Home , , , , � Inilah Lirik Lagu Andai Aku Gayus Tambunan

Inilah Lirik Lagu Andai Aku Gayus Tambunan


Lagu ‘Andai Aku Gayus Tambunan’ yang dibawakan Bona Paputungan, kini mulai terkenal dan marak beredar. Namun Pelantun lagu tersebut tak luput dari ancaman pembunuhan. Ia mengaku mendapat ancaman dari orang tak dikenal yang mengaku sebagai anggota densus 88. Menurut Bona, si penelepon gelap itu mengancam akan membunuhnya dan keluarganya karena telah melantunkan lagu tentang Gayus Tambunan yang dianggap terlalu berani menyoroti kinerja para penegak hukum di negeri ini. Penelepon gelap itu juga mengaku gerah dengan penanyangan lagu dan video klip tentang Gayus yang telah ditayangkan disejumlah televisi swasta dan beredar di You Tube. Berikut lirik lagunya:

11 Maret
Diriku masuk penjara
Awal ku menjalani
Proses masa tahanan

Hidup di penjara
Sangat berat kurasakan
Badanku kurus
Karena beban pikiran

Kita orang yang lemah
Tak punya daya apa-apa
Tak bisa berbuat banyak
Seperti para koruptor

Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi

Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

7 Oktober
kubebas dari penjara
Menghirup udara segar
Lepaskan penderitaan

Wahai saudara
Dan para sahabatku
Lakukan yang terbaik
Jangan engkau salah arah

Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi

Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

Biarlah semua menjadi kenangan
Kenangan yang pahit
dalam hidup ini

Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi

Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

[kn/slm]

Sumber:http://kabarnet.wordpress.com/2011/01/16/inilah-lirik-lagu-andai-aku-gayus-tambunan/


Hariman: Era SBY jauh Lebih Menyeramkan


JAKARTA – Reformasi dan demokratisasi sudah berusia 13 tahun, tapi ternyata belum memperbaiki kondisi. Bahkan, sekarang ini lebih seram dibandingkan dengan era 1974 ketika Soeharto membuka kesempatan masuknya pemodal asing.

“Lebih serem lagi sekarang,” ujar pelaku sejarah dalam peristiwa 15 Januari (Malari) 1974, Hariman Siregar, di Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta Pusat, Sabtu (15/1/2011) malam.

Hariman, yang dijuluki rajawali politik Indoneisa, menceritakan, ketika awal era Soeharto pada 1970-an, Soeharto membuka diri masuknya modal asing. Namun dilawan oleh mahasiswa termasuk Hariman dkk hingga terkenal lah peristiwa Malari 1974.

“Dulu awal pak Harto berkuasa mengundang modal asing untuk pertumbuhan. Baru sebagian saja udah banyak industri-industri menengah kita yang mati,” kenang Hariman.

Namun, menurutnya, kondisi sekarang era SBY jauh lebih menyeramkan. Apalagi dengan model liberalisasi ekonomi yang dijalankan pemerintah. “Sekarang dengan liberalisasi mati semua kita. Tambang punya orang, industri gak bisa bikin lagi. Gak bisa dibiarkan, harus kita lawan,” sesal Hariman.

“Pendapatan kita kan 70 persen dari pajak tambang mineral,” katanya. Namun, hampir tidak bisa dinikmati oleh banngsa sendiri. “Datang kapal keruk dia bawa ke pelabuhan dia pergi. Jadi kita disuruh nonton saja,” katanya.

Lanjut Hariman, “Dan pemerintah senang, dia tidak peduli kan. Yang penting duit, dia bisa membangun kantor, membangun DPR,” katanya.

Hariman siregar dalam peluncuran bukunya berjudul ‘Hariman dan Malari; gelombang aksi mahasiswa menentang modal asing’ mengaku hanya sebuah cerita. Juga untuk mengenang peristiwa Malari (Malapetaka 15 januari) 1974 silam.

“Buku ini memperingati peristiwa 36 tahun lalu. Karena kita merasa makin jauh. Juga supaya bisa menjadi tuan di negeri kita sendiri,” pungkasnya.

Cerita Kebenaran, Bukan Kebohongan

Kata teman, saya tidak punya jabatan, serba tanggung. Tapi saya punya cerita panjang. Malam ini malam cerita,” ujar Hariman Siregar membuka malamnya, Sabtu(15/1/2011).

Bertempat di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat, pelaku sejarah peristiwa 15 Januari 1974 (Malari), Hariman Siregar meluncurkan bukunya bertajuk “Hariman dan Malari; gelombang aksi mahasiswa menentang modal asing”.

Namun, lanjut pria yang sempat ditahan karena diduga terlibat dalam peristiwa Malari tersebut, bukan cerita bohong. “Yang jelas bukan cerita bohong,” ujarnya disambut tawa peserta.

Dia lantas bercerita, bahwa dulu orang-orang yang berkuasa hanya pegawai biasa. Setelah itu dapat nomor (pemilu, red) setelah masuk partai, lalu menjadi anggota dewan. “Kamu tidak punya apa-apa, tapi kamu punya cerita,” kata Hariman menirukan ucapan seorang temannya.

Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Walau dia mengaku sudah tua, tapi masih banyak orang yang akan melawan. “Saya kira semua sepakat untuk mengatakan lawan,” ujarnya disambut tepuk tangan ratusan pengunjung yang memadati acara peluncuran itu.

Selain acara peluncuran buku, juga dipajang beberapa dokumentasi aktivitas Hariman Siregar. Baik dalam bentuk foto maupun koran.

Tokoh

Banyak tokoh yang diminta untuk naik ke atas panggung saat peluncuran buku Hariman Siregar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/1/2011).

Dal98]lgfam acara ini,hadir beberapa tokoh seperti Wiranto, Bennie Akbar Fatah,Tisnaya Kartakusuma, Musiim Abdurraman, Bursah Zarnubi, Lily Wahid, Rosihan Anwar, Cristin Hakim, Ray Rangkuti, Rizal Ramli, Yudi Latif, M Jumhur Hidayat, Rahman Toleng dan sejumlah tokoh dan aktivis pergerakan lainnya.

Peluncuran buku berjudul ‘Hariman dan Malari; gelombang aksi mahasiswa menentang modal asing’ ini dilakukan dengan pemukulan guci yang digantung di atas panggung. Guci tersebut diisi buku Hariman Siregar, tokoh yang juga diberi julukan rajawali politik Indonesia.

Setelah simbolik penghancuran guci tersebut, beberapa guci berisi buku yang lain juga dijatuhkan hingga hancur. Prosesi ini sebagai bukti kebebasan dari pengekangan yang selama ini membelenggu. [Rima News/http://kabarnet.wordpress.com/2011/01/16/hariman-era-sby-jauh-lebih-menyeramkan/]

Kemudahan Mendapatkan Petunjuk


Kalau Anda mengikuti serial tentang Gayus di berita televisi, tentu mengenal nama Devina. Devina adalah penulis surat pembaca Kompas yang mengaku melihat (orang mirip) Gayus dalam pesawat ke Singapura. Menurut polisi, kesaksian Devina tersebut belum cukup kuat, karena peristiwa yang dialaminya terjadi pada bulan September 2010, sedangkan dia menulis pada awal Januari 2011. Pengalaman yang ditulis dengan mengandalkan ingatan dianggap tidak cukup kuat karena bisa mengalami distorsi atau perubahan cerita. Karena itulah, sebelum terlalu banyak lupa, saya ingin berbagi cerita dari pengalaman seorang ibu yang saya temui.

Kita sebut saja namanya Umi. Saya bertemu dengannya tahun lalu (menurut tanggal sekarang, “tahun lalu” itu sekitar 15 hari yang lalu) di sebuah tempat pengajian. Dia berasal dari daerah Pandeglang, Banten. Dia sangat mengagumi Abuya Dimyati, ulama-sufi pejuang kemerdekaan terkenal di wilayah tersebut. Dia banyak menceritakan kepada saya tentang keutaman dan keilmuan Abuya Dimyati. Setelah ulama tersebut meninggal pada tahun 2003, Umi sering ziarah ke makam beliau. Demi mengharap berkah, Umi menyimpan tanah dari makam Abuya Dimyati.

Tahun 2004, Umi berangkat ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang baru menjadi tenaga kerja. Umi ditempatkan di kota Riyadh. Selama bekerja di sana, Umi merasakan keanehan melihat majikannya salat dengan cara yang sedikit berbeda dan sujud di atas lempengan tanah (turbah). Dia meminta majikannya untuk menjelaskan, namun majikannya mengatakan tidak bisa. Umi ingat dengan tanah dari makam Abuya yang dibawanya. Dia memaksanya. Akhirnya majikan berkata, “Jika memang benar ingin tahu, saya hanya bisa memindahkan kamu ke Al-Ahsa (Hasa).

Hasa adalah salah satu kota di Timur Arab Saudi yang menjadi tempat konsentrasi muslim Syiah di Arab Saudi. Di sana Umi ditempatkan di sebuah husainiah, semacam majelis keagamaan muslim Syiah. Di tempat inilah Umi bisa bertanya banyak atas segala hal yang menurutnya “kering”. Karena memang sewaktu di Indonesia tidak tahu apa-apa, Umi meminta rekomendasi dari Hasa tempat yang bisa digunakan untuk bertanya lebih banyak lagi di Indonesia. Umi mencatat alamat Islamic Cultural Center di sebuah buku. Di buku itu pula Umi mencatat nama seorang ustaz (habib) yang direkomendasikan oleh majikannya di Riyadh.

Entah bagaimana sesampainya di Indonesia dan kampung halamannya, buku tersebut hilang. Umi kebingungan, sampai ia bercerita berkeliling ke kota-kota besar di Pulau Jawa untuk mencari tempat yang sekiranya bisa menjadi tempat bertanya. Sampai akhirnya, di sebuah stasiun ia bertemu dengan seorang pemuda. Umi bertanya di mana pemuda itu biasa mengaji. Pemuda itu menjawab, “Al-Huda (Islamic Cultural Center).” Umi kembali segera mencatat alamat tersebut dan beberapa kali mengikuti pengajian di sana, sampai akhirnya di hari bertemu dengan saya.

Setelah lama bercerita, ia bertanya kepada saya tentang nama yang direkomendasikan majikannya di Riyadh. Dia mengatakan ustaz itu seorang habib. Setelah menjelaskan ciri-cirinya, bisa dipastikan saya mengenal orang yang dimaksud. Saya segera hubungi saudara dari ustaz yang dimaksud untuk bertanya tentang beberapa hal, seperti apakah ustaz tersebut membuka pengajian atau tidak. Umi juga bercerita tentang kaset yang pernah ia dengar di Arab Saudi yang melantunkan doa dengan indah dan ingin memilikinya. Setelah menjelaskan ciri-ciri kaset yang dimaksud, saya tahu kaset tersebut dan segera merekomendasikan tempat untuk membelinya.

Saya hanya bisa membayangkan betapa “dimudahkannya” pengalaman Umi untuk mendapatkan petunjuk yang ia usahakan. Tentu kemudahan yang dimaksud setelah dia berhasil menyelesaikan ujian yang dihadapi. Sebagaimana sesudah kesulitan akan ada kemudahan. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65: 4). Wallahualam.

sumber:http://ejajufri.wordpress.com/2011/01/15/kemudahan-mendapatkan-petunjuk/#more-5202

Silahkan kunjungi juga http://banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/2011/01/inilah-18-kebohongan-presiden-sby-serta.html#axzz1BFUucZwL

dan juga http://banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/2011/01/siaran-pers-fitra-sby-berbohong-lagi.html#axzz1BRHLQUyZ


0 comments to "Inilah Lirik Lagu Andai Aku Gayus Tambunan"

Leave a comment