Home , , , , , , , , , � Foto Exclusive : Indahnya berbagi di Hari Raya Qurban / Idhul Adha 1433 H Banjarmasin

Foto Exclusive : Indahnya berbagi di Hari Raya Qurban / Idhul Adha 1433 H Banjarmasin

Haji adalah Refleksi Persatuan dan Keagungan Islam

Kini musuh Islam mengincar persatuan umat muslim dan ibadah Haji tak diragukan lagi menjadi kesempatan besar guna merefleksikan persatuan dan keagungan umat Islam. Oleh karena itu, ritual Haji tak ubahnya sebuah usaha untuk mempelajari kapasitas dan kemampuan umat Islam serta mengarahkannya ke peran signifikan dalam menentukan nasib umat.


 Haji adalah Refleksi Persatuan dan Keagungan Islam
Menurut Kantor Berita ABNA, Hari ini (Kamis 25/10) di manasik Haji bertepatan dengan Hari Arafah (Wukuf). Hari Arafah merupakan kristalisasi ibadah dan keikhlasan hamba terhadap Tuhannya. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei di pesan haji tahun ini bertepatan dengan Hari Arafah menjelaskan tujuan dan ambisi musuh dalam mengobarkan fitnah di Dunia Islam. Di pesannya beliau menekankan urgensitas menjaga persatuan dan solidaritas antara sesama umat Islam.
Pesan Rahbar yang dibacakan bersamaan dengan Hari Arafah, Ayatullah al-Udzma Khamenei menyebut ritual haji sebagai kesempatan penting untuk merenungkan dan mempelajari problematika Dunia Islam. Beliau berkata, nasib revolusi rakyat di kawasan dan upaya pemerintah yang dirugikan oleh revolusi ini guna menyelewengkan revolusi rakyat termasuk dari isu-isu penting Dunia Islam.
Kini musuh Islam mengincar persatuan umat muslim dan ibadah Haji tak diragukan lagi menjadi kesempatan besar guna merefleksikan persatuan dan keagungan umat Islam. Oleh karena itu, ritual Haji tak ubahnya sebuah usaha untuk mempelajari kapasitas dan kemampuan umat Islam serta mengarahkannya ke peran signifikan dalam menentukan nasib umat.
Apa yang ditekankan Rahbar di pesan hajinya tahun ini adalah salah satu isu paling urgen Dunia Islam yang tak dapat dipisahkan dari nasib umat Muslim itu sendiri. Isu tersebut adalah fenomena revolusi rakyat di Afrika utara dan kawasan.
Pilar utama kebangkitan rakyat di negara-negara ini yang telah berhasil menumbangkan sejumlah rezim despotik dan pelayan Amerika serta sekutu Rezim Zionis Israel adalah resistensi dalam melawan pemerintah despotik dan pengaruh Amerika Serikat. Hal ini menjadi awal dari perubahan besar yang dapat memperkokoh asas reformasi umat Islam yang besar. Maka tak heran jika musuh berusaha keras merusak asas ini.
Di pesan Rahbar diisyaratkan poin penting bahwa ambisi busuk Amerika, NATO dan Israel mendorong mereka memanfaatkan sejumlah kelalaian dan kekhawatiran untuk menyelewengkan gerakan pemuda muslim dan dengan nama Islam mereka saling mengadu pemuda muslim tersebut. Tak hanya itu, mereka juga mengubah jihad anti imperialisme dan Zionis menjadi aksi terorisme membabi buta di jalan-jalan untuk menumpakan darah umat Islam di tangan sesamanya. Dengan demikian musuh-musuh Islam akan selamat dari kebuntuan selama ini yang mereka hadapi. Di sisi lain, citra Islam dan kubu muqawama akan rusak.
Poin lain dari konspirasi musuh ini adalah peran pesuruh dan pelayan kubu arogan di kawasan dan salah satu bukti nyata adalah krisis di Suriah. Bukti-bukti kuat menunjukkan bahwa musuh Islam mengobarkan krisis  guna menyelewengkan opini sebuah bangsa terhadap isu-isu penting negara mereka dan ancaman yang ada serta menfokuskan fenomena pertumpahan yang sengaja dikobarkan musuh Islam.
Sejatinya pengobaran perang saudara di Suriah dan pembantaian pemuda muslim oleh sesama mereka adalah kejahatan yang digelar Amerika Serikat, Israel dan negara-negara pelayannya. Motifnya adalah membalas dendam kepada pemerintah yang melawan penjajahan Israel selama tiga dekade dan membela kelompok muqawama di Palestina dan Lebanon.
Oleh karena itu, kini imperialis dunia gencar mengobarkan fitnah di tengah umat Islam dan berusaha keras memojokkan pejuang serta memadamkan jihad bangsa Palestina. Propaganda anti Islam pemerintah Barat dan dukungan mereka kepada penista kesucian Rasulullah Saw merupakan persiapan untuk mengobarkan perang saudara dan memecah belah sejumlah negara Islam.
Mengingat seluruh realita ini maka jamuan Ilahi di musim Haji harus dijadikan kesempatan untuk merenungkan dan mempelajari problematika dan isu-isu penting yang dihadapi Dunia Islam serta sumpah untuk berlepas diri dari kaum musyrik. Nasib dari revolusi rakyat kawasan dan upaya kekuatan yang terluka akibat revolusi ini untuk menyelewengkan tujuan suci kebangkitan rakyat juga tidak luput dari asas penting di musim Haji ini.
Sumber: IRIB Indonesia

Dalam keadaan senggang ini saya iseng menulis artikel ttg kambing berjudul 
"Peran Sentral Kambing"

Judul diatas terasa aneh dan lucu bagi sebagian orang. Namun bila direnungkan dengan seksama, kita akan temukan banyak hal dalam literatur dan tradisi Islam yang bias ditautkan dengan salah satu makhluk herbivora ini. 

Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing ternak (Capra aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya (daerah "Bulan sabit yang subur" dan Turki) dan Eropa. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar. Umumnya, kambing mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar, tidak termasuk ekor, adalah 1,3 meter - 1,4 meter, sedangkan ekornya 12 sentimeter - 15 sentimeter. Bobot yang betina 50 kilogram - 55 kilogram, sedangkan yang jantan bisa mencapai 120 kilogram. Kambing liar tersebar dari Spanyol ke arah timur sampai India, dan dari India ke utara sampai Mongolia dan Siberia. Habitat yang disukainya adalah daerah pegunungan yang berbatu-batu.

Kambing sudah dibudidayakan manusia kira-kira 8000 hingga 9000 tahun yang lalu. Di alam aslinya, kambing hidup berkelompok 5 sampai 20 ekor. Dalam pengembaraannnya mencari makanan, kelompok kambing ini dipimpin oleh kambing betina yang paling tua, sementara kambing-kambing jantan berperan menjaga keamanan kawanan. Waktu aktif mencari makannya siang maupun malam hari. Makanan utamanya adalah rumput-rumputan dan dedaunan.
Kambing berbeda dengan domba.

Jenis-jenis Kambing

Kambing kacang. Kambing kacang adalah ras unggul kambing yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Badannya kecil. Tinggi gumba pada yang jantan 60 sentimeter hingga 65 sentimeter, sedangkan yang betina 56 sentimeter. Bobot pada yang jantan bisa mencapai 25 kilogram, sedang yang betina seberat 20 kilogram. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek. Baik betina maupun yang jantan memiliki dua tanduk yang pendek.

Kambing Etawa. Kambing Etawa didatangkan dari India yang disebut kambing Jamnapari. Badannya besar, tinggi gumba yang jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina hanya mencapai 92 sentimeter. Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. Keturunan silangan (hibrida) kambing Etawa dengan kambing lokal dikenal sebagai sebagai kambing "Peranakan Etawa" atau "PE". Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia.

Kambing Jawarandu. Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memliki ciri separuh mirip kambing Etawa dan separuh lagi mirip kambing Kacang. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 1,5 liter per hari.edo
Kambing Saenen. Kambing Saenen berasal dari Saenen, Swiss. Baik kambing jantan maupun betinanya tidak memliki tanduk. Warna bulunya putih atau krem pucat. Hidung, telinga dan kambingnya berwarna belan

Kambing dalam Astologi
Dalam astrologi China, kambing juga menjadi salah satu simbol karakter manusia. Orang-orang tenar yang bershio kambing cukup banyak,antara lain Alain Prost, pembalap F1, Bill Gates, CEO Microsoft, actor Bruce Willis dan Mel Gibson, aktor, seniman tenar Michelangelo, Boediono, Wakil Presiden Indonesia dll.

Kambing dalam Kuliner
Kambing menjadi lauk utama dalam masakan India dan Timur Tengah. Sebagian besar masakan daging kambing di Indonesia berasal dari India dan Timur Tengah, antara lain Kari kambing, Krengsengan kambing, Gulai Kambing dll. Dalam masakan Arab, masakan seperti Kabsah, Kebab dan sebagainya juga didominasi oleh kambing.

Kambing dalam Kesehatan

Susu Kambing
Salah satu manfaat medis kambing adalah susunya. Susu kambing yang paling diandalkan sebagai obat berhasiat adalah susu Kambing Otawa. Susu Kambing Ettawa kian hari kian diminati, seiring maraknya pelatihan-pelatihan di daerah mengenai budidaya kambing ettawa, kini produksi susu kambing kian meningkat di negara tercinta ini. Butiran lemak susu etawa berukuran antara 1-10 milimikron sama dengan susu sapi, tetapi jumlah butiran lemak yang berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu etawa sehingga susu etawa lebih mudah dicerna alat pencernaan manusia, serta tidak menimbulkan diare pada orang yang mengkonsumsinya. Susu kambing juga tidak mengandung karoten, sehingga warna susu kambing lebih putih daripada susu sapi.

Khasiat susu kambing antara lain untuk terapi TBC, membantu memulihkan kondisi orang yang baru sembuh dari sakit, mempu mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Untuk meningkatkan kesehatan kulit, terutama bagian wajah.

Kandungan gizi susu etawa dapat meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu keseimbangan proses metabolisme, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, membantu pembentukan sel darah merah dan jaringan tubuh. Baik bagi wanita dewasa untuk mengembalikan zat besi setelah haid, kekurangan darah (anemia), kehamilan serta pendarahan setelah melahirkan.

Kandungan mineralnya memperlambat proses osteoporosis.


Susu kambing empunyai sifat antiseptik, Alami dan bisa membantu menekan pembiakan bakteri dalam tubuh. Hal ini di sebabkan adanya Flourin yang kadarnya 10-100 kali lebih besar dari pada susu sapi. Bersifatbasah (Alkaline Food) sehingga aman bagi tubuh. Proteinnya lembut dan efek laktasenya ringan, sehingga tidak menyebabkan diare. Lemaknya mudah di cerna karena mempunyai tekstur yang lembut dan halus lebih kecil dibandingkan dengan butiran lemak susu sapi atau susu lainya. Dan juga bersifat Homogen alami. Hal ini mempernudah untuk di cerna sehingga menekan timbulnya reaksireaksi alergi.

Dengan adanya sodium (Na), Fluorin(F), Kalsium(C), dan Fosfor(P) Sebagai elemen kimia yang dominan serta kandungan nutrisi lainya, Maka susu etawa berkhasiat:

• Membantu pencernaan dan mentralisir asam lambung.
• Menyembuuhkan reaksi-reaksi alergi pada kulit,Saluran nafas dan pencernaan.
• Menyembuhkan bermacam-macam penyakit paru-paru,Seperti Astma,TBC,Serta infeksi akut lainya pada paru-paru.
• Menyembuhkan beberapa kelainan ginjal,Sperti Nepbrotic Syndrom infeksi-infeksi Ginjal serta asam urat tinggi.
• Kandungan kalsium (Ca)yang tinggi dapat membantu menyembuhkan rematik dan mencegah kerapuhan tulang.
• Menambah Vitalitas dan daya tahan tubuh.
• Mengatasi masalah impotensi dan gairah seksual,Baik bagi pria maupun wanita.
• Berdasarkan beberapa penelitian di amerika,Susu kambing terbukti mempunyai efek anti kanker.

Daging Kambing

Daging kambing ternayata lebih menyehatkan ketimbang jenis daging lainnya. Dalam 100 gram daging kambing terdapat 154 kalori, 9.2 mg lemak, 3.6 mg lemak jenuh. Selain itu, daging kambing juga salah satu sumber zat besi, vitamin B, kolin, dan selenium terbaik. Namun, lemak kambing justru memiliki persentase kolesterol lebih tinggi jika dibandingkan dengan daging ayam atau sapi. Maka itu, lebih baik mengonsumsi daging kambing yang berusia dibawah 6 bulan meski harganya mungkin sedikit lebih mahal.

Rata-rata bagi yang memiliki penyakit darah rendah, dianjurkan 2 hari sekali untuk memakan sate kambing, terutama bagian hatinya beberapa tusuk untuk meningkatkan tekanan darah. Memang belum ada uji medis tentang hal tersebut, tetapi telah banyak bukti bahwa memakan daging kambing dapat meningkatkan tekanan darah.

Torpedo kambing juga banyak diburu kaum lelaki karena khasiatnya untuk meningkatkan potensi seksual. Tetapi untuk masalah vitalitas seksual ini tidak hanya torpedo kambing saja, banyak yang meyakini bahwa empedu kambing juga cukup berkhasiat. Perbedaannya adalah, jika topedo harus dimask/disate, sedangkan empedu harus ditelan mentah-mentah. Bahkan mengonsumsi empedu kambing juga dapat menyembuhkan penyakit malaria. Dalam beberapa buku pengobatan Cina, memang terdapat empedu untuk mengobati malaria, misalkan empedu ular. Akan tetapi ternyata empedu kambing juga memiliki khasiat yang sama dengan empedu ular.

Kambing dan Libido

Daging kambing rupanya punya tempat tersendiri, terutama di kalangan kaum pria. Katanya, daging ini dipercaya ampuh mendongkrak potensi seks pria.

"Awas, jangan kebanyakan makan 'kambing', nanti sakit maag!" Mendengar kata "mah", yang terpikir langsung penyakit maag atau lambung, yang gejalanya tak mengenakkan itu. Rupanya, si penutur hanya mau melucu: berkat makan sate kambing, gulai, atau tongsengnya - apalagi dicampur "torpedo"-nya - kaum pria dijamin malam-malam akan membangunkan istrinya yang sedang tidur, Ma(h) ... Ma(h) ..., bangun Ma(h)!

Anekdot itu dilatarbelakangi asumsi bahwa daging kambing ataupun masakan olahannya bisa meningkatkan gairah pria begitu tingginya sampai ia harus membangunkan istrinya malam-malam.

Dalam ritual-ritual Islam kambing selalu menjadi salah satu hewan favorit yang disembelihkan untuk dibagikan kepada kaum miskin, seperti dam dalam manasik haji, aqiqah dalam prosesi yang dilakukan pada hari ketujuh kelahiran.

Kambing dan Ritual Qurban

Sejarah qurban itu dibagi menjadi tiga, yaitu : zaman Nabi Adam As; zaman Nabi Ibrahim As; dan pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Pertama pada zaman Nabi Adam As. Qurban dilaksanakan oleh putra-putranya yaitu bernama Qabil dan Habil. Kekayaan yang dimiliki oleh Qabil mewakili kelompok petani, sedang Habil mewakili kelompok peternak. Saat itu sudah mulai ada perintah, siapa yang memiliki harta banyak maka sebagian hartanya dikeluarkan untuk qurban.

Sebagai petani si Qabil mengeluarkan kurbannya dari hasil pertaniannya dan sebagai peternak si Habil mengeluarkan hewan-hewan peliharaanya untuk kurban, untuk siapa semua itu diqurbankan, padahal waktu itu manusia belum banyak.

Diterangkan dalam sejarah, harta yang diqurbankan itu disimpan di suatu tempat yaitu di Padang Arafah yang sekarang menjadi napak tilas bagi para jemaah haji.

Baik buah-buahan yang diqurbankan si Qabil maupun hewan ternak yang diqurbankan si Habil, dari kedua orang tersebut mempunyai sifat berbeda. Si Habil mengeluarkan hewan diqurbankan dengan tulus ikhlas. Dipilih hewan yang gemuk dan sehat, dan dia taat terhadap petunjuk ayahnya Nabi Adam.Berbeda dengan si Qabil, Dia memilih buah-buahan yang jelek-jelek dan sudah afkiran.

Ketika keduanya melaksanakan qurban, ternyata yang habis adalah qurban yang dikeluarkan oleh si Habil sementara buah-buahan yang dikeluarkan si Qabil tetap utuh, tidak berkurang. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27 : "Ceritakan kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari meraka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), Ia berkata : "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil " Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".

Kurban si Habil di terima Allah SWT karena dia mengeluarkan sebagian hartanya yang bagus-bagus dan dikeluarkan dengan tulus dan ikhlas. Sementara si Qabil mengeluarkan sebagian harta yang jelek-jelek dan terpaksa. Oleh karena kurban tidak diterima Allah. Akhirnya si Qabil menaruh dendam kepada si Habil. Berawal dari perebutan calon istrinya, dimana peraturan waktu itu dengan sistem silang.

Kedua, pada zaman Nabi Ibrahim As. Dikisahkan dalam Al-Qur'an surat Ash-Shafaat ayat 100-111 yang menceritakan mengenai qurban dan pengorbanan. Ketika Nabi Ibrahim berusia 100 tahun beliau belum juga dikaruniai putra oleh Allah dan beliau selalu berdoa: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh" (Q.S>37:100)

Kemudian dari istrinya yang kedua yakni Siti Hajar yang dinikahinya ketika Nabi Ibrahim mengadakan silaturahmi ke Mesir (setiap kedatangan pembesar diberi hadiah seorang istri yang cantik oleh pembesar Mesir).Dari Siti Hajar lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Islam, ia lahir di tengah-tengah padang pasir yang disebut. Bahkan kemudian dikenal dengan Mekkah.

Pada saat Nabi Ibrahim diberi petunjuk oleh Allah, agar meninggalkan istrinya Siti Hajar dengan seorang putranya yang dari lahir dan ia disuruh menemui istrinya yang pertamanya yakni Siti Sarah yang berada di Yerussalem kota tempat Masjidil Agsho. Beliau meninggalkan beberapa potong roti dan sebuah guci besiris air untuk Siti Hajar dan Ismail.

Pada waktu Siti Hajar kehabisan makanan dan air, ia melihat disebelah timur ada air yang ternyata adalah fatamorgana yaitu di Bukit Sofa. Di situ Ismail ditinggalkan dan Siti Hajar naik Kebukit Marwah serta kembali ke Sofa sampai berulang tujuh kali, tapi tidak juga mendapatkan air sampai ai kembali ke Bukit Marwah yang terakhir. Ia merasa khawatir terhadap anaknya barangkali Ismail kehausan dilihat kaki Ismail bergerak-gerak diatas tanah dan tiba-tiba keluar air dari dalam tanah. Siti Hajar berlari kebawah sambil berteriak kegirangan :"zami-zami?" itulah kemudian

menjadi sumur Zam-Zam itulah kemudian menjadi sumur Zam-zam. Di situlah Siti Hajar dan Nabi Ismail di padang pasir yang kering kerontang yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dan ditempat itulah Allah SWT. Menetapkan sebagai tempat ibadah haji.

Allah SWT, berfirman dalam surat Al-Hajj : 27 : "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai onta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh".

Memang sudah disiapkan oleh Allah, disana tidak ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada gunung berapi yang menyebabkan ada sumber kehidupan tapi atas kehendak Allah maka jadilah sumur "Zam-zam"."Nabi Ismail ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim yang berada di Yerusalem sampai Nabi Ismail menjelang remaja. Kemudian di Yerusalem ternyata Siti Sarah hamil yang melahirkan seorang putra yang diberi nama Iskhak. Nabi Ibrahim diperintahkan lagi oleh Allah untuk kembali ke Mekkah untuk menengok istri dan anaknya yang pertama yaitu Nabi Ismail, yang rupanya sudah mulai besar. Dalam suatu riwayat kira-kira berusia 6-7 tahun. Sejak dilahirkan sampai besar itu Nabi Ismail menjadi kesayangan. Tiba-tiba Allah memberi ujian kepadanya, sebagaimana firman Allah dalam surat Ash Shaffaat : 102 : "Maka tatkala sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pemdapatmu " Ia menjawab: "hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Sejak itu penyembelihan kambinga menjadi salah satu ritual penting dalam rangkaian ibadah haji dan ritual yang dianjurkan dalam Shalat Idul Qurban atau Idul Adha.

Kambing dalam Litaratur Islam

Dalam literature hadis dan sejarah, kambing juga memainkan peranan penting. Aisyah melaporkan bahwa bahwa ada satu lembaranyang berisi 2 ayat, termasuk ayat-ayat rajam, ditulis dalam lembaran yang disimpan dibawah tempat tidurnya. Sayang pada waktu pemakaman nabi SAW, seekor binatang memakannya hingga musnah.

Disebutkan dalam bahasa Arab “dajin”, yang dapat berarti hewan seperti kambing, domba ataupun unggas. Namun menurut hasil penelitian terakhir “dajin” dipastikan sebagai rayap. (Abd al Jalil al Qazwini, p 133, hmad b. Hanbal, vol 4 p 269, Ibn Maja, Sunan, vol 1 p 626, Ibn Qutaybah, Tawil, p 310, As-Syafi’i, Kitab al Umm, vol 5 p 23, vol 7 p 208).

Kambing dan Spiritualitas

Ternyata kambing diyakini oleh sebagian umat Islam sebagai salah satu sarana meningkatkan spiritualita. Boleh jadi, karena kambing dianggap sebagai symbol kesederhanaan dan kepatuhan. Bahkan para sufi disebut sufi karena mengenakan baju domba. Dalam sebuah riwayat dari Dari Abu Hurairoh berkata,” Rasulullah saw bersabda,’Shalatlah kalian di kandang kambing dan bersihkanlah tanahnya karena ia adalah binatang surga.” (HR. Baihaqi dan telah dishohihkan oleh al Albani dalam “Shohiul Jami’).

Tentu riwayat diatas terbuka bagi beragam penafsiran. Sebagian umat Islam yang mengikuti mazhab Ahlulbait tentu tidak terikat dengan teks riwayat diatas. Sebagian besar umat Islam menganggap riwayat-riwayat sahabat Abu Hurairah sebagai hadis yang taken for granted. Kalangan yang membenci Islam kerap menjadikan teks semacam ini sebagai bahan cemooh dengan pemahaman yang negativf dan uraian yang sinis.`

Selamat hari raya kurban.

Artikel ini dirangkum dari beberapa tulisan terutama Wikipedia/by fb muhsinlabiboktober2012
Sembelihan Allah
21/10/2012 OLEH MUHAMMAD AINUN NADJIB
Manusia selalu dirundung problem bahasa. Bahkanpun para penyair, yang biasanya berada di dalam “istana” eksklusif yang jauh dari politik dan masyarakat umum. Dewasa ini problematika budaya-bahasa dan politik-bahasa berkembang dan membengkak sedemikian rupa, sehingga sangat menyempitkan kemungkinan kekayaan komunikasi.
Dulu penyair kontemplatif Goenawan Muhamad kasih dalil: “Musuh utama penyair adalah salah cetak”. Kalau “binatang jalang” salah cetak menjadi “binatang jalan”, atau “represi” menjadi “ekspresi”, maka habislah semuanya. Tak hanya penyair, semua penulispun mengalami tantangan yang sama. Para pelukispun bulan-bulan ini harus hati-hati: sementara singkirkan dulu cat hijau, kuning dan merah.
Saya bukan benar-benar seorang penyair, tapi sering disuruh bikin kalimat-kalimat yang nanti orang menganggapnya puisi. Dan akhir-akhir ini rasa takut saya membengkak setiap kali hendak memutuskan menggunakan suatu kosa kata atau susunan kalimat. Ketakutan saya itu karena pada dasarnya saya sangat menghormati ajaran para leluhur bahwa dalam hidup ini kita harus lebih banyak mendengarkan orang dibanding mengomongi orang.
Bahkan Allah sendiri sangat lebih menekankan fungsi sami’ (mendengar) dibanding bashir(melihat). Jadi orang omong apa saja selalu saya anggap penting, karena mereka sudah besar, sudah dewasa, sudah sangat mampu berpikir dan memutuskan segala sesuatu yang hendak diungkapkan. Kalau saya acuhkan dan abaikan, itu kekeliruan sosial.
Suatu saat saya bikin kalimat: “Muhammadkan hamba ya Allah….” Seseorang menuduh saya soksuci. Manusia biasa yang banyak dosa kok pengin jadi Nabi. Padahal yang dimaksud “muhammadkan hamba” adalah upaya dan doa mohon perkenan Allah agar membantu kita memakai wacana kepribadian Muhammad untuk bisa kita terapkan dalam diri kita.
Allah sendiri bahkan kabarnya menciptakan manusia dengan formula seperti “miniatur” Dia sendiri. Itu berarti merupakan anjuran agar kelengkapan dan komprehensi-dialektis asma Allah kita jadikan acuan. Jadi, kita membina perilaku ini berdasarkan cakrawala karakter Allah sendiri. Ia rahman rahim, penuh kasih sayang. Tapi Ia juga bikin neraka, Ia juga qabidl (penahan rejeki), Ia juga syadid (penyiksa), Ia juga mutakabbir (pentakabur) — namun semua watak yang dalam pandangan kita seolah negatif itu selalu berfungsi positif karena diterapkan pada tempat dan konteksnya yang tepat.
Mentang-mentang kita menganut ajaran kasih sayang rahman rahim maka lantas kita menolak bikin rumah penjara, mengampuni koruptor, membatalkan pasal-pasal hukum mengenai perampokan, penindasan atau kekejaman. Lembaga Pemasyarakatan itu bukan institusi kekejaman. Nerakanya Allah adalah wujud dialektis dari kasih sayangNya juga. Cara menyayangi anak yang bersalah adalah dengan menghukumnya.
Tapi hal-hal semacam itu tidak selalu gampang dijelaskan kepada manusia. Sehingga tatkala untuk Idul Adha saya mau bikin kalimat “Ismailkan hamba ya Rabbi….” — saya begitu kawatir orang akan salah paham. Padahal maksud saya adalah kalau saya disembelih dalam pengalaman sejarah, saya mohon kepada Allah agar kambing yang tersembelih.
Gelar Nabi Ismail AS adalah dzabihullah. Sembelihan Allah. Saya ingin sekali menggunakannya untuk judul suatu tulisan, namun dengan perasaan was-was. Apakah Allah tukang sembelih? Apakah Allah itu Maha Jagal, sebagaimana dalam konteks lain saya juga takut mengumumkan idiom wallohu khoirul makirin, Allah itu Maha Pemakar?
Mungkin sudah ratusan kali kita mengkomunikasikan bahwa untuk urusan tertentu peradaban kita ini pra-Ibrahim. Kalau Ibrahim AS. hidup sekarang dan pada suatu pagi menyembelih anaknya, para tetangga segera akan melaporkannya ke Polsek, atau mungkin langsung memukulinya sampai meninggal. Di zaman ini kita tidak memiliki perangkat ilmu pengetahuan dan tingkat legalitas hukum yang sanggup mengakomodasikan fenomena (vertikal) Ibrahim dan Ismail.
Jangankan fenomena penyembelihan. Sedangkan kita suatu hari nongkrong di dekat kandang kambing saja orang lantas menyimpulkan kita adalah kambing. Saya berpapasan dengan angin pada suatu siang dan omong-omong sejenak, orang di sekitar saya langsung menyangka saya masuk angin. Orang sekarang gila label.
Kalau saya jum’atan, saya memutuskan untuk berjamaah hanya dengan kaum gelandangan. Kalauberjum’atan dengan pedagang kaki lima, saya kawatir ada yang modalnya dari Pak Carik sehingga nanti saya ikut dituduh direkrut oleh Pak Carik. Kalau ada satpam dalam jamaah di mana saya ikut, nanti saya dituduh orangnya pejabat ini atau pengusaha itu di mana satpam itu bekerja. Susahnya yang nuduh saya itu bukannya para gelandangan, melainkan orang yang memang benar-benar bekerja di kekuasaan dan konglomerasi.
Bahkan terakhir saya mendengar label baru bahwa saya adalah intel karena suka bergaul dengan gelandangan, yang sebagian dari mereka adalah memang intel yang menyamar jadi gelandangan.
Demikianlah saya senantiasa bersetia mendengarkan orang lain. Dan itulah sumber pengetahuan hidup saya. Tapi susahnya, orang sering tak bisa diduga apa maunya. Pernyataan orang juga tidak selalu mencerminkan sikap dan kemauannya. Kalau seseorang bilang “Nun, kamu sekarang bukan temanku lagi”, lantas saya percaya, saya terapkan, sehingga ketika bertemu di jalan saya tidak berani menegur dan tatkala dia membutuhkan pertolongan saya tidak menolong — ternyata reaksinya begini: “Kamu memang sombong! Kamu tidak berperikemanusiaan, tidak peka terhadap kebutuhan orang lain”.
Bahkan ketika saya butuh pertolongan namun tidak merasa berhak minta tolong kepadanya, ia berkomentar: “Dia memang sok kuat. Egosentris. Tidak merasa bahwa orang hidup itu saling membutuhkan. Disangkanya saya sedemikian lemahnya sehingga tidak bisa menolong dia!”
Saya melihat itu semua adalah peristiwa cinta. Kalau kita tidak menimba, orang yang kita cintai dan mencintai kita marah: “Kok nggak mau nimba sih?”. Kalau kemudian kita menimba, ia tuding: “Terpaksa ya nimbanya!”. Lantas kita hentikan menimba, ia bersungut-sungut: “Memang aslinya tidak mau menimba!”.
Cinta itu terkadang over-sensitif. Kalau yang terlibat dalam percintaan adalah orang besar, lebih susah lagi. Kalau bersikap biasa-biasa saja, ia naik pitam: “Nggak tahu siapa saya ya! Belajar menghormati dikit kek!” Kalau kemudian kita membungkuk menghormatinya, ia tuduh: “Nyindir ya! Saya tidak mau kau menghina dengan pura-pura menghormatiku!”. Kemudian kita kembali bersikap biasa, dan ia serbu kita: “Dasar tak tahu diri!”
Lama-lama saya “curiga”, kayaknya doa saya dikabulkan oleh Allah. Mudah-mudahan saya adalah the tiny Ismail yang sedang disembelih.
Mana Ismail Kita?
Kerbela02
Karbala, Irak
Alkisah, putri Nabi SAW, Fatimah, dan keluarganya berpuasa. Kala itu ia, suaminya, Ali bin Abi Thalib, dan kedua putra mereka, Hasan dan Husain, berpuasa tiga hari berturut-turut—sebagai pelunasan nazar yang dilakukan setelah kesembuhan kedua putra mereka itu dari sakit. Mereka berempat dikenal sebagai ahlulbait Nabi SAW yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran.
Hari pertama, persis menjelang saat buka puasa, datang seorang pengemis yang kelaparan. Mereka berikan sedikit roti gandum yang mereka siapkan kepada sang pengemis, dan malam itu mereka hanya berbuka dengan minum air. Hari kedua mereka puasa, datang seorang anak yatim memohon makanan. Melihat anak kecil yang lapar, ahlulbait Nabi itu merelakan makanan mereka. Pada hari kedua itu mereka kembali berbuka hanya dengan air.
Hari ketiga, datang seorang tawanan. Ia juga meminta makan. Untuk ketiga kalinya, keluarga Ali dan Fatimah hanya berbuka dengan air.
Atas perilaku mulia itu, menurut Ibnu Abbas, Malaikat Jibril turun membawa wahyu—dan termaktub kisahnya dalam Al-Quran. Itulah rupanya akhlak sempurna atau “jalan lurus”yang diajarkan agama. Tanpa pamrih, keluarga Ali dan Fatimah menunjukkan bahwa mereka berkorban demi orang lain, semata-mata karena Tuhan. Kata mereka,“Kami tidak mengharap dari kalian balasan ataupun terima kasih. Kami takutkan dari Tuhan kami hari yang kelabu dan penuh duka.” Keteladanan berkorban demi orang lain itu amat penting sebagai cermin beragama di “jalan yang lurus”. Keluarga Nabi SAW mencontohkannya. Nabi Ibrahim dan Ismail juga memberikan keteladanannya. Ibrahim berkomitmen mengorbankan nyawa anaknya. Sang putra sendiri, Ismail, siap sedia di meja sembelihan.
Saat itu Ibrahim telah menjadi tua dan sendirian. Di tengah kenabiannya, ia tetap seorang “lelaki”yang, sebagaimana manusia lainnya, sangat menginginkan anak laki-laki. Ismail sendiri adalah pemuda yang cerdas, berbudi, dan kuat. Ia adalah upah kehidupan yang penuh perjuangan. Ia membawa kebahagiaan bagi Ibrahim. Ia juga harapan, cinta, dan penerus keturunan Ibrahim—yang silsilahnya belakangan mengalir hingga NabiMuhammad SAW dan anak cucunya. Tapi kini Tuhan memintanya mengorbankan “milik”yang paling dicintainya itu. Sekiranya pengorbanan yang diminta Tuhan adalah nyawanya sendiri, mungkin itu lebih mudah bagi Ibrahim.
Maka Ibrahim membawa anaknya ke Mina. Di situ Ibrahim masuk ke panggung untuk berevolusi, tempat idealisme diunggah, tempat kebebasan absolut yang disertai penyerahan total diwujudkan. Kalau Ibrahim mengorbankan putranya, kita patut bertanya,“siapa”atau “apa”-kah Ismail kita? Jabatan? Kehormatan? Uang? Cinta? Keluarga? Ilmu? Hidup kita? Tak ada yang tahu, kecuali diri kita sendiri. Tapi, menurut intelektual Iran, Dr Ali Shariati, tandatanda “Ismail”kita adalah segala hal yang melemahkan keyakinan (iman), segala yang menyebabkan kita mementingkan diri sendiri, apa pun yang membuat kita tidak bisa mendengar pesan dan mengakui kebenaran, serta segala hal yang mendorong kita mencari pembenaran demi “kenyamanan”.
Itu sebabnya, satusatunya cara mematuhi perintah Tuhan, sebagaimana dilakukan Ibrahim, adalah dengan melakukan “perang besar”melawan bisikan “setan” dalam ego sendiri. Maksudnya, agar manusia tidak merasa aman dan terlindungi dari pengaruh musuh itu: masih banyak jeratan kemegahan artifisial yang bisa membutakan. Manusia harus terus berusaha, dan minta kepada Allah, agar selalu bisa “diamankan”di jalan yang lurus—shiratal mustaqiim.
Lewat pengorbanan itu, Tuhan seperti mengingatkan Ibrahim agar tidak berpikir bahwa “urusan“-nya dengan Allah sudah selesai setelah ia mengabdikan diri selama lebih dari 100 tahun sebagai nabi. Sebagai pendiri agama monoteisme (tauhid), pembangun jalan bagi Musa,Yesus, dan Muhammad SAW, serta simbol kemenangan manusia, harga diri, dan kesempurnaan-tugas Ibrahim dalam “pengabdian“sejati adalah jauh lebih sulit. Tuhan seperti berpesan,“Engkau harus `bebas total’, dan jangan terlalu yakin serta bangga pada dirimu, sebab selalu ada kemungkinan untuk `jatuh’ pada setiap `puncak’.“
Jalan lurus Singkat cerita, sesudah mengetahui komitmen Ibrahim dan putranya, kemudian Tuhan menggantikan nyawa Ismail dengan “Penyembelihan Agung“.  Belakangan banyak ahli tafsir yang memaknai “Penyem belihan Agung“itu bukanlah seekor kambing–mana mungkin domba lebih agung daripada seorang nabi–melainkan saat disembelihnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husain, yang namanya disinggung di atas.
Baik sejarawan Sunni maupun Syiah mencatat, Husain gugur sebagai syahid dalam upayanya menentang penguasa tiran, Yazid bin Muawiyah. Pada 10 Muharram 61 H, kepala Husain dipenggal bala tentara Yazid dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbala, Irak. Berhubung Nabi Muhammad SAW adalah cucu Nabi Ismail AS, dan Husain adalah cucu Nabi, menjadi sebuah keniscayaan bahwa “berkat pengorbanan Husain menggantikan pemenggalan Ismail itulah, Nabi SAW “terselamatkan“. Itu sebabnya, dalam sebuah hadis nya, Nabi SAW me nyatakan,“Husain dari aku dan aku dari Husain.“
Sebelum menuju Karbala, sebenarnya Husain sudah siap berhaji–bahkan ia telah berada di Mekah sejak Ramadan tahun 60 H. Tapi belakangan ia tinggalkan hajinya demi menunjukkan bahwa memerangi penguasa zalim dan memperjuangkan keadilan merupakan sebuah tindakan yang lebih penting daripada berhaji. Perjuangan demi keadilan, penentangan terhadap “berhala-berhala“ simbol kehidupan fana, kekuasaan, nafsu, egoisme, dan kebanggaan diri, semuanya harus digapai lewat perjuangan serius serta pengorbanan diri–demi mewujudkan sebuah penyerahan total kepada Tuhan.
Itulah makna hakiki penghambaan (ibadah) kepada Allah SWT. Itulah shiratal mustaqiim, sebagaimana yang selalu diminta muslimin dalam salat.
Barangkali bisa kita analogikan bahwa shiratal mustaqiim dalam surat Al-Fatihah itu semacam jalan tol, jalan bebas hambatan. Jalan yang lurus itu adalah juga jalur yang paling dekat. Ilmu ukur membuktikan bahwa “jarak terpendek dari dua buah titik adalah garis lurus yang menghubungkan keduanya“. Maka, kalau jaraknya terpendek, berarti jalan lurus itu adalah jarak yang terdekat.
Secara spiritual sejatinya Tuhan telah memberitahukan bahwa Dia memang dekat. Dan jalan terdekat mencapai-Nya adalah lewat jalan lurus. Karena itu, Dia menyuruh sang hamba menyeru-Nya. Tu han pun menjamin akan menjawab seruan itu, kecuali bila sang hamba bersikap “arogan“dalam beribadah kepada-Nya. Sebab, ketika ada keangkuhan, muncullah jarak yang menganga lebar antara sang hamba dan Tuhannya, sehingga ia berada di tempat yang jauh “tak terjangkau“–dan akan dimurkai oleh Dia. Al-Quran sendiri memandang arogansi sebagai sumber kemusyrikan (politeisme), yang menyebabkan munculnya kezaliman; dan menganggap kezaliman sebagai kesesatan. Arogansilah yang menghancurkan penguasa seperti Namrud, Firaun, dan Yazid.
Mereka yang di jalan lurus itu, dalam surat Al-Fatihah, adalah mereka yang “telah mendapat nikmat“Tuhan; bukan mereka yang mendapat murka-Nya (al-maghdzuubi `alaihim) ataupun orang-orang yang tersesat (adh-dhalliien). Para ulama menegaskan bahwa “nikmat“yang dimaksud tentulah bukan sekadar “kesenangan“duniawi yang rendah dan fana seperti harta atau takhta dan kekuasaan yang dimiliki Firaun,Yazid, atau Abu Jahal.Yang dimaksud mereka “yang diberi nikmat“adalah orangorang yang dekat dengan Allah, seperti Nabi SAW, sahabat Nabi yang baik, dan ahlulbaitnya–yang berseberangan total dengan dua golongan lainnya.
Sedikitnya 17 kali sehari muslimin mengulangi permohonan itu dalam salat guna menunjukkan kerendahan hati kita bahwa kita bukan hamba yang arogan-karena kapan saja manusia bisa terjerumus ke jurang kezaliman atau tersesat. Di tengah jalan lurus yang penuh kerendahan hati itulah seorang hamba tunduk kepada Rabb-nya, semata-mata karena cinta kepada-Nya. Rupanya kedekatan antara kita dan Yang Kita Cintai hanya bisa terwujud lewat perjuangan keras (“jihad“) membersihkan hati dari kotoran akibat memperturutkan nafsu duniawi, dan dengan menjalin cinta dengan sesama manusia sebagaimana dicontohkan di atas. Kisah di atas juga mengingatkan kita akan firman Tuhan kepada Nabi Musa AS, ketika Dia mengatakan,“Satu-satunya ibadah yang Aku hitung sebagai benar-benar ibadah kepada-Ku adalah membahagiakan orangorang yang hancur hatinya.“
Itulah sesungguhnya makna Islam yang ditegaskan Nabi.“Sesungguhnya makna agama adalah mengenal Allah (ma’rifatullah), dan ma’rifatullah hakikatnya adalah bertingkah laku dengan akhlak yang baik. Akhlak adalah menghubungkan tali silaturahmi (kasih sayang), dan silaturahmi adalah `memasukkan rasa bahagia di hati saudara kita’.“

Pengurus Masjid Menangis Terima 2 Hewan Qurban dari Pemulung


Redaksi Salam-Online – Jum'at, 10 Zulhijjah 1433 H / 26 Oktober 2012 16:56
http://salam-online.com/site/wp-content/uploads/2012/10/pemulung-di-tebet-nabung-tiga-tahun-untuk-kurban-merdeka-jpeg.image_.jpg
Yati & Maman (merdeka.com)
JAKARTA (SALAM-ONLINE.COM): Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung memberikan dua hewan qurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Pengurus masjid yang menerima dua ekor kambing itu menangis terharu.
“Saya nangis, tidak kuat menahan haru,” ujar Juanda (50), salah satu pengurus Masjid Al Ittihad kepada merdeka.com, Jumat (26/10/2012).
Juanda menceritakan, Selasa (23/10/2012), seorang pemulung bernama Maman datang ke Masjid Al Ittihad. Masjid megah ini terletak di kawasan elit Tebet Mas, Jaksel.
“Bawanya pakai bajaj. Dia kasih dua ekor kambing untuk qurban. Dia bicara tegas, justru saya yang menerimanya tak kuat. Saya menangis,” kata Juanda.
Dua kambing qurban yang diserahkan pemulung itu berwarna cokelat dan putih. Kambing itu justru yang paling besar di antara kambing-kambing lain.
Juanda menceritakan, pengurus lain pun terharu mendengar cerita ini. Begitu juga jamaah shalat Idul Adha saat mendengar pengumuman lewat pengeras suara sebelum shalat dilaksanakan. Mungkin, saat membaca cerita ini, mata Anda pun berkaca-kaca.
Adalah pasangan suami istri Yati (55)  dan Maman (35), keduanya pemulung, menabung susah payah untuk berqurban. Yati mengaku,  sempat ditertawakan saat bercerita seputar niatnya untuk berqurban.
“Pada ketawa, bilang sudah pemulung, sudah tua, nggembel, ngapain qurban,” cerita Yati, Jumat (26/10/2012).
Tapi Yati bergeming. Dia tetap meneruskan niatnya untuk membeli hewan qurban. Akhirnya setelah menabung tiga tahun, Yati bisa berqurban tahun ini.
“Pada bilang apa tidak sayang, mending uangnya untuk yang lain. Tapi saya pikir sekali seumur hidup masak tidak pernah qurban. Malu cuma nunggu daging kurban,” beber Yati.
Yati dan suaminya, Maman, sama-sama berprofesi sebagai pemulung. Pendapatan mereka jika digabung cuma Rp 25 ribu per hari. Tapi akhirnya mereka bisa membeli dua ekor kambing. Masing-masing berharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta.
Dua kambing ini disumbangkan ke Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Jemaah masjid megah itu pun meneteskan air mata haru.
Pasangan suami istri ini tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah Tebet, Jakarta Selatan. Saat merdeka.com mengunjungi gubuk Yati usai Shalat Idul Adha, Jumat (26/10/2012), Juanda, pengurus Masjid Al Ittihad, ikut menemani.
Yati membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Tak ada barang berharga di gubuk 3×4 meter itu. Sebuah televisi rongsokan berada di pojok ruangan. Sudah bertahun-tahun TV itu tak menyala.
Wanita asal Madura ini bercerita soal mimpinya bisa berqurban. Dia malu setiap tahun harus mengantre meminta daging. “Saya ingin sekali saja bisa berqurban. Malu seumur hidup hanya minta daging,” katanya.
Yati mengaku sudah lama tinggal di pondok itu. Dia tak ingat sudah berapa lama membangun gubuk dari triplek di jalur hijau peninggalan Gubernur Legendaris Ali Sadikin itu.
“Di sini ya tidak bayar. Mau bayar ke siapa? Ya numpang hidup saja,” katanya ramah.
Setiap hari Yati mengelilingi kawasan Tebet hingga Bukit Duri. Dia pernah kena asam urat sampai tak bisa jalan. Tapi Yati tetap bekerja, dia tak mau jadi pengemis.http://salam-online.com/site/wp-content/uploads/2012/10/pemulung-yang-kurban-dua-kambing-tinggal-di-tempat-sampah-merdeka-jpeg.image_2.jpg
“Biar ngesot saya harus kerja. Waktu itu katanya saya asam urat karena kelelahan kerja. Maklum sehari biasa jalan jauh. Ada kali sepuluh kilo,” akunya.
Juanda yang menjaga Masjid Al Ittihad terharu saat Yati bercerita mimpi bisa berqurban lalu berusaha keras mengumpulkan uang hingga akhirnya bisa membeli dua ekor kambing.
“Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil,” gumamnya.
Di tengah kemiskinan yang mendera, Yati-Maman, dua pemulung ini berqurban dua kambing–setelah dengan susah payah menabung selama 3 tahun. Bagaimana bagi yang memiliki kemampuan, tapi tak tergerak untuk berqurban? (merdeka/salam-online)

Foto Exclusive : Indahnya berbagi di Hari Raya Qurban / Idhul Adha 1433 H Banjarmasin





Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H

"Hari dimana manusia pada hari itu tidak melakukan kemaksiatan dan keburukan maka itu adalah hari 'Aid (raya) baginya." (Amirul Mukminin as) 

 Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H
Menurut Kantor Berita ABNA, 'Aid adalah masa pergantian. Sebuah gerakan alami menuju arah kesempurnaan. Setiap manusia yang mengalami kemajuan dan peningkatan ilmu, ma'rifat, kebahagiaan dan menemukan makna baru dalam kehidupannya disebut sedang mengalami 'aid. Riwayat yang masyhur dari Amirul Mukminin, "Hari dimana manusia pada hari itu tidak melakukan kemaksiatan dan keburukan maka itu adalah hari 'Aid baginya." Seseorang yang melakukan kemaksiatan atau keburukan maka pada hakekatnya baik secara lahiriah dan batiniah menjauhkan ia pada kebahagiaan dan kesempurnaan, sehingga bagi yang tidak melakukannya pantaslah baginya merayakannya.
Kisah Idul Qurban
Pada malam kesembilan dan sepuluh Zulhijjah, Nabi Ibrahim as menerima wahyu untuk menyembelih anaknya Ismail dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT di Mina dekat Makah.
Menyembelih sendiri anak kesayangan adalah sebuah ujian yang sangat besar dan berat. Namun ayah dan anak itu dengan kebesaran jiwanya mampu melewatinya. Nabi Ibrahim as tanpa sedikitpun rasa berat hati membawa puteranya ke Mina dalam keadaan tangan dan kakinya terikat, dengan niat memenuhi titah Ilahi beliau hendak menyembeli puteranya sendiri. Nabi Ismail as pun tanpa memiliki rasa keberatan apalagi penentangan ikhlas mengemban perintah Ilahi tersebut.
Namun atas kehendak Ilahi, sebelum pisau tajam menyentuh kulit leher nabi Ismail As, Allah SWT berfirman kepada nabi Ibrahim, "Wahai Ibrahim, kamu berhasil melalui ujian Ilahi dengan baik. Sekarang lepaskan anakmu, dan pada tempatnya letakkan kambing yang Aku kirimkan padamu sebagai hadiah untuk kau kurbankan."
Nabi Ibrahim as pun kemudian merasa sangat bahagia dengan firman Allah SWT yang membatalkan perintah untuk menyembelih putera yang teramat disayanginya. Nabi Ibrahim as pun mencium kening anaknya dan pada posisinya, ia menempatkan kambing dari surga yang telah dikirimkan untuknya untuk disembelih. Peristiwa tersebut diabadikan umat Islam sebagai hari Idul Qurban.
Sampai saat ini umat Islam dipenjuru dunia, baik yang sedang berhaji ataupun tidak, yang berada di Mina ataupun di tempat lain, setiap 10 Zulhijjah menyembelih unta, sapi, domba atau kambing sebagai kurban atas perintah Allah SWT.
Amalan Malam dan Hari Idul Qurban
Malam 10 Zulhijjah adalah malam yang penuh dengan keberkahan. Malam dimana pintu langit terbuka untuk menerima do'a-do'a yang dipanjatkan. Adapun amalan yang disunnahkan dilakukan pada malam tersebut diantaranya adalah:
1.     Menghidupkan malam tersebut dengan ibadah.
2.     Membaca ziarah Imam Husain as.
3.     Membaca do'a "Ya daaimal fadhli 'alaal Bariyya…. Dan seterusnya.
Sementara amalan yang dianjurkan dilakukan pada hari Idul Qurban diantaranya:
1.     Mandi. Hukum mandi pada hari ini adalah sunnah muakkad, bahkan menurut sebagian ulama hukumnya wajib.
2.     Menyelenggarakan shalat Id secara berjama'ah. Pelaksanaannya sebagaimana shalat Idul Fitri.
3.     Menyembelih hewan kurban.
4.     Membaca do'a Nudbah.
5.     Mengumandangkan takbir.

Bacaan Doa Hari Arafah

Doa Hari Arafah disunnahkan untuk dibaca bukan hanya oleh jemaah haji, tetapi juga oleh seluruh kaum muslimin pada hari Arafah, hari semua jemaah haji berkumpul di Padang Arafah sebagai simbol Padang Mahsyar dihari penghisaban kelak. 
 Bacaan Doa Hari Arafah
Menurut Kantor Berita ABNA, berkenaan dengan datangnya Hari Arafah 9 Zulhijjah, redaksi menukilkan do'a Arafah berikut yang menurut riwayat tidak hanya disunnahkan untuk dibaca oleh jemaah haji, tetapi juga oleh seluruh kaum muslimin pada hari Arafah, hari semua jemaah haji berkumpul di Padang Arafah simbol Padang Mahsyar. Berikut nukilan doanya:
بسم الله الرحمن الرحيم             
اللهم صل على محمد وآل محمد
Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

اَللّهُمَّ يَا اَجْوَدَ مَنْ اَعْطى، وَيَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا اَرْحَمَ مَنِ اسْتُرْحِمَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَآلِهِ فِى الاَْوَّلِينَ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَآلِهِ فِى الاْخِرِينَ. وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَآلِهِ فِى الْمَلاَءِ الاَْعْلَى. وَصَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِهِ فِى الْمُرْسَلينَ. اَللَّهُمَّ اَعْطِ مُحَمَّداً وَآلَهِ الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالشَّرَفَ وَالرَّفْعَةَ وَالدَّرَجَةَ الْكَبِيرَةَ. اَللَّهُمَّ اِنِّى آمَنْتُ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَلَمْ اَرَهُ فَلاَ تَحْرِمْنِى فِى الْقِيَامَةِ رُؤْيَتَهُ، وَارْزُقْـنِى صُحْبَتَهُ وَتَوَفَّنِى عَلَى مِلَّتِهِ، وَاسْقِنِى مِنْ حَوْضِهِ مَشْرَباً رَوِيّاً سَآئِغاً هَنِيئاً لاَ اَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَداً اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْء قَدِيرٌ. اَللَّهُمَّ اِنّى آمَنْتُ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَلَمْ اَرَهُ فَعَرَِّفْنِى فِى الْجِنَانِ وَجْهَهُ. اَللَّهُمَّ بَلِّغْ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ مِنِّى تَحِيَّةً كَثِيْرَةً وَسَلاَماً
Allâhumma yâ Ajwada man a‘thâ, wa yâ khayra man suila, wa yâ Arhama manisturhima. Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi fil awwalîn. Wa shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi fil âkhirîn. Wa shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi fil malail a‘lâ. Wa shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi fil mursalîn.
Allâhumma a‘thi Muhammadan wa alahul wasîlata wal fadhîlata wasy syarafa warrif‘ata waddarajatal kabîrah.
Allâhumma innî âmantu bi-Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa âlihi, wa lam arahu falâ tahrimnî fil qiyâmati ru’yatahu, warzuqnî shuhbatahu, wa tawaffanî ‘alâ millatihi, wasqinî min hawdhihi masyraban rawiyyan sâighan hanîan lâ azhmau ba‘dahu Abadan, innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr.
Allâhumma âmantu bi-Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa âlihi. Wa lam arahu fa‘arrifnî fil jinâni wajhahu. Allâhumma balligh Muhammadan shallallâhu ‘alayhi wa âlihi minnî tahiyyatan katsîratan wa salâmâ.
Ya Allah, wahai Yang Paling Dermawan dari semua yang memberi, wahai Yang Paling Baik dari semua yang dimintai, wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang terdahulu.
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang belakangan. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang berada dalam kafilah para malaikat. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang berada dalam kafilah para Rasul. Ya Allah, karuniakan kepada Muhammad dan keluarganya: wasilah, keutamaan, kemuliaan dan derajat yang agung.
Ya Allah, sungguh aku mempercayai Muhammad saw, dan aku belum pernah melihatnya. Maka, jangan halangi aku untuk melihatnya pada hari kiamat. Anugerahkan padaku kedekatan dengannya. Matikan aku dalam agamanya. Berilah daku minuman dari telaganya minuman yang segar yang tak ada lagi dahaga selamanya sesudahnya. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, sungguh aku mempercayai Muhammad saw, dan aku belum pernah melihatnya,
maka perkenalkan padaku wajahnya di surga.
Ya Allah, sampaikan salamku yang tak terhingga kepada Muhammad dan keluarganya.
(Dinukil dari Kitab Mafâtihul Jinân: bab 2, pasal 5)

Serta-serbi Hari Raya Kurban


Umat muslim dunia baru saja merayakan Hari Raya Idul Adha atau yang lebih dikenal dengan Hari Raya Kurban dengan menyembelih binatang kurban baik sapi, unta atau kambing. Masyarakat muslim Indonesia pun tak ketinggalan pula. Mereka yang mampu menyisihkan uangnya untuk meramaikan hari bahagia ini dengan menyembelih kurban dan dagingnya dibagikan kepada mereka yang tidak mampu untuk berbagi kebahagiaan dengan dengan saudara-saudara mereka.

Namun kerap terjadi insiden yang tak mengenakkan di saat pembagian daging kurban. Ada yang meninggal karena terinjak-injak saat antrian atau ada pula yang menjual kupon daging qurban. Di balik pembagian kupon daging kurban, ada saja pihak yang ingin mengambil keuntungan meskipun tak seberapa nominalnya. Hal itu dituturkan Dadang, pria berusia 60 tahun asal Bandung, Jawa Barat yang telah empat tahun merayakan Idul Adha di Jakarta, saat ditemui di lokasi pembagian daging qurban Mesjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Jumat, (26/10).

Menurutnya, hal itu baru ditemuinya pada Idul Adha tahun ini saat ia mengantre kupon pembagian daging qurba di Mesjid Agung Al Azhar. Setelah ia antre dan mendapatkan kupon, ia ditawari kupon oleh sejumlah orang dengan harga Rp 25.000 ribu per kupon. "Dapat kupon satu, saya antri usai sholat Idul Adha. Ada kupon yang dijualin sama teman-teman. Tapi tidak semua. Harga kupon dijual seiktar Rp 15 sampai Rp 25 ribu. Tadi saya mau beli, tapi sudah dapat saat antri. Kebanyakan mereka yang menjual kupon itu, biasanya anak-anak jalanan atau pengamen," ungkap Dadang.

Panitia qurban Mesjid Agung Al Azhar sendiri telah membagikan 800 buah kopun kepada warga sekitar dan kaum duafa atau warga tidak mampu seusai sholat Idul Adha pagi tadi. Sebelumnya, panitia juga telah menyebar 1.800 kupon kepada yang berhak menerima daging qurban di beberapa tempat. Pembagian daging kurban sendiri baru bisa dilakukan mulai pukul 15:00 WIB.

Pada Idul Adha tahun ini, panitia qurban Mesjid Agung Al Azhar menerima 1.360 ekor kambing dan 80 sapi yang dikurbankan sejumlah orang melalui Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. "Khusus qurban yang di potong di Mesjid Agung Al-Azhar itu, sebanyak 272 ekor kambing dan 28 ekor Sapi," kata Pengurus Mesjid Al Azhar, Memed Sururi. Sedangkan hewan qurban sisanya telah disebar ke unit-unit Yayasan Al-Azhar, seperti sekolah dan perguruan tinggi, serta panti sosial. Menurut Memed, warga yang telah mendapakan kupon akan menerima masing-masing sekitar 2 kilo gram daging

Selain kasus penjualan kupon daging kurban, ada pula kejadian yang tidak mengenakkan lain. Petugas dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian Kota Yogyakarta masih menemukan cacing hati di sejumlah hewan kurban yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriah. "Temuan cacing hati masih ada. Dari empat tempat penyembelihan di Kecamatan Umbulharjo yang kami pantau, ada tujuh sapi yang terkena cacing hati," kata Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas dan Kesehatan Hewan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta Endang Finiarti di Yogyakarta, Jum`at (26/10).

Menurutnya, temuan cacing hati di tempat penyembelihan di Kecamatan Umbulharjo tersebut baru menyerang pembuluh darah di hati sehingga daging hewan kurban tersebut masih bisa dikonsumsi. "Untuk bagian hati sapi yang terkena cacing, sudah diamankan karena tidak boleh dikonsumsi," katanya.

Antara menyebutkan, hati sapi yang terserang cacing biasanya berwarna lebih gelap dan terdapat lubang-lubang kecil. Cacing hati berbentuk segitiga, pipih, berwarna abu-abu kehijauan sampai kecoklatan dengan panjang tubuh antara dua hingga tiga centimeter. "Sampai saat ini, cacing hanya ditemukan menyerang hati belum ada yang menyebar ke bagian tubuh lain. Jika sudah menyebar ke daging maka itu patut diwaspadai," katanya.

Selain kasus cacing hati, petugas dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian juga menemukan satu ekor sapi yang menderita skabies atau penyakit kulit. "Penyakit ini tidak merusak kualitas daging. Tetapi, kami meminta agar sapi ini tidak disembelih dan diganti dengan sapi yang benar-benar sehat," katanya.

Di Kota Yogyakarta terdapat sebanyak 421 lokasi penyembelihan hewan kurban yang telah terdaftar. Petugas dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dibantu dokter hewan dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada akan melakukan pemantauan post mortem di seluruh lokasi penyembelihan.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pertanian Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta Benny Nurhantara mengatakan, jika masyarakat melihat indikasi kondisi daging kurban tidak baik, maka bisa memanggil petugas pemantau untuk datang ke lokasi dan memastikan kondisi daging. "Penyakit yang cukup sering ditemukan adalah cacing hati. Hati yang terserang cacing harus dibakar dan dikubur," katanya.

Sementara itu, Masjid Istiqlal memilliki cara unik dalam pembagian daging kurban. Masjid ini pada pemotongan hewan kurban Idul Adha 1433 H, mengatur pembagian daging kurban bagi orang yang berhak menerimanya dengan cara mencelupkan jarinya pada tinta, guna menghindari penerimaan jatahnya itu lebih dari satu kali; mirip saat mencoblos di TPS.

Proses pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal, Jakarta akan dilakukan, pada Sabtu (27/10). Hal ini disampaikan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Mubarok, saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jumat (26/10).

"Pembagian daging kurban akan dilakukan besok setelah subuh," kata Mubarok. Pembagian, menurut Mubarok, akan dimulai sekitar pukul 05.00 WIB. Pembagian diharapkan selesai pada pukul 10.00 WIB. "Tergantung dari ketersediaan daging juga," katanya.

Satu orang hanya boleh mendapatkan satu kupon yang bisa ditukar dengan satu kilogram daging. "Setelah mengambil daging, nanti jarinya dicelupkan ke tinta," katanya.

Menurut dia, warga yang ingin mendapatkan daging kurban harus mengantri kupon di hari pembagian daging. Kupon yang akan disebar pihak Masjid Istiqlal mencapai sekitar 6.000 kupon. Tidak ada kriteria mengenai warga yang bisa mendapatkan daging kurban. "Harus ikut antri kupon siapapun dia," katanya.

Proses pengambilan kupon, dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Panitia sudah menyiapkan 1.000 tempat untuk mengantri. "Kami siapkan 500 kursi laki-laki dan 500 kursi untuk perempuan," katanya.

Hingga kini, Masjid Istiqlal sudah mendapat 36 kambing dan 47 sapi. Beberapa di antaranya kurban dari Presiden Susilo Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, dan beberapa pejabat lain negara ini.

Di masjid terbesar di belahan selatan dunia dan dirancang seorang Protestan, Frederik Silaban, itu prosesi dan ritual penyembelihan hewan-hewan kurban dimulai sejak Jum'at pukul 16.00 WIB.

"Proses pemotongan hingga pembungkusan diharapkan Sabtu dini  hari pukul 03.00 WIB," katanya. Tenaga pemotong hewan didatangkan dari Rumah Potong Hewan yang berlokasi di Pulo Gadung dan Klender. Sedangkan tenaga pembungkus daging adalah orang-orang yang berada di sekitar masjid. "Kami ambil tenaga yang ada di sekitar masjid," kata Mubarok. (IRIB Indonesia/Gatra)

Kini Ahlul Bait as Dinistakan di Film Mesir



Film layar lebar berjudul Abdo Moota yang disiarkan di Hari Raya Idul Adha di sinema-sinama Mesir, mengandung penistaan terhadap Ahlul Bait (as) dan warga Mesir menuntut larangan penayangannya.

Fars News (27/10) melaporkan, film sinema Abdoo Moohta karya sutradara Ismail Farouq disiarkan di seluruh sinema Mesir bersamaan dengan peringatan Idul Adha.

Sebagian cuplikan dalam film tersebut dinilai menistakan kesucian Sayidah Fatimah az-Zahra sa, putri Rasulullah Saw, yang langsung mengundang kemarahan warga Mesir, khususnya kaum Syiah. 

Aliansi Muslim Pendukung Ahlul Bait as di Mesir melayangkan surat kepada Syeikh al-Azhar, Ahmad Tayyib, dan memintanya turun tangan dalam masalah ini dan melarang penayangan film tersebut.

Walid Ismail, anggota Aliansi menjelaskan bahwa dalam film tersebut dibacakan syair-syair terhadap Ahlul Bait namun sangat tidak sopan. "Jika Syeikh al-Azhar tidak menunjukkan sikap dalam hal ini, maka kami akan menggugat al-Tayyib, karena penistaan telah terjadi dan dia bungkam," kata Ismail.

Sementara itu, warga Syiah Mesir juga merilis statemen resmi yang menuntut campur tangan al-Azhar dan mengkritik kebungkaman Syeikh al-Azhar dalam hal ini.

Baha' Anwar Muhammad, juru bicara Syiah Mesir dan Direktur Pusat Fatimi untuk HAM Mesir mengatakan, "Warga Syiah Mesir berusaha menempuh langkah-langkah legal dalam hal ini."

Dia menuntut aksi cepat dalam hal ini seraya mengatakan, "Kebungkaman al-Azhar dan Mufti Agung Mesir menyusul aksi penistaan terhadap sosok mulia yang diakui baik oleh Syiah dan Sunni itu sangat tidak proporsional, di saat sebelumnya mereka telah berulangkali berkomentar tentang penistaan terhadap para sahabat."(IRIB Indonesia/MZ)




2 comments to "Foto Exclusive : Indahnya berbagi di Hari Raya Qurban / Idhul Adha 1433 H Banjarmasin"

  1. Rifai says:

    Sejarah qurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kemudian menjadi ibadah yang diteruskan oleh Nabi Muhammad dan ummat Islam untuk berkurban di setiap hari raya Idul Adha. Lembaga yang menyediakan sapi qurban dan kambing yang membantu pelaksanaan qurban seperti www.globalqurban.com

  2. Nubuwah & Risalah says:

    Tonton Film Nabi Ibrahim untuk menyambut Hari Raya Idhul Adha 1437 H ==>> Tonton videonya di link ini https://www.youtube.com/watch?v=fJPKmHnw__k

Leave a comment