Home , , , , , , , � Islam Zionis Takfiri Wahabi (Pemecahbelah Ummat Manusia dan Islam) menyusup Kemesjid-mesjid NU dan Muhammadiyah....Waspadalah warga Banua Banjar pencinta HAUL dan Maulidan...!!!!!

Islam Zionis Takfiri Wahabi (Pemecahbelah Ummat Manusia dan Islam) menyusup Kemesjid-mesjid NU dan Muhammadiyah....Waspadalah warga Banua Banjar pencinta HAUL dan Maulidan...!!!!!


Team banjarkuumaibungasnya-Banjarmasin- "KADA PAYU" (Tidak Laku) di LUAR PULAU KALIMANTAN, sekarang Para Ulama Pro Zionis Takfiri Wahabi (Pemecah-belah Ummat Manusia & Islam)  ini mau "NGAJAK" warga Banua Banjar "MEMBENCI" Islam Syi'ah 12 Imam/Imamiah/Mazhab Jakfari yang mayoritas dipeluk penduduk & Pemerintah Republik Islam Iran  yang suka Maulid dan Haul sama seperti Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia yang mayoritas dipeluk penduduk dan pemerintahan Republik Indonesia yang juga suka Maulid dan Haul. 
Dan sebagaimana pembaca ketahui, Kerajaan Arab Saudi yang mayoritas pemerintahannya bermazhab Islam Wahabi yang selalu mendapat upeti Umroh dan Haji "cuma-cuma" dari pemeluk Islam seluruh dunia, boro-boro membantu Islam Sunni Palestina yang dijajah zionis takfiri israel (kabar terbaru Januari 2014 Ariel Sharon sang "Gembong Zionis Takfiri Israel" sudah MATI dan segera dikirim ke NERAKA, Alhamdulillah ini berkat bulan Maulid, bulan Kelahirannya Nabi Muhammad yang selalu di syiarkan oleh Kegiatan Maulid Akbar di Banua Banjar), malah Kerajaan Arab Saudi yang bermazhab Islam Wahabi mengirim pasukan Takfiri Zionis ke Negara Suriah yang mayoritas Islam Sunni dengan PROVOKASI terjadi pertempuran "Islam Sunni & Islam Syi'ah" (padahal sebenarnya Negara Suriah dibantu rakyat yang Islam Sunni dan Islam Syi'ah serta Masyarakat Kristen Suriah saling bekerjasama "MENUMPAS" teroris Zionis Takfiri sang Pengadu domba Ummat Manusia dan Ummat Beragama dan kita tahu bersama Negara Suriah merupakan penampungan terbesar didunia untuk Pengungsi Palestina yang mayoritas Islam Sunni, dimana Pejuang Hamas & Fatah yang Islam Sunni bersama Pejuang Hizbullah Lebanon yang Islam Syi'ah bahu-membahu MENUMPAS Zionis Takfiri Israel..(Jadi Islam Sunni dan Islam Syi'ah bersatu Menumpas Zionis, lalu ketika "Ulama Karbitan" datang untuk menyeru Pertumpahan Darah / PengKafiran sesama ummat Islam, apakah kita masih menyebut ULAMA...???
Sebagai pengetahuan di negara Yaman yang mayoritas Islam Sunni Syafe'i ala Yaman pun tidak luput dari AKSI Islam Zionis Takfiri Wahabi, dengan "MENGELABUI" orang awam bahwa telah terjadi pertempuran antara Islam Sunni dan Islam Syi'ah, padahal mereka telah memutar balikkan fakta, yang ada adalah pertempuran antara Sekte Syi'ah Houte (Syi'ah Zaidi) dan Islam Wahabi di Damaj yang merupakan kota Gembong Kaum Wahabi, sedangkan Rujukan Kaum Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia ketika menuntut ilmu kenegeri Yaman bukan Ke Damaj, tapi ke daerah Hadral Maut. ckckckckck....sekali lagi mereka Islam Zionis Takfiri menginginkan PERPECAHAN antara ummat Islam dan ummat manusia...ckckckckckkckkkk.
Dan team Buletin MPR berkeyakinan, Acara PENGKAFIRAN terhadap Islam Syi'ah 12 Imam/Imamiah/Mazhab Jakfari yang telah diadakan di Luar Pulau Kalimantan (Namun Sepi Peminat), yang akan diadakan pada hari Sabtu tanggal 25 Januari 2014 di Mesjid Muhammadiyah Hasanuddin Majedi yang beralamat di Bundaran Jalan Kayutangi Banjarmasin kembali akan SEPI PEMINAT, karena acara PENGKAFIRAN Islam Syi'ah 12 Imam/Imamiah/Mazhab Jakfari yang dibalut BEDAH BUKU hanya Akal-akalan Panitia, karena disetiap Acara Pengkafiran Islam Syi'ah SELALU tidak menghadirkan Tokoh Cendikia Islam Syi'ah 12 Imam/Imamiah/Mazhab Jakfari Republik Indonesia. Dan Kami masyarakat Banua Banjar sudah CERDAS, kami tidak mau peristiwa 23 Mei atau Jum'at Kelabu terjadi lagi karena ada agen-agen Adu Domba si Zionis Takfiri yang suka mengkafirkan dan membid'ahkan orang diluar alirannya, Kami juga Tidak Mau terjadi Pertumpahan Darah yang sama seperti Kejadian di Sampit antara Suku Dayak dan Suku Madura, gara-gara Isu Murahan, adu domba sesama ummat manusia TITIK... Dalas Hangit waja sampai kaputing kami warga Banua Banjar MENOLAK aksi ZIONIS TAKFIRI pengadu domba ummat manusia dan ummat Islam.

KENAPA KITA REPUBLIK INDONESIA "TAKUT" AKAN PENYEBARAN ISLAM SYI'AH 12 Imam / Mazhab Jakfari/ Imamiah..... SAMPAI JADI SYIAHPHOBIA bahkan IRANPHOBIA... padahal di negara mayoritas Syiah 12 Imam REPUBLIK ISLAM IRAN katanya TIDAK TAKUT akan PENYEBARAN ISLAM SUNNI bahkan ISLAM WAHABI... tidak ada tuh istilah SUNNIPHOBIA atau WAHABIPHOBIA apalagi TAKFIRIPHOBIA di negara Republik Islam Iran... apa karena Para Ulama yang menjadi CORONG TAKFIRI (sadar atau tidak sadar) sudah terganggu "Jatah Pulus"nya??? atau TAKUT jamaahnya jadi IKUTAN Islam Syi'ah, sehingga habis jamaahnya..????

Republik Islam Iran, Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi adalah Anggota sesama Organisasi Kerjasama Islam (OKI) berarti sama ISLAM...Mau jadi Wahabi, Mau jadi Sunni atau mau jadi Syi'ah... itu adalah pilihan masing-masing ummat ISLAM tanpa ada orang atau negara yang Berhak MEMAKSAKANNYA...!!!!!
Biarlah masalah Keyakinan mau ikut Islam SUNNI (Republik Indonesia, Malaysia, Yaman, Mesir,Suriah dll) atau ikut Islam SYI'AH 12 Imam/Imamiah/mazhab Jakfari (Republik Islam Iran) atau bahkan IKUT ISLAM WAHABI (yang dianut Resmi oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi)..... UMMAT ISLAM sendiri yang menentukan...
KENAPA TAKUT hilang jamaah dan simpatisan...????!!!!???? Apalagi sampai punya Rencana bikin Undang-undang Pelarangan Islam Syi'ah..???... Syi'ah yang mana...???).
Di Republik Islam Iran yang mayoritas penduduknya ISLAM SYI'AH 12 Imam / Imamiah/mazhab Jakfari saja TIDAK TAKUT akan Penyebaran ISLAM SUNNI dan ISLAM WAHABI...bahkan ISLAM TAKFIRI sekalipun...????
MASALAH KEYAKINAN Beragama adalah masalah HATI KECIL kita masing-masing.....
Kalau semakin di intimidasi ISLAM SYI'AH 12 IMAM/IMAMIAH/MAZHAB JAKFARI bakal tambah TERKENAL... atau memang ini RESIKO.....jadi TERKENAL........




masjid muhammadiyah Hasanuddin Majedi

Masjid Imam Syafii Muhammadiyah Banjarmasin

ust ahmad zainuddin lc

Ust Khairullah LC
Ust Zezen Zainal Mursalin LC

TOKOH-TOKOH yang berteman dengan Syi'ah PASTI Syi'ah...ANEH...!!!!
Walaupun dicaci maki banyak pihak, namun Said Aqil Siroj merupakan manusia yang sangat cerdas KARENA KERAS menghadapi wahabi yang berlindung dibalik gerakan anti syi’ah tetapi bertujuan merebut jama’ah NU
.
Kang Said membuat strategi dakwah dengan cara agar kader-kader nahdliyyin mengkampanyekan  ide-ide Aswaja melalui toleransi dengan syi’ah,  di tengah persaingan dengan ormas-ormas lain di Indonesia  maka NU perlu bantuan syi’ah. Apakah strategi dakwah seperti ini salah wahai ULAMA JATiM ???
.
NU  citranya kalah di hadapan aktifis ormas-ormas yang lain. Orang Wahabi itu, sampai saat ini, berhasil membangun citra sebagai ahli hadits, meskipun mereka hanya mengulang-ulang hadist yang sama di setiap forum. Strategi orang Wahabi yakni setiap bicara, mereka mengulang ucapan qola Rasulullah terus.
.
Nah, inilah yang menjadi perhatian penting kita.Ada tiga alasan yang menjadikan kader NU tidak siap dalam menyampaikan materi aswaja.  Pertama, gagasan ahlussunnah waljama’ah tidak disampaikan secara sistematis, argumentasi yang dibangun tidak kokoh. Kedua, kita sebagai orang NU tidak punya media sehebat wahabi yang diback up saudi + Amerika dan Israel. Ketiga, tanpa bantuan syi’ah padahal ritual syi’ah mirip dengan NU
.
“Ideologi Wahabi, satu dua langkah lagi akan menjadi terorisme,” kata KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU dalam sambutan pelepasan peserta pelatihan ‘Dauroh lil Imam wal Muazin’ di aula kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (28/11/2012) siang.
Ajaran Wahabi menurut Kang Said, memang tidak mengajarkan untuk membunuh orang kafir. Tetapi Wahabi mengajarkan pengikutnya memandang orang di luar kelompoknya sebagai orang musyrik yang halal darahnya.
“Meskipun begitu, ajaran Wahabi membuka peluang bagi penganutnya untuk menjadi teroris. Penganut Wahabi yang sedang marah, lalu kalap, dan berkesempatan, akan mengondisikan dirinya menjadi teroris,” tambah Kiai Said.
Hal ini diutarakan Kang Said di hadapan sedikitnya 20 peserta utusan Lembaga Takmir Masjid NU, LTMNU. Mereka adalah pengurus masjid yang direkrut dari sejumlah wilayah dan cabang NU di Indonesia.
Sambutan pelepasan diadakan untuk menampik kekhawatiran bahwa penyusupan ideologi Wahabi diselundupkan dalam pelatihan tersebut. Karena, sebagian peserta pelatihan sempat mempertanyakan kemungkinan penyusupan.
Meski demikian, Kiai Said sempat menyebut sejumlah yayasan keagamaan yang didanai Pemerintah Arab Saudi. “Sebagian pengurus yayasan itu menjadi pelaku teror di sejumlah titik Indonesia yang ditetapkan oleh Kepolisian RI,” tegasnya.
Pelatihan diselenggarakan Pemerintah Arab Saudi di Hotel Kaisar, Duren Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan. Pelatihan manajemen kepengurusan masjid dan persoalan muazin dimulai hari ini hingga beberapa hari ke depan.
Pelatihan ‘Dauroh lil Imam wal Muazin’ diikuti oleh semua ormas Islam se-Indonesia. Peserta pelatihan berjumlah 120 orang. Dua puluh dari semua peserta, direkrut dari ormas NU melalui LTMNU.
Kiai NU Jatim dan ulama NU yang menolak TELAH BERKHiANAT KEPADA GUSDUR demi membela wahabi…
Kyai NU yang anti syi’ah melupakan wasiat Gus Dur tentang syi’ah
Kyai NU yang anti syi’ah melupakan sikap  Gus Dur terhadap wahabi
Menolak syi’ah sama saja membiarkan NU sendirian digempur wahabi tanpa ada yang membantu..
Betapa banyak jasa syi’ah indonesia dalam membela NU dan menolak wahabisme, alhamdulillah ada upaya untuk membentengi akidah ahlussunnah wal jama’ah dari serangan membabibuta kelompok salafi wahabi. semoga ALLAH SWT senantiasa menolong dan melindungi serta ridho thd upaya ini. amiin. wallahua’lam bi showab
http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S7HO4REIk2I/AAAAAAAADQY/ErKfnnYouMc/s320/Gus+Dur+Mentertawakan+NU.jpg Rahasia dapur NU akan diperlihatkan melalui guyonan Gus Dur. Pola laku, pola pikir dan pola tindak sang kiai semasa hidupnya merekam tuntas fenomena dan apa saja hal ikhwal yang terjadi di NU. Pikiran cerdasnya merekam dan ditularkan melalui kelakarnya.
.
Kini tersaji tuntas bahwa bagaimana sang santri, hingga tingkah warga NU yang menjadi politisi jadi bahan gelak tawa. Inilah salah satu bentuk keunggulan Gus Dur, tidak hanya sindir tapi lebih dari itu, yakni membuat orang berpikir. Buku ini mengoleksi segala canda ria Made In Gus Dur “wal khususon yang bercitarasa NU’.
Selamat “mengakakkan diri”

KRITIK ATAS SEBAGIAN DOKTRIN AQIDAH SALAFI Wahabi atau mereka lebih senang disebut “Salafy”, menurut versi mereka adalah sebuah gerakan yang meneruskan jejak dakwah Rasulullah, para sahabat, murid-muridnya terus berlanjut hingga masa Ibn Taimiyah sampai ke Abdul Wahab dan ulama mereka masa sekarang seperti Syaikh al-Bany, bin Baz, Utsaimin, Muqbil dsb dengan penyucian akidah dan ibadah (tafsiyah dan tarbiyah) yang sebagian besar menurut pendapat madzhab mereka.
Yang perlu dipertanyakan lalu dimana letak jutaan ulama kaum muslimin yang tidak meyakini bahkan berbeda pendapat dengan apa yang mereka bawa karena mereka meyakini manhaj (metode) dakwah merekalah yang paling sesuai sunah dan yang lain…?.
Pada tahun 1344 H, mereka menghancurkan pemakaman Baqi’ dan peninggalan-peninggalan keluarga Rasul dan sahabatnya. Untuk mendapatkan fatwa ulama Madinah mereka mengutus Hakim Agung Nejd, Sulaiman bin Bulaihad, guna menanyakan fatwa ulama disana dengan menyelipkan pendapat Wahabi tentang masalah yang ditanyakan. Maksudnya agar para ulama disana menjawab dengannya atau dianggap kafir dan jika tidak bertaubat maka akan dibunuh.
Soal jawab ini dimuat dimajalah Ummul Qura, terbitan Makkah, bulan Syawal tahun 1344 H. Maka terjadilah keributan dikalangan muslim syi’ah maupun ahlus-sunnah karena mereka tahu dengan fatwa dari 15 ulama Madinah itu penghancuran bekas-bekas ahlul bait dan sahabat Rasulullah akan segera dilaksanakan. Dan pada 8 Syawal tahun itu juga mereka menghancurkannya
.
Berikut cuplikannya: Sulaiman bin Bulaihad dalam pertanyaannya mengatakan: Bagaimanakah pendapat ulama Madinah (semoga Allah menambah kefahaman dan ilmu mereka) mengenai membangun kuburan dan menjadikannya sebagai masjid, apakah boleh atau tidak? Jika ditanah waqaf seperti Baqi’ yang bangunannya mencegah untuk menggunakan bagian yang dibangun, apakah ini termasuk qashab yang harus segera dihilangkan, karena hal itu merupakan aniaya terhadap orang-orang yang berhak, dan menghalangi mereka dari haknya atau tidak?
Ulama Madinah dengan wajah ketakutan menjawab : Mendirikan bangunan menurut ijma’ hukumnya adalah terlarang bersandar pada hadits Ali dari Abul Hayyaj, Ali berkata: Aku menyeru engkau kepada suatu perbuatan dimana Rasulullah telah menyeru aku dengannya, yaitu tidaklah engkau melihat patung kecuali engkau musnahkan, dan kuburan yang menonjol kecuali hendaknya engkau ratakan (HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I).
Ada perbedaan pendapat mengenai hal ini, berdasarkan al-Qur’an surat al-Hajj 32: ..Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Dalam Majma’ Al-Bayan disebutkan sya’ir disini adalah tanda-tanda agama Allah, seperti halnya Shafa dan Marwah. Selain itu hadits ini dalalahnya (maknanya) juga tidak seperti yang difahami kaum wahabi saja. “Wa laa qabran musyrifan illa sawwaytahu”, as-Syarafu dalam al-Munjid diartikan sebagai ketinggian (seperti Punuk unta) sedang sawwaytahu berarti menyamakan / meratakan / meluruskan sesuatu yang miring. Jadi seperti penjelasan Imam Nawawi dalam syarah muslim “ Sunnahnya ialah, kuburan tidak terlalu ditinggikan dari atas tanah dan tidak dibentuk seperti punuk unta, akan tetapi ditinggikan satu jengkal. Jadi bukan dihancurkan sama sekali dan bukan merupakan dalil mengharamkan bangunan diatas kuburan.12
Dimasa sekarang hubungan Wahabi dan keluarga Saud, yang kini menjadi antek Amerika, tetap berjalan seperti dulu kala. Sedangkan dakwah Wahabi masih juga berkutat pada TBC (Tauhid, Bid’ah, dan Khurafat). Dalam kajian-kajiannya mereka senantiasa menghidupkan permasalahan-permasalahan ‘masa lalu’ seperti kesalahan –kesalahan kelompok Mu’tazilah, Syi’ah, Murji’ah dan sebagainya. Permasalahan-permasalahan semisal politik, ekonomi, dan semacamnya jangan pernah berharap akan dibahas dengan komprehensif, “sekarang yang diperbaiki akidahnya dulu, bagaimana mau berpolitik wong akidahnya masih rusak” kutipan dari salah seorang ustadz mereka. Jelas pernyataan ini masih perlu dibahas dan didiskusikan lebih lanjut.
Dan yang paling penting mereka sangat getol mengkritisi (atau lebih tepatnya menghujat) gerakan-gerakan Islam pada umumnya. Hizbut Tahrir mereka katakan Mu’tazilah Gaya Baru, Ikhwan al-Muslimin dikatakan sufi maupun ahlul-hawa, Jama’ah Tabligh dikatakan sufi gaya baru. Dari sisi analisa politik kami melihat bahwa hal ini tidak lepas dari peran keluarga Saud yang jelas tidak ingin kekuasaannya digantikan oleh gerakan Islam yang ingin menegakkan Negara Islam dan memanfaatkan Wahabi sebagai corong untuk mereka atau lebih jauh mereka mendapat “pesan” dari bosnya, A.S untuk melakukan langkah-langkah konkrit melawan “Islam Fundamentalis”. Dari sisi ide kami menilai kritik mereka memang harus ditempatkan sebagaimana mestinya, dinilai dari kekuatan argumentasinya, dan sudah banyak kitab yang menjawab kritik-kritik yang dilontarkan mereka.
Mafahim Yujib an-Thushahah yang ditulis, Syaikh Alwi al-Maliki membantah tulisan mereka tentang isu-isu tawasul, istighasah, maulud dan sebagainya, Hadits Ahad dalam Masalah Akidah yang ditulis oleh Dr. Fathi M. Salim, Fiqh al-ikhtilaf Yusuf Qardhawi yang juga mengkritik jama’ah-jama’ah lain selain Wahabi, ‘Abd al-Ghani an-Nabulusi, Al-Hadiqat an-nadiyya, h. 182, Istanbul, 1290. Ahmad Zaini Dahlan’, Ad-durar as-saniyya fi ‘r-raddi ‘ala ‘l-Wahhabiyya in Cairo in 1319 (1901 M) dan masih banyak lagi.
http://generasisalaf.files.wordpress.com/2012/11/large.png?w=300&h=192
Banyak laporan yang dikeluhkan umat dan gerakan Islam dengan keberadaan Salafy — demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Meski di kalangan Salafy sendiri terjadi perpecahan dalam menyikapi ijtihad tertentu, namun kebanyakan umat tidak memahami peta dan PEMIKIRAN SALAFI secara utuh
.
Bukan sekali terjadi, benturan antara Salafy dengan gerakan Islam yang ada. Sehingga menimbulkan gelombang penolakan. Di Lippo Cikarang, kajian Salafy terpaksa diliburkan selama sebulan, karena adanya tekanan (ancaman) dari kelompok tertentu untuk membubarkan halaqah ini. Kemudian di Matraman, Jakarta, pernah terjadi penyerbuan kelompok jamaah dzikir yang dipimpin oleh seorang Habaib, terhadap masjid jamaah Salafy.
Gelombang penolakan juga terjadi di luar Jawa, di Lombok Barat (NTB), sudah beberapa kali terjadi perusakan fasilitas milik ”penganut” Salafy oleh warga setempat. Akibat kesalahpahaman di kedua belah pihak, warga di Dusun Mesangguk, Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok, menyerang jamaah Salafy dengan lemparan batu. Sebelumnya, November 2005, ribuan warga Desa Sesela menyerbu Yayasan Pondok Pesantren Ubay bin Kaab di Dusun Kebon Lauk.
Ketua Komisi Pengkajian Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin mengaku bahwa Salafy pernah mendatanginya. Mereka meminta agar LPPI menjelaskan kepada masyarakat, bahwa Salafy bukanlah ajaran sesat.
Cara dakwah yang dilakukan kelompok Salafy, membuat umat Islam resah, dan mendesak MUI mengeluarkan fatwa tentang keberadaan Salafy. Sesatkah Salafy? ”Salafy bukan merupakan sekte atau aliran sesat. Salafy, tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh MUI. Demikian fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara tanggal 8 April 2009. Fatwa yang ditandatangani oleh Qoimuddien Thamsy (Ketua Umum MUI Jakarta Utara) dan Drs. Arif Muzakkir Manna, HI (Sekretaris Umum) tersebut, setidaknya melegakan kelompok Salafy.
Kendati Salafy bukan aliran sesat, Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amien menasihati aktivis Salafy, agar merubah cara dakwahnya menjadi lebih baik, dan memperbaiki sifat ananiyah madzhabiyah yang menganggap diri-kelompoknya paling benar dan mencela golongan lain yang menurutnya salah. ”Padahal, jika masih dalam skala ikhtilaf, tidak boleh asal menyalahkan., benar jika dikatakan Wahabi Sebagai Peta Bid’ah Dunia, Berbeda dengan Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas menyimpang, karena sudah menyangkut prinsip (akidah),” kata Kiai Ma’ruf.
Lebih lanjut, KH Ma’ruf Amien mengatakan, penyerangan warga terhadap jama’ah Salafy, terjadi akibat sifat egoisme kelompok ini yang suka menyalahkan golongan lain yang berbeda pandangan. ”Kelompok ini tidak mau toleransi dengan pemahaman yang berbeda dengan mazhab mereka, atau bisa di katakan WAHABI/SALAFI TIDAK MAMPU MENERIMA PERBEDAAN sehingga menyulut kemarahan warga,” tukasnya.
MUI Nusa Tenggara Barat (NTB) juga menyatakan, kelompok Salafy tak menyimpang dari ajaran Islam. Hanya saja, penyebaran ajaran ini tidak dikemas sesuai dengan kultur agama yang dianut warga setempat. ”Akibatnya, warga menjadi tersinggung dan anarkis,” ujar Sekretaris MUI NTB Tuan Guru Haji Mahaly Fikri.
KENAPA SALAFY – WAHABY DIKECAM ?
Lantas, apa yang membuat kelompok Salafy dikecam? Karena kelompok Salafy kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Inilah yang menimbulkan tenaga gelombang itu membesar.
Salafy acapkali mencela ulama seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Hasan al-Banna, Taqiyuddin An-Nabhani, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, ’Aidh al-Qarni, Yusuf al-Qaradhawi dan sebagainya. Sementara gerakan Islam yang diserang Salafy diantaranya: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, FIS Al-Jazair, tak terkecuali Persis, NU, Muhammadiyah, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan sebagainya.
Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Salafy. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khawarij, pemberontak, ruwaibidhah (dungu), ahlu takfir, gerakan sempalan sesat, serta teroris, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya.
Salafy punya julukan tersendiri terhadap gerakan Islam yang berseberangan dengannya. Seperti Quthbiy (penganut paham Sayyid Quthb), Sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-’Abidin yang menggabungkan paham Salafy dengan Ikhwanul Muslimin), dan hizbi atau hizbiyun (kelompok yang berorganisasi/partai).
Salafy yang merasa dirinya paling benar, sering menuduh tanpa bukti, berdusta atas nama para ulama dan sebagainya. Fitnah pun ditebar di tengah kaum muslimin.
Anehnya, ketika (ulama) Salafy dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya. Seabreg kecaman pun tertuju kepada Salafy, ketika kelompok ini anti bicara politik, tidak peka terhadap penderitaan kaum Muslimin, fanatik kepada para syaikhnya, keras menghukumi saudaranya sendiri.
Maling teriak maling, khawarij teriak khawarij. Seperti itulah yang digambarkan Abu Muhammad Waskito dalam bukunya yang berjudul: ”Wajah Salafy Ekstrim: Propaganda Menyebarkan Fitnah & Permusuhan”. Sebutan Salafy ekstrim, karena di antara mereka ada yang terjerumus dalam sikap ghuluw (melampaui batas). ”Jumlah mereka mungkin tidak terlalu banyak, kekuatan mereka juga tidak besar, tetapi suara mereka sangat keras dalam mengobarkan fitnah dan permusuhan,” tulis Waskito.
Yang lebih menyakitkan adalah, di saat warga Gaza dibantai Zionis Israel, ulama Salafy asal Saudi, Syaikh Shalih Al Luhaidan melarang umat berdemo. Bahkan menyebut pendemo itu sebagai khawarij. ”Demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat fasad fi Al Ardhi alias kerusakan di muka bumi,” kata Syeikh Shalih.
Sebelumnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (ulama Salafy) mengeluarkan fatwa agar kaum Muslimin Palestina hijrah untuk keluar meninggalkan bumi Palestina. Fatwa ini menuai kontroversi di tengah kaum Muslimin.
APALAGI ?
Dengan membabibuta, Salafy ”menyerang” Ikhwanul Muslimin dengan memelesetkannya menjadi Ikhwanul Muflisin (ikhwan yang boke alias tak punya uang). Aroma ”kebencian” pada Ikhwanul Muslimin mencuat tatkala pecah Perang Teluk Babak I. Adalah DR. Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, yang pertama kali menyusun buku berjudul ”Matha ’in Sayyid Quthb fi Ashab al Rasul” (Tikaman-tikaman Sayyid Quthb terhadap Para Sahabat Rasul). Rabi’ al Madkhali, bahkan mengkritik habis Fi Zhilal al-Qur’an (karya Sayyid Quthb).
Mantan Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib juga melontarkan cacimaki terhadap Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dengan menyebutnya sebagai ’aduwullah (musuh Allah) dan Yusuf al-Quraizhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani Quraizhah). Ja’far dikritik gurunya sendiri, Syeikh Muqbil di Yaman, yang mengganti celaan itu terhadap Qaradhawi dengan sebutan Yusuf al-Qaradha (Yusuf Sang Penggunting Syari’at Islam). Tak hanya itu, Hasan al Banna kerap disebut pelaku bid’ah yang akan berakhir di Neraka. Sayyid Quthb disebut pembawa ajaran sesat.
HOBI MENCELA
Tak dipungkiri, banyak umat Islam di Indonesia tak memahami Salafy secara utuh. Umat kadang terjebak dengan penampilan kaum Salafy. Sebagai contoh, sebuah acara Todays Dialogue di Metro TV (2 September 2008), tengah membicarakan topik: ”Islam Radikal Mau Ke mana? Acara itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Ustadz Ja’far Umar Thalib, Abdul Moqsith Ghozali (tokoh JIL), dan Nasir Abas (eks anggota JI). Abdul Moqsith Ghazali dan Nasir Abas mewakili pihak yang berseberangan dengan gerakan Islam ”radikal”. Sedangkan Ja’far diharapkan Metro TV menjadi penyeimbang yang mewakili gerakan Islam radikal. Ada skenario, narasumber itu akan dikonfrontasi.
Tapi apa yang terjadi? Ja’far Umar Thalib dalam dialog itu, tidak menunjukkan sikap ”radikal” seperti yang diharapkan Metro TV. Justru sebaliknya, Ja’far dengan berbagai statemennya malah menyerang ”teman seperjuangan”. Bahkan lebih galak ketimbang dua narasumber lainnya. Apa kata Ja’far tatkala ditanya tentang kelompok-kelompok ”Islam radikal” yang ingin berjuang menegakkan syariat Islam dan negara Islam? Dengan gamblang, Ja’far yang Salafy ini mengatakan,”kelompok-kelompok itu harus diberangus sampai ke akar-akarnya.” Bukan hanya pemirsa yang terkejut, Meutia Hafidh, sang pembawa acara pun bertanya keheranan, kenapa harus diberangus?
Ja’far kembali menjawab, dulu, Khalifah Ali bin Abi Thalib memberangus khawarij. Kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam disebut Ja’far sebagai Ahlul Bughot (pemberontak) karena itu wajib diberangus hingga akar-akarnya. Ja’far pun menyamakan pejuang syariat dengan khawarij, penerap doktrin takfir kepada penguasa Muslim.
Terakhir, dalam sebuah dialog di televisi swasta, Ja’far dijadikan narasumber untuk bicara tentang terorisme. Ia kembali menyerang Sayyid Quthb (tokoh Ikhwanul Muslimin), dan membela Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i. Ja’far mengatakan, semua bentuk radikalisme dan ekstrimisme muncul dari pemikiran Sayyid Quthb.
Yang menarik, adalah ketika terjadi perang pemikiran dalam bentuk buku. Awalnya, (alm) Imam Samudra menulis buku ”Aku Melawan Teroris!”. Seorang ustadz Salafy Abu Hamzah meresponnya dengan menulis pamflet ”Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris”. Selanjutnya, muncul buku bantahan yang berjudul ”Mereka adalah Teroris! Sebuah Tinjauan Syari’at”, ditulis oleh Luqman bin Muhammad Ba’abduh, seorang ulama Salafy Yamani dari Jawa Timur dan merupakan teman seperguruan Ja’far Umar Thalib. Setelah itu, juga terbit buku ”Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, buku yang juga bantahan terhadap Luqman Ba’abduh (Mereka adalah Teroris).
Menurut Ustadz Abduh Zulfidar Akaha Lc, buku ”Mereka adalah Teroris!” ternyata tidak sungguh-sungguh membantah Imam Samudra. ”Imam Samudra hanya dijadikan batu loncatan saja. Karena di balik itu, ada lebih dari satu orang yang diserang, baik ulama maupun gerakan Islam. Di dalam buku Mereka adalah Teroris, Luqman Ba’abduh menyebut nama-nama ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb sebagai teroris, Abdullah Azzam, pejuang Islam di Afghanistan, termasuk pula tokoh-tokoh Hamas seperti Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar-Rantisi dan sebagainya sebagai teroris Khawarij.” Intinya, tak ada penghormatan kelompok Salafy ekstrim terhadap ulama maupun mujahid di luar kelompoknya.
Keresahan umat Islam terhadap gerakan Salafy ekstrim di Indonesia, sebetulnya sudah muncul tatkala orang tua santri terkejut melihat putranya yang belajar di Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga, Semarang. Begitu pulang ke rumah saat liburan sekolah, anak-anak hasil didikan Ja’far Umar Thalib dan Yazid Abdul Qadir Jawwas itu, tiba-tiba mencopot gambar-gambar di dinding, membuang radio dan televisi dari rumah mereka. Sejumlah orang tua cemas akan hal ini, lantas mendatangi kantor cabang al-Irsyad di Tengaran, Semarang untuk menanyakan pola didik yang diterima anak-anak mereka. Orang tua juga menuntut cabang al Irsyad bertanggung jawab langsung terhadap pesantren, agar mengekang kecenderungan militan ini.
Kini, penyebaran paham Salafy berkembang melalui buku-buku agama, majalah, kaset, dan situs internet untuk mereka jadikan sebagai propaganda. Buku-buku, majalah dan internet adalah media lain yang mereka gunakan. Hal ini menimbulkan gelombang yang juga tidak kecil. Melengkapi penolakan-penolakan lainnya.
Mereka disokong dana yang cukup besar dari oknum Syekh Saudi Arabia. Suatu ketika pimpinan cabang NU pernah memohon kepada Menteri Agama Maftuh Batsuni agar menyampaikan satu hal kepada Pemerintah Saudi untuk tidak membagikan buku-buku agama kepada jamaah haji di airport, yang hendak pulang ke Tanah Air. Mengingat, buku itu, bertentangan dengan pemahaman agama yang ada di daerah tertentu, sehingga membuat masyarakat bingung, bahkan berubah. Atas laporan pimpinan cabang NU ini, Menteri Agama meminta Pemerintah Saudi tidak membagi-bagikan buku-buku agama, tapi cukup Al Qur’an dan terjemahan saja.
Alhasil, Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki —tak mesti Salafy— sudah pasti akan menghadapi gelombang penolakan. Tapi, kalau berdakwah dengan cara yang santun, masyarakat tentu akan menerimanya dengan lapang dada.(http://syiahali.wordpress.com/2012/12/page/3/)

Muchus Budi R. – detikNews
1376498_377800992352270_1126103473_nSolo – Ketua Umum PP Muhammadiyah menilai sejauh ini telah terjadi tindakan membahayakan yang terkesan membesarkan-besarkan perbedaan Sunni dengan Syiah yang berdampak pada konflik umat. Dia berharap negara segera hadir untuk menanganinya dan para ulama segera tampil sebagai penyejuk suasana.
“Jangan dibesar-besarkan, karena sesungguhnya tidak ada apa-apa tapi menjadi membahayakan jika terus diprovokasi. Saya minta negara segera hadir berperan untuk menangani masalah ini. Selain itu juga para ulama harus segera turun tangan,” kata Din kepada wartawan usai menghadiri penganugerahan gelar Doktor (HC) untuk Karni Ilyas di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (28/9/2013).
Para ulama dan memimpin umat, kata Din, harus segera tampil sebagai juru damai dengan mengedapankan semangat islah dan kerukunan atar umat. Dengan cara itulah persoalan yang dihadapi umat bisa segera diselesaikan sebelum menjadi besar.
Din juga menolak keras tindakan sebagian golongan yang mengafirkan golongan lain hanya karena berbeda aliran. Menurut Din, selama seseorang telah mengucapkan kalimat syahadat maka orang tersebut adalah seorang muslim yang dijamin keyakinannya itu oleh Allah SWT. Tidak pantas golongan lainnya menghujat dan menuduhnya sebagai seorang kafir.
Lebih lanjut Din Syamsudin, mengatakan bertolak dari dasar teologi paling dasar saja, selama seseorang sudah dengan ikhlas mengucapkan dua kalimat syahadat maka dia telah menjadi seorang muslim. Memang ada perkecualian pada kasus Ahmadiyah karena mereka mengakui ada nabi lain setelah Nabi Muhammad.
“Kalau Syiah ini kan tidak sampai mempertuhankan Ali atau mengangkat Ali sebagai Nabi. Memang dulu pernah berkembang Syiah yang keras dan cenderung sesat, tapi setahu saya tidak berkembang di sini,” papar Din.
“Keberadaan aliran-aliran ini kan jauh setelah Nabi wafat. Zaman Nabi tidak ada aliran seperti itu. Muhammadiyah juga tidak mengikuti Sunni maupun Syiah. Kita Islami. Bahkan kalau kita tilik dari sejarah, banyak pemikir, filsuf, ilmuwan muslim di masa lalu berasal dari kalangan Syiah,” lanjutnya.
n00335256-tWaspadalah Ideologi Ekstrimis Takfiri Ala Badui Najd Mulai Massif Yang Akan Mengganggu Kedamaian dan Menghancurkan kita sebagai Bangsa !!!! Intoleransi tak punya tempat dalam bangunan NKRI yang kokoh.
Polisi Republik Indonesia nampaknya perlu segera bertindak tegas, sebab ini penting supaya tidak terjadi genangan dan tangis darah di Republik Indonesia. Sebab salah satu anggota DPRD Karimun dari partai PKS (Partai Keadilan Sejahtera) nampaknya ingin menyatakan kalau dia dan orang-orang yang pemikiran keislamannya sama dengan dia saja yang berhak hidup di Republik Indonesia; sebuah sesat pikir dosis tinggi yang segera membangkitkan memori kengerian banyak Muslimin pada tingkah pola rezim jumud Taliban di Afghanistan dulunya.
Sebab, pengakuan jelas yang diungkap salah satu kader PKS, (Partai Islam?) yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Karimun periode 2009-2014 adalah bukti nyata dan valid yang bisa di telusuri oleh Polisi Republik Indonesia siapa dalang asli aksi teror berdarah-darah dan pembantaian berantai terorisme di tanah air.
Komarudin, [Komar Sahabatq, https://www.facebook.com/komar.sahabatq ] saat memberikan komentar pada salah satu berita Islam Times di sebuah forum Facebook pada 26 Desember 2013, bilang bahwa “Syiah layak dipenggal”, [https://www.facebook.com/groups/indoneSYIAH/545249335568880/?ref=notif&notif_t=group_comment ]
Tentu alasan dibalik pernyataan itu adalah keinginan Komarudin untuk menegakkan Khilafah as-Saudiyah Wahabiyah-Takfiriyah di bawah bendera dan kepemimpinan organisasi Takfiri bengis bentukan Osama bin Laden, al-Qaeda di Republik Indonesia.
Leader pembunuh jutaan muslimin, Osama bin Laden yang dipuji puja Anis Mata, Presiden PKS dalam sebuah puisi menjijikkan.
Dengan pernyataan rasis itu, Komarudin nampaknya ingin membangun sebuah logika – dan ingin orang banyak membelinya – kalau amuk massa, pembunuhan dan pembantaian diantara muslimin seperti di Afghanistan, pakistan dan Suriah terlalu kuasa dan perkasa bahkan di hadapan beratus-ratus ribu polisi di seluruh negeri dan seolah-olah tidak mampu dihadang.
Komarudin juga nampaknya ingin membangun kepercayaan kepada orang, kalau kian banyak muslimin di negeri ini yang hidup toleran, tenang dan tentram merupakan kegagalan misi, dan sebab itu perlu ada kobaran semangat dengan instruksi pemenggalan terhadap Muslimin Syiah di Indonesia.
Sebuah seruan lazim untuk menginfuskan dan menegakkan kembali ‘rasa takut’ kepada semua orang demi tegaknya Khilafah as-Saudiyah Wahabiyah-Takfiriyah, persis yang dilakukan Taliban dan al-Qaeda di Afghanistan, Pakistan dan belakangan di Suriah.
Tapi, Komarudin lupa kalau dunia saat ini sedang berputar cepat, kalau ketakutan orang banyak pada ancaman pemengalan, pemancungan dan mutilasi ada batasnya, dan ketika batas itu terlampaui, masyarakat akan berbalik melakukan perlawanan.
Dan Komarudin serta orang seperti Komarudin gagal membaca sejarah, kalau muslimin dan orang-orang Syiah selalu cinta damai, selalu hidup dalam damai dan mengajari kepada yang lain bagaimana kedamaian itu. Tapi orang Syiah juga diajari oleh Imam Husain as, cucu Nabi Muhammad Saw, bagaimana mempertahankan dirinya ketika diserang musuh-musuh Islam.
Jadi, tidak ada alasan bagi seorang Komarudin, kader PKS (Partai Keadilan Sosial) yang saat ini menggelapkan jutaan uang pajak rakyat untuk menunda-nunda hajatnya sebagaimana yang diungkap dalam pernyataannya diatas. Haihat minadzillah.
Pemerintah akan memantau kelompok-kelompok anti-Syiah di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur dengan “sangat serius”, Wakil Menteri Agama Prof. DR. Nasaruddin Umar memperingatkan.
https://satuislam.files.wordpress.com/2012/05/nasaruddin-umar_0.jpg?w=150&h=99Nasaruddin mengatakan bahwa melarang mazhab Syiah akan menjadi “masalah yang sangat serius”, dengan alasan bahwa negara-negara Muslim bahkan yang konservatif seperti Arab Saudi tidak melarang perbedaan denominasi/mazhab.
Gerakan anti Syi’ah sudah mulai tersistematis dengan banyak sponsor dan kepentingan di dalamnya, NKRI dan kedamaian antar umat dan sesama pemeluk mazhab adalah harga mati jangan sampai negeri ini terkoyak dan berdarah-darah hanya karena perbedaan mazhab. Kita tak ingin seperti Pakistan dimana sengketa mazhab menjadi ajang baru perang saudara dan pembantaian demi pembantaian terjadi setiap hari dan pemerintah tak mampu menemukan formula yang tepat dalam menyelesaikan konflik-konflik bernuasa sektarian tersebut.
Anarkhisme Sampang, Fatwa Sesat MUI Sampang, sampai yang terakhir MUSYAWARAH ‘ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2 di MASJID AL-FAJR, BANDUNG – JAWA BARAT, AHAD 30 JUMADAL AWWAL 1433/22 APRIL 2012“MERUMUSKAN LANGKAH STRATEGIS UNTUK MENYIKAPI PENYESATAN DAN PENGHINAAN PARA PENGANUT SYI’AH”.Sekitar 200 ulama dari berbagai daerah berkumpul di masjid Al Fajr-Kota Bandung,Ahad (22/4), menghadiri undangan Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) dalam acara Musyawarah ‘Ulama dan Ummat Islam Indonesia ke-2 dengan agenda “Merumuskan Langkah Strategis Untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syi’ah”. Ulama-ulama tersebut dari berbagai pesantren dan ormas Islam seperti Persis, Muhamadiyah, NU, Hidayatullah, Al Irsyad, DDII, PUI, termasuk MUI Pusat.Musyawarah ini juga dihadiri Wali Kota Bandung, Dada Rosada dan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawawan Lc. Hasil Musyawarah disepakati Hanya Ada Satu Kata Syi’ah Sesat dan di Luar Islam.
Indonesia sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar sangatlah strategis apabila tak diantisipasi sejak dini maka makar dan agenda tersembunyi Zionis dan Salibis Internasional untuk melemahkan Islam dari dalam cepat atau lambat pasti akan terjadi dengan tetap konsisten menyokong setiap gerakan yang menyulut perbedaan mazhab. Disintegrasi dan konflik yang lebih luas hanya tinggal menunggu waktu saja dan negeri ini akan menjadi negeri yang porak-poranda.
“Kita juga harus berhati-hati dengan masalah ini, karena dapat mengganggu hubungan kita dengan negara-negara seperti Iran, yang mayoritas warganya yang memeluk Islam Syiah,” katanya dalam menanggapi sentimen anti-Syiah di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Di Jawa Timur, beberapa ulama Sunni di Madura dan daerah lainnya di provinsi ini telah meminta pemerintah daerah untuk mengeluarkan peraturan yang membatasi penyebaran Islam Syiah, dengan alasan bahwa sekte tersebut “cocok” dengan kriteria sesat yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2007.
Desember lalu, ratusan orang membakar empat rumah, masjid dan fasilitas lain di sebuah Pondok Pesantren yang dikelola oleh Tajul Muluk, pemimpin Syiah di Sampang. Tajul sendiri sekarang menghadapi persidangan atas tuduhan “penistaan agama”.
Di Jawa Barat, ulama Sunni telah memperingatkan masyarakat untuk “mencegah” penyebaran Syiah di daerah tersebut.
Nasaruddin, dosen tafsir al-Quran, mengatakan bahwa sementara semua warga negara bebas untuk mengusulkan peraturan untuk pemerintah daerah, selama usulan peraturan tidak bertentangan dengan konstitusi.
Menanggapi keluhan dari peraturan yang membatasi ajaran agama, terutama orang-orang dari sekte Ahmadiyah, Kementerian Dalam Negeri telah mengatakan mereka tidak melanggar konstitusi dan undang-undang otonomi daerah.
Dihubungi secara terpisah, akademisi Muslim Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa pengikut Syiah selalu menjadi bagian dari sejarah Islam, dan mengatakan bahwa orang yang memperdebatkan keberadaan Syiah sebagai orang yang “tidak pernah belajar sejarah”.
“Pengikut Syiah di masa lalu banyak memberikan kontribusi kepada Islam, terutama dalam hal ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ulama Sunni, termasuk di Arab Saudi, tidak pernah memperdebatkan keberadaan mereka,” katanya.
Dia mendesak pemerintah untuk melindungi pengikut Syiah dari serangan apapun, dan mengatakan bahwa pemerintah harus menjaga kerukunan antar-iman dengan mencegah peraturan yang bisa menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj mengatakan bahwa sekalipun ajaran Syiah memiliki beberapa perbedaan dengan arus utama Islam di Indonesia, NU tidak akan pernah meminta pemerintah untuk melarang pengikut Syiah.
“Nabi Muhammad telah memperingatkan kita bahwa bagaimanapun juga kita tidak boleh bertengkar satu sama lain karena perbedaan-perbedaan kita,” kata kang Said kepada The Jakarta Post (Sabtu, 5 Mei 2012).
Prof. DR. Komaruddin Hidayat:
Iran dan Syiah Memiliki Kontribusi Besar dalam Peradaban Islam
https://satuislam.files.wordpress.com/2012/05/komaruddin.jpg?w=540“Siapa saja yang tidak mengakui keberadaan Syiah pada hakikatnya tidak memiliki pengenalan sedikitpun dengan sejarah Islam. Karena tidak satupun ulama Sunni yang mengingkari peran dan kontribusi besar Iran dalam peradaban Islam.”
Iran dan Syiah Memiliki Kontribusi Besar dalam Peradaban IslamMenurut Kantor Berita ABNA, Prof. DR. Komaruddin Hidayat pemikir dan cendekiawan muslim Indonesia yang juga menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak tahun 2006 dalam wawancaranya dengan wartawan the Jakarta Post menegaskan, “Siapa saja yang tidak mengakui keberadaan Syiah pada hakikatnya tidak memiliki pengenalan sedikitpun dengan sejarah Islam. Karena tidak satupun ulama Sunni yang mengingkari peran dan kontribusi besar Iran dalam peradaban Islam.”
KH. Said Aqil Siraj Ketua Umum PB Nahdatul Ulama menyatakan hal serupa dengan menyebutkan Syiah tidak bisa dipisahkan dari dunia Islam, Sunni dan Syiah menurutnya dua mazhab besar dalam Islam dan bersaudara sudah selayaknya saling berangkulan bukan bermusuhan, “Sesuai dengan pengajaran Nabi, perbedaan yang terdapat dalam tubuh umat Islam tidak layak dijadikan alasan untuk saling bermusuhan.”
Sementara itu Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA wakil Menteri Agama RI menyatakan ketidaksepakatannya atas permintaan sejumlah kelompok umat Islam yang meminta Syiah menjadi mazhab yang haram dan terlarang di Indonesia. Dalam sambutannya pada penyelenggaran Seminar “The Role and Contribution of Iranian to Islamic Civilization” awal Maret lalu mengakui peran dan kontribusi Iran dalam peradaban Islam, terutama pasca revolusi Iran tahun 1979, merupakan suatu kenyataan yang dicatat dalam sejarah, seperti aspek keagamaan, budaya, pembaharuan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan teknologi. “Pembaharuan pemikiran Islam yang dialami Iran menarik kajian berbagai kalangan, terutama para intelektual dan generasi muda, melalui penerjemahan buku-buku yang ditulis oleh para ulama dan cendekiawan muslim Iran sampai hari ini” tegasnya.
Menurut pengakuannya, sebagai paham keagamaan, Sunni dan Syi’i memang terdapat perbedaan di samping persamaan. “Namun untuk membangun hubungan yang harmonis dan kerukunan bersama, sepatutnya persamaan terus dikembangkan dan diperkuat, sementara perbedaan harus terus diminimalisasi dengan semangat ukhuwah Islamiyah” pesannya.
“Apa yang disebut dengan “Risalah Amman” (The Amman Massage) tanggal 9 November 2004 yang ditandatangani oleh ratusan ulama sedunia, agar dijadikan acuan hidup Sunni-Syi’i”, tegas beliau lebih lanjut.
Govt to keep an eye on alleged anti-Shiite movements
The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 05/03/2012 5:36 PM
The government will monitor anti-Shiite groups in the regions of West Java and East Java “very seriously”, Deputy Religious Affairs Minister Nasaruddin Umar has warned.
Nasaruddin said that outlawing the Shia sect would be “a very serious problem”, arguing that even conservative Muslim countries such as Saudi Arabia have never banned the denomination.
“We must also be very careful with this issue, because it may disturb our relations with countries like Iran, which has many citizens who follow the Shia teachings,” he said in response to anti-Shiite sentiments in West Java and East Java.
In East Java, several Sunni clerics in Madura and other areas in the province have asked the local administration to issue a regulation limiting the spread of Shia Islam, arguing that the sect matched the criteria for heresy issued by the Indonesian Ulema Council in 2007.
Last December, hundreds of people burned four houses, a prayer house and other facilities at a boarding school run by Tajul Muluk, a Shiite leader. Tajul is standing trial on blasphemy charges.
In West Java, Sunni clerics have warned people to avoid the spread of Shia Islam in the area.
Nasaruddin, a lecturer of Koran interpretation, said that while all citizens were free to propose regulations for local administrations, bylaws should not oppose the Constitution.
In response to complaints of bylaws restricting religious teachings, mainly those of the Ahmadiyah sect, the Home Ministry has said they do not violate the Constitution and the regional autonomy law.
Contacted separately, Muslim scholar Komaruddin Hidayat said that Shiite followers have always been a part of the history of Islam, citing that people debating their existence “had never studied history”.
“Shia followers in the past contributed a lot to Islam, in terms of knowledge. Therefore, Sunni ulema, particularly in Saudi Arabia, have never debated their existence,” he said.
He urged the government to protect Shia followers from any attack, saying that the government must preserve inter-faith harmony by avoiding bylaws that could destroy the nation’s unity.
Meanwhile, Nahdlatul Ulama (NU) executive board chairman Said Aqil Siradj said that while Shiite teachings differed from mainstream Islam in Indonesia, the NU has never asked the government to ban Shia followers.
“The Prophet Muhammad has told us that we must not fight each other regardless of our differences,” he told the Post. (asa)
Muhammad Ruslailang Noertika
851070036Organisasi Konferensi Islam (OKIhttp://www.oic-oci.org ) yang merupakan organisasi kerja samanegara-negara berpenduduk muslim di seluruh dunia, mengakui mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab yang sah dalam Islam. Itulah sebabnya, Muslim Syiah dibolehkan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah al-mukarramah [lppimakassar.net]
Di sela-sela lawatannya ke Timur Tengah, Dr Alwi Shihab, sosok yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri (Kabinet Abdurrahman Wahid) dan Menko Kesra (Kabinet SBY) dan juga pernah ditugaskan sebagai Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk wilayah Timur Tengah, memanfaatkan waktunya yang singkat dengan memberikan ceramah dalam pengajian bulanan KMMI (Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia) di Abu Dhabi pada tanggal 21-Desember 2013.
Bertempat di Aula Ahmad Soebardjo Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi, sejumlah lebih kurang 80 orang masyarakat Indonesia beserta keluarga antusias mendengarkan petuah dari tokoh senior Indonesia yang juga seorang politisi, agamawan, dan penulis buku terkenal “Islam Inklusif” ini. Berikut ini adalah uraian singkat ceramah beliau yang disarikan oleh Muhammad Ruslailang Noertika.
Hindari Sikap Mengkafirkan Sesama Muslim
Dr Alwi Shihab memulai ceramahnya dengan mengungkapkan bahwa baru-baru ini, sambil mengutip berita yang dilansir koran terkenal, bahwa NU dan Muhammadiyah telah menyerukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berhati-hati mengeluarkan fatwa yang menyatakan sesat kepada mazhab tertentu, dalam hal ini mazhab Syiah. Kehati-hatian ini diperlukan untuk menghindari konflik horizontal yang saat ini sering terjadi, termasuk kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok lain yang dianggap berbeda keyakinan. Kejadian yang menimpa komunitas muslim Syiah di Sampang Madura dan beberapa pengikut tarekat di Jawa contohnya adalah imbas dari perilaku yang merasa benar sendiri dan menghakimi umat lain sebagai sesat.
Beliau juga mencontohkan bahwa saat ini banyak media internet, juga media radioyang gemar mengabarkan perbedaan dan mengobarkan perpecahan di kalangan umat Islam. Padahal perbedaan yang ada hanyalah sedikit, hanya terpaut di masalah-masalah yang kecil, tidak sampai menyangkut hal-hal besar. Seperti Syiah dan Sunni, keduanya diakui sebagai mazhab dalam Islam. Dr Alwi Shihab menceritakan bahwa ketika beliau bersama Prof Quiraish Shihab menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, di sana mereka juga mempelajari mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab Islam. Kalau bukan mazhab yang diakui dalam Islam, tidak mungkin mereka diberi pelajaran mengenai mazhab tersebut. Karenanya, adalah hal yang kurang bijak sekiranya ada sekelompok orang yang kemudian memperkeruh persatuan Islam dengan menyebarkan issue-issue tentang sesatnya Syiah.
Islam mazhab Syiah tak jauh berbeda dengan islam mazhab Sunni. Mereka bersyahadat, zakat, salat menghadap kiblat, berhaji di Makkah dan hal-hal lain dikerjakan sebagaimana halnya umat Islam yang bermazhab Ahlus Sunnah. Adapun perbedaan-perbedaan yang ada, tidak usah diperuncing karena tak begitu signifikan. Debat antara ulama Sunni dan Syiah sudah berlangsung ribuan tahun, dan banyak yang dilaksanakan dengan cara yang santun sesuai akhlakul karimah. Para ulama yang berdebat itu tak pernah saling mengkafirkan apalagi menyebarkan dakwah yang menyatakan sesatnya mazhab yang lain. Karenanya kita, sebagai ummatnya tak boleh ikut-ikutan mengkafirkan sesama Muslim.
Konflik Sunni-Syiah Berlatar Politik
Ditengarai oleh beliau, bahwa meruncingnya eskalasi konflik horizontal antara Sunni dan Syiah yang terjadi dewasa ini di Indonesia dan beberapa tempat lain di dunia lebih dilatar belakangi oleh kepentingan politis. Dr Alwi Sihab, yang kini menjadi salah satu tim ahli dalam Fetzer Insitut (www.fetzer.org) – lembaga nirlaba yang berdiri di Michigan Amerika Serikat yang mengkampanyekan toleransi damai dan indah dengan slogannya “Love and Forgive”, mencontohkan bagaimana konstelasi hubungan Amerika Serikat dengan Saudi Arabia dan Iran. Menurut beliau, sebelum terjadinya revolusi Islam Iran oleh Ayatulah Khomeini tahun 1979, pemerintahan Iran yang dipimpin oleh Syah Reza Pahlevi dikenal berkarib dengan Amerika Serikat. Demikian juga dengan Kerajaan Saudi Arabia saat itu. Ketika kedua negara yang berbeda mazhab itu sama-sama menjadi negara sahabat Amerika Serikat, keduanya ikut bersahabat. Saudi Arabia yang wahabi bersahabat dengan Iran yang Syiah. Namun, sejak tahun 1979, keadaan berubah. Iran yang dipimpin Imam Khomeini menjadi musuh Amerika Serikat, sedangkan Saudi Arabia tetap menjalin persahabatan dengan Amerika Serikat. Sejak itu, juga hubungan kedua negara itu memanas. Kerajaan Saudi Arabia kemudian dikenal berkonfrontasi dengan pemerintah Iran. Jadi konflik yang ada kini disebabkan oleh politik.
Konflik politis antara Saudi dan Iran kemudian merembes ke persoalan mazhab. Kedua negara itu berupaya juga ikut memengaruhi negeri lain. Dalam satu kesempatan, Dr Alwi Shihab bercerita, ketika bertemu dengan wakil pemerintah Iran, ia menyatakan bahwa Iran sangat ingin menjalin persahabatan yang lebih erat dengan Indonesia. Demikian juga pemerintah Saudi Arabia. Masing-masing ingin agar Indonesia dekat dengan mereka karena keduanya memandang betapa pentingnya Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun, menurut Dr Alwi Shihab, Indonesia yang dikenal dunia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas islam yang moderate selayaknya memang bersahabat dengan semua negara Islam, tapi jangan sampai konflik politis yang terjadi di antara mereka juga ikut tertular ke negeri kita. Biarlah Indonesia menjadi negeri muslim yang damai, toleran sesuai dengan pedoman bernegara, Pancasila. Apa yang terjadi di Mesir, Pakistan dan negara lain yang terus menerus dirundung konflik, adalah karena ketiadaan pedoman yang diakui bersama. Kedua Negara itu tidak mempunyai alat pemersatu, Pakistan yang dahulu dikenal sebagai negara islam moderate kini tidak bisa lagi disebut moderate karena konflik horizontal yang dipicu oleh perseteruan politik dengan mengendarai issue antar mazhab. Demikian juga dengan Mesir yang kini mempunyai masalah dimana masyarakatnya terpecah menjadi dua antara yang sekuler dengan yang islamis karena Mesir tidak mempunyai alat pemersatu seperti Indonesia memiliki Pancasila, yang diakui oleh baik kaum agamawan maupun kelompok liberal sebagai dasar negara. Pancasila mempersatukan kita semua, karenanya kita harus merawat bersama-sama kondisi ini.
Ditambahkan oleh beliau, pemerintah Saudi Arabia juga sebenarnya tak bisa menganggap Syiah itu keluar dari Islam. Karena mayoritas penduduknya yang tinggal di kawasan timur seperti Dhahran, Dammam dihuni oleh muslim bermazhab Syiah sejak seribu atau ratusan tahun lalu. Kalau sekiranya pemerintah Saudi Arabia menganggap Syiah itu diluar Islam, maka itu bisa menimbulkan pemberontakan dari warganya itu. Juga ditambahkan, bahwa Organisasi Konferensi Islam (OKI http://www.oic-oci.org ) yang merupakan organisasi kerja sama negara-negara berpenduduk muslim di seluruh dunia, mengakui mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab yang sah dalam Islam (catatan: Iran, sebagai negara dengan pemeluk islam syiah terbesar menjadi anggota OKI sejak didirikan tahun 1969). Karenanya, Muslim Syiah dibolehkan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci.
Bangun Toleransi Melalui Pendidikan
Dr Alwi Shihab memberikan pandangannya, bahwa salah satu cara untuk meredam gejolak pengkafiran dari sebagian muslim kepada sesamanya adalah dengan melalui pendidikan. Dengan memberikan pemahaman yang baik dalam proses pendidikan tersebut, umat islam akan lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Meskipun diakui bahwa saat ini, kelompok-kelompok yang mudah mengkafirkan sesama muslim itu juga bercokol di institusi pendidikan, namun upaya terus menerus untuk menggerus sikap keliru dalam mengkafirkan orang lain itu bisa dimaksimalkan melalui pendidikan.
Dengan pendidikan, umat Islam akan diberikan wawasan yang luas dan bijak mengenai betapa indahnya Islam dalam keberagamannya, sehingga mereka akan saling menghormati dan menghargai seluruh mazhab yang diakui dalam Islam. Juga, dalam sesi tanya jawab dengan peserta, beliau mengakui bahwa pemerintah Indonesia juga perlu mengambil tindakan tegas untuk mencegah tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mudah mengkafirkan sesamanya. Hal ini diperlukan agar sikap intoleran tersebut dapat diredam secara cepat tanpa menyebar ke masyarakat lainnya. Mereka yang suka bertindak intoleran itu umumnya sedikit dibanding yang lain yang menjadi “silent majority”. Semoga dengan metode pendidikan yang mengedepankan akhlakul kharimah, umat yang “silent majority” menjadi tergugah untuk menyatakan sikapnya yang lebih bijak dan dewasa memandang perbedaan antar sesama umat Islam.
Abu Dhabi, 24 Desember 2013.
447875
Menurut Kantor Berita ABNA, Maulawi Ali Ahmad Salami, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Maulawi Nadzhir Ahmad adalah ulama besar Ahlus Sunnah Iran yang saat ini menjadi wakil rakyat yang duduk di Majelis Khubregan Rahbari delegasi Provinsi Sistan dan Bluchistan Republik Islam Iran. Beliau juga anggota perkumpulan ilmiah bidang fiqh dan huquq Hanafi di Universitas Mazahib Islami dan juga menjadi dosen senior di Hauzah Ilmiah Darul Ulum Zahedan. Diluar pendidikan resminya di Hauzah Ilmiah beliau pernah menimba ilmu secara khusus dari beberapa ulama Ahlus Sunnah terkemuka seperti Maulana Taj Muhammad Buzurqzadehdi Sarbaz, Maulana Mufti Muhammad Syafi’i ulama mufti Pakistan, MaulanaMuhammad Rafi Utsmani, Maulana Muhammad Taqi Utsmani, Maulana Syams al Haq, danMaulana Subhan Mahmud di Karachi Pakistan. Beliau juga mengantongi ijazahsarjana S2 dengan gelar master ekonomi Islam dari Universitas Karachi Pakistan.
Diantarabuku-buku yang menjadi buah karya beliau seperti, Tarikh Islam, Mahurhai Da’wat wa Tabligh [Seputar Dakwah dan Tabligh], Banwan Nemuneh AsrPayambar wa Sahabeh [Perempuan-perempuan Teladan di Masa Nabi dan Sahabat], Peristiwa Karbala dalam Pandangan Ulama Ahlus Sunnah, Hadiah untuk Kaum Muslimah dan banyak lagi lainnya. Selain menulis ratusan makalah ilmiah dengan berbagai tema dan pembahasan yang disampaikan dalam berbagai seminarnasional dan internasional. Dengan berbagai jabatan penting yang disandangnya dan aktivitas ilmiah yang dijalaninya, Syaikh Nadzhir Ahmad dikenal sebagai ulama Ahlus Sunnah terbaik dan cukup populer di Iran.
Dengan alasan tersebut, wartawan ABNA mengambil waktu disela-sela kesibukan beliauuntuk melakukan wawancara. Ditemui di ruang kerjanya sebagai wakil rakyat diTeheran, wartawan ABNA Ali Shakir mengajukan beberapa pertanyaan seputar pandangan Ulama Ahlus Sunnah mengenai sosok dan ketokohan Imam Ali as.
Berikut petikan wawancara tersebut:
ABNA: Bagi penganut Syiah khususnya kaum muda, memiliki informasi yang sangat terbatas mengenai bagaimana pandangan Ahlus Sunnah mengenai imam pertama mereka.Karenanya mohon dijelaskan bagaimana pandangan ulama Ahlus Sunnah mengenaisosok kepribadian dan keutamaan Imam Ali as dari sisi keimanan beliau, keadilan, keberanian, ibadah, pengabdian, jihad, pengorbanan dan kecintaan NabiMuhammad Saw kepada beliau?. Silahkan.
-Bismillahirrahmanirrahim,dan kepadaNya kita memohon pertolongan dan perlindungan. Jika dipersilahkansaya akan memulainya dengan menjelaskan pandangan ulama Ahlus Sunnah mengenai keluarga Nabi Saw secara keseluruhan lalu kemudian menyampaikan pandangan AhlusSunnah terkait kepribadian Sayyidina Ali ra secara khusus.
ABNA: Silahkan.
-Kecintaan kepada Ahlul Bait adalah bagian dari iman kami dan kami sangat memegang prinsip itu. Dalam shalat kami, kami mengirim salam kepada Nabi dan keluarganya. Dan salam itu tercantum dalam kitab-kitab shahih kami, dan shalat kami tanpadisertai dengan salam kepada keluarga Nabi, menjadi shalat yang rusak dan tidaksempurna. Shalawat yang kami wajib melafazkannya dalam shalat yaitu, ‫”اللهم صل علی محمد و علی آل محمد کما صلیت علی ابراهیم و علیآل ابراهیم انک حمید مجید، اللهم بارک علی محمد و علی آل محمد کما بارکت علیابراهیم و آل ابراهیم انک حمید مجید.” Do’a tersebut kami baca, baik dalam shalat berjama’ah, shalat sendiri, shalat malam dan lain-lainpada saat kami melakukan tasyahud akhir. Dalam shalawat tersebut kami mengirimkan salam kepada Nabi dan keluarganya.
Demikianpula pada khutbah Jum’at, shalawat kepada Nabi dan Ahlul Baitnya menjadi bagiandari khutbah Jum’at yang harus diucapkan dalam bahasa Arab. Khutbah Jum’at yangdisertai ucapan shalawat tersebut disampaikan di seluruh dunia Islam bukan hanya di Iran. Disetiap hari Jum’at di semua masjid Ahlus Sunnah khutbah Jum’at tidak dibacakan sebelum diawali dengan bacaan shalawat kepada Nabi dan AhlulBait. Jangan katakan, itu hanya diucapkan setelah terjadi revolusi Islam di Iran yang kemudian berubah menjadi pemerintahaan yang berasas mazhab Syiah, tidak. Melainkan sebelum revolusipun shalawat untuk Ahlul Bait sudah menjadibagian penting dalam khutbah Jum’at Ahlus Sunnah di Iran. Kami meyakini, AlHasan dan Al Husain adalah penghulu pemuda syuhada di Surga dan Sayyidah Fatimah adalah pemimpin kaum perempuan di Surga, dan itu telah menjadi keyakinan kami, dan sama sekali bukan karena terpengaruh atau dipengaruhi oleh ajaran Syiah.
Misalnya,mengenai kejadian tragis di Karbala yang menjadi penyebab syahidnya Maulana alHusain ra, ulama Ahlus Sunnah mengecam dan mengutuk peristiwa tersebut. Banyak kitab ulama Ahlus Sunnah yang telah ditulis berkenaan dengan peristiwa tersebut dan betapa mereka mengecam pembantaian keji tersebut. Diantaranya, ulama besarAhlus Sunnah Abu al Ali al Maududi, Syaikh Abu al Kalam Azad, Maulana Muhammad Syafi’i mufti besar Pakistan. Demikian pula dengan Maulana Mufti Muhammad Syafi’i yang menulis kitab “Syahid Karbala” dan pada bagian mukaddimah kitab tersebut beliau menulis, “Pada peristiwa tragedi Karbala bukan hanya umat manusia yang berduka dan bersedih namun juga bulan, mataharidan awan turut meneteskan air mata duka.”
Saya juga berada di garis ulama Ahlus Sunnah dan Syiah yang mengecam dan mengutukterjadinya peristiwa biadab tersebut. Saya telah membaca banyak buku dan makalah seputar kejadian tersebut dan dari penelitian tersebut saya menulis buku khusus mengenai tragedi Asyura dengan judul, “Seputar Tragedi Karbala”.
ABNA: Mengenai Imam Ali sendiri, bagaimana pendapat anda?
-Beliauadalah seorang ahli ibadah yang sangat mengagumkan, seorang pemberani, ahlitakwa dan dengan banyak lagi keutamaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dan semua keterangan mengenai hal tersebut diriwayatkan dalam kitab-kitab yang kami akui kesahihannya.
SayyidinaAli adalah menantu Nabi yang melaluinya keturunan Nabi berlanjut. Dan kami mengakui itu adalah sebuah keutamaan yang tidak dimiliki selainnya. Mengenai keilmuan dan kecerdasan beliau,r iwayat yang bersambung sanadnya sampai ke Nabi Saw, menyebutkan, “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya”. Selain itu kamipun mengakui bahwa yang paling menonjol kefakihan dan keilmuannya diantara para sahabat,adalah Sayyidina Ali radiallahu anhu.
Dalam perang Khaibar, Ali adalah pahlawannya, yang Nabi bersabda tentang beliau padahari sebelumnya bahwa beliau akan menyerahkan bendera pasukan ke tangan seseorang yang akan membebaskan Khaibar. Para sahabat menanti dan berharap salah satu dari merekalah yang diserahkan bendera itu, namun pagi harinya Nabi memanggil Ali yang meskipun saat itu sedang sakit mata. Nabi seketika menyembuhkan sakit Ali dan menyerahkan bendera kepempimpinan pasukan kepadaAli. Dan sebagaimana yang dikatakan Nabi, Ali dengan kekuatan, keberanian dan kepemimpinannya berhasil menaklukan musuh dan membebaskan Khaibar.
ABNA: Kami berkeyakinan surah Al Maidah ayat 55 diturunkan berkenaan dengan Imam Ali as, yang ketika turunnya ayat tersebut baru saja menyedekahkan cincinnya padaseorang fakir disaat beliau masih sedang dalam keadaan rukuk dalam shalatnya. Apakah anda juga meyakini demikian?
-Terdapat beberapa tafsir mengenai ayat tersebut. Dan salah satu misdaqnya bisa sajamemang Sayyidina Ali namun bisa juga misdaq yang lain, wallahu ‘alam. Namun yang pasti, kalaupun pendapat yang paling benar bahwa misdaqnya adalah Sayyidina Ali, itu tidak memberi pengaruh apa-apa pada keyakinan kami, dan jugatidak mesti membuat kami marah, sebab keyakinan kami mengatakan bahwa Sayyidina Ali ra memang memiliki kelayakan untuk mendapatkan keutamaan seperti itu.
Sebagaimana juga misalnya pada surah al Insan, yang disebutkan dalam salah satu riwayat bahwa surah tersebut turun berkenaan dengan Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah az Zahra beserta kedua puteranya, Hasan dan Husain yang saat itu sedang dalam keadaan berpuasa, namun menyedekahkan makanan buka puasa mereka pada orang yanglebih membutuhkan, dan itu terjadi tiga hari berturut-turut, pada hari pertama sajian buka puasa mereka diserahkan kepada seorang fakir, besoknya kepada anak yatim dan esoknya lagi pada seorang yang ditawan. Namun itu adalah salah satu riwayat penafsiran, yang juga masih memberi ruang pada penafsiran lain, terutama karena memang ada riwayat-riwayat lain yang menyebutkan misdaq ayattersebut bukan mereka. Namun, sebut saja surah tersebut memang menceritakan mengenai keutamaan Ahlul Bait, itupun justru menguatkan keyakinan kami, dan kami bangga dengan itu, bahwa ini menjadi hujjah bagi kami mencintai danmenghormati Ahlul Bait adalah sebuah keniscayaan pada agama ini.
ABNA: Namunkami melihat sebagian dari kelompok yang menyebut dirinya Ahlu Sunnah ketika disampaikan keutamaan Ahlul Bait, justru tampak rasa tidak suka dari mereka. Bahkan diantara mereka ada yang memungkirinya dan menyebut itu kedustaan–nauzubillah-. Bagaimana pendapat ulama Ahlus Sunnah terhadap mereka yangmelakukan pelecehan dan perendahan terhadap kemuliaan dan kesucian Imam Ali asatau Ahlul Bait lainnya?
-Saya berani menegaskan pada anda, bahwa jika ada Sunni yang menghina Ahlul Bait, dia bukan hanya tidak tergolong dari kalangan Ahlus Sunnah bahkan juga telah murtad dan keluar dari lingkaran Islam.
ABNA: Dalambeberapa kitab rujukan Ahlus Sunnah, seperti Tafsir Ruh al Ma’ani, SyarahNahjul Balaghah ibn al Hadid, Al Haafi Imam Syafii, Yanabi al Mawaddah alHanafi dan belasan kitab lainnya, diriwayatkan Sahabat Umar dalam beberapakesempatan pernah berkata, “Jika tidak ada Ali maka celakalah Umar.” Menurutanda, apa yang dimaksudkan beliau atas perkataannya tersebut?
-Dalam beberapa kejadian, Sayyidina Umar mengeluarkan pendapat dan keputusan yangsalah, namun Sayyidina Ali yang berada disisi beliau meluruskan pendapatnya itubahwa bukan demikian, sehingga Sayyidina Umar segera menerima dan meluruskan pendapatnya. Karena itu beliau berkata, “Jika tidak ada Ali maka saya akancelaka”.
ABNA: Apa ini tidak menunjukkan bahwa imam Ali as lebih berilmu dibanding sahabat Umar?
-Ya, perkatannya tersebut menunjukkan hal tersebut. Dan kami semua menerimanya. Dan tidak mungkin ada Ahlus Sunnah yang menolak hal tersebut. Namun bagi kami, inimenunjukkan keutamaan keduanya. Sayyidina Ali akan keilmuannya yang luas. Dan Sayyidina Umar akan kesigapannya untuk merujuk pada yang haq. Karena dua-duanyamemiliki keutamaan, karena itu kami menghormati keduanya, dan tidak mengecilkan salah satunya.
ABNA: Kami memiliki riwayat yang menyebutkan Nabi Muhammad Saw bersabda, “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali”, apa anda juga menerima dan  meyakini kebenaran riwayat tersebut?
-Ya, Ahlus Sunnah berkeyakinan, atas semua peristiwa yang terjadi antara SayyidinaAli dengan sahabat-sahabat yang lain, kebenaran bersama Sayyidina Ali. Misalnya, perselisihan antara Ali dan Muawiyah, dan perselisihan beliau dengan Ummul Mukminin Aisyah ra.
ABNA: Karena itu anda tidak berkeyakinan bahwa para sahabat itu maksum dan terjaga darikesalahan?
-Sebelumnya saya akan menjelaskan kepada anda, makna yang benar dari istilah Sahabat Nabi.S ahabat dalam pandangan mazhab kami adalah mereka yang bertemu dan melihat Rasulullah Saw, mengimani beliau sebagai Nabi dan utusan Allah SWT dan meninggal tetap dalam keimanannya tersebut. Sahabat kami akui dan yakini tidak maksum tetapi memiliki kehormatan. Mereka satu sama lain memiliki derajat yangberbeda, namun kami memandang mereka satu dalam penghormatan.
ABNA: Anda menerima dan mengakui keluasan dan ketinggian ilmu Imam Ali as dibanding sahabat-sahabat yang lain?
-Iya, sebelumnya juga sudah saya katakan, Nabi Muhammad Saw bersabda kepadasahabat-sahabatnya, “Yang paling hakim diantara kalian adalah Ali.” Dan tidak mungkin seseorang disebut paling hakim jika juga tidak memiliki ilmu yang sangat luas dibanding yang lain. Dan inilah keutamaan Sayyidina Ali, sebagai orang paling alim.
Namun saya katakan kepada anda. Sahabat yang lain juga memiliki keutamaan dari sisi yang lain. Misalnya Sayyidina Umar pada satu sisi tertentu dan Abu Bakar utama pada sisi yang lain. Dan seterusnya. Dan keluasan ilmu Sayyidina Ali adalah sesuatu yang telah pasti dan menunjukkan keutamaan beliau yang sangat besar.
ABNA:Apakah anda mengatakan dan memuji Imam Ali as saat ini, karena berhadapan dengan saya yang muslim Syiah?
-Tidak. Mengenai Sayyidina Ali tidak ada yang bisa diungkapkan kecuali kebaikan dan keutamaan saja. Setiap saya hendak berbicara mengenai Sayyidina Ali, yangkeluar dari lisan saya seluruhnya hanya kebaikan saja.
ABNA: Jika anda berbicara diatas mimbar, dan pendengar anda ada jama’ah dari Sunni dan juga ada yang Syiah, apakah anda tetap mengatakan apa yang baru saja katakan mengenai Imam Ali as?
-Saya tidak punya pengetahuan mengenai Sayyidina Ali kecuali kebaikannya. Karenanya tentu saja dimanapun, dan siapapun yang mendengarkan penyampaianku saya hanya akan berbicara tentang apa yang saya ketahui dari Sayyidina Ali, dan semuanya itu hanya kebaikan dan kebaikan saja. Saya bahkan punya kisah menarik mengenai ini.
ABNA: Silahkan anda ceritakan.
-Suatu malam saya bersama beberapa ruhaniawan dari kalangan Syiah dan Sunni Zahedan dalam sebuah perjalanan. Kami tiba di Sirkhan dan menjadi tamu warga setempat. Saya pun mengusulkan, untuk mengisi waktu, sehabis makan, satu teman dari Syiah dan satu dari Sunni untuk menyampaikan ceramah. Yang terpilih mewakili teman-teman Sunni adalah saya. Dan ketika tiba giliran saya untuk berceramah, saya menyampaikan sikap dan pendirian Ahlus Sunnah tentang Ahlul Bait. Dan apa yang saya katakan pada malam itu, adalah juga yang telah saya sampaikan kepada anda. Sehabis ceramah, yang juga dihadiri warga setempat, mereka mendatangi dan mendekat kepada saya. Diantaranya ada yang bertanya, “Benarkah aqidah anda mengenai Ahlul Bait demikian, sebagaimana yang anda sampaikan tadi?”. Saya jawab, “Bukan hanya aqidah saya, tapi aqidah semua Ahlus Sunnah dipenjuru dunia. Dan sayaberani bersumpah demi Allah untuk memperkuat persaksian saya.”
Nah,apa yang anda khawatirkan tadi mengenai saya, bahkan telah saya lakukan. Jika anda bersedia, menyediakan sebuah majelis yang semuanya adalah muslim Syiah, saya akan datang dan berbicara mengenai keutamaan Ahlul Bait dan Sayyidina Ali secara khusus dalam pandangan Ahlus Sunnah.
ABNA: Apayang semua anda katakan tadi mengenai keutamaan dan fadhilah Ahlul Bait adalahjuga menjadi keyakinan muslim Syiah. Namun mengapa saat ini yang terjadi di Pakistan, Irak, Suriah, Bahrain dan sebagian di Iran dan Afghanistan kita melihat kenyataan pahit adanya aksi kekerasan dan pembunuhan yang dialami oleh warga muslim Syiah. Bahkan kita mendengar adanya fatwa dari ulama Ahlus Sunnah bahwa membunuh orang Syiah akan memudahkan jalannya menuju surga. Apakah hal tersebut memiliki dasar dalam Islam? Apakah Islam mengajarkan membunuh sesama muslim dapat mengantarkan seseorang menuju surga?
-Saya meyakini, tidak ada kelompok Islam yang berkeyakinan seperti itu. Kelompok ekstrimis yang membunuhi orang-orang muslim Syiah misalnya dari kelompokSepah Sahabeh Pakistan atau Jabhah al Nasrah Syam, meskipun mereka meyakini apa yang mereka lakukan itu diganjari pahala atau yang mereka lakukan itu adalah sunnah yang dianjurkan namun itu keyakinan dusta. Tidak bisa disandarkan pada Islam dan tidak ada Sunnah yang mengajarkan seperti itu.
Kita punya riwayat, bahwa Nabi Muhammad Saw sebelum mengutus para Mujahidin ke medan jihad beliau memesankan kepada mereka, bahwa jika mereka memasuki suatu desa yang disitu diperdengarkan azan maka tidak diperkenankan untuk menyerang danmerusak desa itu, meskipun disitu hanya ada satu orang yang muslim, apalagi kalau memang itu wilayah muslim. Jika ada yang berkeyakinan membunuh sesama muslim dapat menyebabkan masuk ke surga maka itu bukan keyakinan Islam,melainkan keyakinan yang bersumber dari khurafat. Keyakinan itu tidak memiliki dasar sama sekali dalam agama ini baik dalam hukum syar’i maupun aqidah. Hanya angan-angan dan khufarat saja. Saya yakin mereka hanya orang-orang jahil yang dimanfaatkan untuk memecah belah kaum muslimin untuk kepentingan musuh-musuhIslam.
ABNA: Jadi keyakinan membunuh muslim Syiah itu bisa mengantarkan ke surga digali dari khurafat saja dan tidak bersumber dari ajaran Islam?
-Iya, khurafat. Bahkan saya berkeyakinan, yang memiliki keyakinan seperti itu telah keluar dari golongan muslim.
ABNA: Jadi tragedi-tragedi yang kita lihat. Peledakan bom di wilayah komunitas Syiah, bahkan ditengah majelis-majelis dan shalat yang muslim Syiah lakukan, video yang menampilkan adegan memenggal kepala, mengunyah jantung sambil bertakbir, bagaimana anda menjelaskan itu?
-Kelompokyang melakukan itu tidak bisa mengklaim diri berasal dari barisan muslim. Kalaupun mereka muslim, mereka adalah muslim yang jahil. Saya meyakini mereka dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melakukan itu, sehingga mencoreng wajah Islam dimata masyarakat dunia. Merekapun menjadi punya bukti bahwa memang orang Islam itu beringas dan gemar membunuh satu sama lain.
Sekali lagi saya tegaskan, bahwa barang siapa yang berkeyakinan membunuh muslim Syiah dengan alasan karena bermazhab Syiah dan itu berbuah pahala, maka telah keluar dari barisan kaum muslimin.
ABNA: Menurut anda sendiri, bagaimana keterkaitan aksi-aksi terror dan kekerasan tersebut dengan musuh abadi umat Islam yaitu Israel?
-Iya,bagi mereka yang melakukan hal-hal yang justru menguntungkan pihak musuh yaitu AS dan Israel maka secara langsung mereka teleh berkhidmat kepada musuh.
ABNA: Namun apa yang anda katakan dan yakini ini bertentangan dengan ulama-ulama AhlusSunnah semisal yang berasal dari Arab Saudi. Mereka berkeyakinan Syiah itu telah kafir dan halal darahnya untuk ditumpahkan. Bagaimana anda menjelaskan ini?
-Tentu itu lebih banyak berkaitan dengan kepentingan politik, tapi saya tidak akan menyinggung itu, namun dari sisi syar’i saya katakan, tidak ada satu pun kelompok Islam di dunia ini dan masa sekarang yang menamakan diri merekaWahabi. Di masa-masa akhir abad pertama dan diawal abad kedua Hijriah, di benua Afrika, seseorang bernama Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum, muncul sebagai pribadi yang terkenal, manhaj dan pemikirannya dari sekte Khawarij. Pengikutnya menamakan diri mereka Wahabi, yang maksudnya adalah pengikut Abdul Wahab. Mereka berkeyakinan selain dari kelompok mereka bukanlah termasuk muslim, dan mereka merubuhkan masjid yang bukan masjid yang mereka bangun. Namun kelompok Wahabi tersebut telah punah dan kehabisan pengikut sebelum pertengahan kurun kedua dan sekarang sama sekali tidak lagi memiliki peninggalan dan bekas apapun.
ABNA: Namun bagaimana dengan kelompok Wahabi yang dikenal masa sekarang? Bagaimana anda menjelaskan?
-Merekayang kita sebut dan kenal sebagai Wahabi saat ini tidak pernah menamakan diri mereka Wahabi, mereka lebih sering menyebut diri mereka dengan sebutan Salafi.Secara lughawi kami dan kalian adalah sama-sama Salafi. Karena Salafiyun artinya yang mengikuti para Salafush Saleh, yaitu orang-orang terdahulu yangsaleh. Sunni maupun Syiah, semuanya mengikuti orang-orang saleh terdahulu dari kalangan mereka. Karena secara bahasa, kita semua adalah Salafi. Namun Salafi secara istilah akan saya jelaskan.
Pada kurun kedua, disaat keilmuan umat Islam mencapai kejayaannya,kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadits marak ditulis para ulama, musuh Islam justru hendak mengacaukan keilmuan umat Islam. Mereka memasukkan pengaruh Filsafat Yunani kedalam ilmu-ilmu Islam, dan mensyarah ilmu-ilmu Islam denganmerujuk pada pandangan Filsafat Yunani. Mereka melakukan itu sampai pada tahap mengkritisi Al-Qur’an dan Hadits dan menyampaikan kelemahan-kelemahannya. Misalnya mereka mengatakan, “Al-Qur’an kamu menyebutkan Tuhan itu memiliki tangan, Tuhan itu bersemayam di atas Arsy, dan sebagainya yang menunjukkanbahwa Tuhan itu wujud materi dan terbatas. Dengan demikian Tuhan itu diadakan,sementara Tuhan diklaim sebagai Pencipta segala sesuatu dan tidak ada yangmengadakan. Mereka dengan argumen akal itu hendak merusak sumber rujukan Islamyaitu Al-Qur’an dan Hadits, setidaknya mengurangi keutamaan dan nilai besarnyadalam pandangan umat Islam.
Menghadapi mereka, ulama Islam terbagi atas dua kelompok. Pertama,kelompok para ulama yang dalam menghadapi syubhat mereka hanya mendiamkan saja. Misalnya mereka berkata, “Ya memang benar Tuhan itu memiliki tangan, bersemayam di atas Arsy, dan sebagainya namun kami tidak mengetahui bagaimananya. Karena Al-Qur’an dan Hadits secara dzahir menyebutkan demikian maka kami tidak mungkinakan mengingkarinya. Kami meyakini Tuhan memiliki tangan, namun tangan Tuhan bagaimana bentuknya? Wajah Tuhan bagaimana? Serta bagaimana posisi duduk Tuhan di atas Arsy dan seterusnya bukan pengkajian kami. Kami hanya meyakini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah dan tidak punya wewenang untuk menakwilkan apalagi sampai mengingkarinya. Kelompok pertama inilah yangdisebut dan menamakan diri dengan Salafi.
Misalnya Imam Malik bin Anas ketika ditanya, “Bagaimana Allah istawa di atas Arsy?” maka beliau menjawab, “Allah istawa di atas Arsy adalah haq dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.” Yaitu pertanyaan, tentang bagaimanaAllah istawa diatas Arsy adalah pertanyaan yang sia-sia. Bagi mereka, bagaimana Allah istawa itu tidak penting, namun mengimaninya wajib hukumnya. Dan sudah pasti mengimaninya adalah sesuatu yang benar.
Kelompok kedua, adalah ulama yang menakwilkan hal-hal mutasyabihat tersebut. Misalnya mereka mengatakan, yang dimaksud dengan Tangan Tuhan adalah kekuasaan. Maksud Tuhan bersemayam diatas Arsy yaitu Tuhan mengontrol dan menguasai segala alam semesta beserta isinya. Yaitu, Tuhan bukanlah sebagaimana makhluk yang memiliki bagian-bagian tubuh, Dia adalah pencipta alam semesta dan segala maujud yang ada, dan Dia pula yang mengatur dan menguasainya, sehinggatidak mungkin dibatasi oleh materi yang diciptakannya.
Dengan adanya pengaruh dari filsafat Yunani tersebut, umat Islamterbagi dua, Salafi dan non Salafi. Mereka yang menolak takwil menyebut diri Salafi dan yang memberlakukan takwil dikenal sebagai kelompok Non Salafi. Aqidah Salafi adalah kami meyakini dan mengimani apa yang disampaikan Al-Qur’an dan Hadits yang shahih dan mempertanyakan tentang bagaimananya adalah kesia-siaan. Meskipun bagaimananya bagi kami tidak jelas namun kami tetap mengimaninya.”
Salafi kemudian terbagi lagi atas beberapa firqah, diantaranya adalah Wahabi. Wahabi inilah kelompok yang paling jahil dan paling bengkok pemahamannya dari kalangan Salafi.
ABNA: Apa kemudian kaitannya,antara adanya ikhtilaf dan perbedaan pemahaman itu dengan apa yang terjadi saat ini?
-Kaum muslimin dunia, jika kita hendak membaginya maka menurut saya terbagi atas tiga kelompok:
Pertama, kelompok literalis. Yaitu mereka yang mengimani dan memahami apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan apa yang tertulis dan tersampaikan, yang kemudian merekapun mengamalkan apa yang mereka yakini itu. Mereka yang berada dalam kelompok ini, dari sisi keilmuan sangat rendah dan jahil. Mereka dapat dengan mudah mengkafirkan atau menganggap sesat kelompok Islam yang berbeda pemahaman dengan mereka. Meskipun mereka menyebut dan mengklaim diri sebagai Salafi, kami mengenal mereka dengan sebutan Wahabi. Mereka hanya memperhatikan apa yangtersurat dari ayat dan hadits, dan cara mereka menafsirkan dan memahami agama tidak jauh beda dengan apa yang kita kenal sebagai Wahabi di kurun kedua.
Kedua, kelompok nash dan aqli. Mayoritas kaum muslimin di duniaIslam berada di dalam kelompok ini. Mereka mengamalkan nash sebagaimana kelompok pertama namun tidak hanya sepenuhnya bergantung pada lahiriah teks melainkan juga menyandarkannya bagaimana Nabi menafsirkannya, bagaimana sahabat memahami dan mengamalkannya, bagaimana para imam mazhab menjadikannya sumber hokum dan disisi lain merekapun menggunakan akal sebagai alat bantu dalam memahaminya. Aktivitas mereka yang berada di kelompok ini lebih disibukkan dengankegiatan-kegiatan ilmiah, mengajar, tabligh, tarbiyah, berdakwah, penulisan, penelitian dan tidak memiliki perhatian yang besar terhadap mesti berdirinya hukumah Islamiyah. Prinsip mereka, dengan memperkenalkan pentingnya pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari akan membuat masyarakat suatu waktu akan menegakkan sendiri pemerintahan Islam itu. Pemerintahan Islam bagi kelompok ini bukanlah prioritas utama.
Ketiga, kelompok nash, aqli dan siyasah. Secara aqidah mereka sama dengan kelpmpok kedua namun prioritas utama mereka adalah penegakanpemerintahan Islam. Kelompok ini lahir sekitar 130 tahun lalu. Diantara tokohyang terkenal dari kelompok ini adalah Sayyid Jamaluddin al Afghani beserta muridnya Muhammad Abduh. Setelah itu Allamah Rasyid Ridha, Syaikh Hasan alBanna, kelompok Ikhwanul Muslimin, Sayyid Qutb, Sayyid Abul ‘ala Mauludi sampai Imam Khomenei rahmatullah ‘alaihi. Merekabersungguh-sungguh memperjuangkan tegaknya pemerintahan Islam sebagai prioritas utama dakwah dan pergerakan mereka.
Sekarang, dengan mengenal ketiga kelompok ini, maka jelas perselisihan dan tragedi memilukan yang terus terjadi di dalam tubuh umat Islam karena keberadaan kelompok pertama, yang sadar atau tidak telah ditunggangi oleh kepentingan musuh.
ABNA: Penduduk sipil Suriah yang tidak berdosa telah menjadi korban kebiadaban dan kekejian kelompok teroris yang didukung dan didanai oleh AS dan Israel, darah mereka ditumpahkan tanpa alasan, dan tubuh-tubuh mereka ibarat mainan yang dijadikan obyek fitnah, bagaimana pandangan anda sebagai ulama Ahlus Sunnah menyikapi hal tersebut?
-Ulama Ahlus Sunnah memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenaihal ini. Sebagian mendukung kelompok oposisi sebagian lagi mendukung pemerintahan Suriah.
ABNA: Bagaimana menurut pendapatpribadi anda mengenai serangan militer yang diberlakukan atas Suriah?
-Pendapat pribadi saya, apapun pergerakan yang menguntungkanAmerika dan Israel dan memberi manfaat pada kepentingan-kepentingan mereka terutama jika itu lebih memperkuat eksistensi dan pengaruh AS dan Israel di Timur Tengah secara khusus dan dunia Islam secara umum maka saya mengecamnya. Kami tidak pernah mengizinkan adanya serangan militer ke Negara yang berdaulat. Kami tidak pernah menyepakati adanya serangan militer yang ditujukan atas Suriah,Pakistan dan Afghanistan. Islampun tidak membolehkan hal tersebut. Terlebih lagi,di Negara-negara tersebut yang menjadi korban paling banyak dirasakan olehrakyat sipil yang tidak berdosa.
Yang paling banyak ambil andil dalam kekerasan dan pembunuhan yangtengah terjadi di daerah-daerah konflik adalah kelompok al Qaedah. Menurut hukum syar’i mereka layak dikecam. Islam tidak pernah membolehkan apa yang tengahmereka lakukan dengan aksi-aksi teror mereka. Islam jika memberlakukan jihad, memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi, jika tidak maka bukan jihad namanya. Jihad adalah peperangan melawan kaum kuffar bukan sesama kaum muslimin.
ABNA: Pendapat anda sendiri mengenai jihad nikah bagaimana?
-Pertama dari sisi bahasa saja, istilah jihad nikah tidak tepat, karena jihad adalah peperangan melawan kaum kuffar bukan dengan kaum muslimin. Kedua secara istilah, nikah jihad melenceng dari syariat. Dalam Islam tidak ada istilah jihad nikah. Perempuan yang menyerahkan dirinya dengan mengatas namakan jihad nikah untuk memenuhi nafsu kelompok oposisi tersebut sama halnya membinasakan dirinya sendiri.
ABNA: Mengenai makam-makam keluarga Nabi dan sahabat-sahabatnya di Suriah yang dirusak oleh kelompok oposisi apa itu memiliki dasar dalam ajaran Islam?
-Jika memang benar itu pengrusakan tempat-tempat suci tersebut dilakukan oleh kelompok Salafi maka menurut keyakinan mereka yang hanya berdasarkan pada lahiriah teks dan mengandalkan dugaan belaka maka itu perbuatan benar dan dianjurkan dalam Islam versi mereka. Karena mereka meyakini membangun bangunan diatas kuburan tidak bisa dibenarkan dan harus dirubuhkan. Mereka mengatakan punya riwayat dan hujjah yang membenarkan perbuatan mereka untuk menghancurkan bangunan yang dibangun diatas kuburan.
Namun kaum muslimin yang berbeda pandangan dengan mereka juga ada,dan lebih banyak. Bahwa membangun bangunan diatas makam-makam para wali adalah bentuk pemuliaan dan penghormatan terhadap tokoh-tokoh besar Islam tersebut. Dan keyakinan mereka ini juga harus dihargai dan dihormati. Karenanya tindakan Salafi tidak bisa dibenarkan. Mereka tidak boleh menghancurkan bangunan yang dibangun oleh kelompok yang meyakini itu sebagai keutamaan.
ABNA: Anda mengatakan bahwa AhlusSunnah juga menghormati dan memuliakan Imam Husain as. Karenanya sudah menjadi keniscayaan penghormatan dan pemuliaan juga harus ditujukan kepada anak keturunan beliau. Namun kita lihat realitas yang terjadi, para pemberontak Suriah justru menyerang dan merusak makam Hadhrat Zainab, Sukainah, dan Ruqayyah yang merupakan keturunan Imam Husain as, apa menurut anda itu bukan penghinaan terhadap pribadi Nabi Muhammad Saw dan Imam Husain as?
-Iya demikianlah. Menyerang dan merusak makam keturunan Nabi Saw bukan hanya tidak diperbolehkan tapi juga haram secara syar’i, begitu juga makam muslim-muslim lainnya. Masyarakat setempat mendirikan bangunan dimakam-makam suci tersebut sebagai bentuk penghormatan yang berdasarkan dari keyakinan mereka yang juga memiliki sumber dan hujjah yang kuat, karenanya harus dihormati. Dalam Al-Qur’an disebutkan adanya larangan untuk tidak menghina dan menjelek-jelekkan berhala yang disembah dan dijadikan tuhan oleh orang-orang musyrik karena itu akan memancing mereka untuk juga menghina AllahSwt dan Islam. Karenanya sangat tidak dibenarkan apa yang telah dilakukankelompok oposisi di Suriah yang merusak makam, masjid dan tempat-tempat yangd imuliakan kaum muslimin.
ABNA: Pengrusakan yang dilakukankelompok Salafi atau Wahabi bukan hanya di Suriah namun juga di kota Madinah. Apa penjelasan anda mengenai apa yang dilakukan pemerintahan Saudi terhadap pemakaman Baqi?
-Mereka melakukan itu karena mereka mereka meyakini riwayat yang menyebutkan jangan mendirikan bangunan di atas kuburan, karenanya meruntuhkan bangunan yang dibangun diatas kuburan bagi mereka bukan penghinaan melainkan keharusan agama. Inilah yang saya katakana tadi bahwa mereka memahami teks agama berdasarkan penalaran mereka belaka. Sebab dimasa Kekhalifaan Utsmaniah, bukan hanya makam suci keluarga dan keturunan Nabi yang dibuatkan bangunan dan kubah, juga para syuhada perang Badar. Namun ketika Madinah jatuh di bawahpenguasaan Salafi/Wahabi mereka merusak semua bangunan itu. Meskipun umat Islam sedunia memprotes apa yang mereka lakukan, mereka tetap saja melanjutkan pengrusakan sampai pemakaman Baqi rata dengan tanah.
Bagi kami apa yang mereka lakukan itu tidak bisa dibenarkan. Peninggalan-peninggalanIslam harus dijaga karena itu warisan yang berkisah tentang masa lalu yang sangat bermanfaat dan memberi pengaruh besar bagi generasi kemudian. Makam adalah peninggalan terakhir dan kenangan dari orang yang pernah hidup sebelumnya karenanya makam harus dikenali dan dijaga supaya ingatan tentangnya bisa terus membekas, bukan malah dirusak dan dihancurkan. Namun melihat kondisi pemakaman Baqi saat ini, kita sungguh sangat miris, kita tidak bisa mengenali secara pasti dari makam-makam itu.
ABNA: Pemimpin Besar RevolusiIslam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamanei menegaskan karena Imam Ali bin Abi Thalib as diakui keutamaannya oleh semua mazhab dalam Islam, baik itu Sunni maupun Syiah karenanya beliau semestinya dijadikan sebagai poros persatuan umatIslam. Menurut anda sendiri bagaimana?
-Apa yang beliau katakan itu sangat tepat. Dan jika benar-benar terjadi dan diamalkan, akan sangat banyak perbedaan dan perselisihan yangterjadi di antara kaum muslimin akan terselesaikan. Kami Ahlus Sunnah meyakini Sayyidina Ali dan semua Ahlul bait memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia. Namun kami juga berharap, sebagaimana Sayyidina Ali ra yang memberi dukungan dan penghormatan kepada tiga khalifah sebelumnya, saudara-saudara kami dari muslim Syiah juga melakukan hal yang sama. Jika itu yang terjadi, saya yakin meskipun semua perbedaan tidak bisa dituntaskan, setidaknya mampu menimimalisir perbedaan yang ada dan menciptakan kondisi yang sangat baik bagi terwujudnya persatuan kaum muslimin, dan bisa bekerjasama dalam suasana yang penuhpenghormatan dan saling memahami.
ABNA: Pembicaraan dengan anda yang sarat dengan ilmu,  argumen yang logis dan saran-saran yang konstruktik menjadi pembicaraan ini sangat menyenangkan bagi saya.
-Terimakasih. Saya pernah mengajar di Universitas Adyan kota Qom. Suasana persahabatan dan persaudaraan benar-benar sangat saya rasakan selama berada diQom. Sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Sebelumnya informasi yang saya dapatkan, Qom yang semuanya muslim Syiah adalah Syiah yang ekstrim yang hatta mendengar kata Umar disebutkan mereka akan marah dan memukul yang menyebutkan nama itu. Dan itu tidak saya temukan dikota itu.
ABNA: Terimakasih atas waktu yang telah anda luangkan untuk pembicaraan yang hangat dan sangat bermanfaat ini.
//
972346_1409477352601607_1005496841_nSIAPAKAH WAHABI ???
Wahabi adalah Khawarijnya umat ini dan mereka kelak akan bersama DAJJAL
Wahabi itu adalah mazhab plintir sana plintir sini dan akhirnya mereka akan diplintir bersama DAJJAL
Segera saja kita terbitkan buku saku dan dibagikan gratis bahwa sebuah kajian ilmiyah tentang WAHABI kelak akan menjadi pengikut DAJJAL
Slogan kembali kepada Kitabullah adalah jargon mereka untuk menipu umat seperti yg disebutkan dalam beberapa hadis dan sesungguhnya WAHABI adalah ajaran bathil berkedok TAUHID
Terhadap Wahabi yang berdalih mereka bukan pengikut Dajjal karena Dajjal tak bisa masuk Madinah, ini jawabnya: Meski Dajjal tidak bisa memasuki kota Madinah, namun para pengikutnya yang terdiri dari orang2 kafir dan munafik bisa. Saat guncangan 3x, pengikut Dajjal ini akan keluar dari Madinah.
Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu negeripun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorongpun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turunlah di suatu tanah yang berpasir -di luar Madinah- lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan akan setiap orang kafir dan munafik.” (Riwayat Muslim)
Fakta tambahan adalah Wahabi dan Arab Saudi itu dekat dgn AS yang dikuasai Zionis Yahudi. Dajjal adalah Yahudi. Begitu pula berbagai simbol di Arab Saudi seperti Simbol Polisi Riyadh yang berupa Mata Satu. Simbol organisasi Yahudi Illuminati.
ISLAM INSTITUTE – DAJJAL – PENGANTAR REDAKSI :
Soal Dajjal, banyak orang pada akhirnya akan sangat lalai memperhatikannya. Manusia akan lupa siapa Dajjal, yang mana sosok ini dulu umat Islam pernah sangat mengenalnya lewat ciri-ci-cirinya. Ya benar, kita sudah mengenal Dajjal, karena Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam jauh-jauh hari, bahkan sejak 1.400 tahun yang lalu sudah memperkenalkan Dajjal kepada ummatnya. Bahwa Dajjal adalah sebagai sosok buta sebelah matanya, dan penyebar fitnah yang paling dahsyat di muka bumi yang akan muncul di akhir zaman.
Fitnah Dajjal sebenarnya merupakan rangkaian fitnah yang sejak lama ada, disebarkan melalui fitnah yang terjadi di antara manusia yang telah diperdaya oleh hawa nafsunya sendiri. Bahkan Nabi saw memperingatkan bahwa kelompok umat Nabi Muhammad yang tidak hanyut dalam pusaran fitnah sesama manusia akan selamat pula dari fitnah Dajjal di akhir zaman. Rangkaian segala fitnah yang pernah ada di dunia saling berkaitan dari zaman ke zaman dan akan hadir mengkondisikan dunia semakin gonjang-ganjing menghadapi fitnah Dajjal.
ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ
Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini – baik kecil ataupun besar – kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad 22215)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
“Allah tidak menurunkan ke muka bumi fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal.” (HR. Thabrani 1672)
Justeru ketika kebanyakan manusia telah lalai dan tidak peduli akan Dajjal, kemunculan Dajjal sebagai “sosok jasmani” yang mengaku Tuhan sungguh mengagumkan bagi kebanyakan manusia. Terlebih Dajjal memiliki kemampuan yang luar biasa, sanggup menciptakan, mematikan dan menghidupkan, bahkan di tangan kanannya mempertontonkan kenikmatan surga dan tangan kirinya adaintimidasi dan horror sangat menakutkan bagi manusia yaitu neraka. Semuanya untuk menebar fitnah dan kekacauan akhir zaman. Pada saat itu manusia lupa akan pengetahuan tentang sosok Dajjal yang pernah dikenalnya, sedemikian rupa sehingga bila ada yang memperingatkan soal Dajjal, maka mereka mentertawakannya dan sinis cenderung menganggapnya sekedar mitos atau legenda. Maka betapa manusia terlena dan terpedaya oleh Dajjal.
لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ
“Dajjal tidak akan muncul sehingga sekalian manusia telah lupa untuk mengingatnya dan sehingga para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar-mimbar.” (HR. Ahmad 16073)
Nah…. Siapakah sebenarnya Dajjal? Siapa kelak yang akan menjadi pengikut Dajjal sehingga terpedaya masuk ke surga Dajjal? Dan apakah Dajjal itu seorang manusia, ataukah dia termasuk makhluk setan atau jin, ataukah raksasa sehingga di tangannya terdapat surga dan neraka? Untuk lebih jelasnya marilah kita simak kajian ilmiyah soal Dajjal yang dipresentasikan oleh utadz Ibnu Abdillah Al Katiby.
DATA MENGEJUTKAN : WAHABI ADALAH PENGIKUT DAJJAL KELAK
Oleh; Ibnu Abdillah Al Katiby
Kemunculan Dajjal merupakan puncak dari munculnya fitnah paling besar dan mengerikan di muka bumi ini bagi umat manusia khususnya umat Muslim. Kemunculannya di akhir zaman, di masa imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihis salam, akan banyak mempengaruhi besar bagi umat muslim sehingga banyak yang mengikutinya kecuali orang-orang yang Allah jaga dari fitnahnya.
Dalam hadits disebutkan :
قام رسول الله صلى الله عليه و سلم في الناس فأثنى على الله بما هو أهله، ثم ذكر الدجال فقال: ” إني لأنذركموه، وما من نبي إلا وقد أنذر قومه
“ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia dan memuji keagungan Allah, kemudianbeliau menyebutkan Dajjal lalu mengatakan : “ Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan dajjal,tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali telah memperingatkan umatnya akan dajjal “. (HR. Bukhari : 6705)
Dalam hadits lain, Nabi bersabda :
ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال
“ Tidak ada satu pun negeri, kecuali akan didatangi oleh dajjal “. (HR. Bukhari : 1782)
Pada kesempatan ini, saya tidak menjelaskan sepak terjang dajjal, namun saya akan sedikit membahas sebagian kaum yang menjadi pengikut dajjal. Dan kali ini, saya tidak mengungkap semua kaum yang mengikuti dajjal, namun saya akan menyinggung satu persoalan yang cukup menarik yang telah diinformasikan oleh nabi bahwa ada kelompok umatnya yang akan menjadi pengikut setia dajjal, padahal sebelumnya mereka ahli ibadah bahkan ibadah mereka melebihi ibadah umat Nabi Muhammad lainnya, mereka rajin membaca al-Quran, sering membawakan hadits Nabi, bahkan mengajak kembali pada al-Quran. Namun pada akhirnya mereka menjadi pengikut dajjal, apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut setianya ? simak uraiannya berikut :
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ مِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْ يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“ Sesungguhnya setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala,mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)
Nabi juga bersabda :
سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ
“ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “. (Sunan Abu Daud : 4765)
Nabi juga bersabda :
سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة
“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “. (HR. Imam Bukhari 3342)
Dalam hadits lain Nabi bersabda :
يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ
“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)
Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَبَادَهُمْ وَأَرَاحَنَا مِنْهُمْ
“ Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :
كَلاَّ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ مِنْهُمْ لَمَنْ هُوَ فِي أَصْلاَبِ الرِّجَالِ لَمْ تَحْمِلْهُ النِّسَاءُ وَلِيَكُوْنَنَّ آخِرَهُمْ مَعَ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّال
“ Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.
Penjelasan :
Dalam hadits di atas Nabi menginformasikan pada kita bahwasanya akan ada sekelompok manusia dari umat Nabi yang lepas dari agama Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dengan sifat dan ciri-ciri yang Nabi sebutkan dalam hadits-haditsnya di atas sebagai berikut :
1. Senantiasa membaca al-Quran, Namun kata Nabi bacaanya tidak sampai melewati tenggorokannyaartinya tidak membawa bekas dalam hatinya.
2. Suka memerangi umat Islam.
3. Membiarkan orang-orang kafir.
4. Memperbagus ucapan, namun parkteknya buruk.
5. Selalu mengajak kembali pada al-Quran, namun sejatinya al-Quran berlepas darinya.
6. Bercukur gundul.
7. Berusia muda.
8. Lemahnya akal.
9. Kemunculannya di akhir zaman.
10. Generasi mereka akan terus berlanjut dan eksis hingga menajdi pengikut dajjal.
Jika kita mau mengkaji, meneliti dan merenungi data-data hadits di atas dan melihat realita yang terjadi di tengah-tengah umat akhir zaman ini, maka sungguh sifat dan cirri-ciri yang telah Nabi sebutkan di atas, telah sesuai dengan kelompok yang selalu teriak lantang kembali pada al-Quran dan hadits, kelompok yang senantiasa mempermaslahkan urusan furu’iyyah ke tengah-tengah umat, kelompok yang mengaku mengikut manhaj salaf, kelompok yang senantiasa membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yaitu tidak ada lain adalah wahhabi yang sekarang bermetomorfosis menjadi salafi.
Membaca al-Quran dan selalu membawakan hadist-hadits Nabi adalah perbuatan baik dan mulia, namun kenapa Nabi menjadikan hal itu sebagai tanda kaum yang telah keluar dari agama tersebut?? Tidak ada lain, agar umat ini tidak tertipu dengan slogan dan perilaku mereka yang seakan-akan membawa maslahat bagi agama Islam. Ciri mereka yang suka memerangi umat Islam, tidak samar dan tidak diragukan lagi, sejarah telah mencatat dan mengakui sejarah berdarah mereka di awal kemuculannnya, ribuan umat Islam dari kalangan awam maupun ulamanya telah menjadi korban berdarah mereka hanya karena melakukan amaliah yang mereka anggap perbuatan syirik dan kufr dan dianggap telah menentang dakwah mereka. Namun dengan musuh Islam yang sesungguhnya, justru mereka biarkan bahkan hingga saat ini mereka akrab dengan kaum kafir, adakah sejarahnya mereka memerangi kaum kafir??
Ciri berikutnya adalah memperbagus ucapan namun prakteknya buruk. Mereka jika berbicara dengan lawannya selalu mengutarakan ayat-ayat al-Quran dan hadits, namun ucapanya tersebut tidaklah dinyatakan dalam prakteknya, kadang mereka membaca mushaf al-Quran pun sambil tiduran tanpa ada adabnya sama sekali.
Ciri berikutnya adalah mereka senantiasa berkoar-koar kepada kaum muslimin lainnya agar kembali pada al-Quran. Tanda mereka ini sangat nyata dan kentara kita ketahui pada realita saat ini, kaum wahabi selalu teriak kepada kaum muslimin untuk kembali pada Al-Quran. Ahlus sunnah selalu mengajak pada Al-Quran karena ajaran mereka memang bersumber dari Al-Quran, namun kenapa Allah menjadikan sifat ini sebagai tanda pada kaum neo khawarij (wahabi) ini?? Sebab merekalah satu-satunya kelompok yang dikenali di kalangan awam yang selalu teriak mengajak pada Al-Quran sedangkan Al-Quran sendiri berlepas diri dari mereka.Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa kitabillah; mengajak kepada Al-Quran) menjadi tanda atas kelompok ini bukan pada kelompok khawarij lainnya.
Tanda mereka adalah bercukur gundul. Hal ini menambah keyakinan kita bahwa yang dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini adalah tidak ada lain kelompok wahabi. Tidak ada satu pun kelompok ahli bid’ah yang melakukan kebiasaan dan melazimkan mencukur gundul selain kelompok wahabi ini, mereka kelompok sesat lainnya hanya bercukur gundul pada saat ibadah haji dan umrah saja sama seperti kaum muslimin Ahlus sunnah. Namun kelompok wahabi ini menjadikan mencukur gundul ini suatu kelaziman bagi pengikut mereka kapan pun dan dimana pun. Bercukur gundul ini pun telah diakui oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd (cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail wal masaail : 578.
Cirri berikutnya adalah berusia muda dan akalnya lemah. Mereka pada umumnya masih berusia muda tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Subyektivitas dengan daya dukung pemaham yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.
Sebab-Sebab Manusia Jadi Pengikut Dajjal
Kemunculan kaum ( Wahabi ) ini ada di akhir zaman sebagaimana hadits Nabi di atas, kemudian generasi mereka juga akan terus berlanjut hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal menjadi pengikut setianya. Namun apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut dajjal ??Berikut kajian dan analisa ilmiyyahnya :
Sebab pertama : Wahabi beraqidahkan tajsim dan tasybih.
Sudah maklum dalam kitab-kitab mereka bahwa mereka meyakini Allah itu memiliki organ-organ tubuh seperti wajah, mata, mulut, hidung, tangan, kaki, jari dan sebagainya, dan mereka mengatakan bahwa organ tubuh Allah tidak seperti organ tubuh makhluk-Nya.
Mereka juga meyakini bahwa Allah bertempat yaitu di Arsy, mereka juga memaknai istiwa dengan bersemayam dan duduk dan menyatakan semayam dan duduknya Allah tidak seperti makhluk-Nya.Mereka meyakini Allah turun ke langit dunia dari atas ke bawah di sepertiga malam terakhir, dan meyakini bahwa ketika Allah turun maka Arsy kosong dari Allah namun menurut pendapat kuat mereka Arsy tidak kosong dari Allah. Sungguh mereka telah memasukkan Allah dalam permainan pikiran mereka yang sakit itu. Dan lain sebagainya dari pensifatan mereka bahwa Allah berjisim….
Nah, demikian juga dajjal, renungkanlah kisah dajjal yang disebutkan oleh Nabi dalam hadts-hadits sahihnya,bahwasanya dajjal itu berjisim, berorgan tubuh, memiliki batasan, dia berjalan secara hakikatnya, dia turun secara hakikatnya, dia berlari kecil secara hakikatnya, dia memiliki kaki secara hakikat, memiliki tangan secara hakikat, memiliki mata secara hakikat, memiliki wajah secara hakikat dan lain sebagainya..dan tidak ada lain yang menyebabkan mereka mengakui dajjal sebagai tuhannya kecuali karena berlebihannya mereka di dalam menetapkan sifat-sifat Allah tersebut dan memperdalam makna-maknanya hingga sampai pada derajat tajsim.
Perhatikan dan renungkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :
إني حدثتكم عن الدجال، حتى خشيت أن لا تعقلوا ، إن المسيح الدجال قصير أفحج ، جعد أعور ، مطموس العين ، ليست بناتئة ، ولا جحراء ، فإن التبس عليكم ، فاعلموا أن ربكم ليس بأعور
“ Sesungguhnya aku ceritkan pada kalian tentang dajjal, karena aku khawatir kalian tidak bisa mengenalinya, sesungguhnya dajjal itu pendek lagi congkak, ranbutnya keriting (kribo), matanya buta sebelah dan tidak menonjol dan cengkung, jika kalian masih samar, maka ketahuilah sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah buta sebelah matanya “. (HR. Abu Dawud)
Nabi benar-benar khawatir umatnya tidak bisa mengenali dajjal, dan Nabi menyebutkan cirri-ciri dajjal yang semuanya itu bermuara pada jisim, dan menyebutkan aib-aib yang disepakati oleh kaum musyabbih dan sunni yang mutanazzih, namun kaum musyabbihah (wahabi-salafi) sangat mendominasi pada pemikiran tajsimnya sehingga bagi mereka Allah Maha melakukan apapun, dan Allah maha Mampu atas segala sesuatu, bahkan menurut mereka kemampuan Allah memungkinkan berkaitan dengan perkara yang mustahil bagi-Nya yang seharusnya kita sucikan, sehingga berkatalah sebagian mereka : Bahwa Allah jika berkehendak untuk bersemayam di punggung nyamuk, maka Allah pun akan bersemayam di atasnya. Naudzu billahi min dzaalik..
Sebab kedua : Tidak adanya pehamahan mereka tentang perkara-perkara di luar kebiasaan (khawariqul ‘aadah) atau disebut karomah.

Realita yang ada saat ini, kaum wahhabi-salafi tidak pernah membicarakan tentang khawariqul ‘aadah atau karomah, bahkan mereka mengingkari karomah-karomah para wali Allah yang disebutkan oleh para ulama hafidz hadits seperti al-Hafidz Abu Nu’aim dalam kitab hilyahnya, imam Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya dan lainnya, bahkan mereka memvonis kafir kepada sebagian para wali Allah yang mayoritas ahli tasawwuf. Mereka tidak bisa mencerna karomah-karomah para wali yang ada sehingga tidak mempercayai imdadaat ruhiyyah (perkara luar biasa yang bersifat ruh) yang Allah berlakukan di tangan para wali-Nya yang bertaqwa sebagai kemuliaan Allah atas mereka.
Sedangkan dajjal akan datang dengan kesaktian-kesaktian yang lebih hebat dan luar biasa sebagai fitnah bagi orang yang Allah kehendaki, menumbuhkan tanah yang kering, menurunkan hujan, memunculkan harta duniawi, emas, permata, menghidupkan orang yang mati dan lain sebagainya, sedangkan kaum wahhabi tidak perneh membicarakan khawariqul ‘aadat semacam itu, sehingg akal mereka tidak mampu membenarkannya, oleh sebab itu ketika dajjal muncul dengan membawa khowariqul ‘aadat semacam itu disertai pengakuan rububiyyahnya, maka bagi wahabi, dajjal itu adalah Allah karena wahabi tidak mengathui sama sekali tentang khowariqul ‘aadat yang Allah jalankan atas seorang dari golongan manusia.
Mereka pun tidak mampu membedakan antara pelaku secara hakikatnya dan semata-semata sebab / perantaranya, maka bercampurlah pemahaman mereka antara kekhususan sang pencipta dengan makhluk-Nya. Seandainya mereka mengetahui bahwa apa yang terjadi dari khowariqul ‘aadat hanyalah semata-mata dari qudrah Allah, dan manusia hanyalah perantara, maka wahabi tidak akan heran atas apa yang dilakukan dajjal. Dan seandainya kaum wahabi bertafakkur atas khowariqul ‘aadat yang terjadi dari para Nabi dan wali, maka wahabi tidak akan terkena fitnah oleh khowariqul ‘aadat yang terjadi dari dajjal sebagai bentuk istidraajnya.
Yang membedakan khowariqul ‘aadat yang terjadi atas para Nabi dan dajjal adalah bahwa para nabi memperoleh hal itu sebagai penguat kebenaran yang mereka serukan, sedangkan dajjal memperoleh hal itu sebagai fitnah atas seseorang yang mengaku rububiyyah, perkara hal itu sama-sama perkara khowariqul ‘aadat (perkara luar biasa).
Sebab ketiga : Bermanhaj khowarij yakni keluar dari jama’ah muslimin dan mengkafirkan kaum muslimin.Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mensifati pengikut dajjal bahwasanya mereka adalah kaum khowarij,sebagaimana sebagian telah dijelaskan di awal :
يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ
“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn ( kurun / generasi ) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya).
Arah Timur yang Nabi maksud tidak ada lain adalah arah Timur kota Madinah yaitu Najd sebab Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah menspesifikasikan letak posisinya yaitu tempat dimana ciri-ciri khas penduduknya orang-orang yang memiliki banyak unta dan baduwi yang berwatak keras dan berhati kasar dan tempat di mana menetapnya suku Mudhar dan Rabi’ah, dan semua itu hanya ada di Najd Saudi Arabia,Nabi bersabda :
مِنْ هَا هُنَا جَاءَتِ اْلفِتَنُ ، نَحْوَ اْلمَشْرِقِ ، وَاْلجَفَاءُ وَغِلَظُ اْلقُلوْبِ فيِ اْلفَدَّادِينَ أَهْلُ اْلوَبَرِ ، عِنْدَ أُصُوْلِ أَذْنَابِ اْلإِبِلِ وَاْلَبقَرِ ،فِي رَبِيْعَةْ وَمُضَرً
“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “.(HR. Bukhari)
Maka kaum wahhabi-salafi ini adalah regenerasi dari kaum khowarij pertama di masa Nabi dan sahabat, perbedaaanya kaum khowarij pertama bermanhaj mu’aththilah (membatalkan sifat-sifat Allah), sedangkankaum neo khowarij (wahhabi) ini bermanhaj tajsim dan taysbih. Walaupun berbeda, namun sama-sama menyimpang dari aqidah Islam, dan Allah merubah manhaj mereka dari kejelekan menuju manhaj yang lebih jelek lagi sebagai balasan atas kedhaliman dan kesombongan yang memenuhi hati mereka. Atas manhaj tajsim mereka inilah menjadi penyebab wahhabi mudah terpengaruh oleh dajjal, sedangkan khowarij terdahulu jika masih ada yg mengikuti manhaj ta’thilnya tidak mungkin terpengaruh oleh dajjal, sebab sangat anti terhadap sifat-sifat Allah, mereka mensucikan Allah dari sifat gerak, pindah, bersemayam, diam, duduk, turun dan sebagainya bahkan mereka membatalkan sifat-sifat wajib Allah.
Maka dengan jelas wahabi kelak akan menjadi pengikut dajjal, Naudzu billahi min syarril wahhabiyyah wa imaamihim dajjal….
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/05/19/dajjal-sang-penipu/
************************************************************************************************************
Najd Tempat Khawarij/Fitnah: Di Najd atau Di Iraq?
najdUmmat Islam banyak yang tidak suka saat mereka difitnah sebagai Ahlul Bid’ah, Sesat, Penyembah Kuburan, Musyrik, bahkan kafir oleh Wahabi. Bahkan ada yang dibunuh. Oleh karena itu mereka balik mngkritik Wahabi. Ada pun Wahabi yang menamakan dirinya macam-macam dari Muwahidun, Salafi, Ahlus Sunnah (Tanpa kata Jama’ah) justru marah. Mereka merasa mereka dan syeikh mereka, Muhammad bin Abdul Wahhab yang lahir di Najd difitnah oleh “Musuh-musuh Islam.”
Siapakah yang benar? Nabi menyebut Najd, tempat kelahiran pendiri Wahabi sebagai tempat fitnah. Ini hadits-haditsnya. Silahkan baca dengan seksama. Bebaskan diri anda dari taqlid. Gunakan akal pikiran anda untuk memahaminya. Jika pun bertanya pada ulama, jangan tanya pada kelompok anda saja. Tanya pada Jumhur Ulama agar tak tersesat:
Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]
Pada hadits di atas disebut ada orang Najd yang meminta Nabi agar memberkahi Najd. Saat itu dakwah Nabi belum mencapai Iraq. Selain itu ucapan Nabi tentang tanduk setan (قرن / qorn) itu sesuai dengan miqat haji orang-orang Najd di QORN yang artinya TANDUK. Jelaslah bahwa Najd yang disebut Nabi adalah Najd yang kita kenal sekarang. Bukan Iraq! Jika pun orang Iraq yang hadir, tentu mereka minta agar IRAQ yang diberkati. Bukan Najd!
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)
Posisi Nabi saat hadits yang menyebut tempat fitnah ada di sebelah TIMUR dan tempat MATAHARI TERBIT adalah di MADINAH. Kita harus paham dasar-dasar ilmu Geografi atau Ilmu Bumi agar bisa paham. Madinah dan Riyadh (Najd) letaknya sejajar sekitar 24 derajad lintang utara. Sementara Kufah / Najaf terletak di 32 derajad lintang utara. 8 derajad lebih utara dari kota Madinah. Sebagai perbandingan, Amman, Yordania yang ada di utara Madinah sejajar dengan Kufah yaitu di 32 derajad lintang utara. Matahari itu paling tinggi posisinya berada di 23,5 derajad lintang utara pada tanggal 21 Juni sebelum akhirnya bergerak ke selatan. Jadi matahari terbit di Madinah itu posisinya dari arah Najd yang persis ada di sebelah timur Madinah. Tidak mungkin dari Iraq yang ada di utara Madinah.
Dari sini kita paham bahwa Najd yang dimaksud adalah Najd sekarang yang memang ada tepat di sebelah timur Madinah. Bukan Iraq yang berada di utara.
najd11
Anda bisa melihat berbagai peta kota Madinah, Najd, dan Iraq baik dari segi topografi sehingga paham daerah yang tinggi (Najd) dan yang rendah (bukan Najd), serta tempat yang di timur kota Madinah itu apa.
حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]
حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam (Shahih Sunan Nasa’i no 2656)
Hadits Nabi di atas berulang-kali menyebut Tanduk Setan (Qorn Syaithon). Dan Miqat Haji penduduk Najd di Qarn (Tanduk). Sementara Miqat penduduk Iraq di Dzatu “Irq. Jelas bukan kalau Najd dan Iraq adalah 2 nama yang berbeda yang menunjukkan 2 tempat yang berbeda. Jadi tidak bisa ditakwil-takwilkan jadi Iraq adalah Najd. Tidak betul itu!
Hadits Nabi di atas berulang-kali menyebut Tanduk Setan (Qorn Syaithon). Dan Miqat Haji penduduk Najd di Qarn (Tanduk). Sementara Miqat penduduk Iraq di Dzatu “Irq. Jelas bukan kalau Najd dan Iraq adalah dua nama yang berbeda yang menunjukkan dua tempat yang berbeda. Najd adalah Nejd, Najd dulu dan Najd sekarang adalah sama jadi tidak bisa ditakwil-takwilkan bahwa Iraq adalah Najd. Tidak betul itu!

Berbagai hadits di atas tentang Najd sesungguhnya menunjukkan Najd itu adalah Najd yang dikenal umum baik di zaman Nabi mau pun sekarang. Bukan tempat lainnya sebagaimana ditafsirkan Ibnu Taimiyyah ada di Kufah. Apalagi Najd yang dikenal di zaman Nabi di hadits tersebut disebut ada di TIMUR kota Madinah dan tempat terbitnya matahari. Tak mungkin penduduk Madinah melihat matahari terbit dari arah Kufah. Najd sekarang pun memang selain di Timur Madinah juga merupakan dataran Tinggi (762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut). Di hadits Sunan Nasa’i no 2656 Nabi menyebutkan tempat miqat bagi penduduk Iraq dan penduduk Najd. Jelas Iraq dan Najd adalah 2 tempat yang berbeda.
Sebaliknya Kufah yang juga disebut An Najaf ternyata terletak di dataran rendah di lembah sungai Efrat. Jadi tidak mungkin Ibnu Taimiyyah berkata demikian. Bisa jadi ulama Wahabi memang suka mengubah-ubah tulisan sebagaimana disinyalir oleh Syekh Idahram dan juga beberapa ulama lainnya. Sehingga ada ulama yang bilang kalau beli kitab kuning sebaiknya beli di Yaman atau Mesir. Jangan di Arab Saudi sebab sudah dirubah-rubah oleh Wahabi.
Coba lihat peta Kufah (An Najaf) yang berada di daerah hijau (dataran rendah). Bukan kuning yang merupakan tanda dataran tinggi:topographic-najd
Apalagi Muhammad bin Abdul Wahab dikenal juga dengan Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi. Jadi bagaimana lagi mau berkelit atau mentakwil-takwilkannya dengan cara lain sehingga Najd yang dimaksud Nabi itu berbeda dengan Najd yang dikenal masyarakat Arab baik di zaman dahulu atau pun sekarang?
Ada pernyataan kelompok Salafi Wahabi mengenai celaan terhadap kota Najd yang merupakan tempat kelahiran pendiri paham Wahabi: Muhammad bin Abdul Wahab. “Apa salahnya jika lahir di Najd? Apakah otomatis akan jadi Khawarij/Sesat?”
Tidak salah memang. Apalagi jika memang orang tersebut memurnikan ajaran Islam dengan memurnikan Tauhid dan menghidupkan Sunnah. Yang jadi masalah adalah jika cara dakwahnya akhirnya menganggap sesat/kafir sesama Muslim bahkan ulama apalagi sampai membunuh sesama Muslim sehingga timbul Fitnah. Jika itu sampai terjadi, tentu orang tersebut merupakan Khawarij pembuat Fitnah yang disebut Nabi berasal dari Najd di sebelah timur kota Madinah (arah tempat terbitnya matahari di kota Madinah).
Kalau kita kaji Al Qur’an dan Hadits dan Sejarah Muhammad bin Abdul Wahhab, niscaya kita tahu bahwa perkataan dan perbuatan Muhammad bin Abdul Wahhab itu bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.
Coba lihat fitnah Muhammad bin Abdul Wahhab yang menuduh ummat Islam (termasuk di Mekkah dan Madinah) lebih Musyrik daripada kaum Musyrik penyembah berhala. Tersinggungkah anda jika difitnah sbg Musyrik?
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’: “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu
MBAW memfitnah ummat Islam di Mekkah, Madinah, dan kota2 lain di jazirah Arab sebagai lebih Musyrik daripada orang Kafir Quraisy Mekkah dulu. Ini jelas bertentangan dengan firman Allah untuk tidak mengolok-olok dan menggunjing sesama Muslim [Al Hujuraat 11-12]
Menyebut Muslim sebagai Musyrik sama dengan memfitnah Muslim sebagai Murtad. Menurut Islam, hukuman bagi orang-orang Murtad adalah mati. Tak heran jika Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya akhirnya memerangi dan membunuh orang Islam di Thaif, Mekkah, Madinah, dsb.
“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [An Nisaa' 94]
Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)
Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)
Baca selengkapnya di: 
http://media-islam.or.id/2012/02/07/larangan-mencaci-dan-membunuh-sesama-muslim/
Di situ juga disebut bagaimana MAW bekerjasama dengan Raja Arab guna memerangi musuhnya:
Selanjutnya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkerjasama secara sistematis dan saling menguntungkan dengan keluarga Saud untuk menegakkan Islam.
Padahal Nabi memerintahkan agar menjauhi para penguasa/raja:
Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.” (Riwayat Ahmad).
Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
Meski hadits diatas mencerca ulama yang bergaul-erat dengan penguasa, pada dasarnya jika untuk memberi nasehat kebaikan tidak masalah. Tapi jika justru memberi keburukan sehingga si Raja tersebut gemar berperang membunuh sesama Muslim, niscaya itu tidak baik.
Keluarga Saud yang hampir seluruh kehidupanya terlibat dalam PEPERANGAN dengan kepala-kepala suku lainnya selama 28 tahun, secara perlahan namun pasti memasuki masa kejayaannya…
Keluarga Ibnu Saud, sebagai pendukung dan unsur utama garakan ini segera menaklukkan hampir seluruh semenanjung Arab, termasuk kota-kota suci Mekkah dan Madinah. Gerakan Wahabi ini akhirnya menjadi mazhab fikih resmi keluarga Saudi yang berkuasa
Itu adalah tulisan dari website Wahabi, arrahmah.com. Jika kita membacanya tidak dengan kritis/tidak pakai akal, niscaya kita tidak paham. Tapi jika kita menggunakan akal, niscaya kita tahu kalau Keluarga Saud yang hampir seluruh kehidupannya TERLIBAT PEPERANGAN dgn “KEPALA SUKU” lain selama 28 TAHUN itu sebetulnya memerangi dan membunuh orang-orang Islam. Boleh dikata sejak zaman Sahabat seluruh Jazirah Arab itu sudah Islam. Kalau disebut perang dengan kepala suku, artinya Ibnu Saud yang dibantu MBAW itu memerangi/membunuh ummat Islam di jazirah Arab selama 28 tahun termasuk Mekkah dan Madinah yang mereka “TAKLUKKAN”. Bahkan lebih karena diteruskan oleh penggantinya. Tidak ada di situ disebut perang melawan Inggris.
Nabi itu utusan Allah. Beliau bicara tidak sembarangan. Tapi dari Wahyu Allah. Banyak hadits tentang Fitnah (Pembunuhan) dari Najd. Baik saat ada orang Najd datang ke Nabi, Najd dari arah Timur dan Najd dari arah matahari terbit. Lintang Utara Madinah dgn Najd (mis: Riyadh) sejajar=24 derajad lintang utara. Matahari paling utara di 23,5 derajad lintang utara. Sementara Syams atau Iraq itu 32 derajad Lintang Utara lebih. Baik Syams mau pun Iraq lebih dekat disebut Utara (Syimal) ketimbang Timur.
Selain itu ada hadits Miqat orang Iraq di Zati ‘Irq sedang Najd di Qorn. Qorn ini artinya TANDUK. Identik dgn hadits tentang Qornus Shaython. Tanduk Setan. Najd itu artinya tanah tinggi. Sesuai dgn Najd yg tingginya sekitar 1000 meter di atas laut. Ada pun Iraq itu tanah rendah. Kurang dari 50 meter.
Dajjal tidak bisa masuk Mekkah dan Madinah. Tapi pengikutnya bisa:
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal. (Shahih Muslim No.5236)
Cuma ya terserah. Mau percaya syukur, tidak percaya juga silahkan. Peta ini insya Allah jelas bagi orang2 yg bertakwa
Silahkan baca juga:
Salafi Wahabi Memecah Belah Islam dari Dalam
Beberapa Kekeliruan Salafi Wahabi
Muhammad bin Abdul Wahhab: Mujaddid atau Fitnah dari Najd?
Membantah Salafy: Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq.
Posted by bicarasalafy pada Maret 11, 2011
Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq
SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran
Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq
Tulisan ini bisa dibilang pengulangan yang disertai dengan sedikit tambahan untuk membungkam para salafy berkaitan dengan hadis Najd. Seperti yang kita ketahui bersama, salafy berkeras [bin ngotot] kalau Najd yang dimaksud dalam hadis Fitnah Najd adalah Iraq bukannya Najd yang ada di Jazirah Arab. Cara pendalilan mereka ini telah kami bahas dan merupakan fallacy [sesat pikir] yang sangat nyata [bagi yang belum membacanya maka silakan membaca beberapa tulisan kami tentang Najd].
Hadis Tanduk Setan Kontroversi Najd dan Irak
Analisis Hadis Tanduk Setan Najd Bukan Irak
Najd Bukan Irak Bantahan Bagi Salafy
Hadis Fitnah Timur : Najd
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]
وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]
Kedua hadis di atas dengan jelas menyebutkan tentang masyriq [timur] sebagai arah tempat datangnya fitnah atau arah munculnya tanduk setan. Pertanyaannya adalah timur yang dimana?. Salafy mengatakan bahwa di masa arab dahulu istilah timur barat sama halnya dengan istilah kanan kiri. Artinya di sebelah kanan adalah timur dan disebelah kiri adalah barat. Salafy menginginkan dengan pengertian tersebut maka arah timur yang dimaksud tidak mesti tepat di timur arah mata angin sekarang. Syubhat salafy ini terbantahkan dengan adanya berbagai hadis shahih yang menunjukkan kalau arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit. Yaitu hadis berikut
حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]
حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbitseraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 dengan sanad shahih]
Tidak hanya soal arah yang dimaksud timur matahari terbit. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan nama tempat yang dimaksud yang sesuai dengan arah timur matahari terbit dari Madinah. Tempat tersebut adalah Najd
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]
Najd disini bukanlah Iraq karena antara Najd dan Iraq hanya Najd yang merupakan tempat dengan arah timur matahari terbit dari Madinah. Salafy bisa saja berdalih kalau Iraq juga terletak di timur madinah dengan alasan kanan Madinah adalah timur dan kiri Madinah adalah barat tetapi dalih tersebut tertolak dengan penjelasan arah yang dimaksud adalah timur matahari terbit. Irak tidak terletak pada arah timur matahari terbit. Siapapun yang berada di Madinah dan menyaksikan arah terbitnya matahari kemudian ia menelusuri jalan dengan arah tersebut maka ia akan sampai di Najd bukan di Iraq.
Selain menunjukkan nama tempat tersebut, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan ciri-ciri orang atau penduduk di tempat tersebut. Diantaranya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan kalau orang-orang disana [tempat munculnya fitnah] adalah orang yang berhati sombong dan angkuh termasuk pengembala unta atau dikenal dengan sebutan Ahlul wabar.
حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala [aku membacakan kepada] Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]
حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]
Kedua hadis di atas menyebutkan tempat munculnya fitnah adalah tempat pada arah timur matahari terbit dimana orang-orang disana dikenal sebagai pengembala unta, orang yang berhati kasar sombong dan angkuh yang merupakan tabiat kebanyakan dari ahlul wabar atau arab badui. Ahlul wabar bisa diartikan sebagai orang arab badui karena tempat tinggal mereka terbuat dari al wabr atau bulu. Di masa Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] Ahlul wabar tinggal di Najd.
Rabi’ah dan Mudhar Ahlul Masyriq
Selain menyebutkan ciri-ciri mereka, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan kabilah mereka yang dikenal sebagai Rabiah dan Mudhar. Rabi’ah dan Mudhar dikenal sebagai Ahlul Masyriq [penduduk timur] di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]
حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر
Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari]Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]
Dalil-dalil di atas hanya pengulangan dari tulisan kami sebelumnya tetapi disini akan kami tambahkan sedikit dalil shahih kalau Rabiah dan Mudhar adalah penduduk Masyriq [timur] di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Berikut hadis yang memuat keterangan tentang Rabi’ah dan Mudhar
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ كُنْتُ أُتَرْجِمُ بَيْنَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ الْوَفْدُ أَوْ مَنْ الْقَوْمُ قَالُوا رَبِيعَةُ فَقَالَ مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ أَوْ بِالْوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى قَالُوا إِنَّا نَأْتِيكَ مِنْ شُقَّةٍ بَعِيدَةٍ وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيَكَ إِلَّا فِي شَهْرٍ حَرَامٍ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ نُخْبِرُ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا نَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ قَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَتُعْطُوا الْخُمُسَ مِنْ الْمَغْنَمِ وَنَهَاهُمْ عَنْ الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّتِ قَالَ شُعْبَةُ رُبَّمَا قَالَ النَّقِيرِ وَرُبَّمَا قَالَ الْمُقَيَّرِ قَالَ احْفَظُوهُ وَأَخْبِرُوهُ مَنْ وَرَاءَكُمْ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Jamrah yang berkata saya pernah menjadi penterjemah antara Ibnu Abbas dan orang-orang. [Ibnu Abbas] berkata “sesungguhnya delegasi [utusan] Abdul Qais pernah mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “siapakah utusan itu atau kaum itu?”. [para sahabat] berkata “Rabi’ah”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “selamat datang kaum atau utusan semoga tidak ada kesedihan dan penyesalan. Mereka berkata “kami datang dari perjalanan jauh dan diantara tempat tinggal kami dan tempat tinggal-Mu terdapat perkampungan kaum kafir Mudhar sehingga kami tidak bisa datang kepadaMu kecuali pada bulan haram maka perintahkanlah kepada kami perintah yang dapat kami ajarkan kepada orang-orang di tempat kami dan karenanya kami dapat masuk surga. Maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan kepada mereka empat hal dan melarang mereka empat hal, memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah ‘azza wajalla satu-satunya. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tahukah kalian arti beriman kepada Allah satu-satunya?”. Mereka berkata “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan Shalat dan menunaikan zakat dan berpuasa di bulan ramadhan dan memberikan seperlima [khumus] dari harta rampasan perang [ghanimah] . Dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mereka dari meminum Ad Dubaa’ Al Hantam dan Al Muzaffat. Syu’bah berkata “terkadang Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan An Naqiir dan terkadang berkata Muqayyir. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “hafalkanlah itu dan kabarkanlah kepada orang-orang di tempat kalian” [Shahih Bukhari 1/29 no 87]
Hadis di atas menjelaskan bahwa kabilah Abdul Qais adalah salah satu dari Kabilah Rabi’ah dan diantara tempat tinggal mereka dan tempat tinggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di madinah terdapat tempat tinggal kabilah Mudhar [yang masih kafir]. Pertanyaannya siapakah kabilah Abdul Qais ini dan dimana mereka tinggal. Terdapat dalil shahih yang menyebutkan kalau Abdul Qais termasuk penduduk Masyriq [timur]
حدثنا أحمد قال حدثنا شباب قال حدثنا عون بن كهمس قال حدثنا هشام بن حسان عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة عن النبي قال خير أهل المشرق عبد القيس
Telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaab yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aun bin Kahmas yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Hassaan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bersabda “penduduk Masyriq [timur] yang paling baik adalah Abdul Qais” [Mu’jam Al Awsath Thabrani 2/171 no 1615]
Hadis ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. Berikut adalah keterangan mengenai para perawinya
Ahmad syaikh [guru] Thabrani dalam sanad di atas adalah Ahmad bin Husein bin Nashr Abu Ja’far Al ‘Askariy . Daruquthni menyatakan kalau ia seorang yang tsiqat [Su’alat Hamzah 1/146 no 144]
Syabab adalah Khalifah bin Khayaath termasuk salah satu syaikh [guru] Bukhari. Ibnu Adiy menyatakan ia hadisnya lurus shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan ia mutqin. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 3 no 304]. Adz Dzahabi menyatakan ia shaduq [Al Kasyf no 1409]
‘Aun bin Kahmas adalah salah satu perawi Abu Dawud. Telah meriwayatkan darinya jamaah tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak dikenal”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Dawud berkata “tidak disampaikan kepadaku kecuali yang baik” [At Tahdzib juz 8 no 313]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir Taqrib At Thadzib no 5225]. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 4319]
Hisyam bin Hassaan adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibnu Saad Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat. Abu Hatim dan Ibnu Adiy berkata “shaduq”. [At Tahdzib juz 11 no 75]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang tsabit riwayatnya dari Ibnu Sirin [At Taqrib 2/266]
Muhammad bin Sirin adalah perawi kutubus sittah tabiin yang dikenal tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dan ahli ibadah [At Taqrib 2/85]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 4898]
Hadis di atas menyebutkan kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebut Abdul Qais sebagai ahlul masyriq [penduduk timur] yang paling baik. Apakah masyriq [timur] yang dimaksud?. Arah timur manakah yang dimaksud?. Dimana sebenarnya tempat tinggal kabilah Abdul Qais?. Perhatikan hadis berikut
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ الضُّبَعِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ جُمُعَةٍ جُمِّعَتْ بَعْدَ جُمُعَةٍ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسْجِدِ عَبْدِ الْقَيْسِ بِجُوَاثَى مِنْ الْبَحْرَيْنِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al ‘Aqdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Abi Jamrah Adh Dhuba’iy dari Ibnu Abbas yang berkata “sesungguhnya shalat jum’at yang pertama dilakukan setelah shalat jum’at di masjid Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah di masjid kabilah Abdul Qais di Juwatsa daerah Bahrain [Shahih Bukhari 2/5 no 892]
Jadi kabilah Abdul Qais yang termasuk salah satu kabilah Rabi’ah tinggal di Bahrain. Dimanakah Bahrain?. Bahrain adalah kawasan yang terletak di sebelah timur arah matahari terbit dari madinah. Kalau Bahrain adalah tempat tinggal kabilah Abdul Qais maka dimanakah tempat tinggal kafir Mudhar yang disebutkan dalam hadis Bukhari sebelumnya terletak di antara madinah [tempat tinggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Bahrain [tempat tinggal Abdul Qais]. Jawabannya gampang, ambil peta dan lihat tempat itu adalah Najd.
أخبرنا عمر بن سعيد بن سنان قال أخبرنا أحمد بن أبي بكر عن مالك عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير نحو المشرق ويقول ( ها إن الفتنة ها هنا إن الفتنة ها هنا من حيث يطلع قرن الشيطان ) قال أبو حاتم رضي الله عنه مشرق المدينة هو البحرين و مسيلمة منها وخروجه كان أول حادث حدث في الإسلام
Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Sa’id bin Sinaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar yang berkata sesungguhnya aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengarahkan tangannya kea rah timur dan berkata “dari sini fitnah dari sini fitnah dari sini dari arah munculnya tanduk setan”. Abu Hatim berkata “timur madinah adalah Bahrain, Musailamah berasal darinya dan keluar darinya dialah yang pertama membuat bid’ah dalam islam” [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 Syaikh Al Arnauth berkata “shahih dengan syarat Bukhari Muslim]
Kawasan Bahrain dan sekitarnya termasuk Najd adalah kawasan yang di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikenal sebagai masyriq [timur] sehingga penduduknya Rabi’ah dan Mudhar disebut sebagai ahlul masyriq.
najd-bahrain
Jadi hadis fitnah yang katanya muncul dari arah timur matahari terbit dari arah munculnya tanduk setan dari Rabiah dan Mudhar maka sangat jelas tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang tertera jelas dalam hadis shahih.
Catatan : sedikit tentang Bahrain, dahulu Bahrain meliputi daerah kawasan timur yaitu Ahsa, Qatif dan Awal. Sekarang Ahsa dan Qatif menjadi bagian dari propinsi timur Arab Saudi dan Awal menjadi yang sekarang dikenal sebagai kepulauan Bahrain. Jadi dahulu Bahrain itu bersebelahan dengan Najd. Selengkapnya tentang Bahrain dapat dibaca disini. Gambar dicomot dari Mbah Gugel blog-nya salafytobat
Menuntaskan Fitnah NAJD Sebagai Negeri Dua Tanduk Setan
Posted on Agustus 13, 2011 | 1 Komentar
“….katakanlah Najd yang dimaksud adalah Najd Hijaz dan diantara dua tanduk Syaitan tersebut adalah Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab -rahimahullah- dengan ‘Wahhabi’nya… maka konsekuensi logisnya adalah ‘Wahhabi’ merupakan ‘Ajaran Syaitan’ dan pengikutnya adalah ‘Syaitan Manusia’,
dan konsekuensi logisnya lagi adalah ‘Anti-Wahhabi’ meyakini bahwa Haramain (Makkah & Madinah) telah dikuasai oleh ‘Syaitan’.Apakah ini tidak bertentangan dengan sekian banyak dalil yang menyatakanbahwa Syaitan tidak mampu memasuki Makkah dan Madinahyang merupakan benteng terakhir Ummat Islam ?…..”
Dajjal tidak bisa masuk Mekkah dan Madinah. Tapi pengikutnya bisa:
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal. (Shahih Muslim No.5236)
* * *
Sumber : http://syaikhulislaam.wordpress.com/2011/02/21/fitnah-dari-timur/
VAN DER PLAS, SYEIKH AHMAD SYURKATI(PENDIRI AL-IRSYAD) DAN PERANAN FREEMASONRY-SALAFI WAHABI DALAM DISTORSI SEJARAH MUHAMMADIYAH
556817_286552348141788_710825670_nSejarah tak pernah tunggal selalu menyimpan misterinya ada yang terungkap dan ada yang disembunyikan. Menjadi tugas generasi yang tercerahkanlah untuk melakukan penelitian sejarah lebih lengkap dan komprehensif agar kebenaran sejarah bicara apa adanya tanpa distorsi-distorsi dan asumsi tetapi berdasarkan fakta yang sebenar-benarnya.
Namun tak banyak yg mengetahui bahwa perubahan haluan Muhammadiyah dalam bermadzhab ini adalah akibat dari konspirasi yg dilancarkan oleh fihak kolonial Hindia Belanda dari dalam tubuh perkumpulan ini sendiri.
Posisi Muhammadiyah yang saat itu berkembang menjadi perkumpulan Islam yang besar dan semakin tertarik ke pusat pusaran politik seperti halnya Syarekat Islam/SI cukup membuat khawatir gubernemen di Batavia. Posisi gubernemen sendiri cukup terjepit saat itu menghadapi gelombang pergerakan politik etis serta tuntutan balas budi kepada kaum pribumi dari kaum demokrat liberal di dalam negeri Belanda di satu sisi.
Sedangkan di sisi lainnya mereka direpotkan oleh kaum pergerakan nasionalIndonesia yang semakin hari semakin radikal saja, terutama dari kalangan Islam dalam hal ini SI yang saat itu juga terpengaruh oleh semangat Revolusi Bolsheviks di Russia.
Ditambah lagi dengan kedatangan 2 orang pelarian politik dari sayap radikal kaum sosial demokrat negeri Belanda bernama Sneevliet dan Baars yang dengan cepat membangun massanya di antara anggota SI yg diperkenalkan kepada ajaran Marxisme oleh mereka.
Gubernemen di Batavia sangat khawatir kalau Muhammadiyah yg sedang besar besarnya saat itu ikut menjadi radikal seperti halnya SI mengingat mereka sama sama berhaluan Islam moderat yg sangat terbuka akan pengaruh dari luar.
Pemerintah kolonial di Batavia tentunya tidak memerlukan 2 lawan yg besar sekaligus. Berkali kali mereka mencoba untuk melancarkan pembunuhan terhadap KH. Ahmad dahlan, namun selalu gagal karena sang kiyai selalu dijaga ketat dan dikelilingi oleh jemaahnya. Oleh karena itu maka Van der plas seorang orientalis dan disinyalir juga sebagai agen MI-6 yg bekerja untuk gubernemen Hindia Belanda segera merancang sebuah plot untuk “menjinakkan” Muhammadiyah dari dalam.
Tersebutlah seorang pemuda asal Aceh bernama Muhammad Basya Dahlan, seorang yang dibina langsung oleh Van der plass untuk menyusup ke dalam tubuh Muhammadiyah. Muhammad Basya Dahlan lalu dikirim oleh Van der plas ke Saudi Arabia, pusat gerakan Wahabi yang pemerintahannya disokong penuh oleh pemerintah Inggris dan gerakan Zionis-Freemasonry dunia.
Disana dia mempelajari gerakan dan Faham Wahabi yang intoleran, jumud, dan mudah mengkafirkan sesama Muslim yang berbeda pandangan dengan mereka langsung dari para masyaikh-masyaikhnya di Najd dan kembali ke Indonesia untuk meniti karier keorganisasian di perkumpulan Muhammadiyah. Van der plas dengan sokongan penuh gubernemen menggelontorkan uang jutaan gulden untuk mengantarkan Muhammad Basya ke posisi penting di dalam strata kepengurusan Muhammadiyah.
Setelah berhasil mulailah dia melancarkan aksinya menebar racun faham wahabi di tubuh perkumpulan tersebut dan mencetak kader kader muda Muhammadiyah yg berfaham wahabi. Dan ketika posisi Muhammad Basya Dahlan ini semakin kuat di dalam perkumpulan atas dukungan kader kader muda maka KH. Ahmad dahlan sampai terpaksa harus menyingkir ke pelosok lereng gunung merapi untuk menghindari kejaran dan bentrokan dengan kelompok Muhammad Basya Dahlan serta pengikutnya yg berfahaman keras Wahabi. Kelompok kecil KH. Ahmad dahlan yg menyingkir inilah yang kemudian disebut sebagai “Muhammadiyah dalam”.
Akidah mereka masih sama dengan akidah yg dianut oleh KH. Ahmad dahlan, begitupula dlm masalah fiqih masih menganut madzhab Syafi’iyah sehingga amalan dan pemahamannya pun sama persis dengan warga NU dan Islam tradisional pada umumnya. Sedangkan kelompok kaum muda yg di kader oleh Muhammad Basya Dahlan disebut sebagai “Muhammadiyah luar”, kelompok inilah yg mendominasi dan menyebar ke seluruh pelosok nusantara. Kelompok ini cenderung keras dalam bersikap terhadap kaum tradisionalis pesantren serta kiyai kiyai Jawa, bahkan cenderung memusuhi KH. Hasyim Asy’ari dan NU serta kaum tradisionalis pada umumnya. Sikap mereka khas orang yg berfaham Wahabi, dengan mengkampanyekan anti TBC (*Tahayul, Bid’ah dan Churofat), tabdi’, bahkan dalam beberapa kasus tak segan segan melancarkan takfir.
Mereka memusuhi dengan keras amalan amalan warisan KH. Sholeh darat yg diamalkan oleh kaum Muhammadiyah dalam dan NU seperti sholawat burdah, tahlil dan kitab kitab karangan beliau yg menerangkan ttg kaidah bermadzhab serta faham akidah Asy’ariyah-Maturidiyah. Selain itu mereka juga memusuhi dan tidak mangakui para Ahlu Bait Zuriyah Rasulullah saw dan menafikkan peran besar mereka sebagai pembawa Islam ke Nusantara. Ajaibnya beberapa keturunan Kiyai Sholeh darat sendiri ada yang mendukung pemahaman dan penyikapan kaum Muhammadiyah luar ini termasuk memusuhi tradisi dan kitab kitab kakek buyut mereka sendiri.
Inilah yg menyebabkan timbulnya ketegangan antara warga Muhammadiyah dan NU serta kaum tradisionalis lainnya di masa lalu, tentunya kita pernah mendengar bahwa hanya karena masalah qunut atau tidak qunut sajapun mereka sering kali nyaris baku hantam bukan? Sebuah kenyataan yg sangat memilukan hati ini jika kita mengetahui bahwa kedua pendiri ormas Islam ini dahulunya adalah teman satu kamar di pondokan pesantren Kiyai Sholeh darat, sama sama pernah berguru pada masyaikh masyaikh aswaja syafi’iyah yg sama di Mekkah dan merupakan sahabat karib yg saling menghormati dan menyayangi sepanjang hidup keduanya.
Walau seiring dengan waktu dan perkembangan zaman penyikapan Muhammadiyah luar ini semakin bijak dan melunak namun ketegangan serta perbedaan antara kedua ormas yg mewakili golongan medern dan tradisionalis ini seringkali masih muncul ke permukaan.
Dengan demikian berhasil lah Van der plas dengan gilang gemilang memecah dan mengendalikan serta merubah haluan Muhammadiyah dari dalam seperti halnya juga SI yg berhasil dipecah belahnya menjadi SI merah dan SI putih.
Orientalis andalan gubernemen Belanda disamping Snouck hurgronje yg juga agen MI-6 ini memang sangat piawai memecah belah bangsa ini dari masa ke masa. Dan sebagai seorang orientalis tentunya dia juga mendalami bahasa dan budaya pribumi, Arab bahkan keilmuan Islam. Uniknya Van der Plas belajar Ilmu Tafsir dan Fiqih dari Syeikh Ahmad Syurkati, pendiri Al Irsyad saat dia menjabat sebagai Ajun Advisor di sebuah kantor pemerintah kolonial Belanda (* Kantoor voor Inlandsche Zaken) yaitu sebuah badan gubernemen Hindia Belanda yg mengurusi urusan bahasa bahasa asing dan timur jauh.
Di sinilah juga Syeikh Ahmad syurkati bekerja sebagai penasihat Van der plas sekaligus sebagai guru dan sahabatnya. Hal ini justru diungkapkan disebuah buku yg ditulis oleh anak dari asisten pribadi serta murid Syeikh Ahmad syurkati sendiri yg bernama Hussein badjerei putera dari Abdullah aqil badjerei. Hussein badjerei ini adalah penulis resmi buku sejarah perkembangan Al Irsyad di Indonesia, jadi datanya pastilah valid karena dia dapat langsung dari ayahnya dan orang dalam Al Irsyad sendiri.
Maka nyatalah sudah permainan spionase serta konspirasi agen MI-6 yg merupakan badan intelijen Inggris dan alat dari gerakan zionis-freemasonry/Illuminati yg dibantu oleh seorang tokoh gerakan tajdid berfaham salafi sendiri, Syeikh Ahmad syurkati, entah dia sadar atau tidak. Bukanlah rahasia lagi jika para pejabat tinggi Gubernemen kolonialis Hindia belanda adalah para mason dengan derajat yg cukup tinggi.
Contohnya adalah Jenderal Van heutz, mantan panglima perang pasukan Marsose yg meluluh lantakkan Aceh dan membunuhi para syuhada pembela Islam di bumi serambi Mekkah tsb.
Setelah sukses menaklukkan para pejuang Aceh atas bantuan riset Snouck hurgronje dia kemudian diangkat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda sekaligus atasan langsung Van der plas. Tentunya sang grand master tak akan membiarkan raksasa muda Muhammadiyah menjadi lebih besar dan membahayakan kelangsungan kepentingan mereka bukan hanya di masa kolonial namun juga di masa masa yg akan datang.
Dan sisi terkelam dari sebuah kisah gerakan tajdid yg digaungkan oleh 3 orang agen freemasonry dari tanah para Fir’aunpun ternyata menggelar konspirasinya juga di bumi Jawadwipa….



2 comments to "Islam Zionis Takfiri Wahabi (Pemecahbelah Ummat Manusia dan Islam) menyusup Kemesjid-mesjid NU dan Muhammadiyah....Waspadalah warga Banua Banjar pencinta HAUL dan Maulidan...!!!!!"

  1. Anonymous says:

    kadal berbulu domba.

  2. Lihat Tereng Za & Jangan Bacakut Papadaan says:

    (Hahahahahaha, Kita sudah lakukan, Kita Berhasil membuat Kaum Muslimin saling Bunuh satu sama lainnya....Tidak peduli Sunni,Syi'ah,Wahabi, NU, Muhammadiyah, Kristen atau Islam, beragama atau Tidak beragama...yang penting bisa DIPECAH-BELAH...Hahahahhahahhahahha...KAMILAH Pemenangnya Sang Zionis Takfiri Pengadu Domba Ummat Manusia & Ummat Islam...hahahahhahhahahha ) http://buletinmajelispecintarasul.blogspot.com/2014/01/menimbang-sunisyiah-dalam-bingkai.html

Leave a comment