah Islam Nusantara memiliki kemiripan dengan Islam Hadhramaut-Yaman yang pada umumnya berakar pada madzhab Syafii dari dulu hingga sekarang. Boleh  jadi Syiah berakar di Indonesia dari karena datangnya para pendakwah dari Persia (Iran) terutama yang masuk melalui jalur Selat Malaka sebagaimana ritus yang terlihat dibeberapa daerah di Aceh, namun fakta membuktikan pada umumnya muslim Indonesia menganut Madzhab Syafii, sehingga terlalu prematur apabila menggeneralisir kaitan Syiah dengan proses Islamisasi di Indonesia. Sehubungan dengan adanya sebagian oknum habib yang menganut madzhab Syiah, umat Islam jangan sampai terkecoh sebab Imam Malik RA telah mengingatkan,”Setiap perkataan bisa mengandung kebenaran dan kesalahan terkecuali perkataan yang datang dari si pemilik kubur ini (sambil menunjuk  makam Nabi SAW)”. (Sekali lagi, berbeda pendapat itu sah-sah saja, bukankah Perbedaan itu adalah Rahmat, baik saudara Akhmad Riduan maupun saudara Ahmad Barjie sama-sama mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat, jadi ingat!!! Jangan menghakimi...^_^....pen..ul).
            Mengakhiri tulisan ini, pertemuan ulama sedunia di Doha, Qatar tahun2008 menyepakati beberapa butir diantaranya:
Pertama, tidak boleh menyebarkan madzhab Sunni di negeri kaum Syiah, begitu pula sebaliknya tidak boleh menyebarkan madzhab Syiah dinegeri kaum Sunni (Negara kita negara Indonesia adalah negara yang begitu banyak menampung perbedaan penduduknya, baik warna kulit, agama, ras dan golongan, jadi jangan “terkungkung” di dalam tempurung, artinya terserah individunya masing-masing, karena ajaran yang sesat itu akan mati dengan sendirinya, cotohnya ajaran Komunis
Di Uni Soviet pun akhirnya “tumbang”...iyakah jar...^_^...pen..ul)
Kedua, saling menghormati dan tidak boleh mencaci ulama atau tokoh yang dihormati oleh madzhab lain. Alhasil, aqidah Sunni-Syiah jelas berbeda, namun anarkisme tidak dibenarkan dengan dalil apapun. ( Kalau yang ini setujuuuuu, Hidup Persatuan Sunni dan Syiah, Hidup Persatuan Islam.....iyakah jar ...^_^...pen..ul).
*Pemerhati Syiah dan Wahabi

(Koran Radar Banjarmasin hal.3 kolom Opini, Kamis,26/01/2012)
(Re-write by teambanjarkuumaibungasnya.blogspot.com/28/1/2012/KNY/MFF/AR/AR)


Syiah dan Sunni Saudara Kandung jar warga banua

 

Banjar..bujur banar..tapi kalau Zionis...La alias Tidak




Oleh: Ahmad Barjie B
 
Tutup tahun 2011 ukhuwah islamiah di tanah air sedikit ternoda. Sejumlah orang membakar pesantren, mushala dan rumah warga yang dikategorikan berpaham Syiah di Kecamatan Omben Sampang, Madura.

Komunitas muslim pimpinan Ustadz Tajul Muluk itu sempat dievakuasi, namun menolak relokasi apalagi transmigrasi ke daerah lain.

Peristiwa ini patut kita prihatinkan, karena: Pertama, selama ini tidak biasanya ada sekelompok orang menyerang muslim Syiah di negeri ini secara fisik. Yang sering terjadi seperti penyerangan aliran Ahmadiyah, al-Qiyadah al-Islamiah, Lia Eden, pelaku maksiat, penyakit masyarakat dan sejenisnya.

Terhadap aliran Syiah hubungan kita cukup rukun, dan kalau pun berbeda biasanya dicairkan melalui wacana, diskusi, dialog atau mujadilah bi al-husna. Ketua Umum PB-NU Said Aqiel Siraj mencurigai ada yang memprovokasi kasus ini guna merusak kedamaian dan hubungan baik yang selama ini terjalin.

Kedua, walaupun selama ini tidak jelas di mana saja dan berapa jumlah muslim Syiah di tanahair, namun kita percaya mereka cukup besar. Walaupun tidak begitu nampak, banyak dari kalangan umat Islam sesungguhnya identik bahkan bersimpati terhadap Syiah. Kasus ini perlu sekali diantisipasi agar tidak eskalatif. Sama sekali tidak ada gunanya jika Syiah dijadikan sasaran kekerasan baru.  Kalau kasus ini membesar, orang yang senang muslim tidak solid akan tertawa.
Saudara kandung
Antara kelompok Syiah (Syi’i) dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah (Sunni) sebenarnya bersaudara kandung, sebab berasal dari satu rumpun Islam yang sama yang diajarkan Rasulullah SAW. Dasar yang digunakan kedua aliran ini sama-sama Alquran dan hadis.

Hanya ada beberapa nuansa furuiyah (cabang) yang membedakannya, yang sesungguhnya tidak mendasar. Ada kelompok Syiah yang azannya ditambah dengan kalimat pujian kepada Ali bin Abi Thalib.  Hadis-hadis yang mereka pegangi banyak diriwayatkan oleh para ulama Syiah. Kecintaan kepada Ahl al-Bait (keturunan Rasulullah), baik itu sayyid (keturunan Hasan) maupun syarif (keturunan Husein).

Keduanya disebut habib jamaknya habaib, lebih tinggi dan cenderung fanatik ketimbang Sunni. Dan mereka lebih taat kepada imam atau pemimpinnya, karena konsep imamah dianggap penting.

Pemahaman, cara berpakaian dan sistem peribadatan mungkin juga agak berbeda, namun semua itu masih dalam koridor cabang, bukan pokok. Karena itu organisasi-organisasi besar Islam seperti MUI, NU, sudah lama menegaskan Syiah bukan aliran sesat. Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsiddin juga menyatakan hal sama. Penegasan ini dinyatakan lagi menyikapi peristiwa Sampang, Madura.

Jauh sebelumnya, mantan presiden Gus Dur menegaskan bahwa Syiah dapat dikatakan sebagai mazhab kelima dalam Islam, sesudah mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. Lebih-lebih kelompok Syiah Zaidiyah, oleh para ulama terdahulu dikatakan sebagai mazhab yang paling dekat dengan mazhab empat, yang dianut mayoritas muslim Sunni.
Karena kedekatan itu, tidak beralasan kita bermusuhan dengan Syiah. Apalagi dalam banyak hal kita juga mempraktikkan amalan dan doa yang banyak dipraktikkan kelompok Syiah. Pembacaan aneka syair maulid, seperti al-diba’i, al-barzanzi, al-habsyi, qasidah burdah dan banyak lagi, hakikatnya merupakan amalan kalangan muslim Syiah.

Isinya banyak sekali berisi pujian kepada Rasulullah dan ahl al-bait, dan itu tidak salah, karena sudah seharusnya demikian.

Menurut SB Assegaf Imam Syafii sebagai imam utama kalangan Sunni pernah mengatakan: “Andaikan karena mencintai keluarga Rasululah itu disebut Syiah, maka saksikanlah wahai jin dan manusia, bahwa sesungguhnya aku adalah Syiah”. Kalau sudah begini untuk apa kita bermusuhan.


Berhutang budi

Tanpa mengenyampingkan golongan muslim lain, umat Islam Indonesia sesungguhnya berhutang budi pada muslim Syiah. Banyak sejarawan mengatakan, Islam Nusantara asal mulanya didakwahkan keturunan pedagang Arab dari Hadramaut-Yaman. Mereka ini pelarian Syiah dari Irak karena tekanan politik.  Hanya saja identitas Syiahnya tidak tampak lagi.

Dalam perkembangan Islam kemudian, mereka juga sangat gigih berdakwah. Lihat saja betapa banyak kalangan habaib yang all out di dunia dakwah. Bahkan  komunitas yang sangat aktif melawan kemaksiatan dan penyakit masyarakat, juga dari kalangan mereka. Apakah mereka Syiah atau bukan, yang jelas banyak habaib di dalamnya.  

Tak hanya berdakwah bi al-hikmah, bi al-lisan dan bi al-hal, mereka juga proaktif berdakwah bi al-kitabah (lewat buku/kitab, tulisan, majalah, suratkabar dsb). Percerahan dan penyadaran beragama di dunia dan di tanah air banyak karena peran ulama dan penulis golongan ini.

Pada ranah politik internasional, golongan Syiah pula yang berani pasang badan melawan arogansi dan agresi Israel, Amerika dan sekutunya.  Lihat saja di tengah diamnya sejumlah negara Arab yang mayoritas penganut Sunni, Iran yang Syiah justru tampil berani, garang dan galak. Demikian pula pejuang Hizbullah yang Syiah di Lebanon.

Gengsi umat Islam dunia masih bisa tegak karena militansi mereka. Keberanian ini adalah warisan sejarah karena dalam banyak era kekhalifahan, seperti Bani Umaiyah dan Abbasiyah kaum Syiah (saat itu disebut Alawiyin) mengalami tekanan, sehingga menjadi militan. Mereka lebih serius dalam beragama dan memperjuangkannya, tidak sambil lalu.

Karena itu mari kita saling menghargai. Islam memang warna-warni dan menghargai perbedaan. Apapun nama kelompok muslim, sepanjang mereka tetap berpegang pada Alquran dan hadis, mereka saudara kita.

Para ulama perlu mendakwahkan Islam yang inklusif dengan menekankan persamaan, jangan mudah menyalahkan, menyudutkan, apalagi mengkafirkan dan menganggap kelompok lain sesat.  Umat Islam perlu banyak belajar, membaca dan membanding, agar wawasan keislaman luas, tidak picik dan sempit.

Orang dan kelompok yang suka menyalahkan biasanya karena berpandangan sempit. Tak ada yang lebih utama di antara kita kecuali yang paling bertakwa.


Penulis/Beliau adalahSekretaris Umum Yayasan & Badan Pengelola Masjid at-Taqwa Banjarmasin/Banjarmasinpost.co.id - Kamis, 5 Januari 2012 | 01:06 Wita




BENANG MERAH SUNNI DAN SYI'AH

( WARGA BANUA BANJAR GIN "BAKUCIAK" )


OLEH: Ahmad Barjie B

Tulisan saya disebuah media (Banjarmasin Post) edisi Kamis 5 Januari  2012 berjudul "Syi'ah dan Sunni Saudara Kandung" mendapat respon cukup positif dari sebagian masyarakat, khususnya kalangan Syi'ah dan Majelis Ahlulbait didaerah ini. Mereka minta izin memotokopi untuk disebarkan kepada beberapa kalangan, termasuk pada Peringatan Arbain di Gedung Jeddah Embarkasi Haji Banjarbaru, Sabtu, 14 Januari.
Peringatan Arbain ini dilaksanakan oleh Majelis Ahlulbait daerah ini dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah saw yang tewas sebagai syahid di Karbala,Irak, setelah di bantai dengan sadis oleh pasukan Yajid bin Muawiyah di bawah pimpinan panglima Ubaidilah bin Ziad. Bilangan 40 hari mereka hitung sejak hari Asyura 10 Muharram, sebab peristiwa terbunuhnya Husein itu terjadi tanggal 10 Muharram 61 H, sekitar 20 tahun setelah terbunuhnya Khalifah keempat Khulafa al-rasyidun Ali bin Abi Thalib.
Saya berhadir dalam acara tersebut untuk menghormati undangan yang disampaikan oleh panitia. Salah seorang panitia dari Banjarbaru bersusah-susah datang malam hari ke alamat saya di Banjarmasin guna menyampaikan undangan. Sesuai dengan amanatnya saya boleh mengajak orang lain meskipun tidak ada undangan tertulis. 
Setelah mengajak sejumlah orang, banyak yang merasa tertarik dan mengaku akan hadir. Tetapi menjelang berangkat, ada yang membatalkan dengan alasan, kegiatan ini dilaksanakan oleh kelompok Syiah. Ada pula teman dari Banjarmasin yang berhasil saya ajak hingga ketempat acara, tetapi begitu acara dimulai ia memilih pulang. Sambil bergurau ia beralasan tidak mau kalau-kalau disorat kamera, hingga nanti ada orang dikampungnya yang melihat dan mengira ia bagian dari muslim Syiah.
Sebenarnya acara ini sifatnya terbuka bagi siapa saja. hal ini tampak dari sambutan panitia pelaksana. Mereka menyebutkan Walikota Banjarbaru atau yang mewakilinya,          
Ketua DPRD Banjarbaru atau yang mewakilinya, Kepala Kementrian Agama Banjarbaru atau yang mewakilinya, pengurus MUI, NU, Muhammadiyah, HMI, PMII dan sebagainya. Tetapi kalangan eksternal yang mereka undang, hormati dan sebutkan itu tidak tampak kelihatan, sehingga nyaris kegiatan yang cukup besar ini hanya dihadiri oleh kalangan internal. Padahal sekiranya acara tersebut diikuti oleh peserta yang heterogen tentu positif dan mencerahkan.  
Melihat keengganan dan ketidakhadiran sejumlah kalangan tersebut, saya mengambil kesan bahwa umumnya masyarakat muslim di daerah kita ini belum memiliki semangat dialogis dan keterbukaan yang memadai. Semangat kerukunan dan Ukhuwah Islamiah terhadap suatu kelompok dan aliran agama yang relatif berbeda dalam aspek-aspek tertentu, belum menonjol. Kesiapan untuk berbeda dalam memahami ajaran agama belum begitu terbangun. Keadaan begini kurang kondusif dalam menciptakan kerukunan dan soliditas umat, dan bila di teruskan dikhawatirkan akan mudah menimbulkan kesalah pahaman dan perpecahan.
Orang mudah melakukan klaim kebenaran dan atau memvonis sesuatu sebelum mengetahui lebih jauh. Orang cenderung menggunakan pendapatnya pribadi atau kelompoknya saja tanpa melakukan urun rembug dan cross check dengan pendapat lain. Padahal MUI, NU, dan Muhammadiyah sudah tegas menyatakan bahwa Syiah bukan aliran sesat dan ia masih dalam rumpun islam yang diakui hak dan keberadaannya ditengah komunitas muslim lainnya. Banyak ulama menyatakan Syiah merupakan mazhab kelima setelah Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Kalau kita benar-benar mengikuti para ulama dan organisasi Islam yang kita rujuki, mestinya keengganan itu tidak terjadi.

Kerangka normatif

Saya mengikuti acara itu dari a sampai z. Acara di mulai dengan membaca surah Yasin, dilanjutkan tahlil dan doa arwah dan doa haul seperti kebanyakan dilaksanakan oleh kalangan muslim Sunni yang melaksanakannya. Di dalam doa disertakan doa memohon keselamatan untuk Sayyidina Husein dan keluarganya yang tewas di Karbala. Pengatur acara menyelingi mata acara dengan menekankan kecintaan kepada Ahlul Bait dan menghormati pengorbanan mereka. Setelah membaca ayat-ayat suci Al-quran, acara di isi ceramah oleh Habib Thoha al-Musawa dan Habib Ahmad Baraqbah.
Diantara isi ceramah adalah perlunya menghayati perjuangan Imam Husein bin Ali beserta keutamaan dan sifat-sifat mulia cucu Rasulullah tersebut. Dianjurkan, kalau selama ini masyarakat Islam di Kalsel sering mengadakan pembacaan manakib Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Syekh Muhammad Samman al-Madani, alangkah baiknya juga jika diadakan pembacaan manakib Sayyidina Husein bin Ali atau Ahlul Bait  yang lain seperti Fatimah al-Zahra putri Rasulullah, Zainab bin Ali, dll, sebab mereka lebih dekat dengan Rasulullah saw dan menjadi anak cucu kesayangan beliau.
Dalam ceramah tersebut juga diceritakan kronologis terbunuhnya Husein yang sangat mengenaskan. Keluarga Husein yang hanya berjumlah 40 orang dibantai oleh tentara Yajid yang berjumlah 35 ribu orang. Kepala beliau dipenggal dan dilecehkan, anak-anak dan sedikit wanita yang dibiarkan hidup dirantai dan diarak dalam perjalanan jauh menuju kota Damaskus Syiria sambil dihinakan. Karena itu makam Husein ada dua, satu makam kepalanya dan satu makam tubuhnya.
Mengenang peristiwa ini penceramah dan sebagian hadirin menangis. Tetapi histeria hadirin masih terkendali, tidak seperti muslim Syiah Irak ataupun Iran yang meratapi kematian Husein sambil memukul dan melukai tubuhnya hingga berdarah-darah. Bahkan boleh jadi tangisan peserta ESQ lebih keras dari jamaah arbain ini. kesedihan mereka wajar karena tragedi itu nyata adanya. Kita semua patut bersedih dan menyesal mengapa peristiwa itu terjadi dan menjadi noda hitam dalam sejarah Islam.
Acara yang dilatari beberapa spanduk yang menggambarkan peristiwa tersebut dan diselingi pembacaan puisi dan shalawat kepada Nabi dan keluarga tersebut, diakhiri dengan prosesi "Ziarah" Seluruh peserta diminta berdiri menghadap kiblat. Di mimbar  kehormatan dibentangkan kembang berantai lalu sama-sama membaca shalawat dan doa untuk Husein dan Ahlul Bait lainnya, doa untuk orang tua/keluarga kita sendiri serta untuk muslimin dan muslimat semuanya.

Soal penafsiran 

Melihat materi acara, tampak kegiatan arbain masih dalam koridor normatif, bahkan relatif sama dengan yang dilakukan oleh sebagian muslim Sunni yang mentradisikan peringatan haul dan doa-doa untuk arwah orang tua dan para ulama yang di anggap berjasa dan memiliki karomah.
Bedanya tampak dari aplikasi keberagaman dan segi penafsiran. Hadis yang mereka gunakan tentang keutamaan anak-cucu rosulullah dikalangan Sunni tidak terlalu di tonjolkan, karena Sunni mengaggap semua sahabat dekat Nabi memiliki keutamaan, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib. Mereka juga menonjolkan hadis dimana Nabi  mengatakan bahwa keluarga Ahlul Bait adalah perahu keselamatan, siapa yang mencintai Ahlul Bait akan bersama Nabi di dalam surga dan siapa yang membencinya sama artinya dengan membenci Nabi sendiri.
Mereka memang sangat menghormati Ali ra, tanpa mengabaikan atau menyalahkan sahabat yang lain. Mereka cenderung mengaggap Imam Ali dan keturunannya (Imam 12) tergolong ma'sum dengan bersandar kepada QS al-Ahzab ayat 33. Selain sandaran dalil naqli juga karena kepribadian para Ahlul Bait itu sangat terpuji dan setia mempertahankan Islam dengan jiwa raganya.
Jika kita kaji surah al-Ahjab ayat 33 trb, memang di sebutkan Allah menghendaki Ahlul Bait itu bersih sebersih-bersihnya (yuthahhirakum tathhira). Hanya saja dalam Tafsir Jalalain, disebutkan maksud Ahlul Bait disini adalah para istri Nabi, yang oleh Allah diperintahkan agar tidak keluar rumah dan tidak menampakkan perhiasannya (tabarruj) seperti wanita jahiliyah dahulu. Dalam Al-Quran dan terjemahnya terbitan kementrian Agama, Ahlul Bait di artikan keluarga atau rumah tangga Nabi. Dalil ini bagi kalangan Syiah dijadikan sandaran bahwa Ahlul Bait yang lain juga bersih dari dosa.
Melihat hal di atas, tampak bahwa perbedaan antara Sunni dengan Syiah hanya beda penafsiran terhadap sesuatu nash.
(Re-write by : team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/KNY/MFF/AR/R/19/01/2012/Radar Banjarmasin-OPINI- hal.3 edisi selasa, 17 Januari 2012)





Rhoma klaim lagunya damaikan Suni-Syiah


Kamis, 5 Januari 2012 20:05:58
JAKARTA  – Ada-ada saja  penyanyi Indonesia yang satu ini, berniat ingin menyelesaikan konflik antara Suni dan Syi’ah yang terjadi di Sampang, Madura, Raja Dangdut Rhoma Irama jadikan lagunya untuk mendamaikan kedua belah pihak.
“Ingin konflik di Sampang cepat mereda, caranya dengar saja syair lagu terbaru di film saya,” kata Rhoma Irama di Gedung Negara Grahadi Surabaya ketika ditanya sejumlah wartawan mengenai konflik antara Suni dan Syi’ah Sampang, Rabu (4/1), seperti dilansir tempo.
Dengan suara khasnya, lantas Rhoma mengutip sepotong syair lagu berjudul Ukhuwah. “Tuhan kita sama, nabi kita sama, kiblat kita sama, sholat kita sama, puasa kita sama, zakat kita sama, haji kita sama, kenapa harus saling mengkafirkan.”
Jika kedua belah pihak (kelompok Sunni dan Syi’ah) bernyanyi dan mampu meresapi syair lagu untuk film “Sajadah Kabah” (disutradarai dan dimainkan sendiri oleh Rhoma bersama Ridho Rhoma dan Ruhut Sitompul),  Rhoma yakin konflik di Sampang akan mereda dengan sendirinya.
Rhoma sendiri datang ke Surabaya dalam rangka persiapan Musyawarah Nasional Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI) yang akan digelar di Garden Palace Hotel Surabaya pada 24-25 Februari 2012 mendatang.

Sikap Berbahaya Menteri Agama


Pernyataan SuryadharmaAli, yang memojokkan aliran Syiah, sungguh disesalkan. Seharusnya dipahami, sebagai Menteri Agama ia mewakili pemerintah, dan bukannya suara atau kepentingan Partai Persatuan Pembangunan yang dipimpinnya. Sikap yang tak bijak ini hanya akan merusak kebebasan beragama.

Menteri Agama mengatakan bahwa pemerintah sejauh ini menganggap Syiah bukan bagian dari Islam. Dasarnya, menurut dia, Surat Keputusan Bersama Majelis Ulama Indonesia dan Kementerian Agama. Ia juga mengatakan Rapat Kerja Nasional MUI 1984 merekomendasikan umat Islam agar waspada terhadap paham Syiah.

Ucapan seperti itu hanya akan membuat konflik dalam kehidupan beragama memanas lagi. Padahal, sebagai pejabat publik, semestinya ia berupaya menjaga kerukunan beragama. Ia seharusnya justru mengutuk keras pembakaran rumah penganut Syiah di Sampang, Madura, beberapa waktu lalu. Apalagi para penganut aliran ini sampai diusir dari tempat tinggal mereka.

Pak Menteri juga terlihat bersikap plinplan lantaran beberapa hari sebelumnya ia mengatakan Syiah masih dalam koridor Islam. Bahkan Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar mengatakan Syiah tidak menyimpang dari ajaran Islam. Ia juga mengatakan, di negara-negara Islam lain, Syiah diakui dan tidak mendapat penolakan.

Sikap yang tak tegas itu tentu akan membikin bingung masyarakat. Orang pun akan bertanya-tanya, kenapa Menteri Agama selalu merujuk pada pendapat MUI. Bukankah seharusnya ia bersikap atas nama pemerintah, bahkan negara ini? Pedoman yang seharusnya dipegang oleh Menteri Agama pun jelas, yakni konstitusi. Pada Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 jelas dinyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu.

Kebebasan memeluk agama dan meyakini kepercayaan itu ditegaskan pula dalam Pasal 28-E dan 28-I UUD 1945. Bahkan dinyatakan bahwa beragama termasuk hak yang tidak bisa dikurangi dalam keadaan apa pun.

Bukan hanya dalam soal konflik Syiah-Sunni, Suryadharma bersikap aneh. Sikap serupa ia perlihatkan dalam menghadapi kasus pelarangan beribadah jemaat Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Bogor. Menteri Agama mengatakan pihaknya angkat tangan lantaran masalah ini lebih bersifat administratif, yakni menyangkut izin mendirikan bangunan. Ia malah menyarankan agar jemaat gereja ini mengalah.

Suryadharma seharusnya memahami kisruh GKI Yasmin bukan lagi soal tidak adanya izin mendirikan gereja. Untuk soal ini, Mahkamah Agung dan Ombudsman RI sudah memutuskan bahwa IMB GKI Yasmin sah. Jadi masalahnya adalah adanya aksi sepihak dari umat lain yang tak menginginkan gereja tersebut berdiri di sana. Karena itu, penyelesaian kisruh yang telah berlangsung selama tiga tahun ini jelas menjadi tanggung jawab Suryadharma.

Sikap sekaligus pandangan Suryadharma yang cenderung bertentangan dengan konstitusi itu amat tak wajar. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mesti menegurnya, bahkan jika perlu mencopotnya, karena sikap itu hanya akan menghancurkan kerukunan umat beragama. (IRIB Indonesia/Tempointeraktif/SL
)


PB NU: Syiah Tidak Sesat


Menanggapi pernyataan Suryadarma yang juga kader Nahdlatul Ulama, Said menilai hal itu tidak pantas disampaikan. "Yang dikedepankan harusnya ukhuwah dan toleransi," katanya. Said berharap Suryadarma Ali meminta maaf atas pernyataannya itu. "Saya setuju dengan permintaan maaf itu," katanya. Said menilai permintaan maaf Suryadarma Ali bertujuan untuk menguatkan persatuan bangsa.(IRIBIndonesia/Tempo/PH)Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. "Di universitas Islam mana pun tidak ada yang menganggap syiah sesat," katanya saat dihubungi Tempo Kamis malam 26 Januari 2012.

Said merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi yang dikenal sebagai pusat Wahabi yang keras. "Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat," ujarnya.
 
Oleh karena itu Said heran dengan pernyataan Menteri Agama yang menilai syiah adalah ajaran sesat. Dalam kurikulum Al Firqoh Al Islamiyah ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. "Ulama Sunni seperti Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam," katanya.

Meski Syiah dan Sunni berbeda, lanjut Said, umat Islam tidak perlu mempertajam perbedaan. "Dalam Sunni saja banyak perbedaan yang tajam, misalnya penganut Imam Syafii dan Hanafi, itu saja berbeda tajam, apalagi Syiah," katanya. Fatwa NU mengenai Syaih, Said menambahkan, pernah dikeluarkan pada 2006 yang menyebutkan Syiah bukan aliran yang sesat. "NU tidak pernah keras," ujarnya. 

Sebut Syiah Bukan Islam, Menteri Agama Dikecam

Ferdinan - Okezone
Sabtu, 28 Januari 2012 06:02 wib
Marzuki Alie (Foto: Okezone)
Marzuki Alie (Foto: Okezone)
JAKARTA - Ketua DPR Marzuki Alie mengkritik pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali yang menyebut aliran Syiah bertentangan dengan ajaran Islam.


"Menag harusnya berhati-hati dalam membuat pernyataan, apalagi sekarang sedang sidang parlemen OKI yang sebagian di antaranya  penganut Syiah. Syiah sebagai salah satu  mazhab diterima di negara manapun di dunia. Tidak ada yang menyatakan di luar Islam," kata Marzuki kepada okezone, Jumat (27/1/2012) malam.


Sebelumnya Suryadharma menjelaskan, Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan keputusan terkait keberadaan Syiah. Keputusan tersebut di antaranya


1. Rakernas MUI pada 7 Maret 1984 di jakarta, merekomendasikan bahwa umat Islam Indonesia perlu waspada terhadap menyusupnya paham syiah perbedaan pokok dengan ajaran Ahli Sunna Waljamaah.


2. PBNU pernah mengeluarkan surat resmi No.724/A.II.03/101997, tanggal 14 Oktober 1997, ditandatangai oleh Rais Am KH.M Ilyas Ruchiyat dan Katib KH.M. Drs. Dawam Anwar, mengingatkan kepada bangsa Indonesia agar tidak terkecoh oleh propaganda syiah dan perlunya umat islam indonesia perbedaan prinsip ajaran syiah dengan Islam.


3. Kementerian Agama RI mengeluarkan surat edaran nomor D/BA.01/4865/1983 tanggal 5 Desember 1983 tentang hal ihwal mengenai golongan syiah, menyatakan bahwa syiah tidak sesuai dan bahkan  bertentang dengan ajaran Islam.


"Kemarin-kemarin saya membuka dokumen, ternyata MUI dan Kemenag menyatakan syiah bukan Islam. Sejauh ini pemerintah berpegang kepada keputusan lama," kata Suryadharma, Kamis, 26 Januari di Gedung DPR.

(fer)

Ayatullah Ali Khamenei Dituduh Lakukan Kejahatan Kemanusiaan

Fajar Nugraha
Rabu, 25 Januari 2012 07:30 wib

Ayatullah Ali Khameni (Foto: Reuters)
Ayatullah Ali Khameni (Foto: Reuters)
WASHINGTON - Reza Pahlevi yang kini menjadi lambang terakhir dari Shah Iran, menyerahkan laporan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menuduh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khameni melakukan kejahatan kemanusiaan.


Laporan terhadap Ayatullah Ali Khamenei itu dilayangkannya setelah pemimpin tertinggi Iran itu dianggap menekan rakyat, usai terjadinya kerusuhan pascapemilu pada Juni 2009 silam.


Menurut Putra Mahkota Dinasti Shah Iran ini, laporan kepada DK PBB itu disertai dengan bukti agar DK PBB bersedia menangani masalah ini secepatnya. Dirinya pun mendesak agar tuduhan tersebut diajukan kepada Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda.


"Selama tiga puluh tahun terakhir dia yang menyebut dirinya sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Iran, mengimplementasikan kebijakan kekerasan kepada etnis minoritas dan pemeluk agama minoritas," jelas Reza Pahlevo seperti dikutip PR Newswire, Rabu (25/1/2012).


"Hari ini saya mendesak kepala negara dari anggota DK PBB, untuk mengajukan kejahatan ini kepada Pengadilan Kriminal Internasional sesuai dengan Ayat 13 (b) dari Statuta Roma demi mengajukan penyelidikan penuh atas kejahatan yang dilakukan pemimpin Iran terhadap warga sipil," imbuhnya.


Reza Pahlevi menambahkan bahwa rakyat Iran sudah terlalu lama menderita. Dirinya menilai rakyat amat membutuhkan dukungan dan bantuan dari dunia internasional.


"Saya mendesak dunia untuk mengambil tindakan terhadap Iran, khususnya kepada negara anggota DK PBB untuk segera mengambil tindakan atas laporan ini," ungkapnya.


Putra Mahkota yang saat ini tinggal di Amerika Serikat (AS) itu berniat untuk segera menyertakan dokumentasi yang mendukung aksi kekerasan terhadap warga Iran.
(faj)

Rakyat AS Tolak Perang Terhadap Iran

Khairisa Ferida
Jum'at, 27 Januari 2012 18:15 wib

Foto Demonstrasi Warga AS Menentang Perang (Bollyn)
Foto Demonstrasi Warga AS Menentang Perang (Bollyn)
WASHINGTON - Sebuah jajak pendapat di Amerika Serikat menunjukkan umumnya warga Amerika Serikat (AS) menilai melakukan berperang dengan Iran adalah sebuah kesalahan besar.


Jajak pendapat ini dilakukan menyusul ketegangan yang meningkat beberapa pekan terakhir di antara kedua negara, terkait dengan program nuklir yang dijalankan Teheran.


Meski laporan terakhir menyebutkan Iran bersedia menempuh upaya dialog dengan Barat, namun Pemerintah AS menegaskan perang dengan Iran masih mungkin dilakukan.


Pernyataan keras tidak hanya datang dari Pemerintah AS namun juga dari bakal calon Presiden AS Newt Gingrich yang mengatakan, dirinya akan menggulingkan rezim Pemerintah Iran di bawah Presiden Ahmadinejad  dalam kurun waktu satu tahun.


Namun tampaknya meski terjadi perang kata-kata antara pejabat AS dan Iran, rakyat AS pada umumnya tidak mendukung perang terhadap Iran. Survei yang dilakukan secara online dan melalui telepon menunjukkan, warga tidak ingin AS melancarkan perang terhadap Iran.


Parlemen di Charlottesville, Virginia bahkan telah mengeluarkan sebuah resolusi, yang diyakini merupakan yang pertama di AS. Resolusi itu berisikan penolakan terhadap perang yang akan dilancarkan ke Iran serta menyerukan  pemerintah AS untuk menghentikan perang yang melibatkan pesawat pengebom tak berawak yang dioperasikan oleh CIA di beberapa wilayah.


Bukan hanya masyarakat awam yang menolak perang terhadap Iran, namun para ahli di bidang keamanan juga memperingatkan kemungkinan akan dimulainya perang terhadap Iran. Salah satunya adalah mantan direktur CIA.


"Mereka selalu mengatakan bahwa opsi militer kemungkinan masih dapat dilakukan. Menurut saya itu adalah pilihan yang buruk. Salah satu dampak besar jika melakukan perang dengan Iran adalah resiko siklus pembalasan yang besar. Kita akan sulit menemukan titik akhir," ujar mantan Direktur CIA John E. McLaughlin seperti dikutip rt.com, Jumat, (27/1/2012).


Para pengamat menilai terdapat perpecahan antara Pemerintah AS dan rakyat AS, apa yang menjadi kebijakan pemerintah AS dianggap tidak mewakili kepentingan rakyat.(rhs)




Wahai Orang-Orang Berakal di Antara 
Kelompok Sunnah dan Syi`ah!
boresh.jpg
Aidh Al-Qarniy, seorang penceramah dari Saudi Arabia yang sangat terkenal di Timur tengah dan pada tahun lalu pernah berkunjung ke Indonesia. Ia juga seorang penulis yang sangat produktif. Salah satu bukunya berjudul La Tahzan (Jangan Bersedih Hati) menjadi best-seller dan dikabarkan telah melampaui satu juta copy (rekor buku-buku kontemporer berbahasa Arab). Telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain, Inggris dan Indonesia. Tidak kurang dari lima penerbit Indonesia menerjemahkan bukunya dan mengalami sukses luar biasa (belasan bahkan puluhan kali cetak ulang). Di bawah ini tulisannya dua hari yang lalu di harian berbahasa Arab: Assharq Alawsat (terbit di london), saya terjemahkan di bawah ini dengan harapan ada manfaatnya bagi umat Islam di Indonesia. Silakan mem-forward- kannya ke milis2 yang lain jika dianggap perlu. (M. Bagir)
Berikut ini tulisannya:
Wahai Orang-Orang Berakal di Antara Kelompok Sunnah dan Syi`ah!
Oleh: `Aidh Al-Qarniy.
Sejauh ini kita telah gagal menghapus perbedaan pendapat di antara kelompok Sunnah dan Syi`ah, walaupun telah berlalu puluhan abad. Maka wajiblah kita mengakui bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang ada, namun jangan sekali-kali mengembangkannya sehingga menjadi pertentangan berdarah. Cukuplah luka-luka yang kita derita. Cukuplah perpecahan yang mengoyak-koyak kita. Sudah amat banyak bencana yang menghancurkan kita, umat Islam. Sementara itu, zionisme internasional selalu bersiap-siap untuk menghancurkan kita dan mencerabut eksistensi kita dari akar-akarnya. Apa gunanya mengulang-ulang pidato-pidato yang mencaci maki, menyakiti hati, memprovokasi, memusuhi dan menyebut-nyebut kejelekan dan aib masing-masing kelompok? Manfaat apa yang diharapkan dari permusuhan yang menumpahkan darah si Sunni maupun si Syi`i?
Masing-masing kelompok di antara Sunnah dan Syi`ah menganut kepercayaan tentang kebenaran mazhabnya sendiri dan kesalahan mazhab selainnya. Anda takkan mampu mengubah prinsip-prinsip utama yang telah dipercayai manusia sepanjang mereka tetap berkeras hati untuk mempertahankannya. Kami, Ahlus-Sunnah, beri`tiqad bahwa kebenaran ada pada kami, baik melalui Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Dan apabila kaum Syi`ah (mungkin) merasa bahwa kami kurang memberikan penghargaan kepada hak Ahlul-Bait, maka kami ingin menegaskan dengan kuat, terus terang, tanpa tedeng aling-aling, bahwasanya kami berlepas tangan di hadapan Allah dari siapa saja yang merendahkan urusan Ahlul-Bait, atau mencaci mereka atau melecehkan mereka. Bersamaan dengan itu, kami meminta agar kaum Syi`ah juga berhenti merendahkan martabat para Sahabat Nabi saw. atau melecehkan mereka atau mencaci mereka. Membela dan menjaga kehormatan Ahlul-Bait dan para Sahabat merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah.
Menjadi kewajiban orang-orang berakal, dari kalangan Sunnah dan Syi`ah, untuk berupaya sungguh-sungguh mengubur segala macam fitnah (penyebab pertikaian) di antara mereka, menghindari segala bentuk provokasi atau kebiasaan melempar ancaman ataupun tuduhan pengkhianatan ke alamat kelompok yang lain.
Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah! Cabutlah semua sumbu pertikaian. Padamkanlah semua api pertikaian. Janganlah menambah lagi bencana umat ini di atas segala bencana yang sudah mereka alami.
Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah, biarlah masing-masing memilih jalannya sendiri, biarlah masing-masing menentukan arah pandangannya sendiri, sampai kelak saat Allah memutuskan apa yang kita perselisihkan di antara kita.
Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah! Jangan sekali-kali memberi kesempatan para musuh Islam menghancurkan bangunan umat ini, melibas eksistensi mereka, menghapus jejak risalahnya dan mencemarkan segala kepercayaan sucinya.
Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah! Haramkanlah segala fatwa yang membolehkan membunuh, menumpahkan darah dan mengobarkan api permusuhan, kebencian dan kedengkian. Kita semua, Sunnah dan Syi`ah, menyerukan hidup berdampingan secara damai serta bersedia berdialog dengan kelompok-kelompok non-Muslim. Apakah kita harus gagal menjalani kehidupan damai antara kaum Sunnah dan Syi`ah? Siapa saja yang gagal memperbaiki urusan rumahnya sendiri, tidak akan berhasil memperbaiki urusan rumah orang lain.
Demi keuntungan siapakah terdengarnya suara sumbang busuk tak bertanggungjawab yang berseru: “Hai Syi`i, bunuhlah seorang Sunni, niscaya kau masuk surga!” Lalu dari arah yang lain terdengar suara: “Hai Sunni, bunuhlah seorang Syi`i sebagai penebus agar kau terhindar dari neraka!” Logika apa ini?! Akal apa ini?! Dalil apa ini?! Hujjah apa ini?! Bukti apa ini?!
Wajiblah kita berkata: “Hai Sunni, darah si Syi`i adalah suci; haram menumpahkannya! ” “Hai Syi`i, darah si Sunni adalah suci; haram menumpahkannya! “
Belum tibakah saat kita sadar dan mendengarkan suara hati nurani dan akal sehat serta panggilan agama? Jangan sekali-kali ada lagi pelanggaran atas keselamatan orang lain. Jangan ada lagi kezaliman. Jangan pula ada lagi provokasi di antara sesama kita. Jangan ada lagi upaya menyenamgkan hati para musuh, dengan mengoyak-koyak barisan-barisan kita sendiri. Jangan ada lagi upaya menghancurkan rumah-rumah kita dengan tangan-tangan kita sendiri. Jangan lagi ada upaya membunuh diri kita dengan pedang-pedang kita sendiri.
Barangkali yang terbaik untuk menghentikan pertikaian di antara Sunnah dan Syi`ah ialah dengan meniru apa yang dilakukan kaum badui (yang dimaksud tentunya di negeri Saudi Arabia—penerj) : setiap kali terjadi tabrakan di antara mobil-mobil mereka, mereka berkata: “Masing-masing memperbaiki mobilnya sendiri!” Segera pula masalahnya selesai, tanpa polisi lalu-lintas, tanpa denda tilang dan tanpa hukuman penjara!
Oleh sebab itu, wahai kelompok Sunnah dan Syi`ah, masing-masing kita “hendaknya memperbaiki kendaraannnya sendiri-sendiri! ” Allah swt telah memerintahkan kita agar memperlakukan kaum non-Muslim dengan perlakuan yang baik, sepanjang mereka tidak memerangi kita atau mengusir kita dari perkampungan- perkampungan kita. Sebagaimana dalam firman-Nya: “Allah tidak melarang kamu memperlakukan mereka yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu dari perkampungan- perkampungan kamu (Allah tidak melarang kamu) memperlakukan mereka dengan baik dan bersikap adil terhadap mereka. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.”
Begitulah perlakuan terhadap kaum non-Muslim. Perlakuan baik di sini artinya adalah mencegah diri jangan sampai mengganggu mereka, berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang terpuji dan hidup berdampingan dengan aman dan damai. Maka betapa pula dengan kelompok-kelompok sesama Muslim meskipun berbeda pandangan dan pendirian?? Apa yang dikatakan orang-orang lain ketika menyaksikan masing-masing kita menumpahkan caci-maki dan sumpah serapah ke alamat saudara kita sesama Muslim, penuh pelecehan dan penghinaan?? Saudara-saudara sekandung pun, jika mereka tidak mampu memperbaiki hubungan di antara mereka dan berdiri rapat dalam satu barisan, pastilah mereka itu dalam pandangan masyarakat menjadi rentan terhadap permusuhan, perpecahan, kegagalan dan kekalahan.
Mari kita tinggalkan pidato-pidato berapi-api yang penuh kebencian dan kata-kata kosong tak berharga sedikit pun, lalu kita semua kembali sebagaimana diperintahkan Allah swt: “Berpeganglah kamu sekalian erat-erat dengan tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai! ” (Diterjemahkan oleh M.Bagir/

Tanggapan atas Pernyataan Sikap Bersama “Ahlusunnah”

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad.
Berikut ini adalah tanggapanku atas adanya pernyataan sikap bersama yang dikeluarkan oleh “Ahlussunnah Indonesia” yang menyatakan bahwa syi’ah tidak bisa bersatu dengan Ahlussunnah dan menuntut syi’ah dilarang aktivitasnya. Sengaja aku beri tanda kutip (“) pada kata Ahlussunnah, karena aku masih yakin, mereka tidak mewakili Ahlussunnah.
Berikut Pernyataan sikap yang dibawahnya aku berikan tanggapan:
Pernyataan Sikap Bersama Ahlussunnah Indonesia
Kami Ahlussunnah Indonesia menyatakan sikap bersama tentang keberadaaan Syiah Imamiyyah Itna’asyariyyah di Indonesia sebagai berikut:
What? Ahlussunnah? ah paling ngaku-ngaku ahlussunnah padahal khawarij, tukang pemecah belah umat.
MENIMBANG
  1. Ajaran Ahlussunnah adalah Ajaran dan jalan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan Sahabatnya hingga hari kiamat. (Q.S An Nisa 115 dan Al Hasyr : 7)
Ajaran Syi’ah juga ajaran Allah, Rasulullah, keluarga, dan sahabat Nabi yang setia hingga akhir kiamat. So, situ klaim, sini klaim juga. Kenapa tidak saling menghormati saja antara pengklaim? Bro, Allah saja berfirman begini:
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )
2. Siapapun yang tidak sesuai dan bahkan menyelisihi Ahlussunnah wal jama’ah, berarti menyelisihi kebenaran, maka dia tersesat. (Q.S Yunus : 32 dan Al An’am 55)
Setahuku nih bro ustadz:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS AL AHZAB: 36)
Jadi yang sesat itu yang menyelisihi ketetapan Allah dan Rasulnya, bukan menyelisihi ketetapan ulama Ahlussunnah. Siapakah yang menyelisihi ketetapan Allah dan Rasul-Nya? Coba deh bro ustadz, baca surat An-Nahl ayat 125.
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ahlussunnah meyakini bahwa Al Qur’anul Karim adalah Kitab yang diturunkan kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, tetap terjaga dari penambahan dan pengurangan hingga hari kiamat (Q.S Al Hirr :9). Sedangkan syi’ah meyakini bahwa Al- Qur’an yang ada terdapat pengurangan dan tidak otentik. Ulama besar Syi’ah Husein bin Muhammad Taqi An Nuri At Tabarsi dalam kitabnya “Fashlul Khithob fi Itsbat Tahrif Kitab Rabbil arbab” berkata : “Ahlun Naqli Wal Atsar dari kalangan khusus (Syi’ah) dan umum (Ahlussunnah) sepakat bahwa Al Qur’an yang ditangan ummat Islam saat ini bukanlah Al Qur’an seutuhnya”. Dan Al-Qur’an versi Syi’ah disebut dengan mushhaf Fathimah berjumlah 17.000 ayat dan akan dibawa oleh Imam Mahdi (AlKafi juz, 2 hal. 597, cet Beirut danFaslul Khithab hal 235).
Aduh, bro ustadz boong nih. Orang kerdil senantiasa mengatakan mazhab syiah meyakini tahrif dengan mengutip riwayat-riwayat syiah. Padahal ternyata dalam riwayat sunni juga terdapat hal-hal serupa. Jika orang kerdil salafy itu berkesimpulan Syiah meyakini tahrif dengan riwayat seperti itu maka hendaknya dia juga berkesimpulan yang sama yaitu Sunni meyakini tahrif dengan adanya riwayat serupa. Kalau orang kerdil itu mau membantah kalau faktanya Sunni tidak meyakini tahrif maka bukalah mata lebar-lebar dan saudara kita yang Syiah pun tidak ada yang meyakini tahrif Al Qur’an.
حدثنا إسماعيل بن إبراهيم عن أيوب عن نافع عن ابن عمر قال لا يقولن أحدكم قد أخذت القرآن كله وما يدريه ما كله ؟ قد ذهب منه قرآن كثير ولكن ليقل قد أخذت منه ما ظهر منه
Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata “Janganlah ada salah seorang diantara kalian mengatakan ‘sungguh aku telah mengambil Al Qur’an seluruhnya’. Tahukah ia apa seluruhnya itu?. Sungguh telah hilang darinya Al Qur’an yang banyak, hendaknya ia mengatakan “sungguh aku telah mengambil darinya apa yang ada [nampak] darinya saja”[Fadha’il Qur’an Qaasim bin Sallam no 578]
Riwayat ini sanadnya shahih. Selain Abu Ubaid [Qaasim bin Sallaam] riwayat ini juga diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunan Sa’id bin Manshur no 137 dengan sanad yang sama seperti riwayat Abu Ubaid.
  • Isma’il bin Ibrahim adalah Isma’il bin Ibrahim bin Miqsaam Al Asdiy yang dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Ulayyah. Dia adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Syu’bah meriwayatkan darinya [berarti tsiqat menurut Syu’bah]. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun shaduq”. Abu Dawud berkata “tidak ada seorangpun dari kalangan muhaddis melainkan ia pernah salah kecuali Isma’il bin Ulayyah dan Bisyr bin Mufadhdhal”. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat tsabit dalam hadis hujjah”. Yaqub bin Syaibah berkata “tsabit jiddan”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ali bin Madini berkata “tidak ada yang mengatakan bahwa ada orang yang lebih tsabit dari Ibnu ‘Ulayyah dalam hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 513]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat hafizh [At Taqrib 1/90]
  • Ayub bin Abi Tamimah As Sakhtiyatiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Syu’bah mengatakan kalau Ayub pemimpin para fuqaha. Ibnu Uyainah berkata “aku belum pernah bertemu orang seperti Ayub”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat dan ia lebih tsabit dari Ibnu ‘Aun”. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat tsabit dalam hadis. Abu Hatim menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Daruquthni berkata “Ayub termasuk hafizh yang tsabit” [At Tahdzib juz 1 no 733]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit hujjah termasuk fuqaha besar dan ahli ibadah [At Taqrib 1/116]
  • Nafi’ Abu Abdullah Al Madaniy mawla Ibnu Umar adalah tabiin faqih masyhur termasuk perawi kutubus sittah. Malik bin Anas meriwayatkan darinya [berarti tsiqat menurut Malik]. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Bukhari berkata “sanad yang paling shahih adalah Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar”. Al Ijli, Ibnu Khirasy dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khalili menyatakan Nafi termasuk imam tabiin Madinah imam dalam ilmu disepakati shahih riwayatnya. [At Tahdzib juz 10 no 743]. Ibnu Hajar menyatakan Nafi’ tsiqat tsabit faqih masyhur [At Taqrib 2/239]
Syi’ah menyelisihi Ahlussunnah dalam rukun iman. Ahlussunnah meyakini Rukun Iman ada Enam yaitu Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman Kitab-kitab Allah, Iman kepada para Rosul Allah, Iman kepada Hari Kebangkitan, dan Iman kepada Qadar-Nya, baik ataupun buruk. Sedangkan Syi’ah meyakini bawa Rukun Iman ada 5 yaitu At Tauhid, An Nubuwwah, Al Imamah, Al Adl, Al Ma’ad.
hehehe…persoalannya, Syiah itu meyakini atau menyelisihi dari poin-poin rukun iman menurut Ahlussunnah? ternyata tidak, Syi’ah pun beriman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab2 Allah, kepada Rasul Allah, kepada hari kebangkitan, kepada Takdir Ilahi. Sama bro ustadz….
Syi’ah menyelisihi Ahlussunnah dalam rukun Islam. Ahlussunnah meyakini Rukun Islam ada 5 yaitu Dua kalimat Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Sedangkan Syi’ah meyakini bawa Rukun Islam ada 5 yaitu Shalat, Puasa, Zakat, Haji, dan wilayah, bahkan Al wilayah lebih utama di banding rukun Islam lainnya dalam kitab Ushul Kafi.
Hehe…ini juga sama bro ustadz. Orang Syi’ah, sepengetahuan saya nih, syahadat juga, shalat juga, zakat juga, puasa juga, haji juga bro ustadz. So, janganlah mengada-ada bro ustadz.
Ahlussunnah telah sepakat bahwa Manusia yang terbaik dari Ummat ini setelah Rosulullah adalah Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq dan Sayyidina Umar Rodhiyallahu ‘anhuma. Sedangkan menurut syi’ah mereka berdua adalah kafir dan dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia. (Al Kafi juz 8 hal. 246, Haqqul Yaqin hal. 367 dan 519)
Oh tidak bro. Ada umat yang lebih baik dari para sahabat Nabi bro ustadz.
أبو جمعة قال تغدينا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ومعنا أبو عبيدة بن الجراح قال فقال يا رسول الله هل أحد خير منا اسلمنا معك وجاهدنا معك قال نعم قوم يكونون من بعدكم يؤمنون بي ولم يروني
Diriwayatkan dari Abu Jum’ah RA yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata حديث صحيح hadis ini shahih.
Ahlussunnah sepakat bahwa Mut’ah hukumnya Haram. Sedang Syiah menghalalkan Mut’ah.
Bro ustadz, ada juga lho orang sunni yang menganggap nikah mut’ah itu halal. Persoalannya nih bro, bukan nikah mut’ah haram menurut Ahlussunnah, halal menurut syi’ah. Tetapi persoalannya nih bro, apakah hukum nikah mut’ah itu halal atau haram sampai hari kiamat bro? Mari didialogkan bro ustadz.
Ahlussunnah meyakini bahwa ‘Ishmah (kema’shuman) hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rosul. Sedangkan syi’ah meyakini bahwa ‘Ishmah juga dimiliki oleh para Imam yang dua belas.
So what bro? Konsep Ahlussunnah terhadap kema’shumannya Nabi pun tidak konsisten bro ustadz. Disatu sisi dikatakan Nabi itu terjaga dari salah dan dosa (Ma'shum). Tapi disisi lain, dikatakan Nabi pernah bermuka masam kepada seorang buta (Al Qur'an  Surah A'basya :1). Apa itu tidak melukai hati Nabi bro ustadz? Anda sebenarnya bukan mewakili Sunni, tapi hanya mewakili Zionis dan sekutunya yang suka mengadu domba dan memecah belah umat Islam
Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘asyariyah telah berdusta atas nama ahlul bait dalam hal menetapkan pokok-pokok ajaran.
Tau dari mana bro ustadz? jangan-jangan Anda semua yang berdusta atas nama Allah? Astaghfirullah.
Ahlussunnah dimata orang syi’ah adalah kafir (Murtad), anak zina, halal darah dan hartanya.
Oh tidak bro ustadz. Ahlussunnah itu adalah muslim yang memiliki penafsiran yang berbeda dengan syi’ah. BTW, yang dibantai itu orang syi’ah oleh orang yang mengklaim diri mereka ahlussunnah (Zionis yang berbaju agama Islam, yang jelas Sunni dan Syiah Bersaudara ) bro ustadz. Jadi, janganlah bro ustadz memanipulasi fakta.
Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut: Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.
Hehehe…Syi’ah dan Ahlussunnah Tuhannya sama bro, tetapi cara pandang mereka terhadap Tuhan yang berbeda. Nabinya pun sama, tetapi cara pandang mereka terhadap Nabinya berbeda. Kitab mereka sama bro, Al-Qur’an. Hanya saja penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an yang berbeda. So, ini soal penafsiran dan cara pandang bro. Janganlah ente-ente semua ini menjadi Tuhan-Tuhan baru di negeri ini. Karena kalau begitu, ente-ente semua sudah musyrik bro ustadz. Bro ustadz, bukan kalian yang lebih mengetahui siapa yang tersesat, melainkan Allah yang lebih mengetahui. (QS An-Nahl ayat 125).
  1. Surat Edaran Departemen Agama Nomor D/BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983 perihal “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah”
  2. Pada poin ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah (yang di Iran dan juga merembes ke Indonesia, red) disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam. Lalu dalam Surat Edaran Departemen Agama itu dinyatakan sbb: “Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiyah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan takhayul yang menyimpang dari ajaran Islam.” (Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal: 5 Desember 1983, Tentang: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, butir ke 5).
Aneh nih bro ustadz, justru pemikiran sangat berkembang di syi’ah. Stahu saya, banyak ulama2 syi’ah yang menyusun buku filsafat Islam yang meruntuhkan filsafat barat tidak dengan AL-Qur’an, melainkan dengan filsafat yang diperkuat dengan Al-Qur’an.
Ijtihad juga berkembang kok bro di Syi’ah.Jadi, janganlah berdusta bro, ndak baik itu. Departemen Agama? Siapa tuh bro? mau donk dialog dengan orangnya. Beda pendapat boleh dong...^_^...
MENYATAKAN
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas dan pandangan dari para nara sumber, yang mewakili ormas-ormas Islam, mengambil kesimpulan dan menyatakan bahwa:
1. Ahlussunnah tidak dapat dipersatukan dengan Syiah, karena berbeda dalam Ushuluddin (Aqidah/Tauhid).
Bro ustadz, Ahlussunnah sangat mungkin bersatu dengan syi’ah. Tuhan mereka sama, Nabi mereka sama, Kitab mereka sama. So, apalagi bro ustadz? Sudahlah bro ustadz, janganlah Anda menjadi pembangkang Allah. Allah sndiri telah memerintahkan kita semua untuk bersatu bro ustadz. Eh ente malah memecah belah bro ustadz.
“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dengan berjama’ah dan jangan berpecah belah.” (Q.S. Ali Imran: 103)
Tuh bro ustadz, ente mau mengikuti perintah Allah atau tidak? kalau mengikuti maka beriman, maka gak maka kafir lho bro ustadz.
Syiah berbahaya bagi agama, bangsa dan negara.
Oh tidak, justru kalian itulah yang berbahaya bagi agama, bangsa dan negara, bro ustadz. Bro ustadz, IJABI yang katanya syi’ah, dan Dewan Masjid Indonesia yang katanya sunni sudah bersatu dalam wadah Majelis Ukhuwah Sunni Syi’ah Indonesia (MUHSIN). Tetapi kalian belakangan muncul dengan membawa isu perpecahan.
Jadi siapa yang hendak melemahkan umat Islam, Bangsa, dan Negara ini? Syi’ah ataukah ente-ente semua yang tukang pemecah belah batu eh salah maksudnya umat..^_^...

Mendesak MUI untuk mengeluarkan fatwa lagi tentang sesatnya Syi’ah secara tegas.
Kalau akal orang-orang MUI masih waras dan ingin tunduk kepada perintah Allah untuk bersatu, maka yang seharusnya diberikan cap sesat adalah ente-ente semua yang menghembuskan perpecahan ditengah-tengah umat Islam, Bangsa, dan Negara ini.
Menedesak Pemerintah agar melarang Syi’ah dan aktifitasnya di seluruh wilayah Indonesia, Agar tidak timbul konflik seperti di Irak, Yaman, Pakistan dan Negara lain.
Dan seharusnya kalianlah yang dilarang.
Kami Ahlussunnah (Muslimin Indonesia) sangat menolak keras MUHSIN (Forum Ukhuwah Sunni-Syiah) yang digagas beberapa waktu yang lalu oleh aktivis aktivis syiah dan oknum yang mengatas namakan Muslimin Indonesia di Jakarta.
Tuh kan, jadi kelihatan siapa yang pingin umat ini bersatu dan kuat? tentu bukan kalian bro ustadz. Jadi kelihatan siapa yang pingin memecah belah umat Islam, bangsa, dan negara ini? tentu kalian bro ustadz.
—-

Kepada saudara-saudaraku, mari kita ikuti perintah Allah.
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )
“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dengan berjama’ah dan jangan berpecah belah.” (Q.S. Ali Imran: 103)
Perbedaan pemahaman tidak dapat dihindari karena akan adanya kesalahpahaman. Kita paham yang pasti benar hanyalah Al Qur’an dan Hadits
“Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.” (HR.Muslim).
Pendapat, pemahaman, perkataan manusia selain kedua pokok itu, bisa diambil dan bisa pula ditolak
Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) mengatakan, “Setiap dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam.”
Bagi mereka yang biasa berdiskusi, bertukar pendapat, dan berdialog pasti mengenal ungkapan, “Pendapatku benar, tetapi mungkin juga salah. Dan pendapat lawanku salah, tetapi mungkin juga benar.
Mari, kita berdialog dengan santun tanpa ada cap sesat dan kafir yang keluar dari congor (ups sorry, mulut maksudnya) kita. hihihi…:D
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl ayat 125)

Naskah Deklarasi Majelis Ukhuwah Sunni Syi’ah Indonesia (MUHSIN)

  بسم الله الرحمن الرحيم                

اللهم صل على محمد وآل محمد       
Demi melaksanakan perintah Allah swt:  “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah di antara saudaramu dan takutlah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat kasih-sayangNya.”,  dan demi memenuhi panggilan Rasulullah saw pada haji wada’: “Janganlah kamu kafir kembali dengan saling membunuh di antara sesama kamu. Jadilah semua hamba Allah itu bersaudara,” kami  ahli Kiblat yang sama, yang diikat dengan kalimat tauhid la ilaha illallah Muhammad Rasulullah, yang berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Nabawiah, dengan ini bertekad untuk
  1. Memendam dalam-dalam warisan perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukmin dalam kuburan sejarah
  2. Menghidupkan hubungan di antara kami dalam suasana saling mengasihi, saling melindungi, saling menopang, dan saling membantu
  3. Melaksanakan komunikasi dialogis di antara kami untuk saling memahami dan bukan untuk saling menghakimi, untuk saling menyayangi, dan bukan untuk saling membenci
  4.  Menjalankan kerjasama di antara kaum muslim dan dengan umat beragama lainnya untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamīn
  5. Menjadikan masjid-masjid sebagai pusat ukhuwah Islamiah dan pusat peradaban Islam
Untuk mewujudkan tekad dan iktikad itu, kami berhimpun dalam wadah Majlis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia, disingkat MUHSIN. Semoga Allah yang Mahakasih menjaga kami dengan mataNya yang tidak pernah tidur,  melindungi kami dalam bentengNya yang tidak pernah hancur,  mengasihi kami dengan kekuasaanNya. Dialah satu-satunya Harapan kami!
Jakarta, Jumat, 17 Jumadil Akhir 1432 H/ 20 Mei 2011
H. Daud Poliradja
Pimpinan Pusat Dewan Masjid
H. Jalaluddin Rakhmat
Ketua Dewan Syuro IJABI
sumber:





Rahbar: Kemajuan Iran Adalah Kebanggaan Bagi

 Dunia Islam



Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut kematian para syuhada ilmu sebagai kematian di jalan Allah dan di jalan yang mengantarkan Islam kepada kemajuan.



Rahbar: Kemajuan Iran Adalah Kebanggaan Bagi Dunia Islam


Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengatakan bahwa syahidnya para ilmuan muda berbakat adalah kebanggaan bagi negara ini. Hal itu beliau katakan Kamis (19/1) malam saat mengunjungi rumah Syahid Mostafa Ahmadi Roushan dan bertatap muka dengan keluarga syahid dalam suasana yang penuh keharuan dan maknawiyah.



Dalam kesempatan itu, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, nilai yang ada pada para syuhada medan sains ini bisa dilihat dari dua aspek. Pertama, aktivitas keilmuan dan penelitian serta kemampuan mereka untuk menggarap pekerjaan-pekerjaan yang penting dan vital. Hal itu menunjukkan potensi dan kapasitas besar yang ada pada diri mereka. Kedua, sisi ilahiyah dan spiritualitas yang ada pada para pemuda ini. Faktor itulah yang membuat mereka siap menyongsong kesyahidan.




Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut kematian para syuhada ilmu ini sebagai kematian di jalan Allah dan di jalan yang mengantarkan Islam kepada kemajuan. Beliau menambahkan, "Dengan kemenangan revolusi Islam, saah satu tuduhan yang ditujukan musuh terhadap revolusi ini adalah bahwa pintu untuk kemajuan sains sudah tertutup di negara ini. Akan tetapi berkat kegigihan para pemuda untuk menguasai medan keilmuan dan membawakan kata-kata baru dengan kapasitas besar yang mereka miliki, tuduhan musuh itu berhasil dipatahkan."



Di hari yang sama, Rahbar juga mengunjungi rumah Syahid Daryush Rezainejad. Bertemu dengan keluarga syahid sains ini, beliau menekankan bahwa aksi teror yang menjadikan para ilmuan sebagai target menunjukkan bahwa apa yang dilakukan para ilmuan ini adalah pekerjaan besar.



"Hari ini, kemajuan yang dicapai Republik Islam adalah kebanggaan bagi bangsa-bangsa Muslim dan para pemuda di negara-negara Islam," kata beliau.







Syahid Mostafa Ahmadi Roushan, ilmuan muda Iran pekan lalu gugur syahid dalam sebuah insiden teror di Tehran yang dilakukan kaki tangan kubu istikbar. Bulan Agustus tahun lalu (2011), terjadi aksi teror yang sama yang menggugurkan ilmuan muda lainnya yaitu, Syahid Daryush Rezainejad.(abna.ir)











team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com- Ummat Islam Indonesia kembali "terluka", mereka yang mempunyai "kavling surga" yaitu Wahabi pro Zionis kembali mengacak-acak bumi Pertiwi kita Indonesia, mereka kembali berbuat anarkis dengan isu yang sangat sentral yaitu "Konflik Sunni dan Syi'ah", padahal warga Madura Sampang yang santun dan agamis terkenal sangat baik dan rukun dalam hidup bertetangga baik Sunni maupun Syi'ah serta Wahabi yang tidak pro Zionis mereka hidup "dalam kedamaian", tanpa saling mengusik dan saling bertoleransi.Tanpa bermaksud menggurui, kalau seseorang "Mencopet" namun kebetulan bersuku "A", apakah seluruh suku "A" Pencopet???.. tentu tidak bukan. Begitu juga ketika orang yang mengaku Sunni atau Wahabi atau Syi'ah yang melakukan perbuatan "biadab" semisal "pembakaran" , apakah seluruh orang Sunni atau seluruh orang Wahabi atau bahkan seluruh orang Syi'ah yang "Membakar", tentu tidak bukan?????. Jadi sebenarnya "Pelakunya lah" sebagai biang provokator layak dan semestinya di sebut kaki tangan Zionis atau boleh disebut "Zionis" itu sendiri. Anda bisa bayangkan kalau penganut Syiah 12 Imam yang dianut sebagian warga Sampang Madura (yang rumah dan pesantrennya dibakar di penghujung Desember 2011 ini) yang merupakan warga negara Indonesia adalah "sesat", maka anda terjebak serta otomatis dan sadar ataupun tidak telah juga menyebut negara IRAN yang menyebut negara Islam Iran yang merupakan penganut Syi'ah 12 Imam terbesar didunia adalah "sesat". Bukankah sekarang negara Islam Iran menjadi simbol " perlawanan" rakyat Timur Tengah yang baru-baru ini terjadi, hanya negara Islam Iran yang berhasil maju disemua bidang baik kesehatan, ekonomi , tekhnologi dan lainnya, yang berani menyebut Amerika dan pengikutnya yang pro Zionis Israel adalah "Setan Besar". Negara Islam Iran inilah yang selalu diisukan oleh propaganda Zionis dari Barat dan Timur Tengah sendiri sebagai "Iranphobia", mereka para Zionis menghembuskan adanya konflik Syi'ah dan Sunni, bahkan ketika terjadi pembakaran kitab Al-Qur'an, mereka para Zionis menghendaki konflik antara Islam dan Kristen. Namun berkat kepemimpinan Rahbar Sayid 'Ali Khamene'i, yang mengatakan bahwa konflik antara Syi'ah dan Sunni bukan antar Mazhabnya, tetapi "oknum"nya yang mengaku Sunni atau mengaku Syi'ah bahkan atau mengaku Wahabi. Begitu pula ketika Qur'an di bakar menurut Rahbar Sayid 'Ali Khamene'i, ini bukan konflik antara Islam dan Kristen, tetapi murni karena kesalahan "oknumnya". Jadi wahai saudara sebangsa dan senegara serta seagama, konflik dan pernyataan negatif tentang Syi'ah dan Sunni itu tidak bisa bersatu adalah pernyataan para "Anti Persatuan Islam", mereka secara sadar atau tidak telah menjadi "Kaki Tangan" Zionis yang selalu memecah-belah persatuan. Semoga kejadian ini membuat aparat yang berwenang dan negara Indonesia serta para pemimpin kekuasaan "bisa bercermin", untuk tidak selalu mendiamkan suatu masalah dan baru bertindak setelah masalah tersebut tidak bisa bahkan "semakin bermasalah"...InsyaAllah....Hidup Persatuan......Hidup Persatuan Islam...Hidup Sunni...Hidup Syi'ah..Hidup Wahabi....Hidup Indonesia...jangan biarkan Zionis menggerogoti otak kami dan akhirnya membuat kami "bertengkar" sesama "saudara", sesama warga negara Indonesia, semoga kedamaian Persatuan kepada kebenaran Illahi selalu menyertai kami...Amin ya rabbal 'allamin. (MFF/AR/R/KNY/2012/01/29/Minggu)








0 comments to "Syiah & Sunni “dicaci”, Syiah & Sunni “dicari” (Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang , Anda yang selalu mengedepankan perpecahan dalam ummat Islam, maka anda tidak lebih dari seorang antek-antek Zionis dan sekutunya yang menghendaki Islam berpecah-belah)"

Leave a comment