Home , , , , , , , , , , � MADURA yang KAYA sumber daya alam "GAMPANG" diadu domba..BENARKAH????? Mudahan daerah lain khususnya Kalimantan Selatan tidak mudah di "adu domba"..amin ya rabbal 'allamin...

MADURA yang KAYA sumber daya alam "GAMPANG" diadu domba..BENARKAH????? Mudahan daerah lain khususnya Kalimantan Selatan tidak mudah di "adu domba"..amin ya rabbal 'allamin...








Jangan Jangan Isu Sampang untuk Menutup Ribut-Ribut Investasi Minyak Bumi di Madura?



Oleh: ST Natanegara

Tidak hanya peristiwa Sampang, Masih ada lagi masalah yang harus kita kritisi bersama. Intelijen itu tidak pernah kecolongan, informasi berton-ton selalu berhasil dikumpulkan dan dianalisa tapi berpulang pada usernya yang mengatakan intelijen kecolongan itu bisa sengaja menipu diri sendiri, sengaja menyalahkan, atau tidak tahu apa-apa tentang dunia intelijen.

Tahukah anda bahwa bisa jadi isu sampang untuk menutupi isu rebut-ribut  investasi minyak bumi di Madura?

Tahukah anda siapa yang repot-repot membantu pemerintah membangun jembatan Madura? Giliran mau ambil untung dibikin kisruh ada yang mengatakan kalau Madura itu ‘madunya' Negara Indonesia..

Perlu diketahui bahwa kontrak eksploitasi migas di Madura ada yang habis akhir tahun kemarin, sampai sekarang belum ketahuan kontrak barunya, yang bermain di Madura : ARCO-Kangean Block, Trend Java Sea Block, Masalembu Shell, British Petroleum, Sakala Timur, Mobile Oil, ini juga : Amco Indonesia, Hudbay Oil International, Anadarko, Petronas Carigali, dan Santos Oil. 

Sedangkan pemerintah lebih condong ke PT Energy Mega Persada (EMP) Kangean Limited, total biaya pembangunan Suramadu sebesar Rp 4,5 triliun, sekitar Rp 2,1 triliun di antaranya berasal dari negeri Cina, memangnya ada yang berani bertaruh uang sebesar itu untuk jalan tol suramadu yang tidak begitu ramai? Pasti ada sebab lain..

Sejak tahun 2003, pemerintah menjajaki skema imbal dagang (counter trade) dengan Cina atas bantuan pembiayaan atas sejumlah proyek vital, ini proyeknya : pemerintah akan memprioritaskan pada proyek pembangunan rel ganda (double track) dan jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), sedangkan potensi Migas di Kabupaten Sampang, adalah sumur Migas Oyong yang berlokasi di lepas pantai Camplong, ketika media meributkan kasus sampang, seharusnya kita bisa mengamati bahwa ada kemiripan antara Madura dan Papua, kemiripan itu terletak pada nasib warga Madura dan Papua yang sama-sama menderita ketika sumber daya alam yang melimpah dikeruk swasta.

Jangan mau terkecoh oleh konflik Sampang yang sebenarnya tidak perlu seheboh ini. Tengoklah ketimpangan ekonomi yang ada di Madura, Blok West Madura di utara Bangkalan, Madura, setiap harinya menghasilkan 14 ribu barel per-hari, atau semurah-murahnya senilai US$ 1,4 juta, belum ditambah gas alam sebanyak 113 juta kaki-kubik, dengan harga US$ 2,8 per-meter/kubik.

KPK harus menyelidiki proses pengalihan pemegang saham BWM kepada PT Sinergindo Citra Harapan (SCH) dan Pure Link Investment (PLI) Ltd, kontrak kerjasama eksploitasi BWM ditandatangani pada 7 Mei 1981. dimiliki oleh Pertamina (50%) serta Kodeco dan CNOOC masing-masing 25% tahun 2004 dibuat Peraturan Pemerintah (PP Nomor 35 tahun 2004) tentang kontrak kerjasama maupun pengalihan Participating Interest (PI), dalam pasal 28 disebutkan, kontraktor dapat mengajukan perpanjangan kontrak ke Menteri ESDM melalui BP MIGAS dalam pasal 33 juga diatur, pengalihan PI diatur dalam pasal 33, dengan prosedur yang sama sehingga dimanfaatkan kontraktor non pemerintah, 2 kontraktor non-pemerintah (Kodeco dan CNOOC) mengalihkan PI masing-masing separuh sahamnya (12,5%) kepada pihak lain (PT SCH dan PLI Ltd), jadi, sharing saham BWM menjadi Pertamina (50%) Kodeco (12,5%), CNOOC (12,5%), PT SCH (12,5%), serta PLI Ltd (12,5%) masyarakat Madura mempertanyakan mengapa Kementerian ESDM dan BP MIGAS meluluskan kepemilikan alih saham PI kepada PT SHC dan PLI Ltd? Padahal keduanya tidak dikenal di dunia persilatan yang menaungi perusahaan minyak.

Kodeco punya track-record kurang baik di Jawa Timur. antara lain pendalaman pipa gas di dasar laut tidak sesuai dg Peraturan Dirjen Migas, seharusnya pipa ditanam sedalam 19 meter, namun oleh Kodeco hanya dibenamkan sedalam 12 meter.

Untuk melihat betapa kayanya Madura kita lihat apa yang diterima oleh Kabupaten Sumenep dari bagi hasil migas untuk tahun 2011 dan 2012, masyarakat belum tahu berapa PAD yang dihasilkan dari Migas. belum termasuk dana CSR yang selama ini tidak jelas peruntukannya, dipublikasikan hanya sekitar Rp4 miliar dari sumber migas. padahal, Rp4 miliar itu untuk program community development (CD), tahun 2012 ini, Sumenep diperkirakan akan mendapatkan dana bagi hasil minyak dan gas sebesar Rp 8,8 triliun, pajak personal pegawai Migas belum masuk ke APBD, berapa nilai pajak galian C-nya, corporate social responsibilty (CSR), dana bagi hasil (DBH) dari PT Santos belum masuk APBD serta DBH PT Kangean Energy Indonesia (KEI) yang juga tidak pernah di publikasikan. dalam lampiran peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 08/PMK.07/2012, Sumenep akan mendapatkan dana bagi hasil dari minyak bumi dan gas bumi, di Sumenep ada 10 kontraktor-kontrak kerja sama (K3S) migas yang melakukan eksploitasi maupun eksplorasi Migas agar kita tahu siapa saja operator migas di Madura berikut ini saya sertakan datanya :

Blok Bawean Operator: Camar Resources Canada Inc Kontraktor: Kerr-McGee of Indonesia Inc (Amerika Serikat).

Blok Bulu Operator: Pearloil Satria Ltd (Uni Emirat Arab) Kontraktor: Sebana Ltd.

Blok Pangkah Operator: Amerada Hess Indonesia-Pangkah Ltd (Amerika Serikat) Kontraktor: Premier Oil Pangkah Ltd.

Blok Onshore and Offshore Madura Strait Area Operator: Husky Oil (Madura) Ltd Kontraktor: Hudbay Oil International Ltd (Inggris).

Blok Karapan Operator: Amstelco Karapan Pte Ltd (Inggris) Kontraktor: Amstelco Karapan Pte Ltd Blok East Bawean I Operator: East Bawean.

Blok East Bawean I Operator: East Bawean Ltd (Kanada) Kontraktor: CJSC Sintezmorneftegaz (Rusia).

Blok South East Madura Operator: PT Energi Mineral Langgeng Kontraktor: PT Energi Mineral Langgeng.

Blok East Bawean II Operator: Husky Oil Bawean Ltd (Kanada) Kontraktor: Husky Oil Bawean Ltd.

Blok North East Madura III Operator: Anadarko Indonesia Company (Amerika Serikat) Kontraktor: Anadarko Indonesia Company.

Blok Madura Offshore Operator: Santos Madura Offshore Pty Ltd Kontraktor: Talisman Madura Ltd (Kanada).

Blok Mandala Operator: PT Bumi Hasta Mukti-Fortune Empire Group Ltd Kontraktor: Konsorsium PT Bumi Hasta Mukti-Fortune Empire Group Ltd.

Blok West Madura Operator: Kodeco Korea (6 Mei 1981-6 Mei 2011), Pertamina (7 Mei 2011-7 Mei 2031). Kontraktor: Kodeco Energy Company Ltd (6 Mei 1981-6 Mei 2011), Pertamina (7 Mei 2011-7 Mei 2031).

Blok North Madura Operator: Konsorsium Australian Worldwide Exploration North Madura NZ Ltd-North Madura Energy Ltd. Kontraktor: Konsorsium Australian Worldwide Exploration North Madura NZ Ltd-North Madura Energy Ltd.

Blok Ketapang Operator: Petronas Carigali Ketapang II Ltd (Malaysia) Kontraktor: Gulf Resources Ketapang (ConocoPhillips-Amerika Serikat).

Blok Terumbu Operator: Australian Worldwide Exploration Terumbu NZ Ltd Kontraktor: Australian Worldwide Exploration Terumbu NZ Ltd.

Blok South Madura Operator: South Madura Exploration Company Pte Ltd Kontraktor: PT Eksindo South Madura.

Blok Madura Operator: Society Petroleum Engineers Petroleum Ltd (Cina) Kontraktor: Society Petroleum Engineers Petroleum Ltd.

Jadi jangan kaget, pulau Madura sebenarnya kaya raya, baik kaya budaya tapi juga kaya ekonomi. tidak hanya penghasil garam dan kyai saja, ternyata ada banyak masalah pada pengelolaan potensi Migas Madura, seperti dalam hal bagi hasil yang dinilai tidak transparan, akhirnya rakyat madura juga yang merana ditengah tingkah pola kaum kaya yang menyedot kekayaan Madura bak vampir haus darah. (IRIB Indonesia / The global-Review / SL)

Kontras: Polri Fokus Tangkap Pelaku Sampang, Bukan Relokasi!



Mantan Koordinator Kontras Usman Hamid meminta jajaran kepolisian untuk memfokuskan pelaku kekerasan di Sampang, Madura dibandingkan relokasi warga Syiah. Karena dengan merelokasi pelaku kekerasan kepolisian tidak melanggar HAM, sementara jika merelokasi warga berpotensi melanggar HAM.

"Yang harus direlokasi Kapolri justru para pelaku kejahatan persekusi yang membakar rumah dan membunuh warga sipil tak bersalah di Sampang," kata dia saat dihubungi, Selasa (4/9/2012).

Pelaku kejahatan Sampang yang telah merusak keamanan dan kenyamanan warga, menurutnya lebih baik direlokasi dari alam bebas ke sel tahanan kriminal. Bukan sebaliknya, merelokasi warga yang menjadi korban kejahatan mereka.

Hal itu disampaikan sekaligus menanggapi penyataan Kapolri Jenderal Timur Pradopo dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Senin (3/9/2012) kemarin. Kapolri menyatakan jika penegakan hukum selesai namun sumber masalah tidak diselesaikan akan muncul masalah lagi di kemudian hari.

"Pernyataan itu memperburuk keadaan di Sampang. Pernyataan itu dapat berarti rendahnya pemahaman terhadap norma HAM secara universal. Kapolri dalam memberikan pernyataan harus hati-hati agar tidak memicu masalah baru," imbuh Usman.

Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan Polri era Jenderal Sutanto sampai Jenderal Bambang Hendarso telah mengintegrasikan perangkat norma HAM universal ke dalam peraturan dan tindakan Polri. Semestinya, Jenderal Timur Pradopo melanjutkan juga kepemimpinan sebelumnya tersebut dalam hal norma HAM universal. (IRIB Indonesia / Inilah.com / SL)

Polri Beri Lima Rekomendasi Bagi Pemerintah Terkait Kasus Sampang



Polri memberi lima rekomendasi kepada pemerintah terkait aksi kekerasan atas nama agama di Sampang, Madura, Jawa Timur. Salah satunya berkaitan dengan pemindahan tempat penampungan pengungsi sementara dari tenis indoor ke tempat yang lebih layak dan manusiawi.

"Memindahkan ke tempat yang lebih layak dan manusiawi," kata Kapolda Jawa Timur Irjen Hadiatmoko dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, di Gedung DPR/MPR, Senin (3/9/2012).

Rekomendasi kedua yakni agar pemerintah memberikan pemahaman terhadap masyarakat untuk saling toleransi terhadap adanya perbedaan keyakinan agama. Ketiga terkait penanganan kemanusiaan agar diberikan konseling dengan melibatkan tenaga psikolog kepada para korban yang berada di lokasi penampungan. "Untuk anak sekolah segera disalurkan ke sekolah bersifat moderat di wilayah Madura," tutur Kapolda.

Terakhir, pemerintah diminta meninjau kembali fatwa Majelis Ulama Indonesia Jatim Nomor Kep/01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang Kesesatan Ajaran Syiah tertanggal 21 januari 2012. Hal itu direkomendasikan karena fatwa tersebut mengedepankan pertentangan dan mempersulit proses rekonsiliasi. (IRIB Indonesia / Inilah.com / SL)

Lapis-lapis Peristiwa Sampang



Oleh: Dr. Zainal Abidin Baqir*

Bagaimana mendeskripsikan peristiwa Sampang kemarin? Memang tidak mudah. Sebelum yang lain-lain, yang perlu dikomentari adalah komentar Ketua DPR kita, Marzuki Alie, yang paling ceroboh, tidak jelas, sehingga paling sedikit dia tidak membantu, lebih jauh dia mungkin kontra produktif, dan ada kemungkinan menyesatkan.

Dari Antara: "Ketua DPR RI Marzuki Alie mengajak semua pihak untuk cerdas dalam menyikapi informasi dan isu terkait konflik di masyarakat terutama yang disampaikan melalui media sosial. "Semua pihak harus cerdas menyikapi berita media khususnya media sosial yang menggambarkan seolah konflik agama. Padahal jelas, dilandasi oleh persoalan warisan dengan memakai isu agama untuk menyesatkan umat."

Siapa yang menyesatkan umat? Rois menganggap Tajul sesat, atau Tajul menyesatkan umat? Apa gunanya analisis ini, yang dikeluarkan beberapa jam setelah satu orang mati dan ada yang sedang sekarat serta 3 orang kritis akibat diserang senjata tajam? Media sosial apa yang menggambarkan ini sebagai konflik agama? Satu-satunya yang bisa menjelaskan komentar ini adalah: marzuki ingin meredam, demi mengatakan tidak ada konflik agama, yang ada toleransi. Lagi-lagi soal pencitraan—bukan penyelesain masalah. Tidak mudah memang mendeskripsikan peristiwa ini, tapi saya berharap DPR yang menggaji banyak staf ahli atau media yang urusannya adalah melaporkan fakta bisa berbuat lebih baik.

Faktanya: satu orang terbunuh, empat dalam kondisi kritis, sekian luka-luka, sekian rumah terbakar. Korban parah (manusia harta benda) semuanya berasal dari kelompok Syiah, yang gurunya adalah Tujul Maluk. Peritiwa apa ini? Kenapa terjadi?

Peristiwa Apa?
Sebagian besar media (termasuk Kompas dan Republika cetak hari ini) menyebutnya sebagai "bentrok warga". Jakarta Post menyebutnya "melee", yang berarti kerusuhan atau perkelahian massal. Tapi kalau melihat jumlah tak berimbang di antara kedua pihak itu, ratusan orang (menurut Antara, lebih dari seribu orang yang membawa senjata tajam!) menyerbu kelompok lain, dan korban mati atau kritis serta luka-luka, serta puluhan rumah terbakar (dibakar) semuanya dari pihak warga pengikut Tajul Muluk, maka ini bukan bentrok, tapi penyerangan.

Kenapa Terjadi?
Ada kesepakatan beberapa sumber (polisi, media, LSM) bahwa ini dimulai dengan penghadangan sekelompok anak/remaja yang akan meninggalkan kampung mereka untuk kembali belajar ke pesantren di luar Sampang setelah libur lebaran usai. Tapi ada cerita lain yang bermula dari rombongan ibu dan istri Tajul Muluk yang akan membesuk anak/suaminya di penjara Sampang, dihadang sekelompok orang, gagal membesuk, lalu pergi ke sisa-sisa rumah mereka (yang tersisa dari pembakaran pada Desember 2011), dibuntuti, lalu beberapa waktu kemudian terjadi peristiwa penyerangan dan pembakaran itu. Korban mati diserang ketika mencoba melindungi kelompok yang akan diserang dari para penyerang.

Siapa Para Penyerang?
Ada yang menyebut sekadar "kelompok warga", ada yang menambahinya dengan "anti-Syiah" (atau "rusuh massa Sunni vs. Syiah"), ada pula "massa intoleran".  Semua penyebutan ini tidak ada yang "netral". "(Kelompok) warga" adalah sebutan paling "netral"—tepatnya paling aman, tapi tidak memberikan penjelasan apa-apa. "Anti-Syiah" mengisyaratkan ini adalah perselisihan yang dipicu perbedaan paham. "Massa intoleran" bisa tidak berarti apa-apa, kalau mereka disebut "intoleran" karena penyerangan kemarin itu saja, paling jauh mengimplikasikan juga bahwa pemicunya adalah tiadanya toleransi terhadap perbedaan (perbedaan mazhab?); bisa juga berarti banyak, kalau kelompok yang menyerang adalah kelompok yang sama yang terlibat dalam penyerangan sebelumnya dan sudah terbukti motivasi mereka (dulu) adalah intoleransi. Saya tidak yakin dalam hitungan jam siapa pun dapat memastikan motivasi mereka, setidaknya khsusus menyangkut penyerangan hari Minggu kemarin.

(Analisis lebih jauh, tentu bisa seperti Haris Azhar dari Kontras hari ini: "Akar masalahnya adalah kebencian terhadap perbedaan." Tapi juga perlu berhati-hati—apakah penyebab penyerangan adalah perbedaan, atau kapitalisasi atas perbedaan? – Lihat di bawah, soal lapis-lapis peristiwa.)

Mencoba mensterilkan deskripsi agar faktual, objektif bisa mudah terjatuh pada tak menyampaikan banyak informasi, atau bahkan bertindak tidak adil (misalnya dengan menyebut "bentrok" yang mengimplikasikan kesalahan atas peristiwa itu ditanggung kedua pihak secara seimbang). Jadi bagaimana?

Fakta dan Analisis
Beberapa fakta bisa dengan cepat dipastikan, yang lain bisa dijelaskan hanya dengan menggoogle berbagai versi latar belakang peristiwa sejak tahun lalu. Pertama, ini bukan bentrok, tapi penyerangan, karena alasan di atas.

Kedua, identifikasi penyerang bisa disebut dengan menyebut latarbelakangnya: misalnya, dimulai dengan menyebut secara "netral" kelompok penyerang sebagai "kelompok warga", lalu dikualifikasi dengan tambahan info bahwa kelompok yang diserang sudah pernah diserang oleh kelompok warga yang diprovokasi Rois Hukama (adik tajul Muluk) pada Desember 2011 dan provokasi itu terus berlanjut pada bulan-bulan sebelumnya; dan bahwa Rois melaporkan kakaknya (Tajul Muluk) ke pengadilan atas tuduhan penodaan agama, dan Tajul seudah diadili dan dihukum atas tuduhan penodaan agama (tepatnya klaim bahwa Quran umat Muslim sekarang tidak otentik—bukan karena dia mengajarkan Syiah, bukan karena Syiah sesat, meskipun salah satu alat bukti dari MUI Sampang mengatakan itu). Ini semua sudah merupakan established facts; para wartawan seharusnya tinggal melakukan search dalam database media mereka sendiri (saya bisa melakukannya melalui Google).

Deskripsi latar belakang itu sekaligus bisa menambah informasi soal motivasi (yang belum bisa diperoleh secara cepat tanpa mewawancarai para penyerang).

Terakhir, perlu dicatatat bahwa pengadilan atas Tajul Muluk menggunakan pasal Penodaan Agama (KUHP 156A), yang logikanya adalah penodaan dapat dihukum karena menimbulkan keresahan/kerusuhan dalam masyarakat. Nah, sekarang si tersangka penyebab kerusuhan ada dalam penjara, kok masih terjadi kerusuhan?

Berarti yang bikin rusuh adalah provokator yang terang-terangan menyebut Tajul sebagai sesat (dan tak sepenuhnya terbukti di pengadilan, masih dalam proses banding), mengancam dia dan para pengikutnya, dan menyarankan mereka untuk tidak berhenti menyerang para pengikut Tajul (termasuk keluarganya, ibunya, istrinya), bahkan ketika Tajul sudah dipenjara. (Perlu diingat pula, ketika penyerangan Desember 2011 terjadi, Tajul juga sudah meninggalkan Sampang selama berbulan-bulan.) Ujaran kebencian dan hasutan untuk kekerasan sudah merupakan tindak pidana bahkan sebelum itu dilaksanakan.

Yang terakhir ini adalah contoh terbalik-baliknya logika pengadilan penodaan agama. Dalam kasus-kasus yang belakangan terjadi (khususnya menyangkut Jemaah Ahmadiyah), ketidaktertiban sosial dikatakan terganggu karena ada yang menodai; tapi sesungguhnya ketidaktertiban—secara faktual—terjadi setelah ada provokasi yang menggunakan pretxt penodaan, dimana si "penoda" adalah korban. (Setiap mengatakan hal ini, saya selalu teringat pada Mahfudz MD, Ketua Hakim Mahkamah Konstitusi, yang seharusnya cerdas tapi kok ya menalan argumen ini mentah-mentah, yaitu ketika memutuskan uji materi UU Penodaan Agama tahun 2012 dulu. Kalau Hakim Konstitusi menelan argumen itu, tak mengherankan para hakim di pelosok-pelosok pedesaan termakan oleh argumen itu juga, apalagi ketika dibumbui kepentingan politik lokal atau nasional.)

Lapis-Lapis Peristiwa
Di luar peristiwa hari Minggu kemarin, dalam kasus Tajul Muluk ada lapis-lapis peristiwa yang mesti dipahami.
- Ada perseteruan kakak-beradik Tajul dan Rois yang dipicu macam-macam hal (ada persoalan keluarga, dikonfirmasi oleh ibu mereka sendiri di pengadilan), tapi Rois, yang kalah kharismatik dari Tajul, menyebut ajaran Syiah sebagai ajaran sesat dan menyulut penyerangan atas Tajul;

- lalu ada Bupati Sampang yang menggebu-gebu ingin peristiwa ini disidangkan, mungkin dia berpikir ini bisa jadi amunisi untuk Pilkada berikutnya.

- Lalu ada pula kelompok anti-Syiah yang sudah bertahun-tahun memusuhi Syiah memancing di air keruh ingin menjadikan kesempatan ini untuk mengilegalkan Syiah di Indonesia;

- dan kemudian beberapa kelompok ulama lokal (termasuk MUI, konon juga NU) yang (mungkin naif, mungkin simpati pada tujuan Rois, Bupati, atau anti-Syiah) mendukungnya dengan mengeluarkan fatwa.

Lapis-lapis seperti ini hampir selalu muncul dalam peristiwa "penodaan agama".

Beberapa link berita yang saya sebut di atas:
http://www.antaranews.com/berita/329549/marzuki-kita-harus-cerdas-menyikapi-informasi
http://www.thejakartapost.com/news/2012/08/26/two-shia-followers-reportedly-killed-sampang-melee.html
http://www.antaranews.com/berita/329518/warga-syiah-sampang-diserang-satu-tewas

Silahkan juga dilihat beberapa foto di Tempo yang di antaranya menunjukkan seseorang yang tengah membakar dan wajahnya saya kira tak sulit dikenali; http://www.tempo.co/read/beritafoto/3234/Kaum-Syiah-di-Sampang-Kembali-Diteror. (Keterlaluan kalau Polisi kesulitan melacak para penyerang. Tapi, apakah demi "keadilan", selain penyerang harus ada pengikut Syiah yang dihukum juga—seperti dalam kasus pembunuhan tiga orang Ahmadiyah di Cikeusik tahun lalu?)

Untuk sekarang, kita hanya berharap penegak hukum menjalankan pekerjaannya; para pejabat pemerintah, parlemen dan tokoh masyarakat setidaknya mengeluarkan pernyataan politik yang menyebut bahwa peristiwa seperti ini adalah kriminalitas telanjang yang seharusnya tak terjadi, mendorong polisi sigap menanganinya segera. (IRIB Indonesia/PH)

*) Direktur CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies) Yogyakarta

Sampang: Antara Pencitraan dan Penyelesaian Masalah



Oleh: Dr. Zainal Abidin Bagir, MA.

Apakah peristiwa sampang kemarin adalah konflik agama atau perseteruan keluarga? Bentrok atau penyerangan? Spontan, karena rasa marah yang muncul dari adanya penodaan, atau direncanakan? Peritiwa apa ini? Kenapa terjadi? Beberapa hari setelah penyerangan, beberapa fakta telah terurai, namun deskripsi (atau tafsir) atas peristiwa ini tetap beragam.

Faktanya adalah ada satu orang terbunuh, lima orang luka parah, salah satunya sempat berada dalam kondisi kritis, sekian luka-luka, sekian rumah terbakar. Akibat terparah (korban manusia, harta benda) semuanya berasal dari kelompok Syiah, yang gurunya adalah Tajul Maluk, yang Juli lalu dihukum dua tahun penjara setelah diadili dengan pasal penodaan agama. Dua hari setelah penyerangan,kronologi yang lebih cermat dan terinci sudah muncul.

Di luar peristiwa hari Minggu 26/8 itu, dalam kasus yang bermuara pada sosok Tajul Muluk ini ada lapis-lapis peristiwa yang mesti dipahami. Mungkin masih ada lapis-lapis lain. Penting dicatat, lapis-lapis seperti ini hampir selalu muncul dalam peristiwa "penodaan agama"—bahkan sesungguhnya dalam banyak peristiwa yang melibatkan agama, termasuk kasus-kasus gereja. Sebagai prinsip umum dalam penjelasan ilmu sosial, tak pernah ada satu sebab yang bisa menjelaskan satu peristiwa; beberapa sebab selalu berjalin berkelindan dalam berbagai cara.

Bukan Konflik Agama?

Pertanyaan pertama dalam deskripsi (atau tafsir) atas peristiwa ini adalah: apakah ini konflik agama? Pemerintah (diwakili setidaknya oleh Menteri Agama), tapi juga parlemen dan beberapa tokoh masyarakat, memang tampak ingin menampilkan peristiwa ini sekadar sebagai perseteruan keluarga, diikuti label "bukan konflik agama". Pada satu lapis, ini tampaknya memang benar, tapi ada lapis-lapis lain.

Pertanyaannya sederhana: Jika ini bukan urusan agama, mengapa Tajul Muluk diadili dengan pasal penodaan agama? Ingat juga Menag sendiri yang membawa-bawa urusan agama, ketika mengisyaratkan Syiah sebagai aliran sesat, di luar Islam, tak lama setelah peristiwa Sampang pada Desember 2011 meletus. (Ia memang lalu meminta maaf, melalui orang lain, setelah pernyataannya itu memancing kontroversi.)

Kita paham mengapa banyak kalangan pemerintah yang ngotot bahwa ini bukan persoalan agama. Pemerintah jelas ingin mempertahankan citra Indonesia sebagai negara yang toleran (yang tentu kita ingin ikut mempercayainya). Namun ini menjadi dalih tak sehat ketika pencitraan justru membelokkan upaya penyelesaian masalah.

Beberapa waktu lalu urusan pencitraan Indonesia sebagai negara toleran ini marak dibicarakan, ketika kinerja pemerintah RI dalam bidang HAM dinilai di Jenewa. (Lihat tulisan saya "Muslim, HAM, dan Negara" di Harian Republika, 9 Juni 2012; lihat juga hal. 8-9 dari Laporan Tahunan kehidupan Beragama di Indonesia 2011 yang membahas pernyataan Menag yang berulang-ulang mengenai tak adanya konflik agama di Indonesia.)

Tentu kita ingin percaya bahwa tak ada konflik agama di sini, dan tak ingin itu terjadi. Tapi masalah yang ada memang lebih kompleks, berlapis-lapis. Agama, entah sebagai sumber awal masalah atau setelah dikooptasi, kerap hadir dalam ketegangan-ketegangan sosial. Ini bukan upaya menyudutkan agama, tapi tanpa mengakui hal ini, sulit mengupayakan pemecahan masalah—dan, sekali lagi, sebagai prinsip umum, selalu ada banyak sebab untuk menjelaskan satu peristiwa sosial.
Kesulitan Media: Siapa Para Pelaku? Bentrok atau Penyerangan?

Sebagian media menyebut pelaku sekadar sebagai "kelompok warga", ada yang menambahinya dengan "anti-Syiah" (atau "rusuh massa Sunni vs. Syiah"), ada pula "massa intoleran".  Semua penyebutan ini tidak ada yang netral. "(Kelompok) warga" adalah sebutan paling "netral"—tepatnya paling aman, tapi tidak memberikan penjelasan apa-apa. "Anti-Syiah" mengisyaratkan ini adalah perselisihan yang dipicu perbedaan paham. "Massa intoleran" bisa tidak berarti apa-apa, kalau mereka disebut "intoleran" karena penyerangan kemarin itu saja; paling jauh ini mengimplikasikan juga bahwa pemicunya adalah tiadanya toleransi terhadap perbedaan (mazhab). Tapi istilah itu bisa berarti banyak kalau kelompok yang menyerang adalah kelompok yang sama yang terlibat dalam penyerangan sebelumnya dan sudah terbukti motivasi mereka (dulu) adalah intoleransi. Terlepas dari soal akurasi, "intoleransi" juga mengandung asumsi tak lengkap yang hanya mewakili satu atau dua dari banyak lapis peristiwa—salah-salah bahkan terkooptasi oleh agenda aktor utama penyerangan.

Sebagian besar media (termasuk Kompas dan Republika cetak sehari setelah peristiwa Sampang), menyebutnya sebagai "bentrok warga". The Jakarta Post menggunakan kata "melee" dalam bahasa Inggris, yang bisa berarti kerusuhan atau perkelahian massal.
Tapi kalau melihat jumlah tak berimbang di antara kedua pihak itu, adanya ratusan orang (menurut Kantor Berita Antara, lebih dari seribu orang yang membawa senjata tajam!) menyerbu kelompok lain, dan korban mati atau kritis serta luka-luka, serta puluhan rumah terbakar (dibakar) berasal dari pihak warga pengikut Tajul Muluk, maka ini bukan bentrok, tapi penyerangan. Upaya berlaku "adil" dengan memperlakukan keduanya sebagai setara adalah ketidakadilan.

Mencoba mensterilkan deskripsi agar faktual dan objektif, seperti dilakukan beberapa media, bisa mudah terjatuh pada kegagalan menyampaikan informasi, atau bahkan bertindak tidak adil (misalnya dengan menyebut "bentrok" yang mengimplikasikan kesalahan atas peristiwa itu ditanggung kedua pihak secara seimbang). Di sisi lain, penggunaan istilah yang mengimplikasikan suatu tafsir tertentu mengandung risiko kekeliruan analitis.

Tentu tak mudah mengatasi kesulitan ini. Namun, pertama, kesadaran tentang adanya kesulitan ini bisa menjadi pendorong media lebih berhati-hati. Selanjutnya, dengan sedikit tambahan kerja keras, media seharusnya bisa mengatasi hal ini, misalnya dengan memberikan latar belakang yang mengurangi simplifikasi, dan idealnya menunjukkan lapis-lapis peristiwa yang relevan.
Deskripsi "netral" bisa dipahami, jika muncul dalam berita yang terbit satu-dua jam setelah peristiwa; tapi dalam ketersediaan dan kemudahan akses informasi saat ini, seharusnya itu segera dilengkapi dengan pemberian latar belakang yang memadai. Sedangkan bagi konsumen berita, kesadaran akan selalu kompleksnya suatu masalah sosial bisa menjadi alasan untuk berhati-hati juga.

Logika Penodaan Agama

Terakhir, ada satu hal lain yang perlu dicatat untuk memahami peristiwa ini. Pengadilan atas Tajul Muluk menggunakan pasal Penodaan Agama (KUHP 156A), yang logikanya adalah penodaan dapat dihukum karena menimbulkan keresahan/kerusuhan dalam masyarakat yang merasa agamanya ternodai. Nah, sekarang si tersangka penyebab kerusuhan ada dalam penjara, mengapa masih terjadi kerusuhan?

Penyerangan terjadi jelas karena adanya provokator yang terang-terangan menyebut Tajul sebagai sesat, sebagiannya dengan fitnah, mengancam dia dan para pengikutnya secara terang-terangan, dan menyarankan warga untuk tidak berhenti menyerang para pengikut Tajul (termasuk keluarganya, ibunya, istrinya). Ini terjadi sebelum, ketika dan sesudah pengadilan. Kalau pun "penegakan keadilan" harus segera dilaksanakan agar "masyarakat" menjadi tenang, kenyataannya tak demikian. Niat sang provokator sejak awal bukanlah sekadar hukuman penjara dua tahun, tapi tampaknya memang ingin mengusir sebuah komunitas secara lengkap. Aspirasi inilah yang tampaknya justru diamini oleh pengadilan ketika menganggap serius dalih penyerangan sebagai diakibatkan oleh penodaan, dan menjadikan peristiwa itu sebagai peristiwa legal penodaan. Demikian juga wakil Gubernur Jatim Gus Ipul yang pada bulan Desember 2011 sempat mengajukan ide relokasi. Semua ini persis seperti diinginkan sang penyerang.

Ini adalah contoh kacaunya logika pengadilan penodaan agama yang makin kerap terjadi dalam dasawarsa terakhir ini. Dalam kasus-kasus yang belakangan terjadi (khususnya menyangkut Jamaah Ahmadiyah), ketidaktertiban sosial dikatakan terganggu karena ada yang menodai; tapi sesungguhnya ketidaktertiban—secara faktual—terjadi setelah ada provokasi yang menggunakan dalih penodaan, dimana si "penoda" justru adalah korban.

Logika ini jugalah yang ditegaskan Mahkamah Konstitusi ketika menguji dan lalu meneguhkan keberlakuan UU Penodaan Agama pada tahun 2011. Dalam peristiwa-peristiwa penyerangan atas komunitas Syiah atau Ahmadiyah itu, "akar masalah" diidentifikasi sebagai ada pada kegiatan si korban yang dianggap menodai, dan lalu menyebabkan masyarakat tersinggung, sehingga terjadi penyerangan. Bahaya logika ini tentu nyata: penyerangan oleh mayoritas tak sulit didesain; adanya penyerangan itu sudah cukup menjadi bukti adanya (dugaan) penodaan.

Jika para Hakim Konstitusi (kecuali yang mengambil posisi dissenting) menelan argumen itu, tak mengherankan para hakim di pelosok-pelosok pedesaan termakan oleh argumen itu juga, apalagi ketika dibumbui kepentingan politik lokal atau nasional. Diskusi mengenai UU Penodaan Agama bisa panjang; penelitian yang cermat akan menunjukkan bahwa UU ini telah menempuh karir panjang dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan sesuai zamannya. Di awal sejarahnya, ia adalah alat untuk memukul kelompok Aliran Kebatinan yang diasosiasikan dengan Komunis (di tahun 1960an dan 1970an itu); belakangan ini, ia bisa efektif untuk kepentingan pilkada, membungkam kelompok yang terlalu kritis, atau mendukung gerakan pemurnian. Sebetulnya sejak beberapa tahun lalu kita sudah bisa memprediksi bahwa UU ini tak akan berhenti pada kasus-kasus aliran-aliran kecil, tapi akan terus digunakan sedikit lebih jauh setiap saat, dan kita belum tahu target berikutnya. Atau mungkin kita sudah bisa menebak. (Untuk ini, kita bisa melihat Aceh yang Gubernurnya tahun lalu mengeluarkan pelarangan aliran sesat yang cukup ekstensif; atau Malaysia yang punya daftar aliran-aliran yang dilarang.) Makin lama "agama yang benar" menjadi makin sempit.

Untuk saat ini, sebelum bicara hal-hal lebih mendasar seperti itu, kita hanya berharap tak terlalu tinggi: penegak hukum menjalankan pekerjaannya dengan serius. Para pejabat pemerintah, parlemen dan tokoh masyarakat setidaknya mengeluarkan pernyataan politik yang menyebut bahwa peristiwa seperti ini adalah kriminalitas telanjang yang seharusnya tak terjadi, dan mendorong polisi sigap menanganinya segera. Presiden sudah memulai, meskipun para pembantunya tampak masih kikuk. Dan ormas-ormas keagamaan penting untuk berpikir lebih prinsipil, dan memanfaatkan otoritas keagamaannya untuk menjaga agar gerakan penyempitan itu tak berjalan terus, tapi justru sebaliknya. Jika tidak, jangankan pemecahan masalah, upaya pencitraan Indonesia yang toleran pun akan makin sulit.

*) Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada.
Versi pertama dari tulisan ini pernah dimuat  dengan judul "Lapis-lapis Peristiwa Sampang" oleh penulis yang sama di rubrik Cakrawala Indonesia pada 28 Agustus 2012. (IRIB Indonesia/berita protes/PH)

Sayangi Madura!



Oleh: Ahmad Taufik

Pembersihan etnik penganut Syiah di Sampang, khawatir diambil kesempatan pihak lain untuk mengadu domba dan ethnic cleansing suku Madura di Indonesia.

Seorang kawan asal Sumenep mengantar tamunya asal Perancis. Tepat memasuki daerah Sampang, mobil yang ditumpanginya ditabrak angkutan kota. Tentu saja sang Perancis tak senang hati, apalagi sang sopir angkot bukannya minta maaf malah ngotot minta ganti rugi. Malah mengancam akan membunuh.

Terjadilah tanya jawab antara penerjemah dengan sopir. "Apa yang  dia katakan," kata turis Perancis itu.

"Dia akan membunuhmu jika melapor ke polisi," jawab pengantar.

"Lalu, apa yang anda katakan lagi," kata sang turis.

"Saya bilang kalau bunuh turis itu, bunuh saja," jawabnya.

"Hah!" Si turis terperangah.

"Iyalah, kalau saya atau sopir yang dibunuh polisi tak akan berbuat apa-apa, tapi kalau orang asing yang dibunuh, polisi bakal menangkap si pembunuh itu," katanya. Sopir angkot itu langsung diam.

Karena desakan sang turis, mereka akhirnya ke kantor polisi juga. Di kantor polisi bukan mendapat perlindungan, polisi malah menjawab, "kalau saya tindak sopir angkot itu, kantor kami bisa dibakar." Dia menyebut suatu peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.

                                                ***

Peristiwa di atas hanya sebuah contoh gawatnya penegakan hukum di Madura. Seolah-olah ada suatu suku yang tidak dapat disentuh (untouchable). Tragedi pembunuhan, pembakaran dan pengusiran warga dua desa di dua kecamatan di Sampang 26 Agustus lalu tentu membuat miris. Apalagi dengan pernyataan pejabat daerah setempat yang tak mampu melindungi warga dan meminta penganut Syiah ke luar dari Sampang (Madura). Ditambah diperkuat peraturan-peraturan yang memojokkan dan memberi kesempatan adanya diskriminasi dan pembersihan etnik.

Ini seperti sebuah kejahatan struktural di daerah Sampang dan Jawa Timur, tanpa kesungguhan penyelesaian dari pemerintah pusat.

Pembersihan etnis bukan persoalan kecil, pemimpin suatu negara bisa diseret pengadilan hak asasi manusia dunia. Menurut kamus, ethnic cleansing berarti adanya massa pengusiran dan pembunuhan satu suku/etnik atau agama oleh kelompok dari satu daerah/negara, oleh  kelompok etnis atau agama lain, baik didukung kekuatan pemerintah/negara atau negara membiarkan terjadinya pembersihan etnik itu.

Orang-orang Madura pernah merasakan pembantaian yang mengarah ke pembersihan etnis di Sampit, Kalimantan Tengah beberapa tahun lalu.  Ethnic cleansing pernah dilakukan sub etnik Dayak terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Insiden ini terjadi berlangsung sekitar dua bulan, dari Januari hingga Februari 1997. Usai rezim Orde Baru berakhir, terjadi lagi kali ini satu sub-etnik Melayu melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Sambas pada Februari hingga Maret 1999, saat Orde Reformasi baru mulai berdiri.

Jadi sungguh mengherankan jika sekelompok orang menamakan umat Islam Sunni di Sampang, Madura mengusir, membunuh dan membakari rumah sekelompok umat Islam di Sampang, Madura, yang dituduhnya penganut Syiah. Padahal masyarakat Madura dikenal sebagai pekerja yang ulet, rajin, ramah dan tingkat keberagaman yang tinggi. Semiskin-miskinnya orang Madura, masjid ada di tiap kampung dan bagus, serta tingkat keinginan pergi haji ke Mekah yang tinggi.

Belakangan menurut Taufiqurraman dalam Islam dan Budaya Madura terjadi perilaku menyimpang (deviasi) dari ajaran yang dianutnya, seperti, antara lain: sebagian pedagang Madura berjualan tidak sesuai dengan spesifikasi yang diucapkan (dijanjikan), tindakan premanisme, penghormatan berlebihan atau kultus individual pada figur kiai, ketersinggungan yang sering berujung atau dipahami sebagai penistaan harga diri, perbuatan heretikal, temperamental, reaktif, keras kepala, dan penyelesaian konflik melalui tindak kekerasan fisik (biasa disebut carok).

Nah, sifat di kampungnya ini kemudian terbawa saat berada di negeri rantau. Sehingga keberadaan orang Madura pada suatu daerah membawa konflik. Terutama pada pengambilan lahan milik orang lain. Semula datang baik-baik (sopan), diberi tempat sementara, menguasai tanpa hak dan sulit disuruh keluar dari tempat itu. Sehingga pemilik lahan seringkali mengunakan pihak lain untuk mengusir Madura. Dalam beberapa kasus orang Madura takut kepada Marinir dibandingkan polisi.

Di Cakung, Jakarta, orang Madura seringkali bentrok dengan kelompok organisasi massa Islam etnis setempat. Tentu saja bisa karena perebutan lapak (tempat usaha) dan perbuatan licik yang disebutkan di atas. Juga di daera-daerah lain dimana ada komunita Madura.

Masalah-masalah di atas, berkaitan dengan pengusiran secara struktural (dibantu dengan pimpinan pemerintah daerah) suatu etnik atau penganut Islam Syiah di Sampang, dikawatirkan membawa masalah lain, menyuburkan dan menyebarkan pertentangan antar Ras, Agama, Suku dan Antargolongan. Bukan tidak mungkin Madura ada menjadi pemantik bagi meluasnya pertentangan seperti itu di seluruh Indonesia, dimana  ada orang Madura berkumpul mencari penghidupan.

Akan ada alasan sekelompok suku (pribumi) untuk mengusir suku lain (Madura) bila ada masalah pribadi atau kelompok. Bahkan bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok politik yang akan mengambil keuntungan dari konflik tersebut jika terjadi.

Sudah saatnya tokoh-tokoh asal Madura yang menjadi orang penting di Indonesia untuk bisa ikut menjadikan orang-orang Madura sebagai "penyejuk" di negeri ini. Bukan sebagai "bahan bakar" di negeri yang sedang karut marut seperti sekarang ini. Kawatirnya, akan masuk pihak asing yang akan mengambil keuntungan dari konflik seperti ini. Nauzubillah! (IRIB Indonesia)

Sampang, 3 September 2012

*) Mahasiswa program magister FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung.

“Sakit Jiwa” di Rusuh Sampang



Oleh: Dewa Gilang

Beberapa tahun silam, Kota Bandung digegerkan oleh peristiwa pembunuhan 3 orang anak di bawah umur, yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Ironi!. Tapi lebih miris saat ditemukan fakta bahwa ibu 3 anak itu ternyata seorang muslimah, yang taat beribadah, berkecukupan, sarjana dari universitas terkemuka, dan salah satu murid Kiai terkenal di Kota Bandung.

Suaminya-pun demikian. Seorang aktivis Islam, berpendidikan tinggi, mempunyai pekerjaan yang layak, dan taat beribadah.

Tak pelak, kasus ini segera menjadi sorotan media. Tak ketinggalan para pakar, dari psikologi hingga agama beramai-ramai menurunkan ulasan membahas peristiwa itu. KH Jalaludin Rakhmat tercatat pernah mengarang satu buku khusus tentang hal tersebut, yaitu "Psikologi Agama".

Dalam bukunya, Kang Jalal, demikian Beliau akrab dipanggil, mengulas hubungan penyakit kejiwaan dengan perilaku individu beragama. Mengejutkan, menurut Kang Jalal, penyakit jiwa sangat mungkin menjangkiti setiap individu beragama.

Kini, di Sampang terjadi peristiwa pembantaian terhadap komunitas Syiah. Dua korban telah dinyatakan tewas. Sangat relevan bila peristiwa Sampang dikaitkan dengan pendapat Kang Jalal tentang "sakit jiwa"-nya orang yang beragama.

Setidaknya, kasus Bandung dan Sampang memiliki benang merah, yaitu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang religius. Sampang sendiri -khususnya, dan Madura -umumnya, begitu terkenal sebagai wilayah yang religius dan termasuk ke dalam daerah "lumbung santri". Daerah yang banyak menelurkan ulama terkemuka di tanah Jawa. Bahkan NU sendiri mempunyai akar historis di Pulau tersebut.

Kang Jalal, dalam "Psikologi Agama", sedikitnya menyodorkan tiga tipikal cara beragama yang menyebabkan gangguan kejiwaan. Sehingga, pelakunya bisa dikatakan mengidap "sakit jiwa", yaitu:

1. Cara beragama yang membuat kita tidak lagi berpikir realistis, menolak realitas. Agama baginya seakan-akan mengajarkan penyelesaian dengan mudah dan cepat.

Seseorang yang terus berdoa dan beribadah sembari mengharapkan rezeki dari Tuhan, dengan doa yang sangat panjang, namun tak dibarengi dengan usaha lahir, dipastikan termasuk tipikal pertama. Di mana agama seakan telah menutup pikirannya untuk berpikir realistis, dan menolak realitas yang ada.

Kasus-kasus seperti Ponari dan tertipunya masyarakat oleh oknum yang berkata bisa mendatangkan kekayaan, berupa duit berlipat, dengan berbungkus ritual-ritual keagamaan adalah contoh nyata betapa banyaknya masyarakat kita yang telah terjangkiti penyakit kejiwaan. Demikian pula dengan janji-janji tentang tatanan dunia baru termasuk ke dalamnya.

2. Cara beragama yang mengorbankan akal sehat. Seakan-akan agama tidak berjalan selaras dengan akal.

Memang benar banyak dogma dalam agama yang tidak dapat dicerna oleh akal kita, karena merupakan domain iman. Tetapi bukan berarti agama menghapus peran akal seorang manusia. Agama justru sangat menghargai keberadaan akal. Kalimat-kalimat seperti, "Afala Ta'qilun", "Afala Ta'lamun", Afala Tattafakarun", "Afala Tatadabbarun", menunjukkan betapa Tuhan memerintahkan kita agar menggunakan akal sehat.

3. Cara beragama kaum extrimis.

Kaum ini biasanya akan mengalami penyakit kejiwaan psikis (psikopat) bernama "Delusi". Penderita delusi akan selalu memandang dunia dengan kacamata hitam-putih. Sehingga ia akan selalu merasa berada dalam kelompok putih, sementara orang yang tak sepaham dengannya berada dalam kotak hitam.

Ia merasa seolah-olah dirinya adalah "Nabi", "Sang Penyelamat" dunia, yang diutus oleh Tuhan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan umat dari kesesatan -menurutnya. Pokoknya, di matanya semua orang salah, hanya ia, kelompoknya dan pendapatnyalah yang benar.

Apa yang terjadi di Sampang, menyimak uraian Kang Jalal di atas, kiranya termasuk tipikal yang ketiga. Di mana, menurut mereka, komunitas Syiah bak penghancur dunia dan biang keladi sesatnya umat. Karenanya, mereka harus dibasmi dari muka bumi.

Sekarang semuanya kembali kepada kita, intropeksi adalah kata kuncinya. Apakah ada pada diri kita tipikal beragama di atas?. Jika ada, berhati-hatilah, sebab kita telah terjangkiti "sakit jiwa" dalam beragama.(IRIB Indonesia / Kompasiana / SL)

Salam berang-berang.

Selamat menikmati hidangan.

Kasus Syiah di Sampang Madura, Negara Mengabaikan Prinsip Hak Asasi Manusia



Oleh: Supriadi Purba

Kekerasan yang berulang di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur, menunjukkan negara gagal melindungi warganya sendiri. Akibat pemahaman tidak utuh, agama mudah dimanipulasi untuk berbagai kepentingan. Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Benny Susetyo Pr menilai, kekerasan berlatar agama yang terus berulang terjadi akibat agama tidak dipahami secara utuh dalam konteks sosial politik dan budaya zaman. Agama selalu dikaitkan dengan kebenaran absolut. Akibatnya, agama mudah dimanipulasi kepentingan politik jangka pendek. Di Sampang, konflik awalnya bisa disebabkan faktor pribadi dan masalah ekonomi serta politik lokal. Namun, akibat tafsir agama tunggal dan negara yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi gagal berperan, kondisi semakin buruk (Kompas.com Selasa, 28 Agustus 2012).

Apa yang terjadi di Sampang Madura terhadap kaum Syiah adalah bukti negara kembali mengabaikan prinsip hak asasi manusia (HAM). Hal ini terlihat ketika ada yang menjadi korban yang meninggal jiwa, luka-luka serta rumah warga dibakar oleh sekelompok masyarakat. Pertikaian komunal di Sampang Madura adalah bentuk bagaimana sekelompok mayoritas melakukan tindakan di luar nalar kemanusiaan, hanya karena faktor satu kelompok masyarakat tidak berkeyakinan layaknya mereka.

Diperkuat dengan bukan kali pertama perisitiwa serupa terjadi, beberapa bulan yang lalu peristiwa pembakaran rumah terhadap kaum Syiah juga terjadi. Hal inilah menjadi sebuah tanda tanya besar bagi pemerintah terkhusus kepada pihak berwenang dalam hal ini kepolisian yang seharusnya memberikan perlindungan terhadap warga masyarakat. Tetapi seiring dengan adanya korban jiwa dan korban luka menunjukkan bahwa ada terjadi pembiaran yang sistematis. Pembiaran yang sangat diluar prosedural, dimana peran kepolisian tidak optimal bukan karena tidak tahu, tetapi sepertinya karena faktor kesengajaan.

Jadi kalaupun banyak kabar yang beredar seputar kasus di Sampang Madura, hal yang harus disorot adalah kaitan telah terjadi Intoleransi dan pelanggaran hak asasi manusia yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Karena kasus ini meninggalkan bekas yang dalam bagi korban yang kesemuanya adalah kaum Syiah, kecuali tadi banyak kelompok masyarakat di dalamnya, mungkin alasan beberapa pihak yang mengatakan bahwa kasus Sampang disebabkan oleh persoalan asmara atau keluarga atau lainnya.

Masyarakat juga harus memahami dan melihat benar bahwa peristiwa ini telah membuat masyarakat Syiah Sampang Madura, mengungsi dan kehilangan tempat tinggal. Bahkan perhatian pemerintah yang datangpun sepertinya akibat terjebak dengan sudah terlalu besar peristiwa itu, andai masih peristiwanya seperti beberapa bulan yang lalu maka pemerintah tidak akan ambil pusing terutama pemerintah pusat yakni Presiden SBY.

Bahkan respons Presiden SBY yang menyatakan bahwa intelijen lemah melakukan deteksi, hanya untuk menyelamatkan citra dirinya di mata internasional, bukan pembelaan terhadap korban penyerangan, kata Hendardi melalui siaran pers di Jakarta, Selasa. Menurut dia, cara seperti itu adalah lalim karena semata-mata demi dirinya sendiri yang tidak mau kehilangan muka. Respon reaktif bukan untuk memperbaiki kinerja menjamin kebebasan warga, tapi hanya untuk merawat paras dirinya.

Bahasa pura-pura SBY tersebut menunjukkan akibat peristiwa penyerangan sekaligus bentrokan tersebut telah menjerat namanya sebagai kepala negara yang tidak becus mengurus persoalan seperti intoleransi di Indonesia. Presiden SBY sudah membaca bahwa reaksi lembaga dan elemen lain serta internasional akan mengarah kepadanya, maka dia membentuk sebuah kekawatiran yang tidak seperti biasanya ketika terjadi peristiwa yang serupa.

Untuk kemudian mengacu pada pengembalian hak-hak masyarakat sipil dalam hal ini kaum Syiah maka presiden ditantang untuk bertindak tegas. Tidak memberikan kekawatiran terhadap masyarakat, lakukan pengamanan terhadap masyarakat dan libatkan semua elemen yang berwenang untuk mempercepat rekonsiliasi. Pemerintah harus menjamin peristiwa ini tidak berkepanjangan, tindak tegas pelaku dibelakangnya. Kalau itu harus melibatkan pemerintah daerah sekalipun, kenapa tidak mereka semua ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Ketegasan inilah sekarang yang ditunggu oleh masyarakat khususnya masyarakat korban yang sedang berada di pengungsian dan tempat-tempat perlindungan lainnya. Persoalan Syiah Sampang, Madura sekarang bukan lagi hanya persoalan masyarakat Jawa Timur tetapi sudah menjadi persoalan berbangsa dan bernegara dan bahkan sudah masukke ranah Internasional. Bahkan lembaga bukan Pemerintah diantaranya beberapa elemen di Indonesia akan melaporkan peristiwa ini ke Dewan HAM PBB, sehingga pada sidang Universal Periodic Review (UPR) September bulan depan, Indonesia pasti akan dicecar kembali. Bersiap-siaplah Pemerintah untuk memberikan jawaban dan keterangan atas setiap kasus intoleransi dan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.

Intoleransi Bagi Pemerintah Hal Biasa
Kenapa kasus intoleransi di Indonesia semakin tinggi dari tahun ke tahun?Jawabannya tidak lain karena negara mengabaikan prinsip hak asasi manusia dan persoalan intoleransi bagi negara adalah persoalan biasa (wajar). Hal ini terlihat dari respon Presiden SBY yang sangat minim kaitan dengan persoalan intoleransi di Indonesia. SBY  hanya gemar melakukan politik kata-kata yang berujung pada pencitraan. Hal ini terlihat dari hasil penelitian Setara Institute tahun 2011.

Kita mungkin tidak lupa kaitan dengan kasus Ahmadiyah, kasus pembakaran Gereja, kasus Syiah serta praktek intoleransi lainnya. Apakah semua kasus yang disebutkan di atas ada kejelasan dan penyelesaiannya?Cukup disayangkan negara tidak berani dalam mengungkap dan menindak para pelaku, negara cenderung membiarkan dan sepertinya tertekan dengan sekelompok masyarakat. Artinya dalam kasus intoleransi negara kalah dan tidak mampu memberikan perlindungan bagi warga negaranya, apalagi di tambah desakan luar negeri dalam Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, menunjukkan betapa lemahnya negara.

Jikalau negara kalah dan tidak berani menindak para pelaku dibalik semua kasus tercedarinya kebebasan beragama dan berkeyakinan, kepada siapa lagi masyarakat mengadu? Siapa yang ditakuti oleh negara sebenarnya, bukankah negara memiliki kewenangan yang kapanpun bisa dilakukan jikalau ada kasus pencederaan terhadap nilai-nilai toleransi, tetapi kenapa negara diam dan membiarkan?

Sudah saatnya negara bertindak benar, memberikan jawaban masyarakat yang belum terjawab hingga hari ini. Kepastian hukum yang tidak ada menunjukkan betapa lemahnya negara, kalah dengan sekelompok orang yang merupakan segelintir dari jumlah masyarakat. Presiden dan jajaranya juga asik dengan bahasa-bahasa lumrah dan sepertinya biasa saja melihat keadaan yang terjadi sementara ada warga negaranya hingga hari ini tidak mendapat jaminan menjalankan ibadah dan kepercayaannya.

Tokoh agama seperti Romo Benny Susetyo melihat negara sebenarnya sudah membuka ruang terjadinya konflik. Pemerintah lembek terhadap ormas-ormas tertentu, dalam kasus Gereja di Aceh, Riau, Bekasi. Pemerintah lebih mendengarkan suara ormas-ormas dibanding melihat kebenaran yang ada. Pemerintah tidak mampu menjadi wasit, tidak memiliki keberanian menegakkan hukum bagi warga negaranya.

Dengan dihujani cercaan dan pertanyaann dari negara-negera sahabat di Sidang Dewan HAM PBB, mudah-mudahan pemerintah Indonesia berubah dan tidak lagi terkesan membiarkan.

Memberikan perlindungan bagi setiap warga negaranya adalah tanggung jawab negara, jangan kemudian akibat pembiaran yang dilakukan negara, terjadi konflik yang berujung pada jatuhnya nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia. Biarlah hal itu hanya terjadi pada masa lalu, hari ini seharusnya kita sudah memasuki dunia baru tanpa diskriminasi, tanpa intoleransi serta hidup damai dan tenteram antarsesama.(IRIB Indonesia / Kompasiana / SK)

*) Penulis adalah Koordinator Solidarity For Human rights (SA-HAM) dan Aktif di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara

Minyak Tergenang Di Syiah Sampang



Oleh: Dewa Gilang

Pada Minggu malam, 26/08/2012, saya menulis satu artikel terkait kerusuhan sektarian di Sampang dengan judul, "Beban Sejarah Syiah Sampang. Dalam artikel itu, saya menyoroti bagaimana beban sejarah pertikaian Sunni-Syiah masa silam harus ditanggung oleh komunitas Syiah di dunia, tidak hanya di Sampang.

Kini, berita mengejutkan datang dari hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Media online Okezone.com, 8/03/2012, merilis berita temuan Kontras Surabaya tentang fakta-fakta bahwa konflik Sampang ini sengaja diciptakan untuk eksplorasi minyak dan pengembangan investasi di kawasan tersebut.

Meski menolak disebut sebagai hasil akhir, Kontras setidaknya menemukan adanya skenario yang mengarah kepada pelancaran eksplorasi minyak, di antaranya ialah pembangunan jalan menuju tempat eksplorasi. Jalan itu, dalam data yang didapat Kontras, menabrak Dusun Nangkernang sekitar 2-3 kilometer dari jalan utama. Selain itu, dugaan diperkuat dengan adanya survei Seismik oleh pihak Pertamina terhadap dua rumah milik warga.

Sehingga, menurut Kontras, konflik ini memang sengaja diciptakan untuk "mengusir" warga yang tinggal di Dusun Nangkernang agar mengosongkan kampung. Secara kebetulan warga yang tinggal di kawasan itu sebagian besar adalah penganut Syiah di bawah pimpinan Ustad Tajul Muluk.

Meski temuan dan dugaan Kontras tersebut dirilis pada bulan Maret 2012, nyatanya 5 bulan kemudian, yaitu Agustus 2012, warga Syiah kembali menjadi korban kekerasan dengan isu SARA. Tercatat 2 korban tewas akibat konflik terbaru ini.

Jika dugaan Kontras itu benar adanya, maka peristiwa Sampang seakan mengulang kembali teori konspirasi di balik kekerasan etnis Rohingya dan perang yang dilancarkan oleh Amerika terhadap Afghanistan dan Irak. Di mana, menurut teori konspirasi, apa yang terjadi di balik kekerasan etnis Rohingya, dan kobaran perang "Paman Sam" di Afghanistan dan Irak adalah demi alasan penguasaan terhadap sumber alam, yang kemudian dibalut dengan berbagai dalih.

Terlepas dari benar tidaknya temuan Kontras Surabaya di atas, konflik di Sampang, sekali lagi, harus dipandang sebagai kegagalan Negara, beserta aparaturnya, dalam mengelola keamanan demi mengatasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh hembusan isu SARA.

Konflik Sampang juga harus disoroti sebagai fenomena wujud kedangkalan pemahaman agama, yang hanya mengupas luarnya ketimbang radikal atau menukik pada akarnya. Di mana perbedaan agama atau keyakinan di Indonesia sering digunakan untuk mengobarkan api permusuhan dan kebencian, seperti tuduhan aliran sesat, dan lain sebagainya.

Beberapa kasus kekerasan bermotif agama di Indonesia yang menjelaskan kedangkalan dalam pemahaman beragama terefleksi ketika suatu kelompok yang mengatasnamakan agama melakukan aksi penyerangan terhadap kelompok agama atau keyakinan lainnya. Apa dasar pegangan yang bersarang dalam isi kepala kelompok penyerang itu?.

Pertama, dalam sesama Islam, para penyerang mendasarkan pikiran mereka dengan berpegang pada tuduhan "aliran sesat". Kedua, terhadap kelompok di luar Islam, pikiran mereka menuduh "Kristenisasi" atau ancaman "pemurtadan".

Jika memang kenyataan berkata demkian, seharusnya urusan-urusan demikian diserahkan kepada aparat yang berwenang, dan bukan bertindak secara personal atau kelompok, yang mengakibatkan rusuh komunal.

Kritik juga dialamatkan kepada MUI, selaku yang sering dianggap sebagai pemegang otoritas keagamaan di Indonesia. Seharusnya, selain memfatwakan sesat, MUI mencari dan memikirkan solusi akibat yang mungkin ditimbulkan oleh fatwanya itu. Dengan kata lain, MUI jangan hanya berhenti pada fatwa sesat terhadap satu kelompok saja, namun tak pernah mengeluarkan fatwa terkait kelompok-kelompok yang sering melakukan penyerang dengan mengatasnamakan agama.

Jika, pada kasus kali ini, aparat yang berwenang tidak bertindak tegas, dan MUI hanya "duduk" manis tanpa mengeluarkan fatwa terhadap penyerangan tersebut, maka kita tinggal menunggu saja, kira-kira kapan "belati" bernama agama itu kembali menusuk tubuh Ibu Peritiwi, dan "darah" anak Bangsa akan terus mengucur, membahasi tanah negeri ini.(IRIB Indonesia / Kompasiana / SL)

Salam berang-berang.

Selamat menikmati hidangan.

Sampang? Siapa Peduli



Oleh: Ajinatha

Ketika Muslim Rohingnya dianiaya di Myanmar, amuk amarah kita begitu luar biasa, bahkan pasukan pembela Islam pun bertindak diluar logika. Tetapi ironinya, ketika umat sesama Muslim saling menganiaya di sampang, ditanah air sendiri, tidak terlihat ada yang membela, bahkan aparat keamanan pun tidak bertindak secara preventif.

Kepedulian seperti apa sebetulnya yang kita miliki terhadap sesama Muslim, betulkah kita memang peduli, atau kita hanya mencari sensasi untuk pemberitaan media? Bukankah yang bertikai di sampang adalah sama-sama rakyat Indonesia, sama-sama Muslim Indonesia, lantas apa yang kita lakukan terhadap konflik di Sampang Madura ? Apakah konflik tersebut memang dipelihara?

Jangan korbankan rakyat untuk kepentingan politik, mengadu sesama rakyat hanya untuk memelihara konflik. Jangan butakan mata dan hati hanya karena kepentingan politik, melestarikan kejahatan politik hanya karena kepentingan politik. Sudah cukup rakyat berkorban dan dikorbankan hanya demi kepentingan para elit dinegara ini.

Sangat mustahil berbagai konflik ditanah air ini tidak bisa diatasi. Negara memiliki aparat keamanan yang tangguh, dengan memiliki berbagai fasilitas peralatan yang canggih. Dimana intelijen kita berdiri, adakah mereka sebagai pagar betis keamanan rakyat, atau mereka berdiri hanya untuk memagari kekuasaan?

Keamanan dan kenyaman rakyat adalah tanggung jawab pemerintah, rakyat berhak mendapatkan rasa aman dan rasa nyaman yang mereka bayar dari pajak yang dipungut pemerintah. Dan keamanan dan kenyamanan rakyat dilindungi undang-undang, sudahkah pemerintah memenuhi amanat undang-undang tersebut? (IRIB Indonesia / Kompasiana / SL)

Kerendahan Hati Malik Asytar






Matahari sudah semakin tinggi pertanda siang hari telah tiba. Keadaan pasar seperti biasa, dipenuhi oleh orang ramai yang datang silih berganti untuk menyediakan keperluan hidup mereka. Di antara mereka tampak seorang lelaki berpostur tinggi dengan tubuh perkasa yang menarik perhatian banyak orang. Wajahnya terbakar oleh sengatan sinar matahari. Dengan langkah yang pasti, dia memasuki pasar Kufah. Saat itu, salah seorang pedagang pasar yang asyik duduk di depan tokonya, menyadari kedatangan lelaki tsb. Tiba-tiba muncul niat kotornya untuk membuat rekan-rekannya tertawa dengan melontarkan batu dan tanah ke arah lelaki itu.

Lelaki tersebut memalingkan wajahnya dan memandang ke arah orang yang melontarkan batu kepadanya. Tetapi tanpa merasa tersinggung, dia membiarkan peristiwa itu berlalu dan terus melanjutkan perjalanannya. Rekan si penjual itu bukan saja tidak tertawa menyaksikan perbuatan kawan, bahkan dengan rasa gusar dan gelisah berkata kepadanya, "Tahukah engkau siapa yang engkau permainkan tadi?"

Si penjual tersebut menjawab, "Tidak, aku tidak mengenalnya. Menurutku, dia tidak berbeda dengan ratusan orang lain yang lalu lalang di sini setiap hari di hadapan mata kita. Bukankah begitu?"

Salah seorang dari rekan si penjual itu dengan amat gusar sehingga wajahnya berkerut, berkata, "Hei! Bodoh! Tidakkah engkau mengenalinya? Lelaki yang baru lewat itu adalah Malik Asytar, komandan tentara Islam yang terkenal. Kita banyak terhutang budi kepadanya karena pengorbanan dan keberaniannya di medan perang. Celaka engkau! Tidakkah engkau tahu siapa yang telah engkau permainkan tadi?"

Mendengar nama Malik, si pedagang menggigil ketakutan. Dia sungguh menyesali perbuatannya. Dia bahkan sanggup melakukan apa saja demi menebus kesalahannya. Matanya menjadi gelap. Dia tidak tahu kepada siapa harus mengadu. Dalam hati dia berkata, "Aku telah melakukan perbuatan yang bodoh. Aku telah mempermainkan komandan pasukan Islam. Tentu aku akan dihukumnya"

Si pedagang mengambil keputusan untuk pergi menemui Malik Asytar. Bagaimanapun juga dia akan meminta maaf kepadanya. Dia berlari-lari mencari Malik. Tidak lama kemudian, dia berhasil menemukan Malik yang tengah berjalan di kejauhan. Malik membelokkan langkahnya menuju masjid. Si pedagang itupun dengan hati yang bergoncang hebat menuruti langkah Malik dan masuk ke dalam masjid. Dia tidak berani menghampiri Malik. Panglima perang Islam itu berdiri menunaikan shalat. Si penjual memandang ke arah Malik. Malik Asytar, dengan kekhusyukan penuh melaksanakan ibadahnya. Sayup-sayup terdengar suara merdu Malik yang tengah melaksanakan shalat. Suara itu menenangkan hati si pedagang pasar.

Selepas shalat, Malik berdoa. Tak lama setelah beliau selesai memanjatkan doa, perlahan-lahan si pedagang mendatangi Malik. Dia lantas menjatuhkan diri dan bersimpuh di kaki Malik. Dengan suara bergetar dia berkata, "Wahai Malik Asytar, aku telah melakukan perbuatan yang bodoh. Aku tidak mengenalimu. Aku memohon kepadamu untuk memaafkanku. Demi Allah, aku tidak mengenalimu. Engkau adalah seorang lelaki yang mulia dan terhormat.

Malik Asytar, dengan perlahan-lahan mengangkat lelaki tersebut dan meletakkan tangannya ke atas bahu orang itu. Si lelaki itu dengan susah-payah menatap mata Malik. Malik Asytar dengan lembut berkata, "Aku bersumpah demi Tuhan, bahwa kedatanganku ke masjid ini adalah karena engkau. Sebab aku tahu bahwa karena kejahilanmu, engkau mengganggu orang tanpa sebab. Aku sedih melihatmu. Aku datang ke masjid ini untuk berdoa buatmu dan aku meminta dari Tuhan supaya memberimu petunjuk ke jalan yang benar dan menjauhkan dirimu dari dosa."

Mendengar kata-kata Malik dan menyaksikan sendiri sifat pemaaf ksatria Islam ini, dia semakin merasa malu. Dia mengucapkan terima kasih kepada Malik Asytar dan kembali ke tempat kerjanya.

Rekan-rekan si pedagang pasar tidak sabar menantikan kedatangannya. Ketika melihatnya dan mendengar kisah yang dia paparkan, mereka memuji Malik Asytar. Salah seorang dari mereka bahkan membawakan sebuah hadis Rasulullah Saw sebagai berikut, "Ampunilah kesalahan orang lain karena sikap pengampun menambah kemuliaan orang. Seringlah memaafkan supaya Tuhan memuliakanmu." (IRIB Indonesia)

Syeikh Maulawi, Imam Besar Islam 
Sunni 



Propinsi Zahedan Republik Islam Iran sedang berkunjung ke Indonesia bersama Ayatullah Rabbani dan Ayatullah Mahdawi dalam rangka menjelaskan kerukunan & kerjasama I
slam 
Sunni & I
slam 
Syi'ah di  

Republik Islam Iran 


































Pesan Warga Iran soal Konflik Syiah Sampang

TEMPO.COTeheran – Warga Syiah di Iran prihatin mendengar masih adanya konflik berdarah antara muslim Syiah dan Sunni di Indonesia. “Saya sedih mendengar kabar ini dari Anda,” kata Dariush Ghassemi, seorang warga Teheran yang ditemui Tempo, akhir pekan lalu.

Dariush yang sehari-hari berprofesi sebagai pemandu wisata merupakan salah satu relawan yang mendampingi delegasi Indonesia selama penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Teheran, Iran.

Menurut Dariush, di Iran, konflik macam itu sudah jarang terdengar. “Konflik antara etnis yang berbeda, maupun antara Sunni dan Syiah, sudah lama tidak ada lagi,” katanya. “Belakangan ini, hubungan kami sangat baik,” katanya.  Dia membantah berita bahwa penguasa Syiah di Iran mendiskriminasi penganut Sunni di sana.

Menurut Dariush, kerukunan ini didorong oleh para pemuka agama Islam di Iran yang selalu menekankan toleransi  antar -umat. “Kami diajarkan kalau dua muslim itu bersaudara. Jadi seharusnya tidak ada konflik dan pertengkaran di antara saudara,” kata Dariush.

Pria beranak dua ini berpesan agar warga Islam di Indonesia bisa hidup bertetangga dengan rukun dan damai.  “Kita semua keturunan dari Adam dan Hawa. Semuanya bersaudara,” katanya. Jika ada perbedaan, kata Dariush, maka seharusnya ini diselesaikan dengan diskusi dan negosiasi.

Dariush juga menekankan bahwa muslim di seluruh dunia sama saja, entah itu berlatar belakang Syiah atau Sunni. “Tidak ada perbedaan. Kita semua di hadapan Tuhan sama. Hanya amal perbuatan kita saja yang membedakan posisi kita,” katanya.

WAHYU DHYATMIKA (TEHERAN)/ (http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427073/Pesan-Warga-Iran-soal-Konflik-Syiah-Sampang)

Senin, 3 September 2012 02:03
Gusdurian Jatim (pecinta Gus Dur) mendesak Bupati Sampang agar mencopot Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadinsosnakertrans) setempat, Malik Amrullah.
Hal itu terkait dengan tindakan arogan yang dilakukan Malik dengan mengobrak-abrik posko kemanusiaan yang ada di lokasi pengungsian.
Selain itu, Gusdurian juga mengecam intimidasi dan penggunaan cara premanisme yang dilakukan oleh Kadinsos dalam berkomunikasi dan mengkoordinasikan berbagai posko yang ada. "Selain meminta Malik meminta maaf secara terbuka, kami juga meminta agar bupati Sampang mencopot Malik dari jabatannya," kata Aan Anshori, koordinator Gusdurian Jatim, dalam siaran persnya via e-mail, Sabtu (1/9/2012).
Aan melanjutkan, pihaknya berharap pemkab Sambang benar-benar memperlakukan pengungsi Syiah secara lebih manusiawi dan tidak mengintimidasi pengungsi agar berpindah keyakinan. Dan yang terakhir pihaknya meminta agar BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) Jawa Timur melakukan audit reguler terhadap dana bantuan yang telah dikucurkan oleh pemprov Jatim dan Pemkab Sampang.
Kekecewaan Gusdurian itu bukan tanpa alasan. Semua itu berawal ketika  Jaringan Lintas Iman Jombang dan sejumlah LSM membuka posko kemanusiaan di GOR setempat.
Sekitar jam 11.30 WIB, Malik Amrullah mendatangi posko kemanusiaan milik aliansi beberapa jaringan kerja LSM tersebut.
Dengan arogan, Kadinsos Sampang meminta agar posko tersebut segera dibongkar karena dianggap mengganggu ketertiban. Permintaan ini langsung ditolak oleh Ndut Arimbi bersama Adi Acong (petugas posko).
Setelah gagal mengusir posko tersebut Kadinsos berupaya mengintimidasi petugas posko dengan cara akan meminta aparat keamanan yang bertugas di sana untuk melakukan pengusiran paksa.
Gagal mengusir posko, Malik pun pergi. Namun sekitar pukul 11.30 WIB dia kembali lagi ke posko dengan tujuan yang sama. Kali ini dia datang bersama beberapa stafnya. Sempat terjadi ketegangan antara petugas posko dan rombongan Kadinsos. Dalam situasi memanas tersebut petugas posko mendengar Kadinsos melontarkan kalimat "dasar pathek! Susah diatur". Dalam bahasa Madura pathek kerap diartikan sebagai "anjing".
Petugas posko tetap bersikukuh dengan sikapnya dan memilih untuk tetap bertahan sambil mempersilahkan Kadinsos untuk mencari cara yang lebih bermartabat dalam berkomunikasi dengan para relawan. "Kami meyakini upaya "pengusiran" ini dilakukan oleh pemkab sebagai skenario menutup akses pihak luar atas apa yang sebenarnya terjadi terhadap para pengungsi. Oleh karena itu kami minta agar Kadinsos dicopot dari jabatannya," pungkas Aan.

DPR Desak MUI Jawa Timur Cabut Fatwa Sesat Syiah

TEMPO.COJakarta - Sejumlah anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat meminta tak ada lagi stigmatisasi tehadap masyarakat masyarakat muslim Syiah, Sampang. Alasannya, konflik horizontal yang terjadi di Sampang bukanlah konflik agama. "Syiah bukanlah masalah utama di Sampang," ujar anggota Komisi Hukum dari Golkar, Nudirman Munir, usai rapat kerja dengan Kepala Polri di kompleks parlemen, Senayan, Senin, 3 September 2012.

Menurut Nudirman, untuk mengembalikan rasa aman masyarakat, Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur diminta mendudukkan masalah Sampang dalam konteks konflik antarkelompok. "Tidak boleh ada stigma bahwa Syiah itu sesat." Ajaran Syiah sendiri kata dia sudah berkembang lama di nusantara dan bisa hidup berdampingan dengan penganut Sunni.

Nudirman meminta MUI Jawa Timur segera merevisi keputusan yang dinilai merugikan kelompok minoritas itu. Hal ini diperlukan agar tidak ada lagi tindakan yang mengatasnamakan pertikaian Syiah dan Sunni di Madura "Mereka (penganut Syiah) tidak bersalah, tidak perlu dimusuhi."

Anggota Komisi Hukum dari Partai Persatuan Pembangunan, Ahmad Yani, sependapat dengan Nudirman Munir. MUI Jawa Timur kata Yani, harus segera merevisi keputusan yang kontroversial itu. Jika tidak, maka MUI pusat diminta segera bertindak meluruskan keputusan MUI Jawa Timur ini. "MUI Pusat bisa mengeluarkan keputusan yang mencabut putusan MUI Jawa Timur."

Menurut politikus yang berlatar pengacara ini, tokoh masyarakat dan ulama harus melihat lebih jernih ihwal masalah utama bentrok Sampang. Dia berharap penyelesaian konflik Sampang tidak meluas pada isu yang menyesatkan. Sama dengan Nudirman, dia menilai selama ini penganut Sunni dan Syiah di nusantara telah hidup berdampingan sejak lama.

Ketua Komisi Hukum Gede Pasek Suardika menolak berkomentar soal perbedaan aliran ini. Dia hanya menekankan agar penegak hukum dan pemerintah bisa memberikan keadilan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Sampang. Terutama bagi kelompok Syiah yang kini masih tinggal di permukiman.

Kerusuhan di Sampang kembali meletup pada Ahad, 26 Agustus lalu. Dua ratusan warga menyerang dan membakar pemukiman kelompok minoritas Syiah Sampang. Peristiwa sejenih pernah terjadi pada Desember 2011 lalu. Namun, kepolisian memastikan kerusuhan tidak dilatari perbedaan aliran kepercayaan antara muslim Sunni dan Syiah di sana. Kerusuhan pecah karena perbedaan pendapat biasa antara dua kelompok.

IRA GUSLINA SUFA(http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427224/DPR-Desak-MUI-Jawa-Timur-Cabut-Fatwa-Sesat-Syiah?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter)

Sunni dan Syiah Indonesia Percaya Imam Mahdi

TEMPO.CO Surabaya--Pengajar sejarah islam pada fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri Surabaya, Imam Ghozali Said menilai perbedaan Syiah dan Sunni berasal dari anggapan dasar mengenai keberadaan empat sahabat nabi.

"Syiah hanya mengakui Ali, sementara Abu Bakar, Umar dan Usman dianggap zalim," kata Ghozali yang juga pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo, Surabaya ini, Senin 3 September 2012.

Perbedaan inilah yang setidaknya menjadikan tafsir al-quran antara Sunni dan Syiah berbeda. "Al-quranya sama, hanya tafsirnya berbeda karena Syiah hanya mengakui tafsir versi Ali," kata dosen yang mendapatkan gelar Master dari Khartoum Internasional Institute Sudan ini.

Begitupun mengenai hadist, dimana kaum Syiah hanya mengakui hadist yang berasal dari ahlul bait. Perbedaan ini, sebenarnya sudah jelas karena tidak hanya Sunni dan Syiah, melainkan penganut aliran Islam lainya.

Meski antara Sunni dan Syiah berbeda, namun banyak ritual Syiah yang sebenarnya di gunakan penganut Sunni. "Orang Sunni di Indonesia itu percaya juga pada Imam Mahdi, padahal itu teologi syiah," ujarnya.

Menurut dia, Syiah yang ada di Indonesia adalah Syiah Imamah dan sama dengan Syiah yang ada di Iran, serta Libanon. Karenanya, Ghozali menyayangkan keluarnya fatwa sesat yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang maupun Jawa Timur.

FATKHURROHMAN TAUFIQ(http://www.tempo.co/read/news/2012/09/04/173427295/Sunni-dan-Syiah-Indonesia-Percaya-Imam-Mahdi )
Pengungsi Syiah Sampang, Madura, Terserang Tomcat  

TEMPO.CO Surabaya:Pengungsi Syiah Sampang, Madura, baik dewasa maupun anak-anak mulai terserang berbagai penyakit diantaranya penyakit kulit salah satunya disebabkan serangan verenata dermatitis (tomcat). Mereka juga terserang hipertensi, diare, infeksi saluran pernafasan, maag dan anemia.

"Ada dua puluh pengungsi dewasa dan lima anak-anak yang terdeteksi terkena gigitan verenata dermatitis (tomcat) yang gejalanya mirip herpes," kata Muadz, relawan pengungsi Syiah Sampang, Ahad, 2 September 2012.

Ia mengatakan selain gigitan tomcat, banyak orang dewasa terkena hipertensi karena mengalami stress. Bahkan anak-anak juga tak luput dari berbagai penyakit.

Sebanyak 16 dari 57 anak-anak yang diperiksa relawan dokter, kata dia,   terkena infeksi saluran pernafasan. Tujuh anak terkena diare, sepuluh anak terkena anemia, tiga anak mengalami febris (demam) dan tiga anak mengalami maag.

"Dokter dari relawan kesehatan memberikan pengobatan dan antibiotik agar penyakit-penyakit tersebut segera disembuhkan," kata dia.

Ia mengatakan pemeriksaan terhadap pengungsi yang lain akan terus dilakukan oleh relawan tim kesehatan. Tim berjumlah hanya lima orang terdiri dari satu dokter dan empat paramedis. "Menyikapi serangan tomcat besok akan dilakukan pengasapan (fogging) di gelanggang olahraga Sampang, tempat para pengungsi menetap untuk sementara waktu," ujar dia.

Kordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Jawa Timur, Andy Irfan Junaidi mengatakan pemerintah harusnya segera memperbaiki dan menyediakan fasilitas yang layak bagi pengungsi."Harus disiapkan banyak kamar mandi, sanitasi yang baik, dan juga paramedis serta obat-obatan yang cukup. Tak lupa pengiriman makanan jangan sampai telat kepada para pengungsi," ujar dia.

DINI MAWUNTYAS
KASUS SAMPANG
KH Hasyim Muzadi: Syiah Bagian dari Islam

Malang, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzdi menyatakan paham Sunni maupun Syiah yang dianut oleh masyarakat di Madura itu masih menjadi bagian dari Islam. 

Kiai Hasyim menyatakan hal itu di Malang, Sabtu, 1 September. Untuk meredam sekaligus mengupayakan penyelesaian konflik antara Sunni dengan Syiah di Sampang, katanya, akhir pekan depan (8/9) dirinya bersama PWNU Jatim akan ke Sampang. 

"Sebaiknya para ulama ini melakukan dakwah yang isinya bimbingan dan penyuluhan serta argumen-argumen yang benar, jangan pakai kekerasan. Kelompok minoritas itu kalau dikerasi justru akan tambah militan," tandasnya.

Dan, tegasnya, yang lebih penting lagi, ulama yang tidak cocok dengan ulama lain jangan menggaet umat lainnya agar perbedaan paham ini tetap bisa hidup dan berkembang secara berdampingan tanpa harus melakukan kekerasan.

"Kita berharap masalah ini secara perlahan bisa dituntaskan dengan baik," tegasnya. 

Kiai Hasyim juga mengakui, masyarakat di Madura cenderung lebih taat kepada ulama ketimbang ajaran yang termaktub dalam kitab suci (syariat). Oleh karena itu, peran ulama untuk mendamaikan dua paham yang berselisih ini sangat penting dan sentral.

"Oleh karena itu, para ulama di Sampang ini harus didukung dengan berbagai informasi yang lebih luas agar penyelesaian konflik tersebut lebih obyektif dan proporsional, apalagi ulama di Madura memiliki peran penting sebagai panutan umat," tegasnya.


Redaktur : Hamzah Sahal
Sumber   : Antara (http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,39518-lang,id-c,nasional-t,KH+Hasyim+Muzadi++Syiah+Bagian+dari+Islam-.phpx)
Cendekiawan muslim dan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rakhmat berpose dengan sampul buku karyanya berjudul Life "After Death - The Ultimate Journey" yang diluncurkan 29 Agustus 2012. TEMPO/Praga Utama
MINGGU, 02 SEPTEMBER 2012 | 21:03 WIB
Kang Jalal pun Diancam Mati  
TEMPO.COJakarta -Bukan cuma pengikut Syiah di Sampang, Bondowoso, Pekalongan, atau Bangil saja yang diancam oleh warga non-Syiah. Cendikiawan Jalaluddin Rakhmat pernah mengalami hal yang sama: diancam mati.

Sebabnya cuma satu, Kang Jalal merupakan penganut Syiah. Tak cuma itu, ia juga Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia. Sebuah wadah Syiah berskala nasional.

Kang Jalal bercerita, ancaman itu datang waktu ia mengerjakan disertasi di Universitas Islam Negeri Makassar, pada 2011. Sejumlah ulama datang dan memprotes UIN Makassar. Mereka meminta Kang Jalal dieliminasi dari kandidat doktor. Tapi permintaan ditolak.

"Kampus UIN MAkassar memberikan gelar doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah, bukan mahzab yang dianut orang itu," kata Kang Jalal, Kamis, 29 Agustus 2012.

Karena permintaannya ditolak, mereka pun mengeluarkan ancaman ke Kang Jalal. Yakni, jika Jalaluddin tak diharamkan sebagai kandidiat dokter maka darahnya halal. "Tapi UIN Makassar tetap bilang tak masalah, mereka bakal memanggil polisi," ujarnya.

Disertasi yang tengah diteliti Jalaluddin Rakhmat mengulas soal pergeseran ajaran dari sunnah Nabi ke sunnah sahabat. Menurut Kang Jalal, sunnah Nabi tak lagi dijalankan. Dan pendapatnya itu membuat marah sejumlah ulama di Makassar. "Saya sebetulnya bisa tuntut mereka balik karena sudah mengancam," kata dia.

Bagi pengikut Syiah, mendapat ancaman bukan hal aneh. Beberapa dari mereka bahkan gagal berbisnis, menikah, bahkan terpaksa bercerai dari pasangannya karena menganut Syiah. "Beberapa anggota keluarga saya pernah mengalami hal serupa," ujarnya.

CORNILA DESYANA
Jalaludin Rakhmat. TEMPO/Praga Utama
SENIN, 03 SEPTEMBER 2012 | 05:02 WIB
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 1)  
TEMPO.COJakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan pada banyak negara. Karena itu, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional, melainkan permasalahan internasional.

Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan inilah hasil perbincangan wartawan Tempo: Choirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia?
Tak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu, orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tak menunjukkan dirinya Syiah. Melainkan ber-taqiyah (berpura-pura) menjadi pengikut mahzhab Syafi''i. Karena itu, secara kultur Nahdlatul Ulama adalah Syiah. Tapi tak pernah ada sejarah yang merekam jejak mereka. Jadi, dianggapnya tak ada Syiah di kala itu. (Baca juga: Penyebaran Syiah di Aceh )

Kenapa mereka berpura-pura menganut Mahzab Syafi''i?
Mereka tetap orang Syiah. Tapi di luarnya mempraktikkan mahzab Syafi''i. Tujuannya untuk melindungi diri dari serangan.

Apa yang membuat Anda yakin Syiah sudah masuk Indonesia kala itu?
Anda bisa lihat dari beberapa tradisi di Indonesia. Tabot, misalnya. Tradisi itu kerap dilakukan masyarakat Bengkulu pada 1 hingga 10 Muharram tiap tahunnya. Tak kurang dari seribu orang mengikuti Tabot. Mereka melakukan drama kolosal yang mengenang tragedi pembantaian keluarga nabi dan tewasnya Imam Hussein di Karbala.

 Awalnya, tradisi itu diperkenalkan saudagar India yang kapalnya terdampar di Bengkulu. Tapi warga tak tahu jika tabot adalah tradisi Syiah. Sampai sekarang pemerintah dan warga Bengkulu tetap menggelar tabot, meskipun mereka bukan Syiah. (Baca: Tabot, Jejak Syiah dalam Tradisi Indonesia)

Lalu kapan jejak Syiah di Indonesia mulai terbaca sejarah?
Pada penyebaran gelombang kedua, Syiah masuk sekitar 1982. Berawal dari revolusi Islam di Iran pada 1979-1980-an, yakni peristiwa perebutan kekuasaan di Iran dari pemerintahan otokrasi, Mohammad Reza Shah Pahlavi, oleh ulama tua, Ayatullah Rohullah Khomeini. (Baca juga: Syiah Berkembang di Indonesia Pasca-Evolusisi Iran)

Kakek ini (Khomeini) menarik perhatian mahasiswa. Buat gerakan Islam di Indonesia yang selalu gagal dalam pertarungan politik, Imam Khomeni dianggap sebagai harapan. Ia menjadi lambang negara dunia ketiga yang melawan Amerika.

Mahasiswa yang dilarang berkegiatan sosial oleh pemerintah kembali ke masjid. Mereka mengulas buku-buku revolusi Iran, mengenal Syiah, mempelajari ideologi serta filosofinya. Kemudian muncullah Syiah di kalangan pelajar yang berpusat pada masjid kampus.

Kelompok Syiah pertama kali muncul di daerah mana?
Di Bandung. Lalu Syiah masuk ke HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan mulai tersebar ke kampus di daerah lain. Aktivis HMI menyebarkan ajaran Syiah secara sistematis, yakni melalui pelatihan kepemimpinan. (Baca juga: Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia )

Syiah di masa itu sudah menimbulkan protes dari masyarakat?
Belum. Bahkan masyarakat tak merisaukan kesibukan mahasiswa yang mempelajari Syiah. Sebab mereka tak membicarakan soal fiqih. Jadi hanya dianggap sebagai gerakan intelektual.

Lalu kapan Syiah mulai diprotes?
Pada gelombang ketiga. Waktu orang-orang sudah mengerti ideologi dan filofosi Syiah. Kemudian mereka ingin mengenal Syiah dari segi fiqih. Mereka belajar dari habib yang pernah belajar di Khum, Iran. Karena sudah masuk ke ranah fiqih, muncullah perbedaan paham. Dan timbullah benih konflik.

Apa sampai di situ saja penyebaran Syiah di Indonesia?
Tidak. Ada gelombang keempat, ketika orang Syiah mulai membentuk ikatan. Misalnya Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia, IJABI. Berdiri 1 Juli 2000, IJABI merupakan organisasi massa yang diakui keberadaannya oleh Kementerian Dalam Negeri.

Tapi penyebaran kali ini tak mengutamakan fiqih, kami mengedepankan akhlak. Alasannya, fiqih sudah menimbulkan konflik. Sedangkan bagi kami, yang penting Islam bersatu dan Indonesia tenteram. Jadi IJABI lebih fokus pada kegiatan sosial.
foto
Selain aktif sebagai akademisi di berbagai perguruan tinggi, Jalaludin Rakhmat aktif berdakwah dan membina kaum miskin. Pada 2004 ia mendirikan sekolah gratis SMP Plus Muthahhari di Cicalengka Bandung yang dikhususkan untuk siswa miskin. TEMPO/Praga Utama






Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 2)

TEMPO.CO Jakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan juga banyak negara. Karena itu, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional, melainkan permasalahan internasional.

Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan ini perbincangan bagian kedua antara wartawanTempo: Choirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Berapa populasi umat Syiah di Indonesia?
Berdasarkan penelitian pemerintah, paling sedikit ada 500 ribu orang. Ada juga yang memberikan perkiraan tertinggi, sekitar lima juta umat. Tapi menurut saya sekitar 2,5 juta jiwa yang tersebar di banyak daerah. (Baca: Berapa Populasi Syiah di Indonesia)

Di daerah mana saja?
Kalau berdasarkan ranking jumlah pengikut, ada tiga lokasi terbesar. Pertama, Bandung, lalu Makassar, dan Jakarta. (Baca: Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia)

Kalau di Sampang, berapa orang?
Sedikit. Sekitar 700 orang. Karena kecil itu, Syiah di Sampang sering diserang. Coba mereka serang Bandung…. (Baca: Bagaimana Kronologi Syiah Masuk Sampang?)

Apa perbedaan Syiah di Indonesia dengan Iran?
Tidak ada. Syiah di Iran menganut Syiah Itsna Asyariyah atau Imamah, yakni ajaran yang mengutamakan masalah kepemimpinan. Ajaran itu tercantum dalam Undang-Undang Iran. Dan kami juga Syiah Itsna Asyariyah.

Lalu bagaimana hubungan Syiah di Indonesia dengan Iran?
Kami hanya punya hubungan ideologi saja. Iran adalah negara Syiah. Tapi selain itu, mereka hampir tak pernah memberikan bantuan apa pun. Saya mendirikan sekolah di berbagai tempat, tapi orang-orang memuji Kedutaan Iran. Mereka dianggap berhasil memajukan Syiah di Indonesia. (Baca: Iran Tak Pernah Bantu Syiah Indonesia)

Apa mereka tahu keberadaan IJABI?
Ya. Bahkan, pernah ada ulama Indonesia yang mengadu ke pemerintah Iran. Mereka meminta Iran membubarkan IJABI. Alasannya, IJABI menentang ideologi Iran. Memang kami menentangnya karena ideologi kami Pancasila, seperti yang dipakai Indonesia. Lalu kata utusan Iran, hal itu bukan urusannya. Sebab, Iran tak bisa membubarkan organisasi di negara lain.

Kalau hubungan dengan pemerintah, bagaimana?
Baik. Beberapa kali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta saya menjadi perwakilan Syiah di Indonesia yang pergi ke luar negeri. Permintaan itu datang ketika ada pertemuan menyangkut Syiah di dunia internasional dan Kementerian Agama yang mengutus saya.

IJABI pun diakui secara resmi oleh Kementerian Dalam Negeri. Jadi, dalam politik, kedudukan kami sama dengan yang lain, yakni memiliki hak berserikat dan berkumpul. (Baca: Hubungan Pemerintah-Penganut Syiah Indonesia Baik )
foto
Jalaludin Rakhmat. TEMPO/Praga Utama









Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 3) 

TEMPO.COJakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan juga banyak negara. Karenanya, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional. Melainkan permasalahan internasional.

Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan ini perbincangan bagian ketiga antara wartawanTempoChoirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Bagaimana umat Syiah menjalankan ibadah?
Tak beda dengan penganut aliran lainnya. Kami salat di masjid biasa, yang notabene milik ahlul sunnah.

Kenapa tak di masjid Syiah?
Karena tidak ada masjid Syiah di Indonesia. Bukan tak memiliki dana, tapi kami tidak mau menimbulkan provokasi. Kalau mendirikan masjid, nanti malah dibakar. We used things and we love people. Bukan kami tidak cinta masjid. Tapi masjid itu benda, kami lebih cinta manusia. Cinta damai. (Baca lengkap di: Soal Ibadah, Umat Syiah di Indonesia Tak Tertutup)

Apa karena alasan itu juga penganut Syiah bersembunyi?
Ya. Kalau mengaku, kami akan diusir. Karena itu kami mempraktikkan taqiyah (bertindak layaknya pemeluk Islam yang berbeda aliran). Tujuannya, menyembunyikan identitas ke-Syiah-an demi persatuan.

Jadi biarlah kami menyesuaikan cara beribadah kalian (Sunni), tak apa kami menjadi makmum, tidak disebut Syiah juga tak masalah, asal Islam rukun. Kami dahulukan akhlak ketimbang fikih.

Apakah tak masalah bagi Syiah menjalankan ibadah di masjid Sunni?
Tidak. Bahkan banyak ulama Syiah yang memberikan ceramah atau mengajarkan bahasa Arab di masjid Sunni, tanpa diketahui identitas ke-Syiah-annya. Tujuannya untuk berkegiatan sosial. Dan karena tidak terbuka, yang mengetahui seseorang Syiah adalah umat Syiah lainnya. Di luar itu, tidak.

Kenapa masyarakat benci Syiah?
Saya yakin mereka tidak benci. Tapi karena terpengaruh ulama mereka. Apalagi masyarakat tradisional, seperti Sampang. Dibanding pusing memikirkan hadis, fikih, atau tafsir Al-Quran, sebaiknya semua urusan agama mereka serahkan pada ulama. Mereka sendiri memilih bekerja.

Jadi, bila ulamanya bilang A, mereka bakal ikut A. Beda dengan masyarakat kota.
foto
Jalaludin Rakhmat. TEMPO/Praga Utama









Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 4)  

TEMPO.COJakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan juga banyak negara. Karenanya, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional. Melainkan permasalahan internasional.

Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan ini perbincangan bagian keempat antara wartawanTempoChoirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Sejak kapan konflik terhadap Syiah muncul?
Waktu pengikut Syiah mulai tertarik fikih. Konflik pertama terjadi pada 2000 lalu di Batang, Jawa Tengah. Waktu itu pesantren milik Ustad Ahmad B diserbu massa usai salat Jumat. Tapi itu hanya percikan kecil. Pelaku ditangkap polisi, dan sampai sekarang umat Syiah dan Sunni hidup rukun di sana.

Setelah itu, ada juga perseteruan di Bangil, Bondowoso, atau Pasuruan, tapi skalanya kecil. Karena polisi bertindak tegas, konflik langsung menurun. Sampai sekarang tak terjadi lagi.

Konflik di Sampang, sudah sejak kapan?
2004 lalu. Kemudian di 2006 dan Desember 2011.

Kenapa Syiah di Sampang sering menjadi sasaran serangan?
Pertama, karena jumlah mereka sedikit, 700 orang. Kedua, penganut Syiah di sana kondisinya lemah, terutama dari segi ekonomi. Sedangkan si penyerang mendapat kucuran dana dari luar desa untuk menyerang. Ketiga, sikap pemerintah yang terkesan mendorong penyerangan itu. Buktinya, tiga kali penyerangan, polisi tak langsung menangkap si pelaku. Malah Ustad Tajul Muluk, yang diserang, mereka tangkap. (Baca Polri Bantah Lambat Tangani Kasus Sampang)

Apa dampak fatwa Syiah sesat dari Majelis Ulama Indonesia di Jawa Timur?
Fatwa itu juga memperkeruh suasana. Karena di Madura, pendapat kiai itu sangat didengar. Preman saja patuh pada kiai. Apalagi Menteri Agama sempat satu suara akan fatwa itu. Maka halallah darah umat Syiah. Orang sesat harus disingkirkan, begitu pikir mereka. Jadi ucapan Menteri itu sangat berpengaruh pada penegakan hukum di Sampang.

Apa benar konflik di Sampang dipicu masalah keluarga antara Ustad Tajul Malik dengan adiknya, Roisul Hukama?
Semuanya bilang begitu. Tapi sesungguhnya, konflik berdasarkan agama itu sudah ada sejak lama. Jadi bukan masalah agama yang mengatasnamakan keluarga, melainkan perseteruan aliran pada agama yang memperalat problem keluarga. (Baca lengkap di: Karena Fikih, Konflik Syiah Mulai di Indonesia)
foto
Jalaludin Rakhmat mengisahkan sejarah Syiah di Indonesia, ketika diwawancarai TEMPO di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (30/8) kemarin. TEMPO/Praga Utama





Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 5)

TEMPO.COJakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan juga banyak negara. Karenanya, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional. Melainkan permasalahan internasional.

Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan ini perbincangan bagian kelima antara wartawanTempoChoirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Anda katakan konflik Sampang bukan masalah keluarga. Lalu karena apa?
Begini. Roisul Hukama atau Rois itu dulunya penganut Syiah. Bahkan dia dan kakaknya, Tajul Muluk, saya lantik menjadi pengurus Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia di Sampang. Tapi kemudian muncul masalah keluarga. Rois bergabung dengan penyerang dan mengatakan ia tobat dari Syiah. Pertobatan Rois itu membuat senang orang-orang yang dari dulu antipati terhadap Syiah. Jadi konflik agama itu sudah ada terlebih dulu, baru problem keluarga.

Masalah apa yang membuat Rois pergi dari keluarga dan Syiah?
Rois memang doyan perempuan. Dia sering gonti-ganti istri. Satu perempuan yang ia taksir itu santrinya Ustad Tajul Muluk. Masalahnya, umur si gadis masih di bawah 17 tahun. Jadi Tajul Muluk menolak permintaan Rois untuk menikahi anak itu.

Lalu Tajul memulangkan si santri ke orangtuanya. Tapi, oleh mereka, anak itu malah dinikahkan dengan Rois. Mereka menikah di bawah tangan. Dan Tajul marah karenanya.

Apakah Tajul menyukai santri itu?
Tidak. Dia hanya kasihan dengan santrinya yang masih kecil. Jadi Tajul melindunginya. Karena itu Rois marah. Dan muncullah konflik itu.

(Menurut versi lain, sekitar 2006, seorang santri ustad Tajul Muluk bernama Halimah diminta adik Tajul, Ustad Rois, untuk dijadikan pembantu di rumahnya. Waktu itu usia Halimah baru 8 tahun. Suatu saat ada teman ustad Tajul yang tertarik pada santri itu. Teman ustad Tajul memohon kepada Tajul agar melamarkan Halimah untuknya. Tajul pun setuju dan lamaran pun diterima.
Beberapa bulan setelah lamaran, orang tua Halimah mendatangi Ustad Rois untuk meminta Halimah dibawa pulang karena mau dikawinkan. Mendengar itu, Rois marah dan melabrak Tajul. Rupanya Rois juga suka pada Halimah. Sejak itulah, hubungan Rois dan Tajul tidak baik. Rois pun keluar dari Syiah dan kembali ke Sunni.

Ditemui wartawan 
Tempo Musthofa Bisri di pengungsian, 31 Agustus 2012, Halimah meminta agar masa lalunya dan suaminya tidak dibawa-bawa dan dijadikan sebagai penyebab kerusuhan. "Jangan kambing hitamkan keluarga saya," katanya lalu pergi.)

Jadi menurut Anda, ada yang mengatur konflik di Sampang?
Ya. Saya kira memang ada grand design dalam konflik Sampang. Kalau dilihat sekarang, yang menguasai desa itu sekarang bukanlah polisi, tapi warga. Bahkan polisi tak berkutik di hadapan penyerang. Bila ada petugas yang membawa ponsel berkamera, warga bakal menyitanya. Hebat ya, masyarakat punya kekuatan semacam itu.

Kemudian dari transportasi yang digunakan penyerang. Mereka menyewa bus lebih dari 10 buah. Kabar dari sana, tiap bus disewa sekitar Rp 500 ribu. Mereka tak datang dengan gratis. Tapi uang dari mana, untuk makan saja mereka kesulitan. Jelas sudah para penyerang mendapat bantuan finansial dari luar. Itu fakta.

Jadi menurut Anda ada yang membiayai penyerangan itu?
Ya. Informasi yang saya terima, ada dua supplier uang di Sampang. Satu pengusaha Madura yang tinggal di Jakarta dan satu lagi orang Arab di Surabaya.

Lagi pula, membakar masjid itu bukan tradisi orang Madura. Bagi mereka, merusak masjid bisa menimbulkan perasaan kualat. Dan inilah pertama kali ada masjid atau pesantren yang dibakar di Madura.

Untuk apa mereka mengeluarkan duit itu?
Saya duga ada yang mau mengeliminasi Syiah dari Indonesia. Saya tidak dapat menyebut siapa orangnya, karena bisa jadi serangan itu merupakan satu gerakan terencana. Penggeraknya banyak, gerakan ilegal, jadi tak bakal ketahuan siapa otaknya.
foto
Jalaludin Rakhmat. TEMPO/Praga Utama









Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 6)

TEMPO.COJakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan pada banyak negara. Karenanya, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional. Melainkan permasalahan internasional.

Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan ini perbincangan bagian keenam antara wartawanTempo: Choirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyanadan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Anda katakan, ada yang mengatur penyerangan di Sampang. Apakah itu gerakan baru?
Tidak. Gerakan ini sudah melalui proses yang panjang dan melewati beberapa tahap. Sebelum mereka serang Syiah, diserang dulu Ahmadiyah. Ternyata berhasil.

Tapi kenapa mereka mau singkirkan Syiah? Apa keuntungannya?
Banyak. Dari segi lokal, ada satu tokoh agama di Jawa Timur yang mengatakan ini sebetulnya bukan soal pendapat, tetapi soal pendapatan. Ada yang mendapatkan dana sekian atau mobil, ada lagi yang tidak mendapat. Jadi menimbulkan konflik.

Lalu ada juga yang mengatakan kalau Ustad Tajul Muluk sering memberikan pengajian tanpa pernah menerima amplop. Padahal tradisi di Madura, para ustad menerima amplop usai pengajian. Maka analisis saya, sebagian ustad menganggap sikapnya Tajul itu merusak pasar. Itu kesimpulan saya.

Tajul juga membangun rumah perawatan untuk orang sakit. Dan bila ada bencana dia memberikan bala bantuan. Hasilnya, orang-orang menyukai dia. Jemaah Tajul jadi semakin banyak. Dan bagi ustad di daerah, kehilangan satu jemaah itu merupakan masalah. Apalagi kalau banyak jemaahnya yang pindah pengajian. Perkara besar itu.

Itu dari segi lokal. Kalau tingkat nasionalnya?
Mereka mau membuat Indonesia tidak aman. Membuat pemerintah yang sekarang tak bisa tidur.

Apa konflik Syiah di Sampang bisa dikategorikan terbesar?
Ya. Untuk di Indonesia. Dan sekarang kondisinya sudah di luar kendali Rois (adik sekaligus tersangka kasus penyerangan kelompok Syiah Sampang). Sebab konfliknya sudah sebesar ini. Dan menurut saya, Rois juga harus dihukum. Dialah yang menyerang.

Sekjen Majma Tuntut agar Syiah Dihormati

Hak-hak golongan minoritas agama khususnya pengikut Ahlul Bait dalam negara-negara ini agar diberi penghormatan dan pengakuan secara resmi oleh undang-undang yang dengan itu mereka mendapat perlindungan. 

 Sekjen Majma Tuntut agar Syiah Dihormati

Menurut Kantor Berita ABNA, Sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as
menulis surat dalam 3 bahasa yang ditujukan kepada semua peserta KTT XVI GNB
Teheran yang berisi tuntutan agar hak asasi pengikut mazhab Syiah dihormati di
seluruh dunia.


Hujjatul Islam Wal Muslimin Ahkhtari menegaskan, "Pengikut Ahlul
Bait juga punya hak dan kebebasan untuk menyelenggarakan syiar-syiar mazhab
mereka, sebagaimana komunitas lain yang secara bebas mengadakan majelis
berdasarkan keagamaan, kebudayaan, atau tata cara  maszhab masing-masing."


Berikut pesan tertulis Sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as yang
ditujukan kepada negara-negara peserta KTT XVI GNB Teheran 2012:


Dengan nama Allah yang Maha Tinggi 


Berkenaan dengan ini Majma' Jahani Ahlul Bait (a.s) mengapresiasi
potif berlangsungnya penyeleggaraan KTT XVI GNB di Teheran terlebih lagi dengan
kehadiran para pejabat tinggi negara-negara anggota di Republik Islam Iran yang
mengiringi harapan untuk kesuksesan yang lebih kepada semua negara anggota.
Begitu juga kami menyatakan harapan agar konferensi ini menjadi awal
transformasi untuk memperat segala bentuk keterkaitan dan hubungan antar
negara, bangsa-bangsa untuk menjalankan perlaksanaan program perdamaian,
kesejahteraan, keamanan di seluruh dunia (khususnya untuk negara anggota), anti
kemiskinan, perluasan keadilan, kedekatan, kerjasama antara negara serta
rakyatnya, saling membantu sehingga dapat melindungi golongan minoritas dan
mereka yang tertindas dalam pergaulan global.


Sejak beberapa bulan belakangan kita menyaksikan berbagai peristiwa
telah terjadi di beberapa tempat yaitu konflik, penistaan atas negara yang berdaulat,
aksi kekerasan dan pembunuhan terhadap golongan minoritas, serangan ke atas
jiwa, harta dan kehormatan golongan yang tertindas. Begitu juga serangan atas
umat Islam khususnya pengikut Ahlul Bait di beberapa negara dan kawasan
sehingga menelan korban jiwa insan-insan yang tidak berdosa serta pemusnahan
tempat-tempat suci. Berdasarkan tanggungjawab besar masing-masing, para pemimpin
negara-negara GNB diharap supaya dapat mencegah terjadinya kembali
peristiwa-peristiwa tragedi tersebut dengan mengambil langkah efektif secepat
mungkin berdasar pada prinsip keadilan dan prikemanusiaan.


Oleh karena itu, Majma' Jahani
Ahlul Bait sebagai diantara organisasi internasional non profit yang menjalin komunikasi
dan keterikatan dekat dengan para pengikut Ahlul Bait, dengan ini meminta
kepada seluruh perserta KTT XVI GNB Teheran 2012 supaya memberikan perhatian
serius terhadap beberapa masalah berikut:


1. Hak-hak golongan minoritas agama khususnya pengikut Ahlul Bait
dalam negara-negara ini agar diberi penghormatan dan pengakuan secara resmi oleh
undang-undang yang dengan itu mereka mendapat perlindungan.


2. Pengikut Ahlul Bait dilindungi sebagaimana
halnya warga negara lain yang bebas menyelenggarakan majelis berdasarkan
keagamaan, kebudayaan, mazhab dan tradisi dalam komunitas mereka sendiri.


3. Melindungi syiar-syiar agama dan mazhab
mereka.


4. Negara-negara anggota GNB untuk tidak
membiarkan kezaliman atas golongan minoritas khususnya pengikut Ahlul Bait.


5. Mengenai orang-orang yang melanggar hak
asasi, jiwa, harta serta kehormatan yang tidak berprikemanusiaan, oknum-oknum
tersebut hendaklah diambil tindakan sepatutnya agar menimbulkan efek jera
sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi di masa mendatang.


6. Meminta kepada tokoh-tokoh agama dan elit
yang berpengaruh di kalangan masyarakat agar berusaha meredamkan suasana,
memberikan nasehat secara bijak kepada masyarakat agar tidak terjadi konflik
atau bentrokan yang tidak perlu. 


7. Demikian juga kami meminta kepada para pejabat
tinggi negara-negara anggota GNB agar tidak terhasut isu-isu perpecahan yang
dipicu dari adanya isu perbedaan oleh mereka yang mengklaim diri sebagai ulama
dan pemimpin umat yang telah mengeluarkan fatwa atau seruan untuk mengagitasi
terjadinya pertumpahan darah, serangan terhadap jiwa, harta dan kehormatan
manusia serta pengrusakan tempat-tempat yang disucikan.


Terakhir, Majma' Jahani Ahlul Bait mengambil kesempatan ini untuk
menyatakan sekali lagi penghormatan, harapan keberhasilan, kemakmuran dan peningkatan
kemajuan bangsa-bangsa anggota GNB, serta kesyukuran yang tulus atas
limpahanNya.


Sekian dan terima kasih


Muhammad Hasan Akhtari


Sekjen Majma' Jahani Ahlul Bait 


Diberitakan, Abbas Haidar selaku wakil Majma' Ahlul Bait telah
menyampaikan surat tersebut setelah diterjemahkan dalam 3 bahasa kepada semua
perwakilan dalam KTT GNB di Teheran.



Di Hari Penghancuran Kuburan Baqi, Wahabi Ratakan Kuburan Cucu Imam Hasan as di Libya



Kembali peristiwa menyedihkan "Yaum al-Hadm" atau Hari Penghancuran terulang kembali. Peristiwanya terjadi di komplek makam Abdul Salam al-Asmar, cucu Imam Hasan as, di Afrika Utara. Kali ini para pengikut Wahabi benar-benar berlaku keterlaluan dan membongkar kuburan.

Peristiwa ini bersamaan dengan Peringatan Penghancuran Kuburan Baqi pada 8 Syawal 1344 Hq, yang melukai jutaan pecinta Ahlul Bait, kejadian menyedihkan itu terulang kembali dan menggoyang Arsy Allah. Hati dunia Islam, khususnya Syiah kembali disobek-sobek oleh pendukung Wahabi dan mereka menghancurkan kuburan keturunan para imam yang paling terkenal di Afrika Utara dan meratakannya dengan tanah.

Tapi tragedi ini tidak berhenti di sini. Para Wahabi tidak saja menghancurkan kuburan Abdul Salam al-Asmar, cucu Imam Hasan as, tapi mereka juga melakukan perbuatan keji dengan membongkar kuburan beliau dan melakukan hal-hal di luar batas perikemanusiaan terhadap jasad beliau. Makam Abdul Salam al-Asmar, merupakan cucu Imam Hasan as dan sebagai pusat ziarah warga Syiah di Libya dan Afrika Utara. Kejadian ini dilakukan tanpa ada reaksi dari dunia Islam.


30 Warga Syiah Libya Syahid

Dalam peristiwa menyakitkan itu sekitar 30 warga Syiah Libya yagn syahid dan sekitar 212 orang lainnya terluka dan telah dipindahkan ke rumah sakit. Sebagian berita menyebutkan beberapa orang cedera berat.


Dalam beberapa tahun terakhir, para mufti Wahabi berkali-kali mengeluarkan fatwa penghancuran kuburan cucu Imam Hasan as ini, tapi penolakan masyarakat dan pembelaan mereka atas makam ini, para teroris tidak mampu melakukan keinginannya. Tapi para Wahabi tidak tinggal diam, mereka memanfaatkan situasi Libya yang buruk dan melakukan penistaan ini di hadapan masyarakat internasional.



Usia Kuburan Abdul Salam 800 Tahun

Makam cucu Imam Hasan as, Abdul Salam al-Asmar telah berusia 800 tahun dan menjadi tempat bersejarah Syiah. Makam beliau berada di kota Zlitan, yang berjarak 160 kilometer dari Tripoli. Makam ini dihancurkan lewat fatwa para mufti Wahabi dan dilakukan oleh para teroris Wahabi dan melakukan penistaan terhadap beliau.
Penghancuran Perpustakaan Terbesar Libya

Di dekat makam Abdul Salam al-Asmar terdapat perpustakaan besar yang menyimpan buku-buku syiah dan dokumen-dokumen sejarah yang telah disimpan seribuan tahun. Menurut Menteri Kebudayaan Libya, gedung itu merupakan perpustakaan terbesar Libya dan setelah perusakan makam Abdul Salam al-Asmar, perpustakaan ini dikosongkan dan dibakar.


Wahabi Merusak Puluhan Kuburan Sayid di ibukota Libya

Berdasarkan laporan yang ada, perusakan makam cucu para imam dan pembongkaran kuburan mereka telah dimulai sejak terjadi kekacauan di Libya. Hari Jumat lalu, sebagian dari pagar besi kuburan al-Syi'ab ad-Dahmani, keturunan Imam Hasan dan kuburan puluhan keturunan sayid yang lain, yang sebelum ini menjadi tempat ziarah warga Syiah, di Tripoli telah diratakan dengan tanahy.

Muhammad al-Muqrif, Kepala Kongres Nasional Libya dalam pernyataannya di televisi mengecam perusakan dan pembakaran tempat-tempat suci, dokumen sejarah dan manuskri-manuskrip kuno negara ini. Perbuatan ini menunjukkan Wahabi tengah berusaha menghapus sejarah Syiah dan menghilangkan nama mereka dari dokumen dan buku-buku sejarah dan manuskrip yang ada di Libya.


Peran Kunci Arab Saudi dalam Peristiwa Ini

Tidak ada yang lupa bagaimana ketika beberapa tahun lalu Taliban merusak patung-patung besar Budha di Afghanistan, dunia mereaksinya, seakan-akan ada penistaan terhadap salah seorang nabi. Seluruh dunia seakan-akan dimobilisasi untuk mereaksi perbuatan biadab Taliban itu. Tapi saat ini Syiah menjadi sangat tertindas. Di hari perusakan kuburan empat Imam Maksum, kuburan salah seorang cucu mereka dihancurkan, sementara dunia bungkam dan tidak ada yang membuka mulutnya.

Sesuai dengan laporan yang ada, Arab Saudi sangat menekan pemerintah Libya agar merusak makam suci ini. Sedemikian hebatnya tekanan itu hingga dalam sidang istimewa negara-negara anggota OKI yang berlangsung pekan lalu, bendera Libya dikibarkan terbalik, sebagai bentuk protes Arab Saudi karena Libya belum juga merusak kuburan itu.
Silsilah


Tekanan Wahabi sedemikian kerasnya sehingga untuk menunjukkan kekuatan Wahabi di hari perusakan kuburan Baqi, mereka melakukannya di hari yang sama terhadap cucu salah seorang Imam Maksum as. Mereka tampaknya ingin membuat tradisi baru untuk melakukan kerusakan di hari perbuatan nekat dan nista mereka.
(IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)





Jalaludin Rakhmat (63 tahun) di perpustakaan pribadi di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kang Jalal -panggilan akrab Jalaludin, merupakan salah satu pakar ilmu komunikasi di Indonesia. Ia meraih gelar Doktor untuk studi tentang perubahan politik dan hubungan internasional dari AustraliaĆ¢€™s National University (ANU). TEMPO/Praga Utama





0 comments to "MADURA yang KAYA sumber daya alam "GAMPANG" diadu domba..BENARKAH????? Mudahan daerah lain khususnya Kalimantan Selatan tidak mudah di "adu domba"..amin ya rabbal 'allamin..."

Leave a comment