Home , , , , , , , , , , , , , , , , , � Siapakah yang mewakili Perempuan Dunia Akherat : " Haul/Milad Fatimah atau Wafat/Lahirnya R.A. Kartini "

Siapakah yang mewakili Perempuan Dunia Akherat : " Haul/Milad Fatimah atau Wafat/Lahirnya R.A. Kartini "







Fatimah Az-Zahra as, Figur Perempuan Sejati


Kesedihan luar biasa meliput Madinah. Gang-gang kota itu benar-benar senyap diliputi kesedihan. Putri kesayangan Rasulullah Saw pada hari itu meninggal dunia. Imam Ali as, suami Sayidah Fatimah az-Zahra as, tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa. Hanya Allah Swt yang mengetahui apa yang terlintas dalam benak Imam Ali as saat istrinya yang juga putri kesayangan Rasululah Saw meninggal dunia.

Saat Rasulullah Saw meninggal dunia, Sayidah Fatimah as benar-benar kehilangan dan sangat sedih. Kondisi pasca wafat Rasulullah Saw, tidaklah ramah. Fenomena inilah yang membuat kesedihan berlarut-larut Sayidah Fatimah az-Zahra as. Tak lama setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, Sayidah Fatimah menyusul ayahnya.

Menjelang wafat Sayidah Fatimah as, anak-anak Imam Ali as menangis memandang ibunda tercinta yang akan menemui ajalnya. Sayidah Fatimah setiap kali membuka matanya, ketenangan hati meliputi anak-anaknya. Kali ini, Sayidah Fatimah az-Zahra as membuka mata dan meminta Asma, salah satu pendamping setianya, untuk mengambil air untuk berwudhu. Sayidah Fatimah az-Zahra as berwudhu bersiap-siap menemui kekasih sejatinya, Allah Swt. Sayidah Fatimah memandang anak-anaknya dengan penuh kegelisahan, dan kemudian menyampaikan pesan-pesannya kepada suaminya, Imam Ali as.

Imam Ali as adalah orang yang paling sedih setelah wafatnya Sayidah Fatimah az-Zahra as. Imam Ali as setiap kali melihat Sayidah Fatimah az-Zahra as, lupa akan seluruh kegelisahan dunia. Sayidah Fatimah az-Zahra as benar-benar menjadi sumber kebahagiaan bagi Imam Ali as. Akan tetapi bagi Imam Ali as, kondisi itu akan berubah drastis tanpa kehadiran Sayidah Fatimah az-Zahra as.

Wasiat Az-Zahra as
Sayidah Fatimah Az-Zahra setelah menyampaikan pesannya kepada Imam Ali as, menutup mata dan menemui kekasih sejatinya, Allah Swt. Imam Ali as saat itu benar-benar kehilangan. Di hadapan jenazah suci Sayidah Fatimah az-Zahra as, Imam Ali as merintih.

Setelah itu, Imam Ali as menatap wasiat Sayidah Fatimah az-Zahra as dan membacanya, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah wasiat putri Rasulullah Saw yang menulis dalam kondisi bersyahadat kepada Allah Swt dan bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah utusan Allah Swt, surga dan neraka itu benar-benar ada, hari kiamat pasti akan tiba. Wahai Ali, aku adalah putri Rasulullah Saw. Allah Swt memerintahkanku untuk menikahimu sehingga aku akan mendampingimu di dunia dan akherat. Kamu adalah orang yang lebih layak dari orang lain. Wahai Ali, mandikanlah aku pada malam hari dan kuburkanlah aku pada malam hari itu juga. Jangan beritahukan penguburanku kepada siapapun. Aku pasrahkan kamu kepada Allah Swt dan aku sampaikan salam kepada anak-anakku hingga hari akhir."

Keagungan Az-Zahra as
Terkait kebesaran Sayidah Fatimah az-Zahra as, Rasulullah Saw bersabda, "Keimanan kepada Allah Swt melekat dalam hati dan jiwa mendalam az-Zahra as yang mampu menyingkirkan segalanya saat beribadah kepada Allah Swt. Fatimah adalah bagian dari hati dan jiwaku. Barangsiapa yang menyakitinya sama halnya ia menyakitiku dan membuat Allah Swt tidak rela."

Hadis di atas itu diucapkan oleh manusia terbaik di alam semesta dan pilihan Allah Swt, Muhammad Rasulullah Saw. Tak diragukan lagi, keagungan Sayidah Fatimah az-Zahra as menghantarkan ke derajat yang luar biasa di sisi Rasulullah Saw.

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, "Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali Fatimah beribadah di mihrab di hadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi."

Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayidah Fatimah as bukan hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayidah Zahra as mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang bisa menghambat seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi yang sama untuk meraih kesempurnaan.

Kepribadian Sayidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan, seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman, dan makrifah.

Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah Saw. Setiap kali Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayidah Fatimah mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang Ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang diinginkannya kecuali keridhoan Allah swt. Ketika Rasulullah Saw berkata kepadanya, "Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku". Namun Fatimah menjawab, "Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang keindahan Allah swt".

Az-Zahra as dan Al-Quran
Sayidah Fatimah Az-Zahra juga sangat mencintai al-Quran. Beliau berkata, " Ada tiga hal yang aku cintai di dunia ini. Ketiga hal itu adalah membaca al-Quran, memandang wajah Rasulullah Saw dan berinfak di jalan Allah Swt."

Salman al-Farisi, sahabat besar Rasulullah Saw, meriwayatkan bahwa ia pernah mendapat perintah dari Rasulullah Saw untuk mengerjakan sesuatu di rumah Sayidah Fatimah az-Zahra as. Ketika tiba di rumah Sayidah Fatimah, saya meminta izin untuk masuk. Saat itu, saya melihat Sayidah Fatimah tengah menggiling gandum sambil membaca al-Quran.

Pada suatu hari, Imam Ali as masuk ke rumahnya dan mendengar bahwa Sayidah Fatimah az-Zahra tengah melantunkan ayat yang baru turun kepada Rasulullah Saw. Imam Ali dengan takjub bertanya, "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Sayidah Fatimah az-Zahra as menjawab, "Putra kita, Hasan, hari ini membacakan ayat yang baru turun pada Rasulullah Saw, kepadaku." Sayidah Fatimah az-Zahra as sangat mencintai ayat-ayat al-Quran.

Sayidah Fatimah az-Zahra as dalam khutbah yang disampaikan pasca wafatnya Rasulullah Saw, mengkritisi kondisi yang ada dengan pandangan komprehensif yang bersandarkan pada ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah itu, Sayidah Fatimah memperingatakan kepada masyarakat bahaya penyimpangan. Di pembukaan khutbah, Sayidah Fatimah az-Zahra as menjelaskan al-Quran dan perannya di tengah kehidupan, dan mengatakan, "Allah Swt mempersembahkan kepada kalian sebuah ikatan yang kuat. Itu adalah al-Quran Berbicara. al-Quran adalah kitab kebenaran yang memancarkan cahaya dan kitab argumentasi yang mengungkap batin (internal) dan dzahir(eksternal)."

Sayidah Fatimah az-Zahra as dengan jelas menyatakan bahwa masyarakat, khususnya kalangan cendekia, harus memperhatikan kandungan al-Quran dan sejarah Rasulullah Saw sebagai sumber utama hukum dan syariat. Untuk itu, Sayidah Fatimah menekankan penyimpulan yang benar dari kitab suci dan hadis. Saat itu, Sayidah Fatimah berupaya menghalangi penyalahgunaan sekelompok orang atas nama agama. Sayidah Fatimah az-Zahra as menekankan perhatian pada al-Quran untuk mengantisipasi semua upaya busuk dari sekelompok orang.

Dalam khutbahnya, Sayidah Fatimah az-Zahra as berkata, "Mengapa kalian tersesat? Padahal ada kitab suci di tengah kalian. Di dalam kitab itu sangatlah jelas berbagai masalah dan hukum-hukumnya. Jalan petunjuk sangat jelas dan peringatan-peringatan pun sangat transparan. Apakah kalian menghendaki al-Quran? Mengapa kalian mencari penengah selain al-Quran?

Umur Pendek Az-Zahra as
Di umur pendek, Sayidah Fatimah mengalami berbagai peristiwa. Meski berumur pendek, putri kesayangan Rasulullah Saw mempunyai peran luar biasa. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Sayidah Fatimah sarat dengan pesan keluarga, politik dan sosial.

Selain itu, Sayidah Fatimah az-Zahra as juga mencerminkan seorang hamba yang luar biasa di hadapan Allah Swt. Ibadah yang dirasakannya sama sekali tak tergantikan dengan segala kenikmatan dunia. Dalam riwayat disebutkan, Sayidah Fatimah as dan keluarganya berpuasa tiga hari berturut-turut dan cukup berbuka dengan air karena ingin bersedekah kepada orang-orang miskin. Kehidupan Sayidah Fatimah as penuh dengan kedermawanan. Beliau juga beribadah dari malam hingga pagi. Beribadah kepada Allah Swt merupakan kerinduan tersendiri bagi Sayidah Fatimah az-Zahra as.

Kehidupan Sayidah Fatimah az-Zahra dan Imam Ali as sangat sederhana. Meski hidup sederhana, keluarga putri kesayangan Rasulullah Saw diliputi rasa kebahagiaan yang melimpah. Rumah kecilnya penuh dengan aura spiritual yang juga menjadi tempat bertumpunya orang-orang yang tidak mampu.

Di penghujung umurnya, Sayidah Fatimah az-Zahra as hanya menyampaikan wasiatnya kepada suaminya, Imam Ali as. Ini menunjukkan ketulusan dan ketaatan Sayidah Fatimah az-Zahra kepada suaminya, Imam Ali as. Ketulusan dan pengorbanan Sayidah Fatimah az-Zahra atas suaminya telah menciptakan keluarga ideal dan manusia-manusia besar dalam sejarah manusia.(IRIB Indonesia)

Rahasia Penciptaan Sayidah Fatimah Az-Zahra



Berbagai riwayat yang menjelaskan tentang kedudukan Sayidah Fatimah az-Zahra sa membuktikan keagungan posisi beliau yang salah satunya dijelaskan dalam hadis Qudsi " لولا فاطمه". Dalam hadis itu dijelaskan posisi risalah kenabian dan imamah.

Riwayat tentang derajat dan kedudukan Sayidah Fatimah sa sangat banyak yang kandungan dari riwayat-riwayat tersebut menjelaskan keagungan posisi insan mulia ini. Berdasarkan riwayat, salah satu makna Fatimah adalah orang yang derajat makrifatnya tidak akan pernah dapat dicapai oleh siapa pun dan mereka tidak akan dapat mengenalnya secara sempurna. Seakan Allah Swt telah menyimpan sebuah rahasia besar dalam diri Sayidah Fatimah sa. Makrifat tentang Allah Swt dan irfan sangat berkaitan erat dengan makrifat tentang Sayid Fatimah sa.

Kita mengetahui bahwa Sayidah Fatimah bukan nabi atau imam, lalu apa yang membuat derajat dan posisi beliau sedemikian tinggi selain kenabian atau imamah. Yang jelas, seberapa pun kita berusaha kita tidak akan mampu mencapai makrifatnya permata langit ini. Akan tetapi kita dapat menyebutnya sebagai pokok penghambaan.

Penghambaan berarti tidak memiliki apapun kecuali semuanya dari Allah Swt, dengan demikian seorang hamba sejati adalah cermin dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, Imam Ja'far as-Shadiq as berkata mengatakan bahwa penghambaan adalah sebuah pokok yang intinya adalah ketuhanan. Pokok itu adalah yang hilang dari diri manusia dan rahasia irfan.

Dalam riwayat disebutkan bahwa mengenal Sayidah Fatimah sa berarti mengenal Lailatul Qadr, ketika tujuan dari seluruh irfan adalah memahami hakikat Lailatul Qadr, dan sesungguhnya seorang arif sejati adalah orang yang menyaksikan dan merasakan peristiwa penurunan al-Quran pada malam itu.

Apa yang tersingkap untuk umat manusia adalah mengenai kedudukan kenabian dan imamah sebagi penyempurna agama yang disampaikan oleh kenabian. Hanya sebagian kelompok yang memahami bahwa apa yang tersisa dari derajat imamah yang juga termasuk dalam rahasia langit, adalah rahasia wujud Sayidah Fatimah sa itu sendiri yang tersembunyi di balik kemaksuman.

Dengan demikian imamah adalah penyermpurna kenabian dan inti dari penghambaan adalah penyempurna imamah, namun justru di sini letak tiga tahapan dan derajat itu menyatu secara utuh dan sempurna dalam wujud Rasulullah dan bahwa kedudukan Rasulullah Saw lebih tinggi dari para imam maksum. Kedudukan imamah termanifestasi dalam pribadi Imam Ali as sementara kedudukan penghambaan termanifestasi pada pribadi Sayidah Fatimah sa.

Oleh karena itu, terkait perjalanan kemunculan hakikat wujud Rasulullah Saw harus dikatakan bahwa tahapan penghambaan lebih tinggi dari derajat kenabian dan imamah, oleh sebab itu pula apa yang terdapat dalam diri Sayidah Fatimah sa merupakan tahapan tertinggi untuk manusia yang juga menjadi tujuan dari kenabian dan imamah itu sendiri.

Banyak riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw dan para imam maksum dan juga hadis-hadis qudsi yang menjelaskan kedudukan Sayidah Fatimah sa di antaranya hadis qudsi yang ditujukan kepada Rasulullah;

« لولاک لما خلقت الافلاک . و لولا علی لما خلقتک . و لو فاطمه لما خلقتکما»

"Jika bukan karena kamu [Muhammad] maka tidak akan Aku ciptakan semesta. Jika bukan karena Ali maka tidak akan Aku menciptakanmu. Dan jika bukan karena Fatimah maka tidak akan Aku ciptakan kalian berdua."

Dalam menjelaskan makna hadis tersebut harus dikatakan bahwa ada tiga hal yang dijelaskan dalam hadis qudsi itu yaitu tujuan penciptaan alam semesta, keunggulan derajat imamah di atas kenabian, dan keunggulan derajat penghambaan di atas dua derajat tersebut.

Pada bagian pertama Allah Swt berfirman "Jika bukan karena kamu [Muhammad] maka tidak akan Aku ciptakan alam semesta" berarti bahwa manusia sempurna adalah tujuan utama penciptaan alam semesta dan merupakan penekanan Allah Swt terhadap faktor utama dalam penciptaan.

Adapun dalam bagian kedua disebutkan, "Jika bukan karena Ali, maka Aku tidak akan menciptakanmu [Muhammad]." Pada bagian riwayat ini disebutkan keunggulan posisi imamah di atas kenabian. Kita tahu bahwa makna kenabian adalah penyampai pesan, akan tetapi derajat imamah lebih tinggi dan derajat itu adalah pencapaian ketauhidan yang sempuna setelah fana dari diri.

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, Nabi Ibrahim setelah melalui berbagai tahapan beliau sampai pada derajat imamah meski pada saat yang sama beliau adalh seorang nabi. Rasulullah Saw juga telah mencapai derajat imamah, akan tetapi ciri utama Imam Ali adalah imamah sementara ciri lahiriyah Rasulullah adalah kenabian.

Oleh karena itu di sini yang dibahas bukan masalah keunggulan Imam Ali as di atas Rasulullah Saw, melainkan keunggulan posisi imamah dibandingkan kenabian, karena tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah Saw lebih mulia dan unggul dibandingkan Imam Ali as. Imam Ali sendiri dalam sebuah riwayat mengatakan, 

«انا عبد من عبید محمد»
"Aku hanya seorang hamba (budak) di antara hambah-hamba Muhammad"

Adapun pada bagian ketiga dari riwayat tersebut Allah Swt berfirman, "Jika bukan karena Fatimah maka Aku tidak akan menciptakan kalian berdua." Bagian ini mengisyaratkan bahwa meski derajat tersebut telah sampai pada tingkat kesempurnaan, akan tetapi derajat tersebut menjadi cici khas Sayidah Fatimah sa, yaitu penghambaan.

Oleh karena itu ungkapan «لولا فاطمه لما خلقتکما»  berarti bahwa tanpa penghambaan maka Allah tidak akan menciptakan Nabi Muhammad dan Imam Ali karena keduanya tidak akan sempurna tanpa penghambaan. Dan ini menjelaskan bahwa kenabian dan imamah merupakan mukaddimah dari penghambaan.

Meski unsur penghambaan itu telah sempurna dalam diri Rasulullah dan juga Imam Ali as, akan tetapi unsur tersebut menjelma secara khusus pada diri Sayidah Fatimah. Dengan demikian, jelas bahwa jika seseorang dapat mencapai derajat penghambaan dengan sempurna maka derajatnya lebih tinggi dari kenabian dan imamah.

Karena sesungguhnya nabi dan imam pun memikul tanggung jawab kenabian dan imamah mereka karena penghambaan. Ini berarti derajat tertinggi di sisi Allah Swt adalah penghambaan. Dengan kata lain, kenabian dan imamah adalah predikat yang berkaitan dengan umat sementara penghambaan atau ubudiyah menjelaskan arah dan tujuan hakiki yang jelas lebih tinggi dari kenabian dan imamah. (IRIB Indonesia/MZ) 

Pertemuan Sayidah Fatimah sa dengan Malaikat Jibril Selama 75 Hari di Mata Imam Khomeini



Imam Khomeini ra, menilai turunnya malaikat Jibril di hadapan Sayidah Fatimah az-Zahra sa, sebagai keutamaan paling tinggi beliau dan mengatakan;

"Saya menilai keutamaan tersebut adalah yang paling tinggi di antara berbagai keutamaan lain Sayidah Fatimah sa, dan masalah ini hanya untuk Sayidah Fatimah saja. Untuk berbicara mengenai kepribadian Sayidah Fatimah sa, saya merasa tidak mampu, dan saya hanya dapat menyinggung satu riwayat yang dinukil dari sumber-sumber yang terpercaya yang menyebutkan bahwa;

Imam Jakfar as-Shadiq as berkata, "Fatimah sa hidup di dunia ini 75 hari sepeninggal ayahnya dan kesedihan yang sangat mendalam telah mengalahkannya. Malaikat Jibril turun menghampirinya dan mengucapkan belasungkawa serta menjelaskan masalah-masalah di masa mendatang."

Riwayat itu menunjukkan bahwa selama 75 hari itu, malaikat Jibril menghampiri Sayidah Fatimah sa dan saya berpendapat bahwa selain para nabi yang mulia, ada orang yang diperlakukan seperti ini oleh malaikat Jibril selama 75 hari dan menjelaskan kepada beliau berbagai peristiwa di masa mendatang berkenaan dengan anak dan keturunannya.

Sementara Imam Ali as mencatatnya. Imam Ali as adalah penulis wahyu yang berarti beliau mencatat hukum-hukum yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw. Sepeninggal Nabi, Imam Ali as mencatat semua yang disampaikan malaikat Jibril kepada Sayidah Fatimah sa selama 75 hari.

Masalah turunnya malaikat Jibril untuk seseorang bukan masalah yang sederhana. Jangan sampai ada anggapan bahwa malaikat Jibril bisa saja turun dari langit dan datang untuk siapa pun. Dalam masalah ini harus ada kecocokan antara jiwa/ruh orang yang akan didatangi oleh malaikat Jibril dengan derajatnya sebagai ruh al-a'dzam... Jika tidak ada kecocokan antara keduanya maka tidak mungkin hal itu terjadi.

Makna dan kecocokan tersebut ada antara malaikat Jibril dan para nabi termasuk Rasulullah Saw, Musa as, Ibrahim as, Isa as, dan lain-lain. Setelah Sayidah Fatimah as tidak pernah terjadi turunnya Jibril untuk seseorang, bahkan di antara para imam maksum as pun hal itu tidak terjadi. Hanya kepada Sayidah Fatimah sa saja malaikat Jibril turun dan itupun selama 75 hari. Selama itu, Imam Ali as mencatat apa yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Sayidah Fatimah sa mengenai keturunannya. Mungkin yang dimaksud adalah Imam Mahdi as, dan mungkin juga disebutkan tentang masalah Iran, saya tidak tahu.

Alhasil, saya menilai peristiwa tersebut sebagai keutamaan tertinggi yang disebutkan untuk Sayidah Fatimah sa sebagai manusia yang bukan nabi, itupun tidak semua nabi, hanya untuk para nabi yang memiliki derajat tinggi saja. Dan juga tidak selama 75 hari berturut-turut. Itu hanya untuk Sayidah Fatimah sa saja. (IRIB Indonesia/MZ)

13 Jumadil Awal, Fatimah Az-Zahra Syahid



Fatimah Az-Zahra Syahid

Tanggal 13 Jumadil Awal tahun 11  Hijriah, berdasarkan sebagian riwayat Islam, pada hari ini, Fatimah az-Zahra as, putrid Rasulullah Saw gugur syahid. Fatimah az-Zahra dalam usianya yang pendek, telah melalui kehidupan yang penuh penderitaan, namun penuh dengan teladan dan pelajaran berharga bagi umat manusia. Pada usia kanak-kanak, ibu beliau, Khadijah meninggal dunia. Sejak itu pula, Fatimah az-Zahra mendampingi ayahnya dalam mendakwahkan Islam.

Fatimah az-Zahra merasakan dan menyaksikan berbagai gangguan dan permusuhan yang dilancarkan kaum kafir terhadap umat muslimin. Di bawah asuhan ayah beliau, Fatimah az-Zahra mencapai keilmuan dan ketakwaan yang sangat tinggi.

Di antara kalimat teladan yang pernah diucapkan Fatimah az-Zahra as adalah sebagai berikut, "Ada tiga hal yang ku cintai di dunia, iaitu membaca Al Quran, memandang wajah Rasulullah, dan bersedekah di jalan Allah."

Mirza Irwani Lahir

Tanggal 13 Jumadil Awal tahun 1278 Hijriah, Mirza Fadhl Ali Irwani, yang dikenal dengan julukan Shafa, seorang cendekiawan dan sastrawan terkemuka Iran, terlahir ke dunia. Shafa menuntut ilmu di hauzah ilmiah Nafaj, Irak sampai mencapai derajat mujtahid.

Pada masa Revolusi Konstitusional Iran, Shafa merupakan salah satu ulama yang aktif berjuang bersama rakyat, dan akibatnya, beliau dipenjarakan dan mengalami siksaan fisik. Selain mendalami bidang agama, Shafa juga menggeluti bidang sastra.

Karya-karya penulisan yang ditinggalkan Mirza Fadhl Ali Irwani atau Shafa di antaranya berjudul Hadaaiqul Arifin dan Misbahul Huda. (IRIB Indonesia)

Banjarmasin sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Selatan kembali menyelenggarakan Haul / Syahadahnya Sayyidah Fathimah Azzahra as anak nabi Muhammad Saww, istri dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib as

Banjarkuumaibungasnya.blogspot.com- Banjarmasin-  Panitia Pelaksana Hari Besar Islam Students of Arrisallah Islamic Boarding School Banjarmasin pada  Rabu (Malam Kamis), 4 April 2012 / 13 Jumadil Awal 1433H mengadakan Kegiatan Syahadah / Haul Fatimah Az-Zahra as di Gedung Kopertis Jalan Adhyaksa Banjarmasin atau depan kampus UNISKA Banjarmasin.
Dihadiri oleh ratusan orang dari Tanipah, Babirik dan warga kota Banjarmasin itu sendiri.
Acara dipimpin M.C (Master of Ceremony) oleh Ayaturrahman Maliki, S.Sy
Diawali dengan kata sambutan dari panitia Pelaksana Surahman, S.Sy, kemudian dilanjutkan dengan sepatah kata dari Pimpinan Kopertis Kalimantan Prof.DR.Ir. H. Sifon Muladi,SH yang mengenal Ahlulbait lebih kurang 26 tahun yang lalu (sekarang tahun 2012 / sekitar tahun 1986) di kota Hamberg Jerman dan bukan di Indonesia. Kemudian untuk acara inti adalah tausyiah bersama Ust. H. Busyairi Ali Hurian Fahmi A. Karim, S.HI, M.HI ( Untuk lebih detil silahkan di dengarkan dibawah ini yang dilengkapi foto-foto kegiatan keagamaan) :

Karya Ust.H. Busyairi Ali Hurian Fahmi A. Karim, S.HI, M.HI : " Nikah Mut'ah Halal atau Haram? "
TESIS Program Pasca Sarjana (S2 ) IAIN Antasari Banjarmasin








Segera mIliki Buku ini yang diterbitkan oleh AR Risallah Islamic Centre Foundation
Telp. 0511-7405728 Email : risalah.suci@yahoo.co.id



video
Maktam Fatimah 




video
Syahadah Zahra di Kopertis




video
Syahadah Zahra di bait Aba Fatimah al Habsy


created by team www.banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/KNY/MFF/AR/R/06/04/2012

Ulama Harus Menjelaskan Makna Hakiki Kecintaan Terhadap Ahlul Bait as



Ayatullah Naser Makarem Shirazi, salah satu marji' besar Syiah di kota Qom, Iran, menyatakan, "Para mubaligh harus benar-benar perhatian dalam menjelaskan makna dan kandungan dari kecintaan  kepada Ahlul Bait sehingga jangan sampai sebagian orang beranggapan bahwa dengan melakukan perbuatan menyimpang, mereka dapat tetap masuk surga dengan hanya menyimpan kecintaan terhadap Sayidah Zahra sa.

Sebagaimana dilaporkan IRNA (3/4), Ayatullah Makarem Shirazi menjelaskan tingkatan para pecinta Ahlul Bait as dan menegaskan, "Para pecinta Ahlul Bait as terbagi menjadi tiga bagian. Pertama kelompok yang hanya mencintai Ahlul Bait as demi riya, dan kelompok itu termasuk dalam golongan para pendusta. Kedua kelompok yang mencintai Ahlul Bait as secara awam atau yang hanya menyatakan cinta akan tetapi tidak pernah memperhatikan ucapan dan perilaku manusia-manusia suci itu."

Adapun dalam menjelaskan para pecinta sejati Ahlul Bait as, Ayatullah Makarem Shirazi mengatakan, "Kelompok ketiga adalah para pecinta sejati, mereka yang sepanjang hidupnya mematuhi perintah Allah Swt dengah sepenuh hati. Mereka adalah kelompok yang merasa mudah untuk mematuhi perintah-Nya akan tetapi merasa sangat berat untuk berbuat maksiat."

Di akhir penjelasannya, Ayatullah Makarem Shirazi menyebutkan sebuah riwayat yang menjelaskan derajat Sayidah Fatimah az-Zahra sa dan mengatakan, "Para pencinta sejati Sayidah Fatimah sa tidak akan tergelincir dalam azab neraka." (IRIB Indonesia)

Islam Tidak Akan Tegak Tanpa Pemerintahan



Hujjatul Islam Hossein Ebrahimi menyinggung memudarnya pemikiran pemisahan agama dari politik seraya menegaskan bahwa keimanan terhadap agama tidak akan mungkin tanpa membentuk sebuah pemerintahan serta menjelaskan tugas-tugas para ruhaniwan dalam hal ini.

Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Republik Islam Iran (Majlis), Hujjatul Islam Ebrahimi, menjawab pertanyaan soal keberadaan pemikiran pemisahaan agama dari politik di dalam lingkungan santri dan mengatakan, "Tidak bisa kita katakan bahwa pemikiran seperti itu tidak ada dalam lingkungan santri, akan tetapi pemikiran tersebut sudah mulai memudar. Karena mungkin jumlah para pencetus dan pendukung pemikiran tersebut sudah berkurang."

"Tidak juga dapat dikatakan tidak ada lagi upaya-upaya untuk memisahkan agama dari politik, akan tetapi di sisi lain, berbagai fenomena yang muncul saat ini justru melawan perluasan pemikiran-pemikiran seperti itu," katanya.

Anggota Majlis Iran itu menambahkan, "Pada prinsipnya, esensi pemerintahan, Islam, dan hukum-hukumnya, merupakan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan. Seluruh undang-undang atau hukum dalam agama Islam selalu sejalan dengan politik. Artinya jika tidak ada pemerintahan, lalu apakah hukum dan undang-undang tersebut dapat diberlakukan dan dilaksanakan? Sejatinya pondasi-pondasi agama kita sedemikian rupa sehingga menjaga agama tanpa pembentukan pemerintahan tidak akan pernah dapat ditegakkan. Dengan kata lain tanpa politik, tidak akan ada Islam, dan Islam tanpa politik juga bukan lagi Islam."

Lebih lanjut dijelaskannya bahwa masalah ini perlu dijelaskan secara meluas di berbagai sektor, khususnya oleh para ruhaniwan. (IRIB Indonesia/MZ)

Literatur Perang Pertahanan Suci



Perang senantiasa terjadi dalam kehidupan manusia di muka bumi, baik itu dalam bentuk perang tak kenal lelah antara manusia dan alam atau perang antar sesama manusia. Pakar ilmu sosiologi perang dari Perancis, Gaston Bouthoul menilai perang sebagai sebuah fenomena yang memiliki sasaran dan sepenuhnya teratur dan independen. Dia percaya bahwa setiap kali mempelajari perang, manusia akan jauh dari penulisan peristiwa dan mulai bergulat dengan sastra.

Tidak diragukan lagi bahwa sastra sejak dulu memainkan peran fundamental dalam ranah perang dan perang telah menjadi sebuah tema mendasar bagi para penulis cerita dunia. Ada banyak cerita yang ditulis dan perang jika tidak menjadi seluruh tema kisah, setidaknya akan mencakup sebagian besar isi cerita. Akan tetapi, semua penulis cerita perang tidak dituntut untuk melihat dari dekat peristiwa-peristiwa di medan tempur. Penulisan tentang perang akan menyediakan ufuk yang luas bagi para penulis cerita seperti melalui rekaman profesional peristiwa, kepahlawanan, heroisme, pertempuran, kekalahan, dan kemenangan.

Dengan sedikit mengkaji jalur penulisan cerita dalam dua abad terakhir dunia, maka akan tampak jelas bahwa kebanyakan roman dan cerita pendek ditulis dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa perang dan pertikaian suku. Ernest Hemingway, Leo Tolstoy, dan Margaret Mitchell termasuk penulis besar yang telah memproduksi karya-karya populer seputar peristiwa-peristiwa perang dan sepertinya telah melestarikan peristiwa itu dalam pikiran para pembacanya.

Dalam literatur cerita modern Iran, karya-karya yang terinspirasi dari perang yang dipaksakan oleh rezim Saddam Hussein telah diangkat dalam cerita, di mana jarak antara para penulisnya dan medan perang tidak terlalu jauh. Kebanyakan mereka menyaksikan peristiwa perang dan bahkan hadir di tengah-tengah perang. Puluhan cerita panjang dan roman serta ratusan cerita pendek merupakan hasil kerja keras para penulis Iran tentang agresi pasukan Irak di bawah pimpinan Saddam atau Perang Pertahanan Suci (Perang Irak-Iran).

Selain cerita, penulisan kenangan masa perang juga mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penulisan peristiwa perang di medan tempur, kota, kamp militer, dan tempat-tempat penawanan, merupakan karya-karya terpenting yang diabadikan dalam sastra pertahanan suci. Beberapa karya itu ditulis dengan teliti dalam mendeskripsikan rincian peristiwa dan menjadikan buku-buku itu sebagai referensi.

Berbicara tentang sastra pertahanan suci jelas membutuhkan banyak waktu dan kesempatan. Akan tetapi, tema kita hari ini adalah gelombang penerjemahan karya-karya tersebut yang meningkat tajam dalam beberapa waktu dan buku-buku bagus dalam bidang itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dikirim ke negara-negara lain. Dalam sebuah langkah inovatif, Perpustakaan Perang Pertahanan Suci telah membuka 90 kantor perwakilan Iran di luar negeri.

Perpustakaan-perpustakaan itu dilengkapi dengan karya-karya pertahanan suci di berbagai bidang sastra dan kemudian memberikan peluang untuk penerjemahan karya-karya tersebut ke dalam bahasa Inggris, Rusia, Turki, Urdu, dan Spanyol. Karya-karya itu meliputi riset, cerita, memoar, syair, cerita untuk anak-anak dan remaja, dan ensiklopedia Perang Pertahanan Suci.

Di antara roman-roman perang Iran yang telah selesai diterjemahkan adalah buku Fal-e Khun karya Davud Ghaffarzadegan. Buku itu telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul "Fortune Told in Blood" untuk memperkenalkan sastra Iran kepada mereka yang tidak mengerti bahasa Persia. Novel ini mengisahkan tentang dua individu dari kelas yang berbeda, seorang wajib militer dari keluarga pekerja Irak dan seorang perwira berpendidikan. Namun, mereka juga memiliki banyak kesamaan. Mereka menatap masa depan dengan ketidakpastian dan hubungan dekat mereka terjalin di sebuah puncak bukit, di mana mereka ditugaskan sebagai pengintai untuk gerakan pasukan musuh.

Di sana, mereka mulai mengenal satu sama lain serta diri mereka sendiri. Mereka belajar tentang kesetiaan kepada negara mereka dan pemerintah, tetapi juga yang lebih penting, tentang kesetiaan satu sama lain sebagai manusia. Mereka telah dilemparkan ke dalam situasi yang luar biasa, di mana keberanian mereka diuji, tetapi mereka juga menyadari arti kehidupan, baik itu berhubungan dengan individu mereka sendiri dan keberadaan manusia secara kolektif. Fortune Told in Blood adalah kisah kematian dan kehancuran, tetapi sebagai karakter yang menghadapi kematian, kami juga menemukan konfrontasi dengan kehidupan dan pemahaman tentang nilai-nilainya.

Salah satu karya fenomenal dan ramai diperbincangkan hingga sekarang dalam sastra Perang Pertahanan Suci adalah sebuah novel perang berjudul "Da". Buku narasi perang ini memenangkan hadiah utama festival penghargaan sastra Jalal Al-e Ahmad. "Da" berisi tentang kenangan Sayyidah Zahra Hosseini dari waktu ke waktu ketika tentara Irak ditangkap di kota Khorramshahr pada awal-awal tahun perang. Ini adalah kisah nyata tentang hidup seorang remaja yang mengalami masa-masa awal perang di Khorramshahr. "Da" diterbitkan pada tahun 2008 dan segera setelah itu menjadi best seller di Iran.

Penerjemah novel itu, Paul Sprachman mengatakan, buku-buku seperti "Bearing 270 Degrees" dan "Chess with the Resurrection Machine" telah menjadi referensi untuk studi tentang Timur Tengah dan sastra kontemporer Iran di New Jersey University di Amerika Serikat. Ditambahkannya, "Saya pikir buku itu akan menanamkan tren budaya baru di kalangan mahasiswa karena mereka membacanya."

Sprachman lebih lanjut membandingkan literatur Perang Dunia dan Perang Pertahanan Suci dengan mengatakan bahwa kata-kata seperti Janbaz (cacat dalam perang), pengorbanan dan aspek spiritual perang berulang kali digunakan dalam buku-buku seperti "Da" yang tidak dapat dijelaskan melalui sastra Perang Dunia. Menurutnya, hal itu membuat terjemahan karya tersebut menjadi sulit bagi penerjemah.

Meski demikian, Sprachman telah menyelesaikan penerjemahan novel "Da". Dia akan melakukan perjalanan selama sepuluh hari ke Iran untuk mempresentasikan hasil terjemahannya. Sprachman sebelumnya melakukan perjalanan ke Iran untuk mengunjungi narator novel "Da". Sprachman menguasai bahasa Persia, Arab, Jerman, Hindu-Urdu, Perancis, dan Latin. Ia juga akrab dengan bahasa Cina, Rusia, dan Ibrani.

Kebanyakan buku-buku Perang Pertahanan Suci telah diterjemahkan ke bahasa Arab dan Inggris. Namun, bukan berarti tidak diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Sejak enam tahun lalu, biografi para panglima perang seperti Syahid Mostafa Chamran dan Abbas Babai telah diterjemahkan ke bahasa Urdu di Pakistan. Tujuan penerjemahan buku-buku ini adalah untuk lebih mengenalkan figur-figur tersebut bagi mereka yang berbahasa Urdu dan menyebarluaskan budaya pengorbanan dan kesyahidan di luar batas teritorial Iran. Di antara karya yang banyak menyita perhatian para penerjemah adalah buku-buku tentang kenangan perang.(IRIB Indonesia)






0 comments to "Siapakah yang mewakili Perempuan Dunia Akherat : " Haul/Milad Fatimah atau Wafat/Lahirnya R.A. Kartini ""

Leave a comment