Home , , , , , , , , , , , , � Labbaika Ya Husein..!!!!! Banjarmasin bersimbah air mata untuk mengenang syahidmu di 10 Muharram 1434 H

Labbaika Ya Husein..!!!!! Banjarmasin bersimbah air mata untuk mengenang syahidmu di 10 Muharram 1434 H



Epik Karbala dan Kekalnya Pesan Imam Husein as



Kehidupan manusia berlalu dengan berbagai peristiwa dan fenomena. Akan tetapi, ada sebagian peristiwa yang tidak memudar seiring dengan berlalunya masa, bahkan semakin terang menyinari pemikiran dan pandangan umat manusia. Pada tahun 61 hijriah, sejarah mencatat sebuah peristiwa besar yang meski telah berabad-abad berlalu, namun masih menjadi inspirasi dalam transformasi politik dan sosial sepanjang masa. Kita sedang berbicara tentang kebangkitan epik Imam Husein as di padang Karbala.

Sebuah perjuangan epik yang tidak pernah usang termakan masa, bahkan semakin meluas menembus batas-batas geografi dan menjadi inspirasi untuk semua golongan. Di bulan Muharram ini, kita menyampaikan salam sejahtera kepada Imam Husein as dan para pahlawan Karbala. Salam kepada Imam Husein as yang telah menunjukkan pelajaran hidup yang kekal untuk umat manusia. Salam kepada Imam Husein as dan para sahabatnya yang setia, mereka yang telah mementaskan perjuangan heroik demi Islam.

Imam Husein as memulai gerakannya ketika budaya dan ajaran Islam yang murni sedang terancam penyimpangan. Imam Husein as menyaksikan bagaimana tujuan-tujuan yang diperjuangkan Rasulullah Saw terlupakan secara gradual, serta bagaimana pemerintahan Bani Umayah telah menguasai masyarakat dengan menggunakan uang maupun kekuatan.

Mengingat salah satu tugas dan tanggung jawab pemimpin dalam Islam adalah membimbing, Imam Husein as bangkit melawan penyimpangan untuk mengembalikan umat ke jalan kebenaran. Oleh karena itu beliau mengatakan, "Ketahuilah bahwa mereka (Bani Umayah) selalu bersama setan, meninggalkan perintah Allah Swt dan melakukan kefasadan secara terang-terangan. Mereka telah melanggar batasan Allah dan merampas harta milik masyarakat, mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah Swt."

Ucapan Imam Husein as itu menunjukkan bahwa gerakan beliau adalah dalam rangka menghidupkan dan memperkokoh nilai-nilai agama dalam masyarakat. Menyikapi kerancuan dalam masyarakat, Imam Husein as berkata, "Ya Allah! Kau sendiri tahu bahwa apa yang telah kami tunjukkan bukan demi persaingan atau kekuasaan, tidak pula demi duniawi. Melainkan untuk tegaknya agama-Mu, demi mengislah persada bumi-Mu, demi menenteramkan hamba-hamba-Mu yang tertindas sehingga dapat mengamalkan kewajiban dan hukum-hukum agama-Mu."

Ucapan Imam Husein as telah menjelaskan runtuhnya spiritualitas dalam masyarakat Islam di masa itu. Di sisi lain, penimbunan kekayaan oleh para penguasa, perluasan bid'ah, terlupakannya wasiat Rasulullah, dan pengenyampingan Ahlul Bait Nabi as,  semua faktor tersebut sedang menyeret masyarakat Islam kembali ke jurang kegelapan era jahiliyah. Pada era pemerintahan Bani Umayah, status kesukuan yang sangat ditentang oleh Rasulullah dihidupkan kembali. Masyarakat dengan cepat sedang membangkitkan budaya-budaya jahiliyah, yang telah dimusnahkan dengan risalah Islam yang disampaikan Rasulullah. Ajaran agama Islam benar-benar sedang terancam.

Sunnah dan agama ditafsirkan dengan penyimpangan, pemalsuan hadis dan berita-berita bohong meluas, bahkan tak jarang masyarakat meragukan nilai-nilai hakiki dalam agama Islam. Bani Umayah menyebarkan hadis-hadis palsu dari Rasulullah Saw dan para sahabat beliau,  guna meyakinkan masyarakat bahwa mereka adalah pewaris hak kepemimpinan umat dari Nabi Muhammad Saw.  Di sisi lain, kesombongan dan kerakusan Bani Umayah telah menciptakan jurang perekonomian masyarakat yang sangat dalam. Sedemikian rupa sehingga yang tampak dalam masyarakat Islam saat itu adalah makna sejati kekayaan dan kemiskinan. Dengan kata lain, tidak ada kelompok menengah dalam masyarakat. Kondisi tersebut mencapai puncaknya pada era pemerintahan Yazid bin Muawiyah.

Represi politik di era kekuasaan Bani Umayah sedemikian sadis sehingga tidak ada orang yang berani mengemukakan keberatan sedikit pun untuk menuntut haknya. Bahkan banyak tokoh masyarakat dan ulama yang memilih untuk bungkam. Mereka juga mengimbau Imam Husein as untuk berdamai.

Secara lahiriyah semua orang menunaikan shalat,  berpuasa, dan melaksanakan haji, akan tetapi mengapa amalan ibadah tersebut tidak berdampak sedikit pun? Mengapa masyarakat tidak menunjukkan reaksi atas perkembangan sosial dan politik di sekitar mereka? Dengan kata lain, mereka telah menjauh dari hakikat agama. Kebodohan dan ketidakawasan masyarakat terhadap perkembangan politik-sosial, telah menyulitkan mereka untuk membedakan antara kebatilan dan kebenaran.

Di sisi lain, materialisme telah membutakan mata masyarakat sampai Imam Husein as mengatakan, "Kalian memperhatikan bagaimana janji-janji ilahi terlanggar, akan tetapi kalian tidak mengatakan sesuatu dan tidak pula merasa takut, sementara kalian mengeluh ketika terjadi pelanggaran terhadap perjanjian ayah-ayah kalian, akan tetapi kalian tidak peduli atas pelanggaran terhadap perjanjian Rasulullah Saw.")Tahiful Uqul halaman 237)

Lalu dalam kondisi sedemikian parah ini, apa yang dapat menyelamatkan agama dari cengkeraman kaum mufsidin? Imam Husein as menyaksikan  kondisi tersebut beliau berpendapat bahwa harus dilakukan penyelamatan menyeluruh baik dari sisi spiritualitas, ideologi, politik maupun sosial masyarakat Islam. Sebuah gerakan berdimensi budaya dan kemasyarakatan saja tidak akan mampu menyelesaikan masalah yang sudah sedemikian kronis. Maka untuk masalah ini diperlukan langkah menyeluruh. Pertama adalah tidak mengakui pemerintahan Yazid (Bani Umayah) dan kedua adalah menebus aksi perlawanan tersebut.

Melalui kebangkitannya, Imam Husein as mengecam pemerintahan zalim dan menunjukkan sistem pemerintahan ilahi yang dipegang oleh seorang imam yang adil dan saleh. Beliau menjelaskan hukum Islam dan menukil hadis Rasulullah Saw, "Barang siapa yang melihat seorang penguasa zalim yang mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah Swt, dan dia diam tidak menunjukkan reaksi, maka Allah berhak menempatkan orang itu di posisi penguasa lalim (neraka)." (Tahiful Uqul halaman 505)

Imam Husein as menyadari fakta ini bahwa para penguasa zalim dan fasid mengklaim diri sebagai pihak yang paling berhak untuk memimpin umat dan berkuasa. Mereka berusaha menghidupkan kembali era jahiliyah jilid baru dengan sampul yang berbeda. Mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah Swt dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu Imam Husein as dalam mengungkap tujuan mereka, beliau mengatakan: "Aku keluar untuk mengislah umat kakekku, aku ingin menegakkan amar makruf dan nahyu munkar dan bersikap sesuai sirah dan sunnah Rasulullah Saw."

Ketika Imam Husein as menegaskan bahwa filsafat gerakan beliau adalah islah umat dan dalam rangka menghidupkan kembali sirah dan sunnah Rasulullah Saw. Artinya, pesan Imam Husein as kepada masyarakat adalah "kalian telah menjauh dari sunnah Nabi Saw." Imam Husein mengetahui dengan baik bahwa penyimpangan tersebut mengancam pondasi Islam dan jika berlanjut, maka betapa banyak maarif Islam yang akan tersingkirkan dan pada akhirnya Islam hanya akan menjadi sampul.

Ketika orang seperti Yazid bin Muawiyah telah menunjukkan penentangannya terhadap agama di depan publik dengan memanfaatkan posisinya sebagai khalifah, maka tidak ada ruang lagi bagi Imam Husein untuk membiarkan hal ini berlanjut. Karena proses tersebut pada akhirnya akan menghanguskan seluruh jerih payah dan perjuangan Rasulullah Saw dalam menyampaikan risalah Islam.

Gerakan Imam Husein as pada hakikatnya adalah sebuah peringatan. Peringatan yang berlaku di setiap era dalam sejarah, bahwa setiap perjuangan umat Islam terinspirasi dari heroisme epik Imam Husein  as dalam menunjukkan hakikat agama samawi ini. Oleh karena itu, dalam banyak analisa tentang kebangkitan Imam Husein as di padang Karbala disebutkan bahwa beliau telah menghidupkan kembali Islam.(IRIB Indonesia) 

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nisaa Ayat 162-165



Ayat ke 162

Artinya:
Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.  (12: 162)

Dalam sejumlah pembahasan sebelumnya telah disinggung mengenai sikap penentangan serta dosa para pembangkang kaum Yahudi. Tetapi di tengah-tengah kaum ini juga masih terdapat beberapa orang yang saleh, bahkan orang-orang Mukmin yang sebenarnya dan taat sepenuhnya kepada Tuhan. Al-Quran menerangkan kondisi beberapa kaum terdahulu yang senantiasa menjaga kejujuran yang sempurna, juga menyinggung kelompok ini.

Al-Quran mengatakan, "Mereka yang telah meresapkan keimanan kepada Allah di dalam hatinya, kepada sesuatu yang telah diturunkan dari sisi Allah baik mereka Yahudi maupun Mukmin, dan dalam amal perbuatan mereka juga ahli shalat dan ibadah. Mereka bahkan mengeluarkan zakat kepada orang-orang miskin. Oleh karenanya, Allah Swt menyempurnakan balasan mereka dengan memberikan kemuliaan dan kehormatan secara sempurna.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎
1.  Iman kepada Allah dan hakikat tidak mengenal batas teritorial. Setiap orang yang beriman kepada Allah dari ras dan golongan manapun, pasti akan mendapatkan anugerah dan bantuan Allah yang khusus.
2.  Shalat dan zakat terdapat di seluruh agama  ilahi. Tetapi ibadah tanpa berkhidmat tidak ada artinya. Karena  khidmat tanpa ibadah juga akan mendatangkan sifat sombong dan bangga diri.

Ayat ke 163

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (12: 163)

Ayat ini menyinggung proses pengutusan dan risalah para nabi sepanjang sejarah. Disebutkan, "Mengapa orang-orang Yahudi dan Kristen sebagai Ahli Kitab merasa heran bahwa al-Quran telah diturunkan kepadamu. Apakah mereka tidak tahu dan paham bahwa Allah Swt sepanjang sejarah telah memilih berbagai manusia sebagai nabi. Di antara para nabi itu adalah Musa dan Isa yang diberikan kepada mereka al-Kitab. Lalu kenapa mereka tidak bersedia menerima kebenaran wahyu dan beriman kepada  risalah-mu?!

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎
1.  Tujuan seluruh Agama Samawi adalah satu, karena semua itu datang dari satu sumber, yaitu Allah Swt.
2.  Perhatian kepada perjalanan Nabi-nabi sepanjang sejarah, akan membantu menciptakan peluang bagi seseorang menerima kebenaran risalah Nabi Islam Saw.

Ayat ke 164-165

Artinya:
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (12: 164)

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (12: 165)

Setelah menyebut nama beberapa nabi dalam ayat yang lalu, dalam ayat ini disebutkan, "Jangan menyangka nabi-nabi hanya terbatas pada nama-nama yang telah Kami sebutkan tadi! Tetapi masih ada beberapa nabi yang nama mereka tidak disebutkan di dalam  al-Quran. Penyebutan mereka hanya lewat peristiwa yang berhubungan dengan mereka."  Setelah itu, ayat ini menyinggung risalah dan tugas para  nabi dan mengatakan,  "Tugas utama para rasul ialah menyampaikan berita gembira dan ancaman. Risalah yang disampaikan oleh para nabi ini, tak lain merupakan hujjah bagi Allah atas semua hamba-Nya.  Sehingga di hari perhitungan kelak, manusia tidak akan dapat lagi menyampaikan alasan dengan mengatakan, saya tidak mengetahui baik dan buruk, sehingga saya tidak dapat beramal sesuai dengannya."

Alasan mereka yang demikian ini tidak akan diterima. Karena pada kenyataannya para  rasul Allah telah menjelaskan kepada mereka semua perintah dan larangan Allah Swt. Tentu saja akal manusia pun merupakan hujjah Allah. Akan tetapi, kekuatan pemahamannya hanya terbatas pada sebagian masalah-masalah duniawi.  Oleh karenanya, di Hari Kiamat, Allah akan mengazab mereka yang telah mendengar seruan para  nabi, tetapi menolaknya dengan kesadaran.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎
1.  Umur manusia tidak cukup untuk mendengarkan seluruh kejadian-kejadian sejarah dan tidak pula memerlukan untuk mendengar seluruh peristiwa sejarah. Jika seseorang memiliki kesadaran untuk menerima kebenaran, maka satu saja peristiwa sejarah yang mengandung pelajaran akan cukup baginya. Karena itu  al-Quran menjelaskan hanya sebagian yang mengandung contoh dari sejarah para  nabi, bukannya menukil sejarah seluruh nabi.
2.  Hakikat adalah sesuatu yang pada dasarnya sudah jelas. Tugas para nabi hanya memberikan peringatan dengan cara memberikan berita gembira dan ancaman.
3.  Sekalipun seluruh nabi mendapatkan wahyu dan menjadi lawan bicara Allah, tetapi Nabi Musa as, termasuk nabi yang paling banyak berbicara langsung dengan Allah Swt. Hal itu dikarenakan risalah yang diembannya lebih sulit. Hal itu membuat beliau disebut sebagai Kalimullah. (IRIB Indonesia)

Hari Ketika Nabi Muhammad Saw Hilang!



Halimah Sa'diyah pengasuh Nabi Muhammad Saw adalah seorang wanita yang penuh kasih sayang dan bertakwa. Ia mengasuh Muhammad Saw selama empat tahun. Selama itu banyak terjadi keajaiban terkait peristiwa dan perilaku aneh dari anak yang diasuhnya ini.

Sejak kedatangan Muhammad Saw ke kabilah Saad, ia membawa kebaikan dan keberkahan bersama dirinya ke sana. Pertanian dan peternakan kabilah ini telah mencapai kemajuan sedemikian rupa yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Dalam waktu empat tahun itu Halimah dua sampai tiga kali membawa Muhammad menemui ibunya, untuk menghilangkan rasa kangen antara ibu dan anaknya. Pada akhirnya, suatu hari Halimah berpikir seraya kepada dirinya sendiri berkata, "Anak ini tidak ada duanya dan sangat luar biasa. Semoga musuh tidak menciderainya...!"

Karena itulah ia mengambil keputusan untuk mengembalikan Muhammad kepada kakeknya Abdul Mutthalib.

Halimah menyiapkan bekalnya dan berangkat pergi menuju Mekah. Setelah ia sampai di samping Kabah, tiba-tiba mendengar suara dari langit yang berkata kepada Hajarul Aswad (batu hitam yang berada di sudut Kabah dan sangat dihormati).

Suara itu demikian, "Hai tempat yang suci! Hari ini cahaya seratus ribu matahari tengah menyinarimu."

Halimah terperangah disertai rasa takut mendengar suara itu dan menengok ke setiap arah mencari dari mana suara itu muncul. Tiba-tiba Halimah sadar bahwa Muhammad tidak lagi berada di sampingnya. Halimah menengok ke seluruh penjuru namun tidak melihat Muhammad. Halimah tercengang dan kebingungan.

Halimah benar-benar sedih. Ia lari ke sana dan ke mari di antara lorong-lorong Mekah. Ia menuju ke setiap rumah dan reruntuhan bangunan dengan menyebut nama Muhammad Saw. Ia khawatir kehilangan Muhammad Saw amanat Abdul Muthalib yang akan diserahkan kepadanya.

Akhirnya seorang laki-laki tua bertongkat mendekatinya dan menanyakan sebab kegalauannya.

Halimah menceritakan peristiwa yang terjadi. Laki-laki tua itu menenangkannya seraya berkata, "Jangan khawatir! Aku mengenal sebuah berhala. Bila ia mengasihimu, maka anakmu pasti akan ketemu. Mari pergi bersama-sama dan memohon kepadanya!"

Laki-laki tua itu membawa Halimah mendekati "Hubal" (salah satu berhala penting dan dimuliakan oleh kabilah Quraisy).  Kepada Halimah ia berkata, "Ketika kami kehilangan sesuatu, kami mendatangi berhala ini, maka ia akan membimbing kami."

Kemudian laki-laki tua itu mendekati kaki Hubal dan bersujud kepadanya. Ia menganjurkan Halimah untuk melakukan seperti apa yang dilakukannya.

Begitu laki-laki tua itu menyebut nama Muhammad, Hubal dan berhala-berhala lainnya bergetar dan hancur. Menyaksikan kejadian aneh ini, laki-laki tua itu ketakutan dan badannya gemetaran.

Halimah tetap panik dan mengingat Muhammad sambil meneteskan air mata dan berteriak, "Hai anakku yang hilang! Di manakah kau berada?!"

Laki-laki tua berkata, "Kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Zaman baru telah mulai dan sungguh aneh, berhala-berhala menjadi hancur karena mendengar nama Muhammad."

Abdul Mutthalib mendengar berita tentang hilangnya Muhammad. Dengan suara keras ia menangis. Ia pergi ke Kabah dan menyerahkan dirinya kepada Allah.

"Ya Allah! Aku bukan apa-apa sehingga layak berbicara dengan-Mu. Semua sujud dan tangisanku bukan apa-apa sehingga layak untuk menyebut nama-Mu. Aku bersumpah atas perhatian khusus-Mu kepada anak ini. Beritahu kami akan keadaannya!"

Tiba-tiba datang suara dari dalam Kabah, "Tenanglah! Sekarang juga kau akan mendapatkannya."

Abdul Muthalib berkata, "Sekarang dia ada di mana?"

Suara itu terdengar kembali dan menunjukkan ciri-ciri sebuah tempat. Abdul Mutthalib pergi menuju tempat tersebut dan melihat Muhammad sedang duduk di bawah pohon. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Sumber: "Sad Pand va Hekayat" Nabi Muhammad Saw.

Pengkafiran, Penghalang Persatuan Umat Islam



Ayatullah Mohammad Taskhiri, Penasehat Rahbar, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, dalam pesannya untuk Konferesi Internasional Agama Islam dan Kemuliaan Darah Warga Tak Berdosa di Lebanon dan menyatakan, "Masalah terpenting yang menghalangi proses pendekatan pemikiran ketauhidan praktis lumat Islam adalah, pemikiran takfiri."

IRNA (12/11) melaporkan, pesan tersebut dibacakan oleh Mohammad Hosein Raiszadeh, Ketua Misi Budaya Republik Islam Iran di Lebanon. Ayatullah Taskhiri dalam pesannya menyatakan, "Pemikiran takfiri dan aksi pengkafiran adalah musibah besar yang dialami umat Islam yang menutup seluruh pintu rasionalitas dan kebebasan dalam berinteraksi, berdialog, serta berijtihad. Pengkafiran juga tidak menyisakan ruang bagi persatuan dan persaudaraan."

Pemikiran pengkafiran menjadi faktor penolakan dan penghapusan kelompok lain serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia penganut mazhab lain yang pada akhirnya berujung pada penistaan hak mereka untuk melanjutkan hidup. (IRIB Indonesia/MZ)

Ekonomi Muqawama I: Sanksi Ekonomi dan Resistensi Iran



Republik Islam Iran yang berpijak pada prinsip-prinsip agama, ketuhanan dan menjaga kemuliaan manusia, sejak awal berdiri menjadi sasaran berbagai serangan musuh. Serangan tersebut dimulai sejak perang pertahanan suci yang berlangsung delapan tahun untuk melumpuhkan Iran. Kini setelah berlalu selama 33 tahun, gelombang serangan musuh terhadap Revolusi Islam kian hari semakin deras. Bentuknya pun semakin beragam dan kompleks, mulai dari serangan militer hingga embargo ekonomi, dari perang lunak sampai perang ekonomi. Mungkin ini yang diistilahkan Ayatullah Khamenei sebagai "Perang Ambisi-ambisi".

Selama ini, gelombang konspirasi Barat terhadap Republik Islam Iran bukannya mereda, bahkan sebaliknya tekanan itu semakin deras dan kompleks. Untuk menghadapi tekanan tersebut dibutuhkan kesiapan dan kemampuan dengan menggunakan kekuatan lunak disamping kemampuan militer.

Pada acara kali ini kita akan mengupas mengenai definisi sanksi ekonomi. Kemudian mengkaji mengenai pertanyaan, apakah AS bisa melumpuhkan Iran dengan sanksi tersebut, ataukah tidak ? Lalu, apakah masalah ini dari sisi ekonomi muqawama bisa menangkal sanksi itu dan menjadikannya sebagai peluang.

Sanksi ekonomi merupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap hubungan ekonomi dan politik negara-negara dunia. Dengan kata lain, sanksi diartikan sebagai rangkaian keputusan emosional mengenai ekonomi sebuah kekuatan terhadap satu atau beberapa negara demi menciptakan perubahan dalam kebijakan negara itu. Hal ini menunjukkan sikap sebuah negara terhadap kebijakan negara lain. Dengan demikian, sanksi ekonomi pada umumnya diikuti oleh peran pemain internasional.

Para ahli menilai sanksi ekonomi yang dilancarkan AS terhadap Iran dari berbagai perspektif. Sejumlah kalangan menyebut sanksi ekonomi sebagai alat politik. Namun sebagian lainnya dan menilai sebagai alat ekonomi untuk menggantikan sarana militer.

Dalam pandangan ekonomi maupun politik, efektifitas sanksi setidaknya ditentukan oleh empat faktor. Pertama, berkaitan dengan dampak (impact) sanksi, dan seberapa besar dana yang harus dikeluarkan untuk menebus dampak tersebut. Kedua, mengenai efektifitas sanksi tersebut terhadap perilaku dan identitas negara yang menjadi target. Ketiga, tentang utilitas sanksi dalam mewujudkan tujuannya. Artinya, biaya yang dikeluarkan negara yang disanksi dibandingkan biaya yang digelontorkan pemberi sanksi. Keempat, terkait variabel relativitas sanksi (relative utilitiy) sebagi alat dibandingkan saran lainnya.

Kini muncul pertanyaan mengenai faktor kondisi tuntutan ekonomi bagi terwujudnya pengaruh sanksi tersebut ? Apakah faktor faktor itu bisa dikelola menjadi arus anti-sanksi dalam bentuk ekonomi muqawama ?

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei dalam ceramahnya berulangkali menyatakan bahwa masalah ‘ekonomi' dan ‘perang ekonomi' dilancarkan musuh untuk menjegal kemajuan ekonomi Iran. Penegasan Rahbar bahwa solusi untuk menghadapinya telah terdengar berulangkali. Bahkan beliau menamai beberapa tahun belakangan ini sebagai tahun ekonomi di antaranya: Tahun Reformasi Pola Konsumsi, Tahun Kerja Ekstra, kemudian Tahun Jihad Ekonomi, dan tahun ini dinamai dengan Tahun Produksi Nasional: Mendukung Kerja dan Modal Iran.

Dengan menyadari secara penuh perang ekonomi yang dilancarkan musuh, dan tujuannya untuk menekan Iran, Rahbar menegasakan bahwa salah satu solusinya adalah ekonomi muqawama. Rahbar mengatakan, "Dalam kondisi sensitif dan menentukan saat ini harus menjalani serius ekonomi muqawama."

Terkait definisi ekonomi muqawama, para ekonom mengatakan, "Ekonomi muqawama" bukan dihadapkan dengan ekonomi tertutup, dependen maupun ekonomi konsumtif, tapi resisten dalam menghadapi serangan ekonomi hegemoni global. Dengan mereformasi struktur ekonomi dalam kerangka kepentingan nasional berdasarkan pandangan dunia dan tujuan jangka panjang."
Dengan kata lain, ekonomi muqawama yaitu menentukan area tekanan dan kemudian berupaya mengontrol dampaknya, serta mengubahnya menjadi peluang.
Dengan demikian, ekonomi muqawama dalam rangka menurunkan ketergantungan dan menegaskan potensi produksi dalam negeri menuju swasembada. Untuk itu, ekonomi muqawama bukan slogan belaka, namun sebuah realitas. Tapi bagaimana realitas itu bisa terwujud ?

Terkait hal ini Rahbar mengatakan, "Ekonomi negara kita merupakan poin penting bagi musuh. Tujuan musuh melancarkan sanksi terhadap Iran adalah memusatkan pada masalah ekonomi untuk menjegal kemajuan nasional, menghambat lapangan kerja, dan mengganggu kesejahteraan nasional, serta menimbulkan masalah bagi masyarakat. Semua itu dilakukan untuk memisahkan masyarakat dari Republik Islam. Fakta ini begitu nyata..."

Ayatullah Khamenei menetapkan slogan tahun ini sebagai penyempurna dari rangkaian agenda ekonomi. Penamaan tahun, mulai dari Tahun Reformasi Pola Konsumsi, Tahun Kerja Ekstra, kemudian Tahun Jihad Ekonomi, dan tahun ini dinamai sebagai Tahun Produksi Nasional: Mendukung Kerja dan Modal Iran. Seluruh konsep ini bukan hanya slogan belaka, tapi bagian dari proses untuk mendorong gerakan kolektif di bidang ekonomi. Meski demikian ekonomi muqawama juga memerlukan sejumlah faktor yang harus diperhatikan.

Mengurangi ketergantungan terhadap industri minyak merupakan salah satu faktor utama ekonomi muqawama. Ayatullah Khamenei mengungkapkan, "..ketergantungan ini merupakan warisan ratusan tahun ekonomi kita. Dan sanksi dari sisi ini harus dijadikan peluang saat ini. Kita mencari pengganti minyak untuk aktivitas yang ekonomis..." Beliau menegaskan perhatian terhadap pertumbuhan dan peningkatan industri utama sebagai kekosongan yang harus segera diisi.
Rahbar menegaskan, "Pemanfaatan berbagai potensi dalam negeri bisa mengatasi kekosongan tersebut. Dengan tekad baja bergeraklah sebisa mungkin dan kurangi ketergantungan dengan menggunakan produksi dalam negeri ..."

Para analis ekonomi menyebut tema ekonomi muqawama sebagai kemampuan sebuah negara menghadapi tekanan ekonomi yang dilancarkan kekuatan tertentu untuk menjegal kemajuannya.

Gelombang serangan sanksi ekonomi yang dilancarkan negara-negara Barat terhadap Iran melalui berbagai produk konsumsi dan mendorong investasi yang melebihi faktor lainnya mengenai ekonomi nasional. Inilah tantangan kebijakan masa lalu.Hal ini terkait dengan ketergantungan terhadap pendapatan yang diperoleh dari penjualan minyak mentah. Semua faktor itu harus diperhatikan dengan menerapkan model ekonomi muqawama. Dengan demikian, harus dikatakan bahwa ekonomi muqawama bukan merupakan sebuah sistem ekonomi tertutup.

Tujuan utama ekonomi muqawama adalah mencapai sebuah ekonomi resistensi yang aktif dan modern, bukan sebuah ekonomi yang pasif dan tertutup. Dengan demikian, terma "muqawama" didefinisikan sebagai upaya untuk menghilangkan hambatan bagi kemajuan. Namun, di sini lain tidak bisa membahas ekonomi muqawama tapi melepaskan dari perspektif politik, atau membahas keduanya dan melupakan budaya muqawama yang menjadi infrastruktur kedua politik dan ekonomi.

Sejatinya, ekonomi muqawama merupakan sistem perekonomian yang mengambil inspirasi dari budaya Islam. Namun hal ini tidak berarti bahwa ekonomi islam menentang keuntungan. Tapi tidak menjadikan laba sebagai prinsip untuk melipatgandakan keuntungan dan modal yang menjadi prinsip utama dalam sistem Kapitalisme.

Tidak diragukan lagi sanksi ekonomi akan memicu terwujudnya solidaritas lebih besar sekaligus sarana untuk menjegal kemajuan ekonomi Iran. (IRIB Indonesia/PH)

Menelisik Pandangan Ibnu Arabi Soal Keimanan Abu Thalib as



Termasuk yang sudah disepakati dalam riwayat-riwayat bahwa Abu Thalib as, paman Nabi Muhammad Saw termasuk Mukminin yang sangat berjasa dalam mendukung Islam.(1)

Rasulullah Saw bersabda, "Ketika Abu Thalib masih hidup, orang-orang Quraisy takut kepadaku."(2)

Abu Thalib as meninggal dunia pada 26 bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian dengan keimanan.

Imam Shadiq as terkait keagungan Abu Thalib as berkata, "Abu Thalib adalah teman para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin dan betapa mereka memiliki teman yang baik!"(3)

Imam Shadiq as menambahkan, "Bila iman Abu Thalib diletakkan di satu timbangan dan iman semua orang di timbangan yang satu, maka iman Abu Thalib lebih berat.(4)

Imam Ridha as kepada salah satu sahabatnya menjelaskan tentang iman Abu Thalib as, "Ketahuilah bahwa bila engkau tidak mengakui imannya Abu Thalib, maka tempatmu adalah neraka Jahannam."(5)

Dengan penjelasan ini, Ibnu Arabi dalam sebuah buku mengklaim bahwa saat melakukan mukasyafah ia memahami sesuatu dari Rasulullah. Dari hasil mukasyafah itu ia mengatakan,  "Bila untuk tekad ada pengaruhnya, maka tidak ada manusia yang lebih sempurna, ketinggian dan kekuatan tekadnya dari Rasulullah Saw, tapi keinginan kuatnya agar Abu Thalib, pamannya memeluk Islam tidak berpengaruh sedikitpun.(6)

Ayatullah Hassa Zadeh Amoli saat mengritisi pernyataan Ibnu Arabi ini menulis:

"Syeikh dalam masalah ini mengikuti akidah yang populer di kalangan Ahli Sunnah yang berasal dari buatan dan propaganda Bani Umayah. Padahal perilaku, ucapan, syair dan pengorbanan luar biasa Abu Thalib as dengan sendirinya menjadi bukti yang benar bahwa beliau sejak awal telah beriman kepada Islam dan kenabian Rasulullah Saw. Tapi untuk dapat memberikan perlindungan yang lebih baik kepada Rasulullah Saw, beliau tidak menyatakan keislamannya secara terang-terangan. Para Imam as dalam masalah ini secara transparan menjelaskan keimanan Abu Thalib as berada pada derajat yang tinggi."(7) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Rasekhoon

Catatan:

1. Al-Ghadir, 7/384, bab al-Ijma fi Iman Abi Thalib as.
Almarhum Muhaddits Qommi terkait dengan kondisi pertama Rasulullah Saw menulis, "Allamah Majlisi mengatakan, ‘Syiah Imamiah sepakat (ijma) bahwa ayah dan ibu Rasulullah Saw dan seluruh kakek dan nenek beliau hingga Nabi Adam as adalah Muslim ...' Setelah itu ia menulis, ‘Para nabi saling mewarisi satu dengan yang lainnya hingga tiba ke Abdul Mutthalib. Ia menjadikan Abu Thalib as sebagai pewarisnya dan ketika Muhammad diutus menjadi nabi, beliau menyerahkan semua titipan itu kepada Rasulullah Saw." (Muntahal Amal, 1/3 dari Bihar al-Anwar, 9/29)
2. ما ذالت قریش کاعین(أی جبانین) حتّی مات أبوطالب (al-Ghadir, 7/374)
3. اِنَّاباطالبٍ مِن ‏رُفقاءِ اَلنَّبیینَ والصِّدّیقین والشُّهداءِ والِصالحینَ وحَسُنَ اولئک رفیقاً (Bihar al-Anwar, 35/111, hadis 42, al-Ghadir, 7/392, hadis 22, al-Hujjah Ala ad-Dzahib Ila Takfir Abi Thalib, Sayid Fakkhar bin Mu'idd, hal 82, Abu Thalib Hami ar-Rasuli wa Nashirihi, Najm ad-Din al-Askari, hal 140.
4. إنّإیمانَ أبی طالبٍ لو وُضِعَ فی کَفَّةِ میزانٍ وإیمانُ هذا الخَلْق فی کَفَّةِ میزانٍ، لَرَجَحَ إیمانُ أبی طالبٍ على إیمانِهِم (Bihar al-Anwar, 35/112, hadis 44, al-Ghadir, 7/390, hadis 16, Madinah al-Ma'ajiz, 7/535, hadis 98, al-Hujjah Ala ad-Dzahib Ila Takfir Abi Thalib, hal 85, ad-Dam an-Nazhim, Ibnu Hatim al-‘Amili, hal 221.
5. Al-Ghadir, 7/381:
کتب أبان بن محمود ألی علیِّبن موسی الرضاعلیه السلام: جعلت فداک أنِّی قد شککت فی إسلام أبی طالب. فکتب إلیه: و من یشاقق الرَّسول من بعد ما تبیَّن له الهدی و یتَّبع غیر سبیل االمؤمنین . الآیة. و بعدها إنَّک إن لم تقرَّ بایمان أبی طالب کان مصیرک إلی النّار
6. Terjemahan ibarat dari buku Mumiddu al-Humam fi Syarh Fushus al-Hikam, hal 325.
ولوکان للهمة أثر ولابد، لم یکن أحد أکمل من رسول الله صلی الله علیه و سلم و لا أعلی و لا أقوی همّـة منه، و ما أثَّرتْ فی إسلام أبی طالب عَمِّهِ
(Fushus al-Hikam, hal 130, Entesharat az-Zahra as, cet 2, 1370 Hs.
7. Ibid, hal 325, pada catatan kaki.





0 comments to "Labbaika Ya Husein..!!!!! Banjarmasin bersimbah air mata untuk mengenang syahidmu di 10 Muharram 1434 H"

Leave a comment