Home , , , , , , , , , , , , , , , , , , , � Pengakuan Saksi Mata Pembantaian di Al-Houla - Suriah (Zionisme dan Antek-anteknya kembali adu Mazhab didalam ISLAM..!!!!!)

Pengakuan Saksi Mata Pembantaian di Al-Houla - Suriah (Zionisme dan Antek-anteknya kembali adu Mazhab didalam ISLAM..!!!!!)














Presiden Assad: Suriah Menjadi Target Konspirasi Asing


Presiden Suriah Bashar al-Assad memperingatkan bahwa Suriah telah menjadi target dari konspirasi asing.

Saat berpidato di parlemen baru di Damaskus pada Ahad (3/6), Presiden Assad mengatakan, Suriah menghadapi perang nyata dari luar.

"Kami tidak menghadapi masalah politik, tetapi sebuah proyek untuk menghancurkan negara ini," tegasnya.

Lebih lanjut Presiden Suriah menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan segala upaya untuk mengakhiri kerusuhan selama berbulan-bulan dan mengimplementasikan reformasi yang dijanjikan.

Presiden Assad menegaskan bahwa reformasi telah berhasil menangkis bagian dari serangan regional dan internasional terhadap negara ini.

Di bagian lain pidatonya, Assad mengkritik partai-partai oposisi yang memboikot pemilihan parlemen pada 7 Mei lalu dan mengatakan bahwa sebenarnya mereka memboikot masyarakat, bukan pemerintah.

Presiden Suriah juga menyerukan dialog nasional untuk mengakhiri kekerasan dan mengundang semua pihak guna mengesampingkan perbedaan mereka demi kepentingan negara. (IRIB Indonesia/RA)



Inilah Pengakuan Saksi Mata Pembantaian di 

Al-Houla

IRIB menulis, "Sebuah laporan terbaru menyebutkan bahwa seorang saksi dalam pembantaian 25 Mei di kota al-Houla, Suriah, mengatakan bahwa kelompok bersenjata memperkosa para wanita sebelum membunuh mereka."


Inilah Pengakuan Saksi Mata Pembantaian di Al-HoulaMenurut Kantor Berita ABNA, IRIB Indonesia menurunkan berita mengenai pengakuan saksi mata pembantaian di al Houla Suriah. IRIB menulis, "Sebuah laporan terbaru menyebutkan bahwa seorang saksi dalam pembantaian 25 Mei di kota al-Houla, Suriah, mengatakan bahwa kelompok bersenjata memperkosa para wanita sebelum membunuh mereka."

"Kelompok bersenjata membakar rumah dan membunuh anggota keluarga karena mereka setia kepada pemerintah Suriah. Mereka juga memperkosa perempuan dan membunuh anak-anak, " kata saksi, yang dimuat di Global Research (1/6).

Menurut laporan tersebut, saksi itu diidentifikasi sebagai al-Khosam, seorang petugas keamanan Suriah yang ditempatkan di al-Houla.
Pada tanggal 25 Mei, bentrokan pecah antara pasukan Suriah dan kelompok bersenjata di kota al-Houla, terletak sekitar 32 kilometer barat laut ibukota Provinsi Homs.

Kepala misi pemantau PBB di Suriah, Mayor Jenderal Robert Mood dalam sebuah jumpa pers melalui konferensi video dari Damaskus ke pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada 27 Mei, mengatakan, pemantau PBB di al-Houla melaporkan bahwa 108 orang tewas, termasuk 49 anak-anak dan 34 wanita.

Sementara itu, saksi lain mengatakan bahwa kelompok bersenjata menggunakan para wanita dan anak-anak sebagai perisai untuk terus menembaki pasukan Suriah.

"Sejumlah perempuan tersebut ditembak di kepala," kata seorang tentara Suriah yang terluka dalam bentrokan.

Pada tanggal 31 Mei, Brigadir Jenderal Qassim Jamal Suleiman, kepala komite investigasi yang dibentuk oleh pemerintah Suriah, mengatakan, hasil penyelidikan atas pembantaian al-Houla menunjukkan bahwa kelompok bersenjata anti-pemerintah Damaskus melakukan pembunuhan supaya memberikan ruang kepada pihak asing untuk mengintervensi Suriah.

Lebih lanjut, Suleiman mengatakan, para korban adalah keluarga yang menolak untuk menentang pemerintah Suriah dan hal itu bertentangan dengan kelompok bersenjata.

Di pihak lain, Rupert Colville, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada 29 Mei, mengatakan bahwa mayoritas dari pembunuhan di al-Houla adalah eksekusi warga sipil, perempuan dan anak-anak. (http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=319529)

Sekjen Hizbullah Serukan Pembebasan Korban

 Penculikan

Sekretaris Jenderal Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) menyerukan untuk secepatnya mengambil tindakan guna membebaskan warga Lebanon yang diculik oleh kelompok bersenjata anti-pemerintah Suriah beberapa waktu lalu.

Sekjen Hizbullah Serukan Pembebasan Korban PenculikanMenurut Kantor Berita ABNA, Dalam pidato televisi pada Jumat (1/6), Sayid Hasan Nasrullah menyerukan pembebasan para tawanan Lebanon. Ia mengatakan bahwa pemerintah Beirut bertanggung jawab atas keselamatan korban penculikan itu.

Gerombolan bersenjata anti-pemerintah Suriah menculik 13 peziarah Lebanon di kota Aleppo saat mereka kembali ke Lebanon dari ziarah di Iran.
Pasca penculikan, sebuah kelompok bersenjata Suriah mengaku bertanggungjawab atas penculikan itu dan menuntut Sekjen Hizbullah meminta maaf atas dukungannya terhadap pemerintah Suriah sebelum mereka melepaskan para korban. Mereka bahkan meminta Sayid Nasrullah mengutuk pemerintah Damaskus atas pembantaian di al-Houla.

Televisi al-Alam pada Rabu (30/5) melaporkan, jaringan televisi al-Jadeed Lebanon merilis laporan bahwa para penculik kepada mediator mengatakan, saat ini "bola berada di pihak Hizbullah".

Berdasarkan laporan jaringan tersebut, penculik tidak bersedia berunding dan sebelum Hizbullah dengan jelas mengutuk pemerintah Suriah terkait pembunuhan di al-Houla, mereka tidak akan bersedia bernegosiasi dengan mediator.

Terkait hal itu, Sekjen Hizbullah mengatakan, "Memiliki masalah dengan Hizbullah atau Gerakan Amal atas pandangan politik tentang apa yang terjadi di Suriah adalah satu hal, tetapi menyandera orang yang tidak bersalah adalah ketidakadilan."

"Jika Anda memiliki masalah dengan saya, maka ada beberapa sarana dan cara untuk menyelesaikannya, jikaingin diselesaikan lewat dialog, mari berdialog, jika lewat perang, mari kita perang. Bukan dengan menyandera orang-orang yang tidak bersalah." tegasnya.

Di bagian lain pidatonya, Sayid Nasrullah juga menegaskan kembali dukungannya bagi pemerintah Suriah dan mengatakan bahwa dialog dan reformasi adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan krisis di negara itu.(http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=319257)

Dalam Semalam Mereka Memenggal Kepala 50 

Warga Syiah

"Dunia tidak bisa menutup mata atas tragedi yang terjadi di pemukiman Syiah 'Al Fau'ah' yang dalam semalam kelompok teroris memenggal 50 kepala warga sipil Syiah. Di Suriah bukan hanya warga Sunni yang mereka jadikan target pembunuhan untuk menimbulkan fitnah sektarian, juga warga Syiah. Ini menunjukkan tujuan mereka murni buat menimbulkan makar."

Dalam Semalam Mereka Memenggal Kepala 50 Warga SyiahMenurut Kantor Berita ABNA, Muhammad Sadiq al Husain, seorang pengamat politik Timur Tengah menilai kedatangan Kofi Anan sebagai perwakilan PBB untuk meninjau langsung keadaan Suriah pasca terjadinya pembantaian massal penduduk sipil di Haulah sebagai sebuah bentuk lain untuk menekan pemerintahan Basar Ashad.

Ia menyatakan adanya peran negara-negara Arab untuk mengajak dunia internasional terlibat dalam urusan dalam negeri Suriah, "Perang sesungguhnya yang terjadi di Damsyik adalah perang Suriah melawan dunia, yang dengan pertolongan Allah SWT kebenaranlah yang akan menang. Semoga rakyat Suriah bisa bersabar dan tegar menghadapi permainan politik tingkat tinggi ini."

Al Husaini menyebutkan tujuan asli dari turut campurnya negara-negara Arab dan Barat dalam masalah Suriah adalah menggulingkan pemerintahan Bashar Asad sekaligus memutus hubungan Suriah dengan Iran dan Lebanon yang selama ini dikenal ketiga negara tersebut sebagai negara anti Israel dan menjadi batu sandungan bagi Israel dan Barat untuk menguasai sepenuhnya Palestina. "Kalau memang benar bahwa rezim Bashar Asad yang melakukan pembantaian atas rakyatnya sendiri, tentu sudah lama rakyat Suriah akan bangkit melawan melalui aksi-aksi demonstarsi dan unjuk rasa menuntut Asad turun. Namun fakta yang terlihat adalah aksi dukungan rakyat Suriah atas kepemimpinan Bashar Asad bahkan dalam referendum Bashar Asad tetap mendapat dukungan rakyatnya. Karenanya hanya satu kemungkinan, pelaku pembantaian adalah pihak oposisi yang mendapat sokongan dari Barat dan Arab yang menginginkan dunia menuntut Asad untuk turun dari jabatannya." Tegasnya. 

Dia pun menyebutkan bahwa perjalanan Kofi Anan ke Suriah dan melakukan pertemuan dengan Presiden Suria Bashar Asad akan membuat pihak musuh semakin pesimis sebab delegasi PBB tersebut tidak menemukan bukti rezim Bashar Asad bersalah dalam hal tersebut. Dia menyebutkan ketidakamanan dan konflik di Suriah merupakan hasil dari konspirasi sebagian negara-negara Arab dan Barat. "Dengan adanya dukungan rakyat Suriah atas Bashar Asad menunjukkan usaha negara-negara Arab, Emirat, Qatar, Saudi dan negara-negara Barat tidak akan menemukan hasilnya."

"Dunia tidak bisa menutup mata atas tragedi yang terjadi di pemukiman Syiah 'Al Fau'ah' yang dalam semalam kelompok teroris memenggal 50 kepala warga sipil Syiah. Di Suriah bukan hanya warga Sunni yang mereka jadikan target pembunuhan untuk menimbulkan fitnah sektarian, juga warga Syiah. Ini menunjukkan tujuan mereka murni buat menimbulkan makar." Tutupnya. (http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=319527)

Mencari Motif di Hawla


Dina Y. Sulaeman*
"It is time to act. It is time to give the Syrian opposition the weapons in order to defend themselves. The situation in Syria will not get better until the rest of the world at least gives the arms to the Syrian rebels."

(Senator AS, McCain dan Liberman, di Kuala Lumpur, 30 Mei 2012)
 
Tragedi Hawla (Houla Massacre) seolah menggiring rezim Bashar Assad ke ujung tanduk. Melalui mesin-mesin propagandanya, Barat menggiring opini publik untuk menghujat rezim Assad. Assad digambarkan sebagai pemimpin brutal yang tega membunuhi rakyatnya sendiri, bahkan termasuk wanita dan anak-anak. Menyusul kejadian di Hawla, Barat pun segera menarik dubes-dubes mereka dari Turki. Tapi ini tidak aneh. Toh kejadian serupa sudah terjadi berkali-kali. Masih belum hilang dari ingatan betapa negara-negara Barat melemparkan berbagai tuduhan secara masif terhadap Irak, Afghan, Iran, atau Libya. Kecuali di Iran, tujuan Barat tercapai dengan tumbangnya Saddam,  rezim Taliban, dan Qaddafi.

Namun, situasi terasa ‘aneh' khusus untuk Syria karena dua front yang semula seolah bertentangan, kini justru bergandengan tangan: Israel dan Barat yang anti-Islam fundamentalis dengan kelompok-kelompok Islam puritan, yaitu rezim monarkhi Arab Saudi, Qatar, kelompok-kelompok Al Qaida yang semula beroperasi di Libya, dan bahkan Ikhwanul Muslimin Mesir. Mereka kini berada di front yang sama melawan satu front lain yang selama ini dipuji-puji Barat, yaitu front Islam sekuler. Tujuan mereka serupa: menggulingkan Assad.

Indikasi nyata dari keberpihakan IM Mesir kepada front AS-Israel adalah ketika jubir IM, Mahmoud Ghozlan, menyuarakan seruan yang persis sama dengan Israel, AS, dan Inggris: kirim pasukan internasional ke Syria! Orkestra seruan pengiriman humanitarian intervention ke Syria kini telah menggema ke seluruh dunia, merasuk hingga ke facebook dan blog, menggalang petisi masyarakat internasional.

Jika ditelusuri lebih jauh, pernyataan IM itu tidak muncul tiba-tiba saja. Sejak jauh-jauh hari, IM memang terlibat dalam membiayai dan mendukung tentara oposisi Syria (Free Syrian Army) yang berbasis di Turki, bersama-sama dengan Arab Saudi dan Qatar(Reuters, 6/5/12). Keterlibatan IM pun dimediasi oleh tokoh Arab lainnya, yaitu faksi Hariri di Lebanon (yang selama ini memang anti-Syria). Seymour Hersh menulis, Walid Jumblatt, tokoh dari faksi Hariri, pada tahun 2007 bertemu dengan Wapres AS saat itu, Cheney, di Washington. Jumblatt menyarankan kepada Cheney bahwa jika AS ingin menguasai Syria, yang perlu diajak bekerja sama untuk itu adalah Ikhwanul Muslimin. Dalam artikelnya itu Hersh memaparkan lebih lanjut bahwa skenario AS, Saudi, Qatar, dengan memanfaatkan IM, untuk membentuk kelompok oposisi di Syria (termasuk membiayai dan mempersenjatainya, dan mengirim pasukan bantuan) sudah dimulai sejak 2007. Hersh adalah jurnalis yang sering berhasil mengorek informasi dari dalam Gedung Putih. Dia pula yang dulu membongkar operasi rahasia Gedung Putih untuk menggulingkan rezim Teheran dengan menggelontorkan dana sebesar 400 juta dollar.
Debkafile (14/82011) juga melaporkan bahwa NATO  tengah merekrut ribuan sukarelawan muslim dari negara-negara Timur Tengah untuk ikut bertempur bersama pemberontak Syria. Turki akan menjadi tuan rumah dari para ‘pejuang' ini, melatihnya, dan menyusupkannya ke Syria.

Kembali ke tragedi Hawla, mungkin banyak pihak masih ‘tertipu' oleh propaganda yang menuduh rezim Assad pelakunya. Untuk menganalisis sebuah peristiwa, kita tidak bisa berhenti pada fakta yang disodorkan oleh media. Apalagi media mainstream yang dimiliki oleh orang-orang Zionis, dan sudah terbukti berkali-kali melakukan kebohongan demi menggolkan agenda AS, Israel dan sekutunya. Contoh nyatanya, betapa dulu media mainstream dengan gencar menyebarluaskan informasi bahwa di Irak ada senjata pembunuh massal. Opini dunia digiring untuk menyetujui serangan AS ke Irak. Bertahun-tahun kemudian akhirnya terbukti bahwa semua itu bohong belaka, tidak ada senjata pembunuh massal yang dituduhkan itu.

Ketika dipusingkan oleh berita simpang siur, kita sebenarnya punya alat untuk mendeteksi mana berita yang benar, mana berita yang bohong, yaitu: akal dan logika. Gunakan akal dan logika untuk menelusuri berbagai motif pihak-pihak yang bertikai, dan kesimpulan bisa diambil dengan mudah. Motif sangat penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Jadi mari kita cari motifnya. Siapapun pelaku pembantaian Hawla, apa motifnya? Siapa yang diuntungkan?
1. Kalau benar Assad adalah pembunuh sadis yang tega membunuhi rakyatnya sendiri, tentulah yang dibunuhnya adalah orang-orang yang anti dengan pemerintahannya. Kasus serupa terjadi di Irak, dulu Saddam Husein tega membunuh penduduk Syiah di kota Dujail tahun 1982, yang dicurigai Saddam hendak berusaha melakukan kudeta. Tapi, anehnya, korban tragedi Hawla adalah orang-orang Alawi (salah satu sekte Syiah) yang justru pro-Assad. Buat apa Assad melakukan hal itu? Dari sisi ini, sulit dicari motif Assad untuk melakukan pembantaian Hawla, kecuali bila kita mau menerima asumsi bahwa Assad adalah pemimpin yang gila.

2. Hanya sehari sebelum tragedi Hawla, justru Sekjen PBB menyurati DK PBB, menginformasikan bahwa aksi-aksi teror yang melanda Syria dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris yang mapan, dengan indikasi bahwa bom-bom yang digunakan sangat canggih.  Ketika Sekjen PBB sudah ‘berpihak' padanya, buat apa Assad melakukan aksi yang semakin memperburuk citranya?

3. Korban di Hawla dibunuh dengan cara-cara non-militer: ditusuk, digorok, ditembak dari jarak dekat. Ini cara-cara khas pembunuhan yang dilakukan oleh teroris Al Qaida di Afghanistan (contoh, kejadian pembunuhan massal di desa Mazhar Sharif yang Syiah). Bila benar militer Syria yang melakukan, tentulah ‘gaya' pembunuhannya tidak demikian. Inilah yang dikatakan oleh Jubri Menlu Syria, "This is not the hallmark of the heroic Syrian army."

Lagi-lagi perlu dicatat,  Syria adalah sebuah negara sekuler, dan selama ini berhubungan dekat dengan Barat; dan militernya dilatih dengan gaya militer Barat, bukan ala teroris gurun pasir seperti kelompok Al Qaida.

4. Selama ini Barat menentang rezim-rezim yang dianggapnya fundamentalis dan mendukung rezim-rezim sekuler. Misalnya, Barat menentang Iran dan Hezbollah Lebanon. Dengan alasan bahwa Taliban adalah fundamentalis yang keji, rezim Taliban ditumbangkan dan orang-orang Al Qaida dikejar-kejar dengan operasi militer tingkat tinggi selama lebih dari 10 tahun. Lalu, mengapa kini rezim Assad yang jelas-jelas sekuler juga dianggap perlu digulingkan?

Rezim Assad didukung oleh Partai Ba'ath yang didirikan tahun 1910 di Damascus oleh tokoh Kristen, Michel Alfaq.  Assad memang seorang Alawi, namun bila dilihat dari gaya hidupnya, itu hanya ‘mazhab turunan' semata. Pandangan hidup dan politik Assad sebenarnya sejalan dengan konsep Barat soal sekularisme. Seharusnya, Assad didukung oleh Barat. Namun, karena Assad berkeras tidak mau berdamai dengan Israel, seorang sekuler macam Assad pun disamakan dengan fundamentalis. Isu Sunni-Syiah, tiba-tiba mengemuka di negeri Arab yang sekuler ini.

Karena itu, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa bukan agama dan mazhab yang jadi poin bagi AS. AS tidak peduli siapa yang memerintah, mau fundamentalis, mau sekuler, yang penting mau tunduk kepada kemauan AS. Dan yang bodoh tentu saja rezim-rezim dan organisasi-organisasi Islam yang mau dibiayai Barat untuk maju ke medan perang, membunuhi saudara-saudara sesama muslim dengan menggunakan sentimen mazhab.

Kembali pada motif. Kita tidak bisa menemukan motif yang meyakinkan, jika Assad pelaku pembantaian Hawla. Tapi, motif itu dengan mudah kita temukan, jika pelakunya adalah tentara pemberontak Syria (yang sebagiannya bukan orang Syria, tetapi pasukan impor, seperti sudah saya singgung di atas) dengan backing AS-Israel. Motif pemberontak Syria dengan melihat indikasi kekejaman cara-cara pembunuhan yang dilakukan, adalah sentimen mazhab (kebencian Wahabi kepada Syiah) yang sebenarnya juga hasil rekayasa AS-Israel. Juga, jelas, mereka menginginkan kekuasaan jika Assad terguling.

Sementara motif AS-Israel lebih jelas lagi. Mengapa mereka begitu ingin ‘membela' rakyat Syria yang konon diperintah secara diktator oleh Assad, tapi mengabaikan penderitaan bangsa Palestina yang selama 64 tahun dijajah dan ditindas Israel? Pastinya, mereka bukan membela rakyat Syria. Mereka ingin menguasai negeri-negeri kaya minyak, sehingga rezim-rezim ‘pembangkang' harus disingkirkan. Motif Barat dalam mendukung aksi pembunuhan massal di Hawla, jelas Prof. Chossudovsky dalam analisisnya di Global Research, adalah demi menggalang dukungan internasional untuk pengiriman pasukan perang ke Syria (di bawah bendera ‘humanitarian intervention').

Dan setelah Syria ditaklukkan, menurut Ali Wasif dari the Society for International Reforms and Research, modus konflik serupa akan kembali dilancarkan AS dan sekutunya di kawasan lain di Timur Tengah. Hal senada juga dikemukakan Dr. Kiyul Chung dari the 4th Media (Beijing). Menurutnya, bila Syria jatuh, konflik akan menyebar ke berbagai negara, tidak hanya di Timur Tengah dan Afrika. Dr. Chung menulis, "Para gangster abad 21 ini tidak akan berhenti setelah Libya, Syria, dan Iran. Mereka akan mencari target-target lainnya, terutama kawasan kaya minyak."

Tak heran bila analis politik Tony Cartalucci memperingatkan dunia Arab agar tidak tertipu frasa ‘musuhnya musuh adalah teman kita', karena ‘musuh' yang ada adalah hasil pengkondisian dari para arsitek perang (AS dan sekutunya). Menurut Cartalucci, Sunni dan Syiah, bahkan seluruh umat manusia dari berbagai agama dan ras, sesungguhnya memiliki satu musuh yang sama, yaitu imperialisme Anglo-Amerika (Barat). Barat-lah yang selama berabad-abad telah melakukan kejahatan yang sama: memecah-belah, mengadu-domba antara etnis, agama, dan mazhab, lalu menghancurkan dan menaklukkan bangsa-bangsa di dunia.

Dan kita, bangsa Indonesia, perlu mengambil pelajaran dari sini. Imperialisme Anglo-America yang saat ini tengah mengobok-obok Syria dan dunia Arab, juga memandang Indonesia sebagai salah satu target untuk dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil agar kekayaan alamnya semakin mudah dieksploitasi. Bangsa ini perlu melatih kecerdasan berpikir. Kemampuan melihat mana yang kawan, mana lawan; mana propaganda jahat, mana berita jujur, sangat menentukan nasib kita di masa yang akan datang. (IRIB Indonesia)

*magister Hubungan Internasional Unpad; Research Associate Global Future Institute

0 comments to "Pengakuan Saksi Mata Pembantaian di Al-Houla - Suriah (Zionisme dan Antek-anteknya kembali adu Mazhab didalam ISLAM..!!!!!)"

Leave a comment